Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.

DENGAN APENDISITIS DI IGD

DISUSUN OLEH:

YUFIKA REGITYA YOGASWARI

202014119

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH SURAKARTA
2020/2021
1. LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS
2. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Radang usus buntu adalah salah satu penyakit gastrointestinal yang umum
terjadi di masyarakat. Apendisitis adalah peradangan pada apendiks atau usus
buntu. Apendisitis juga merupakan penyakit bedah yang paling sering terjadi
di masyarakat. Walaupun apendisitis dapat terjadi pada setiap usia namun
jarang terjadi pada usia dewasa akhir dan balita, kejadian apendisitis ini
meningkat pada usia remaja dan dewasa. Apendisitis bisa terjadi pada semua
kategori umur. Puncaknya terjadi pada awal dekade kedua sampai awal
dekade keempat, yaitu pada umur 20-40 tahun. Hal ini dipengaruhi oleh pola
makan yang kurang baik pada usia tersebut. Memang hal ini tidak terjadi pada
setiap orang, tapi seperti kita ketahui bahwa usia 20-40 tahun bisa
dikategorikan sebagai usia produktif, dimana orang yang berada pada usia
tersebut melakukan banyak sekali kegiatan. Hal ini menyebabkan orang
tersebut mengabaikan nutrisi makanan yang dikonsumsinya. Akibatnya terjadi
kesulitan buang air besar yang akan menyebabkan peningkatan tekanan pada
rongga usus dan pada akhirnya menyebabkan sumbatan saluran appendiks
(Arifuddin, dkk 2017).
Dalam karya tulis ilmiah Efendi (2015) menyatakan, World Health
Organization (WHO) melaporkan bahwa pada tahun 2014 apendisitis
menempati urutan delapan sebagai penyebab utama kematian di dunia dan
diperkirakan pada tahun 2020 akan menjadi penyebab kematian kelima di
seluruh dunia. Dalam jurnal Zulfa, Ernawati, Handayani (2019) menyatakan,
di Indonesia prevalensi apendisitis mencapai 4.351 kasus pada tahun 2014, hal
ini terjadi kenaikan karena ditahun 2013 sebanyak 3.236 jiwa. Pada awal
tahun 2014, tercatat 1.889 orang di Jakarta yang dirawat di rumah sakit akibat
apendisitis (Departemen Kesehatan RI, 2013). Kementerian Kesehatan RI
menganggap apendisitis merupakan isu prioritas kesehatan di tingkat lokal dan
nasional karena mempunyai dampak besar pada kesehatan masyarakat
(Departemen kesehatan RI, 2013).
Apendisitis merupakan suatu penyakit pada sistem pencernaan manusia
yang disebabkan oleh infeksi bakteria. Namun, terdapat juga berbagai
penyebab terjadinya apendisitis. Sumbatan pada apendiks diindikasi sebagai
penyebab utama terjadinya apendisitis. Faktor-faktor lain yang menyebabkan
sumbatan pada apendiks juga menyebabkan terjadinya apendisitis, seperti
hyperplasia jaringan limfoid, tumor apendiks, dan cacing askaris. Patagonesis
utamanya diduga karena adanya obstruksi lumen, yang biasanya disebabkan
oleh fekalit (feses keras yang terutama disebabkan oleh serat). Penyumbatan
pengeluaran sekret mukus mengakibatkan terjadinya pembengkakan, infeksi,
dan ulserasi (Price, 2015).
b. Tujuan
Mengatahui definisi, klasifikasi, etiologi, manifestasi klinis, komplikasi,
patofisiologi dan pemeriksaan penunjang apendisitis.
c. Manfaat
1) Sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan lainnya dalam melaksanakan
asuhan keperawatan perioperatif khususnya pada kasus apendisitis.
2) Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam penerapan asuhan
keperawatan perioperatif
3. TINJAUAN TEORI
a. Definisi
Appendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai
cacing (apendiks). Usus buntu sebenarnya adalah sekum (caecum). Infeksi ini bisa
mengakibatkan peradangan akut sehingga memerlukan tindakan bedah segera
untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya. Peradangan apendiks
yang mengenai semua lapisan dinding organ, dimana patogenis utamanya diduga
karena obstruksi pada lumen yang disebabkan oleh fekalit (feses keras yang
terutama disebabkan oleh serat) (Nurarif dan Kusuma, 2015). Apendisitis akut
merupakan inflamasi akut pada apendisitis verniformis dan merupakan penyebab
paling umum untuk bedah abdomen darurat. (Brunner&Suddarth, 2014).
Usus buntu atau apendiks merupakan bagian usus yang terletak dalam
pencernaan. Untuk fungsinya secara ilmiah belum diketahui secara pasti, namun
usus buntu ini terkadang banyak sekali sel-sel yang berfungsi untuk
mempertahankan atau imunitas tubuh. Dan bila bagian usus ini mengalami infeksi
akan sangat terasa sakit yang luar biasa bagi penderitanya (Saydam Gozali, 2011).
Jadi, dari referensi diatas yang di maksud dengan apendisitis merupakan suatu
peradangan pada bagian usus (Caecum) yang disebabkan karena ada obstruksi
yang mengharuskan dilakukannya tindakan bedah.
b. Klasifikasi
Klasifikasi apendisitis terbagi menjadi tiga yaitu (Nurarif dan Kusuma, 2015) :
1) Apendisitis akut merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan faktor
pencetusnya disebabkan oleh sumbatan lumen apendiks.
2) Apendisitis rekurens yaitu jika ada riwayat nyeri berulang diperut kanan
bawah yang mendorong dilakukannya apendiktomi.
3) Apendisitis kronis memiliki semua gejala riwayat nyeri perut kanan bawah
lebih dari dua minggu, adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa dan
keluhan menghilang setelah apendiktomi.
c. Etiologi
Penyebab terjadinya apendisitis dapat terjadi karena adanya makanan keras
yang masuk ke dalam usus buntu dan tidak bisa keluar lagi. Setelah isi usus
tercemar dan usus meradang timbulah kuman-kuman yang dapat memperparah
keadaan tadi (Saydam Gozali, 2011).
Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada factor
prediposisi yaitu:
1) Faktor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini
terjadi karena:
a) Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak.
b) Adanya fekolit dalam lumen appendiks
c) Adanya benda asing seperti biji-bijian
d) Striktur lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.
2) Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan Streptococcus.
3) Laki-laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30 tahun
(remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid
pada masa tersebut.
4) Tergantung pada bentuk apendiks:
a) Appendiks yang terlalu panjang
b) Massa appendiks yang pendek
c) Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
d) Kelainan katup di pangkal appendiks (Krismanuel, H., 2012).
Jadi, berdasarkan referensi diatas yang menyebabkan terjadinya
apendisitis yaitu disebabkan oleh adanya obstruksi yang diakibatkan juga
karena gaya hidup manusia yang kurang dalam mengkonsumsi makanan tinggi
serat.
d. Manifestasi Klinis
1) Tahap awal
a) Nyeri abdomen (nyeri epigastrik ataupun pada daerah umbilikus) hal ini
terjadi hilang timbul.
b) Mual dan muntah
c) Demam
2) Tahap pertengahan
a) Rasa sakit menjalar dari daerah epigastrik ke arah titik Mc. Burney.
b) Anoreksia
c) Kelesuan, badan terasa lemah
d) Terkadang kekakuan otot
e) Suhu subfebris
3) Tahap akut yang disertai perforasi.
a) Terjadi peningkatan rasa sakit di daerah titik Mc. Burney.
b) Muntah
c) Peningkatan temperatur suhu hingga > 38,5oC
d) Kekakuan abdomen
e) Tungkai kanan tidak dapat diluruskan/dilipat
f) Leukositosis
g) Takikardia.
Manisfestasi klinis lainya adalah:
1) Nyeri dikuadran kanan bawah disertai dengan demam ringan, dan terkadang
muntah kehilangan nafsu makan kerap dijumpai konstipasi dapat terjadi.
2) Pada titik Mc Burney (terletak diantara pertengahan umbilicus dan spina
anterior ileum), terasa nyeri tekan local dan kekakuan otot bagian bawah
rektus kanan.
3) Nyeri pantul dapat dijumpai lokasi apendiks menentukan kekuatan nyeri tekan,
spasme otot dan adanya diare atau konstipasi.
4) Jika apendiks pecah, nyeri lebih menyebar abdomen menjadi lebih terdistensi
akibat ileus paralitik dan kondisi memburuk. (Brunner & Suddarth, 2014).
Jadi berdasarkan referensi diatas, manisfestasi yang sering muncul pada kasus
apendisitis adalah nyeri namun kadang bisa juga tanpa nyeri namun terjadinya
konstipasi. Pada anak-anak biasanya ditemukan data yaitu nafsu makan menurun,
terjadinya penurunan kesadaran hingga terjadinya perforasi.
e. Komplikasi
Komplikasi dapat terjadi apabila terjadi keterlambatan penanganan. Faktor
keterlambatan dapat terjadi dari pasien ataupun tenaga medis. Faktor penderita
dapat berasal dari pengetahuan dan biaya. Faktor tenaga medis dapat berupa
kesalahan dalam mendiagnosa, keterlambatan mengangani maslah dan
keterlambatan dalam merujuk ke rumah sakit dan penangggulangan. Hal ini dapat
memacu meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas. Proporsi yang sering
adalah terjadi pada anak kecil dan orang tua.
Komplikasi 93% lebih sering terjadi pada anak kecil dibawah usia 2 tahun
dan 40-75% terjadi pada orang tua. Pada anak-anak dinding apendiks masih
sangat tips, omentum lebh pendek, dan belum berkembang secara sempurna
sehingga mudah terjadi apendisitis.
Sedangkan pada orang tua, terjadi gangguan pada pembuluh darah.Adapun jenis
komplikasi diantaranya:
1) Abses
Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa lunak
di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula-mula berupa
flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini
terjadi bila Apendisitis gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum
2) Perforasi
Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri
menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak
awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam. Perforasi dapat diketahui
praoperatif pada 70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36
jam sejak sakit, panas lebih dari 38,50C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh
perut, dan leukositosis terutama polymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik
berupa perforasi bebas maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.
3) Peritontis
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi berbahaya
yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila infeksi tersebar luas
pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum.
Aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang,
dan hilangnya cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan
sirkulasi, dan oligouria. Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin
hebat, muntah, nyeri abdomen, demam, dan leukositosis. (Mansjoer, 2009)
Komplikasi menurut (Brunner&Suddarth, 2014):
1) Komplikasi utama adalah perforasi apendiks yang dapat menyebabkan
peritonitis pembentukan abses (tertampungnya materi purulen), atau flebilitis
portal.
2) Perforasi biasanya terjadi setelah 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala yang
muncul antara lain: Demam 37,7’C, nyeri tekan atau nyeri abdomen.
Berdasarkan penjelasan diatas, hal yang bisa mengakibatkan
keparahan/komplikasi penyakit apendisitis dikarenakan dua hal yaitu faktor
ketidaktahuan masyarakat dan keterlambatan tenaga medis dalam menentukan
tindakan sehingga dapat menyebabkan abses, perforasi dan peritonitis.
f. Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks.
Penyumbatan tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami
bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding
apendiks memiliki keterbatasan sehingga terjadi peningkatan tekanan intralumen.
Tekanan tersebut akan menghambat aliran limfe yang menyebabkan edema,
diapedesis bakteri dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut
fokal yang ditandai dengan nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus berlanjut, tekanan akan terus meningkat dan menyebabkan
obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri akan menembus dinding.
Peradangan yang meluas dan mengenai peritoneum setempat akan menyebabkan
nyeri perut kanan bawah. Keadaan ini disebut apendisitis supuratif akut. Bila
aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan
gangren. Stadium ini disebut apendisitis gangrenosa. Bila dinding apendiks yang
rapuh tersebut pecah maka akan terjadi apendisitis perforasi (Burkit, Quick &
Reed, 2015).
g. Patways

h. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan Fisik
a) Inspeksi: Akan tampak adanya tanda pembengkakan (swelling), rongga
perut dimana dinding perut tampak mengencang (distensi).
b) Palpasi: Dibagian perut kanan bawah akan terasa nyeri (Blumbeng Sign)
yang mana merupakan kunci dari diagnosis apendsitis akut.
c) Dengan tindakan tungkai dan paha kanan ditekuk kuat / tungkai di angkat
tingi-tinggi, maka rasa nyeri akan semakin parah (Psoas Sign).
d) Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin parah apabila
pemeriksaan dubur dan vagina terasa nyeri.
e) Suhu dubur atau rectal yang lebih tinggi dari suhu ketiak, lebih menunjang
lagi adanya radang usus buntu.
2) Pemeriksaan Laboratorium
Kenaikan dari sel darah putih hingga sekitar 10.000-18.000/mm3. jika terjadi
peningkatan lebih dari itu, maka kemungkinan apendiks telah mengalami
perforasi (pecah).
3) Pemeriksaan Radiologi
a) Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit (jarang membantu).
Ultrasonografi USG 3) CT-Scan.
b) Berdasarkan referensi diatas, yang menjadi kunci tata laksana penentuan
diagnosa apendisitis yaitu dengan dilakukan pemeriksaan fisik yaitu salah
satunya dengan mempalpasi bagian perut bagian kanan bawah akan terjadi
blumbeng sign, lalu dengan memeriksa laboratorium dengan melihat
peningkatan leukosit dan pemeriksaan USG.
4) Pemeriksaan Diagnostik
a) SDP; Leukositosis diatas 12.000/mm3, Neutrofil meningkat sampai 75%,
b) Urinalisis: Normal, tetapi eritrosit/leukosit mungkin ada.
c) Foto abdomen: Dapat menyatakan adanya pergeseran, material apendiks
(fekalit), ileus terlokalisir. (Nurarif dan Hardhi 2015).
i. Pengkajian
Data yang diperoleh haruslah mampu menggambarkan status kesehatan
klien ataupun masalah utama yang dialami oleh klien. Dalam melakukan
pengkajian, diperlukan teknik khusus dari seorang perawat, terutama dalam
menggali data, yaitu dengan menggunakan komunikasi yang efektif dan teknik
terapeutik. (Tarwoto & Wartonah, 2015).
Pengkajian fokus pada klien appendicitis menurut Bararah dan Jauhar (2013)
antara lain:
1) Identitas Identitas
Klien appendicitis akut yang menjadi pengkajian dasar meliputi: nama, umur,
jenis kelamin, no rekam medis.
2) Keluhan utama
Berisi keluhan utama pasien saat dikaji, klien appendicitis akut biasanya
mengeluh nyeri pada perut kanan bawah.
3) Riwayat penyakit
a) Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat Penyakit Sekarang ditemukan saat pengkajian yaitu diuraikan dari
masuk tempat perawatan sampai dilakukan pengkajian. Keluhan sekarang
dikaji dengan menggunakan PQRST (Provokatif, Quality, Region,
Severitys cale and Time). Dengan appendicitis akut pada umumnya
mengeluh nyeri pada perut kanan bawah yang akan bertambah saat
digerakkan atau ditekan dan umumnya berkurang setelah diberi obat dan
diistirahatkan. Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk dengan skala nyeri
lebih dari lima (0-10). Nyeri akan terlokalisasi dapat pula menyebar
diseluruh abdomen dan paha kanan dan umumnya menetap sepanjang hari.
Nyeri mungkin dapat mengganggu aktivitas seperti rentang toleransi klien
masing-masing.
b) Riwayat Penyakit Dahulu
Berisi pengalaman penyakit sebelumnya, apakah memberi pengaruh
kepada penyakit apendisitis yang diderita sekarang serta apakah pernah
mengalami pembedahan sebelumnya.
c) Riwayat Penyakit Keluarga
Perlu diketahui apakah ada anggota keluarga lainnya yang menderita sakit
yang sama seperti klien menderita penyakit apendisitis, dikaji pula
mengenai adanya penyakit keturunan atau menular dalam
keluarga.Riwayat psikologis
4) Secara umum klien dengan appendicitis akut tidak mengalami penyimpangan
dalam fungsi psikologis. Namun demikian tetap perlu dilakukan mengenai
kelima konsep diri klien (citra tubuh, identitas diri, fungsi peran, ideal diri dan
harga diri).
5) Riwayat Sosial
Klien dengan appendicitis akut tidak mengalami gangguan dalam hubungan
sosial dengan orang lain, akan tetapi harus dibandingkan hubungan sosial
klien antara sebelum dan sesudah menjalani operasi.
6) Riwayat Spiritual
Pada umumnya klien yang menjalani perawatan akan mengalami keterbatasan
dalam aktivitas begitu pula dalam hal ibadah. Perlu dikaji keyakinan klien
terhadap keadaan sakit dan motivasi untuk kesembuhannya.
7) Kebiasaan sehari-hari
Klien dengan appendicitis akut pada umumnya mengalami kesulitan dalam
beraktivitas karena nyeri yang akut dan kelemahan. Klien dapat mengalami
gangguan dalam perawatan diri. Klien akan mengalami pembatasan masukan
oral sampai fungsi pencernaan kembali ke dalam rentang normalnya.
Kemungkinan klien akan mengalami mual muntah dan konstipasi. Pola
istirahat klien dapat terganggu maupun tidak terganggu, tergantung toleransi
klien terhadap nyeri yang dirasakan.
8) Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan Umum Klien
Klien dengan appendicitis akut menunjukkan keadaan sakit ringan sampai
berat tergantung periode akut rasa nyeri. Tanda vital (tensi darah, suhu
tubuh, respirasi, nadi) umumnya stabil kecuali akan mengalami
ketidakstabilan pada klien yang mengalami perforasi apendiks. Adapun
pemeriksaan yang dilakukan pada kasus apendisitis.
b) Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi: Akan tampak adanya tanda pembengkakan (swelling), rongga
perut dimana dinding perut tampak mengencang (distensi).
2) Palpasi: Dibagian perut kanan bawah akan terasa nyeri (Blumbeng
Sign) yang mana merupakan kunci dari diagnosis apendsitis akut.
3) Dengan tindakan tungkai dan paha kanan ditekuk kuat / tungkai di
angkat tingi-tinggi, maka rasa nyeri akan semakin parah (Psoas Sign).
4) Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin parah apabila
pemeriksaan dubur dan vagina terasa nyeri.
5) Suhu dubur atau rectal yang lebih tinggi dari suhu ketiak, lebih
menunjang lagi adanya radang usus buntu.
c) Sistem Pernafasan
Klien appendicitis akut akan mengalami penurunan atau peningkatan
frekuensi nafas (takipneu) serta pernafasan dangkal, sesuai rentang yang
dapat ditoleransi oleh klien.
d) Sistem Kardiovaskuler
Umumnya klien mengalami takikardi (sebagai respon terhadap stress dan
hipovolemia), mengalami hipertensi (sebagai respon terhadap nyeri),
hipotensi (kelemahan dan tirah baring). Pengisian kapiler biasanya normal,
dikaji pula keadaan konjungtiva, adanya sianosis dan auskultasi bunyi
jantung.
e) Sistem Pencernaan
Adanya nyeri pada abdomen kanan bawah saat dipalpasi. Klien
appendicitis akut biasanya mengeluh mual muntah, dan penurunan bising
usus.
f) Sistem Perkemihan
Klien appendicitis akut tidak mengalami kelainan fungsi perkemihan.
Akan tetapi petap perlu dikaji keadekuatan fungsi kemih.
g) Sistem Muskuloskeletal
Secara umum, klien dapat mengalami kelemahan karena nyeri dan
kekakuan. Kekuatan otot berangsur membaik seiring dengan peningkatan
toleransi aktivitas.
h) Sistem Integumen
Selanjutnya akan tampak adanya luka operasi di abdomen kanan bawah
bekas sayatan operasi disertai kemerahan. Turgor kulit akan membaik
seiring dengan peningkatan intake oral.
i) Sistem Persarafan
Pengkajian fungsi persarafan meliputi: tingkat kesadaran, saraf kranial dan
reflek.
j) Sistem Pendengaran
Pengkajian yang dilakukan meliputi: bentuk dan kesimetrisan telinga, ada
tidaknya peradangan dan fungsi pendengaran.
k) Sistem Endokrin
Klien appendicitis akut tidak mengalami kelainan fungsi endokrin. Akan
tetapi petap perlu dikaji keadekuatan fungsi endokrin (tiroid dan lain-lain).
l) Pemeriksaan Laboratorium
Di lihat dari kenaikan leukosit 10.000-18.000/mm3, bila lebih maka sudah
terjadi perforasi. Normalnya Tidak terjadinya peningkatan leukosit
melebihi batas normal.
m) Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan USG Normal: Tampak ada peradangan pada bagian Mc.
Burney.
2) Foto polos Normal: Tampak ada kelainan pada organ.
j. Diagnosa
Kemungkinan diagnosa Apendisitis adalah :
a) Nyeri Akut berhubungan dengan inflamasi dan infeksi
b) Hipertermia berhubungan dengan respon sistemik dan inflamasi
gastrointestinal
c) Nausea
k. Intervensi
No Diagnosa SLKI SIKI
. Keperawatan

1. Nyeri Akut Setelah dilakukan intervensi Managemen nyeri


keperawatan selama 1x7 Observasi
jam, maka tingkat nyeri  Identifikasi
menurun dengan kriteria karakteristik nyeri,
hasil: lokasi, durasi,
1) Keluhan nyeri menurun frekuensim kualitas,
(skala nyeri 2) dan intensitas nyeri
2) Gelisah menurun  Identifikasi skala
3) Wajah meringis/ nyeri
menyeringai menurun  Identifikasi respon
4) Vital sign membaik nyeri non verbal
TD : Systole 110-120 Terapeutik
Diastol 70-80  Berikan teknik
HR : 60-90 x/menit nonfarmakologis
RR : 12-20 x/menit untuk mengurangi
5) Keringat berlebih/ rasa nyeri
diaphoresis menurun Edukasi
 Ajarkan teknik
nonfarmakologis
untuk mengurangi
rasa nyeri
Kolaborasi
 Kolaborasi
pemberian analgesic,
jika perlu
2. Hipertermia Setelah dilakukan tindakan Manajemen Hipertermia
keperawatan 1x7 jam,
termoregulasi membaik Observasi
dengan kriteria hasil :
1) Suhu tubuh membaik  Identifikasi
2) Suhu kulit membaik penyebab
3) Tekanan darah hipertermia
membaik
 Monitor suhu tubuh

 Monitor komplikasi
akibat hipertermia
Terapeutik

 Sediakan lingkungan
yang dingin

 Longgarkan atau
lepaskan pakaian

 Basahi dan kipasi


permukaan tubuh

 Ganti linen tiap hari


jika mengalami
hiperhidrosis
(keringat berlebih)

 Lakukan
pendinginan
eksternal (mis.
Kompres dingin
pada dahi, leher,
dada, abdomen,
aksila)

 Hindari pemberian
antipiretik atau
aspirin

 Berikan oksigen,
jika perlu
Edukasi

 Anjurkan tirah
baring

Kolaborasi
 Kolaborasi
pemberian cairan
dan elektrolit
intravena, jika perlu
3. Nausea Setelah dilakukan intervensi Manajemen mual
keperawatan selama 1x7 Observasi
jam, maka tingkat nausea
menurun dengan kriteria  Identifikasi
hasil : pengalaman mual
1) Rasa mual menurun  Identifikasi faktor
2) Nafsu makan meningkat penyebab mual
 Monitor mual
 Monitor asupan
nutrisi dan kalori
Terapeutik
 Kendalikan factor
lingkungan
penyebab mual (mis:
bau tak sedap, suara,
dan rangsangan
visual)
 Kurangi atau
hilangkan keadaan
penyebab mual (mis:
kecemasan,
ketakutan,
kelelahan)
 Berikan makanan
dalam jumlah sedikit
dan menarik
 Berikan makanan
dingin, cairan
bening, tidak berbau
Edukasi
 Anjurkan istirahat
dan tidur yang cukup
 Anjurkan sering
membersihkan
mulut, kecuali jika
merangsang mual
 Anjurkan makan
tinggi karbohidrat
dan rendah lemak
 Ajarkan penggunaan
teknik
nonfarmakologis
untuk mengatasi
mual (mis: hipnotik,
relaksasi, terapi
musik)
Kolaborasi
 Kolaborasi
pemberian
antiemetic
4. DAFTAR PUSTAKA
Arifuddin, Salmawati & Prasetyo, 2017. Faktor Resiko Apendisitis. Jurnal Preventif. 8
(1) : 1-38
Bararah, T dan Jauhar, M. 2013. Asuhan Keperawatan Panduan Lengkap Menjadi
Perawat Profesional. Jakarta : Prestasi Pustakarya.
Brunner & Suddart (2014). Keperawatan Medical Bedah Edisi 12 volume 2. Jakarta :
EGC.
Burkit HG, Quick CRG, Reed JB. 2015. Essential Surgery Problems, Diagnosis And
Management. 4 th ed. China: Churchill livingstone Elsevier.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Profil Kesehatan Indonesia.
Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Krismanuel, H., 2012. Pemulangan Awal dari Rumah Sakit Sesudah Apendisektomi
Terbuka Hubungannya dengan Infeksi Luka Operasi dan Penerimaan
penderita. Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro.
Manjoer, 2009. Hamilton Bailey Ilmu Bedah Gawat Darurat. Edisi II, diterjemahkan
oleh A. Samik Wahab & Soedjono Aswin, Yogyakarta, Gadjah Mada
University.
Nurarif AH & Kusuma Hardhi (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & Nanda Nic-Noc. Yogyakarta : MediaAction
Price, Sylvia A dan Wilson, Lorraine M (2015). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-
proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta : EGC
Saydam Gozali, 2011, Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach Seventh
Edition, America, The McGraw-Hill Companies.
Tarwoto dan Wartonah (2015). Keperawatan Medical Bedah Gangguan Sisten
Pencernaan. Jakarta : Salemba Medika.
World Health Organization (2014). Prevelensi Apendisitis di Dunia.
Zulfa, I, M., Ernawati, I & Handayani, W. 2019. Studi Komperatif Efektivitas
Seftriakson dibanding Kombinasi Seftriakson-Metronidazole dan Sefuroksim-
Metronidazole pada Pasien Apendisitis yang Menjalani Apendiktomi. Jurnal
Farmasi Udayan, Vol 8 (2).
SOAL KASUS

NAMA : YUFIKA REGITYA YOGASWARI


NPM : 202014119
SOAL KASUS 9
Seorang wanita atas nama Ny S umur 40 tahun bb 50kg, bersama keluarganya datang ke
IGD. Pasien tersebut mengeluh demam dan nyeri tumpul pada bagian perut bawah kanan,
skala nyeri 6. Saat pengkajian di dapatkan suhu tubuh Suhu 38,2ºC , TD 110/70 mmhg,Nadi
88x/mnt, RR: 24 x/menit dan terdapat nyeri lepas pada seluruh bagian perut. Dari kasus
tersebut dari gejala dan pemeriksaan fisik, hasil Lab Lekosit 20,8x10³/mm³.Berdasarkan hasil
pengkajian diatas Ny.S mengalami Apendisitis.
1. PENGKAJIAN IGD, HD EMERGENCY DEPARTEMENT UNIVERSITAS ‘AISYIYAH SURAKARTA

Nama : Ny.S KELUHAN UTAMA : Ny.S PAIN:  Ya □ No TRIAGE Alloanamnesa □


mengatakan demam dan nyeri
Umur : 40 tahun QUALITY  Tumpul □ Tajam □ □ □  □ Autoanamnesa 
tumpul pada bagian perut
Terbakar
Tgl Pengkajian : 28 Juli 2021 bawah kanan
REGION : bagian perut bawah kanan
Jam: 10.00 WIB
SKALA (0-10): 5
Dx Medis: apendisitis
TIME :  Continuous □Intermittent

INNITIAL ASSESMENT ( PRIMARY SURVEY)

AIRWAY BREATHING CIRCULATION DISABILITY EXPOSURE

Bicara:  Spontan jelas □ Sesak : □ Ya  No Nadi :  Teraba □ Tak Respon : R A □V □P □U Hipotermia □ Ya □ No


Vokalisasi tidak jelas Teraba
Cuping Hidung □ Ya  No Kesadaran Deformitas □ Ya □ No
Batuk :□ Efektif □ Tidak Efektif □ Irama :  Reguler □
Pursed Lip : □ Ya  No RCM □Somnolen □ Delirium Hematoma □ Ya □ No
Suction Irreguler
□ Sopor □ Soporus koma □
Pola Nafas :  Teratur □ Tidak Penetrasi □ Ya □ No
Obstruksi : □ Lidah □ Cairan/ Denyut :  Kuat □ Lemah Koma
Muntahan/Darah Irama :  Normal □ Cepat □ Laserasi □ Ya □ No
Akral :  Hangat □ Dingin Pupil : □ Isokor R Anisokor
Dalam
□ Benda Asing □ Lain2 Contusio □ Ya □ No
Warna kulit :  Normal □ Reflek Cahaya :2 (+)│2 (+)
Suara Nafas : □ Snoring □ Stridor □ Retraksi dada : □ Ya  No Pucat □ Jaundice □ GCS : E4V5M6 Abrasi □ Ya □
Gurgling Sianosis No
Sianosis : □ Ya  No DS ............................................
Artifisial Airway : □ OPA □ ETT □ Edema : □ < 1 cm □ > 1 cm Edema □ Ya □
Bunyi Nafas tambahan :□ YaR
Lain2 No
No CRT : R < 3 dtk □ > 3 dtk
Nyeri  Ya □
Penggunaan otot bantu Nafas DS :......................................
No
DS :.................................................... □Ya R No ................
.................. Suhu : 38,2ºC
DS :...........................................
............... DS :...............................
..

RR : 24x/m HR : 88x/m

TD : 110/70mmHg

Dx : Dx Dx : Dx Dx

SECONDARY SURVEY

SIGN SYMPTOM ALLERGY & PAST ILLNESS LAST MEAL EVENT


Ny.S datang ke IGD dengan keluhan MEDICATION Ny.S mengatakan jarang Ny.S mengatakan tadi Ny.S bersama
demam dan nyeri tumpul pada mengalami seperti ini dan hanya makan bubur dan keluarganya datang ke
Ny.S mengatakan tidak
bagian perut bawah kanan,skala belum pernah dirawat dirumah minum teh hangat. IGD. Ny.S mengeluh
memiliki alergi pada obat-
nyeri 6. Saat pengkajian di dapatkan sakit. demam dan nyeri tumpul
obatan, makanan, minuman
data suhu tubuh 38,2ºC , TD 110/70 pada bagian perut bawah
maupun cuaca
mmhg,Nadi 88x/mnt, RR : kanan, skala nyeri 6.
24x/menit dan terdapat nyeri lepas
pada seluruh bagian perut.

HEAD TO TOE

KEPALA LEHER PULMO COR GI&GU GENITALIA,


EKSTRIMITAS,
I : tidak ada lesi, tidak perdarahan, I : pengembangan dada I : ictus cordis tidak tampak I : simetris, tidak ada lesi,
rambut bersih simestris, tidak ada lesi, tidak kuat angkat pengembangan simetris KULIT
ada kontraksi dinding dada, RR
P : tidak ada benjolan pada kepala, P : ictus crodis teraba ICS IV A : bising usus 13x/ menit akral hangat
24X/menit
tidak ada pembesaran tidroid dan V
P : timpani turgor kulit lembek
P : vocal fremitus teraba lemah
P: pekak
P : tidak ada nyeri tekan tidak ada bekas luka
P : redup
A : lupdup
genetalia bersih
A : vesikuler
ekstermitas atas bawah

55

55

PEMERIKSAAN PENUNJANG

RONGTEN EKG LAB DARAH MRI USG

Leukosit 20,8x10³/mm³

TERAPI

- Infus RL
- Inf.Paracetamol (2x100mL)
- Inj.Ceftriaxone (2x500 mg)
- Inj.Cetorolac (2x30 mg)
2. ANALISA DATA

N TGL/JAM DATA FOKUS ETIOLOGI PROBLEM


O
1. Rabu, 28 DS : Proses penyakit Hipertermi
Juli 2021 Ny.S mengatakan demam
10.00 WIB DO :
- TTV:
S : 38,2ºC
TD: 110/70 mmHg
N: 88×/menit
RR: 24×/menit
- Leukosit 20,8x10³/mm³
- Akral teraba panas
2. Rabu, 28 DS : Agen Cidera Nyeri Akut
Juli 2021 - Ny.S mengatakan nyeri pada Biologis
10.00 WIB perut bagian bawah kanan
P: agen cidera biologis (proses
penyakit)
Q: tumpul
R: perut bagian kanan bawah
S: skala nyeri 6
T: terus menerus
DO :
- Ny. S tampak meringis menahan
nyeri

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis
4. RENCANA KEPERAWATAN

N TGL/ NO. TUJUAN DAN INTERVENSI RASIONAL NAMA/


O JAM DX KRITERIA HASIL TTD
1. Rabu, 28 1 Setelah dilakukan tindakan O : Monitor vital sign - Untuk mengetahui TTV
Juli 2021 keperawatan selama 1X7 klien
10.15 jam diharapkan hipertermi N : Beri kompres hangat pada - Untuk menormalkan suhu
WIB dapat teratasi dengan KH : dahi dan lipatan aksila tubuh klien
- Suhu tubuh dalam E : Anjurkan untuk memakai - Agar uap panas dalam
rentang normal 36,5°C- pakaian tipis tubuh dapat keluar
37, 5°C K : Kolaborasi dengan dokter - Untuk membunuh bakteri
- Pasien tidak mengeluh untuk pemberikan analgesik dan menurunkan suhu
demam dan antibiotik tubuh serta menurunkan
leukosit
2. Rabu, 28 2 Setelah dilakukan tindakan O : Kaji tingkat nyeri klien - Untuk mengetahui tingkat
Juli 2021 keperawatan selama 1X7 nyeri
10.15 jam diharapkan nyeri dapat N : Berikan posisi nyaman - Untuk memberikan rasa
WIB teratasi dengan KH : (semifowler) nyaman
- Skala nyeri pasien E : Ajarkan teknik relaksasi nafas - Agar pasien lebih nyaman
berkurang dalam dan relaks
- Mampu mengontrol K : Kolaborasi dengan dokter - Untuk mengurangi rasa
nyeri dengan tekhnik untuk pemberian analgesik nyeri
non farmakologi dan tindakan pembedahan
(memperlihatkan tehnik
relaksasi secara
individual yang efektif
untuk mencapai
kenyamanan)
- Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang
5. IMPLEMENTASI

N TGL/ NO. IMPLEMENTASI RESPON NAMA/


O JAM DX TTD
1. Rabu, 28 1 - Memonitor vital sign S:
Juli 2021 Ny.S mengeluh demam
10.30 O:
WIB - TTV:
S : 38,2ºC
TD: 110/70 mmHg
N: 88×/menit
RR: 24×/menit
- Leukosit 20,8x10³/mm³
- Akral teraba panas

2. 10.35 2 - Mengkaji tingkat nyeri pasien S:


WIB P: agen cidera biologis (proses penyakit)
Q: tumpul
R: perut bagian kanan bawah
S: skala nyeri 6
T: terus menerus
O:
Ny. S tampak meringis menahan nyeri

3. 10.45 2 - Memberikan posisi nyaman (semifowler) S:


WIB Ny.S mengatakan mau diberikan posisi
nyaman
O:
Ny.S tampak posisi nyaman (semifowler)

4. 11.00 1 - Memberikan kompres hangat pada dahi dan S :


WIB lipatan aksila Ny.S mengatakan mau dikompres bagian lipatan
aksila dan dahi
O:
Ny.S tampak dikompres di dahi dan lipatan
aksila

5. 11.15 1 - Menganjurkan untuk memakai pakaian tipis S :


WIB dan menyerap keringat Ny.S mengatakan mau untuk memakai pakaian
yang tipis dan menyerap keringat
O:
Ny.S tampak mengganti baju yang tipis
6. 11.30 2 - Mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam
WIB S:
Ny.S tampak mengerti apa yang di jarkan dan
dijelaskan oleh perawat
O:
Ny.S tampak melakukan relaksasi nafas dalam
7. 12.00 1 - Berkolaborasi dengan dokter untuk
WIB memberikan analgesik (inf. parasetamol S :
2×100ml) dan antibiotik (inj.ceftriaxone Ny.S mengatakan mau diberikan obat dari dokter
2×500mg) O:
Injeksi masuk melalui selang infus dan
mengganti infus RL dengan inf.pct
8. 12.00 2 - Berkolaborasi untuk pemberian analgesik
WIB (ketorolac 2× 30 mg) dan tindakan S :
pembedahan Ny.S mengatakan mau diberikan obat dari dokter
dan mau dilakukan tindakan pembedahan
O:
Injeksi masuk melalui selang infus

9. 13.00 1 - Memonitor vital sign


WIB S:
- Ny.S mengatakan panasnya sudah turun
O:
- TTV:
S : 37,5ºC
TD: 110/80 mmHg
N: 80×/menit
RR: 20×/menit
- Akral teraba hangat
10. 13.15 2
WIB - Mengkaji tingkat nyeri pasien S:
P: agen cidera biologis (proses penyakit)
Q: tumpul
R: perut bagian kanan bawah
S: skala nyeri 5
T: terus menerus
O:
Ny. S tampak meringis menahan nyeri

6. EVALUASI
N TGL/ DIAGNOSA EVALUASI NAMA/
O JAM TTD
1 Rabu, 28 Hipertermia berhubungan S:
Juli 2021 dengan proses penyakit - Ny.S mengatakan panasnya sudah turun
13.30 O:
WIB - TTV:
S : 37,2ºC
TD: 110/80 mmHg
N: 80×/menit
RR: 20×/menit
- Akral teraba hangat
A:
Masalah hipertermia teratasi
P:
Hentikan intervensi

2 Rabu, 28 Nyeri akut berhubungan S:


Juli 2021 dengan agen cidera biologis P: agen cidera biologis (proses penyakit)
13.45 Q: tumpul
WIB R: perut bagian kanan bawah
S: skala nyeri 5
T: terus menerus
O:
Ny. S tampak meringis menahan nyeri
A:
Masalah nyeri akut belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensi
- Kaji tingkat nyeri klien
- Berikan posisi nyaman (semifowler)
- Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik dan tindakan
pembedahan

Anda mungkin juga menyukai