Anda di halaman 1dari 21

DRAFT PROPOSAL

(BAB I - III)

GAMBARAN MOTIF PELAKU GHOSTING PADA HUBUNGAN BERPACARAN

Angga Maulana Saputra


1871041022

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2021
BAB I

PENDAHULUAN

A. Ide Utama Penelitian

Cinta merupakan salah satu reaksi emosional yang sama dikenalnya dan sama

mendasarnya seperti rasa marah, kesedihan, kegembiraan, dan rasa takut (Shaver, 1990).

Sternberg (1995) mengemukakan bahwa cinta dapat dimaknai sebagai hubungan timbal balik

dan penyatuan antar individu melalui komponen intimasi, komitmen, dan hasrat. Sehingga

jika individu dewasa awal mampu mengembangkan hubungan pertemanan dan hubungan

intim yang sehat dengan pasangan, maka keintiman akan tercapai dan isolasi tidak akan

terjadi. Apabila tugas-tugas perkembangan tercapai dengan sukses, maka akan menimbulkan

kebahagiaan dan keberhasilan dalam menghadapi tugas perkembangan selanjutnya (Mὅnks

dkk, 2014). Untuk menemukan pasangan yang sesuai perlu dilakukan penentuan yang sesuai

sebelum menentukan pasangan hidup kelak, hal ini dapat dicapai dengan berpacaran.

Berpacaran (dating) dikenal sebagai suatu bentuk hubungan intim atau kedekatan

antara laki-laki dan perempuan (Ikhsan, 2003). Bowman (dalam el-Hakim, 2014)

mendefinisikan pacaran sebagai kegiatan bersenang-senang yang dilakukan oleh pria dan

wanita yang belum menikah, dan nantinya hal ini dijadikan dasar yang dapat memberikan

pengaruh timbal balik untuk hubungan selanjutnya sebelum pernikahan. Namun dalam

prosesnya tidak sedikit individu yang mampu mempertahankan hubungan dengan baik

sehingga timbul konflik yang kemudian menyebabkan pemutusan hubungan tersebut.


Collins dan Gilliath (2012) mengemukakan pemutusan hubungan secara langsung dan

tidak langsung berdampak berbeda. Pemutusan hubungan secara langsung memberikan

sedikit dampak negatif dibandingkan secara tidak langsung yang memberikan dampak

negatif lebih banyak berupa marah, distres, dan beban baru terhadap pihak yang diputuskan.

Dewasa ini pemutusan hubungan secara tidak langsung semakin marak terjadi dipengaruhi

peningkatan teknologi. Hubungan berpacaran kini dapat dilakukan dengan berinteraksi

melalui berbagai platform teknologi seperti situs web/aplikasi kencan online, aplikasi pesan,

FaceTime, Skype, dan situs jejaring sosial seperti Snapchat, Instagram, dan Facebook

(McEwan, 2013; Papp, Danielewicz & Cayemberg, 2012). Dengan interaksi yang dilakukan

secara tidak langsung melalut platform teknologi memudahkan mengakhiri hubungan dengan

cara tidak langsung pula salah satu strategi pemutusan hubungan secara tidak langsung

disebut dengan ghosting, yaitu pemutusan akses komunikasi yang dilakukan oleh pelaku

secara tiba-tiba maupun perlahan tanpa diikuti penjelasan terhadap korban (LaFebvre, 2017).

Hasil survei yang dilakukan Freedman, Powell, Le, dan Williams (2018) melalui Amazon's

Mechanical Turk menunjukkan bahwa sekitar 25% dari 554 orang pernah menjadi korban

ghosting. Sejalan dengan penyampaian sebelumnya tingginya tingkat persentase perilaku

ghosting dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dalam memberikan kemudahan untuk

memutus akses komunikasi. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Responden H:

“teknologi ini sangat membantu atau mempermudah kita untuk menggonta-ganti

pasangan, karena apa, karena sekarang kita bisa dengan mudah kenalan dengan wanita ini

wanita itu kaya kita bisa pilih aja di sosial media Instagram, kita bisa pilih disitu yang mana

mau kita dekatin dan menurut saya teknologi sangat membantu, karena kan hubungannya
juga intens di komunikasi via online ya, yang didukung teknologi, nah pemutusannya jadi

lebih mudah tinggal memutus semua hubungan atau kontak di semua sosial media dan

menghilang ” (Wawancara terhadap responden H, dilakukan pada 28 September 2021)

Perilaku ghosting mencakup tindakan tidak menanggapi panggilan telepon atau pesan

teks, berhenti berhubungan dengan pihak yang diputus di media sosial. platform misalnya,

Tinder, Facebook, Instagram, dan Snapchat (LeFebvre, 2017). Yang membedakan ghosting

dari strategi pemutusan hubungan lainnya adalah tidak adanya penjelasan atau pernyataan

pemutusan kepada pihak yang diputus, akibatnya, pasangan yang di-ghosting tidak

menyadari apa yang telah terjadi dan dibiarkan untuk menafsirkan sendiri apa arti dari

perilaku ghosting tersebut (Freedman, Powell, Le, & Williams, 2018). Hal ini dengan yang

diungkapkan oleh responden As dan An:

“saya ingat betul waktu itu dia ajak saya jalan, jam 4 sore tepatnya, saya tunggu

sampai jam 8 malam, dia ngga ada kabar sama sekali, hpnya ngga bisa dihubungin dan itu

terjadi sampai sekarang, benar-benar lost, dia tidak ada menghubungi saya sama sekali,

tidak berusaha nyari saya, kemudian saya dapat kabar dari teman yang juga temannya dia,

bahwa dia bilang dia sadar yang dia lakukan itu ya meng-ghosting saya” (Wawancara

terhadap responden As, dilakukan pada 7 Oktober 2021)

“dia sama sekali ngga menghubungi saya padahal dia itu online dan sering meng-

update status atau segala macamnya, benar-benar tidak ada kontak sama sekali, hal ini

membuat saya merasa, ee saya jadi sering menyalahkan diri saya sendiri sih, apakah ada
yang salah dengan perlakuan saya atau apakah ada yang kurang atau dia yang mungkin

merasa kurang terhadap saya, jadi pokoknya lebih sering menyalahkan diri sendiri sih”

(Wawancara terhadap responden An, dilakukan pada 7 Oktober 2021)

Hal tersebut tentu akan memuncul emosi negatif pada pihak yang di putus, hal ini

sejalan dengan teori yang disampaikan Pancan, Mazzoni, Aureli, dan Riva (2021)

mengemukakan bahwa ghosting dapat memunculkan perasaan bingung, marah, sedih, dan

rasa bersalah. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh responden An dan As:

“Setelah dighosting saya jadi merasa sedih, bahkan sampai bikin insomnia yang kaya

gitu mikir ee apaya kekurangan yang ada pada diriku sampai diginikan ee terus ee kadang

bisa nangis sampai yang kaya berhari-hari gitu, jadi yang kaya malam ini nangis, besok

malamnya nangis lagi, yang kaya gitu kaya gitu, sampai titik kaya ee self-harm gitu, sampai

menyalahkan diri sendiri lah, apasih yang saya salah gitu soalnya kan dia tiba-tiba ghosting

ngga ada ngomong apapun, ya negatif nya sampai self-harm, saya nyayat paha pakai cutter

sama sering ngejedukin kepala ke dinding akibat dari sedih berkepanjangan itu”

(Wawancara terhadap responden An, dilakukan pada 7 Oktober 2021)

”Yang pertama pasti saya marah, terus saya sedih, terus saya nangis terus sampai

shubuh, saya terus mikir salahnya dimana, apakah kisah hidup saya semenyedihkan inikah,

saya jadi lebih kearah insecure, kurangnya saya ini apa, se-enggak worth it itukah diri saya

untuk disayangi dengan tulus, sedih, kesal, insecure sampai mikir berhari-hari kenapa

begini” (Wawancara terhadap responden As, dilakukan pada 7 Oktober 2021)


Data yang dilansir melalui Tribunnewsbogor.com (2019) korban ghosting atau pihak

yang diputus VMN, ditinggal pergi tanpa penjelasan oleh kekasih setelah dijanji untuk

dinikahi dan telah melakukan hubungan seks. VMN mengalami negatif berupa perasaan

sedih, dan marah. Sejalan dengan yang telah disampaikan sebelumnya, akibat dari

munculnya emosi negatif dan ketidakjelasan alasan pemutusan hubungan mempengaruhi

kondisi psikologis korban. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Manning,

Denker, dan Johnson (2019) terkait pertimbangan individu dalam melakukan ghosting

terhadap 30 responden yang berada pada fase dewasa awal di Belanda. Hasil penelitiannya

menunjukkan bahwa ghosting dapat menimbulkan spekulasi dan kecemasan secara

berlebihan terhadap korban yang tentu juha berpengaruh terhadap psikologis korban.

Selanjutnya data yang dilansir melalui CNN (2021) perempuan berinisial FT sebagai

korban ghosting setelah menjalani hubungan 6 percintaan selama lima tahun, mengatakan ia

merasa sedih dan kecewa yang sangat besar terhadap mantan pacarnya yang ia nilai tidak

bertanggung jawab. Kekecewaan timbul akibat janji mantan untuk melamar, namun

menghilang dengan memutus akses komunikasi secara tidak langsung.

Dari data di atas tergambar jelas seperti apa dampak perilaku ghosting terhadap

korban. Cox dan Demmit (2014) mengemukakan bahwa pengalaman negatif pada masa lalu

yang diperoleh individu dapat memberikan pengaruh terhadap intimasi seperti keterbukaan

dan ketakutan dalam menjalin hubungan ke arah yang serius. Apabila kondisi di atas tidak

dapat diatasi dengan baik maka akan memberikan pengaruh terhadap kualitas hidup. Maka

dari itu perlu diketahui jelas motif apa yang mendasari pelaku ghosting, hal ini didasari atas

dampak negatif yang terjadi pada korban tersebut karena tindakan ghosting memberikan
beragam spekulasi terhadap korban dan tidak adanya kejelasan dalam status hubungan karena

ketiadaan bentuk komunikasi secara langsung maupun tidak langsung.

Individu pelaku Ghosting mungkin memilik beberapa motif, ghosting bisa menjadi

strategi perpisahan yang memungkinkan pelaku untuk menghindari perasaan bahwa pelaku

secara aktif/langsung menyakiti penerima dengan tidak harus secara langsung berkomunikasi

bahwa mereka tidak lagi tertarik dalam suatu hubungan. Ghosting memutuskan hubungan

secara tidak langsung sehingga pelaku tidak terpengaruh oleh korban. Selain itu kemudahan

perilaku ghosting oleh pelaku mungkin menjadi alasan utama (Coen, 2015; Crotty, 2014).

Kemudahan dan efektivitas dalam melakukan ghosting dapat membuat penggunaan strategi

ini lebih menarik. (Crotty, 2014). Eksplorasi lebih lanjut tentang motif perilaku ghosting

diperlukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih besar tentang fenomena ghosting ini.

B. Rumusan Masalah

Dengan demikian rumusan masalah yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana motif pelaku dalam melakukan perilaku ghosting ?

2. Bagaimana hubungan percintaan pelaku setelah melakukan perilaku ghosting ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengetahui motif pelaku dalam melakukan perilaku ghosting

2. Mengetahui hubungan percintaan pelaku setelah melaukan perilaku ghosting ?

D. Manfaat penelitian
Manfaat penelitian ini adalah:

1. Manfaat teoritis

Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan keilmuan terkait motif

pelaku ghosting dalam bidang penelitian psikologi perkembangan. Hasil yang diperoleh

dapat dijadikan acuan dalam mengkaji masalah yang berkaitan dengan hal yang

mendasari pelaku melakukan perilaku ghosting

2. Manfaat praktis

Adapun manfaat praktis dalam penelitian ini adalah:

a. Bagi pelaku Ghosting

Penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai dampak negatif yang


dialami korban ghosting sehingga diharapkan pelaku memilih strategi pemutusan
hubungan yang lebih ideal.

b. Bagi korban ghosting

Penelitian ini memberikan gambaran motif pelaku melakukan ghosting


sebagai strategi pemutusan hubungan sehingga korban tidak berspekulasi
sehingga terdapat kejelasan dalam status hubungan berkaitan dengan pemutusan
dengan cara perilaku ghosting dimana tidak terdapat komunikasi secara langsung
maupun tidak langsung.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. GHOSTING
1. Definisi Ghosting
Ghosting berasal dari kata benda hantu. Menurut Kamus Cambridge, ghosting
berarti "cara mengakhiri hubungan dengan seseorang secara tiba-tiba dengan
menghentikan semua komunikasi dengan mereka". LeFebvre (2017) mengemukakan
bahwa Ghosting mengacu pada "akses sepihak ke individu yang mendorong pemutusan
hubungan (tiba-tiba atau bertahap) yang biasanya diberlakukan melalui satu atau
beberapa media teknologi". Ghosting terjadi melalui satu atau banyak cara teknologi,
misalnya, tidak menanggapi panggilan telepon atau pesan teks, tidak lagi mengikuti mitra
atau memblokir mitra di platform jejaring sosial. Hal ini sejalan dengan teori yang
dikemukakan oleh Navarro, Larrañaga, Yubero, dan Víllora (2020) mengemukakan
bahwa ghosting merupakan tindakan pemutusan hubungan secara tidak langsung dengan
menggunakan teknologi komunikasi dan diikuti dengan tindakan penghindaran atau
pemblokiran.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa Ghosting merupakan
strategi perpisahan yang memungkinkan untuk menghindari perasaan yang secara
aktif/langsung menyakiti penerima perilaku ghosting dengan tidak harus secara langsung
berkomunikasi bahwa mereka tidak lagi tertarik dalam suatu hubungan. Ghosting
menjauhkan pelaku dari penerima agar tidak terpengaruh oleh penerima.
Ghosting dapat terjadi karena kedekatan virtual memberikan akses ke mitra
potensial di luar batasan fisik, memperluas bidang, dan meningkatkan aksesibilitas
(LeFebvre, 2017b; Regan, 2017) tetapi tidak mengurangi keinginan terbatas atau minimal
untuk berkomitmen atau mempertahankan hubungan.
2. Karakteristik Ghosting
Karakteristik dari perilaku Ghosting mencakup tindakah penghilangan interaksi
yang dilakukan pelaku ke penerima, hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh
LeFebvre, Allen, Rasner, Garstad, Wilms, dan Parrish (2019) mengemukakan bahwa
ghosting memiliki karakteristik, yaitu:
a. Tidak adanya bentuk interaksi baik melalui panggilan suara, pesan melalui SMS
dan media sosial.
b. Terdapat tindakan penghirauan, pembatalkan pertemanan, atau pemblokiran akses
komunikasi secara sepihak yang dilakukan secara langsung maupun daring.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari


perilaku ghosting yakni tidak adanya bentuk interaksi, terdapat tindakan penghirauan dan
pemutusan akses komunikasi secara tidak langsung.

3. Faktor penyebab perilaku Ghosting


Teknologi sangat mempengaruhi proses dan hasil dari pemutusan hubungan
dengan membandingkan perpisahan yang terjadi secara langsung dan melalui ghosting.
Pada pemutusan dari pihak yang memutuskan (disengager) dan pihak yang diputuskan
(recipient). Terdapat lima motivasi seseorang melakukan ghosting menurut Koessler,
Kohut & Campbell (2019) :

1. Orientasi Disengager
Beberapa alasan disengager melakukan ghosting adalah menganggap jika melakukan
komunikasi secara langsung terlalu banyak drama dan takut melukai perasaan pihak yang
diputuskan. Disengager sudah kehilangan minat terhadap pasangannya atau sudah
berhubungan dengan orang lain.
2. Orientasi recipient
Ditinjau dari orientasi pihak yang diputuskan, ghosting dilakukan
karena recipient selingkuh, terlalu posesif, memiliki perilaku yang buruk atau hanya
ingin sekedar menghindar.
3. Orientasi hubungan.
Mereka menganggap bahwa hubungan yang mereka jalani tidak akan bertahan lama lagi
atau tidak serius.
4. Tidak diperlukan penjelasan
Disengager menganggap tidak perlu adanya penjelasan dan pasangan mereka tidak
berhak menerima penjelasan.
5. Pilihan terakhir
Salah satu pihak sudah berusaha mengkomunikasikannya dengan baik tetapi hasilnya
buruk sehingga disengager pun melakukan ghosting.

Kemdudian terdapat pula factor lain penyebab perilaku ghosting, hal ini dapat
dipengaruhi oleh pola pikir pelaku, Freedman, Powell, Le, dan Williams (2018)
mengemukakan bahwa perilaku ghosting dapat dipengaruhi oleh dua pola pikir. Sawitri
(2017) mengemukakan bahwa pola pikir terdiri atas dua yaitu growth mindset dan fixed
mindset. Growth mindset merupakan pola pikir individu yang meyakini bahwa
keberhasilan dan segala pencapaian yang diperoleh merupakan hasil dari kerja keras.
Fixed mindset merupakan pola pikir individu yang menganggap bahwa keberhasilan dan
segala sesuatu yang dialami merupakan hal yang sudah ditakdirkan.
Freedman, Powell, Le, dan Williams (2018) mengemukakan bahwa individu
dengan pola pikir fixed mindset yang kuat akan menganggap kegiatan ghosting sebagai
hal yang dapat diterima, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Individu dengan
growth beliefs akan memiliki asosiasi untuk tidak menggunakan teknik ghosting dalam
pemutusan hubungan. Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat diketahui bahwa faktor
penyebab ghosting pun dapat dipengaruhi oleh dua pola pikir.

4. Dampak Perilaku Ghosting


Perilaku Ghosting merupakan pemutusan hubungan secara tidak langsung. Collin
dan Gillath (2012) mengemukakan bahwa strategi pemutusan hubungan tidak langsung
memberikan dampak negatif lebih banyak dibandingkan secara langsung. LeFebvre
(2017) mengemukakan bahwa individu yang melakukan ghosting (pelaku) membuat
korban memunculkan banyak spekulasi. Perilaku Ghosting menciptakan ketidakpastian
dalam hubungan akibat pemutusan secara sepihak tanpa penjelasan oleh pelaku. Kondisi
ambigu yang dialami korban setelah di ghosting dapat menimbulkan kesedihan.
Pancan, Mazzoni, Aureli, dan Riva (2021) mengemukakan bahwa perilaku
ghosting yang dilakukan oleh pelaku menghasilkan emosi negatif berupa marah,
kesedihan, dan perasaan bersalah terhadap korban. Kemudian bagi korban, perilaku
ghosting dapat melakukan tindakan pengucilan, seperti teori yang dikemukakan oleh
Navaro, Larrañaga, Yubero, dan Víllora (dalam Rony, 2020) mengemukakan bahwa
pemutusan hubungan dengan menggunakan ghosting dapat dihubungan dengan variabel
ostracism, yaitu tindakan pengucilan yang dilakukan oleh individu. Hasil penelitian
kualitatif yang dilakukan oleh Williams dan Nilda (2011) terkait dampak ostracism
menunjukkan bahwa ostracism dapat memberikan dampak negatif terhadap harga diri,
kontrol diri, dan kebermaknaan hidup.
Berdasarkan penjelasan terkait ghosting dapat disimpulkan bahwa ghosting
merupakan tindakan mengakhiri hubungan yang dilakukan oleh pelaku secara sepihak
terhadap korban tanpa adanya penjelasan terlebih dahulu dan umumnya diikuti dengan
tindakan penghindaran maupun penghirauan komunikasi. Faktor penyebab ghosting
terdiri atas lima yaitu faktor orientasi pelaku (disengager), orientasi korban (recipient),
orientasi hubungan, tidak diperlukan penjelasan dan pilihan terakhir. Ghosting
memberikan dampak negatif berupa stress, menimbulkan emosi negatif, insecure dan
ketidakpastian terhadap korban.

B. Hubungan Berpacaran
1. Pengertian Pacaran
Menurut Reksoprojo (dalam Rony, 2000) berpacaran merupakan suatu hubungan
yang tumbuh di antara anak laki-laki dan perempuan menuju kedewasaan. Pacaran
merupakan masa pencarian pasangan, penjajakan, dan pemahaman akan berbagai sifat
yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Disebut pula sebagai masa penjajakan
ketika masing-masing pihak mencoba untuk saling mengerti kepribadian pasangannya.
Hal ini terjadi sebelum mereka melanjutkan hubungan lebih jauh lagi ke jenjang
pernikahan (Arman, 1994). Teori lain yang kemukakan oleh Duvall & Miller (1985)
mengemukakan bahwa pacaran adalah suatu hubungan yang lebih serius di antara dua
individu, dimana hubungan tersebut lebih kuat daripada sekadar kencan biasa. Pada
hubungan ini, kedua individu membuat komitmen untuk tidak berkencan dengan orang
lain (Turner & Helms, 1995). Jadi, hubungan pacaran merupakan suatu hubungan antara
dua individu yang lebih serius daripada sekadar kencan biasa di mana kedua individu
membuat komitmen untuk tidak berkencan dengan orang lain. Kemudian Terdapat dua
karakteristik berpacaran, Lamanna dan Riedman (dalam Caturinata, 2006)
mengemukakan bahwa terdapat beberapa karakteristik dari pacaran sebagai berikut:
1. Komitmen (Commitment)
Pasangan yang memiliki komitmen tidak melihat masalah atau perbedaan
sebagai indikasi berakhirnya hubungan. Sebaliknya, mereka memandang
hubungan tersebut harus dipertahankan. Komitmen menekankan keinginan untuk
menyelesaikan masalah dan konflik yang muncul.
2. Saling Berbagi (Sharing)
Kegiatan berbagi bisa merupakan berbagi dalam hal fisik (seksual)
maupun batin/jiwa. Saling berbagi dalam hal batin/jiwa terlihat ketika pasangan
saling bertukar pikiran dan perasaan.

2. Tahapan dalam Pacaran


Gunarsa dan Gunarsa, (1985) mengemukakan bahwa pacaran adalah pergaulan
yang terbatas antara muda-mudi dengan menekankan pengelompokan yang kompak dan
berarti khusus, ditandai dengan adanya perasaan bergelora dan perjemuan. Menurut
Howard (2002) mengemukakan bahwa kebanyakan remaja ingin mengetahui perihal
hubungan antar pribadi dengan sesamanya, dimulai dengan ingin mengenal lawan jenis
dan terjadi persahabatan khusus kemudian hu-bungan ini berlanjut menjadi lebih
bermakna.
Tukan (dalam Rony, 1995) mengemukakan bahwa jika seorang laki-laki
mencintai perempuan secara sungguh-sungguh melalui beberapa tahap-tahap kunos, tipe
dan elektif. Sedangkan Howard (2002) mengemukakan bahwa tahap-tahap pacaran
meliputi senyum dan pandangan bersahabat, berpegangan tangan, memeluk, mencium,
meraba bagian atas, meraba bagian pinggang dan, bersebadan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka tahapan dalam berpacaran meliputi:
ketertarikan pada lawan jenis yang dikenal, senyuman dan pandangan bersahabat, saling
ber-kunjung, pergi berduaan, saling bergandengan, saling berciuman dan saling meraba.

3. Faktor yang mempengaruhi Pacaran


Mappiare (1982) mengemukakan bahwa antara remaja satu dengan yang lainnya
berbeda intensitasnya dalam berpacaran karena dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
1. Sosial ekonomi: remaja kelas menengah membatasi diri dalam berpacaran
karena kesibukannya untuk belajar dan bekerja sedangkan remaja kelas atas
tidak mengalami hambatan, bahkan penelitian membuktikan mereka pacaran
pada usia yang lebih awal.
2. Sosial budaya: remaja di kota tidak mengalami hambatan karena memiliki
nilai-nilai yang lebih longgar dari pada di desa.
3. Citra diri: remaja yang mempunyai penilaian tinggi terhadap diri sendiri
cenderung di-sukai oleh teman lain jenis.

Hubungan Berpacaran

Dampak perilaku ghosting Pemutusan hubungan dengan


terhadap korban perilaku Ghosting

Emosi negatif korban


perilaku Ghosting
Motif pelaku Ghosting

Gambar 1. Kerangka pikir Gambaran Motif Pelaku Ghosting Pada Hubungan Berpacaran.
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Creswell dan Creswell (2018)
mengemukakan bahwa metode penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan data
berupa teks maupun gambar yang merupakan hasil dari metode pengumpulan data berupa
wawancara, observasi dan dokumentasi. Peneliti akan menanyakan pertanyaan yang telah
disusun terkait tema penelitian yang diteliti melalui metode wawancara. Selanjutnya hasil
wawancara akan dianalisis, kemudian diinterpretasikan dengan tujuan mencari makna
melalui data yang telah diperoleh.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi. Hasbiansyah


(2008) mengemukakan bahwa pendekatan fenomenologi merupakan pendekatan yang
bertujuan mengetahui pengalaman responden terhadap suatu peristiwa yang dialami dengan
menggali kesadaran responden secara mendalam. Pendekatan fenomenologi bertujuan untuk
mengungkap secara mendalam realitas atau pengalaman individu terhadap suatu peristiwa
dengan proses wawancara yang dilakukan secara mendalam. Peneliti memilih pendekatan ini
karena relevan dengan judul penelitian yang membuthkan penggalian secara mendalam
yakni, gambaran motif pelaku ghosting pada hubungan berpacaran. Pendekatan ini bertujuan
menggambarkan fenomena yang dialami oleh individu dan pemaknaannya terhadap tema
penelitian yang diteliti.

B. Batasan Istilah

Batasan istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Ghosting merupakan strategi perpisahan yang memungkinkan untuk menghindari


perasaan yang secara aktif/langsung menyakiti penerima perilaku ghosting dengan tidak
harus secara langsung berkomunikasi bahwa mereka tidak lagi tertarik dalam suatu
hubungan. Ghosting menjauhkan pelaku dari penerima agar tidak terpengaruh oleh
penerima.
b. Berpacaran merupakan suatu hubungan antara dua individu yang lebih serius daripada
sekadar kencan biasa di mana kedua individu membuat komitmen untuk tidak berkencan
dengan orang lain
C. Unit Analisis

Berdasarkan pendekatan yang digunakan pada penilitian ini, sehingga perlu


memastikan responden memiliki pengalaman yang relevan dengan judul penelitian sehingga
perlu dipastikan responden sesuai dengan pertimbangan spesifik peneliti, sehingga
digunakanlah teknik purposive sampling. Creswell dan Poth (2018) mengemukakan bahwa
teknik purposive sampling merupakan teknik yang digunakan oleh peneliti berdasarkan
pertimbangan spesifik dengan menetapkan terlebih dahulu karakteristik khusus yang sesuai
dengan tujuan penelitian. Individu dengan pengalaman pelaku ghosting pada hubungan
berpacaran dipilih sebagai responden penelitian karena pada hubungan tersebut perilaku
ghosting dapat dikategorikan pemutusan hubungan. Adapun kriteria khususnya adalah:

1. Memiliki pengalaman melakukan ghosting selama berpacaran dengan kriteria hubungan


yang dijalani:

a) Memiliki ketertarikan dari segi fisik maupun emosional terhadap mantan pacar.

b) Menjalin hubungan berpacaran selama kurang lebih enam bulan.

c) Memiliki kualitas hubungan dengan keinginan untuk menjalin hubungan ke arah yang
serius dan lama.

D. Teknik Pengumpulan Data


Creswell dan Creswell (2018) mengemukakan bahwa teknik pengumpulan data
merupakan langkah yang digunakan untuk menetapkan batasan penelitian melalui
pengambilan sampel. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini,
yakni:
1. Kuesioner
Purnomo dan Palupi (2016) mengemukakan bahwa kuesioner merupakan
teknik pengumpulan data berupa beberapa aitem pertanyaan terbuka maupun tertutup
yang penggunaanya bertujuan untuk mengumpulkan informasi. Kuesioner yang
digunakan dalam penelitian berfungsi sebagai data awal untuk menyaring responden
yang memenuhi kriteria penelitian.
2. Wawancara
Creswell dan Creswell (2018) mengemukakan bahwa wawancara merupakan
kegiatan mengumpulkan informasi secara langsung seperti tatap muka, maupun tidak
langsung seperti telepon, media pendukung dalam proses mendapatkan informasi.
Wawancara yang digunakan yakni wawancara semi terstruktur dengan teknik
probhing dengan tujuan memperoleh informasi tambahan berdasarkan respon
responden selama proses wawancara dilakukan, sehingga informasi dapat didapatkan
secara mendalam.

E. Teknik Analisis Data


Hasbianysah (2008) mengemukakan teknik analisis data dengan pendekatan
fenomenologi terbagi menjadi lima bagian, yakni:
1. Tahap awal, yakni peneliti menjelaskan secara utuh fenomena yang dialami oleh
responden penelitian melalui hasil wawancara.
2. Tahap horizontalization, yakni peneliti melakukan inventarisasi pernyataan
penting dari responden yang relevan dengan topik penelitian, sehingga pada tahap
ini, peneliti tidak boleh mencampuri poin penting dalam penelitian agar
menghindari bias.
3. Tahap cluster of the meaning, yakni peneliti mengklasifikasikan pernyataan yang
didapatkan dari responden ke dalam tema yang bermakna, serta menyisakan
pernyataan yang saling tumpang tindih. Pada tahap cluster of the meaning
dilakukan dua deskripsi, yakni deskripsi tekstural dan struktural. Deskripsi
tekstural merupakan deskripsi apa yang dialami oleh responden, sedangkan
struktural merupakan deskripsi terkait bagaimana fenomena yang dialami oleh
responden.
4. Tahap deskripsi esensi, yakni peneliti melakukan rekonstruksi deskripsi secara
menyeluruh terkait makna dan pengalaman responden.
5. Peneliti melaporkan hasil penelitian, yakni pelaporan penelitian dengan tujuan
memberikan pemahaman dan kontribusi secara positif dan nyata, terhadap
pembaca setelah melewati fenomena yang berkaitan.

F. Keabsahan Data
Creswell dan Creswell (2018) mengemukakan bahwa verifikasi data merupakan kegiatan
memeriksa keakuratan temuan dengan menggunakan metode tertentu. Verifikasi data pada
penelitian ini menggunakan dua metode yaitu:
1. Member checking merupakan proses pengecekan ulang data penelitian terhadap
partisipan agar informasi yang diperoleh selama penelitian telah sesuai, peneliti harus
melakukan wawancara lanjutan dengan partisipan agar memperoleh masukan terkait
kesesuaian dengan data yang telah dikumpulkan selama penelitian.
2. Expert opinion merupakan metode yang digunakan oleh peneliti dengan cara
mengkonsultasikan hasil penelitian kepada ahli dalam hal ini dosen pembimbing sebagai
expert diminta penilaian objektifnya dari proses penelitian sampai penarikan kesimpulan
yang telah dilakukan, hal ini guna memastikan keabsahan data yang diperoleh sehingga
dapat dipertanggung jawabkan.
DAFTAR PUSTAKA

Bowman, S. (1990). Radiocarbon dating (Vol. 1). Univ of California Press.


Cambridge Dictionary. (2020). Ghosting. Diakses pada 20 September 2020, dari
https://dictionary.cambrisdge.org.

Caturinata, Vinna. (2006). Gambaran Konflik dan Resolusi Konflik dalam Pacaran pada
Perempuan Remaja Akhir dengan Orang Tua Bercerai. Skripsi Sarjana. Depok: Fakultas
Psikologi Universitas Indonesia.

CNN. (2021). Kakak Felicia ungkap kronologi Kaesang ghosting ke adiknya. Diakses pada 2
Mei 2021, dari https://m.cnnindonesia.com.

Coen, S. (2015). Ghosting: Have apps like Tinder killed off basic decency when it comes to
dating. The Independent.

Collin, T. J., & Gillath, O. (2012). Attachment, break up strategies, and associated outcomes:
The effect of security enhancement on the selection of breakup strategies. Journal of
Research in Personality, 46, 210-222.

Cox, F. D., & Demmit, K. (2014). Human intimacy, marriage, the family and it’s meaning (edisi
ke-11). United States of America: Wadwsorth, Cengage Learning.

Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research design qualitative, quantitative, and mixed
methods approaches. United States of America: SAGE Publication, Inc.

Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design. United States of
America: SAGE Publication.

Crotty, N. (2014). Generation ghost: The facts behind the slow fade. Retrieved from
https://www. elle.com/life-love/sex relationships/advice/a12787/ girls-ghosting-
relationships/dissolution. Collabra: Psychology, 5(1), 12-18.

Duvall, E. M. & B. C. Miller. (1985). Marriage and Family Development, 6th ed.

Freedman, G., Powell, D. C., Le, B., & Williams, K. D. (2018). Ghosting and destiny: Implicit
theories of relationship predict beliefs about ghosting. Journal of Social and Personal
Relationships, 36(3), 905-924.

Gunarsa dan Gunarsa. (1985). Psikologi Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Hasbiansyah, O. (2008). Pendekatan fenomenologi: Pengantar praktik penelitian dalam ilmu


sosial dan komunikasi. MediaTor, 9(1), 163-180.
Hazan, C., & Shaver, P. R. (1990). Love and work: An attachment-theoretical perspective.
Journal of Personality and social Psychology, 59(2), 270.

Howard, T. (2002). Parent Adolescent Relations: Current Directions in Psychological Science.


American Enterprise.

Ikhsan, A. S. R. (2003). Agenda Cinta Remaja Islam. Jogjakarta: Diva Press.

Lanham, MD: in Psychological Science, 20(2), 71-75. York:Harcourt Brace Collage Publishers.

Koessler, R. B., Kohut, T., & Campbell, L. (2019). When your boo becomes a ghost: The
association between breakup strategy and breakup role in experience of relationship

LeFebvre, L. E. (2017). Phantom lovers: Ghosting as a relationship dissolution strategy in the

LeFebvre, L. E., Allen, M., Rasner, R. D., Garstad, S., Wilms, A., & Parrish, C. (2019). Ghosting
in emerging adults’ romantic relationships: the digital dissolution disappearance strategy
Imagination, Cognition and Personality: Consciousness in Theory, Research, and Clinical
Practice, 0(0), 1-26.

Luqman el-Hakim. (2014). Fenomena Pacaran Dunia Remaja. Riau: Zanafa Publishing.

Manning, J., Denker, K. J., & Johnson, R. (2019). Justification for “ghosting out” of developing
or ongoing romantic relationship: Anxieties regarding digitally-mediated romantic
interaction. Dalam A. Hetsroni & M. Tunces. It Happened on Tinder: Reflection and studies
on Internet-Infused Dating, (hal 114-131). Amsterdam: The Institute of Network Cultures.

Mappiare, A. (1982). Psikologi remaja.Surabaya; Usaha Nasional

McEwan, B. (2013). Sharing, caring, and surveilling: An actor–partner interdependence model


examination of Facebook relational maintenance strategies. Cyberpsychology, Behavior, &
Social Networking, 16, 863-869. doi: 10.1089/cyber.2012.071

Pancani, L., Mazzoni, D., Aureli, N., & Riva, P. (2021). Ghosting and orbiting: An analysis of
victims’ experiences. Journal of Social and Personal Relationships.
https://doi.org/10.1177/02654075211000417.

Papp, L. M., Danielewicz, J., & Cayemberg, C. (2012). “Are we Facebook official?”
Implications of dating partners’ Facebook use and profiles for intimate relationship
satisfaction. Cyberpsy-chology, Behavior, & Social Networking, 15, 85-90. doi:
10.1089/cyber.2011.0291

Purnomo, P., & Palupi, M. S. (2016). Pengembangan tes hasil belajar matematika materi
menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan waktu, jarak dan kecepatan untuk siswa kelas
V. Jurnal Penelitian, 20(2), 151-157.
Setiawan, R., & Nurhidayah, S. (2008). Pengaruh pacaran terhadap perilaku seks pranikah.
SOUL: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi, 1(2), 59-72.

Sternberg, R. J. (1995). Love as a story. Journal of social and personal relationships, 12(4), 541-
546.

Rowman & Littlefield. Technological age. In N. Punyanunt-Carter & J. S. Wrench (Eds.), Swipe
right for love: The impact of social media in modern romantic relationships (hal. 219–236).

Tribunnewsbogor.com. (2019). Cerita siswa SMA ditinggal kabur pacar setelah dihamili, tetap
bersekolah meskipun dicibir. Diakses pada 25 Mei 2021, dari bogor.tribunnews.com.

Turner, J. C & D. B. Helms. (1995). Life Span Development 5th Edition. New York: Harper &
Row Publisher.

Williams, K. D., & Nida, S. A. (2011). Ostracism: Consequences and coping. Current Directions