Anda di halaman 1dari 8

ILMU, FILSAFAT, AGAMA

oleh :
BUBUNG NIZAR PAMUNGKAS

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kesungguhan dalam menemukan sesuatu kebenaran melahirkan keyakinan tersendiri.
Tetapi disini harus saling melengkapi artinya untuk menemukan sesuatu yang benar-
benar sesungguhnya dilihat dari berbagai sisi maksudnya dari mulai akal, serta wahyu.
Hal ini terutama ilmuselalu exis bahkan merupakan salh satu alat untuk pencarian
pengetahuan atau sesuatu. Begitu juga filsapat yang has dalam pencarian hakikat sesuatu.
Hanya juga agama dijadikan modal sekaligus pondamentalis dalam mendapatkan
kebenaran.

1.2. Rumusan Masalah


1. Definisi Ilmu
2. Definisi Filsapat
3. Definisi Agama
4. Hubungan Ilmu, Filsapat dan Agama
1.3. Tujuan
Agar bisa menemukan sesuatu yang sebenarnya dilihat dari berbagai bentuk ilmu, filsapa
dan agama.

BAB II
PEMBAHASAN

1. DEFINISI ILMU
Definisi ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum sebab-akibat
dalam suatu golongan masalah yang sama sifatnya, baik menurut kedudukannya (apabila
dilihat dari luar), maupun menurut hubungannya (jika dilihat dari dalam). Mohammad
Hatta-- Definisi ilmu dapat dimaknai sebagai akumulasi pengetahuan yang
disistematisasikan. Suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia
empiris.Ilmu dapat diamati panca indera manusia.Suatu cara menganalisis yang
mengizinkan kepada para ahlinya untuk menyatakan suatu proposisi dalam bentuk:
"jika,...maka..."
Definisi ilmu bergantung pada cara kerja indera-indera masing-masing individu dalam
menyerap pengetahuan dan juga cara berpikir setiap individu dalam memroses
pengetahuan yang diperolehnya. Selain itu juga, definisi ilmu bisa berlandaskan aktivitas
yang dilakukan ilmu itu sendiri. Kita dapat melihat hal itu melalui metode yang
digunakannya.

Sifat-sifat ilmu
Dari definisi yang diungkapkan Mohammad Hatta dan Harjono di atas, kita dapat melihat
bahwa sifat-sifat ilmu merupakan kumpulan pengetahuan mengenai suatu bidang tertentu
yang...
Berdiri secara satu kesatuan,
Tersusun secara sistematis,
Ada dasar pembenarannya (ada penjelasan yang dapat dipertanggung jawabkan disertai
sebab-sebabnya yang meliputi fakta dan data),
Mendapat legalitas bahwa ilmu tersebut hasil pengkajian atau riset.
Communicable, ilmu dapat ditransfer kepada orang lain sehingga dapat dimengerti dan
dipahami maknanya.
Universal, ilmu tidak terbatas ruang dan waktu sehingga dapat berlaku di mana saja dan
kapan saja di seluruh alam semesta ini.
Berkembang, ilmu sebaiknya mampu mendorong pengetahuan-pengatahuan dan
penemuan-penemuan baru. Sehingga, manusia mampu menciptakan pemikiran-pemikiran
yang lebih berkembang dari sebelumnya.
Dari penjelasan di atas, kita dapat melihat bahwa tidak semua pengetahuan dikategorikan
ilmu. Sebab, definisi pengetahuan itu sendiri sebagai berikut: Segala sesuatu yang datang
sebagai hasil dari aktivitas panca indera untuk mengetahui, yaitu terungkapnya suatu
kenyataan ke dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadapnya, sedangkan ilmu
menghendaki lebih jauh, luas, dan dalam dari pengetahuan.

Mengapa ilmu hadir?


Pada hakekatnya, manusia memiliki keingintahuan pada setiap hal yang ada maupun
yang sedang terjadi di sekitarnya. Sebab, banyak sekali sisi-sisi kehidupan yang menjadi
pertanyaan dalam dirinya. Oleh sebab itulah, timbul pengetahuan (yang suatu saat)
setelah melalui beberapa proses beranjak menjadi ilmu.

Bagaimanakah manusia mendapatkan ilmu?


Manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan sempurna, yaitu dilengkapi dengan
seperangkat akal dan pikiran. Dengan akal dan pikiran inilah, manusia mendapatkan
ilmu, seperti ilmu pengetahuan sosial, ilmu pertanian, ilmu pendidikan, ilmu kesehatan,
dan lain-lain. Akal dan pikiran memroses setiap pengetahuan yang diserap oleh indera-
indera yang dimiliki manusia.
Dengan apa manusia memperoleh, memelihara, dan meningkatkan ilmu?
Pengetahuan kaidah berpikir atau logika merupakan sarana untuk memperoleh,
memelihara, dan meningkatkan ilmu. Jadi, ilmu tidak hanya diam di satu tempat atau di
satu keadaan. Ilmu pun dapat berkembang sesuai dengan perkembangan cara berpikir
manusia.

2. DEFINISI FILSAPAT
Menurut Ahmad Sadali dan Mudzakir Filsapat adalah pengetahhuan tentang sesuatu yang
non-empirik dan non-eksperimental diperoleh manusia dengan usaha melalui pikiran
yang mendalam.
Poedja wijatma (1974:11) mendefinisikan dilsapat sebagai sejenis pengetahuan yang
berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran
belaka.
Hasbullah Bakri (1971:11) mendefinisikan bahwa filsapat adalah pengetahuan yang
berminat mencapai kebenaran asli. Aristoteles mendefinisikan fislapat sebagai
pengetahuan yang meliputi kebenaran yang tergabung didalam metadisika, logika,
retorika, ekonomi, politik serta estetika. Bagi Alfarabi Filsapat ialah pengetahuan tentang
alam wujud bagaimana hakikat yang sebenarnya. Imanuel kant mendefinisikan Filsapat
sebagai pengetahuan yang menjadi pokok pangkal segala pengetahuan yang tercakup
meliputi :
- Apa yang dapat diketahui? (jawabannya metafisika)
- Apa yang seharusnya diketahui? (jawabannya etika)
- Sampai dimana harapan kita ? (jawabannya Agama)
- Apa itu manusia ? (jawabannya antropologi)

3. DEFINISI AGAMA
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan
kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran
kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.
Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti "tradisi". Sedangkan
kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio
dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya
dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.

Beberapa pendapat
Dalam bahasa Sansekerta Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti
"tradisi".Dalam bahasa Sansekerta artinya tidak bergerak (Arthut Mac Donnell).
Agama itu kata bahasa Sansekerta (yaitu bahasa agama Brahma pertama yang berkitab
Veda) ialah peraturan menurut konsep Veda (Dr. Muhammad Ghalib).
Dalam bahasa Latin Agama itu hubungan antara manusia dengan manusia super (Servius)
Agama itu pengakuan dan pemuliaan kepada Tuhan (J. Kramers Jz)
Dalam bahasa Eropa Agama itu sesuatu yang tidak dapat dicapai hanya dengan tenaga
akal dan pendidikan saja (Mc. Muller dan Herbert Spencer)
A.S. Hornby, E.V Gatenby dan Wakefield mengomentari bahwa Agama itu kepercayaan
kepada adanya kekuasan mengatur yang bersifat luar biasa, yang pencipta dan pengendali
dunia, serta yang telah memberikan kodrat ruhani kepada manusia yang berkelanjutan
sampai sesudah manusia mati
Dalam bahasa Indonesia
Drs. Sidi Gazalba menyatakan bahwa Agama itu hubungan manusia Yang Maha Suci
yang dinyatakan dalam bentuk suci pula dan sikap hidup berdasarkan doktrin tertentu.
Agama adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan
nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang
bertalian dengan kepercayaan tersebut (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997)
Dalam bahasa Arab Agama dalam bahasa arab ialah din, yang artinya :
• taat
• takut dan setia
• paksaan
• tekanan
• penghambaan
• perendahan diri
• pemerintahan
• kekuasaan
• siasat
• balasan
• adat
• pengalaman hidup
• perhitungan amal
• hujan yang tidak tetap turunnya
Sinonim kata din dalam bahasa arab ialah milah. Bedanya, milah lebih memberikan titik
berat pada ketetapan, aturan, hukum, tata tertib, atau doktrin dari din itu.
Definisi tentang agama dipilih yang sederhana dan meliputi. Artinya definisi ini
diharapkan tidak terlalu sempit atau terlalu longgar tetapi dapat dikenakan kepada agama-
agama yang selama ini dikenal melalui penyebutan nama-nama agama itu. Untuk itu
terhadap apa yang dikenal sebagai agama-agama itu perlu dicari titik persamaannya dan
titik perbedaannya.
Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannnya
menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang
luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang luar biasa
itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri. Misal Tuhan, Dewa,
God, Syang-ti, Kami-Sama dan lain-lain atau hanya menyebut sifat-Nya saja seperti
Yang Maha Kuasa, Ingkang Murbeng Dumadi, De Weldadige dll.
Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan
cara menghambakan diri , yaitu :
• menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari
Tuhan
• menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini berasal dari Tuhan
Dengan demikian diperoleh keterangan yang jelas, bahwa agama itu penghambaan
manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian agama terdapat 3 unsur, ialah manusia,
penghambaan dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur
pokok pengertian tersebut dapat disebut agama.
Cara Beragama
Berdasarkan cara beragamanya :
1. Tradisional, yaitu cara beragama berdasar tradisi. Cara ini mengikuti cara beragamanya
nenek moyang, leluhur atau orang-orang dari angkatan sebelumnya. Pada umumnya kuat
dalam beragama, sulit menerima hal-hal keagamaan yang baru atau pembaharuan.
Apalagi bertukar agama, bahkan tidak ada minat. Dengan demikian kurang dalam
meningkatkan ilmu amal keagamaanya.
2. Formal, yaitu cara beragama berdasarkan formalitas yang berlaku di lingkungannya
atau masyarakatnya. Cara ini biasanya mengikuti cara beragamanya orang yang
berkedudukan tinggi atau punya pengaruh. Pada umumnya tidak kuat dalam beragama.
Mudah mengubah cara beragamanya jika berpindah lingkungan atau masyarakat yang
berbeda dengan cara beragamnya. Mudah bertukar agama jika memasuki lingkungan atau
masyarakat yang lain agamanya. Mereka ada minat meningkatkan ilmu dan amal
keagamaannya akan tetapi hanya mengenai hal-hal yang mudah dan nampak dalam
lingkungan masyarakatnya.
3. Rasional, yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan rasio sebisanya. Untuk itu
mereka selalu berusaha memahami dan menghayati ajaran agamanya dengan
pengetahuan, ilmu dan pengamalannya. Mereka bisa berasal dari orang yang beragama
secara tradisional atau formal, bahkan orang tidak beragama sekalipun.
4. Metode Pendahulu, yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan akal dan hati
(perasaan) dibawah wahyu. Untuk itu mereka selalu berusaha memahami dan menghayati
ajaran agamanya dengan ilmu, pengamalan dan penyebaran (dakwah). Mereka selalu
mencari ilmu dulu kepada orang yang dianggap ahlinya dalam ilmu agama yang
memegang teguh ajaran asli yang dibawa oleh utusan dari Sesembahannya semisal Nabi
atau Rasul sebelum mereka mengamalkan, mendakwahkan dan bersabar (berpegang
teguh) dengan itu semua.

4. HUBUNGAN ANTARA ILMU, FILSAFAT, AGAMA


Ilmu, filsapat serta agama mempunyai hubungan yang kuat terkait pada manusia, karena
ke tiga tersebut adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan pada manusia, yakni ketiga
tersebut ada potensinya pada manusia yaitu, akal, rasa dan keyakinan. Sehingga dengan
ketiga tersebut manusia dapat merasakan dan meraih sesuatu ykepuasan dari hidupnya
yakni kebahagiaan dan tujuannya.
Ilmu mendasar pada akal, filsapat mendasar pada otoritas akal murni secara radikal pada
kenyataan dan agama mendasar pada wahyu.
Prof. Nasroen, S.H., menerangkan bahwa filsafat yang sejati haruslah berdasar pada
agama karena filsapat terkandung dalam agama. Bila filsafat tidak terkandung pada
agama maka filsapat itu akan memuat kebenaran objektif karena segala sesuatunya
dengan pikiran akal. Sedangkan kemampuan akal itu terbatas, dan tidak mungkin untuk
menerima pada hal-hal yang gaib.
Sebagaian ada yang menyatakan bahwa hubungan Ilmu, Filsapat dan Agama adalah:
a. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan. Ilmu Sejarah telah dapat membuktikan tentang
pengungkapan ilmiah manusia yang sangat menonjol di dunia adalah di zaman Yunani
Kuno (abad IV dan V S.M). Bangsa Yunani ditakdirkan Allah sebagai manusia yang
mempunyai akal jernih. Bagi mereka ilmu itu adalah suatu keterangan rasional tentang
sebab-musabab dari segala sesuatu didunia ini. Dunia adalah kosmos yang teratur dengan
aturan kausalitas yang bersifat rasional. Demikianlah tiga dasar yang menguasai ilmu
orang Yunani pada waktu itu, yaitu: Kosmos, Kausalitas dan Rasional.
Pada hakikatnya kelahiran cara berfikir ilmiah itu merupakan suatu revolusi besar dalam
dunia ilmu pengetahuan, karena sebelum itu manusia lebih banyak berpikir menurut
gagasan-gagasan magi dan mitologi yang bersifat gaib dan tidak rasional.
Dengan berilmu dan berfilsafat manusia ingin mencari hakikat kebenaran daripada segala
sesuatu Dalam berkelana mencari pengetahuan dan kebenaran itu menusia pada akhirnya
tiba pada kebenaran yang absolut atau yang mutlak yaitu ‘Causa Prima’ daripada segala
yang ada yaitu Allah Maha Pencipta, Maha Besar, dan mengetahui.
Oleh karena itu kita setuju apabila disebutkan bahwa manusia itu adalah mahluk pencari
kebenaran. Di dalam mencari kebenaran itu manusia selalu bertanya.
Dalam kenyataannya makin banyak manusia makin banyaklah pertanyaan yang timbul.
Manusia ingin mengetahui perihal sangkanparannya, asal mula dan tujuannya, perihal
kebebasannya dan kemungkinan-kemungkinannya. Dengan sikap yang demikian itu
manusia sudah menghasilkan pengetahuan yang luas sekali yang secara sistematis dan
metodis telah dikelompokan kedalam berbagai disiplin keilmuwan. Namun demikian
karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka sejumlah besar pertanyaan tetap
relevan dan aktual seperti yang muncul pada ribuan tahun yang lalu, yang tidak terjawab
oleh Ilmu pengetahuan seperti antara lain: tentang asal mula dan tujuan manusia, tentang
hidup dan mati, tentang hakikat manusia sebagainya. Ketidakmampuan Ilmu pengetahuan
dalam menjawab sejumlah pertanyaan itu, maka Filasafat tempat menampung dan
mengelolahnya. Filsafat adalah ilmu yang tanpa batas, tidak hanya menyelidiki salah satu
bagian dari kenyataan saja, tetapi segala apa yang menarik perhatian manusia.
b. Definisi Ilmu Pengetahuan dan Filsafat. Arthur Thompson dalam bukunya” An
Introducation to Science” menuliskan bahwa ilmu adalah diskripsi total dan konsisten
dari fakta-fakta empiri yang dirumuskan secara bertanggung jawab dalam istilah- istilah
yang sederhana mungkin. Untuk menjelaskan perbedaan antara Ilmu Pengetahuan dan
Filsafat, baiklah dikemukakan rumusan Filsafat dari filsuf ulung Indonesia Prof. DR. N.
Driyarkara S.Y., yang mengatakan “Filsafat adalah pikiran manusia yang radikal, artinya
yang dengan mengesampingkan pendirian-pendirian dan pendapat- pendapat yang
diterima saja, mencoba memperlihatkan pandangan yang merupakan akar dari lain-lain
pandangan dan sikap praktis. Jika filsafat misalnya bicara tentang masyarakat, hukum,
sisiologi, kesusilaan dan sebagainya, di satu pandangan tidak diarahkan ke sebab-sebab
yang terdekat, melainkan ‘ke’mengapa’ yang terakhir sepanjang kemungkinan yang ada
pada budi manusia berdasarkan kekuatannya itu. “Filsafat adalah ilmu Pengetahuan dan
Teknologi, filsafat tidak memperlihatkan banyak kemajuan dalam bidang penyelidikan.
Ilmu pengetahuan dan Teknologi bahkan melambung tinggi mencapai era nuklir dan
sudah diambang kemajuan dalam mempengaruhui penciptaan dan reproduksi manusia itu
sendiri dengan revolusi genitika yang bermuara pada bayi tabung I di Inggris serta
diambang kelahiran kurang lebih 100 bayi tabung yang sudah hamil tua. Di satu pihak
fakta yang tak dapat dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat berutang kepada ilmu
pengetahuan dan teknologi, berupa penciptaan sarana yang memudahkan pemenuhan
kebutuhan manusia untuk hidup sesuai dengan kodratnya. Inilah dampak positifnya
disatu pihak sedangkan dipihak lainnya bdampak negatifnya sangat menyedihkan. Bahwa
ilmu yang bertujuan menguasai alam, sering melupakan faktor eksitensi manusia, sebagai
bagian daripada alam, yang merupakan tujuan pengembangan ilmu itu sendiri kepada
siapa manfaat dan kegunaannya dipersembahkan. Kemajuan ilmu teknologi bukan lagi
meningkatkan martabat manusia itu, tetapi bahkn harus dibayar dengan kebahagiaannya.
Berbagai polusi dan dekadensi dialami peradaban manusia disebabkan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi itu. Dalam usahanya pendidikan keilmuwan bukanlah semata-
mata ditujukan untuk menghasilkan ilmuwan yang pandai dan trampil, tetapi juga
bermoral tinggi.
c. Abstraksi
Untuk menerangkan selanjutnya hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan, baiklah
dikemukakan pendapat Aristoteles tentang abstraksi. Menurut beliau pemekiran manusia
melampaui 3 jenis abstraksi (kata Latin ‘abstrahere’ yang berarti menjauhkan diri)
Percobaan (eksperimen) sebagai batu ujian. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara
mengelanakan atau mengembarakan akal budi secara redikal (mengakar), dan integral
(menyeluruh) serta universal (mengalam),tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali
ikatan tangannya sendiri yang disebut ’logika’ Manusia dalam mencari dan menemukan
kebenaran dengan dan dalam agama dengan jalan mempertanyakan pelbagi masalah asasi
dari suatu kepada kitab Suci, kondifikasi Firman Allah untuk manusia di permukaan
planet bumi ini. Kebenaran ilmu pengetahuan ialah kebenaran positif, kebenaran filsafat
ialah kebenaran spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiri, riset,
eksperimen). Kebenaran ilmu pengetahuan dan filsafat keduanya nisbi (relatif). Dengan
demikian terungkaplah bahwa manusia adalah mahluk pencari kebenaran. Di dalam
mencari, menghampiri dan menemukan kebenaran itu terdapat tiga buah jalan yang
ditempuh manusia yang sekaligus merupakan institut kebenaran yaitu : Ilmu, filsafat dan
Agama

BAB III
KESIMPULAN

Ilmu, filsapat serta agama mempunyai hubungan yang kuat terkait pada manusia, karena
ke tiga tersebut adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan pada manusia, yakni ketiga
tersebut ada potensinya pada manusia yaitu, akal, rasa dan keyakinan. Sehingga dengan
ketiga tersebut manusia dapat merasakan dan meraih sesuatu ykepuasan dari hidupnya
yakni kebahagiaan dan tujuannya.
Ilmu mendasar pada akal, filsapat mendasar pada otoritas akal murni secara radikal pada
kenyataan dan agama mendasar pada wahyu.
Prof. Nasroen, S.H., menerangkan bahwa filsafat yang sejati haruslah berdasar pada
agama karena filsapat terkandung dalam agama. Bila filsafat tidak terkandung pada
agama maka filsapat itu akan memuat kebenaran objektif karena segala sesuatunya
dengan pikiran akal. Sedangkan kemampuan akal itu terbatas, dan tidak mungkin untuk
menerima pada hal-hal yang gaib.

DAFTAR PUSTAKA
• Akrabi Shofie, Pendidikan Agama Islam, Gunung Pesagi. Bandar Lampung 2006
• Syadali Ahmad Mudzakir, Filsafat Umum, Pustaka Setia, Bandung 1997
• Suriasumantri Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sianr Harapan,
Jakarta 2005
• "http://id.wikipedia.org/wiki/Agama"
• MH, Amin Jaiz, Pokok-pokok Ajaran Islam, Korpri Unit PT. Asuransi Jasa Indonesia
Jakarta, 1980
• http://www.anneahira.com/ilmu/index.htm
• http://yudhim.blogspot.com/2008/01/hubungan-ilmu-pengetahuan-filsafat-dan.html