Anda di halaman 1dari 3

PERLINDUNGAN TERHADAP JUAL BELI HAKI (HAK CIPTA)

Syamsul Fuad – Penulis Naskah Benyamin Biang Kerok (1972)


“Mereka merasa, mereka sudah beli film-nya. Saya gak jelas, apakah sudah termasuk ini itu
segala macam, menurut perjanjian mereka, termasuk judul. Nah itu saya pikir sudah salah
mereka. Hak cipta tetap mesti ke saya. Bukan soal karakternya Benyamin almarhum. Kalau
karakter, boleh dibeli. Atau soal peredaran atau apa, saya gak tau, bukan urusan saya. Tapi
masalah judul Benyamin Biang Kerok itu adalah ciptaan saya.”
“Saya kagetnya justru seletah dimuat di Pos Kota bahwa cerita saya Biang Kerok difilmkan
sama mereka, bahkan sudah selesai. Saya kaget, akhirnya saya bikin pernyataan di Pos Kota
mengenai penjelasan saya. Baru pihak Max Picture atau utusan Falcon menghubungi saya dan
mendatangi saya setelah ada tulisan itu. Dia bilang sudah membeli hak film. Saya gak jelas itu
apa. Dia beli yang dibeli. Tapi setelah saya melihat surat perjanjian, sudah termasuk hak cipta,
termasuk judul. Saya bilang salah sasaran mereka. Soal judul tidak bisa. Harus minta izin ke
saya.”

Ody Mulia Hidayat – Produser Max Picture, salah satu rumah produksi yang membuat Benyamin
Biang Kerong (2018)
“Ini kan jual beli right. Apakah jika saya jual ke anda, ke TV saya jualnya, apakah stasiun TV
akan saya gugat bahwa itu judulnya tidak bisa dipakai? Kan right-nya udah putus semua. Nah
ini musti tau dulu kalau kondisi jual beli right di perfilm-an, industrinya kayak gitu. Ketika
anda menjual suatu film, suatu judul film, maka semua yang menempel pada film itu akan
menjadi hak film itu sendiri (Hak pembeli film). Jadi gak bisa dipisah-pisah. Kan lucu, masa
ketika dibeli, judulnya gak boleh. Nah itu maksud saya, coba dipahami dulu.”
“Secara hak, penayangan untuk judul atas film itu di kita.”
“Sebenarnya tuntutan itu dibalik karena tidak logis tuntutannya. Masa per film-nya 10 M?
Masa sekedar judul Biang Kerok harganya puluhan miliar? Kalaupun salah, anggaplah dia
nulis, saya bayar harga penulis. Penulis berapa sih, 60 Juta? 100 Juta? Kan itu yang logis ya.
Tapi kalau sudah puluhan miliar, kan itu yang gak logis.”

Dikutip dari channel Youtube Asumsi dengan judul “PERANG HAK CIPTA BENYAMIN
BIANG KEROK – Asumsi Mono”.

Pengantar
Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI/HKI) merupakan hak eksklusif yang diberikan negara
kepada seseorang, sekelompok orang, maupun lembaga untuk memegang kuasa dalam
menggunakan dan mendapatkan manfaat dari kekayaan intelektual yang dimiliki atau diciptakan.
Pada prinspinya, HAKI dibagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, Hak Cipta – Hak eksklusif
eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan
diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan seusai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan (UU No. 28/2014 Pasal 1 butir 1).
Kedua, Hak Kekayaan Industri yang didalamnya ada Paten – Hak eksklusif yang diberikan oleh
negara kepada investor atas hasil invensinya di bidang teknologi untuk jangka watu tertentu
melaksanakan sendiri invensi tersebut atau memberikan persetujuan kepada pihak lain untuk
melaksanakannya (UU No. 13/2016 Pasal 1 butir 1), dan Hak atas Merek – Hak eksklusif yang
diberikan oleh negara kepada pemilik Merek yang terdaftar untuk jangka waktu tertentu dengan
menggunakan sendiri Merek tersebut atau memberikan izin kepada pihak lain untuk
menggunakannya (UU No. 20/2016 Pasal 1 butir 5).
Seiring berkembangnya waktu, Hak Kekayaan Industri dibagi lagi menjadi hak atas Desain
Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, Rahasia Dagang, dan Indikasi Geografis. Dengan total
7 jenis HAKI yang telah diperjelas dan diberikan perlindungan hukum, pengaturan HAKI di
Indonesia bisa dibilang cukup lengkap dan memadai. Memadai karena pengaturan tersebut telah
memenuhi persyaratan minimal yang pokok yang ditentukan pada Perjanjian Internasional di
bidang HAKI.
Pada zaman modern ini, banyak perkembangan yang terjadi di berbagai bidang dalam mendukung
revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Salah satunya terjadi di bidang teknologi, yang membuat para
pencipta atau pemilik ini memiliki hak yang disebut Hak Cipta.
Hak Cipta terdiri dari hak moral dan hak ekonomi. Hak moral adalah hak yang tidak akan lepas
dari pencipta untuk selama-lamanya, walaupun ciptaannya sudah beralih ke pihak lain. Sedangkan
hak ekonomi adalah hak yang dapat dipindahkan kepada pihak lain (yang akan menjadi pemegang
hak cipta) dan melalui pihak ini, pencipta mendapatkan keuntungan ekonomi dari hasil ciptaannya.
Perlindungan hukum terhadap Hak Cipta sendiri dimaksudkan untuk mendorong masyarakat yang
memiliki kreativitas dan kemampuan intelektual menciptakan karya yang berguna bagi kemajuan
bangsa. Selain itu, perlindungan hukum terhadap Hak Cipta juga ditujukan untuk melindungi
semua ciptaan yang tergolong ke dalam produk budaya bangsa. Perlu diingat bahwa perlindungan
ini tidak hanya diarahkan untuk melindungi ciptaan individu, tetapi juga ciptaan yang masuk
kategori produk budaya bangsa.
Dengan peraturan perundang-udangan yang sudah ditetapkan dan diperjelas oleh pemerintah saat
ini, hal kritis yang perlu dipertanyakan adalah; Apakah pemerintah sudah mampu memenuhi
harapan masyarakat dalam hal perlindungan hukum terkait pengalihan hak ekonomi atas Hak
Cipta? Apakah pengaturan perlindungan ini mampu menciptakan lingkungan pasar yang baik
antara penjual Hak Cipta dan pembeli Hak Cipta agar kedua belah pihak tidak terlalu dirugikan?

Pembahasan
Pelanggaran hak cipta di Indonesia banyak terjadi dikarenakan oleh minimnya pemahaman
masyarakat terkait dengan UU Hak Cipta, termasuk diantaranya adalah kalangan petugas hukum
(polisi, jasa, dan hakim), pedagang, pengusaha, dan mahasiswa.
Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap UU Perlindungan Hak Cipta, ditambah dengan
pengawasan dan perlindungan terhadap ciptaan sendiri, kadang dimanfaatkan oleh pihak-pihak
yang tidak bertanggungjawab untuk menguntungkan diri sendiri. Disisi lain, walaupun pemerintah
sudah memberikan perlindungan hak cipta yang dituangkan dalam undang-undang, sepertinya
masih belum berhasil melindungi masyarakat secara efektif.
Masyarakat yang dimaksud disini adalah masyarakat yang memiliki kreativitas dan kemampuan
intelektual untuk membuat sesuatu yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, namun memiliki
kesadaran yang kurang terkait dengan hak cipta (baik itu konteks dan dasar hukum).
Dapat dilihat dari kasus perang hak cipta film Benyamin Biang Kerok yang awalnya dinaikkan ke
pengadilan oleh Syamsul Fuad (Penulis naskah Benyamin Biang Kerok tahun 1972). Syamsul
menuntut rumah produksi Mac Picture dan Falcon atas pelanggaran hak cipta karena sudah
menggunakan nama “Benyamin Biang Kerok” sebagai judul dari film mereka pada 2018 yang
merupakan adaptasi dari “Benyamin Biang Kerok” tahun 1972.
Setelah ditemui oleh perwakilan Max Picture, Ody Mulia Hidayat, mereka mengaku sudah
membeli hak film Benyamin Biang Kerok, termasuk dengan hak cipta dan hak judul “Benyamin
Biang Kerok”. Ketika melihat surat perjanjian tersebut, Syamsul menanggapi bahwa, tidak
masalah filmnya dibeli, diubah karatkernya, atau apapun itu, namun untuk judul “Benyamin Biang
Kerok” adalah ciptaannya yang harus disepakati bersama dia dulu sebelum dijadikan film
adaptasinya.
Jika dilihat dari kasus ini, terdapat konflik yang berhubungan dengan hak moral dan hak ekonomi.
Hak moral dari pencipta yang secara eksklusif melarang dan mengijinkan perubahan terhadap isi
ciptaan, judul ciptaan, nama pencipta, dan ciptaan itu sendiri. Sedangkan hak ekonomi dari
pemegang hak cipta yang secara eksklusif melakukan penggandaan, pengadaptasian,
pentransformasian, pendistribusian ciptaan, dsb.
Padahal diakui oleh oleh Ody Mulia Hidayat, selama ini transaksi jual beli right di dunia perfilm-
an, ketika seseorang sudah membeli right suatu film, maka orang pemegang hak cipta tersebut
sudah berhak atas seluruh komponen pada ciptaan tersebut. Hal ini tentu saja bertolak belakang
dengan konsep hak moral dan hak ekonomi yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Dari sini dapat dilihat bahwa masih ada pengauran HAKI di Indonesia masih belum maksimal dan
belum jelas pendefenisiannya pada ranah-ranah tertentu.
Untuk dapat meningkatkan semangat masyarakat dalam menciptakan produk yang dapat
memajukan bangsa, tentu saja pemerintah sudah harus lebih memperhatikan kondisi seperti ini.
Belum lagi pandangan masyarakat yang sebagian besar belum terlalu paham tentang hak cipta.
Kebanyakan dari mereka masih berdasar pada budaya mereka, bahwa ciptaan yang dibuat adalah
milik mereka bersama sehingga dapat ditiru.
Cara untuk mengatasi masalah ini adalah dukungan dari pemerintah dalam bentuk pengawasan dan
perlindungan dengan menyediakan perangkat peraturan yang lebih jelas dan ketat mengenai
pengaturan perlindungan hak cipta. Diperlukan juga peningkatan kesadaran hukum bagi
masyarakat, dengan cara melakukan sosialisasi akan pengaturan perlindungan hak cipta, agar
masyarakat lebih melek pengetahuan.
Masalah lainnya terkait dengan perlindungan dalam melaksanakan transaksi atau pengalihan hak
cipta antara pemilik hak cipta dan calon pemegang hak cipta. Dibutuhkan wadah atau hukum yang
lebih jelas dan ketat, agar kedua belah pihak tidak dirugikan. Hal lain yang dapat dilakukan juga
adalah pembentukan suatu badan yang dapat memberikan bantuan dalam hal memberi saran,
menganalisis, maupun menjelaskan kontrak kerjasama antara kedua belah pihak. Mereka yang
dapat menyewa jasa dari badan ini akan mendapatkan keuntungan pemahaman akan transaksi yang
mereka lakukan, sehingga mereka tidak akan merasa dirugikan.
Hal terakhir yang dibutuhkan adalah peningkatan kualitas penegak hukumnya, agar yang lemah
tidak dapat ditindas, dan yang berkuasa tidak dapat berbuat seenak mereka. Indonesia sebagai
negara hukum yang harus menegakkan keadilan dan mencari kebenaran dalam menangani kasus-
kasus pelanggaran HAKI. Dengan begini, masyarakat akan lebih bersemangat menciptaan sesuatu
yang dapat memberikan keuntungan bagi Indonesia.

Nama : Arnetha Irene Latumenasse


Prodi : Akuntansi
PT : Universitas Pattimura, Ambon, Maluku
Email : arnethairene@gmail.com

Anda mungkin juga menyukai