Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

MANAJEMEN HUBUNGAN LEMBAGA PENDIDIKAN DENGAN


MASYARAKAT
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen dan Administrasi Sekolah

Dosen pengampu :
Dr. H. Amka, M.Si.
Tenty Jahrina Ramli, M.Pd.

Disusun oleh:
Irma Noviyanti Pasaribu (2010129120007)
Juhar Latifah (2010129220010)
Nor Aisyah (2010129120002)
Yusuf Basri (2010129110003)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
AGUSTUS 2021
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan
hidayah-nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah “Manajemen
Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat” ini tepat pada
waktunya.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. H. Amka, M.Si. dan
Ibu Tenty Jahrina Ramli, M.Pd. selaku dosen pengampu “Manajemen Dan
Administrasi Sekolah” yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat
menambah wawasan pengetahuan sesuai bidang studi yang kami tekuni.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
ini. Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan
makalah ini.

Banjarmasin, Agustus 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
BAB 1 PENDAHULUAN .............................................................................. 1
1.1. Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah............................................................................... 2
1.3. Tujuan ................................................................................................ 2
1.4. Manfaat .............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 3
2.1. Pengertian dan Tujuan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat........ 3
2.2. Bentuk Kerjasama Sekolah dengan Masyarakat................................ 5
2.3. Jenis-jenis Kegiatan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat............ 6
2.4. Peningkatan dan Pendayagunaan Partisipasi Masyarakat.................. 7
2.5. Hambatan/kendala lembaga dalam kerjasama dengan masyarakat.... 8
BAB III PENUTUP ........................................................................................ 11
3.1. Kesimpulan ........................................................................................ 11
3.2. Saran .................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Sekolah adalah lembaga pendidikan yang mana tempat memberi dan
menerima pelajaran yang sesuai dengan bidangnya, pada umumnya sekolah
menyelenggara kegiatan Pendidikan Formal. Sekolah merupakan sistem
terbuka terhadap lingkungan termasuk masyarakat yang menjadi
pendukungnya. Sebagaimana sistem terbuka, sekolah juga selalu siap
menerima warga masyarakat, terhadap ide-ide yang disampaikan, kebutuhan-
kebutuhan mereka dan terhadap nilai-nilai yang ada di masyarakat.
Sebaliknya masyarakat juga membuka diri untuk menerima dan
mengakomodir terhadap aktivitas-aktivitas sekolah.
Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada dan terjadi
dalam proses pendidikan, karena kelompok benda-benda atau lingkungan
pendidikan ikut berperan serta dalam usaha mengembangkan dirinya. Dalam
hal ini manajemen pendidikan menaruh perhatian kepada lingkungan yang
berwujud manusia yaitu masyarakat dalam mewujudkan suatu proses
pendidikan yang bermutu.
Untuk menciptakan situasi dan kondisi yang harmonis antara pihak
pengelola sekolah dan masyarakat, maka sangat dibutuhkan kerja sama dan
kontak dari kedua pihak secara simultan dan komprehensif. Hubungan
masyarakat telah di fomulasikan dengan cara yang berbeda-beda tergantung
pada lembaga atau organisasi yang membuat formulasi tersebut. Dengan
adanya hubungan sekolah dengan masyarakat, sekolah dapat mengetahui
sumber-sumber yang ada dalam masyarakat yang kemudian di daya gunakan
untuk kepentingan kemajuan pendidikan anak di sekolah.
Di pihak lain, masyarakat juga dapat mengambil manfaat dengan turut
mengenyam dan menyerap ilmu pengetahuan sekolah. Dari sini kehidupan
masyarakat akan di tingkatkan. Oleh karenanya, masyarakat dapat mengerti
dan memahami tujuan pendidikan dan pelaksanaan pendidikan yang
berlangsung di sekolah tersebut.

1
1.2. RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini akan membahas dan menjelaskan beberapa hal yang
menjadi rumusan masalah yaitu:
1. Apa itu lembaga pendidikan?
2. Apa tujuan adanya hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat?
3. Bagaimana bentuk kerjasama lembaga pendidikan dengan masyarakat?
4. Apa saja jenis-jenis hubungan sekolah dengan masyakarat?
5. Bagaimana meningkatkan dan pendayagunaan hubungan pendidikan
dengan masyarakat?
6. Apa saja hambatan lembaga pendidikan dalam melakukan kerjasama
dengan masyarakat?

1.3. TUJUAN
Tujuan makalah ini diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Dapat mengetahui apa itu lembaga pendidikan
2. Dapat mengetahui tujuan adanya hubungan lembaga pendidikan dengan
masyarakat
3. Dapat mengetahui bentuk kerjasama lembaga pendidikan dengan
masyarakat
4. Dapat mengetahui jenis-jenis hubungan sekolah dengan masyarakat
5. Dapat mengetahui bagaimana cara meningkatkan dan pendayagunaan
hubungan pendidikan dengan masyarakat
6. Dapat mengetahui hambatan lembaga pendidikan dalam melakukan kerja
sama dengan masyarakat

1.4. MANFAAT
Hubungan sekolah dengan masyarakat akan saling terbuka untuk
perkembangan peserta didik dan membuat lembaga pendidikan sangat
penting untuk dikembangkan serta menyadari bahwa sekolah perlu partisipasi
masyarakat sehingga membangun pendidikan lebih maju. Makalah ini juga
bermanfaat sebagai referensi dalam pemabahasan hubungan atau kerjasama
sekolah dengan masyarakat.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian dan Tujuan Hubungan Lembaga Pendidikan Dengan


Masyarakat
Sekolah dan masyarakat adalah lingkungan hidup yang tidak dapat
dipisahkan. Sekolah sebagai tempat belajar sedangkan lingkungan masyarakat
merupakan tempat implikasi dari proses pendidikan dan pengajaran
disekolah. Apa dan bagaimana belajar disekolah selalu dikaitkan dengan
kegunaanya bagi peningkatan hidup dan kehidupan dimasyarakat.
Di dalam sejarah pendidikan di kemukakan bahwa sejak zaman
pendidikan China kuno dan Yunani kuno telah dijumpai adanya sekolah
sebagai lembaga pendidikan. Perkataan “sekolah” berasal dari perkataan
Yunani :schola” yang artinya waktu nganggur atau waktu senggang. Bangsa
Yunani kuno mempunyai kebiasaan menggunakan waktu senggangnya untuk
berdiskusi guna menambah ilmu dan mencerdaskan akal.
Husemas adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dan
masyarakat untuk meningkatkan pengertian masyarakat tentang kebutuhan
serta kegiatan pendidikan serta mendorong minat dan kerjasama masyarakat
yang dilakukan secara berkesinambungan dalam peningkatan dan
pengembangan sekolah.
Manajemen yang penting di sekolah adalah manajemen hubungan
masyarakat (humas), karena sekolah berada di tengah-tengah masyarakat dan
selalu berhubungan dalam menjalin kerja sama yang pedagogis dan sosiologis
yang menguntungkan kedua bela pihak. Terjalinnya kerja sama antara pihak
sekolah dengan masyarakat tentunya akan lebih mempermudah untuk
terciptanya pendidikan yang diharapkan. Lembaga pendidikan sekolah adalah
sub-sub sistem dari sistem pendidikan, yang terdiri atas beberapa unsur yang
fungsional saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Lambat laun usaha
tersebut diselenggarakan secara teratur dan terencana (secara formal),
sehingga akhirnya timbullah sekolah sebagai lembaga pendidikan formal
yang bertugas untuk menambah ilmu pengetahuan dan kecerdasan akal.

3
Lembaga Pendidikan merupakan sebuah bagian yang penting dalam
kehidupan seorang peserta didik, sesuai dengan pendidikan nasional lembaga
pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa, serta bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pelibatan masyarakat bertujuan untuk melengkapi kekurangan dan
membantu lembaga pendidikan. Hal ini berarti lembaga pendidikan sekolah
mempunyai tujuan untuk mengembangkan semua potensi yang di miliki
manusia yaitu mulai dari tahapan kognisi, yakni pengetahuan dan pemahaman
siswa terhadap ajaran agama dan pengetahuan umum, untuk selanjutnya di
lanjutkan dengan tahapan efeksi, yaitu terjadinya proses internalisasi ajaran,
nilai agama dan pengetahuan ke dalam diri siswa, dalam arti menghayati dan
meyakini.
Tugas lembaga pendidikan pada intinya adalah sebagai wadah untuk
memberikan pengarahan, bimbingan dan pelatihan agar manusia dengan
segala potensi yang di milikinya (jasmani dan rohani) yang di berikan Tuhan
Yang Maha Esa dapat di kembangkan dengan sebaik-baiknya.
Esensi hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat adalah
untuk meningkatkan keterlibatan, kepemilikan dan dukungan dari masyarakat
terutama dukungan moral dan finansial. Dalam arti yang sebenarnya
hubungan lembaga pendidikan sekolah dengan masyarakat adalah untuk
menjalin kerja sama dan bersam-sama bertanggung jawab terhadap
keberhasilan dan kemajuan pendidikan, sehingga akan di butuhkan
peningkatan intensitas dan ekstensitas hubungan lembaga pendidikan sekolah
dengan masyarakat.

4
2.2. Bentuk Kerjasama Sekolah dengan Masyarakat
Agar terciptanya sebuah hubungan yang baik dan lebih erat antara
sekolah dengan masyarakat tentunya kedua belah pihak harus menjalin
sebuah kerja sama. Berikut beberapa bentuk kerja sama sekolah dengan
masyarakat antara lain:
a. Berkunjungnya pihak sekolah (guru) ke rumah peserta didik
Tentunya cara ini bermanfaat bagi kedua belah pihak dikarenakan
anak selalu merasa diperhatikan, untuk orang tua juga akan termotivasi
untuk mengadakan sebuah kerja sama dengan pihak sekolah. Bagi pihak
sekolah dan guru juga mendapatkan manfaat karena bisa secara langsung
melakukan observasi dan wawancara untuk lebih mengenal peserta didik.
b. Berkunjungnya masyarakat (orang tua) ke sekolah
Apabila ada sebuah acara yang diselenggarakan pihak sekolah dan
memungkinkan untuk dihadiri pihak masyarakat seperti acara pameran
sebuah hasil karya, kegiatan keagamaan dan lain sebagainya. Tentunya
cara ini juga akan semakin membuat hubungan sekolah dengan
masyarakat semakin baik.
c. Case conference
Dalam hal ini adanya rapat yang biasanya dalam konteks
bimbingan dan konseling yang berkaitan dengan proses yang ada di
sekolah dan masyarakat.
d. Badan pembantu sekolah
Lembaga atau organisasi masyarakat dan pihak sekolah ditujukan
untuk menjalin kerja sama antar keduanya agar bisa tercapainya tujuan
untuk memajukan mutu sekolah dan mempererat hubungan antar kedua
belah pihak.
e. Mengadakan surat menyurat antara sekolah dengan masyarakat
Pada waktu-waktu tertentu surat menyurat memang diperlukan,
tujuannya untuk membaiki pendidikan peserta didik misalnya seperti
pemberian surat peringatan dari pihak sekolah kepada orang tua jika
anaknya membuat kesalahan yang berulang bahkan fatal. Selain itu surat

5
menyurat juga bermanfaat untuk orang tua agar bisa memantau anaknya
di sekolah.
f. Adanya daftar rapot atau nilai
Selain surat menyurat, rapot juga merupakan sebuah penghubung
antara sekolah dengan orang tua murid. Dengan adanya rapot pihak
sekolah dapat membri saran agar orang tua mendorong anaknya untuk
lebih giat lagi mengembangkan bakat dan apa yang sudah diraihnya.

Itulah bentuk kerja sama antara sekolah dengan masyarakat. Agar


kerja sama tersebut berjalan efektif dan mendapat respon yang baik dari
masyarakat, maka pihak sekolah dangan asyarakat harus terus memelihara
hubungan harmonis tersebut dengan cara saling menjalin komunikasi antar
kedua belah pihak sehingga dapat mendorong tanggung jawab dan minat dari
masyarakat dalam memajukan sekolah. Semakin lancar komunikasi pihak
sekolah dengan masyarakat maka semakin besar keberhasilan kerja sama
sekolah dengan masyarakat.

2.3. Jenis-jenis Hubungan Sekolah dan Masyarakat


Ada 3 jenis hubungan sekolah dan masyarakat yaitu sebagai berikut:
a. Hubungan edukatif, sebuah hubungan kerja sama antara pihak sekolah
dengan orang tua dalam hal mendidik peserta didik. Hubungan kerja
sama lainnya berusaha untuk memenuhi fasilitas-fasilitas yang
diperlukan dalam pembelajaran peserta didik di sekolah maupun di
sekolah. Dengan adanya hubungan edukatif ini, sekolah dan orang tua
peserta didik diharapkan mampu menyelesaikan masalah-masalah yang
ada sehingga mampu meningkatkan mutu pendidikan bagi peserta didik.
b. Hubungan kultural, sebuah hubungan kerja sama antara pihak sekolah
dan masyarakat dengan adanya saling mengembangkan dan membina
kebudayaan masyarakat di tempat sekolah tersebut. Untuk bisa
menjalankan hubungan kultural ini maka pihak sekolah harus
mengerahkan peserta didik agar berpartisipasi dalam membantu kegiatan-

6
kegiatan sosial yang ada di masyarakat. Sehingga para peserta didik
memiliki rasa bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.
c. Hubungan institusional, hubungan kerja sama antara pihak sekolah
dengan lembaga-lembaga yang resmi baik itu pemerintah maupun swasta
contohnya seperti hubungan kerja sama sekolah dengan kepala
pemerintahan setempat, dengan sekolah-sekolah lain, dengan perusahaan
negara atau swasta, jawatan penerangan, pertanian, peternakan dan
perikanan.

2.4. Peningkatan Dan Pendayagunaan Partisipasi Masyarakat


Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah
(sekolah), keluarga dan masyarakat. Ini mengisyaratkan bahwa orang tua
murid dan masyarakat mempunyai tanggung jawab untuk berpartisipasi,
Partisipasi yang tinggi dari orang tua murid dalam pendidikan di sekolah
merupakan salah satu ciri dari pengelolaan sekolah yang baik, artinya sejauh
mana masyarakat dapat diberdayakan dalam proses pendidikan di sekolah
adalah indikator terhadap manajemen sekolah yang bersangkutan.
Pemberdayaan masyarakat dalam pendidikan ini merupakan sesuatu yang
esensial bagi penyelenggaraan sekolah yang baik (Kumars, 1989). Adapun
cara masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan dapat ditempuh dengan
beberapa cara, diantaranya :
 Berperan aktif dalam diskusi mengenai sekolah dan pembinaan sekolah
di lingkungan masing-masing.
 Menyebarluaskan pesan-pesan mengenai pentingnya menyelesaikan
pendidikan dasar sembilan tahun baik pertemuan masyarakat, maupun
melalui pertemuan agama.
 Melakukan dialog dengan pejabat pemerintah setempat agar mereka lebih
peduli atas kebutuhan-kebutuhan sekolah, baik secara perorangan
maupun kelompok (organisasi).
 Memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk berpartisipasi dalam
perkumpulan sosial dan budaya di masyarakat, serta menyediakan waktu
untuk belajar bagi mereka di rumah di bawah pengawasan orang tua.

7
 Menghadiri rapat di sekolah apabila mereka diundang .
 Berkomunikasi melalui surat, telepon dan majalah sekolah untuk
mengkomunikasikan berbagai hal seputar kegiatan pendidikan, juga
dapat menginformasikan hambatan dan kemajuan anak dalam belajar
sekaligus memberikan masukan atau umpan balik kepada sekolah.

2.5. Hambatan atau Kendala yang Dihadapi Lembaga Pendidikan Dalam


Kerjasama Dengan Masyarakat
Grant dan Ray (Suriansyah, 2014:64) menyatakan ada sejumlah
hambatan yang ditemui dalam membangun keterlibatan keluarga di sekolah
mencakup aspek : economics, self efficacy, intergeneration, time demand,
cultural norms and value class room culture and past experience.
 Economics (lack of money and transportation) ekonomi (kekurangan
uang dan transportasi).
Orangtua murid/keluarga yang memiliki tingkat ekonomi masih
rendah sering disibukkan dengan pekerjaan sehari-hari untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari. Kesibukan ini menyebabkan mereka
cenderung sulit untuk berpartisipasi/terlibat aktif dalam berbagai kegiatan
bersama sekolah.
 Self efficacy (lack of confident in ability to help, language consideration)
atau kebahagiaan sendiri (kurangnya percaya diri dalam kemampuan
untuk membantu, pertimbangan bahasa).
Hambatan ini berkaitan dengan kurangnya percaya diri dari
masyarakat atau orangtua murid akan kemampuan untuk membantu
sekolah, demikian juga dengan pihak sekolah sendiri sering muncul
perasaan ketidak percayaan akan kemampuan untuk mampu membantu
orangtua murid dalam mengatasi masalah-masalah pendidikan anak di
rumah, akibatnya hubungan klaboratif tidak dilakukan secara optimal.
 Intergenrational faktor (their parents uninvolved) atau faktor
antargenerasi (orangtua mereka tidak terlibat)
Faktor ini merupakan salah satu faktor yang dapat mengganggu
terciptanya kemitraan dan keterlibatan orangtua murid dan masyarakat

8
terhadap pendidiakn di sekolah. Orang tua murid yang usianya sangat tua
atau tokoh masyarakat yang sudah sepuh cenderung tidak mau terlibat
banyak dalam berbagai kegiatan kolaboratif, meskipun sebenarnya
keterlibatan mereka sangat dibutuhkan oleh sekolah. Sehingga sering
sekolah tetap menyantumkan nama tokoh dalam struktur tim atau komite
tertentu di sekolah tetapi sebenarnya mereka tidak bisa banyak berbuat di
sekolah.
 Time demands (work related, child care, elder care) atau faktor tuntutan
waktu
Hal ini berhubungan dengan pekerjaan, perawatan anak, perawatan
orangtua. Faktor waktu merupakan salah satu hal yang menjadi
pertimbangan bagi masyarakat dan orangtua murid untuk terlibat dalam
berbagai kegiatan kolaborasi untuk membantu sekolah. Lebih-lebih
masyarakat atau orangtua murid di pedesaan dengan pekerjaan petani,
lebih banyak waktu di sawah yang mengakibatkan tidak memiliki waktu
yang cukup dalam kegiatan kolaboratif atau partisipasinya. Dalam
kondisi seperti ini diperlukan kreativitas guru dan kepala sekolah dalam
melakukan manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat.
 Culture norms and values (teacher as expert) atau faktor norma dan nilai
budaya (guru sama dengan seorang ahli)
Faktor budaya yang melekat dan pandangan yang kuat seakan-akan
guru adalah seorang ahli (expert) sehingga memiliki kemampuan untuk
mengatasi segala masalah yang ada sudah sangat kuat. Akibatnya,
orangtua sering menyerahkan sepenuhnya keberhasilan pendidikan
anaknya kepada pihak sekolah, karena pihak sekolah dianggap sebagai
pihak yang memiliki kemampuan untuk membentuk anak-anak mereka.
Kepala sekolah perlu meyakinkan guru dan orangtua murid serta
masyarakat, bahwa sehebat apapun guru dan sekolah tidak akan mampu
membuat anak berprestasi luar biasa tanpa dukungan orangtua murid dan
masyarakat demikian pula sebaliknya.

9
 Classroom culture (not viewed as welcoming to parents) atau faktor
budaya kelas yang tidak terbuka menyambut orangtua murid sebagai
tamu
Keterbukaan sekolah dan kelas untuk partisipasi orangtua murid
dan masyarakat masih belum optimal. Ada keraguan pihak guru dan
sekolah akan keterlibatan optimal mereka, terkadang muncul ketakutan
kalau orangtua murid dan masyarakat melakukan intervensi pada hal-hal
teknis yang menjadi kewenangan guru. Sekolah dan guru takut dicampuri
tugas dan kewenangannya dan takut sekolah justru menjadi bermasalah
dengan keterlibatan orangtua murid dan masyarakat secara optimal di
sekolah.
 Past experience (negatif experiences with school) atau faktor pengalaman
masa lalu (pengalaman negatif dengan sekolah)
Sekolah sering memiliki pengalaman negatif akibat keterlibatan
orangtua murid dan masyarakat terhadap sekolah. Hal ini membawa dan
mempengaruhi sekolah untuk enggan berbuat banyak dalam membangun
kemitraan yang optimal.

10
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Berdasarkan makalah diatas dapat disimpulkan bahwa sekolah dan
masyarakat adalah lingkungan hidup yang tidak dapat dipisahkan. Sekolah
sebagai tempat belajar sedangkan lingkungan masyarakat merupakan tempat
implikasi dari proses pendidikan dan pengajaran disekolah. Lembaga
pendidikan sendiri bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab. Adapun bentuk kerjasama sekolah dengan
masyarakat yaitu berkunjungnya pihak sekolah kerumah peserta didik,
masyarakat berkunjung ke sekolah, adanya case conference, dibentuknya
badan pembantu sekolah, dan juga mengadakan surat menyurat antar sekolah
dan masyarakat. Jenis-jenis hubungan sekolah dengan masyarakat yang dapat
terjalin seperti hubungan edukatif, kultural, dan institusional. Partisipasi yang
tinggi dari orang tua murid dan juga masyarakat dalam pendidikan di sekolah
merupakan salah satu ciri dari pengelolaan sekolah yang baik. Ada juga
sejumlah hambatan yang ditemui dalam membangun keterlibatan keluarga di
sekolah mencakup aspek economics, self efficacy, intergeneration, time
demand, cultural norms and value class room culture and past experience.

3.2. Saran
Menurut kami masih banyak hal-hal yang berhubungan dengan kerja
sama sekolah dengan masyarakat yang masih belum terlaksana dengan baik,
bahkan ada juga yang sama sekali tidak terlaksana. Mungkin karena
kurangnya kesadaran bahwa sangat pentingnya adanya hubungan yang baik
antara sekolah dengan masyarakat agar terciptanya peserta didik yang lebih
baik. Dengan begitu akan lebih baik jika ditingkatkan lagi pengetahuan
tentang hubungan sekolah dan masyarakat, tujuannya, bentuk partisipasinya
agar bisa terjalinnya hubungan yang baik sekolah dan masyarakat.

11
DAFTAR PUSTAKA

Astuti, Putri. 2019. Hubungan Sekolah dengan Masyarakat. Padang:


Universitas Negeri Padang.

Irawanda, Gita, dan M. Bachtiar. (2020). Manajemen Hubungan Sekolah dan


Masyarakat. Jurnal Administrasi, Kebijakan, dan Kepemimpinan
Pendidikan (JAK2P), 1(1), 25-36.

Jabar, Cepi Safruddin Abdul, dkk. 2016. Manajemen Pendidikan.


Yogyakarta: UNY Press.

Juhji, Bernadheta Nadeak, dkk. 2020. Manajemen Humas pada Lembaga


Pendidikan. Bandung: Widina Bhakti Persada Bandung.

M, Suardi. (2017). Analisis Manajemen Humas dalam Upaya Meningkatkan


Partisipasi Masyarakat Terhadap Lembaga Pendidikan. Kelola:
Journal of Islamic Education Management, 2(2), 117-126.

Perni, Ni Nyoman. (2018). Tantangan dalam Manajemen Sekolah Dasar. Adi


Widya: Jurnal Pendidikan Dasar, 3(1), 37-48.

Rahmat, Abdul. 2016. Manajemen Humas Sekolah. Yogyakarta: Media


Akademi.

Sahertian, Piet A. 1982. Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan.


Surabaya: Usaha Nasional.

Sari, April Yona Dwieka. (2020). Pengelolaan Hubungan Sekolah dengan


Masyarakat di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Koto Tangah Kota
Padang. Jurnal Bahana Manajemen Pendidikan, 3(2), 915-919.

Suriansyah, Ahmad. 2014. Manajemen Hubungan Sekolah dengan


Masyarakat dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta:
Rajawali Pers.

Umar, Munirwan. (2016). Manajemen Hubungan Sekolah Dan Masyarakat


Dalam Pendidikan. Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan
Konseling, 2(1), 18-29.

12