Anda di halaman 1dari 11

Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Perawat dalam Melaksanakan Five Moment

Hand Hygiene di Ruang Rawat Inap RSUD dr. Zubir Mahmud Kabupaten Aceh Timur

Muhammad Khairurrozi 1, Srie Wahyuni2, Bima Laksana 3


1,2
Dosen STIKes Bustanul Ulum Langsa-Aceh
3
Mahasiswa STIKes Bustanul Ulum Langsa-Aceh

Abstrak
Tingkat kepatuhan five moment hand hygiene di kalangan petugas kesehatan masih
rendah dan dapat menyebabkan tingginya penyebaran HAIs. Oleh karena itu, perlu dilakukan
penyuluhan mengenai pentingnya hand hygiene petugas terhadap kesehatan pasien. Salah satu
penyuluhan hand hygiene kepada petugas adalah melalui media cetak seperti poster. Tujuan
dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan
kepatuhan perawat dalam melaksanakan five moment hand hygiene di Ruang Rawat Inap
RSUD dr. Zubir Mahmud Kabupaten Aceh Timur. Jenis penelitian ini bersifat analitik dengan
desain crossectional. Data yang telah dikumpulkan dianalisa secara univariat dalam bentuk
distribusi frekuensi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat pelaksana di Ruang
Rawat Inap RSUD dr. Zubir Mahmud Kabupaten Aceh Timur, jumlah sampel sebanyak 53
orang dengan teknik sampel secara Accidental Sampling. Data dianalisa secara univariat dan
bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ada hubungan sikap
dengan pelaksanaan five moment hand hygiene oleh perawat pelaksana dengan CI = 95% dan α =
0,05 dimana P (0,000) < α = (0,05) sehingga Ho ditolak. Ada hubungan fasilitas dengan
pelaksanaan five moment hand hygiene oleh perawat pelaksana dengan CI = 95% dan α =
0,05 dimana P (0,000) < α = (0,05) sehingga Ho ditolak. Ada hubungan supervisi dengan
pelaksanaan five moment hand hygiene oleh perawat pelaksana dengan pelaksanaan five
moment hand hygiene oleh perawat pelaksana dengan CI = 95% dan α = 0,05 dimana P (0,000) <
α = (0,05) sehingga Ho ditolak.
Kata Kunci: Pelaksanaan Five Moment Hand Hygiene, Sikap, Fasilitas, Supervisi

Factors Relating to The Nurse’s Attitude in Implementing Five Moment Hand Hygiene in
Medical Ward of RSUD dr. Zubir Mahmud Kabupaten Aceh Timur

Abstract
The level of the attitude about Five Moment Hand Hygiene by medical decreasing and
workers caused the increasing of deployment of HAIs. Therefore, it should be implemented the
counseling about the importance of hand hygiene for medical workers to the health patient. One
of the counseling of hand hygiene for medical workers is by using printed media like poster. The
aim of this research is to find out the factors relating to the nurse’s attitude in implementing Five
Moment Hand Hygiene in Medical Ward of RSUD dr. Zubir Mahmud Kabupaten Aceh Timur. The
research design of this research is analytical crosssectional. The data obtained from the research
is analyzed by using univariat in frequency distribution form. The population of the research is
all nurses in Medical Ward of RSUD dr. Zubir Mahmud Kabupaten Aceh Timur, the sample of
the research is 53 nurses that is taken by using sampling technique Accidental Sampling.
The data is analyzed by using univariat and bivariat analysis and chi-square test. The result of
the research concluded that there are the relationship of the nurse’s attitude in implementing Five
Moment Hand Hygiene with CI = 95% and α = 0,05 where P (0,000) < α (0,05) so H0 was
rejected. There are the relationship of facilities in implementing Five Moment Hand Hygiene by
the nurses with CI = 95% and α = 0,05 where P (0,000) < α (0,05) so H0 was rejected. There
are the relationship of the supervision in implementing Five Moment Hand Hygiene by the nurses
with CI = 95% and α = 0,05 where P (0,000) < α (0,05) so H0 was rejected.
Keywords : Implementation of Five Moment Hand Hygiene, Attitude, Facilities, Supervision

Jurnal Edukes, Vol.2, No.2, September 2019 | 73


Pendahuluan menyebabkan perpanjangan lama
World Health Organization rawat inap, sehingga merugikan
(WHO) mencanangkan program pasien dan meningkatkan biaya
Global Patient Safety Challenge perawatan.
“Clean Care is Safer Care” sejak Di negara berkembang pasien
tahun 2005 sebagai sebuah komitmen yang menderita HAIs sebesar 5-10%
global dalam upaya menurunkan dan meningkat menjadi 15-40% pada
angka kematian dan kesakitan. Pada pasien yang dirawat di ICU. Di
tahun 2009 WHO Patient Safety Amerika Serikat, 2 juta orang
kembali mencanangkan Save Lives: pertahunnya menderita HAIs,
Clean Your Hands sebagai program menyebabkan meningkatnya biaya
lanjutan yang bertujuan untuk hingga 4,5-5,7 milyar dolar serta
meningkatkan fokus pelaksanaan cuci menyebabkan 9000 kematian. Di
tangan pada pelayanan kesehatan di Inggris terdapat 100.000 kasus HAIs
seluruh dunia, dimana dicetuskan dan menimbulkan biaya 1 milyar
tentang 5 moment cuci tangan, yaitu poundsterling serta 5000 kematian
melakukan cuci tangan sebelum tiap tahunnya. Di Mexico, terdapat
bersentuhan dengan pasien, sebelum 450.000 kasus HAIs, menyebabkan
melakukan prosedur bersih dan steril, kematian 4%-58% [3].
setelah bersentuhan dengan cairan Data infeksi nosokomial di
tubuh pasien, setelah bersentuhan Indonesia sendiri dapat dilihat dari
dengan pasien, setelah bersentuhan data surveilans yang dilakukan oleh
dengan lingkungan sekitar pasien Kementerian Kesehatan RI pada
yang bertujuan untuk mencegah tahun 2014 di 10 RSU Pendidikan,
terjadinya infeksi nosokomial atau diperoleh angka infeksi nosokomial
Healthcare- Associated Infections cukup tinggi yaitu sebesar 6-16%
(HAIs) [1]. dengan rata-rata 9,8%. Penelitian
Healthcare Associated yang pernah dilakukan di 11 rumah
Infections (HAIs) dengan pengertian sakit di DKI Jakarta menunjukkan
yang lebih luas tidak hanya di rumah bahwa 9,8 % pasien rawat inap
sakit tetapi juga di fasilitas pelayanan mendapat infeksi yang baru selama
kesehatan lainnya. Juga tidak terbatas dirawat [4].
infeksi pada pasien saja, tetapi juga Data dari Rumah Sakit Zainoel
infeksi pada petugas kesehatan yang Abidin Provinsi Aceh berdasarkan
didapat pada saat melakukan tindakan hasil riset ditemukan bahwa
perawatan pasien. Khusus untuk berdasarkan jenis infeksi nosokomial
infeksi yang terjadi atau didapat di yang terbanyak adalah Infeksi Aliran
rumah sakit, selanjutnya disebut Darah Primer yaitu 37,1, Ventilator
sebagai infeksi rumah sakit (Hospital Assosiated Pneumonia (VAP)
infection) [2]. sebanyak 32,3%, dan infeksi luka
HAIs merupakan salah satu operasi sebanyak 30,6% [5].
penyebab penting meningkatnya Laporan rekapan Sensus
morbiditas dan mortalitas pada pasien Rumah Sakit Umum dr. Zubir
rumah sakit. Selain itu HAIs Mahmud Bidang Keperawatan bahwa

Jurnal Edukes, Vol.2, No.2, September 2019 | 74


angka kejadian HAIs seperti phlebitis, dilakukan penyuluhan mengenai
ISK, IDO dan dekubitus pada tahun pentingnya hand hygiene petugas
2018 dengan rata- rata 35,62%. terhadap kesehatan pasien. Salah satu
Sedangkan untuk plebitis sebanyak penyuluhan hand hygiene kepada
356 kasus, dan jumlah rata- rata kasus petugas adalah melalui media cetak
phlebitis disemua ruangan sebanyak seperti poster. Poster dapat
36,31%, sementara berdasarkan meningkatkan pemahaman dan
jumlah terbanyak ditemukan bahwa kepatuhan petugas kesehatan terutama
di Ruang Penyakit Dalam (RPD) perawat dalam menerapkan five
jumlah kasus plebitis yaitu 115 moment hand hygiene. Salah satu
kasus, kemudian ruang kelas I/II edukasi cuci tangan kepada petugas
sebanyak 103 kasus dan Ruang kesehatan selain dengan poster adalah
Perawatan Bedah (RPB) sebanyak 105 melalui pelatihan dan supervisi [1].
kasus, ICU 13 kasus, RPA 12 kasus Ada dua faktor yang
dan NICU sebanyak 3 kasus. mempengaruhi perilaku petugas
Tingginya angka kejadian kesehatan terhadap kepatuhan
infeksi nosokomial dapat mencuci tangan yaitu faktor personal
menyebabkan turunnya kualitas mutu dan faktor lingkungan. Faktor
pelayanan medis, sehingga perlu personal yang dapat mempengaruhi
adanya upaya pencegahan dan antara lain adalah pengetahuan
pengendaliannya. Cara paling ampuh tentang mencuci tangan, pernah
untuk mencegah infeksi nosokomial mengikuti seminar tentang infeksi
adalah dengan menjalankan Standard nosokomial, pengetahuan tentang
Precaution yang salah satunya proses perjalanan infeksi. Faktor
adalah dengan mencuci tangan pada lingkungan yang dapat mempengaruhi
setiap penanganan pasien di rumah perilaku mencuci tangan antara lain,
sakit [6]. fasilitas cuci tangan, komite
Pengendalian infeksi yang pengendalian infeksi, evaluasi
terbukti paling efektif adalah terhadap perilaku petugas kesehatan
memastikan perawat rumah sakit terhadap kepatuhan mencuci tangan,
melaksanakan cuci tangan sesuai kurang tenaga dan pasien yang banyak
aturan. Untuk melaksanakan hand atau overcrowding, iritasi kulit dan
hygiene dapat dilakukan dengan cara kurang komitmen dari institusi tentang
mencuci tangan. Mencuci tangan cuci tangan yang baik [7].
adalah tindakan membasahi tangan Salah satu faktor yang
dengan air mengalir memakai sabun mempengaruhi tingkat kepatuhan
untuk menghilangkan kotoran dan petugas kesehatan dalam
flora transien untuk menghindari melakukan cuci tangan adalah sikap
kontaminasi silang [3]. yang kurang baik tentang praktek
Masih rendahnya tingkat cuci tangan sesuai dengan standar.
kepatuhan five moment hand hygiene Faktor lain adalah kurangnya
di kalangan petugas kesehatan dapat pengawasan akan pentingnya
menyebabkan tingginya penyebaran melakukan cuci tangan dalam
HAIs. Oleh karena itu, perlu mengurangi penyebaran bakteri dan

Jurnal Edukes, Vol.2, No.2, September 2019 | 75


mencegah terjadinya kontaminasi pasie sebanyak 9,3%. Sementara hasil
pada tangan [7]. survey yang telah dilakukan penulis
Hasil penelitian yang melalui observasi mengenai
dilakukan oleh Damanik (2012), pelaksanaan five moment hand
mengenai kepatuhan hand hygiene di hygiene terhadap 15 orang perawat di
Rumah Sakit Immanuel Bandung Ruang Rawat Inap RSUD dr. Zubir
yang menyimpulkan bahwa ada Mahmud diperoleh bahwa hanya 6
hubungan yang bermakna antara sikap orang perawat (40%) yang patuh
dengan kepatuhan hand hygien [8]. dalam menerapkan five moment hand
Berdasarkan penelitian yang hygiene dan sebanyak 9 orang
dilakukan oleh Pratama (2015), perawat (60%) yang tidak patuh
mengenai faktor determinan dalam menerapkan five moment hand
kepatuhan pelaksanaan hand hygiene hygiene.
pada perawat IGD RSUD dr. Iskak
Tulungagung ditemukan faktor-faktor Metode
penyebab kepatuhan hand hygiene Penelitian ini menggunakan
yaitu fasilitas yang kurang dan tidak desain Analitik bersifat cross
adanya pengawasan [3]. sectional. Penelitian ini dilakukan di
Hasil penelitian yang Ruang Rawat Inap RSUD dr. Zubir
dilakukan oleh Ernawati (2014), Mahmud Kabupaten Aceh Timur
mengenai penerapan cuci tangan pada tanggal 09 s/d 24 Juli 2019.
perawat di Ruang Rawat Inap Populasi dalam penelitian ini
Rumah Sakit Islam Hasanah adalah seluruh perawat pelaksana di
Muhammadiyah Mojokerto yang Ruang Rawat Inap RSUD dr. Zubir
menyimpulkan bahwa ada Mahmud Kabupaten Aceh Timur
hubungan sikap perawat dengan sebanyak 111 orang. Teknik
penerapan hand hygiene [7]. pengambilan sampel penelitian ini
Berdasarkan hasil audit menggunakan teknik Proportional
kepatuhan hand hygiene perawat Stratified Random Sampling, jumlah
pada triwulan IV di tahun 2018 yaitu sampel keseluruhan adalah 53
sebelum kontak dengan pasien responden.
sebanyak 8%, sebelum tindakan Analisa data yang dilakukan
aseptic sebayak 10,6%, sebelum dalam penelitian ini adalah Analisa
menyentuh cairan tubuh pasien Univariat dan Bivariat. Analisa yang
sebanyak 18,6%, setelah kontak digunakan analisis yaitu analisa Chi-
dengan pasien sebanyak 12% dan Square.
setelah kontak dengan lingkungan

Jurnal Edukes, Vol.2, No.2, September 2019 | 76


Hasil

Tabel 1. Hubungan Sikap dengan Pelaksanaan Five Moment Hand Hygiene


Oleh Perawat Pelaksana di Ruang Rawat Inap RSUD Dr.
Zubir Mahmud Kabupaten Aceh Timur
Pelaksanaan Five Moment
Hand Hygiene Total
No Sikap p value
Dilaksanakan Tidak
f % f % F %
1 Positif 22 88 3 12 25 100
2 Negatif 1 3,6 27 96,4 28 100 0,000
Total 23 43,3 30 56,6 53 100

Tabel 1. menunjuk bahwa dari Square (Continuity Correction) pada


53 responden terdapat 25 derajat kepercayaan 95% (α=0,05)
responden yang bersikap positif diperoleh nilai p Value = 0,000
mayoritas melaksanakan five (p<0,05) yang berarti Ha diterima dan
moment hand hygiene sebanyak 22 Ho ditolak sehingga dapat
responden (88%) sedangkan dari 28 disimpulkan bahwa ada hubungan
responden yang bersikap negatif sikap dengan pelaksanakan five
mayoritas tidak melaksanakan moment hand hygiene oleh perawat
melaksanakan five moment hand pelaksana di Ruang Rawat Inap
hygiene sebanyak 27 responden RSUD Dr. Zubir Mahmud Kabupaten
(96,4%). Hasil uji statistic Chi– Aceh Timur.

Tabel 2. Hubungan Fasilitas dengan Pelaksanaan Five Moment Hand


Hygiene Oleh Perawat Pelaksana di Ruang Rawat Inap RSUD
Dr. Zubir Mahmud Kabupaten Aceh Timur
Pelaksanaan Five Moment
Hand Hygiene Total
No Fasilitas p value
Dilaksanakan Tidak
f % f % F %
1 Tersedia 19 51,4 18 48,6 37 100
2 Tidak Tersedia 4 25 12 75 16 100 0,040
Total 23 43,3 30 56,6 53 100

Tabel 2. diatas menunjuk bahwa fasilitas mayoritas tidak


dari 53 responden terdapat 37 melaksanakan melaksanakan five
responden dengan tersedia fasilitas moment hand hygiene sebanyak 12
mayoritas melaksanakan five responden (75%). Hasil uji
moment hand hygiene sebanyak 19 statistic Chi–Square (Continuity
responden (51,4%) sedangkan dari 16 Correction) pada derajat kepercayaan
responden dengan tidak tersedia 95% (α=0,05) diperoleh nilai p Value

Jurnal Edukes, Vol.2, No.2, September 2019 | 77


= 0,040 (p<0,05) yang berarti Ha pelaksanakan five moment hand
diterima dan Ho ditolak sehingga hygiene oleh perawat pelaksana di
dapat disimpulkan bahwa ada Ruang Rawat Inap RS Dr. Zubir
hubungan fasilitas dengan Mahmud Kabupaten Aceh Timur.

Tabel 3. Hubungan Supervisi dengan Pelaksanaan Five Moment Hand


Hygiene Oleh Perawat Pelaksana di Ruang Rawat Inap RSUD
Dr. Zubir Mahmud Kabupaten Aceh Timur
Pelaksanaan Five Moment
Hand Hygiene Total
No Supervisi p value
Dilaksanakan Tidak
f % f % F %
1 Baik 22 95,7 1 4,3 23 100
2 Kurang Baik 1 3,3 29 96,7 30 100 0,000
Total 23 43,3 30 56,6 53 100

Tabel 3. diatas menunjuk Chi–Square (Continuity Correction)


bahwa dari 53 responden terdapat pada derajat kepercayaan 95%
23 responden yang dengan supervisi (α=0,05) diperoleh nilai p Value =
baik mayoritas melaksanakan five 0,000 (p<0,05) yang berarti Ha
moment hand hygiene sebanyak 22 diterima dan Ho ditolak sehingga
responden (95,7%) sedangkan dari 30 dapat disimpulkan bahwa ada
responden yang dengan supervisi hubungan supervisi dengan
kurang baik mayoritas tidak pelaksanaan five moment hand
melaksanakan melaksanakan five hygiene oleh perawat pelaksana di
moment hand hygiene sebanyak 29 Ruang Rawat Inap RSUD Dr. Zubir
responden (96,7%). Hasil uji statistic Mahmud Kabupaten Aceh Timur.

Pembahasan (α=0,05) diperoleh nilai p Value =


1. Hubungan Sikap dengan 0,000 (p<0,05) yang berarti Ha
Pelaksanaan Five Moment Hand diterima dan Ho ditolak sehingga dapat
Hygiene disimpulkan bahwa ada hubungan
Hasil penelitian mendapatkan sikap dengan pelaksanakan five
bahwa dari 53 responden terdapat 25 moment hand hygiene oleh perawat
responden yang bersikap positif pelaksana di Ruang Rawat Inap
mayoritas melaksanakan five moment RSUD Dr. Zubir Mahmud Kabupaten
hand hygiene sebanyak 22 responden Aceh Timur.
(88%) sedangkan dari 28 responden Hasil ini sejalan dengan
yang bersikap negatif mayoritas tidak penelitian yang dilakukan oleh
melaksanakan melaksanakan five Ernawati (2014), mengenai penerapan
moment hand hygiene sebanyak 27 cuci tangan perawat di Ruang Rawat
responden (96,4%). Hasil uji statistic Inap Rumah Sakit Islam Hasanah
Chi–Square (Continuity Correction) Muhammadiyah Mojokerto yang
pada derajat kepercayaan 95% menyimpulkan bahwa ada hubungan

Jurnal Edukes, Vol.2, No.2, September 2019 | 78


sikap perawat dengan penerapan cuci hand hygiene merupakan salah satu
tangan [7]. hambatan untuk melakukan five
Hasil penelitian terkait lainnya moment hand hygiene sesuai
yang dilakukan oleh Pratama (2015), rekomendasi.
mengenai faktor determinan kepatuhan Hasil observasi peneliti
pelaksanaan hand hygiene pada menemukan bahwa perawat ruangan
perawat IGD RSUD dr. Iskak rawat inap yang berada di RSUD dr.
Tulungagung yang menyimpulkan Zubir Mahmud Aceh Timur kurang
bahwa sikap merupakan salah satu peduli terhadap penerapan cuci tangan
faktor determinan kepatuhan Five moment hand hygiene.
pelaksanaan cuci tangan. Pratama 2. Hubungan Fasilitas dengan
(2015), mengatakan bahwa sikap dapat Pelaksanaan Five Moment Hand
mempengaruhi penerapan mencuci Hygiene
tangan karena sikap sebagai suatu Hasil penelitian mendapatkan
usaha untuk mengembangkan bahwa dari 53 responden terdapat 37
kepribadian dan kemampuan dan responden dengan tersedia fasilitas
berlangsung seumur hidup. Semakin mayoritas melaksanakan five moment
baik sikap seseorang maka semakin hand hygiene sebanyak 19 responden
mudah seseorang dalam menerapkan (51,4%) sedangkan dari 16 responden
perilaku personal yang baik termasuk dengan tidak tersedia fasilitas
dalam mencuci tangan [3]. mayoritas tidak melaksanakan
Dalam penelitian ini ditemukan melaksanakan five moment hand
bahwa ada keterkaitan antara sikap hygiene sebanyak 12 responden (75%).
dengan pelaksanaan five moment hand Hasil uji statistic Chi–Square
hygiene, dimana perawat yang (Continuity Correction) pada derajat
memiliki sikap positif cenderung kepercayaan 95% (α=0,05) diperoleh
menerapkan five moment hand hygiene, nilai p Value = 0,040 (p<0,05) yang
hal ini dikarenakan sikap yang dimiliki berarti Ha diterima dan Ho ditolak
akan mendorong perawat untuk sehingga dapat disimpulkan bahwa ada
melakukan five moment hand hygiene hubungan fasilitas dengan
jika tidak didukung oleh kebijakan pelaksanakan five moment hand
serta fasilitas yang tersedia, namun hygiene oleh perawat pelaksana di
sikap yang positif dalam bekerja perlu Ruang Rawat Inap RS Dr. Zubir
dijaga, dibina, dan ditingkatkan. Sikap Mahmud Kabupaten Aceh Timur.
yang positif dalam bekerja harus Hasil penelitian ini sejalan
ditingkatkan dan dilestarikan. Sikap dengan penelitian yang dilakukan oleh
yang baik tentang pelaksanaan five Pratama (2015), mengenai faktor
moment hand hygiene sebaiknya tidak determinan kepatuhan pelaksanaan
hanya sebatas pentingnya cuci tangan pada perawat IGD RSUD
pelaksanaannya, namun juga harus dr. Iskak Tulungagung yang
mencakup indikasi dan tehnik menyimpulkan bahwa ketersediaan
pelaksanaannya. Hal ini sesuai yang fasilitas merupakan salah satu faktor
dinyatakan oleh WHO bahwa determinan kepatuhan pelaksanaan
kurangnya sikap yang baik tentang cuci tangan [3].

Jurnal Edukes, Vol.2, No.2, Oktober 2019 | 79


Hasil penelitian ini sejalan hygiene adalah sulitnya mengakses
dengan penelitian yang dilakukan oleh tempat cuci tangan atau persediaan alat
Damanik (2012), mengenai kepatuhan lainnya yang digunakan untuk
hand hygiene di Rumah Sakit melakukan cuci tangan. Berdasarkan
Immanuel Bandung yang dari pengamatan dan data yang ada
menyimpulkan bahwa ada hubungan hanya terdapat satu fasilitas handrub.
yang bermakna antara ketersediaan Tentu saja hal ini masih sangat kurang
fasilitas dengan kepatuhan hand dan menjadikan ketidakpatuhan pada
hygiene [8]. pelaksanaan hand hygiene. Oleh karena
Sejalan dengan pendapat Pratama itu, menurut peneliti pihak menajemen
(2015), yang mengatakan bahwa sebaiknya menambah sarana prasarana
strategi meningkatkan kepatuhan cuci hand hygiene untuk handsrub dimana
tangan: sediakan handrub dipintu sebaiknya disediakan lebih banyak
masuk ruang rawat atau disisi tempat lagi di tempat-tempat yang strategis
tidur pasien, penyuluhan petugas selain itu perlu tersedianya krim atau
secara teratur tentang pentingnya cuci lotion untuk mencegah iritasi kulit
tangan, kapan dan cara melakukan akibat sabun antiseptik tersebut
dengan benar, pasang poster prosedur sehingga perawat tidak takut terkena
cara mencuci tangan dengan air atau inffeksi nosokomial yang disebabkan
dengan alkohol handrub dan karena mencuci tangan.
monitoring kepatuhan pada petugas 3. Hubungan Supervisi dengan
dan memberi umpan balik sehingga Pelaksanaan Five Moment Hand
dapat meningkatkan kepatuhan cuci Hygiene
tangan. Cuci tangan atau hand hygiene Hasil penelitian mendapatkan
merupakan tindakan mencuci tanga bahwa dari 53 responden terdapat 23
menggunakan antiseptik pencuci responden yang mendapatkan supervisi
tangan. Pengendalian infeksi yang baik sebagian besar melaksanakan five
terbukti paling efektif adalah moment hand hygiene sebanyak 22
memastikan perawat rumah sakit responden (95,7%) sedangkan dari 30
melaksanakan hand hygiene sesuai responden yang mendapatkan supervisi
aturan. Untuk melaksanakan hand kurang baik sebagian besar tidak
hygiene dapat dilakukan dengan cara melaksanakan melaksanakan five
mencuci tangan. Mencuci tangan moment hand hygiene sebanyak 29
adalah tindakan membasahi tangan responden (96,7%). Hasil uji statistic
dengan air mengalir memakai sabun Chi–Square (Continuity Correction)
untuk menghilangkan kotoran dan pada derajat kepercayaan 95%
flora transien untuk menghindari (α=0,05) diperoleh nilai p Value =
kontaminasi silang [3]. 0,000 (p<0,05) yang berarti Ha
Dalam penelitian ini ditemukan diterima dan Ho ditolak sehingga dapat
bahwa ketersediaan dan kelengkaan disimpulkan bahwa ada hubungan
fasilitas akan mempengaruhi penerapan supervisi dengan pelaksanaan five
moment hand hygiene, hal ini moment hand hygiene oleh perawat
dikarenakan salah satu kendala dalam pelaksana di Ruang Rawat Inap
ketidakpatuhan terhadap moment hand RSUD Dr. Zubir Mahmud Kabupaten

Jurnal Edukes, Vol.2, No.2, Oktober 2019 | 80


Aceh Timur. semakin sering melakukan supervisi
Hasil penelitian ini sejalan maka berdampak pada pelaksanaan five
dengan penelitian yang dilakukan oleh moment hand hygiene. Pengelolaan
Damanik (2012), mengenai kepatuhan asuhan keperawatan membutuhkan
hand hygiene di Rumah Sakit kemampuan manajer keperawatan
Immanuel Bandung yang dalam melakukan supervisi. Kepala
menyimpulkan bahwa ada hubungan ruangan merupakan manajer garda
yang bermakna antara supervisi dengan depan dan penanggung jawab ruangan
kepatuhan cuci tangan [8]. harus mampu menjadi supervisor yang
Supervisi klinik merupakan baik terhadap perawat pelaksana,
bagian dari fungsi pengarahan dalam sehingga dapat meningkatkan kualitas
proses manajemen dan menjadi syarat asuhan yang diberikan dan pada
utama dalam pemberian layanan akhirnya dapat meningkatkan kinerja
keperawatan berkualitas tinggi. Rumah dalam menerapkan pencegahan infeksi
sakit dan perawat perlu memahami melalui pelaksanaan five moment hand
supervisi klinik dalam pencapaian hasil hygiene.
akhir (outcome) guna meningkatkan Untuk memastikan konsistensi
mutu layanan keperawatan melalui pelaksanaan five moment hand hygiene
sistem evaluasi, kesempatan harus dilakukan pemantauan dan
mempelajari hal-hal baru, evaluasi tingkat keberhasilanya yang
meningkatkan retensi staf, efisiensi dan menjadi tugas pokok supervise sebagai
efektifitas. Supervisi klinik berpotensi tim yang menjamin pelaksanaan
meningkatkan keahlian dan berbagai kegiatan yang telah
kemampuan klinik staf yang pada drencanakan secara benar dan tepat di
akhirnya akan mempengaruhi ruang rawat inap agar pelaksanaannya
keberhasilan pencapaian tujuan lebih efektif dan efisien. Dengan
organisasi [9]. adanya supervisi yang maksimal
Teori ini sejalan dengan perawat pelaksana akan termotivasi
pendapat Kurniadi (2013), yang untuk patuh dalam melakukan
mengatakan bahwa adanya penerapan five moment hand hygiene.
pengawasan terhadap pelaksanaan cuci Supervisi yang sering dilakukan
tangan membuat perawat lebih banyak oleh tim supervise dan kepala ruangan
patuh melakukan cuci tangan. Perawat adalah memberikan arahan mengenai
yang mendapat dukungan dari tujuan asuhan keperawatan, sedangkan
pimpinannya berpeluang lebih patuh yang jarang dilakukan adalah
sebesar 21 kali dibandingkan dengan mengenai pelaksanaan five moment
responden yang kurang mendapat hand hygiene. Seorang supervior
dukungan dari pimpinannya [10]. sebaiknya melakukan monitoring dan
Dalam penelitian ini ditemukan evaluasi terhadap pelaksanaan five
bahwa supervisi merupakan bagian moment hand hygiene dan memberikan
yang penting dalam pelaksanaan cuci reward bagi petugas yang
tangan five moment hand hygiene dan melaksanakan kepatuhan five momen
tidak dapat dipisahkan dalam hand hygiene dengan baik dan sanksi
pelayanan, hal ini dibuktikan dengan bagi yang tidak melakukan five momen

Jurnal Edukes, Vol.2, No.2, Oktober 2019 | 81


hand hygiene dengan baik serta tidak terjadi infeksi silang antara
melakukan monitoring terhadap pasien dan perawat.
pelaksanaan supevisi yang ditugaskan 2. Kepada pihak menajemen
kepada kepala ruangan dan sebaiknya menambah sarana
memberikan arahan serta tegura prasarana hand hygiene untuk
kepada kepala ruangan apabila tidak handsrub dimana sebaiknya
menjalanka supervise dengan baik disediakan lebih banyak lagi di
kepada perawat pelaksana. tempat-tempat yang strategis selain
itu perlu tersedianya krim atau
Kesimpulan lotion untuk mencegah iritasi kulit
Sebagai hasil akhir dari akibat sabun antiseptik tersebut
penelitian yang dilakukan di RSUD sehingga perawat tidak takut
Dr. Zubir Mahmud Aceh Timur, terkena infeksi silang yang
peneliti menyimpulkan beberapa disebabkan karena mencuci
kesimpulan dan saran yaitu: tangan.
1. Ada hubungan sikap perawat 3. Kepada supervisor untuk
dengan pelaksanaan five moment melakukan monitoring dan
hand hygiene oleh perawat evaluasi terhadap pelaksanaan five
pelaksana di Ruang Rawat Inap moment hand hygiene dan
RSUD Dr. Zubir Mahmud memberikan reward bagi petugas
Kabupaten Aceh Timur dengan p- yang melaksanakan kepatuhan
value (Continuity Correction) five momen hand hygiene dengan
0,000 (p<0,05). baik dan sanksi bagi yang tidak
2. Ada hubungan fasilitas dengan melakukan five momen hand
pelaksanaan five moment hand hygiene dengan baik serta
hygiene oleh perawat pelaksana di melakukan monitoring terhadap
Ruang Rawat Inap RSUD Dr. pelaksanaan supevisi yang
Zubir Mahmud Kabupaten Aceh ditugaskan kepada kepala ruangan
Timur dengan p-value (Continuity dan memberikan arahan serta
Correction) 0,040 (p<0,05). tegura kepada kepala ruangan
3. Ada hubungan supervise dengan apabila tidak menjalanka supervise
pelaksanaan five moment hand dengan baik kepada perawat
hygiene oleh perawat pelaksana di pelaksana.
Ruang Rawat Inap RSUD Dr.
Zubir Mahmud Kabupaten Aceh Daftar Pustaka
Timur dengan p-value (Continuity 1. Ananingsih. (2016). Kepatuhan 5
Correction) 0,000 (p<0,05). Momen Hand Hygiene Pada
Petugas di Laboratorium Klinik
Saran Cito Yogyakarta. Jurnal
1. Kepada perawat agar selalu Medicoeticolegal dan Manajemen
mengutamakan sikap yang baik Rumah Sakit, 5 (1): 16-24,
dalam bekerja dan selalu Januari 2016
mengupayakan pelaksanaan five 2. Kemenkes. RI. (2011).
moment hand hygiene sehingga Pedoman Manajemen Kesehatan

Jurnal Edukes, Vol.2, No.2, Oktober 2019 | 82


dan Keselamatan Kerja (K3) Di 10. Kurniadi. (2013). Manajemen
Rumah Sakit. Keperawatan dan Prospektifnya.
3. Pratama. (2015). Faktor Teori, Konsep dan Aplikasi.
Determinan Kepatuhan Jakarta: Fakultas Kedokteran
Pelaksanaan Hand Hygiene pada Universitas Indonesia.
Perawat IGD RSUD dr. Iskak
Tulungagung. Jurnal Kedokteran
Brawijaya, Korespondensi:
Bramantya Surya Pratama.
4. Balaquris (2016). Tindakan
Kewaspadaan Univversal
Sebagai Upaya Untuk
Mengurangi Risiko Penyebaran
Infeksi. Skripsi. Fakultas Ilmu
Kesehatan. Universitas
Padjajaran Bandung.
5. Almuzakki. (2013). Gambaran
Kejadian Infeksi Nosokomial di
Rumah Sakit Zainoel Abidin
Provinsi Aceh. Jurnal Ilmiah.
Unsyiah Banda Aceh.
6. Canti. (2016). Kebijakan
Kementerian Kesehatan Terkait
Undang-Undang Keperawatan
Terhadap Pelayanan
Keperawatan di Rumah Sakit.
Direktorat Bina Pelayanan
Keperawatan dan Keteknisian
Medik Ditjen Bina Upaya
Kesehatan-Kemkes RI.
7. Ernawati. (2014). Penerapan
Hand Hygiene Perawat di Ruang
Rawat Inap Rumah Sakit. Jurnal
Kedokteran Brawijaya, Vol. 28
8. Damanik. (2012). Kepatuhan
Hand Hygiene Di Rumah Sakit
Immanuel Bandung. Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas
Padjadjaran, Bandung, Jawa
Barat
9. Sugiharto & Keliat. (2013).
Manajemen Keperawatan
(Aplikasi MPKP di Rumah Sakit).
Jakarta EGC.

Jurnal Edukes, Vol.2, No.2, Oktober 2019 | 83