Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH PARASITOLOGI

“Trematoda darah dan paru”

Dosen Pembimbing : Wiya Elsa fitri, M.si

OLEH KELOMPOK 3
Nama Anggota:

1. Fgran Nuraha
2. Gita Anggalia
3. Kiky Ulya Fitri
4. Nyak Ramadhani Tiara
5. Tri Dova Ningsih
6. Wira Melyca Sadri

STIKES SYEDZA SAINTIKA PADANG


TA.2015/2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt. Karena berkat
rahmat dan karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang
disusun untuk memenuhi tugas Ilmu Keperawatan Dasar 4 sesuai dengan waktu
yang telah ditentukan.
Terima kasih kami sampaikan kepada dosen bidang studi Ilmu Dasar
Keperawatan 3 yang telah memberikan kesempatan bagi kami untuk mengerjakan
tugas makalah ini, sehingga kami menjadi lebih mengerti dan memahami tentang
materi “ Trematoda Darah dan Paru”.
Kami menyadari bahwa masih banyak kesalahan, kekurangan dan
kehilafan dalam makalah ini. Untuk itu saran dan kritik tetap kami harapkan demi
perbaikan makalah ini kedepan. Akhir kata kami berharap makalah ini dapat
bermanfaat bagi kami semua.

Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................................i

Daftar Isi ..............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ..........................................................................................1


B. Rumusan Masalah ....................................................................................1
C. Tujuan .......................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN

A. Apa itu Trematoda ....................................................................................2


B. Bagaimana pembagian jenis trematoda berdasarkan ................................5
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ...............................................................................................
B. Saran .........................................................................................................
Daftar Pustaka ....................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Trematoda disebut sebagai cacing hisap karena cacing ini memiliki alat pengisap.
Alat pengisap terdapat pada mulut di bagian anterior Alat hisap (Sucker) ini untuk
menempel pada tubuh inangnya maka disebut pula cacing hisap.
Pasa saat menempel cacing ini mengisap makanan berupa jaringan atau
cairan tubuh inangnya. Ciri khas cacing ini adalah terdapat dua batil isap yaitu
batil isap mulut dan batil isap perut ada juga spesies yang memiliki batil isap
genital. Trematoda memiliki saluran pencernaan berbentuk huruf Y terbalik dan
pada umumnya tidak memiliki alat pernapasan khusus karena hidup secara
anaerob. Saluran ekskresi terdapat simetris bilateral dan berakhir di bagian
posterior. Susunan saraf dimulai dengan ganglion di bagian dorsal esofagus,
kemudian terdapat saraf yang memanjang di bagian dorsal, ventral dan lateral
badan. Dengan demikian maka Trematoda merupakan hewan parasit karena
merugikan dengan hidup di tubuh organisme hidup dan mendapatkan makanan di
tubuh inangnya. Trematoda dewasa pada umumnya hidup di dalam hati,
usus,paru-paru, ginjal, dan pembuluh darah vertebrata .Ternak , Ikan , Manusia
Trematoda berlindung di dalam tubuh inangnya dengan melapisi permukaan
tubuhnya dengan kutikula Permukaan tubuhnya tidak memiliki silia.
Contoh Trematoda adalah cacing hati (Fasciola hepatica).
2.        Trematoda Paru ( paragonimus westermani )

         Hospes Dan Nama Penyakit


manusia dan binatang yang memakan ketam atau udang batu, seperti kucing,
luak, anjing, harimau, serigala dan lain-lain merupakan hospes cacing ini.
pada manusia parasit ini menyebabkan paragonomiasis.

         Morfologi Dan Daur Hidup


Cacing dewasa hidup dalam kista di paru. bentuknya bundar lonjong
menyerupai biji kopi, dengan ukuran 8 – 12 x 4 – 6 mm dan berwarna coklat tua.
batil isap mulut hampir sama  besar dengan batil isap perut. testis berlobus terletak
berdampingan antara batil isap perut dan ekor. ovarium terletak di belakang batil
isap perut. Telur berbentuk lonjong berukuran 80-118 mikron x 40-60 miron
dengan operculum agak tertekan ke dalam. waktu keluar bersama tinja atau
sputum, telurnya belum berisi mirasidium.
Telur menjadi matangdalam waktu kira-kira16 hari, lalu
menetasmirasidiummencari keong air dan dalam keong air terjadi
perkembangangM                     S                      R1                   R2                   SK
Serkaria keluar dari keong air, berenang mencari hospes perantara II , yaitu ketam
atau udang batu, lalu membentuk metaserkaria didalam tubuhnya.
Infeksi terjadi dengan makan ketam atau udang batu yang tidak dimasak
sampai matang.
Dalam Hospes definitif, meta serkaria menjadi cacing dewasa muda di
duodenum. cacing dewasa muda berimigrasi menembus dinding usus, masuk ke
rongga perut, menembus diafragma dan menuju keparu. jaringan hospes
mengadakan reaksi jaringan sehingga cacing dewasa terbungkus dalam kista,
biasanya ditemukan 2 ekor didalamnya.
         Patologi dan Gejala Klinis
karena cacing dewasa berada dalam kista di paru, maka gejala dimulai dengan
adanya batuk kering yang lama kelamaan menjadi batuk darah. keadaan ini
disebut endemic hemoptysis. cacing dewasa dapat pula berimigrasi kealat-alat
laindan menimbulkan abses pada alat tersebut ( antara lain hati, limpa, otak, otot,
dinding usus ).
           Diagnosis
Diagnosis dibuat dengan menemukan telur dalam sputum atau cairan pleura.
kadang-kadang  telur juga ditemukan dalam tinja. reaksi serologi sangat mmbantu
untuk menegakan diagnosis.
         Pengobatan
Prazikuantel dan bitionel merupakan obat pilhan.
         Epidemiologi
Penyakit ini berhubungan erat dengan kebiasaan makan ketam dan pemakain
jamban yang tidak mencemari air sungai dan sawah dapat mengurangi transmisi
paragonimiasis.
Paragonimiasis termasuk dalam penyakit zoonosis. Paragonimus westermani
merupakan Trematoda paru-paru yang mempunyai beberapa nama lain, yaitu:
         The Lung Fluke
         Distoma wetermani
         Paragonimus ringeri
Trematoda paru jenis ini menyebar didaerah Asia Timur, antara lain RRC, Jepang,
Korea, Taiwan, juga ditemukan di Indonesia, Filiphina, Vietnam, India, Afrika
dan Amerika.
Species-species yang lain adalah:
         Paragonimus africanus  (Afrika)
         Paragonimus mexicanus (Mexico dan Amerika Latin)
         Paragonimus uterobilateralis (Nigeria)
         Paragonimus kellicotti (Jepang)
b.Morfologi:
Telur:
Telur berukuran 80-120 x 50-60 mikron
Bentuk oval
Memiliki operculum khas yang berdinding tebal
Berwarna kuning kecoklatan
Berisi sel-sel ovum yang belum matang
Cacing dewasa: paragonimus westermani
Bersifat hermaprodit.
Sistem reproduksinya ovivar.
Bentuknya menyerupai daunberukuran 7 – 12 x 4 – 6 mm dengan ketebalan tubuhnya
antara 3 – 5 mm.
Memiliki batil isap mulut dan batil isap perut.Uterus pendek berkelok-kelok.Testis
bercabang, berjumlah 2 buah.
Ovarium berlobus terletak di atas testis.
Kelenjar vitelaria terletak di 1/3 tengah badan
2. Trematoda Darah ( Schistosoma japonicum)

cacing yang berbentuk pipih dan tinggal di berbagai aliran darah. Biasanya
cacing ini masuk ke tubuh manusia melalui makanan atau minuman yang
mengandung parasite cacing ini dan mandi pada air yang kotor.
       Hospes dan Nama Penyakit
Hospes definitive adalah manusia. berbagai macam binatang dapat berperan
sebagai hospes reservoar.
Pada manusia, cacing ini menyebabkan penyakit skistomiasis atau bilharziasis.
         Morfologi dan Daur Hidup
Cacing darah ini parasit pada manusia, babi, biri-biri, kucing dan binatang
pengerat lainnya.
Cacing dewasa dapat hidup dalam pembuluh balik (vena) perut.
Tubuh cacing jantan lebih lebar dan dapat menggulung sehingga menutupi tubuh
betina yang lebih ramping, Cacing jantan panjangnya 9 – 22 mm, sedangkan
panjang cacing betina adalah 14 – 26 cm.
Cacing darah ini bertelur pada pembuluh balik (vena) manusia kemudian
menuju keporos usus (rectum) dan kantong air seni (vesica urinaria), lalu telur
keluar bersama tinja dan urine.
Telur akan berkembang menjadi mirasidium dan masuk kedaalam tubuh siput.
kemudian dalam tubuh siput akan berkembang menjadi serkaria yang berekor
bercabang. serkaria dapat masuk kedalam tubuh manusia melalui makanan dan
minuman atau menembus kulit dan dapat menimbulkan penyakit schistomiasis
( banyak terdapat di afrika dan Asia). penyakit ini menyebabkan kerusakan dan
kelainan fungsi pada hati, jantung limpa , kantong urine dan ginjal.
         Gejala Klinis
Terasa gatal-gatal yang nyata, terjadi pembengkakan, serangan ashma dan hati
terasa sakit bila disentuh (bila terjadi peradangan), demam berkeringat dan
disentry, dan berat badan bekurang dan hilang nafsu makanan.
         Diagnosiss
Minum air yang sudah terdapat parasit cacing, mandi atau berenang pada air
yang kotor.
         Epidemiologi
Penampungan tinja jangan sembarangan tempat dan sediakanlah tempat
tertentu yang sesuai dengan kesehatan.