Anda di halaman 1dari 9

JAWABAN UTS1

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Ujian Tengah Semester 1

Oleh

WAHYUDI

21076076

Dosen Pembimbing

Tetti Eka Purnama, M.Pd.

Pendidikan Teknik Informatika


UNIVERSITAS NEGRI PADANG

2021
Soal UTS (Ujian Tengah Semester) Pendidikan Kewarganegaraan

1. PKN adalah salah satu mata kuliah umum yang sifatnya wajib diperguruan tinggi, baik
itu perguruan tinggi negeri ataupun perguruan tinggi swasta. Salah satu alasannya secara
internal yaitu untuk mempertahankan nilai dan norma pada warga negara dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara untuk menjadikannya sebagai warga negara yang
baik. Tapi kenyataannya sekarang ini masih banyak mahasiswa yang tidak memiliki rasa
nasionalisme dan sikap patriotisme yang berlandaskan nilai-nilai pancasila. Bagaimana
pendapat saudara dengan konsep dan kenyataan tersebut, jelaskanlah berserta contoh !
2. Salah satu alasan perlunya identitas nasional bagi Indonesia yaitu agar bangsa indonesia
tetap bersatu dalam menjaga nilai persatuan sesuai dengan ideologi/dasar negara
indonesia. Tetapi salah satu dinamika yang terjadi sekarang ini warga negara indonesia
tidak lagi menjadikan pancasila sebagai acuan sikap dan perilaku hidupnya dalam
berkehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga merusak nilai persatuan. Jelaskan
beserta contoh bagaimana kedudukan konsep ideologi negara indonesia sekarang ini
terhadap dinamika yang terjadi !
3. Salah satu tantangan dalam integrasi nasional yaitu adanya perbedaan pendapat dari elit
dan massa tentang peraturan perundang-undangan. Bangaimana pendapat saudara sebagai
seorang mahasiswa terhadap tantangan tersebut agar integrasi nasional tetap selalu terjaga
dalam mempertahankan identitas nasional indonesia ? Jelaskanlah beserta contoh !
4. Salah satu alasan perlunya sebuah konstitusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
yaitu untuk bisa melindungi HAM setiap warga negara. Tetapi kenyataan sekarang ini
masih ada HAM warga negara yang dirugikan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,
seperti hak seorang anak yang harus mendpatkan pendidikan. Bagaimana pendapat
saudara tentang konsep dan kasus tersebut ? Jelaskanlah beserta contoh !
5. Bagaimana hubungan antara kewajiban dan hak negara dan warga negara yang tidak bisa
dipisahkan? Jelaskanlah beserta contoh !
Jawaban:

1. PKN adalah salah satu mata kuliah umum yang sifatnya wajib diperguruan tinggi, baik itu
perguruan tinggi negeri ataupun perguruan tinggi swasta. Salah satu alasannya secara
internal yaitu untuk mempertahankan nilai dan norma pada warga negara dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara untuk menjadikannya sebagai warga negara yang baik. Ini juga
telah disepakati oleh pemerintah dalam keputusan Dirjen Dikti No. 43/DIKTI/KEP/2006
dirumuskan sebagai berikut hakikat mata kuliah pendidikan kewarganegaraan adalah untuk
membekali dan memantapkan mahasiswa dengan pengetahuan dan kemampuan dasar
hubungan warga negara Indonesia yang Pancasilais dengan negara dan sesama warga
negara. Visi mata kuliah adalah merupakan sumber nilai dan pedoman dalam
pengembangan dan penyelenggaraan program studi, untuk mengantarkan mahasiswa
memantapkan kepribadiannya sebagai warga negara Indonesia seutuhnya. Misi Mata Kuliah
Pendidikan Kewarganegaraan adalah untuk membantu mahasiswa memantapkan
kepribadiannya agar secara konsisten mampu mewujudkan nilainilai dasar Pancasila, rasa
kebangsaan dan cinta tanah air dalam menguasai, menerapkan dan mengembangkan ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni dengan rasa tanggung jawab. Kompetensi Mata Kuliah
Pendidikan Kewarganegaraan adalah diharapkan mahasiswa menjadi ilmuwan yang
memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air, demokratis yang berkeadaban menjadi warga
negara yang memiliki daya saing, berdisiplin dan berpartisipasi aktif dalam membangun
kehidupan yang damai berdasarkan sistem nilai Pancasila. Tetapi kenyataannya sekarang ini
masih banyak mahasiswa yang tidak memiliki rasa nasionalisme dan sikap patriotisme yang
berlandaskan nilai-nilai pancasila, apalagi di masa Globalisasi yang sekarang. Pengaruh
globalisasi terhadap mahasiswa juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah
membuat banyak mahasiswa kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini
ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan sehari-hari anak muda
sekarang, seperti penggunaan internet. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa
yang menggunakan internet tidak semestinya. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan
wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena
mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone. Disamping itu banyak pula
generasi muda yang merusak dirinya dengan kegiatan-kegiatan negatif seperti:
masih banyak mahasiswa yang bolos kuliah, banyak yang tidak mencintai produk dalam
negeri, coretan-coretan kotor dimana-mana yang merusak keindahan lingkungan, masih ada
yang tidak mentaati peraturan sekolah, membuang sampah sembarangan, penyalahgunaan
narkoba, sex bebas, dan sebagainya. Perilaku tersebut bukan hanya merugikan dirinya
sendiri tetapi juga merugikan masyarakat sekitarnya. Dampak yang ditimbulkan terhadap
bangsa dan negara yaitu bangsa Indonesia akan kehilangan generasi penerus bangsa (the lost
generation) yang tidak memiliki rasa nasionalisme dan sikap patriotisme yang berlandaskan
nilai-nilai pancasila.
2. Identitas nasional bangsa Indonesia adalah identitas yang bersumber dari nilai luhur
Pancasila yang aktualisasinya tercermin dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Identitas nasional berpegang teguh pada Pancasila sebagai
identitas bangsa dan menjadi pedoman hidup bangsa. Salah satu alasan perlunya identitas
nasional bagi Indonesia yaitu agar bangsa indonesia tetap bersatu dalam menjaga nilai
persatuan sesuai dengan ideologi/dasar negara indonesia. Tetapi salah satu dinamika yang
terjadi sekarang ini warga negara indonesia tidak lagi menjadikan Pancasila sebagai acuan
sikap dan perilaku hidupnya dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga
merusak nilai persatuan. Bangsa Indonesia yang seharusnya memiliki ciri khas dan jati diri
sendiri semakin lama semakin terkikis karena perkembangan zaman maupun pengaruh dari
budaya asing. Rakyat Indonesia seakan tidak bangga dengan bangsanya sendiri. Arus
globalisasi yang sangat pesat juga dapat sangat mempengaruhi identitas nasional dan
berpotensi sebagai penyebab merosotnya nilai – nilai budaya asli bangsa. Masyarakat
cenderung mengabaikan budaya asli dan menerapkan budaya asing. Masyarakat
menganggap bahwa budaya asing adalah budaya modern sedangkan budaya asli dianggap
budaya kuno. Krisis identitas menjadi masalah yang serius di masa ini, kita turut khawatir
dengan adanya krisis identitas ini yang menyebabkan kurang kesadaran dan menurunnya
rasa cinta tanah air dan rasa persatuan. Sehingga identitas nasional mengalami kemerosotan
dari nilai – nilainya akibat pengaruh dari budaya asing yang masuk ke Indonesia. Pancasila
sebagai jati diri nasional yang telah terwariskan dari generasi ke generasi secara
pengamalannya, sudah mulai terabaikan keberadaannya. Hal ini dikarenakan kurang nya
kesadaran perseorangan atau kelompok terhadap memaknai pentingnya hidup ber-
Pancasila. Sehingga, menyebabkan lunturnya budaya timur tergerus oleh budaya barat. Hal
ini tentu menunjukan bahwa Indonesia bisa dikatakan sedang krisis identitas nasional. kita
sebagai generasi penerus bangsa untuk mempertahankan jati diri nasional Indonesia
ditengah-tengah era globalisasi dan modernisasi dunia harus memiliki kesadaran diri
sendiri bahwa kita adalah bangsa timur , bangsa Indonesia yang kaya akan budaya dan
warisan dunia. Kita dapat menerapkan Pancasila di dalam kehidupan sehari-hari, dengan
cara berfikir cerdas dan menyaring pengaruh budaya luar , bersifat selektif dalam menerima
budaya barat, dan mencintai produk lokal dalam negeri.
3. Salah satu tantangan dalam integrasi nasional yaitu adanya perbedaan pendapat dari elit
dan massa tentang peraturan perundang-undangan. Integrasi elit-massa yaitu penyatuan
kesepahaman kepentingan antara pemerintah dan rakyat. Tetapi ini juga bisa menjadi suatu
tantangan jika terjadi perbedaan pendapat antara pemerintah dan masyarakat tentang
masalah peraturan perundang-undangan. Mendekatkan perbedaan-perbedaan mengenai
aspirasi dan nilai pada kelompok elit dan massa tentang peraturan perundang undangan.
Seharusnya dalam menyatukan kesepakatan harus mementingkan kesejahteraan
masyarakat. Jika kita lihat sekarang, banyak peraturan perundang-undang yang tidak sesuai
Pancasila. Banyak masyarakat resah akan adanya peraturan perundang-undangan yang
dibuat pemerintah, yang mengakibatkan perdebatan dan kericuhan yang terjadi pada
masyarakat dengan pemerintah. Timbul rasa tidak percayaan masyarakat kepada pemimpin
lagi, dan memilih untuk Golput dalam Pemilu. Seperti contoh sekarang ini, Pengesahan
RUU Omnibus Law Cipta Kerja dilakukan DPR RI pada Senin, 5 September 2020. DPR
mengesahkan UU Cipta Kerja Omnibus Law meski banyak mendapat penolakan dan kritik
dari berbagai kalangan masyarakat. UU ini dinilai akan merugikan buruh/pekerja. UU ini
sangat meresahkan dan menimbulkan kekacauan di Indonesia. Aksi demo pun dijadikan
aksi aspirasi masyarakat kepada pemerintah di setiap daerah. Selain itu di masa yang ricuh
ini, beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab mengeluarkan pernyataan hoax tentang
UU ini yang menyebar di seluruh Indonesia melalui jejaring internet. Selain menggelar
demo di berbagai daerah di Tanah Air, para buruh juga tetap akan melakukan 'Mogok
Nasional'. Kesimpulannya adalah kebijakan demi kebijakan yang diambil oleh pemerintah
yang tidak / kurang sesuai dengan keinginan dan harapan masyarakat serta penolakan
sebagian besar warga masyarakat terhadap kebijakan pemerintah, menggambarkan kurang
adanya intregasi. Memang tidak ada kebijakan pemerintah yang dapat melayani dan
memuaskan seluruh warga masyarakat, tetapi setidak-tidaknya kebijakan pemerintah
hendaknya dapat melayani keinginan dan harapan sebagian besar warga masyarakat.
Jalinan hubungan dan kerjasama di antara kelompok-kelompok yang berbeda dalam
masyarakat, kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai dan saling menghargai
antara kelompok-kelompok masyarakat dengan pembedaan yang ada satu sama lain,
merupakan pertanda adanya integrasi nasional yang kuat.

4. Salah satu alasan perlunya sebuah konstitusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
yaitu untuk bisa melindungi HAM setiap warga negara. Ini dapat kita lihat dalam beberapa
UU yang mengatur hak-hak setiap orang, hak ini sifatnya universal. HAM pada prinsipnya
tidak dapat dicabut. Hak asasi manusia juga tidak dapat dibagi-bagi, saling berhubungan,
dan saling bergantung. Setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama, tidak
memandang tinggi rendahnya derajat. Hak-hak ini bisa berupa hak hidup, hak bekerja, hak
berpendapat dan juga hak mendapat pendidikan untuk anak-anak. Tetapi kenyataan
sekarang ini masih ada HAM warga negara yang dirugikan oleh pihak yang tidak
bertanggung jawab, seperti hak seorang anak yang harus mendapatkan pendidikan. Bunyi
dari Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yaitu “Setiap warga negara berhak
mendapatkan pendidikan”. Pasal ini menyatakan bahwa setiap warga negara berhak
mendapat pendidikan, namun sering kita jumpai di luar sana banyak anak-anak jalanan
yang terlantar yang belum menyentuh pendidikan sama sekali. Seharusnya anak-anak
jalanan yang terlantar itu bisa mendapat apa yang menjadi hak mereka, yaitu hak
memperoleh pendidikan. Karena masa kecil, masa kanak-kanak mereka yang seharusnya
mereka habiskan di bangku sekolah, menjadi sebaliknya. Mereka disuruh bekerja untuk
mendapatkan uang daripada belajar. Tidak cuma itu, anak-anak juga banyak yang putus
sekolah. Masih banyak anak bangsa yang tidak dapat mengenyam pendidikan wajib 9
tahun. Jangankan 9 tahun, pendidikan dasar saja masih ada yang putus sekolah. Salah satu
penyimpangan persepsi yang kebanyakan terjadi di daerah pedesaan adalah lebih baik
seorang anak bekerja dari pada sekolah. Contohnya saja, kasus Muhammad Pasha Pratama
(12), warga Bulu RT5/RW14 Desa Bejiharjo, Karang Mojo, Kabupaten Gunung Kidul,
Daerah Istimewa Yogyakarta. Bocah lulusan SD dari kalangan keluarga miskin ini
terancam putus sekolah, karena terpental dari SMP Negeri 2 Karangmojo akibat peraturan
zonasi PPDB. Sementara untuk menjadi siswa SMP swasta atau di daerah lain, nenek dan
kakek yang merawat Pasha sejak kecil tak memunyai biaya. Padahal, Pasha ingin
melanjutkan sekolah di SMP. Ia bahkan sudah membeli sejumlah peralatan sekolah semisal
buku tulis, pena, dan juga tas baru. Semua itu dibeli Pasha setelah sang nenek menjual
kambing kesayangannya. Ia juga mengumpulkan uang dengan cara menjadi pesuruh para
tetangga. Tetapi dengan sekolah yang jauh dan transportasi tidak memungkinkan, Pasha
memutuskan untuk tidak sekolah lagi.

5. Hak dan kewajiban merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, akan tetapi terjadi
pertentangan karena hak dan kewajiban tidak seimbang. Bahwa setiap warga negara
memiliki hak dan kewajiban untuk mendapatkan penghidupan yang layak, tetapi pada
kenyataannya banyak warga negara yang belum merasakan kesejahteraan dalam menjalani
kehidupannya. Semua itu terjadi karena pemerintah dan para pejabat tinggi lebih banyak
mendahulukan hak daripada kewajiban. Padahal menjadi seorang pejabat itu tidak cukup
hanya memiliki pangkat akan tetapi mereka berkewajiban untuk memikirkan rakyat. Jika
keadaannya seperti ini, maka tidak ada keseimbangan antara hak dan kewajiban. Jika
keseimbangan itu tidak ada akan terjadi kesenjangan sosial yang berkepanjangan. Untuk
mencapai keseimbangan antara hak dan kewajiban. Seorang pejabat atau pemerintah pun
harus tahu akan hak dan kewajibannya. Seperti yang sudah tercantum dalam hukum dan
aturan-aturan yang berlaku. Jika hak dan kewajiban seimbang dan terpenuhi, maka
kehidupan masyarakat akan aman sejahtera. Hak dan kewajiban di Indonesia ini tidak akan
pernah seimbang. Apabila masyarakat tidak bergerak untuk merubahnya. Karena para
pejabat tidak akan pernah merubahnya, walaupun rakyat banyak menderita karena hal ini.
Mereka lebih memikirkan bagaimana mendapatkan materi daripada memikirkan rakyat,
sampai saat ini masih banyak rakyat yang belum mendapatkan haknya. Oleh karena itu,
kita sebagai warga negara yang berdemokrasi harus bangun dari mimpi kita yang buruk ini
dan merubahnya untuk mendapatkan hak-hak dan tak lupa melaksanakan kewajiban kita
sebagai rakyat Indonesia. Contohnya saja, Kasus seorang wartawati Nur Baety Rofiq (44)
ditemukan tewas di rumahnya di Perumahan Gaperi RT 001/RW 009, Kedung Waringin,
Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 18 Juli 2015 dalam kondisi sudah
membusuk dan ada bekas jeratan ikatan di tangan kirinya. Tiga pelaku yakni Syarifudin
(20), Ubaidilah (22), dan M Pujiono (20) ditangkap pada Senin, 20 Juli. Sementara satu
pelaku lainnya Deni, yang merupakan otak pembunuhan ditangkap satu hari setelahnya di
Bandung. Adapun motif pembunuhan ini murni kasus perampokan. Pelaku telah melanggar
hak hidup seseorang dan pengingkaran kewajiban untuk menghargai hidup seseorang. Atas
perbuatannya itu, para pelaku dijerat dengan Pasal 363 dan 365 KUHP tentang pencurian
dengan kekerasan. Pelaku terancam hukuman 20 tahun atau penjara seumur hidup karena
pencurian yang dilakukan bersama-sama sampai meregang nyawa.

Anda mungkin juga menyukai