Anda di halaman 1dari 3

EKONOMI KREATIF

Nama : Arnetha I. Latumenasse


NIM : 201730034 (Mahasiswa Program Permata-Sakti)

1. Setiap orang memiliki asset yang tidak tampak, yaitu talenta untuk kreatif. Sayangnya,
pendidikan yang kurang tepat sejak dini telah menghambat atau bahkan mematikan
pertumbuhan asset tersebut. Upaya-upaya apa yang dapat dilakukan agar asset yang berupa
talenta kreatif ini bisa tumbuh dan berkembang sejak dini?

Jawab:
Agar talenta dan kreativitas dapat tumbuh dan berkembang sejak dini, hal yang harus
diperbaiki adalah sistem pendidikan yang diikuti oleh seorang anak, baik dari sistem
pendidikan formal (lembaga pendidikan) maupun sistem pendidikan informal (keluarga,
masyarakat, lembaga kemasyarakatan lainnya). Pendidikan merupakan faktor penting dimana
karakteristik, sikap, cara berpikir seorang anak dibentuk. Kenyataan praktik pendidikan yang
dilakukan di Indonesia adalah, sering kali pendidikan awal anak kadang membuat cara
berpikir anak menjadi tumpul, karena anak dipaksa untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh
gurunya, dan dibatasai untuk menyampaikan pemikirannya. Hal yang sama juga terjadi dalam
lingkup pendidikan informal, yaitu keluarga. Keadaan ini tentu saja menghambat
pertumbuhan dan perkembangan talenta kreativitas seorang anak.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan agar talenta kreatif bisa tumbuh dan
berkembang sejak dini di Indonesia, melalui pembaharuan pendidikan yang lebih baik.
o Dibutuhkannya andil dari keluarga, guru, dan masyaratkan secara keseluruhan dalam
menciptakan paradigma bahwa semua profesi adalah sama, tidak ada yang lebih rendah
daripada yang lain karena masing-masing profesi memiliki kesulitannya masing-masing.
Dengan membiasakan paradigma seperti ini, masyarakat akan lebih mengapresiasi bukan
hanya guru, namun pekerjaan lainnya secara sama rata.
o Dimulai dari keluarga dan pendidikan jenjang awal, dibutuhkan pendidikan yang lebih
mendasar dalam hal moral, etika, serta pembangunan karakter lainnya. Selain
pembangunan karakter, diharapkan juga sedari ini untuk lebih mengajarkan anak untuk
membaca, mau berusaha, pantang menyerah, bertanggungjawa, dll. Jika hal ini berhasil,
dipercaya bahwa sifat masyaratkan atau pola pikir masyaratkan di Indonesia akan
berubah mendekati pola pikir masyarakat pada negara maju.
o Ajari anak sejak dini dalam mengembangkan kreativitas mereka, ini dibarengi dengan
model pembelajaran yang kreatif dan sedikit bebas. Guru dan juga orangtua juga
diharapkan untuk tidak terlalu membebankan anak untuk mengikuti perintah mereka,
melainkan memberi pengertian dan mengarahkan apa yang harus dilakukan anak (secara
tidak memerintah).
o Meningkatkan kualitas tenaga pengajar, dengan lebih mementingkan kualitas daripada
kuantitas. Perketat persyaratan memasuki pendidikan keguruan, baik juga jika standar
kompetensi kelulusan guru dinaikkan agar betul-betul mereka yang menjadi lulusan guru
merupakan tenaga yang berkualitas. Dengan tenaga pengajar yang berkualitas,
diharapkan metode pembelajaran yang digunakan akan menjadi lebih bervariasi dan
terbuka akan sesuatu yang baru.
o Langkah yang harus diambil regulator adalah meningkatkan apresiasi terhadap guru
dengan menaikkan gaji mereka. Dengan cara seperti ini, guru yang sudah bekerja tanpa
tanda jasa menjadi lebih termotivasi untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam
mengajar, sehingga mereka dapat menciptakan peserta didik yang baik.

2. Sesuai dengan bidang studi yang Anda pelajari saat ini, proses kreativitas apa yang dapat
dilakukan agar Anda memiliki nilai lebih dibandingkan yang lain?

Jawab:
Cara untuk dapat membuat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan dengan yang lain
adalah dengan mengamati seseorang atau sesuatu yang menurut kita memiliki nilai lebih,
meniru seseorang atau sesuatu tersebut, kemudian memodifikasi dan mengembangkan hal
tersebut agar lebih sesuai dengan ciri khas kita masing-masing. Hal inilah yang menurut saya
adalah proses kreativitas. Melalui proses kreativitas inilah ide kreatif akan muncul. Dengan
berpegang pada ide kreatif yang kita miliki, kita dapat meningkatkan nilai kita (pengetahuan,
sikap, keterampilan, dsb), dan menunjukkan gambaran atau keunggulan kita dibandingkan
yang lainnya (branding).

Dalam proses kreativitas untuk menciptakan ide kreatif, dibutuhkan juga kolaborasi.
Kolaborasi atau penggabungan antara dua hal yang sudah ada menjadi satu hal baru yang
belum pernah ada. Untuk dapat berhasil melakukan proses kreativitas, kita juga harus bisa
memecahkan hidden wall yang dibangun oleh diri kita sendiri. Hidden wall ini merupakan
hambatan psikologis, dimana merupakan pikiran diri sendiri yang membatasi kreativitas kita
sendiri.

Contohnya dalam bidang ilmu akuntansi dengan konsentrasi perpajakan. Selain membaca
buku, mengikuti informasi mengenai peraturan dan masalah pajak terbaru, juga saling
mengerjakan latihan kasus-kasus pajak yang ada, saya juga harus mengikuti webinar-webinar
umum untuk menambah pengetahuan-pengatahuan tambahan yang tidak saya pelajari
diperlkuliahan.

3. Bagaimana cara mengelola asset kreativitas yang ada pada setiap orang, sehingga bisa
berkembang dan menjadi produk kreatif?

Jawab:
Untuk mengelola aset kreativitas, seseorang harus memiliki pemahaman akan [1] kapan kita
mengeksploitasi sifat non-rivalitas ide (ide yang dimiliki seseorang sama dengan ide yang
dimiliki orang lain, tanpa mempengaruhi mereka yang memiliki ide tersebut), dan [2]
bagaimana kita mengubah ide yang ada dalam pikiran kita menjadi produk yang bernilai
ekonomi tinggi sehingga mampu bersaing dengan produk sejenis lainnya, serta kapan kita
harus menegaskan hak kekayaan intelektual atas ide yang sudah kita kembangkan menjadi
produk ekonomi tersebut.

Kemampuan untuk dapat mengimplementasikan pikiran kreatif ke dalam suatu produk yang
dapat menjadi pesaing pada produk lainnya tentu bukanlah hal yang mudah. Selain kedua hal
diatas, diperlukan juga pemahaman akan nilai ekonomi kreativitas. Ekonomi kreativitas
dalam penilaiannya didasarkan pada bentuk (wujud fisiknya) dan kekayaan intelektual (diri
sendiri). Nilai ekonomi suatu produk mungkin dapat dihitung berdasarkan biaya yang
dikeluarkan untuk memproduksi produk tersebut, namun nilai kekayaan intelektual (nilai
kreativitas) yang ada pada produk tersebut tidak akan pernah dapat diukur dengan pasti.
Dengan berbagai usaha yang sudah dilakukan untuk membuat sebuah produk kreatif, tentunya
kita tidak bisa mengukur nilai kreativitas yang ada pada produk dengan pasti pasti. Hal inilah
yang membuat kebutuhan pengetahuan akan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI/HKI) serta
pengetahuan akan perlindungan hukum terhadap hak cipta sangatlah penting untuk diketahui
semua orang.

Semua ini penting diketahui oleh semua orang , dan bukan hanya oleh beberapa orang yang
mempelajari bidang ilmu tertentu. Hal ini dikarenakan semua orang memiliki kreativitasnya
sendiri-sendiri dalam berbagai macam bentuk. Namun, kembali lagi kepada kemauan orang
tersebut, apakah mereka ingin dan mau berusaha untuk mengubah ide/kreativitas yang ada
pada diri mereka menjadi suatu produk yang dapat bernilai ekonomi (produk kreatif) atau
tidak.

Anda mungkin juga menyukai