Anda di halaman 1dari 17

Psikologi Belajar

Tugas Resume Materi


Teori Asosianistik

Nama : Yusfina Utami


Nim : I1C109013

Teori Belajar dari Sudut

Universitas Lambung Mangkurat Pandang Asosianistik

Fakultas Kedokteran
1. Ivan Petrovich Pavlov
Program Studi Psikologi
a. Dasar Teori menurut Pavlov
Tahun 2011
Observasi empiris

Pengkondisian pavlovian dan pengkondisian klasik adalah sama. Unsur yang dibutuhkan
untuk melahirkan pengkondisian pavlovian atau klasik adalah :

1. Unconditioned stimulus (stimulus yang tidak dikondisikan), yang ditimbulkan


respons alamiah atau otomatis dari organisme

2. Unconditioned response (respons yang tidak dikondisikan (UR)) yang


merupakan respon alamiah dan otomatis yang disebabkan oleh US

3. Conditioned stimulus (stimulus yang dikondisikan (CS)), yang merupakan


stimulusnetral karena ia tidak menimbulkan respons alamiah atau otomatis pada
organism.ketika unsur-unsur ini bercampur dengan cara tertentu, akan terjadi
conditioned response (respon yang dikondisikan (CR))

Prosedur training : CS US UR dan Demonstrasi pengkondisian : CS CR

Pelenyapan eksperimental

Eksistensi CR bergantung pada US dan itulah mengapa US disebut sebagai


penguat (reinforce). Tanpa US, CS tidak akan mampu mengeluarkan CR. Demikian
pula, jika setelah CR dikembangkan, CS terus dihadirkan tanpa US yang mengikuti CS,
maka CR pelan-pelan akan lenyap. Ketika CS tak lagi menghasilkan CR, extinction
(pelenyapan) eksperimental dikatakan telah terjadi.

Pemulihan spontan

Beberapa waktu sesudah pelenyapan, jika CS sekali lagi dihadirkan kepada hewan,
CR akan muncul kembali secara temporer. CR “dipulihkan secara spontan” meskipun
tidak ada lagi pasangan CS dan US. Sekali lagi, jika ada penundaan setelah pelenyapan
dan CS disajikan kepada organism, ia cenderung akan mengeluarkan CR.

Pengkondisian Tingkat Tinggi

Generalisasi
Adanya perbedaan antara penyebaran efek Thorndike dengan generalisasi Pavlov.
Penyebaran efek mengacu pada pengaruh penguatan terhadap respons yang ada di
sekitar respons yang diperkuat, terlepas dari kemiripannya dengan respons yang
diperkuat itu. Untuk penyebaran efek, kedekatan adalah factor penting. Generalisasi
mendeskripsikan peningkatan kemampuan memproduksi CR oloeh stimuli yang terkait
dengan stimuli yang mendahului penguatan. Untuk generalisasi, kemiripanlah yang
penting, bukan kedekatan.

Diskriminasi

Diskriminasi dapat muncul melalui dua cara: training yang lebih lama dan
penguatan diferensial. Pertama, jika CS berkali-kali disandingkan atau dipasangkan
dengan US dalam waktu yang lebih lama, tendensi untuk merespons stimuli yang terkait
denganCS, namun tidak identik dengannya, akan menurun.

Cara kedua untuk melahirkan diskriminasi dalah melalui penguatan diferensial.


Prosedur ini, dalam contoh di atas, adalah dengan menyajikan nada 2.000-cps bersama
dengan sejumlah nada lain yang akan terdengar selama proses pelenyapan. Hanya nada
2.000-cps yang akan diikuti dengan penguatan. Setelah training itu, ketika hewan diberi
nada selain nada berfrekuensi 2.000-cps selama pelenyapan, ia cenderung tidak
meresponsnya.

Eksitasi atau Kegairahan dan Hambatan

Menurut Pavlov, dua proses dasar yang mengatur sistem saraf sentral yang
mengatur semua aktivitas sistem saraf sentral adalah excitation atau eksitasi atau
inhibition atau hambatan. Pola eksitasi dan hambatan yang menjadi karakteristik otak ini
oleh Pavlov disebut cortical mosaic. Mosaic cortical pada satu momen akan menentukan
bagaimana organism merespon lingkungan. Setelah lingkungan eksternal atau internal
berubah, mosaic cortical akan berubah dan perilaku njuga berubah.

Stereotip Dinamis

Secara garis besar stereotip dinamis adalah mosaic cortical yang menjadi stabil
karena oragnisma berada dalam lingkungan yang dapat diprediksi selama periode waktu
tert5entu yang lumayan panjang. Selama pemetaan cortical ini dengan akuratt
merefleksikan lingkungan dan menghasilkan respon yang tepat, maka segala sesuatu
akan baik-baik saja. Tetapi jika lingkungan berubah secara radikal, organism mungkin
mengubah stereotip secara dinamis.

Ringkasnya kejadian lingkungan tertentu cenderung diikuti oleh kejadian


lingkungan lainnya dan selama hubungan initersu terjadi asosiasi antara keduanay pada
level neural akan menguat.

Iradiasi dan Konsentrasi

Pada awalnya bterjadi irradiation of excitation dengan kata alain eksitasi ini akan
meluber ke area otak lain di dekatnya. Ini adalah proses yang dipakai Pavlov untuk
menjelaskan generalisai. Pavlov juga menemukan bahwa konsentration sebuah proses
yang berlawanan dengan iradiasi.

Pavlov juga menemukan bahwa concentration (konsentrasi), sebuah proses yang


berlawanan dengan iradiasi, mengatur eksitasi dan hambatan. Dia mengaskan bahwa
dalam situasi tertentu baik itu eksitasi maupun hambatan dikonsentrasikan pada area
spesifik di otak. Proses iradiasi ini dipakai untuk menjelaskan generalisasi, sedangkan
proses konsentrasi dipakai untuk menjelaskan diskriminasi.

Pengkondisian Eksitatoris dan Inhibitoris

Pavlov mengidentifikasi dua tipe umum dari pengkondisian yang berasal langsung
excitatory conditioning, akan tampak ketika pasangan CS-US menimbulkan suatu
respons. Conditioned inhibition tampak ketika training CS menghambat atau menekan
suatau respons.

External inhibition adalah istilah yyang dipakai Pavlov untuk mendeskripsikan


efek disruptif yang terjadi ketika stimulus baru disajikan dengan CS yg sdh ada. Tetapi,
efeknya tidak terbatas hanya pada eksitasi yang dikondisikan. Jika CS adalah
penghambat yang dikondisikan, pengenalan stimulus yang tak terduga bersama dengan
CS akan menghasilkan disinhibition, yang merupakan disrupsi (gangguan) terhadap
hambatan yang dikondisikan. Dengan kata lain, jika kita memasangkan satu stimulus
baru dengan penghambat yang dikondisikan. Dengan kata lain, jika kita memasangkan
satu stimulus baru dengan penghambat yang dikondisikan, penghambat akan gagal
untuk menghambat.

Perbandingan antara pengkondisian klasik dan instrumental

Pengkondisian klasik menimbulkan respon dari hewan dan pengkondisian instrumental


akan tergantung pada respon yang diberikan hewan. Pengkondisian klasik dapat
dikatakan berswifat tidak sukarela dan otomatis pengkondisian instrumental bersifat
sukarela dan dikontrol hewan. Fungsi penguatan juga berbeda untuk pengkondisian
klasik dan instrumental, untuk pengkondisian instrumental penguatan dihadirkan kepada
hewan setelah respon dibuat, untuk pengkondisian klasik penguatan disajikan untuk
penguayan respon.

Kedua macam pengkondisian itu memperkuat survival organism pengkondisian klasik


memperkuatnya dengan menciptakan sistem tanda dan symbol yangmemingkinkan
antisipasi kejadian yang signifikan. Pengkondisian memperkuatnya melalui
pengembangkan pola perilaku yang tepat dalam merespon kejadian yang sugnifikan
tersebut, kedua jenis pengkondisian itu juga bergantung pada penguatan.

b. Pandangan Pavlov tentang belajar

Menurut Pavlov proses belajar dengan rumus S-R bisa berjalan dengan syarat
adanya unsur-unsur seperti dorongan (drive), rangsangan (stimulus), respon (response),
dan penguatan (reinforcement). Pertama, dorongan adalah suatu keinginan dalam diri
seseorang untuk memenuhi suatu kebutuhan yang sedang dirasakannya. Seorang anak
merasakan adanya kebutuhan akan bahan bacaan ringan untuk mengisi waktu
senggangnya, maka ia terdorong untuk memenuhi kebutuhan itu, misalnya dengan
mencarinya di perpustakaan terdekat. Unsur dorongan ini ada pada setiap orang
meskipun tingkatannya tidak sama: ada yang kuat, ada pula yang lemah . Kedua, adanya
rangsangan (stimulus). Kalau dorongan datangnya dari dalam, maka rangsangan datang
dari luar. Bau masakan yang lezat bisa merangsang timbulnya selera makan yang tinggi,
bahkan yang tadinya tidak terlalu lapar pun bisa menjadi lapar dan ingin segera
mencicipinya. Wanita cantik dengan pakaian yang ketat juga bisa merangsang gairah
seksual setiap lelaki dewasa (yang normal) . Oleh karena itu, dalam islam wanita tidak
diperbolehkan berpakaian yang merangsang, dan bahkan harus menutup seluruh
auratnya (Qur’an:24:31). Hal ini untuk menjaga “keamanan”, menjaga nafsu yang sering
tidak terkendali sebagaimana sering kita dengar adanya tindakan perkosaan brutal yang
tidak berprikemanusiaan.

Dalam sistem intruksional, rangsangan ini bisa terjadi (bahkan bisa diupayakan)
pada pihak sasaran untuk bereaksi sesuai dengan keinginan komunikator, guru maupun
instruktur. Dalam suatu kuliah siang hari, pada saat para mahasiswa banyak yang
mengantuk dan kurang bergairah, sang dosen bisa merangsangnya dengan berbagai cara,
dan yang sering dilakukan adalah antara lain dengan mengajukan berbagai pertanyaan
yang selektif dan menarik, bercerita ringan atau humor.

Dari adanya rangsangan tersebut kemudian timbul reaksi, dan memang orang
bisa timbul reaksinya atas suatu rangsangan. Bentuk reaksi berbeda-beda tergantung
pada situasi, kondisi dan bahkan bentuk rangsangan tadi. Reaksi-reaksi yang terjadi
pada seseorang akibat adanya rangsangan dari lingkungan sekitarnya inilah yang disebut
dengan respon dalam teori belajar. Maka unsur yang Ketiga, adalah masalah respon.
Respon ini bisa dilihat atau diamati dari luar. Respon ini ada yang positif dan ada pula
yang negatif. Respon positif terjadi sebagai akibat “ketepatan” seseorang melakukan
respon (mereaksi) terhadap stimulus yang ada, dan tentunya yang sesuai dengan yang
diharapkan. Sedangkan respon negatif adalah apabila seseorang bereaksi justru
sebaliknya dari yang diharapkan oleh pemberi rangsangan. Kempat, adalah masalah
penguatan (reinforcement).

Unsur ini datangnya dari pihak luar kepada seseorang yang sedang melakukan
respon. Apabila respon telah benar, maka perlu diberi penguatan agar orang tersebut
merasa adanya kebutuhan untuk melakukan respons seperti tadi lagi. Seorang anak kecil
yang sedang mencoret-coret buku kepunyaan kakaknya, tiba-tiba dibentak dengan kasar,
bisa terkejut bahkan bisa menderita guncangan sehingga ia tidak akan mencoret-coret
buku lagi. Bahkan kemungkinan yang paling jelek di kemudian hari barangkali ia akan
benci terhadap setiap yang namanya tulis menulis. Hal ini adalah bentuk penguatan yang
salah. Barangkali akan lebih baik apabila cara melarangnya dengan kata-kata yang tidak
membentak. Dengan demikian si anak akan merasa dilarang menulis, dan itu namanya
anak diberi penguatan positif sehingga ia merasa perlu untuk melakukan coretan seperti
tadi, tapi di tempat lain. Setiap kali seorang siswa mendapat nilai A pada mata pelajaran
matematika, ia mendapat pujian dari guru; maka selanjutnya ia akan berusaha
mempertahankan prestasinya itu. Dengan kata lain, ia melaksanakan semuanya itu
karena dipuji (diberi penguatan) oleh guru. Proses belajar akan terjadi secara terus
menerus apabila stimulus dan respon ini berjalan dengan lancar. Ia berproses secara
rutin dan tampak seperti otomatis tanpa membicarakan hal-hal yang terjadi selama
berlangsungnya proses tadi. Namun dalam hal ini tidak dibicarakan bahwa yang
namanya belajar banyak melibatkan unsur pikiran, ingatan, kemauan, motivasi, dan lain-
lain.

Prinsip Pavlovian sulit di aplikasikan ke pendidikan kelas, meskipun prinsip itu


ada. Ketika suatu parfum yang sering diipakai oleh guru favorit pada suatu waktu
dikemudian hari terciium lagii bau itu akan mengingatkan kenangan kaan sekolah.
Belajar matematika adalah situasi yang menegangkan dan guru galak mungkin akan
menyebabkan muncul nya sikap negative pada martematika. Sering dihukum dengan
menulis dan menulis terus mungkin akan menyebabkan sikap negative pada kegiatan
menulis. Mendapat pelajaran sulit di pagi hari mungkin menyebabkann ketidaksukaan
pada pelajaran yang pertama dipagi hari. Dan guru yang ramah dan menyenangkan
mungkin akan mengilhami murid untuk berkarir menjadi guru. Perasaan kecemasan
yang dikaitkan dengan kegagalan disekolah mungkin menimbulkan masalah di luar
sekolah.

Meskipun pengkondisian klasik di sekolah cukup kuat pengaruh itu biasanya


incidental. Tetpi prinsip pengkondisian klasik dapat di pakai dalam program pendidikan
seperti dalam kasus albert. Ketika tekhnik pavlovian di pakai untuk memodifikasi
perilaku situasi nyatampak menyerupai brain washing ketimbng pendidikan. Contoh dari
prinsip Pavlovian yang digunakan untuk memodifikasi sikap adalah iklan televise,
pengiklan menggunakan prosedur menyandingkan suatu objek dengan sesuatu yang lain.
secara bertahap produk itu aka menyebabkan pemirsa menganggap produk itu membuat
mereka memiliki situasi yang di tamppilkan di iklan. Sekali lagi aspek incidental darui
pendidikan ini jelas terjadi di sepankjang waktu di sekolah. Modifikasi sikap dan emosi
terhadap belajar berdasarkan pengkondisian klasik harus dulakukan dengan hati-hati
agar mendapatkn program pendidikan yang benar-benar efektif.

c. Aplikasi teori dalam psikologi

Aplikasi dalam Psikologi Klinis

Extinction (pelenyapan) praktik klinik berbasis pengkondisian klasik


mengasumsikan bahwa karena gangguan perilaku atau kebiasaan buruk adalah hasil dari
belajar, maka perilaku itu bisa dibuang atau diganti dengan perilaku yang lebih positif.
Misalnya kita ambil contoh merokok dan kecanduan alcohol sebagai perilaku buruk atau
kebiasaan buruk.

Counterconditioning, contohnya dengan penyandingan beberapa kali, rasa sigaret


atau alcohol akan menimbulkan rasa mual yang dikondisikan, yang pada gilirannya akan
menimbulkan ketidakmauan untuk merokok atau minum.

Flooding. Problem utama dalam menangani fobia adalah fakta bahwa individu
menghindari pengalaman yang menakutkan. Karena pelenyapan adalah proses aktif (CS
harus dihadirkan dan tidak diikuti dengan US), usaha menghindari stimuli yang
menimbulkan rasa takut justru akan mencegah terjadinya pelenyapan. Jika, misalnya,
seseorang punya fobia terhadap anjing, orang itu tak pernah dekat-dekat dengan anjing
dalam waktu lama untuk belajar apakah dekat dengan anjing itu aman atau tidak.

Aplikasi dalam psikologi pendidikan

Aplikasi/penerapan klasikal kondisioning di kelas adalah dengan cara:


Ø Menjadikan lingkungan belajar yang nyamn&hangat, sehingga kelas menjadd satu
ksatuan (saling berhubungan) dengan emosi positf (adanya hubungan
persahabatan/kekerabatan)

Ø Pada awal masuk kelas, guru tersnyum dan sebagai pembukaan bertanya kepada
siswa tetang kabar keluarga, hewan peliharaan/hal pribadi dalam hidup mereka.

Ø Guru berusaha agar siswa merespek satu sama lain pada prioritas tinggi di kelas,
misalnya, pada diskusi kelas guru merangsang siswa untuk berpendapat

Ø Pada sesi tanya jawab, guru berusaha membuat siswa berada dalam situasi yang
nyaman dengan memberikan hasil (positf outcome – masukn positif). Misalnya, jika
siswa diam/tidak aktif, maka guru bisa memulai dengan pertanyaan ”apa pendapatmu
tentang masalah ini”, atau bagaimana kamu membandingkan dua contoh ini”. Dengan
kata lain, guru memberi pertanyaan yang dapat memancing siswa untuk berpendapat.
Namun jika dengan cara inipun siswa tidak sanggup/ segan untuk merespon, maka tugas
guru untuk membimbing/ memacu sampai siswa memberi jawaban yang dapat diterima.

2. Edwin Ray Guthrie

a. Dasar teori menurut Guthrie

Satu hukum belajar

Guthrie (1959) merevisi hukum contiguitasnya menjadi, ‘apa-apa yang dilihat akan
menjadi sinyal untuk apa-apa yang dilakukan’ (h.186). ini adalah cara guthrie mengakui
begitu banyaknya jumlah stimuli yang dihadapi organisme pada suatu waktu tertentu
dan organisme tidak mungkin membentuk asosiasi dengan semua stimuli itu.organisme
akan merespon secara selektif pada sebagian kecil dari stimuli yang dihadapinya, dan
proporsi inilah yang akan diasosiasikan dengan respon.

Belajar suatu perbedaan

Prinsip kebaruan. Prinsip kontiguitas dan belajar suatu percobaan membutuhkan


resensi prinsiple (prinsip kebaruan), yang menytakan bahwa respon yang dilakukan
terakhir kali dihadapan seperangkap stimuli adalah respon yang akan dilakukan ketika
kombinasi stimulus itu terjadi lagi dilain waktu.

Stimuli yang dihasilkan oleh gerakan

Kejadian di lingkungan dan responnya terkadang dipisahkan oleh satu interval


waktu, dan karenanya sulit untuk menganggap kedua nya sebagai terjadi bersamaan.
Guthrie memecahkan problem ini dengan mengemukakan adanya movement produced
stimuli (stimuli yang dihasilkan oleh gerakan), yakni disebabkan oleh gerakan tubuh.
Setelah satu respon dipicu oleh stimuli eksternal, tubuh itu sendiri menghasilkan
stimulus untuk respon selanjutnya dan respon itu melengkapi stimulus untuk respon
selanjutnya dan seterusnya. Jadi, interval antar kejadian suatu stimulus eksternal dengan
respon akhirnya diisi oleh stimuli yang dihasilkan oleh gerakan.

Mengapa praktek latihan meningkatkan performa?

Guthrie membedakan antara acts (tindakan)dengan movement (gerakan). Gerakan


adalah konstraksi otot ; tindakan terdiri dari berbagai macam gerakan. Tindakan
biasanya didefiniskan dalam term apa-apa yang dicapainya, yakni perubahan apa yang
mereka lakukan dalam lingkungan. Sebagai contoh tindakan, guthrie menyebut misanya
menegtik surat, makan pagi, melempar bola, membaca buku atau menjual mobil.
Ringkasnya, suatu keterampilan terdiri dari banyak tindakan, dan tindakan terdiri dari
banyak gerakan.hubungan antara suatu perangkat stimuli dengan satu gerakan dipelajari
secara lengka dalam satu kalli percobaan, namun prses belajar ini tidak melahirkan
kemairan dalam menjalankan suatu keahlian atau keterampilan.misalnya, menyetir
mobil, mengoperasiakn komputer atau bermain sepak bola. Semuanya itu adalah
keahlian yang rumit yang terdiri dari banyak asosiasi respon stimulus dan salah satu dari
ikatan atau asosiasi ini dipelajari secara meneyluruh dalam suatu percobaan.

Sifat penguatan

Menurut guthrie reinforcement (penguatan) adalah hanyalah aresmen mekanis,


yang dianggapnya dapat dijelaskan dalam hukum belajarnya. Menurt guthrie, penguatan
mengubah kondisi yang menstimulasi dan karenanya mencegah terjadinya nonlearning.
Eksperimen guthie-horton

Lupa

Menurut guthrie, lupa disebabkan oleh munculnya respon alterntif dalam satu pola
stimulus. Setelah pola stimulus menghasilkan respon alternatif, pola stimulus itu
kemudian akan cenderung menghasilakan respon baru. Jadi menurut guthrie lupa pasti
melibatkan proses belajar baru. Ini adalah bentuk retroaktif inhibition (hambatan
retroaktif ) yang ekstrim, yakni fakta bahwa proses belajar lama intervensi oleh proses
belajar baru.

Ringkasan teori guthrie

Asosiasi antara kondisi yang menstimulasi dengan gerakan terus menerus dibuat.
Asosiasi antara stimulus dan respon terjadi hanya karena keduanya terjadi secara
bersama-sama. Asosiasi itu dapat berupa antara stimuli eksternal dengan repon nyata
atau antara stimuli yang diproduksi gerakan denan respon nyata. Asosiasi ini akan terus
berlanjut sampai respon yang sama terjadi ketika ada stimuli lain atau sampai stimuli
yang sama terjadi namun responnya tidak terjadi karena ada hambatan.dalam situasi
belajar yang terstuktur, seperti kotak teka-teki, lingkungan ditata sedemikian rupa
sehingga terjadi perubahan tibatiba dalam stimulasi setelah respon tertentu dilakukan.
Misalnya jika kucing menekan tuas, pintu akan terbuka dan ia bisa keluar. Guthhrie
mengatakan bahwa setelah kucing menekan tuas, situasi stimulasinya tiba-tiba berubah
dan asosiasi apapun yang ada sebelum waktu perubahan itu akan etap
dipertahankan.asosiasi paling akhir (baru) sbelum perubahan mendadak itu adalah
asosiasi antara stimulasi dalam kotak dengan respon yang memungkinkan hewan itu
keluar. Menurut prinsip kebaruan ini, ketika hewan dimasukkan lagi kedalam kotak, ia
cenderung akan melakukkan respon yang sama ( ia cenderung menekan tuas lagi), dan
kita menyatakan bahwa kucing itu telah mempelajari cara keluar dari kotak.

Cara memutuskan kebiasaan

Kebiasaan adalah respon yang menjadi diasosiasikan dengan sejumlah besar


stimulus. Semakin banyak stimulus yang menimbulkan respon, semakin kuat kebiasaan.
Untuk memutuskan kebiasaan, aturannya selalu sama: cari petunjuk yang memicu
kebiasaan buruk dan lakukan respon lain saat petunjuk itu muncul. Guthrie
mengemukakan tiga cara yang dapat dilakukan organisme untuk melakukan respon,
bukan respon yang tidak diinginkan, terhadap satu pola stimuli. Teknik pertama
dinamakan metode ambang (threshold method) adalah dengan memperkenalkan
stimulus lemah yang tidak menimbulkan respon, dan kemudian pelan-pelan menaikan
intens stimulus itu, tetapi selalu berhati-hati agar dia tetap berada dibawah ambang batas
respon. Metode kedua yangdiusulkan Guthrie disebut fatigue method (metode
kelelahan). Metode ketiga untuk menghentikan kebiasaan dinamakan incompatible
response method (metode respon yang tidak kompatibel). Dengan metode ini, stimuli
untuk respon yang tidak diinginkan disajikan bersama stimuli lain yang menghasilkan
respon yang tidak kompatibel dengan respon yang tidak diinginkan tersebut.
Ketiga metode untuk menghentikan atau memutuskan kebiasaan ini adalah efektif
karena alasan yang sama. Guthrie (1938) mengatakan “ ketiga metode itu sesungguhnya
adalah satu metode. Semuanya menyajikan suatu petunjuk tindakan yang tidak
diinginkan dan berusaha mempengaruhi agar tindakan tidak dilakukan. Karena selalu
ada perilaku lain yang terjadi saat kita terjaga, petunjuk yang kita hadirkan menjadii
stimuli untuk perilaku lain ini dan membuat respon buruk menjadi tersingkirkkan”.

Membelokkan kebiasaan
Ada perbedaan antara memutuskan kebiasaan dengan membelokan kebiasaan.
Membelokkan atau menyimpangkan kebiasaan dilakukan dengan menghindari
petunjukk yang menimbulkan perilaku yang tak diinginkan. Jika anda mengumpulkan
sejumlah besar pola perilaku yang tak efektif atau menyebabkan kecemasan, hal terbaik
yang bisa dilakukkan adalah meninggalkan situasi itu.

Hukuman
Guthrie mengatakan efektivitas punishment atau hukuman ditentukan oleh apa
penyebab tindakkan yang dilakukan oleh organisme yang dihukum itu. Hukuman
bekerja baik bukan karena adanya rasa sakit yang dialami oleh individu terhukum, tetapi
karena hukuman mengubah cara individu merespon stimuli tertentu. Hukuman akan
efektif ketika ia menghasilkan respon yang baru terhadap stimuli yang sama. Hukuman
berhasil mengubah perilaku yang tak diinginkan karena hukuman menimbulkan perilaku
yang tidak kompatibel dengan perilaku yang dihukum. Hukuman gagal karena perilaku
yang disebabkan oleh hukuman selaras dengan perilaku yang dihukum. Pendapat
Guthrie tentang hukuman dapat diringkas sebagai berikut:
1. Hal penting mengenai hukuman adalah bukan rasa sakit yang ditimbulkannya,
tetapi apa yang membuat organisme itu berbuat.
2. Agar efektif, hukuman harus menimbulkan perilaku yang tidak kompatibel
dengan perilaku yang dihukum.
3. Agar efektif, hukuman harus diaplikasikan bersama dengan stimulus yang
menimb ulkan perilaku yang dihukum.
4. Jika syarat 2 dan 3 tidak dipenuhi, hukuman tidak akan efektiv atau justru
memperkuat respon yang tak diiniginkan.

Dorongan
Drives (dorongan) visiologi merupakan apa yang oleh guthrie disebut maintaining
stimuli (stimuli yang mempertahankan) yang menjaga organisme tetap aktif sampai
tujuan tercapai. Tetapi, perlu ditekankan bahwa dorongan fisiologis ini hanya salah satu
sumber stimuli yang mempertahankan. Setiap sumber stimuli yang terus berlangsung,
entah itu eksternal maupun internal menghasilkan stimuli yang mempertahankan.

Niat
Respon yang dikondisikan ke maintaining stimuli dinamakan intentions (niat).
Respon itu dinamakan niat karena maintaining stimulation dari dorongan biasanya
berlangsung selama periode waktu tertentu (sampai dorongan berkurang). Jadi, sekuensi
perilaku yang mendahului respon yang mengurangi dorongan akan diulang ketika
dorongan, dengan stimuli terkaitnya, muncul lagi. Sekuensi (urutan) perilaku yang di
asosiasikan maintaning stimulation tampak saling terkait dan logis, karenanya dianggap
bersifat intentional.

b. Pandangan tentang belajar


Transfer training

Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan
stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung
akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan
variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar.
Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus
sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya
melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan
respon yang baru.

Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam
kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan
stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa
hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman
yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara
tepat. Pebelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola
kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell,
Gredler, 1991).

Latihan atau praktik adalah penting karena ia menimbulkan lebih banyak stimuli
untuk menghasilkan perilaku yang diinginkan. Karena setiap pengalaman adalah unik,
seseorang harus belajar ulang berkali-kali. Seperti Thorndike, Guthrie percya bahwa
pendidikan formal seharusnya menyerupai situasi kehidupan nyata semirip mungkin.
Dengan kata lain, guru Guthrian akan meminta siswanya melakukkan atau mempelajari
hal-hal yang kelak akan mereka lakukan saat mereka lulus. Guthrie mendukung program
magang atau mentoring dan mendorong pendekatan pertukaran pelajar untuk
memperluas pengalaman belajar. Guru Guthrian terkadang menggunakan hukuman
untuk mengatasi perilaku yang mengganggu, namun mereka menyadari bahwa agar
hukuman bisa efektif, hukuman mesti dipakai saat perilaku distriktif itu sedang terjadi.
Lebih jauh, hukuman harus menimbulkan perilaku yang tidak kompatibel dengan
perilaku yang mengganggu itu. Hukuman idealnya menghasilkan perilaku yang
diinginkan, bukan sekedar menghentikan perilaku yang tidak diinginkan.

c. Aplikasi teori dalam bidang psikologi

Mengasosiasikan rangsangan dan respons secara tepat merupakan inti dari teori
belajar yang dibangun oleh Guthrie. Untuk penerapan teori ini dalam proses belajar
mengajar di kelas. Guthrie memberikan beberapa saran bagi guru :

1. Guru harus dapat mengarahkan performa siswa akan menjadi apa ketika
mempelajari sesuatu. Dengan kata lain , apakah stimuli yang ada dalam buku
atau pelajaran yang menyebabkan siswa melakukan belajar.
2. Oleh karena itu, jika siswa mencatat atau membaca buku secara sederhana
mereka dapat mengingat lebih banyak informasi. Maka dalam hal ini buku akan
menjadi stimuli yang dapat digunakan sebagai perangsang untuk menghafal
pelajaran.
3. Dalam mengelola kelas, guru dianjurkan untuk tidak memberikan perintah yang
secara langsung akan menyebabkan siswa menjadi tidak taat terhadap peraturan
kelas. Misalnya permintaan guru agar siswa tenang jika diikuti oleh kegaduhan
dalam kelas akan menjadi tanda (memunculkan stimuli ) bagi munculnya
perilaku distruptif.

3. William Kaye Estes

a. Dasar teori menurut Estes

Asumsi menurut estes.

Asumsi 1. Situasi belajar terdiri dari banyak elemen stimulus dalam jumlah tertentu.
elemen-elemen ini terdiri dari banyak hal yang dapat dialami pembelajar pada awal
percobaan belajar. Stimuli-stimuli itu bisa mencakup kejadian eksperimental seperti
cahaya, suara berisik, materi verbal yang disajikan dalam dram memori.

Asumsi 2. Semua respon yang diberikan dalam situasi eksperimental dapat


digolongkan menjadi dua kategori. Jika responnya adalah yang dicari oleh
eksperimental (seperti keluarnya air liur) Ia dinamakan respon A1. Jika responnya
adalah yang dicari oleh eksperimental, ia adalah respon yang keliru dan diberi
respon A2.

Asumsi 3. Semua elemen di S diletakkan dengan A1 atau A2. Sekali lagi, ini adalah
situasi all or nothing: semua unsure stimulus dalam S adalah dikondisikan ke respon
yang diinginkan atau benar(A1) atau kerespon yang keliru(A2).

Asumsi 4. Pembelajaran terbatas kemampuannya dalam mengalami S. pembelajar


hanya mengalami sebagian dari stimuli yang tersedia. Pada setiap percobaan belajar,
dan besarnya sampel diasumsikan tetap konstan disepanjang eksperimen.

Asumsi 5. Percobaan belajar berakhir ketika respon terjadi; jika respon A1


menghentikan percobaan elemen-elemen stimulus dikondisikan dalam respon A1.

Asumsi 6. Elemen ditetha dikembalikan ke S pada akhir percobaan, dank arena tetha
yang dijadikan sampel pada awal percobaan belajar pada dasarnya adalah acak,
proporsi elemen yang dikondisikan ke A1 dalam S akan tercermin dalam elemen
dalam tetha pada awal setiap percobaan baru.

b. Pandangannya tentang belajar

Generalisasi

Generalisasi dari situasi belajar awal ke situasi belajar lainnya dapat dengan mudah
dijelaskan dengan teori sampling stimulation. Transfer terjadi sepanjang dua situasi
memiliki elemen stimulus yang sama. Jika banyak dari elemen yang sebelumnya
dikondisikan ke respon A1 ada didalam situasi belajar yang baru, probabilitas respon
A1 akan muncul ke dalam situasi baru itu akan cukup tinggi.

Pelenyapan
Estes menjelaskan problem pelenyapan dengan cara yang pada dasarnya sama
dengan yang dilakukan Guthrie karena dalam pelenyapan satu percobaan biasanya
diakhiri setelah subjek melakukan sesuatu selain A1, elemen stimulus yang
sebelumnya dikondisikan ke A1 pelan-pelan akan kembali lagi ke A2. Hukum untuk
akuisisi dan pelenyapan adalah sama.

Pemulihan Spontan

Merupakan munculnya kembali respon yang dikondisikan setelah respon itu


mengalami pelenyapan.

Pencocokan Probabilitas

c. Aplikasi dalam bidang psikologi