Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

MATA KULIAH AGROHIDROLOGI DAN MANAJEMEN


DAERAH ALIRAN SUNGAI
“ Analisis Curah Hujan ”

Dosen Pengampu :
1. Ir. Zurhalena M.P
2. Ir. Refliaty M. S

Disusun oleh :
Kelompok 1
1. Fransiskus Martogi S. (D1A014002)
2. Wilujeng Pangestu (D1A014003)
3. Ferdy Safryadi (D1A012058)
4. Alan Firmansyah (D1A013118)

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015
Analisis Curah Hujan Kota Jambi

Hari / Tanggal : Senin, 20 Febuari 2016.


Materi Praktikum : Menentukan Curah Hujan (CH) rata-rata,
Erosivitas Tanah (Ei), Bulan Basah (BB) dan
Bulan Kering (BK).
Tujuan : Untuk mengetahui Curah Hujan (CH) rata-rata,
Erosivitas Tanah (Ei), Bulan Basah (BB) dan
Bulan Kering (BK).
Prinsip Teori :
Curah hujan merupakan parameter yang banyak digunakan dalam
penentuan iklim. Hal ini didasarkan pada keberadaan data curah hujan
yang mudah didapatkan secara berurutan baik dalam skala harian,
bulanan maupun tahunan. Hal ini cukup sesuai dengan persyaratan dan
penilaian iklim yang membutuhkan data secara berurutan.
Curah hujan adalah sejumlah air yang jatuh kepermukaan bumi
setelah melewati suatu rangkaian proses seperti penguapan
(evatranspirasi), pengumpulan uap air, pengembunan (kondensasi) dan
hujan itu sendiri. Curah hujan tidak selalu sama disetiap daerah, karena
setiap daerah mempunyai karakter curah hujan yang berbeda satu dengan
daerah lainnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain letak
geografis dan topografi. Daerah dengan topografi pegunungan akan
berbeda curah hujannya dengan daerah yang bertopografi dataran rendah.
Perubahan nilai curah hujan dalam jangka waktu yang lama akan
berpengaruh terhadap iklim didaerah setempat.
Curah hujan adalah banyaknya jumlah/banyaknya hujan yang turun
pada satuan waktu tertentu. Dalam prakteknya, data yang berhubungan
dengan curah hujan yang sering digunakan untuk kegiatan yang
berhubungan dengan pertanian adalah curah hujan rata -rata, jumlah hari
hujan dan pembagian bulan basah dan bulan kering. Seringkali di lokasi
yang ingin diolah curah hujannya, data curah hujan tidak tersedia
dikarenakan tidak terdapat stasiun pengamat curah hujan dilokasi

1
tersebut, untuk mengatasi kondisi seperti ini salah satu cara yang dapat
dilakukan adalah dengan interpolasi data curah hujan. Salah satu metode
interpolasi curah hujan adalah dengan metode Poligon Thiessen. Metode
ini telah banyak digunakan secara luas karena dianggap dapat
memberikan data hujan yang lebih akurat, karena pada metode polygon
setiap bagian wilayah tangkapan hujan diwakili secara proporsional oleh
satu alat penangkar hujan.
Besarnya curah hujan rata-rata untuk suatu daerah tangkapan
merupakan hasil rata-rata data hujan dari seluruh bagian daerah tangkapan
yang diwakili oleh satu alat penangkar hujan.
Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam
tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.
Curah hujan 1 (satu) milimeter artinya dalam luasan satu meter persegi
pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu milimeter atau
tertampung air sebanyak satu liter. Intensitas hujan adalah banyaknya
curah hujan persatuan jangka waktu tertentu. Apabila dikatakan
intensitasnya besar berarti hujan lebat dan kondisi ini sangat berbahaya
karena berdampak dapat menimbulkan banjir, longsor dan efek negatif
terhadap tanaman.
Pola curah hujan dipengaruhi oleh:
a. Elevasi atau ketinggian
b. Kemiringan lokal
c. Orientasi kemiringan
d. Jarak sumber kelengasan
e. Derajat keterbukaan.
(Sudarmadji,1997 )
Sedangkan untuk menentukan Bulan Basah dan Bulan Kering
menggunakan klasifikasi iklim menurut Mohr dan Schmidt-Ferguson :
Kriteria Bulan Basah, Lembab, dan Bulan Kering adalah:
Bulan Kering (BK) : Bulan dengan CH < 60 mm
Bulan Lembab (BL) : Bulan dengan 60 mm ≤ CH ≤ 100 mm
Bulan Basah (BB) : Bulan dengan CH > 100 mm

2
Erosi adalah suatu proses atau peristiwa hilangnya lapisan
permukaan tanah atas, baik disebabkan oleh pergerakan air maupun angin
(Suripin, 2004). Erosi merupakan tiga proses yang berurutan, yaitu
pelepasan (detachment), pengangkutan (transportation), dan pengendapan
(deposition) bahan-bahan tanah oleh penyebab erosi (Asdak, 1995)
Di daerah-daerah tropis yang lembab seperti di Indonesia maka air
merupakan penyebab utama terjadinya erosi, sedangkan untuk daerah-
daerah panas yang kering maka angin merupakan faktor penyebab
utamanya.
Erosi adalah penghapusan partikel tanah atau batuan oleh agen-
agen alami seperti air dan angin, dan diperparah oleh aktivitas manusia.
Faktor utama erosi tanah yang mengilangkan partikel tanah karena air
hujan ada dua proses utama yaitu pelepasan yang disebabkan oleh hujan
jatuh pada tanah dan limpasan. Erosi ini juga diperburuk oleh tekanan di
atas tanah, khususnya pertanian ( Boardman, 2001dalam Suripin, 2004).
Proses terjadinya erosi pada permukaan lahan, umumnya
disebabkan oleh faktor-faktor iklim (intensitas curah hujan), tanah,
topografi, vegetasi dan faktor pengolah tanah. Curah hujan yang jatuh
langsung atau tidak langsung dapat mengikis permukaan tanah yang
secara perlahan dengan pertambahan waktu dan akumulasi intensitas
hujan akan mendatangkan erosi (Kironoto, 2003).
Erosi kulit/permukaan (sheet erosion) yang terjadi ketika lapis tipis
permukaan tanah terkikis oleh kombinasi air hujan dan air larian (runoff),
berawal dari adanya tenaga kinetik air hujan yang menyebabkan lepasnya
partikel-partikel tanah dan bersama-sama dengan pengendapan sedimen
(hasil erosi) di atas permukaan tanah, menyebabkan turunnya laju
infiltrasi karena pori-pori tanah tertutup oleh kikisan partikel tanah
(Asdak, 1995).
Umumnya daerah-daerah di Indonesia mempunyai curah hujan
yang tinggi dan fenomena ini akan mempengaruhi kondisi alam itu
sendiri, seperti halnya hujan merupakan salah satu faktor terpenting
menyebabkan terjadinya erosi (Dirjen Pengairan, 1997).

3
Menurut Hudson (1971), angkutan sedimen dalam sungai terutama
disebabkan oleh erosi yang terjadi di daerah aliran sungai tersebut. Dalam
pengertian erosi dikenal istilah sheet erosion dan channel erosion, yang
dalam ramalan besarnya angkutan sedimen umumnya sangat ditentukan
oleh jumlah sheet erosion yang terjadi, bahkan untuk channel erosion
dapat diabaikan, kecuali untuk tujuan-tujuan khusus. Sheet erosion adalah
erosi yang terjadi di lahan dari daerah aliran sungai dan merupakan fungsi
erosivity dan erodibility setempat. Erosivity menunjukkan pengaruh
karakteristik hujan terhadap proses terjadinya erosi, sehingga merupakan
faktor potensial penyebab erosi yang berasal dari luar. Erodibility
menunjukkan pengaruh dari karakteristik tanah terhadap proses terjadinya
erosi, sehingga merupakan faktor ketahanan tanah terhadap gangguan
dariluar.
Faktor-faktor terpenting yang mempengaruhi erosi (Asdak, 1995)
adalah sebagai berikut :
a. iklim, yaitu karakteristik hujan, utamanya berupa tenaga energi air
hujan dan intensitas air hujan,
b. sifat-sifat tanah, yaitu : 1). tekstur tanah. 2). Unsur organik. 3).
Struktur tanah, dan 4). Permeabilitas tanah.
c. topografi, berupa kemiringan dan panjang lereng.
d. vegetasi penutup tanah dan pengolahan tanah.
Ditinjau dari mekanisme terjadi erosi yang berbeda antara satu
dengan lainnya maka bentuk-bentuk erosi yang dipercepat (accelerated
erosion) oleh faktor-faktor di atas faktor-faktor di atas bersama dengan
faktor campur tangan manusia terhadap lahan, maka erosi ini dibedakan
menjadi empat jenis, di samping adanya erosi yang terjadi secara alamiah
(normal erosion).
Berdasarkan batasan masalah sebelumnya, penelitian ini hanya
menguraikan sebatas masalah erosi kulit/permukaan (sheet erosion).
Adapun proses terjadinya erosi permukaan dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Hujan menimpa permukaan lahan.

4
2. Energi jatuhnya titik hujan menyebabkan terlepasnya butir-butir
tanah, dan energi ini tergantung pada ukuran dan kecepatan jatuhnya
tetesan hujan.
3. Terlepasnya butiran tanah sangat tergantung pada stabilitas tanah
tersebut yang sangat dipengaruhi oleh tingkatan struktur tanah,
kandungan bahan organik, persentase clay, silt, pasir dan sebagainya.
4. Air hujan yang jatuh akan meresap kedalam tanah (infiltrasi),
sebagian lain akan mengalir sebagai aliran permukaan, yang sangat
tergantung pada kapasitas infiltrasi tanah, di mana kapasitas
infiltrasi tergantung pada permeabilitas dan keadaan permukaan
tanah tersebut.
5. Aliran permukaan akan membawa butiran-butiran tanah yang
terlepas dan juga mengikis butiran-butiran tanah yang
dilewatinya.Akibatnya akan terjadi erosi permukaan, jika ketahanan
tanah terhadap erosi (soil erosion) pada seluruh permukaan sama dan
selanjutnya akan terjadi erosi alur (rill erosion) jika ketahanan tanah
terhadap erosi pada permukaan tidak seragam.

5
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. HASIL

Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des
2005 76 117 264 100 210 144 144 179 288 238 338 260
2006 166 329 272 260 186 145 98 143 118 52 156 171
2007 211 92 234 293 218 104 211 199 86 238 101 239
2008 185 98 331 258 82 27 69 245 104 202 304 322
2009 117 342 194 178 122 117 60 155 163 171 345 334
2010 219 232 240 196 203 261 429 409 227 334 404.1 263
2011 202 114 152 223 252 199 124 66 19 312 305 210
2012 103 275 188 198 297 138 211 28 87 244 121 143
2013 157 196 376 168 183 69 209 141 309 208 311 331
2014 119 6 57 420 197 154 150 307 77 147 260 238
Rataan 155.5 180.1 230.8 229.4 195 135.8 170.5 187.2 147.8 214.6 224.1 251.1
jumlah 1555 1801 2308 2294 1950 1358 1705 1872 1478 2146 2645.1 2511
Ei 51149.58 68412.11 111795.1 110456.38 80072.68 39116.27 61380.46 73855.26 46256.34 96792.72 105460.72 132102.9

RATA-RATA CURAH HUJAN KOTA JAMBI


300
250
200
150
100
50
RATA-RATA

0
juni

juli

agustus
januari

desember
september

oktober
februari

november
april

mei
maret

6
HITOGRAF EROSIVITAS (Ei) CURAH HUJAN KOTA JAMBI
140000
120000
100000
80000
60000
40000 Ei
20000
0

Bulan rata-rata Bulan Ei


januari 155.5 januari 51149.58
februari 180.1 februari 68412.11
maret 230.8 maret 111795.1 Tahun BB BK
april 229.4 april 110456.4 2005 11 0
mei 195 mei 80072.68 2006 10 1
juni 135.8 juni 39116.27 2007 10 0
juli 170.5 juli 61380.46 2008 8 1
agustus 187.2 agustus 73855.26 2009 11 1
september 147.8 september 46256.34 2010 12 0
oktober 214.6 oktober 96792.72 2011 10 1
november 224.1 november 105460.7 2012 10 1
desember 251.1 desember 132102.9 2013 10 0
rata-rata 193.4917 rata-rata 81404.21 2014 9 2
jumlah 2321.9 jumlah 976850.5 jumlah 101 7

2. PEMBAHASAN
Curah hujan adalah banyaknya jumlah/banyaknya hujan yang turun
pada satuan waktu tertentu. Dalam prakteknya, data yang berhubungan
dengan curah hujan yang sering digunakan untuk kegiatan yang
berhubungan dengan pertanian adalah curah hujan rata -rata, jumlah hari
hujan dan pembagian bulan basah dan bulan kering.
Dari data diatas didapat curah hujan rata-rata dalam kurun waktu 10
tahun terakhir ialah sebesar 193,492 mm dengan jumlah total curah hujan

7
23623.1 mm. Sedangkan curah hujan minimum terjadi pada bulan Juni
yakni 135,8 mm dan curah hujan maksimum terjadi pada bulan
Desember yakni 251,1 mm. curah hujan rata-rata ini didapat dengan
menggunakan cara aritmatika yakni rata-rati dari data curah hujan 10
tahun terakhir.
Erosivitas merupakan sifat curah hujan.hujan dengan intensifitas
rendah jarang menyebabkan erosi, tetapi hujan yang lebat dengan periode
yang pendek atau panjang dapat menyebabkan adanya limpasan
permukaan yang besar dan kehilangan tanah. Erosivitas hujan sebagian
terjadi karena pengaruh jatuhnya butir hujan langsung di atas tanah dan
sebagian lagi karena aliran air di atas permukaan tanah. Cara menghitung
erosivitas
Ei= 2,34 (R)1,98

Dengan menggunakan rumus tersebut diperoleh hasil Erosivitas rata-


rata dalam kurun waktu 10 tahun terakhir sebesar 81404,21. Nilai
erosivitas terbesar terjadi pada bulan Desember sebesar 132102,9 dan
terkecil terjadi pada bulan Juni sebesar 39116,27. Hal ini sebanding
dengan besarnya curah hujan yang terjadi pada bulan itu, nilai erosivitas
sebanding dengan curah hujan yang terjadi. Semakin tinggi curah hujan
suatu daerah pada suatu waktu maka semakin besar pula erosi yang terjadi
yang berarti nilai erosivitasnya pun menjadi tinggi pula.
Dari data crah hujan selama 10 tahun terakhir di Kota Jambi ini didapat
pula Bulan Basah (BB) dan Bulan Kering (BK) sebagai indicator
penentuan iklim suatu daerah. Dengan mengikuti criteria Bulan Basah dan
Bulan Kering menurut Mohr dan Schmidt Ferguson didapatkan jumlah BB
dalam 10 tahun sebanyak 101 dan BK sebanyak 7.

Data tipe iklim per 10 tahun (2005-2014)

jumlah rata − rata bulan kering (BK)


Q= x100%
jumlah rata − rata bulan basah (BB)

8
0,7
Q= x100%
10,1
Q =0,06931

Dari jumlah BB dan BK tersebut kita dapat menggolongkan iklim Kota


Jambi menurut Mohr kedalam golongan iklim II, yakni iklim Agak Basah
dan menurut Schmidth-Ferguson masuk kedalam iklim dengan tipe iklim
A ( 0<Q<0,143) : daerah sangat basah vegetasinya hutan hujan tropis.

9
KESIMPULAN

1. Curah hujan adalah banyaknya jumlah/banyaknya hujan yang turun pada


satuan waktu tertentu .
2. Curah hujan, lama hujan, panjang hujan maksimal sangat berpengaruh terhadap
erosivitas.
3. Erosi adalah suatu proses atau peristiwa hilangnya lapisan permukaan tanah
atas, baik disebabkan oleh pergerakan air maupun angin.
4. Erosivitas didapat dengan menggunakan rumus Ei= 2,34 (R)1,98
5. Cara memperoleh BB dan BK ialah dengan melihat data curah hujan apabila
curah hujan >100 mm maka itu BB dan <60 mm termasuk BK
6. Dari data diatas didapat curah hujan rata-rata dalam kurun waktu 10 tahun
terakhir ialah sebesar 193,492 mm dengan jumlah total curah hujan 23623.1
mm. Sedangkan curah hujan minimum terjadi pada bulan Juni yakni 135,8
mm dan curah hujan maksimum terjadi pada bulan Desember yakni 251,1 mm
7. hasil Erosivitas rata-rata dalam kurun waktu 10 tahun terakhir sebesar
81404,21. Nilai erosivitas terbesar terjadi pada bulan Desember sebesar
132102,9 dan terkecil terjadi pada bulan Juni sebesar 39116,27.
8. Berdasarkan penggolongan iklim menurut Mohr Kota Jambi termasuk dalam
golongan iklim II agak Basah , sedangkan menurut Schmidt-Ferguson
termasuk kedalam iklim dengan tipe iklim A ( 0<Q<0,143) : daerah sangat
basah vegetasinya hutan hujan tropis.

10
DAFTAR PUSTAKA
A K Seta 87 , konservasi sumberdaya tanah dan air . Kamlam Mulia , Jakarta
Arsad, Sitanala.2006.konservasi tanah dan air.Bogor:IPB press
Kusumandari, Ambar. 2008. Konsevasi Tanah dan Air.Yogyakarta:Fakutas
Kehutanan UGM
Soemarto. 1987. HidrologiTeknik. Usaha Nasional. Surabaya.
Subagyo, Sentut.tt. Dasar-Dasar Hidrologi. Yogyakarta : Fakultas Kehutanan
Universitas Gadja Mada.
Sudarmadji. Suyono. 1997. Hidrologi Dasar. Program Pascasarjana UGM,
Yogyakarta

11