Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH HAK DAN TANGGUNG JAWAB PERAWAT

MENURUT UNDANG – UNDANG

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Etika Keperawatan

Dosen Pengampu : S.R Rosida, S.Kep., Ns., M.Kes

Kelompok 2
Disusun oleh :
1. Ari Priandana [20002]
2. Cindi Permata Sari [20003]
3. Kharisma Ismi Sabilla [20012]
4. Raesha Ajeng Prasiwi [20016]
5. Rahma Widiyati [20017]

Akademi Keperawatan YAPPI


Jl. K.H. Agus Salim No.50 Mojomulyo
Sragen
2021
A. Hak Perawat Menurut Undang – Undang

Dalam asuhan keperawatan yang merupakan salah satu dari praktik keperawatan
tentunya seorang perawat memiliki hak tuntutan profesi dengan apa yang semestinya
didpatkan dari pengembanan tugas secara maksimal memperoleh perlindungan hukum
dan profesi sepanjang melaksanakan tugas sesuai standar profesi dan standar Operasional
Prosedur merupakan salah satu hak perawat, melaksanakan tugas sesuai dengan
kompetensi otonomi profesi.

Hak perawat berdasarkan PERMENKES Republik Indonesia


No.HK.02./MENKES/148/1/2010 tentang penyelenggaraan praktik keperawatan
seharusnya perawat harus menghormati hak - hak pasien yang harus dihormati perawat
dan melaksanakan kewajibannya sebagaimana telah diatur dalam Undang – Undang
Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan. Pasien harus memiliki perlindungan dari
kemungkinan upaya pelayanan kesehatan yang tidak bertanggung jawab, pasien juga
berhak atas keamanan, keselamatan, dan kenyamanan dalam pelayanan kesehatan yang
diterimanya.

Adapun hak perawat sebagaimana diatur pada Pasal 35 Peraturan Menteri


Kesehatan Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2019 adalah sebagai berikut :

1. memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan pekerjaannya


sesuai dengan Standar Profesi, standar pelayanan, dan standar prosedur
operasional, dan ketentuan peraturan perundangundangan;

Contoh : Perawat menangani pasien fraktur sesuai SOP, untuk menjaga


keselamatan pasien. Jadi jika nanti pasien tidak terima dan terjadi masalah,
maka perawat dapat mengelak dengan menunjukkan bukti telah melakukan
pekerjaan sesuai SOP.

2. memperoleh informasi yang benar, jelas, dan jujur dari Klien dan/atau
keluarganya;

Contoh : Pasien harus memberi data yang valid pada perawat agar nantinya
tidak terjadi kesalahan dalam perawatan pasien.

3. melaksanakan tugas sesuai dengan kompetensi dan kewenangan;

Contoh : Perawat IGD menangani pasien nyeri dada dengan melakukan


triase lima level.
4. menerima imbalan jasa atas Pelayanan Keperawatan yang telah diberikan;

Contoh : Perawat akan mendapatkan gaji setiap bulan.

5. menolak keinginan klien atau pihak lain yang bertentangan dengan kode etik,
standar pelayanan, standar profesi, standar prosedur operasional, atau
ketentuan peraturan perundang-undangan;

Contoh : Menolak untuk membantu pasien yang ingin melakukan aborsi.

6. memperoleh fasilitas kerja sesuai dengan standar;

Contoh : Perawat yang menangani pasien covid - 19 mendapatkan fasilitas


berupa APD, vaksin, tes swab, peginapan.

7. memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, perlakuan


yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia, moral, kesusilaan, serta
nilai-nilai agama;

Contoh : Perawat mendapat BPJS, dan perlindungan HAM dari pemerintah.

8. mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan profesinya; dan

Contoh : Perawat yang sudah bekerja boleh melanjutkan kuliahnya, dan dapat
mengikuti berbagai diklat atau seminar.

9. memperoleh hak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-


undangan.

Contoh : Perawat mendapatkan penghargaan bintang jasa dari pemerintah


maupun penghargaan dari masyarakat.

B. Tanggung Jawab dan Kewajiban Perawat Menurut Undang – Undang

Dalam melakukan pelayanan terhadap pasien, maka perawat harus sesuai dengan
peran dan kompetensinya. Di luar peran dan kompetensinya bukan menjadi tanggung
jawab perawat. Ketentuan hukum diperlukan dalam melakukan tanggung jawab. Hal ini
dimaksudkan, pelayanan keperawatan diberikan sesuai dengan standar keperawatan.
Tanggung jawab perawat ditunjukan dengan cara siap menerima hukuman secara hukum
jika perawat terbukti bersalah atau melanggar hukum.

Tanggung jawab perawat dalam pelayanan kesehatan dapat dibagi menjadi 3 yaitu
tanggung jawab perdata, tanggung jawab pidana, dan tanggung jawab administratif.
Secara lebih terperinci, Kusnanto menjelaskan tanggung jawab perawat tersebut sebagai
berikut:

1. Tanggung jawab perdata.

Dalam transaksi traupeutik, posisis tenaga kesehatan dengan pasien adalah


sederajat. Dengan posisi yang demikian ini hukum menempatkan
keduanya memiliki tanggung gugat hukum. Gugatan untuk meminta
pertanggungjawaban kepada tenaga kesehatan bersumber kepada dua
dasar hukum yaitu: pertama, berdasarkan pada wanprestasi sebagaimana
diatur dalam Pasal 1239 KUH Perdata. Kedua, berdasarkan perbuatan
melanggar hukum sesuai dengan ketentuan Pasal 1356 KUH Perdata.
Hukum perdata yang dimaksud dalam suatu pertanggungjawaban tindakan
medis adalah adanya unsur ganti-rugi jika dalam suatu tindakan medis
terdapat suatu kelalaian atau kesalahan yang dilakukan oleh tenaga medis.

Contoh : Melakukan ganti rugi pada pasien saat melakukan malpraktek.

2. Tanggung jawab pidana.

Hukum pidana menganut asas tiada pidana tanpa kesalahan. Dalam Pasal 2
KUHP disebutkan, “Ketentuan pidana dalam perundang-undangan
Indonesia diterapkan bagi setiap orang yang melakukan suatu delik di
Indonesia”. Perumusan pasal ini menentukan bahwa setiap orang yang
berada dalam wilayah hukum Indonesia dapat dimintakan
pertanggungjawaban pidana atas kesalahan yang dibuatnya.

Contoh :

3. Tanggung jawab administratif.

Pada Pasal 188 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan


menyatakan bahwa Menteri dapat mengambil tindakan administratif
terhadap tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kessehatan yang
melanggar ketentuan sesuai yang diatur dalam undang-undang ini.
Tindakan aministratif dapat berupa:

a. Peringatan secara tertulis.

b. Pencabutan izin sementara atau izin tetap.

Contoh : melakukan praktek kesehatan tanpa memiliki surat izin


praktek, dimana diatur dalam Undang-undang RI Nomor 29 Tahun
2004 tentang Praktik Kedokteran pasal 76 menyebutkan bahwa “setiap
dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik
kedokteran tanpa memiliki surat izin praktik sebagaimana dimaksud
dalam pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga)
tahun atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta
rupiah)”. Selain itu, sanksi dalam pelanggaran hukum administrasi
dapat berupateguran (lisan atau tertulis), mutasi, penundaan kenaikan
pangkat, penurunan jabatan, skorsing bahkan pemecatan

Berdasarkan Pasal 37 UU 38 tahun 2014 tentang Keperawatan, bahwa Perawat


dalam melaksanakan Praktik Keperawatan berkewajiban:

1. melengkapi sarana dan prasarana Pelayanan Keperawatan sesuai dengan


standar Pelayanan Keperawatan dan ketentuan Peraturan Perundang-
undangan;

Contoh : Menyediakan alat – alat yang digunakan untuk merawat pasien.

2. memberikan Pelayanan Keperawatan sesuai dengan kode etik, standar


Pelayanan Keperawatan, standar profesi, standar prosedur operasional, dan
ketentuan Peraturan Perundang-undangan;

Contoh : Perawat Ani yang melayani pasienya dengan sepenuh hati tanpa
pandang bulu, tetap menjaga privasi pasiennya. Melakukan SOP sesuai
prosedur yang telah diatur oleh UU.

3. merujuk Klien yang tidak dapat ditangani kepada Perawat atau tenaga
kesehatan lain yang lebih tepat sesuai dengan lingkup dan tingkat
kompetensinya;

Contoh : Pasien pasca operasi fraktur yang bekas jahitannya membusuk


dan perawat Puskesmas tidak bisa menangani perawatan luka itu karena
alat yang kurang memadai, maka pasien di rujuk ke Rumah Sakit.

4. mendokumentasikan Asuhan Keperawatan sesuai dengan standar;

Contoh : Perawat Susi melakukan pemberian obat terhadap pasien


bernama Dodi, dan perawat Susi menulis semuat tindakan yang
dilakukannya terhadap pasien misalnya waktu pemberian obat dengan
dosis sekian, melalui suntikan diinfus pasien dan lain sebagainya yang
dilakukan sesuai standar asuhan keperawatan .

5. memberikan informasi yang lengkap, jujur, benar, jelas, dan mudah


dimengerti mengenai tindakan Keperawatan kepada Klien dan/atau
keluarganya sesuai dengan batas kewenangannya;
Comtoh : Perawat Nana memiliki pasien bernama Tina dengan kondisi
tangan membengkak dan perawat Nana ingin membersihkan kuku pasien
tersebut. Kemudian perawat Nana menjelaskan maksud dan tujuannya
serta efek yang terjadi ketika pada saat pemotongan kuku terhadap pasien
Tina. Menjelaskan terhadap pasien serta keluarganya agar paham dan
mengerti.

6. melaksanakan tindakan pelimpahan wewenang dari tenaga kesehatan lain


yang sesuai dengan kompetensi Perawat; dan

Contoh : Perawat Ani sedang ada kesibukan yang tidak bisa ditinggal
kemudian perawat Ani meminta pertukaran shift terhadap perawat lainnya.
Yang dimana perawat lain mampu melaksanakan tugas dari perwat Ani.

7. melaksanakan penugasan khusus yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Contoh : Perawat Anita berhasil menjadi PNS perawat yang kemudian


perawat Anita ditugaskan oleh pemerintah untuk bertugas di Puskesmas
Mondokan, dan perawat Anita harus melaksakan apa yang menjadi
tugasnya.

Anda mungkin juga menyukai