Anda di halaman 1dari 14

1

PEMERIKSAAN FISIK MAMMAE PATOLOGIS

A. TUJUAN PEMBELAJARAN :
1. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan fisik inspeksi dan palpasi mammae
secara lege artis.
2. Mahasiswa dapat mengidentifikasi dan menginterpretasikan temuan patologis
dari pemeriksaan fisik inspeksi dan palpasi mammae.
3. Mahasiswa dapat menyebutkan penyakit yang menunjukkan tanda dan gejala
patologis dari pemeriksaan fisik mammae.

B. DASAR TEORI

Pendahuluan
Pemeriksaan mammae merupakan prosedur untuk mencari kelainan pada mammae.
Pemeriksaan mammae merupakan salah satu pemeriksaan yang digunakan untuk skrining
keganasan mammae. Pemeriksaan ini tidak dapat digantikan dengan pemeriksaan yang
lain, seperti mamografi. Pemeriksaan ini dapat dilakukan oleh penderita sendiri secara
rutin atau oleh dokter. Pemeriksaan mammae dianjurkan dikerjakan secara rutin untuk
wanita usia 20-40 tahun, terutama pada penderita dengan risiko tinggi. Diagnosis dini
kelainan pada mammae dapat menghindarkan wanita dari operasi yang besar dan
meningkatkan kemungkinan untuk sembuh.

Anatomi
Mammae merupakan kelenjar yang memproduksi ASI yang tersusun dari unit yang
disebut lobulus. Kelenjar mammae dihubungkan melalui sekumpulan duktus laktiferus
yang bergabung membentuk saluran drainase, berakhir di papilla mammae. Papilla
mammae dikelilingi jaringan yang hiperpigmentasi disebut areola mammae. Jaringan
fibroelastik dan jaringan lemak berfungsi menyokong struktur mammae. Mammae terdapat
di atas muskulus pektoralis mayor, yang terdapat di dinding thoraks anterior, terletak
setinggi kosta II hingga kosta VI dan dari sternum hingga linea aksilaris media. Papilla
mammae terletak setinggi sela iga (spatium intercostale – SIC) IV.
Batas-batas mammae :
a. Superior: iga II/III
b. Inferior : iga VI/VII (inframammary crease/ bra line)
c. Medial : sternum
d. Lateral : aksila anterior

Gambar 1. Kedudukan mammae di dinding thoraks


2

Tiap mammae mengandung jaringan limfe, 90% mengalirkan cairan limfenya ke


kelompok nodi lymphatici yang terdapat di aksila ipsilateral, 10% sisanya mengalirkan
limfe menuju ke nodi lymphatici parasternalis, yang terletak di sebelah dalam sternum
(tidak dapat diperiksa dari luar). Jalur aliran limfe ini penting pada keadaan adanya
karsinoma mammae, karena merupakan tempat pertama metastase.

Gambar 2. Jaringan limfe mammae Gambar 3. Aliran lymphe glandula mammae

Mammae dibagi menjadi 4 kuadran yaitu :


- Superior dekstra
- Superior sinistra
- Inferior sinistra
- Inferior dekstra
Jika ditemukan masa atau keadaan abnormal di payudara, lokasinya dapat dideskripsikan
berdasarkan kuadran. Atau dapat juga dideskripsikan berdasarkan gambaran jam pada
permukaan mammae.

Gambar 4. Pembagian kuadran mammae

Kelainan patologis mammae dapat digolongkan menjadi empat golongan besar


yaitu kelainan kongenital, infeksi, kelainan akibat ketidakseimbangan hormonal, dan
neoplasma:
a. Kelainan kongenital: agenesis, hipoplasia dan hipotrofi, polythelia atau jumlah
puting susu yang berlebihan, polymastia atau terdapat lebih dari sepasang
mammae, dan lain–lain .
3

b. Kelainan karena infeksi: mastitis (tuberkulosa, sifilika, mikotik, granulomatosa


spesifik/ non spesifik), ektasia Duktus Mammae yang disertai radang
mononukleus, Nekrosis Lemak dengan reaksi radang
c. Ketidakseimbangan hormon: fibrokistik, mammary dysplasia pada wanita dan
gynecomastia pada pria
d. Neoplasma jinak: fibroadenoma, papiloma duktus, Tumor filoides
e. Neoplasma ganas: karsinoma duktal invasif, karsinoma lobular
Sebagian besar lesi mammae terdiri dari satu atau lebih benjolan yang bentuk dan
ukuran sangat bervariasi. Benjolan ini dapat berbatas tegas maupun tidak, nodul tunggal
atau multipel, lunak atau keras, dapat digerakkan dari dasarnya atau tidak. Hal ini yang
dapat membantu membedakan lesi jinak atau lesi ganas pada mammae. Gejala dari
neoplasma ganas yaitu terdapat benjolan yang keras dan tidak nyeri pada mammae.
Benjolan itu awalnya kecil, semakin lama akan semakin besar, lalu melekat pada kulit
serta menimbulkan perubahan pada kulit mammae dan puting susu. Kulit dan puting susu
menjadi retraksi, bewarna merah muda atau kecoklatan sampai menjadi edema hingga
kulit kelihatan seperti kulit jeruk yang mengkerut. Lesi ini semakin lama akan semakin
membesar dan mendalam sehingga dapat menghancurkan seluruh payudara, sering berbau
busuk, dan mudah berdarah.

Kanker mammase berdasarkan klasifikasi Tumor Nodul Metastasis (TNM) menurut “The
American Joint Committee on Cancer Staging & End Result Reporting”:
1. Tumor primer (T)
TX Tumor primer tidak dapat ditentukan
Tis Karsinoma in situ dan penyakit paget pada papila tanpa teraba tumor
T0 Tidak ada bukti tumor primer
T1 Tumor <2 cm
T2 Tumor 2–5 cm
T3 Tumor >5 cm
T4 Tumor dengan penyebaran langsung ke dinding thoraks atau ke kulit dengan tanda
edema, tukak atau peau d’ orange 24
2. Nodule atau keterlibatan kelenjar getah bening (N)
NX Kelenjar regional tidak dapat ditentukan
N0 Tidak teraba kelenjar axilla
N1 Teraba kelenjar axilla homolateral yang tidak melekat
N2 Teraba kelenjar axilla homolateral yang melekat satu sama lain atau melekat pada
jaringan sekitarnya
N3 Terdapat kelenjar mamaria internal homolateral termasuk kelenjar supraklavicula
3. Metastase jauh (M)
MX Tidak dapat ditentukan metastase jauh
M0 Tidak ada metastasis jauh
M1 Terdapat metastasis jauh (De Jong & Sjamsuhidajat, 2005).

Berdasar kriteria TNM, tahapan stadium kanker mammae dibagi menjadi:


a. Stadium 0 (Tis, N0, M0)
DCIS yang termasuk penyakit paget pada puting mammae dan LCIS.
b. Stadium I (T1, N0, M0)
Karsinoma invasif dengan ukuran 2 cm atau kurang serta kelenjar getah bening
negatif.
c. Stadium IIA (T0, N1, M0), (T1, N1, M0), (T2, N0, M0)
4

Karsinoma invasif dengan ukuran 2 cm atau kurang disertai dengan metastasis ke


kelenjar getah bening atau karsinoma invasif lebih dari 2 cm tetapi kurang dari 5
cm dengan kelenjar getah bening negatif. 25
d. Stadium IIB (T2, N1, M0), (T3, N0, M0)
Karsinoma invasif berukuran garis tengah lebih dari 2 cm tetapi kurang dari 5 cm
dengan kelenjar getah bening positif atau karsinoma invasif berukuran lebih dari 5
cm tanpa keterlibatan kelenjar getah bening.
e. Stadium IIIA (T0, N2, M0), (T1 atau T2, N2, M0), (T3, N1 atau N2, M0)
Karsinoma invasif ukuran berapa pun dengan kelenjar getah bening terfiksasi
dengan invasi ekstranodus yang meluas diantara kelenjar getah bening atau
karsinoma berdiameter lebih dari 5 cm dengan metastasis kelenjar getah bening
nonfiksasi.
f. Stadium IIIB (T4, N1 atau N2 dan N3, M0)
Karsinoma inflamasi yang menginvasi dinding dalam, karsinoma yang mengivasi
kulit, karsinoma dengan nodus kulit satelit, atau setiap karsinoma dengan
metastasis ke kelenjar getah bening mamaria interna ipsilateral.
g. Stadium IV (T1–T4, N1–N4, M1)
Metastatis ke tempat jauh

Prognosis kanker mammae berdasarkan stadiumnya tersaji pada tabel 1.


Tabel 1. Prognosis kanker mammae.
Stadium Ketahanan hidup lima tahun
I 85%
II 65%
III 40%
IV 10%

C. PROSEDUR PEMERIKSAAN MAMMAE PATOLOGIS


1. Anamnesis
Anamnesis harus diawali dengan pencatatan identitas pasien secara lengkap, keluhan
apa yang mendasari penderita untuk datang ke dokter. Keluhan ini dapat berupa massa
di mammae yang berbatas tegas atau tidak, benjolan dapat digerakkan dari dasar atau
melekat pada jaringan di bawahnya, adanya nyeri, cairan dari puting, adanya retraksi
puting mammae, kemerahan, ulserasi sampai dengan pembengkakan kelenjar limfe.
Anamnesis secara umum dilanjutkan anamnesis khusus, meliputi :
a. Keluhan di mammae dan ketiak :
- Benjolan di mammae, kecepatan tumbuhnya
- Rasa sakit yang berhubungan dengan menstruasi
- Cairan keluar dari puting, berdarah atau tidak
- Puting retraksi, meninggi atau melipat
- Perubahan kulit di mammae, borok atau ulserasi
- Benjolan dan rasa sakit di ketiak
- Edema lengan
b. Riwayat sebelumnya :
- Biopsi atau operasi mammae atau tempat lain
- Pemakaian obat-obatan, hormon, termasuk pil KB dan lama pemakaiannya
5

c. Riwayat reproduksi :
- Usia menarche
- Frekuensi menstruasi, lama menstruasi, teratur atau tidak
- Jumlah kehamilan, anak, laki-laki atau perempuan, abortus
- Riwayat menyusui, lamanya menyusui
- Usia menopause, sudah berapa lama menopause
- Penting : anamnesis keluarga lengkap
d. Riwayat keluarga :
- Sehubungan dengan penyakit kanker lain (Ca ovarium, Ca rekti, sarcoma jaringan
lunak)
- Hubungan keluarga : ibu, adik, kakak, bibi
e. Keluhan-keluhan yang berhubungan dengan metastase :
- Sakit tulang, sakit punggung
- Batuk, sesak nafas
- Kelelahan umum

Terdapat kemungkinan patologis yang menyebabkan terdapatnya lesi klinis pada


mammae wanita dari berbagai umur, seperti yang terdapat pada tabel 2.

Tabel 2. Hubungan umur dengan keadaan lesi


Presentasi Klinis Kemungkinan Penyebab Patologis
< 25 tahun 25-35 tahun 35-55 tahun >55 tahun
Benjolan mobile FAM FAM FAM, Phyloides
Phyloides
Benjolan Jarang Fibrokistik Fibrokistik Jarang
berbatas tegas
Benjolan keras Jarang Karsinoma Karsinoma Karsinoma,
dan melekat Nekrosis
lemak
Discharge papila Jarang Jarang Duktus eksatia Duktus eksatia
Ulserasi papila Adenoma Adenoma Paget disease, Paget disease,
papila papila Adenoma Adenoma
papila papila

2.1. Pemeriksaan Fisik mammae


Sangat penting pada saat pemeriksaan supaya penderita dalam keadaan senyaman
mungkin, kita jelaskankan maksud dan tujuan pemeriksaan, tangan pemeriksa dan
kamar dalam keadaan hangat dengan kamar periksa mempunyai penerangan yang
cukup. Bila dokter pria, saat melakukan pemeriksaan sebaiknya ditemani paramedis
wanita.
a. Inspeksi :
Penderita diminta untuk membuka pakaian sampai ke pinggang. Pemeriksaan
dilakukan dengan posisi penderita duduk menghadap dokter dengan kedua lengan
penderita di samping tubuh, dan di pinggang, dan atau dengan menunduk (jika
mammae berbentuk pendular dan besar).
1) Perhatikan apakah kedua mammae simetris. Bandingkan bentuk atau kontur
dari kedua mammae, ukuran dan isi dari kedua mammae. Letak papilla mammae
6

juga dibandingkan dari kedua mammae, jika didapatkan kelaianan akan


menyebabkan papilla mammae tidak simetris.
2) Dilihat adakah nodul pada kulit yang berbentuk seperti papula yang dapat
merupakan nodul satelit pada keganasan. Bila ada, dilihat bagaimana bentuknya,
berapa jumlahnya, dimana letaknya, warnanya.
3) Adakah perubahan warna? Perubahan warna kemerahan menunjukkan adanya
peningkatan aliran darah sekunder yang disebabkan oleh inflamasi, keganasan.
Keganasan bila segmen atas ditemukan dilatasi dari vena.
4) Adakah luka/borok. Erosi pada aerola atau puting mammae biasanya akan
tertutup oleh krusta sehingga bila krusta diangkat baru akan terlihat kulit yang
mengalami erosi. Erosi pada aerola karena kelainan kulit biasanya melibatkan
kedua sisi sedangkan pada keganasan atau Paget’s disease biasanya hanya satu
sisi.
5) Adakah bengkak pada kulit? Bengkak bisa karena infeksi, sumbatan saluran
limfe, infiltrasi keganasan di limfe. Sumbatan karena mekanis atau limfedema
akan memberikan gambaran peau d’orange/orange peel/ pig skin.
6) Adakah kulit yang tertarik (dimpling). Dimpling merupakan petunjuk ke arah
keganasan, bekas trauma, sikatriks pasca operasi atau bekas infeksi sebelumnya.
Lebih mudah dilihat jika penderita mengangkat tangan di atas kepala.
7) Adakah nipple discharge atau keluar cairan dari papilla mammae. Retraksi
papilla mammae adalah petanda pertumbuhan tumor ganas yang telah
menginfiltrasi duktus laktiferus yang menjadi retraksi dan fibrosis. Retraksi dapat
terjadi secara kongenital, biasanya bilateral.

a. Lengan di samping tubuh b. Lengan di atas kepala

c. Lengan di pinggang d. Sedikit membungkuk ke depan


Gambar 5. Posisi pasien saat inspeksi
7

Manuver kontraksi muskulus pektoralis


Digunakan untuk mengetahui hubungan nodul dengan muskulus pektoralis. Dilakukan
dengan cara penderita duduk dengan tangan diletakkan di pinggang dan tangan menekan
pinggang, sehingga muskulus pektoralis akan berkontraksi. Bila pada payudara terdapat
benjolan atau ada area yang terfiksasi maka ini akan tampak lebih jelas. Manuver ini
juga dapat untuk membedakan apakah benjolan pada payudara tersebut terfiksasi atau
dapat bergerak (mobile). Massa yang terfiksasi akan lebih sulit untuk digerakkan pada
saat muskulus pektoralis dikontraksikan. Setelah dilakukan inspeksi pada seluruh
payudara, aksila dan supraklavikula, kemudian kita lakukan palpasi.

b. Palpasi
Palpasi mammae dilakukan dan diinterpretasikan dengan hati-hati. Kondisi yang
mempengaruhi tejadinya kelainan/ pembesaran a.l: kelenjar susu yang berlobulasi, lemak
subkutan, menjelang menstruasi, saat hamil, atau adanya benjolan.
Palpasi dilakukan pada kedua mammae, dengan memulai palpasi pada sisi yang sehat
terlebih dahulu agar tidak terlewat bila ada kelainan yang lain. Prosedur yang
direkomendasikan yaitu pemeriksaan dimulai dari lateral atas dari tiap mammae,
melingkar searah jarum jam ke arah dalam sampai ke tengah, dilakukan dengan tekanan
yang ringan.
Palpasi pada posisi penderita duduk dan terlentang:
- Posisi terlentang bahu dinaikkan sedikit dengan mengganjal punggung atas
dengan bantal.
Pemeriksaan dilakukan dengan lembut menggunakan seluruh jari mendatar pada
satu tangan. Saat memeriksa bagian medial, tangan diletakkan di belakang
kepala, bila memeriksa bagian lateral tangan penderita diletakkan di samping
badan.
8

Gambar 5. Palpasi mammae pada posisi berbaring, tangan pasien di bawah


kepala dan di samping badan

Bila didapatkan discharge dari puting, lakukan pijatan pada payudara ke arah
puting secara lembut, agar dapat diketahui dan dari duktus mana discharge
tersebut berasal. Bila didapatkan discharge hemoragis, dilakukan pemeriksaan
sitologis.

Gambar 6. Palpasi untuk menentukan: massa mobile/terfiksasi; discharge di papila


- Posisi duduk.
Pemeriksaan dilakukan dengan meletakkan mammae di antara kedua tangan
pemeriksa. Teknik ini untuk mendeteksi lesi pada subareola atau daerah puting,
karena duktus laktiferus akan berkumpul di sekitar puting. Bila terdapat massa di
bawah puting kemungkinan tidak akan teraba bila penderita berbaring. Saat
penderita duduk, mammae diletakkan di antara kedua tangan maka massa di
bawah putting sangat mungkin teraba. Untuk menentukan massa pada mammae
mobile atau terfiksasi, dinilai menggunakan satu tangan. Satu tangan menekan
massa perlahan-lahan, bila massa dapat digerakkan atau berkapsul maka massa
akan menggelincir menjauh dan menghilang, bila tekanan dihilangkan maka
massa akan kembali.
9

Gambar 7. Teknik palpasi (Sumber: www.breastexams.net).


2.2. Pemeriksaan Fisik axilla dan supraklavikula
Pemeriksaan aksila dan supraklavikula pada posisi duduk
Pemeriksaan aksila dilakukan dengan melemaskan fasia aksilaris dengan cara lengan
penderita ditahan/ disangga dengan tangan pemeriksa. Dilakukan palpasi dari bagian
lateral atas thoraks sampai dengan apeks dari aksila.
a. Inspeksi
Inspeksi kulit aksila, perhatikan adakah rash, infeksi, ulkus, benjolan.
b. Palpasi
Letakkan jari-jari tangan kanan di bawah aksila kiri, rapatkan untuk mencapai
sejauh mungkin apek fossa aksilaris. Mintalah lengan kiri penderita rileks, dan
topang lengannya dengan tangan/lengan kiri pemeriksa. Kemudian tekan jari-jari
pemeriksa ke dinding dada, coba cari nnll grup aksila sentralis yang terletak di
tengah dinding dada dari aksila. Angkat lengan penderita lebih jauh, raba dan cari
nnll grup aksila lateral yang terletak di lengan atas dekat pangkal humerus,
kemudian raba dan cari nnll grup pectoral yang terletak di tepi lateral m. pektoralis
mayor, serta raba dan cari nnll grup subskapular yang terletak di tepi depan m.
latisimus dorsi. Nnll. aksila sering dapat diraba, biasanya lunak, kecil dan tidak
nyeri.

Gambar 8. Pemeriksaan kelenjar aksila dengan menahan lengan penderita


10

Pemeriksaan dilanjutkan dengan meraba nnll grup infraklavikular dan


supraklavikular. Pemeriksaan limfonodi supraklavikularis dilakukan dengan
pemeriksa berdiri di belakang penderita. Perhatikan dan catat, adakah pembesaran
nnll, perubahan konsistensi, bentuk dan adakah nyeri tekan.

Gambar 9. Pemeriksaan limfonodi supraklavikularis dari belakang penderita

Bila didapatkan nodul/lesi pada pemeriksaan palpasi mammae, maka hal-hal yang perlu
dilaporkan adalah :
1 Letak nodul/lesi yang dilaporkan sesuai dengan kuadran mammae.
2 Jumlah nodul : apakah nodul tunggal atau multiple, bagaimana hubungan antar
nodul (soliter atau menyatu).
3 Sensitivitas : apakah nodul nyeri bila ditekan.
4 Konsistensi nodul : keras seperti batu, kenyal, lunak atau kistik.
5 Fiksasi pada dinding dada, apakah melekat pada dinding dada atau dapat
digerakkan dari dinding dada.
6 Fiksasi pada kulit, apakah nodul menginfiltrasi atau bahkan menembus kulit.
7 Adakah perubahan warna kulit.
8 Adakah perubahan suhu kulit di atas nodul dibandingkan suhu kulit di daerah
sekitarnya.
9 Apakah disertai adanya nodul pada limfonodi aksila dan supraklavikularis. Nodul
pada kelenjar aksila dan supraklavikularis juga harus dilaporkan secara rinci sesuai
dengan nodul pada payudara.

Tanda dan gejala hasil pemeriksaan fisik dapat menunjukkan bentuk lesi mammae:
11

Tabel 3. Tanda hasil pemeriksaan fisik


Tanda atau Gejala Dasar Patologis
Benjolan :
- Difus Fibrosis, hiperplasia eptel dan kista pada perubahan
fibrokistik
- Soliter Neoplasma atau kista soliter
- Mobile Neoplasma jinak (biasanya FAM)
- Melekat Neoplasma Invasif (karsinoma)
Gambaran Kulit:
- Edema (peau d’orange) Gangguan aliran limfe akibat karsinoma
- Berkerut atau berlekatan Invasi kulit akibat karsinoma
- Eritema Aliran darah meningkat akibat radang atau tumor
Papila Mamma :
- Discharge Mirip ASI atau darah
- Retraksi Terkait karsinoma invasif
- Eritema dan bersisik Penyakit paget papila mammae atau ekzema
Nyeri Mammae:
- Siklik Penyakit jinak mammae
- Pada palpasi Lesi radang
Pembesaran Kelenjar Aksila Metastasis karsinoma mammae
Nyeri Tulang atau Fraktur Metastasis Karsinoma mamma atau berhubungan
dengan hiperkalsemia

D. ALAT DAN BAHAN


1. Alat :
- Manekin mammae patologis
- Sarung tangan
2. Bahan :
- -
12

E. CHECKLIST PENILAIAN KETERAMPILAN PEMERIKSAAN PAYUDARA

No. Aspek Keterampilan yang Dinilai Skor


0 1 2
Persiapan
1 Meminta persetujuan penderita dan menjelaskan tujuan pemeriksaan
Anamnesis
Melakukan anamnesis khusus payudara, meliputi :
2 - Menanyakan keluhan yang berhubungan dengan mammae dan
aksila
3 - Menanyakan riwayat reproduksi
4 - Menanyakan riwayat penyakit sebelumnya
5 - Menanyakan riwayat penyakit keluarga
6 - Menanyakan keluhan yang berhubungan dengan metastasis
Pemeriksaan Fisik Payudara
7 Asepsis (cuci tangan dengan sabun/handsrub) dan keringkan tangan
dengan handuk
8 Meminta penderita membuka pakaian sebatas pinggang
a. Inspeksi  melakukan dan melaporkan hasil pemeriksaan inspeksi
pada posisi pasien:
- Duduk, kedua lengan di samping badan
- Duduk, kedua lengan di atas kepala
- Duduk, kedua tangan di pinggang dan atau
- Duduk/berdiri dengan membungkukkan badan ke
depan, jika mammae besar/bentuk pendular
yang meliputi:
9 - Simetri
10 - Adanya nodul
11 - Adanya perubahan warna kulit
12 - Adanya luka/borok
13 - Adanya bengkak pada kulit
14 - Adanya kulit yang tertarik
15 - Adakah nipple discharge
16 - Melakukan dan melaporkan hasil pemeriksaan inspeksi pada
maneuver pektoralis.
b. Palpasi  Melakukan dan melaporkan hasil pemeriksaan palpasi
dengan benar pada pasien dalam posisi berbaring dan duduk,
meliputi: (palpasi pada kedua mammae kanan kiri)
17 - Ada tidaknya nodul/ lesi
18 - Letak/ lokasi
19 - Jumlah
20 - Sensitivitas nyeri
21 - Konsistensi
22 - Fiksasi dengan jaringan sekitar
23 - Perubahan warna kulit
24 - Perubahan suhu
25 - Mencari asal discharge dengan menekan aerola mammae dan
13

sebelah radial sekitar papila


Pemeriksaan fisik aksila
a. Inspeksi
26 - Meminta penderita duduk, kedua lengan rileks di samping
badan
27 - Inspeksi daerah aksila: adakah benjolan, infeksi, ulkus,
perubahan warna
b. Palpasi
28 - Pemeriksaan aksila kiri: Meminta penderita merilekskan
lengan kiri, tangan kiri pemeriksa menopang lengan kiri
penderita, melakukan palpasi dengan tangan kanan
29 - Pemeriksaan aksila kanan: Meminta penderita merilekskan
lengan kanan, tangan kanan pemeriksa menopang lengan
kanan penderita, melakukan palpasi dengan tangan kiri
30 - Melakukan palpasi nnll aksila sentralis, nnll aksila lateral, nnll
pectoral, nnll subskapular; meliputi: pembesaran nnll, jumlah,
konsistensi,bentuk, nyeri tekan
31 - Melakukan palpasi nnll supraklavikula dan infraklavikula;
meliputi: pembesaran nnll, jumlah, konsistensi,bentuk, nyeri
tekan; bandingkan kanan dan kiri
(posisi pemeriksa berdiri di belakang penderita)
32 Pemeriksaan selesai, penderita dipersilahkan mengenakan pakaian
kembali dan duduk di kursi
33 Asepsis (cuci tangan dengan sabun/handsrub) dan keringkan tangan
dengan handuk
34 Memberitahukan hasil pemeriksaan dan diagnosis kepada penguji
(TNM)

JUMLAH SKOR

Penjelasan :
0 : Tidak dilakukan mahasiswa
1 : Dilakukan, tapi belum sempurna
2 : Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa
karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam scenario yang
sedang dilaksanakan).

Nilai Mahasiswa = Jumlah Skor x 100%


68

F. Referensi
14

1. Panduan Nasional Penanganan Kanker Payudara. Kementrian kesehatan Republik


Indonesia. Komite Nasional Penanganan Kanker. 2015
2. Adam, B dan Mc Glynn, 1980, Physical Diagnosis, EGC, Jakarta.
3. Anonim, 1996, Surgical Diagnosis, American Institute for Preventive Medicine.
4. . Cabot dan Adams, 1961, Physical Diagnosis, Williams & Wilkins Co, Maryland
5. Dunphy dan Botsford, 1980, Physical Examination of the Surgical Patient, W.B
Saunders Co,London.
6. Fadjari, H., 2012. Pendekatan Diagnosis Benjolan di Payudara. CDK-192 39 (4):
308-310. Available from:
http://www.kalbemed.com/Portals/6/40_192Praktis_Pendekatan%20Diagn osis
%20Benjolan%20di%20Payudara.pdf [accessed May 17, 2013]
7. Fentiman dan Hamed, 1997, Atlas of Breast Examination, BMJ Publishing Group.
London.
8. Kumar, V., Cotran R. S., Robbins S. L., 2007. Buku Ajar Patologi Vol. 2. Ed. 7.
Jakarta: EGC, 788-802.
9. Price, A. S., Wilson M. L., 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Alih Bahasa: dr. Brahm U. Penerbit. Jakarta: EGC
10. Sjamsuhidajat R, de Jong W., 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi. Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta
11. Underwood, J.C.E., 1996. Patologi Umum dan Sistematik. Jakarta: EGC, 258- 263.