Anda di halaman 1dari 13

ABSTRAK

Permukiman, sebagai suatu tempat terjadinya interaksi dalam masyarakat,


tentunya memiliki karakteristik yang khas dari masing-masing masyarakat yang
ada di dalamnya. Hal tersebut sangat bergantung pada faktor-faktor
pendukungnya, baik dari sosio-kultural masyarakat, maupun dari bentuk adaptasi
terhadap lingkungan di sekitar permukiman, maupun sejarah kawasan yang
pernah muncul, sebagai awal terbentuknya suatu permukiman.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik pola
permukiman masyarakat di Desa Pinggir Papas, Kabupaten Sumenep, untuk
memperkaya tipologi permukiman masyarakat di Madura. Dipergunakan metode
deskriptif, eksploratif, dan kualitatif, untuk mendapatkan informasi yang lebih
detail mengenai kawasan penelitian. Dalam hal ini, Desa Pinggir Papas sebagai
kawasan yang berada di pesisir pantai paling timur Pulau Madura, dapat dikatakan
menjadi pintu gerbang masuknya berbagai budaya baru yang sedikit banyak dapat
memberikan pengaruh bagi kehidupan masyarakatnya. Selain itu, potensi alam
setempat sebagai penghasil garam terbesar di Pulau Madura, memunculkan suatu
bentuk permukiman penduduk yang disesuaikan dengan kondisi alam setempat.
Orientasi bangunan maupun letak bangunan-bangunan khusus maupun beberapa
fasilitas yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, merupakan suatu hasil
observasi dan analisa yang memberikan karakteristik yang khas bagi kawasan
penelitian.
Kata Kunci: Permukiman, petani garam, karakteristik

ABSTRACT
Human settlement, as an places where interaction’s happen in the societ. It have
some typical characteristic from each society in depth. The settlement is base on
its supporter factors, such as society socio-culture, adaptation of the environment,
and also the histories of area which have emerged, as early formed of this
settlement. The aim of this research is to identify the characteristic of human
settlement’s pattern in Desa Pinggir Papas, Kabupaten Sumenep, as an effort to
complete data of human settlement in Madura. This research utilize, explore and
descriptive analysis methods and qualitative method, to get more information
about researches area. In this case, Pinggir Papas as an area residing in east
coastal area in Madura Island, become gateway entry of various new culture
which more or less can give influence to the societies life’s. Besides, local natural
potency as the biggest producer of salt in Madura Island, peeping out a specifics
form of settlement which it’s adapted from the condition of local nature. Building
orientation and also special buildings situation and some facility having an effect
to life of society, representing an result of analysis and observation giving typical
characteristic to research area.
Keyword: human settlement, salt farmer, characteristic
arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 1, Maret 2008 1
Pendahuluan
Pulau Madura merupakan salah satu pulau di Indonesia, dengan potensi
keanekaragaman, baik sumber daya alam maupun budaya. Mata pencaharian
penduduk Madura pada umumnya sebagai petani dan nelayan yang pada akhirnya
menimbulkan tradisi dalam berhuni maupun dalam budaya kehidupannya.
Masyarakat agraris Madura, memunculkan suatu bentuk permukiman masyarakat
yang dikenal dengan pola permukiman taneyan lanjang, sebagai suatu bentuk
untuk menjaga hubungan kekerabatan dalam masyarakat. Permukiman taneyan
lanjang tersebar dan berpencar-pencar dalam kelompok-kelompok kecil,
mengikuti letak tegalan yang mereka miliki. Pola peletakan bangunannya pun
disesuaikan dengan kebutuhan penghuninya, yaitu adanya musholla (langgar),
sebagai pusat/sumbu utama pola cluster, rumah induk (roma tongghu), dapur
(dapor), kandang, kamar mandi (pakeban), serta lumbung (lombung).
Mata pencaharian lain bagi masyarakat Madura daerah pesisir, yaitu sebagai
nelayan dan petani garam. Usaha pegaraman yang diusahakan masyarakat, berada
pada kawasan Madura timur dan bagian selatan, mengingat curah hujan yang
lebih rendah di kawasan tersebut. Selama musim hujan, di lahan-lahan kering
yang menjadi tambak garam tersebut berubah menjadi tambak-tambak ikan
(Laporan Singkat Situasi Pertanian di Madura 1977 dalam Jonge 1989), sehingga
usaha yang dijalankan bergantian menurut musim yang sedang berlangsung.
Saat ini daerah penghasil garam terbesar di Madura berada di Kabupaten
Sumenep, yaitu di Desa Pinggir Papas serta daerah pesisir sekitarnya. Sebagai
salah satu wilayah yang berada di kawasan Madura timur wilayah tersebut
menjadi pintu gerbang Pulau Madura untuk kawasan timur, yaitu melalui
pelabuhan Kalianget, serta pelabuhan-pelabuhan kecil yang ada di pantai ujung
timur Pulau Madura, seperti Gresik Putih, Dungkek dan wilayah sekitarnya. Tidak
tertutup kemungkinan budaya luar masuk ke kawasan tersebut. Budaya-budaya
tersebut masuk melalui masyarakat luar yang membawa budaya aslinya maupun
masyarakat Madura sendiri yang merantau dan kembali membawa budaya di
perantauan (Amiuza et al. 1996).
Dengan adanya penyesuaian terhadap keadaan alam, maka perbedaan karakteristik
arsitektur tradisional Madura dari masyarakat agraris pertanian dengan
masyarakat petani garam menambah keragaman variasi tipologis karakteristik
permukiman yang disesuaikan dengan kondisi mata pencaharian yang mereka
tekuni. Pola pembentukan tata ruang yang terjadi dipengaruhi letak tambak yang
cenderung mengelilingi permukiman, sehingga berdasarkan hal-hal yang
mempengaruhi, pola permukiman yang ada, memiliki kemungkinan berbeda
dengan pola permukiman masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani
ladang. Demikian pula dengan kebutuhan ruang dalam skala makro maupun mikro
serta bahan penyusun bangunan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-
masing penghuninya dan kondisi alam setempat.
Desa Pinggir Papas yang terletak di pesisir timur Pulau Madura memiliki
kemungkinan untuk mendapat pengaruh dari salah satu kebudayaan asing yang
pernah singgah di daerah tersebut. Kondisi penduduk yang bermata pencaharian
sebagai petani garam dengan tambak garam sebagai sumber mata pencaharian
menimbulkan suatu ciri tersendiri bagi kawasan Desa Pinggir Papas ini. Kedua hal
tersebut tentunya sedikit-banyak akan membawa pengaruh berupa produk budaya
yang beragam serta sisi lain dari kehidupan masyarakat setempat dengan
kekhasannya.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis mencoba menggali lebih dalam
mengenai karakteristik permukiman yang terjadi pada masyarakat petani garam di
Desa Pinggir Papas, Kabupaten Sumenep, sehingga nantinya diharapkan dapat
memberikan suatu gambaran baru mengenai pola permukiman yang khas dari
masyarakat setempat, sebagai salah satu bentuk adaptasi terhadap lingkungannya.
Dengan adanya gambaran pola permukiman yang terbentuk, maka akan
menambah variasi tipologis pola permukiman masyarakat Madura, selain pola
taneyan lanjang yang lebih dikenal sebagai bentuk permukiman tradisional
masyarakat Madura.
arsitektur e-2 Journal, Volume 1 Nomor 1, Maret 2008
Tinjauan Pustaka
Menurut Dwi Ari & Antariksa (2005: 78), dalam memilih tempat tinggal,
masyarakat tidak selalu terpaku pada kondisi rumah, tetapi lebih memperhatikan
kelengkapan dari fasilitas kegiatan dan sosial di lingkungan tempat tinggal serta
kemudahan aksesibilitasnya. Pola permukiman membicarakan sifat dari
persebaran permukiman dengan kata lain pola permukiman secara umum
merupakan susunan sifat berbeda dari hubungan faktor-faktor yang menentukan
persebaran permukiman.
Terbentuknya lingkungan permukiman dimungkinkan karena adanya proses
pembentukan hunian sebagai wadah fungsional yang dilandasi oleh pola aktifitas
manusia serta pengaruh setting atau rona lingkungan, baik yang bersifat fisik
maupun non fisik (sosial-budaya) yang secara langsung mempengaruhi pola
kegiatan dan proses pewadahannya. (Rapoport 1990 dalam Nuraini 2004:11)
Pola spasial permukiman menurut Wiriaatmadja (1981:23-25) adalah:
a. Pola permukiman dengan cara tersebar berjauhan satu sama lain, terutama
terjadi dalam daerah yang baru dibuka. Hal ini disebabkan karena belum ada jalan
besar, sedangkan orang-orangnya mempunyai sebidang tanah, yang selama suatu
masa tertentu harus diusahakan secara terus menerus;
b. Pola permukiman dengan cara berkumpul dalam sebuah kampung/desa,
memanjang mengikuti jalan lalu lintas (jalan darat/sungai), sedangkan tanah
garapan berada di belakangnya;
c. Pola permukiman dengan cara terkumpul dalam sebuah kampung/desa,
sedangkan tanah garapan berada di luar kampung; dan
d. Berkumpul dan tersusun melingkar mengikuti jalan. Pola permukiman dengan
cara berkumpul dalam sebuah kampung/desa, mengikuti jalan yang melingkar,
sedangkan tanah garapan berada di belakangnya.
Menurut Sujarto (1977), dalam menempati wilayahnya, masyarakat pesisir tidak
berbeda dengan masyarakat yang hidup dalam konsentrasi-konsentrasi lingkungan
yang lain, yang akan menuntut tiga kebutuhan utama, yaitu sebagai berikut:
a. Suatu tempat untuk hidup, yang dapat terlindungi dari gangguan alam sekitar;
b. Tempat untuk melaksanakan kegiatan kerjanya untuk mencari nafkah guna
menjamin eksistensi kehidupannya; dan
c. Tempat-tempat yang dapat dipenuhi kebutuhan kehidupannya sehari-hari.
Kekerabatan dapat menjadi faktor penentu terhadap pembentukan permukiman
atau rumah, karena sangat terkait dengan sebuah bentuk ikatan sosial, aturan-
aturan yang bernuansa budaya dan religi, serta adanya kegiatan yang bersifat
ekonomi (Lowi dalam Mulyati 1995:29).
Hubungan antara kekerabatan dalam aspek sosial-kultural dan permukiman
sebagai perwujudan fisiknya, secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:
�� Kelompok kekerabatan mempengaruhi lokasi dan tata lahan/rumah sesuai
dengan prinsip yang dianut
�� Peran sosial antar kerabat mempengaruhi terbentuknya ruang-ruang yang
mempengaruhi terbentuknya ruang-ruang yang menjadi sarana interaksi antar
kerabat.
Metode Penelitian
Dalam penelitian mengenai karakteristik permukiman ini, digunakan metode
penelitian kualitatif, deskriptif, eksploratif, dengan tujuan untuk menggali lebih
dalam mengenai karakter permukiman yang terjadi, sehingga diperoleh informasi
yang lebih detail dengan mengekplorasi informasi berantai dari informan kunci.
Adapun objek amatan dan analisa yang akan dilakukan meliputi :
�� Lingkup desa, yang terdiri atas fasilitas umum desa meliputi pasar, sekolah
dasar, puskesmas, balai desa
arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 1, Maret 2008 3
�� Lingkup kampung meliputi penggunaan ruang luar/ruang bersama dalam
satu kampung, serta sistem sirkulasi dalam kampung
�� Lingkup rumah dengan objek amatan pada pola tata bangunan dalam satu
cluster yang meliputi pola tata letak bangunan dalam satu halaman dan pola tata
bangunan dalam hubungannya dengan hubungan kekerabatan dalam masyarakat.
Sampel bangunan yang akan dilakukan penelitian berupa rumah tinggal ataupun
bangunan yang memiliki fungsi tertentu yang berpengaruh terhadap pola
permukiman masyarakat Desa Pinggir Papas, di antaranya sebagai berikut:
�� Rumah/bangunan yang berada di pinggir tambak;
�� Rumah/bangunan yang berada di pinggir jalan desa ; dan
�� Rumah/bangunan yang berada di tengah “pulau” yang memiliki kriteria
bangunan tradisional masyarakat Desa Pinggir Papas.
Untuk penentuan sampel masyarakat/responden berdasarkan pada beberapa
kriteria (purposive sampling). Informasi mengenai sampel atau responden
masyarakat diperoleh dengan penggunaan teknik eksploratif, yaitu perolehan
responden berikutnya berdasarkan petunjuk atau informasi dari masyarakat yang
menjadi responden sebelumnya.
Hasil dan Pembahasan
• Letak Desa Pinggir Papas
Desa Pinggir Papas terletak di Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep,
dengan batas wilayah sebagai berikut:
�� Sebelah Utara: Desa Karanganyar;
�� Sebelah Selatan: Sungai Saroka, Desa Kebundadap, Kec. Saronggi;
�� Sebelah Barat: Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi; dan
�� Sebelah Timur: Selat Madura.
Daerah tersebut memiliki curah hujan yang sangat rendah bila dibandingkan
dengan daerah lain di Madura. Oleh karena itu, lahan pesisir tersebut
dimanfaatkan oleh para pembuat garam untuk menjadi tambak garam. Karena
letaknya yang berada di daerah pesisir, dengan curah hujan yang sangat rendah
tersebut, maka desa ini menjadi kawasan pesisir yang sangat gersang. Desa
Pinggir Papas terletak di tengah tambak garam yang sangat luas, sehingga sejak
jaman dahulu, desa ini terkenal dengan sebutan “Nagara Kanangan Polo Paelan”,
yang artinya Negara/pulau kenangan yang terletak di tengah lautan.
• Sosial-budaya dalam masyarakat
�� Hubungan kekerabatan dalam masyarakat
Hubungan kekerabatan yang terjadi di Desa Pinggir Papas ini sangatlah erat.
Bahkan mereka yang berasal dari luar daerah yang menikah dengan penduduk
setempat dan menetap di desa ini pun merasa sebagai bagian dari masyarakat
Desa Pinggir Papas sejak mereka lahir. Hampir seluruh masyarakat dari kampung
yang berbeda saling mengenal satu sama lainnya. Bahkan dalam satu wilayah
masih terdapat hubungan kekerabatan, meskipun kerabat jauh.
�� Sistem kepemimpinan
Desa Pinggir Papas termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Kalianget,
sehingga sistem kepemimpinan pemerintahan seperti halnya pada desa-desa lain
di Indonesia. Kepala desa yang diangkat merupakan orang yang disegani di
desanya. Sistem pengangkatan kepala desa, yaitu dipilih oleh masyarakat dengan
suara terbanyak.
Dalam hal ini, kepala desa dibantu oleh beberapa aparat desa dalam menjalankan
pemerintahannya, seperti sekretaris desa (pak carek), badan pengawas desa dan
sebagainya.
arsitektur e-4 Journal, Volume 1 Nomor 1, Maret 2008
Di Desa Pinggir Papas juga terdapat beberapa lembaga adat yang masing-masing
memiliki pemimpin yang berdasarkan keturunan dari masing-masing leluhur.
Lembaga adat desa yang memiliki peran sentral dalam kehidupan masyarakat
setempat salah satunya adalah lembaga adat “tanah leluhur”, yang saat ini sedang
mengusahakan tanah-tanah rakyat yang pada zaman dahulu diambil alih
kekuasaan oleh pemerintah Belanda dan dijadikan tanah negara. Lembaga adat
lainnya yang ada di Desa Pinggir Papas ini diantaranya adalah lembaga adat “Asta
gubang laok songai”.
Di pihak lain, lembaga adat yang ada, berdasarkan pada garis keturunan masing-
masing leluhur, yang terdiri atas keturunan Anggosuto, Mbah Bangsa, Mbah
Kuasa, serta Mbah Dukun maupun leluhur-leluhur lainnya. Masing-masing
memiliki peran penting dalam beberapa kehidupan masyarakat, seperti penentuan
hari puasa pada bulan Ramadhan, penentuan hari pelaksanaan upacara adat
Nyadar maupun upacara-upacara adat lainnya yang dilaksanakan di Desa Pinggir
Papas. Dari keempat pemimpin tersebut biasanya mengangkat keturunan dari
Syech Kuasa sebagai pemimpin utama. Beliau diangkat sebagai pemegang
keputusan apabila sesuatu hal terjadi. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa
beliau memiliki kekuasaan mutlak. Tiap keputusan yang diambil tetap dibicarakan
dengan pemimpin lainnya, hanya keturunan Syech Kuasa yang nantinya
mematukkan palu untuk mengesahkan hasil musyawarah tersebut.
Dalam hal ini, pemerintah sama sekali tidak terlibat dalam pengangkatan maupun
pengambilan keputusan yang dilakukan oleh para pemimpin adat tersebut. Bahkan
dalam hal tertentu kewenangan pemerintah desa dapat dikesampingkan oleh
keputusan adat tersebut.
�� Upacara adat dan sistem kepercayaan dalam masyarakat
Di dalam masyarakat Desa Pinggir Papas dikenal beberapa upacara adat yang
harus mereka lakukan untuk mendapatkan berkah. Berbagai upacara adat tersebut
saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Keberadaan upacara adat tersebut sangat berkaitan erat dengan penggunaan ruang
dalam masyarakat. Upacara adat yang dilaksanakan masyarakat setempat di
antaranya adalah:
1. Baberten;
2. Sadekah Bumeh;
3. Nom-enom;
4. Selamatan bellasan; dan
5. Upacara Adat Nyadar.
Pada umumnya upacara adat tersebut dilaksanakan di tengah permukiman
penduduk, yaitu dengan penggunaan ruang dan bangunan tertentu, yang
berpengaruh terhadap pola permukiman yang terjadi di dalam masyarakat.
�� Mata pencaharian
Sebagian besar masyarakat Desa Pinggir Papas memiliki mata pencaharian
sebagai petani garam. ± 80 % dari hasil survey yang dilakukan oleh peneliti
terhadap sampel yang telah ditentukan berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.
Pada dasarnya, masyarakat petani garam yang kehidupannya berhubungan dengan
potensi kelautan, yaitu usaha pegaraman, memiliki ketergantungan terhadap
faktor-faktor alamiah seperti iklim dan keadaan pantai, sehingga pekerjaan yang
mereka lakukan bersifat musiman.
• Karakteristik permukiman masyarakat Desa Pinggir Papas
�� Ciri kampung di Desa Pinggir Papas
Desa Pinggir Papas terdiri atas tiga kampung. Kampung yang berada di sebelah
timur adalah Kampung Ageng, dan sebelah barat adalah Kampung Dhalem dan
Kampung Kauman.
1. Kampung Ageng
arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 1, Maret 2008 5
Awal mula penamaan kampung ini, menurut beberapa masyarakat, dilihat dari
ukuran kampung yang lebih besar dibandingkan kampung lain yang ada di Desa
Pinggir Papas. Dalam hal ini, pengertian Ageng adalah besar. Namun, menurut
beberapa sumber menyebutkan bahwa penamaan Kampung Ageng tersebut,
mengingatkan bahwa di kampung tersebut merupakan letak pasarean atau tempat
tinggal leluhur yang dikultuskan oleh masyarakat setempat, seperti Anggosuto dan
istri, Syech Kuasa dan istri, mbah Dukun dan mbah Bangsa, sehingga kampung
tersebut diberi nama kampung se Agung (yang Agung). Ciri yang memperkuat
bahwa Kampung Ageng merupakan kampung tertua diantara kampung yang lain
adalah masih banyaknya rumah-rumah tradisional serta tatanan bangunan hunian
di kampung tersebut, dengan kondisi yang masih asli dan terawat secara turun-
temurun (lihat Gambar 1. A).
2. Kampung Dhalem
Menurut cerita masyarakat, di kampung tersebut tinggal beberapa tokoh yang
memiliki peran penting dalam masyarakat, namun kedudukannya tidak seperti
leluhur masyarakat Kampung Ageng yang sangat dikultuskan masyarakat (hanya
sebagai abdi dhalem). Bila dilihat dari legenda tersebut, maka sesuai dengan
karakter kampung tersebut, yang ditandai dengan masih adanya beberapa pasarean
leluhur di kampung tersebut, yang bila diperhatikan dari bentuk bangunannya
lebih kecil dari pasarean yang ada di Kampung Dhalem. Di Kampung Dhalem ini
juga masih dapat ditemui rumah-rumah tradisional dengan bentuk yang sedikit
berbeda dengan bangunan yang ada di Kampung Ageng. Namun pada dasarnya,
secara umum memiliki kemiripan. Selain itu, versi lain dari penamaan kampung
Dhalem, menurut sumber yang ditemui, pada jaman dahulu terdapat tambak yang
sangat dalam (se dhalem), yang dapat ditemui ketika akan masuk ke daerah
Kampung Dhalem. Namun seiring dengan pendangkalan yang terjadi akibat
penumpukan pasir yang dibawa oleh air yang masuk ke dalam tambak tersebut,
sehingga saat ini tambak tersebut menjadi dangkal (Gambar 1. B).
3. Kampung Kauman
Penamaan Kampung Kauman juga dapat dikatakan mencerminkan penduduk yang
mendiami kampung tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, di Kampung
Kauman hanya terdapat satu pasarean dan kemungkinan kampung tersebut
merupakan kampung yang paling akhir terbentuk, karena bangunan tradisional
yang terdapat di kampung lainnya, sangat jarang ditemui di Kampung Kauman.
Pada masyarakat Jawa, Kampung Kauman merupakan suatu komunitas
masyarakat muslim yang kuat secara spiritual. Di Desa Pinggir Papas, Kampung
Kauman merupakan kampung yang memiliki fasilitas peribadatan (masjid) yang
paling banyak, dan di dalamnya juga terdapat beberapa perkumpulan/organisasi
massa (ormas) yang berbasis Islam (lihat gambar 1. C).
�� Struktur pola permukiman
Desa Pinggir Papas merupakan daerah pesisir yang berada di dataran rendah. Desa
Pinggir Papas terbelah oleh sumbu utama jalan desa yang sejajar dengan garis
pantai, yaitu arah utara-selatan. Sumbu utama jalan tersebut membagi Desa
Pinggir Papas menjadi dua bagian, yaitu bagian timur dan barat. Kampung-
kampung yang ada di Desa Pinggir Papas dikelilingi oleh tambak garam, sehingga
cluster kedua bagian desa tersebut selanjutnya disebut sebagai ”pulau”, karena
letaknya seperti pulau yang berada di tengah sagara (laut).
Bagi masyarakat setempat, orientasi bangunan yang diyakini paling baik adalah
arah utara-selatan. Menurut masyarakat tradisional Desa Pinggir Papas, arah
hadap yang menjadi pantangan untuk orientasi bangunan adalah ke arah timur,
karena dengan menghadapkan bangunan hunian mereka ke arah timur, berarti
mereka nantang sagara (menantang laut). Sebagian besar rumah tinggal, terutama
bangunan tradisional masyarakat, sangat memegang prinsip orientasi arah hadap
rumah mereka ke arah utara-
arsitektur e-6 Journal, Volume 1 Nomor 1, Maret 2008
selatan sebagai bentuk penghormatan pada sagara. Pada Gambar 1 merupakan
arah hadap bangunan yang ada di Desa Pinggir Papas
Hampir seluruh bangunan yang ada di tengah pulau berorientasi ke arah utara-
selatan dan tidak berdasarkan pada arah jalur sirkulasi. Meskipun arah jalur
sirkulasi –yang berupa gang-gang sempit dengan jarak kurang lebih hanya 1 (satu)
meter- mengarah ke utara-selatan (Gambar 2).
B
C
A
Gambar 1. Peta Desa Pinggir Papas.
(Sumber: Re-drawing Peta Desa, 2006)
C
B
A
U
Gambar 2. Arah hadap bangunan.
(Sumber: Analisa, 2006)
Dengan adanya arah sirkulasi tersebut, orientasi bangunan mengarah ke utara-
selatan, sehingga bila ditinjau dari segi fisika bangunan, dalam kaitannya dengan
penyinaran matahari dan arah angin yang bertiup dari laut, letak hadap rumah
utara-selatan akan berpengaruh terhadap kondisi thermal di dalam bangunan, yaitu
sinar
arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 1, Maret 2008 7
matahari dari arah timur dan barat tidak langsung masuk ke dalam bangunan yang
dapat menyebabkan kondisi thermal di dalam bangunan akan terasa kurang
nyaman. Selain itu, pergerakan arah angin yang cenderung bertiup dari arah timur
dan barat –yang dalam masyarakat Madura dikenal dengan istilah angin nemor
dan nembara’- akan melewati lorong-lorong angin yang tercipta dari adanya
bangunan yang berjajar rapi mengikuti jalur sirkulasi. Pada Gambar 3 merupakan
arah angin yang bertiup dari arah sagara.
U
Gambar 3. Arah angin nembara’ yang bertiup dari arah tambak garam.
(Sumber: Analisa 2006)
Selain karena faktor kepercayaan, kemungkinan adanya pengaruh latar belakang
budaya Hindu-Jawa yang dibawa oleh Anggosuto dari Kerajaan Majapahit, yang
meyakini kosmologi gunung-laut (arah utara-selatan), yang bila ditransformasikan
ke dalam kawasan Desa Pinggir Papas yang berada di kawasan pesisir dengan
kontur rendah, maka yang terjadi adalah penerapan orientasi utara-selatan.
Demikian pula kemungkinan pengaruh kosmologi Hindu-Bali yang dibawa oleh
prajurit Bali yang melarikan diri ke kawasan ini dan menjadi cikal-bakal
masyarakat setempat, sehingga penerapan pola permukiman, yaitu peletakan
makam yang terpisah dari permukiman masyarakat, dan berada di daerah nista
(bawah), terlihat dalam peletakan makam yang pada umumnya berada di luar
permukiman. Kemungkinan pengaruh Islam yang dibawa dari Cirebon oleh Syech
Kuasa lebih menonjol pada rumah tradisional masyarakat setempat.
Dalam suatu desa, tentunya terdapat elemen-elemen yang merupakan fasilitas
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat desa tersebut. Dalam peletakan bangunan
ataupun elemen-elemen desa pada permukiman di Desa Pinggir Papas, yang di
dalamnya terdapat beberapa elemen desa, belum sepenuhnya memenuhi fasilitas
yang dibutuhkan masyarakat. Penyesuaian peletakan elemen-elemen desa tersebut
berdasarkan pada kebutuhan dan tradisi kepercayaan masyarakat.
Elemen desa yang dibangun pemerintah maupun oleh penduduk setempat, yang
ada di Desa Pinggir Papas diantaranya adalah masjid, musholla (langgar), sekolah,
fasilitas kesehatan (puskesmas pembantu), serta kantor pemerintahan desa. Dalam

hal ini, peletakan elemen desa yang tidak bersangkutan dengan kegiatan ada t
masyarakat, tidak terdapat ketentuan khusus dalam peletakannya. Hal yang
terpenting adalah kemudahan masyarakat dalam penjangkauannya. Bagi
masyarakat tradisional, sebuah desa atau kampung merupakan lingkungan tempat
hidup, tempat mereka melakukan kegiatan perekonomian, sosial dan juga
beraktifitas keagamaan.
Pada beberapa elemen desa yang dapat dikatakan memiliki fungsi sakral, seperti
letak makam leluhur, tempat tinggal leluhur (pasarean) yang masih digunakan
sebagai tempat dilaksanakannya upacara adat tertentu. Keduanya memiliki letak
tertentu yang dapat dikatakan mendapat perhatian dari masyarakat setempat.
arsitektur e-8 Journal, Volume 1 Nomor 1, Maret 2008
Terutama pasarean yang memiliki pengaruh terhadap pola permukiman yang
terjadi dalam masyarakat, karena adanya hubungan kekerabatan yang mengikat
keturunannya untuk tetap menjaga keberadaan pasarean tersebut.
Keberadaan makam (buju’), yang letaknya membentuk tapal kuda yang
mengelilingi desa memberikan makna bagi masyarakat setempat bahwa leluhur
yang telah meninggal tetap menjaga masyarakat, sehingga makam (buju’) tersebut
juga benar-benar dijaga dan dihormati oleh masyarakat.
�� Terbentuknya ruang kegiatan dalam masyarakat
Ruang kegiatan dalam masyarakat pada umumnya terbentuk karena adanya
pengaruh budaya yaitu berupa pelaksanaan upacara adat, yang bisanya dilakukan
di pasarean leluhur yang dikultuskan masyarakat setempat. Pada Gambar 4
merupakan penggunaan ruang pasarean dalam masyarakat pada pelaksanaan
upacara adat masyarakat.
Keberadaan pasarean ternyata juga berpengaruh terhadap peletakan bangunan,
karena penduduk yang tinggal di sekitar pasarean juga masih merupakan
keturunan dari leluhur yang memiliki pasarean tersebut. Biasanya, letak rumah
tinggal keturunan yang memiliki kewajiban untuk menjaga dan merawat pasarean
tersebut berada di depan pasarean, dengan maksud agar lebih mudah dalam
pengawasan kondisi pasarean. Pada Gambar 5 berikut ini merupakan salah satu
gambaran letak rumah tinggal keturunan yang menjaga dan pasarean Anggosuto
dan istri.
Gambar 4. Penggunaan ruang pada upacara adat masyarakat.
B
(Sumber: Analisis dan dokumentasi peneliti)
arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 1, Maret 2008 9
B
A
Keterangan :
= rumah keturunan leluhur yang menjaga pasarean
A = rumah keturunan yang menjaga pasarean Anggosuto
B=rumah keturunan
Gambar 5. Letak pasarean dan keturunan yang menjaganya.
(Sumber: Analisis 2006).
Dalam memilih tempat tinggal, masyarakat tidak selalu terpaku pada kondisi
rumah itu sendiri, tetapi lebih memperhatikan kelengkapan fasilitas kegiatan dan
social di lingkungan tempat tinggalnya serta kemudahan aksesibilitasnya. Bagi
masyarakat tradisional Madura pada umumnya, dalam memilih tempat tinggal,
masyarakat lebih memandang pada hubungan kekerabatan pada satu wilayah
(bertetangga), meskipun hubungan kekerabatan yang ada di antara mereka adalah
kerabat jauh. Demikian pula yang terjadi di Desa Pinggir Papas. Dalam
pembentukan lingkungan permukiman yang muncul juga disebabkan adanya
hubungan kekerabatan yang di dalamnya masih memiliki hubungan garis
keturunan meskipun tidak langsung.
Dalam hal ini, tidak hanya pasarean yang mengikat adanya hubungan kekerabatan
diantara masyarakat yang terdapat di sekitarnya, sebagai satu keturunan dari
leluhur pemilik pasarean tersebut, tetapi eratnya hubungan tersebut juga
mencakup seluruh wilayah daerah Pinggir Papas, karena antara satu pasarean dan
yang lainnya saling berhubungan.
Berdasarkan penelitian dan hasil penyebaran quesioner yang telah dilakukan, pada
deretan rumah tinggal dengan pola permukiman masyarakat yang cenderung
memanjang, dengan orientasi bangunan arah utara-selatan, ternyata masih
memiliki hubungan kekerabatan, dan sistem kekerabatan yang dianut hampir
seluruh keluarga menganut sistem kekerabatan menurut garis keturunan ibu
(matrilineal). Dalam sistem perkawinan yang terjadi, sama seperti masyarakat
Madura pada umumnya, yaitu merupakan kombinasi antara uksorilokal dan
matrilokal atau disebut dengan uxomatrilokal, yaitu anak perempuan yang sudah
menikah tetap tinggal dan menetap di pekarangan orang tuanya, sementara anak
laki-laki yang sudah menikah, pindah ke pekarangan istri atau mertuanya.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, dalam satu taneyan tersebut, yang
tinggal dalam satu deretan rumah tinggal yang terlihat pada Gambar 5 (lihat
lampiran) tersebut adalah keluarga R1, keluarga R2 dan keluarga R3, sedangkan
keturunan masing-masing tinggal terpisah, yaitu di belakang rumah orang tua.
Ketika dilakukan survey, keluarga R2 baru menikahkan anak perempuannya (R4)
dan saat ini tinggal di sekitar tempat tinggal kerabat tersebut.
10 arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 1, Maret 2008
�� Perubahan fungsi pada struktur tata bangunan
Sistem kekerabatan yang sangat erat selain tercermin dalam adanya hubungan
kekerabatan dalam satu deretan rumah tinggal, juga pada penggunaan halaman di
depan rumah yang sebenarnya merupakan jalan kampung sebagai halaman
bersama dan hal tersebut sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan mereka.
Semakin bertambahnya jumlah penduduk, sehingga kebutuhan akan tempat
tinggal yang semakin meningkat, menjadi salah satu penyebab perubahan pola tata
bangunan tradisional yang terjadi di Desa Pinggir Papas. Perubahan pola tata
bangunan tersebut tentunya akan berdampak pada pembentukan pola permukiman
dalam masyarakat setempat.perubahan halaman dapat dilihat pada Gambar 6.
Perubahan pola ruang terjadi disebabkan keterbatasan lahan dan kebutuhan akan
tempat tinggal, sehingga terjadi perubahan fungsi dari masing-masing ruang dan
bangunan. Pada pola tata bangunan asli yang terdapat di Desa Pinggir Papas,
terdapat bangunan yang berfungsi untuk menerima tamu, yaitu bangunan pandepa
(pendopo). Karena kebutuhan akan tempat tinggal bagi keluarga yang baru
menikah, maka bangunan tersebut kini beralih fungsi menjadi tempat tinggal. Hal
tersebut banyak terjadi di Desa Pinggir Papas, sehingga keaslian struktur tata
bangunan tradisional kini mulai hilang. Pada Gambar 7 merupakan struktur tata
bangunan asli yang masih ada di Desa Pinggir Papas.
Gambar 6. Perubahan pola ruang halaman dan bangunan pendopo.
(Sumber: Analisis 2006)
arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 1, Maret 2008 11
Gambar 7. Pola tata bangunan hunian tradisional masyarakat Desa Pinggir Papas.
(Sumber : Analisis 2006)
Dilihat dari struktur tata bangunan tradisional, yaitu susunan adanya labeng
saketheng, pandepa, rumah tinggal, dapur serta kamar mandi yang terpisah, yang
diakhiri dengan adanya labeng saketheng, maka dalam satu struktur pola hunian
tersebut, sirkulasi kampung berada di luar labeng saketheng. Namun karena
adanya kebutuhan akan tempat tinggal yang semakin berkembang, sehingga
susunan pola tersebut perlahan mulai hilang. Demikian pula dengan fungsi
masing-masing bagian bangunan pun turut berubah. Halaman yang semula
menjadi ruang penghubung antara bangunan pendopo dengan rumah tinggal
berubah menjadi jalan kampung atau sirkulasi, ketika bangunan pendopo beralih
fungsi menjadi bangunan rumah tinggal. Bahkan halaman yang berada di samping
bangunan pun pada suatu saat nanti dapat menjadi bangunan baru, bila
keberadaannya tidak dilestarikan.
�� Penggunaan bangunan/rumah tinggal sebagai bagian ruang kegiatan dalam
masyarakat
Baik secara langsung maupun tidak langsung bentuk dan tampilan bangunan di
Desa Pinggir Papas dipengaruhi oleh faktor kekerabatan. Keunikan yang
ditemukan pada bangunan tradisional di Desa Pinggir Papas ini diantaranya
adalah racak yang biasanya ada pada bagian depan bangunan (sebagai fasade).
Struktur konstruksi dari racak sendiri merupakan konstruksi knock down yang
bisa dipasang dan dibongkar sewaktu-waktu ketika diperlukan. Racak tersebut
menjadi salah satu keunikan dalam bangunan tradisional Desa Pinggir Papas
tersebut. Berikut ini contoh bangunan menggunakan racak, beserta detailnya.
(Gambar 8)
arsitektur e-12 Journal, Volume 1 Nomor 1, Maret 2008
Gambar 8. Konstruksi racak pada bangunan sebagai simbol kekerabatan yang erat
dalam masyarakat setempat. (Sumber: Dokumentasi peneliti, 2006)
Racak sendiri dalam kaitannya dengan faktor sosial bagi masyarakat di Desa
Pinggir Papas tersebut menjadi suatu penghubung, sehingga penghuni bangunan
dapat melihat siapa yang lewat atau hendak memasuki rumahnya, sebelum sang
penghuni mempersilahkan tamu yang datang, memasuki bangunannya. Bila
dilihat dari luar, maka bagian dalam bangunan tidak akan terlihat, kecuali bila
dilihat dengan jarak dekat.
Kesimpulan
Desa Pinggir Papas merupakan desa yang berada di pesisir timur Pulau Madura.
Desa tersebut terdiri atas tiga kampung. Penamaan ketiga kampung tersebut
mencerminkan karakter masing-masing penduduknya serta mencerminkan
karakteristik dari tiap-tiap kampung.
Pola permukiman yang terjadi di Desa Pinggir Papas, yaitu orientasi bangunan
pada umumnya menghadap arah utara selatan, sesuai kepercayaan masyarakat.
Selain karena faktor kepercayaan, kemungkinan adanya pengaruh latar belakang
budaya yang dibawa oleh para leluhur pada masa lalu, sedikit-banyak memberikan
dampak terhadap kepercayaan dalam masyarakat.
Pelaksanaan kegiatan dalam masyarakat juga memberikan pengaruh terhadap pola
permukiman yang terbentuk, seperti pelaksanaan upacara adat dalam masyarakat.
Demikian pula dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan dan kegiatan sosial
masyarakat yang menggunakan ruang tertentu.
arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 1, Maret 2008 13
Sistem kekerabatan juga sangat berpengaruh terhadap pembentukan pola
permukiman dan bentuk bangunan di Desa Pinggir Papas. Semakin bertambahnya
jumlah penduduk dan sistem kekerabatan matrilineal menjadi salah satu sebab
perubahan pola permukiman yang ada. Perubahan fungsi tatanan bangunan pun
tidak dapat dihindari.
Faktor alam juga berpengaruh terhadap pola permukiman yang terbentuk. Adanya
tambak garam yang mengelilingi Desa Pinggir Papas, berpengaruh terhadap posisi
bangunan dan bahan bangunan yang digunakan oleh masyarakat.
Saran
Untuk lebih memfokuskan penelitian, maka diberikan rekomendasi penelitian
lanjutan, diantaranya sebagai berikut:
1. Penelitian mengenai letak pasarean dalam hubungannya dengan permukiman
masyarakat Desa Pinggir Papas. Dalam hal ini, pasarean tidak hanya sekedar
rumah tinggal leluhur yang masih terawat dengan baik, tetapi pasarean dapat
menjadi indikasi eratnya hubungan kekerabatan dalam masyarakat Desa Pinggir
Papas. Selain itu, pasarean sebagai suatu ruang tempat dilakukannya ritual
upacara-upacara adat, tentunya menciptakan suatu ruang gerak tersendiri yang
menjadi kekhasan bangunan dan lingkungan bangunan tersebut;
2. Penelitian mengenai tatanan bangunan tradisional, yang saat ini mulai
mengalami perubahan-perubahan. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri atau
melacak kembali struktur tata bangunan tradisional yang dalam perkembangannya
mengalami perubahan fungsi dan letak, sehingga nantinya dapat diketahui pola
tata bangunan yang pernah ada di masa lalu. Kelengkapan struktur tata bangunan
dapat menjadi gambaran perekonomian dan status sosial pemiliknya pada
masanya; dan
3. Penelitian mengenai letak makam yang berada di tengah tambak dalam
kaitannya dengan kepercayaan masyarakat setempat. Tujuan dari penelitian
tersebut untuk mengetahui makna letak makam leluhur terhadap permukiman
masyarakat setempat.
Daftar Pustaka
Amiuza. C. B., Tjahyono, R. & Pamungkas S. T. 1996. ”Pergeseran Spasial dan
Stilistika Arsitektur Vernakuler Madura Barat di Arosbaya”. Jurnal Universitas
Brawijaya vol. 8 No. 2 Agustus 1996. hlm 17-28.
Dwi Ari, I. R. & Antariksa. 2005. ”Studi Karakteristik Pola Permukiman di
Kacamatan Labang, Madura”. Jurnal ASPI vol. 4 No. 2, April 2005. hlm 78-93.
Budiyono. 1992. ”Bidang Kajian Madura, Seri Kertas Kerja No. 23: Tradisi
Nyadar bagi Masyarakat Penggir Papas di Madura”. Jember: Universitas Jember.
De Jonge, H. 1989. ”Madura dalam Empat Zaman: Perdagangan, Perkembangan
Ekonomi dan Islam”. Jakarta: Gramedia.
Erwin, B. 1999. ” Perubahan Spasial Lingkungan di Baluwerti, Surakarta”. Jurnal
EMAS FT-UKI Tahun IX No. 18 Agustus 1999. hlm 109-129.
Mulyati, A. 1995. ”Pola Spasial Permukiman Di Kampung Kauman, Yogyakarta”.
Tesis. Tidak Diterbitkan. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana, Universitas Gajah
Mada
Nuraini, C. 2004. ”Permukiman Suku Batak Mandailing”. Yogyakarta: Gajah
Mada University Press.
Sujarto, D. 1977. ”Distribusi Fasilitas Sosial”. Bandung: Badan Pendidikan dan
Latihan Departemen Dalam Negeri dan Lembaga Penelitian Planologi,
Departemen Planologi, ITB
Wiriaatmadja, S. 1981. ”Pokok-Pokok Sosiologi Pedesaan” Jakarta: CV. Tasagun
Copyright © 2008 by antariksa
arsitektur e-14 Journal, Volume 1 Nomor 1, Maret 2008

* Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya


Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145
e-mail: antariksa@brawijaya.ac.id
Lontaran : BUDAYA
Artikel Terkait

• Hidup Seimbang ala Orang Madura


Mengenal Pandangan Hidup Orang Madura

Kangean

Sekilas Tentang Masyarakat Pandalungan

Keris Dalam Budaya Masyarakat Madura

Keislaman, Kemaduraan, Keindonesiaan

Kajian Terhadap Kebudayaan Madura Sebagai Bentuk Usaha Pelestarian Budaya


Lokal

Simbol Anti Hegemoni dalam Cerita Rakyat Madura

Labang Mesem: Pintu Gerbang Kraton Sumenep

Rekonstruksi Citra Budaya Madura