Anda di halaman 1dari 24

INTIAL ASESSMENT PADA PASIEN TRAUMA MUSCULO

(Fraktur, Dislokasi, Sprain dan Strain)


“Modul Pemasangan Balutan”

Disusun Oleh :

Dini Islami
Gita Angalia
Destyana Jheri

Dosen Pembimbing :
Ns. Vino Rika, M.kep

STIKES SYEDZA SAINTIKA PADANG


PRODI SI KEPERAWATAN
2018

Pendahuluan
A. Latar Belakang
Trauma adalah suatu keadaan ketika seseorang mengalami cedera karena salah satu
sebab. Penyebab trauma adalah kecelakaan lalu lintas, industri, olahraga, dan rumah
tangga. Di Indonesia kematian akibat kecelakaan lalu lintas ± 12.000 orrang per tahun
(Chairudin, 1998). Taruma yang dialami seseorang akan menyebabkan masalah-masalah
sebagai berikut :
1. Biaya yang besar untuk mengembalikan fungsi setelah mengalami trauma.
2. Resiko kematian yang tinggi.
3. Prodiktivitas menurun akibat banyak kehilangna waktu bekerja.
4. Kecatatan sementara dan permanen.
Di masyarakat, seorang perawa/Ners perlu mengetahui perawatan klien trauma
muskuloskletal yang mungkin dijumpai, baik dijalan maupun selama melakukan asuhan
keperawatan di rumah sakit. Selain itu, ia perlu mengetahui dasar-dasar penanggulan
suatu trauma yang menimbulkan masalah pada sistem muskuloskletal dengan
melakukan penanggulangan awal dan merujuk ke rumah sakit terdekat agar mengurangi
resiko yang lebih besar. Resiko yang lebih fatal yang perlu diketahui adalah kematian.
Peristiwa yang sering terjadi pada klien dibagi dalam tiga periode waktu sebagai berikut :
1. Kematian dalam detik-detik pertama sampai menit berikutnya (50%). Kematian
disebabkan oleh laserasi otak dan pangkal otak, kerusakan sumsum tulang belakang
bagian atas, kerusakan jantung, oarta, serta pembuluh-pembuluh darah besar.
Kebanyakan klien tidak dapat ditolong an meninggal ditempat.
2. Kematian dalam menit pertama sampai beberapa jam (35%). Kematian
disebabkan oleh perdarahan subdural atau epidural, hematopneumotoraks, robekan
limpa, laserasi hati, fraktur panggul, serta fraktur multipel dengan resimo besar akibat
perdarahan yang masif. Sebagian klien pada tahap ini dapat diselamatkan dengan
pengetahuan dan penanggulangan trauma yang memadai.
3. Kematian setelah beberapa hari ampai beberapa minggu setelah taruma (15%).
Kematian biasanya disebabkan oleh kegagalan beberapa organ atau sepsis. Peran
perawat dalam membantu mengurangi resiko tersebut cukup besar. Resiko kegagalan
organ dan reaksi sepsis dapat dikurangi secara signifikan dengan asuhan keperawatan
yang komprehensif. Penanggulangan klien trauma memerlukan peralatan serta
keterampilan khusus yang tidak semuanya dapat dilakukan oleh perawat, berhubung
keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki setiap Ners bervariasi, serta peralatan yang
tersedia kurang memadai. Trauma muskuloskletal biasanya menyebabkan disfungsi
struktur disekitarnya dan struktur pada bagian yang dilindungi atau disangganya.
Gangguan yang paling sering terjadi akibat trauma muskuloskletal adalah kontusio,
strain, sprain dan dislokasi.
B. Tujuan
Tujuan penulisan modul ini adalah untuk memahami tentang Trauma
Muskuloskeletal untuk kegiatan pembelajaran.

Materi Pembahasan : Konsep Muskulo Skeletal

Mekanisme Trauma
Menentukan mekanisme terjadinya trauma merupakan hal yang penting karena dapat
membantu kita dalam menduga kemungkinan trauma yang mungkin saja tidak segera
timbul setelah kejadian. Trauma musculoskeletal bisa saja dikarenakan oleh berbagai
mekanisme.
Ada beberapa macam mekanisme trauma diantaranya:
a. Direct injury
Dimana terjadi fraktur pada saat tulang berbenturan langsung dengan benda keras
seperti dashboard atau bumper mobil.
b. Indirect injury
Terjadi fraktur atau dislokasi karena tulang mengalami benturan yang tidak langsung
seperti frkatur pelpis yang disebabkan oleh lutut membentur dashboard mobil pada
saat terjadi tabrakan.
c. Twisting injury
Menyebabkan fraktur, sprain, dan dislokasi, biasa terjadi pada pemain sepak bola
dan pemain sky, yaitu bagian distal kaki tertinggal ketika seseorang menahan kaki ke
tanah sementara kekuatan bagian proksimal kaki meningkat sehingga kekuatan yang
dihasilkan menyebabkan fraktur.
d. Powerfull muscle contraction
Seperti terjadinya kejang pada tetanus yang mungkin bisa merobek otot dari tulang
atau bisa juga membuat fraktur.
e. Fatique fracture
Disebabkan oleh penekanan yang berulang-ulang dan umumnya terjadi pada telapak
kaki setelah berjalan terlalu lama atau berjalan dengan jarak yang sangat jauh.
f. Pathologic fracture
Dapat dilihat pada pasien dengan penyakit kelemahan pada tulang seperti kanker
yang sudah metastase.

1. Fraktur
A. Definisi
Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. Kebanyakan fraktur
disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang, baik berupa
trauma langsung dan trauma tidak langsung (Sjamsuhidajat & Jong, 2005). Fraktur lebih
sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering
berhubungan dengan olah-raga, pekerjaan, atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan
kendaraan bermotor. Sedangkan pada orang tua, wanita lebih sering mengalami fraktur
daripada lakilaki yang berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis yang terkait
dengan perubahan hormon pada monopouse (Reeves, Roux, Lockhart, 2001).
B. Etiologi
a. Fraktur terjadi karena tekanan yang menimpa tulang kebih besar daripada daya tulang
akibar trauma
b. Fraktur karena penyakit tulang seperti Tumor Osteoporosis yang disebut Fraktur
Patologis.
c. Fraktur Stress/ Fatique (akibat dari penggunaan tulang yang berulangulang).
C. Tanda dan Gejala Fraktur
Gejala yang paling umum pada fraktur adalah rasa nyeri yang terlokalisir pada bagian
fraktur. Biasanya pasien mengatakan ada yang menggigitnya atau merasakan ada tulang yang
patah. Apa yang dikatakan pasien merupakan sumber informasi yang akurat.
Pada pasien dengan multiple trauma, fraktur adalah trauma yang paling nyata dan
dramatis juga hal yang paling serius. Oleh karena itu lakukan primary survey dan lakukan
tindakan penanganan trauma dan lakukan stabilisasi jika memungkinkan.
a. Swelling
Terjadi karena kebocoran cairan ekstra seluler dan darah dari pembuluh darah yang
telah rupture pada fraktur pangkal tulang.
b. Deformitas
Pada kaki dapat menandakan adanya trauma skeletal.
c. Tenderness
Sampai palpitasi biasanya terlokalisir diatasbare trauma skeletal yang dapat dirasakan
dengan penekanan secara halus di sepanjang tulang.
d. Krepitasi
Terjadi bila bagian tulang yang patah bergesekan dengan tulang yang lainnya. Hal ini
dapat dikaji selama pemasangan splin. Jangan berusaha untuk mereposisi karena
dapat menyebabkan nyeri trauma lebih lanjut.
e. Disability
Juga termasuk karakteristik dari kebanyakan trauma skeletal pasien dengan fraktur
akan berusaha menahan lokasi trauma tetap pada posisi yang nyaman dan akan
menolak menggerakannya. Bahkan pada pasien dengan dislokasi akan menolak untuk
menggerakkan ekstremitas yang mengalami dislokasi.
f. Exposed bone ends
Didiagnosa sebagai trauma terbuka atau compound fraktur. Periksa pulsasi, gerakan
dan sensori di bagian distal pada setiap pasien dengan trauma musculoskeletal.

D. Jenis Fraktur
a. Fraktur Tertutup (Simple Fracture)
Fraktur tertutup adalah keadaan patah tulang tanpa disertai hilangnya integritas kulit.
Fraktur tertutup dapat menjadi salah satu pencetus terjadinya perdarahan internal
kekompartemen jaringan dan dapat menyebabkan kehilangan darah sekitar 500 cc tiap
fraktur. Setiap sisi patahan memiliki potensi untuk menyebabkan kehilangan darah dalam
jumlah besar akibat laserasi pembuluh darah di dekat sisi patahan. Fraktur tertutup biasanya
disertai dengan pembengkakan dan hematom. Strain dan sprain mungkin akan memberikan
gejala seperti fraktur tertutup. Dan karena diagnosis pasti terjadinya fraktur hanya dapat
dilakukan dengan pemeriksaan radiologi, maka berilah penanganan strain dan sprain seperti
penanganan tehadap fraktur tertutup.
b. Fraktur Terbuka (Compound Fracture)
Fraktur terbuka adalah keadaan patah tulang yang disertai gangguan integritas kulit.
Hal ini biasanya disebabkan oleh ujung tulang yang menembus kulit atau akibat laserasi kulit
yang terkena benda-benda dari luar pada saat cedera.
Komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur terbuka adalah perdarahan eksternal,
kerusakan lebih lanjut pada otot-otot dan saraf serta terjadinya kontaminasi. Sangat penting
untuk mengenal adanya luka didekat fraktur karena bisa menjadi pintu masuk dari
kontaminasi kuman. Fraktur terbuka dapat ditemukan dengan mudah pada penderita trauma.
Adanya luka terbuka didekat daerah yang diduga terjadi fraktur, harus dipertimbangkan
sebagai fraktur terbuka dan harus diberikan penanganan seperti fraktur terbuka. Denyut nadi,
pergerakan, sensasi dan warna kulit harus segera dinilai dan terus dilakukan penilaian ulang
secara berkala.

E. Tipe Fraktur
a. Fraktur Trasversal
Garis frakturnya memotong melintang dari arah luar sampai menembus bagian tengah
secara tegak lurus dari tulang biasanya disebabkan oleh kecelakaan langsung.

b. Fraktur Greenstick
Terjadi pada anak dimana tulang masih bisa dibengkokan seperti dahan yang masih
muda dan garis frakturnya melintang lurus pada bagian luar dari tulang perpendicular sampai
batas tengah tulang.

c. Fraktur Spiral
Biasanya terjadi karena kecelakaan memutar (terpelintir) dan garis frakturnya tidak
rata

d. Fraktur Oblique
Garis fraktur melintang pada tulang tegak lurus dan oblik.

d. Fraktur Comminuted
Dimana tulang terbagi menjadi lebih dari dua bagian.
E. Prinsip Penatalaksanaan Fraktur
Kejadian fraktur jarang yang mengancam nyawa, meskipun demikian penanganan
pada kejadian yang mengancam nyawa telah dilaksanakan sampai kondisi pasien stabil.
Pertahankan jalan napas, control perdarahan, tutup luka terbuka pada dada dan lakukan
resusitasi cairan. Jika telah selesai barulah identifikasi dan imobilisasi semua fraktur dan
siapkan untuk transportasi
a.Penatalaksanaan Fraktur
 Stabilkan jalan napas.
 Kontrol perdarahan.
 Tutup sucking chest wound (luka terbuka pada dada).
 Resusitasi cairan.
 Jika ada fraktur terbuka, balut luka sebelum melakukan pembidaian dan jangan
mendorong kembali tulang yang terlihat.
 Jangan pernah berusaha untuk meluruskan fraktur termasuk sendisendi, meskipun ada
beberapa tulang pada fraktur yang dapat diluruskan.
 Tourniket tidak dianjurkan pada fraktur terbuka kecuali pada trauma amputasi atau
anggota gerak yang sudah tidak dapat diselamatkan lagi.
 Imobilisasi ekstremitas sebelum memindahkan pasien dan imobilisasi sendi bagian
atas dan bawah dari tulang yang fraktur.

b. Tujuan Imobilisasi
 Untuk menjaga fraktur tertutup agar jangan menjadi fraktur terbuka. Hal ini
mungkin terjadi jika ujung tulang yang fraktur masih dapat bergerak bebas ketika
pasien dipindahkan.
 Untuk mencegah kerusakan sekitar nervus, pembuluh darah dan jaringan yang lain
dari ujung tulang yang fraktur.
 Untuk meminimalkan perdarahan dan bengkak.
 Untuk mengurangi nyeri.

2. Dislokasi
A. Definisi
Dislokasi adalah keluarnya pangkal tulang dari permukaan articular, kadangkadang
disertai dengan robeknya ligament yang seharusnya menahan pangkal tulang agar tetap
berada pada tempatnya. Persendian yang biasanya terkenal adalah bahu, siku, panggul dan
pergelangan.
B. Etiologi
Etiologi tidak diketahui dengan jelas tetapi ada beberapa faktor predisposisi,
diantaranya :
 Akibat kelainan pertumbuhan sejak lahir.
 Trauma akibat kecelakaan
 Trauma akibat pembedahan ortoped
 Terjadi infeksi di sekitar sendi
C. Klasifikasi
Dislokasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Dislokasi congenital: terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan.
b. Dislokasi patologik: akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. Misalnya
tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang
berkurang.
c. Dislokasi traumatic: kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan
mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena
mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat sehingga dapat
mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga merusak struktur
sendi, ligamen, syaraf, dan system vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang dewasa.
Berdasarkan tipe kliniknya dibagi menjadi :
 Dislokasi Akut Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri
akut dan pembengkakan di sekitar sendi.
 Dislokasi Berulang. Jika suatu trauma Dislokasi pada sendi diikuti oleh
frekuensi dislokasi yang berlanjut dengan trauma yang minimal, maka disebut
dislokasi berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint dan patello femoral
joint.Dislokasi biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang / fraktur yang
disebabkan oleh berpindahnya ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya
trauma, tonus atau kontraksi otot dan tarikan.
D. Tanda dan gejala
 Nyeri
 Deformitas
 Paralisis
 Hilangnya pulsasi (jika tekan nervus dan pembuluh darah).
Pada kebanyakan kasus pada pasien dengan fraktur atau dislokasi selalu cek nadi,
kekuatan otot dan sensasi (pulsasi, motorik dan sensorik) pada bagian distal daerah yang
terluka. Hilangnya pulsasi berarti ekstremitas dalam keadaan yang membahayakan dan
transportasi ke rumah sakit seharusnya tidak ditunda. Informasikan terlebih dahulu ke rumah
sakit yang akan dituju agar petugas dan dokter bedah tulang telah siap ketika pasien tiba.
E. Patofisiologi
Dislokasi biasanya disebabkan oleh jatuh pada tangan .Humerus terdorong
kedepan ,merobek kapsul atau menyebabkan tepi glenoid teravulsi.Kadangkadang bagian
posterolateral kaput hancur.Mesti jarang prosesus akromium dapat mengungkit kaput ke
bawah dan menimbulkan luksasio erekta (dengan tangan mengarah ;lengan ini hampir selalu
jatuh membawa kaput ke posisi dan bawah karakoid).
F. Komplikasi
a. Komplikasi Dini
 Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera ; pasien tidak dapat mengkerutkan otot deltoid
dan mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut.
 Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla dapat rusak.
 Fraktur disloksi
b. Komplikasi lanjut.
 Kekakuan sendi bahu:Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi
bahu, terutama pada pasien yang berumur 40 tahun.Terjadinya kehilangan rotasi
lateral, yang secara otomatis membatasi abduksi.
 Dislokasi yang berulang:terjadi kalau labrum glenoid robek
 Kapsul terlepas dari bagian depan leher glenoid
 Kelemahan otot

E. Penatalaksanaan Dislokasi
Penatalaksanaan pada pasien dengan dislokasi adalah imobilisasi pasien pada
posisinya saat pertama kali ditemukan. Jangan coba meluruskan atau mengurangi dislokasi
kecuali jika ada seorang ahli. Lakukan imobilisasi pada bagian atas dan bawah sendi yang
dislokasi untuk menjaga kestabilan waktu transport. Mungkin satu-satunya dislokasi yang
paling berbahaya pada ektremitas bawah adalah dislokasi pada lutut, sedangkan dislokasi
pada pergelangan, siku, bahu, panggul an pergelangan kaki masih dapat ditoleransi 2 atau 3
jam tanpa adanya bahaya kerusakan permanen.
Bagaimanapun juga ketika menolong pasien dengan dislokasi lutut dan tidak ada
pulsasi pada bagian distal. Maka harus dikoreksi dalam waktu 1 atau 2 jam setelah terjadi
trauma. Dan seharusnya waktu sejak terjadinya kecelakaan hingga sampai ke rumah sakit
tidak lebih dari 1 jam.

3. Sprain
A. Definisi
Sprain adalah injuri dimana sebagian ligament robek, biasanya disebabkan memutar
secara mendadak dimana sendi bergerak melebihi batas normal. Organ yang sering terkena
biasanya lutut, dan pergelangan kaki, ciri utamanya adalah nyeri, bengkak dan kebiruan pada
daerah injuri.
Untuk membedakan fraktur dan dislokasi, sprain biasanya tidak disertai deformitas.
Bagaimanapun juga lebih baik lakukan penanganan sprain seperti penanganan fraktur lalu
imobilisasi. Biarkan sendi yang mengalami sprain pada posisi elevasi dan berikan kompres
dingin jika mungkin.
B. Etiologi
 Sprain terjadi ketika sendi dipaksa melebihi lingkup gerak sendi yang normal, seperti
melingkar atau memutar pergelangan kaki.
 Sprain dapat terjadi di saat persendian anda terpaksa bergeser dari posisi normalnya
karena anda terjatuh, terpukul atau terkilir.

C. Manifestasi klinis
 Nyeri
 Inflamasi/peradangan
 Ketidakmampuan menggerakkan tungkai.

D. Tanda Dan Gejala


 Sama dengan strain (kram) tetapi lebih parah.
 Edema, perdarahan dan perubahan warna yang lebih nyata.
 Ketidakmampuan untuk menggunakan sendi, otot dan tendon.
 Tidak dapat menyangga beban, nyeri lebih hebat dan konstan

E. Patofisiologi
Kekoyakan ( avulsion ) seluruh atau sebagian dari dan disekeliling sendi, yang
disebabkan oleh daya yang tidak semestinya, pemelintiran atau mendorong / mendesak pada
saat berolah raga atau aktivitas kerja. Kebanyakan keseleo terjadi pada pergelangan tangan
dan kaki, jari-jari tangan dan kaki. Pada trauma olah raga (sepak bola) sering terjadi robekan
ligament pada sendi lutut. Sendi-sendi lain juga dapat terkilir jika diterapkan daya tekanan
atau tarikan yang tidak semestinya tanpa diselingi peredaan (Brunner & Suddart,2001: 2357)
F. Pemeriksaan Diagnostik
a. Riwayat:
 Tekanan
 Tarikan tanpa peredaan
 Daya yang tidak semestinya
b. Pemeriksaan Fisik :
 Tanda-tanda pada kulit, sistem sirkulasi dan muskuloskeletal .

G. Penatalaksanaan
a.Pembedahan.
Mungkin diperlukan agar sendi dapat berfungsi sepenuhnya;
penguranganpengurangan perbaikan terbuka terhadap jaringan yang terkoyak.
b. Kemotherapi
Dengan analgetik Aspirin (100-300 mg setiap 4 jam) untuk meredakan nyeri dan peradangan.
Kadang diperlukan Narkotik (codeine 30-60 mg peroral setiap 4 jam) untuk nyeri hebat.

c. Elektromekanis.
 Penerapan dingin dengan kantong es 24 0C
 Pembalutan / wrapping eksternal. Dengan pembalutan, cast atau pengendongan (sung)
 Posisi ditinggikan. Jika yang sakit adalah bagian ekstremitas.
 Latihan ROM. Tidak dilakukan latihan pada saat terjadi nyeri hebat dan perdarahan.
Latihan pelan-pelan dimulai setelah 7-10 hari tergantung jaringan yang sakit.
 Penyangga beban. Menghentikan penyangga beban dengan penggunaan kruk selama 7
hari atau lebih tergantung jaringan yang sakit.

4. Strain
A. Definisi
Strain adalah “tarikan otot” akibat penggunaan berlabihan, peregangan berlebihan,
atau stres yang berlebihan. Strain adalah robekan mikroskopis tidak komplet dengan
perdarahan kedalam jaringan (Brunner & Suddart, 2001: 2355 ).
Strain adalah trauma pada jaringan yang halus atau spasme otot di sekitar sendi dan
nyeri pada waktu digerakkan, pada strain tidak ada deformitas atau bengkak. Strain lebih baik
ditangani dengan menghilangkan beban pada daerah yang mengalami injuri.
Jika tidak ada keraguan pada injuri diatas, imobilisasi ekstremitas dan evaluasi
dilanjutkan di ruang gawat darurat.

B. Etiologi
 Strain terjadi ketika otot terulur dan berkontraksi secara mendadak, seperti pada pelari
atau pelompat.
 Pada strain akut : Ketika otot keluar dan berkontraksi secara mendadak.
 Pada strain kronis : Terjadi secara berkala oleh karena penggunaaan yang
berlebihan/tekanan berulang-ulang,menghasilkan tendonitis (peradangan pada
tendon).

C. Manifestasi Klinis
Gejala pada strain otot yang akut bisa berupa:
 Nyeri
 Spasme otot
 Kehilangan kekuatan
 Keterbatasan lingkup gerak sendi.
 Strain kronis adalah cidera yang terjadi secara berkala oleh karena penggunaan
berlebihan atau tekakan berulang-ulang, menghasilkan :
 Tendonitis (peradangan pada tendon). Sebagai contoh, pemain tennis bisa
mendapatkan tendonitis pada bahunya sebagai hasil tekanan yang terusmenerus dari
servis yang berulang-ulang.

D. Patofisiologi
Strain adalah kerusakan pada jaringan otot karena trauma langsung (impact) atau
tidak langsung (overloading). Cedera ini terjadi akibat otot tertarik pada arah yang
salah,kontraksi otot yang berlebihan atau ketika terjadi kontraksi ,otot belum siap,terjadi pada
bagian groin muscles (otot pada kunci paha),hamstring (otot paha bagian bawah),dan otot
guadriceps. Fleksibilitas otot yang baik bisa menghindarkan daerah sekitar cedera kontusio
dan membengkak (Chairudin Rasjad,1998).
E. Klasifikasi Strain
Derajat I/Mild Strain (Ringan) yaitu adanya cidera akibat penggunaan yang berlebihan
pada penguluran unit muskulotendinous yang ringan berupa stretching/kerobekan ringan pada
otot/ligament (Chairudin Rasjad,1998).
a. Gejala yang timbul :
 Nyeri local
 Meningkat apabila bergerak/bila ada beban pada otot

b. Tanda-tandanya :
 Adanya spasme otot ringan
 Bengkak
 Gangguan kekuatan otot
 Fungsi yang sangat ringan

c. Komplikasi
 Strain dapat berulang
 Tendonitis
 Perioritis

Derajat II/Medorate Strain (Ringan) yaitu adanya cidera pada unit muskulotendinous akibat
kontraksi/pengukur yang berlebihan.
a. Gejala yang timbul
 Nyeri local
 Meningkat apabila bergerak/apabila ada tekanan otot
 Spasme otot sedang
 Bengkak
 Tenderness
 Gangguan kekuatan otot dan fungsi sedang
b. Komplikasi sama seperti pada derajat I :
 Strain dapat berulang
 Tendonitis
 Perioritis

c. Terapi :
 Immobilisasi pada daerah cidera
 Istirahat
 Kompresi
 Elevasi

d. Perubahan patologi : Adanya robekan serabut otot

Derajat III/Strain Severe (Berat) yaitu adanya tekanan/penguluran mendadakyang cukup


berat. Berupa robekan penuh pada otot dan ligament yang menghasilkan ketidakstabilan
sendi.
a. Gejala :
 Nyeri yang berat
 Adanya stabilitas
 Spasme
 Kuat
 Bengkak
 Tenderness
 Gangguan fungsi otot
b. Komplikasi : Distabilitas yang sama
c. Perubahan patologi : Adanya robekan/tendon dengan terpisahnya otot dengan tendon.
d. Terapi: Imobilisasi dengan kemungkinan pembedahan untuk mengembalikan
fungsinya.

F. Manifestasi Klinis
 Biasanya perdarahan dalam otot, bengkak, nyeri ketika kontraksi otot
 Nyeri mendadak
 Edema
 Spasme otot
 Haematoma
G.Komplikasi
 Strain yang berulang
 Tendonitis
F. Penatalaksanaan
 Istirahat. Akan mencegah cidera tambah dan mempercepat penyembuhan
 Meninggikan bagian yang sakit,tujuannya peninggian akan mengontrol
pembengkakan.
 Pemberian kompres dingin. Kompres dingin basah atau kering diberikan secara
intermioten 20-48 jam pertama yang akan mengurangi perdarahan edema dan
ketidaknyamanan.
 Kelemahan biasanya berakhir sekitar 24 – 72 jam sedangkan mati rasa biasanya
menghilang dalam 1 jam. Perdarahan biasanya berlangsung selama 30 menit atau
lebih kecuali jika diterapkan tekanan atau dingin untuk menghentikannya. Otot,
ligament atau tendon yang kram akan memperoleh kembali fungsinya secara penuh
setelah diberikan perawatan konservatif.

1. Tilik Balutan : Pembidaian


Pembidaian atau spinting adalah salah satu cara pertolongan utama pada cedera/trauma
pada sistem Musculo skeletal. Pembidaian bertujuan untuk mengimmobilisasi ektremitas
yang mengalami cidera, mengurangi rasa nyeri, dan mencegah kerusakan jaringan lebih
lanjut.
Alat dan bahan :
1. Bidai berbagai ukuran
2. Elastis verban 4inchi dan 6 inchi
3. Padding
4. Sarung Tangan
No Aspek Yang Dinilai Skor

1. Memperkenalkan diri dan menjelaskan


tindakan yang akan dilakukan pada pasien
2. Melakukan proteksi diri
3. Mempersiapkan alat dan bahan
4. Melakukan pemeriksaan neurovaskuler
(sebelum pemasangan bidai)
5. Melakukan pemasangan bidai dengan benar
6. Melakukan pemeriksaan neurovaskuler
( setelah pemasangan bidai )
7. Mengelevasikan tungkai yang dibidai
2. Tilik Balutan : Bandage

Bandage adalah suatu tindakan membatasigerkan tungkai menggunkan bahan yang terbuat dari
kain, Balutan akan memberikan efek immobilisasi parsial pada tungkai. Balutan berfungsi sebagai
alat untuk mengurangi atau mencegah pembengkakan pada tungkai cedera, menghentikan
pendarahan dan untukmemegang alat untuk mengimmobilsasi seperti bidai.

Alat dan bahan :

1. Sarung Tangan
2. Kassa gulung
3. Verban elastis berbagai ukuran
4. Verban segitiga

No. Aspek Yang Dinilai Skor


1. Memperkenalkan diri dan menjelaskan tindakan
yang akan dilakukan
2. Melakukan proteksi diri
3. Mempersiapkan alat yang sesuai dengan ukuran
ektremitas
4. Melakukan pengecekan neurovaskuler distal
5. Melakukan pembalutan dengan teknik circular
turn
6. Melakukan pembalutan dengan teknik spiral turn
7. Melakukan pembalutan dengan teknik spica turn
8. Memeriksa keadaan neurovaskuler distal setiap
setelah tindakan
s
3. Tilik Pembalutan : Mitella

Mitella adalah suatu teknik immobilisasiekstremitas atas menggunkan balutan bentuk segitiga.
Mitella biasa digunakan untuk mengimmobilisasi cedera pada bahu, dan lengan atas.

Alat dan bahan :

1. Sarung tangan
2. Balutan berbentuk segitiga ukuran 50-100 cm yang terbuat dari cutton
3. Peniti

No Aspek Yang Dinilai Skor


.
1. Memperkenalkan diri dan menjelakan tindakan
yang akan dilakukan
2. Melakukan proteksi diri
3. Mempersiapkan alat yang sesuai dengan ukuran
ekstremitas
4. Melakukan pemeriksaan neurovaskulerdistal
5. Memposisikan ekstremitas atas pada posisi
adduksi dan rotasi interna sendi bahu, fleksi 90 0
sendi siku
6. Lakukan pemasangan mitella dengan sisi runcing
kearah sendi siku , dan dua sisi runcing lainnya
diikatkan kesamping leher.
7. Bagian aklar usahakan tidak tertutup mitella
8. Periksa kembali neurovaskuler distal