Anda di halaman 1dari 47

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN KERAPU CANTANG

(Epinephelus fuscoguttatus X lanceolatus) DI BALAI PERIKANAN


BUDIDAYA AIR PAYAU (BPAP) SITUBONDO JAWA TIMUR

LAPORAN PRAKTIK KERJA AKUAKULTUR

MUH. FACHRUL HAMKA


L221 16 314

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


DEPARTEMEN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2020
2

LAPORAN LENGKAP PELAKSANAAN


PRAKTIK KERJA AKUAKULTUR

Laporan Ini Sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan


Praktik Kerja Akuakultur Program Studi Budidaya Perairan
Departemen Perikanan
Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan
Universitas Hasanuddin
Makassar

OLEH

MUH. FACHRUL HAMKA


L221 16 314

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


DEPARTEMEN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2020
i

HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Teknik Pembenihan Ikan Kerapu Cantang (Epinephelus


fuscoguttatus x lanceoulatus) di Balai Perikanan
Budidaya Air Payau (BPAP) Situbondo, Jawa Timur.
Nama Mahasiswa : Muh. Fachrul Hamka
NIM : L221 16 314
Program Studi: : Budidaya Perairan

Laporan Praktik Kerja Akuakultur (PKA)


Telah diperiksa dan disetujui oleh :

Pembimbing Utama Pembimbing Lapangan

Dr. Ir. Siti Aslamyah, M.P. Ir. Sofiati


NIP. 19690901 199303 2 003 NIP. 19670109 199503 2 001

Mengetahui,

Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset Ketua Program Studi Budidaya


Dan Inovasi Perairan

Prof. Dr. Ir. Rohani Ambo Rappe, M.Si Dr. Ir. Sriwulan, MP.
NIP. 19690913 199303 2 004 NIP. 19660630 199103 2 002
ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya penulis dapat
menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Akuakultur (PKA) Program Studi
Budidaya Perairan, Departemen Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan
Perikanan, Universitas Hasanuddin yang berjudul “Teknik Pembenihan Ikan
Kerapu Cantang (Epinephelus fuscoguttatus x lanceolatus) ” tepat pada
waktunya. Laporan ini merupakan hasil dari kegiatan yang dilakukan di
Instalasi Blitok, Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo,
Jawa Timur.
Dalam penulisan laporan ini, penulis juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam laporan ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan laporan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu
yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu selama Praktik Kerja Akuakultur (PKA) ini berlangsung,
khususnya kepada:
1. Kedua orang tua penulis, Bapak Kamaruddin dan Ibunda Halwati yang
telah memberikan dukungan untuk menjalankan Praktek Kerja
Lapangan.
2. Kepada Dr. Ir. Siti Aslamyah, M.P selaku dosen pembimbing akademik
penulis dan Ibu Ir. Sofiati selaku pembimbing lapangan yang
meluangkan waktunya untuk membimbing penulis dalam
melaksanakan kegiatan Praktik Kerja Akuakultur (PKA) hingga
pembuatan laporan PKL ini.
3. Kepada Ibu Dr. Ir. Sriwulan, M.P. selaku Ketua Prodi Budidaya
Perairan yang telah membantu penulis dalam pengurusan
pelaksanaan kegiatan PKA ini.
4. Kepada Bapak Ir. Ujang Komarudin Asdani Kartamiharja M.Sc. selaku
Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPAP) Situbondo, Jawa
Timur.
5. Seluruh peneliti, teknisi, dan staf pegawai Instalasi Pembenihan Blitok,
Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, Jawa Timur
iii

atas kerja sama, arahan, dan bantuannya selama berjalannya Praktek


Kerja Lapangan dan penulisan laporan.
6. Teman-teman Tim PKL Unhas yang juga bersama penulis melakukan
kegiatan Praktek Lapang di BPBAP Situbondo (Ijal, Rika, Diat, Iswan
dan Adi)
7. Rekan-rekan seperjuangan dari Polteknik Perikanan Tual, UINSA
Surabaya serta institusi lainnya yang selalu memberikan support
selama PKL di BPBAP Situbondo.
8. Semua pihak yang telah ikut membantu, baik langsung maupun tidak
langsung dalam penyusunan laporan PKL.

Demikian laporan ini disusun, semoga dapat bermanfaat dan memberi


nilai untuk kepentingan ilmu pengetahuan selanjutnya, serta segala amal baik
serta jasa dari pihak yang membantu penulis mendapat berkat dan karunia
Allah SWT. Amin.

Situbondo, 8 Desember 2019

Muh. Fachrul Hamka


iv

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Muh. Fachrul Hamka, lahir pada


28 Desember 1998 di Ujung Pandang yang merupakan
anak ketiga dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak
Kamaruddin dan Ibu Halwati. Bertempat tinggal di BTN
Jenetallasa D4/8, Gowa. Beragama Islam dan memiliki hobi
dalam bidang olahraga.
Penulis memulai jenjang pendidikan di Sekolah
Dasar Negeri (SDN) pada tahun 2004 di SDN TETEBATU I, Gowa dan lulus
pada tahun 2010. Pada tahun yang sama, penulis melanjutkan pendidikan di
SMP Negeri 1 Pallangga dan lulus pada tahun 2013. Selanjutnya, penulis
melanjutkan studi di SMAIT AL-FITYAN School, Gowa dan lulus pada tahun
2016. Kemudian, penulis melanjutkan studi ke jenjang pendidikan yang lebih
tinggi dan diterima sebagai mahasiswa di Programram Studi Budidaya Perairan,
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin pada tahun
2016.
Penulis aktif berorganisasi menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS di SMAIT
AL- FITYAN (2015-2016), Koordinator bidang Keilmuan di Himpunan KMP
Budidaya Perairan (2018-2019) serta menjadi anggota bidang Advokasi di
Himpunan Mahasiswa Akuakultur Indonesia (HIMAKUAI) periode 2018-2019.
v

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN .................................................................................... i


KATA PENGANTAR .............................................................................................. ii
RIWAYAT HIDUP .................................................................................................. iv
DAFTAR ISI ............................................................................................................ v
DAFTAR TABEL ................................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. vii
I. PENDAHULUAN ................................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2. Tujuan dan Kegunaan .............................................................................. 2
II. KEADAAN UMUM LOKASI ............................................................................... 3
2.1. Sejarah Singkat Terbentuknya BPAP Situbondo .................................... 3
2.2 Tugas dan Fungsi ..................................................................................... 3
2.3 Visi dan Misi ............................................................................................. 4
2.4 Struktur Organisasi dan Tenaga Kerja..................................................... 4
2.5 Sarana dan Prasarana Pembenihan....................................................... 6
III. METODE KEGIATAN PRAKTIK ..................................................................... 12
3.1 Waktu dan Tempat ................................................................................. 12
3.2. Teknik Pengambilan Data ...................................................................... 12
IV. HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN ............................................................. 13
4.1 Hibridisasi Ikan Kerapu Cantang ........................................................... 13
4.2. Pembenihan di Instalasi Blitok ............................................................... 19
V. RANGKUMAN .................................................................................................. 34
5.1 Rangkuman ............................................................................................ 34
5.2 Saran ...................................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 35
LAMPIRAN ........................................................................................................... 37
vi

DAFTAR TABEL

No. Teks Hal


1. Data Pendatangan Telur Kerapu Cantang Di BPBAP Situbondo ...................21
2. Standar Prosedur Operasional (SPO) Pemberian Pakan Larva Kerapu ......24
3. Pedoman Pakan Harian Larva Ikan Kerapu Instalasi Blitok : ..........................25
4. Standar Prosedur Operasional (SPO) Manajemen Kualitas Air ................... 26
5. Komposisi Dan Dosis Jenis Pupuk Yang Diberikan..........................................27
6. Tahapan Perkembangan Larva Ikan Kerapu Cantang .....................................31
vii

DAFTAR GAMBAR

No. Teks Hal


1. Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo .................................................3
2. Struktur Organisasi BPBAP Situbondo .................................................................6
3. Bak Pemeliharaan Induk Kerapu Kertang ............................................................9
4. Bak Karantina Induk ..............................................................................................10
5. Kolam Pemeliharaan Larva ..................................................................................11
6. Diagram Alir Pembenihan Ikan Kerapu Cantang ..............................................13
7. Pemilihan Induk Betina Kerapu Macan...............................................................14
8. Seleksi Gonad pada Induk Kerapu Macan .........................................................16
9. Teknik Stripping Kerapu (a) dan Sperma Kerapu Kertang (b).........................17
10. Stripping Induk Kerapu Macan (a) dan Pencampuran Telur & Sperma (b) ...18
11. Grading Bawah (a) dan Grading Atas (b) ...........................................................30
12. Proses Packing ......................................................................................................32
13. Virkon Aquatic ........................................................................................................33
1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ikan Kerapu (Epinhepelus sp.) merupakan ikan komoditas yang sedang


dikembangkan sebagai hasil laut unggulan untuk diekspor dengan nilai ekonomis
yang cukup tinggi. Ikan Kerapu tergolong ikan karnivora yang memanfaatkan
pakan hewani sebagai pakan utama. Ikan kerapu banyak dipilih pembudidaya,
karena memiliki beberapa sifat yang menguntungkan, yaitu pertumbuhan yang
relatif lebih cepat dan dapat diproduksi secara massal dalam kolom budidaya
guna melayani permintaan pasar kerapu (Antoro et al. 2004 ). Ikan kerapu dalam
kegiatan budidaya sama dengan jenis ikan budidaya pada umumnya, dimana
tahapan pemeliharaan dimulai dari proses pembenihan, pendederan, hingga
tahap pembesaran.
Pembenihan merupakan upaya untuk mendapatkan keturunan dalam
jumlah banyak. Tahapan pembenihan ikan kerapu meliputi pemilihan induk,
pemijahan induk, penetasan telur, pemeliharaan larva sampai pemanenan.
Menurut Ismi et al. (2012), usaha pembenihan ikan kerapu dihadapkan kepada
permasalahan tingginya tingkat kematian terutama pada stadia larva. Perlu
perhatian khusus pada pemiliharaan larva dalam pembenihan ikan kerapu.
Dengan demikian perlu dilakukan perekayasaan tentang persilangan antar
spesies ikan kerapu mempunyai nilai efek heterosis yang tinggi dan dalam sifat
pertumbuhan, daya tahan penyakit dan daya tahan lingkungan.
Hibridisasi merupakan salah satu metode pemuliaan dalam upaya
mendapatkan strain baru yang mewarisi sifat-sifat genetik dan morfologis dari
kedua tetuanya dan untuk meningkatkan heterozigositas. Hibridisasi kerapu
cantang (Epinephelus fuscoguttatus-lanceolatus) memiliki pertumbuhan yang
lebih cepat, ketahanan penyakit yang lebih baik, sehingga diharapkan dapat
membantu meningkatkan produksi ikan kerapu (Aryanto. 2006)
Salah satu balai yang mengembangkan pembenihan ikan kerapu cantang
adalah Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPAP) Situbondo, Jawa Timur.
Sejak 2010, BPAP Situbondo telah memproduksi benih ikan kerapu cantang
yang merupakan hasil hibridisasi antara ikan kerapu macan betina dan ikan
kerapu kertang jantan. Berdasarkan hal tersebut menjadi alasan dari penyusun
untuk melakukan praktik kerja akuakultur di BPAP Situbondo yang merupakan
salh satu tempat produksi unggulan ikan kerapu cantang. Selain itu, tingginya
2

kebutuhan benih ikan kerapu menjadi alasan penyusun untuk memperdalam ilmu
pembenihan ikan kerapu agar menghasilkan kualitas benih yang tinggi serta
menghasilkan tingkat kelulushidupan yang tinggi pula.

1.2. Tujuan dan Kegunaan

1.2.1. Tujuan

Tujuan dari Praktik Kerja Akuakultur (PKA) yaitu untuk menambah


wawasan dan pengalaman kerja, serta dapat mempraktikkan secara langsung
budidaya ikan, salah satunya kegiatan pembenihan ikan kerapu cantang
(Epinephelus fuscoguttatus-lanceolatus) di Balai Perikanan Air Payau (BPAP)
Situbondo, Jawa Timur.

1.2.2. Kegunaan

Kegunaan dari Praktik Kerja Akuakultur (PKA) yaitu untuk dapat


memahami dan mengetahui aspek teknis dan non-teknis mengenai pembenihan
ikan kerapu cantang (Epinephelus fuscoguttatus-lanceolatus) di Balai Perikanan
Air Payau (BPAP) Situbondo, Jawa timur dan mampu menerapkan pengetahuan
dan keterampilan dalam usaha pembenihan ikan kerapu cantang.
3

II. KEADAAN UMUM LOKASI

2.1. Sejarah Singkat Terbentuknya BPAP Situbondo

Sejarah beridirinya BPBAP Situbondo diimulai dengan berdirinya Sub


Center Udang Jawa Timur pada tahun 1986, yang pada saat itu masih berupa
fasilitas pemeliharaan benur udang windu di bawah naungan Direktorat Jenderal,
Departemen Pertanian. Sub Center Udang Windu ini terletak di Desa Blitok,
Kecamatan Mlandingan, Kabupaten Situbondo dan merupakan cabang dari Balai
Perikanan Budidaya Air Payau Jepara, Jawa Tengah. Sub Center Udang Windu
ini kemudian melepaskan diri dari BPBAP Jepara dan berganti nama menjadi
Loka Budidaya Air Payau (LBAP) Situbondo yang ditetapkan pada tanggal 18
April 1994 melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 264/KPTS/OT
210/4/94. LBAP membentuk 3 divisi, yaitu divisi ikan, divisi udang dan divisi
budidaya.

Gambar 1. Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo

Dengan meningkatnya beban tugas dan tanggung jawabnya, maka pada


tanggal 1 Mei 2001 LBAP Situbonndo dinaikkan statusnya menjadi Balai
Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo berdasarkan SK Menteri Kelautan dan
Perikanan No. KEP. 260/MEN/2001. Kemudian pada tanggal 5 Maret 2014,
berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor :
6/PERMEN-KP/2014, terjadi perubahan nomenklatur menjadi Balai Perikanan
Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo.

2.2 Tugas dan Fungsi

Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo mempunyai tugas


melaksanakan penerapan teknik pembenihan pembudidayaan ikan air payau
serta pelestarian sumber daya induk atau benih ikan dan lingkungan. Dalam
melaksanakan tugas, BPBAP Situbondo menyelenggarakan fungsi :
4

a. Pengkajian, pengujian, dan bimbingan penerapan standar penerapan ikan


air payau.
b. Pengkajian standard dan pelaksanaan sertifikasi sistem mutu dan sertifikasi
personil pembenihan serta pembudidayaan ikan air payau.
c. Pengkajian sistem dan tata pelaksana produksi dan pengelolaan induk
penjenis dan induk dasar ikan air payau.
d. Pelaksanaan penguji teknik pemebnihan dan pembudidayaan ikan air payau
e. Pengkajian standar pengwasan benih, pembudidayaan, serta pengendalian
hama dan penyakit ikan air payau.
f. Pengkaji standar pengendalian lingkungandan sumber daya induk atau
benih ikan air payau.
g. Pelaksanaan sistem jaringan laboratorium pengujian, pengawasan benih,dan
pembudidaya ikan air payau.
h. Pengelolaan dan pelayanan informasi dan publikasi pembenihan dan
pembudidaya ikan air payau.
i. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

2.3 Visi dan Misi

a. Visi
Institusi pelayanan prima dalam pengembangan akuakultur yang berdaya
saing, berkelanjutan dan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi andalan.
b. Misi
Meningkatkan kualitas sumber daya manusia, menghasilkan,
menerapkan, dan mensosialisasikan paket-paket teknologi akuakultur yang
standard dan efisiensi, menghasilkan benih dan induk unggul, menerapkan
sistem sertifikasi perikanan, pelayanan laboratorium serta melaksanakan
sistem perikanan budidaya yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan.

2.4 Struktur Organisasi dan Tenaga Kerja

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor


KEP/26D/MEN/2001 tentang Organisasi dan Tenaga Kerja di Balai Perikanan
Budidaya Air Payau Situbondo dipimpin oleh Kepala Balai. Tugas dari Kepala
Balai dibantu oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi Pengujian dan
Dukungan Teknis Seksi Pengujian dan Dukungan Teknis, Kepala Seksi Uji Terap
Teknis dan Kerja Sama, Kelompok Jabatan Fungsional. Adapun tugas dari
masing-masing adalah:
5

a. Kepala Balai
Kepala BPBAP Situbondo bertanggung jawab dalam memimpin dan
mengatur seluruh kegiatan di BPBAP Situbondo serta bertugas untuk
merumuskan kegiatan, mengkordinasi, dan mengarahkan tugas penerapan
seperti teknik pembenihan pembudidayaan ikan air payau serta pelestarian
sumber daya benih maupun induk dan lingkungan. Kepala balai juga membina
bawahan dan di lingkungan BPBAP Situbondo sesuai dengan prosedur dan
peraturan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan tugas.
b. Sub Bagian Tata Usaha
Sub bagian tata usaha mempunyai tugas melakukan administrasi
pemantauan, evaluasi pelaporan keuangan maupun anggaran, kegiatan teknis,
pengelolaan kepegawaian, tata laksana, persuratan, perlengkapan, rumah
tangga, dan ketatausahaan.
c. Seksi Pengujian dan Dukungan Teknis
Seksi pengujian dan dukungan teknis bertugas memberikan pelayanan
pengujian laboratorium (persyaratan kelayakan teknis, mutu pakan, dan
kesehatan ikan dan lingkungan serta perkembangan bioteknologi), produksi
benih maupun induk unggul dan bermutu, sarana produksi budidaya, dan
bimbingan teknis budidaya air payau.
d. Seksi Uji Terap Teknis dan Kerja Sama
Seksi uji terap teknis dan kerjasama bertugas untuk menyiapkan bahan
standar teknik, pengawasan pembenihan maupun pembudidayaan ikan,
pengendalian hama dan penyakit ikan, sumberdaya, lingkungan, serta
pengelolaan perpustakaan dan jaringan informasi.
e. Kelompok Jabatan Fungsional
Kelompok jabatan fungsional mempunyai tugas melaksanakan kegiatan
perekayasaan, pengujian, penerapan, dan bimbingan penerapan standar atau
sertifikasi pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau, pengendalian hama
dan penyakit, pengawasan benih, budidaya dan penyuluhan, serta kegiatan lain
yang sesuai dengan tugas masing-masing jabatan fungsional berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
6

Ka. Balai BPBAP Situbondo

Kepala Sub Bagian Tata


Usaha

KaSi Uji Terap Teknis dan KaSi Pengujian dan Dukungan


Kerjasama Teknis

Kepala Jabatan Fungsional

PHPI Pranata Humas Litkayasa


Perekayasa

Pengawas Budidaya Ikan

Gambar 2. Struktur Organisasi BPBAP Situbondo

2.5 Sarana dan Prasarana Pembenihan

Sarana dan prasarana pembenihan merupakan faktor utama yang


mendukung kegiatan pembenihan sehingga perlu diperhatikan bentuk dan
posisinya. Sarana budidaya yang digunakan di Balai Perikanan Budidaya Air
Payau (BPBAP) Situbondo Instlansi Pecaron dan Blitok untuk kegiatan
pembenihan adalah sebagai berikut:
2.5.1 Sistem Penyediaan Tenaga Listrik
Dalam kegiatan pembenihan, listrik merupakan salah satu dari bagian
kompenen atau daya dukung yang sangat vital. Listrik juga digunakan sesuai
fungsinya selama 24 jam terus menerus. Karena sesuai fungsinya energi listrik
digunakan untuk penerangan, menjalankan pompa, blower, dan peralatan
lainnya yang membutuhkan tenaga listrik di BPBAP Situbondo Instalasi Blitok
berasal dari jaringan Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan daya 33 KW.
Sebagai antisipasi jika terjadi pemadaman arus listrik, BPBAP Situbondo
Instalansi Blitok telah menyediakan generator set (genset) yang berdaya 60 dan
80 KW. Saat terjadi pemadaman listrik, akan terdengar tanda dari sirine yang
berbunyi secara otomatis. Setelah itu, generator set akan segera difungsikan
untuk tetap mendukung suplai tenaga listrik bagi kegiatan budidaya khususnya
pada pembenihan.
7

2.5.2 Sistem Penyediaan Air

2.5.2.1 Air Tawar

Sumber air tawar yang berada di BPBAP Situbondo instalansi Pecaron


dan Blitok didapatkan atau berasal dari air sumur dengan kedalaman 20 m yang
dipompa menggunakan pompa berkekuatan 1,5 PK. Air sumur disalurkan melalui
pipa PVC berdiameter 1,5 inc, lalu ditampung di 2 tandon dengan kapasitas
masing-masing 800 L dengan ketinggian 3 m dari permukaan tanah dan di
distribusikan menuju unit-unit pembenihan, laboratorium, kantor, perumahan
karyawan, dan asrama.

2.5.2.2 Air Laut

Kebutuhan air laut untuk menunjang seluruh kegiatan budidaya di BPBAP


Situbondo instalansi Blitok diameterbil dari air laut selat Madura yang berjarak
500 m dari garis pantai. Pengambilan air laut dengan menggunakan pipa paralon
yang berdiameter 4 inc yang dibenamkan ke dalam pasir dengan posisi menjorok
ke arah laut.
Pipa paralon ini berfungsi untuk mengambil air laut yang bagian ujungnya
dilengkapi dengan filter hisap dan dihubungkan langsung dengan pompa
electromotor berkapasitas 7,5 PK (Paard Kaard) kemudian ditampung di tendon.
Sebelum digunakan, air laut disaring dengan menggunakan filter gravitasi,
kemudian di distribusikan pada unit pembenihan, tendon air pembenihan, unit
kultur fitoplankton dan zooplankton menggunakan pompa sentrifugal yang
berdaya 1,5 PK.
Unit pemeliharaan induk kerapu cantang di instalansi Pecaron, air laut
langsung dialirkan ke bak pemeliharaan induk melalui pipa saluran berupa pipa
berdiameter 4 inci. Sedangkan di Instalansi Blitok untuk mendistribusikan air laut
ke dalam bak pembenihan dan bak kultur pakan alami, air laut tersebut terlebih
dahulu disaring dengan menggunakan saringan fisik atau sand filter ukuran 225
cm × 100 cm × 100 cm. Sand filter tersusun dari bawah ke atas berupa batu kali,
kerikil, bungkusan arang, ijuk, waring dan pasir kwarsa. Setelah air melewati
proses tahap penyaringan tersebut, maka air akan terbebas dari kotoran air yang
berukuran besar. Air yang telah melewati proses tahap penyaringan, kemudian
akan di pompa ke tandon air laut yang berada pada ketinggian 2 m diatas
permukaan tanah menggunakan pompa dengan kapasitas 7,5 PK melalui pipa
yang berdiameter 4 inc.
8

Tandon air laut inilah yang nantinya akan menjadi sumber air untuk
dialirkan ke dalam bak-bak pembenihan dan bak kultur pakan alami. Air laut ini
dialirkan dengan menggunakan gaya gravitasi sebab posisi tandon yang berada
lebih tinggi dari bak-bak pemeliharaan yang lainnya dan dibantu dengan
menggunakan pompa.

2.5.3 Sistem Aerasi

Oksigen terlarut (DO) mrupakan faktor pembatas bagi sebagian besar


organisme akuatik. Kandung oksigen terlarut dalam lingkungan budidaya di bak
secara terkontrol sangat berperan penting dan harus di suplai secara teratur ke
dalam bak pemeliharaan. Penggunaan blower adalah cara yang paling umum
digunakan dalam suatu usaha pembenihan. Jenis blower yang sering digunakan
yaitu root blower dan blower vortex. Root blower sering digunakan pada usaha
menengah sampai skala besar. Ketersediaan oksigen dalam pembenihan di
BPBAP Situbondo Instalansi Blitok disuplai dengan menggunakan 3 unit root
blower dengan daya 5-7 PK. Udara yang dihasilkan dari blower ini kemudian
diairkan langsung ke bak pemeliharaan larva, bak penggelondongan, bak kultur
fitoplankton dan zooplankton dengan menggunakan pipa PVC ukuran 3 inc
dengan sistem tertutup yang dihubungkan dengan selang aerasi yang dilengkapi
stop kran, batu aerasi, dan pemberat yang terbuat dari timah. Selang aerasi yang
digunakan dari jenis selang plastik besar PE yang lentur sehingga tidak mudah
pecah dan tahan terhadap panas.

2.5.4 Kontruksi Kolam

2.5.4.1 Kolam Induk

Salah satu faktor terpenting dalam pemeliharaan induk adalah bagaimana


kontruksi dari kolam itu sendir dimana kontruksi kolam induk akan menentukan
bagaimana induk bisa bertahan hidup. Semua induk kerapu di BPBAP Situbondo
berada di Instalansi Pecaron dimana induk dipelihara dalam bak beton dan
bentuk dari kolam indukan ini adalah bulat yang berfungsi untuk jalannya
sirkulasi udara yang akan terus menerus memutari dari kolam indukan tersebut,
kotoran akan terkumpul ditengah dan mudah terbuang, ikan aktif berenang serta
jika ada telur akan mudah untuk mengambilnya. Kolam induk berdiameter 10 m
dengan ketinggian mencapai 3 m dengan kapasitas debit air mencapai 275 ton
dan terletak di outdoor dengan penyinaran pemeliharaan induk hingga matang
gonad dan siap untuk dipijahkan.
9

Kolam induk ini dilengkapi outlet atau tempat untuk keluarnya aliran air
tepat dibagian tengah dari kolam menggunakan pipa PVC 8 inc serta bagian
inletnya berada dibagian atas melekat di dinding kolam menggunakan pipa PVC
4 inc dengan sistem sirkulasi di dalamnya. Bagian saluran outlet dilengkapi
dengan egg collector ukuran 135 × 50 × 130 cm yang berfungsi untuk
mengumpulkan telur hasil pemijahan alami yang terbuat dari dari jaring dengan
ukuran mata 400-600 mikron. Kolam induk di BPBAP Situbondo berjumlah 3
buah dengan kapasitas 25 ekor induk dalam setiap masing-masing kolam.
Menurut Darwisito (2002), induk-induk hasil seleksi dipelihara dalam bak
beton (concrete tank) volume 5, 10 dan 30 m 3, kepadatan 2-10 ekor dengan
berat tubuh (BW) 3,1 – 11,5 g dan panjang (TL) 52-79 cm. tempat pemeliharaan
di lengkapi aerasi dan harus dijaga dalam keadaan bersih dengan cara di sipon
setiap harinya serta dengan sistem air mengalir (pergantian air 100-150 % per
hari).
Selain itu terdapat bak penampungan induk matang gonad yang berguna
sebagai wadah sementara induk kerapu yang akan dipijahkan secara buatan.
Bak tersebut terbuat dari beton berbentuk persegi dengan ukuran 4 × 4 × 0,5 m
sebanyak 3 buah yang terletak di outdoor.

Gambar 3. Bak Pemeliharaan Induk Kerapu Kertang

2.5.4.2 Kolam Pemijahan

Wadah atau kolam yang digunakan untuk pemijahan induk ikan kerapu di
BPBAP Situbondo sama dengan wadah atau kolam yang digunakan untuk
pemeliharaan induk sehingga kolam pemijahan. Kontruksi dari kolam pemijahan
sama dengan kontrusi dari kolam pemeliharaan induk. Hal ini dilakukan untuk
mengurangi daya atau tingkat stress pada induk ikan kerapu akibat proses
pemindahan dan perubahan lingkungan yang baru. Selain itu, agar
mempermudah proses pengambilan telur pada saat induk ikan kerapu selesai
memijah.
10

2.5.4.3 Wadah Karantina Induk

Bak yang digunakan untuk karantina induk pada saat hibridisasi


berjumlah enam buah. Dua bak berupa bak fiber sedangkan bak lainnya berupa
bak beton berukuran 5 m × 2 m × 1,25 m. Bak fiber yang digunakan merupakan
bak fiber bulat yang berukuran 1 m³. Sedangkan bak beton yang digunakan yaitu
bak beton persegi panjang dengan ukuran 15 m³. Bak fiber digunakan dalam
proses pembiusan agar ikan tidak mengalami stress pada saat proses
pengambilan telur. Sedangkan bak beton digunakan untuk inkubasi telur, tahap
manipulasi lingkungan, dan pengobatan induk. Bak beton yang digunakan dalam
proses hibridisasi dilengkapi dengan pipa inlet dan outlet yang berjumlah masing-
masing satu buah serta dilengkapi dengan selang aerasi yang berjumlah empat
buah. Pipa inlet berfungsi untuk mengalirkan air laut dalam bak secara terus-
menerus, sedangkan pipa outlet berfungsi untuk membantu pembersihan kolam
dan pembuangan air.

Gambar 4. Bak Karantina Induk

Volume air pada bak beton diatur dengan menggunakan pipa outlet yang
ada di salah satu sudut bak, sedangkan volume air pada bak fiber sebanyak 25%
dari total volume bak atau berkisar 0,25 m 3. Bak yang digunakan untuk inkubasi
telur dilengkapi dengan tiga buah egg collector yang dipasang sejajar dan
berdempet.

2.5.4.4 Wadah Penampungan dan Penetasan Telur

Wadah penampungan telur sementara di BPBAP Situbondo terbagi


menjadi 2 macam, yaitu akuarium berukuran 60 x 60 x 60 cm dan egg colector
size 40 mikron dengan ukuran 100 x 60 x 100 cm. Wadah penampungan telur di
Instalasi Pecaron berupa egg collector yang diletakan pada bak beton.
11

2.5.4.5 Kolam Larva

Wadah bak pemeliharaan pada larva menjadi satu tempat dengan


penetasan telur sehingga persiapan wadahnya telah dilakukan pada tahap awal
penetasan telur. Prosesnya yaitu pengeringan, sanitasi, pengisian air dan
treatment air. Menurut Sugma et al. (2013), baik tangki bulat dan persegi panjang
digunakan untuk pemeliharaan larva. Untuk tangki persegi panjang, sudut-sudut
tangki harus dibulatkan untuk menghindari agregasi larva disudut tangki. Wadah
pemeliharaan larva kerapu cantang berupa bak beton persegi panjang yang
berukuran 4,60 x 3,35 x 1,3 m dengan kapasitas ± 20 ton yang dilengkapi 20 titik
aerasi dan memiliki jarak antara batu aerasi dengan dasar bak ±5 cm. Setiap
bak pemeliharaan larva dilengkapi pipa inlet suplai air laut yang berdiameter 1,5
inci dan pipa inlet mikroalga dengan diameter ¾ inci yang dilengkapi dengan
filterbag, serta pipa outlet air laut yang berdiameter 3 inchi. Wadah pemeliharaan
larva dan benih terdapat sebanyak 12 buah di indoor dan tertutup oleh cover
plastik untuk menjaga stabilitas suhu, menghindari debu, dan instensitas cahaya.
Atap bangunan bak pemeliharaan larva berupa asbes dengan 20-30%
diantaranya menggunakan atap fiber untuk pencahayaan.
Adapun strerilisasi bak sebelum digunakan untuk wadah pemeliharaan
yaitu bak pemeliharaan disiram dahulu menggunakan kaporit 200 g (100 ppm)
dan dilarutkan dalam 10 L air, kemudian dibiarkan selama 2 hari. Fungsinya
untuk menghilangkan dan memutus siklus penyakit. Setelah disiram kaporit, bak
dibersihkan menggunakan air tawar dengan menggunakan detergen untuk
menghilangkan bau kaporit yang masih menempel. Setelah bau kaporit hilang,
bak pemeliharaan larva diisi dengan air laut yang sudah di treatment didalam bak
tendon melalui saluran air yang sudah terpasang.

Gambar 5. Kolam Pemeliharaan Larva


12

III. METODE KEGIATAN PRAKTIK

3.1 Waktu dan Tempat

Praktik Kerja Akuakultur (PKA) dilaksanakan selama dua bulan 15 hari


dimulai dari 10 Oktober 2019 sampai dengan 25 Desember 2019 yang bertempat
di Instalasi Pembenihan Blitok, Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPAP)
Situbondo, Jawa Timur.

3.2. Teknik Pengambilan Data

3.2.1 Data Primer

Data Primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari lapangan.
Data primer dikumpulkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan. Sumber data
bias berasal dari wawancara, pendapat dari individu atau kelompok maupun hasil
observasi dari suatu obyek, kejadian atau hasil pengujian (Herviani et al, 2016).
Data primer selama PKA yaitu melakukan sampling Hatching rate, mengkultur
pakan alami, melakukan sterilisasi bak, pemeliharaan larva, melakukan
pemanenan dan proses packing.

3.2.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang yang telah tersedia dalam berbagai
bentuk.Biasanya data sekunder berbetuk seperti data statistik atau data yang
sudah diolah sedimikian rupa sehingga bias menjadi informasi yang diinginkan.
Data sekunder umumnya berupa bukti catatan atau laporan historis yang telah
tersusun dalam arsip (data dokumenter) yang dipublikasikan (Iskandar, 2012).
Data sekunder selama PKA mencari literatur yang mempengaruhi Hatching rate,
mencari referensi pemijahan induk, dan membandingkan apakah dosis larutan
yang digunakan dalam pemeliharaan larva sudah optimal atau tidak.
13

IV. HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN

Pembenihan merupakan suatu tahap dalam kegiatan budidaya yang


sangat menentukan tahap kegiatan selanjutnya yaitu tahap pembesaran.
Pembenihan juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan pemeliharaan yang
bertujuan untuk menghasilkan benih dan selanjutnya menjadi komponen input
kegiatan pembesaran. Kegiatan pembenihan ikan kerapu cantang meliputi
pengelolaan induk, pemijahan induk dan pemeliharaan larva. Hal utama dalam
pembenihan ikan kerapu cantang adalah memproduksi benih yang berkualitas,
yang dapat mengatasi permasalahan dalam penyediaan benih untuk kegiatan
budidaya ikan kerapu cantang di keramba (Aryanto. 2006 ).
Diagram alir proses produksi pembenihan ikan kerapu cantang yang
diterapkan di BPAP Situbondo disajikan pada gambar 6.

Pengelolaan induk Pematangan gonad induk


*melaui pemberian Pakan, multivitamin mix,
manipulasi lingkungan, hormon

Seleksi TKG
*Jantan di stripping, Betina di kanulasi
Striping induk kerapu Kertang
*Sperma (Putih susu dan kental)
Kanulasi induk kerapu Macan
*Telur (transparan, bulat, diameter ±700µ)
Penimbangan dan penyuntikan ovaprim
Pemijahan (Hybrid) (0,5 ml/kg) pada induk kerapu Macan
Setelah 10 jam, striping induk kerapu Macan
Pencampuran telur kerapu Macan dan
sperma kerapu Kertang
Penebaran telur kerapu hibrid Cantang pada
egg colector

Persiapan wadah
Pendatangan telur
Penetasan telur
Pemberian pakan
Pemeliharaan larva *Rotifera, artemia, udang rebon & pakan
buatan,
Manajemen kualitas air
Grading larva
Pemanenan larva

Gambar 6. Diagram Alir Pembenihan Ikan Kerapu Cantang


14

4.1 Hibridisasi Ikan Kerapu Cantang

4.1.1 Kriteria Induk

4.1.1.1 Induk Kerapu Macan

Di BPBAP Situbondo indukan macan betina berasal dari penangkaran


dan di seleksi berdasarkan berat, umur, panjang, dan tingkat kematangan gonad.
Berdasarkan umur, berat, dan panjang induk kerapu macan betina yang siap
untuk dilakukan pemijahan minimal berumur 3 tahun maksimal berumur 5 tahun,
dikarenakan pada umur 3 tahun ikan kerapu macan sudah mulai siap untuk
dipijahkan untuk pertama kalinya. Untuk bobot induk kerapu macan betina yang
siap dipijahkan sekitar 4-7 kg dan panjang sekitar 60-70 cm. sedangkan untuk
induk kerapu kertang jantan ditangkap dari alam sehingga tidak bisa diketahui
umurnya dan berbobot sekitar 30-100 kg.Induk kerapu macan siap memijah
dapat dilihat pada gambar 7.

Gambar 7. Pemilihan Induk Betina Kerapu Macan

4.1.1.2 Induk Kerapu Kertang

Ikan kerapu kertang sama seperti spesies-spesies kerapu lainnya,


dimana kerapu mengalami perubahan jenis kelamin dalam hidupnya (sex
reverse) dari kelamin betina menjadi kelamin jantan atau biasa disebut
hermaprodit protogini (Protogynous hermaohrodite). Pengaruh perubahan
kelamin ini disebabkan oleh faktor ukuran, umur, aktivitas pemijahan dan
sejenisnya. Pada spesies monogamy, jumlah jantan dan betinanya sama
sehingga setiap jantan hanya dapat membuahi telur dari satu ekor betina.
Sedangkan pada spesies poligini, untuk ukuran induk jantan lebih besar dari
batinanya sehingga jantan dapat membuahi telur lebih dari 1 betina. Pada
spesies poliandri berbeda lagi, karena ukuran betina lebih besar daripada ukuran
jantan sehingga dibutuhkan lebih dari satu ekor jantan untuk membuahi telur.
15

Sunyoto dan Mustahal (2000) dalam Ningrum (2013) menambahkan fase


produksi pada induk betina dicapai pada panjang tubuh antara 45-50 cm dengan
berat 3-10 kg dan umur kurang lebih 5 tahun, selanjutnya manjadi jantan yang
matang gonad pada ukuran minimal 74 cm dengan berat kurang lebih 11 kg.
Karena perubahan kelamin dipengaruhi oleh faktor umur, aktivitas
pemijahan, ukuran, dan sejenisnya maka setiap jenis kerapu mengalami
kematangan gonad pada ukuran dan umur yang berbeda pula. Transformasi dari
betina ke jantan ini memerlukan waktu yang cukup lama dan dalam kondisi
alami, tetapi peralihan kelamin ini dapat dimanipulasi dengan menggunakan
hormon methyltestosteron secara oral (Ghufran, 2007). Anindiastuti (2004),
menambahkan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus), betina mulai matang
pada ukuran panjang total 51 cm atau bobot 3 kg sedangkan jantan mulai
matang pada ukuran panjang total 60 cm atau bobot 7 kg.

4.1.2 Pengelolaan Induk

Induk kerapu harus diperlakukan dengan baik dan jangan sampai


mengalami stress, misalnya karena terlalu padat atau gangguan dari luar. Induk
dipelihara dalam bak beton bulat diameter 10 m dengan kedalaman 3 m dengan
kapasitas 230 m 3. Induk yang stress akan berpengaruh pada pemijahan dan
hasilnya.Induk kerapu yang dipersiapkan untuk proses pemijahan harus indukan
yang sehat, tidak cacat,dan telah matang gonad. Untuk merangsang
pematangan gonad, dapat dilakukan dengan cara memanipulasi lingkungan
dengan cara sirkulasi air terus menerus sebanyak 200-300% per hari dan
pemberian pakan berkualitas. Pada pagi hari sebelum pergantian air, dilakukan
pemberian pakan segar berupa ikan rucah, seperti belanak, sardin, dan cumi-
cumi sekitar 3 % dari berat tubuhnya dengan tujuan menjaga kondisi kesehatan
induk, mempercepat pematangan gonad,dan meningkatkan kualitas telur. Lalu,
dilakukan metode penjemuran dengan penurunan air dan dipertahankan
ketinggiannya sekitar 40-50 cm (penurunan air 80% dari volume bak) pada siang
hari hingga sore hari selama 8 jam untuk memanipulasi lingkungan.
Selanjutnya, air dialirkan sepanjang malam sampai memenuhi bak.
Perlakuan seperti ini dilakukan setiap hari untuk memacu hormon pemijahan
yang merangsang pematangan gonad. Perubahan suhu 2-5°C sangat
berpengaruh pada proses pemijahan. Suhu yang diterima kulit ikan akan
diteruskan ke otak, yaitu kalenjar hipotalamus dan condo spinalis yang akan
menghasilkan hormon GnRh dan LhRH. Selanjutnya, hormon tersebut akan
16

merangsang kalenjar pituitari sebagai penghasil hormon HCG (Human Chrionic


Gonadotropin), lalu hormon tersebut akan merangsang kelamin untuk
bereproduksi. Pemijahan ikan kerapu terjadi pada bulan gelap yaitu pada tanggal
28 Oktober 2019 di BPBAP Situbondo.

4.1.3 Sampling Kematangan Gonad Induk

Cara untuk mengetahui tingkat kematangan gonad pada induk kerapu


maka dilakukan sampling. Sampling pemeriksaan TKG pada induk betina kerapu
macan dilakukan dengan metode kanulasi, yaitu dengan memasukkan selang
keteter yang berdiameter 1 mm ke dalam lubang genital induk betina sedalam 5 -
10 cm kemudian dihisap hingga telur masuk ke selang lalu dicabut secara
perlahan. Sedangkan sampling TKG pada induk jantan kerapu kertang dilakukan
dengan metode stripping. Induk yang memiliki kriteria matang gonad untuk jantan
akan mengeluarkan sperma berwarna putih saat diurut dan betina mengeluarkan
telur yang berwarna bening saat kanulasi. Seleksi gonad pada induk kerapu
macan dapat dilihat pada gambar 8. Induk kerapu macan yang telah matang
gonad mengalami pemijahan secara alami dengan ditemukannya telur kerapu
macan yang berwarna bening di egg collector. Berat induk kerapu macan betina
yang dapat disilangkan berkisar 4-9 kg.

Gambar 8. Seleksi Gonad pada Induk Kerapu Macan

Seleksi pada induk jantan dilakukan dengan memanfaatkan tagging pada


induk kerapu kertang. Tagging pada induk kerapu kertang terletak pada bagian
dorsal tubuh dan akan menunjukan nomor seri tertentu ketika pendeteksian
dengan alat tagging kit. Setelah mendapatkan nomor seri yang dibutuhkan
kemudian dilakukan stripping untuk memperoleh sperma kerapu kertang. Teknik
stripping kerapu kertang dilakukan dengan cara meletakkan ikan kerapu kertang
pada tempat yang nyaman kemudian kepala induk kerapu kertang ditutup
dengan handuk untuk menghindari terjadinya gerakan induk yang berlebihan.
Teknik stripping kerapu kertang dapat dilihat digambar 9 (a). Kemudian
meletakkan tabung sperma didekat lubang genital dan melakukan pengurutan
17

pada perut ikan hingga memperoleh sperma kerapu kertang sebanyak 50 mL.
Sperma yang telah diperoleh kemudian disimpan dalam wadah yang berisi es
untuk menstabilkan suhu dan menjaga kualitas sperma. Sperma kerapu kertang
dapat dilihat digambar 9 (b).

Gambar 9. Teknik Stripping kerapu (a) Sperma Kerapu kertang (b)

4.1.4 Persiapan Wadah Hibridisasi

Bak yang digunakan untuk hibridisasi berjumlah enam buah. Dua bak
berupa bak fiber sedangkan bak lainnya berupa bak beton berukuran 5 m × 2 m
× 1,25 m. Bak fiber yang digunakan merupakan bak fiber bulat yang berukuran 1
m³. Sedangkan bak beton yang digunakan yaitu bak beton persegi panjang
dengan ukuran 15 m³. Bak fiber digunakan dalam proses pembiusan agar ikan
tidak mengalami stress pada saat proses penyuntikan hormon. Sedangkan bak
beton digunakan untuk inkubasi telur, tahap manipulasi lingkungan, dan
pengobatan induk. Volume air pada bak beton diatur dengan menggunakan pipa
outlet yang ada di salah satu sudut bak, sedangkan volume air pada bak fiber
sebanyak 25% dari total volume bak atau berkisar 0,25 m 3. Bak yang digunakan
untuk inkubasi telur dilengkapi dengan tiga buah egg collector yang dipasang
sejajar dan berdempet. Bak beton terlebih dahulu dibersihkan dengan cara
melakukan penyikatan pada dasar dan dinding bak, kemudian diberi kaporit
dengan dosis 100 ppm hingga merata keseluruh bagian bak. Selanjutnya bak
disiram menggunakan air laut untuk menghilangkan sisa kaporit yang menempel.
Selanjutnya, dilakukan pengeringan selama 24 jam, kemudian dilakukan
pengisian air laut.

4.1.5 Teknik Pemijahan

Proses pemijahan dilakukan dengan cara pemijahan buatan dengan


perbandingan 24:1 (24 betina macan dan 1 jantan kertang). Induk kerapu betina
18

sebelum pemijahan diletakkan pada bak penampungan untuk dilakukan


pembiusan menggunakan Etylen glycol dengan dosis 1 ppm. Selanjutnya
penyuntikan hormone ovaprim dengan cara Intramuscular pada bagian
punggung. Dosis pemberian hormone ovaprim untuk induk betina kerapu macan
dengan berat 1 kg sebesar 0,5 mL. Induk kerapu macan dimasukan kembali
kedalam bak penampungan dan kemudian bak ditutupi dengan terpal hal ini
bertujuan agar ikan tidak stress. Pembuahan antara sel telur kerapu macan dan
sperma kerapu kertang dapat dilakukan setelah induk betina kerapu macan
melewati latency time (10 jam). Sperma yang digunakan yaitu 1 mL untuk
membuahi 1.000.000 butir telur per satu ekor induk kerapu macan. Setelah
melewati latency time, induk kerapu macan diperiksa perutnya. Apabila perut
induk kerapu macan semakin membesar hal tersebut menandakan bahwa siap
dilakukan pemijahan. Teknik pemijahan dimulai dengan melakukan pembiusan
pada induk kerapu macan dalam bak fiber yang berisi air laut dan bius ethylene
glycol monophenyl (10-20 ppm). Pembiusan kedua dilakukan selama tiga menit
dan juga digunakan penutup hitam supaya tidak terjadi stress pada induk kerapu
macan. Setelah itu, induk kerapu macan diletakkan pada tempat yang datar dan
dilakukan penutupan pada kepala dengan menggunakan handuk supaya ikan
tidak kaget dan tenang. Kemudian dilakukan pengambilan telur kerapu macan
dengan metode stripping (pengurutan) pada perut induk kerapu macan secara
perlahan-lahan dapat dilihat digambar 10 (a). Telur yang dihasilkan kemudian
ditampung dalam baskom kering dan bersih, setiap satu baskom berisi telur yang
berasal dari dua induk kerapu macan atau berisi telur yang berkisar ±2.000.000
butir telur setiap baskomnya.

Gambar 10. Stripping Induk Kerapu Pencampuran Telur dan Sperma (b)
Macan (a)
19

Selanjutnya telur dicampur dengan sperma kerapu kertang yang


sebelumnya telah disimpan dalam wadah pendingin sebanyak 2 mL yang
diameterbil dengan spuit berukuran 1 mL. Pencampuran telur dengan sperma
dilakukan dengan melakukan pengadukan selama tiga menit menggunakan bulu
ayam untuk menghindari terjadinya penurunan kualitas dan kerusakan telur.
Pencampuran telur dan sperma dapat dilihat pada gambar 10 (b). Setelah telur
dan sperma tercampur kemudian ditambahkan air laut sebanyak lima gayung
dan telur diaduk selama 5 menit, kemudian telur didiameterkan selama lima
menit sebelum diinkubasi supaya terjadi pembuahan yang maksimal. Kemudian
telur siap ditebar dibak inkubasi telur.

4.2. Pembenihan di Instalasi Blitok

4.2.1 Persiapan Wadah

Pemeliharaan larva dilakukan pada bak beton ukuran 4,60 × 3,65 × 1,3 m
berkapasitas 20 ton dengan kemiringan 3-5%, dan diengkapi 20 titik aerasi yang
memiliki jarak antara batu aerasi dengan dasar bak 5 cm. sebelum digunakan,
bak pemeliharan harus steril dan bebas pathogen. Sterilisasi bak dilakukan
dengan penyikatan bak, selang, batu aerasi, saluran inlet dan outlet serta screen
net pada outlet menggunakan deterjen, kemudian dibilas air bersih. Jika banyak
terdapat lumut maka dilakukan desinfektan wadah dengan kaporit 100 ppm yang
dilarutkan dalam air tawar dan didiameterkan selama kurang lebih 20 menit, dan
dibilas bersih menggunakan air tawar , kemudian dikeringkan 1-2 hari.
Air laut yang digunakan berasal dari tandon air laut ukuran 4,60 × 3,25 ×
1,75 m berkapasitas ± 26 ton yang telah di treatment secara fisik dan kimia.
Sebelum digunakan untuk pengisian bak, dilakukan penambahan kaporit / Hi
Clone (10 ppm) sebahgai disinfektan air selanjutnya dilakukan uji klorin pada air
tandon untuk mengetahui kadar klorin. Uji klorin dilakukan dengan mengambil
sample air tandon lalu dimasukkan kedalam tabung reaksi dan diberi satu tetes
larutan clorin test, apabila hasil uji berwarna kuning maka hasil terseut
menunjukkan adanya kandungan klorin dalam air sehingga dilakukan penetralan
dengan natrium thiosulfat dengan dosis ½ dosis kaporit (5 ppm), jika air berwarna
bening maka air siap dialirkan ke bak pemeliharaan. Setelah air selesai
dimasukkan kedalam bak, aerasi dinyalakan untuk menambah oksigen dalam
wadah pemeliharaan larva, serta saluran inlet dipasang filterbag sebagai
penyaring kotoran makro. Bak Pemeliharaan selanjutnya diisi dengan air laut
20

hingga volume 10 m 3 menggunakan filterbag yang dipasang disaluran inlet


dengan cara mengikatnya menggunakan karet ban. Pengisian air laut dilakukan
dengan bantuan styrofoam lembaran yang diletakkan dibagian bawah saluran
inlet air laut. Hal tersebut bertujuan agar air laut tidak secara langsung jatuh ke
dalam bak pemeliharaan dan dapat mengurangi tingkat stress pada larva akibat
air yang masuk. Apabila telah selesai, filterbag kemudian dicuci menggunakan air
tawar hingga bersih dan dijemur.

4.2.2 Penetasan Telur

Langkah awal sebelum penebaran telur kedalam bak yaitu telur harus
diaklimatisasi terlebihi dahulu 15 menit kedalam bak pemeliharaan untuk
menyusaikan suhu antara lingkungan dalam kantong plastic dengan suhu
diwadah pemeliharaan. Proses aklimatisasi tersebut dapat berpengaruh terhadap
derajat penetasan telur (hatching rate) dan tingkat kelangsungan hidup larva
Setelah dilakukan aklimatisasi, telur ditebar dibak pemeliharaan larva
dengan hati-hati bak penetasan telur ditutup dengan cover plastik. Melianawati et
al. (2010) menyatakan bahwa suhu air dapat mempengaruhi tingkat penetasan
telur, dimana semakin tinggi suhu air maka semakin cepat pula terjadi penetasan
telur. Selain menjaga agar suhu air tetap stabil, Penutupan dengan terpal juga
berfungsi agar terhindar dari debu serta dapat mengurangi intesitas cahaya.
Telur yang telah ditebar merupakan telur kerapu macan yang telah dibuahi oleh
sperma kerapu kertang dan akan menetas setelah 18-20 jam dengan suhu 29-
31°C dan salinitas 32-34 ppt. Berdasarkan SNI, padat tebar telur ikan kerapu
cantang pada setiap bak pemeliharaan yaitu sekitar 10-15 butir per L air.Telur
yang terbuahi yaitu berwarna bening transparan dan melayang. Sedangkan telur
yang tidak terbuahi berwarna putih keruh dan tenggelam di dasar wadah.
Perhitungan derajat penetasan telur atau HR (Hatching Rate) dilakukan
secara langsung untuk mengetahui keberhasilan pembuahan dan penebaran
telur. Dilakukan penghitungan jumlah larva yang terdapat di dalamnya sehingga
dapat diketahui kepadatan larva yang dihitung dengan menggunakan rumus
perhitungan kepadatan.
Jumlah Larva = Jumlah larva yang terambil X Vol Air
Vol. Wadah Air Sampel

Kemudian dari sampel yang diameterbil dari keempat titik tersebut


diperoleh rata-rata nilai derajat penetasan telur atau HR (Hatching Rate) sebesar
75% dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
21

Hatching Rate (HR) = Jumlah larva yang menetas x 100%


Jumlah telur yang di tebar

Telur kerapu cantang yang digunakan untuk kegiatan pembenihan di


BPBAP Situbondo Instalasi Blitok berasal dari BPBAP Situbondo Instalasi
Pecaron. Telur kerapu macan yang telah dibuahi oleh sperma dari kerapu
kertang didatangkan menggunakan sistem transportasi tertutup menggunakan
plastik yang diletakkan Styrofoam yang berisi es batu sebagai pendingin
Selama masa kegiatan praktik, telur kerapu cantang untuk kegiatan
produksi didatangkan dari Pecaron sebanyak satu (2) kali. Data pendatangan
telur di selama melakukan kegiatan Praktek Kerja Lapang di BPBAP Situbondo
yang berdasarkan waktu pendatangannya disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Data pendatangan telur kerapu cantang di BPBAP Situbondo

Jumlah Telur
Tanggal Pendatangan Sumber HR Keterangan
(butir)
28 Oktober 2019 Pecaron 600.000 76 % 2 Bak
28 November 2019 Pecaron 600.000 75% 2 Bak

Telur kerapu cantang didatangkan dari Pecaron pada tanggal 28 Oktober


dan 28 November 2019 masing-masing sebanyak 600.000 butir telur dengan
harga Rp 5 – 7 per butir, karena telur berasal dari satu pusat Instalasi BPBAP
Pecaron.

4.2.3 Penebaran dan Penetasan Telur

Setelah telur menetas menjadi larva, larva tidak boleh dipindahkan ke


dalam wadah lain. Hail ini dikarenakan larva sangat sensitive untuk dipindahkan.
Larva kerapu cantang yang baru menetas berwarna transparan, bersifat
plantonik dan bergerak mengikuti arus. Setelah telur menetas, pada permukaan
air bak pemeliharaan diberi minyak ikan sebanyak 0,1 mL/m² pada titik aerasi
untuk mencegah larva terjebak di tegangan permukaan air.
Hal ini sesuai dengan pendapat Sunyoto dan Mustahal (2000),
menyatakan penggunaan minyak ikan pada permukaan air yang dipicu oleh sifat
fototaksis positif larva terhadap cahaya. Pemberian minyak bertujuan untuk
membentuk lapisan tipis pada permukaan air. Selain berfungsi mecegah
kematian pada tahap awal larva kerapu, minyak ikan juga mengandung omega-
3, yaitu asam lemak essensial berupa docosahexaenoic (DHA) dan
eicosapentaenoic (EPA) yang berfungsi dalam pengayaan (enrichment) Rotifera
22

dalam meningkatkan kandungan Omega 3. Kandungan tersebut dapat


mempengaruhi kesehatan dan perkembangan larva. Sehingga diharapkan dapat
memacu tingginya tingkat pertumbuhan pada larva dengan melakukan
pengayaan pada Rotifera. Pemberian minyak ikan ini dilakukan sebanyak 4 kali
sehari yaitu pada pukul 06.00, 10.00, 14.00 dan pukul 17.00 sore sampai larva
berumur 10 hari (D10).

4.2.4 Pemberian Chlorella

Pada saat larva berumur dua hari, dilakukan pemberian chlorella pada
bak pemeliharaan dengan kepadatan 100.000 - 500.000 sel/mL. Chlorella diisi ke
dalam bak pemeliharaan larva yaitu sebanyak ⁄ ton. Pemberian chlorella
berperan sebagai green water system sehingga dapat mengurangi dan mengatur
intensitas cahaya yang masuk agar larva tidak mudah stress, berperan sebagai
water stability serta sebagai pakan untuk Rotifera. Pemberian chlorella diberikan
hingga D30.

4.2.5 Manajemen Pakan

Manajemen pakan merupakan faktor penting dalam kegiatan


pembenihan, karena pakan merupakan sumber energi untuk pertumbuhan dan
kelangsungan hidup larva. Pada kegiatan pemeliharaan larva ikan kerapu
cantang di BPAP Situbondo terdapat beberapa jenis pakan yang digunakan,
antara lain yaitu pakan alami berupa Rotifera, naupli artemia, udang rebon, serta
pakan buatan berupa pelet dan pakan cair.

4.2.5.1 Rotifera

Pemberian Rotifera dilakukan mulai dari larva berumur 2 hari. Larva D2


hingga D7 membutuhkan Rotifera dengan kepadatan 5 ind/mL sebanyak dua kali
sehari, sedangkan pada larva D8 hingga D30 membutuhkan Rotifera dengan
kepadatan 8-15 ind/mL dengan frekuensi pemberian sebanyak dua kali sehari
yaitu pada pukul 09.00 dan 15.00. Rotifera telah dilakukan enrichment
menggunakan scott’s selama satu jam sebelum pemberian pada larva. Dosis
yang digunakan sebanyak 1 ppm yang dilarutkan menggunakan air tawar lalu
dituangkan ke Rotifera. Menurut Astuti et al. (2012) , pemberian scott’s emulsion
(minyak hati ikan) mampu meningkatan kandungan Omega 3 HUFA yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan larva.
23

4.2.5.2 Artemia

Pemberian artemia dilakukan mulai dari larva berumur 13 hari. Larva D13
hingga D20 membutuhkan artemia dengan kepadatan 1-3 ind/mL sebanyak dua
kali sehari, sedangkan pada larva D20 hingga D45 membutuhkan artemia
dengan kepadatan 5-8 ind/mL dengan frekuensi pemberian sebanyak dua-tiga
kali sehari yaitu pada pukul 08.00,12.00 dan 14.00.
Naupli artemia juga telah dilakukan enrichment menggunakan
multivitamin sebelum pemberian pada larva. Enrichment dilakukan pada pagi hari
setelah naupli artemia dipanen. Menurut Maulana (2016), penambahan vitamin
dan asam amino pada artemia mampu meningkatkan tingkat kelangsungan
hidup, memperbesar ukuran dan keaktifan larva, serta meningkatkan daya tahan
tubuh terhadap infeksi penyakit.

4.2.5.3 Udang Rebon

Pakan alami lainnya yang digunakan yaitu udang rebon. Pakan udang
rebon diberikan pada larva D27 hingga panen dengan frekuensi sebanyak 2 kali
sehari yaitu pada pukul 06.00 dan 15.00 WIB. Rebon diberikan sebanyak tiga
kantong untuk satu bak, dimana dalam satu kantong terdapat kurang lebih 1000
ekor udang rebon. Pemberian udang rebon tersebut disesuaikan dengan
kepadatan larva yang terdapat pada bak tersebut. Pemberian rebon dilakukan
dengan mencucinya menggunakan air tawar serta ditambahkan desinfektan
terlebih dahulu sebelum udang rebon diberikan

4.2.5.4 Pakan Buatan

Selain pakan alami, pemeliharaan larva juga menggunakan pakan buatan


berupa pelet dan pakan cair. Pakan buatan diberikan sesuai dengan umur larva.
Pakan cair dan pelet yang digunakan di BPBAP Situbondo masing-masing
berupa EPIFEED LHF-2 dan Otohime ukuran A, B1, B2, C1, S1, dan S2. Pada
larva D3 hingga D7 diberikan berupa pakan cair dengan dosis sebesar 0,5 ppm
dengan frekuensi sebanyak 2 kali sehari yaitu pada pukul 09.00 dan 15.00 WIB.
Pemberian pakan cair dilakukan dengan melarutkan terlebih dahulu
menggunakan air tawar dan selanjutnya dituangkan merata pada bak
pemeliharaan. Pada D8 pemberian pakan otohime dengan ukuran A dilakukan
pemberian dengan menggunakan saringan. Larva D21 hingga panen diberikan
pelet dengan metode ad libitum dengan frekuensi sebanyak 5 kali sehari yaitu
pada pukul 06.00, 07.00, 10.00, 11.00, dan 13.00 WIB. Dosis dan frekuensi
24

pemberian pelet dapat ditingkatkan seiring bertambahnya umur larva dan


kepadatan ikan pada bak yang digunakan. Pemberian pakan pelet dilakukan
secara merata pada tiap sisi bak pemeliharaan
Berikut merupakan Standar Prosedur Operasional (SPO) pemberian
pakan larva kerapu cantang yang diterapkan di BPBAP Situbondo:
Tabel 2. Standar Prosedur Operasional (SPO) pemberian pakan larva ikan
Kerapu BPBAP Situbondo :
Manajemen Pakan
Umur Larva
Jenis Pakan Dosis Frekuensi/hari
DO Yolk Egg - -
D1 Yolk egg - -
D2 Minyak Ikan 4×
Chlorella sp 100-500ribu sel/mL 1×
Rotifer 3-5 ind/mL 1x
D3-D7 Minyak Ikan 4×
Chlorella sp 100-500 ribu sel/mL 1×
Rotifer 3-5 ind/mL 2×
Pakan cair 0,5 ppm 2×
D8-D20 Pakan Buatan 8g 2×
Chlorella sp 100-500 ribu sel/mL 1×
Rotifera 5-8 ind/mL 2x
Artemia 1-3 ind/mL 2x
D21-D30 Pakan Buatan 10 g 4×
Chlorella sp 100-500 ribu sel/mL 1×
Rotifera 8-15 ind/mL 2×
Artemia 5-8 ind/mL 2x
D31-D45 Pakan Buatan 15 g 6×
Artemia 5-8 ind/mL 2×
Udang Rebon Secukupnya 2×
D46-D50 Pakan Buatan 15 g 6×
Udang Rebon Secukupnya 1x
Keterangan : D = Hari

Selain itu masa kritis pada larva terjadi pada umur D2-D3 karna kuning
telur pada larva mulai habis sehingga terjdi masa transisi pola makan dari
25

endogenus menjadi eksogenus. Masa kritis kedua pada larva terjadi pada umur
D7-D8 dimana terjadi pengembangan organ organ larva khususnya bagian spinal
sehingga larva membutuhkan asupan nutrisi yang cukup. Setelah itu masa kritis
terjadi pada larva berumur D30-D35 karena pada masa itu tingkat kanibalisme
larva meningkat sehingga perlu manajemen pemberian pakan pada larva yang
tepat.
Berikut merupakan pedoman pakan harian yang diterapkan di Instalasi
Blitok BPBAP Situbondo:
Tabel 3. Pedoman pakan harian larva ikan kerapu Instalasi Blitok :

Umur Jenis Waktu (Jam)


(Hari) Pakan 06 07 09 10 11 12 13 14 15 16 17
N 
2
R 
N 
3
R  
N 
4-7 R  
PC  
N 
8-13 R  
PB    
N 
R 
13-20
A  
PB     
N 
R 
21-30
A  
PB     
A  
31-45 PB      
J 
PB      
46- Panen
J 
Keterangan : N = Nannochloropsis sp ; R = Rotifer ; A = Artemia ;
J = Rebon ; PC = Pakan Cair ; PB = Pakan Buatan.
26

4.2.6 Manajemen Kualitas Air

Kualitas air media pemeliharaan larva juga merupakan salah satu faktor
yang mampu mempengaruhi kegiatan pembenihan. Oleh karena itu perlu
dilakukan pergantian air ataupun penyiponan. Pergantian air dilakukan setiap
hari pada pagi hari. Volume air yang diturunkan disesuaikan dengan umur larva
pada bak tersebut. Pada larva D8 hingga D20 yaitu sebanyak 10-20%, larva D21
hingga D30 yaitu 20- 50%, larva D31 hingga D45 yaitu 50-75%, larva D46 hingga
D50 yaitu 75-100%, dan larva D51 hingga panen yaitu sebanyak 100% atau
dilakukan secara flow through. Pergantian air dilakukan dengan cara membuang
air pada bagian outlet menggunakan selang spiral terlebih dahulu, selanjutnya
outlet dimiringkan untuk mempercepat pembuangan air. Selain pergantian air,
manajemen kualitas air pemeliharaan dapat dilakukan dengan cara penyiponan.
Penyiponan awal dilakukan pada saat larva berumur 12 hari, selanjutnya
dilakukan satu kali dalam seminggu hingga grading pertama dan kemudian
dilakukan penyiponan setiap hari pada pagi hari. Alit dan Setiadharma (2011)
menyatakan bahwa kegiatan penyiponan bertujuan dalam membuang sisa-sisa
pakan yang berlebih atau tidak termakan.
Tabel 4. Standar Prosedur Operasional (SPO) manajemen kualitas air BPAP
Situbondo
Manajemen Kualitas Air
Hari
Pergantian Air Siphon
D0 - -
D1 - Siphon telur mengendap
D2 - -
D3 - D7 - -
D8 – D20 10 – 20% Siphon
D21 - D30 30 – 50% Siphon
D31 - D45 75% Siphon
D46 – Panen 100% Siphon
Keterangan : D = Hari

4.2.7 Kultur Pakan Alami

4.2.7.1 Kultur Chlorella sp

Total wadah kultur massal terdapat 12 buah dengan luas bak 20 m2.
Persiapan wadah untuk kultur chlorella pertama kali adalah pencucian bak,
27

disikat pada bagian dinding dan dasar bak agar tidak ada kotoran yang tersisa.
Setelah bersih bak di isi air sebanyak 16 ton (80 cm air laut ), kemudian
dilakukan treatment pada air yang telah diisi dengan menggunakan Hi Chlon
dengan dosis 8 ppm (8gr/ton) dan didiameterkan satu hari. Setelah satu hari, air
dicek kenetralan air dengan menggunakan Klorin test. Jika warna air berubah
menjadi kuning maka air masih mengandung kaporit dan cara
penanggulangannya yaitu dengan pemberian Thiosulfat dengan dosis setengah
dari dosis Hi Chlone. Kemudian setelah air netral baru ditambah dengan bibit
Chlorella sp. Sebanyak 2 ton yang telah berumur di atas 7 hari. Selanjutnya
dilakukan penebaran pupuk,dan pemberian bibt Hi chlone 0,8 ppm. Berikut
komposisi jenis pupuk yang diberikan dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 5. Komposisi dan dosis jenis pupuk yang diberikan

Nama Bahan Kimia Dosis


UREA 560 g (28 ppm)
ZA 420 g (21 ppm)
TSP 280 g (14 ppm)
FECL2 16 (1 ppm)
EDTA 16(1 ppm)

4.2.7.2 Kultur Rotifera sp

Rotifera merupakan salah satu pakan alami yang memilki nutrisi yang
tinggi dan sangat baik digunakan untuk larva. Rotifer dapat diberikan pada larva
umur D2-D30 karena dalam periode tersebut larva memerlukan asupan nutrisi
yang cukup tinggi dalam meningkatkan laju pertumbuhannya serta pembentukan
organ-organ tubuh secara sempurna.
Bak yang digunakan untuk kultur Rotifera sp. skala massal di BPBAP
Blitok Bungatan Situbondo adalah bak beton/intensif dengan ukuran 5 x 2 x 1,25
m3 dengan volume total 12 ton. Bak dilengkapi dengan instalasi oksigen (aerasi),
pipa inlet, dan outlet. Sudut yang melengkung dapat mempermudah ketika
proses pembersihan wadah/bak kultur Rotifera sp. Instalasi oksigen (aerasi) yang
digunakan adalah 3 titik saja karena dengan tiga titik tersebut sudah dapat
memenuhi kebutuhan oksigen pada proses kultur Rotifera sp. skala massal. Bak
yang digunakan dalam proses kultur Rotifera sp. adalah 4 buah bak. Persiapan
bak kultur dimulai dengan membersihkan bak. selanjutnya adalah pengeringan
bak kultur, dilakukan dengan cara membiarkan bak terkena sinar matahari
28

sampai kolam benar-benar kering. Pengeringan kolam ini bertujuan untuk


membunuh atau menghambat pertumbuhan mikro organisme lain yang dapat
mengganggu ketika proses kultur. Setelah bak dikeringkan kemudian bak kultur
diisi air laut sampai 6 ton. Pengisian air laut dilakukan dengan cara memberi filter
bag pada ujung pipa inlet kemudian mengikatnya menggunakan karet/ban
hingga dipastikan tidak akan terlepas ketika proses pengisian air laut
berlangsung. Air laut dialirkan secara pelan dan lambat yang bertujuan agar
kotoran-kotoran dan partikel-partikel laut dapat tersaring oleh filter bag dengan
baik. Pengisian Chlorella sp. pada bak kultur Rotifera sp. dilakukan setelah air
laut mencapai 6 ton. Chlorella sp. diberikan secara bertahap sejak awal kultur
hingga panen. Pada awal kultur Rotifera sp. diberikan Chlorella sp. sebanyak 1
ton per hari. Pengisian Chlorella sp. pada awal kultur bertujuan untuk
mempersiapkan makanan Rotifera sp. sehingga pada saat bibit Rotifera sp.
ditebar maka makanan telah tersedia.
Bibit yang digunakan untuk inokulan adalah bibit Rotifera sp. yang
didapatkan dari hasil panen sebelumnya dengan kepadatan awal 20 – 30 ind/mL.
Penebaran bibit dilakukan dengan menggunakan gayung dengan cara ditebar
pada bak kultur hingga merata. Pemeliharaan Rotifera sp. berlangsung selama 4
- 5 hari. Selama peroses pemeliharaan, Rotifera sp. diberi pakan berupa
Chlorella sp. sebanyak 1 ton atau bisa ditandai dengan berubahnya warna dari
coklat bening ke warna hijau. Pemanenan Rotifera sp. yang dilakukan dilakukan
saat Rotifera sp. berumur 4 hari. Pemanenan dilakukan pada pagi hari sekitar
jam 06.00 WIB. Pemanenan yang di lakukan Instalasi Blitok adalah panen total.
Dilakukan panen total dikarenakan bak yang ada berjumlah 4 buah dan
kebutuhan larva akan pakan alami khususnya Rotifera sp. baru terpenuhi setelah
pemanenan total, jadi ketika proses pemanenan maka bak langsung di bersihkan
dan dibuat kultur ulang. Tetapi jika Rotifera sp. terlalu padat atau dapat
memenuhi kebutuhan pakan larva maka dilakukan panen harian. Pemanenan
dilakukan dengan cara memasang outlet luar pada bak kultur Rotifera sp.
Kemudian dipasang planktonet yang berukuran 300 mikron pada ujung pipa
outlet dengan mengikatnya menggunakan ban/karet, lalu membuka outlet dalam
dan kemudian kran outlet luar dibuka secara berlahan agar air yang ada di dalam
bak kultur keluar melalui pipa tersebut sehingga jasad-jasad renik yang ada
tersaring kedalam planktonet. Setelah planktonet terlihat padat oleh Rotifera sp.
Kemudian pipa ditutup kembali, dan isi palanktonet dimasukkan kedalam ember.
29

Untuk mengetahui padat dan tidaknya Rotifera sp. maka cukup dengan melihat
warna air yang ada dalam planktonet tersebut jika berwarna coklat maka
diindikasikan sudah padat dan jika masih bening berarti masih belum padat.
Kemudian ember tersebut dituang kedalam blong/tong yang berkapasitas 120 L
yang dilengkapi dengan aerasi. Tetapi sebelum dituang kedalam blong/tong
harus disaring terlebih dahulu menggunakan saringan yang berukuran 200
mikron agar yang masuk kedalam blong/tong tersebut hanya Rotifera sp. dan
organisme lain seperti jintik nyamuk, Ocylatoria dll. tidak masuk kedalamnya.
Kegiatan panen dilakukan beberapa kali hingga Rotifera sp. yang ada dalam bak
kultur habis atau sesuai dengan kebutuhan.

4.2.7.3 Kultur Artemia sp

Artemia diperoleh melalui Case Artemia dijual secara komersial dalam


kemasan kaleng. Case Artemia dapat ditetaskan secara langsung maupun
dekapsulasi. Dekapsulasi Artemia menggunakan Klorin yang bertujuan untuk
menipiskan cangkang Case Artemia tanpa mempengaruhi embrio hidupnya.
Adapun proses dekapsulasi artemia sebagai berikut :
 Mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan yaitu stik, ember 15 L, air
tawar, Klorin sebanyak 1 L, artemia di dalam kaleng sebanyak 454 g, dan 5 g
Na-tiosulfat (Na2S2O3)
 Cyste Artemia direndam menggunakan air tawar selama 15-30 menit,
kemudian disaring. Setelah itu dimasukan ke dalam ember yang kosong dan
di dekapsulasi menggunakan Klorin secukupnya dan di aduk cepat
menggunakan stik. Lalu disaring dan di cuci menggunakan air tawar. Diulangi
kembali dengan penamban Klorin kembali hingga cyste berubah warna
menjadi oranye.
 Cyste yang telah berubah warna kemudia dibilas kembali menggunakn air
tawar hingga bau Klorin benar-benar hilang. Lalu di rendam Na-tiosulfat
sebanyak 5 g selama 5-10 menit untuk menetralkan Klorin yang
kemungkinan masih tertinggal selama proses dekapsulasi.
 Cyste dibilas kembali dengan menggunakan air tawar dan di tiriskan. Tahap
akhir adalah cyste dikemas sesuai kebutuhan dan disimpan di lemari es.
Cyste yang telah di dekapsulasi dapat langsung di tetaskan menjadi
naupli atau disimpan. Cyste Artemia yang telah di dekapsulasi dapat disimpan
selama beberapa di lemari es. Cyste yang akan di kulturkan bisa dilakukan
30

dengan pembilasan dan kemudian dimasukan ke dalam wadah. Dan diberikan


aerasi yang kuat dan ditunggu selama 24 jam. Apabila artemia telah menetas
dan siap diberikan pada larva 1 jam sebelumnya diberikan larutan antibiotik yang
pada wadah kultur Artemia tersebut fungsinya untuk menekan perkembangan
bakteri atau mikroorganisme berbahaya yang berada dalam Artemia sehingga
bisa terbebas dari penyakit yang akan menyebabkan penularan pada ikan.

4.2.8 Grading, dan Panen Larva

Grading merupakan salah satu kegiatan yang bertujuan untuk


mengelompokkan larva sesuai dengan ukuran keseragamannya. Hal tersebut
dilakukan karena pada fase larva, ikan kerapu cantang tergolong ikan yang
kanibal sehingga jika pada satu wadah pemeliharaan ukuran ikan tidak seragam
maka rentan kanibalisme. Terdapat dua jenis grading yaitu grading bawah
dimana dilakukan pengelompokkan ukuran larva yang diameterbil secara
langsung dari wadah pemelihraan dan dilakukan pengelompokkan ukuran secara
kasat mata tanpa menggunakan alat bantu grading. Yang kedua adalah grading
atas dilakukan pada larva berumur D>30 sebelum dilakukan pemanenan.
Grading atas dilakukan diluar wadah pemeliharaan dengan bantuan bantuan alat
grading. Grading atas dan grading bawah dapat dilihat digambar 11 (a) dan (b).

Gambar 11. Grading Bawah (a) Grading Atas (b)

Tahap awal kegiatan grading yaitu air pemeliharaan di bak diturunkan


hingga mencapai 15-20 cm. Selanjutnya dilakukan sirkulasi air secara flow trough
dengan debit air yang kecil. Lalu, ikan dikumpulkan dengan menggunakan
tudung saji dan dilakukan pemisahan ukuran menggunakan alat grading. Adapun
ukuran alat grading di BPAP Situbondo ialah 2,3, 2,5, 2,7, 3, 3,5 4, 4,5 dan 5 cm.
Ikan yang besar kemudian diletakkan ke dalam bak pemeliharaan baru yang
telah disiapkan sebelumnya dan setelah penebaran ditambahkan larutan elbasin
31

0,5 ppm/10 ton air. Grading dapat dilakukan dengan mengetahu tahapan
perkembangan larva. Berikut tahapan perkembangan larva.
Tabel 6. Tahapan Perkembangan Larva Ikan Kerapu Cantang

Hari Ke- Tahapan Perkembangan Panjang (mm)

D1 Larva baru menetas ,transparan, melayang dan 1,89 - 2,11


tidak aktif
D3 Timbul bintik hitam di kepala dan pangkal perut 2,14 – 2,44

D7 - D8 Timbul calon sirip punggung yang keras dan 7,98 – 8,96


panjang
D9 - D11 Timbul calon sirip punggung yang keras dan 15,88 – 17,2
panjang
D15 - D17 Duri memutih, bagian ujung agak kehitaman 17,2 – 18,6

D23 - D26 Sebagian duri mengalami reformasi dan patah, 20,31 – 22,62
pada bagian ujung tumbuh sirip awal lunak
D29-D31 Sebagian larva yang pertumbuhannya cepat 22,40 – 23,42
telah berubah menjadi burayak (juvenil).

Pemanenan benih ikan kerapu cantang dilakukan setelah larva mencapai


ukuran 2,5, 2,7, 3, hingga 4 cm dengan harga 1 inci sebensar Rp. 2000,-, ukuran
panen tersebut tergantung permintaan pembeli. Untuk mencapai ukuran tersebut
dibutuhkan waktu ±40-60 hari pemeliharaan. Larva umumnya dijual hatchery
sekitar Situbondo, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali dll.

4.2.9 Packing dan Transportasi

Pengepakan atau packing dilakukan setelah benih, bahan dan sarana


sudah siap. Bahan dan sarana tersebut meliputi benih yang telah dipuasakan,
kantong plastic polyethylin dengan keteblan plastic 0,6 mm berukuran 50 × 80
cm, kotak kardus atau insulator (Styrofoam), selotip besar, oksigen murni, es
batu dalam kantong plastik 0,5 kg yang dibungkus dengan kertas Koran atau air
laut bersih. Proses tersebut dilakukan dengan cara air laut bersih di tampung
pada bak penampungan dan diaerasi 20-30 menit terlebih dahulu untuk
meningkatkan kandungan oksigen terlarut didalam air media pengangkutan,
serta suhu diturunkan untuk mengurangi metabolisme ikan. Biasanya mencapai
26°C sesuai pengiriman dan permintaan pembeli. Kantong plastik rangkap dua
diisi air laut bersih yang telah disiapkan sebanyak 1 bagian (5-6 L). Benih yang
32

telah disiapkan dimasukkan kedalam kantong dan ditambahkan oksigen murni


dengan terlebih dahulu membuang udara plastik hingga permukaan air dalam
kantong. Oksigen murni dimasukkan 3 bagian dari volume kantong dan diikat
rapat menggunakan karet gelang. Perbandingan air dan oksigen sebaiknya 1 : 2.
Kemudian kantong tersebut dimasukkan kedalam kotak kerdus atau Styrofoam
dengan ditambah es batu yang terbungkus kantong plastik dan Koran.
Selanjutnya Styrofoam ditutup rapat dan diselotip sehingga penutup tidak dapat
terbuka.

Gambar 12. Proses Packing

4.2.10 Pengendalian Hama dan Penyakit pada Larva

VNN (Viral Nervous Necrosis merupakan penyakit yang umumnya


menyerang syaraf mata dan otak ikan stadia larva sampai juvenil yang dapat
menyebabkan kematian 50 -100%. Gajala klinis ikan dapat dilihat apabila ikan
berenang secara abnormal serta diameter di dasar bak Penyakit ini dapat terjadi
karena masuknya ke media pemeliharaan melalui pakan alami yang diberikan.
Pencegahan hama dan penyakit seperti virus ini dilakukan dengan penggunaan
induk yang bebas VNN, penggunanan air laut yang steril, penerapan sistem
biosecurity, pemberian Virkon Aquatic 3 hari sekali sejak larva D5 dan pemberian
elbasin 7 hari sekali dengan dosis pemberian ½ ppm. Pemberian Virkon Aquatic
berguna sebagai desinfektan dan dapat menghambat perkembangan organisme
pathogen. Pemberian antibiotik maupun virkon setelah grading diharapkan
mampu mengurangi tingkat stress pada larva
Selain itu penyakit juga bisa timbul dari perubahan lingkungan perairan
budidaya maupun pakan.penyakit yang disebabkan oleh lingkungan perairan
budidaya dikenal dengan water quality diseases, sedangkan penyakit karena
faktor pakan disebut sebagai penyakit nutrisi (Nutritional Diseases). Penyakit
33

oleh lingkungan perairan yang dapat menyerang kerapu adalah alkalosis,


acidosis, gas bubble diseases dan keracunan (baik oleh biotoksin yang
dikeluarkan oleh plankton atau senyawa kimia polutan). Pencegahan terhadap
penyakit non infeksi dilakukan dengan chlorella sp yang berguna sebagai green
water system, bioremediator, meningkatkan kandungan DO air, menurunkan
kadar ammonia dan kandungan bahan organik pada air.

Gambar 13. Virkon Aquatic


34

V. RANGKUMAN

5.1 Rangkuman

Dari hasil pelaksanaan kegiatan Praktik kerja Lapangan mengenai teknik


pembenihan kerapu cantang (Epinephelus fuscoguttatus) di BPBAP Situbondo
dapat dirangkum sebagai berikut :
1. Teknik pembenihan ikan kerapu cantang meliputi, persiapan wada, seleksi
induk, pemijahan, penanganan telur, pemeliharaan larva, pendederan,
pengendalian penyakit dan pemanenan,
2. Ikan kerapu cantang berasal dari perkawinan Hybrid antara ikan kerapu
macan betina (Epinephelus fuscoguttatus) dan ikan kerapu kertang jantan
(Epinephelus lanceolatus).
3. Sistem pemijahan ikan kerapu cantang di Balai Perikanan Budidaya Air
Payau adalah sistem buatan dengan menggunakan metode Stripping
(pengurutan) dimana pemijahan buatan ini dilakukan 3-4 hari sebelum bulan
gelap.
4. Pakan yang digunakan dalam pembenihan ikan kerapu cantang adalah
pakan alami (Chlorella sp, Rotifera, Artemia sp). Serta pakan buatan (pelet,
pakan cair, dan minyak ikan saat larva masih berumur D1-D8).

5.2 Saran

Adapun saran yang dapat diberikan, khususnya bagi siswa/mahasiswa


PKL agar dapat melaksanakan kegiatan PKL dengan baik dan disiplin, sehingga
ilmu dan pengetahuan, serta pengalaman kerja dapat diperoleh secara
maksimal.
35

DAFTAR PUSTAKA

Alit R, Setiadharma. 2011. Perencanaan Waktu Tetas Telur Kerapu Dengan


Waktu Inkubasi Yang Berbeda. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan
Tropis.2(2) : 83-91.
Anindiaastuti. 2011. Pertumbuhan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus
fuscoguttaus) di Perairan Pulau Panggang. Kepulauan Seribu. Skripsi.
Bogor. 48 hal.
Antoro, S., H.A. Suwarno dan Sudjiharno. 2004. Pembenihan Ikan Kerapu. Balai
Budidaya Laut . Lampung. hal 5-6.
Arrokhman, S., N. Wijayanti and A. Soegianto. 2016. Survival and
Osmoregulation of Juvenile of Hybrid Grouper (Epinephelus fuscoguttatus
x E. lanceolatus) during Acclimation in Calcium-supplement Freshwater.
Aquaculture International, 25 (2) : 639-704
Aryanto, D. dan R. Utami. 2006. Evaluasi Laju Perutmbuhan, Keragaman
Genetik dan Estimasi Heterosis pada Persilangan antar Spesies Ikan
Patin (Pangasius sp.). Jurnal Perikanan, 8 (1) : 81-86.
Astuti RP, Sagala SL, Gunawan, Sumiarsa GS, Imanto PT. 2012. Optimasi dosis
dan frekuensi pakan dalam produksi rotifer. Jurnal Ilmu dan Teknologi
Kelautan Tropis. 4(2) : 239-246.
Balai Perikanan Budidaya Air Payau. 2012. Ikan Kerapu Cantang Hibrida Antara
Ikan Kerapu Macan Betina dengan Ikan Kerapu Kertang Jantan. Balai
Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo. http://bbapsitubondo.com.
Diakses tanggal 23 Oktober 2018. 6 hal.
Darwisito, S. 2002. Makalah Pengantar Falsafah Sains Strategi Reproduksi Ikan
Kerapu (Epinephleus sp.). Program Pasca Sarjana Institut Teknologi
Bogor. Bogor. 15 hal.
Ghufran, I.P. 2007. Pembesaran Kerapu dengan Keramba Jaring Apung.
Penebar Swadaya. Jakarta. hal 41-45
Ismi, S., Y.N. Asih, dan D. Kusumawati. 2013. Peningkatan Produksi dan
Kualitas Benih Kerapu dengan Program Hibridisasi. Jurnal Ilmu dan
Teknologi Kelautan Tropis, 5 (2) : 333-342.
Ranjan, R., S. Megarajan, B. Xavier, B. Dash, S. Ghosh, M. Menon and L.L.
Edward. 2017. Conditioning, Maturation and Year-round Natural
36

Spawning of Orange-spotted Grouper, Epinephelus coioides in


Recirculating Aquaculture System. Aquaculture Research. pp 1-10.
Maulana, R.M. 2006. Spawning Behavior of the TigerGrouper (Mycteropperca
tigris) in a Carabbean Atoll. Environmental Biology of Fishes. 15p.
Sunyoto, S. dan S. Mustahal. 2000. Pembenihan Kerapu Skala Rumah
Tangga. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta. hal 54–57.
Sugma, K., Trijoko, S. Ismi dan K.M. Setiawati. 2013. Effect of Water
Temperature on Growth, Survival and Feeding Rate of Humpback
Grouper (Cromileptes alivelis) Larvae. ACIAR Monograph. pp 61-66.
37

LAMPIRAN

Lampiran 1. Jurnal Kegiatan Harian PKA

Hari, Tanggal Waktu Kegiatan Lokasi

Kamis, 10 Oktober 06.00 Pemberian Pakan


Pembenihan Barat
2019 – 27 Oktober 09.00 Pencucian Bak
Instalasi Pecaron
2019 15.00 Instalasi Air

28 Oktober 2019 20.00 Hybrid Ikan kerapu Karantina Induk


06.00 Panen Telur
29 Oktober 2019 Karantina Induk
07.00 Penebaran Benih
30 Oktober 2019 – Pemeliharaan Larva Pembenihan Timur
06.00
21 November 2019 Panen Instalasi Pecaron
22 November 2019 – Kultur Rotifer
06.00 Instalasi Blitok
28 November 2019 Pemeliharaan Larva

29 November 2019 09.00 Penebaran Telur Instalasi Blitok

30 November 2019 – Kultur Chlorella sp.


06.00 Instalasi Blitok
8 Desember 2019 Pemeliharaan Larva
9 Desember 2019 – 06.00 Pemeliharaan Larva
Instlasi Blitok
23 Desember 2019 15.00 Panen
Seminar Hasil Praktek
24 Desember 2019 10.00 Instalasi Blitok
Kerja Akuakultur

Pembimbing Lapangan

Ir. Sofiati
38

Lampiran 2. Dokumentasi Kegiatan Harian