Anda di halaman 1dari 5

NAMA : Tsamara Adzra Sepira

NIM : C1118042

Resume Kebijakan Penanggulangan HIV

Pasal 10

1. Promosi kesehatan ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan yang benar dan komprehensif
mengenai pencegahan penularan HIV dan menghilangkan stigma serta diskriminasi.
Artinya : dalam promosi kesehatan masyarakat diharapkan mampu memahami apa itu HIV dan
Proses Penularannya serta pencegahannya dengan begitu tidak aka ada diskriminasi terhadap
ODHA

2. Promosi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk advokasi, bina
suasana, pemberdayaan, kemitraan dan peran serta masyarakat sesuai dengan kondisi sosial
budaya serta didukung kebijakan publik.
Artinya : tenaga kesehatan berperan sebagai advocator terhadap masyarakat sesuai dengan
bagaimana kondisi social dalam masyarakat

3. Promosi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh tenaga kesehatan dan
tenaga non kesehatan terlatih.
Artinya : Promosi kesehatan tidak hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan melainkan juga
oleh tenaga non medis yang sudah terlatih maupun mempunyai kompetensi atau keahlian dalam
bidang tersebut

4. Sasaran promosi kesehatan meliputi pembuat kebijakan, sektor swasta, organisasi


kemasyarakatan dan masyarakat.
Artinya : Artinya promosi kesehatan ditujukan untuk seluruh ruang lingkup masyarakat

5. Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diutamakan pada populasi sasaran dan populasi
kunci.
Artinya : Promosi kesehatan diprioritaskan pada golongan yang lebih beresiko terhadap penularan
HIV

6. Populasi sasaran sebagaimana dimaksud pada ayat (5) merupakan populasi yang menjadi sasaran
program.
Artinya : golongan yang lebih beresiko terhadap penularan HIV merupakan sasaran utama
program promosi kesehatan

7. Populasi kunci sebagaimana dimaksud pada ayat (5) meliputi:


a. pengguna napza suntik;
b. Wanita Pekerja Seks (WPS) langsung maupun tidak langsung;
c. pelanggan/ pasangan seks WPS;
d. gay, waria, dan Laki pelanggan/ pasangan Seks dengan sesama Laki (LSL); dan
e. warga binaan lapas/rutan.
Artinya : sebagaimana yang telah disebutkan diatas merupakan golongan yang beresiko terhadap
penularan HIV

Pasal 11

1. Promosi kesehatan dapat dilakukan terintegrasi dengan pelayanan kesehatan maupun program
promosi kesehatan lainnya.
Artinya : Masyarakat dapat melakukan konsling kesehatan pada pelayanan kesehatan maupun
program non pelayanan lainnya yang terpercaya

2. Promosi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. iklan layanan masyarakat;


b. kampanye penggunaan kondom pada setiap hubungan seks berisiko penularan penyakit;
c. promosi kesehatan bagi remaja dan dewasa muda;
d. peningkatan kapasitas dalam promosi pencegahan penyalahgunaan napza dan penularan HIV
kepada tenaga kesehatan, tenaga non kesehatan yang terlatih; dan
e. program promosi kesehatan lainnya.
Artinya : seperti yang disebutkan diatas merupakan cara-cara bagaimana melakukan promosi
kesehatan yang dilakukan diluar pelayanan kesehatan

3. Promosi kesehatan yang terintegrasi pada pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diutamakan pada pelayanan:
a. kesehatan peduli remaja;
b. kesehatan reproduksi dan keluarga berencana;
c. pemeriksaan asuhan antenatal;
d. infeksi menular seksual;
e. rehabilitasi napza; dan
f. tuberkulosis.
Artinya : Promosi kesehatan dilakukan dengan edukasi kesehatan dengan pemberian pemahaman
kepada populasi yang sangat beresiko tertular HIV

4. Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman teknis promosi kesehatan penanggulangan HIV dan
AIDS diatur dengan Peraturan Menteri.
Artinya : Pemberian Promosi kesehatan diatur dalam peraturan menteri
Resume Kebijakan Pedoman Penggunaan ARV

Pasal 1

Pengobatan antiretroviral merupakan bagian dari pengobatan HIV dan AIDS untuk mengurangi risiko
penularan HIV, menghambat perburukan infeksi oportunistik, meningkatkan kualitas hidup penderita
HIV, dan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam darah sampai tidak terdeteksi.

Artinya : Penggunaan ARV bertujuan untuk menghambat perkembangan virus agar tidak memperburuk
infeksi dan menurunkan jummlah virus dalam tubuh

Pasal 2

Pengobatan antiretroviral sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 diberikan kepada:

a. penderita HIV dewasa dan anak usia 5 (lima) tahun ke atas yang telah menunjukkan stadium klinis 3
atau 4 atau jumlah sel Limfosit T CD4 kurang dari atau sama dengan 350 sel/mm3;
b. ibu hamil dengan HIV;
c. bayi lahir dari ibu dengan HIV;
d. penderita HIV bayi atau anak usia kurang dari 5 (lima) tahun;
e. penderita HIV dengan tuberkulosis;
f. penderita HIV dengan hepatitis B dan hepatitis C;
g. penderita HIV pada populasi kunci;
h. penderita HIV yang pasangannya negatif; dan/atau
i. penderita HIV pada populasi umum yang tinggal di daerah epidemi HIV meluas.
Artinya : Penggunaan ARV hanya dapat diberikan kepada individu yang telah dinyatakan positif
maupun beresiko tertular HIV

Pasal 3

(1) Pengobatan antiretroviral diberikan setelah mendapatkan konseling, memiliki orang terdekat sebagai
pengingat atau Pemantau Meminum Obat (PMO) dan patuh meminum obat seumur hidup.

(2) Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Artinya : Penggunaan obat ARV harus dilakukann dengan pengawasan yang tepat atau PMO dan
dikonsumsi patuh serta rutin seumur hidup

Pasal 4

Pengobatan antiretroviral dapat diberikan secara komprehensif dengan pengobatan infeksi oportunistik
dan komorbiditas serta pengobatan penunjang lain yang diperlukan.
Artinya : Pengobatan ARV diberikan secara rutin dan disertai pengobatan penunjang lainnya sesuai
dengan komplikasinya

Pasal 5

(1) Pengobatan antiretroviral dimulai di rumah sakit yang sekurangkurangnya kelas C dan dapat
dilanjutkan di puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya yang memiliki kemampuan
pengobatan antiretroviral.

(2) Pada daerah dengan tingkat epidemi HIV meluas dan terkonsentrasi, pengobatan antiretroviral dapat
di mulai di puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya yang memiliki kemampuan pengobatan
antiretroviral.

(3) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) untuk pengobatan antiretroviral
yang diberikan kepada bayi dan anak usia kurang dari 5 (lima) tahun.

Artinya : Pemberian pengobatan ARV dapat diperoleh dari pelayanan kesehatan sekurang kurangnya
kelas C, puskesmas dan pelayanan kesehatan lainnya yang memiliki kemampuan pemberian ARV
terkecuali Bayi dan anak usia kurang dari 5th

Pasal 6

(1) Pengobatan antiretroviral dilaksanakan sesuai dengan Pedoman sebagaimana tercantum dalam
Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

(2) Pedoman pengobatan antiretroviral sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan Pedoman
Nasional Pelayanan Kedokteran untuk infeksi HIV dan AIDS yang harus dijadikan acuan bagi pemberi
pelayanan kesehatan dalam melaksanakan pengobatan antiretroviral, dan bagi pengelola program,
organisasi profesi atau pemangku kepentingan lainnya dalam menunjang pelaksanaan pengobatan
antiretroviral.

Artinya : Pengobatan ARV dilakukan dengan pedoman yang sudah tercantum dalam peraturan mentri

Pasal 7

(1) Selain melakukan pengobatan antiretroviral dengan mengacu pada Pedoman sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6, pemberi pelayanan kesehatan wajib melaksanakan program penanggulangan HIV dan
AIDS lainnya dan melaksanakan penelitian dan pengembangan berbasis pelayanan.

(2) Hasil penelitian dan pengembangan berbasis pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
dipublikasikan dalam bentuk jurnal ilmiah kesehatan bidang HIV dan AIDS.

Artinya : Untuk Mengurangi luasnya penularan HIV selain dengan pengobatan ARV juga dapat
dilakukan penelitian ilmiah yang harus dipublikasikan dalam bentuk jurnal.
Pasal 8

Pembinaan dan Pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Menteri ini dilaksanakan oleh Menteri,
pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota dengan melibatkan organisasi profesi
sesuai dengan tugas dan kewenangannya masing-masing.

Artinya : Pelaksanaan penggunaan obat ARV diatur dalam peraturan mentri dan diawasi oleh pemerintah
daerah provinsi, kabupaten, maupun organisasi profesi sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 9

(1) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diarahkan untuk:

a. terselenggaranya pengobatan antiretroviral yang sesuai dengan pedoman dan standar yang berlaku; dan
b. melindungi masyarakat terhadap segala kemungkinan yang dapat menimbulkan bahaya bagi
kesehatan.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui: a. komunikasi, informasi,
edukasi, dan pemberdayaan masyarakat; dan b. pendayagunaan tenaga kesehatan;

Artinya : Pemberian ARV dilakukan dengan standdar yang berlaku agar tidak membahayakan dan
pembinaan dapat dilakukan melalui komunikasi, edukasi, pemberdayaan kesehatan

Pasal 10

(1) Menteri, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota sesuai tugas dan
kewenangan masing-masing dalam melakukan pengawasan dapat mengambil tindakan administratif
terhadap pemberi pelayanan kesehatan yang tidak sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri ini.

(2) Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: a. peringatan lisan; b. peringatan
tertulis; dan/atau c. rekomendasi pencabutan izin atau pencabutan izin praktik.

Artinya : dalam pengawasan pemberian ARV pemerintah dapat melakukan tindakan sesuai dengan
kewenangannya

Pasal 11

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya,
memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Artinya :Peraturan mulai diberlakukan pada tanggal diundangkan dan setiap orang wajib mematuhinya.

Anda mungkin juga menyukai