Anda di halaman 1dari 29

8ab 1 Permeabilitas dan Aliran Air Da/am Tanah

A. PENDAHULUAN

Permeabilitas adalah sifat bahwa zat cair dapat mengalir lewat bahan berpori. Tanah termasuk bahan yang permeabel sehingga air dapat mengalir melalui pori-pori tanah. Derajat permeabilitas tanah ditentukan oleh :

• Ukuran pori

• Jenis tanah

• Kepadatan tanah yang dinyatakan dalam k (satuan kecepatan cmls atau mls) Di dalam air tanah juga berlaku hukum-hukum hidraulika.

Hukum Bernoulli :

p V2 h=z+--+--

Y.v 2g

(jumlah tenaga dari air pada setiap tempat adalah konstan) h = tinggi tekanan total (m)

z = tinggi elevasi terhadap suatu bidang datum (m) P = tekanan hidrostatis (KN/m3)

yw = berat jenis air (KN/m3)

V = kecepatan aliran (mls)

g = percepatan gravitasi (mls2)

Khusus aliran air dalam tanah :

P diganti tekanan pori (U)

V umumnya kecil sehingga V2 = 0 (bisa diabaikan) 2g

maka hukum Bernoulli untuk aliran air dalam tanah :

P h=z+--. rw

Aliran air terjadi jika terdapat perbedaan tinggi tenaga antara dua temp at.

l1h = h , - h2'

Kecepatan aliran ditentukan oleh gradien hidraulik antara kedua temp at i = l1h , L

Aliran air dalam tanah pada umumnya berupa aliran laminer, maka berlaku hukum Darcy bahwa kecepatan berbanding lang sung dengan gradien hidraulik

V= ki

Besarnya debit atau volume air yang mengalir persatuan waktu :

q = debit (m3/s)

A = luas tampang tanah yang dialiri air (m2) V = Kecepatan aliran (m1s)

Nilai k untuk jenis-jenis tanah

Kerikil halus/pasir

Mediuin'perm~~~ili~X:_<> :','

, ',,> "A~'~"";:" \,,' _', ,--

10-1 -:- 10-3

Pasir sangat halus Pasir lunak

Lanau tidak padat

.Lanau padat .Lanau lempung Lanau tidak murni .

10-3 ~ 10-S

100S ~ 10-7, .

Lempung

nilai k sebagai bahan drainase tanah dengan : k > 10-4 cmls : good drainage

10-6 < k < 10-4 : poor drainage

k < 10-6 : impervious

nilai k tanah untuk bahan bangunan

k > 10-4 digunakan sebagai bahan pervious

k < 10-4 : digunakan sebagai bahan impervious

2

Shell untuk stabilitas terbuat dari bahan yang pervious

Core (inti) untuk menahan keboeoran terbuat dari bahan yang impervious

B. MENENTUKAN NILAI K DI LABORATORIUM

Alat yang digunakan permeameter

terdapat 2 jenis

1. Constan Head Parameter

untuk tanah yang permeabilitasnya tinggi k > 10-3 emls

2. Falling Head Parameter

Untuk tanah yang permeabilitasnya rendah k < IO? emls

1. Constan Head Parameter

benda uji

M gelas uk ur

filter

Dari gambar

gradien hidraulik

. h

l=-

L

V= ki q=A V v = q t

vL k=-A h t

keeepatan aliran Debit

Volume air yang tertampung dalam waktu t

maka

jadi nilai k dapat dihitung jika pereobaan dilakukan dalam waktu t dan air yang tertampung v em'.

3

2. Falling Head Parameter

Misalkan pada saat t tinggi air h, selang waktu s air turon sebesar -dh, Pengurangan air dalam

pipa keeil = dv = -dh a h (1)

banyaknya air dalam waktu dt : q = A k = A k -.- (2)

I

persamaan 1 = 2 h

-dha =kA-dt

i

jika selama t detik, maka air dalam pipa diamati turun dari hl sampai h2 :

f2dh A r

-dh --=- dt

hI haL 0

h2 A

-In-=k-t

hi aL

k = aL In hi

At h2

h2 A

k = 2.303-1og-.

hi aL

h2 A

-In-=k-t

hi aL

h

Untuk pasir yang mempunyai ukuran efektif DlO antara 0.1 - 3.0 mm, nilai k dapat diperkirakan seeara empiris dengan rumus Hazen:

k = C (DIO)2 em/s

D 10 = Ukuran efektif dari butiran em C = koefisien (antara 40 - 150)

C = 40 - 80 pasir sangat halus, bergradasi baik atau bereampur batu halus

4

C = 80 - 120 pasir butir sedang, bergradasi jelek pasir kasar, bersih, bergradasi baik

C = 120 - 150 pasir sangat kasar, bersih, berkerikil, bergradasi sangatjelek.

C. TANAH ANISOTROPIS DAN TANAH BERLAPIS

Tanah hornogen yang rnernpunyai nilai k yang sarna besamya pada sernua arah disebut tanah isotropis. Pada tanah isotropis kx = kz = ks. Dalarn prakteknya tanah bersifat anisotropis

kx

sehingga biasanya kx > kz dengan kz = 2-30 atau tanah berlapis-Iapis yang kondisi tiap

lapisnya dapat bersifat isotropis atau rnasing-rnasing anisotropis.

Tanah anisotropis:

Nilai k tidak sarna pada sernua arah, biasanya arah rnendatar rnerniliki nilai terbesar dan arah vertikal rnerniliki nilai terkecil. Jika kx dan kz diketahui, harga ks untuk sernbarang arah didapat dari hukurn Darcy :

Vx x

Vz Vs

z

Vs Vx Vz .

-=--cos a+-Sln a

ks kx kz

hubungan antara kornponen-kornponen kecepatan :

Vx = Vs cos a Vz = Vs sin a

sehingga:

Vs cos? a sin? a (a)
-_ +--
ks kx kz
atau S2 xl Z2 (b)
-=-=-
ks kx kz 5

D. TANAH BERLAPIS-LAPIS

1. Permeabilitas searah dengan lapisan

Perhatikan ernpat lapis tanah yang tebalnya berbeda-beda masing-rnasing tanah anisotropis, sehingga kxi '* kzi. Jika hanya ada aliran arah rnendatar rnaka kz tidak akan berpengaruh.

"'V_ fh
_l ~ n
~_l
h3 _"vl kxI zl
h3'
1 _"v2 kx2 z2 ,
z
_"v3 kx3 z3
_"v4 kx4 z4 I'"

L

~I

Nilai koefisien permeabilitas ekuivalen arah x = kx,jika seluruh tebal tanah dianggap hornogen (rnernpunyai satu nilai kx). Untuk setiap lebar satu satuan panjang setiap pasang titik tengah lapisan (rnisalnya 3 dan 3') rnerniliki selisih potensial sarna dengan selisih tinggi tekanan yang sarna = h. Jarak lintasan sarna dengan panjang horisontaI setiap lapisan sarna = L, rnaka

gradien hidrolik bagi setiap lapisan i = !!_ Untuk setiap lapis dengan nilai kx berbeda,

L

kecepatan pada masing-masing lapis berbeda. Dengan hukurn Darcy: vl = kxl i

v2 = kx2 i dst

Debit lewat tiap lapisan : ql = Al vl = zl kxl i

q2 = A2 v2 = z2 kx2 I dst.

Jurnlah debit lewat seluruh lapisan :

q = q I + q2 + q3 + q4

(1)

seandainya diangap tanah hornogen setebal z, dengan koefisien permeabilitas yang sarna kx, rnaka:

kecepatan aliran v = kx i

debit ali ran q = z kx i

persarnaan I dan 2, rnaka

kx = zl kxl + ...... + z4 kx4 rz

(2)

6

atau k ekuivalen untuk n lapis

iZj kxj

kx = -::::::'=----

Lzj

2. Permeabilitas ekuivalen pada arah tegak lurus arah lapangan.

Jika ali ran ke arah bawah rnelewati 41apisan dengan tebal dan kz berbeda, dan tanah dianggap hornogen untuk seluruh tebalnya, rnaka sesuai hukurn kontinuitas, debit aliran lewat setiap tarnpang selalu sarna besarnya. Karena luas tarnpang konstan, kecepatan v lewat setiap lapisanjuga sarna. Selisih potensial total = h. Misalkan selisih potensial untuk setiap lapisan = hI, h2, h3, h4, rnaka:

h = hl + h2 + h3 + h4

gradien hidrolik untuk setiap lapisan :

hI h2 h3 h4

i =-'i =-'i =-i =, zl' 2 z2' 3 z3 4 z4

kecepatan lewat setiap lapisan sarna, sehingga :

hI h2 h3 h4

V=k -=k -=k -=k -

II zI z2 z2 z3 z3 z4 z4

Apabila dipandang seolah-olah seluruh lapisan sebagai satu lapisan dengan nilai k ekuivalen kz,

gradien hidraulik

(1)

(2)

kecepatan

h

l=-

Z

k . k h h v z

Z l = Z - atau = --

z kz

(3)

dari persarnaan 1, 2, dan 3 didapat k ekuivalen arah z :

k: = Z _

zl z4

-+ +-

kzl kz4

sehingga rurnus urnurn untuk n lapisan tanah :

kz= __ Z_

Ln_5_

, kz:

J

7

E. MENENTUKAN K 01 LAPANGAN

Pengujian di laboratorium menggunakan sampel kecil yang diambil di lapangan, yang sering tidak mewakili tanah secara keseluruhan. Tanah di lapangan umumnya anisotropis, berlapislapis dan tidak homogen. Untuk proyek skala besar perlu pengujian k langsung di lapangan.

Cara pengujian k di Japangan sebagai berikut :

1. Dibuat sumur bor sebagai sumur uji dan beberapa sumur observasi. Bila temyata tanah tidak mudah longsor digunakan pipa baja berlubang-lubang. Sumuruji harus mencapai kedalaman lapisan tanah rapat air.

2. Air sumur uji di pompa dengan debit konstan. Muka air akan turun, ditunggu sampai stabil. Diamati tinggi air sumur observasi. Air mengalir menuju sumur dari semua arah. Sesuai dengan hukum kontinuitas, debit menuju sumur lewat tiap silinder sarna.

sumur uji

sumur observasi

y2

H

m.a setelah dipompa

yl

xl

~I

I~

x2

~I

Dipandang silinder jari-jari x, tinggi air y.

Rumus Darcy: v =k i

q=Av

Luas tampang tanah yang dilewati air = luas dinding silinder.

A=XY

gradien hidraulik = kemiringan muka air i = tg

q=Aki dx

=21tXYkx

2rck Y dy = dk

q x

8

0
---
0
_.. X
0 ~
~ 0
_.. : ...
0
0 0
~ Ditinjau dua ternpat dengan jari-jari xl dan x2 yang tinggi airnya yl dan y2

2n k fY2 fX2 dx

-_ ydy= -

q yl xl X

2nk I x2

---(y22-yF) = In-

q 2 xl

In (x2)

q xl

k = - (k efektif).

n y22 - yl2

F. TEORI REMBESAN DAN FLOW NET Rurnus Bernoulli untuk aliran dalarn tanah :

u h=z+-atau

fW

h =z+hw

dengan U = hw fW, rnaka P = h r

atau setiap titik dalarn tanah yang ada dalarn air, besarnya tinggi tekanan total sarna dengan tinggi tekanan air pori ditarnbah tinggi tekanan elevasi.

h = tinggi tenaga total pada suatu titik.

z = tinggi tenaga elevasi.

U = tekanan air pori.

9

'}'W = berat unit air. hw = tinggi air pori.

Dipandang aliran lewat tanah yang ada dian tara dua kolam dengan selisih tinggi muka airH:

Akibat adanya selisih tekanan, air mengalir dari bidang I - I ke bidang II-II

Lintasan partikel-partikel air berupa garis-garis sejajar sarna dengan garis-garis aliran. Contoh suatu garis aliran = garis 1 - 2.

garis a-b, garis air phreatis untuk garis aliran 1 - 2.

Untuk menggunakan rumus Bernoulli, harus dipilih satu bidang datum biasanya dipilih garis muka air hilir. Dipandang sebuah titik dalam tanah, maka :

z = tinggi elevasi

= jarak vertikal dari titik itu ke bidang datum hw = tinggi tekanan pori

= jarak vertikal titik ke muka air

h = tinggi tekanan total = potensial titik

= jumlah z dan hw

= jarak vertikal dari bidang datum ke muka air phreatis lewat titik itu

u = z + hw ; h = z +-'}'W

a

Lihat titik-titik 1,2,dan 3 pada gambar. Titikl di atas bidang datum.

zl = jarak vertikal titikl ke datum (nilai +) hw 1 = jarak vertikal titik 1 ke muka air

hI =H

10

Titik 2 : di bawah datum z2 = nilai (-) hw2= Iz21

h2 = (-z2) + hw2 = 0 (potensial titik 2 =0)

Titik 3 : di bawah datum

z3 = nilai (-)

h3 = (-z3 0 + hwa

Semua titik yang terletak pada garis I - I mempunyai potensial yang sarna. Potensial tiap titik digaris I - I = H.

garis II - II juga suatu garis ekipotensial dengan potensial = O.

garis ekipotensial selalu berpotongan dengan garis aliran secara tegak lurus. Mengenai gradien hidraulik :

Gradien hidraulik antara dua titik sarna dengan selisih potensial dibagi lintasan.

· h

l=-

L

atau dipandang sebagai dua titik yang dekat :

· i1h

l=--.

L1L

Jika gradien hidraulik tidak konstan, dipandang titik sangat dekat :

· dh

l=--

dL

G. PERSAMAAN LAPLACE

_dz vx

dx

Dipandang sebuah prisma tanah kecil yang ada dalam aliran tanah dengan kecepatan yang tidak konstan v = f (x,y) pada arah x maupun z. Tebal prisma dx dan dz, sedangkan bidang yang tegak lurus bidang gambar L. Komponen kecepatan masuk dan keluar prisma pada arah X dan Z. Sesuai hukum kontinuitas :

Debit air yang masuk prisma sarna dengan debit air yang keluar prisma. q = Av

Ax = dz L untuk L = satu satuan maka Ax = dz Az = dx L untuk L = satu satuan maka Az = dx

11

maka :

a a

vx dz + vz dx = (vx + i; dx) dz + (vz + ;/ dz) dx

z

sehingga:

a a ~+~=O

ax a

z

(1)

rnenurut hukurn Darcy

v = k i

untuk arah X = kx dan untuk arah z = kz

. dh

l=--

dL

k h x t i ah untu ara x: lX = - -

ax

k h . ah

untu ara z: lZ = - -

rJz

rnasukan ke persarnaan (1) :

a ah a ah

ax (-kx ax) + rJz (- kz rJz ) = 0

kx (}h + (Jh = 0

rJz2 rJz2

jika tanahnya isotropis : kx = kz = k

(Jh (Jh

--+--=0

rJz2 az2

Persarnaan a dan b adalah persarnaan Laplace untuk aliran dua dirnensi. Dalarn rnaternatika persarnaan tersebut rnerupakan persarnaan dari dua susunan garis-garis lengkung yang saling berpotongan secara tegak lurus.

Pada aliran dalarn air tanah, susunan garis pertarna adalah garis aliran yaitu lintasanlintasan partikel air. Susunan garis kedua adalah garis ekipotensial, rnasing-rnasing adalah ternpatkedudukan titik-titik yang potensialnya sarna. Keduasusunan garis tersebut rnernbentuk jala dan disebut FLOW NET.

• Garis aliran dan garis ekipotensial rnasing-rnasing jurnlahnya tak berhingga, dalarn pernbahasan hanya dipilih beberapa saja.

• J alur di antara dua garis aliran disebut alur aliran yang dianggap sebagai suatu saluran terbatas.

• Garis aliran dan garis ekipotensial selalu berpotongan tegak lurus yang akan rnernbentuk kotak siku-siku.

(a)

(b)

12

3

garis ekipotensial

h5

Agar bentuk flow net sederhana dan aplikasinya praktis, pernilihan garis-garis aliran dan garis garis ekipotensial yang digunakan untuk pernbahasan disyaratkan :

Dipilih garis-garis ekipotensial yang selisih potensial an tara dua garis yang berurutan selalu sarna.

h l - h2 = h2 - h3 = = &l

Untuk pernilihan garis-garis aliran, dicari garis aliran yang setiap aliran rnenghasilkan debit yang sarna.

ql - 2 = q2 - 3 = = !Jq

sehingga rurnus urnumnya q = A k i

untuk bidang satu satuan panjang rnaka A= a, sehingga debit yang terjadi setiap alur :

Gradien hidraulik yang terjadi untuk setiap kotak :

i = I

hI- h2 Ll

h2 - h3 L2

Ll

!Jh &l

- 'a -

-L2' 3-L3

i = 2

jadi:

&l &l !Jh

a k- = a k- = a k-atau

ILl 2L2 3L3

Ll

L2

L3

jadi setiap kotak bentuknya sebangun dan perbandingan antara panjang dan lebarnya selalu konstan.

13

Forhheimermenyederhanakan lagi dengan memilih semuakotak -kotak siku-sikunya berbentuk bujur sangkar :

sehingga debit setiap alur : al

t1q = al k ,1h

L1q = k ,1h

Dengan digambarkan bendungan dalam tanah, dalam tanah dasar di bawah bendung,turap dan sebagainya dapat dihitung debit rembesan, tekanan ke atas pada dasar bendung, stabilitas terhadap piping dan lain-lain.

Langkah-langkah dalam menggambar flow net ada beberapa cara :

• Trial and error sketching method (cara coba-coba)

• Cara analitis

• Dengan membuat model dilaboratorium

• Dengan analogi listrik.

Contoh gambar flow net aliran air di dalam tanah lewat turap.

H

A

B D

C E

G

F

Lapisan rapat air

Keterangan :

• Garis AB adalah garis yang ekipotensialnya tertinggi dan tiap titik pada garis AB mempunyai potensial H

• Garis DE adalah garis yang mempunyai ekipotensial terendah yaitu O.

• Garis-garis violet adalah garis garis ekipotensial berturut-turut no 11, 10, 9 , 2, 1,

0, makin rendah nomomya makin rendah potensialnya.

14

• Partikel air bergerak rnengikuti garis aliran dari ekipotensial terendah (0) diantara dua batas, yaitu garis BCD dan garis tanah rap at air FKG. Garis-garis tebal adalah garis-garis aliran sarna dengan lintasan partikel-partikel air.

• Garis rnuka tanah AB dan DE adalah garis ekipotensial tertinggi dan terendah.

• Garis rnenyusur tepi turap ABCD adalah garis aliran pertarna (0), garis rnuka Iapisan rapat air adalah garis aliran terakhir.

Flow net ini sesuai anjuran Forhheimer, yang mempunyai sifat :

1. Sernua garis aliran dan sernua garis ekipotensial saling berpotongan tegak Iurus rnernbentuk kotak-kotak berupa bujur sangkar.

catatan :

Terrnasuk garis-garis aliran dengan rnuka tanah.

Juga garis-garis ekipotensiaI- turap dan garis Iapisan rapat air.

2. Selisih potensial antara dua garis ekipotensial yang berturutan besamya seialu sarna = potensial drop = .1/1

H

rnaka:.1h =-

Nd

dirnana:

H = Selisih antara tinggi air huiu dan hilir. Nd = Jurniah potensial drop

3. Debit aliran Iewat alur diantara dua garis aliran yang berturutan seialu sarna = yang besamya .1q = k .1ft

Catatan:

Pada pengarnbaran flow net seialu diusahakan agar jurniah potensial drop (Nd), berupa angka bulat.

Nf = jurniah garis aliran

Penggunaan flow net :

1. Menghitung debit rernbesan :

Berdasarkan yang telah diuraikan di atas debit yang Iewat satu alur ali ran :

q=k.1/1

dari garnbar flow net dapat dihitungjurniah alur aliran (Nf) rnaka untuk setiap satu satuan panjang tegak Iurus bidang garnbar :

q = Nfk.1/1

jika jurniah potensial drop dan perbedaan tinggi air bagian huiu dan hilir diketahui, rnaka:

.1/1 !!__ Nd

15

sehingga

H q=Nfk-.

Nd

Nf dan Nd dapat dihitung dari gambar flow net, H dan k merupakan data yang diketahui.

2. Menghitung tekanan air pori sarna dengan tekanan hidrostatis pada suatu titik.

Digunakan rumus Bernoulli :

U

h = z + - atau h = z + hw

fW

hw = h - z U = hwfW

dimana:

Z = elevasi titik terhadap datum (muka air hilir) hw = tinggi tekanan air pori

h = potensial titik, dilihat dalam flow net, di mana letak titik tersebut terhadap garisgaris ekipotensial. Jika titik tersebut terletak pada garis ekipotensial nomer nd, maka potensial di titik tersebut :

h e nd Ali

atau:

H h=ndNd

3. Menghitung tekanan rembesan

h2

Perhatikan prisma kecil dengan tampang bujur sangkar a x a, tebal dalam arah tegak lurus bidang gambar satu satuan dan searah garis aliran. Selisih potensial hulu dan hilir adalah h l dan h2. Gaya potensial air pada prisma :

16

P = (h2 - hi) ')W aI = .1a ')W

P = gaya rembesan yang bekerja pada tanah dengan volume a x a x 1 v = a2

D = tekanan rembesan = gaya rembesan yang bekerja pada satu satuan volume tanah

P

D=-

v

L1h a ')W L1h ')W

D = ---::-- - --

a2

a

.. k . Ah J1 a l =-

1

Pada setiap titik dalam tanah bekerja tekanan rembesan yang besar dan arahnya dapat dilihat pada flow net. Arahnya searah dengan garis aliran dititik itu. Besamya ditentukan oleh gradien hidraulik yang dapat dilihat dari ukuran kotak flow net di titik itu.

hI

H L1h = h2 - hI = - Nd

Tekanan rembesan jika arah aliran keatas :

Iw

· .

· .

· .

· .

· .

· .

· .

· .

· .

· .

· .

· .

· .

Suatu kubus tanah dengan ukuran 1 em' Gaya kebawah = berat efektif kubus

Gaya keatas = gaya rembesan

17

Resultante gaya :

W' =W-D =y-iyw

Dengan adanya aliran air ke atas berat efektif tanah akan berkurang. Keadaan kritis terjadi jika W' = 0, yaitu jika '1 = ikr yw

. '1

atau z =-

kr yw

Pada keadaan seperti ini tanah tidak mempunyai berat dan daya dukung atau disebut peristiwa quick condition atau boiling. Hal ini dapat terjadi pada tanah dibelakang turap atau konstruksi lain. Kejadian ini harus dihindari karen a merupakan awal peristiwa piping terutama pada tanah non kohesif.

Pada turap dimana kondisi tanahnya tidak sama, maka seandainya tidak aman dapat diatasi dengan :

1. Memperdalam turap.

2. Di atas muka tanah diurug dengan tanah (bersifat filter), sehingga berat W' bertambah.

Mengambar flow net dengan cara sketsa coba ralat.

1. Pelajari dan hafalkan bentuk tipikal flow net untuk berbagai konstruksi.

Misalnya flow net untuk tipikalnya seperti contoh di atas. Tidak dipengaruhi oleh nilai k dan tinggi air. Perubahan/perbedaan bentuk ditentukan oleh perbandingan h l dan h2.

2. Cara ini memerlukan latihan dan pengalaman.

3. Pada prinsipnya menarik garis-garis aliran dan garis ekipotensial secara coba-coba, sedemikian sehingga :

• Semua potongan tegak lurus.

• Semua kotak berbentuk bujur sangkar sebagai perpotongan dapat digambarkan lingkaran dalam yang menyinggung keempat sisi.

• Terkecuali pada sudut-sudut dapat berbentuk segitiga.

• Flow net diusahakan jumlah potensial dropnya berupa bilangan bulat, tetapi jumlah aliran boleh pecahan.

• Antar garis aliran tidak saling berpotongan.

4. Petunjuk 1 :

a. Tentukan garis-garis batas berupa garis muka tanah hilir adalah garis dengan nilai ekipotensial terendah, sedang garis muka air tanah hulu adalah garis dengan ekipotensial tertinggi.

Garis menyusur konstruksi adalah garis aliran pertama.

Garis lapisan tanah rap at air adalah garis aliran terakhir, maka :

Perpotongan semua garis aliran dengan muka tanah selalu tegak lurus. Perpotongan semua garis ekipotensial dengan garis turap lapisan rapat air selalu tegak lurus.

18

Petunjuk 2 untuk menggambar flow net di bawah turap dengan tanah tidak sarna tinggi.

Tarik sebuah garis ali ran tegak lurus muka tanah lengkung lewat bawah tanah. Tarik garis ekipotensial pendek sehingga semua berpotongan tegak lurus dan membentuk bujur sangkar.

Garis aliran sebelum terakhir berdekatan dengan garis lapisan rap at air. Pada perbatasan di bawah perlu diadakan perbaikan.

Kotak-kotak di bawah tidak perlu bujur sangkar tetapi tetap kotak-kotak siku-siku dan sebangun.

Jangan terlalu banyak garis aliran.

Rembesan di dalam bendungan tanah

Bendungan fungsinya untuk menahan air waduk, sehingga dalam perencanaannya harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

Stabilitas lerengnya

Stabilitas lereng dipengaruhi dan ditentukan oleh tinggi dari bendungan, kemiringan lereng, bahan untuk membuat bendungan dan oleh rembesan air.

Debit rembesan

Pengetahuan tentang debit rembesan lewat badan bendungan dan lewat tanah dasar diperlukan untuk mengetahui banyaknya air yang hilang dan pengaruhnya padastabilitas. Pada saat banjir

Pada waktu terjadi banjir air waduk tidak boleh lebih tinggi dari puncak bendungan. Akan terjadi overtopping atau pelimpahan. Bagaimanapun bagusnya bendungan tanah atau urugan batu akan hancur jika terjadi overtopping. Jika terjadi demikian dapat diatasi dengan menambah spillway atau saluran pelimpah yang cukup.

Tampang bendungan tanah dengan garis rembesan

lebar puncak

10lIl ~I

Garis rembesan memotong lereng hilir, dapat tidak aman karena dapat membawa butirbutir tanah dari kaki lereng. Pada permulaan terjadi lubang kecil, lama-lama membesar dan akan terus bergerak mundur menjadi bentuk pipa atau terowongan yang menyebabkan keruntuhan atau disebut peristiwa Piping. Bendungan tanah homogen hanya digunakan

19

untuk tanggul atau bendungan yang kecil yang fungsinya untuk pengaman banjir. Untuk bendungan yang besar bahan yang dipergunakan berupa komposit.

filter

Bagian tengah (core) atau bagian inti menggunakan bahan dari tanah yang rapat air sehingga rembesan yang terjadi kecil.

Bagian luar (shell) menggunakan bahan berupa timbunan batu sehingga stabilitasnya lebih baik.

Diantara core dan shell ada bahan transisi yang biasanya berupa beberapa lapisan filter.

fl filter untuk core f2 filter untuk fl f3 filter untuk f2 dst.

Shell dan transisi dianggap sangat permeabel terhadap core, sehingga rembesan hanya diperhitungkan terhadap seluruh konstruksi.

Dengan adanya konstruksi drainasi, arah rembesan berubah tidak lagi memotong lereng hilir. Bahan untuk drainasi hams dapat berfungsi dsebagai filter terhadap tanah bahan bendungan. Syarat agar dapat berfungsi sebagai filter, gradasi bahan filter (f) terhadap tanah yang dilindungi (s) :

atau

20

bahan filter mempunyai koefisien permeabilitas kz yang sangat besar dibandingkan nilai kl dari tanah bahan bendungan. Sehingga seolah-olah pada hitungan rembesan atau arah garis rembesan filter dianggap udara atau dianggap tidak ada.

Dalam praktekjika aliran atau rembesan yang melewati dua bahan tanah dengan nilai k

k'

yang berbeda dengan nilai - ;;?: 10, maka tanah dengan nilai k yang besar dapat dianggap

tidak ada. k!'

dimana:

k' yang besar k" yang kecil

dianggap udara

J. BENTUK GARIS REMBESAN / GARIS PHREATIK

Menurut penelitian Cassagrande bentuk garis rembesan mempunyai bentuk dasar suatu parabola, dengan sedikit penyimpangan diujung dekat lereng hulu dan hilir.

Dari matematika parabola mempunyai :

1. Titik api F

2. Garis arah L pada sumbu

3. Parameter (P) jarak F terhadap L

SiCat parabola :

Setiap titik pada parabola mempunyaijarak yang sarna terhadap titik api dan terhadap garis arah (AF = AB = r). Dari sifat tersebut maka :

FC = P

1 FV =-P 2

Garis singgung di C dengan sudut 45°.

21

L = garis arah

x+

p = parameter

Persamaan parabola :

1. Jika digunakan sumbu Y melalui puncak V dan sumbu X positif ke kiri, maka persamaannya:

2. Jika digunakan sumbu Y melalui F, maka persamaanya menjadi :

3. Jika menggunakan koordinat kutub dengan pusat titik api F, maka:

p

r=---

1 - cose

dimana e adalah sudut yang dibentuk antara r dengan sumbu X+.

Syarat minimum agar suatu parabola dapat dilukis atau dapat dituliskan persamaannya adalah :

a. Diketahui letak F

b. Diketahui besarnya P

atau dapat juga:

a. Diketahui letak titik api F

b. Diketahui salah satu titik yang dilapisi parabola.

Menurut Cassagrande, parabola dasar dari garis rembesan mempunyai titik api F adalah perpotongan garis dasar bendungan dengan garis keluamya air dibagian hilir. Titik M pada garis muka air hulu seperti gambar di bawah dilalui oleh parabola dasar.

22

Titik M terletak pada garis muka air dengan :

M-N = 0.3 K-N

Kn = proyeksi lereng bawah A-N pada muka air., maka pada bendungan di atas : - titik api F = perpotongan A-D dengan F - E

- titik M = salah satu titik yang melalui parabola.

Digunakan salib sumbu :

Sumbu Y (ordinat) garis vertikallewat F (+ keatas). Sumbu X (absis) adalah dasar bendungan (+ kekiri). maka persamaan parabola:

y2 =2PX+p2

Apabila ukuran-ukuran bendungan diketahui, nilai P dapat dihitung.

Misalnya kemiringan lereng hulu adalah I : ml, tinggi air = h l , koordinat titik M dapat dicari :

Ordinat Ym = hl

AbsisXm

= d = FA - 0.7 mi hi

Dimasukkan ke persamaan parabola: hIZ = 2 P d + p2 , atau

p2 + 2 P d -hIZ = 0

P = - d + ..; tP + hJ2

Dengan diperoleh nilai P persamaan parabola menjadi tertentu.

K. KOREKSI GARIS REMBESAN TERHADAP PARABOLA DASAR

Yang telah ditulis adalah parabola dasar dari garis rembesan. Garis rembesan yang sesunguhnya diperoleh dengan mengkoreksi parabola dibagian hulu dan hilir.

23

Untuk koreksi bagian hulu :

Garis rembesan dimulai dari titik n.

Garis rembesan harus tegak lurus dengan garis lereng bagian hulu.

a. Jika ~ < 90°

Parabola melalui m, garis rembesan melalui N, sehingga diadakan koreksi dengan menarik garis dimulai dari N tegak lurus lereng, lengkung dan menyambung pada parabola.

b. Jika ~ = 90°

Garis rembesan tegak lurus lereng bagian hulu, sehingga mempunyai garis singgung diN

c. Jika ~ > 90°

Garis rembesan tidak dapat tegak lurus lereng karena aliran tidak dapat ke atas.

Untuk koreksi pada bagian hilir : a. Jika a ~ 30°

--

----", parabola dasar

R '", .

a;:: 30° .

F V

Untuk kondisi ini koreksi meliputi :

Letak titik potong garis rembesan dengan garis lereng hilir. Arah garis rembesan diperpotongan itu.

untuk Garis rembesan arahnya menyinggung garis lereng hilir.

a. Letak R sama dengan titik potong garis rembesan dengan lereng hilir.

F

24

Perpotongan parabola dengan garis lereng adalah Rl. r = P = FRI = a + L1a

seharusnya di R : 1 - cose

FR = a PRl= a + L1a

rnaka ada faktor koreksi yaitu :

L1a L1a

c= =-.

a+L1a r

Nilai c tergantung pada sudut seperti tabel di bawah :

b. Koreksi bentuk dan arah garis rernbesan. (1) 90° ~ a ~ 30°

Garis rernbesan rnernotong dan rnenyinggung lereng di R.

(2) a = 90°

Garis rernbesan rnernotong dan rnenyinggung lereng di F. Nilai c = 0.25

PRI =P

RF = 0.74 P

(3) 180° > a> 90°

Garis aliran rnernotong lereng di R dan rnenyinggung garis vertikal di F. Nilai 0.26 > c >0

(4) a = 180°

Garis aliran tidak rnengalarni koreksi. Nilai c = 0

L. DEBIT REMBESAN MELALu/ BENDUNGAN

Cara ini rnerupakan cara pendekatan dan berlaku untuk serta lapisan pada dasar bendungan berupa lapisan rapat air. Cara yang lebih tepat adalah dengan rnengarnbarkan flow net dahulu baru dihitung dengan rurnus. Untuk kondisi tanah tidak rap at air harus digarnbarkan flow netnya.

Cara pendekatan dibedakan dua keadaan bendungan :

• Untuk sudut lereng hilir a ~ 30°

• Untuk sudut lereng hilir a < 30°

1. Pada kondisi a ~ 30°, dianggap garis rembesan rnasih sarna dengan parabola dasar.

25

F

hI

Berdasarkan hukurn kontinuitas debit pada setiap tarnpang vertikal sarna besar. Pada tarnpang potongan I-I untuk lebar satu satuan :

Rurnus Debit: Q = A v = k A i

Karena lebar sarna dengan satu satuan rnaka A = Y, sehingga gradien hidraulik sarna

dengan garis rernbesan atau i = tgB = dy ,dirnana B adalah sudut garis singgung dengan

dx dy horisontal. Maka Q = Y k dx

Persarnaan garis rernbesan : y2 = 2 Px +p2

Y = ..j2Px + p2

dy P

dx ..j2Px + p2 Q = k P rn3/dtlrn'

M. KOREKSI GARIS REMBESAN DI HILIR Untuk bendungan dengan < 30'

hI

F

26

Penyimpangan garis rembesan terhadap paraboladasar cukup banyak dan garis rembesan di hilir menyusur garis.

Debit : Q = A v = A k I

Untuk persatu satuan lebar q = Y k dy, rumus ini berlaku untuk tiap tampang vertikal.

Dipandang tampang lewat R : dx

Q

= k a sin a tg a

(1)

Dipandang dengan cara lain :

Q =kY Qdx = k Y dy

Q/ dx = k / y dy, di integrasikan dengan batas-batas dari R sampai M :

• nilai x dari a cos a sampai d

• nilai y dari dari h2 sampai hi

d hI

Q/dx = k ] Ydy

a cos a a sin a

Q( d - a cos a) = l (h2 - a2 sin' a) 2

k (hl? a2 siti' a)

=------

2(d-acosa)

dari persamaan 1 dan 2 :

Q

(2)

d

hF

a

=---

(3)

cos a

maka untuk a < 30°

a. Perpotongan garis rembesan a dapat dicari dengan rumus (3) FR = a

b. Debit dihitung dengan rumus (1)

N. GAMBAR FLOW NET PADA BENDUNGAN TANAH

Penggunaan :

1. Menghitung debit rembesan yang lebih teliti.

2. Menghitung tekanan pori pada suatu titik dalam bendungan.

3. Analisa stabilitas lereng.

Dalam penggambaran prinsipnya menarik garis-garis aliran dan garis-garis ekipotensial yang saling berpotongan tegak lurus dan membentuk kotak-kotak bujur sangkar.

27

Perbedaanya :

1. Gambarkan terlebih dulu garis rembesan.

2. Perhatikan garis-garis batas :

• Garis aliran pertama = garis rembesan = NV

• Garis aliran terakhir = garis tanah rapat air = AF

• Garis ekipotensial tertinggi = garis lereng hulu = AN

• Garis ekipotensial terendah (nomor nol) garis keluamya air = FV

Semua garis aliran dan garis ekipotensial ada diantara garis-garis batas dan semuanya tegak lurus pada garis-garis batas.

3. Beberapa pertolongan yang dapat digunakan :

a. Selisih potensial total = hl

Garis Fv mempunyai potensial nol. Garis AN mempunyai potensial = hl

b. Karena garis rembesan adalah garis muka air bebas maka selisih potensial antara dua buah titik sarna dengan selisih tinggi.

Maka untuk memperoleh garis-garis potensial dengan selisih Nd = 10, dapat di peroleh dengan cara membagi h l menjadi sepuluh bagian yang sarna. Tarik garisgaris horisontal memotong garis rembesan dimana ujung-ujungnya merupakan awal dari garis-garis ekipotensial.

c. Pada bentuk ini, garis-garis aliran dan garis-garis ekipotensial merupakan parabolaparabola dengan satu titik api yang sarna F.

Pada analisis stabilitas lereng perlu diketahui besamya tekanan air pori pada garis longsoran. Tekanan air pori pada suatu titik dapat dihitung dengan rumus :

28

Dengan persamaan Bernoulli :

h = hw + Z atau h = h - Z.

Seandainya sebagian besar bendungan bersifat permeabel atau dasar rap at air lebih dalam dari dasar bendungan, maka akan ada garis aliran pada tanah dasar.

O. REMBESAN PADA BENDUNGAN TANAH ANISOTROPIS

Tanah anisotropis mempunyai kx > kz. Debit rembesan dapat dihitung secara pendekatan maupun dengan mengambar flow net dan dapat dipermudah dengan cara pendekatan maupun gambar yang ditransformasikan. Gambar tampang bendungan diubah skala horisontalnya

dibagi faktor {k; tetapi skala vertikalnya tetap.

VI;;

b

-

Pada gambar ditransformasikan seolah-olah menjadi isotropis dengan nilai koefisien permeabilitas k' =.../ kx kz sehingga garis rembesan dan flow net dapat dibuat seperti biasa. Untuk bendungan tanpa drainasi misalnya perbandingan lerengnya 1 : 2 (u = 3~'' dan m > 1.73) jika tanah berupa isotropis maka debit rembesan berubah menjadi :

Q = k a sin u tg u.

Kalau tanahnya anisotropis dan gambamya ditransformasikan, kemiringanya menjadi 1 : 0.8 (m < 1.73 dan u> 30°), maka cara menghitung a dan rumus debit berubah menjadi :

Q=k'P.

Pada bendungan dengan tanah berlapis-lapis diperlakukan sebagai bendungan anisotropis.

29

Anda mungkin juga menyukai