Anda di halaman 1dari 5

Nama : Hindun

NIM : 20303244017
Kelas : Pendidikan Kimia A 2020

TUGAS 3 PERSPEKTIF TEORI SOSIOLOGI


Tugas
1. Buatlah rangkuman tentang perspektif teori dalam Sosiologi!
2. Buatlah sketsa analisis kekerasan pelajar dengan menggunakan berbagai perspektif
teoretis dalam Sosiologi!

Jawab
RANGKUMAN
Dalam sosiologis, manusia adalah bahasan utama yang selalu dibahas.
Manusia memiliki sifat yang dinamis dan kompleks. Untuk memahami manusia
dengan beragam karakter dan permasalahannya, maka dibutuhkan landasan teori.
Terdapat tiga perspektif teori sosiologi yang dapat dijadikan sebagai perspektif dalam
memandang berbagai kajian sosial yaitu teori fungsionalis, teori konflik, dan teori
interaksionis.

TEORI FUNGSIONALIS
Teori fungsionalis yang dipelopori oleh Emile Durkheim dan Max Weber ini
dianggap sebagai standard theory yang banyak dianut oleh sosiolog. Teori ini
menekankan aspek keteraturan dan menghindari konflik. Dijelaskan bahwa
masyarakat suatu sistem diibaratkan seperti tubuh yang terdiri atas bagian-bagian
yang saling terkait satu dengan yang lainnya dan masing-masing memiliki peran
(Ritzer, 2009: 25). Bagian yang satu dengan lainnya tidak dapat berfungsi tanpa ada
hubungan dengan bagian yang lain. Perubahan yang terjadi pada salah satu bagian
akan menyebabkan ketidakseimbangan dan pada gilirannya akan menciptakan
perubahan pada bagian yang lain (Raho, 2007: 48). Menurut teori ini, jika terjadi
konflik dalam masyarakat, maka akan memengaruhi sistem sosial sehingga
menghambat kelancaran proses terbentuknya struktur sosial. Teori fungsionalis
menganalisis fenomena sosial dengan perspektif makro. Perspektif makro melihat
lingkup masyarakat yang lebih luas di dalam kelompok atau sistem sosial.
Salah satu karya yang terkenal dari fungsionalisme adalah teori tentang
stratifikasi sosial. Stratifikasi sosial dianggap sebagai suatu kenyataan umum untuk
mempertahankan keberlangsungan hidup suatu masyarakat (Langer, 2005: 107).
Sedangkan menurut Weber, stratifikasi adalah kekuatan sosial yang berpengaruh
besar. Teori ini menekankan pada fungsi peran dari struktur sosial yang didasarkan
pada konsensus dalam suatu masyarakat. Struktur itu berarti suatu sistem yang
terlembagakan dan saling berkaitan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa teori
fungsional cenderung melihat fakta sosial memiliki kerapian antar hubungan dan
keteraturan yang sama dengan yang dipertahankan oleh konsensus umum.

TEORI KONFLIK
Teori konflik berkembang sebagai counter terhadap teori fungsionalis. Teori
ini menganggap bahwa masyarakat terdiri dari kelompok-kelompok dan golongan
yang berbeda kepentingan. Masing-masing kelompok memiliki kepentingan berbeda.
Perbedaan kepentingan ini ada karena manusia memiliki pandangan subjektif
terhadap dunia, adanya hubungan sosial yang saling memengaruhi satu individu
dengan yang lain, dan adanya potensi konflik interpersonal. Dengan demikian,
stratifikasi sosial berisi relasi yang sifatnya konfliktual.
Teori konflik yang digagas oleh Karl Marx ini mendasarkan pada pemilihan
sarana-sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelompok dalam masyarakat.
Teori ini menganalisis fenomena sosial dengan perspektif makro. Hakikat masyarakat
sebagai tertib sosial yang ditandai oleh persaingan antar kelompok berdasarkan
interest masing-masing. Teori konflik merupakan proses yang bersifat instrumental
dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial. Konflik dengan
kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan melindunginya
agar tidak lebur ke dalam dunia sosial sekelilingnya. Perbedaan merupakan peristiwa
normal yang sebenarnya dapat memperkuat struktur sosial. Sehingga ketiadaan
konflik bukanlah indikator dari kekuatan dan kestabilan suatu hubungan. Pendidikan
yang dilaksanakan baik pemerintah maupun swasta adalah pendidikan yang tidak
statis, akan tetapi penuh dengan dinamika sosial. Konflik yang terjadi dalam
pendidikan adalah bagian dari proses konstruksi pendidikan kearah yang lebih baik.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa teori konflik cenderung menekankan
kekacauan antar fakta sosial, serta gagasan mengenai keteraturan dipertahankan
melalui kekuasaan yang memaksa dalam masyarakat.
TEORI INTERAKSIONIS
Perspektif interaksionis menganalisis fenomena sosial dengan perspektif
mikro. Perspektif mikro ini lebih menekankan pada relasi antar individunya. Para ahli
perspektif teori ini menyatakan bahwa individu merupakan hal yang paling penting
dalam konsep sosiologi. Teori ini beranggapan bahwa individu adalah obyek yang
dapat dianalisis secara langsung melalui interaksi antar individu. Dalam teori ini,
dikenal sosiolog George Herbert Mead dan Charles Horton Cooley yang memusatkan
perhatiannya pada interaksi antara individu dan kelompok. Prinsip dasar teori
interaksionis adalah manusia memiliki kapasitas untuk berpikir dan pemikirannya
dibentuk oleh interaksi sosial. Dalam proses interaksi, manusia mempelajari makna
dan simbol-simbol yang mengarahkannya pada kapasitas menjadi berbeda dengan
lainnya. Makna dan simbol memungkinkan manusia untuk bertindak dan berinteraksi
secara berbeda seperti cara orang memaknai kesuksesan berbeda-beda atau adanya
perbedaan bahasa yang digunakan setiap suku. Manusia mampu memodifikasi atau
mengubah makna yang mereka gunakan dalam proses interaksi sesuai interpretasi atas
situasi sosial. Mengubah makna dan simbol dilakukan dengan pertimbangan untung
rugi, kemudian memilih salah satunya. Perbedaan pola tindakan dan interaksi
menciptakan perbedaan kelompok masyarakat.
Pada hakikatnya, teori interaksionis merupakan sebuah perspektif yang
bersifat sosial psikologis, dimana sangat relevan dalam penyelidikan sosiologis. Teori
ini berhubungan dengan struktur sosial, bentuk konkret dari perilaku individual atau
sifat batin yang bersifat dugaan. Teori ini memfokuskan diri pada hakikat interaksi,
pola-pola dinamis dari tindakan sosial, dan hubungan sosial.
Blumer mengemukakan tiga prinsip dasar interaksionisme simbolik yang
berhubungan dengan meaning (makna), language (bahasa), dan thought (pemikiran).
Premis ini kemudian mengarah pada kesimpulan tentang pembentukan diri seseorang
dan sosialisasinya dalam komunitas (community) yang lebih besar.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa teori interaksionis berasumsi bahwa
kehidupan sosial hanya bermakna pada tingkat individual yang realitas sosial itu tidak
ada. Sebagai contoh buku bagi seorang berpendidikan merupakan suatu hal yang
penting, namun bagi orang yang tidak mengenyam pendidikan tidak bermanfaat. Dari
sini, dapat dibedakan teori interaksionis dengan teori-teori lainnya. Teori interaksionis
memandang bahwa “arti” muncul dari proses interaksi sosial yang telah dilakukan.
Arti dari sebuah benda untuk seseorang tumbuh dari cara-cara di mana orang lain
bersikap terhadap orang tersebut. Sehingga interaksi simbolis memandang “arti”
sebagai produk sosial sebagai kreasi-kreasi yang terbentuk melalui aktivitas yang
terdefinisi dari individu saat mereka berinteraksi. Seorang pendidik tidak cukup hanya
menjastifikasi peserta didiknya dari hasil penilaian sesaat dan parsial, tetapi penilaian
itu harus holistik dan berkelanjutan yang didasarkan pada interaksi timbal balik.

Sketsa analisis kekerasan pelajar dengan perspektif teoretis sosiologi


Menurut perspektif teori fungsionalis yang menekankan aspek keteraturan dan
menghindari konflik serta menggambarkan masyarakat seperti tubuh manusia, maka
diharapkan para pelajar menghindari adanya konflik baik antar individu maupun antar
kelompok sekolah. Jika memang konflik atau kekerasan terjadi, diharapkan tidak
mengganggu stabilitas dalam lingkungan sekolah. Dalam pandangan teori ini, adanya
konflik atau kekerasan pelajar akan memengaruhi sistem sosial sekolah sehingga akan
menghambat kelancaran proses terbentuknya struktur sosial sekolah yang baik.
Kekerasan pelajar akan menyebabkan permusuhan terus menerus seperti tawuran
geng pelajar antar sekolah akan terjadi turun temurun dari kakak kelas hingga adik
kelasnya. Hal tersebut yang akan menghambat proses struktur sosial antar sekolah.
Menurut perspektif teori konflik, adanya konflik atau kekerasan pelajar
merupakan hal yang normal karena setiap pelajar memiliki pandangan subjektif
sendiri, adanya masalah dalam hubungan dengan pelajar lain, dan adanya perbedaan
kepentingan. Justru dengan berbagai perbedaan tersebut sebenarnya dapat
memperkuat struktur sosial karena kita juga tidak dapat memastikan bahwa tidak
adanya konflik merupakan indikator kedaimaian dalam suatu hubungan. Perspektif
teori konflik mengharuskan setiap individu untuk berpendapat/berdebat karena setiap
individu memiliki kepentingan yang berbeda yang harus disampaikan sehingga
terjadilah konflik yang bisa saja berujung pada tindak kekerasan. Oleh karena itu,
menurut perspektif teori ini adanya kekerasan pelajar merupakan peristiwa normal
yang terjadi dalam sistem sosial di sekolah.
Menurut teori interaksionis, adanya konflik atau kekerasan pelajar merupakan
akibat dari adanya perbedaan persepsi ketika melakukan interaksi antar pelajar.
Seharusnya pelajar tidak langsung mengambil kesimpulan mengenai pelajar lain
dalam sekali interaksi, namun proses interaksi tersebut harus dilakukan secara holistik
sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam menanggapi interaksi tersebut.
REFERENSI
Langer, Beryl. (2005). Teori-teori sosial: observasi kritis terhadap para filosof
terkemuka. (diterjemahkan oleh Sigit Jatmiko). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hal 107.
Raho, Bernard. (2007). Analisa sistem sosial. (diterjemahkan oleh Sahad Simamora).
Jakarta: Bina Aksara. Hal 48.
Rasyid, M.R. (2015). Pendidikan dalam perspektif teori sosiologi. Jurnal Pendidikan
Dasar Islam. Vol 2, No 2, pp.274-286.
Ritzer, G. & Douglas, J. (2009). Teori sosiologi modern. (diterjemahkan oleh
Alimandan). Jakarta: Kencana. Hal 25.

Anda mungkin juga menyukai