Anda di halaman 1dari 2

2.1.

Prosedur Diagnosis
2.1.1. Anamnesis
Anamnesis dapat dilakukan sebagai bagian dari prosedur pemeriksaan subjektif, namun
tidak akurat untuk menegakkan diagnosis langsung terhadap kista, sehingga perlu dilakukan
pemeriksaan penunjang lainnnya. Berikut beberapa anamnesis yang dapat ditanyakan kepada
pasien:
- Di gigi mana benjolan atau pembengkakan muncul? Apakah munculnya benjolan di gigi
geraham bungsu atas atau gigi taring atas atau gigi yang belum/tidak tumbuh?
Karena biasanya kista ini berasal dari separasi atau pemisahan folikel di sekitar mahkota
gigi yang unerupsi atau tidak tumbuh dan biasanya sering melibatkan gigi molar tiga rahang
bawah dan atas, gigi kaninus maksila, premolar dua mandibular, dan gigi impaksi.
- Apakah terdapat benjolan yang meradang di sekitar leher gigi geraham bungsu rahang bawah
yang baru tumbuh setengah?
Karena bisa jadi kista ini melibatkan sebagian gigi molar tiga yang mengembangkan lesi
mirip kista yang inflamasi di sepanjang aspek distal atau bukal.
- Bagaimana pertumbuhan benjolan tersebut? Cepat atau lambatkah? Dan apakah
pembengkakannya lunak?
Kista ini biasanya tumbuh lambat dan pada awalnya hanya terjadi ekspansi tulang dan
tahap selanjutnya terjadi pembengkakan fluktuatif pada area gigi yang tidak erupsi.
- Berapa usia pasien?
Walaupun kista dentigerous dapat ditemui pada pasien dengan sebaran umur yang luas,
namun lebih sering ditemukan pada pasien usia 10-30 tahun. Ada pula yang menyebutkan 20-30
tahun.
- Bagaimana keluhan atau sensasi yang dirasakan pada benjolan di sekitar gigi geraham bungsu
yang tidak atau belum tumbuh tersebut?
Gejala biasanya tidak ada (kecuali bila sudah terinfeksi) dengan erupsi yang telah
menjadi indikasi paling umum dari pembentukan kista dentigerous. Jika kista sudah membesar
dan berhubungan dengan perluasan yang sudah tidak nyeri atau sakit maka bias jadi sudah
melibatkan area tulang dan lesi yang meluas dapat menyebabkan asimetri wajah. Jika kista
dentigerous terasa sakit dan terdapat pembengkakan, kista mungkin saja terinfeksi, di mana
infeksi seperti ini dapat muncul pada kista dentigerous yang berhubungan dengan gigi erupsi
sebagian atau oleh perluasan dari lesi periapikal atau periodontal yang mempengaruhi gigi yang
berdekatan.
- Bagaimana kondisi gigi pasien? Apakah jumlah giginya berlebihan, lebih banyak dari jumlah
normal? Apakah terdapat benjolan pada kondisi gigi yang demikian?
Karena gigi supernumerary mungkin gagal erupsi atau erupsi dengan tidak tepat. Gigi
yang impaksi pada rahang memiliki kecenderungan untuk mengembangkan kista dentigerous.

Ref : (1) Neville BW., et al. Oral and Maxillofacial Pathology. 2nd ed. 2002. WB Saunder
Company, Philadelphia. P. 590-591.
(2) Langlais RP, Miller CS. Color Atlas of Common Oral Diseases 5 th ed. 2017. Wolters
Kluwer, Philadelphia. P. 46,82.
(3) Regezi JA, Sciuba JJ. Oral Pathology, Clinical Pathologic Correlation 4 th ed. 2003.
WB Saunders Company, Philadelphia. p.246-247
(4) Wray D, et al. Textbook of General and Oral Surgery 1th ed. 1999. Churchill
Livingstone. P. 232.