Anda di halaman 1dari 88

ANALISIS DAYA DUKUNG LAHAN DAN STRUKTUR EKONOMI

KABUPATEN KARANGANYAR

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Kemiskinan merupakan masalah yang dihadapi oleh setiap negara yang

sedang melakukan pembangunan. Adapun tujuan utama pembangunan adalah

untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat dan

menciptakan masyarakat adil makmur. Dalam artian lain pembangunan dilakukan

untuk memberantas dan mengurangi angka kemiskinan, dikarenakan kemiskinan

sudah dianggap sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya kerawanan sosial

dan kemerosotan lingkungan. Namun disisi lain, kemerosotan daya dukung

lingkungan dapat menjadi penyebab muncul dan berkembangnya kemiskinan.

Salah satu Tujuan didirikannya negara ini adalah seperti yang diamanatkan

dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf

hidup rakyat sehingga terbebas dari kemiskinan dan keterbelakangan. Usaha yang

dilakukan adalah melalui pembangunan ekonomi, dimana segala sumber daya

yang ada dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya agar dapat meningkatkan

pendapatan nasional. Oleh karena itu, agar pembangunan dapat menjadi lebih

terarah dan lancar maka usaha ini harus dibarengi dengan segala daya untuk

meletakkan landasan yang kuat bagi pembangunan. Proses pembangunan seperti

ini merupakan suatu usaha jangka panjang yang memerlukan data penunjang

untuk setiap tahap dan penunjangnya (Inkesra Kab. Karanganyar, 1999: 1)

Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai

petani. Oleh kerena itu wajar apabila dalam beberapa Pelita, sektor pertanian selalu

1
mendapatkan prioritas utama. Di Indonesia, sektor pertanian dalam arti luas dibagi menjadi

lima sektor, yaitu; subsektor tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan dan

perikanan. Program pembangunan sektor pertanian meliputi program peningkatan kelima

subsektor tersebut, serta peningkatan pendapatan petani, pekebun, peternak, dan nelayan.

Pembangunan ekonomi dengan prioritas pada sektor pertanian merupakan

kebijaksanaan yang sudah populer sejak awal tahun 60-an. Dimana mulai 1 April

1969 kita melaksanakan REPELITA yang titik beratnya adalah pada

pembangunan sektor pertanian. Sektor pertanian mendapat prioritas utama karena

sektor ini ditinjau dari berbagai segi memegang peranan yang dominan dalam

perekonomian nasional terutama dilihat dari sumbangannya terhadap pendapatan

perkapita dan penyerapan tenaga kerja.

Secara umum suatu perekonomian baru dapat dinyatakan dalam keadaan

berkembang jika pendapatan perkapita menunjukkan kecenderungan meningkat

pada jangka panjang. Akan tetapi kenaikan pendapatan perkapita suatu negara

belum berarti kalau pendapatan masyarakat di semua daerah juga ikut mengalami

kenaikan. Karena pada suatu negara biasanya terjadi ketidakmerataan distribusi

pendapatan antar lapisan masyarakat.

Ketimpangan distribusi pendapatan tersebut bukan saja berlangsung secara

nasional saja, tetapi secara regional atau antar wilayah berlangsung pula

ketidakmerataan distribusi pendapatan antar lapisan masyarakat. Bahkan diantara

wilayah–wilayah di Indonesia terdapat ketimpangan pendapatan itu sendiri. Jadi

dalam perspektif antar wilayah, ketidakmerataan terjadi baik dalam tingkat

pendapatan antar wilayah yang satu dengan wilayah yang lain, maupun dalam hal

distribusi pendapatan dikalangan penduduk masing-masing wilayah. Hal tersebut


kebanyakan disebabkan oleh tidak samanya potensi yang dimiliki oleh masing-

masing daerah. Dalam rangka memanfaatkan potensi sumber daya yang terdapat

di daerah, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, modal, teknologi dan

kelembagaan, perlu dilakukan secara efisien dalam mengelolanya. Sehingga

dengan adanya kombinasi dari beberapa input tersebut akan dihasilkan barang

dan jasa yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup masyarakat dan bangsa.

Dalam melaksanakan pembangunan yang berlangsung saat ini, pemanfaatan

potensi-potensi yang ada di daerah perlu digali dan dikembangkan untuk

menciptakan suatu nilai tambah, baik bagi daerah itu maupun bagi daerah lain.

Dilain pihak, sebagaimana tercantum dalam GBHN 1998, pembangunan

nasional saat ini berasaskan pemerataan manfaat. Oleh karena itu berbagai usaha

haruslah dilakukan untuk dapat menaikkan tingkat pendapatan penduduk. Salah

satu usaha yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan

menambah lapangan kerja bagi masyarakat. Akan tetapi pertambahan penduduk

yang tinggi sering tidak seimbang dengan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan

produksi pangan. Akibatnya, tekanan penduduk akan melebihi daya dukung lahan

dalam mencukupi kebutuhan akan pangan. Yang dimaksud daya dukung lahan

adalah kemampuan lahan untuk mendukung kehidupan manusia dan makhluk

hidup lainnya. Konsep daya dukung disini adalah batas teratas dari pertumbuhan

populasi, dimana jumlah populasi sudah tidak dapat didukung lagi oleh sarana,

sumber daya dan lingkungan yang ada. Apabila lahan terus diolah dan dikuras

untuk memenuhi kebutuhan hidup, akibatnya lingkungan hidup semakin rusak dan

berkurang kemampuan maupun produktifitasnya. Bila keadaan ini berlangsung


terus-menerus, maka tentu saja akan merugikan daerah itu sendiri dan secara tidak

langsung juga mempengaruhi keadaan lingkungan yang lebih luas lagi.

Tersimpul dalam cita-cita masyarakat maju, adil dan makmur berdasarkan

Pancasila dalam kerangka acuan GBHN adalah ciri-ciri “keselarasan hubungan”

manusia dengan masyarakat dan manusia dengan alam. Menyadari hubungan

timbal balik ini, maka sifat, krakter, wajah dan ciri-ciri manusia Indonesia yang

kita cita-citakan adalah yang tidak merusak lingkungan, bahkan sebaliknya

meningkatkan lingkungan hidup sebagai manifestasi dari keinginan mencapai

kualitas hidup yang lebih berketuhanan dan manusiawi

Ketimpangan pembangunan di Indonesia selama bukan saja berupa

ketimpangan hasil–hasilnya seperti dalam hal pendapatan perkapita, tetapi juga

ketimpangan kegiatan atau proses pembangunan itu sendiri. Bukan pula semata–

mata berupa ketimpangan spasial atau antar daerah, antar daerah perdesaan

dengan perkotaan, tetapi juga ketimpangan sektoral dan regional.

Selama pembangunan berlangsung, terjadi pula perubahan dan pergeseran

diantara sektor dalam satu wilayah. Untuk mengetahui perubahan dan pergeseran

struktur ekonomi wilayah tersebut, dapat menggunakan tinjauan teori ekonomi

basis, dimana akan ada sektor yang berfluktuasi menjadi sektor basis dan non

basis. Selanjutnya sektor-sektor tersebut dapat dibandingkan dengan pertumbuhan

sektor yang lebih luas. Apabila komponen pertumbuhan proporsional suatu sektor

positif, maka sektor yang bersangkutan cepat pertumbuhannya, dan memberikan

pengaruh yang positif kepada perekonomian yang lebih luas, dan hal ini berlaku

sebaliknya. Untuk komponen pertumbuhan daya saing wilayah jika nilainya untuk
suatu sektor positif, maka keunggulan komparatif dari sektor tersebut meningkat

dalam perekonomian wilayah yang lebih luas, demikian pula sebaliknya.

Sehubungan dengan perencanaan pembangunan di suatu daerah maka

sejak tahun 1974 dibentuklah sebuah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

(BAPPEDA) pada tiap–tiap propinsi yang bertugas membantu Gubernur dalam

membuat perencanaan, pengawasan dan koordinasi dari proyek-proyek sektoral

yang ada di daerah. Dan pada tahun 1980 dibentuk pula BAPPEDA Tingkat II

yang membantu Bupati dan Walikota di daerahnya masing-masing.

Memperhatikan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai masalah

potensi wilayah, daya dukung lingkungan dan struktur ekonomi, dengan mengambil daerah

penelitian di Kabupaten Karanganyar. Adapun judul dalam skripsi ini adalah: “ANALISIS

DAYA DUKUNG LAHAN DAN STRUKTUR EKONOMI KABUPATEN

KARANGANYAR “.

B. PERUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana daya dukung lahan di Kabupaten Karanganyar.

2. Bagaimana struktur ekonomi Kabupaten Karanganyar, dan sektor mana

yang mempunyai prioritas dan potensial untuk dikembangkan di masa

yang akan datang

C. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui daya dukung lahan di Kabupaten Karanganyar.


2. Untuk mengetahui sektor atau subsektor yang mempunyai potensi dan

prioritas untuk dapat dikembangkan di masa yang akan datang.

Hasil-hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat pihak-pihak yang

membutuhkan, antara lain:

1. Bagi kalangan akademisi hasil-hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan

informasi untuk mengkaji masalah-masalah pembangunan daerah maupun sebagai bahan

referensi bagi penelitian-penelitian sejenis

2. Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai daya dukung lahan, deskripsi

struktur ekonomi, khususnya basis ekonomi, serta sektor atau subsektor yang mempunyai

potensi dan prioritas untuk dikembangkan di Kabupaten Karanganyar

3. Memberikan informasi kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar dalam

menyusun perencanaan dan kebijakan pembangunan daerah

4. Bagi penulis, sebagai aplikasi dan penerapan teori ekonomi pembangunan

yang penulis dapatkan selama duduk di bangku kuliah.

D. KERANGKA PEMIKIRAN

Untuk memudahkan kegiatan penelitian, maka digunakan kerangka pemikiran yang skematis

sebagai berikut:

Kebijaksanaan pembangunan
Daya Dukung Lahan

Proses pembangunan
Ø Luas lahan produktif untuk pertanian
Ø Luas lahan minimal untuk hidup layak
Ø Jumlah penduduk
Ø Prosentase petani
Ø Pertumbuhan penduduk
Ø Yield dari sektor pertanian
Ø Yield diluar sektor pertanian Pertumbuhan ekonomi
Perubahan
Gambar 1.1 Skema Kerangka Pemikiran

Analisis terhadap potensi wilayah yang dimiliki Kabupaten Karanganyar akan menunjukkan

seberapa besar tekanan penduduk terhadap lahan. Setelah mengetahui kemampuan daya

dukung lahan maka dapat dijadikan dasar untuk menentukan kebijakan pembangunan yang

harus diambil oleh pemerintah daerah. Pembangunan yang tepat sasaran akan memacu

pertumbuhan dan perubahan struktur ekonomi yang nantinya dapat meningkatkan

kesejahteraan masyarakat. Sehingga hasil dari kebijakan pembangunan yang memperhatikan

potensi wilayah dan daya dukung lahan adalah meningkatnnya kesejahteraan masyarakat.

E. HIPOTESIS

Sejalan dengan latar belakang masalah, perumusan masalah dan tujuan penelitian, maka

akan diuji beberapa hipotesis sebagai berikut:

1. Daya dukung lahan Kabupaten Karanganyar diduga sudah melebihi ambang batas

kemampuan dalam mencukupi kebutuhan pangan penduduk.

2. Sektor yang berperan terhadap struktur ekonomi di Kabupaten Karanganyar

diduga adalah sektor industri, pertanian, dan perdagangan. Sedangkan yang

mempunyai prioritas dan potensial untuk dikembangkan di masa-masa yang

akan datang adalah sektor industri, sektor pertanian, dan jasa-jasa


G. METODOLOGI PENELITIAN

1. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini merupakan suatu bentuk penelitian deskriptif analitis yang

menganalisa potensi wilayah, daya dukung lahan, dan struktur ekonomi.

Adapun yang diambil sebagai daerah penelitian adalah Kabupaten

Karanganyar

2. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan adalah data sekunder, yang diperoleh dari catatan

dan dokumen-dokumen yang ada pada Kantor Statistik Kabupaten

Karanganyar, Bappeda, Dinas Pertanian dan tanaman pangan, Dinas

Pendapatan Daerah, dan instansi terkait lainnya di Kabupaten Karanganyar,

serta studi pustaka yang berhubungan dengan penelitian ini.

3. Variabel-variabel yang diperlukan dalam penelitian ini diantaranya adalah:

- Penduduk dengan segala aspeknya.

- Harga beras dan hasil pokok pertanian di Kabupaten Karanganyar pada

tingkat petani tahun 2002.

- Kontribusi sektor-sektor PDRB Kabupaten Karanganyar tahun 1998-2002.

- Luas lahan produktif di Kabupaten Karanganyar meliputi lahan sawah, tegal

dan pekarangan.

- PDRB Propinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Karanganyar tahun 1998-2002.

- Produksi pertanian meliputi lahan sawah, tegal dan pekarangan di

Kabupaten Karanganyar tahun 1998-2002.


- Biaya produksi komoditi tanaman pangan di Kabupaten Karanganyar.

4. Analisis Data

Dalam usaha mencapai tujuan penelitian dan menguji hipotesis dalam

penelitian yang bersifat deskriftif analitis ini digunakan beberapa alat

analisis matematis sebagai berikut:

a. Daya Dukung Lahan

Untuk menguji hipotesis pertama tentang daya dukung lahan di

Kabupaten Karanganyar apakah masih dapat menampung tekanan

penduduk ataukah tidak, dipakai rumus tekanan penduduk yang

menggunakan konsep daya dukung lahan yang dikemukakan oleh Prof.

Otto Sumarwoto sebagai berikut:

fPo (1 + i) n
TP = (1-α)Z
L

Dimana:

TP = Tekanan penduduk

α =Pendapatan di luar sektor pertanian

Z = Luas lahan minimum untuk hidup layak

f = Prosentase petani

Po = Jumlah penduduk pada tahun dasar

i = Pertumbuhan penduduk
L = Luas lahan produktif pertanian

n = Periode tahun

Dengan batasan:

TP < 1 = Daya dukung lahan masih bisa menampung tekanan

penduduk.

TP >1 = Daya dukung lahan sudah tidak bisa menampung tekanan

penduduk (melebihi ambang batas).

TP = 1 = Ambang batas.

b. Analisis Shift Share.

Untuk menguji hipotesis kedua mengenai perubahan struktur ekonomi di

Kabupaten Karanganyar, digunakan metode Shift Share analisis dengan

membagi perekonomian di Kabupaten Karanganyar menjadi tiga

komponen yaitu: pertama komponen pertumbuhan daerah pengamatan

Propinsi Jawa Tengah, kedua komponen pertumbuhan proporsional, dan

ketiga komponen pertumbuhan daya saing Kabupaten Karanganyar.

Ketiga hubungan komponen tersebut dirumuskan sebagai berikut:

V* = (V1/V) + (Vi1/Vi – V1/V) + (Yi1/Yi - Vi1/Vi)

Keterangan:

V* =Perubahan pendapatan wilayah Kabupaten Karanganyar.


V1 = Pendapatan total wilayah Propinsi Jawa Tengah pada tahun

akhir.

V = Pendapatan total wilayah Propinsi Jawa Tengah pada tahun

dasar.

Vi1 = Pendapan sektor I wilayah Propinsi Jawa Tengah pada tahun

akhir.

Vi = Pendapatan sektor I wilayah Propinsi Jawa Tengah pada tahun

dasar.

Yi1 =Pendapatan sektor I wilayah perencanaan Kabupaten

Karanganyar pada tahun akhir.

Yi =Pendapatan sektor I wilayah perencanaan Kabupaten

Karanganyar pada tahun dasar.

Apabila komponen pertumbuhan proporsional suatu sektor > 0,

maka sektor yang bersangkutan cepat pertumbuhannya dan memberikan

pengaruh positif terhadap perekonomian wilayah. Dan sebaliknya bila <

0, maka wilayah tersebut sebagian besar penduduknya bersumber dari

sektor yang lambat pertumbuhannya, sehingga sektor yang bersangkutan

akan tumbuh dibawah pertumbuhan tingkat wilayah pengamatan.

Khusus untuk komponen pertumbuhan daya saing wilayah, jika nilainya

untuk suatu sektor > 0, maka keunggulan komparatif dari sektor tersebut

meningkat dalam perekonomian wilayah yang lebih luas dan sebaliknya

bila < 0.
c. Location Quatient ( LQ)

Untuk menguji hipotesis kedua tentang potensi ekonomi, digunakan

analisis LQ. Metode ini digunakan untuk mengukur konsentrasi dari

suatu kegiatan atau industri di suatu daerah dengan jalan

membandingkan peranannya dalam perekonomian daerah itu dengan

peranan kegiatan atau industri sejenis dalam perekonomian yang lebih

luas (regional atau nasional).

Secara matematis, Location Quatient dapat dirumuskan sebagai berikut:

NTbi / PDRB
LQ =
NTbi * / PDRB *

Keterangan:

NT bi = Nilai tambah bruto sektor I di Kabupaten Karanganyar.

PDRB = PDRB Kabupaten Karanganyar.


*
NT bi = Nilai tambah bruto sektor I pada tingkat propinsi Jawa

Tengah.

PDRB * = PDRB pada tingkat propinsi Jawa Tengah.

Hasil perhitungan ini akan menghasilkan sektor basis dan non basis.

Apabila LQ >1, sektor yang bersangkutan produksinya sudah dapat

memenuhi kebutuhan sendiri bahkan sudah bisa mengekspor ke daerah

lain. Berarti sektor tersebut dikatakan mempunyai keunggulan

komparatif dan disebut sebagai sektor basis. Jika LQ< 1, sektor tersebut

produksinya belum dapat memenuhi kebutuhan daerah sendiri,


disebabkan oleh kurangnya peranan sektor tersebut dalam pembangunan

daerah. Karena tidak memiliki keunggulan komparatif, maka sektor

tersebut disebut sektor non basis.

d. Gabungan LQ dan SSA

Analisis selanjutnya yang digunakan untuk mengetahui sektor yang

mempunyai prioritas untuk dikembangkan di masa yang akan datang

adalah dengan jalan menggabungkan hasil analisis Shift Share dan

Location Quotient. Hasil dari analisa basis ekonomi dan struktur

ekonomi akan digabungkan kemudian dirangking, sehingga sesuai

dengan kedua kriteria analisa tersebut akan dapat disusun program

penanganannya.
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pembangunan Ekonomi

1. Arti Pembangunan Ekonomi

Pembangunan ekonomi adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan suatu

negara untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan taraf hidup masyarakatnya.

Dengan batasan tersebut, maka pembangunan ekonomi pada umumnya

didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita

penduduk suatu negara meningkat dalam jangka panjang. Dari batasan dan

definisi tersebut dapat diperoleh pengertian bahwa pembangunan ekonomi adalah:

1) Suatu proses, yang berarti perubahan secara terus menerus.

2) Usaha untuk manaikkan pendapatan perkapita.

3) Kenaikan pendapatan perkapita yang berlangsung dalam jangka

panjang (Lincolin Arsyad, 1993: 4).

Definisi pembangunan ekonomi Menurut Meier adalah suatu proses

dimana pendapatan perkapita suatu negara meningkat selama kurun waktu yang

panjang. Dengan catatan; bahwa jumlah penduduk yang hidup dibawah garis

kemiskinan absolut tidak meningkat dan distribusi pendapatan tidak semakin

timpang (Meier dalam Mudrajad Kuncoro, 1997: 17).

Pembangunan ekonomi menurut Todaro adalah terdapatnya suatu proses

multidimensional yang melibatkan reorganisasi dan reorientasi dari semua sistem

ekonomi dan sosial sebagai tambahan terhadap perbaikan-perbaikan di bidang

14
penghasilan dan output, khususnya diadakan perombakan-perombakan dalam

lembaga, struktur sosial, administrasi, serta sikap mental yang mengubah adat

kebiasaan masyarakat. (Todaro, 1983: 124)

Menurut Suparmoko, pembangunan atau perkembangan ekonomi adalah

kegiatan yang menunjukkan perubahan-perubahan dalam struktur output dan

alokasi input pada berbagai sektor perekonomian, disamping kenaikan output.

Jadi pembangunan atau perkembangan selalu dibarengi dengan pertumbuhan,

tetapi pertumbuhan belum tentu disertai dengan pembangunan. (Irawan dan M.

Suparmoko, 1987: 5)

2. Tujuan Pembangunan Ekonomi

Pembangunan ekonomi menurut Meier bertujuan untuk membangun

identitas nasional atau kepribadian bangsa. Adapun cara untuk mencapai tujuan

ini sangat dipengaruhi pandangan hidup bangsa tersebut dalam upaya menaikkan

output nasional dan pendapatan masyarakat. (Meier dalam Mudrajad Kuncoro,

1997: 17)

Irawan dan Suparmoko mengartikan pembangunan ekonomi sebagai usaha

untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa yang diukur melalui tinggi

rendahnya pendapatan perkapita. Jadi tujuan pembangunan ekonomi disamping

meningkatkan pendapatan nasional riil, juga untuk meningkatkan produktivitas

(Irawan dan M. Suparmoko, 1987: 7)

Bagi Indonesia, tujuan pembangunan adalah seperti yang tercantum dalam

pembukaan UUD 1945, yaitu: “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh

tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum,


mencerdaskan kehidupan bangsa...”. Dalam GBHN 1998 yang merupakan

penjabaran dari UUD 1945, dalam bab II disebutkan bahwa tujuan pembangunan

nasional adalah mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Sedangkan dalam bab

III mengenai Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang, menyatakan bahwa

pelaksanaan pembangunan disamping meningkatkan pendapatan nasional,

sekaligus harus menjamin pendapatan merata bagi seluruh rakyat dalam rangka

mewujudkan asas keadilan sosial.

Sehingga dari pengertian-pengertian diatas dapat diambil kesimpulan

bahwa pada dasarnya pembangunan ekonomi merupakan suatu konsep yang

dinamis, yang berubah dari waktu ke waktu dan ditandai oleh adanya proses

peralihan atau transisi dari tingkat ekonomi yang bercorak sederhana ke tingkat

ekonomi yang lebih maju. Dimana dalam transisi tersebut terlaksana suatu

transformasi yang ditandai oleh pergeseran kegiatan dari sektor primer ke sektor

sekunder yang meliputi: industri, jasa, manufaktur dan konstruksi. Hal ini berarti

bahwa dalam setiap pembangunan disertai oleh adanya suatu proses perubahan

yang lebih baik dan terarah, dan proses perubahan tersebut baik secara langsung

maupun tidak langsung mempengaruhi peningkatan pendapatan perkapita

masyarakat dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

B. Sumber Daya Alam

Sumber daya alam adalah sesuatu yang berguna dan mempunyai nilai di

dalam kondisi dimana kita menemukannya. Sumber daya alam meliputi semua

yang terdapat di bumi, baik yang hidup maupun benda mati yang berguna bagi
manusia, terbatas jumlahnya, dan pengusahaannya memenuhi kriteria-kriteria

teknologi, ekonomi, sosial, dan lingkungan (Sukanto Reksodiprodjo, 1990: 5)

Menurut Moh Soerjani, sumber daya alam adalah suatu sumber daya yang

terbentuk karena kekuatan alamiah misalnya tanah, air dan perairan, biotis, udara

dan ruang, mineral, tentang alam (landscape), panas bumi dan gas bumi, angin,

pasang surut atau arus laut (Moh Soerjani, 1987: 18).

Sebagai modal dasar, sumber daya alam harus dimanfaatkan sebaik-

baiknya dengan cara-cara yang tetap menjaga kelestarian alam dan

memperhatikan kemampuan dan daya pulih dari sumber daya alam yang ada,

sehingga manfaat dari sumber daya yang bersangkutan benar-benar dapat

dirasakan benar untuk pembangunan berkelanjutan di masa-masa yang akan

datang.

C. Kependudukan

Penduduk mempunyai fungsi ganda didalam perekonomian suatu negara.

Dalam konteks pasar, ia berada baik disisi permintaan maupun disisi penawaran.

Dilihat dari sisi permintaan, penduduk adalah konsumen, sumber permintaan akan

barang dan jasa. Dilihat dari sisi penawaran, penduduk adalah produsen yang

menjadi sumber penyediaan barang dan jasa. Dalam konteks pembangunan,

pandangan terhadap penduduk terpecah menjadi dua, yaitu ada yang menganggap

sebagai penghambat pembangunan, dan ada pula yang yang menganggap sebagai

pemacu pembangunan.
Tekanan penduduk dalam pembangunan sesungguhnya tidak terlalu

berhubungan dengan aspek jumlah, melainkan lebih terkait dengan variabel-

variabel kependudukan lain dan karakteristik penduduk yang bersangkutan.

Variabel-variabel itu misalnya: sebaran, komposisi, kepadatan dan pertumbuhan

penduduk. Sedang karakteristik yang dimaksud misalnya tingkat pendapatan,

kesehatan dan pendidikan (Dumairy, 1997: 69)

Pertumbuhan penduduk umumnya diukur dengan laju pertumbuhan

penduduk. Laju pertumbuhan penduduk (rate of growth) merupakan suatu ukuran

yang menunjukkan berapa besar prosentase pertumbuhan penduduk tersebut tiap

tahunnya.

Untuk menghitung rata-rata tingkat pertumbuhan penduduk dalam suatu

periode tertentu, dapat diformulasikan dengan rumus sebagai berikut:

Pn = Po (1 + r) t

Dimana:

Pn = jumlah penduduk pada tahun t

Po = jumlah penduduk pada tahun awal

r = tingkat pertumbuhan penduduk

t = jangka waktu, yang dinyatakan dalam tahun.

(Aris Ananta, 1990: 70)

D. Daya Dukung Lingkungan


Di dalam Ketentuan Umum UU RI no 23 tahun 1997 Pasal 1 Ayat 6

tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, disebutkan bahwa daya dukung

lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung peri

kehidupan manusia dan makhluk hidup lain.

Konsep tentang daya dukung sebenarnya berasal dari pengelolaan hewan

ternak dan satwa liar. Daya dukung itu menunjukkan kemampuan lingkungan

untuk mendukung kehidupan hewan yang dinyatakan dalam jumlah ekor

persatuan luas lahan. Jumlah hewan yang dapat didukung kehidupannya itu

tergantung pada biomas (bahan organik) yang tersedia untuk makanan hewan

dengan perincian sebagai berikut:

1. Daya dukung maksimal, menunjukkan jumlah maksimal hewan yang dapat

didukung persatuan luas lahan. Dengan jumlah hewan yang maksimal,

makanan sebenarnya tidak cukup. Padang penggembalaan akan mengalami

kerusakan karena menjadi padat terinjak-injak, rumput dan tumbuhan lain

termakan lebih cepat daripada kemampuan regenerasinya. Secara umum

lingkungan menjadi rusak, dan apabila berjalan terlalu lama, kerusakan tersebut

akan bersifat tidak terbalikkan.

2. Daya dukung subsisten, jumlah hewan agak kurang. Persediaan makanan lebih

banyak tetapi masih pas-pasan. Hewan masih kurus dan berada dalam ambang

batas antara sehat dan lemah. Mereka masih mudah terserang penyakit dan

hewan pemangsa. Lingkungan juga masih mengalami kerusakan.

3. Daya dukung optimum, jumlah hewan lebih rendah dan terdapat keseimbangan

yang baik antara jumlah dan persediaan makanan. Kecepatan dimakannya


rumput atau tumbuhan lain seimbang dengan kecepatan regenerasi tumbuhan

tersebut. Kondisi tubuh hewan baik; gemuk, sehat dan kuat. Hewan tersebut

tidak mudah terserang penyakit dan hewan pemangsa. Lingkungan tidak

mengalami kerusakan.

4. Daya dukung suboptimum. Jumlah hewan lebih rendah lagi, persediaan

makanan melebihi yang diperlukan. Oleh karena itu kecepatan dimakannya

rumput atau tumbuhan lain lebih rendah dari kecepatan pertumbuhannya.

Akibatnya batang rumput dan tumbuhan lain mengayu dan menjadi keras.

Mutu padang penggembalaan menurun. Jadi sebenarnya terjadi pula kerusakan.

Tapi pada umumnya kerusakan tersebut bersifat terbalikkan.

Pengelolaan lingkungan mengusahakan untuk mendapatkan populasi

hewan pada atau dekat pada daya dukung optimum. Dalam populasi manusia,

daya dukung pada hakekatnya adalah daya dukung wilayah alamiah. Daya dukung

tergantung pada prosentase lahan yang dapat dipakai untuk pertanian persatuan

luas dan waktu di daerah tersebut.

Dalam masyarakat agraris, daya dukung akan lebih mudah dianalisa

dengan menggunakan daya dukung lingkungan alamiah. Daya dukung tergantung

pada prosentase lahan yang dapat dipakai untuk pertanian dan besarnya hasil

pertanian persatuan luas dan waktu. Makin besar prosentase lahan untuk

pertanian, maka makin besar daya dukungnya. Sedangkan prosentase lahan

ditentukan oleh: kesesuaian tanah untuk pertanian, kebutuhan lahan untuk

keperluan lain disektor pertanian, dan adanya penyakit yang berbahaya. (Otto

Sumarwoto, 1994: 189-195)


Namun dengan berkembangnya zaman, perubahan daya dukung

lingkungan dapat digunakan untuk menganalisis tentang tekanan penduduk,

dimana yang diukur adalah maksimum peduduk yang dapat didukung oleh sumber

daya alam yang berbeda. Karena penduduk tidak semata-mata tergantung pada

sektor pertanian, maka juga diperhitungkan tambahan pendapatan penduduk dari

luar sektor pertanian. Konsep tersebut disajikan dalam rumus matematis sebagai

berikut:

fPo (1 + i) n
TP = (1-α)Z
L

Dimana:

TP = Tekanan penduduk

α =Pendapatan di luar sektor pertanian

Z = Luas lahan minimum untuk hidup layak

f = Prosentase petani

Po = Jumlah penduduk pada tahun dasar

i = Pertumbuhan penduduk

L = Luas lahan pertanian

n = Periode tahun (Soemarwoto, 2001: 41)

Apabila TP < 1, maka lingkungan tersebut masih bisa menampung

jumlah penduduk yang ada. Apabila TP >1 = sudah melebihi ambang


batas daya dukung lahan.sedangkan apabila TP = 1 maka disebut

ambang batas.

Posisi ambang batas untuk hidup layak yang digunakan adalah ukuran

beras dari Sayogya, yaitu setara nilai 2 x 320 kg (beras) = 640 kg/ kapita/ tahun.

Jadi nilai Z disini adalah perbandingan setara biaya hidup layak terhadap hasil

yang diterima dari hasil pertanian (Thee Kian Wie, 1980: 16)

E. Pembangunan Ekonomi Daerah

Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses yang mencakup

pembentukan institusi-institusi baru, pembangunan industri-industri alternatif,

perbaikan kapasitas ekonomi yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang

lebih baik, identifikasi pasar-pasar baru, alih ilmu pengetahuan, dan

pengembangan perusahaan-perusahaan baru. Setiap upaya pembangunan ekonomi

daerah mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang

kerja untuk masyarakat daerah (Lincolin Arsyad, 1999: 107-109)

Ditinjau dari aspek ekonomi, daerah mempunyai tiga pengertian,

1. Daerah homogen, yaitu suatu daerah dianggap sebagai ruang atau space,

dimana kegiatan ekonomi terjadi dan di dalam berbagai pelosok ruang

tersebut terdapat sifat-sifat yang sama. Kesamaan sifat-sifat tersebut antara

lain dapat dilihat dari segi pendapatan perkapita, sosial budaya, letak

geografis dan sebagainya.


2. Daerah nodal, adalah daerah yang dianggap sebagai suatu ekonomi ruang

yang dikuasai oleh satu atau beberapa pusat kegiatan ekonomi.

3. Daerah perencanaan atau daerah administrasi, yaitu suatu daerah adalah

merupaka suatu ekonomi ruang yang berada di bawah suatu administrasi

tertentu, seperti satu propinsi, kabupaten, kecamatan, dan seterusnya. Jadi

daerah disini didasarkan pada pembagian administrasi suatu negara (Lincolin

Arsyad, 1999: 107-109)

F. Perubahan Struktural

Struktur ekonomi sebuah negara dapat dilihat setidak-tidaknya berdasar

empat macam sudut tinjauan, yaitu; pertama tinjauan makro sektoral, kedua

tinjauan keruangan (spasial), ketiga tinjauan penyelenggaraan kenegaraan,

keempat tinjauan birokrasi pengambil keputusan. Nomor satu dan dua merupakan

tinjauan ekonomi murni, sedang tiga dan empat merupakan tinjauan politik.

Penelitian ini berdasarkan pada tinjauan ekonomi murni, dimana dilihat

secara makro sektoral, berdasarkan kontribusi sektor-sektor produksi (lapangan

usaha) dalam membentuk PDRB perekonomian. Sebuah perekonomian dapat

berstruktur agraris (agricultural), industrial, atau niaga (commercial), tergantung

pada sektor produksi apa yang menjadi tulang punggung perekonomian yang

bersangkutan. Tinjauan makro sektoral ini biasanya senada dengan tinjauan secara

spasial, berdasar tinjauan ini sebuah perekonomian dapat berstruktur kedesaan

(tradisional) atau berstruktur kekotaan (modern), tergantung pada apakah wilayah

pedesaan dengan teknologinya yang tradisional yang mewarnai kehidupan


perekonomian itu, ataukah wilayah perkotaan dengan teknologinya yang sudah

relatif lebih modern yang mewarnainya. (Dumairy, 1997: 46-48)

Dalam kerangka pemikiran dan pola pendekatan yang lazim dianggap

sebagai alur utama (main stream), masalah pembangunan ekonomi dilihat sebagai

suatu proses peralihan atau transisi suatu tingkat ekonomi tertentu yang masih

bercorak sederhana dan dalam keadaan terkekang menuju ke tingkat ekonomi

yang lebih maju mencakup kegiatan yang beraneka ragam. Dalam transisi

tersebut, terlaksana suatu penjelmaan (transformasi) dalam arti perubahan pada

perimbangan-perimbangan keadaan yang berkisar pada landasan kegiatan

ekonomi dan melekat pada tata susunan ekonomi dalam kehidupan masyarakat.

Dengan kata lain, pembangunan ekonomi sebagai transisi yang ditandai oleh suatu

transformasi, mengundang perubahan yang mendasar pada struktur ekonomi atau

disebut perubahan struktural (Sumitro Djoyo Hadikusumo, 1994: 90)

Teori perubahan struktural memusatkan perhatiannya pada mekanisme

yang memungkinkan perekonomian negara terbelakang untuk

mentransformasikan struktur perekonomian dalam negeri dari subsisten yang

sangat tradisional ke perekonomian yang modern dan lebih beraneka ragam di

bidang manufaktur dan jasa.

Dalam upaya pengembangan regional, perlu adanya suatu teknik untuk

menganalisa struktur ekonomi dan untuk menentukan atau memilih aktivitas

ekonomi yang akan dikembangkan di suatu daerah. Adapun teknik analisa yang

lazim digunakan adalah teknik Shift Share dan Location Quatient, sebagai berikut:
Analisis Shift Share merupakan teknik yang sangat berguna dalam

menganalisis perubahan struktur ekonomi daerah dibanding dengan perekonomian

yang lebih luas. Tujuan analisis ini adalah untuk menentukan kinerja atau

produktifitas kerja perekonomian daerah dengan membandingkannya dengan

daerah yang lebih luas (regional atau nasional). Analisis ini memberikan data

tentang kinerja perekonomian dalam tiga bidang yang berhubungan satu dengan

yang lain yaitu: pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan cara menganalisis

perubahan pengerjaan agregat secara sektoral dibandingkan dengan perubahan

pada sektor yang sama di perekonomian yang dijadikan acuan. Pergeseran

proporsional (proportional shift), mengukur perubahan relatif, pertumbuhan atau

penurunan pada daerah dibandingkan dengan perekonomian yang lebih besar

yang dijadikan acuan. Pengukuran ini memungkinkan kita untuk mengetahui

apakah perekonomian daerah terkonsentrasi pada industri-industri yang tumbuh

lebih cepat dibanding perekonomian yang dijadikan acuan. Pergeseran diferensial

(differential shift), membantu kita dalam menentukan seberapa jauh daya saing

industri lokal (daerah) dengan perekonomian yang dijadikan acuan. Oleh karena

itu jika pergeseran diferensial dari suatu industri adalah positif, maka industri

tersebut lebih tinggi daya saingnya ketimbang industri yang sama pada

perekonomian yang dijadikan acuan (Lincolin Arsyad, 1999: 139-140).

Untuk mengetahui pergeseran struktur ekonomi suatu daerah menurut

Darusman Maan, dapat dibagi dalam tiga komponen yaitu komponen

pertumbuhan daerah pengamatan, komponen pertumbuhan proporsional dan


pertumbuhan daya saing. Ketiga hubungan komponen dimaksud dirumuskan

sebagai berikut:

V* = (V1/V) + (Vi1/Vi – V1/V) + (Yi1/Yi - Vi1/Vi)

Keterangan:

V*= Perubahan pendapatan wilayah perencanaan kabupaten.

V1 = Pendapatan total wilayah propinsi pada tahun akhir.

V = Pendapatan total wilayah propinsi pada tahun dasar.

Vi1= Pendapan sektor I wilayah propinsi pada tahun akhir.

Vi = Pendapatan sektor I wilayah propinsi pada tahun dasar.

Yi1= Pendapatan sektor I wilayah perencanaan kabupaten pada tahun akhir.

Yi = Pendapatan sektor I wilayah perencanaan kabupaten pada tahun dasar.

Ruas pertama dari rumus diatas menyatakan komponen pertumbuhan

wilayah pengamatan (propinsi), ruas kedua menyatakan komponen pertumbuhan

proporsional, dan ruas ketiga menyatakan komponen pertumbuhan daya saing

kabupaten.

Apabila komponen pertumbuhan proporsional suatu sektor > 0, maka

sektor yang bersangkutan cepat pertumbuhannya dan memberikan pengaruh yang

positif terhadap perekonomian wilayah. Dan sebaliknya bila < 0, maka wilayah

tersebut sebagian besar penduduknya bersumber dari sektor yang lambat

pertumbuhannya, sehingga sektor yang bersangkutan akan tumbuh dibawah

pertumbuhan tingkat wilayah pengamatan. Khusus untuk komponen pertumbuhan

daya saing wilayah, jika nilainya untuk suatu sektor > 0, maka keunggulan
komparatif dari sektor tersebut meningkat dalam perekonomian wilayah yang

lebih luas dan sebaliknya bila < 0 (Yusak Adi Nugroho, 2000: 47-48)

Location Quatient (LQ), teknik ini mengukur konsentrasi dari suatu

kegiatan atau industri di suatu daerah dengan jalan membandingkan peranannya

dalam perekonomian daerah itu dengan peranan kegiatan atau industri sejenis

dalam perekonomian yang lebih luas (regional atau nasional).

Dalam hal ini, perekonomian regional dibagi menjadi dua golongan, yaitu;

industri basis dan industri non basis. Yang dimaksud industri basis adalah

kegiatan ekonomi yang melayani pasar di daerah itu sendiri maupun pasar di luar

daerah yang bersangkutan. Sedangkan Industri non basis yaitu industri atau

kegiatan ekonomi yang banyak melayani pasar di daerah itu sendiri (Lincolin

Arsyad, 1999: 140).

Yang dipakai sebagai dasar ukuran penggolongan industri basis dan non

basis dapat berlainan dan disesuaikan dengan kebutuhan. Adapun dalam

penelitian ini, yang digunakan sebagai dasar ukuran adalah pendapatan atau nilai

tambah (value added) masing-masing sektor dalam PDRB.

Secara matematis, Location Quatient dapat dirumuskan sebagai berikut:

NTbi / PDRB
LQ =
NTbi * / PDRB *

Keterangan:

NT bi = Nilai tambah bruto sektor I di daerah x.

PDRB = PDRB Kabupaten x.


NT bi * = Nilai tambah bruto sektor I pada tingkat propinsi.

PDRB * = PDRB pada tingkat propinsi.

Hasil perhitungan ini akan menghasilkan sektor basis dan non basis jika

LQ < 1 Sektor tersebut produksinya belum dapat memenuhi kebutuhan daerah

sendiri, disebabkan oleh kurangnya peranan sektor tersebut dalam pembangunan

daerah. Karena tidak memiliki keunggulan komparatif, maka sektor tersebut

disebut sektor non basis. Apabila LQ > 1, sektor yang bersangkutan produksinya

sudah memenuhi kebutuhan sendiri bahkan sudah bisa mengekspor. Oleh sebab

itu daerah tersebut dikatakan mempunyai keunggulan komparatif dan disebut

sebagai sektor basis.

Dalam perhitungan ini dipergunakan asumsi bahwa penduduk disetiap

daerah mempunyai pola permintaan yang sama dengan pola permintaan pada

daerah yang lebih luas, dan juga bahwa permintaan daerah akan suatu barang,

pertama-tama akan dipenuhi dengan hasil di dareah itu sendiri, dan baru jika

jumlah barang yang diminta melebihi jumlah produksi daerah itu, kekurangannya

diimpor dari daerah lain (Lincolin Arsyad, 1999: 141).

Penggunaan teknik LQ dalam analisis ini mempunyai kelemahan-

kelemahan, diantaranya adalah:

a) Selera dan pola konsumsi masyarakat adalah berlainan di setiap daerah

b) Tingkat konsumsi rata-rata masing-masing barang tidak sama di setiap

daerah

c) Keperluan untuk berproduksi dan produkti


G. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

PDRB adalah keseluruhan nilai tambah yang dihasilkan di suatu daerah

(kabupaten atau propinsi) selama jangka waktu tertentu, sedangkan dalam arti luas

disebut PDB. Perhitungan PDB dan PDRB erat kaitannya dengan konsep nilai

tambah yang dihasilkan oleh barang dan jasa dalam jangka waktu tertentu. Untuk

menghitung PDRB, menurut kantor statistik dan BAPPEDA Kabupaten

Karanganyar Tahun 2000, terdapat empat pendekatan yaitu:

1. Menurut pendekatan produksi untuk menghitung nilai produksi barang dan

jasa yang diproduksi oleh seluruh sektor ekonomi selama setahun di suatu

wilayah, barang dan jasa yang diproduksi dinilai menurut harga produsen,

yaitu harga yang belum termasuk biaya transport dan pemasaran. Nilai barang

dan jasa pada harga produsen ini merupakan nilai produksi bruto (output),

sebab masih termasuk biaya barang dan jasa yang dipakai dan dibeli dari

sektor lain. Maka biaya barang dan jasa yang dibeli dari sektor lain

dikeluarkan sehingga diperoleh nilai produksi netto. Nilai produksi netto ini

yang disebut juga nilai tambah (value added) terdiri dari: upah/gaji, bunga,

sewa tanah, keuntungan dan pajak tidak langsung netto. Apabila didalam nilai

tambah masih tercakup komponen penyusutan dan pajak tidak langsung netto

maka nilai tambah tersebut merupakan nilai tambah bruto atas dasar harga

pasar. Kalau seluruh nilai tambah bruto atas dasar harga pasar dari semua

sektor ekonomi dijumlahkan, maka hasilnya merupakan PDRB atas dasar

harga pasar dan bila penyusutan serta pajak tidak langsung dikeluarkan, maka

akan diperoleh PDRB netto atas dasar biaya faktor (pendapatan regional).
2. Menurut pendekatan pendapatan, dengan cara menjumlahkan balas jasa faktor

produksi, yaitu upah dan gaji, bunga, sewa tanah dan keuntungan, hasil yang

diperoleh merupakan nilai tambah netto atas dasar biaya faktor. Apabila nilai

tambah netto dari seluruh sektor ekonomi dijumlahkan, maka akan diperoleh

PDRB atas dasar biaya faktor dan bilamana diinginkan sampai dengan konsep

nilai tambah bruto atas dasar harga pasar, maka harus ditambahkan

penyusutan dan pajak tidak langsung netto.

3. Menurut pendekatan pengeluaran, yang dihitung hanya nilai barang dan jasa

yang berasal dari produksi domestik saja, maka komponen seperti nilai

konsumsi oleh rumah tangga, pemerintah, yayasan sosial, pembentukan model

dan ekspor harus dikurangi dengan barang dan jasa yang dihasilkan oleh luar

daerah atau wilayah. Setelah dijumlahkan maka akan diperoleh PDRB atas

dasar harga pasar.

4. Metode alokasi, dipakai bila ketiga metode diatas tidak memungkinkan untuk

digunakan, maka digunakan metode ini dengan cara menggunakan indikator-

indikator yang dapat menunjukkan peranan suatau cabang terhadap pusat.

Indikator tersebut dapat berupa output, jumlah karyawan dan sebagainya.

Metode ini sering disebut metode tidak langsung, sedang ketiga metode

sebelumnya disebut metode langsung. Hasil dari metode langsung akan lebih

mendekati kenyataan daripada metode tidak langsung.

H. Penelitian Terdahulu

1. Daya dukung lahan


Penduduk dan lingkungan merupakan dua variabel yang saling berkaitan.

Penduduk yang semakin bertambah menuntut kemampuan lingkungan baik dalam

menampung pertambahan penduduk maupun dalam mencukupi kebutuhan akan

pangan.

Salah satu penelitian tentang daya dukung lahan adalah yang dilakukan oleh

Risya Fitri Puji Astuti dengan judul “ Analisis Daya Dukung Wilayah, Distribusi

Pendapatan dan Mutu Hidup Masyarakat Pantai di Wilayah Kabupaten Pati“.

Dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa tekanan penduduk di Kabupaten

Pati tahun 2000 untuk daerah subsektor perikanan sebesar 1,03 dan diprediksikan

akan naik menjadi 1,07 untuk tahun 2005 sehingga menurut kriteria tekanan

penduduk, maka wilayah Kabupaten Pati termasuk sudah melebihi ambang batas

daya tampung, yang artinya jumlah penduduk sudah melebihi kemampuan daya

tampung lahan dalam mencukupi kebutuhan pangan.

2. Perubahan Struktur Ekonomi.

Salah satu penelitian tentang perubahan struktur ekonomi, dilakukan oleh

Sunarno, dengan judul “Analisis Daya Dukung dan Perubahan Struktur Ekonomi

Kabupaten Dati II Sragen“. Dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa

perekonomian Kabupaten Dati II Sragen, berdasarkan komposisi struktur

perekonomian yang paling dominan adalah sektor pertanian, karena sektor

pertanian memberi kontribusi paling besar terhadap PDRB, namun peranannya

dari tahun ke tahun ada kecenderungan menurun, yaitu sebesar 45% pada tahun

1994 menjadi 40,03 % pada tahun 1998.


Penelitian yang lain adalah penelitian kelompok oleh Drs. Hari Murti, M.Si,

dkk, yang berjudul “Analisis Basis Ekonomi, Penerimaan dan Pembiayaan

Pembangunan di Wilayah Subosukowonosraten” dengan menggunakan analisa

MRP dan LQ. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten

Karanganyar mempunyai sektor unggulan yang dominan, yaitu sektor

pertambangan dan galian (LQ= 1,97), sektor industri pengolahan (LQ = 1,66),

sektor gas, listrik dan air bersih (LQ =1,35), dan sektor jasa-jasa dengan LQ =

1,09. Sementara kegiatan yang potensial yang dapat dikembangkan adalah sektor

pertanian, bangunan dan sektor pengangkutan dan jasa.

BAB III

GAMBARAN UMUM KABUPATEN KARANGANYAR

A. Keadaan Geografis

1. Letak Geografis

Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu Kabupaten di

Propinsi Jawa Tengah yang berbatasan dengan Kabupaten Sragen

disebelah utara, Propinsi Jawa Timur di sebelah timur, Kabupaten

Wonogiri dan Kabupaten Sukoharjo serta Kotamadya Surakarta di sebelah

selatan dan Kabupaten Boyolali di sebelah barat.


Bila dilihat dari garis bujur dan lintang, Kabupaten Karanganyar

terletak antara 110o.40”–110o.70” Bujur Timur dan 7o.28”-7o.46” Lintang

Selatan. Ketinggian rata-rata 511 meter diatas permukaan air laut serta
o
beriklim tropis dengan temperatur 22 - 31 o. Berdasarkan data dari 6

stasiun pengukur yang ada di Kabupaten Karanganyar, banyaknya hari

hujan selama tahun 2002 adalah 84 hari dengan rata-rata curah hujan 1.151

mm, dimana curah hujan tertinggi terjadi pada Bulan Maret dan terendah

pada Bulan Juli

2. Luas Wilayah

Luas wilayah Kabupaten Karanganyar adalah 77.378,6374 Ha,

dimana penggunaan tanah sawah seluas 22.882,9496 Ha (29,57 %),

meliputi irigasi teknis seluas 7.891,9909 Ha (10,20 %), irigasi setengah

teknis 6.149,6653 Ha (7,93 %), sederhana 7.142,3593 Ha (9,23 %) dan

tadah hujan 1.698,9341 Ha (2,20 %) serta luas tanah kering 54.495,6898

Ha (70,43%). Sementara itu, luas tanah untuk pekarangan/bangunan

20.631,2973 Ha dan luas untuk tegalan/ kebun 17.945,4868 Ha. Untuk

lebih jelasnya, tersaji dalam tabel berikut ini:

Tabel: 3.1. Luas wilayah Kabupaten Karanganyar Tiap Kecamatan, Dirinci

Lahan Sawah dan Lahan Bukan Sawah

No. Kecamatan Lahan Sawah Lahan Bukan Sawah Jumlah


1 2 3 4 5
1 Jatipuro 1463,0000 2573,4957 4.036,4957
2 Jatiyoso 1317,1025 5399,3855 6.716,4880
3 Jumapolo 1843,2700 3723,7510 5.567,0210
4 Jumantono 1579,6960 3775,7450 5.355,4410
5 Matesih 1293,4406 1333,1921 2.626,6325
6 Tawangmangu 712,2942 6290,8703 7.003,1645
7 Ngargoyoso 689,9520 5843,9900 6.533,9420
8 Karangpandan 1552,7170 1858,3630 3.411,0800
9 Karanganyar 1783,1500 2519,4882 4.302,6382
10 Tasikmadu 1513,8119 1245,9181 2.759,7300
11 Jaten 1270,1960 1284,6140 2.554,8100
12 Colomadu 750,3000 813,8650 1.564,1650
13 Gondangrejo 1137,7441 4542,2078 5.679,9519
14 Kebakkramat 2286,1100 1359,5235 3.645,6335
15 Mojogedang 2023,7065 3307,1890 5.330,8955
16 Kerjo 1127,3358 3554,9377 4.682,2735
17 Jenawi 539,1232 5069,1519 5.608,2751

Jml. Th. 2002 22.882,9496 54.495,6868 77.378,6374


Jml. Th. 2001 22.912,4996 54.466,1378 77.378,6374
Jml. Th. 2000 22.956,7537 54.421,8837 77.378,6374
Jml. Th. 1999 23.061,9402 54.316,6972 77.378,6374
Jml. Th. 1998 23.097,4105 54.281,2269 77.378,6374
Sumber: Karanganyar Dalam Angka 2002

Dari tabel diatas, apabila dilihat menurut kecamatan, maka

Kecamatan yang mempunyai wilayah paling luas adalah Kecamatan

Tawangmangu disusul Kecamatan Jatiyoso dan Ngargoyoso, dimana lahan

di kecamatan tersebut masih banyak yang berupa pegunungan dan

perbukitan. Sedang kecamatan yang mempunyai luas wilayah paling

sempit adalah Kecamatan Colomadu, yang berbatasan langsung dengan

kota Surakarta.

Tabel 3.2. Penggunaan Tanah Sawah dan Tanah Kering di Kabupaten

Karanganyar Tahun 2002

Jenis Tanah Luas (Ha) Persentase

1. Tanah sawah

a) Irigasi teknis 7891,9909 10,20


b) Irigasi ½ teknis 6149,6653 7,95

c) Sederhana 7142,3593 9,23

d) Tadah hujan 1698,9341 2,20

2. Tanah kering

a) Pekarangan/ bangunan 20631,2973 26,66

b) Tegaalan/ kebun 17945,4868 23,19

c) Padang gembala 257,2537 0,33

d) Tambak/ kolam 25,5344 0,03

e) Rawa 0 0

f) Hutan nrgara 9.729,4995 12,57

g) Perkebunan 3.251,5006 4,20

h) Lain-lain 2655,1155 3,43

Jumlah 1+2 77.378,6374 100

Sumber: Karanganyar Dalam Angka 2002

3. Pembagian Jenis Tanah

Jenis tanah di Kabupaten Karanganyar berbeda-beda pada tiap

kecamatan, yang disebabkan oleh perbedaan struktur dan ketinggian tanah

di masing-masing daerah, dengan pembagian sebagai berikut:

Tabel: 3.3. Jenis Tanah Menurut Kecamatan di Kabupaten Karanganyar

NO KECAMATAN JENIS TANAH


1 Jatipuro -Litosol coklat kemerahan

2 Jatiyoso -Litosol coklat kemerahan


-Kompleks Andosol Coklat, Andosol coklat kekuningan dan Litosol

3 Jumapolo -Litosol Coklat Kemerahan

4 Jumantono -Litosol Coklat Kemerahan


5 Matesih -Mediteran Coklat, Litosol Coklat

6 Tawangmangu -Kompleks Andosol Coklat, Andosol Coklat Kekuningan dan Litosol

7 Ngargoyoso -Kompleks Andosol Coklat, Andosol Coklat Kekuningan dan Litosol

8 Karangpandan -Mediterania Coklat Tua

9 Karanganyar -Maditeran Coklat

10 Tasikmadu -Mediteran Coklat

11 Jaten -Aluvial Kelabu, Grumosol Kelabu

12 Colomadu -Regosol Kelabu

13 Gondangrejo -Asosiasi Grumosol Coklat Tua dan Mediteran Coklat Kemerahan

14 Kebakkramat -Aluvial Kelabu


-Asosiasi Aluvial Kelabu dan Aluvial Coklat Kelabu
-Mediteran Coklat, Asosiasi Grumosol Kelabu Tua dan Mediteran Coklat
Kemerahan

15 Mojogedang -Litosol Coklat


-Mediteran Coklat

16 Kerjo -Litosol Coklat

17 Jenawi -Litosol Coklat, Mediteran Coklat Kemerahan


-Kompleks Andosol Coklat Kekuningan dan Litosol

Sumber: Dipertan Kabupaten Karanganyar.

B. Pembagian Wilayah Administrasi

Kabupaten Karanganyar terdiri dari 17 Kecamatan yang meliputi 15

kelurahan dan 162 desa, dimana 11 diantaranya berstatus swadaya, 119

berstatus swakarsa, dan 47 berstatus Swasembada. Dari 177 desa/kelurahan

tersebut, dibagi atas 1.091 dusun, 2.313 dukuh, 1.876 RW dan 6.130 RT.

Pada tahun 2002 tercatat sebanyak 195.761 rumah tangga atau

mengalami pertumbuhan 2,59 % dari tahun 2001. Rata-rata banyaknya

anggota rumah tangga cenderung turun, dimana pada tahun 2002 sebesar 4,16

jiwa/ rumah tangga. Lebih jelas tentang pembagian wilayah pemerintahan

Kabupaten Karanganyar, tersaji dalam tabel berikut:


Tabel: 3.4. Banyaknya Desa/ Kelurahan, Dusun, Dukuh, RW, RT di Kabupaten

Karanganyar Dirinci Menurut Kecamatan.

No Kecamatan Desa Dusun Dukuh RW RT


1 Jatipuro 10 86 100 124 305
2 Jatiyoso 9 81 88 112 281
3 Jumapolo 12 102 137 109 3309
4 Jumantono 11 61 117 117 337
5 Matesih 9 78 155 107 310
6 Tawangmangu 10 39 82 99 344
7 Ngargoyoso 9 50 166 92 308
8 Karangpandan 11 65 197 122 295
9 Karanganyar 12 55 191 159 528
10 Tasikmadu 10 57 93 80 415
11 Jaten 8 46 105 101 527
12 Colomadu 11 50 126 109 441
13 Gondangrejo 13 78 157 95 399
14 Kebakkramat 10 58 119 124 389
15 Mojogedang 13 83 147 164 463
16 Kerjo 10 68 193 92 279
17 Jenawi 9 34 140 60 220
Jumlah 177 1.091 2.313 1.876 6.130
Sumber: Karanganyar Dalam Angka Tahun 2002

C. Keadaan Penduduk

1. Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Sex Ratio

Jumlah penduduk Kabupaten Karanganyar berdasarkan hasil

registrasi penduduk tahun 2002 sebanyak 815.101 jiwa, yang terdiri dari

402.868 laki-laki dan 412.233 perempuan. Secara keseluruhan penduduk

perempuan lebih banyak dari penduduk laki-laki seperti yang terlihat dari

rasio jenis kelamin (sex rasio) yang berada dibawah nilai 100 (97,73 %),

kecuali untuk Kecamatan Jatiyoso (102,30 %).


Kabupaten Karanganyar yang terdiri dari 17 kecamatan

penyebaran penduduknya bersifat tidak merata dan terpusat di Kecamatan

Karanganyar yang merupakan ibukota kabupaten (8,61 %). Sedangkan

kecamatan yang paling sedikit jumlah penduduknya adalah Kecamatan

Jenawi (3,27 %). Kepadatan penduduk terbesar terdapat di Kecamatan

Colomadu yaitu sebesar 3.301 jiwa per Km2 dan Kecamatan Jenawi

merupakan kecamatan yang paling rendah kepadatannya yaitu 475 jiwa

per Km2.

Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Karanganyar tahun 2002

sebesar 1,38 %, lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar

1,32 %. Kecamatan Colomadu memiliki pertumbuhan penduduk tertinggi,

sedangkan pertumbuhan terendah di Kecamatan Jenawi, bahkan sampai

mengalami pertumbuhan negatif. Salah satu pendorong tingginya laju

pertumbuhan penduduk di Kabupaten Karanganyar adalah karena

pengaruh dari perkembangan kota Surakarta.

Tabel 3.5. Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Kepadatan, Pertumbuhan, dan

Sex Ratio Dirinci Tiap Kecamatan Keadaan Tahun 2002

Kecamatan Luas L P Jumlah Kepa Pertum Sex


datan buhan Ratio
1 2 3 4 5 6 7 8
1. Jatipuro 40,36 18626 18682 37308 924 0,70 99,70
2. Jatiyoso 67,16 19956 19508 39464 588 0,95 102,30
3. Jumapolo 55,67 22883 22925 45808 823 0,66 99,82
4. Jumantono 53,55 23010 24042 47052 879 2,09 95,71
5. Matesih 26,27 21892 22087 43979 1674 0,55 99,12
6. Tawangmangu 70,03 21475 22368 43843 626 0,87 96,01
7. Ngargoyoso 65,34 16588 16986 33574 514 0,87 97,66
8. Karangpandan 34,11 19924 20701 40625 1191 1,64 96,25
9. Karanganyar 43,03 34202 36470 70672 1642 2,09 93,78
10.Tasikmadu 27,60 26367 26888 53255 1930 1,47 98,06
11.Jaten 25,55 32692 33668 66360 2597 1,72 97,10
12.Colomadu 15,64 25725 25904 51629 3301 2,69 99,31
13.Gondangrejo 56,80 30794 31270 62064 1093 2,02 98,48
14.Kebakkramat 36,46 27578 28113 55691 1527 1,61 98,10
15.Mojogedang 53,31 30238 30505 60743 1139 1,19 99,12
16.Kerjo 46,82 17728 18650 36378 777 0,38 95,06
17.Jenawi 56,08 13190 13466 26656 475 -0,19 97,95
2002 773,78 402.868 412.233 815.101 1.053 1,38 97,73
2001 773,78 397.906 406.125 804.031 1.039 1,32 97,98
2000 773,78 392.621 400.954 793.575 1.026 1,22 97,92
1999 773,78 387.855 396.180 784.035 1.011 1,19 97,90
1998 773,78 383.090 391.709 774.799 1.001 0,99 97,80
Sumber: Karanganyar Dalam Angka 2002

2. Kelahiran dan Kematian

Angka kelahiran/ kematian adalah bilangan yang menunjukkan

banyaknya penduduk yang lahir hidup/mati selama satu tahun dari setiap

seribu orang penduduk pada pertengahan tahun tersebut. Untuk Kabupaten

Karanganyar dapat diketahui bahwa angka kelahiran terbesar terjadi pada

tahun 2000, yaitu jumlah kelahiran sebesar 12.562 jiwa, dan angka

kematian terbesar juga pada tahun 2000, dengan jumlah kematian sebesar

3.940 jiwa. Selama tahun 2002, jumlah kelahiran terbesar adalah

Kecamatan Gondangrejo sebesar 1745 dan kematian terbesar adalah

Kecamatan Jaten sebesar 360. Sedangkan angka kelahiran dan kematian

terendah adalah Kecamatan Kerjo sebesar 235 dan 107. Untuk lebih

jelasnya tersaji dalam tabel 3.6. berikut:

Tabel 3.6. Angka Kelahiran dan Kematian Penduduk Kabupaten

Karanganyar Dirinci Tiap Kecamatan

Kecamatan Angka Kelahiran Angka Kematian


Laki-laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah
1. Jatipuro 282 211 493 101 86 187
2. jatiyoso 192 199 391 53 55 108
3. Jumapolo 203 232 435 68 49 117
4. Jumantono 358 340 698 120 102 222
5. Matesih 353 353 706 139 118 257
6. Tawangmangu 361 321 682 123 116 239
7. Ngargoyoso 274 241 515 92 93 185
8. Karangpandan 344 381 725 146 121 267
9. Karanganyar 511 475 986 189 142 331
10.Tasikmadu 555 449 1004 179 175 354
11.Jaten 486 447 933 209 151 360
12.Colomadu 364 322 686 152 136 288
13.Gondangrejo 908 837 7911745 62 54 116
14.Kebakkramat 456 439 895 205 134 339
15.Mojogedang 491 437 928 131 120 251
16.Kerjo 129 106 235 56 51 107
17.Jenawi 219 180 399 60 74 134
2002 6.486 5.970 12.456 2.085 1.777 3.862
2001 6.147 5.691 11.838 1.962 1.901 3.863
2000 6.370 6.192 12.562 1.985 1.955 3.940
1999 6.184 5.836 12020 2.041 1.733 3.774
1998 5.691 5.370 11.061 1.999 1.738 3.737
Sumber: Karanganyar Dalam Angka 2002

3. Penduduk dan Mata Pencaharian

Kepadatan penduduk suatu daerah secara umum dapat

mencerminkan daya dukung daerah tersebut. Hal ini dapat diklasifikasikan

menjadi dua macam yaitu kepadatan pendudk geografis (per Km2) dan

kepadatan agraris (per Ha). Jumlah penduduk Kabupaten Karanganyar

daerah ini berdasarkan hasil registrasi penduduk tahun 2001 sebanyak

815.101 orang yang meliputi 402.868 laki-laki dan 412.233 perempuan.

Kepadatan penduduk secara geografis dapat dihitung sebagai berikut:

Jumlah penduduk
Kepadatan penduduk =
Luas wilayah
815.101
=
773,78

= 1053,40

Adapun kepadatan penduduk secara agraris dapat dihitung sebagai berikut:

Jumlah penduduk
Kepadatan penduduk =
Luas lahan pertanian (ha)

815.101
=
61.459,73

= 13,26

Jadi kepadatan penduduk secara geografis di wilayah ini kurang lebih

1039 orang setiap Km2-nya, sedangkan kepadatan penduduk secara agraris

di wilayah ini kurang lebih 13 orang setiap hektar luas lahan pertanian.

Mata pencaharian penduduk usia 10 tahun keatas di Kabupaten

Karanganyar sebagian besar bekerja pada sektor pertanian, baik sebagai

petani sendiri maupun sebagai buruh tani. Untuk lebih jelasnya dapat

dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 3.7. Mata Pencaharian Penduduk Kabupaten Karanganyar Umur 10

Tahun Keatas Tahun 2002

Mata 1998 1999 2000 2001 2002


Pencaharian
% Jumlah

Petani sendiri 122.934 95.370 97.105 122.934 18,40 93.951


Buruh Tani 106.127 97.080 98.363 106.127 15,89 96.182
Nelayan 0 0 0 0 0 0
Pengusaha 6.320 6.380 6.441 6.320 0,95 7.619
Buruh Industri 91.439 53.136 55.693 91.439 13,69 50.592
Buruh Bangunan 44.720 37.276 37.704 44.720 6,69 37.309
Pedagang 33.423 30.521 30.709 33.423 5,00 30.390
Pengangkutan 7.339 4.291 4.452 5.339 1,10 4.038
PNS/ TNI/ Polri 18.961 18.417 18.178 18.961 2,84 18.494
Pensiunan 8.488 7.768 7.611 8.488 1,27 7.907
Lain-lain 228.255 228.709 229.255 230.255 34,17 227.877
Jumlah 668.006 578.948 586.004 668.006 100 574.359
Sumber: Karanganyar Dalam Angka 2002
Dari data pada tabel 3.7. diatas, dapat dilihat bahwa terdapat 33,6 % penduduk
yang bekerja di sektor pertanian, baik sebagai petani sendiri sebesar 18,6 % maupun
sebagai buruh tani sebesar 15 %. Berarti hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian
masih potensial sekali untuk dikembangkan, baik sebagai penghasil komoditi pertanian
maupun sebagai penyerap lapangan pekerjaan.

2. Penduduk Menurut Usia Produktif dan Tidak Produktif

Penduduk usia produktif adalah penduduk yang dilihat dari sisi

usia, dianggap sudah mampu melaksanakan kegiatan produksi untuk

keperluan hidup. Penduduk usia tidak produktif adalah penduduk yang

belum dapat bekerja untuk menghasilkan keperluan hidup dan penduduk

yang dianggap tidak mampu lagi bekerja. Batasan penduduk usia produktif

adalah kelompok umur 15 s/ d 65 tahun, dan usia tidak produktif adalah

kelompok umur 65 tahun keatas, meskipun kenyataanya orang yang

berumur lebih dari 65 tahun masih banyak yang mampu bekerja termasuk

juga anak-anak yang berumur kurang dari 15 tahun banyak yang sudah

dapat bekerja (membantu mencari nafkah). Dari tabel 3.8. dibawah ini

dapat diketahui bahwa penduduk Kabupaten Karanganyar yang berusia

produktif lebih banyak dibanding dengan penduduk yang berusia tidak

produktif. Jika dilihat menurut kecamatan, maka Kecamatan Karanganyar

mempunyai penduduk usia produktif terbesar dibanding kecamatan yang


lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa di Kecamatan Karanganyar,

penduduk yang melaksanakan produksi dari segi ekonomi cukup besar.

Tabel 3.8. Penduduk Usia Produktif dan Tidak Produktif di Kabupaten

Karanganyar Dirinci Tiap Kecamatan Keadaan Tahun 2002

Kecamatan (0-14) Th. 65 Th. Keatas Jumlah (15-64) tahun


1 2 3 4 5
1. Jatipuro 9386 3523 12909 24399
2. jatiyoso 10118 2916 13034 26430
3. Jumapolo 11836 4021 15857 29952
4. Jumantono 12339 3412 15751 31301
5. Matesih 11136 2905 14041 29938
6. Tawangmangu 11641 3136 14777 29066
7. Ngargoyoso 8526 2373 10899 22674
8. Karangpandan 9992 2998 12990 27635
9. Karanganyar 17973 3762 21735 48937
10.Tasikmadu 13883 3144 17027 36228
11.Jaten 17032 3221 20253 46105
12.Colomadu 14287 2830 17117 34510
13.Gondangrejo 17843 3673 21516 40548
14.Kebakkramat 14533 3535 18068 37623
15.Mojogedang 16898 4311 21209 39533
16.Kerjo 9329 3069 12398 23981
17.Jenawi 7108 2101 9209 17446
Jumlah Th. 2001 210.749 54.929 26.5678 546.307
Sumber: Karanganyar Dalam Angka 2002
D. Aspek Sosial Budaya

1. Pendidikan

Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

Kabupaten Karanganyar, pada tahun 2002 jumlah SD Negeri sebanyak

492 buah, SD Swasta 7 buah, SLTP Negeri 46 buah, SLTP Swasta 26

buah, SMU Negeri 12 buah, SMU Swasta 6 buah, SMK Negeri 2 buah,

SMK Swasta 20 buah. Dan data dari Kantor Depag Kabupaten

Karanganyar jumlah sekolah MI 61 buah, MTs 21 buah dan MA 3 buah.


Selanjutnya, jumlah murid SD/ MI sebanyak 85.135 siswa, guru

4.618 orang, sehingga rasio guru : murid sebesar 1 : 18,44. Jumlah murid

SLTP/ MTs sebanyak 38116 siswa dengan guru sebanyak 2.678 orang,

sehingga rasio guru : murid sebanyak 1 : 14,23. Jumlah murid SLTA/ MA

sebanyak 20.830 siswa, dengan guru 1.538 orang, sehingga rasio guru :

murid sebanyak 1 : 13,54.

Data mengenai kondisi penduduk Kabupaten Karanganyar menurut

tingkat pendidikan yang dicapai terlihat pada tabel 3.9. dibawah ini, yang

ternyata masih banyak penduduk Kabupaten Karanganyar yang belum

lulus pendidikan dasar, dimana 10,76 % belum pernah sekolah, 8,19 %

tidak tamat SD, dan 38,5 % Tamat SD, serta 11,28 % belum tamat SD.

Sedangkan untuk lulusan Perguruan Tinggi/ Akademi masih relatif kecil

yaitu 2,33 %. Oleh karena itu masih sangat perlu adanya penyuluhan

tentang pentingnya pendidikan bagi masyarakat.

Tabel 3.9. Penduduk Kabupaten Karanganyar Berumur 5 Tahun Keatas


Menurut Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Tahun 2002

Tingkat Pendidikan Jumlah Prosentase


Tidak/ belum pernah sekolah 80.475 10,76
Belum tamat SD 84.407 11,28
Tidak Tamat SD 61.277 8,19
Tamat SD 287.929 38,5
Tamat SLTP 126.671 16,93
Tamat SLTA 89.875 12,01
Tamat Akad/ PT 17.455 2,33
Jumlah 748.089 100
Sumber: Karanganyar Dalam Angka 2002
2. Kesehatan

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten

Karanganyar, pada tahun 2002 jumlah fasilitas kesehatan yang ada

terdiri dari 3 RS, 21 Puskesmas, 59 Puskesmas Pembantu, 22 Rumah

Bersalin Swasta dan 12 balai pengobatan Swasta. Sementara itu tenaga

kesehatan yang tersedia terdiri dari dokter spesialis 19 orang, dokter

umum 89 orang, dokter gigi 26 orang, bidan 231orang dan perawat

kesehatan 284 orang. Selama tahun 2002, penderita penyakit yang

berobat ke Puskesmas mencapai 30.397 pasien. Jumlah ini jauh

menurun dibanding tahun 2001 sebesar 146.414 pasien. Penyakit yang

banyak diderita pasien dan yang berobat ke puskesmas adalah diare

10.200 pasien (25,54 %) dan hipertensi sebesar 7989 pasien (20,01 %).

Tabel 3.10. Banyaknya Fasilitas Kesehatan dan Tenaga Kesehatan di

Kabupaten Karanganyar Th. 2002

Jenis Fasilitas Kesehatan Jumlah


Rumah sakit 3
Puskesmas 21
Puskesmas pembantu 59
Rumah bersalin swasta 22
Balai pengobatan swasta 12
Dokter spesialis 19
Dokter umum 89
Dokter gigi 26
Bidan 231
Perawat 284
Sumber: Karanganyar Dalam Angka 2002
3. Tempat Peribadatan

Pembangunan di bidang kehidupan beragama dan

kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa diarahkan agar mampu

meningkatkan kualitas umat beragama sehingga tercipta suasana

kerukunan hidup yang erat. Di Kabupaten Karanganyar pada tahun

2002 terdapat 2.640 tempat ibadah, yaitu masjid 1.821 buah, mushola

679 buah, gereja 127 buah, pura 12 buah dan vihara 1 buah.

4. Rumah Penduduk

Rumah penduduk di Kabupaten Karanganyar pada tahun 2002

sebanyak 177.768 unit, yang terdiri dari rumah permanen 144.046 unit,

semi permanen 12.709 unit, dan non permanen 21.013 unit.

Tabel 3.11. Jumlah Tempat Peribadatan dan Rumah Penduduk di

Kabupaten Karanganyar

URAIAN 2001 2002


1. Tempat peribadatan 2.561 2.640
a. Masjid 1.672 1.821
b. Mushola 756 679
c. Gereja 122 127
d. Pura 8 12
e. Vihara 3 1

2. Rumah penduduk 171.768 177.768


a. Rumah permanen 138.786 144.046
b. Semi permanen 12.400 12.709
c. Non permanen 20.356 21.013

Sumber: Karanganyar Dalam Angka 2002

E. Pertanian

Hasil produksi pertanian di Kabupaten Karanganyar, secara ringkas

tersaji dalam tabel berikut:


Tabel 3.12. Produksi Pertanian di Kabupaten Karanganyar

URAIAN TH. 2001 (TON) TH. 2002 (TON)


1. Tanaman Bahan Makanan
a. Padi sawah 236.534 209.321
b. Jagung 26.886 21.915
c. Ubi kayu 105.816 107.686
d. Kacang tanah 8.934 5.890

2. Tanaman Cengkeh 446,800 320,245

3. Peternakan
a. Telur ayam buras 961,972 1.148,177
b. Telur ayam ras 12.288,524 12.457,840
c. Telur itik 420,191 446,278
d. Telur puyuh 272,056 435,664
e. Daging 4.521,264 1.542,624
f. Susu 441,516 428,130

4. Produksi Ikan
a. Cekdam 36,941 38,044
b. Kolam air tenang 496,492 541,324
c. Sungai 214,260 220,872
d. Waduk 21,357 25,628

Sumber: Karanganyar Dalam Angka 2002

1. Tanaman Bahan Makanan

Pertanaian bahan makanan merupakan salah satu sektor dimana

produk yang dihasilkan menjadi kebutuhaan pokok hidup rakyat.

Kabupaten Karanganyar sebagian tanahnya merupakan tanah pertanian

yang memiliki potensi cukup baik bagi pengembangan tanaman agro

industri.

Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Karanganyar selama tahun

2002 diperoleh produksi padi sawah sebanyak 209.321 ton, jagung

sebanyak 21.915 ton, ubi kayu sebanyak 107.686 ton dan kacang tanah

sebanyak 5890 ton. Sebagian tanah di Kabupaten Karanganyar merupakan

tanah pegunungan/ perbukitan (Jatiyoso, Matesih, Tawangmangu,

Ngargoyoso, dan Jenawi) yang sangat potensial untuk tanaman sayur-


sayuran seperti bawang merah, bawang putih, kobis, sawi, cabe, tomat,

buncis, dan sebagainya.

2. Tanaman Perkebunan

Tanaman perkebunan rakyat di Kabupaten Karanganyar yang

sangat potensial adalah cengkeh yang mencapai luas sebesar 2340,31 Ha

dan selama tahun 2002 produksinya mencapai 320.245 ton. Tanaman lain

yang juga potensial untuk dikembangkan adalah kelapa, mete, tebu dan

jahe. Sementara itu untuk tanaman perkebunan besar yang potensial

adalah teh dan karet.

3. Peternakan

Populasi ternak yang banyak diusahakan di Kabupaten

Karanganyar pada tahun 2002 adalah sapi 46.589 ekor, sapi perah 287

ekor, kerbau 1388 ekor, kuda 353 ekor, kambing 20.255 ekor, domba

114.653 ekor, babi 53.912 ekor, ayam ras 1.114.097 ekor, ayam buras

839.147 ekor, ayam pedaging 1874.000 ekor, itik 69.608 ekor, kelinci

10.703 ekor dan burung puyuh 229.730 ekor.

Selama tahun 2002 hasil-hasil produksi ternak terdiri dari telur

ayam buras 1.148.177 kg, telur ayam ras 12.457.840 kg, telur itik 446.278

kg, telur puyuh 435.667 kg, daging 1.542.624 kg dan susu 428.130 lt.

4. Perikanan

Selama tahun 2002 produksi ikan mencapai 825.868 kg, yang

berasal dari cek dam 38.044 kg, kolam air tenang 541.324 kg, sungai
220.872 kg, dan waduk 25.628 kg. Sementara itu telah dilakukan

penebaran benih di berbagai tempat berupa karper 433.000 ekor, tawes

1.956.000 ekor, nila merah 3.563.000 ekor, nila gift 396.000 ekor,

gurameh 34.000 ekor dan lele 428.130 ekor.

F. Industri dan Perdagangan

Jumlah unit usaha industri, perdagangan, dan koperasi di Kabupaten

Karanganyar sampai tahun 2002 rata-rata mengalami kenaikan dibandingkan

tahun sebelumnya, kecuali sektor industri. Hal tersebut dipengaruhi oleh

tragedi WTC yang melanda Amerika Serikat. Untuk lebih jelasnya, tersaji

dalam tabel 3.12 berikut ini:

Tabel 3.13. Banyaknya Industri, Perdagangan dan Koperasi di Kabupaten

Karanganyar

URAIAN 2001 2002


1. Industri
a. Industri besar 74 73
b. Industri sedang 79 74
c. Industri kecil 40 16

2. Perdagangan
a. Pasar 69 69
b. Toko/ kios/ warung 360 9.016

3. Koperasi 585 616


a. KKT dan KSU 407 431
b. KUD 17 17
c. Koperasi fungsional 70 72
d. Koperasi karyawan 81 83

Sumber: Karanganyar Dalam Angka 2002


G. Ekonomi dan Keuangan

1. Keuangan Daerah

Berdasarkan Perda Kabupaten Karanganyar nomor 12 Th. 2001

tentang APBD Th. 2001, anggaran pendapatan ditetapkan sebesar

Rp. 240.723.040.800,-, dan telah terealisir sebesar Rp. 253.490.644.735,-

atau 105,30 %. Dengan rincian sebagai berikut: sisa lebih perhitungan

anggaran tahun lalu dianggarkan dan terealisir Rp. 15.542.155.000,-,

realisasinya Rp. 16.550.714.382,- (106,48 %), dan bagian dana

perimbangan dianggarkan Rp. 217.243.576.000,- dan realisasinya Rp.

225.000.071.127,- (103,57 %). Untuk belanja rutin dianggarkan Rp.

203.714.063.554,-, realisasinya Rp. 204.492.736.000,- (100,38 %) dan

terealisasi Rp. 35.044.192,- (96,73 %). Sedangkan untuk Anggaran

Pendapatan Asli Daerah tahun 2002 tersaji pada tabel berikut:

Tabel 3.14. Anggaran daan Realisasi Anggaran Pendapatan Asli Daerah

Kabupaten Karanganyar Tahun 2002

URAIAN Anggaran Realisasi Prosentase


Pendapatan Anggaran Terhadap
Anggaran

1. Pajak daerah 9.234.000.000 10.007.809.661 108,38

2. Retribusi daerah 10.026.612.000 9.518.351.073 94,93

3. Bagian laba usaha 1.860.560.000 1814559609 97,53

4. Pos lain-lain pendapatan 2.544.397.000 3856198356 151,56

Jumlah 23.665.569.000 25196918699 106,47

Sumber: Karanganyar Dalam Angka 2002


2. PDRB dan Perkembangannya

Akibat terjadinya tragedi WTC di Amerika Serikat pada tanggal

11 September 2001 secara nyata telah berpengaruh besar terhadap nilai

pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karanganyar yang secara umum

mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena sektor industri yang

mempunyai kontribusi terbesar terhadap nilai PDRB di Kabupaten

Karanganyar mengalami penurunan pertumbuhan secara riil yang cukup

besar bahkan nilai pertumbuhannya negatip.

Sedangkan menurut harga berlaku mengalami kenaikan yang tinggi

sebagai akibat kenaikan harga yang tinggi. Hal ini sejalan dengan adanya

kebijaksanaan pemerintah mengenai kenaikan tarif dasar listrik dan BBM

sehingga berakibat langsung terhadap kenaikan harga di sektor-sektor

lainnya. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karanganyar selama tahun

2001 ditunjukkan oleh adanya kenaikan yang cukup signifikan terhadap

PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) yaitu sebesar 10,64 % tapi di sisi

lain terjadi penurunan laju pertumbuhan terhadap PDRB atas dasar harga

konstan (ADHK). Meskipun demikian pencapaian nilai nominal PDRB

Kabupaten Karanganyar mengalami kenaikan baik atas dasar harga

berlaku maupun atas dasar harga konstan. Pada tabel dibawah ini

ditunjukkan nilai PDRB atas dasar harga berlaku sebesar 2.182.235,12 juta

rupiah dan atas dasar harga konstan sebesar 1.210.084,63 juta rupiah.

Tabel 3.15. PDRB Kabupaten Karanganyar Atas Dasar Harga Berlaku dan

Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1997-2002


PDRB ADHB PDRB ADHK
Tahun Jumlah Laju Pertumb. Jumlah Laju Pertumb.
(juta Rp ) (%) (Juta Rp) (%)

1 2 3 4 5
1997 1,550,662,62 10,52 1,255,719,50 3,77
1998 2,170,222,89 39,95 1,109,425,03 -11,65
1999 2,312,932,52 6,58 1,141,544,82 2,9
2000 2,541,783,09 9,84 1,193,085,08 4,51
2001 2,812,235,12 10,64 1,210,084,63 1,42
2002 3.161.318,40 12,41 1.248.686,47 3,19
Sumber: PDRB Kab. Karanganyar Tahun 2002

Tabel diatas menunjukkan bahwa selama kurun waktu 1997 –

2002, rata-rata pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Karanganyar

menunjukkan angka yang positip, walaupun pada tahun 1998 terjadi

pertumbuhan ekonomi yang negatif akibat dampak krisis moneter yang

melanda seluruh wilayah Indonesia.

Dari tabel diatas, tampak bahwa selama tahun 1998-2002 pertumbuhan

ekonomi di Kabupaten Karanganyar menunjukkan pertumbuhan yang positip baik

pada PDRB ADHB maupun ADHK, namun pada tahun 1998 mengalami

penurunan yang sangat tajam hingga sampai mengalami pertumbuhan yang

negatip khususnya pada PDRB ADHK yaitu sebesar –11,65. Sebaliknya, PDRB

ADHB mengalami kenaikan pertumbuhan yang sangat tinggi yaitu sebesar 39,95

%. Pada tahun 1999 - 2000 mulai terjadi kenaikan pertumbuhan baik berdasarkan

harga berlaku maupun harga konstan. Namun pada tahun 2001, khususnya pada

PDRB ADHK terjadi penurunan laju pertumbuhan ekonomi tapi masih

menunjukkan angka yang positip, yaitu sebesar 1,42 sedangkan pada PDRB

ADHB mengalami kenaikan sebesar 10,64 %.

Untuk mengetahui besarnya sumbangan dan perubahan dari suatu sektor/

subsektor ekonomi terhadap nilai PDRB Kabupaten Karanganyar dapat dilihat


pada tabel dibawah ini, dimana sampai dengan tahun 2002 sektor industri

pengolahan masih merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar

terhadap pembentuka PDRB Kabupaten Karanganyar, yaitu sebesar 37,67%,

disusul kemudian oleh sektor pertanian yang menyumbang sebesar 19,36 %,

sektor perdagangan 17,80%, dan sektor jasa-jasa sebesar 13,76%.

Tabel 3.16. PDRB Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha di

Kabupaten Karanganyar Tahun 1998-2002 (Jutaan Rupiah)

Tahun

Sektor/ Sub sektor 1998 1999 2000 2001 2002

1 2 3 4 5 6

Pertanian 208.76,56 226.958,32 223.210,06 243.978,79 241.967,67

- Tanaman pangan 143.404,60 155.933,13 153.883,41 157.607,39 145.690,71

- Perkebunan 9.423,19 11.383,72 13.131,97 15.227,56 18.222,71

- Perkebunan besar 3.063,29 2.925,88 2.863,56 2.894,77 3.199,19

- Peternakan 47.918,96 51.713,93 58.188,51 62.971,61 69.401,09

- Kehutanan 3.672,20 3.692,80 3.787,34 3.842,64 3.918,34

- Perikanan 1.284,32 1.308,86 1.355,27 1.434,82 1.535,63

Pertambangan dan galian 13.652,63 14.303,86 14.239,49 15.014,12 15.219,79

Industri 416.699,63 423.946,43 454.919,,21 452.735,69 470.419,50

Listrik, gas dan air minum 16.946,55 18.198,11 19.592,09 20.766,05 23.221,11

Bangunan 25.334,00 26.694,44 28.137,57 29.462,85 30.321,06


Perdagangan, hotel 199.063,41 200.556,39 208.478,37 211.980,81 219.757,05

Pengangk. dan komunikasi 31.686,46 32.066,70 32.910,05 33.532,05 34.617,31

Keuangan dan sewa 38.721,39 38.997,73 39.960,97 40.416,53 41.349,38

Jasa-jasa 158.554,40 159.822,84 161.687,27 162.197,92 171.813,60

PDRB 1.109.425,03 1.141.544,82 1.193.085,08 1.210.084,81 1.248.686,47

Sumber: PDRB Kabupaten Karanganyar Tahun 2002

Sedangkan untuk PDRB Propinsi Jawa Tengah tersaji pada tabel 3.17.

berikut ini:

Tabel 3.17. PDRB Jateng Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha di

Tahun 1998-2002 (Jutaan Rupiah)

Tahun

Sektor/ Sub sektor 1998 1999 2000 2001 2002

1 2 3 4 5 6

Pertanian 7940632,03 8184670,67 8455973,17 8598967,98 8667627,13

- Tanaman pangan 5380042,29 5517339,49 5413544,95 5284475,59 542959,64

- Perkebunan 496475,17 419596,94 503154,30 506897,71 500028,25

- Peternakan 1130545,41 1352280,12 1613449,84 1820013,42 1731292,57

- Kehutanan 402046,68 347942,23 317086,46 331408,38 348794,21

- Perikanan 531522,48 547511,89 608737,62 656172,88 658152,46

Pertambangan dan galian 545662,76 575612,99 589963,73 642027,09 667593,55

Industri 11707062,06 13036861,68 12421426,24 12189594,90 13374259,62

Listrik, gas dan air minum 407879,93 450221,11 493724,43 509108,39 564173,77

Bangunan 1452845,56 1626238,40 1650463,27 1693045,33 1767960,23


Perdagangan, hotel 8747296,31 9026900,22 9632603,63 10092087,90 10459420,57

Pengangk. dan komunikasi 1765265,71 1946926,99 2053018,42 2219896,60 2339634,18

Keuangan dan sewa 1502666,55 1559305,07 1605968,13 1622747,76 1674959,71

Jasa-jasa 3995862,44 3987776,61 4038526,07 4107700,47 4260064,32

PDRB 38065273,35 9394513,74 40941667,09 42305176,42 43775693,08

Sumber: Pendapatan Regional Jawa Tengah 2002

BAB IV

ANALISIS DATA EMPIRIS

Dalam bab IV ini akan disajikan analisis terhadap data hasil penelitian dan

sekaligus merupakan pengujian terhadap hipotesis yang diajukan. Sebagaimana

telah dirumuskan dalam bab pendahuluan bahwa analisis yang dilakukan adalah

untuk mengetahui bagaimana tekanan penduduk di Kabupaten Karanganyar dan

bagaimana struktur ekonomi Kabupaten Karanganyar untuk periode tahun 1998 –

2002, serta sektor apa saja yang mempunyai prioritas dan potensial untuk

dikembangkan di masa-masa yang akan datang.

A. Analisis Daya Dukung Lahan


Analisis daya dukung lingkungan digunakan untuk menganalisis

lahan pertanian dan daya tampungnya terhadap jumlah penduduk. Konsep

mengenai daya dukung lingkungan adalah batas teratas dari pertumbuhan

populasi, dimana jumlah populasi sudah tidak dapat didukung lagi oleh

sarana, sumber daya dan lingkungan yang ada.

Daya dukung lahan disini adalah kemampuan lahan untuk

mendukung kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Di dalam

analisis ini digunakan tekanan penduduk sebagai alat analisisnya, yang

tentunya hanya meneliti masalah daya dukung lahan terhadap kehidupan

manusia saja. Hasil dari analisis ini diharapkan bisa digunakan sebagai

penentuan kebijaksanaan mengolah tanah pertanian secara efektif dan

efisien tanpa mengurangi

kesuburan tanah. Disamping itu dapat55 juga digunakan untuk menentukan

kebijakan keluarga berencana, transmigrasi dan penciptaan lapangan kerja.

Data yang digunakan untuk menganalisis daya dukung lahan ini adalah

prosentase petani, jumlah penduduk dalam suatu wilayah, pertumbuhan penduduk

serta luas lahan minimum untuk hidup layak. Bila data-data diatas dibandingkan

dengan luas seluruh lahan untuk pertanian, akan menghasilkan seberapa besar

tekanan penduduk (TP) di wilayah tersebut.

Rumus tekanan penduduk adalah sebagai berikut:

fPo (1 + i) n
TP = (1-α)Z
L

Dimana:

TP = Tekanan penduduk
α =Pendapatan di luar sektor pertanian

Z = Luas lahan minimum untuk hidup layak

f = Prosentase petani

Po = Jumlah penduduk pada tahun dasar

i = Pertumbuhan penduduk

L = Luas lahan pertanian

n = Periode tahun

Dengan batasan:

TP < 1 = Daya dukung lahan masih bisa menampung tekanan

penduduk.

TP >1 =Daya dukung lahan sudah melebihi ambang batas

TP = 1 = Ambang batas.

Untuk mengetahui tekanan penduduk akan dihitung besarnya nilai

variabel-variabel pendukungnya terlebih dahulu.

1. Nilai Z

Z diperoleh dengan cara membandingkan jumlah pengeluaran yang

dibutuhkan untuk hidup layak oleh sebuah keluarga atau rumah tangga dengan

nilai bersih yang diperoleh pada setiap 1 (satu) ha tanah pertanian selama satu

tahun. Ukuran hidup layak yang digunakan adalah ukuran beras menurut

Profesor Sayogya, yaitu 2x untuk hidup diatas garis kemiskinan atau 2 x 320

kg = 640 kg perkapita per tahun. Sedang nilai produksi yang diperoleh untuk

setiap 1 ha tanah pertanian didapat dengan mengambil nilai rata-rata setiap


jenis tanaman yang biasa dihasilkan dari lahan di wilayah kabupaten

Karanganyar.

Perhitungan nilai Z untuk Kabupaten Karanganyar diperoleh sebagai

berikut:

- Keperluan beras untuk hidup layak adalah 640 kg. Apabila harga beras

yang berlaku adalah Rp. 2400/ kg maka pengeluaran minimum untuk hidup

layak adalah 2400 x 640 = Rp.1.536.000,00 pertahun.

- Jumlah rata-rata keluarga adalah 4 orang (angka ini diperoleh dari rata-rata

jumlah keluarga pada Biro Pusat Statistik di Kabupaten Karanganyar). Jadi

pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk hidup layak bagi setiap keluarga

atau rumah tangga adalah:

Rp.1.536.000,00 x 4 = Rp.6.144.000,00 tiap tahunnya.

Dari hasil data yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai produksi rata-rata

untuk tiap 1 ha tanah pertanian (sawah, tegal, pekarangan) adalah:

a. Sawah

1) Total produksi (TP) padi satu kali panen rata-rata menghasilkan 5.600 kg

gabah dengan harga penjualan Rp.1.000,00/ kg. Jadi nilai total produksi

(NTP) padi adalah total produksi x harga = 5.600 x 1.000 =

Rp.5.600.000,00 dengan total biaya produksi (TBP) sebesar

Rp.2.914.000,00 (perincian pada lampiran 1). Maka hasil bersih produksi

padi adalah NTP – TBP = 5.600.000 – 2.914.000 = Rp.2.685.800,00

2) Produksi wortel satu kali panen adalah 25.000 kg, dengan harga

Rp.750,00. Sehingga nilai total produksi wortel adalah 25.000 x 750 =


Rp.18.750.000,00. Dengan biaya produksi sebesar Rp.9.484.000,00

(perincian pada lampiran 2), maka hasil bersih pengusahaan wortel adalah

18.750.000 – 9.484.000 = Rp.9.266.000,00.

Dari komoditi padi dan wortel di dapat hasil bersih sawah selama satu

tahun sebesar (2.685.800 x 2) + 9.226.000 = Rp. 14.597.600,00

6.144.000
Maka Z sawah adalah = = 0,42
14.597.600

b.Tegal

1. Produksi jagung satu kali panen rata-rata menghasilkan 2.650 kg dengan

harga Rp.1.300,00/ kg. Sehingga nilai total hasil produksi jagung adalah

2.650 x 1.300 = Rp.3.445.000,00. Dengan total biaya produksi sebesar

Rp.2.580.000,00 (perincian pada lampiran 3), maka hasil bersih usahatani

jagung adalah 3.445.000 – 2.580.000 = Rp.864.300,00.

2. Produksi bawang putih satu kali panen rata-rata menghasilkan 15.000 kg,

dengan harga Rp.1.250,00. Jadi nilai total produksi adalah 15.000 x 1.250 =

Rp.18.750.000,00. Dengan total biaya produksi sebesar Rp.14.780.000,00

(perincian pada lampiran 4), maka hasil bersih pengusahaan bawang putih

adalah 18.750.000 – 14.780.000 = Rp.3.970.000,00.

3. Produksi ubi kayu satu kali panen adalah sebesar 25.000 kg, dengan harga

Rp.250,00 per kg. Sehingga nilai total produksi adalah 25.000 x 250 =

Rp.6.250.000,00. Dengan total biaya produksi sebesar Rp.1.881.000,00

(perincian pada lampiran 5). Maka hasil bersih usahatani ubi kayu adalah

6.250.000 – 1.881.000 = Rp.4.369.000,00.


Hasil bersih lahan tegal selama satu tahun adalah sebesar: 864.300 +

4.369.000 + 3.970.000 = 9.203.300

6.144.000
Maka Z tegal adalah = = 0,67
9.203.300

c. Pekarangan

1. Produksi mangga satu kali panen rata-rata dijual secara tebas (borongan)

dengan harga tebas Rp. 120.000/ pohon. Bila dalam satu Ha rata-rata terdiri

dari 18 pohon mangga, maka produksi mangga tiap tahun sebesar: 18 X

120.000 = Rp.2.160.000,- dengan biaya produksi sebesar Rp.537.000,-

(perincian pada lampiran 5). Maka hasil bersih tanaman mangga adalah

2.160.000 – 537.000 = Rp.1.623.000,-

2. Produksi rambutan satu kali panen rata-rata dijual secara tebas (borongan)

dengan harga tebas Rp. 200.000/ pohon. Bila dalam satu Ha rata-rata terdiri

dari 12 pohon mangga, maka produksi mangga tiap tahun sebesar: 12 X

200.000 = Rp.2.400.000,- dengan biaya produksi sebesar Rp. 647.000,-

(perincian pada lampiran 6). Maka hasil bersih tanaman mangga adalah

2.400.000 – 647.000 = Rp.1.753.000,-

Hasil bersih lahan pekarangan selama satu tahun adalah sebesar =

1.623.000 + 1.753000 = Rp.3.376.000,-

6.144.000
Maka Z pekarangan adalah = = 1,82
3.376.000

Dari angka-angka tersebut diperoleh bahwa:

(0.42 x 22.882,95) + (0.67 x 17.945.49) + (1.82 x 20.631,30)


a) Z= =
22.882,95 + 17.945,49 + 20.631,30

0,96
b) a = 0.32 (tabel 3.7)

c) Luas lahan produktif adalah seluas 61.459,73 ha

d) Prosetase petani terhadap penduduk sebesar 33,60 % (dapat dilihat

pada tabel 3.7.)

e) Jumlah penduduk tahun 2002 (sebagai tahun dasar) adalah sebesar

815.101 jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,38 %

(perincian pada bab III).

Dari data-data tersebut di atas kita bisa mendapatkan hasil tekanan

penduduk tahun 2002 dan prediksi untuk tahun 2007 sebagai berikut:

0.34 x 815.101 (1 + 0,0138)1


TP2002 = (1 - 0,32) x 0.96
61.459,73

183.409,90
= = 2,98
61.459,73

0.34 x 815.101 (1 + 0,0138) 5


TP2007 = (1 - 0,32) x 0.96
61.459,73

193.745,64
= = 3,15
61.459,73

Tekanan penduduk di Kabupaten Karanganyar pada tahun 2002 adalah

sebesar 2,98 dan diperkirakan pada tahun 2007 akan naik menjadi 3,15. Sehingga

menurut kriteria yang ada, maka wilayah Kabupaten Karanganyar termasuk sudah

melampaui ambang batas. Artinya, jumlah penduduk yang hidup di Kabupaten

Karanganyar sudah melampaui kemampuan daya tampung lahan dalam

mencukupi kebutuhan akan pangan. Sehingga hipotesis pertama yang menyatakan


bahwa daya tampung lahan di Kabupaten Karanganyar sudah melebihi ambang

batas adalah terbukti benar. Hal tersebut di atas perlu mendapat perhatian

terutama mengenai masalah jumlah penduduk yang terus meningkat sedangkan

kebutuhan pangan tidak mencukupi lagi. Maka dari itu perlu diusahakan sistem

pengolahan lahan agar mendapatkan hasil yang optimal tanpa merusak lingkungan

dan menjaga agar lahan tetap produktif.

B. Analisis Perubahan Struktur Ekonomi

1. Tinjauan Ekonomi Murni Secara Makro Sektoral

Dilihat dari kontribusi masing-masing sektor (lapangan usaha) dalam

membentuk PDRB perekonomian Kabupaten Karanganyar selama tahun 1998-

2002, maka akan dapat diketahui struktur ekonomi Kabupaten Karanganyar

seperti yang terlihat pada tabel berikut:

Tabel 4.1. Struktur Ekonomi Kabupaten Karanganyar Tahun 1998-2002 Atas

Dasar Harga Konstan Secara Makro Sektoral

Tahun
Sektor 1998 1999 2000 2001 2002
Pertanian 18.82 19.88 19.55 20.16 19.38
Pertambangan dan Penggalian 1.23 1.25 1.19 1.24 1.22
Industri Pengolahan 37.56 37.14 38.13 37.41 37.67
Listrik, Gas, dan Air Minum 1.53 1.59 1.64 1.72 1.86
Bangunan 2.28 2.34 2.36 2.43 2.43
Perdagangan, Hotel dan Restoran 17.94 17.57 17.47 17.52 17.60
Pengangkutaan dan Komunikasi 2.86 2.81 2.76 2.77 2.77
Keuangan dan Persewaan 3.49 3.42 3.35 3.34 3.31
Jasa-jasa 14.29 14.00 13.55 13.40 13.76
Jumlah 100 100 100 100 100
Sumber: Diambil dari Tabel 3.16

Sampai tahun 2002 struktur ekonomi Kabupaten Karanganyar masih

didomiasi oleh 4 sektor unggulan, yaitu sektor industri yang memberikan

kontribusi sebesar 37,67 %, sektor pertanian sebesar 19,36 %, sektor perdagangan

sebesar 17,80 % dan sektor jasa-jasa sebesar 13,76 %. Empat sektor unggulan

tersebut pada umumnya mengalami peningkatan kontribusi dibanding tahun 2001

kecuali sektor pertanian yang mengalami penurunan karena kemarau panjang

sehingga produksi sektor pertanian menurun.

Apabila dilihat dari mata pencaharian penduduknya, ternyata sebagian

besar penduduk Kabupaten Karanganyar masih bekerja di sektor pertanian yaitu

33,6 % sedangkan yang bekerja di sektor industri hanya sebesar 14,6 %. Sehingga

dari kondisi tersebut dapat disimpulkan bahwa Kabupaten Karanganyar

berstruktur agraris menuju industrial (transisi).

2. Analisis Model Basis Ekonomi

Ada tidaknya keunggulan komparatif yang dimiliki oleh suatu daerah

sehingga daerah tersebut dapat mengekspor hasil kegiatan produksi ke daerah lain

atau sebaliknya mengimpor dari daerah lain, akan mempengaruhi maju dan

berkembangnya suatu daerah. Kemampuan mengekspor ini menyebabkan arus

pendapatan mengalir masuk ke daerah yang bersangkutan, sehingga dapat

memperluas pasar dalam daerah tersebut.

Konsep teori Basis Ekonomi ini menerangkan perkembangan suatu daerah

disebabkan karena keuntungan ekonomi dari kegiatan skala besar sehingga

memungkinkan daerah tersebut untuk mengekspornya ke daerah lain. Sektor yang


mengekspor merupakan sektor basis yang mempunyai pengaruh terhadap

perkembangan sektor non basis. Bertambah banyaknya basis di dalam suatu

daerah yaang bersangkutan, akan menambah permintaan terhadap barang-barang

dan jasa-jasa didalamnya dan menimbulkan kenaikan volume kegiatan bukan

basis. Sebaliknya, berkurangnya kegiatan basis akan menyebabkan berkurangnya

pendapatan yang mengalir masuk ke dalam daerah yang bersangkutan dan

turunnya permintaan terhadap produk dari kegiatan bukan basis.

Dengan demikian, sesuai dengan namanya, kegiatan basis mempunyai

peranan sebagai penggerak pertama (prime mover role), dimana setiap perubahan

mempunyai efek multiplier terhadap perekonomian regional. Hubungan antara

sektor basis dan sektor non basis dapat digambarkan dalam bentuk rumus sebagai

berikut:

T = B + NB…… (1)

NB = Rt …….. (2)

Dimana:

T = kegiatan total

B = sektor basis

NB = sektor non basis

r = persentase (%) bagian dari sektor non basis

Kita substitusikan persamaan (2) ke dalam persamaan (1) maka akan kita

dapatkan:

T = B + rT ……….. (3)
T - rT = B ……………... (4)

T = B / (1 – r) = multiplier

Rumus tersebut mengatakan bahwa sektor non basis mendapat bagian dari

pendapatan sektor basis yang besarnya tercermin dalam nilai r. Model ini

mengasumsikan tidak adanya kemungkinan dari sektor non basis untuk

mendapatkan bagian dari pendapatan sektor non basis. R dalam persamaan

tersebut menunjukkan peningkatan atau penurunan absolut dalam aktivitas

ekonomi daerah (sektor non basis) terhadap aktifitas total.

Salah satu cara yang banyak dipakai untuk mengidentifikasikan sektor

basis dan sektor non basis adalah model location Quatient (LQ), dimana secara

matematis Location Quatient dapat dirumuskan sebagai berikut:

NTbi / PDRB
LQ =
NTbi * / PDRB *

Keterangan:

NT bi = Nilai tambah bruto sektor I di daerah x.

PDRB = PDRB Kabupaten x.

NT bi * = Nilai tambah bruto sektor I pada tingkat propinsi.

PDRB * = PDRB pada tingkat propinsi.

Apabila LQ >1, sektor yang bersangkutan produksinya sudah memenuhi

kebutuhan sendiri bahkan sudah bisa mengekspor. Oleh sebab itu daerah tersebut

dikatakan mempunyai keunggulan komparatif dan disebut sebagai sektor basis.


Jika LQ< 1 sektor tersebut produksinya belum dapat memenuhi kebutuhan daerah

sendiri, disebabkan oleh kurangnya peranan sektor tersebut dalam pembangunan

daerah. Karena tidak memiliki keunggulan komparatif, maka sektor tersebut

disebut sektor non basis.

Analisis LQ inilah yang akan diterapkan untuk mengetahui struktur

ekonomi Kabupaten Karanganyar. Dari sembilan sektor/ subsektor yang ada akan

dianalisis sektor/ sub sektor mana saja yang akan masuk kedalam kelompok

sektor basis dan sektor/ sub sektor mana yang masuk kedalam kelompok non

basis, sehingga akan didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.2. Hasil Analisis LQ Kabupaten Karanganyar Tahun 1998-2002

Tahun
Sektor/ Sub Sektor 1998 1999 2000 2001 2002 Rata-rata Kesimpulan
1 2 3 4 5 6 7 8
Pertanian 0.90 0.96 0.95 0.99 0,95
- Tanaman pangan 0.92 0.98 0.98 1.04 1 0.98 Non basis
- Perkebunan 0.87 1.18 1.09 1.25 2 1.50 Basis
- Peternakan 1.45 1.32 1.24 1.21 1,5 1.66 Basis
- Kehutanan 0.31 0.36 0.42 0.41 0,30 0.43 Non basis
- Perikanan 0.09 0.08 0.07 0.08 0,05 0.07 Non basis
Pertambangan dan galian 0.86 0.86 0.83 0.82 0,50 0.77 Non basis
Industri 1.22 1.22 1.26 1.23 1,23 1.23 Basis
Listrik, gas dan air minum 1.43 1.39 1.36 1.43 2 1.52 Basis
Bangunan 0.60 0.57 0.59 0.61 0,5 0.57 Non basis
Perdagangan, hotel 0.78 0.77 0.74 0.73 0,75 0.75 Non basis
Pengangkutan dan komunikasi 0.62 0.57 0.55 0.53 0,60 0.57 Non basis
Keuangan dan sewa 0.88 0.86 0.85 0.87 0,75 0.84 Non basis
Jasa-jasa 1.36 1.38 1.37 1.38 1,40 1.38 Basis

Sumber: Diolah dari tabel 3.16. dan 3.17.

Berdasarkan perhitungan LQ yang telah dilakukan selama kurun waktu

1998-2002 di Kabupaten Karanganyar dengan menggunakan data PDRB atas

dasar harga konstan tahun 1993 maka terlihat bahwa ada beberapa sektor yang

selama kurun waktu tersebut (5 tahun) menjadi sektor basis dan ada beberapa

sektor yang yang menjadi sektor non basis, serta ada beberapa sektor yang

berfluktuasi menjadi sektor basis dan non basis. Dan setelah kita lihat dari

kesimpulan rata-rata selama lima tahun untuk kurun waktu tersebut dapat

dihasilkan sektor atau sub sektor yang termasuk sektor atau sub sektor basis yaitu:

Sektor Pertanian yang terdiri dari:

a. Sub Sektor Perkebunan

b. Sub Sektor Peternakan

3. Sektor Industri Pengolahan

4. Sektor Listrik, Gas dan Air Minum

5. Sektor Jasa

Empat sektor dan sub sektor basis tersebut di Kabupaten Karanganyar

adalah kegiatan usaha yang mempunyai keunggulan komparatif, sehingga dapat

melayani pasar di daerah sendiri dan pasar di luar daerah (ekspor).

Selama kurun waktu tahun 1998-2002 dari perhitungan LQ, memang

terlihat adanya kecenderungan penurunan sebagian sektor, terutama pada tahun


1998. Keadaan ini bukan berarti peranan sektor tersebut menurun di Kabupaten

Karanganyar, tetapi hal ini lebih dikarenakan dampak krisis ekonomi yang

melanda Indonesia. Akan tetapi pada tahun-tahun berikutnya menunjukkan

adanya perbaikan ekonomi dengan pertumbuhan yang tidak lagi negatif, kecuali

beberapa sektor, seperti sektor industri yang kembali mengalami penurunan pada

tahun 2001 akibat dari tragedi WTC di Amerika Serikat tanggal 11 September

2001.

3. Shift Share Analisis (SSA)

Pergeseran struktur ekonomi suatu daerah dapat dianalisis dengan

menggunakan metode Shift Share Analisis (SSA). Dengan metode ini dapat

dianalisis mengenai pergeseran struktur perekonomian daerah perencanaan dalam

hubungannya dengan sistem perekonomian yang lebih luas. Sedangkan variabel

pengukuran yang sering dipergunakan adalah pendapatan dan kesempatan kerja.

Metode ini mengasumsikan bahwa pertumbuhan perekonomian suatu daerah

dapat dibagi menjadi tiga komponen atau faktor antar lain:

a. Komponen pertumbuhan daerah pengamatan (propinsi)

b. Komponen pertumbuhan proporsional (proportional component)


c. Komponen pertumbuhan daya saing (differential or regional share

growth component).

Ketiga hubungan komponen dimaksud dirumuskan sebagai berikut:

V* = (V1/V) + (Vi1/Vi – V1/V) + (Yi1/Yi - Vi1/Vi)

Keterangan:

V* = Perubahan pendapatan wilayah perencanaan kabupaten

V1 = Pendapatan total wilayah propinsi pengamatan tahun akhir

V = Pendapatan total wilayah propinsi pengamatan pada tahun dasar

Vi1 = Pendapatan sektor I wilayah propinsi pengamatan pada tahun akhir

Vi = Pendapatan sektor I wilayah propinsi pengamatan pada tahun dasar

Yi1 = Pendapatan sektor I Kabupaten pada tahun akhir

Yi = Pendapatan sektor I wilayah perencanaan Kabupaten pada

tahun dasar

Ruas pertama dari rumus diatas menyatakan komponen pertumbuhan

wilayah pengamatan (propinsi), ruas kedua menyatakan komponen pertumbuhan

proporsional, dan ruas ketiga menyatakan komponen pertumbuhan daya saing

kabupaten Karanganyar.

Apabila komponen pertumbuhan proporsional suatu sektor > 0, maka

sektor yang bersangkutan cepat pertumbuhannya dan memberikan pengaruh yang

positif terhadap perekonomian wilayah, dan sebaliknya bila < 0, maka wilayah

tersebut sebagian besar penduduknya bersumber dari sektor yang lambat

pertumbuhannya, sehingga sektor yang bersangkutan akan tumbuh dibawah


pertumbuhan tingkat wilayah pengamatan. Khusus untuk komponen pertumbuhan

daya saing wilayah, jika nilainya untuk suatu sektor > 0, maka keunggulan

komparatif dari sektor tersebut meningkat dalam perekonomian wilayah yang

lebih luas dan sebaliknya apabila < 0.

Dalam metode Shift Share Analisis, digunakan data PDRB Kabupaten

Karanganyar dan Propinsi Jawa Tengah tahun 1998-2002 atas dasar harga konstan

1993. Berdasarkan metode SSA tersebut, maka hasil perhitungan terhadap

struktur perekonomian Kabupaten Karanganyar dapat dilihat pada tabel 4.2.

berikut:

Tabel 4.3. Hasil Analisis Shift Share Berdasarkan PDRB Kab. Karanganyar dan

Propinsi Jawa Tengah Tahun 1998-2002

Komponen Komponen Komponen Perubahan


SEKTOR Pertumbuhan Pertumbuhan Pertumbuhan Pendapatan
Propinsi Jawa Proporsional Daya Saing Kabupaten
Tengah Kabupaten Karanganyar
Karanganyar
Pertanian 1.15 -0.06 0.07 1.16
- Tanaman pangan 1.15 -0.14 0.01 1.02
- Perkebunan 1.15 -0.14 0.71 1.72
- Peternakan 1.15 0.38 -0.08 1.45
- Kehutanan 1.15 -0.28 0.20 1.07
- Perikanan 1.15 0.09 -0.04 1.20
Pertambangan dan 1.15 0.07 -0.11 1.11
galian
Industri 1.15 -0.01 -0.01 1.15
Listrik, gas dan air 1.15 1.20 0.01 2.36
minum
Bangunan 1.15 0.07 -0.02 1.20
Perdagangan, hotel 1.15 0.05 -0.10 1.10
Pengangkutan dan 1.15 0.18 -0.24 1.09
komunikasi
Keuangan dan sewa 1.15 -0.04 -0.04 1.07
Jasa-jasa 1.15 -0.08 0.01 1.08
Sumber: Data sekunder, diolah dari tabel 3.12 dan 3.13

Pada tabel diatas terlihat bahwa terjadi perubahan pendapatan yang positif

untuk semua sektor dan sub sektor di Kabupaten Karanganyar. Walaupun

perubahan pendapatan positif, akan tetapi besarnya bervariasi dari setiap sektor

dan sub sektor, dimana perubahan terbesar adalah di sektor listrik, gas dan air

minum (2,36), sub sektor perkebunan (1,72), sub sektor peternakan (1,45), disusul

sub sektor perikanan dan bangunan masing-masing 2,0.

D. Pengembangan Sektor atau Sub Sektor Prioritas

Untuk mendukung program kebijakan pengembangan regional

Kabupaten Karanganyar, maka perlu dilihat sektor mana yang strategis dan

prioritas untuk dikembangkan atau diprogramkan. Maka berdasarkan analisa

struktur ekonomi melalui analisis LQ dan analisis shift share akan digabungkan,

kemudian dirangking, sehingga sesuai dengan kedua kriteria analisa tersebut

dapat disusun program penanganannya.

Tolok ukur yang dipakai untuk menentukan urut-urutan sektor atau sub

sektor prioritas adalah dengan cara sebagai berikut:


Prioritas utama:

Apabila sektor atau sub sektor tersebut merupakan sektor basis, memiliki

keunggulan komparatif dan laju pertumbuhan cepat.

Prioritas kedua:

Apabila sektor atau sub sektor tersebut merupakan:

- Sektor atau sub sektor basis dan memiliki keunggulan komparatif

- Sektor atau sub sektor basis dan pertumbuhan cepat

- Sektor atau sub sektor non basis yang memiliki keunggulan komparatif

dan pertumbuhan cepat.

Prioritas ketiga:

Apabila sektor atau sub sektor non basis tersebut hanya memiliki

keunggulan komparatif.

Prioritas keempat:

Apabila sektor atau sub sektor non basis tersebut hanya mempunyai

pertumbuhan cepat saja.

Perioritas terakhir (kelima):

Apabila sektor atau sub sektor tersebut adalah sektor non basis dan tidak

mempunyai keunggulan apa-apa.

Prioritas alternatif:

Apabila sektor atau sub sektor tersebut adalah sektor basis tetapi

pertumbuhannya lambat dan tidak mempunyai keunggulan komparatif.

Keterangan:
(+) = Sektor atau sub sektor bila dikembangkan akan mempercepat pertumbuhan

sektor tersebut dan perekonomian Kabupaten Karanganyar, serta

mendukung pertumbuhan perekonomian Jawa Tengah.

(-) = Sektor atau sub sektor bila dikembangkan kurang mendukung pertumbuhan

sektor tersebut dan perekonomian Jawa Tengah.

Hasil analisis struktur ekonomi Kabupaten Karanganyar menggunakan

gabungan analisis LQ dan analisis shift share pada tabel 4.4 di bawah ini dapat

memberikan usulan alternatif pada daerah akan program pengembangan regional

Kabupaten Karanganyar dengan urutan prioritas sebagai berikut:

1. Pengembangan sektor atau subsektor prioritas utama adalah sektor listrik, gas

dan air minum

2. Pengembangan sektor atau subsektor prioritas kedua meliputi:

a. Sub Sektor Perkebunan

b. Sub Sektor Peternakan

c. Sektor Jasa-Jasa

3. Pengembangan sektor atau subsektor prioritas ketiga meliputi:

a. Sub Sektor Tanaman Pangan

b. Sub Sektor Kehutanan

c. Sektor Keuangan dan Sewa

4. Pengembangan sektor atau subsektor prioritas keempat meliputi:

a. Sub Sektor Perikanan

b. Sektor Pertambangan dan Galian

c. Sektor Bangunan
d. Sektor Perdagangan dan Hotel

e. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi

5. Pengembangan sektor atau subsektor prioritas kelima adalah sektor Keuangan

dan Sewa.

6. Sektor alternatif yang perlu dikembangkan adalah sektor industri

Jadi untuk hipotesis bahwa sektor yang mempunyai prioritas dan

potensial untuk dikembangkan di masa yang akan datang adalah sektor listrik,

gas, dan air minum, sektor industri dan sektor pertanian adalah terbukti.

Sedangkan sektor industri merupakan sektor alternatif yang perlu dikembangkan

untuk penyerapan tenaga kerja selain sektor pertanian.

Tabel 4.4. Gabungan Hasil Perhitungan Analisis LQ dan Analisis Shift Share di

Kabupaten Karanganyar.

Shift Share
Sektor/ Sub Sektor LQ >0 <0 Prioritas
Pertumb. Keunggulan Pertumb. Tidak
cepat Komparatif Lambat Kompar
atif
Pertanian + -
- Tanaman pangan NB + - Ketiga
- Perkebunan B + - Kedua
- Peternakan B + - Kedua
- Kehutanan NB + - Ketiga
- Perikanan NB + - Keempat
Pertambangan dan NB + - Keempat
galian
Industri B - - Kedua
Listrik, gas dan air B + + Pertama
minum
Bangunan NB + - Keempat
Perdagangan, hotel NB + - Keempat
Pengangkutan dan NB + - Keempat
komunikasi
Keuangan dan sewa NB - - Kelima
Jasa-jasa B + - Kedua

Sumber: diolah dari tabel 4.2 dan tabel 4.3.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari analisis data yang dilakukan, maka dapat diambil suatu

kesimpulan sebagai berikut:

1. Kabupaten Karanganyar mempunyai tekanan penduduk yang sudah

melebihi ambang batas dengan nilai TP sebesar 2,98 pada tahun 2002,

sedang prediksi untuk tahun 2007 nilai TP sebesar 3,15. Hal ini berarti

tekanan penduduk di Kabupaten Karanganyar sudah melebihi daya

tampung lahan dalam mencukupi kebutuhan akan pangan. Jadi hipotesis


pertama yang menyatakan bahwa daya dukung wilayah Kabupaten

Karanganyar sudah melebihi ambang batas adalah terbukti.

2. Struktur ekonomi. Dilihat dari sumbangannya terhadap pembentukan

PDRB, sektor industri menyumbang paling besar yaitu sebesar 37,67 %,

kemudian sektor pertanian sebesar 19,38 %, sektor perdagangan sebesar

17,60 % dan sektor jasa-jasa sebesar 13,76 %. Sedangkan kalau dilihat

dari mata pencaharian penduduknya, sektor pertanian ternyata masih

paling dominan yaitu sebesar 33,16 % dan sektor industri sebesar 14,64

%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Kabupaten Karanganyar

berstruktur peralihan (transisi) dari agraris menuju industrial.

3. Basis ekonomi. Diantara sektor atau subsektor kegiatan ekonomi di

Kabupaten Karanganyar yang tergolong kedalam sektor berdasar analisis

Location Quotient adalah:

- Sub sektor perkebunan (LQ=1,50)


76
- Subsektor peternakan (LQ=1,66)

- Sektor Industri (LQ=1,23)

- Sektor listrik, gas dan air minum (LQ=1,52)

- Sektor jasa-jasa (LQ=1,38)

Sektor-sektor basis inilah yang banyak berperan dalam peningkatan

perekonomian Kabupaten Karanganyar, karena juga dapat memberikan

multiplier effek kepada sektor non basis, sehingga sektor non basis

menunjukkan peningkatan. Sehingga berdasar tinjauan ekonomi murni dan

hasil analisis LQ, hipotesis kedua yang menyatakan bahwa sektor yang

berpengaruh besar terhadap perubahan struktur ekonomi di Kabupaten


Karanganyar adalah sektor industri, sektor pertanian dan dan sektor

perdagangan adalah terbukti

4. Hasil analisis Shift Share menunjukkan bahwa sektor yang mengalami

pertumbuhan cepat adalah sektor listrik, gas dan air minum, subsektor

peternakan, sektor pengangkutan, subsektor perikanan, sektor

pertambangan dan galian, sektor bangunan, dan sektor perdagangan dan

hotel. Sedangkan sektor yang mempunyai keunggulan komparatif adalah

subsektor perkebunan, subsektor kehutanan, subsektor tanaman pangan,

sektor listrik, gas dan air minum, dan sektor jasa.

5. Urutan sektor prioritas penanganan yang dapat disusun berdasar analisis

transformasi LQ dan SSA agar sumber daya dan dana yang ada bisa

dimanfaatkan lebih efisien adalah sebagai berikut:

- Prioritas I

Sektor Listrik, Gas dan Air Minum

- Prioritas II

Sub sektor perkebunan

Sub sektor peternakan

Sektor jasa-jasa

- Prioritas III

Sub sektor tanaman pangan

Sub sektor kehutanan

- Sektor alternatif yang perlu dikembangkan adalah sektor industri.

Dari hasil tersebut, hipotesis kedua yang menyatakan bahwa sektor yang

mempunyai prioritas dan potensial untuk dikembangkan di masa-masa


yang akan datang adalah sektor industri, pertanian dan sektor jasa adalah

terbukti, meskipun masuk kedalam prioritas kedua maupun prioritas

alternatif, yang masing-masing mempunyai keunggulan tersendiri.

B. Saran-Saran

Dari uraian tersebut diatas, maka penulis memberikan saran-saran

sebagai berikut:

1. Kebijakan makro yang dapat diambil oleh pemerintah daerah Kabupaten

Karanganyar adalah dengan peningkatan investasi. Investasi yang ada

sebaiknya diarahkan untuk sektor-sektor yang potensial untuk

dikembangkan yaitu yang masuk dalam prioritas I dan II serta sektor

alternatif. Yaitu sektor listrik, gas dan air minum, kedua adalah sektor

pertanian yang meliputi sektor perkebunan dan peternakan, dan sektor

jasa-jasa. Sektor listrik, gas dan air minum menjadi prioritas utama karena

Kabupaten Karanganyar mempunyai sumber air bersih yang melimpah,

yang tidak semua daerah memilikinya. Sementara untuk sektor jasa

dipengaruhi oleh sektor pariwisata yang sangat potensial di Kabupaten

Karanganyar.

2. Sektor-sektor basis di Kabupaten Karanganyar perlu mendapat perhatian

yang lebih serius, karena sektor-sektor tersebutlah yang menjadi tumpuan

bagi perekonomian daerah.

3. Walaupun kontribusi sektor pertanian dari tahun ke tahun semakin

menurun, namun ternyata sektor ini masih mempunyai peranan yang

cukup besar dalam penyerapan tenaga kerja maupun dalam pembentukan

PDRB. Oleh karena itu untuk memajukan sektor pertanian ini, pemerintah
hendaknya dapat memacu dan mendorong masyarakat untuk beralih dari

sistem pertanian tradisional kepada pertanian modern. Pemerintah

hendaknya dapat menjadi mitra petani untuk mengawasi rantai distribusi

dan pemasaran sarana prasarana maupun hasil-hasil pertanian yang selama

ini banyak dipermainkan oleh para tengkulak. Selain itu pemerintah

hendaknya memberi kemudahan kepada petani dalam memperoleh

permodalan.

4. Untuk pengembangan perekonomian kedepan, perlu didorongnya sektor-

sektor ekonomi yang saling berkaitan dengan sektor pertanian, khususnya

sektor industri dan sektor perdagangan. Karena kedua sektor tersebut

merupakan sektor alternatif yang potensial baik untuk penyerapan tenaga

kerja juga untuk penyerapan hasil-hasil pertanian sebagai bahan baku

industri maupun perdagangan.

5. Dalam menentukan kebijakan pembangunan, selain melihat hasil analisis

transformasi struktur ekonomi gabungan LQ dan SSA sebagai salah satu

alternatif dalam pengembangan regional, perlu juga diperhatikan atau

dipertimbangkan aspek-aspek yang lain, seperti hukum, politik, dan aspek

sosil budaya

6. Perlu penelitian lebih lanjut untuk memperoleh angka prioritas

pengembangan yang lebih tajam dengan menggunakan alat analisis lain,

misalnya Input-Output Regional, MRP, LQ dan SSA dengan data dasar

tenaga kerja sehingga lebih mempertajam prioritas dan keterkaitan

kedepaan maupun ke belakang.


7. Untuk mengurangi tekanan penduduk yang sudah melebihi ambang batas

daya tampung lahan dalam mencukupi kebutuhan pangan perlu dilakukan

usaha nyata untuk penanganannya, seperti:

a. Diadakannya program transmigrasi terutama untuk daerah daerah

minus maupun yang sudah terlalu padat penduduknya.

b. Pemerataan pembangunan sehingga penyebaran penduduk dapat

merata.

c. Menambah dan meningkatkan sarana dan prasarana yang mendukung

pembangunan seperti; sekolah-sekolah, rumah sakit, sarana

transportasi dan komunikasi, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat

meningkat.

d. Meningkatkan penyuluhan dan bimbingan kepada para petani untuk

memaksimalkan hasil pertanian.

DAFTAR PUSTAKA

- Aris Ananta. 1990. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Lembaga Demografi FE


dan Pusat Antar Universitas Bidang Ekonomi UI. Jakarta.
- Dumairy. 1990. Perekonomian Indonesia. Erlangga. Jakarta.
- Djarwanto PS. 1984. Pokok-Pokok Metode Riset dan Bimbingan Teknis
Penulisan Skripsi. Liberty. Yogyakarta.
- Ery Purwati. 2001. “Analisis Potensi Daerah, Daya Dukung Lahan,
Permitaan dan Penawaran Bahan Pangan ( Beras dan Jagung ) Kabupaten
Blora Th 1985-1999”. Skripsi Mahasiswa FE UNS. Surakarta.
- Hadi Prayitno, Lincolin Arsyad. 1987. Petani Desa dan Kemiskinan. BPFE.
Yogyakarta.
- Hari Murti. 2001. Analisis Basis Ekonomi, Penerimaan, dan Pembiayaan
Pembangunan di Wilayah Subosukawonosraten. Surakarta
- Irawan, M. Suparmoko. 1987. Ekonomi Pembangunan. Liberty. Yogyakarta.
- Kantor Statistik Kabupaten Karanganyar. 2002. Karanganyar dalam Angka.
Karanganyar
- Lincolin Arsyad. 1993. Pengantar Perencanaan Ekonomi. Media Widya
Mandala. Yogyakarta.
- ----------------. 1993. Metode Penelitian Untuk Ekonomi dan Bisnis. UPP AMP
YKPN. Yogyakarta.
- ----------------. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Daerah.
BPFE Yogyakarta. Yogyakarta.
- Michael P Todarro. 1983. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Ghalia
Indonesia. Jakarta.
- ML Jhingan. 1996. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Rajawali Press.
Jakarta.
- Moh Soerjani, Rofiq Ahmad, Rozy Munir. 1987. Lingkungan : Sumber Daya
Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. UI Press. Jakarta.
- Mudrajat Kuncoro. 1997. Ekonomi Pembangunan, Teori, Masalah dan
Kibijakan. UPP AMP YKPN. Yogyakarta.
- 80
Mubyarto. 1990. Pengantar Ekonomi Pertanian. BPFE UGM. Yogyakarta.
- Otto Sumarwoto. 1997. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan.
Djambatan. Jakarta.
- ---------------------. 2001. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta.
- Risiya Fitri Puji Astuti. 2000. “Analisis Daya Dukung Wilayah, Distribusi
Pendapatan dan Indeks Mutu Hidup Masyarakat Daerah Pantai di Wilayah
Kabupaten Pati”. Skripsi Mahasiswa FE UNS. Surakarta.
- Soemitro Djoyo Hadikusumo. 1994. Perkembangan Pemikiran Ekonomi,
Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. LP3ES.
Jakarta.
- Soekanto Reksodiprojo. 1990. Ekonomi Lingkungan. BPFE UGM.
Yogyakarta.
- ---------------------------- 1998. Ekonomi SDA dan Energi. BPFE UGM.
Yogyakarta.
- Sunarno. 2000. “Analisis Daya Dukung Lahan dan Perubahan Struktur
Ekonomi Kabupaten Pati”. Skripsi mahasiswa FE UNS. Surakarta.
- Thee Kian Wie. 1981. Pemerataan Kemiskinan Ketimpangan, Beberapa
Pemikiran Tentang Pertumbuhan Ekonomi. Sinar Harapan. Jakarta.
- ---------------------. 1980. Pembangunan Ekonomi dan Pemerataan. LP3ES.
Jakarta.
- Yusak Adi Nugroho. 2000. “Analisis Daya Dukung Lahan dan Perubahan
Struktur Ekonomi Kabupaten Dati II Pati Th 1993-1999”. Skipsi Mahasiswa
FE UNS. Surakarta.

LAMPIRAN 1
ANALISA BIAYA PRODUKSI USAHATANI PADI SAWAH (PER HA)

1. Total Produksi = 5.600 Kg gabah


2. Harga setempat di tingkat petani = Rp. 1.000,- / Kg
3. Nilai Total Produksi = Total Produksi x Harga = Rp. 5.600.000,-
4. Total Biaya Produksi = Rp. 2.914.200,-

Pendapatan Bersih Secara Usahatani:


NTP – TBP = 5.600.000 – 2.914.200 = Rp. 2.685.800,-

Tenaga Kerja Upahan Tenaga Kerja Keluarga


KETERANGAN Jumlah Harga/ Total Jumlah Harga/ Total
Unit Biaya Unit Biaya
A. Tenaga Kerja
1. Pra panen
a. Persemaian 4 10.000 40.000 2 10.000 20.000
b. Pengolahan tanah
b.1. Membajak 1 160.000 160.000
b.2. Meratakan 4 10.000 40.000
c. Menanam 12 12.500 150.000
d. Memupuk 6 10.000 60.000
e. Menyiangi 8 12.500 100.000 5 10.000 50.000
2. Pasca panen
a. Memanen 20 10.000 200.000
b. Membersihkan 8 7.500 60.000
c. Mengangkut 1 30.000 30.000
d. Mengeringkan 12 10.000 120.000
B. Sarana produksi
1. Benih/ bibit 30 3.000 90.000
2. Pupuk
a. Anorganik
a.1. Urea 100 1.150 115.000
a.2. Tsp 100 1.350 135.000
a.3. Kcl 50 1.040 52.000
b. Pupuk kandang 200 700 140.000
C. Lain-lain
1. Pajak lahan 52.500
2. Iuran P3A 40.000
3. Sewa tanah 1.300.000
Jumlah 1.464.200 1.490.000
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Karanganyar

LAMPIRAN 2

ANALISA BIAYA PRODUKSI USAHATANI WORTEL (PER HA)

1. Total Produksi = 25.000 Kg

2. Harga setempat di tingkat petani = Rp. 750,- / Kg

3. Nilai Total Produksi = Total Produksi x Harga = Rp. 18.750.000,-

4. Total Biaya Produksi = Rp. 9.484.000,-


Pendapatan Bersih Secara Usahatani:

NTP – TBP = 18.750.000 – 9.484.000 = Rp. 9.266.000,-

Tenaga Kerja Upahan Tenaga Kerja Keluarga


KETERANGAN Jumlah Harga/ Total Jumlah Harga/ Total
Unit Biaya Unit Biaya
A. Tenaga Kerja
1. Pra panen
a. Mencangkul 75 10.000 750.000 6 10.000 60.000
b. Menanam 5 10.000 50.000 6 10.000 60.000
c. Memupuk 10 8.000 80.000 4 10.000 80.000
d. Menyiangi 60 8.000 480.000 4 8.000 32.000
e. Pengendalian hama 6 10.000 60.000 6 10.000 60.000
2. Pasca panen
a. Memanen 14 10.000 140.000 6 10.000 60.000
c. Mengangkut 4 10.000 40.000 6 10.000 60.000
B. Sarana produksi
1. Benih/ bibit 0.45 3.688.888 1.660.000 0.45
2. Pupuk
a. Anorganik
a.1. Urea 300 1.100 330.000 300
a.2. Tsp 150 1.600 240.000 150
b. Pestisida
b.1. Dithan M45 4 60.000 240.000 4
b.2. Matadhor 5 160.000 800.000 5
C. Lain-lain
1. Pajak lahan 250.000
2. Sewa tanah 2.500.000
Jumlah 9.120.000 364.000
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Karanganyar

LAMPIRAN 3
ANALISA BIAYA PRODUKSI USAHATANI JAGUNG (PER HA)

1. Total Produksi = 2.650 Kg pipil kering


2. Harga setempat di tingkat petani = Rp. 1.300,- / Kg
3. Nilai Total Produksi = Total Produksi x Harga = Rp. 3.445.000,-
4. Total Biaya Produksi = Rp. 2.580.000,-

Pendapatan Bersih Secara Usahatani:


NTP – TBP = 3.445.000 – 2.580.200 = Rp. 864.300,-
Tenaga Kerja Upahan Tenaga Kerja Keluarga
KETERANGAN JML. HARGA TOTAL JML. HARGA TOTAL
/ UNIT BIAYA / UNIT BIAYA

A. Tenaga Kerja
1. Pra panen
a. Mencangkul 50 6.000 300.000
b. Menanam 10 5.000 50.000 8 5.000 40.000
c. Memupuk 10 5.000 50.000 10 5.000 50.000
d. Menyiangi 15 5.000 75.000 15 4.000 60.000
e. Pengendalian hama 5 6.000 30.000 5 5.000 25.000
2. Pasca panen
a. Memanen 20 5.000 100.000 10 5.000 50.000
b. Mengupas 13 5.000 65.000 10 4.500 45.000
b. Memipil 20 4.000 80.000 20 3.500 70.000
c. Mengeringkan 10 3.000 30.000 10 3.000 30.000
B. Sarana produksi
1. Benih/ bibit 40 9.000 360.000 10 9.000 90.000
2. Pupuk
a. Anorganik
a.1. Urea 200 1.080 216.000
a.2. Tsp 100 1.480 148.000
a.3. Kcl 50 1.800 90.000
a.4. ZA 50 1.000 50.000
b. Pupuk kandang 1.000 60 60.000
c. Pestisida (furadan) 15 8.000 120.000
3. Lain-lain
a. Pajak lahan 16.700
b. Sewa tanah 280.000
Jumlah 2.120.700 460.000
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Karanganyar

LAMPIRAN 4
ANALISA BIAYA PRODUKSI USAHATANI UBI KAYU (PER HA)

1. Total Produksi = 25.000 Kg umbi basah


2. Harga setempat di tingkat petani = Rp. 250,- / Kg
3. Nilai Total Produksi = Total Produksi x Harga = Rp. 6.250.000,-
4. Total Biaya Produksi = Rp. 1.881.000,-

Pendapatan Bersih Secara Usahatani:


NTP – TBP = 6.250.000 – 1.881.000 = Rp. 4.369.000,-
Tenaga Kerja Upahan Tenaga Kerja Keluarga
KETERANGAN Jumlah Harga/ Total Jumlah Harga/ Total
Unit Biaya Unit Biaya
C. Tenaga Kerja
1. Pra panen
a. Mencangkul 5 10.000 50.000 25 10.000 250.000
b. Menanam 6 8.500 51.000
c. Memupuk 4 8.500 34.000
d. Lain-lain 5 10.000 50.000
2. Pasca panen
a. Memanen 10 8.500 85.000 6 8.500 51.000
b. Mengangkut 250.000
c. Lain-lain 50.000
D. Sarana produksi
1. Benih/ bibt 100.000
2. Pupuk
a. Anorganik
a.1. Urea 100 1.200 120.000
a.2. Tsp 50 1.500 75.000
b. Pupuk kandang 5.000 36 180.000
3. Lain-lain
a. Pajak lahan 25.000
b. Sewa tanah 500.000
c. Iuran P3A 15.000
Jumlah 810.000 1.071.000
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Karanganyar

LAMPIRAN 5

ANALISA BIAYA PRODUKSI MANGGA (PER HA)

1. Rata-rata jumlah pohon / Ha = 18 pohon

2. Harga setempat di tingkat petani (tebasan)= Rp. 120.000/ pohon

3. Tootal hasil produksi = 18 x 120.000 = Rp. 2.160.000,-

4. Total Biaya Produksi = Rp. 537.000,-

Pendapatan Bersih tanaman mangga:


NTP – TBP = 2.160.000 – 537.000 = Rp. 1.623.000,-

Tenaga Kerja Upahan


KETERANGAN JML. HARGA/ UNIT TOTAL BIAYA

A. Tenaga Kerja
a. Pengolahan tanah 5 10.000 50.000
Makan 5 1.000 5.000
b. Penyemprotan 2 10.000 20.000
Makan 2 1.000 2.000
c. Perawatan 4 10.000 40.000
Makan 4 1.000 4.000
B. Sarana produksi
1. bibit 18 4.000 72.000
2. Pestisida
a.Gandasil cair 1 kaleng 25.500 25.500
a.Biotan 1 18.500 18.500
3. Pupuk kandang 150 kg 2000 300.000
Jumlah 537.000
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Karanganyar

LAMPIRAN 6
ANALISA BIAYA PRODUKSI RAMBUTAN (PER HA)

1. Rata-rata jumlah pohon/ Ha = 12 pohon


2. Harga setempat di tingkat petani (tebasan)/ pohon = Rp. 200.000,-
3. Total hasil produksi = 12 x 200.000 = Rp. 2.400.000,-
4. Total Biaya Produksi = Rp. 647.000,-

5. Pendapatan Bersih tanaman mangga:

NTP – TBP 2.400.000 – 647.000,- = Rp. 1.753.000,-


Tenaga Kerja Upahan
KETERANGAN JML. HARGA/ UNIT TOTAL BIAYA

A. Tenaga Kerja
a. Pengolahan tanah 5 10.000 50.000
Makan 5 1.000 5.000
b. Penyemprotan 3 10.000 30.000
Makan 3 1.000 3.000
c. Perawatan 5 10.000 50.000
Makan 5 1.000 5.000
B. Sarana produksi
1. bibit 12 5.000 60.000
2. Pestisida
a.Gandasil cair 1 kaleng 25.500 25.500
a.Biotan 1 18.500 18.500
3. Pupuk kandang 200 kg 2000 400.000
Jumlah 647.000
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Karanganyar