Anda di halaman 1dari 3

Rosalia Adisti

18208004

Panca Khanda
Panca Khanda merupakan batin dan jasmani yang ada pada makhluk hidup, khususnya manusia.
Jasmani dsebut rupa, dan batin disebut nama. Panca Khanda (Pali) atau Panca Skandha (Sansekerta)
berasal dari kata “panca” dan “khanda”. Panda berarti lima, dan khanda berarti kumpulan. Intinya,
Panca Khanda adalah lima kelompok pembentuk kehidupan.

Pada pandangan Buddha, makhluk hidup merupakan perpaduan dari lima kelompok kehidupan yang
ada pada Panca Khanda.Kelompok-kelompok kehidupan ini saling bekerja sama dengan erat satu
sama lain. Guru Buddha dalam Satta Sutta; Radha Samyutta; Samyutta Nikaya 23.2 {S 3.189}
menjelaskan: ”Radha, napsu keinginan, kegemaran, atau kehausan apapun terhadap rupa, viññana,
sañña, sankhära, vedanä. Ketika sesuatu terperangkap di sana, terikat di sana, maka sesuatu itu
disebut sebagai makhluk hidup.”

Dari kutipan di atas, kita mengetahui bahwa Panca Khanda terdiri dari:

 rupa (bentuk tubuh, badan jasmani),


 viññana (kesadaran),
 sañña (pencerapan),
 sankhära (pikiran, bentuk-bentuk mental), dan
 vedanä (perasaan).

Rupa
Rupa digolongkan sebagai Rupa (kaya) atau jasmani, sesuatu yang berbentuk dari ujung rambut
sampai ujung kuku kaki berikut hal-hal lainnya yang ada dalam tubuh seperti jantung, paru-paru,
ginjal, pernapasan, suara, suhu tubuh, dan sebagainya. Rupa atau jasmani ini juga merupakan
perpaduan dari 5 unsur, yaitu : unsur padat (pathavi dhatu), unsur cair (apo dhatu), unsur api/panas
(tejo dhatu), unsur angin/gerak (vayo dhatu), dan unsur udara/oksigen (akasa dhatu).

Viññana, Sañña, Sankhära, Vedanä digolongkan sebagai Nama (citta) atau batin, sesuatu yang berada
dalam jasmani dan tidak dapat dilihat. Di bawah ini merupakan penjelasan atas Viññana, Sañña,
Sankhära, Vedanä sekaligus proses batin secara berurutan yang terjadi ketika jasmani kita melakuan
kontak dengan sesuatu.

Rupa khanda menrupakan kelompok yang paling terlihat dari kelompok kehidupan yang lain. Rupa
khanda merupakan pintu gerbang bagi orang lain yang awam untuk mengenali diri kita. Oleh karena
itu, banyak orang yang memoles rupa, dan melupakan unsur kehidupan yang lain.

Rupa khanda menerima rangsang dari kelima indra, yaitu penglihatan, penciuman, pengecapan,
pendengaran, dan perasaan untuk hidup. Dari kelima indra tersebut, manusia mengetahui apa yang
harus dilakukan. Bisa jadi, rupa adalah semacam "pintu masuk" untuk hal-hal yang berasal dari luar
tubuh, terutama yang bersifat kasar/jasmani. Hal ini bisa berakibat pada kebaikan atau keburukan.
Karena tingkatannya yang rendah, rupa bersentuhan langsung dengan kebutuhan biologis seperti
makan. Sakit pada rupa khanda juga merupakan sakit yang dapat disembuhkan dengan obat-obatan
dari dokter.
Rosalia Adisti
18208004

Viññana
Viññana berarti kesadaran atau juga disebut dengan citta. Keberadaannya dapat kita analisa ketika
kita menyadari bahwa bathin kita telah menangkap suatu rangsangan ketika anggota tubuh kita
berhubungan dengan sesuatu, misalnya:

- terjadi kontak antara mata dengan suatu bentuk.


- terjadi kontak antara jasmani dengan sentuhan.
- terjadi kontak antara telinga dengan suara.
- terjadi kontak antara hidung dengan bau-bauan.
- terjadi kontak antara pikiran dengan situasi.

Kesadaran ini memegang peranan penting ketika kita harus memilih yang mana yang benar dan yang
mana yang salah. Kesadaran merupakan hal mutlak yang harus ada pada saat kita menangkap
sesuatu dari indra, karena tanpa kesadaran, kita tidak akan memilih mana yang sesuai dengan
pemikiran atau perasaan kita, melainkan memilih sesuatu di bawah sadar. Karena itu pula, pada
Pancasila Buddhis, sila kelima yaitu Surameraya Majja Pamadatthana Veramani Sikkhapadang
Samadiyami (saya berjanji menghindari makan/minum yang menyebabkan hilangnya kesadaran). Di
sini terlihat, bahwa kesadaran harus dijaga, salah satunya yaitu dengan menghindari makanan atau
minuman yang memabukkan.

Sañña
Sañña berarti pencerapan. Keberadaannya dapat kita analisa ketika batin kita mencerap atau
menerima ataupun mengenal rangsangan-rangsangan yang terjadi pada tubuh kita melalui suatu
bagian dari otak kita.

Sanna menerima kesan-kesan yang ada pada rangsangan yang terjadi pada tubuh. Sanna berkaitan
erat dengan persepsi, di mana sanna mengenali rangsang apa saja yang diterima dari tubuh kita.
Sanna juga penting bagi ita, karena jika tidak, kita hanya menerima rangsang tanpa tahu rangsang itu
sebenarnya apa atau bagaimana refleks kita terhadap rangsang tersebut.

Jika dilatih, sanna akan memegang peranan penting dalam hidup kita, karena kita dapat menentukan
apa yang harus kita lakukan apabila kita menerima rangsang sesuatu tanpa harus berpikir lama.
Sanna dapat dilatih dalam kehidupan sehari-hari atau juga dengan meditasi.

Sankhära
Sankhära berarti bentuk-bentuk pikiran. Keberadaannya dapat kita analisa ketika rangsangan pada
tubuh yang telah disadari dan dicerap akan dibanding-bandingkan dengan pengalaman kita yang
dulu-dulu melalui gambaran-gambaran pikiran yang tersimpan dalam batin kita, yang pernah kita
lihat, dengar, sentuh dan lain-lain.

Pikiran ini sudah masuk ke level tinggi, di mana kita bisa memanipulasi pikiran. Bentuk-bentuk
pikiran juga masih merupakan tolok ukur akan pandangan seseorang terhadap kita. Pikiran ini harus
kita latih, supaya dapat tetap jernih dalam menghadapi masalah. Apabila pikiran tidak jernih atau
kalut, dalam menerima rangsangan negatif, kita bisa melakukan hal-hal yang bertentangan dengan
Rosalia Adisti
18208004

nilai-nilai moral yang dipegang oleh manusia, atau berbuat kerusakan yang mengakibatkan
timbulnya dukkha baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Cara melatih pikiran kita adalah dengan melihat kembali apa saja yang pernah kita hadapi dalam
hidup, kemudian kita analisis apa yang menjadi tanggapan kita dari pikiran terhadap rangsang. Dari
situ kita menilai, apakah tanggapan kita baik atau tidak, apakah kita tidak dapat berpikir jernih pada
suatu kesempatan, sehingga kali berikut kita dapat berpikir lebih jernih dan lebih arif dalam
memandang suatu masalah.

Vedanä
Vedanä berarti perasaan. Keberadaannya dapat kita analisa ketika kita telah membanding-
bandingan rangsangan kemudian timbul perasaan senang (suka) atau tidak senang (tidak suka),
bahagia maupun menderita, dan perasaan netral.

Perasaan merupakan hal yang harus dikontrol karena perasaan merupakan hal yang mengendalikan
pandangan kita terhadap sesuatu. Karena, vedana berkaitan dengan apa yang kita rasakan apabila
kita menerima suatu rangsangan. Hal ini berpengaruh terhadap mood kita apabila ada rangsang, dan
subjektif atau objektifnya pandangan kita terhadap sesuatu. Kita harus menjaga perasaan kita agar
tetap netral dan tidak terpengaruh dalam memutuskan sesuatu atau memutuskan tanggapan apa
yang akan kita berikan terhadap rangsang. Kita lebih baik menjaga supaya tetap objektif, namun
dengan tetap mempertimbangkan banyak hal. Cara melatih perasaan adalah peka terhadap
lingkungan dan peka juga terhadap perasaan orang lain.

Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa proses batin yang terjadi secara umum adalah:

Jasmani Kesadaran Pencerapan Pikiran Perasaan

Dengan jasmani menerima rangsang, rangsang akan dapat diterima bila ada kesadaran, ditanggapi
oleh pencerapan, kemudian diolah oleh pikiran kemudian perasaan.

Karena makhluk hidup khususnya manusia merupakan perpaduan dari berbagai unsur atau
kelompok kehidupan (khandha), maka sesuai dengan hukum Tiga Corak Kehidupan (Tilakkhana),
maka makhluk hidup apapun juga memiliki sifat tidak kekal (anicca), bukan diri sejati (anatta), dan
dapat menimbulkan penderitaan (dukkha).

Daftar Pustaka
Lecture notes Kuliah Agama Buddha, Prof. Toto Winata

http://kanankirikirikanan.wordpress.com/tag/panca-khanda/, diakses 15 April 2011