Anda di halaman 1dari 22

TUGAS KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF

TEXT BOOK READING

“Neurobehavioral In Human”

Pembimbing :
dr. Prasetyo Tri Kuncoro,
Sp.S

Disusun Oleh :
Rizki Agung Nugraha
G1A016036

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL


SOEDIRMAN SMF ILMU PENYAKIT SARAF RSUD PROF. DR.
MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
2020
LEMBAR PENGESAHAN

TEXT BOOK READING


“Neurobehavioral in Human”

Disusun oleh :
Rizki Agung Nugraha
G1A016036

Presentasi TBR ini telah dipresentasikan dan disahkan sebagai salah satu
prasyarat mengikuti ujian Kepaniteraan Klinik Bagian SMF Ilmu Penyakit
Saraf
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Purwokerto, Maret 2020


Mengetahui,
Pembimbing

dr. Prasetyo Tri Kuncoro, Sp.S


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan text book
reading yang berjudul “Neurobehavior in Human”. Penulisan text book reading
ini merupakan salah satu syarat untuk mengikuti ujian Kepaniteraan Klinik di
bagian Ilmu Saraf RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Penulis
berharap text book reading ini dapat bermanfaat untuk kepentingan pelayanan
kesehatan, pendidikan, penelitian dan dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya
oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Terima kasih penulis ucapkan kepada
dr. Prasetyo Tri Kuncoro, Sp.S selaku dosen pembimbing yang telah memberikan
saran dan motivasi dalam penyusunan text book reading ini.
Penulis sadar bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan text
book reading ini. Oleh karena itu, segala masukan yang bersifat membangun
sangat diharapkan.

Purwokerto, Maret 2020

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL................................................................ …................... i


LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................... ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iv
I. PENDAHULUAN ...................................................... .................................... 1
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Pada Neurobehaviour.............................. …..................................... 2
B. Neurobehavior
1. Definisi .......................................................... ............ .................................... 4
2. Epidemiologi ......................................................................... ............ ............ 5
3. Etiopatofisiologi..................................................................... ............ ............ 7
4. Manifestasi Klinis ................................................................. ............. ............8
5. Penegakkan Diagnosis .......................................................... ............ ............ 10
6. Tatalaksana ............................................................................ ............ ........... 14
7. Prognosis ............................................................................... ............ ............ 16
III. KESIMPULAN................................................................................... ........ 17
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... ... 18
I. PENDAHULUAN

Neurobehaviour adalah perkembangan dari cabang ilmu saraf. Ilmu ini


membedakan antara fungsi normal dan patologik kondisi neurologik dan
psikiatrik. Neurobehaviour adalah koordinasi antara fungsi luhur dengan perilaku
manusia. Fungsi luhur merupakan fungsi yang memungkinkan manusia dapat
memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani sesuai dengan nilai moral yang berlaku.
Otak yang menyebabkan manusia berkomunikasi satu sama lain melalui bicara,
menulis, dan gerak isyarat. Contoh dari fungsi luhur antara lain fungsi bahasa,
fungsi persepsi, fungsi memori, fungsi emosi, fungsi kognitif (Colović, 2013).

Neurobehavioural adalah studi proses mental yang dapat dikaitkan dengan


perilaku dan kognitif yang memiliki hubungan dengan sistem saraf. Hubungan
antara otak dan Perilaku Manusia disusun oleh enam sistem otak secara terpadu
meregulasi semua perilaku manusia. Keenam sistem otak tersebut adalah cortex
prefontalis, sistem limbik, gyrus cingulatus, ganglia basalis, lobus temporalis, dan
cerebellum. Keenam sistem tersebut berperan mengatur fungsi kognisi, afektif,
psikomotorik termasuk IQ, EQ dan SQ. Oleh karena itu, meregulasi kinerja otak
secara normal akan menghasilkan fungsi optimal dalam perilaku yang dikontrol
secara sadar dengan melibatkan dimensi emosional dan spiritual (Lezak, 2004).

Penyakit yang mengganggu neurobehaviour paling banyak adalah stroke.


Stroke dapat menyebabkan defisit neurologis dan kelemahan pada organ tubuh
tertentu. Menurut WHO (2011), Indonesia telah menempati peringkat ke-97 dunia
untuk jumlah penderita stroke terbanyak dengan jumlah angka kematian mencapai
138.268 orang atau 9,70% dari total kematian yang terjadi pada tahun 2011.
Selain stroke terdapat penyakit lain seperti trauma, demensia (Campbell, 2013).
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Neurobehaviour

Secara anatomis fungsi kognitif dan perilaku pada neurobehaviour


tersusun pada enam sistem otak yaitu cortex prefontalis, sistem limbik,
gyrus cingulatus, ganglia basalis, lobus temporalis, dan cerebellum. Keenam
sistem tersebut berperan mengatur fungsi kognisi, afektif, psikomotorik
termasuk IQ, EQ dan SQ (Lezak, 2004).
Korteks prefrontalis adalah korteks serebral yang menutupi bagian
depan lobus frontal. Wilayah otak ini terlibat dalam perencanaan perilaku
kognitif, kepribadian, pengambilan keputusan, dan perilaku sosial. Istilah
psikologis yang paling khas untuk fungsi yang dilakukan oleh area korteks
prefrontalis adalah fungsi eksekutif. Fungsi eksekutif adalah kemampuan
untuk membedakan antara pemikiran yang bertentangan, menentukan baik
dan buruk, lebih baik dan terbaik, sama dan berbeda, konsekuensi masa
depan, bekerja menuju tujuan yang ditentukan, prediksi hasil, harapan
berdasarkan tindakan, dan kontrol sosial. Korteks frontal mendukung
pembelajaran aturan konkret, sementara daerah yang lebih anterior
sepanjang sumbu rostro-caudal dari korteks frontal mendukung pemikiran
abstraktif (Mozzoni, 2008).
Sistem limbik adalah kompleks jaras neuronal yang mengatur
tingkah laku emosional dan dorongan motivasional yang terletak di area
perbatasan antara korteks serebri dan hipothalamus. Sistem limbik adalah
kumpulan struktur-struktur otak depan yang mengelilingi batang otak yang
terdiri dari lobus korteks serebri (terutama korteks asosiasi limbik), nukleus
basal, thalamus, dan hipothalamus. Kompleks ini menjadi dasar neuralis
terhadap aspek naluri, perilaku, motivasi, belajar, dan fungsi ingatan. Jaras
dari sistem limbik atau Circuit of Papez ini yaitu: Nukleus amygdala →
Fornix → Corpus mamilaris → traktus mamilothalamikus → thalamus
(nukleus anterior) → traktus thalamokortikalis → gyrus cinguli → cingulum
→ nukleus amygdala. Secara sederhana, stimulus didapat dari dunia luar
dengan berbagai bentuk (pendengaran, penglihatan, perabaan) dan
diperhalus di korteks asosiasi parietooksipitalis (fungsi perseptuospasial).
Informasi ini lalu dibawa menuju korteks asosiasi frontalis yang memiliki
peran dalam perencanaan. Pintu masuk informasi melalui sistem limbik
dapat melalui amygdala atau secara tidak langsung melewati formasi
hipokampal, melalui area entorhinal. Informasi yang masuk ke formasi
hipokampal memungkinkan adanya kaitan dengan pengalaman-pengalaman
terdahulu karena formasi hipokampal penting dalam proses ingatan dan
pembelajaran (ingatan episodik) (Afifi, 2005; Baehr, 2005).
Pusat motorik asesoris terpenting adalah ganglia basalis yang
merupakan suatu kumpulan nuklei subkortikales yang terletak di substansia
alba telensefali. Sistem piramidalis dianggap sebagai sistem mayor untuk
kontrol pergerakan karena sistem ini menyediakan hubungan langsung dan
paling banyak antara korteks dan neuron motorik batang otak dan medula
spinalis. Semua struktur lain yang berperan dalam pergerakan
dikelompokkan dalam struktur yang disebut sistem extrapiramidalis. Fungsi
ganglia basalis antara lain sebagai rangsangan tonus otot untuk gerakan
sadar, kehalusan dan koordinasi fungsi otot, dan dasar gerakan dalam
keseimbangan dan berjalan. Lesi pada basal ganglia akan menyebabkan
berbagai abnormalitas seperti chorea, hemibalismus, dan penyakit Parkinson
(Colović, 2013).
Lobus temporalis merupakan bagian dari korteks serebri yang
berfungsi memperkuat ingatan visual, memproses input indera, memahami
bahasa, menyimpan ingatan baru dan mengambil kesimpulan atau arti. Area
pemahaman bahasa, disebut dengan area Wernicke yang terletak di belakang
korteks auditorik primer pada bagian posterior girus temporalis di lobus
temporalis. Area broca merupakan pusat koordinasi dalam motoric bicara.
Area penamaan objek, terletak di daerah paling lateral lobus oksipitaslis
anterior dan lobus temporalis posterior (Fuster, 2008).
Cerebelum merupakan bagian terbesar pada otak belakang, terletak di
fossa kranial posterior, di belakang ventrikel keempat, pons, dan medula
oblongata. Tentorium cerebelli yang merupakan perpanjangan dari
duramater, memisahkan otak kecil dari otak besar. Cerebelum
membandingkan informasi yang diterima dari pusat pengontrolan yang lebih
tinggi tentang apa yang sebaiknya otot lakukan dan sistem saraf perifer
lakukan. Lalu Cerebelum akan memberi sinyal umpan balik untuk
mengoreksi gerakan yang akan dikirimkan ke Cerebrum melalui thalamus.
Hasilnya adalah gerakan yg lebih halus, cepat, terkoordinasi, & terampil;
mempertahankan posisi & keseimbangan. 4 fungsi Cerebelum yaitu
Menerima perintah gerakan terencana bds informasi dr korteks motorik &
ganglia basal melalui nukleus di Pons. Menerima reseptor propriosepsi
melalui traktus spinoserebellar anterior & posterior, reseptor vestibular di
telinga melalui traktus vestibulocerebellar dan dari mata. Membandingkan
sinyal umum (perintah untuk bergerak) dengan informasi sensorik (gerakan
nyata). Mengirimkan umpan balik berupa sinyak korektif ke nukleus di
batang otak & korteks motorik melalui thalamus (Campbell, 2013).

B. Neurobehaviour
1. Definisi
Gangguan neurobehavioral adalah gangguan perilaku organik yang
dapat terlihat setelah terjadinya stroke, cedera otak, penyakit degeneratif
dan lainnya yang mengakibatkan defisit neurologis dan gangguan fungsi
sosial. Penelitian mengenai kasus ini jarang ditemui karena kurangnya
desain penelitian yang memadai, metodologi penelitian yang tidak
konsisten dalam mendefinisikan penyebab neurobehaviour, komplikasi
pada sampel neurobehaviour, dan masalah kesehatan mental pada pasien
sehingga menyulitkan berinteraksi (Baehr, 2005).
2. Epidemiologi
Gangguan neurobehaviour pada fungsi kortikal terjadi pada 87%
pasien stroke. Gejala-gejala ini mungkin lebih jarang terjadi pada pasien
dengan transient ischemic attack (36%). Sekitar 22% pasien stroke
didapatkan gejala kognitif dan neurobehavioral tanpa defisit neurologis
lainnya (Guyton, 2013).
Traumatic brain injury (TBI) adalah penyebab utama kecacatan
dan kematian di seluruh dunia yang mempengaruhi sekitar 10 juta orang.
Dari tahun 2001 hingga 2010 kasus TBI meningkat sebesar 70%, pasien
rawat inap meningkat sebesar 11%, tingkat kematian menurun sebesar
7%. Sedangkan peningkatan proporsi individu dengan TBI di daerah
seperti Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat cenderung terjadi pada
individu dengan usia lanjut.

3. Etiopatofisiologi
Prefrontal cortex pada manusia mengurus, mengintergrasikan,
memformulasikan, memilih, memonitor, memodifikasi, dan menilai
semua kegiatan sistem syaraf yang ada. Prefrontal cortex berfungsi
memberi informasi dari semua indera, dan menggabungkan informasi
tersebut sehingga berguna untuk membentuk penilaian. Kemudian secara
konstan berisi representasi aktif pada working memory, sebagaimana
representasi tujuan dan konteks. Sayangnya, prefrontal cortex yang
merupakan salah satu daerah yang paling penting dalam otak, juga salah
satu yang paling rentan terhadap cedera. Sindrom yang terjadi karena
kerusakan pada area prefrontal dibagi menjadi 3 area, yaitu Lateral
Prefrontal Cortex, Medial Prefrontal Cortex, dan Orbital Prefrontal
Cortex. Masing-masing sindrom tersebut adalah sebagai berikut
(Colović, 2013). :
1. Lateral Prefrontal Cortex Gangguan pada area ini dapat disebabkan
oleh penyakit, trauma, tumor, atau vascular accident. Adapula sindrom
yang dapat muncul adalah :
a. Attention Disorder, gangguan pada selective attention
b. Apathy
c. Dysexecutive Syndrome
d. Gangguan untuk melakukan working memory dan planning
behavior
e. Prefrontal Aphasia, yaitu language disorder yang disebabkan
kerusakan pada bagian left prefrontal
f. Depression, (kerusakan bagian hemisphere kiri)
2. Orbital Prefrontal Cortex Gangguan pada area ini dapat disebabkan
oleh penyakit seperti tumor dan aneurysms anterior communicating
arteri, dan lain-lain.
3. Medial Prefrontal Cortex Gangguan pada area ini dapat disebabkan
oleh berbagai hal seperti penyakit tumor, dan lain-lain. Adapula
sindrom yang dapat muncul adalah : a. Hypokinesia dan Akinesia b.
Defective Self-monitoring c. Akinetic Mutism d. Neurovegetative
Deteriorentatione. e. Apathy F. Kesulitan inisiasi dan gangguan
kinerja bagian mata atau speech movements.
Gangguan perilaku berhubungan dengan Prefrontal cortex.
Masalah perilaku diasosiasikan pada kerusakan frontal lobe dapat
diklasifikasikan secara kasar menjadi 5 kelompok yang dapat tumpang-
tindih (Guyton, 2013) :
1. Problems of starting; mucul dalam bentuk penurunan spontanitas,
penurunan produktivitas, penurunan rata-rata perilaku yang
dilakukan, atau menurun atau hilangnya inisiatif.
2. Difficulties in making mental or behavioral shifts. Permasalahan
yang dapat terjadi ada pada atensi, perubahan gerakan, atau
fleksibilitas dalam sikap, berada dalam lingkup perseveration atau
rigidity (kekakuan). Perseveration merujuk pada perpanjangan yang
berulang atau melanjutkan suatu aksi atau aktivitas bersekuens, atau
pengulangan pada respon yang sama atau mirip pada variasi
pertanyaan, tugas, atau situasi.
3. Problems in stopping – pada kegiatan berhenti atau memodulasi
perilaku yang sedang dilakukan- mucul dalam bentuk impulsivitas,
reaksi berlebihan, disinhibisi, dan kesulitan menahan respons yang
salah atau yang tidak diinginkan, khususnya ketika respon itu
memiliki nilai asosiasi yang kuat atau merupakan bagian dari rantai
suatu respon.
4. Deficient self-awareness. Menghasilkan ketidakmampuan untuk
mempersepsi kinerja yang salah, untuk mengapresiasi dampak yang
dibuat pada orang lain, untuk mengukur situasi social dengan
baik/cocok, dan untuk berempati pada orang lain.
5. A congrete attitude, atau hilangnya sikap abstrak. Hal ini
menunjukkan ketidakmampuan seseorang untuk memisahkan diri
dari lingkungan yang mengelilinginya dalam sikap lateral dimana
objek, pengalaman, dan perilaku termasuk pada nilai yang jelas.
Pasien menjadi tidak mampu untuk merencanakan dan meramalkan
atau mempertahankan perilaku mencapai tujuan (goal-directed
behavior).
Perdarahan Intraserebral Spontan (PIS) adalah perdarahan pada
jaringan otak yang bukan disebabkan oleh trauma kepala ataupun
patologi lain seperti tumor, aneurisma, malformasi arteri vena,
kavernoma dan sebagainya. Perdarahan intraserebral spontan penyebab
stroke kedua tersering setelah stroke iskemik. Estimasi insidensi pada
stroke perdarahan berkisar antara 16 sampai 33 kasus per 100.000 kasus
stroke (Sacco, 2009).
Lokasi tersering terjadinya PIS adalah pada basal ganglia,
tepatnya pada putamen, dengan persentase 35% hingga 50%, diikuti
dengan lobar sekitar 30%, thalamus (15%), pons (5 hingga 12%), nukleus
kaudatus (7%), dan serebelum (5%). Arteri yang sering ruptur pada
perdarahan intrsebral spontan adalah arteri lentikulostriata yang
merupakan cabang langsung dan arteri serebri media. Ruptur dan arteri
ini akan mengakibatkan perdarahan pada basal ganglia, tepatnya
putamen. Arteri Thalamoperforata yang merupakan percabangan dan
arteri serebri anterior dan media juga merupakan sumber terjadinya PIS.
Ruptur arteri ini akan mengakibatkan perdarahan thalamus. Arteri lain
yang terlibat pada PIS adalah cabang paramedian dari arteri basilaris,
yang mana akan menyebabkan perdarahan dan pons dan serebelum
(Manish, 2012).
Area asosiasi limbik terletak di belahan anterior lobus temporalis,
bagian ventral lobus frontalis, dan di girus singulata di dalam fisura
longitudinalis hemisferium serebri. Korteks amigdala adalah bagian dari
sistem limbik yang menghasilkan banyak sekali pengaturan emosi untuk
mengaktifkan area otak lain ke dalam suatu aksi dan menghasilkan
pengaturan motivasi untuk proses belajar. Atrofi pada amigdala akan
mengakibatkan defisit kognitif eksekutif yang menyebabkan gangguan
perencanaan,organisasi, emosi dan sosial.
Lobus temporalis dibagi menjadi 5 regio fungsional
(Nieuwenhuys, 2008) yaitu korteks pendengaran primer,korteks
pendengaran asosiasi, cakupan regio Wernicke,korteks penglihatan
asosiasi temporal,korteks temporal polimodal superior,korteks
temporopolar.
Area Brodmann 41 pada girus temporalis superior merupakan
korteks pendengaran primer atau regio pendengaran inti. Area kortikal
auditorik merupakan area penting dari pendengaran namun masih tidak
sepenuhnya dimengerti. Lesi pada area ini akan mengakibatkan gangguan
keseimbangan dan pendengaran. Area ini akan berhubungan dengan
korteks pendengaran asosiasi, sedangkan bagian inferior lobus temporalis
akan didominasi oleh proses informasi visual dari area visual
ekstrastriata. Gangguan proyeksi pendengaran, penglihatan atau taktil
menuju area Wernicke menyebabkan terjadinya tuli kata, aleksia murni,
dan afasia taktil. Kerusakan pada area Wernicke akan menimbulkan
afasia Wernicke atau afasia reseptif (Baehr, 2005).
Korteks olfaktorik primer terletak di dalam unkus lobus
temporalis dan tersusun atas korteks prepiriformis, area
periamigdaloideum, dan bagian area entorinal. Korteks prepiriformis
merupakan regio pada masing-masing sisi dan di berada di bawah stria
olfaktorik lateralis, karena itu disebut girus olfaktorik lateralis, yang
diperkirakan menjadi bagian utama korteks olfaktorik primer. Korteks ini
dihubungkan dengan persepsi sadar stimulus olfaktorik. Tidak seperti
korteks sensorik primer lainnya (visual, auditorik, pengecap, dan
sensibilitas somatik), korteks olfaktorik primer memiliki kekhususan
yaitu serabut aferen dari reseptornya mencapai area korteks secara
langsung tanpa melalui thalamus. Lesi yang mengenai unkus dan daerah
sekitarnya dapat diikuti dengan pengalaman olfaktorik subyektif yang
terkadang tidak menyenangkan. Sensasi seperti ini terjadi disebut
serangan unsinatus (uncinate fit) yang sering meliputi perasaan aneh pada
saat keadaan bermimpi (Afifi, 2005).
Area bicara Broca terletak pada girus frontal inferior bagian
operkulum dan triangularis hemisfer dominan (umumnya hemisfer kiri).
Secara luas diterima bahwa area 44 dan 45 Brodmann memiliki
gambaran sitoarsitektonik berkaitan dengan area Broca. Kedua area ini
mengandung lapisan inner granular tipis yang tidak jelas sehingga
diklasifikasikan sebagai lapisan disgranular. Kerusakan pada regio Broca
secara umum dapat menimbulkan afasia motorik. Afasia ini yang juga
dikenal dengan istilah afasia ekspresif yaitu kumpulan gangguan
berbahasa yang mencakup nonfluen, bicara yang memerlukan usaha,
gangguan repetisi dan komprehensif yang relatif tidak terganggu.
Nonfluen berbeda dengan tidak bicara secara spontan, jarang bicara atau
bicara lambat, namun digambarkan dengan pengurangan atau kehilangan
gramatik dan pengurangan jumlah huruf dalam setiap ucapan. Area
bicara Broca anterior berhubungan dengan area bicara Wernicke
posterior dan memberikan serat proyeksi menuju korteks motorik primer.
Serat yang menghubungkan area Broca dan Wernicke mengikuti dua rute
yang berbeda, jalur dorsal dan ventral (Nieuwenhuys,2008). Serat-serat
yang mengikuti jalur ventral, langsung berlalu dari area Wernicke dan
mencapai area Broca melalui jalur kapsula ekstrema, langsung melewati
korteks insula. Serat eferen dari area Broca berjalan menuju area 4
bagian lebih bawah, dimana merupakan tempat presentasi otot-otot
laring, lidah dan bibir. Kerusakan pada area Wernicke menimbulkan
afasia sensoris atau reseptif dimana komprehensif terhadap tulisan dan
bahasa lisan mengalami gangguan yang berat. (Mendoza,2008;
Nieuwenhuys,2008).
Serebelum terletak tepat pada posterior dan superior dari medula
oblongata. Serebelum menerima semua impuls sensori somastetik
asenden dan impuls motorik desenden. Manfaat dari penghubung ini
memungkinkan serebelum untuk mempertemukan kehendak stimulus
motorik (sebelum mereka mencapai otot) dengan data sensori aktual. Hal
ini akan menjamin pertemuan yang optimal untuk “tujuan” motorik sadar
dengan aktivitas motorik aktual, dengan jeda untuk mengubah pesan
motorik pada kasus penyimpangan. Serebelum mengirimkan pesannya
sendiri ke basal ganglia dan korteks, juga ke bagian batang otak untuk
melakukan tiga dasar fungsi bawah sadar. Lesi Cerebelum dibagi
menjadi (Siegle, 2007):
a. Lesi di neocerebellum Lesi di neocerebellum dapat memberikan
gejala-gejala, meliputi: 1.) Hipotonia : otot kehilangan kemampuan
untuk melawan jika otot dimanipulasi secara  pasif. Pasien akan
berjalan sempoyongan yang disebabkan karena hilangnya pengaruh
fasilitas cerebellum terhadap stretch reflex. 2.) Disequilibrium:
kehilangan keseimbangan oleh karena tak ada koordinasi kontraksi
otot skelet. 3.) Dissynergia : kehilangan koordinasi kontraksi otot,
meliputi Disarthria, Distaxia, Dismetria, Disdiadokokinesis, Intentio
tremor Titubasi, Nystagmus, Gerakan rebound, Sindroma
hemispherium cerebellaris, Sinderoma vermis rostralis, Sindroma
vermis caudalis dan Sindroma pancerebellaris.
b. Lesi di paleocerebellum dapat memberikan gejala-gejala
gangguan sikap tubuh dan tonus otot.
c. Lesi di archicerebellum dapat memberikan gejala-gejala berupa
ataksia trunkal, yaitu dimana penderita bila disuruh duduk tampak
badannya bergoyang. Di samping itu, dapat juga memberikan gejala
berupa vertigo dimana penderita merasa sekitarnya atau badannya
bergoyang.

4. Manifestasi Klinis
Gangguan pada neurobehavioural tergantung pada lesi target organ
yang terkena. Gangguan mood secara umum terjadi pada pasien
neurobehavourial pasca trauma. Gejala yang lebih berat didapatkan
sebanding dengan derajat trauma penderita. Depresi berat adalah gejala
yang didapatkan dari pasien pasca trauma dengan diikuti dysthymia dan
manik. (Fann et al, 2004)
Lesi pada regio korteks prefrontal dapat mengakibatkan defisit
kognitif berupa memory loss, gangguan pengambilan keputusan, dan
gangguan pengambilan tujuan. Kerusakan pada daerah ini memiliki
prognosis yang lebih buruk dari organ lainnya (Guyton, 2013).
Kerusakan pada sistem limbik terutama pada amigdala akan
mengakibatkan gangguan emosi,naluri,ingatan dan motivasi. Hal ini
berkaitan dengan pengiriman sinyal ke hipotalamus & medula oblongata
yang tergangggu sehingga respons flight or fight dari sistem saraf
otonom tidak stabil (Afifi, 2005).
Lesi pada lobus temporalis akan mengganggu penglihatan, input
indra, memahami bahasa, emosi, respon pendengaran dan menyimpan
ingatan baru. Kerusakan di area ini dapat mengakibatkan kehilangan
respon indera secara permanen (Baehr, 2005).
5. Penegakkan Diagnosis
Pendekatan biopsikososial digunakan dalam penilaian gangguan
neurobehavioral. Riwayat penyakit mental dan hubungan dengan
keluarga pada penderita harus disingkirkan terlebih dahulu agar
penegakkan diagnosis gangguan neurobehavourial murni secara organik.
Fungsi kognitif yang dinilai antara lain atensi, Bahasa, memori,
visuospasial, dan fungsi eksekutif. Sedangkan fungsi non kognitif lebih
menilai dari sisi neuropsikiatri seperti depresi, delusi, halusinasi, apatis,
manik, disinhibisi dan lain sebagainya (Sands, 2010).
Salah satu contoh alat bantu dalam menilai fungsi kognitif adalah
mini mental state examination (MMSE). MMSE adalah kuisoner yang
berisi pertanyaan guna menilai atensi, bahasa, memori, visuospasial, dan
fungsi eksekusi penderita. Dalam praktiknya MMSE digunakan sebagai
evaluasi suatu terapi atau menilai kehilangan fungsi kognitif seseorang
sudah sejauh mana (Campbell, 2013).
Tes orientasi amnesia Galvastone (TOAG) juga menjadi salah satu
alat bantu dalam menilai fungsi memori pasien dengan gangguan
neurobehavioral. Tes ini biasanya ditujukan untuk pasien yang menderita
Alzheimer, amnesia, trauma di lobus prefrontal dan lain sebagainya. Skor
<66 dikategorikan pasien mengalami defisit memori (Lezak, 2004).
Neuroimaging juga cukup sering dilakukan di beberapa negara
maju dalam melihat neurobehavior dan neuropsikologi pasien.
Pemindaian positron emission tomography (PET) adalah tes pencitraan
yang membantu mengungkapkan bagaimana jaringan dan organ
berfungsi. Pemindaian PET menggunakan obat radioaktif untuk
menunjukkan aktivitas otak. Pemindaian ini terkadang dapat mendeteksi
penyakit sebelum muncul pada tes pencitraan lainnya. Pemindaian PET
adalah cara yang efektif untuk memeriksa aktivitas kimia di bagian
tubuh. Hal ini dapat membantu mengidentifikasi berbagai kondisi,
termasuk kanker, penyakit jantung dan gangguan otak (Mendoza,2008).
6. Tatalaksana
Tatalaksana gangguan neurobehavorial berupa konservatif terapi
farmakologis dan suportif. Pemberian terapi farmakologis harus sesuai
dengan gejala yang dialami oleh penderita. Sebagai contoh pemberian
antidepresan pada pasien pasca trauma kepala dengan gangguan depresi
ringan harus setelah berkonsultasi dengan konsulen ilmu kesehatan jiwa.
Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) biasanya merupakan
obat pilihan pertama untuk depresi karena mereka umumnya memiliki
efek samping yang lebih sedikit daripada kebanyakan jenis antidepresan
lainnya. SSRI bekerja dengan membawa lebih banyak serotonin.
Serotonin adalah neurotransmitter yang membawa efek suasana hati
senang, emosi yang menyenangkan dan efek tidur (Siegle, 2007).
Alzheimer adalah salah satu contoh defisit kognitif dalam memori.
Inhibitor asetilkolinesterase adalah agen lini pertama untuk pengobatan
penyakit Alzheimer ringan sampai sedang. Dalam sistem saraf pusat,
asetilkolinesterase ditemukan terutama di interneuron dan beberapa jalur
akson kolinergik. Jaras kolinergik dari nukleus basalis Meynert ke
neokorteks otak frontalis dan struktur limbik terkait jika mengalami
degenerasi daoat menyebabkan Alzheimer. Sehingga pada Inhibitor
asetilkolinesterase akan mengurangi aktivitas asetilkolinesterase dan
diharapkan dapat meningkatkan impuls saraf di sepanjang jaras ini
(Brodal, 2004).
Cognitive behavorial study (CBT) adalah intervensi psiko-sosial
bertujuan untuk meningkatkan kesehatan mental. CBT berfokus dalam
mengubah distorsi kognitif seperti Pikiran, keyakinan, dan sikap. CBT
berusaha membuat penderita memiliki strategi koping stress dalam
menyelesaian masalah saat ini. CBT tidak hanya digunakan untuk
mengobati depresi, tetapi juga dapat mencakup gangguan kesehatan
mental lain seperti kecemasan,bipolar,psikosis,perilaku abusif dan lain
sebagainya (Lezak, 2004).
7. Prognosis
Disfungsi fungsi kortikal yang lebih tinggi dan sindrom
neurobehavioral dapat ditemukan pada 87% pasien stroke. Gejala-gejala
ini mungkin lebih jarang terjadi pada pasien dengan transient ischaemic
attack (36%). Sekitar 22% dari pasien stroke dapat ditemukan hanya
memiliki gejala kognitif dan neurobehavioral tanpa defisit neurologis
dasar. Delusi dapat ditemukan pada sekitar 4% pasien stroke (Kumral &
Ozturk, 2004). Pada pasien stroke dengan delusi, lesi iskemik paling
sering terlokalisasi di lobus temporal kanan, terutama di wilayah inferior
right middle cerebral artery. Isi dari delusi mungkin termasuk
kecemburuan, kecurigaan, penganiayaan, dll (Edelstyn et al., 2001).
Halusinasi jarang terjadi dan terjadi pada pasien dengan kerusakan
hemisfer kanan tanpa dominasi subtipe etiologic stroke. Halusinasi
pendengaran sangat jarang (kurang dari 1% pasien). Durasi mereka
terbatas dan mungkin menghilang setelah beberapa bulan dari timbulnya
gejala. Halusinasi visual mungkin lebih kompleks dan melibatkan bagian
hemianoptik lapang visual (sindrom Charles-Bonnet). Salah satu tanda
sindrom ini adalah 'halusinasi liliput', ketika karakter atau objek tampak
lebih kecil dari biasanya. Objek-objek ini mungkin memiliki pola warna
yang kompleks dan paling sering objek yang dilihat adalah hidup
(manusia, hewan, tanaman). Jenis fenomena visual langka lainnya adalah
halusinasi yang jelas, kompleks, dan stereotip yang terjadi di lapang
pandang hemianoptik. Gejala-gejala ini dapat ditemui pada pasien
dengan iskemia arteri serebral posterior. Halusinasi peduncular (sindrom
Lhermitte) terkait dengan kerusakan otak tengah, thalamus, atau batang
otak rostral. Bagian anatomi untuk jenis halusinasi tertentu ini tampaknya
merupakan bagian reticular dari substantia nigra (Paciaroni, 2012).
III. KESIMPULAN

1. Neurobehaviour adalah perkembangan dari cabang ilmu saraf. Ilmu ini


membedakan antara fungsi normal dan patologik kondisi neurologik dan
psikiatrik. Neurobehaviour adalah koordinasi antara fungsi luhur dengan
perilaku manusia.
2. Gangguan neurobehavior dapat terjadi ketika serangan terhadap salah satu
dari cortex prefontalis, sistem limbik, gyrus cingulatus, ganglia basalis,
lobus temporalis, dan cerebellum.
3. Pendekatan biopsikososial digunakan dalam penilaian gangguan
neurobehavioral. Riwayat penyakit mental dan hubungan dengan keluarga
pada penderita harus disingkirkan terlebih dahulu agar penegakkan
diagnosis gangguan neurobehavourial murni secara organik.
4. Tatalaksana gangguan neurobehavorial berupa konservatif terapi
farmakologis dan suportif. Pemberian terapi farmakologis harus sesuai
dengan gejala yang dialami oleh penderita.
5. Prognosis dalam gangguan neurobehavorial organik secara umum buruk.
DAFTAR PUSTAKA

Afifi, A.K., Bergman, R.A. 2005. Functional Neuroanatomy: Text and Atlas,
2nd ed. McGraw Hill
Baehr, M., Frotscher, M. 2005. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology. 4th ed.
Thieme: New York. pp 350-353
Brodal, P. 2004. The Central Nervous System : Structure and Function, 3rd ed.
Oxford University Press
Campbell, W.W. 2013. DeJong’s The Neurologic Examination, 7th ed.
Lippincott Williams & Wilkins: Philadelphia.
Colović, M. B., Krstić, D. Z., Lazarević-Pašti, T. D., Bondžić, A. M., & Vasić,
V. M. (2013). Acetylcholinesterase inhibitors: pharmacology and
toxicology. Current neuropharmacology, 11(3), 315–335.
Edelstyn NM, Oyebode F, Barrett K. 2001 The delusions of Capgras and
intermetamorphosis in a patient with righthemisphere white- matter
pathology. Psychopathology;34:299–304.
Guyton; Hall. 2013. Textbook of Medical Physiology, 12th ed. Pp 1068-1275
Kumral E, Ozturk O: Delusional state following acute stroke Neurology.
2004;62:110-113
Lezak,Muriel D. Neuropsychological Assesment 4 th edition. 2 004. OXFORD
: University press.
M. Fuster, Joaquín, Md, Phd. The Prefrontal Cortex 4 th edition. 2008. USA :
Academic press
Mendoza, J., Foundas, A.L. 2008.Clinical Neuroanatomy : a Neurobehavioral
Approach.USA :Springer
Mozzoni MP (2008). Applied behavior analysis evaluation strategies and
neurorehabilitation. Brain Injury Professional 5: 28–30.
Nieuwenhuys et al., 2008.The Human Central Nervous System.4th ed.
Springer, Germany.Pp 20-22
Paciaroni M, Agnelli G, Caso V, Bogousslavsky J (eds): Manifestations of
Stroke. Front Neurol Neurosci. Basel, Karger, 2012, vol 30, pp 57-60.
doi: 10.1159/000333410
R. Nieuwenhuys, J. Voogd, and C. van Huijzen. The Human Central Nervous
System, 4th ed. New York: Springer; 2008,
Sands MB, Dantoc BP, Hartshorn A et al. (2010). Single question in delirium
(SQiD): testing its efficacy against psychiatrist interview, the Confusion
Assessment Method and the Memorial Delirium Assessment Scale.
Palliat Med 24: 561–565
Siegle, G. J., Ghinassi, F., & Thase, M. E. (2007). Neurobehavioral Therapies
in the 21st Century: Summary of an Emerging Field and an Extended
Example of Cognitive Control Training for Depression. Cognitive
Therapy and Research, 31(2), 235–262.