Anda di halaman 1dari 10

 

Respon Tingkah Laku Terhadap Nyeri


Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup:
1. Pernyataan verbal seperti Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas, Mendengkur.
2. Ekspresi wajah seperti Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir.
3. Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan gerakan        jari &
tangan.
4. Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari percakapan, Menghindari kontak
sosial, Penurunan rentang perhatian, Fokus pada aktivitas menghilangkan nyeri) Individu
yang mengalami nyeri mendadak dapat bereaksi sangat berbeda terhadap nyeri yang
berlangsung selama beberapa menit atau menjadi kronis.
Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat individu terlalu letih untuk
merintih atau menangis. Pasien dapat tidur, bahkan dengan nyeri hebat. Pasien dapat
tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi mahir dalam mengalihkan
perhatian terhadap nyeri.

Klasifikasi Nyeri.
1.      Cutaneus/superfisial, yaitu nyeri yang mengenai kulit/ jaringan subkutan. Biasanya
bersifat burning (seperti terbakar).
Contoh :  terkena ujung pisau atau gunting.
2.      Deep somatic/ nyeri dalam, yaitu nyeri yang muncul dari ligament, pembuluh
darah, tendondan syaraf, nyeri menyebar & lebih lama dari pada cutaneus.
Contoh : sprain sendi.
3.      Visceral (pada organ dalam), stimulasi reseptor nyeri dlm rongga abdomen,
cranium dan thorak.
            Contoh : Biasanya terjadi karena spasme otot, iskemia, regangan jaringan.
Penyebab Nyeri
1.      Trauma
a. Mekanik
Rasa nyeri timbul akibat ujung-ujung saraf bebas mengalami kerusakan, misalnya   akibat
benturan, gesekan, luka dan lain-lain.
b.  Thermis
Nyeri timbul karena ujung saraf reseptor mendapat rangsangan akibat panas, dingin,
misal karena api dan air.
c.   Khemis
Timbul karena kontak dengan zat kimia yang bersifat asam atau basa kuat
d.   Elektrik
Timbul karena pengaruh aliran listrik yang kuat mengenai reseptor rasa nyeri yang
menimbulkan kekejangan otot dan luka bakar.
2.   Neoplasma
a.      Jinak
b.      Ganas
3.   Peradangan
Nyeri terjadi karena kerusakan ujung-ujung saraf reseptor akibat adanya peradangan atau
terjepit oleh pembengkakan. Misalnya : abses
4.   Gangguan sirkulasi darah dan kelainan pembuluh darah
5.   Trauma psikologis
6.   Fisik
Bisa terjadi karena stimulus fisik.
contoh: fraktur femur
7.     Psycogenic
Terjadi karena sebab yang kurang jelas/susah diidentifikasi, bersumber dari
emosi/psikis dan biasanya tidak disadari.
Contoh: Orang yang marah-marah, tiba-tiba merasa nyeri pada dadanya) biasanya nyeri
terjadi karena perpaduan 2 sebab tersebut.
Macam-macam Nyeri
1.      Nyeri Akut
Nyeri yang terjadi segera setelah tubuh terkena cidera, atau intervensi bedah dan
memiliki awitan yang cepat, dengan intensitas bervariasi dari berat sampai ringan. Fungsi nyeri
ini adalah sebagai pemberi peringatan akan adanya cidera atau penyakit yang akan datang. Nyeri
ini terkadang bisa hilang sendiri tanpa adanya intervensi medis, setelah keadaan pulih pada area
yang rusak.
Apabila nyeri akut ini muncul, biasanya tenaga kesehatan sangat agresif untuk segera
menghilangkan nyeri. Nyeri akut secara serius mengancam proses penyembuhan klien, untuk itu
harus menjadi prioritas bidan. Rehabilitasi bisa tertunda dan hospitalisasi bisa memanjang
dengan adanya nyeri akut yang tidak terkontrol.

2.        Nyeri kronik
Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap sepanjang suatu periode
tertentu, berlangsung lama, intensitas bervariasi, dan biasanya berlangsung lebih dari enam
bulan. Nyeri ini disebabkan oleh kanker yang tidak terkontrol, karena pengobatan kanker
tersebut atau karena gangguan progresif lain. Nyeri ini bisa berlangsung terus sampai kematian.
Pada nyeri kronik, tenaga kesehatan tidak seagresif pada nyeri akut. Klien yang mengalami nyeri
kronik akan mengalami periode remisi (gejala hilang sebagian atau keseluruhan)
dan eksaserbasi (keparahan meningkat). Nyeri ini biasanya tidak memberikan respon terhadap
pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya.
Nyeri ini merupakan penyebab utama ketidakmampunan fisik dan psikologis. Sifat nyeri kronik
yang tidak dapat diprediksi membuat klien menjadi frustasi dan seringkali mengarah pada
depresi psikologis. Individu yang mengalami nyeri kronik akan timbul perasaan yang tidak
aman, karena ia tidak pernah tahu apa yang akan dirasakannya dari hari.
Perbedaan karakteristik nyeri akut dan kronik
a.    Nyeri akut
1)    Lamanya dalam hitungan menit.
2)    Ditandai peningkatan BP, nadi, dan respirasi.
3)   Respon pasien Fokus pada nyeri, menyetakan nyeri menangis dan mengerang.
4)    Tingkah laku menggosok bagian yang nyeri.
b.   Nyeri kronik
1)    Lamanya sampai hitungan bulan, > 6 bulan.
2)    Fungsi fisiologi bersifat normal.
3)    Tidak ada keluhan nyeri.
4)    Tidak ada aktifitas fisik sebagai respon terhadap nyeri.

Berdasarkan lokasi/letak
    

1.      Radiating pain
Nyeri menyebar dari sumber nyeri ke jaringan di dekatnya.
Contoh: cardiac pain.
2.      Referred pain
Nyeri dirasakan pada bagian tubuh tertentu yang diperkirakan berasal dari jaringan penyebab
nyeri.
3.      Intractable pain
Nyeri yg sangat susah dihilangkan.
Contoh: nyeri kanker maligna.
4.      Phantom pain
Sensasi nyeri dirasakan pada bagian.Tubuh yg hilang.
Contoh: Bagian tubuh yang diamputasi atau bagian tubuh yang lumpuh karena injuri medulla
spinalis.

  Faktor yang mempengaruhi Nyeri.


         1 .   Usia
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga bidan harus mengkaji respon nyeri
pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami
kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka
menganggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami
penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.
2.   Jenis kelamin
Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara signifikan dalam
merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya.
                 Contoh: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh nyeri.
3.   Kultur
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri.
              Contoh : suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima
karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri.
4.   Makna nyeri
Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan dan
bagaimana mengatasinya.
5 .  Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi
persepsi nyeri. Menurut Gill (1990), perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang
meningkat, sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun.
Tehnik relaksasi, guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.
6.  Ansietas
Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri juga bisa menyebabkan seseorang
cemas.

7.   Pengalaman masa lalu


Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang
sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang
mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.
8 .  Pola koping
Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola
koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri.
9.   Support keluarga dan social
Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman
dekat untuk memperoleh dukungan, bantuan dan perlindungan.

  Metode yang di gunakan untuk menghilangkan nyeri


a. Nyeri Non Farmakologi
1.   Distraksi
Distraksi adalah metode pengalihan perhatian dari "persepsi" rasa nyeri. Dengan
mengalihkan perhatian, kita bisa mengurangi fokus terhadap respon nyeri. Distraksi bisa
diterapkan untuk rasa nyeri ringan dan sedang, untuk rasa nyeri berat obat masih menjadi
pilihan paling tepat.
Contoh dari metode distraksi dalam mengurangi rasa nyeri adalah melakukan
kegiatan ringan untuk mengalihkan "persepsi" rasa nyeri, bisa dengan mengobrol,
menonton tv, atau dengan menikmati pemandangan alam.
Dengan menerapkan metode distraksi untuk mengurangi rasa nyeri akan
menghindari dampak negatif dari obat kimia, seperti yang dijelaskan di atas, distraksi bisa
diterapkan pada nyeri ringan dan sedang, untuk itu pada kasus rasa nyeri berat harus
ditangani dengan obat/tindakan medis.
2.   Relaksasi
Teknik relaksasi dapat mengurangi ketegangan otot dan mengurangi kecemasan.
Membantu klien dengan teknik relaksasi , perawat dapat mengenal nyeri klien
dan ekspresi kebutuhan dibantu dari klien untuk mengurangi distress yang disebabkan
oleh nyerinya. Teknik relaksasi lebih efektif untuk klien dengan nyeri kronik.

Relaksasi  memberikan efek positif untuk klien yang mengalami nyeri, yaitu:
     1.    Memperbaiki kualitas tidur
     2.    Memperbaiki kemampuan memecahkan masalah
     3.    Mengurangi keletihan / fatigue
     4.    Meningkatkan kepercayaan dan perasaan dapat mengontrol diri dalam
mengatasi nyeri
     5.    Mengurangi efek kerusakan fisiologi dari stress yang berlanjut atau berulang karena
nyeri
     6.    Pengalihan rasa nyeri/distraksi.
     7.    Meningkatkan keefektifan teknik – teknik pengurangan nyeri yang lain.
     8.    Memperbaiki kemampuan mentoleransi nyeri
     9.    Menurunkan distress atau ketakutan selama antisipasi terhadap nyeri.

Secara umum untuk melakukan teknik relaksasi membutuhkan 4 hal, yaitu:


1.    Berikan posisi yang nyaman
2.   Dilakukan dalam lingkungan yang tenang
3.   Mengulang kata-kata, suara, phrase, doa-doa tertentu
4.   Melakukan sikap yang pasif saat mendistraksi klien.
     5.    Metode yang lain untuk meningkatkan relaksasi dapat berupa  music atau suara alam
sambil santai, memikirkan sesuatu yang merilekskan, atau dengan teknik meditasi seperti
yoga, dan lain-lain.

3.   Imagery
Klien dapat menggunakan imagery / membayangkan untuk menurunkan
nyeri. Imagery sesuatu yang menyenangkan. Imagery dapat digunakan lebih efektif pada
klien dengan nyeri kronik dari pada nyeri akut, atau nyeri berat. Bidan dapat mengajarkan
klien untuk menggunakan teknik imagery dengan melakukan guided  imagery.
5. Penanganan fisik/stimulasi fisik meliputi :
a. Stimulasi Kulit (Cutaneus)
a) Kompres hangat
Dapat dilakukan dengan menempelkan kantong karet yang diisi air hangat atau
handuk yang telah direndam di dalam air hangat, ke bagian tubuh yang nyeri.
Sebaiknya diikuti dengan latihan pergerakan atau pemijatan.
·          Dampak fisiologis dari kompres hangat adalah pelunakan jaringan fibrosa,
membuat  otot tubuh lebih rileks, menurunkan atau menghilangkan rasa nyeri, dan
memperlancar pasokan aliran darah.
b) Kompres dingin
Yang digunakan adalah kantong berisi es batu (cold pack), bisa juga berupa
handuk yang dicelupkan ke dalam air dingin.
Dampak fisiologisnya adalah vasokonstriksi (pembuluh darah penguncup) dan
penurunan metabolik, membantu mengontrol perdarahan dan pembengkakan karena trauma,
mengurangi nyeri, dan menurunkan aktivitas ujung saraf pada otot.
Melakukan kompres harus hati-hati karena dapat menyebabkan jaringan kulit
mengalami nekrosis (kematian sel). Untuk itu dianjurkan melakukan kompres dingin tidak
lebih dari 30 menit.

c)  Massase
Massase kulit memberikan efek penurunan kecemasan dan ketegangan otot.
Rangsangan masase otot ini dipercaya akan merangsang serabut berdiameter besar,
sehingga mampu mampu memblok atau menurunkan impuls nyeri

d) Stimulasi electric (TENS)


Cara kerja dari sistem ini masih belum jelas, salah satu pemikiran adalah cara ini
bisa melepaskan endorfin, sehingga bisa memblok stimulasi nyeri. Bisa dilakukan dengan
massase, mandi air hangat, kompres dengan kantong es dan stimulasi saraf elektrik
transkutan (TENS/ transcutaneus electrical nerve stimulation). TENS merupakan
stimulasi pada kulit dengan menggunakan arus listrik ringan yang dihantarkan melalui
elektroda luar.
e) Akupuntur
Akupuntur merupakan pengobatan yang sudah sejak lama digunakan untuk
mengobati nyeri. Jarum – jarum kecil yang dimasukkan pada kulit, bertujuan
menyentuh titik-titik tertentu, tergantung pada lokasi nyeri, yang dapat memblok
transmisi nyeri ke otak.
f) Plasebo
Plasebo dalam bahasa latin berarti saya ingin menyenangkan merupakan zat
tanpa kegiatan farmakologik dalam bentuk yang dikenal oleh klien sebagai “obat”
seperti kaplet, kapsul, cairan injeksi dan sebagainya.
b.  Umpan balik biologis
Terapi perilaku yang dilakukan dengan memberikan individu informasi tentang
respon nyeri fisiologis dan cara untuk melatih kontrol volunter terhadap respon tersebut.
Terapi ini efektif untuk mengatasi ketegangan otot dan migren, dengan cara memasang
elektroda pada pelipis.
a) Hipnotis
Membantu mengubah persepsi nyeri melalui pengaruh sugesti positif.
b) Distraksi
Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, efektif untuk nyeri ringan sampai sedang.
Distraksi visual (melihat TV atau pertandingan bola), distraksi audio (mendengar
musik), distraksi sentuhan (massase, memegang mainan), distraksi intelektual
(merangkai puzzle, main catur)
Beberapa teknik distraksi, antara lain :
1. Nafas lambat, berirama
2. Massage and Slow, Rhythmic Breathing
3. Rhytmic Singing and Tapping
4. Active Listening
5. Guide Imagery
c.   Guided Imagery (Imajinasi terbimbing)
Meminta klien berimajinasi membayangkan hal-hal yang menyenangkan, tindakan ini
memerlukan suasana dan ruangan yang tenang serta konsentrasi dari klien. Apabila klien
mengalami kegelisahan, tindakan harus dihentikan. Tindakan ini dilakukan pada saat
klien merasa nyaman dan tidak sedang nyeri akut.

6. Terapi Musik
Terapi musik terdiri dari 2 kata, yaitu kata “terapi” dan “musik”.
Terapi (therapi) adalah penanganan penyakit (Brooker, 2001). Terapi juga diartikan
sebagai pengobatan (Laksman, 2000). Sedangkan musik adalah suara atau nada yang
mengandung irama. Terapi musik adalah keahlian menggunakan musik atau elemen
musik oleh seseorang terapis untuk meningkatkan, mempertahankan dan mengembalikan
kesehatan mental, fisik, emosional dan spiritual.
Dalam kedokteran, terapi musik disebut sebagai terapi pelengkap (Complementary
Medicine), Potter juga mendefinisikan terapi musik sebagai teknik yang digunakan untuk
penyembuhan suatu penyakit dengan menggunakan bunyi atau irama tertentu. Jenis
musik yang digunakan dalam terapi musik dapat disesuaikan dengan keinginan, seperti
musik klasik, instrumentalia, dan slow musik.
Menurut Willougnby (1996), musik adalah bunyi atau nada yang menyenangkan untuk
didengar. Musik dapat keras, ribut, dan lembut yang membuat orang senang
mendengarnya. Orang cenderung untuk mengatakan indah terhadap musik yang
disukainya. Musik ialah bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda bergantung
kepada sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang.

b. NYeri farmakologi
1. Anestesi
Anestesi secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan
pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh.
Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846.
a) Pengelompokan Anestesi
Obat untuk menghilangkan nyeri terbagi ke dalam 2 kelompok,
yaitu analgetik dan anestesi. Analgetik adalah obat pereda nyeri tanpa disertai hilangnya
perasaan secara total. seseorang yang mengonsumsi analgetik tetap berada dalam keadaan
sadar.
Analgetik tidak selalu menghilangkan seluruh rasa nyeri, tetapi selalu
meringankan rasa nyeri. Beberapa jenis anestesi menyebabkan hilangnya kesadaran,
sedangkan jenis yang lainnya hanya menghilangkan nyeri dari bagian tubuh tertentu dan
pemakainya tetap sadar.
b) Tipe Anestesi
1) Pembiusan total — hilangnya kesadaran total.
2) Pembiusan lokal — hilangnya rasa pada daerah tertentu yang diinginkan (pada
sebagian kecil daerah tubuh). Pembiusan lokal atau anestesi lokal merupakan salah
satu jenis anestesi yang hanya melumpuhkan sebagian tubuh manusia dan tanpa
menyebabkan manusia kehilangan kesadaran. Obat bius jenis ini bila digunakan
dalam operasi pembedahan, maka setelah selesai operasi tidak membuat lama waktu
penyembuhan operasi.
3) Pembiusan regional — hilangnya rasa pada bagian yang lebih luas dari tubuh oleh
blokade selektif pada jaringan spinal atau saraf yang berhubungan dengannya.