Anda di halaman 1dari 17

BAB II

PEMBAHASAN
EPISTEMOLOGI  FENOMENOLOGI

A.           Istilah dan Pengertian Epistemologi Fenomenologi


         Pembahasan yang kafah mengenai filsafat akan mudah dipahami jika diawali dari
pembahas istilah dan pengertian, maka berikut disajikan istilah dan pengertian dari topik
pembahasan tentang filsafat fenomenologi, hal tersebut dapat penulis uraikan sebagai berikut
:
1.      Istilah Fenomenologi
         Istilah fenomenologi secara filosofis pertama kali dipakai oleh J.H. Lambert (1764).
Dia memasukkan dalam kebenaran (alethiologia), ajaran mengenai gejala (fenomenologia).
Maksudnya adalah menemukan sebab-sebab subjektif dan objektif ciri-ciri bayangan objek
pengalaman inderawi (fenomen). [5]
        Immanuel Kant memakai istilah fenomenologi dalam karyanya Prinsip-Prinsip Pertama
Metafisika (1786) yang di kutip Sutrisno, et al. untuk menjelaskan kaitan antara konsep fisik
gerakan dan kategori modalitas, dengan mempelajari ciri-ciri dalam relasi umum dan
representasi, yakni fenomena indera-indera lahiriah. [6]

2.      Pengertian Phenomenologi
        Phenomenologi berasal dari kata fenomenon dan logos.Fenomenon secara asal kata 
berarti fantasi, fentom, jostor, foto yang sama artinya sinar, cahaya. Dari asal kata itu
dibentuk sesuatu kata kerja yang antara lain berarti nampak, terllihat karena cahaya,
bersinar.      
        Dari itu fenomenon berarti sesuatu yang nampak, yang terlihat karena bercahaya dalam
bahasa kita “gejala” logos dari bahasa Yunani berarti ucapan, pembicaraan, pikiran, akal
budi, kata, arti, studi tentang, pertimbangan tentang ilmu pengetahuan, tentang dasar
pemikiran, tentang suatu hal.[7]
       Kemudian diungkapkan pula bahwa pengertian fenomenologik adalah :
Kata “Fenomenologi” berasal dari bahasa Yunani fenomenon yaitu sesuatu yang nampak
atau disebut “gejala” menurut para pengikut filsafat fenomenologi, “fenomenon” adalah “apa
yang menampakkkan diri dalam diri sendiri” suatu fenomenon itu tidak perlu harus dapat
dipahami dengan indera, sebab fenomenon dapat juga dilihat atau ditilik secara rohani tanpa
mlewati indera.[8]
  Dan sejak Edmund Husserl (1859-1938) sebagai tokoh phenomenologi, arti
fenomenologi telah menjadi filsafat dan menjadi metodologi berpikir, fenomenologi bukan
sekedar pengalaman langsung yang tidak mengimplisitkan penafsiran dan klasifikasi.[9]
        Hegel (1807) memperluas pengertian fenomenologi dengan merumuskannya sebagai
ilmu mengenai pengalaman kesadaran, yakni suatu pemaparan dialektis perjalanan kesadaran
kodrati menuju kepada pengetahuan yang sebenarnya. Fenomenologi menunjukkan proses
menjadi ilmu pengetahuan pada umumnya dan kemampuan mengetahui sebagai perjalanan
jiwa lewat bentuk-bentuk atau gambaran kesadaran yang bertahap untuk sampai kepada
pengetahuan mutlak. Bagi Hegel, fenomena tidak lain merupakan penampakkan atau
kegejalaan dari pengetahuan inderawi: fenomena-fenomena merupakan manifestasi konkret
dan historis dari perkembangan pikiran manusia
   Dari beberapa pengertian di atas tentang fenomenologi, maka dapat dipahami bahwa
fenomenologi berarti ilmu tentang fenomenon-fenomenon atau apa saja yang nampak.
Sebuah pendekatan filsafat yang berpusat pada analisis terhadap gejala yang menampakkan
diri pada kesadaran kita.
B. Tokoh dan Pokok-Pokok Pikirannya
       1. Edmund Husserl (1859-1938)
Husserl lahir di Prosswitz (Moravia), ia seorang Yahudi filosof Jerman pendiri
fenomenologi. Di uneversitas ia belajar ilmu alam, ilmu falak, matematika dan filsafat, mula-
mula di Leipzig, kemudian juga di Berlin dan Wina. Disana ia tertarik pada filsafat Franz
Brentano.[10]
    Jika kita ingin mengerti arti fenomenologi sebagai suatu sikap filsafat, kita harus
mengetahui lebih dulu apa yang dimaksud oleh pendirinya Edmund Husserl. Menurutnya
fenomenologi itu merupakan metode dan ajaran filsafat. Sebagai metode ia membentangkan
langkah-langkah yang harus diambil sehingga kita sampai pada fenomeno yang murni, kita
harus mulai dengan subjek (manusia) serta kesadarannya dan berusaha untuk kembali kepada
“kesadaran yang murni”.
      Sebagai filsafat, fenomenologi menurut Husserl memberi pengetahuan yang perlu dan
essensial tentang apa yang ada. Dalam langkah-langkah penyelidikannya, ia menemukan
obyek-obyek (yang tak terbatas banyaknya) yang membentuk dunia yang kita alami. Benda
itu dapat dilukiskan menurut  kesadaran dimana ia temukan. Dengan begitu fenomenologi
dijelaskan sebagai kembali kepada benda, sebagai lawan dari ilusi atau sasaran pikiran, justru
karena benda adalah obyek kesadaran yang langsung dalam bentuk yang murni.[11]
      Filsafat Husserl memang mengalami perkembangan yang agak lama. Pada mulanya ia
berfilsafat tentang ilmu pasti, tetapi kemudian sampai jugalah ia pada renungan tentang
filsafat umumnya serta dasar-dasarnya sekali. Seperti dulu descartes ia berpendapat bahwa
adanya bermacam-macam aliran dalam filsafat yang satu sama lain bertentangan itu, karena
orang tidak mulai dengan metode dan dasar permulaan yang dipertanggungjawabkan. Maka
dari itu haruslah dicari satu metode yang memungkinkan kita berpikir, tanpa mendasarkan
pikiran itu kepada suatu pendapat lebih dulu.biasanya orang berpikir setelah mempunyai
suatu teori atau pemikiran sendiri. Itu tidak benar, demikian Hesserl, orang harus memulai
dengan mengamat-amati hal sendiri tanpa dasar suatupun: (Zun den Sachen Selbest). Ia
memerlukan analisa kesadaran. Maka analisa ini menunjukkan kepada kita, bahwa kesadaran
itu selalu terarah kepada obyek. Oleh karena yang diselidiki itu susunan kesadaran itu
sendiri, maka haruslah nampak obyek dalam kesadaran (gejala fenomenon), maka gejala itu
diselidiki pula. Sungguh tidaknya obyek tidaklah masuk dalam penyelidikan. Yang harus
dicari sekarang ialah sungguh-sungguh merupakan intisarinya. Adapun yang diluar intisari
itu tidak dihiraukan. Tetapi bukanlah cara abstraksi seperti ajaran Tomisme melainkan inti
itu tercapai instisi : inti itu terpandang oleh budi, demikian terdapat inti susunan kesadaran,
akan tetapi hal ini lain dari kesadaran empiri : inti itu terpandang oleh budi.
      Pengaruh Husserl amat besar, pula dalam aliran-aliran lain. Ada yang mempergunakan
meode ini untuk segala ilmu atau cabang filsafat, misalnya S. Strasser dalam antrofologi. E
de Bruyne dalam etika serta Langeveld dalam pedagogiknya.[12]
      Sebagai sebuah arah baru dalam filsafat, fenomenologi yang dimulai oleh Edmund
Husserl (1859 – 1938), untuk mematok suatu dasar yang tak dapat dibantah, ia memakai apa
yang disebutnya metode fenomenologis. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh besar dalam
mengembangkan fenomenologi.
      Kemudian Edmund Husserl memahami fenomenologi sebagai suatu analisis deskriptif
serta introspektif mengenai kedalaman dari semua bentuk kesadaran dan pengalaman-
pengalaman langsung; religius, moral, estetis, konseptual, serta indrawi. Perhatian filsafat,
menurutnya, hendaknya difokuskan pada penyelidikan tentang Labenswelt (dunia kehidupan)
atauErlebnisse (kehidupan subjektif dan batiniah). Penyelidikan ini hendaknya menekankan
watak intensional kesadaran, dan tanpa mengandaikan praduga-praduga konseptual dari
ilmu-ilmu empiris.
       Fenomenologi merupakan metode dan filsafat. Sebagai metode, fenomenologi
membentangkan langkah-langkah yang harus diambil sehingga kita sampai pada fenomena
yang murni. Fenomenologi mempelajari dan melukiskan ciri-ciri intrinsik fenomen-fenomen
sebagaimana fenomen-fenomen itu sendiri menyingkapkan diri kepada kesadaran. Kita harus
bertolak dari subjek (manusia) serta kesadarannya dan berupaya untuk kembali kepada
“kesadaran murni”. Untuk mencapai bidang kesadaran murni, kita harus membebaskan diri
dari pengalaman serta gambaran kehidupan sehari-hari. Sebagai filsafat, fenomenologi
menurut Husserl memberi pengetahuan yang perlu dan esensial mengenai apa yang ada.
Dengan demikian fenomenologi dapat dijelaskan sebagai metode kembali ke benda itu
sendiri (Zu den Sachen Selbt), dan ini disebabkan benda itu sendiri merupkan objek
kesadaran langsung dalam bentuk yang murni. 
     Secara umum pandangan fenomenologi bisa dilihat pada dua posisi. Pertama ia
merupakan reaksi terhadap dominasi positivisme, dan kedua, ia sebenarnya sebagai kritik
terhadap pemikiran kritisisme Immanuel Kant, terutama konsepnya tentang fenomena –
noumena. Kant menggunakan kata fenomena untuk menunjukkan penampakkan sesuatu
dalam kesadaran, sedangkan noumena adalah realitas (das Ding an Sich) yang berada di luar
kesadaran pengamat. Menurut Kant, manusia hanya dapat mengenal fenomena-fenomena
yang nampak dalam kesadaran, bukan noumena yaitu realitas di luar yang kita kenal.
          Husserl menggunakan istilah fenomenologi untuk menunjukkan apa yang nampak
dalam kesadaran kita dengan membiarkannya termanifestasi apa adanya, tanpa memasukkan
kategori pikiran kita padanya. Berbeda dengan Kant, Husserl menyatakan bahwa apa yang
disebut fenomena adalah realitas itu sendiri yang nampak setelah kesadaran kita cair dengan
realitas. Fenomenologi Husserl justru bertujuan mencari yang esensial atau esensi (eidos)
dari apa yang disebut fenomena dengan cara membiarkan fenomena itu berbicara sendiri
tanpa dibarengi dengan prasangka (presupposition). Sebagai reaksi terhadap positivisme,
filsafat fenomenologi berbeda dalam memandang objek, bila dibandingkan dengan filsafat
positivisme, baik secara ontologis, epistemologis, maupun axiologis. Dalam tataran
ontologism, yang berbicara tentang objek garapan ilmu, filsafat positivisme memandang
realitas dapat dipecah-pecah menjadi bagian yang berdiri sendiri, dan dapat dipelajari
terpisah dari objek lain, serta dapat dikontrol. Sebaliknya, filsafat fenomenologi memandang
objek sebagai kebulatan dalam konteks natural, sehingga menuntut pendekatan yang holistik,
bukan pendekatan partial. 
        Dalam tataran epistemologis, filsafat positivisme menuntut perencanaan penilitian
yang rinci, konkrit dan terukur dari semua variabel yang akan diteliti berdasarkan kerangka
teoritik yang spesifik. Tata cara penelitian yang cermat ini kemudian dikenal dengan
penelitian kuantitatif. Teori yang dibangun adalah teori nomothetik, yaitu berdasarkan pada
generalisasi atau dalil-dalil yang berlaku umum. Sebaliknya, filsafat fenomenologi menuntut
pemaknaan dibalik realitas, sehingga perlu keterlibatan subjek dengan objek, dan subjek
bertindak sebagai instrumen untuk mengungkap makna dibalik suatu realitas menurut
pengakuan, pendapat, perasaan dan kemauan dari objeknya. Tatacara penelitian seperti ini
kemudian dikenal dengan penelitian kualitatif. Teori yang dibangun adalah teori ideografik,
yaitu upaya memberikan deskripsi kultural, human atau individual secara khusus, artinya
hanya berlaku pada kasus yang diteliti.
Pada tataran axiologis, filsafat positivisme memandang kebenaran ilmu itu terbatas pada
kebenaran empiric sensual – logik dan bebas nilai. Sebaliknya, filsafat fenomenologi
mengakui kebenaran ilmu secara lebih luas, yaitu mengakui kebenaran empirik sensual,
kebenaran logik, kebenaran etik dan kebenaran transcendental. Oleh karena itu, ilmu
pengetahuan yang diperoleh tidak bebas nilai (value free), akan tetapi bermuatan nilai (value
bond), tergantung pada aliran etik yang dianutnya, apakah naturalisme, hedonisme,
utilitarianisme, idealisme, vitalisme, ataukah theologisme atau pandangan filsafat yang lain. 
                Tugas utama fenomenologi menurut Husserl adalah menjalin keterkaitan manusia
dengan realitas. Bagi Husserl, realitas bukan suatu yang berbeda pada dirinya lepas dari
manusia yang mengamati. Realitas itu mewujudkan diri, atau menurut ungkapan Martin
Heideger, yang juga seorang fenomenolog: “Sifat realitas itu membutuhkan keberadaan
manusia”. Filsafat fenomenologi berusaha untuk mencapai pengertian yang sebenarnya
dengan cara menerobos semua fenomena yang menampakkan diri menuju kepada bendanya
yang sebenarnya. Usaha inilah yang dinamakan untuk mencapai “Hakikat segala sesuatu”.
Untuk itu, Husserl mengajukan dua langkah yang harus ditempuh untuk mencapai esensi
fenomena, yaitu metode epoche dan eidetich vision. Kata epoche berasal dari bahasa Yunani,
yang berarti: “menunda keputusan” atau “mengosongkan diri dari keyakinan tertentu”.
Epoche bisa juga berarti tanda kurung (bracketing) terhadap setiap keterangan yang
diperoleh dari suatu fenomena yang nampak, tanpa memberikan putusan benar salahnya
terlebih dahulu. Fenomena yang tampil dalam kesadaran adalah benar-benar natural tanpa
dicampuri oleh presupposisi pengamat. Untuk itu, Husserl menekankan satu hal penting:
Penundaan keputusan. Keputusan harus ditunda (epoche) atau dikurung dulu dalam kaitan
dengan status atau referensi ontologis atau eksistensial objek kesadaran.
      Selanjutnya, menurut Husserl, epoche memiliki empat macam, yaitu:
1.      Method of historical bracketing; metode yang mengesampingkan aneka macam teori dan
pandangan yang pernah kita terima dalam kehidupan sehari-hari, baik dari adapt, agama
maupun ilmu pengetahuan.
2.      Method of existensional bracketing; meninggalkan atau abstain terhadap semua sikap
keputusan atau sikap diam dan menunda.
3.      Method of transcendental reduction; mengolah data yang kita sadari menjadi gejala yang
transcendental dalam kesadaran murni.
4.      Method of eidetic reduction; mencari esensi fakta, semacam menjadikan fakta-fakta tentang
realitas menjadi esensi atau intisari realitas itu.[13] 
Dengan menerapkan empat metode epoche tersebut seseorang akan sampai pada hakikat
fenomena dari realitas yang dia amati.

2. Max Scheler
Disamping Husserl adalah filosof fenomenologi, yaitu Max Scheler (1874-1928). Bagi
Scheler, metode fenomenologi sama dengan satu cara tertentu untuk memandang realitas.
Fenomenologi lebih merupakan sikap bahan suatu prosedur khusus yang diikuti oleh
pemikiran (diskusi, Induksi, Observasi dll). Dalam hubungan ini kita mengadakan hubungan
langsung dengan realitas berdasarkan instuisi (pengalaman fenomenologi).
           Menurut Scheler ada tiga jenis fakta yang memegang peranan penting dalam
pengalaman fenomenologis, yaitu :
 (1) fakta natural, (2) fakta ilmiah, dan (3) fakta fenomenologis. Fakta natural berasal dari
pengalaman inderawi dan menyangkut benda-benda yang nampak dalam pengalaman biasa.
Fakta ilmiah mulai melepas diri dari penerapan inderawi yang langsung dan semakin abstrak.
Fakta fenomenologis merupakan isi “intuitif” yang merupakan hakikat dari pengalaman
langsung, tidak terikat kepada ada tidaknya realisasi di luar.[14]

Dasar-dasar Filsafat Epistemologi Fenomenologi


         Peletakan dasar-dasar filafat epistemonologi dapat di lakukan dengan beberapa
pendekatan seperti yang di uraikan berikut:
1.        Pendekatan filsafatnya berpusat pada analisis terhadap gejala yang menampakkan diri pada
kesadaran kita. Analisis menunjukkan bahwa kesadaran itu sungguh-sungguh selalu terarah
kepada obyek.
2.        Orang harus berpikir, dengan memulai dengan mengamati hal sendiri, tanpa dasar apapun.
Memulai kegiatannya dengan meneliti pengalaman-pengalamannya sendiri tentang realita
dan menjauhkan diri dari meneliti dan mengulangi (teori orang lain).
3.        Fenomenologi kebenaran dibuktikan berdasarkan ditemukannya yang essensial.
4.        Fenomenologi menerima kebenaran di luar empirik indrawi. Oleh sebab itu mereka
menerima kebenaran sensual, kebenaran logik, ethik dan transedental.
5.        Fenomena baru dapat dinyatakan benar setelah diuji korespondensinya dengan yang
dipercayainya.
6.        Fenomenologi lebih merupakan sikap bukan suatu prosedur khusus yang diikuti
pemikirannya (diskusi, induksi, observsi dll). Dalam hubungan ini hubungan langsung
dengan realitas berdasarkan intuisi.[15]
 Dari pendekatan-pendekatan tersebut maka jelaslah bahwa phenomenologik berusaha
mendekati objek kajiannya secara kritis serta pengamatan yang cermat, dengan tidak
berprasangka oleh konsepsi-konsepsi manapun sebelumnya
D. Kelebihan dan kekurangan Filsafat Phenomenologik
         Kelebihan filsafat phenomenoligik diantaranya dapat diuraikan sebagai berikut :
1.      Phenomenologik sebagai suatu metode keilmuan, dapat mendiskripsikan penomena dengan
apa adanya dengan tidak memanipulasi data, aneka macam teori dan pandangan
2.      Phenomenologik mengungkapkan ilmu pengetahuan atau kebenaran dengan benar-benar
yang objektif
3.      Phenomenologik memandang objek kajian sebagai bulatan yang utuh tidak terpisah dari
objek lainnya[16]
       Dengan demikian phenomenologik menuntut pendekatan yang holistik, bukan
pendekatan partial, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh mengenai objek yang di amati,
hal ini lah yang menjadi kelebihan filsafat ini sehingga banyak dipakai oleh ilmuan-ilmuan
dewasa ini terutama ilmuan sosial, dalam berbagai kajian keilmuan mereka termasuk bidang
kajian agama
       Dari berbagai kelebihan tersebut, phenomenologik sebenarnya juga tidak luput dari
berbagai kelemahan, seperti :
1.      Tujuan phenomenologik untuk mendapatkan pengetahuan yang murni objektif tanpa ada
pengaruh berbagai pandangan sebelumnya, baik dari adat, agama ataupun ilmu pengetahuan,
merupakan suatu yang absurd
2.      Pengetahuan yang didapat tidak bebas nilai (value-free), tapi bermuatan nilai (value-bound)
[17]
Dari kelebihan dan kekurangan tersebut maka kebenaran yang dihasilkan cenderung
subjektif, yang hanya berlaku pada kasus tertentu, situasi dan kondisi tertentu pula serta
dalam waktu tertentu. Dengan ungkapan lain pengetahuan dan kebenaran yang dihasilkan
tidak dapat digeneralisasikan.
 SUMBER BACAAN

Abdul Munin al-Hifni, al-Mausu’ah al-Falsafiyah, beirUt Libanon, Dar Ibn Zaidun, tt. Cet. ke I
Burhanuddin Salam, Logika Materiil (Filsafat Ilmu Pengetahuan), Jakarta, Renika Cipta
Dirjarkara, Percikan Filssafat, Jakarta PT. Pembangunan, tahun 1978.
Fuad Hasan, Pengantar Filsafat Barat, Jakarta, Pustaka Jaya, tahun 1996, cet. ke I
Hasan Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta, Kanisius, tahun 1993, cet. ke 9
Koento Wibisono Siswoniharjo, Ilmu Pengantar Sebuah Sketsa Umum Untuk Mengenal Kalahiran
dan Perkembangan Sebagai Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu Dalam Tim Dosen
Filsafat Ilmu, Filsafat Ilmu, Yogyakarta, Leberty, 1996.

Moh, Muslih, Filsafat Ilmu Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu
Pengetahuan., Yogyakarta, Belukar, 2005

Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, Yogyakarta, Reka Sarasin, tahun 1998.


Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, Jakarta, Pt, Pembangunan, 1974.
Sutrisno, et.al., Para Filusuf Penentu Gerak Zaman, Yogyakarta, Kanisius, 2005
Titus, Living Issnes In Philosophy (Persoalan-Persoalan Filsafat), alih bahasa oleh  M. Rasyidi,
Jakarta, Bulan Bintang, 1984.

Bab
7
Fenomenologi Edmund
Husserl
Reza A.A Wattimena
Pada bab sebelumnya kita sudah berdiskusi soal gaya aphorisme
di dalam filsafat Nietzsche. Ia mengajarkan kita untuk berani
menembus batas-batas rasionalitas itu sendiri, dan membuka
tabir-tabir pemikiran baru yang belum tersentuh sebelumnya.
Pada bab ini saya ingin mengajak anda berdiskusi mengenai
metodologi berpikir di dalam filsafat Husserl, yang banyak juga
dikenal sebagai fenomenologi. Metode ini sangat penting di
dalam filsafat, dan juga di dalma penelitian ilmu-ilmu sosial. Di
dalam pemikiran Husserl, fenomenologi tidak hanya berhenti
menjadi metode, tetapi juga mulai menjadi ontologi. Muridnya
yang bernama Heideggerlah yang nantinya akan melanjutkan
proyek itu. Pada bab ini saya mengacu pada tulisan David W.
Smith tentang Husserl di dalam bukunya yang berjudul Husserl.
[1]
Cita-cita Husserl adalah membuat fenomenologi menjadi bagian
dari ilmu, yakni ilmu tentang kesadaran (science of
consciousness). Akan tetapi pendekatan fenomenologi berusaha
dengan keras membedakan diri dari epistemologi tradisional,
psikologi, dan bahkan dari filsafat itu sendiri. Namun sampai
sekarang definisi jelas dan tepat dari fenomenologi belum juga
dapat dirumuskan dan dimengerti, bahkan oleh orang yang
mengklaim menggunakannya. Oleh karena itu dengan mengacu
pada tulisan Smith, saya akan coba memberikan definisi dasar
tentang fenomenologi, sekaligus mencoba memberi contoh
penerapannya. Setelah itu saya akan mengajak anda untuk
memahami latar belakang teori fenomenologi Husserl yang
memang secara langsung diinspirasikan oleh Frans Bretagno,
terutama pemikirannya soal psikologi deskriptif. Lalu masih
mengacu pada tulisan Smith, saya akan mengajak anda
memahami teori tentang kesadaran, terutama konsep kuncinya
yang disebut sebagai intensionalitas. Intensionalitas sendiri
berarti kesadaran yang selalu mengarah pada sesuatu
(consciousness on something), seperti kesadaran akan waktu,
kesadaran akan tempat, dan kesadaran akan eksistensi diri
sendiri. Selanjutnya kita akan berdiskusi tema-tema yang lebih
spesifik di dalam filsafat Husserl, seperti pemikirannya tentang
logika, ontologi, dan filsafat transendental.[2]
Arti Fenomenologi
Menurut Smith fenomenologi Husserl adalah sebuah upaya
untuk memahami kesadaran sebagaimana dialami dari sudut
pandang orang pertama. Secara literal fenomenologi adalah studi
tentang fenomena, atau tentang segala sesuatu yang tampak bagi
kita di dalam pengalaman subyektif, atau tentang bagaimana kita
mengalami segala sesuatu di sekitar kita. Setiap orang pada
dasarnya pernah melakukan praktek fenomenologi. Ketika anda
bertanya “Apakah yang aku rasakan sekarang?”, “Apa yang
sedang kupikirkan?”, “Apa yang akan kulakukan?”, maka
sebenarnya anda melakukan fenomenologi, yakni mencoba
memahami apa yang anda rasakan, pikirkan, dan apa yang akan
anda lakukan dari sudut pandang orang pertama.
Dengan demikian fenomenologi adalah upaya untuk memahami
kesadaran dari sudut pandang subyektif orang terkait.
Pendekatan ini tentu saja berbeda dengan pendekatan ilmu
pengetahuan saraf (neuroscience), yang berusaha memahami
cara kerja kesadaran manusia di dalam otak dan saraf, yakni
dengan menggunakan sudut pandang pengamat. Neurosains
lebih melihat fenomena kesadaran sebagai fenomena biologis.
Sementara deskripsi fenomenologis lebih melihat pengalaman
manusia sebagaimana ia mengalaminya, yakni dari sudut
pandang orang pertama.
Walaupun berfokus pada pengalaman subyektif orang pertama,
fenomenologi tidak berhenti hanya pada deskripsi perasaan-
perasaan inderawi semata. Pengalaman inderawi hanyalah titik
tolak untuk sampai makna yang bersifat konseptual (conceptual
meaning), yang lebih dalam dari pengalaman inderawi itu
sendiri. Makna konseptual itu bisa berupa imajinasi, pikiran,
hasrat, ataupun perasaan-perasaan spesifik, ketika orang
mengalami dunianya secara personal.
Jika fenomenologi berfokus pada pengalaman manusia, lalu apa
kaitan fenomenologi dengan psikologi sebagai ilmu tentang
perilaku manusia? Husserl sendiri merumuskan fenomenologi
sebagai tanggapan kritisnya terhadap psikologi positivistik, yang
menolak eksistensi kesadaran, dan kemudian menyempitkannya
semata hanya pada soal perilaku. Oleh sebab itu menurut Smith,
fenomenologi Husserl lebih tepat disebut sebagai psikologi
deskriptif, yang merupakan lawan dari psikologi positivistik.
Di dalam fenomenologi konsep makna (meaning) adalah konsep
yang sangat penting. “Makna”, demikian tulis Smith tentang
Husserl, “adalah isi penting dari pengalaman sadar
manusia..”[3] Pengalaman seseorang bisa sama, seperti ia bisa
sama-sama mengendari sepeda motor. Namun makna dari
pengalaman itu berbeda-beda bagi setiap orang. Maknalah yang
membedakan pengalaman orang satu dengan pengalaman orang
lainnya. Makna juga yang membedakan pengalaman yang satu
dan pengalaman lainnya. Suatu pengalaman bisa menjadi bagian
dari kesadaran, juga karena orang memaknainya. Hanya melalui
tindak memaknailah kesadaran orang bisa menyentuh dunia
sebagai suatu struktur teratur (organized structure) dari segala
sesuatu yang ada di sekitar kita. Namun begitu menurut Husserl,
makna bukanlah obyek kajian ilmu-ilmu empiris. Makna adalah
obyek kajian logika murni (pure logic). Pada era sekarang logika
murni ini dikenal juga sebagai semantik (semantics). Maka
dalam arti ini, fenomenologi adalah suatu sintesis antara
psikologi, filsafat, dan semantik (atau logika murni).
Bagi Husserl fenomenologi adalah suatu bentuk ilmu mandiri
yang berbeda dari ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial.
Dengan fenomenologi Husserl mau menantang semua
pendekatan yang bersifat biologis-mekanistik tentang kesadaran
manusia, seperti pada psikologi positivistik maupun pada
neurosains. Ia menyebut fenomenologi sebagai ilmu
pengetahuan transendental (transcendental science), yang
dibedakan dengan ilmu pengetahuan naturalistik (naturalistic
science), seperti pada fisika maupun biologi. Dan seperti sudah
disinggung sebelumnya, perbedaan utama fenomenologi dengan
ilmu-ilmu alam, termasuk psikologi positivistik, adalah peran
sentral makna di dalam pengalaman manusia (meaning in
experience). Fenomenologi tidak mengambil langkah observasi
ataupun generalisasi di dalam penelitian tentang manusia, seperti
yang lazim ditemukan pada psikologi positivistik.
Cita-cita Husserl adalah mengembangkan fenomenologi sebagai
suatu displin ilmiah yang lengkap dengan metode yang jelas dan
akurat. Di dalam ilmu-ilmu alam, seperti kimia, fisika, dan
biologi, kita mengenal adalah metode penelitian ilmu-ilmu alam
yang sifatnya empiris dan eksperimental. Inti metode penelitian
ilmu-ilmu alam adalah melakukan observasi yang sifatnya
sistematis, dan kemudian menganalisisnya dengan suatu
kerangka teori yang telah dikembangkan sebelumnya. Husserl
ingin melepaskan diri dari cara berpikir yang melandasi metode
penelitian semacam itu. Baginya untuk memahami manusia,
fenomenologi hendak melihat apa yang dialami oleh manusia
dari sudut pandang orang pertama, yakni dari orang yang
mengalaminya.
Di dalam kerangka berpikir ini, seorang ilmuwan sekaligus
adalah sekaligus peneliti dan yang diteliti. Ia adalah subyek
sekaligus obyek dari penelitian. Dan seperti sudah ditegaskan
sebelumnya, fenomenologi adalah cara untuk memahami
kesadaran manusia dengan menggunakan sudut pandang orang
pertama. Namun menurut penelitian Smith, Husserl
membedakan tingkat-tingkat kesadaran (state of consciousness).
Yang menjadi fokus fenomenologi bukanlah pengalaman
partikular, melainkan struktur dari pengalaman kesadaran, yakni
realitas obyektif yang mewujud di dalam pengalaman subyektif
orang per orang. Konkretnya fenomenologi berfokus pada
makna subyektif dari realitas obyektif di dalam kesadaran orang
yang menjalani aktivitas kehidupannya sehari-hari. Dalam kosa
kata Husserl, “obyek kesadaran sebagaimana dialami.”[4]
Fenomenologi Husserlian adalah ilmu tentang esensi dari
kesadaran. Namun apa sebenarnya yang dimaksud dengan esensi
dari kesadaran? Berdasarkan penelitian Smith fenomenologi
Husserl dibangun di atas setidaknya dua asumsi. Yang pertama,
setiap pengalaman manusia sebenarnya adalah satu ekspresi dari
kesadaran. Seseorang mengalami sesuatu. Ia sadar akan
pengalamannya sendiri yang memang bersifat subyektif.
Dan yang kedua, setiap bentuk kesadaran selalu merupakan
kesadaran akan sesuatu. Ketika berpikir tentang makanan, anda
membentuk gambaran tentang makanan di dalam pikiran anda.
Ketika melihat sebuah mobil, anda membentuk gambaran
tentang mobil di dalam pikiran anda. Inilah yang disebut Husserl
sebagai intensionalitas (intentionality), yakni bahwa kesadaran
selalu merupakan kesadaran akan sesuatu.
Tindakan seseorang dikatakan intensional, jika tindakan itu
dilakukan dengan tujuan yang jelas. Namun di dalam filsafat
Husserl, konsep intensionalitas memiliki makna yang lebih
dalam. Intensionalitas tidak hanya terkait dengan tujuan dari
tindakan manusia, tetapi juga merupakan karakter dasar dari
pikiran itu sendiri. Pikiran tidak pernah pikiran itu sendiri,
melainkan selalu merupakan pikiran atas sesuatu. Pikiran selalu
memiliki obyek. Hal yang sama berlaku untuk kesadaran.
Intensionalitas adalah keterarahan kesadaran (directedness of
consciousness). Dan intensionalitas juga merupakan keterarahan
tindakan, yakni tindakan yang bertujuan pada satu obyek.
Namun Husserl juga melihat beberapa pengalaman konkret
manusia yang tidak mengandaikan intensionalitas, seperti ketika
anda merasa mual ataupun pusing. Kedua pengalaman itu
bukanlah pengalaman tentang suatu obyek yang konkret. Namun
pengalaman itu sangatlah jarang, kecuali anda yang menderita
penyakit tertentu. Mayoritas pengalaman manusia memiliki
struktur. Mayoritas pengalaman manusia melibatkan kesadaran,
dan kesadaran selalu merupakan kesadaran atas sesuatu. Husserl
menyebut setiap proses kesadaran yang terarah pada sesuatu ini
sebagai tindakan (act). Dan setiap tindakan manusia selalu
berada di dalam kerangka kebiasaan (habits), termasuk di
dalamnya gerak tubuh dan cara berpikir.
Fenomenologi adalah analisis atas esensi kesadaran
sebagaimana dihayati dan dialami oleh manusia, dan dilihat
dengan menggunakan sudut pandang orang pertama.
Fenomenologi menganalisis struktur dari persepsi, imajinasi,
penilaian, emosi, evaluasi, dan pengalaman orang lain yang
terarah pada sesuatu obyek di luar. Dengan demikian menurut
Smith, fenomenologi Husserl adalah suatu penyelidikan
terhadap relasi antara kesadaran dengan obyek di dunia luar,
serta apa makna dari relasi itu. Konsep bahwa kesadaran selalu
terarah pada sesuatu merupakan konsep sentral di dalam
fenomenologi Husserl.[5]
Kesimpulan
Seperti sudah disinggung sebelumnya, fenomenologi adalah
suatu refleksi atas kesadaran dari sudut pandang orang pertama.
Konkretnya fenomenologi hendak menggambarkan pengalaman
manusia sebagaimana ia mengalaminya melalui pikiran,
imajinasi, emosi, hasrat, dan sebagainya. Dalam hal ini Husserl
sangat berhutang pada Bretano. Bretano sendiri membedakan
dua jenis psikologi, yakni psikologi deskriptif yang dikenal juga
sebagai fenomenologi, dan psikologi genetis (genetic
psychology). Psikologi deskriptif hendak memahami dinamika
kehidupan mental manusia. Sementara psikologi genetis ingin
memahami dinamika mental manusia dengan kaca mata ilmu-
ilmu genetika yang sifatnya biologistik. Di dalam pemikiran
Husserl, fenomenologi menjadi suatu displin yang memiliki
status otonom. Ia pun merumuskannya secara lugas, yakni
sebagai ilmu tentang esensi kesadaran. Dan berulang kali ia
menegaskan, bahwa kesadaran manusia tidak pernah berdiri
sendiri. Kesadaran selalu merupakan kesadaran atas sesuatu.
Inilah yang disebut dengan intensionalitas, suatu konsep yang
sangat sentral di dalam fenomenologi Husserl.
Husserl kemudian mencoba mengembangkan teori
intensionalitas ini. Setiap tindakan manusia selalu melibatkan
kesadaran, dan kesadaran selalu merupakan kesadaran atas suatu
obyek yang nyata di dunia. Manusia adalah subyek dan subyek
selalu terarah pada suatu obyek yang nyata di dunia. Obyek dari
kesadaran dan tindakan manusia tidak pernah berada di dalam
ruang kosong, melainkan selalu berada di dalam horison makna
tertentu. Maka dari itu intensionalitas kesadaran selalu
melibatkan relasi rumit antara subyek (manusia) yang sadar,
tindakan, obyek, dan horison dari obyek tersebut. Relasi rumit di
dalam intensionalitas kesadaran itulah yang menjadi dasar dari
fenomenologi.
Setelah menjadikan intensionalitas kesadaran sebagai dasar
filsafatnya, Husserl kemudia menganalisis struktur-struktur
dasar kesadaran secara detil, seperti persepsi, penilaian,
tindakan, ruang, waktu, tubuh, keberadaan orang lain, dan
sebagainya. Subyek (manusia) dan obyek selalu berada di dalam
horison makna tertentu yang disebut Husserl sebagai dunia
kehidupan (life-world). Secara singkat dunia kehidupan adalah
dunia di sekeliling manusia yang dialaminya secara familiar di
dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam dunia kehidupan,
manusia memperoleh makna dan identitasnya sebagai manusia.
Dalam arti ini fenomenologi adalah suatu upaya untuk
memahami kesadaran manusia dalam konteks kaitan dengan
dunia kehidupannya.
Fenomenologi Husserl hendak menganalisis dunia kehidupan
manusia sebagaimana ia mengalaminya secara subyektif
maupun intersubyektif dengan manusia lainnya. Sebenarnya ia
membedakan antara apa yang subyektif, intersubyektif, dan
yang obyektif. Yang subyektif adalah pengalaman pribadi kita
sebagai manusia yang menjalani kehidupan. Obyektif adalah
dunia di sekitar kita yang sifatnya permanen di dalam ruang dan
waktu. Dan intersubyektitas adalah pandangan dunia semua
orang yang terlibat di dalam aktivitas sosial di dalam dunia
kehidupan.[6] Interaksi antara dunia subyektif, dunia obyektif,
dan dunia intersubyektif inilah yang menjadi kajian
fenomenologi. Fenomenologi membuka kesadaran baru di
dalam metode penelitian filsafat dan ilmu-ilmu sosial.
Kesadaran bahwa manusia selalu terarah pada dunia, dan
keterarahan ini melibatkan suatu horison makna yang disebut
sebagai dunia kehidupan. Di dalam konteks itulah pemahaman
tentang manusia dan kesadaran bisa ditemukan.***

[1] Pada bab ini saya mengacu pada David Woodruff


Smith,Husserl, London, Routledge, 2007.
[2] Lihat, ibid, hal. 188.
[3] Ibid, hal. 190.
[4] Ibid, hal. 191.
[5] Lihat, ibid, hal. 193.
[6] Lihat, ibid, hal. 234.
https://rumahfilsafat.com/2009/08/19/fenomenologi-edmund-husserl/

http://nabildaffa.blogspot.com/2011/01/makalah-filsafat-ilmu-efismologi.html