Anda di halaman 1dari 24

STATUS KLINIS PROFESI FISIOTERAPI UMM

NAMA MAHASISWA : Evy Lisda Chahyani


NIM : 202010641011001
TEMPAT PRAKTIK : RSUD dr Abdul Rivai Kabupaten Berau
PEMBIMBING : Saltri Paembonan, SST.,Ft

Tanggal Pembuatan Laporan : Senin, 01 Februari 2021


Kondisi/ Kasus : OA Grade II

I. KETERANGAN UMUM PENDERITA


Nama : Ny. A
Umur : 65 tahun (Klasifikasi Usia : Lansia Akhir)
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Tumbit Melayu (Akses menuju Rumah Sakit ± 55 Menit (42 km)
II. DATA-DATA MEDIS RUMAH SAKIT
A. DIAGNOSIS MEDIS
Osteoartritis (OA) Grade II
B. CATATAN KLINIS
(Medika mentosa, hasil lab, foto rontgen, MRI, CT-Scan, dll)
Medika mentosa :
1. Meloxicam 15 gram/24 jam (untuk mengurangi rasa nyeri, bengkak
dan kaku sendi)
2. Omeprazole 1 gram/24 jam (untuk penyakit gangguan lambung)
3. Eprinoc 100 gram/12 jam (untuk merelaksasi otot)

Gambaran OA Knee
Grade II :
Ringan, osteofit yang
pasti, tidak terdapat ruang
antar sendi.

C. RUJUKAN DARI DOKTER


dr.Hendrik E.I R SpKFR (Dokter Rehab Medik) : Mohon di lakukan tindakan
fisioterapi pada pasien atas nama Ny.A dengan usia 65 tahun dengan diagnosa
Osteoarthritis (OA) Knee Grade II
STATUS KLINIS PROFESI FISIOTERAPI UMM

III. SEGI FISIOTERAPI


A. PEMERIKSAAN SUBYEKTIF

B. ANAMNESIS (AUTO/HETERO)
1. KELUHAN UTAMA
Pasien mengeluhkan nyeri daerah lutut kanan +/- semenjak 4 bulan yang lalu
dan pasien kesulitan menekuk dan meluruskan kakinya sehingga pasien mengalami
kesulitan berjalan.

2. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


(Sejarah keluarga dan genetic, kehamilan, kelahiran dan perinatal, tahap perkembangan, gambaran
perkembangan, dll)
Sekitar 4 bulan yang lalu pasien tiba-tiba terjatuh. Setelah jatuh pasien
mengeluhkan nyeri pada lutut kanan dan nyeri bertambah pada saat malam hari.
Pasien memiliki riwayat lutut bergeser ke sisi dalam bunyi “pluk”
Sebelum ke Fisioterapi pasien melakukan pengobatan tradisional (pijat).
Pada bulan Januari, pasien memeriksakan keluhannya di puskemas terdekat dan
pada tanggal 07 Januari Pasien periksa ke dokter Orthopedi dan di lakukan foto
rontgen. Kemudian di rujuk ke dokter Rehab Medik pada tanggal 08 Januari dan
setelah itu ke Fisioterapi.

3. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Pasien memiliki riwayat rupture ACL dan LCL Dextra (tanggal 14 Desember
2020)

4. RIWAYAT PENYAKIT PENYERTA


Pasien tidak memiliki penyakit penyerta
STATUS KLINIS PROFESI FISIOTERAPI UMM

5. RIWAYAT PENGOBATAN
Pasien melakukan pengobatan ACL dan LCL menggunakan obat celecoxib 200
gram (obat anti inflamasi) dan neurosanbe (vitamin) 100 gram

6. ANAMNESIS SISTEM
a. Kepala dan Leher
Pasien tidak mengeluhkan pusing dan kaku leher.
b. Kardiovaskular
Pasien tidak mengeluhkan nyeri dada dan jantung berdebar-debar
c. Respirasi
Pasien tidak mengeluhkan batuk ataupun sesak nafas
d. Gastrointestinal
Tidak ada keluhan mual, muntah, BAB terkontrol dan lancar.
e. Urogenital
Tidak ada keluhan , BAK terkontrol dan lancer.
f. Musculoskeletal
Pasien mengeluhkan nyeri pada lutut kanan terutama saat berjalan dengan jarak
yang jauh, tidak bisa berdiri lama.
g. Nervorum
Pasien tidak mengeluhkan adanya nyeri menjalar hingga tungkai.

C. PEMERIKSAAN
1. PEMERIKSAAN FISIK
a) TANDA-TANDA VITAL
Tekanan Darah: 120/80mmHg
Denyut nadi : 70xpermenit
Pernapasan : 23x/menit
Temperatur : 360C
Tinggi badan : 157 cm
Berat badan : 57 kg
IMT : 23,1 (kategori berat badan ideal)

b) INSPEKSI (STATIS & DINAMIS)


(Posture, Fungsi motorik, tonus, reflek, gait, dll)
Statis : Lutut kanan pasien nampak genu varum
Adanya oedem pada knee


STATUS KLINIS PROFESI FISIOTERAPI UMM

Dinamis : Pasien datang menggunakan kursi roda

c) PALPASI
(Nyeri, Spasme, Suhu lokal, tonus, bengkak, dll)
1. Nyeri tekan pada sisi medial lutut
2. Spasme pada otot Hamstring dan otot Quadriceps
3. Suhu local pada lutut kanan lebih hangat
4. Bengkak pada ankle

d) PERKUSI
Tidak di lakukan

e) AUSKULTASI
Adanya krepitasi saat digerakan fleksi ektensi pada lutut kanan

f) GERAK DASAR
Gerakan Mampu/Ti ROM Nyeri/Tidak End Feel
dak
Aktif Mampu Tidak FULL
ROM
Pasif Mampu Tidak FULL Nyeri Soft
Fleksi
ROM
Isometrik Mampu Tidak FULL Nyeri
ROM

Aktif Mampu Tidak FULL


ROM
Pasif Mampu Tidak FULL Tidak Nyeri Soft
Ekstensi
ROM
Isometrik Mampu Tidak FULL Nyeri
ROM

g) KOGNITIF, INTRA-PERSONAL, INTER-PERSONAL


STATUS KLINIS PROFESI FISIOTERAPI UMM

Kognitif : Memori jangka panjang dan pendek dalam keadaan baik pada saat
di terapi. Pasien mampu menceritakan awal mula terjadinya keluhan dan
pasien mampu mengingat latihan yang di berikan pada saat dirumah.

Intra-Personal : Pasien memiliki motivasi untuk sembuh dengan baik pada


saat di terapi.

Inter-Personal : Pasien mampu berkomunikasi dengan baik pada saat di


terapi.

h) KEMAMPUAN FUNGSIONAL DASAR, AKTIVITAS FUNGSIONAL,


& LINGKUNGAN AKTIVITAS

Fungsional dasar : Pasien mengalami kesulitan dan berjalan.


Fungsional aktivitas : Pasien mengalami nyeri pada lutut sehingga membatasi
dalam aktivitas sholat.
Fungsional lingkungan : Lingkungan rumah pasien menggunakan toilet
jongkok, sehingga pasien menahan nyeri ketika BAK dan BAB.

Pemeriksaan Aktivitas Fungsional dengan Skala WOMAC


Nyeri 1. Berjalan 4
2. Menaiki Tangga 4
3. Pada malam hari 3
4. Saat Istrahat 3
5. Membawa Beban 4
Kekakuan 1. Kekakuan di pagi hari 3
2. Kekakuan yang terjadi di kemudian hari 3
Kekuatan 1. Menuruni tangga 3
fisik 2. Menaiki tangga 4
3. Berdiri dari duduk 3
4. Berdiri 3
5. Berbelok ke lantai 3
6. Berjalan di atas permukaan yang datar 3
7. Masuk atau keluar mobil 4
8. Pergi berbelanja 3
9. Menaruh kaos kaki 3
10. Berbaring di tempat tidur 3
11. Membuka/mengambil kaos kaki 4
12. Bangkit dari tempat tidur 3
13. Masuk/keluar bak mandi 3
14. Duduk 3
15. Keluar/masuk toilet 4
16. Melakukan tugas rumah tangga ringan 2
17. Melakukan tugas rumah tangga berat 3
TOTAL 78
0 = tidak ada, 1 = ringan, 2 = sedang , 3 = berat, 4 = sangat berat
STATUS KLINIS PROFESI FISIOTERAPI UMM

Interpretasi total skor


Total skor womac Interpretasi
0-24 Ringan
24-48 Sedang
48-72 Berat
72-96 Sangat berat

2. PEMERIKSAAN SPESIFIK
(Nyeri, MMT, LGS, Antropometri, Sensibilitas, Tes Khusus, dll)

1. Pengukuran Nyeri dengan menggunakan VAS


Nyeri Tekan 5
Nyeri Gerak 3
Nyeri Diam 0

2. Pemeriksaan Kekuatan otot dengan MMT


Fleksor (Hamstring)
Nilai 5 (Normal), nilai 4 (Baik) dan nilai 3 (Cukup). Ada 3 otot yang di
tes untuk hamstring pada Nilai 5 dan 4. Pemeriksaan dapat mengetes pertama
untuk keseluruhan otot hamstring (dengan kaki pada garis tengah). Hanya jika
ada gerakan deviasi (asimetris) atau sebuah pertanyaan muncul untuk
pemeriksaan untuk memeriksa bagian medial atau lateral hamstring secara
terpisah.Pemeriksaan untuk hamstring secara keseluruhan :
1) Posisi pasien : tengkurap dengan ekstremitas lurus dan jari kaki melewati
ujung meja atau bed. Tes bisa dimulai pada 45º fleksi lutut.
2) Posisi terapis : berdiri disamping ekstremitas yang akan dites. Tangan
memberikan tahanan dengan berada pada bagian posterior kaki, tepat diatas
ankle. Tahanan yang dberikan ke arah knee ekstensi untuk Nilai 5 dan 4.

Tangan lainnya ditempatkan pada hamstring tendon pada bagian posterior


paha.
3)Tes : pasien mem-fleksikan lutut ketika sambil mempertahankan kaki untuk
berada pada rotasi netral
STATUS KLINIS PROFESI FISIOTERAPI UMM

4)Instruksi untuk pasien : “Tekuk lutut anda. Tahan ini, jangan biarkan saya
meluruskannya”.
5)Melawan tahanan maksimal, dan knee fleksi (rata-rata 90º) tidak dapat
robek.Nilai 5 (Normal)
6)Posisi akhir gerakan fleksi dapat ditahan dengan tahanan cukup kuat
(optimum). Nilai 4 (Baik)
7)Menahan pada akhir range dan menahan posisinya tanpa tahanan pemeriksa.
Nilai 3 (Cukup)

Nilai 2 (Kurang)
8)Posisi pasien : tidur miring dengan ekstremitas yang akan dites (bagian atas)
disanggah oleh pemeriksa. Ekstremitas yang dibagian bawah di fleksikan
untuk stabilitas.
9)Posisi terapis : berdiri dibelakang pasien sejajar dengan lutut. Satu lengan
digunakan untuk menggendong bagian paha pasien, memberikan sanggahan
pada medial lutut. Tangan lainnya menyanggah kaki pada bagian ankle tepat
diatas maleolus

10)Tes : Pasien melakukan gerakan fleksi knee pada ROM yang memungkinkan
11)Instruksi untuk pasien : “Tekuk lutut anda”
12)Pasien menyelesaikan dengan full range of motion pada tidur
menyamping.Nilai 2 (Lemah) Nilai 1 (Sangat lemah) dan Nilai 0 (tidak ada
kekuatan sama sekali)
13)Posisi pasien : tengkurap dengan ekstremitas lurus dengan jari-jari berada
melebihi meja atau bed. Lutut semi fleksi dengan disanggah pada bagian ankle
oleh pemeriksa.
14)Posisi terapis : berdiri pada sisi ekstremitas yang dites sejajar dengan lutut.
Satu tangan menyanggah pada posisi fleksi pada bagian ankle. Tangan lainnya
mem-palpasi bagian medial dan lateral tendon hamstring, tepat diatas bagian
belakang lutut.
STATUS KLINIS PROFESI FISIOTERAPI UMM

15)Tes : Pasien berusaha untuk mem-fleksikan knee.


16)Instruksi untuk pasien : “Coba tekuk lutut anda”.
17)Tendon menjadi menonjol, tapi tidak terlihat adanya gerakan.Nilai 1
(Sangat lemah)
18)Tidak teraba adanya kontraksi otot; tendon tidak menonjol.Nilai 0 (tidak
ada kekuatan sama sekali)

Ekstensor (Quadriceps Femoris)


Otot Quadrisep femoris diuji bersamaan sebagai suatu grup fungsional.
Beberapa yang diberikan tidak dapat digambarkan dari MMT. Rectus femoris
dapat dibedakan dari quadrisep saat hip fleksi. Pengetahuan tentang gerakan
pada hamstring pasien sangat penting sebelum memberikan tes untuk kekuatan
ekstensi knee. Straight leg raising (SLR) merupakan posisi optimal untuk
menguji ekstensi knee pada saat posisi duduk. Pada saat duduk dengan kaki
menggantung di tepi meja atau bed untuk Nilai 5, 4, dan 3, jangkauan gerak
SLR jadi menurun, gerakan trunk condong ke belakang. Jangkauan dari SLR
juga memberikan informasi untuk pemeriksa bahwa jangkauan gerak pasien
dalam posisi nyaman adalah tidur menyamping.Nilai 5 (Normal), nilai 4
(Baik) dan nilai 3 (Cukup)
1) Posisi pasien : duduk di ujung meja atau bed. Tempatkan ganjalan pada
bagian ujung bawah paha untuk mempertahankan femur pada posisi
horizontal. Pengalaman pemeriksa dapar diganti dengan ganjalan dibawah
paha dengan tangannya. Tangan pasien dapat tempatkan diatas meja atau bed
pada sisi tubuh untuk stabilisasi, atau bisa menggenggam sudut meja atau bed.
Pasien dapat diijinkan untuk condong ke belakang untuk mengurangi
ketegangan pada hamstring.
STATUS KLINIS PROFESI FISIOTERAPI UMM

2)Posisi terapis : berdiri disamping ekstremitas yang akan dites. Tangan


memberikan tahanan dengan berada pada bagian anterior kaki, tepatdiatas
ankle. Untuk Nilai 5 dan 4, tahanan yang dberikan ke arah bawah (ke arah
lantai) pada gerakan knee fleksi.
3)Tes : pasien mem-ekstensikan lutut pada jangkauan gerak yang
memungkinkan tapi tidak melampaui 0º.
4)Instruksi untuk pasien : “Luruskan lutut anda. Tahan ini, jangan biarkan
saya menekuknya”.
5)Nilai 5 (Normal): menahan dan melawan tahanan maksimal pada akhir
posisi. Kebanyakan fisioterapis tidak akan mampu untuk menggambarkan
ekstensi knee normal
6)Nilai 4 (Baik): menahan dan melawan dengan tahanan cukup kuat
(optimum).
7)Nilai 3 (Cukup): melakukan gerakan dan menahannya tanpa tahanan dari
pemeriksa.

Nilai 2 (Kurang)
8)Posisi pasien : tidur miring dengan ekstremitas yang akan dites (bagian
atas). Ekstremitas yang tidak dites difleksikan untuk stabilitas. Ekstremitas
yang akan diuji ditahan pada posisi knee fleksi 90º. Hip dalam keadaan full
ekstensi.
9)Posisi terapis : berdiri dibelakang pasien sejajar dengan lutut. Satu lengan
digunakan untuk menggendong bagian kaki pasien yang akan di tes dengan
tangan mengelilingi pahanya, tangan ditempatkan pada bagian bahwa knee.
Tangan lainnya menahan kaki, pada bagian tepatdi atas maleolus.
STATUS KLINIS PROFESI FISIOTERAPI UMM

10)Tes : Pasien melakukan gerakan ekstensi knee pada ROM yang


memungkinkan. Terapis menyanggah ekstremitas, tapi tidak memberikan
bantuan atau tahanan pada gerakan pasien. Bagian ini bagian dari seni MMT
yang harus dipahami.
11)Instruksi untuk pasien : “Luruskan lutut anda”
12)Nilai 2 (Lemah) : Pasien menyelesaikan dengan full range of
motion.Nilai 1 (Sangat lemah) dan Nilai 0 (tidak ada kekuatan sama
sekali)
13)Posisi pasien : terlentang.
14)Posisi terapis : berdiri pada sisi ekstremitas yang dites sejajar dengan

lutut. Satu tangan mem-palpasi quadrisep tendon bagian atas knee dengan
tendon menahan dengan lemah antara ibu jari dan jari lainnya. Pemeriksa
juga bisa mem-palpasi tendon patellar dengan dua sampai empat jari pada
bagian bawah lutut.

15) Tes : Pasien berusaha untuk menm-ekstensikan knee.Alternative lainnya,


terapis bisa menempatkan satu tangan di bawah knee yang semifleksi;
palpasi quadrisep atau tendon patellar ketika pasien mencoba untuk meng-
ekstensikan knee.
16)Instruksi untuk pasien : “Tekan lutut anda turun ke meja atau bed” atau
“Kencangkan tempurung lutut anda” (quadrisep setting).
17)Untuk alternative tes : “Tekan tangan saya menggunakan lutut anda”
18)Nilai 1 (Sangat lemah) : kontraksi dapat dipalpasi pada tendon. Tidak
ada gerakan sendi
STATUS KLINIS PROFESI FISIOTERAPI UMM

19)Nilai 0 (tidak ada kekuatan sama sekali) : tidak teraba adanya


kontraksi otot.

Otot Penggerak Kanan Kiri


Fleksor
3 5
(Hamstring)
Ektensor
(Quadriceps 3 5
Femoris

3. Pemeriksaan ROM (International Standard Orthopedic Measurement (ISOM)

Kanan Kiri
Aktif S 0 – 110 S 0 - 0 – 115

4. Antropemetri pada ankle


Kanan Kiri

45 cm 42 cm
STATUS KLINIS PROFESI FISIOTERAPI UMM

Tuberce Os.navicula

start position : Tendon Tibialis


Anterior

OS.Cuboid

5. Tes Ballotement Test

Tes ini untuk melihat apakah ada cairan di dalam lutut. Pada
pemeriksaan posisi tungkai full ekstensi. Prosedurnya, recessus suprapatellaris
di kosongkan dengan menekannya satu tangan, dan sementara itu dengan jari
tangan lainnya patella ditekan ke bawah. Dalam keadaan normal patella itu
tidak dapat ditekan ke bawah: dia sudah terletak di atas kedua condyli dari
femur. Bila ada (banyak) cairan di dalam lutut, maka patella sepertinya
terangkat, yang memungkinkan adanya sedikit gerakan. Kadang-kadang terasa
seolah olah patella mengetik pada dasar yang keras itu.
Pada pemeriksaan ini hasilnya positif.
6. Tes laci sorong

Tes laci sorong ada dua macam yaitu tes laci sorong ke depan dan tes
laci sorong ke belakang, dimana tes ini dapat dikombinasi dengan berbagai
STATUS KLINIS PROFESI FISIOTERAPI UMM

posisi kaki baik posisi eksorotasi maupun endorotasi. Tes laci sorong ke
depan, posisi kaki eksorotasi ditujukan untuk ligamen cruciatum anterior dan
capsul posteromedial dan dengan posisi kaki endorotasi ditujukan untuk
ligamen cruciatum anterior dan capsul posterolateral. Untuk posisi kaki sedikit
eksorotasi dan endorotasi ditujukan untuk ligamen cruciatum anterior. Tes laci
sorong ke belakang posisi kaki eksorotasi ditujukan untuk ligamen cruciatum
posterior dan capsulposterolateral dengan posisi kaki endorotasi ditujukan
untuk ligamen cruciatum posterior dan capsul posteromedial. Cara
pemeriksaannya adalah pasien berbaring terlentang dengan satu tungkai lurus
dan satu tungkai yang dites dalam keadaan fleksi lutut, dimana telapak kaki
masih menapak pada bidang. Kedua tangan terapis memfiksasi pada bagian
distal sendi lutut kemudian memberikan tarikan dan dorongan.
Hasil yang didapatkan dari pemeriksaan adalah negatif.
7. Hipermobilitas varus

Tes ini ditujukan untuk mengetahui stabilitas dari sendi lutut oleh
ligamen collateral lateral. Pada pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan cara
full ekstensi dan fleksi 300. Cara pemeriksaannya adalah pasien berbaring
terlentang dengan salah satu tungkai yang hendak diperiksa berada di luar bed,
salah satu tangan terapis berada di sisi medial sendi lutut dan tangan yang lain
berada di sisi luar sendi pergelangan kaki untuk memberikan tekanan ke arah
dalam. Hasil yang diperoleh adalah positif.
STATUS KLINIS PROFESI FISIOTERAPI UMM

8. Hipermobilitas valgus.

Tes ini ditujukan untuk mengetahui lesi ligamen collateral medial. Cara
pemeriksaannya sama dengan tes hipermobilitas varus hanya saja posisi salah
satu tangan terapis berada di sisi lateral sendi lutut dan tangan yang lain
berada di sisi dalam sendi pergelangan kaki yang berfungsi untuk memberikan
tekanan ke arah luar.
Hasil yang diperoleh adalah negatif.
STATUS KLINIS PROFESI FISIOTERAPI UMM

D. UNDERLYING PROCCESS

Riwayat rupture ACL dan LCL Dextra


(factor resiko OA knee)

Osteoarthritis Knee

1. Nyeri
2. Penurunan kekuatan otot
3. Kekakuan pada otot
4. ROM terbatas
5. Bengkak pada ankle
6. Penurunan stabilitas

1. IR
2. Tens
3. Strengthening knee
4. Streching Knee
5. Mobilisasi Patela
6. Miofasial release
7. Latihan Stabilitas
8. Gait training
E. DIAGNOSIS FISIOTERAPI
(International Clatification of Functonal and disability)

Disease
OA Knee Grade II Dextra (M.17.9)

Body Function and Structure Activities Participations


 Pasien tampak menahan nyeri ketika  Pasien kesulitan pada saat berdiri ke  Pasien kesulitan melakukan
berjalan posisi duduk, ativitas rumah tangga dan sholat
 Keterbatasan gerak pada lutut  Pasien kesulitan saat naik turun
 Lutut pasien tampak varus tangga
 Penurunan stabilitas  Pasien kesulitan dalam berjalan

Faktor Lingkungan Faktor Individu


Pasien kesulitan melakukan aktivitas sehari- Pasien kurang bersosialisasi dilingkungan
hari karena lantai tidak rata rumahnya
F. PROGNOSIS
Qua at Vitam : Baik
Qua at Sanam : Baik
Qua at Fungsionam : Baik
Qua at cosmeticam : Baik

G. PROGRAM/RENCANA FISIOTERAPI
1. Tujuan treatment
a) Jangka Pendek
- Mengurangi nyeri
- Mengurangi Spasme
- Meningkatkan LGS
- Meningkatkan stabilitas

b) Jangka Panjang : Mengoptimalkan kemampuan fungsional pasien seperti


sebelumnya

2. Rencana tindakan (Teknologi Fisioterapi)


a) Inframerah
Inframerah direkomendasikan untuk osteoarthritis lutut yaitu
gelombang panjang (non penetrating) memiliki panjang gelombang diatas
12.000 Ӑ hingga 20.000 – 150.000 Ӑ, daya penetrasi sinar ini hanya sampai
pada lapisan superficial epidermis, yaitu sekitar 0,5 mm. Gelombang
(penetrating) memiliki panjang gelombang antara 7.00 Ӑ hingga 12.000 Ӑ,
daya penetrasi lebih dalm dari pada gelombang panjng dan merupakan
comfortable heating.
Inframerah ini digunakan untuk mengurangi rasa nyeri pada lutut.
Modalitas fisioterapi menggunakan inframerah memiliki efek panas yang
dapat memperlancar peredarah darah sehingga pemberin nutrisi dan kebutuhan
jaringan akan oksigen terpenuhi dengan baik dan pembuangan zat “P” akan
lancar sehingga rasa nyeri berkurang atau hilang. Sinar inframerah dapat
menaikkan suhu temperature jaringan sehingga dapat menghilangkan spasme,
relaksasi pada otot dan juga meningkatkan kemampuan otot untuk
berkontraksi.Spasme yang terjadi akibat penumpukan asam laktat dan sisa
pembakaran dapat dihilangkan dengan pemberian pemanasan, hal ini akan
terjadi karena pemanansan akan mengaktidkn glandula gudoifera (kelenjar
keringat) di daerah jaringan yang di berikan penyinaran tu pemanansan
sehingga denan demikian akan meningkatkan pembuangan sisa metabolism
melalui keringat.
b) Tens
Rasa nyeri yang dialami pasien dapat dikurangi dengan aplikasi TENS
yang menerapkan teori gate control. Mekanisme gate control berupa
adanya rangsangan terhadap serabut nosiseptor (A Delta dan C)
menyebabkan subtansi gelatinosa yang tidak aktif sehinggga gerbang
terbuka dan ini memungkinkan impuls noksius diteruskan ke sentral
sehingga sensasi nyeri di rasakan. Jika terjadi aktivitas pada serabut aferen
yang berdiameter besar (A Beta) maka akan mengaktivasi sel – sel
interneuron dan subtasnsi gelatinosa dengan kata lain subtansi gelatinosa
menjadi aktif sehingga terjadi peningkatan control presinapsis sehingga
gerbang akan menutup yang berujung terinhibisinya transmisi impuls nyeri
ke system sentral sehingga kualitas nyeri akan menurun.
Penatalaksanaan Tens :
` Memastikan tidak ada kontraindikasi dan menetapkan indikasi terapi TENS
 Nyeri myofascial
 Nyeri sendi
 Nyeri benign lainnya
 Adanya pembengkakan local/setempat pada anggota gerak
 Otot yang memendek atau perlengkatan
Melaksanakan prosedur penerapan TENS :
 Mesin LFC dengan TENS dan electrode siap untuk di bahasi air
 Pasien diposisikan stabil dan rileks (posisi telentang)
 Diintruksikan kepada pasien untuk tidak bergerak
 Tubuh atau anggota badan yang diobati tersangga dengan baik
dalam posisi rileks atau semifleksi
 Bagian badan atau anggota tubuh yang akan di terapi kulitnya
di bersihkan
 Tes sensasi tajam tumpul pada area kulit yan akan di terapi
 Pemasangan elektroda : Pad berada di medial, lateral, anterior
dan postertior knee
 Dosis diberikan sub pain atau pain level
 Waktunya adalah 15 menit
 Monitoring evaluasi selama terapi
b. ROM Exercise
Latihan Range of Motion adalah latihan yang dilakukan untuk
mempertahankan atau memperbaiki tingkat kemampuan menggerakan
persendian secara normal dan lengkap. Untuk meningkatkan masa otot dan
tonus otot. Latihan ROM di berikan untuk mempertahakan mobilitas persendian
dan jaringan lunak untuk meminimalkan kehilangan kelenturan jaringan dan
pembentukan kontraktur. Latihan ROM terdiri dari dua, yaitu Aktif ROM dan
Pasif ROM.
Aktif ROM adalah gerakan yang di sebakan oleh gerakan aktif dari
otot itu sendiri.
Passif ROM gerakan yang sepenuhnya disebabkan oleh gerakan dari
luar dan sangat sedikit ataupun tidak ada gerakan sadar dari otot. Hal ini
bermanfaat untuk efek pengurangan atau penurunan nyeri akibat incisi serta
mencegah terjadinya keterbatasan gerak serta menjaga elastisitas otot.

c. Proprioceptive Neuromuscular Fascilitation(PNF)


Proprioseptif neuromuskular Fasilitasi (PNF) Proprioceptive dengan
methode PNF maka akan semakin diperkuat dan diintensifkan rangsangan-
rangsangan spesifik melalui receptor-receptor yaitu panca-indra dan atau
proprioceptor. Neuromuscular, juga untuk meningkatkan respons dari sistem
neuromuscular.Teknik PNF adalah alat fasilitasi yang dipilih dengan maksud
yang spesifik tehnik-tehnik tersebut mempunyai tujuan antara lain
mengajarkan gerak, menambah kekuatan otot, relaksasi, memperbaiki
koordinasi, mengurangi sakit, menambah ruang lingkup gerak sendi,
menambah stabilisasi, mencegah kelelahan, mengajarkan kembali gerakan dan
memperbaiki sikap. Tipe stretching yang digunakan adalah PNF stretching
dengan holdrelax.
1. Passive stretching
Teknik penguluran dimana pasien dalam keadaan rileks dan tanpa
mengadakan gerakan, penguluran dilakukan oleh terapis. Prosedur passive
stretching :
 Stretching dimulai dari keterbatasan LGS
 Pasien harus rileks
 Kekuatan stretch paling sedikit 6 detik dengan pengulangan dalam
1 sesi
 Intensitas dan durasi stretching sesuai dengan toleransi pasien

2. Hold Relax
Suatu tehnik dimana kontraksi isometris mempengaruhi otot antagonis
yang mengalami pemendekan, yang diikuti dengan hilang atau
berkurangnya ketegangan dari otot-otot tersebut (Prinsip reciproke
inhibisi). Hold relax digunakan untuk relaksasi otot antagonis,
meningkatkan mobilisasi dan mengurangi nyeri.

Prosedur:
 Otot yang tegang dalam posisi mengulur dan nyaman
 Pasien diminta melakukan kontraksi isometrik pada otot yang
tegang tersebut selama 5-10 detik
 Kemudian pasien diminta untuk relaks kembali
 Fisioterapis kemudian mengulur otot tersebut sampai batas
kemampuan untuk LGS
 Ulangi prosedur ini setelah beberapa detik

d. Strengthening
Merupakan suatu bentuk latihan yang penguatan otot dengan melawan
tahanan, dengan kontraksi otot secara dinamik maupun statik. Tujuan
dilakukan strengthening yaitu untuk meningkatkan kekuatan otot dan
ketahanan otot. Karena dengan memberikan latihan strengthening maka akan
terjadi penambahan jumlah sarkomer dan serabut otot (filamen aktin dan
miosin yang diperlukan dalam kontraksi otot), sehingga dengan terbentuknya
serabut-serabut otot yang baru maka kekuatan otot dapat meningkat.Terdapat
3 tipe resistance exercise yaitu :
1. Isotonik Resistance Exercise merupakan latihan dinamis dengan
melawan beban yang menetap atau berubah – ubah.
2. Isokinetik Exercise merupakan suatu bentuk latihan dinamis dimana
kecepatan otot memendek atau memanjang dikontrol oleh alat yang
mengatur kecepatan gerakan dari bagian tubuh tersebut.
3. Isometrik Resistance Exercise merupakan bentuk latihan statik yang
terjadi bila otot berkontraksi tanpa berubah panjangnya otot atau tanpa
terjadi gerakan sendi. Kekuatan otot akan meningkat bila otot
berkontraksi isometrik melawan tahanan dan dipertahankan paling
sedikit 6 detik.

e. Static contraction
Static contraction adalah suatu terapi latihan dengan cara
mengkontraksikan otot tanpa disertai perubahan panjang otot maupun
pergerakan sendi. Tujuan dari kontraksi isometris atau static contraction
adalah pumping action pembuluh darah balik, yaitu terjadinya peningkalan
perifer resistance of blood vessels. Dengan adanya hambatan pada perifer
maka akan didapatkan peningkatan blood pressure dan secara otomatis
cardiac output meningkat sehingga mekanisme metabolisme menjadi lancar
dan sehingga oedem menjadi menurun. Karena oedem menurun maka tekanan
ke serabut saraf sensoris juga menurun sehingga nyeri berkurang.
H. PELAKSANAAN FISIOTERAPI
Terapi INTERVENSI EVALUASI
15 Februari 2021 Latihan proprioceptif Terapi 1
Strethening Exercise VAS :
Nyeri tekan : 5
Streching Exercise
Nyeri gerak : 3
TENS Nyeri diam : 0
Gait training
ADL Exercise MMT :
Fleksor : 3
Ekstensor :3

ROM :
Aktif : S 10-110

Adanya oedem pada ankle


Antropometri :
Kanan : 45 cm dan Kiri : 42 cm

18 Februari 2021  IR Terapi 2


 Ekstensi knee VAS :
Nyeri tekan : 6
 Latihan proprioceptif Nyeri gerak : 6
 Strethening Exercise Nyeri diam : 3
 Streching Exercise
MMT :
 Double leg mini Squat Fleksor : 3
 Tens Ekstensor :3

ROM :
Aktif : S 10 - 112
22 Februari 2021  Soft tissue release M.Hamstring dan Terapi 3
M.Quadriceps VAS :
Nyeri tekan : 3
 Mobilisasi patella Nyeri gerak : 3 (medial lutut)
 Static kontraksi M.Hamstring dan Nyeri diam : 1
M.Quadriceps
 Tens
26 Februari 2021  IR Terapi 4
 Tens VAS :
Nyeri tekan : 1
 Soft tissue release Nyeri gerak : 2
 Strenthening exercise Nyeri diam : 0
 Home Program
I. HASIL EVALUASI TERAKHIR
Pasien 65 tahun dengan diagnosa Dokter menderita OA Knee Grade II permulaan
dilakukan FT pasien belum mampu berjalan karena adanya rasa sakit di daerah lutut.
Setelah diberikan pengobatan oleh fisioterapis dengan berbagai modalitas yang
terdapat di atas pada daerah yang nyeri, keadaan umum pasien mulai membaik dan
dapat berjalan mandiri.

J. EDUKASI DAN KOMUNIKASI


Memberikan home program kepada pasien berupa latihan-latihan yang di lakukan
dirumah
-    Pasien diperintahkan mengulangi gerakan fleksi-ektensi knee
- Pasien di perintahkan melakukan stretching area ankle
- Pasien diperintahkan untuk tidak mengangkat beban
- Pasien di perintahkan untuk melakukan latihan berjalan

K. CATATAN PEMBIMBING PRAKTIK

L. CATATAN TAMBAHAN

Tanjung, Redeb, 20 Februari 2021


Pembimbing

Saltri Paembonan, SST.Ft

Anda mungkin juga menyukai