Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Keperawatan Volume 9 No 2, Hal 52 - 59, September 2017 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

ISSN : Cetak 2085-10491,–Hal


JurnalKeperawatanVolume9No Online 2549-8118
1 - 5, Maret2017

GAMBARAN UPAYA DALAM MENCARI BANTUAN KESEHATAN


PADA MASYARAKAT
Candra Hermawan1, Rina Anggraeni1, Setianingsih1
Program studi Ilmu Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Email: candraaa33@gmail.com; agamara_2007@yahoo.com; asih_ners@rocketmail.com

ABSTRAK
Pendahuluan: Perilaku pencarian pengobatan adalah perilaku individu maupun kelompok atau
penduduk untuk melakukan atau mencari pengobatan. Perilaku pencarian di masyarakat sangat
bervariasi, respons seseorang apabila sakit adalah tidak bertindak atau tidak melakukan apa-apa ( no
action).Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan belum merupakan prioritas di dalam hidup dan
kehidupannya.Perilaku yang menunda untuk memperoleh pengobatan dari praktisi kesehatan ini
disebut dengan treatment delay. Metode: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran
masyarakat untuk mencari pertolongan kesehatan pertama. Penelitian ini merupakan deskriptif survei
dengan pendekatan cross sectional. Dengan jumlah sampel sebanyak 273. Hasil: Didapatkan upaya
masyarakat dalam mencari bantuan kesehatan baik sebanyak 57,5%, namun 42,5% mayarakat masih
kurang dalam mencari bantuan kesehatan. Diskusi: Saran dalam penelitian diharapkan masyarakat
lebih peduli akan kesehatan keluarga, membawa anggota keluarga yang sakit kerumah sakit maupun
ke tenaga kesehatan lainnya.

Kata kunci: Bantuan kesehatan, masyarakat.

ABSTRACT
Introduction: Elderly Behavior seeking treatment is the behavior of individuals or groups or
residents to perform or seek treatment. Searching behavior in society varies greatly, one's response
when sick ist not acting or doing nothing (no action). This shows that health is not a priority in life
and life. Behavior that delayed to obtain treatment from health practitioners is called a treatment
delay. Methods: This shows that health is not a priority in life and life. Behavior that delayed to
obtain treatment from health practitioners is called a treatment delay. The purpose of this study is to
know the description of the community to seek first health care. This research is a descriptive survey
with cross sectional approach with the number of samples as much as 273. Results: Obtained efforts
of the community in seeking health assistance either as much as 57.5%, but 42.5% society still
less in seeking health assistance. Discussion: Suggestions in the study are expected to people more
concerned about family health, bringing sick family members to the hospital and other health workers.

Keywords: Health assistance, community.

PENDAHULUAN Pengobatan di masyarakat bisa dilakukan


Kesehatan lingkungan masyarakat adalah suatu sendiri misalnya dengan minum jamu,
keseimbangan ekologi yang harus ada antara pertolongan dukun atau alternatif lain. Fasilitas
manusia dan lingkungan agar dapat menjamin pelayanankesehatan rumah sakit pada
keadaan sehat manusia (Sarafino, 2011).Salah pertolongan medis misalnya dokter, perawat
satu wujud kepedulian Pemerintah Indonesia dan bidan.Konsep sakit dan penyakit dibentuk
terhadap kesehatan masyarakat adalah atas dasar nilai budaya setempat serta
dibangunnya sejumlah Puskesmas dan menimbulkan perilaku pemanfaatan fasilitas
Posyandu.Pembangunan Puskesmas kesehatan yang dipengaruhi oleh struktur sosial
dimaksudkan sebagai salah satu lembaga setempat (Sarafino, 2011). Pemanfaatan
pelayanan kesehatan yang terdepan, yaitu pelayanan kesehatan hasil dari proses pencarian
sebagai ujung tombak kesehatan masyarakat pelayanan kesehatan oleh seseorang maupun
yang dapat meningkatkan peranannya untuk kelompok. Pengetahuan tentang faktor yang
melayani masyarakat di Indonesia (WHO, mendorong individu membeli pelayanan
2010). kesehatan merupakan informasi kunci untuk
mempelajari utilisasi pelayanan

1
Jurnal Keperawatan Volume 9 No 2, Hal 52 - 59, September 2017 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

kesehatan.Upaya mengetahui faktor-faktor yang faktor. Sebagian besar perilaku manusia adalah
memengaruhi pencarian pelayanan kesehatan operant response yang berarti respons yang
berarti juga mengetahui faktor-faktor yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh
memengaruhi pemanfaatan atau utilisasi stimulus tertentu yang disebut reinforcing
(Prasetijo, 2014). stimulation atau reinfocer yang
akanmemperkuat respons. Oleh karena itu
Kecenderungan masyarakat dunia untuk untuk membentuk perilaku perlu diciptakan
kembali ke alam membawa perubahan pada adanya suatu kondisi tertentu yang dapat
pola konsumsi obat ke obat-obatan yang terbuat memperkuat pembentukan perilaku Prasetijo
dari bahan alami. Berdasarkan data WHO (2009).
(2011), sekitar 80% penduduk dunia dalam
perawatan kesehatannya memanfaatkan obat No action, Tidak bertindak atau tidak
tradisional yang berasal dari ekstrak tumbuhan melakukan apa-apa (no action), alasannya
dan 20% yang membeli obat di apotik maupun antara lain bahwa kondisi yang demikian tidak
di warung. Tempat pelayanan kesehatan yang akan mengganggu kegiatan atau kerja mereka
paling banyak di kunjungi adalah Posyandu sehari-hari. Mungkin mereka beranggapan
61,6%, Puskesmas 31,4%, praktek dokter bahwa tanpa bertindak apapun simptom atau
kesehatan 17,0% dan sementara ke rumah sakit gejala yang dideritanya akan lenyap dengan
pemerintah hanya sebesar 10,6% dan 79,4 sendirinya. Hal ini menunjukkan bahwa
mereka ke palayanan non kesehatan seperti kesehatan belum merupakan prioritas di dalam
dukun dan pengobatan tradisional. hidup dan kehidupannya.
Berdasarkan data Dinkes di Indonesia (2015), Tindakan mengobati sendiri (self treatment)
angka kunjungan masyarakat ke rumah sakit dengan alasan yang sama seperti telah diuraian.
maupun Pusat Kesehatan Masyarakat berjumlah Alasan tambahan dari tindakan ini adalah
4.505 kunjungan.Dan pada tahun 2015 jumlah karena orang atau masyarakat tersebut sudah
kunjungan mencapai 6.504 kunjungan. Menurut percaya kepada diri sendiri, dan sudah merasa
hasil Survei Kesehatan Nasional (Susenas, bahwa berdasar pengalaman yang lalu usaha
2010) hanya 32,4% penduduk yang berstatus sendiri sudah mendatangkan kesembuhan. Hal
miskin yang memanfaatkan pelayanan ini mengakibatkan pengobatan keluar tidak
kesehatan. Terbatasnya akses ke pelayanan diperlukan. Mencari pengobatan ke fasilitas-
kesehatan disebabkan kendala jarak, biaya dan fasilitas pengobatan tradisional (traditional
transportasi. remedy), seperti dukun. Keempat, mencari
pengobatan dengan membeli obat-obat ke
Menurut Notoadmodjo (2012) perilaku warung-warung obat (chemist shop) dan
pencarian pengobatan adalah perilaku individu sejenisnya, termasuk ke tukang-tukang jamu
maupun kelompok atau penduduk untuk dan kelima, mencari pengobatan ke fasilitas-
melakukan atau mencari pengobatan.Perilaku fasilitas pengobatan modern yang diadakan oleh
pencarian di masyarakat sangat bervariasi, pemerintah atau lembaga-lembaga kesehatan
respons seseorang apabila sakit adalah tidak swasta, yang dikategorikan ke dalam balai
bertindak atau tidak melakukan apa-apa (no pengobatan, puskesmas, dan rumah sakit.
action), Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan
belum merupakan prioritas di dalam hidup dan Kurangnya fasilitas kesehatan.Fasilitas
kehidupannya. Perilaku yang menunda untuk pelayanan kesehatan yang kurang didaerah
memperoleh pengobatan dari praktisi kesehatan pedesaan menyebabkan sebagian besar
ini disebut dengan treatment delay (Sarafino, masyarakat masih sulit mendapatkan atau
2011). memperoleh pengobatan, selain itu hal penting
yang mempersulit usaha pertolongan terhadap
Perilaku pencarian bantuan kesehatan.Perilaku masalah kesehatan pada masyarakat desa adalah
merupakan respons atau reaksi seseorang kenyataan yang sering terjadi dimana penderita
terhadap stimulus (rangsangan dari atau keluarga penderita tidak dengan segera
luar).Perilaku juga dapat dikatakan sebagai mencari pertolongan pengobatan.Perilaku yang
totalitas penghayatan dan aktivitas seseorang menunda untuk memperoleh pengobatan dari
yang merupakan hasil bersama antara beberapa

53
praktisi kesehatan ini disebut dengan treatment masyararakat didasarkan oleh pola pencarian
delay. pengobatan yang dipahami dan diyakininya.
Studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada
Treatment delay adalah rentang waktu yang tanggal 11 Oktober 2016 wawancara dengan 10
telah berlalu ketika individu mengalami masyarakat yang ada di Desa Botomulyo
simptom awal sampai individu memasuki mereka mencari bantuan kesehatan sangat
pelayanan kesehatan dari praktisi kesehatan lambat, masyarakat membawa anggota
(Sarafino, 2011). Rendahnya penggunaan keluarganya yang sakit jika sudah parah,
fasilitas kesehatan ini, seringkali kesalahan dan apabila cuma panas biasanya hanya
penyebabnya dikarenakan faktor jarak antara membelikan obat di warung saja. Serta mereka
fasilitas tersebut dengan masyarakat yang lebih memilih berobat ke alternatif seperti
terlalu jauh, tarif yang tinggi, pelayanan yang dukun, dan 2 masyarakat mengatakan mereka
tidak memuaskan dan sebagainya. sadar akan pentingnya kesehatan sehingga jika
ada anggota yang sakit segera membawa ke
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi rumah sakit/tempat kesehatan terdekat misalnya
tingkat pemanfaatan pelayanan kesehatan, puskesmas. Banyak masyarakat yang kurang
sebagaimana dikemukakan oleh Swastha (2000) kesadarannya untuk mencari pertolongan
yaitu tiga faktor yang berasal dari penyedia kesehatan pertama karenanya kurangnya
layanan kesehatan dan dua faktor dari pengetahuan dan mahalnya biaya berobat ke
masyarakat pengguna pelayanan kesehatan.Tiga rumah sakit. Hal ini menyebakan peneliti
faktor dari penyedia layanan kesehatan adalah tertarik untuk melakukan penelitian dengan
fasilitas pelayanan, biaya pelayanan dan jarak, judul gambaran upaya dalam mencari bantuan
sedangkan dua faktor dari masyarakat pengguna kesehatan pada masyarakat di Desa Botomulyo
pelayanan kesehatan adalah faktor pendidikan Kecamatan Cepiring Kabupaten Kendal.
dan status sosial ekonomi masyarakat.
METODE
Data berdasarkan hasil penelitian Tukiman dan
Jenis penelitian kuantitatif dengan desain
Jumirah (2001) dalam Sitorus (2003) tentang
deskriptif survei. Sampel dalam penelitian
“Perilaku masyarakat terhadap timbulnya gejala
kepala keluarga, teknik sampling proporsional
penyakit” diketahui bahwa ketika mengalami
random sampling, dengan alat penelitian
sakit ada sebanyak 5% yang membiarkan
menggunakan kuesioner karakteristik. Data
penyakitnya tanpa melakukan pengobatan, 5%
dianalisis berdasarkan distribusi frekuensinya.
melakukan pengobatan dengan cara sendiri,
diobati dengan jamu sebanyak 9%, memakai
HASIL
obat bebas sebanyak 63%, pergi ke dokter atau
Karakteristik usia lansia dapat dilihat pada
puskesmas sebanyak 18%. Artinya ketika
Tabel 1, karakteristik berdasarkan jenis kelamin
mengalami sakit, sebagian besar orang-orang
dan pendidikan lansia dapat dilihat pada tabel 2.
akan melakukan pengobatan dengan berbagai
Sedangkan perilaku personal hygiene lansia
cara. Pola pengobatan yang dilakukan
dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 1.
Distribusi frekuensi umur responden (n=273)
Umur Frekuensi Persentase
20-30 tahun 65 23,8
31-40 tahun 87 31,9
41-50 tahun 110 40,3
>50 tahun 11 4,0
Total 273 100,0
Tabel 1 diatas menunjukkan bahwa mayoritas (40,3%) dan sebagaian kecil responden berumur
responden berumur 41-50 tahun sebanyak 110 >50 tahun sebanyak 11 (4,0%).
Tabel 2.
Distribusi frekuensi jenis kelamin (n=273)
Jenis kelamin Frekuensi Persentase
Laki-laki 184 67,1
Perempuan 89 32,6
Total 273 100,0
Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa mayoritas
responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak
184 (67,1%).

Tabel 3.
Distribusi frekuensi pendidikan responden (n=273)
Pendidikan Frekuensi Persentase
SD 33 12,1
SMP 105 38,5
SMA 118 43,2
PT 17 6,2
Total 273 100,0
Tabel 3 diatas menunjukkan bahwa mayoritas (43,2%) dan minoritas responden berpendidikan
responden berpendidikan SMA sebanyak 118 PT sebanyak 17 (6,2%).

Tabel 4.
Distribusi frekuensi pekerjaan responden (n=273)
Pekerjaan Frekuensi Persentase
Petani 100 36,6
Pedagang 89 32,6
PNS 26 9,5
Karyawan 58 21,2
Total 273 100,0
Tabel 4 diatas menunjukkan bahwa mayoritas (36,6%) dan minoritas responden bekerja
responden bekerja sebagai petani sebanyak 100 sebagai PNS sebanyak 26 (9,5%).

Tabel 5.
Distribusi frekuensi upaya dalam mencari bantuan kesehatan (n=273)
Upaya dalam mencari bantuan kesehatan Frekuensi Persentase
Baik 157 57,5
Kurang baik 116 42,5
Total 273 100,0
Tabel 5 diatas menunjukkan bahwa mayoritas
responden upaya dalam mencari bantuan
kesehatan baik sebanyak 157 (57,5%).

PEMBAHASAN keluarga yang sakit dibawa ke dokter atau


Hasil jawaban responden mengatakan bahwa kerumah sakit bukan ke pengobatan tradisional.
keluarga membawa pasien yang sakit ke dokter
sebanyak 89,0%, memaksa anggota keluarga Rumah Sakit sebagai salah satu fasilitas
saya yang sakit ke puskesmas untuk melakukan pelayanan kesehatan memiliki peranyang sangat
pengobatan sebanyak 31,2%, mengantar strategis dalam menciptakan sumber daya
keluarga yang sakit kerumah sakit sebanyak manusia yang berkualitassebagai upaya
22,3%, memberikan uang untuk keluarga mempercepat peningkatan derajat kesehatan
berobat kerumah sakit 31,9% hal ini secara menyeluruh,merata, terjangkau dan dapat
dikarenakan kepala keluarga sudah sadar akan diterima oleh seluruh masyarakat(Lupioadi,
pentingnya kesehatan sehingga jika ada anggota 2016).Masyarakat lebih memilih melakukan
pengobatan kerumah sakit karena dirumah sakit
mendapat pelayanan yang baik, mempunyai dengan gambaran perilaku masyarakat dalam
fasilitas yang lengkap, menerima pasien tidak pencarian pengobatan infeksi saluran
mampu yang bisa menggunakan BPJS dan pernapasan akut di Wilayah Kejadian Luar
pasien yang mampu tidak menggunakan Biasa Avian Influenza Pada Unggas di Jawa
asuransi. Terdapat beberapa faktor yang Barat didapatkan hasil perilaku masyarakat baik
mempengaruhi tingkat pemanfaatan pelayanan dalam dalam pencarian pengobatan infeksi
kesehatan, sebagaimana dikemukakan oleh saluran pernapasan akut sebanyak 87,1% hal ini
Swastha (2000) yaitu tiga faktor yang berasal dikarenakan pengetahuan masyarakat mengenai
dari penyedia layanan kesehatan dan dua faktor gejalaflu burung dan cara penanggulangannya
dari masyarakat pengguna pelayanan baik, jugarisiko unggas mati mendadak pada
kesehatan.Tiga faktor dari penyedia layanan penyebaranpenyakit flu burung kepada manusia
kesehatan adalah fasilitas pelayanan, biaya masih sangat rendah sehingga mempengaruhi
pelayanan dan jarak, sedangkan dua faktor dari cara masyarakatdalam memilih pengobatan.
masyarakat pengguna pelayanan kesehatan
adalah faktor pendidikan dan status sosial Hasil jawaban responden tidak melakukan apa-
ekonomi masyarakat. apa jika ada anggota keluarga yang sakit
sebanyak 3,8%, hanya pasrah pada keluarga
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang sakit sebnayak 40,4%. Alasan lain adalah
dasar manusia yang diperlukan untuk fasilitas kesehatan yang diperlukan sangat jauh
pengembangan diri.Perbedaan tingkat letaknya, para petugas kesehatan tidak simpatik,
pendidikan menyebabkan perbedaan judes, tidak responsif dan sebagainya. Sehingga
pengetahuan kesehatan. Rendahnya tingkat keluarga tidak melakuka apa-apa jika ada
pendidikan dan tingkat ekonomi secara tidak anggota yang sakit dan akhirnya alasan takut
langsung akan mempengaruhi tingkat dokter, takut pergi kerumah sakit, takut biaya,
pengetahuan akan perlindungan masyarakat dan sebagainya.
terhadap diri dan keluarganya, sehingga
berdampak pada keluarganya dalam Hasil penelitian menujukkan masyarakat yang
pemanfaatan perawatan dan pelayanan no action pada anggota keluarga hal ini
kesehatan (Sulastri, 2008). dikarenakan banyak masyarakat yang belum
sadar akan pentingnya kesehatan, mereka
Kurangnya kesadaran masyarakat dalam membawa keluarganya periksa ke dokter yang
pemanfaatan pelayanan kesehatan dikarenakan sakit jika sudah parah. Masyarakat tidak
kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya bertindak atau tidak melakukan apa-apa (no
pelayanan kesehatan terhadap kesehatan action), alasannya antara lain bahwa kondisi
(Suhardjo, 2006).Selain itu faktor pendidikan, yang demikian tidak akan mengganggu
pengetahuan kesehatan seseorang dapat kegiatan atau kerja mereka sehari-hari.
dipengaruhi oleh beberapa faktor antar lain Mungkin mereka beranggapan bahwa tanpa
pengalaman, keyakinan, fasilitas, penghasilan bertindak apapun tanda atau gejala yang
dan sosial budaya.Kelima faktor yang dideritanya akan lenyap dengan sendirinya. Hal
memengaruhi pengetahuan kesehatan seseorang ini menunjukkan bahwa kesehatan belum
juga dapat memengaruhi persepsi dan sikap merupakan prioritas di dalam hidup dan
seseorang terhadap sesuatu (Notoatmodjo, kehidupannya(Notoadmodjo, 2012).
2012).
Masyarakat yang tidak melakukan apa-apa (no
Adanya fasilitas pelayanan kesehatan membuat action) hal ini dikarenakanfasilitas kesehatan
masyarakat untuk mencari pengobatan, yangjauh sehingga masyarakat malas untuk
sehingga masyarakat jika ada yang sakit melakukan pengobatan, petugas kesehatanyang
langsung membawa ke dokter maupun rumah kurang ramah kepada pasien, takut disuntik
sakit.Hasil ini berbeda dengan hasil dari dokter, dan takut karena biaya mahal sehingga
penelitian oleh Assegaf dan Hendrawan (2010) masyarakat tidak melakukan apa-apa (Lupioadi,
ditemukan bahwa 70% orang tua balita yang 2016). Penelitian ini sejenis dengan penelitian
sakit ISPA akan langsung ke tenaga medis yang dilakukan oleh Julike (2012) tentang
karena percaya bahwa pengobatan yang hubungan antara efikasi diri dengan perilaku
diberikan lebih terjamin dan sesuai. Penelitian mencari pengobatan pada penderita kanker
yang sama dilakukan oleh Rakhim (2014) payudara di RSUD Ibnu Sina Gresik didapatkan
hasil perilaku mencari pengobatan kurang mencapai 68% hal ini dikarenakan mereka
dengan tidak melakukan apa-apa karena jika mengetahui obat-obat yang di konsumsi
terdiagnosa menderita kanker payudara adalah sehingga menggobati sendiri di negara-negara
denial, marah, putus asa, dan cemas karena Eropa, Kuwait sebanyak92% banyaknya
sudah merasa putus asa maka pasien malas masyarakat mengobati sendiri karena merasa
untuk datang ke tenaga kesehatan. Hal-hal sakit sehingga harus membeli obat di apotik,
tersebut lumrah terjadi karena kondisi Nepal sebanyak 59% membeli obat sendiri
psikologis seseorang masih belum mampu supaya tidak merasa nyeri, China sebanyak
menerima kenyataan yang ada(Kubler-Ross, 32% mencari pengobatan sendiri karena
2009). pengetahuan yang baik tentang obat-obatan,
Turki sebanyak 45% tidak ada waktu kerumah
Hasil jawaban responden yaitu tidak membawa sakit sehingga mengobati sendiri, Sudan
anggota keluarga yang sakit kerumah sakit sebanyak 73,9% karena tidak ada waktu ke
karena mahalnya biaya sebanyak 21,2%, dokter untuk melakukan konsultasi.
menyiapkan oralit jika ada keluarga yang diare
25,8%, membelikan obat diwarung 2,7%, Hasil jawaban responden kurang setuju jika ada
melakukan pengobatan sendiri jika ada yang anggota keluarga yang sakit dibawa ke
sakit 25,6% dan selalu siap obat jika ada yang pengobatan alternatif 20,8%, responden hanya
sakit. Tindakan mengobati sendiri dikarenakan ingin melahirkan dirumah supaya biaya tidak
keluarga takut akan bertambahnya penyakit mahal 53,5%, mencari pengobatan kedukun
sehingga membelikan obat diwarung, dan 12,3%, membawa keluarga yang sakit ke
menyiapkan obat dirumah (Lupioadi, 2016). pengobatan tradisional 23,1%, dan memberikan
jamu jka ada keluarga yang sakit
Husein dan Khanum (2010) menyebutkan 22,3%.Mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas
bahwa pengobatan sendiri (self pengobatan tradisional (traditional remedy),
medication)merupakan tindakan penggunaan seperti dukun.Keempat, mencari pengobatan
obat oleh seseorang tanpa berkonsultasi dengan dengan membeli obat-obat ke warung-warung
dokter mengenai indikasi, dosis dan durasi dari obat (chemist shop) dan sejenisnya, termasuk ke
penggunaan obat tersebut. Menurut Supardi tukang-tukang jamu dan kelima, mencari
(2010) pengobatan sendiri merupakan tindakan pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan
pengobatan sakit menggunakan obat, obat modern yang diadakan oleh pemerintah atau
tradisional atau cara tradisional tanpa petunjuk lembaga-lembaga kesehatan swasta,
ahlinya. Menurut WHO, pengobatan sendiri yangdikategorikan ke dalam balai pengobatan,
merupakan pemilihan dan penggunaan obat puskesmas, dan rumah sakit (Notoadmodjo,
yang dilakukan oleh diri sendiri untuk 2012).
mengobati gejala dan penyakit menurut dirinya
sendiri. Pengobatan sendiri menggunakan
obattradisional merupakan pengobatan sendiri
Tindakan mengobati sendiri (self treatment) dengan menggunakan obat secara tradisional
dengan alasan yang sama seperti telah diuraian. atau bahan tradisional.Pengobatan sendiri
Alasan tambahan dari tindakan ini adalah berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan, hewan,
karena orang atau masyarakat tersebut sudah mineral, atau campuran bahan
percaya kepada diri sendiri, dan sudah merasa tersebut.Prinsippengobatan berdasarkan
bahwa berdasar pengalaman yang lalu usaha pengalaman dari keluarga secara turun-temurun
sendiri sudah mendatangkan kesembuhan.Hal ataupun dari kerabat(Lupioadi, 2016).
ini mengakibatkan pengobatan keluar tidak
diperlukan(Lupioadi, 2016). Bahanherbal telah digunakan sejak zaman kuno
oleh manusia sebagai cara untuk mencapaiatau
Penelitian Self Medication Practice Among memulihkan kesehatan. Bahan yang berasal dari
Dental Patient of Afid: A Cross Sectional Study tanaman telah diteliti oleh perusahaan farmasi
oleh Izzah Abid, dkk (2010) dan artikel sebagai sumber phytotherapeutic. Organisasi
Prevalence of Self Medication Among Dental kesehatan dunia (WHO) pada tahun 1978
Patientsoleh Qaiser Ali Baig, dkk pada tahun menyatakan kebutuhan untuk menghargai
2012 menuliskan bahwa pengobatan sendiri penggunaantanaman obat dalam sistem
kesehatan masyarakat, karena beberapa studi tinggi, pelayanan yang tidak memuaskan dan
telah menunjukkan bahwahampir80%dari sebagainya(Lupioadi, 2016).
populasi dunia menggunakan tanaman sebagai
pertolongan pertama (Swastha, 2000). Penelitian yang dilakukan oleh Tiolena H
Ristarolas (2009) tentang faktor-faktor yang
Penelitian yang dilakukan oleh Sudjaswadi mempengaruhi keterlambatan pengobatan pada
(2008) tentang perilaku pengobatan sendiri wanita penderita kanker payudara RSUP H.
yang rasional pada masyarakat Kecamatan Adam Malik Medan didapatkan hasil Masa
Depok dan Cangkringan Kabupaten Sleman inkubasi penyakit kanker payudara lama
didapatkan hasil terdapat hubungan antara sehingga informan tidak tahu sudah menderita
perilaku tentang pengobatan sendiri, jenis kanker payudara pada stadium III dan ketika
kelamin, umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, informan memutuskan untuk berobat informan
dan tingkat pendapatan dengan perilaku sudah terlambat untuk mendapatkan
pengobatan sendiri yang rasional responden pengobatan. Faktor pemungkin (enabling
perempuan banyak terlibat dalam pengobatan factor) yang mempengaruhi keterlambatan
anggota keluarganya dibandingkan dengan pengobatan yaitu fasilitas pengobatan di tempat
responden laki-laki. Dengan demikian, baik pengobatan sebelumnya yang tidak lengkap
langsung ataupun tidak, hal tersebut akan sehingga informan harus dirujuk ke RSUP
mempengaruhi perilaku pengobatan sendiri. H.Adam Malik Medan.
Kelompok umur di bawah 30 tahun secara
fisiologis masih sehat, sehingga kemungkinan Masyarakat yang mendapat penyakit datang ke
untuk menggunakan obat-obatan masih pusat pelayanan kesehatan sudah dalam stadium
sedikit.Hal ini memberikan peluang terjadinya lanjut dikarenakan mereka tidak merasakan
permasalahan yang berhubungan dengan sakit (disease but not illness). Masyarakat
pengobatan (drug related problems) yang belum menjadikan kesehatan prioritas di dalam
kecil.Sebaliknya, kelompok umur lebih dari 30 hidupnya sehingga masyarakat lebih memilih
tahun mulai merasakan tidak optimal memprioritaskan tugas-tugas yang lebih penting
kesehatannya, atau mengalami tanda-tanda daripada mengobati sakitnya karena kondisi
penyakit degeneratif. Hal ini menyebabkan sakit itu dianggap tidak akan mengganggu
meningkatnya penggunaan obat, dan peluang kegiatan atau tugasnya sehari-hari. Perilaku
terjadinya drug related problems semakin besar, atau usaha untuk mengobati penyakitnya sendiri
sehingga mengakibatkan ketidakrasionalan baru akan timbul apabila mereka diserang
penggunaan obat (Sudjaswadi, 2008). penyakit dan merasakan sakit. Mereka
mengobati penyakitnya berdasarkan
Hasil jawaban responden keluarga tidak ada pengalamannya dengan obat-obatan dari
waktu untuk mengantar kerumah sakit 63,8%, warung atau memilih pengobatan tradisional
keluarga tidak langsung segera membawa ke (Notoatmodjo, 2012).
puskesmas 81,9%, membiarkan keluara yang
sakit 89,9%, melakukan pengobatan jika sudah
SIMPULAN DAN SARAN
parah 79,2%, hanya memberikan makanan dan
minuman pada keluarga yang sakit 67,7%,
Simpulan
Mayoritas responden berumur 41-50 tahun
hanya mendengarkan orang yang dianggap
sebanyak 110 (40,3%), berjenis kelamin laki-
penting di desanya 62,3%, susah mencari
laki sebanyak 184 (67,4%), berpendidikan
pengobatan di desa 48,8%, membawa ke dokter
SMA sebanyak 118 (43,2%) dan bekerja
jika ada perinta dari tentangga 56,9% dan hanya
sebagai petani sebanyak 100 (36,6%). Upaya
mementingkan diri sendiri 68,5%.
masyarakat dalam mencari bantuan kesehatan
baik sebanyak 157 (57,5%), namun 42,5%
Treatment delay adalah rentang waktu yang
mayarakat masih kurang dalam mencari
telah berlalu ketika individu mengalami
bantuan kesehatan
simptom awal sampai individu memasuki
pelayanan kesehatan dari praktisi kesehatan.
Rendahnya penggunaan fasilitas kesehatan ini, Saran
seringkali kesalahan dan penyebabnya Hasil penelitian ini diharapkan agar masyarakat
dikarenakan faktor jarak antara fasilitas tersebut mengantar dan memaksa anggota keluarga yang
dengan masyarakat yang terlalu jauh, tarif yang sakit ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk
melakukan pengobatan, membuatkan oralit jika Eksklusif di Ruang
ada keluarga yang diare, menyediakan obat Nifas
dirumah dan tidak setuju jika ada anggota RS.Sariningsih.Diambil dari
keluarga yang sakit di bawa ke pengobatan http//www.pustaka.unpad.ac.id/wp.../Gam
alternatif. baran_Pengetahuan_Ibu_menyusui.pdf.
DAFTAR PUSTAKA Notoadmodjo (2010).Pendidikan dan Perilaku
Faisal. (2010). “Prinsip Kerja sama dan Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Kesantunan Bahasa Perawat dalam
Menghadapi Pasien yang Mengalami Rahayu.(2013). Persepsi masyarakat terhadap
Gangguan Jiwa di RSJ. Prof. DR. pertolongan pertama pada kecelakaan di
Soeroyo Magelang.”Skripsi. Surakarta: Tulis Kabupaten Batang.Skripsi.
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Rakhim (2014) Gambaran perilaku masyarakat
Fitriani. (2011). Promosi Kesehatan. Ed 1. dalam pencarian pengobatan infeksi
Yogyakarta: Graha Ilmu. saluran pernapasan akut di Wilayah
Kejadian Luar Biasa Avian Influenza Pada
Friedman. (2010).Buku ajar keperawatan Unggas di Jawa Barat.
keluarga : Riset, Teori dan.
Praktek.Jakarta : EGC Santrock, (2007).Psikologi Perkembangan.
Edisi 11 Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Hidayat. (2009). Metode Penelitian Kebidanan
Dan Tehnik Analisis Data. Surabaya: Sarafino. (2011). Health Psychology :
Salemba. Biopsychosocial

Jabrohim. (2014). Teori Penelitian Sastra. Interactions.Fifth Edition.USA : John


Yogyakarta, Pustaka Pelajar. Wiley & Sons.
Kusmayanti. (2005). Gambaran Tingkat Sari. (2009).Perbedaan Risiko Depresi
Pengetahuan Ibu Nifas tentang ASI Postpartum Antara IbuPrimipara
Dengan Multipara Di RSIA ‘Aisyiyah
Klaten. Available from:
http://etd.eprints.ums.ac.id/9449/.