Anda di halaman 1dari 12

ASKEP KLIMAKTERIUM

A. Pengertian
Menopause adalah berhentinya menstruasi, perubahan dan keluhan psikologis dan
fisik makin menonjol, berlangsung sekitar 3-4 tahun pada usia antara 56-60 tahun
(Manuaba, 1999:190). Menopause adalah waktu dari kehidupan seorang wanita saat
masa haidnya berakhir (Moore, 1998:589). Menopause adalah saat terjadinya haid
terakhir pada seorang wanita, dimana sekurang-kurangnya telah satu tahun tidak
mendapat haid (Suparto,2000:45).
Menopause adalah tidak terjadinya periode menstruasi selama 12 bulan akibat dari
tidak aktifnya folikel sel telur. Periode transisi menopause dihitung dari periode
menstruasi terakhir diikuti dengan 12 bulan periode amenorea (tidak mendapatkan
siklus haid).
Menopause adalah bagian dari periode transisi perubahan masa reproduktif ke masa
tidak reproduktif. Usia rata-rata menopause berkisar 43 – 57 tahun namun tidak ada
cara yang pasti untuk memprediksi kapan seorang wanita akan memasuki masa
menopause. Selain itu, faktor keturunan juga berperan disini, seorang wanita akan
mengalami menopause pada usia tidak jauh berbeda dari ibunya.
Menopause adalah perubahan yang normal terjadi pada kehidupan seorang wanita
ketika periode menstruasinya berhenti. Seorang wanita sudah mencapai menopause
apabila dia tidak mendapatkan menstruasi selama 12 bulan secara berurutan, dan tidak
ada penyebab lain untuk perubahan yang terjadi. Selama menopause, yang umumnya
terjadi pada usia 45 – 55 tahun, tubuh seorang wanita secara perlahan mengurangi
produksi hormon estrogen dan progesterone sehingga terjadilah berbagai gejala.

1
B. Fase-fase menopause
Menurut Hartono (2001:96) fase-fase menopause dibagi empat, yaitu :
1. Fase Permulaan (pramenopause)
Fase ini sering kali bermula ketika seorang wanita pada usia awal 50-an dan
berlangsung selama empat atau lima tahun
2. Fase Kedua (perimenopause)
Fase ini ditandai dengan ketidakteraturan siklus menstruasi dan juga didapati
perubahan beberapa fungsi.
3. Fase Ketiga (menopause)
Fase ini ditandai dengan berhentinya haid wanita atau wanita mendapatkan haid
yang terakhir yang dikendalikan kerja indung telur normal.
4. Fase Keempat (pasca menopause)
Masa tidak haid wanita selama 12 bulan setelah menopause.

C. Penyebab dan proses terjadinya menopause


Penyebab menopause adalah “matinya” (burning out) ovarium. Sepanjang kehidupan
seksual seorang wanita kira-kira 400 folikel primordial tumbuh menjadi folikel
vesikuler dan berovulasi, sementara beratus-ratus dari ribuan ovum bergenerasi. Pada
usia 45 tahun hanya tinggal beberapa folikel primordial yang akan dirangsang oleh
Folikel Stimulating Hormon (FSH) dan Luteinizing Hormon (LH) dan produksi
estrogen dari ovarium berkurang sewaktu jumlah folikel primordial mencapai nol.
Ketika produk estrogen turun dibawah nilai kritis, estrogen tidak lagi menghambat
produksi akut FSH dan LH, juga tidak dapat menahan lonjakan LH dan FSH ovulasi
untuk menimbulkan siklus ovulasi. Sebaiknya FSH dan LH (terutama FSH) di
produksi dalam jumlah dibawah nilai kritis untuk jangka waktu yang singkat sesudah
menopause tetapi setelah beberapa tahun ketika folikel primordial yang tersisa
menjadi atretik, produksi oleh ovarium turun menjadi hampir nol. (Guyton dan Hall,
1998: 1298).
Proses menopause terjadi penurunan fungsi indung telur yang mengakibatkan hormon
estrogen dan progesteron berkurang dalam tubuh wanita. Kekurangan hormon
estrogen ini menyebabkan keluhan-keluhan yang disebut sebagai sindrom defisiensi
estrogen (sindrom menopause).

2
D. Keluhan-keluhan menjelang masa menjelang masa menopause
Menurut Nurdin (2005) bahwa keluhan masa menopause meliputi:
1. Keluhan vasomotorik (penyempitan/pelebaran pembuluh darah)
a. Gejala panas (Hot Flushes)
Yaitu timbulnya rasa panas dimuka, leher, dahi, atau kadang-kadang menjalar ke
seluruh tubuh, biasanya terjadi pada malam hari. Timbul beberapa saat kira-kira
15 detik-1 menit.
b. Vertigo (pusing hebat)
Sakit kepala timbul karena terjadi penimbunan air didalam tubuh seperti ketika
haid akibatnya ada cairan yang tertahan di otak.
c. Keringat banyak pada malam hari
d. Rasa kedinginan
e. Cemas
f. Mudah tersinggung
g. Libido menurun

2 . Keluhan Atrofi Urogenital


Perubahan pada epitel vagina terjadi karena perubahan penurunan kadar estrogen.
Gangguan tersebut menyebabkan vagina kering, iritasi, timbulnya keputihan
diikuti infeksi, dispareunia dan perdarahan pasca senggama.

3. Keluhan psikiatrik dan neurotic


Merasa tertekan, lelah psikis, lelah somatik, susah tidur, merasa ketakutan, konflik
keluarga.

3
E. Perubahan-perubahan tubuh/fisik menjelang masa menopause
Menurut Levina (2000:149) bahwa perubahan tubuh/fisik menjelang menopause
meliputi :
1. Perubahan-perubahan organ reproduksi yaitu:
a. Uterus
Uterus mengecil karena atrofi endometrium serta hilangnya cairan dan perubahan
bentuk jaringan antar sel.
b. Tuba Fallopii
Lipatan-lipatan tuba menjadi pendek, menipis, mengkerut dan endosalping menipis
dan mendatar serta silia menghilang.
c. Ovarium
Ovarium menciut, terjadi penurunan fungsi ovarium untuk menghasilkan hormon
estrogen dan progesteron, berhenti menghasilkan sel.
d. Servik (leher rahim)
Mengerut
e.Vagina
Terjadi penipisan dinding vagina, kurang elastis, serret/lender vagina mulai
menghilang.
f.Vulva
Jaringan vulva menipis karena berkurangnya jaringan lemak, kulit menipis.
Pembuluh darah berkurang, sering terjadi dispareunia karena mengkerutnya introitus
vulva.

2. Perubahan tubuh karena kurang hormon estrogen


a. Dasar panggul
Kekuatan dan elastisitasnya menghilang sehingga alat kelamin bagian dalam
menurun. (Prolapsus uteri).
b. Anus
Tonus sfingter melemah dan menghilang sering terjadi inkontinensia alvi.
c. Vesika urinaria
Sfingter melemah dan menghilang

4
d. Kelenjar payudara
Puting susu mengecil, kurang erektil, mamae kendor dan mendatar.
3 Perubahan pada elektro genetal
a. Adipositas
Penyebaran lemak di tungkai, pinggul, perut bagian bawah dan lengan atas.
b.Hipertensi
Banyak terjadi pada usia 45-70 tahun.
c. Hiperkolesterolemi
Merupakan faktor utama penyebab arteriosklerosis.
d. Arteriosklerosis
Yaitu pengapuran dinding pembuluh darah.
e. Osteoporosis
Proses pematangan sel tulang terhambat, kadar mineral tulang rendah sehingga
tulang mudah patah.

5
Pertambahan usia (proses penuaan)
4. POHON MASALAH

Folikel ovarium wanita makin resisten


terhadap stimulasi gonadotropin
↓ osteoblast
Ovarium melepaskan lebih sedikit
Menipisnya lapisan epitel vagina estrogen dan progesteron ↑ osteoclast

Epitel vagina semakin memerah ↑ FSH dan LH Osteoporosis Resiko cedera

Pembuluh darah kapiler dibawah ↓↓ estrogen


permukaan kulit semakin terlihat

Epitel vagina atrofi ↑ FSH, LH, Efek protektif


↓ fungsi kolagen
pada jaringan lunak norepinefrin, kardio <<<
Rugae-rugae vagina berkurang dopamine, serotonin

Nyeri Sendi ↓ elastisitas kulit ↑ resistensi


vasokontriksi
Permukaan licin Insomnia Depresi
Kulit kering
↑ kolestrol LDL dan ↓ HDL
Dispareunia Perdarahan
pascakoitus Gangguan pola
tidur Resiko
Perasaan malas Orgasme Aterosklerosis
Libido ↓
berhubungan lambat
seksual
Kualitas dan kuantitas
koitus ↓

Disfungsi seksual
6
5. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

No Diagnose Tujuan Intervensi Rasional


1. Disfungsi seksual Tupan : Mandiri :
berhubungan dengan Setelah diberikan tindakan 1. Ciptakan lingkungan saling percaya 1. Kebanyakan klien kesulitan untuk berbicara
perubahan struktur/fungsi keperawatan diharapkan dan beri kesempatan kepada klien tentang subjek sensitive, tapi dengan
seksual klien mengungkapkan untuk menggambarkan masalahnya terciptanya rasa saling percaya dapat
disfungsi seksual teratasi. dalam kata-kata sendiri. menentukan/mengetahui apa yang dirasakan
Tupen : klien yang menjadi kebutuhannya.
1. Nyeri hilang bila 2. Beri informasi tentang kondisi 2. Informasi akan membantu klien memahami
berhubungan intim. klien. situasinya sendiri.
2. Klien tidak menolak 3. Anjurkan klien untuk berbagi 3. Komunikasi terbuka dapat mengidentifikasi
bila diajak pikiran/masalah dengan area penyesuaian atau masalah dan
berhubungan. pasangan/orang dekat. meningkatkan diskusi dan resolusi.
3. Vagina lembab dan 4. Diskusikan dengan klien tentang 4. Mengurangi kekeringan vagina yang dapat
elastis. penggunaan cara/teknik khusus saat menimbulkan rasa sakit dan iritasi, sehingga
berhubungan (misalnya : meningkatkan kenyamanan dalam
penggunaan minyak vagina) berhubungan.
Kolaborasi :
1. Beri obat sesuai indikasi (misalnya : 1. Memulihkan atrofi genitalia, kekeringan
estrogen pengganti) vagina, dan uretra.
2. Nyeri sendi berhubungan Tupan :  Evaluasi keluhan nyeri atau  Tingkat ansietas dapat mempengaruhi

7
No Diagnose Tujuan Intervensi Rasional
dengan penurunan fungsi ketidaknyamanan, perhatikan lokasi persepsi atau reaksi terhadap nyeri.
sendi akibat penuaan dan karakteristik termasuk intensitas
Nyeri terkontrol
dari skala 0-10.
 Lakukan dan awasi latihan ROM  Mempertahankan kekuatan atau mobilitas otot
aktif dan pasif. yang sakit.
Tupen :

Klien menunjukan  Berikan alternatif tindakan  Menurunkan area tekanan lokal dan kelelahan
tindakan santai mampu kenyamanan, contoh pijatan di area otot.
berpartisipasi dalam sekitar, pijatan punggung dan
aktivitas atau tidur dengan perubahan posisi.
 Meningkatkan rasa kontrol dan dapat
tepat  Dorong menggunakan teknik
meningkatkan kemampuan koping dalam
menajemen stress, contoh relaksasi
menajemen nyeri yng mungkin menetap
progresif, latihan napas dalam,
dalam periode lebih lama.
sentuhan terapeutik.
 Pemberian rutin ADP mempertahankan kadar
 Kolaborasi pemberian analgetik yang
analgetik darah adekuat, mencegah fluktuasi
dikontrol (ADP)
dalam penghilangan nyeri sehubungan dengan
tegangan otot atau spasme.
3. Resiko cedera Tupan : 1. Ciptakan lingkungan aman pada 1. Meminimalisir terjadinya cedera/jatuh.
berhubungan dengan Klien tidak mengalami lingkungan yang sering dijangkau

8
No Diagnose Tujuan Intervensi Rasional
perubahan fisik/fisiologik. cedera. klien.
Tupen : 2. Upayakan tempat tidur tidak terlalu 2. Memudahkan klien menjangkau tempat
Klien terhindar dari tinggi. tidurnya dan mencegah jatuh.
keadaan-keadaan yang 3. Beritahukan cara mengangkat 3. Mencegah terjadinya cedera/fraktur.
dapat mencetuskan cedera barang yang baik.
Mempertahankan masa 4. Kaji kepadatan mineral tulang klien 4. Untuk mengetahui kepadatan mineral tulang
tulang klien (bone mineral density) dengan klien dan membantu melakukan intervensi.
menggunakan dual X-Ray,
5. Estrogen memiliki efek antiresorpsi pada
Absorbtiomtri (DXA).
tulang, dengan menekan aktifitas osteoklas
5. Berikan estrogen sesuai indikasi
dan menurunkan pergantian tulang.
6. Sarankan klien untuk mengkonsumsi
6. Susu kalsium dapat membantu
susu kalsium untuk usia lanjut.
mempertahankan massa tulang klien
sehingga dapat memperlambat proses
osteoporosis.

4. Kurang pengetahuan Tupan : Mandiri :


berhubungan dengan Setelah diberikan tindakan 1. Kaji tingkat pengetahuan klien 1. Menentukan sampai dimana pengetahuan
kurangnya informasi fase keperawatan klien tentang keadaanya. klien tentang keadaannya/proses menopause.

9
No Diagnose Tujuan Intervensi Rasional
klimakterium mengungkapkan 2. Beri penjelasan tentang proses 2. Memberi pengetahuan pada klien tentang
pengetahuannya menopause, penyebab, dan menopause.
bertambah. gejalanya.
Tupen : 3. Beri penjelasan pada klien tentang 3. Terapi pengganti estrogen tidak
1. Klien mengetahui proses pengobatan. mengembalikan siklus haid normal tapi dapat
penyebab keadaan saat menurunkan/menghilangkan gejala penyebab
ini. dari menopause.
2. Klien dapat 4. Diskusikan tentang perlunya 4. Meningkatkan kesehatan dan mencegah
menyesuaikan diri pengaturan/diet makanan dan osteoporosis.
dengan keadaannya. penggunaan suplemen.
3. Klien tidak bertanya-
tanya tentang
keadaanya.
4. Klien tampak ceria.
5. Gangguan pola tidur Tupan : 1. Berikan tempat tidur yang nyaman. 1. Meningkatkan kenyamanan tidur serta
berhubungan dengan Tidak mengalami dukungan fisiologis dan psikologis.
stress psikologis gangguan pola tidur. 2. Tingkatkan kenyamanan waktu 2. Meningkatkan efek relaksasi.
tidur misal: mandi air hangat,
Tupen : masase.
3. Memberikan situasi kondusif untuk tidur.
1. Pasien melaporkan 3. Kurangi kebisingan dan lampu.

10
No Diagnose Tujuan Intervensi Rasional
perubahan dalam pola 4. Dorong posisi yang nyaman. 4. Perubahan posisi mengubah area tekanan
tidur/istirahat. dan meningkatkan istirahat.
2. Pasien mengungkapkan Kolaborasi
peningkatan rasa 1. Pemberian sedatif jika perlu. 1. Untuk membantu pasien tidur/istirahat
sejahtera atau segar
6. Resiko cedera Tupan : 1. Ciptakan lingkungan aman pada 1. Meminimalisir terjadinya cedera/jatuh.
berhubungan dengan Klien tidak mengalami lingkungan yang sering dijangkau
perubahan fisik/fisiologik. cedera. klien.
Tupen : 2. Upayakan tempat tidur tidak terlalu 2. Memudahkan klien menjangkau tempat
Klien terhindar dari tinggi. tidurnya dan mencegah jatuh.
keadaan-keadaan yang 3. Beritahukan cara mengangkat 3. Mencegah terjadinya cedera/fraktur.
dapat mencetuskan cedera barang yang baik.
Mempertahankan masa 4. Kaji kepadatan mineral tulang klien 4. Untuk mengetahui kepadatan mineral tulang
tulang klien (bone mineral density) dengan klien dan membantu melakukan intervensi.
menggunakan dual X-Ray, 5. Estrogen memiliki efek antiresorpsi pada
Absorbtiomtri (DXA). tulang, dengan menekan aktifitas osteoklas
5. Berikan estrogen sesuai indikasi dan menurunkan pergantian tulang.
6. Sarankan klien untuk mengkonsumsi 6. Susu kalsium dapat membantu
susu kalsium untuk usia lanjut. mempertahankan massa tulang klien
sehingga dapat memperlambat proses

11
No Diagnose Tujuan Intervensi Rasional
osteoporosis.

7. Koping keluarga tak Tupan : Beri penjelasan pada keluarga Dengan mengetahui dan mengerti keadaan
efektif berhubungan Koping keluarga efektif. terutama pada suami tentang klien, diharapkan keluarga dapat memberikan
dengan kurang Tupen : Anggota keluarga menopause dan tentang keadaan dukungan baik pada klien.
pengetahuan anggota klien menyatakan bahwa klien seperti apa.
keluarga mengenai mereka memahami dan
masalah klien. mengerti keadaan klien

12