Anda di halaman 1dari 14

LANDASAN PENDIDIKAN EKSTRAKURIKULER

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS KELOMPOK PADA MATA KULIAH DESAIN


EKSTRAKURIKULER
DOSEN PENGAMPU : MUHAMMAD AZWAR EA, M.Pd

DISUSUN OLEH:
MUHAMMAD SYAHRIAL (NIM 0301182157)

NUR RIRIN RIDHA HASINI (NIM 0301182108)

RAHMI GUSTINA MATONDANG (NIM 0301181006)

SEPTI HUSNA AFFIDA (NIM 0301182155)

JURUSAN / SEMESTER : PAI-5 / VII

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA

MEDAN

2021
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan di sekolah dikenal dengan tiga kegiatan, yaitu intrakurikuler, kokurikuler, dan
ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler menekankan pada pendidikan akademik yang di
dalamnya terjadi proses belajar mengajar yang sesuai atau sejalan dengan kegiatan kurikulum.
Kegiatan kokurikuler merupakan kegiatan penunjang yang berfungsi untuk memperdalam
pemahaman siswa seperti penugasan. Sementara kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan di
luar pendidikan akademik yang berfungsi untuk mendukung kegiatan akademik dan
mengembangkan aspek tertentu dari kurikulum yang ada.

Keberadaan kegiatan ekstrakurikuler sangatlah penting karena sekolah dapat memberikan


kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan potensi, minat, bakat, dan hobi yang dimiliki
siswa. Dalam hal ini, guru atau tenaga pengajar memiliki peran yang sangat penting dalam
meyalurkan bakat dan potensi siswa. Kegiatan ekstrakurikuler tidak akan berhasil apabila tidak
dikelola dengan baik oleh sekolah. Pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan secara
efektif tidak hanya dapat mendukung keberhasilan program intrakurikuler ataupun kokurikuler,
namun juga dapat mendukung keberhasilan pendidikan secara luas. Integrasi ketiga jenis
kegiatan ini tidak hanya dilakukan untuk menunjang dan meningkatkan pemahaman siswa,
namun juga membentuk karakter siswa yang mandiri dan berwawasan luas.

B. Rumusan Masalah
a Landasan yuridis
b Landasan filosofis
c Landasan konseptual
d Landasan psikologis
C. Tujuan Penulisan
a Untuk mengetahui landasan yuridis
b Untuk mengetahui landasan filosofis
c Untuk mengetahui landasan konseptual
d Untuk mengetahui landasan psikologis
BAB II

PEMBAHASAN

A. LANDASAN YURIDIS

Secara yuridis, pengembangan kegiatan ekstrakurikuler memiliki landasan hukum yang


kuat. Selain Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang telah dikemukakan
sebelumnya, dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional R.I. Nomor 125/U/2002
tentang Kalender Pendidikan dan Jumlah Jam Belajar Efektif di Sekolah, Bab V pasal 9 ayat (2)
dicantumkan: Pada tengah semester 1 dan 2 sekolah melakukan kegiatan olahraga dan seni
(Porseni), karyawisata, lomba kreativitas atau praktik pembelajaran yang bertujuan untuk
mengembangkan bakat, kepribadian, prestasi dan kreativitas siswa dalam rangka
mengembangkan pendidikan anak seutuhnya.1

Pada bagian lampiran Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 125/U/2002
tanggal 31 Juli 2002 dicantumkan bahwa liburan sekolah atau madrasah selama bulan Ramadhan
diisi dan dimanfaatkan untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang diarahkan pada peningkatan
akhlak mulia, pemahaman, pendalaman dan amaliah agama termasuk kegiatan ekstrakurikuler
lainnya yang bermuatan moral dan nilai-nilai akhlak mulia.

B. LANDASAAN FILOSOFI

Landasan menurut KBBI landasan dapat diartikan sebagai alas, dasar atau tumpuan. Istilah
landasan dapat diartikan juga sebagai fondasi. Dapat dipahami bahwa landasan adalah suatu
pijakan, titik tumpu atau titik tolak, suatu fondasi tempat berdirinya sesuatu hal.

Filososi : kata filosofi terbentuk 2 bahasa yunani, yaitu philo yang artinyacintadanshopos
yang artinya kebijaksanaan. Dengan demikian filosofis diartikan sebagai cinta kebijaksanaan.
Secara maknawi filsafat dimaknai sebagai suatu pengetahuan yang mencoba untuk memahami
hakikat segala sesuatu untuk mencapai kebenaran atau kebijaksanaan.

Filsafat telah ada semenjak manusia ada. Hanya keberadaannya tidak diakui secara formal
seperti filsafat sekarang. Manusia sejak lahir bertumbuh dan berkembang dan hidup
bermasyarakat, sudah mempunyai tujuan hidup, cita-cita, visi jauh kedepan dan berupaya
1
Departemen Pendidikan Nasional, Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional R.I. Nomor 125/U/2002
tentang Kalender Pendidikan dan Jumlah Jam Belajar Efektif di Sekolah tanggal 31 Juli 2002
mengejarnya. Filsafat adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu
sampai keakar-akarnya. Sesuatu disini bisa terbatas dan bisa tidak terbatas. Bila terbatas artinya
filsafat membatasi diri akan hal tertentu saja, misalnya filsafat ilmu, filsafat pendidikan dan
filsafat seni. Bila tidak terbatas, artinya filsafat membahas segala sesuatu yang ada di ala mini,
sering disebut filsafat umum.

Filsafat membahas tentang pengetahuan dan kebenaran. Sumber – sumber pengetahuan,


yaitu: penalaran, pengamatan / pengalaman, intuisis dan wahyu. Teori – teori kebenaran, sebagai
berikut:

1. Koherensi, sesuatu akan benar bila ia konsisten dengan kebenaran umum


2. Korespondensi, sesuatu akan benar bila ia berhubungan atau tepat dengan fakta yang
dijelaskan.
3. Pragmatism, sesuatu dipandang benar bila member manfaat bagi kehidupan
4. Skeptis, kebenaran yang diperolehsecarailmiah, berdasarkan data, dansifatnyamutlak.
5. Agama, kebenaran yang diwahyuhkanoleh Allah, kebenaran yang tertulis di Al-Qur’an,
al-kitab, kitab suci lainnya, kebenaran dengan iman dan sifat adalah mutlak.2

Landasan filosofi pendidikan adalah asumsi filosofis yang dijadikan titik tolak dalam
rangka studi dan praktek pendidikan. Dalam pendidikan terdapat momen studi pendidikan dan
momen praktek pendidikan. Melalui studi pendidikan akan diperoleh pemahaman tentang
landasan – landasan pendidikan , yang akan dijadikan titik tolak praktek pendidikan. Dengan
demikian landasan filosofis pendidikan sebagai hasil studi pendidikan tersebut, dapat dijadikan
titik tolak dalam rangka studi pendidikan yang bersifat filsafiah yaitu pendekatan yang lebih
komprehensif, spekulatif dan normatif.

Menurut Cohen L.N.M (1999) bahwa terdapat 3 cabang – cabang filosofi (filsafat) yang
masing – masing memiliki sub cabang. Ketiga cabang – cabang tersebut adalah :

1. Metafisika adalah cabang filsafat yang mempelajari atau membahas hakikatrealitas


(segala sesuatu yang ada) secara menyeluruh (komprehensif).
2. Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari atau membahas tentang hakikat nilai.
Aksiologi terdiri dari etika adalah cabang filsafat (bagian aksiologi) yang mempelajari
2
Amos Neolakadan Grace Amialia A. Neolaka, Landasan Pendidikan Dasar Pengenalan Diri Sendiri
Menuju Perubahan Hidup, (Jakarta: Kencana, 2017) h. 270-272.
atau membahas tentang hakikat baik jahatnya perbuatan manusia dan estetika adalah
cabang filsafat (bagian aksiologi) yang mempelajari atau membahas tentang hakikat seni
(art) dan keindahan (beauty).
3. Logika adalah cabang filsafat yang mempelajari atau membahas tentang asas - asas,
aturan - aturan, prosedur dan criteria penalaran (berpikir yang benar).

Aliran – aliran Filosofis Pendidikan. Dalam landasan filosofis pendidikan juga terdapat
berbagai aliran pemikiran. Hal ini muncul sebagai implikasi dari aliran - aliran yang terdapat
dalam filsafat. Menurut Gandhi, T.W (2011) ada Sembilan jenis aliran filosofis pendidikan :

1. Filsafat Pendidikan Idealisme


Plato adalah tokoh pertama yang mencetuskan ide idealisme. Menyatakan bahwa
idealism merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Idealisme memandang
realitas sebagai hal yang ada dalam kehidupan alam bukanlah suatu kebenaran yang hakiki,
melainkan hanya sebatas gambaran dari ide - ide yang ada didalam jiwa manusia.
2. Filsafat Pendidikan Realisme
Gagasan realism terlacak dimulai sebelum periode abad masehi dimulai, yaitu dalam
pemikiran murid Plato bernama Aristoteles (384 - 322 SM) Realisme adalah aliran filsafat
yang memandang bahwa dunia materi diluar kesadaran ada sebagai suatu yang nyata dan penting
untuk dikenal dengan mempergunakan kemampuan intelektual yang dimiliki manusia
3. Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Pragmatisme adalah aliran filsafat modern yang lahir di Amerika akhir abad 19 hingga
awal abad 20. Pada dasarnya, pragmatism merupakan suatu sikap hidup, suatu metode dan suatu
filsafat yang digunakan dalam mempertimbangkan nilai sesuatu ide dan kebenaran sesuatu
keyakinan secara praktis. Esensi diri pragmatisme ini terletak pada metodenya yang sangat
empiris dimana sangat menekankan pada metode dan sikap lebih dari suatu doktrin filsafat yang
sistematis dan menggunakan metode ilmu pengetahuan modern sebagai dasar dari suatu
filsafat.
4. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Eksistensialisme termasuk filsafat pendatang baru yang ditemukan pertama kali oleh ahli
filsafat jerman, martin Heideger (1889 - 1976). Eksistensialisme merupakan bagian filsafat dan
akar metodologinya berasal dari metode fenomologi yang dikembangkan oleh Hussel ( 1859 –
1938 ).
Pendidikan menurut pandangan eksistensialisme diarahkan untuk mendorong setiap
individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Pendidikan
eksistensialisme berusaha meberikan bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam
semua bentuk kehidupan.
5. Filsafat Pendidikan Progresivisme
Aliran progresivisme lahir di Amerika, akhir abad ke 19 menjelang awal abad 20. Teori
pendidikan progressivisme secara umum dipengaruhi filsafat pragmatisme, khususnya pemikiran
yang dilahirkan John Deway. Itulah cirri khas teori pendidikan ini. Ia tidak pernah menjadi
system pemikiran yang sistematis dan konsisten, tetapi lebih banyak terpusat pada
eksperimentasi yang berdasarkan investigasi ilmiah sains modern. Hal ini sangat identik
dengan pemikiran filsafat Dewey yang memandang betapa pengalaman selalu menjadi hal pokok
dan utama.
6. Filsafat Pendidikan Esensialisme
Esensialisme kerap diungkap sebagai reaksi kedua terhadap progresivisme tahun 1930-
an. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai – nilai yang memiliki
kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai
tata yang jelas.
Menurut penganut esensialisme, tugas pendidikan tidak lain adalah mengajarkan
pengatuhuan dasar dan keterampilan – keterampilan dasar yang berkaitan dengan pemerolehan
materi dalam hidup. Dalam prakteknya, para esensialisme cenderung menekankan sesuatu yang
dikenal 3R ; mulai reaading, writing, dan arithematic (membaca, menulis dan berhitung). Tiga
hal ini dipandang sebagai pengetahuan dasar yang begitu ditekan kandala mesensialisme
7. Filsafat Pendidikan Perenilisme
Istilah perenialisme berasal dari bahasa latin, yaitu dari akar kata perenis atau perenial
(bahasa inggris) yang berarti tumbuh terus melalui waktu kewaktu atau abadi. Maka, pandangan
selalu mempercayai mengenai adanya nilai - nilai, norma – norma yang bersifat abadi dalam
kehidupan ini. Atas dasar itu, perenialis memandang pola perkembangan kebudayaan sepanjang
zaman adalah sebagai pengulangan dari apa yang ada sebelumnya sehingga perenialisme sering
disebut sebagai istilah tradisionalisme.
Menurut pandangan perenialisme tujuan pendidikan adalah membantu peserta didik
menyiapkan dan menginternalisasikan nilai – nilai kebenaran yang abadi agar mencapai
kebijakan dan kebaikan dalam hidup.
8. Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme berasal dari kata reconstruct yang berarti menyusun kembali.
Dalam konteks filsafat pendidikan aliran rekonstruksionisme adalah aliran yang berusaha
merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak
modern.
Pada prinsipnya rekonstruksionisme sepaham dengan aliran perenialisme, khususnya
keprihatinan mereka pada kehidupan manusia modern. Kedua aliran tersebut memandang jika
kehidupan manusia modern adalah zaman ketika manusia hidup dalam kebudayaan yang
tergangu, sakit, penuh kebingungan, serta kesimpangsiuran proses
9. Filsafat Pendidikan Behaviorisme
Behaviorisme atau aliran perilaku adalah filosofis dalam psikologi yang berdasarkan
pada proposisi bahwa semua dilakukan organisme, termasuk tindakan, pikiran, perasaan, dapat
dan harus dianggap sebagai perilaku.
Tujuan pendidikan menurut teori bahavioristik ditekankan pada penambahan
pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas mimetic, yang menuntut pembelajar untuk
mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau
tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada keterampilan yang terisolasi atau
akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian keseluruhan.3
C. LANDASAN KONSEPTUAL

Landasan Konseptual adalah landasan yang bersifat konseptual yang pada dasarnya identik
dengan asumsi, yaitu suatu gagasan, kepercayaan, prinsip, pendapat atau pernyataan yang sudah
dianggap benar, yang dijadikan titik tolak dalam rangka berfikir (melakukan studi) dan atau
dalam rangka bertindak (melakukan suatu praktek).

Menurut Rohinah M. Noor, MA ekstrakurikuler yaitu Kegiatan pendidikan diluar mata


pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan
kebutuhan, potensi, bakat dan minat mereka melalui kegiatan yang khusus diselenggarakan oleh
3
Wahid Hasim, Landasan Filosofi Pendidikan dan Ekonomi Syari’ah di Indonesia, Jurnal Ekonomi
Syariah, (2019), 98.
pendidikdan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berwewenang di sekolah /
madrasah.4

Menurut Suharsimi AK (dalam Suryosubroto) kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan


tambahan, di luar struktur program yang pada umumnya merupakan kegiatan pilihan.5

Prinsip Kegiatan Ekstrakurikuler Menurut E. Mulyasa untuk mencapai tujuan dari


pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, prinsip kegiatan ekstrakurikuler meliputi:

a Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan potensi, bakat dan
minat peserta didik masing - masing.
b Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan keinginan dan diikuti
secara sukarela peserta didik.
c Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang menuntut keikutsertaan
peserta didik secara penuh.
d Menyenangkan, prinsip kegiatan ekstrakurikuler dalam suasana yang disukai dan
menggembirakan peserta didik.
e Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang membangun semangat peserta
didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil.
f Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan untuk
kepentingan masyarakat.6

Menurut Oteng Sutisna (dalam Suryosubroto) prinsip program ekstrakurikuler adalah ;

1) Seluruh murid, guru, dan personil administrasi hendaknya ikut serta dalam usaha
meningkatkan program.
2) Kerja sama dalam tim adalah fundamental.
3) Pembatasan – pembatasan untuk partisipasi hendaknya dihindarkan.
4) Proses adalah lebih penting dari pada hasil.
5) Program hendaknya cukup komprehensif dan seimbang dapat memenuhi kebutuhan dan
minat semua siswa.

Rohinah M. Noor, Membangun Karakter melalui Kegiatan Ekstrakurikuler,- (Yogyakarta: Insan Madani,
4

2012), h. 75.
5
5Suryosubroto, (2009), Proses BelajarMengajar Di Sekolah, Jakarta: RinekaCipta, h. 287.
6
Mulyasa E, Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep Karakteristik dan Implementasi, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2003), h. 38.
6) Program hendaknya memperhitungkan kebutuhan khusus sekolah.
7) Program dinilai berdasarkan sumbangannya pada nilai – nilai pendidikan di sekolah dan
efisiensi pelaksanaannya.
8) Kegiatan ini hendaknya sumber – sumber motivasi yang kaya bagi pengajaran kelas,
sebaliknya pengajar kelas hendaknya juga menyediakan sumber motivasi yang kaya bagi
kegiatan murid.
9) Kegiatan esktrakurikuler ini hendaknya dipandang sebagai integral dari keseluruhan
program pendidikan di sekolah, tidak sekadar tambahan atau sebagai kegiatan yang
berdiri sendiri.7

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler


adalah kegiatan yang dilakukan di luar jam belajar guna untuk mengembangkan potensi, bakat,
minat, kemampuan, kepribadian, kerja sama, dan kemandirian peserta didik secara optimal untuk
mendukung tercapainya tujuan pendidikan. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu
kegiatan tambahan yang dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan
sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler berhubungan erat dengan pengembangan bakat dan minat yang
dimiliki oleh peserta didik. Dilakukannya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah akan dapat
membantu siswa dalam pengembangan dirinya. Karena itu kegiatan ekstrakurikuler dijadikan
sebagai wadah kegiatan peserta didik di luar pelajaran atau di luar kegiatan kurikuler.

D. LANDASAN PSIKOLOGI

Didalam dunia pendidikan ini, ilmu pengetahuan sangatlah penting bagi manusia. Untuk
itu, pendidikan bagi manusia dalam memajukan negara perlu dikembangkan. Menurut Hasim
menyatakan bahwa manusia adalah kesatuan badan-rohani yang hidup dalam waktu dan ruang,
memiliki kesadaran (consciousness), dan penyadaran diri (self-awareness), mempunyai berbagai
kebutuhan, nafsu, dan dibekali naluri serta memiliki tujuan hidup. Selain itu, manusia memiliki
potensi untuk mampu berperasaan, berkarya, berpikir dan berkemauan. Adapun dalam
eksistensinya manusia berdimensi individualitas / personalitas, moralitas, sosialitas, kultural, dan
religius.8

7
Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar Di Sekolah ( Jakarta : Rineka Cipta, 2009) h. 291.
8
Dani Nur Saputra, dkk.,Landasan Pendidikan, ( Bandung: Media Sains Indonesia, 2021 ), h. 106-107.
Pendidikan adalah usaha yang terjadi dalam suatu situasi secara psikologis, yang dihayati
bersama oleh peserta didik dan guru. Thalib menjelaskan bahwa psikologi adalah suatu ilmu
mengenai deskripsi dan aplikasi yang digunakan untuk melakukan interpretasi, prediksi,
pengembangan dan peningkatan perilaku manusia. Mengadakan deskripsi berarti
menggambarkan secara jelas fenomena yang dipersoalkan, menerangkan keadaan atau kondisi -
kondisi yang mendasari terjadinya suatu peristiwa dengan menggunakan data empiris sebagai
basis suatu deskripsi. Menyusun teori berarti psikologi berfungsi mencari dan merumuskan
hukum – hukum atau ketentuan – ketentuan mengenai hubungan antara peristiwa yang satu
dengan peristiwa lain, atau kondisi satu dengan kondisi lain.

Membuat prediksi berarti psikologi berfungsi melakukan estimasi mengenai hal-hal atau
peristiwa - peristiwa yang mungkin terjadi atau gejala - gejala yang akan muncul. Fungsi control
atau pengendalian, yaitu tugas untuk mengendalikan atau mengatur peristiwa-peristiwa atau
gejala. Psikologi dapat bertujuan untuk member kesenangan dan kebahagiaan hidup manusia.
Oleh karena itu, ilmu psikologi ini penting untuk dipelajari oleh kalangan manapun, karena
manfaatnya selain untuk memperoleh pemahaman tentang gejala – gejala kejiwaan, psikologi
juga dapat mengetahui kemampuan jiwa sebagai sarana untuk mengenal tingkah laku seseorang,
kemudian psikologi ini juga dapat mengetahui penyelenggaraan pendidikan dengan baik.

Bagi guru - guru di sekolah upaya untuk mengenal peserta didiknya dapat dilakukan
dengan memahami proses pertumbuhan dan kematangan anak, serta potensi-potensi yang
merekamilikiuntukdikembangkanmelalui program sekolah. Dalam factor perbedaan individual
yaitu peserta didik, diharapkan para pendidik untuk dapat memahami teori – teori psikologi
sebagai landasan dalam pengaplikasian bimbingan yang diberikan baik itu dilingkungan sekolah
maupun diluar sekolah.9

Landasan psikologi erat kaitannya dengan tingkah laku manusia, dan bagaimana peran
kognitif, afektif dan psikomotorik dalam memunculkan keberagaman perilaku manusia, sehingga
proses perkembangan manusia bersifat unik dan berbeda dari individu lainnya. Maka bagi
seorang pendidik dengan adanya landasan psikologi terhadap ekstrakulikuler nantinya akan
memudahkan mereka dalam mengaplikasian kegiatan-kegiatan yang akan diterapkan maupun
diberlakukan kepada peserta didik nantinya.
9
Nurussakinah Daulay, Urgensi Landasan Psikologi Dalam Pelaksanaan Bimbingan Dan Konseling Di Era
Globalisasi, Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling, Vol.9, No. 1 Januari-Juni 2019. h. 78
Menurut Syah, guru dalam menjalankan kewenangan profesionalnya, dituntut memiliki
keanegaragaman kompotensi yang bersifat psikologis, yaitu kompetensi kognitif (kecakapan
ranah cipta), kompetensi afektif (kecakapan ranah rasa), dan kompetensi psikomotorik
( kecakapan ranah karsa). Disamping itu yang paling utama adalah kompetensi kepribadian.
Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi antara guru dan peserta didik. Komunikasi
guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran bisa diibaratkan antara hubungan baut dan mur,
dimana keduanya harus saling memberi dan menerima. Menurut sudarajat bahwa dengan
memahami psikologi, seorang guru melalui pertimbangan-pertimbangan psikologisnya
diharapkan dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab secara baik melalui beberapa hal, yaitu:

1. Berinteraksi Secara Tepat Dengan Siswa


Pemahaman guru tentang psikologi memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan
siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan dihadapan
siswanya.
2. Merumuskan Tujuan Pembelajaran Ekstarkulikuler Secara Tepat

Pemahaman guru tentang landasan psikologi yang memadai dapat lebih tepat dalam
menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran.

3. Memilih Strategi Atas Metode Pembelajaran Ekstrakulikuler Yang Sesuai


Kemampuan guru dalam memahami landasan psikologi yang memadai dapat menentukan
strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan
karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan
yang sedang siswanya.
4. Memberikan Bimbingan Atau Bahkan Memberikan Konseling
Tugas dan peran guru, disamping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat
membimbing para siswanya. Dengan memahami landasan psikologi, tentunya diharapkan guru
dapat memberikan bantuan psikologi secara tepat dan benar, melalui proses hubungan
interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.
5. Memfasilitasi dan Memotivasi Belajar Peserta Didik

Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki


siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan
tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman landasan psikologi yang memadai,
tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun
motivator belajar siswa.

6. Menilai Hasil Pembelajaran Yang Adil

Pemahaman guru tentang landasan psikologi dapat membantu guru dalam mengembangkan
penilaian pembelajaran ekstrakulikuler siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian,
pemenuhan prinsi-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.10 Pemahaman
guru atau orang tua terhadap gejala psikologi anak didik merupakan kebutuhan bagi anak didik
itu sendiri. Karena mereka adalah sosok individu yang memiliki kebutuhan-kebutuhan baik
secara fisik aupun psikis, sehingga keberadaannya membutuhkan perhatian. Melalui pemahaman
terhadap kebutuhan anak tersebut, maka akan berimplikasi atas pemenuhan kebutuhan dalam
proses pembelajarannya.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

10
Abdul Kadir Sahlan, Mendidik Persepektif Psikologi, ( Yogyakarta: Deepublish, 2018 ), h. 63-66.
a Landasan yuridis, pengembangan kegiatan ekstrakurikuler memiliki landasan hukum
yang kuat. Selain Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang telah
dikemukakan sebelumnya, dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional R.I.
Nomor 125/U/2002 tentang Kalender Pendidikan dan Jumlah Jam Belajar Efektif di
Sekolah, Bab V pasal 9 ayat (2).
b Landasan filosofi pendidikan adalah asumsi filosofis yang dijadikan titik tolak dalam
rangka studi dan praktek pendidikan. Dalam pendidikan terdapat momen studi
pendidikan dan momen praktek pendidikan.
c Landasan Konseptual ekstrakurikuler yaitu menurut Rohinah M. Noor, MA
ekstrakurikuler yaitu Kegiatan pendidikan diluar mata pelajaran dan pelayanan konseling
untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat
dan minat mereka melalui kegiatan yang khusus diselenggarakan oleh pendidikdan atau
tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berwewenang di sekolah / madrasah.
d Landasan psikologi erat kaitannya dengan tingkah laku manusia, dan bagaimana peran
kognitif, afektif dan psikomotorik dalam memunculkan keberagaman perilaku manusia,
sehingga proses perkembangan manusia bersifat unik dan berbeda dari individu lainnya.
Maka bagi seorang pendidik dengan adanya landasan psikologi terhadap ekstrakulikuler
nantinya akan memudahkan mereka dalam mengaplikasian kegiatan-kegiatan yang akan
diterapkan maupun diberlakukan kepada peserta didik nantinya
B. Saran

Dalam penyusunan makalah yang sangat sederhana ini tentunya banyak kekurangan dan
kekeliruan, yang menjadi sorotan adalah bagaimana makalah ini dapat disusun setidaknya
mendekati kata sempurna dan dapat mencakup substansi materi yang ingin disampaikan
sehingga tujuan pembelajaran pun dapat terpenuhi. Dalam kesempatan ini kami selaku penyusun
tentunya sangat mengharapkan segala saran, kritik dan pengayaan yang bersifat membangun dan
dapat diberikan landasan pijakan dari teori yang akan kami tambahkan demi kesempurnaan
penyusunan yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
Amialia A. Neolaka, Amos Neolakadan Grace. 2017. Landasan Pendidikan Dasar
Pengenalan Diri Sendiri Menuju Perubahan Hidup. Jakarta: Kencana.
Daulay, Nurussakinah. 2019. Urgensi Landasan Psikologi Dalam Pelaksanaan Bimbingan
Dan Konseling Di Era Globalisasi, Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling, Vol.9, No. 1
Januari-Juni.
Departemen Pendidikan Nasional, Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional R.I.
Nomor 125/U/2002 tentang Kalender Pendidikan dan Jumlah Jam Belajar Efektif di Sekolah
tanggal 31 Juli 2002
E, Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep Karakteristik dan
Implementasi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya..
Hasim, Wahid. 2019. Landasan Filosofi Pendidikan dan Ekonomi Syari’ah di Indonesia,
Jurnal Ekonomi Syariah.
M Noor, Rohinah. 2012. Membangun Karakter melalui Kegiatan Ekstrakurikuler,
Yogyakarta: Insan Madani.
Sahlan, Abdul Kadir. 2018. Mendidik Persepektif Psikologi, Yogyakarta: Deepublish.
Saputra, Dani Nur, dkk. 2021. Landasan Pendidikan. Bandung: Media Sains Indonesia.
Suryosubroto, 2009, Proses BelajarMengajar Di Sekolah, Jakarta: RinekaCipta.