Anda di halaman 1dari 30

TUGAS PERATURAN LELANG NEGARA

RANGKUMAN BAB IV TENTANG PEJABAT LELANG

OLEH :

EFRIANZA

NIM : 02022682024017

PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN PASCASARJANA

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2021
PEJABAT LELANG

Pejabat Lelang sering disebut juga Vendumeester atau Auctioneer atau Juru Lelang.

Vendumeester menurut Prof. Dr Rochmat Soemitro, S.H dan ENGELBRECHT diartikan sebagai

Juru Lelang, dan istilah Juru Lelang jarag dipakai oleh para Vendumeester. Hal ini dapat

dimengerti, mengingat para Vendumeester Kelas II umumnya dijabat oleh Notaris,

Bupati/Walikota, Sewilda. Apalagi untuk Notaris yang merangkap jabatan sebagai Pejabat

Pembuat Akta Tanah, dia disebut sebagai “Pejabat”. Padahal fungsi PPAT dan Vendumeester

adalah sama.

KODE ETIK PEJABAT LELANG INDONESIA

Dalam menegakkan pelaksanaan kode etik profesi Pejabat Lelang di Indonesia, maka perlu

dibentuk organisasi Pejabat Lelang. Organisasi ini bermula dari para Pejabat Lelang untuk dapat

memahami aturan-aturan moral yang melandasi jiwa Pejabat Lelang dalam melaksanakan

tugasnya, hal ini disebabkan banyak persepsi-persepsi Pejabat Lelang yang tidak sesuai dengan

keinginan-keinginan yang berlaku sekarang ini, selain itu profesi Pejabat Lelang suatu saat akan

menjadi semakin berkembang dengan berdirinya Balai-Balai Lelang swasta dan kantor-kantor

Lelang Negara, serta adanya perdagangan bebas, khususnya dunia usaha di bidang lelang

(auction), kebutuhan-kebutuhan inilah yang akhirnya muncul pemikiran perlu dibentuk

organisasi Pejabat Lelang. Organisasi Pejabat Lelang Indonesia mempunyai perangkat yang

terdiri dari:

1. Musyawarah Nasional/Musyawarah Daerah

2. Dewan kehormatan.

3. Pengurus tingkat pusat.


4. Pengurus tingkat daerah.

Sedangkan keanggotaan organisasi ini dirumuskan dalam Bab VII Pasal 15 rumusan Kode

Etik Pejabat Lelang yang menyebutkan:

1. Keanggotaan Ikatan Pejabat Lelang Indonesia (IPLI) terdiri dari perorangan.

2. Anggota Ikatan Pejabat Lelang Indonesia (IPLI) terdiri dari:

a. Anggota biasa

b. Anggota kehormatan

c. Anggota luar biasa.

Sedangkan persyaratan untuk menjadi anggota organisasi ini menurut Pasal 16 adalah:

1. Anggota biasa adalah orang yang masih berstatus sebagai Pejabat Lelang dan terdaftar pada
organisasi.

2. Anggota kehormatan adalah orang yang berjasa terhadap organisasi berdasarkan keputusan
Musyawarah Nasional.

3. Anggota luar biasa adalah Pejabat Lelang warga negara asing yang berada dan bekerja di
Indonesia.

Pejabat Lelang yang tergabung dalam organisasi Ikatan Pejabat Lelang Indonesia (IPLI)
melalui Munas di bulan April 2001 telah menempatkan berbagai ketentuan yang menuntut para
Pejabat Lelang di Indonesia untuk dapat dipatuhi oleh profesi Pejabat Lelang diantaranya :

1. STANDAR PROFESI PEJABAT LELANG

Dalam standar Profesi Pejabat Lelang telah dirumuskan pokok-pokok pikiran yang terdiri

dari:

1. Tanggung Jawab Profesi


Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus

menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukan.

2. Pelayanan Masyarakat

Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada

masyarakat, menghormati kepercayaan masyarakat dan menunjukkan komitmen atas

profesionalismenya.

3. Integritas

Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan masyarakat, setiap anggota harus

memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.

4. Objektivitas dan Kemandirian

Setiap anggota harus menjaga objektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam

pemenuhan kewajiban profesionalnya.

5. Inovatif dan kehati-hatian Profesional

Setiap anggota harus melaksanakan profesinya dengan kehati-hatian, kompetensi, ketekunan,

serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan kemampuan profesional pada tingkat yang

diperlukan untuk memastikan pengguna jasa memperoleh manfaat dari jasa profesional Pejabat

Lelang.

6. Perilaku Profesional

Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan

menjauhi tindakan yang menurunkan martabat profesi.


7. Standar Teknis

Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan

standar profesional yang relevan.

8. Kekeluargaan dan Kebersamaan

Setiap anggota harus saling menghormati dan mau berbagi pengalaman kepada sesama

anggota, serta mengusahakan penyelesaian permasalahan anggota secara

kekeluargaan/musyawarah.

9. Transparansi Informasi

Setiap anggota dalam melaksanakan profesinya harus secara transparan menginformasikan

fakta dan data yang benar mengenai pelaksanaan suatu lelang kepada pengguna jasa, kecuali bila

ada hak atau kewajiban profesional untuk merahasiakannya.

2. KODE ETIK PEJABAT LELANG

Kode etik Pejabat Lelang Indonesia berdasarkan hasil rumusan Musyawarah Nasional bulan

April 2001 menghasilkan rumusan antara lain :

Bab I: Ketentuan Umum

Bab II: Ruang Lingkup berlakunya kode etik

Bab III: Kewajiban dan larangan

Bab IV : Sanksi

Bab V: Tata cara penegakan kode etik


Bab VI : Kewajiban Pengawas

Bab VII : Ketentuan Penutup

Ketentuan yang mengatur para profesi Pejabat Lelang ada dalam bab III mengenai kewajiban

dan Larangan yang antara lain:

1. Senantiasa menjunjung tinggi dasar negara dan hukum yang berlaku.

2. Mengutamakan pengabdian kepada kepentingan negara dan masyarakat.

3. Menjunjung tinggi kehormatan profesi Pejabat Lelang dan menjaga nama baik organisasi

sesuai dengan makna sumpah jabatan dan kode etik.

4. Memiliki perilaku profesional dan ikut berpartisipasi dalam pembangunan nasional.

5. Bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab, mandiri, jujur, dan tidak berpihak.

6. Memberi pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat yang memerlukan jasanya.

7. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang memerlukan jasanya dengan maksud agar

masyarakat menyadari dan menghayati hak dan kewajibannya sebagai warga negara dan

anggota masyarakat,

8. Bersikap saling menghormati, menghargai serta mempercayai dalam suasana kekeluargaan

dengan sesama anggota organisasi.

9. Melakukan perbuatan-perbuatan lain yang secara umum disebut sebagai kewajiban untuk

ditaati dan dilaksanakan, tidak terbatas pada ketentuan- ketentuan yang tercantum dalam:

a. Ketentuan-ketentuan pada undang-undang.


b. Isi sumpah jabatan

c. Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Standar Profesi ataupun keputusan-keputusan

lain yang telah ditetapkan oleh organisasi.

3. RUANG LINGKUP BERLAKUNYA KODE ETIK

Ruang lingkup dan berlakunya Kode Etik terdapat dalam Bab II Pasal 2 dimana Kode Etik ini

berlaku bagi seluruh anggota baik dalam lingkup melaksanakan tugas jabatan maupun dalam

kehidupan sehari-hari.

4. SANKSI

1. Bagi setiap anggota yang terlihat melakukan pelanggaran kode etik maka anggota tersebut

dikenakan sanksi-sanksi antara lain:

a. Peringatan lisan;

b. Peringatan tertulis;

c. Pemberhentian sementara;

d. Pemberhentian.

2. Pengenaan sanksi dilakukan oleh Dewan Kehormatan dengan memperhatikan berat ringannya

kesalahan anggota dan tidak harus ditetapkan secara berurutan.

3. Sebelum sanksi di atas dilaksanakan, anggota yang bersangkutan harus diberi kesempatan

untuk membela diri dihadapan Dewan Kehormatan dan dapat didampingi oleh penasehat

sebanyak-banyaknya 2 (dua) orang anggota biasa.


4. Sanksi berupa pernyataan tertulis dapat disertai pernyataan tentang kondisi bersyarat yang

menyatakan apabila anggota yang bersangkutan terbukti melakukan pelanggaran serupa

dalam jangka waktu tertentu, maka anggota tersebut secara otomatis akan dikenai sanksi

pemberhentian sementara.

5. Dalam hal sanksi berupa pemberhentian sementara, maka tindakan ini diumumkan kepada

seluruh anggota Ikatan Pejabat Lelang Indonesia oleh Dewan Kehormatan, sedangkan

tindakan pemberhentian diumumkan kepada masyarakat.

5. TATA CARA PENEGAKAN KODE ETIK

Untuk melaksanakannya diatur dalam Bab V terdiri dari :

Bagian pertama tentang Pengawasan, Pasal 6 menyatakan:

1. Pengawasan atas Pelaksanaan Kode Etik ini dilakukan oleh Dewan Kehormatan.

2. Dewan Kehormatan dapat mendelegasikan kewenangan pengawasan atas pelaksanaan kode

etik kepada Pengurus Daerah.

Bagian kedua tentang Pemeriksaan dan Penjatuhan Sanksi

Pasal 7: Pelaksanaan atas pelanggaran terhadap kode etik dan penjatuhan sanksi kepada

pelanggarnya dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Pada tingkat pertama oleh Pengurus Daerah;

2. Pada tingkat kedua oleh Pengurus Pusat;

3. Pada tingkat terakhir oleh Dewan Kehormatan.


Pasal 8: Ketentuan mengenai pemeriksaan dan penjatuhan sanksi akan diatur lebih lanjut oleh

Dewan Kehormatan.

Bagian ketiga tentang Eksekusi atas Sanksi-sanksi Dalam Pelanggaran Kode etik

Pasal 9 menyatakan:

1. Eksekusi atas sanksi-sanksi dalam pelanggaran kode etik dilaksanakan setelah putusan bersifat

final.

2. Pelaksanaan putusan yang bersifat final dilakukan oleh pengurus daerah.

6. KLASIFIKASI PEJABAT LELANG

Berdasarkan Pasal 7 Vendu Instructie, Pejabat Lelang diklasifikasikan menjadi 2 (dua) yaitu :

Pejabat Lelang Kelas I (PL I)

1. Pegawai Negeri Sipil yang diangkat khusus sebagai Pejabat Lelang.

2. Penerima Uang Kas Negara yang ditugaskan sebagai Pejabat Lelang (telah dihapus tahun

1930).

Pejabat Lelang Kelas II (PL II)

1. Pegawai Negeri selain Pejabat Lelang Kelas I yang diberi tugas tambahan sebagai Pejabat

Lelang.

2. Orang-orang yang khusus/bukan PNS diangkat sebagai Pejabat Lelang Saat ini, berdasarkan

Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 119/PMK.07/2005 tanggal 30 November 2005 tentang

Pejabat Lelang Kelas II,


1. Pejabat Lelang Kelas 1 (PLI)

Pegawai Negeri Sipil (PNS) Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara (DJPLN) yang

diberi wewenang oleh Menteri Keuangan untuk melaksanakan penjualan barang secara

lelang.

2. Pejabat Lelang Kelas II (PL II)

Orang yang khusus diberi wewenang oleh Menteri Keuangan untuk melaksanakan

penjualan barang secara lelang atas permohonan Balai Lelang selaku kuasa dari Pemilik

Barang yang berkedudukan di Kantor Pejabat Lelang Kelas II, yang terdiri dari :

a. Lulusan Pendidikan dan Pelatihan Pejabat Lelang yang diselengggarakan oleh BPPK,

b. Notaris, atau

c. Pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) DJPLN diutamakan yang pernah menjadi

Pejabat Lelang Kelas I.

7. PERBEDAAN PEJABAT LELANG KELAS I DAN PEJABAT LELANG KELAS II

Pejabat Lelang diangkat oleh Menteri Keuangan. Sebelum memangku jabatannya,

seorang Pejabat Lelang harus lebih dulu mengangkat sumpah/janji Pejabat Lelang dihadapan

superintenden.

Ada dua macam Pejabat Lelang:

1. Pejabat Lelang Kelas I (PL 1) adalah Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Direktorat Jenderal

Piutang dan Lelang Negara (DJPLN) yang diberi wewenang oleh Menteri Keuangan untuk

melaksanakan penjualan barang secara lelang. Dengan demikian pegawai tersebut


mendapatkan gaji dari keuangan negara dan mempunyai kantor-kantor tersendiri. Biaya

operasional KP2LN dibiayai APBN.

2. Pejabat Lelang Kelas II (PL II) ialah orang yang khusus diberi wewenang oleh

Menteri Keuangan untuk melaksanakan penjualan barang secara lelang atas permohonan

Balai Lelang selaku kuasa dari Pemilik barang yang berkedudukan di Kantor Pejabat Lelang

Kelas II. Mereka berhak mendapat honorarium dan uang perurugi dari lelang yang

dilaksanakan.

Berdasarkan Pasal 20 PMK Nomor 119/PMK.07/2005 tanggal 30 November 2005 tentang

Pejabat Lelang Kelas II, besaran honorarium Pejabat Lelang Kelas II adalah kesepakatan perdata

antara Pejabat Lelang Kelas II dengan Balai Lelang dan menjadi menjadi beban Balai Lelang,

dengan ketentuan sebagai berikut :

a. sampai dengan Rp100.000.000 (seratus juta rupiah), honorarium yang diterima paling besar

adalah 2,5% (dua koma lima persen) dari harga lelang;

b. diatas Rp100.000.000 (seratus juta rupiah) sampai dengan Rp1.000.000.000 (satu miliar

rupiah), honorarium yang diterima paling besar adalah 1,5% (satu koma lima persen) dari

harga lelang;

c. diatas Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah), honorarium yang diterima paling besar adalah

1% (satu persen) dari harga lelang.

Uang perurugi ini disebut juga uang persepsi yang diatur dalam Pasal 45 ayat (3) VR. Juga

diatur dalam Pasal 39 VI yang menetapkan besarnya perurugi 60% atau 3/5 dari Bea Lelang

yang diterima. Perurugi tersebut setelah dipotong Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 dibagi untuk
Pejabat Lelang Kelas Il yang melakukan pelelangan sebesar 60 % (enam puluh persen) dan

Superintenden sebesar 40 % (empat puluh persen) yang disetorkan paling lambat 10 (sepuluh)

hari kerja setelah pelaksanaan lelang.

Bagian Superintenden sebagaimana dimaksud tersebut dirinci sebagai berikut :

a. Kantor Pusat sebesar 20 %;

b. Kantor Wilayah sebesar 20 %;

Berdasarkan Pasal 21 PMK Nomor : 119/PMK.07/2005 tentang Pejabat Lelang Kelas II,

disebutkan atas Bea Lelang dari setiap pelaksanaan lelang, Balai Lelang memungut Perurugi

sebesar 60% (enam puluh persen) untuk diserahkan kepada Pejabat Lelang Kelas II setelah

dipotong Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 dibagi sebagai berikut:

a. sebesar 60% (enam puluh persen) untuk Pejabat Lelang Kelas II yang melakukan pelelangan;

b. sebesar 40% (empat puluh persen) untuk Superintenden. Bagian Superintenden tersebut

disetorkan oleh Pejabat Lelang Kelas II paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah

pelaksanaan lelang dengan rincian sebagai berikut:

a. Direktur Jenderal sebesar 20% (dua puluh persen);

b. Kepala Kantor Wilayah sebesar 20% (dua puluh persen).

Landasan Yuridis :

1. Pasal 3 ayat (1) Vendu Reglement

Juru lelang dibedakan dalam dua kelas. Gubernur Jenderal (sekarang Menteri Keuangan)

menentukan orang-orang dari golongan jabatan mana termasuk masing-masing tingkat.

2. Pasal 7 ayat (1) Vendu Instructie

Termasuk Juru Lelang Kelas I:


a. Pejabat pemerintah yang diangkat khusus untuk itu;

b. Penerima uang Kas Negara, yang kepadanya ditugaskan sebagai Juru Lelang.

Pasal 7 ayat (2) Vendu Instructie (telah dihapus tahun 1930).

Termasuk Juru Lelang kelas II:

a. Pejabat negara selain yang disebut dalam ayat (1) Pasal ini, yang menjabat pekerjaan yang

dikaitkan jabatan Juru Lelang;

b. Orang-orang yang khusus diangkat untuk jabatan ini.

3. Pasal 25 ayat (2) Vendu Reglement

Direktur Keuangan (sekarang kepala DJPLN) menunjuk tempat kedudukan dari Juru Lelang,

juga tempat-tempat dimana para Juru Lelang dan seterusnya.

4. Pasal 25 ayat (1) Vendu Instructie

Pejabat Lelang sebelum memangku jabatannya bersumpah di hadapan Kepala Daerah

(sekarang Superintenden/Kakanwil).

5. Pasal 22 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 119/PMK.07/2005 tanggal 30

November 2005 tentang Pejabat Lelang Kelas II.

Pejabat Lelang Kelas II wajib membuat administrasi perkantoran dan

pelaporan

8. TUGAS DAN FUNGSI PEJABAT LELANG

Pejabat Lelang (vendumeester) adalah jabatan fungsional selaku pejabat umum yang

melayani masyarakat untuk melaksanakan lelang. Dalam setiap pelelangan, Pejabat Lelang

berfungsi sebagai :

1. Peneliti dokumen persyaratan lelang;


2. Pemberi informasi lelang;

3. Pemimpin Lelang;

4. Hakim;

5. Pejabat Umum; dan

6. Bendaharawan.

Dengan demikian Pejabat Lelang tidak hanya menyaksikan lelang tetapi justru

menyelenggarakan penjualan itu sendiri dan juga membuat akta otentik. Risalah Lelang yang

merupakan produk hukum Pejabat Lelang statusnya sama dengan akta otentik karena memenuhi

syarat-syarat sebagai suatu akta otentik seperti yang diatur dalam Pasal 1868 BW (Kitab

Undang-Undang hukum Perdata) yaitu:

1. Dibuat oleh Pejabat Umum yang diangkat oleh Pemerintah. Pejabat Lelang adalah Pejabat

Umum yang diangkat oleh Menteri Keuangan.

2. Bentuk aktanya telah ditentukan dalam undang-undang. Risalah Lelang bentuknya telah

ditentukan dalam Vendu Reglement (Undang- Undang Lelang) yaitu dalam Pasal 37, 38, 39.

Risalah Lelang itu dibuat oleh Pejabat Umum yang berwenang.

3. Setiap Pejabat Lelang mempunyai wilayah kerja tertentu. Pejabat Lelang mempunyai wilayah

kerja tertentu sesuai wilayah kerja KP2LN dimana Pejabat Lelang berkedudukan sesuai

dengan Keputusan pengangkatannya.

Tugas dan fungsi Pejabat Lelang telah ditentukan dalam peraturan mengenai Pejabat Lelang,

yaitu dalam Keputusan Menteri Keuangan No. 305/KMK.01/2002, di mana disebutkan bahwa

tugas Pejabat Lelang ialah melakukan persiapan lelang, pelaksanaan lelang dan membuat laporan
pelaksanaan lelang.

Tugas Pejabat Lelang

Pejabat Lelang melaksanakan tugas setelah ada penunjukan dari Kepala Kantor Pelayanan

Piutang dan Lelang Negara/Pimpinan Kantor Lelang, meliputi persiapan lelang, pelaksanaan

lelang dan kegiatan setelah lelang.

1. Dalam persiapan lelang, Pejabat Lelang:

a. Meminta dan menerima dokumen persyaratan lelang yang berkaitan dengan objek lelang.

b. Meneliti kelengkapan dan kebenaran formal dokumen persyaratan lelang.

c. Memberikan informasi lelang kepada pengguna jasa lelang antara lain tata cara penawaran

lelang, Uang Jaminan, pelunasan Uang Hasil Lelang, Bea Lelang dan pungutan-pungutan

lain sesuai peraturan perundangan, objek lelang dan atau pengumuman lelang.

d. Membuat bagian Kepala Risalah Lelang.

e. Mempersiapkan bagian Badan dan bagian Kaki Risalah Lelang

2. Dalam pelaksanaan lelang, Pejabat Lelang:

a. Membacakan bagian Kepala Risalah Lelang dengan suara yang keras dan jelas (Pasal 37

VR).

b. Memberikan kesempatan kepada Peserta Lelang untuk mengajukan pertanyaan mengenai

hal-hal yang berhubungan dengan lelang yang sedang diadakan tersebut. Setelah

penjelasan/pembacaan Risalah Lelang, para Peserta Lelang dianggap tunduk dan terikat

dengan ketentuan yang tercantum dalam Risalah Lelang (Pasal 1233 jo 1347 BW).

c. Memimpin pelaksanaan lelang agar berjalan tertib, aman dan lancar. Apabila diperlukan

Pejabat Lelang dapat meminta bantuan Polisi setempat.


d. Mengatur ketepatan waktu.

e. Bersikap tegas, komunikatif dan berwibawa.

f. Menyelesaikan persengketaan secara adil dan bijaksana.

g. Menghentikan pelaksanaan lelang untuk sementara waktu apabila terjadi ketidaktertiban

atau ketidakamanan dalam pelaksanaan lelang.

h. Mengesahkan Pembeli Lelang.

i. Membuat bagian Badan Risalah Lelang.

3. Dalam kegiatan setelah lelang, Pejabat Lelang:

a. Membuat bagian Kaki Risalah Lelang,

b. Menandatangani tiap lembar Risalah Lelang kecuali lembar terakhir sebagai pembenaran.

c. Menandatangani Risalah Lelang bersama pemohon lelang, serta Pembeli Lelang dalam hal

lelang barang tak bergerak.

d. Menutup dan menandatangani Risalah Lelang.

e. Pejabat Lelang Kelas I menyetorkan Uang Hasil Lelang yang diterima dari Pembeli ke

Bendaharawan Penerima/Rekening Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara

f. Pejabat Lelang Kelas II yang berkedudukan di Kantor Pejabat Lelang Kelas II

menyetorkan Bea Lelang, Uang Miskin, dan PPh (apabila ada) ke Kas Negara serta Hasil

Bersih Lelang ke Kas Negara/penjual.

g. Pejabat Lelang Kelas II yang berkedudukan di Balai Lelang menyetorkan Biaya

Administrasi dan PPh (apabila ada) ke Kas Negara serta Hasil Bersih Lelang ke pemilik

barang.

h. Mengirimkan ekstrak kutipan Risalah Lelang kepada Superintenden.

i. Menyimpan surat-surat resmi yang berkaitan dengan tata usaha lelang.


j. Menyimpan Minuta Risalah Lelang dengan baik.

Fungsi Pejabat Lelang

Fungsi Pejabat Lelang disebutkan antara lain:

1. Peneliti dokumen objek lelang, dalam pelaksanaan lelang Pejabat Lelang meneliti

kebenaran formal dokumen lelang.

2. Pemberi informasi lelang, untuk mengoptimalkan pelaksanaan lelang. Pejabat Lelang

memberikan informasi kepada pengguna jasa lelang.

3. Pemimpin Lelang, untuk menjamin ketertiban, keamanan dan kelancaran serta

mewujudkan pelaksanaan lelang sesuai dengan ketentuan yang berlaku, Pejabat Lelang

dalam memimpin lelang harus komunikatif, tegas dan berwibawa.

4. Juri, Pejabat Lelang sebagai juri harus bertindak adil dan bijaksana untuk menyelesaikan

persengketaan yang mungkin timbul dalam pelaksanaan lelang.

5. Pejabat umum, Pejabat Lelang sebagai pejabat yang membuat akta otentik berdasarkan

undang-undang di wilayah kerjanya.

6. Bendaharawan, dalam pelaksanaan lelang, Pejabat Lelang menerima, menyetorkan dan

mempertanggungjawabkan uang hasil lelang.

Dalam pelaksanaan lelang, Pejabat Lelang bertanggung jawab atas ketidakcermatan dan

ketidakakuratan penelitian mengenai kebenaran formal dokumen lelang, subjek dari barang yan

akan dilelang dan kebenaran materiil objek lelang yang diberikan, serta bertanggung jawab atas

ketidaktertiban dan ketidaklancaran pelaksanaan lelang, ketidaktertiban administrasi dan

legalitas Risalah Lelang yang dibuatnya dan uang hasil lelang yang diterima.

1. Pejabat Lelang dalam pelaksanaan lelang dengan penawaran secara lisan dapat dibantu

Pemandu Lelang;
2. Pemandu Lelang diusulkan secara tertulis oleh penjual pada saat Kantor Pelayanan Piutang

dan Lelang Negara/Pemimpin Balai Lelang menetapkan Pemandu Lelang dengan Surat

Tugas;

3. Setelah menerima usulan sebagaimana dimaksud di atas, Kepala Kantor Pelayanan Piutang

Lelang Negara/Balai Lelang dapat meminta bantuan Pemandu lelang dari tempat lain;

4. Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara/Balai Lelang dapat meminta bantuan

Pemandu Lelang dari tempat lain.

5. Pemandu Lelang adalah orang yang membantu Pejabat Lelang untuk menawarkan barang

dalam suatu pelaksanaan Lelang.

6. Pemandu Lelang bertugas menawarkan barang dalam pelaksanaan lelang sampai dengan

diperoleh penawaran tertinggi.

7. Pemandu Lelang bertanggung jawab kepada Pejabat Lelang.

9. WILAYAH JABATAN

Wilayah jabatan Pejabat Lelang Kelas I dan Pejabat Lelang Kelas II meliputi wilayah kerja

Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara dimana Pejabat Lelang berkedudukan. Sedangkan

wilayah kerjanya ditetapkan dalam Surat Keputusan Pengangkatan Pejabat Lelang.

10. WEWENANG PEJABAT LELANG

Kewenangan Pejabat Lelang memiliki wewenang sebagai berikut :

1. Pejabat Lelang Kelas I berwenang melaksanakan untuk semua jenis lelang, kecuali lelang

atas permohonan Balai Lelang.

2. Pejabat Lelang Kelas II berwenang melaksanakan lelang terbatas pada lelang non eksekusi

sukarela, lelang aset BUMN/D berbentuk Persero dan lelang aset milik bank dalam
likuidasi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan

Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank.

3. Dalam hal di suatu wilayah jabatan Pejabat Lelang Kelas II belum terdapat Pejabat Lelang

Kelas II atau semua Pejabat Lelang Kelas II yang ada di wilayah tersebut dibebastugaskan,

cuti atau berhalangan tetap, pelayanan lelang atas permohonan Balai Lelang dilakukan oleh

Pejabat Lelang Kelas I sesuai dengan KP2LN tempat kedudukannya.

11. HAK DAN KEWAJIBAN PEJABAT LELANG

Hak Pejabat Lelang

Pejabat Lelang mempunyai hak sebagai berikut :

1. melakukan analisis yuridis terhadap dokumen persyaratan lelang dan dokumen barang

yang akan dilelang;

2. menegur dan/atau mengeluarkan peserta dan atau pengunjung lelang apabila melanggar

tata tertib pelaksanaan lelang;

3. menghentikan pelaksanaan lelang untuk sementara waktu apabila diperlukan dalam

rangka menjaga ketertiban pelaksanaan lelang;

4. menolak melaksanakan lelang apabila tidak yakin akan kebenaran formal berkas

persyaratan lelang;

5. melihat barang yang akan dilelang;

6. meminta bantuan aparat keamanan apabila diperlukan;

7. mengesahkan Pembeli Lelang; dan/atau

8. membatalkan Pembeli Lelang yang wanprestasi.

9.
Kewajiban Pejabat Lelang Kewajiban

Pejabat Lelang dibedakan untuk Pejabat Lelang Kelas I dan Kelas II.

1. Pejabat Lelang Kelas I mempunyai kewajiban sebagai berikut:

a. bertindak jujur, seksama, mandiri, tidak berpihak dan menjaga kepentingan pihak yang

terkait;

b. meneliti dokumen persyaratan lelang;

c. membuat bagian Kepala Risalah Lelang sebelum Lelang dimulai;

d. membacakan bagian Kepala Risalah Lelang dihadapan peserta lelang sebelum lelang

dimulai, kecuali dalam lelang yang dilakukan melalui media elektronik;

e. memimpin pelaksanaan lelang;

f. membuat Minuta Risalah Lelang dan menyimpannya;

g. membuat Salinan dan Kutipan Risalah Lelang menyerahkan kepada yang berhak;

h. meminta dari Pembeli bukti Pelunasan Harga Lelang, Bea Perolehan Hak atas Tanah

dan/atau Bangunan, dan pungutan-pungutan lain yang diatur sesuai peraturan

perundang-undangan dan meneliti keabsahannya;

i. membuat administrasi pelaksanaan lelang;

j. memberikan pelayanan jasa lelang sesuai dengan peraturan perundang-undangan

lelang; dan

k. mematuhi peraturan perundang-undangan lelang.

2. Pejabat Lelang Kelas II yang berkedudukan di Kantor Pejabat Lelang Kelas II

mempunyai kewajiban sebagai berikut:

a. Bertindak jujur, seksama, mandiri, tidak berpihak dan menjaga kepentingan pihak

yang terkait;
b. Mengadakan perikatan perdata dengan Balai Lelang mengenai pelaksanaan lelang dan

honorarium;

c. Meneliti dokumen persyaratan lelang;

d. Membuat bagian kepala Risalah Lelang sebelum lelang dimulai;

e. Membacakan bagian kepala Risalah Lelang dihadapan peserta lelang

f. sebelum lelang dimulai, kecuali dalam lelang yang dilakukan melalui media

elektronik;

g. Memimpin pelaksanaan lelang;

h. Membuat Minuta Risalah Lelang dan menyimpannya;

i. Membuat Salinan dan Kutipan Risalah Lelang dan menyerahkan kepada balai Lelang;

j. Menyetorkan bagian perurugi kepada superintenden;

k. Meminta dari Balai Lelang bukti pelunasan Harga Lelang, Bea Lelang, Pajak

Penghasilan final atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan, Bea Perolehan

Hak atas Tanah dan/atau Bangunan, dan pungutan- pungutan lain yang diatur sesuai

peraturan perundang-undangan dan meneliti keabsahannya;

l. Membuat adminitrasi perkantoran dan pelaporan pelaksanaan lelang;

m. Memberikan pelayanan jasa lelang sesuai dengan peraturan perundang-undangan

lelang yang berlaku, dan

n. Mematuhi peraturan perundang-undangan lelang.

12. LARANGAN PEJABAT LELANG

Pejabat Lelang dilarang untuk :

1. Melayani permohonan lelang di luar kewenangannya;


2. Dengan sengaja tidak hadir dalam pelaksanaan lelang yang telah dijadwalkan;

3. Membeli barang yang dilelang dihadapannya secara langsung maupun tidak langsung;

4. Menerima uang jaminan lelang dan harga lelang dari pembeli;

5. Melakukan pungutan lain diluar yang telah ditentukan dalam peraturan perundang-

undangan yang berlaku

6. Merangkap jabatan atau profesi sebagai Pejabat Negara, Kurator, Penilai,

Pengacara/Advokat atau jabatan lain yang oleh peraturan perundang-undangan dilarang

dirangkap dengan jabatan Pejabat Lelang

7. Menolak permohonan lelang dalam wilayah kerjanya sepanjang telah memenuhi

persyaratan yang berlaku.

8. Baik langsung maupun tidak langsung mengadakan usaha-usaha/melakukan perbuatan

yang menjurus ke arah timbulnya persaingan yang tidak sehat dan merugikan sesama

Pejabat Lelang baik moral maupun material.

9. Menunjuk atau menetapkan salah satu Peserta Lelang sebagai pemenang lelang di luar

prosedur dan tata cara lelang.

10. Membujuk dan atau memaksa pengguna jasa dengan cara atau dalam bentuk apapun

untuk membuat agar pelaksanaan lelang dilakukan olehnya.

11. Membentuk kelompok di dalam tubuh organisasi dengan tujuan untuk melayani

kepentingan suatu instansi atau lembaga secara khusus/eksklusif, apalagi menutup

kemungkinan bagi Pejabat Lelang lain berpartisipasi.

12. Melakukan perbuatan-perbuatan lain yang secara umum disebut sebagai pelanggaran,

tidak terbatas pada pelanggaran-pelanggaran terhadap:

a. Ketentuan-ketentuan dalam peraturan Pejabat Lelang;


b. Isi sumpah jabatan;

c. Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Standar Profesi ataupun keputusan-

keputusan lain yang telah ditetapkan oleh organisasi.

13. PENGANGKATAN PEJABAT LELANG

Pejabat Lelang diangkat oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri Keuangan berdasarkan

usul Kepala Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara. Usul pengangkatan Pejabat Lelang

diajukan kepada Kepala Kanwil setempat dengan alasan:

1. Kekurangan Pejabat Lelang;

2. Terjadi mutasi pegawai yang menjadi Pejabat Lelang pada Kantor Pelayanan Piutang dan

Lelang Negara; dan

3. Apabila dipandang perlu.

Setelah usul diterima, Kepala Kanwil meneruskan usulan pengangkatan Pejabat Lelang

tersebut kepada Direktur Jenderal apabila dokumen telah lengkap dan memenuhi persyaratan.

Dokumen persyaratan pengangkatan Pejabat Lelang Kelas I terdiri dari:

1. Fotokopi ijazah sarjana yang telah dilegalisir;

2. Fotokopi Surat Keputusan kepangkatan terakhir;

3. Fotokopi sertifikat kelulusan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Pejabat Lelang dan Penilai, atau

lulus Diklat Pejabat Lelang, Diklat Lelang III (khusus), Diklat Lelang II, Diklat Lelang III dan

DPT III PPL;

4. Surat keterangan dokter pemerintah yang menyatakan sehat jasmani dan rohani;

5. Surat rekomendasi dari atasan setingkat eselon III dalam unit kerja yang bersangkutan;
6. Surat keterangan tidak pernah terkena sanksi administrasi dan memiliki integritas yang tinggi

dari atasan setingkat eselon III dalam unit kerja yang bersangkutan

Usul pengangkatan Pejabat Lelang Kelas II diajukan kepada Direktur Jenderal Piutang

dan Lelang Negara setelah memperhatikan formasi jabatan yang ditetapkan oleh Menteri

Keuangan dengan pertimbangan :

1. jumlah Balai Lelang;

2. frekuensi pelaksanaan lelang; dan/atau

3. jumlah penduduk.

Dokumen persyaratan pengangkatan Pejabat Lelang Kelas II yang berasal dari Lulusan

Pendidikan dan Pelatihan BPPK dan Notaris :

1. Fotokopi identitas diri;

2. Surat Keterangan Berkelakukan Baik dari Kepolisian;

3. Fotokopi ijazah sarjana yang telah dilegalisir;

4. Fotokopi ijazah kenotariatan yang telah dilegalisir Pejabat yang berwenang terakhir;

5. Surat rekomendasi dari Direksi Balai Lelang dan Kepala KP2LN atau Direksi Balai Lelang

dan Pejabat Lelang Kelas II, yang menyatakan calon Pejabat Lelang Kelas II yang

bersangkutan telah melakukan praktek kerja (magang):

6. Fotokopi sertifikat kelulusan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Pejabat Lelang yang

diselenggarakan BPPK;

7. Surat keterangan dokter pemerintah yang menyatakan sehat jasmani dan rohani;

8. Fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);


9. Fotokopi sertifikat atau surat tanda bukti kepemilikan atau surat perjanjian sewa dengan

jangka waktu sewa minimal 2 (dua) tahun dan foto sebagai data pendukung tersedianya

fasilitas kantor dengan luas sekurang-kurangnya 48 m2.

Dokumen persyaratan pengangkatan Pejabat Lelang Kelas II yang berasal dari

Pensiunan PNS DJPLN yang pernah menjabat menjadi Pejabat Lelang:

1. fotokopi identitas diri;

2. fotokopi Surat Keputusan Pensiun PNS DJPLN dengan pangkat/golongan terakhir paling

rendah Penata Muda (III a);

3. fotokopi ijazah Sarjana (SI) yang telah dilegalisasi Pejabat yang berwenang;

4. surat rekomendasi dari Direktur Jenderal c.q. Sekretaris DJPLN yang menyatakan tidak

pernah terkena sanksi administrasi dan memiliki integritas tinggi;

5. fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);

6. Surat Keterangan dokter Pemerintah yang menyatakan sehat jasmani dan rohani;

7. fotokopi Surat Keputusan Pengangkatan Pejabat Lelang;

8. Surat Keterangan Catatan Kepolisian; dan

9. sertifikat atau surat tanda bukti kepemilikan atau surat perjanjian sewa dengan jangka waktu

sewa minimal 2 (dua) tahun dan foto sebagai data pendukung tersedianya fasilitas kanto

dengan luas sekurang-kurangnya 48 M2.

Kepala kanwil mengambil sumpah/janji yang diucapkan oleh Pejabat Lelang menurut

agama atau kepercayaannya dengan didampingi oleh seorang rohaniwan dan disaksikan

sekurang-kurangnya 2 (dua) orang saksi.


14. PEMBEBASTUGASAN DAN PEMBERHENTIAN PEJABAT LELANG

Pejabat Lelang dapat diusulkan untuk dibebastugaskan berupa larangan melaksanakan

jabatannya selama 6 (enam) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun apabila diduga melakukan

pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku. Pembebastugasan tersebut digunakan untuk

memperlancar proses pemeriksaan atas indikasi pelanggaran yang telah dilakukan oleh Pejabat

Lelang yang bersangkutan.

Superintenden mengusulkan pembebastugasan Pejabat Lelang secara tertulis kepada

Direktur Jenderal melalui Direktur Lelang Negara antara lain dilampiri:

1. Bukti dan Surat keterangan Superintenden yang menyatakan bahwa Pejabat Lelang yang

bersangkutan :

a. tidak mengindahkan Surat Peringatan;

b. tidak menyetorkan uang hasil lelang;

c. melakukan pungutan di luar ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

d. menyalahgunakan uang jaminan lelang; atau

e. melakukan tindakan di luar kepatutan sebagai seorang Pejabat Lelang; dan atau

2. Surat Keterangan Jaksa Penuntut Umum yang menyatakan bahwa Pejabat Lelang yang

bersangkutan telah berstatus sebagai terdakwa.

Setelah menerima usul pembebastugasan dari Superintenden, Direktorat Lelang Negara

memberikan rekomendasi dan mengajukan usul pembebastugasan secara tertulis kepada Direktur

Jenderal selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah usul pembebastugasan diterima.

Keputusan Direktur Jenderal tentang Pembebastugasan Pejabat Lelang diterbitkan selambat-


lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah usul pembebastugasan dari Superintenden diterima.

Sedangkan Keputusan pembebastugasan yang dimaksud berlaku untuk jangka waktu paling lama

6 (enam) bulan sejak tanggal ditetapkan.

Jangka waktu pembebastugasan Pejabat Lelang dapat diperpanjang apabila pemrosesan

pemeriksaan atas indikasi pelanggaran belum selesai. Perpanjangan jangka waktu

pembebastugasan Pejabat Lelang dilakukan sebagai berikut :

1. Superintenden mengajukan usul perpanjangan waktu pembebastugasan Pejabat Lelang secara

tertulis kepada Direktorat Jenderal melalui Direktur Lelang Negara;

2. Setelah menerima usul perpanjangan waktu pembebastugasan dari Superintenden, Direktur

Lelang Negara memberikan rekomendasi dan mengajukan usul perpanjangan waktu

pembebastugasan secara tertulis kepada Direktur Jenderal selambat-lambatnya 30 (tiga puluh)

hari setelah usul perpanjangan waktu pembebastugasan diterima;

3. Surat Direktur Jenderal perihal Perpanjangan Waktu Pembebastugasan Pejabat Lelang

diterbitkan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah usul perpanjangan waktu

pembebastugasan dari Direktur Lelang Negara diterima.

Keputusan perpanjangan jangka waktu pembebastugasan Pejabat Lelang dapat diberikan

1 (satu) kali untuk jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal ditetapkan.

Terhadap Pejabat Lelang yang telah dibebastugaskan sebanyak 2 (dua) kali dengan indikasi

pelanggaran yang sama/pelanggaran lainnya, dibebastugaskan selama 1 (satu) tahun. Sedangkan

terhadap Pejabat Lelang yang telah dibebastugaskan sebanyak 3 (tiga) kali dengan indikasi

pelanggaran yang sama/pelanggaran lainnya, dapat diberhentikan tidak dengan hormat sebagai

Pejabat Lelang.
Apabila dari hasil proses pemeriksaaan sebagaimana dimaksud di atas, Pejabat Lelang

yang bersangkutan tidak terbukti melakukan pelanggaran, Direktur Jenderal menerbitkan Surat

Keputusan Pencabutan Pembebastugasan Pejabat Lelang. Sedangkan apabila Pejabat Lelang

yang bersangkutan terbukti melakukan pelanggaran, Direktur Jenderal atas nama Menteri

Keuangan menerbitkan Surat Keputusan Pembebastugasan Pejabat Lelang. Kepala Kantor

Pelayanan Piutang dan Lelang Negara mengajukan Pemberhentian Pejabat Lelang secara tertulis

kepada Direktur Jenderal melalui Direktur Lelang Negara dengan dilampiri dokumen antara lain:

1. Surat Keputusan meninggal dunia; atau

2. Fotokopi SK pensiun; atau

3. Surat Keputusan Hakim yang berkekuatan hukum tetap; atau

4. Surat Keterangan dari atasan langsung dari Pejabat Lelang Kelas I dan atau surat

keterangan dari instansi/lembaga yang berwenang untuk Pejabat Lelang yang

bersangkutan dalam jangka waktu 4 (empat) tahun sejak berlakunya Keputusan

Menteri Keuangan Nomor 305/KMK.01/2002 tentang Pejabat Lelang masih belum

lulus Sarjana (S1); atau

5. Surat Keterangan Kepala Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara yang

menyatakan bahwa Pejabat Lelang Kelas II yang bersangkutan sudah tidak lagi

berkedudukan di wilayah kerjanya.

Pemberhentian Pejabat Lelang Kelas II diusulkan oleh Kepala Kanwil setempat secara

tertulis kepada Direktur Jenderal.

Direktur Jenderal menerbitkan Surat Keputusan tentang pemberhentian Pejabat Lelang

Kelas II selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah usulan dari Direktur Lelang Negara

diterima.
Pejabat Lelang diusulkan untuk dibebastugaskan dalam hal terdapat indikasi melakukan

pelanggaran berupa:

1. Membeli barang yang dilelang dihadapannya;

2. Menerima kuasa dari pembeli;

3. Tidak menyetorkan hasil lelang;

4. Melakukan pungutan lain di luar yang telah ditentukan dalam peraturan perundang-

undangan yang berlaku;

5. Menyalahgunakan uang Jaminan Lelang yang diterimanya;

6. Melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kepatutan sebagai Pejabat Lelang; dan

atau

7. Melakukan tindak pidana lainnya dan telah berstatus sebagai terdakwa.

Usulan pembebastugasan Pejabat Lelang dilakukan oleh Kepala Kantor Wilayah kepada

Direktur Lelang Negara untuk diteruskan kepada Direktur Jenderal. Sedangkan

pembebastugasannya dilakukan oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri Keuangan.

Pembebastugasan sebagaimana dimaksud di atas berlaku untuk jangka waktu paling lama

6 (enam) bulan yang dapat diperpanjang apabila pemrosesan atas pelanggaran sebagaimana yang

telah disebutkan di atas belum selesai. Apabila indikasi pelanggaran tidak terbukti, maka

pembebasan Pejabat Lelang yang bersangkutan segera dicabut.

Pejabat Lelang diusulkan untuk diberhentikan dengan hormat dalam hal:

1. Meninggal dunia.

2. Pensiun.

3. Indikasi pelanggaran terbukti kebenarannya.


4. Dijatuhi hukuman administrasi/disiplin berdasarkan ketentuan kepegawaian yang berlaku dan

kode etik instansi/lembaga yang berwenang.

5. Pejabat Lelang Kelas I yang belum lulus Sarjana (S1) dan belum berpangkat Penata Muda

(Golongan III/a) dalam jangka waktu 4 (empat) tahun sejak ditetapkan Keputusan Menteri

Keuangan Nomor 305/KMK.01/2002.

6. Pejabat Lelang Kelas II yang tidak lagi berkedudukan di wilayah kerjanya.

7. Telah mencapai usia 65 tahun bagi Pejabat Lelang Kelas II dari pensiunan PNS DJPLN

Notaris dan Penilai.

Usulan pemberhentian Pejabat Lelang diajukan oleh Kepala Kantor Pelayanan Piutang

dan Lelang Negara kepada Kepala Kantor Wilayah DJPLN untuk diteruskan kepada Direktur

Jenderal. Kemudian yang akan memberhentikan Pejabat Lelang adalah Direktur Jenderal atas

nama Menteri Keuangan.

Pembebastugasan dan Pemberhentian sebagaimana dimaksud di atas tidak mengurangi

kemungkinan gugatan perdata dan atau tuntutan pidana sesuai peraturan perundang-undangan

yang berlaku.

15. PEMANGGILAN PEJABAT LELANG

Untuk kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum berwenang memangggil

Pejabat Lelang dengan Persetujuan tertulis Superintenden, untuk hadir dalam pemeriksaan yang

berkaitan dengan Risalah Lelang yang dibuatnya.