Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Trauma muskuloskeletal adalah suatu keadaan ketika seseorang mengalami cedera pada
tulang, sendi dan otot karena salah satu sebab. Kecelakaan lalu lintas, olahraga dan kecelakaan
industri merupakan penyebab utama dari trauma muskuloskeletal. Seorang perawat dituntut
untuk mengetahui bagaimana perawatan klien dengan trauma muskuluskoletal yang mungkin
dijumpai di jalanan maupun selama melakukan asuhan keperawatan di rumah sakit. Pengangan
untuk klien dengan trauma muskuloskeletal memerlukan peralatan serta ketrampilan khusus yang
tidak semuanya dapat dilakukan oleh perawat. Trauma muskuloskeletal biasanya menyebabkan
difungsi struktur disekitarnya dan struktur pada bagian yang dilindungi atau disanggahnya.

B. Tujuan
 Untuk menambah pengetahuan penulis dan pembaca tentang trauma musculoskeletal
 Untuk menambah pengetahuan penulis dan pembaca tentang asuhan keperawatan trauma
musculoskeletal
 Sebagai bahan referensi bagi mahasiwa

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 KONSEP MEDIS

A. Definisi

Sistem muskuloskeletal meliputi tulang, persendian, otot dan tendon. Secara fisiologis,
sistem muskuloskeletal memungkinkan perubahan pada pergerakan dan posisi. Otot terbagi atas
tiga bagian yaitu ; otot rangka, otot jantung dan otot polos. (Joyce M Black, 2014). Trauma
muskuloskeletal adalah suatu keadaan ketika seseorang mengalami cedera pada tulang, sendi dan
otot karena salah satu sebab. Kecelakaan lalu lintas, olahraga dan kecelakaan industri merupakan
penyebab utama dari trauma muskuloskeletal. Sedangkan tulang dapat diklasifikasikan
berdasarkan bentuknya, yaitu :
1. Tulang panjang
Merupakan tulang yang lebih panjang dari lebarnya dan ditemukan di ekstermitas atas
dan bawah. Seperti humerus, radius, ulna, femur, tibia, fibula, metatarsal, metakarpal dan
falangs merupakan tulang panjang.
2. Tulang pendek
Misalnya karpal dan tarsal yang tidak memiliki axis yang panjang serta berbentuk kubus.
3. Tulang pipih
Misalnya rusuk, kranium, skapula dan beberapa bagian dari pelvis girdle dimana tulang
ini melindungi bagian tubuh yang lunak dan memberikan permukaan yang luas untuk
melekatnya otot.
4. Tulang irregular
Memiliki berbagai macam bentuk, seperti tulang belakang, osikel telinga, tulang wajah
dan pelvis. Tulang ireguler mirip dengan tulang lain dalam struktur dan
komposisi. (Joyce M Black, 2014)

Ada beberapa jenis dari trauma muskuloskeletal dimana tergantung letak dari
trauma. Trauma muskuloskeletal yang umum terjadi yaitu fraktur, strain, sprain, dislokasi
dan amputasi :

2
1. Fraktur
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan
dan sudut dari tenaga tersebut serta keadaan tulang dan jaringan lunak disekitar tulang
akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap.  Fraktur
adalah gangguan dari kontinuitas yang normal dari suatu tulang. Jika terjadi fraktur, maka
jaringan lunak disekitarnya juga akan terganggu.(Joyce M Black, 2014)
a. Fraktur terbuka
Fraktur terbuka dicirikan oleh robeknya kulit diatas cedera tulang. Fraktur terbuka
adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka  pada kulit dan
jaringan lunak sehingga terjadi kontaminasi bakteri
b. Fraktur tertutup
Fraktur tertutup adalah  fraktur dimana kulit tidak ditembus oleh fragmen tulang. Jadi
pada fraktur tertutup kulit masih utuh diatas lokasi cedera. (Brunner, 2001)

2. Strain
Strain merupakan suatu puntiran atau tarikan, robekan otot dan tendon. Strain adalah
tarikan otot akibat penggunaan berlebihan, peregangan berlebihan atau stres yang
berlebihan. (Brunner, 2001)

3.  Sprain
Sprain adalah cedera struktur ligamen di sekitar sendi, akibat gerakan mengepit atau
memutar. Fungsi ligamen adalah menjaga stabilitas namun masih menmungkinkan
mobilitas. Ligamen yang robek akan kehilangan kemampuan stabilitasnya. Sprain
merupakan peregangan atau robekan ligamen, fibrosa dari jaringan ikat yang
menggabungkan ujung satu tulang dengan tulang lainnya. (Joyce M Black, 2014)

B. Etiologi
Penyebab umum dari truma muskuloskeletal adalah kecelekaan lalu lintas, olahraga, jatuh
dan kecelakaan industri.

3
1. Fraktur
Etiologi atau penyebab dari fraktur adalah kelebihan beban mekanis pada suatu tulang,
saat tekanan yang diberikan pada tulang terlalu banyak dibandingkan yang mampu
ditanggunya. (Joyce M Black, 2014)
a. Trauma langsung
Tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan misalnya
benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna.
b. Trauma tidak langsung
Trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur dimana pada
keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh. Misalnya, jatuh bertumpu pada tangan
yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.

2. Strain
Penyebab dari strain bisa dari trauma langsung maupun tidak langsung misalnya (jatuh
dan tumbukan pada badan) yang mendorong sendi keluar dari posisinya kemudian
meregang. (Joyce M Black, 2014)

3. Sprain
Penyebab sprain sama dengan strain yaitu trauma langsung dan trauma tidak
langsung. (Joyce M Black, 2014)

C. Manifestasi klinis
1. Fraktur
a. Deformitas
Pembengkakkan dari perdarahan lokal dapat menyebabkan deformitas pada lokasi
fraktur. Deformitas adalah perubahan bentuk, pergerakan tulang jadi memendek
karena kuatnya tarikan otot-otot ekstermitas. (Joyce M Black, 2014)
b. Nyeri
Nyeri biasanya terus menerus menigkat jika fraktur tidak diimobilisasi. (Brunner,
2001)

4
c. Pembengkakkan atau edema
Edema terjadi akibat akumulasi cairan serosa pada lokasi fraktur serta ekstravasasi
cairan serosa pada lokasi fraktur ekstravasi darah ke jaringan sekitar.
d. Hematom atau memar
Memar terjadi karena perdarahan subkutan pada lokasi fraktur.
e. Kehilangan fungsi dan kelainan gerak. (Joyce M Black, 2014)

2. Strain
 Nyeri
 Kelemahan otot
 Pada sprain parah, otot atau tendon mengalami ruptur secara parsial atau komplet
bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan pasien akibat hilangya fungsi
otot. (Joyce M Black, 2014)

3. Sprain
 Adanya robekan pada ligament
 Nyeri
 Hematoma atau memar. (Joyce M Black, 2014)

D. Patofisiologi
1. Fraktur
Keparahan dari fraktur bergantung pada gaya yang menyebabkan fraktur, jika ambang
fraktur suatu tulang hanya sedikit terlewati, maka tulang mungkin hanya retak saja dan
bukan patah. Jika gayanya sangat ekstrem, seperti tabrakan mobil, maka tulang dapat
pecah berkeping-keping. Saat terjadi fraktur, otot yang melekat pada ujung tulang akan
terganggu. Otot dapat mengalami spasme dan menarik fragmen fraktur keluar posisi.
Kelompok otot yang besar dapat menciptakan spasme yang kuat dan bahkan mampu
menggeser tulang besar, seperti femur. Perdarahan terjadi karena cedera jaringan lunak
atau cedera pada tulang itu sendiri. Pada saluran sumsum (medula), hemotoma terjadi
diantara fragmen-fragmen tulang dan dibawah periosteum. Jaringan tulang disekitar
lokasi fraktur akan mati dan menciptakan respon peradangan yang hebat. Akan terjadi

5
vasodilatasi, edema, nyeri, kehilangan fungsi, esudasi plasma dan leukosit. (Joyce M
Black, 2014)

2. Strain
Kerusakan pada jaringan otot karena trauma langsung maupun trauma tidak langsung,
cedera ini terjadi akibat otot tertarik pada arah yang salah, kontraksi otot yang
berlebihan, otot yang belum siap terjadi pada bagian groin muscles (otot pada kunci
paha) dan otot guadriceps. Fleksibilitas otot yang baik bisa menghindarkan daerah
sekitar cedera memar dan membengkak.

3. Sprain
Adanya tekanan eksternal yang berlebihan menyebabkan suatu masalah yang disebut
sprain yang terutama terjadi pada ligamen. Ligamen akan mengalami robek dan
kemudian akan kehilangan kemampuan stabilitasnya. Hal tersebut akan membuat
pembuluh darah pecah dan akan menyebabkan hemotama serta nyeri.

E. Jenis- jenis fraktur


1. Fraktur Tertutup (Simple Fracture)

Fraktur tertutup adalah keadaan patah tulang tanpa disertai hilangnya integritas kulit.
Fraktur tertutup dapat menjadi salah satu pencetus terjadinya perdarahan internal
kekompartemen jaringan dan dapat menyebabkan kehilangan darah sekitar 500 cc tiap fraktur.
Setiap sisi patahan memiliki potensi untuk menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar
akibat laserasi pembuluh darah di dekat sisi patahan.

Fraktur tertutup biasanya disertai dengan pembengkakan dan hematom. Strain dan sprain
mungkin akan memberikan gejala seperti fraktur tertutup. Dan karena diagnosis pasti terjadinya
fraktur hanya dapat dilakukan dengan pemeriksaan radiologi, maka berilah penanganan strain
dan sprain seperti penanganan tehadap fraktur tertutup.

6
2. Fraktur Terbuka (Compound Fracture)

Fraktur terbuka adalah keadaan patah tulang yang disertai gangguan integritas kulit.Hal
ini biasanya disebabkan oleh ujung tulang yang menembus kulit atau akibat laserasi kulit yang
terkena benda-benda dari luar pada saat cedera.

Komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur terbuka adalah perdarahan eksternal,
kerusakan lebih lanjut pada otot-otot dan saraf serta terjadinya kontaminasi.Sangat penting untuk
mengenal adanya luka didekat fraktur karena bisa menjadi pintu masuk dari kontaminasi kuman.

Fraktur terbuka dapat ditemukan dengan mudah pada penderita trauma.Adanya luka
terbuka didekat daerah yang diduga terjadi fraktur, harus dipertimbangkan sebagai fraktur
terbuka dan harus diberikan penanganan seperti fraktur terbuka.Denyut nadi, pergerakan, sensasi
dan warna kulit harus segera dinilai dan terus dilakukan penilaian ulang secara berkala.

F. Tipe Fraktur
1. Fraktur Trasversal

Garis frakturnya memotong melintang dari arah luar sampai menembus bagian
tengah secara tegak lurus dari tulang biasanya disebabkan oleh kecelakaan langsung.

7
2. Fraktur Greenstick

Terjadi pada anak dimana tulang masih bisa dibengkokan seperti dahan yang masih
muda dan garis frakturnya melintang lurus pada bagian luar dari tulang perpendicular
sampai batas tengah tulang.

3. Fraktur Spiral

Biasanya terjadi karena kecelakaan memutar (terpelintir) dan garis frakturnya tidak
rata

4. Fraktur Oblique

Garis fraktur melintang pada tulang tegak lurus dan oblik.

5. Fraktur Comminuted

Dimana tulang terbagi menjadi lebih dari dua bagian.

8
6. Pemeriksaan Penunjang
1. X-ray menentukan lokasi atau luasnya fraktur
2. Scan tulang : mempelihatkan fraktur lebih jelas, mengidentifikasi kerusakan jaringan
lunak
3. Arteriogram : dilakukan untuk memastikan ada tidaknya kerusakan vaskuler pada
perdarahan; penigkatan lekosit sebagai respon terhadap peradangan
4. Kretinin : trauma otot menigkatkan beban kretinin untuk kliens ginjal
5. Profil koagulas : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi darah atau
cedera.(Amin Huda Nurarif, 2015)

7. Penatalaksanaan
1. Fraktur
a. Imobilisasi
Imobilisasi dapat dilakukan dengan metode eksternal dan internal mempertahankan dan
mengembalikan fungsi status neurovaskuler selalu dipantau meliputi peredaran darah,
nyeri, perabaan dan gerakan. Perkiraan waktu untuk imobilisasi yang dibutuhkan untuk
penyatuan tulang yang mengalami fraktur adalah sekitar 3 bulan. (Amin Huda Nurarif,
2015).
Alat imobilisasi yang sering digunakan, antara lain :
1. Bidai
Bidai adalah alat yang dipakai untuk mempertahankan kedudukan atau fiksasi tulang
yang patah. Tujuan pemasangan bidai untuk mencegah pergerakan tulang yang patah.
Syarat pemasangan bidai dimana dapat mempertahankan kedudukan 2 sendi tulang
didekat tulang yang patah dan pemasangan bidai tidak boleh terlalu kencang atau
ketat, karena akan merusak jaringan tubuh. (Yanti Ruly Hutabarat, 2016)
2. Gips
Gips merupakan alat fiksasi untuk penyembuhan tulang. Gips memiliki sifat
menyerap air dan bila itu terjadi akan timbul reaksi eksoterm dan gips akan menjadi
keras.

9
b. Reduksi
Langkah pertama pada penanganan fraktur yang bergeser adalah reduksi. Reduksi
fraktur berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi. Reduksi
merupakan manipulasi tulang untuk mengembalikan kelerusan, posisi dan panjang
dengan mengembalikan fragmen tulang sedekat mungkin serta tidak semua fraktur
harus direduksi. (Joyce M Black, 2014). Reduksi terbagi atas dua bagian, yaitu :
1. Reduksi tertutup
Pada banyakan kasus fraktur, reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan
fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan
manipulasi dan traksi manual. Reduksi tertutup harus segera dilakukan setelah
cedera untuk menimilkan efek deformitas dari cedera tersebut. (Brunner, 2001)

2. Reduksi terbuka
Reduksi terbuka merupakan prosedur bedah dimana fragmen fraktur disejajarkan.
Reduksi terbuka sering kali dikombinasikan dengan fiksasi internal untuk fraktur
femur dan sendi. Alat fiksasi internal dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku
atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam
posisinya sampai penyembuhan tulang. (Brunner, 2001)
c. Traksi
Traksi adalah pemberian gaya tarik terhadap bagian tubuh yang cedera, sementara
kontratraksi akan menarik ke arah yang berlawanan. Traksi dapat digunakan untuk
mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya trasi disesuaikan dengan spasme
otot yang terjadi. (Brunner, 2001)k

2. Strain
 Istirahan, kompres dengan air dingin  dan elevasi (RICE) untuk 24-48 jam pertama
 Perbaikan bedah mungkin diperlukan jika robekan terjadi pada hubungan tendon-
tulang
 Pemasangan balut tekan
 Selama penyembuhan (4-6 minggu) gerakan dari cedera harus
diminimalkan. (Joyce M Black, 2014)

10
3. Sprain
 Istirahat akan mencegah cedera tambahan dan mempercepat penyembuhan
 Meniggikan bagian yang sakit akan mengontrol pembengkakkan
 Kompres air dingin, diberikan secara intermiten 20-30 menit selama 24-48 jam
pertama setelah cedera. Kompres air dingin menyebabkan vasokontriksi akan
mengurangi perdarahan dan edema (Jangan berlebihan nanti akan mengakibatkan
kerusakan kulit). (Brunner, 2001)

11
ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA MUSKULOSKELETAL
A. Penilaian Awal Trauma Muskuloskeletal

Penderita trauma/multitrauma memerlukan penilaian dan pengelolaan yang cepat dan tepat
untuk menyelamatkan jiwa penderita. Waktu berperan sangat penting, oleh karena itu diperlukan
cara yang mudah, cepat dan tepat. Proses awal ini dikenal dengan Initial assessment ( penilaian
awal ). Penilaian awal meliputi:
1. Persiapan
2. Triase
3. Primary survey (ABCDE)
4. Resusitasi
5. Secondary survey 

Urutan kejadian diatas diterapkan seolah-seolah berurutan namun dalam praktek sehari-
hari dapat dilakukan secara bersamaan dan terus menerus.
1. Persiapan
Fase Pra-Rumah Sakit
a) Koordinasi yang baik antara dokter di rumah sakit dan petugas lapangan
b) Sebaiknya terdapat pemberitahuan terhadap rumah sakit sebelum penderita mulai
diangkutdari tempat kejadian.
c) Pengumpulan keterangan yang akan dibutuhkan di rumah sakit seperti waktu
kejadian, sebab kejadian, mekanisme kejadian dan riwayat penderita.
Fase Rumah Sakit
a) Perencanaan sebelum penderita tiba
b) Perlengkapan airway sudah dipersiapkan, dicoba dan diletakkan di tempat yang
mudah dijangkau
c) Cairan kristaloid yang sudah dihangatkan, disiapkan dan diletakkan pada tempat
yang mudah dijangkau
d) Pemberitahuan terhadap tenaga laboratorium dan radiologi apabila sewaktu-waktu
dibutuhkan.
e) Pemakaian alat-alat proteksi diri

12
2. Triase
Triase adalah cara pemilahan penderita berdasarkan kebutuhan terapi dan sumber daya
yang tersedia. Dua jenis triase :

a. Multiple Casualties
Jumlah penderita dan beratnya trauma tidak melampaui kemampuan rumah sakit.
Penderita dengan masalah yang mengancam jiwa dan multi trauma akan mendapatkan
prioritas penanganan lebih dahulu.
b. Mass Casualties
Jumlah penderita dan beratnya trauma melampaui kemampuan rumah sakit. Penderita
dengan kemungkinan survival yang terbesar dan membutuhkan waktu, perlengkapan
dan tenaga yang paling sedikit akan mendapatkan prioritas penanganan lebih dahulu.

3. Primary Survey 
A. Airway dengan kontrol servikal
1) Penilaian
 Mengenal patensi airway ( inspeksi, auskultasi, palpasi)
 Penilaian secara cepat dan tepat akan adanya obstruksi
2) Pengelolaan airway
 Lakukan chin lift dan atau jaw thrust dengan kontrol servikal in-line immobilisasi.
 Bersihkan airway dari benda asing bila perlu suctioning dengan alat yang rigid
 Pasang pipa nasofaringeal atau orofaringeal
 Pasang airway definitif sesuai indikasi.
3) Fiksasi leher
4) Anggaplah bahwa terdapat kemungkinan fraktur servikal pada setiap penderita
multi trauma, terlebih bila ada gangguan kesadaran atau perlukaan diatas klavikula.
5) Evaluasi

13
B. Breathing dan Ventilasi-Oksigenasi

1) Penilaian
 Buka leher dan dada penderita, dengan tetap memperhatikan kontrol servikal in-line
immobilisasi 
 Tentukan laju dan dalamnya pernapasan
 Inspeksi dan palpasi leher dan thoraks untuk mengenali kemungkinan terdapat deviasi
trakhea, ekspansi thoraks simetris atau tidak, pemakaian otot-otot tambahan dan tanda-
tanda cedera lainnya.
 Perkusi thoraks untuk menentukan redup atau hipersonor
 Auskultasi thoraks bilateral
2) Pengelolaan 
 Pemberian oksigen konsentrasi tinggi ( nonrebreather mask 11-12 liter/menit)
 Ventilasi dengan Bag Valve Mask
 Menghilangkan tension pneumothorax
 Menutup open pneumothorax
 Memasang pulse oxymeter 
3) Evaluasi 

C. Circulation Dengan Kontrol Perdarahan 


1) Penilaian
 Mengetahui sumber perdarahan eksternal yang fatal
 Mengetahui sumber perdarahan internal
 Periksa nadi : kecepatan, kualitas, keteraturan, pulsus paradoksus. Tidak
diketemukannya pulsasi dari arteri besar merupakan pertanda diperlukannya resusitasi
masif segera.
 Periksa warna kulit, kenali tanda-tanda sianosis.
 Periksa tekanan darah
2) Pengelolaan
 Penekanan langsung pada sumber perdarahan eksternal 

14
 Kenali perdarahan internal, kebutuhan untuk intervensi bedah serta konsultasi pada ahli
bedah.
 Pasang kateter IV 2 jalur ukuran besar sekaligus mengambil sampel darah untuk
pemeriksaan rutin, kimia darah, tes kehamilan (pada wanita usia subur), golongan darah
dan cross-match serta Analisis Gas Darah (BGA).
 Beri cairan kristaloid yang sudah dihangatkan dengan tetesan cepat
 Pasang PSAG/bidai pneumatik untuk kontrol perdarahan pada pasien-pasien fraktur
pelvis yang mengancam nyawa.
 Cegah hipotermia 
3) Evaluasi

D. Disability

1. Tentukan tingkat kesadaran memakai skor GCS/PTS


2. Nilai pupil : besarnya, isokor atau tidak, reflek cahaya dan awasi tanda-tanda lateralisasi
3. Evaluasi dan Re-evaluasi aiway, oksigenasi, ventilasi dan circulation

E. Exposure/Environment

1. Buka pakaian penderita


2. Cegah hipotermia : beri selimut hangat dan tempatkan pada ruangan yang cukup hangat.

4. Resusitasi
a. Re-evaluasi ABCDE
b. Dosis awal pemberian cairan kristaloid adalah 1000-2000 ml pada dewasa dan 20
mL/kg pada anak dengan tetesan cepat ( lihat tabel 2 )
c. Evaluasi resusitasi cairan
 Nilailah respon penderita terhadap pemberian cairan awal
 Nilai perfusi organ ( nadi, warna kulit, kesadaran dan produksi urin ) serta
awasi tanda-tanda syok

15
d. Pemberian cairan selanjutnya berdasarkan respon terhadap pemberian cairan
awal
 Respon cepat
 Pemberian cairan diperlambat sampai kecepatan maintenance
 Tidak ada indikasi bolus cairan tambahan yang lain atau
pemberian darah
 Pemeriksaan darah dan cross-match tetap dikerjakan
 Konsultasikan pada ahli bedah karena intervensi operatif
mungkin masih diperlukan
 Respon Sementara 
 Pemberian cairan tetap dilanjutkan, ditambah dengan pemberian
darah
 Respon terhadap pemberian darah menentukan tindakan operatif
 Konsultasikan pada ahli bedah ( lihat tabel 5 ).
 Tanpa respon
 Konsultasikan pada ahli bedah
 Perlu tindakan operatif sangat segera
 Waspadai kemungkinan syok non hemoragik seperti tamponade
jantung atau kontusio miokard
 Pemasangan CVP dapat membedakan keduanya

B. Trauma Muskuloskeletal yang Mengancam Jiwa

1. Kerusakan pelvis berat dengan perdarahan


a) Trauma
Fraktur pelvis yang disertai perdarahan seringkali disebabkan fraktur sakroiliaka,
dislokasi, atau fraktur sacrum. Arah gaya yang membuka pelvic ring akan merobek
pleksus vena di pelvis dan kadang-kadang merobek system, arteri iliakainterna (trauma
komprresi anterior-posterior). Pada tabrakan kendaraan, mekanisme fraktur pelvis yang
tersering adalah tekanan yang mengenai sisi lateral pelvis dan cenderung menyebabkan
hemipelvis rotasi ke dalam, mengecilkan rongga pelvis dan mengurangi regangan system

16
vaskularisasi pelvis. Gerakan rotasi ini akan menyebabkan pubis mendesak ke arah
sistem urogenital bawah,sehingga menyebabkan trauma uretra atau buli-buli.

b) Pemeriksaan
Diagnosis harus dibuat secepat mungkin agar dapat dilakukan resusitasi. Tanda
klinis yang paing penting adalah adanya pembengkakan atau hematom yang progresif
pada daerah panggul, skrotum dan perianal. Tanda-tanda trauma pelvicring yang tidak
stabil adalah adanya patah tulang terbuka daerah pelvix (terutama daerah perineum,
rectum atau bokong), high riding prostate (prostate letak tinggi), perdarahan di meatus
uretra, dan didapatkannya instabilitas mekanik. Instabilitas mekanik dari pelvic ring
diperiksa dengan manipulasi manuual dari pelvis. Petunjuk awalnya adalah dengan
ditemukannya perbedaan panjang tungkai atau rotasi tungkai ( biasanya rotasi eksternal )
tanpa adanya fraktur pada ekstremitas tersebut. Bila penderita sudah stabil, maka foto
rontgen AP pelvis akan menunjang pemeriksaan klinis.

c) Pengelolaan
Pengelolaan awal disrupsi pelvis berat disertai perdarahan memerlukan
penghentian perdarahan dan resusitasi cairan dengan cepat. Penghentian perdarahan
dilakukan dengan stabilisasi mekanik dari pelvic ring dan eksternal counter pressure.
Teknik sederhana dapat dilakukan untuk stabilisasi pelvissebelum penderita dirujuk.
Traksi kulit longitudinal atau traksi skeletal dapat dikerjakan sebagai tindakan pertama.
Prosedur ini dapat ditambah denganmemasang kain pembungkus melilit pelvis yang
berfungsi sebagai siling atau vacuum type long spine splinting device atau PASG. Cara-
cara sementara inidapat membantu stabilisasi awal. Fraktur pelvis terbuka dengan
perdarahan yang jelas, memerlukan balut tekan dengan tampon untuk menghentikan
perdarahan.

17
2. Perdarahan Besar Arterial

a. Trauma
Luka tusuk di ekstremitas dapat menimbulkan trauma arteri. Trauma tumpul
yangmenyebabkan fraktur atau dislokasi sendi dekat arteri dapat merobek arteri. Cedera ini dapat
menimbulkan perdarahan besar pada luka terbuka atau perdarahan di dalam jaringan lunak.

b. Pemeriksaan
Trauma ekstremitas harus diperiksa adanya perdarahan eksternal, hilangnya pulsasinadi
yang sebelumnya masih teraba, perubahan kualitas nadi, dan perubahan pada pemeriksaan
Doppler dan ankle/brachial index. Ekstremitas yang dingin, pucat, dan menghilangnya pulsasi
menunjukkan gangguan aliran darah arteri. Hematoma yangmembesar dengan cepat,
menunjukkan adanya trauma vaskuler.

c. Pengelolaan
Pengelolaan perdarahan besar arteri berupa tekanan langsung dan resusitasi cairan yang
agresif. Penggunaan torniket pneumatic secara bijaksana mungkin akan menolong
menyelamatkan nyawa. Penggunaan klem vaskular ditempat perdarahan pada ruang gawat
darurat tidak dianjurkan, kecuali pembuluh darahnya terletak disuperfisial dan tampak dengan
jelas. Jika fraktur disertai luka terbuka yang berdarah aktif, harus segera diluruskan dan dipasang
bidai serta balut tekan diatasluka. Pemeriksaan arteriografi dan penunjang yang lain baru
dikerjakan jika penderita telah teresusitasi dan hemodinamik normal.

3.Crush Syndrome ( Rabdomiolisis Traumatik )

a. Trauma
Crush syndrome adalah keadaan klinis yang disebabkan kerusakan otot, yang jika tidak
ditangani akan menyebabkan kegagalan ginjal. Kondisi ini terjadi akibatcrush injury pada massa
sejumlah otot, yang tersering paha dan betis. Keadaan ini disebabkan oleh gangguan perfusi otot,
iskemia dan pelepasan mioglobin.

18
b. Pemeriksaan
Mioglobin menimbulkan urine berwarna kuning gelap yang akan positif bila diperiksa
untuk adanya hemoglobin. Rabdomiolisis dapat menyebabkan hipovodemi, asidosis metabolik,
hiperkalemia, hipokalsemia dan DIC (Disseminated intravascular coagulation).

c. Pengelolaan
Pemberian cairan IV selama ekstrikasi sangat penting untuk melindungi ginjal dari gagal
ginjal. Gagal ginjal yang disebabkan oleh mioglobin dapat dicegah dengan pemberian cairan dan
diuresis osmotic untuk meningkatkan isis tubulus dan aliranurine. Dianjurkan untuk
mempertahankan output urine 100ml/jam sampai bebasdari mioglobin uria.

C. Trauma Yang Mengancam Muskuloskeletal

1.Patah Tulang Terbuka dan Trauma Sendi


a. Trauma
Pada patah tulang terbuka terdapat hubungan antara tulang dengan dunia luar.Kerusakan
ini disertai kontaminasi bakteri menyebabkan patah tulang terbuka mengalami masalah infeksi,
gangguan penyembuhan dan gangguan fungsi.

b. Pemeriksaan
Diagnosa didasarkan atas riwayat trauma dan pemeriksaan fisik ekstermitas yang
menemukan fraktur dengan luka terbuka, dengan atau tanpa kerusakaan luas otot serta
kontaminasi.Jika terdapat luka terbuka didekat sendi, harus dianggap luka ini berhubungan
dengan atau masuk kedalam sendi, dan konsultasi bedah harus dikerjakan. Tidak boleh
memasukkan zat warna atau cairan untuk membuktikan rongga sendi berhubungan dengan luka
atau tidak. Cara terbaik membuktikan luka terbuka padasendi adalah dengan eksplorasi bedah
dan pembersihan luka.
c. Pengelolaan
Setelah deskripsi atau trauma jaringan lunak, serta menentukan ada atau tidaknya
gangguan sirkulasi atau trauma saraf maka segera dilakukan imobilisasi. Penderita segera
diresusitasi secara adekuat dan hemodinamik sedapat mungkinstabil. Profilaksis tetanus segera
diberikan.

19
2. Trauma Vaskuler, termasuk amputasi traumatik 

a. Riwayat dan pemeriksaan


Trauma vaskuler harus dicurigai jika terdapat insufisensi vaskuler yang menyertai trauma
tumpul, remuk (crushing), puntiran, atau trauma tembus ekstremitas.Trauma vaskuler parsial
menyebabkan ekstremitas bagian distal dingin, pengisian kapiler lambat, pilsasi melemah dan
ankle/brachial index abnormal. Aliran yang terputus menyebabkan ekstremitas dingin, pucat dan
nadi tidak teraba.

b. Pengelolaan
Otot tidak mampu hidup tanpa aliran darah lebih dari 6 jam dan nekrosis akan segera
terjadi. Saraf juga akan sangat sensitif terhadap keadaan tanpa oksigen.Operasi revaskularisasi
segera diperlukan untuk mengembalikan aliran darah padaekstermitas distal yang terganggu. Jika
gangguan vaskularisasi disertai fraktur harus dikoreksi segera dengan meluruskan dan memasang
bidai. Iskemia menimbulkan nyeri hebat dan konsisten.Amputasi traumatik merupakan bentuk
terberat dari fraktur terbuka yang menimbulkan kehilangan ekstermitas dan memerlukan
konsultasi dan intervensi bedah. Patah tulang terbuka dengan iskemia berkepanjangan, trauma
saraf dankerusakan otot mungkin memerlukan amputasi.Penderita dengan trauma multipel yang
memerlukan resusitasi intensif dan operasi gawatdarurat bukan kandidat untuk
reimplantasi.Anggota yang teramputasi dicuci dengan larutan isotonic dan dibungkus kasasteril
dan dibasahi lautan penisilin (100.000 unit dalam 50 ml RL ) dan dibungkus kantong plastik.
Kantong plastik ini dimasukkan dalam termos berisi pecahan es, lalu dikirimkan bersama
penderita.

3. Cedera Syaraf akibat Fraktur – Dislokasi


a. Trauma
Fraktur atau/dan dislokasi, dapat menyebabkan trauma saraf yang disebabkan hubungan
anatomi atau dekatnya posisi saraf dengan persendian. Kembalinya fungsi hanya akan optimal
bila keadaan ini diketahui dan ditangani secara cepat.

b. Pemeriksaan
Pemeriksaan neurologis yang teliti selalu dilakukan pada penderita dengan trauma
musculoskeletal. Kelainan neurologis atau perubahan neurologis yang progresif harus dicatat.

20
Pada pemeriksaan biasanya akan didapatkan deformitas dari musculoskeletal. Pemeriksaan
fungsi saraf memerlukan kerja sama penderita. Setiap saraf perifer yang besar diperiksa fungssi
motorik dan sensorik perlu diperiksa secara sistematik. 

c. Pengelolaan
Ekstremitas yang cedera harus segera diimobilisasi dalam posisi dislokasi dan konsultasi
bedah segera dikerjakan. Setelah reposisi, fungsi saraf di reavaluasi dan ekstremitas dipasang
bidai.

4. Trauma Ekstremitas Yang Lain

a. Kontusio dan Laserasi


Secara umum laserasi memerlukan debridemen dan penutupan luka. Jika laserasimeluas
sampai dibawah fasia, perlu intervensi operasi untuk membersihkan luka danmemeriksa struktur-
struktur di bawahnya yang rusak. Kontusio umumnya dikenal karena ada nyeri dan penurunan
fungsi. Palpasi menunjukkan adanya pembengkakan lokal dan nyeri tekan. Kontusio diobati
dengan kistirahat dan pemakaian kompresdingin pada fase awal.

b. Trauma Sendi
Trauma sendi bukan dislokasi (sendi masih dalam konfigurasi anatomi normal tetapi
terdapat trauma ligamen) biasanya tidak mengancam muskuloskeletal, walaupun dapat
menurunkan fungsi musculoskeletal. Biasanya ditemukan adanya gaya abnormal terhadap
sebagian contoh tekanan terhadap bagian anterior yang mendorong kebelakang,tekanan terhadap
bagian lateral tungkai yang menimbulkan regangan valgus pada lutut atau dengan lengan
ekstensi sehingga menimbulkan trauma hiperfleksi siku.

c. Fraktur
Definisi fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang menimbulkan gerakan
abnormal disertai krepitasi dan nyeri. Krepitasi dan gerakan abnormal ditempat fraktur kadang-
kadang dilakukan untuk memastikn diagnosis,tetapi hal ini dapat menambah sangat nyeri
kerusakan jaringan lunak. Pembengkakan,nyeri tekan dan deformitas biasanya cukup untuk
membuat diagnosis fraktur. Mempertimbangkan status hemodinamik pasien, foto rontgen harus

21
mencakup sendiatas dan bawah tulang yang fraktur,untuk menyingkirkan dislokasi dan trauma
lain.

D. Definisi Kompartement Syndrome


Syndrome kompartemen merupakan suatu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan
interstitial dalam sebuah ruangan terbatas yakni kompartemen osteofasial yang tertutup.
Sehingga mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen jaringan.

Syndrome kompartemen yang paling sering terjadi adalah pada daerah tungkai bawah
(yaitu kompartemen anterior, lateral, posterior superficial, dan posterior profundus) serta lengan
atas (kompartemen volar dan dorsal)

Sindroma kompartemen merupakan suatu kondisi dimana terjadi penekanan terhadap


syaraf, pembuluh darah dan otot didalam kompatement osteofasial yang tertutup. Hal ini
mengawali terjadinya peningkatan tekanan interstisial, kurangnya oksigen dari penekanan
pembuluh darah, dan diikuti dengan kematian jaringan. Dapat dibagi menjadi akut, subakut dan
kronik.

E. Penyebab Kompartement Syndrome


Terdapat berbagai penyebab dapat meningkatkan tekanan jaringan lokal yang kemudian
memicu timbullny sindrom kompartemen, yaitu antara lain:

1) Penurunan volume kompartemen,Kondisi ini disebabkan oleh:


 Penutupan defek fascia
 Traksi internal berlebihan pada fraktur ekstremitas
2) Peningkatan tekanan eksternal
 Balutan yang terlalu ketat
 Berbaring di atas lengan
 Gips
3) Peningkatan tekanan pada struktur komparteman
Beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi ini antara lain:
 Pendarahan atau Trauma vaskuler
 Peningkatan permeabilitas kapiler

22
 Penggunaan otot yang berlebihan
 Luka bakar
 Operasi
 Gigitan ular
 Obstruksi vena

Sejauh ini penyebab sindroma kompartemen yang paling sering adalah cedera, dimana 45
% kasus terjadi akibat fraktur, dan 80% darinya terjadi di anggota gerak bawah.

F. Manifestasi Klinis

1. Gejala klinis yang terjadi pada syndrome kompartemen dikenal dengan 5 P yaitu:
Pain (nyeri) : nyeri yang hebat saat peregangan pasif pada otot-otot yang terkena,
ketika ada trauma langsung. Nyeri merupakan gejala dini yang paling penting.
Terutama jika munculnya nyeri tidak sebanding dengan keadaan klinik (pada anak-
anak tampak semakin gelisah atau memerlukan analgesia lebih banyak dari biasanya).
Otot yang tegang pada kompartemen merupakan gejala yang spesifik dan sering.
2. Pallor (pucat), diakibatkan oleh menurunnya perfusi ke daereah tersebut.
3. Pulselesness (berkurang atau hilangnya denyut nadi )
4. Parestesia (rasa kesemutan)
5. Paralysis : Merupakan tanda lambat akibat menurunnya sensasi saraf yang berlanjut
dengan hilangnya fungsi bagian yang terkena kompartemen sindrom.

Sedangkan pada kompartemen syndrome akan timbul beberapa gejala khas, antara lain:

1. Nyeri yang timbul saat aktivitas, terutama saat olehraga. Biasanya setelah berlari atau
beraktivitas selama 20 menit.
2. Nyeri bersifat sementara dan akan sembuh setelah beristirahat 15-30 menit.
3. Terjadi kelemahan atau atrofi otot.

G. Penatalaksanaan Kompartement Syndrome


Tujuan dari penanganan sindrom kompartemen adalah mengurangi defisit fungsi
neurologis dengan lebih dulu mengembalikan aliran darah lokal, melalui bedah dekompresi.

23
Walaupun fasciotomi disepakati sebagai terapi yang terbaik, namun beberapa hal, seperti timing,
masih diperdebatkan. Semua ahli bedah setuju bahwa adanya disfungsi neuromuskular adalah
indikasi mutlak untuk melakukan fasciotomi

Penanganan kompartemen secara umum meliputi:

1. Terapi Medikal/non bedah


Pemilihan terapi ini adalah jika diagnosa kompartemen masih dalam bentuk dugaan
sementara. Berbagai bentuk terapi ini meliputi:
a. Menempatkan kaki setinggi jantung, untuk mempertahankan ketinggian kompartemen
yang minimal, elevasi dihindari karena dapat menurunkan aliran darah dan akan lebih
memperberat iskemia.
b. Pada kasus penurunan ukuran kompartemen, gips harus di buka dan pembalut kontriksi
dilepas.
c. ada kasus gigitan ular berbisa, pemberian anti racun dapat menghambat perkembangan
sindroma kompartemen.
d. Mengoreksi hipoperfusi dengan cairan kristaloid dan produk darah.
e. Pada peningkatan isi kompartemen, diuretik dan pemakainan manitol dapat mengurangi
tekanan kompartemen. Manitol mereduksi edema seluler, dengan memproduksi kembali
energi seluler yang normal dan mereduksi sel otot yang nekrosis melalui kemampuan dari
radikal bebas.

2. Terapi Bedah
a. Fasciotomi dilakukan jika tekanan intrakompartemen mencapai > 30 mmHg. Tujuan
dilakukan tindakan ini adalah menurunkan tekanan dengan memperbaiki perfusi otot.
Jika tekanannya < 30 mm Hg maka tungkai cukup diobservasi dengan cermat dan
diperiksa lagi pada jam-jam berikutnya. Kalau keadaan tungkai membaik, evaluasi
terus dilakukan hingga fase berbahaya terlewati. Akan tetapi jika memburuk maka
segera lakukan fasciotomi. Keberhasilan dekompresi untuk perbaikan perfusi adalah 6
jam. Terdapat dua teknik dalam fasciotomi yaitu teknik insisi tunggal dan insisi
ganda.Insisi ganda pada tungkai bawah paling sering digunakan karena lebih aman

24
dan lebih efektif, sedangkan insisi tunggal membutuhkan diseksi yang lebih luas dan
resiko kerusakan arteri dan vena peroneal.

Diagnosa
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik
2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan musculoskeletal
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan imobilitas

ASKEP
no Diagnosa NOC NIC
1 Nyeri akut b/d 1. control nyeri 1. Manajemen nyeri
agen cidera fisik  mengenali kapan  Lakukan pengkajian nyeri
nyeri terjadi komprehensifyang meliputi
 menggunakan lokasi, karakteristik, onset atau
analgesic yang durasi frekwensi kwalitas,
direkomendasikan intensif atau beratnya nyeri
 melaporkan nyeri  Evaluasi bersama paien an tim
yang terkontrol kesehatan lainya, mengenai
2. tingkat nyeri aktivitas tindakan pengontrolan
 nyeri yang dilaporkan nyeri yan pernah digunakan
 ekspresi nyeri wajah sebelum nya

 mengerang dan 2. pemberian analgesic


menangis  cek adanya alergi obat
 pilih analgetik/ kombinasi
analgesic yang sesuai ketika
lebih dari 1 diberikan
 tentukan pilihan obat analgesic
2 Hambatan 1. pergerakan 3. manajemen energy
mobilitas fisik  gerakan otot  monitor sumber kegiatan
b/d gangguan  gerakan sendi olahraga dan kelelahan
musculoskeletal  kinerja pengaturan emosional yang dialami pasien

25
tubuh  anjurkan paseien untuk memilih
2. ambulasi aktivitas untuk membangun
 menopang berat badan ketahan pasien
 berjalan dengan  evaluasi secara bertahap
langkah yang efektif kenaikan level aktivitan pasien
 berjalan dengan pelan 4. terapi latihan : control otot
 evaluasi fungsi sensori
(penglihatan, pendengaran,
perabaan)
 gunakan stimulasi sentuhan
untuk mengurangi kram otot
 orientasikan ulang pasien
terhadap keadaran tubuh
3 Intoleransi 1. toleransi terhadap 2. manaemen energi
aktivitas b/d aktifitas 3. terapi latihan control : otot
imobilitas  saturasi oksigen
ketika beraktivitas
 frekuensi nadi ketika
beraktivitas
 frekuensi pernapasan
ketika beraktivitas

BAB III

26
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Ketika terjadi trauma muskuloskeletal harus segera di tangani karena jika tidak ditangani
secara dini maka akan menyebabkan kerusakan yang lebih parah. Imobilisasi, reduksi dan traksi
untuk fraktur merupakan penatalaksanaan untuk pasien fraktur. Imobilisasi dini harus dilakukan
untuk mencegah deformitas dan sebagai penyangga tulang yang patah. Ketika dicurigai adanya
fraktur cervical, maka pasang neck collar untuk membatasi gerakkan leher sehingga tidak
memperburuk keadaan leher. Jika fraktur terbuka, luka ditutup dengan pembalut bersih (steril)
untuk mencegah kontaminasi bakteri.

B. Saran
1. Untuk mahasiswa, agar melakukan tindakan sesuai dengan proseur dan
mempersiapkan diri dengan baik sebelum melakukan tindakan agar tidak terjadi
kesalahan yang fatal
2. Untuk dosen, agar lebih memperhatikan mahasiswa dan mampu memberi pemahaman
yang lebih jelas kepada mahasiswa tentang materi prasat yang dibawakan.
3. Untuk tenaga kesehatan (perawat), ketika memberikan pelayanan kesehatan pada
pasien selalu mengutamakan keamanan penolong kemudian aman yang ditolong
dengan selalu menggunakan APD.

DAFTAR PUSTAKA

27
Burner dan Sudarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medical-Bedah. Jakarta; EGC

Herdman Heather T dan Shigemi Kamitsuru. 2015. Nanda Internasional Defining The
Knowledge Of Nursing Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2015- 2017. Edisi 10.
Jakarta: EGC

M Black Joyce dan Jane Hokanson Hawks. 2014. Keperawatan Medical Bedah Manajemen
Klinis Untuk Hasil Yang Diharapkan. Jakarta; CV Pentasada Media Edukasi

Nuririf Huda Amin dan Hardi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc. Jilid 2.

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3. No 2 Desember 2015

28