Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

“KEWENANGAN JABATAN NOTARIS TERHADAP MASYARAKAT


SERTA AKIBAT HUKUM TERHADAP
AKTA OTENTIK YANG DIBUAT MELAWAN HUKUM”
(Berdasarkan Undang-undang Jabatan Notaris No 2 Tahun 2014 &
Kode Etik Ikatan Notaris Indonesia (INI)

NAMA : NPM
1. DESY SUKARIYANTI (124215551)
2. INDAH RAHMAWATI (124215522)
3. NUR AIN (124215546)
4. SUZAN RISKI ASADHA (124215520)
5. SITI QOMARIAH BREKAT (124215530)
6. YUDHA ARDHYA FIRMANIE (124215550)

UNIVERSITAS SURABAYA

FAKULTAS HUKUM

PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN

2016
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Kata Notaris besal dari kata “NOTA LITERARIA” yaitu tanda tulisan atau
karakter yang digunakan untuk myang ditugaskan oleh menuliskan atau
menggambarkan ungkapan kalimat yang disampaikan nara sumber. Pada awalnya
Notaris hakikatnya adalah pejabat umum kekuasan umum untuk melayani
kebutuhan masyarakat akan alat bukti otentik yang memberikan kepastian hubungan
keperdataan, sepanjang alat bukti otentik tetap memperlukan eksistensi ditengah
masyakarat.
Pada tanggal 27 Agustus 1620,yaitu beberapa bulan setelah dijadikanya
Jacatra sebagai ibu kota(tanggal 4 Maret 1621 dinamakan “Batavia”).Melchior
Kerchem Sekertaris dari College van Schepenen di Jacatra diangkata sebagai notais
pertama di Indonesia. Didalam akta pengakatan Melcior Kerchem sebagai notaris
sekaligus secara singkat dimuat suatu intruksi yang menguraikan bidang pekejaan
dan wewenang,yakni untuk menjalankan tugas jabatan di kota Jacatra untuk
kepentingan publik.
Lima tahun kemudian,yakni pada tanggal 16 Juni 1625,setelah jabatan “
Notaris Publik” dipisahka dari jabatan “secretaries van den gereche” dengan surat
keputusan Gubenur Jendral tanggal 12 November 1620,maka dikelurkanlah intruksi
pertama untuk para Notaris di Indonesia yang hanya berisikan 10 pasal.
Pada tahun 1822 notaris ini diatur 2 buah reglemen yang agak terperinci dari
tahun 1625 dan 1765.Ditahun 1822(Sbt.No 11)dikeluarkan “intructire voor de
notarissen di indonesia, yang terdiri dari 34 pasal.
Notaris bertindak sebagai pelayanan umum masyarakat sebagai pejabat yang
diangkat oleh pemerintahan yang memperoleh kewenangan secara atributif dari
Negara untuk melayani masyarakat dalam hubungan hukum yang terjadi antara
mereka yangn digunakan sebagai alat bukti akan dokumen- dokumen lehgal yang sah
yang memiliki kekuatan pembuktian yng sempurna.
Menurut G.H.S Lumbang Tobing adalah mengenai Peraturan Jabatan
Notaris,wewenang notaris adalah membuat akta otentik.Akta Notaris bersumber dari
Pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris diaman Notaris dijadikan sebagai “ penjabatan
umum, sehingga akta yang dibuat oleh notaris karena kedudukanya tersebut
memperoleh sifat akta otentik.
Peraturan mengenai notaris mengacu pada ketentuan (Stl,1860 Nomor 3) atau
Peraturan Jabatan Notaris yang berlaku pada 1Juli 1860.Inilah yang menjadi dasar
yang kuat bagi pelembagaan Notaris di Indonesia yang merupakan peninggalan
zaman kolonial Belanda, berbagai ketentuan dalam peraturan perundang-undangan
tersebut sudah tidah sesuai dengan perkembngan dan kebutuhan hukum masyarakat
Indonesia. Oleh karena itu,perlu adanya pembaharuan dan penganturan kembali
dalam satu Undang-Undang yang mengatur tentang Jabatan Notaris.
Dengan diudangkan Undang-Undang No.30 tahun 2004 tentang Jabatan
Notaris pada tanggal 6 Oktober 2004.Pasal 91 UUJN telah menecabut dan
menytakan tidak belaku lagi.
1. Reglement of Het Notaris Ambt in Indonesia (Sbt 1860.3)
sebagaimana telah diubah terahir dalam Lembaran Negara Tahun
1945 Nomor 101;
2. Ordonantie 16 September 1931 tetang Honorium Notaris;
3. Undang- Undang Nomor 33 tahun 1954 teatng Wakil Notaris dan
Wakil Notaris sementara(Lemabaran Negara Tahun 1945 Nomor
101,Tambahan Lembaran Negara Tahun 1954

Pemerintah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat menetapkan Undang-


Undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (untuk selanjutnya disebut
UUJN), sebagai bagian dari hukum positif di Indonesia. Notaris sebagai Pejabat
Umum,dalam hal ini dihubuingan denagn pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata yang menyatakan bahwa “Suatu akta yang sedemikian,yang dibuat dalm
bentuk yang ditentukan oleh Undang-Undang oleh atau dihadapan pejabat umum
yang berwenang untuk itu,di tempat dimana akta itu dibuat.”
Dalam kewenangan Notaris ini meliputi 4 hal,yaitu:
1. Notaris harus berwenang sepanjang yang menyakut akat yang dibuatnya.
2. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai orang(- orang), untuk
kepentingan akta itu dibuat.
3. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai tempat,dan dimana akta itu
dibuat
4. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai waktu pembutan akta itu.

Terlepas dari wewenang Notaris yang dikemukakan oleh G.H.S Lumbang


Tobing mengenani kewenangan Notaris utama,Notaris terkait kedudukanya sebagai
penjabat umum yang membuat akta otentik.Menurut Habib Adje dalam bukunya
Hukum Notaris Indonesia (Tafsir Tematik Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004
Tentang Jabatan Notaris)
Berdasarkan bunyi pasal 1 PJN (Stbl.1860 Nomoe 3) bahwa yang dimaksud
dengan Notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk membuat
akta otentik menegenai perbuatan,pejanjian,dan penetapan yang diharuskan oleh
suatu peraturan umum atau oleh yang berkepentingan dikendaki untuk dinyatakan
dalam satu akta otentik,mejamin kepastian tanggal,penyimpanan aktanya dan
memberikan grosse,salinan dan kutipannya,semua sepanjang pembuatan akta itu oleh
suatu peraturan umum tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada penjabat atau
orang lain.
Sedangkan dalam pasal 1 angka 1 UUJN,yang dimaksud dengan Notaris
adalah Pejabat umum yang berwenang umtuk membuat akta otentik dan kewengan
lainya yang dimaksud dalam UUJN.
Wewenang (atau sering pula ditulis dengan istilah Kewenangan) merupakan
suatu tindakan hukum yang diatur dan diberikan kepada suatu jabatan berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku yang mengatur jabatan yang
bersangkutan.Dengan demikian setiap wewenang ada batasanya sebagaimana yang
tercantum dalam peraturan perundang-undangan yang mengaturnya.Wewenang
Notaris terbatas sebagaimana peraturan perundang-undangan yang mengatur jabatan
Penjabat yang bersangkutan. Wewenang yang diperoleh suatu jabatan mempunyai
sumber asalnya.Dalam Hukum Administrasi wewenang bisa diperoleh secara
Atribusi,Delegasi atau Mandat.
Wewenang secara Atribusi adalah pemberian wewenang yang baru kepada
suatu jabatan berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan atau aturan
hukum.Wewenang secara Delegasi merupakan pemindahan/pengalihan wewenang
yang berdasakan suatu peraturan perundang-undangan atau aturan hukum.Mandat
sebenarnya bukan pengalihan atau pemindahan wewenang,tapi yang berkompeten
berhalangan.
PERMASALAHAN

Bagaimana kewenangan Notaris sebagai Penjabat Umum dalam


memberikan pelayanan pada masyarakat serta akibat hukum dari pembuatan akta
otentik yang dibuat melawan hukum ?
Notaris dalam menjalankan profesinya memberikan pelayanan kepada
masyarakat sepatutnya bersikap sesuai aturan yang berlaku. Ini penting karena
Notaris melaksanakan tugas jabatannya tidaklah semata-mata untuk kepentingan
pribadi, melainkan juga untuk kepentingan masyarakat, serta mempunyai kewajiban
untuk menjamin kebenaran dari akta-akta yang dibuatnya, karena itu seorang Notaris
dituntut lebih peka, jujur, adil dan transparan dalam pembuatan suatu akta agar
menjamin semua pihak yang terkait langsung dalam pembuatan sebuah akta otentik.
Dalam melaksanakan tugas jabatannya seorang Notaris harus berpegang teguh
kepada kode etik jabatan Notaris, karena tanpa itu, harkat dan martabat
profesionalisme akan hilang dan tidak lagi mendapat kepercayaan dari masyarakat.
Notaris juga dituntut untuk memiliki nilai moral yang tinggi, karena
dengan adanya moral yang tinggi maka Notaris tidak akan menyalahgunakan
wewenang yang ada padanya, sehingga Notaris akan dapat menjaga martabatnya
sebagai seorang pejabat umum yang memberikan pelayanan yang sesuai dengan
aturan yang berlaku dan tidak merusak citra Notaris itu sendiri. Sebagaimana
harapan Komar Andasasmita, agar setiap Notaris mempunyai pengetahuan yang
cukup luas dan mendalam serta keterampilan sehingga merupakan andalan
masyarakat dalam merancang, menyusun dan membuat berbagai akta otentik,
sehingga susunan bahasa, teknis yuridisnya rapi, baik dan benar, karena disamping
keahlian tersebut diperlukan pula kejujuran atau ketulusan dan sifat atau pandangan
yang objektif.
Perlindungan hukum terhadap Notaris dalam menjalankan tugas dan
wewenangnya demi terlaksananya fungsi pelayanan dan tercapainya kepastian
hukum dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, telah diatur dan
dituangkan dalam undang-undang tersendiri, yaitu Undang-Undang Nomor 30 Tahun
2004 tentang Jabatan Notaris, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 117 (untuk selanjutnya disebut UUJN), undang-undang mana telah
mengalami perubahan dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun
2014 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 30 Tahun 2004, Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 3 (untuk selanjutnya disebut UU
Perubahan Atas UUJN). Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan
Notaris menentukan “Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat
akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam
undang-undang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya.” Notaris dikatakan
sebagai pejabat umum karena Notaris diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah.
Meskipun Notaris diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah, namun Notaris tidak
dapat disamakan dengan pegawai negeri yang juga diangkat dan diberhentikan oleh
pemerintah. Yang membedakannya adalah Notaris merupakan pegawai pemerintah
tanpa menerima gaji dari pemerintah.
Diberlakukannya UUJN dan UU perubahan atas UUJN diharapkan bahwa
akta otentik yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris mampu menjamin kepastian,
ketertiban, dan perlindungan hukum. UU perubahan atas UUJN telah menetapkan
dalam Pasal 15 ayat (1) tentang kewenangan seorang Notaris yaitu Notaris
berwenang membuat akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan
penetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang
dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta autentik,
menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse,
salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta itu tidak juga
ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan
oleh undang-undang. Selain itu dalam Pasal 15 ayat (2) UU perubahan atas UUJN
menyatakan Notaris juga berwenang mengesahkan tanda tangan dan menetapkan
kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus,
membukukan surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus, membuat
kopi dari asli surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana
ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan, melakukan pengesahan
kecocokan fotokopi dengan surat aslinya, memberikan penyuluhan hukum
sehubungan dengan pembuatan akta, membuat akta yang berkaitan dengan
pertanahan dan membuat akta risalah lelang. Dari beberapa kewenangan tersebut jasa
seorang Notaris kebanyakan dibutuhkan oleh masyarakat dalam hal pembuatan akta
otentik.
Akta otentik yang dibuat oleh Notaris pada hakekatnya sesuai dengan apa
yang diberitahukan para pihak kepada Notaris. Notaris berkewajiban untuk
memasukkan ke dalam akta mengenai apa saja yang dikehendak para pihak dan
selanjutnya menuangkan pernyataan atau keterangan para pihak tersebut ke dalam
akta Notaris. Sedangkan tulisan di bawah tangan atau biasa disebut dengan akta
dibawah tangan dibuat tidak dibuat dihadapan Notaris dan dalam bentuk yang tidak
ditentukan oleh undang-undang serta tanpa adanya perantara berdasarkan ketentuan
Pasal 1874 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
Menurut Pasal 1 angka 7 UU perubahan atas UUJN menentukan bahwa
“akta Notaris adalah akta autentik yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris menurut
bentuk dan tata cara yang ditetapkan dalam undang-undang ini”. Akta otentik yang
dimaksud adalah akta otentik sesuai dengan rumusan Pasal 1868 Kitab Undang
Undang Hukum Perdata (untuk selanjutnya disebut KUHPerdata) yaitu : “Suatu akta
otentik ialah akta yang didalam bentuk yang ditentukan oleh undang undang, dibuat
oleh atau dihadapan pegawai pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat
dimana akta itu dibuat.”
Berdasarkan pasal tersebut Notaris mempunyai wewenang untuk membuat
akta otentik. Terdapat dua golongan akta otentik yang dibuat oleh Notaris yaitu akta
otentik yang dibuat oleh Notaris dimana merupakan suatu akta yang dibuat oleh
Notaris mengenai suatu tindakan yang dilakukan atas suatu keadaan yang disaksikan
oleh Notaris dan akta otentik yang dibuat di hadapan Notaris yaitu akta yang dibuat
dihadapan Notaris yang memuat uraian mengenai hal-hal yang diterangkan oleh
pihak yang menghadap kepada Notaris.
Dengan adanya UUJN dan UU perubahan atas UUJN kewenangan Notaris
dalam membuat akta otentik nanti dalam penerapannyan akta tersebut mampu
menjamin kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum bagi semua pihak yang
terkait. Akta otentik merupakan alat bukti tulisan atau surat yang bersifat sempurna.
Akta otentik memiliki 3 (tiga) kekuatan pembuktian yaitu kekuatan pembuktian
lahiriah (uitwendige bewijskracht) yang merupakan kemampuan akta itu sendiri
untuk membuktikan keabsahanya sebagai akta otentik.
Kekuatan pembuktian formil (formele bewijskracht) yang memberikan
kepastian bahwa sesuatu kejadian dan fakta tersebut dalam akta betul-betul diketahui
dan didengar oleh Notaris dan diterangkan oleh para pihak yang menghadap.
Kekuatan pembuktian Materiil (materiele bewijskracht) yang merupakan kepastian
tentang materi atau isi suatu akta.
Notaris sebagai pejabat umum (openbaar ambtenaar) berwenang membuat
akta otentik, sehubungan dengan kewenangannya tersebut Notaris dapat dibebani
tanggung jawab atas perbuatannya dalam membuat akta otentik yang tidak sesuai
dengan ketentuan yang berlaku atau dilakukan secara melawan hukum.
Pertanggungjawaban merupakan suatu sikap atau tindakan untuk menanggung segala
akibat dari perbuatan yang dilakukan atau sikap untuk menanggung segala resiko
ataupun kosekuensinya yang ditimbulkan dari suatu perbuatan.
Pertanggungjawaban itu ditentukan oleh sifat pelanggaran dan akibat
hukum yang ditimbulkannya. Secara umum pertanggungjawaban yang biasa
dikenakan terhadap Notaris adalah pertanggungjawaban pidana, administrasi dan
perdata. Pertanggungjawaban secara pidana dijatuhi sanksi pidana,
pertanggungjawaban administrasi dijatuhi sanksi administrasi, dan
pertanggungjawaban perdata dijatuhi sanksi perdata. Itu merupakan konsekuensi dari
akibat pelanggaran atau kelalaian yang dilakukan oleh Notaris dalam proses
pembuatan akta otentik. Menentukan adanya suatu pertanggungjawaban secara
perdata atau pidana yang dilakukan oleh seorang Notaris harus dipenuhi tiga syarat,
yaitu harus ada perbuatan Notaris yang dapat dihukum yang unsur-unsurnya secara
tegas dirumuskan oleh undang-undang. Perbuatan Notaris tersebut bertentangan
dengan hukum, serta harus ada kesalahan dari Notaris tersebut.
Kesalahan atau kelalaian dalam pengertian pidana meliputi unsur-unsur
bertentangan dengan hukum dan harus ada perbuatan melawan hukum. Sehingga
pada dasarnya setiap bentuk pelanggaran atau kelalaian yang dilakukan Notaris
selalu mengandung sifat melawan hukum dalam perbuatan itu.
Istilah perbuatan melawan hukum itu memiliki ruang lingkup yang lebih
luas dibandingkan dengan perbuatan pidana. Perbuatan melawan hukum tidak hanya
mencakup perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang pidana saja tetapi
juga jika perbuatan tersebut bertentangan dengan undang-undang lainnya dan bahkan
dengan ketentuan-ketentuan hukum yang tidak tertulis. Ketentuan perundang-
undangan dari perbuatan melawan hukum bertujuan untuk melindungi dan
memberikan ganti rugi kepada pihak yang dirugikan.
Perbedaan perbuatan melawan hukum dan perbuatan pidana menurut
Rachmat Setiawan adalah : “Setiap perbuatan pidana selalu dirumuskan secara
seksama dalam undang-undang, sehingga sifatnya terbatas. Sebaliknya pada
perbuatan melawan hukum adalah tidak demikian. Undang-undang hanya
menentukan satu pasal umum, yang memberikan akibat-akibat hukum terhadap
perbuatan melawan hukum.”
PEMBAHASAN
A. Kewenangan Notaris
Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua
perbuatan,perjanjian,dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-
undangan dan/ atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan
dalam akta otentik,menjamin kepastian tanggal pembuatan akta,penyimpanan
akta,memberikan grosse,salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanajang
pembuuatan akta-akta itu juga tidak ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain
atau orng lain yang ditetapkan oleh undang-undang.
Berdasarkan UUJN tersebut ternyata Notaris sebagai Penjabat Umum
memperoleh wewenang secara Atribusi, karena wewenag tersebut diciptakan dan
diberikan oleh UUJN sendiri. Di wewenang yang diperoleh Notaris bukan berasal
dari lembaga lainya. Misalnya dari Departemen Hukum dan HAM.
Notaris sebagai sebuah jabatan (bukan profesi atau profesi jabatan), dimana
jabatan apapun yang ada dinegeri ini mempunyai wewenang tersendiri.setiap
wewengan harus ada dasar hukumnya. Kalau kita berbicara mengenai wewenang,
maka wewenang serang pejabat apapun harus jelas dan tegas dalam peraturan
perundang-undangan yang mengatur tetang pejabat atau jabatan tersebut. Sehingga
jika seorang Pejabat melakukan suatu tindakan diluar wewenag disebut sebagai
peraturan melanggar hukum. Oleh karena itu,suatu wewenang tidak muncul begitu
saja sebagai hasil dari suatu diskusi atau pembicara di belakang meja ataupun karena
pembahasan-pembahasan ataupun pendapat-pendapat dilembaga legeslatif ,tapi
wewenang harus dinyatakan dengan tegas dalam peraturan perundang-undangan
yang bersangkutan.
Kewenangan Notaris tersebut dalam pasal 15 dari ayat (1) sampai dengan
sampai dengan ayat (3) UUJN, yang dapat dibagi menjadi :
1. Kewenangan Umum Notaris
2. Kewenangan Khusus Notaris
3. Kewengan Notaris yang ditentukan kemudian.
1. Kewenangan Umum Notaris
Tercantum pada pasal ayat (1) UUJN menegaskan bahwa salah satu
kewengan Notaris,yaitu membuat akta secara Umum .Hal inin disebutkan sebagaian
Kewenangan Umum Notaris deangan batasan sepanjang :
1. Tidak dikecualikan kepada penjabat lain yang ditetapkan oleh Undang-undang
2. Menyangkut akta yang harus dibuat atau berwenang membuat akta otentik
mengenai smua perbuatan,perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh aturan
hukum atau dikehendaki oleh yang bersangkutan.
3. Mengenai subyek hukum (orang atau badan hukum) untuk kepentingan siapa
akta itu dibuat atau dikehendaki oleh yang berkepentingan.

Menurut pasal 15 ayat (1) bahwa wewenang notaris adalah membuat akta
bukan membuat surat,seperti Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan
(SKMHT) atau mebuat surat lain,seoerti Surat keterangan waris juga ada beberapa
akta otentik yang nerupakan wewenang Notaris dan juga menjadi wewenang
penjabat atau instalasi lain,yaitu:

1. Akta pengakuan anak diluar kawin (pasal 281BW)


2. Akta berita acara tetang kelalaian penjabat penyimpanan hipotek(pasal
1227 BW)
3. Akta berita acara tentang penawaran pembayaran tunai dan konsinyasi
(pasal 1405-1406 BW)
4. Akta protes wesel dan cek (pasal 143 dan 218 Wvk)
5. Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) Undang-undang
Nomor 4 tahun 1996
6. Membuat akta Risalah Lelang
2. Kewenangan Khusus Notaris

Pasal 15 ayat (2) mengatur kewengan khusus notaris untuk melakukan


tindakan hukum tertentu:

1. Mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat


dibawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus
2. Membukukan surat-surat dibawah tangan dengan mendaftarkan dalam
buku khusus.
3. Membuat copy dari asli surat dibawah tangan berupa salinan yang
memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang
bersangkutan.
4. Melakukan pengesahan kecocokan foto copy dengan surat asli
5. Memberi penyuluhan hukum sehubungan dengan membuat akta
6. Membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan atau
7. Membuat akta risalah lelang

Sebenarnya ada kewenangan khusus lainya, yaitu membuat akta dalam


bentuk original,yaitu:

1. Pembayaran uang sewa,bunga,dan pensiun


2. Penawaran pembayaran tunai
3. Akta kuasa
4. Keterangan pemilikan
5. Akta lain berdasarkan peraturan perundang-undangan

Tetapi kewenangan tersebut tidak dimasukan sebagai kewenangan khusus


tapi dimasukan sebagai kewajiban Notaris (Pasa 16 ayat 3) UUJN.Diliat secara
substansi hal tersebut harus dimasukan sebagai kewenangan khusus Notaris, karena
Pasal 16 ayat 3 UUJN tersebut tindakan hukum yang harus dilakukan Notaris yaitu
membuat akta tertentu dalam bentuk In Original.

Notaris juga mempunyai kewenangan khusus lainya seperti yang tersebut


dalm pasal 51 UUJN, yaitu berwenang untuk membetulkan kesalahan tulis atau
kesalahan ketik yang terdapat dalam Minuta akta yang telah ditanda tangani, dengan
cara membuat Berita Acara Pembetulan dan Salinan atas Berita Acara pembetulan
tersebut Notaris wajib menyampaikan kepada para pihak.

3. Kewenangan Notaris yang akan ditentukan Kemudian

Kewenangan yang akan ditentukan kemudian berdasakan aturan hukum lain


yang akan datang kemudian (ius constituendum). Berkaitan dengan wewenang
tersebut, jika Notaris melakukan tindakan diluar wewenang yang telah ditentukan,
maka Notaris telah melakukan tindakan diluar wewenang, maka produk atau akta
Notaris tersebut tidak mengikat secara hukum atau tidak dapat dilaksanakan
(nonexecutable), dan pihak atau mereka yang merasa dirugikan oleh tindakan Notaris
diluar wewenang tersebut,maka Notaris dapat digugat secara perdata ke pengadilan
Negeri.

Wewenang Notaris yang akan ditentukan kemudian,merupakan wewenang


yang akan muncul akan ditentukan berdasakan peraturan peraturan perundang-
undangan.Dalam kaiatan ini perlu diberikan batasan mengenai peraturan perundang-
undangan yang dimaksud Batasan perundang-undangan dapat diliat pasal 1 angka 2
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara,bahwa:

Yang dimaksudkan denagn peraturan perundang-undangan dalam undang-undang ini


ialah semua peraturan yang bersifat mengikat secara umum yang dikeluarkan oleh
Badan Perwakilan Rakyat bersama Pemerintahan baik ditingkat pusat maupun
daerah,yang juga besifat mengikat secara umum.

Dalam pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 10 tahun 2004 tetang Pembentukan


Peraturan Perundang-undangan,bahwa:

Peraturan perundang-undangan adalah peraturan yang tertulis yang akan dibentuk


oleh

lembaga Negara atau penjabat yang berwewenang dan mengikat secara umum.

Dengan konstruksi kesimpulan seperti tersebut diatas,maka ketentuan pasal 50 Kitab


Undang-undang Hukum Pidana (KUHP),dapat diterapkan kepada Notaris dalam
menajalankan tugas jabatan.Sepanjang pelaksanakan tugas jabatan tersebut sesuai
dengan cara yang sudah ditentukan dalam UUJN,hal ini sebagian perlindungan
hukum terhadap Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya atau merupakan suatu
immunitas terhadap Notaris dalam menjalankan tugas jabatan sesuai aturan hukum
yang berlaku.

Terdapat pebedaan antara pengertian notaris yang terrcantum dalam PJN dan
UUJN.Menurut pasal 1 PJN,disebutkan bahwa notaris adalah pejabat umumyang
satu-satunya berwenang untuk membuat akta otentik.Sedangkan pasal 1 angka 1
UUJN menyebutkan bahwa Notaris adalah penjabat umum.

Pejabat umum yang buat akta otentik.Tidak disebukan bahwa Notaris adalah
penjabat umum yang satu-satunya berwenagn membuat akta otentik.

Perbedaan tersebut terletak pada wewenang Notaris dalam menjalankan tugas dan
jabatanya,dan ynag menjadi dasar darin kewenangan Notaris tersebut adalah pasal 15
angka (1),(2) dan (3) UUJN yang menyebutnya bahwa:

Notaris berwenang membuat akta otentik mengenal sebuah pebuatan,perjanjian, dan


ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/ atau yang
dikehendaki oleh yang berkepentingan untu dinyatakan dalam akta
otentik,menajamin,salinan dan kepastian tanggal pembuatanakta,menyimpan
akta,memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya sepanjang pembuatan
akta-akta itu juga ditugaskan atau dikecualikan kepada penjabat lain atau orang lain
yang ditetapkan oleh undang-undang.

Notaris berwenang pula:

a. mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat dibawah


tangan dengan mendaftarkan dalam buku khusus.
b. membukukan surat-surat dibaawah tangan dengan mendaftarkan dalam buku
khusus.
c. membuat copydari asli surat-surat dibawah tangan beruapa salianan yang
memuat uraian sebagaimana ditulis dan ddigambarkan dalam surat yang
bersangkutan
d. melakukan pengesahan kecocokan pfoto kopi denah surat aslinya.
e. memberikan penyuluhan hubungan dengan perbuatan akta
f. membuat akta yang berkaitan denagan pertanahan;
g. membuat akta risalah lelang.

Selain kewenangan sebagaimana dimaksud Notaris mempunyai kewengan


lainya yang diatur dalam peraturan perudang-undangan.Kewenangan lainya tersebut
diantaranya adalah membuat Akta Pendirian Perseroan Terbatas(diatur dalam pasal 7
Ayat 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang perseroan terbatas).

Akta Jaminan Fidusia diatur dalam pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 42 tahun
1999 tentang jaminan Fidusia, Hak Tngguangna Atas Tanah beserta kebenda-benda
yangberkaitan dengan tanah,Akta pendirinan yayasan diatur dalam pasal 9 ayat 2
Undang-Undang Nomor 16 tahun 2001 tentang yayasan junto Undang-Undang 28
tahun 2004 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 16 tahun 2001 tentang
yayasan.

B. Akibat Hukum

Akibat hukum terhadap terhadap akta otentik yang dibuat oleh seorang
Notaris yang melakukan perbuatan melawan hukum adalah hilangnya keotentikkan
akta tersebut dan menjadi akta dibawah tangan serta akta otentik tersebut dapat
dibatalkan apabila pihak yang mendalilkan dapat membuktikannya dalam
persidangan di pengadilan, karena pembuatan suatu akta otentik harus memuat tiga
unsur yaitu lahiriah, formal dan materiil atau salah satu unsur tersebut tidak benar
dan menimbulkan perkara pidana atau perdata yang kemudian dapat dibuktikan
ketidakbenarannya.

Akibat hukum terhadap akta otentik yang dibuat oleh Notaris secara
melawan hukum sehingga menyebabkan akta otentik menjadi akta dibawah tangan
serta akta tersebut dapat dibatalkan telah sejalan dengan teori kewenangan dan
konsep perlindungan hukum. Seperti dikemukakan dalam teori kewenangan, Notaris
dalam membuat akta otentik termasuk dalam kewenangan secara atribusi,
berdasarkan ketentuan Pasal 15 ayat (1) UU perubahan atas UUJN.
Terjadinya suatu akibat hukum yaitu berupa akta otentik menjadi akta
dibawah tangan dan akta tersebut dibatalkan diakibatkan oleh penyalahgunaan
wewenang yang dilakukan oleh Notaris, dimana Notaris dalam menjalakan
wewenangnya telah melanggar ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan
kerugian bagi para pihak dan mengakibatkan berubahnya kekuatan pembuktian akta
dan adanya pembatalan akta otentik tersebut oleh pengadilan.
Akibat hukum ini juga telah sejalan dengan konsep perlindungan hukum
yang dikemukan Satijipto Raharjo yang menjelaskan bahwa perlindungan hukum
memberikan pengayoman terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan orang
lain dan perlindungan itu di berikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua
hak-hak yang diberikan oleh hukum. Serta bahwa perlindungan hukum dibutuhkan
untuk mereka yang lemah dan belum kuat secara sosial, ekonomi dan politik untuk
memperoleh keadilan sosial. Sesuai dengan pengertian konsep perlindungan hukum
yang dikemukan oleh para sarjana maka akibat hukum berupa pembatalan akta
otentik dapat melindungi para pihak yang merasa dirugikan oleh perbuatan melawan
hukum seorang Notaris dalam proses pembuatan akta otentik.
Adapun kedudukan akta Notaris dapat dibagi menjadi 5 macam yaitu dapat
dibatalkan, batal demi hukum, mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta
dibawah tangan, dibatalkan oleh para pihak sendiri dan dibatalkan oleh putusan
pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena penerapan asas
praduga sah.
Kelima kedudukan akta Notaris tersebut tidak dapat dilakukan secara
bersama-sama, tetapi hanya berlaku satu saja. Jika akta Notaris diajukan pembatalan
oleh pihak yang berkepentingan kepada pengadilan umum (Negeri) dan telah ada
putusan pengadilan umum yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap atau akta
Notaris mempunyai kududukan pembuktian sebagai akta dibawah tangan atau akta
Notaris batal demi hukum, atau akta Notaris dibatalkan oleh para pihak sendiri
dengan akta Notaris lagi, maka pembatalan akta Notaris yang lainnya tidak berlaku.
Akibat hukum terhadap terhadap akta otentik yang dibuat oleh seorang
Notaris yang melakukan perbuatan melawan hukum adalah hilangnya keotentikkan
akta tersebut dan menjadi akta dibawah tangan sesuai dengan ketentuan Pasal 41 UU
perubahan atas UUJN serta akta otentik tersebut dapat dibatalkan apabila pihak yang
mendalilkan dapat membuktikannya dalam persidangan di pengadilan, karena
pembuatan suatu akta otentik harus memuat ketiga unsur tersebut di atas (lahiriah,
formil dan materiil) atau salah satu unsur tersebut tidak benar dan menimbulkan
perkara pidana atau perdata yang kemudian dapat dibuktikan ketidakbenarannya.
Sehingga dalam menjalankan jabatanya seorang Notaris harus tunduk pada ketentuan
undang-undang dan akta tersebut dibuat oleh dan dihadapan Notaris sesuai dengan
prosedur dan tata cara pembuatan akta otentik agar keotentikannya tidak menjadi akta
di bawah tangan atau akta tidak sampai dibatalkan.
Sehubungan dengan pentingnya keberadaan kode etik profesi dalam suatu
profesi, maka Mochtar Kusumaatmadja mengemukakan bahwa .Pendidikan
ketrampilan teknis tanpa disertai pendidikan tanggung jawab profesional dan etika
adalah berbahaya. Hal ini tentunya tidak dapat dipungkiri, karena jika suatu
pendidikan hanya menyangkut ketrampilan teknis tanpa disertai tanggung jawab
profesional dan etika, tentunya akan mengakibatkan penyandang profesi akan
menjadi liar karena ia tidak dapat melaksanakan profesinya secara profesional.
Dimana hal tersebut nantinya akan menimbulkan kerugian yang besar terhadap
penyandang profesi hukum secara keseluruhan, karena Notaris dalam menjalankan
jabatannya memiliki kewenangan, kewajiban dan larangan.
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa Sehubungan dengan


tindakan profesionalitas notaris dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,
maka tentunya seorang notaris tidak boleh menyalahgunakan wewenang yang telah
diberikan kepadanya berdasarkan UUJN.
Penyalahgunaan wewenang dalam hal ini mempunyai pengertian yaitu suatu
tindakan yang dilakukan oleh notaris di luar dari wewenang yang telah ditentukan.
Jika notaris membuat suatu tindakan di luar wewenang yang telah ditentukan, maka
tindakan notaris dapat disebut sebagai tindakan penyalahgunaan wewenang. Jika
tindakan seperti itu merugikan para pihak, maka para pihak yang merasa dirugikan
dapat menuntut notaris yang bersangkutan dengan kualifikasi sebagai suatu tindakan
hukum yang merugikan para pihak. Para pihak yang menderita kerugian dapat
menuntut penggantian biaya, ganti rugi dan bunga kepada notaris.
Notaris dalam menjalankan profesinya tersebut, harus benar-benar mampu
memberikan jasanya secara baik kepada masyarakat sehingga tidak ada masyarakat
yang dirugikan. Oleh karena itu, seorang notaris dituntut lebih peka, jujur, adil dan
transparan dalam pembuatan sebuah akta agar menjamin semua pihak yang terkait
langsung dalam pembuatan sebuah akta otentik.
Notaris yang merupakan suatu profesi tentunya memerlukan suatu aturan
etika profesi dalam bentuk kode etik. Kedudukan kode etik bagi notaris sangatlah
penting, bukan hanya karena notaris merupakan suatu profesi, melainkan juga karena
sifat dan hakikat pekerjaan notaris yang berorientasi pada legalisasi, sehingga dapat
menjadi fundamen hukum utama tentang status harta benda, hak dan kewajiban
seorang klien yang menggunakan jasa notaris tersebut.
Dalam melaksanakan tugas jabatannya seorang notaris harus berpegang
teguh kepada kode etik jabatan notaris, karena tanpa itu, harkat dan martabat
profesionalisme akan hilang sama sekali. Menurut Bertens, kode etik profesi
merupakan norma yang ditetapkan dan diterima oleh kelompok profesi, yang
mengarahkan atau memberi petunjuk kepada anggotanya bagaimana seharusnya
berbuat dan sekaligus menjamin mutu moral profesi itu di mata masyarakat.
Notaris sebagai profesi memiliki Kode Etik Notaris yang dibuat oleh
Organisasi Notaris Indonesia atau yang dikenal dengan Ikatan Notaris Indonesia
(INI). Dalam Kode Etik Notaris Indonesia telah ditetapkan beberapa kaidah yang
harus dipegang oleh notaris (selain UUJN), di antaranya adalah :
1. Kepribadian Notaris, hal ini dijabarkan kepada :
a. Dalam melaksanakan tugasnya dijiwai Pancasila, sadar dan taat
kepada hukum peraturan jabatan notaris, sumpah jabatan, kode etik
notaris dan berbahasa Indonesia yang baik.
b. Memiliki perilaku profesional dan ikut serta dalam pembangunan
nasional, terutama sekali dalam bidang hukum.
c. Berkepribadian baik dan menjunjung tinggi martabat dan
kehormatan notaris, baik di dalam maupun di luar tugas jabatannya.
2. Dalam menjalankan tugas, notaris harus :
a. Menyadari kewajibannya, bekerja mandiri, jujur tidak berpihak dan
dengan penuh rasa tanggung jawab.
b. Menggunakan satu kantor sesuai dengan yang ditetapkan oleh
undangundang, dan tidak membuka kantor cabang dan perwakilan
dan tidak menggunakan perantara.
c. Tidak menggunakan media massa yang bersifat promosi.
3. Hubungan notaris dengan klien harus berdasarkan :
a. Notaris memberikan pelayanan kepada masyarakat yang
memerlukan jasanya dengan sebaik-baiknya.
b. Notaris memberikan penyuluhan hukum untuk mencapai kesadaran
hukum yang tinggi, agar anggota masyarakat menyadari hak dan
kewajibannya.
c. Notaris harus memberikan pelayanan kepada anggota masyarakat
yang kurang mampu.
4. Notaris dengan sesama rekan notaris haruslah :
a. Hormat-menghormati dalam suasana kekeluargaan.
b. Tidak melakukan perbuatan ataupun persaingan yang merugikan
sesama.
c. Saling menjaga dan membela kehormatan dan korps notaris atas
dasar solidaritas dan sifat tolong menolong secara konstruktif.

Seorang notaris dalam menjalankan tugasnya dibatasi oleh koridor-koridor


aturan. Pembatasan ini dilakukan agar seorang notaris tidak kebablasan dalam
menjalankan praktiknya dan bertanggung jawab terhadap segala hal yang
dilakukannya. Tanpa ada pembatasan, seseorang cenderung akan bertindak
sewenang-wenang. Demi sebuah pemerataan, pemerintah membatasi kerja seorang
notaris .
Bentuk pertangggungjawaban terhadap Notaris yang melakukan perbuatan
melawan hukum dalam pembuatan akta otentik adalah seorang Notaris dapat
dikenakan pertanggungjawaban secara perdata berupa sanksi untuk melakukan
penggantian biaya atau ganti rugi kepada pihak yang dirugikan atas perbuatan
melawan hukum yang dilakukan oleh Notaris.
Pertanggungjawaban secara administrasi berupa pemberian sanksi teguran
lisan, teguran tertulis, pemberhentian sementara, pemberhentian dengan hormat dan
pemberhentian dengan tidak hormat sebagai seorang Notaris. Pertanggungjawaban
terhadap kode etik profesi Notaris berupa pemberian sanksi teguran, peringatan,
pemecatan sementara (schorsing), pemecatan (Onzetting) dan pemberhentian dengan
tidak hormat dari keanggotaan perkumpulan. Sedangkan pertanggungjawaban secara
pidana seorang dapat berupa pemberian sanksi pidana penjara atau kurungan atas
perbuatan melawan hukum yang dilakukannya. Hal-hal tersebut berdasarkan temuan-
temuan dalam yurisprudensi mengenai pertanggungjawaban terhadap Notaris yang
melakukan perbuatan melawan hukum.
.