Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

MENGANALISIS DASAR FILSAFAT PENDIDIKAN DI INDONESIA

DISUSUN OLEH ;

1. Dwi Suciyati (1862150287)


2. Erni Nuraeni (1862150195)
3. Estia Yuliani (1862150196)

PROGRAM STUDI PGPAUD UNIVERSITAS PANCA SAKTI

KAMPUS AS-SHOFA

2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT, atas selesainya tugas makalah
pertama kami ini. Tak lupa pula kita panjatkan sholawat serta salam semoga tetap tercurah
limpahkan kepada baginda kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarganya, sahabatnya dan
para pengikutnya hingga akhir zaman.

Alhamdulillah kami ucapkan atas terselesaikannya tugas filsafat pendidikan kami ini
yang berjudul “menganalisis dasar filsafat pendidikan di Indonesia”. Yang di berikan oleh Bapak
dosen kami tercinta Bapak Dr. H Nanang Ma’mur, M.Pd,semoga beliau tetap selalu dalam
keadaan sehat selalu dan menilai tugas kami dengan baik.

Kami sadar apabila dakam pengerjaan ini masih ada dalam kesalahan karena pada
dasarnya kami masih sama-sama belajar. Kami harap rekan-rekan mahasiswa disini dapat
mengerti dengan apa yg kami sampaikan .

Tasikmalaya, 10 Oktober 2021

Penulis

ii
DAFTAR ISI

iii
BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

1. Pengertian Filsafat

Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata philos yang
berarti cinta atau suka, dan sophia berarti Pengetahuan atau kebenaran. Maka philosophia
adalah cinta pada pengetahuan/kebijakan/kebenaran. Sehingga kajian dari filsafat adalah
alam pikiran atau alam berpikir untuk menggali kebenaran atau menggali hakekat
sesuatu.
Definisi yang lebih lengkap dari filsafat adalah ilmu tentang prinsip, ilmu yang
mempelajari dengan mempertanyakan secara radikal segala ralitas melalui sebab-sebab
terakhir, melalui asas-asasnya guna memperoleh pandangan (insight) yang tepat
mengenai realitas (W. Poespoprodjo, 1999). Definisi lain menyatakan bahwa berfilsafat
merupakan kegiatan berpikir manusia yang berusaha untuk mencapai kebijakan dan
kearifan. Filsafat berusaha merenungkan dan membuat garis besar dari masalah-masalah
dan peristiwa-peristiwa yang pelik dari pengalaman umat manusia. Dengan kata lain
filsafat sampai kepada merangkum (sinopsis) tentang pokok-pokok yang ditelaahnya
(Uyoh Sadulloh, 2009).
Dari definisi-definisi di atas, dapatlah diterapkan kriteria-kriteria berikut terhadap
berpikir secara filsafat:

1. Universal
Kaitan komponen dalam suatu cabang ilmu, bahkan dengan pengetahuan lain,
ditelaah secara mendalam, sehingga semakin mendalam dan meluas pemahaman
seseorang terhadap suatu fenomena, maka semakin banyak pertanyaan memerlukan
jawaban. Socrates berkata, “Yang saya tahu adalah bahwa saya tidak tahu apa-apa.”

iv
2. Fundamental

Berpikir filsafat adalah berpikir secara fundamental (mendasar) sampai ke akar


permasalahan (radix). Proses ini mempertanyakan tentang mengapa ilmu disebut benar?
Apa kriteria benar? Apakah kriteria itu sendiri benar? Lalu, benar sendiri apa? Socrates
mengemukakan bahwa tugas filsafat bukanlah menjawab pertanyaan kita, namun
mempersoalkan jawaban yang diberikan oleh kita.

3. Spekulatif

Spekulatif menelusuri sebuah lingkaran harus dimulai ari sebuah titik, tetapi titik
mana? Filsafat harus menentukan spekulasi mana yang dapat diandalkan dan mana yang
tidak dapat diandalkan. Tugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-dasar yang dapat
diandalkan. Jadi, filsafat adalah dasar dari semua pengetahuan yang mempersoalkan cara-
cara mengetahui dan mengembangangkan pemikiran yang mencakup: apa yang diketahui
(ontologi), bagaimana cara mengetahui (epistemologi), dan apa manfaat dari yang
diketahui (aksiologi).

2. MAKNA PENDIDIKAN
Pendidikan dalam arti luas merupakan usaha manusia untuk meningkatkan
kesejahteraan hidupnya, yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan merupakan suatu
proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil interaksi individu dengan
lingkungn sosial dan lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir.
Warisan sosial merupakan bagian dari lingkugan masyarakat, merupakan alat bagi
manusia untuk pengembangan manusia yang terbaik dan inteligen, untuk meningkatkan
kesejahteraan hidupnya.
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan
Nasional menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta
didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa
yang akan datang. Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan
serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya

v
mewujudkan tujuan nasional.
Dari pengertian di atas ada beberapa prinsip dasar tentang pendidikan yang dilaksanakan:
Pertama, bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup. Usaha pendidikan sudah dimulai
sejak manusia lahir dari kandungan ibunya sampai tutup usia, sepanjang ia mampu
menerima pengaruh dan dapat mengembangkan dirinya. Suatu konsekuensi dari konsep
pendidikan sepanjang hayat adalah, bahwa pendidikan tidak identik dengan persekolahan.
Pendidikan akan berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Kedua, bahwa tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama semua
manusia. Pemerintah, masyarakat, harus berusaha semaksimal mungkin agar pendidikan
mencapai tujuan yang ditetapkan.
Ketiga, bagi manusia pendidikan merupakan suatu keharusan karena dengan pendidikan
manusia akan memiliki suatu kemampuan dan kepribadian yang berkembang, yang
disebut manusia seluruhnya. Pendidikan pada dasarnya suatu hal yang tidak dapat
dielakkan oleh manusia, suatu perbuatan yang tidak boleh tidak terjadi, karena
pendidikan itu membimbing generasi muda untuk mencapai suatu generasi yang lebih
baik.
Dari tiga prinsip di atas, tersirat pesan bahwa pendidikan merupakan proses transformasi
nilai dari generasi ke generasi berikutnya. Proses transformasi nilai ini dilakukan melalui
kegiatan mendidik, mengajar, dan melatih. Maka, dalam pelaksanaannya, ketiga kegiatan
tersebut harus berjalan secara terpadu dan berkelanjutan serta serasi dengan
perkembangan peserta didik dan lingkungan hidupnya.
Nilai-nilai yang akan kita transformasikan tersebut mencakup nilai-nilai religi, nilai-nilai
kebudayaan, nilai-nilai sains dan teknologi, nilai-nilai seni, dan nilai keterampilan. Nilai-
nilai yang ditransformasikan tersebut dalam rangka mempertahankan, mengembangkan,
bahkan kalau perlu mengubah kebudayaan yang dimiliki masyarakat. Maka, di sini
pendidikan akan berlangsung dalam kehidupan.

vi
3. FILSAFAT PENDIDIKAN
Filsafat, selain memiliki lapangan tersendiri, ia memikirkan asumsi fundamental
cabang-cabang pengetahuan lainnya. Apabila filsafat berpalilng perhatiannya pada sains,
maka akanlahir filsafat sains. Apabila filsafat menguji konsep dasar hukum, maka akan
lahir filsafat hukum. Dan, apabila filsafat berhadapan dan memikirkan pendidikan, maka
akan lahirlah filsafat pendidikan.
Al-Syaibany (1979) dalam Uyoh Sadulloh (2009) menyatakan bahwa filsafat pendidikan
adalah pelaksanaan pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan.
Filsafat itu mencerminkan satu segi dari segi pelaksanaan falsafah umum dan
menitikberatkan kepada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan-kepercayaan yang
menjadi dasar dari falsafah umum dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan
secara praktis.
Filsafat pendidikan bersandarkan pada filsafat formal atau filsafat umum. Dalam arti
bahwa masalah-masalah pendidikan merupakan karakter filsafat.
Dari uraian di atas terlihat bahwa peranan guru yang strategis, karena di tangannya
terletak nasib generasi penerus, mengharuskan para guru memahami hakikat nilai, etika,
estetika, sains, teologi, alam (kosmos), pendidikan, dan hakikat anak didik

B. RUMUSAN MASALAH

 Mengapa pancasila sebagai ideologi bangsa?


 Keselarasan tujuan agama dengan tujuan filsafat?

C.TUJUAN MASALAH

Dengan adanya rumusan masalah yang kita bentuk maka dapat tujuan :
 Agar mahasiswa mampu mengetahui dasar filsafat pendidikan di Indonesia Mengetahui
pentingnya pancasila sebagai ideologi Negara

vii
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1. Pancasila Sebagai Ideologi Negara

Pancasila adalah dasar dan ideologi bangsa Indonesia yang mempunyai fungsi dalam
kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Filsafat adalah berpikir secara mendalam dan
sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran. Filsafat pendidikan adalah pemikiran yang
mendalam tentang pendidikan berdasarkan filsafat. Apabila kita hubungkan fungsi
Pancasila dengan sistem pendidikan ditinjau dari filsafat pendidikan, maka Pancasila
merupakan pandangan hidup bangsa yang menjiwai dalam kehidupan sehari-hari. Karena
itu, sistem pendidikan nasional Indonesia wajar apabila dijiwai, didasari dan
mencerminkan identitas Pancasila. Pancasila adalah falsafah yang merupakan pedoman
berperilaku bagi bangsa Indonesia yang sesuai dengan kultur bangsa Indonesia.
Pendidikan karakter memang seharusnya diambil dari nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila. Agar tercipta manusia Indonesia yang cerdas, berperilaku baik, mampu hidup
secara individu dan sosial, memenuhi hak dan kewajiban sebagai warga negara yang baik
serta beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Semuanya telah mencakup
filsafat pendidikan Pancasila yang mempunyai ciri, yaitu integral, etis, dan reigius.

Pancasila merupakan dasar pandangan hidup rakyat Indonesia yang di dalamnya

memuat lima dasar yang isinya merupakan jati diri bangsa Indonesia. Sila-sila dalam
Pancasila menggambarkan tentang pedoman hidup berbangsa dan bernegara bagi
manusia Indonesia seluruhnya dan seutuhnya. Masuknya Pancasila sebagai suatu ideologi
dan falsafah bangsa Indonesia tak lepas pula dari peran Bung Karno.

8
Menurut Sutrisno (2006), “Pancasila adalah suatu philosofiche grounfslag atau
Weltanschauung yang diusulkan Bung Karno di depan siding BPUPKI 1 Juni 1945
sebagai dasar negara Indonesia yang kemudian merdeka.” Suatu masyarakat atau bangsa
menjadikan filsafat sebagai suatu pandangan hidup, yaitu merupakan asas dan pedoman
yang melandasi semua aspek hidup dan kehidupan bangsa tersebut, tanpa terkecuali
aspek pendidikan.

Dengan memperhatikan fungsi pendidikan dalam membangun potensi bangsa,


khususnya dalam melestarikan kebudayaan dan kepribadian bangsa yang ada pada
akhirnya menentukan eksistensi dan martabat bangsa, maka sistem pendidikan nasional
dan filsafat pendidikan pancasila seyogyanya terbina secara optimal supaya terjamin
tegaknya martabat dan kepribadian bangsa. Filsafat pendidikan Pancasila merupakan
aspek rohaniah atau spiritual sistem pendidikan nasional, tiada sistem pendidikan
nasional tanpa filsafat pendidikan. Filsafat Pancasila dalam Membangun Bangsa
Berkarakter Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati,
jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”.
Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan
berwatak”. Menurut Musfiroh (2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap
(attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).
Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan
memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau
tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya
dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan
kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia. Dari pengertian di atas dapat dimaknai
bahwa pendidikan karakter merupakan suatu proses penanaman perilaku yang didasarkan
pada budi pekerti yang baik sesuai dengan kepribadian luhur bangsa Indonesia yang
didasarkan pada nilai-nilai Pancasila. Menurut Ramli (2003), pendidikan karakter
memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak.
Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga
masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga
masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa,
secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu yang banyak dipengaruhi oleh budaya

9
masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam
konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur
yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina
kepribadian generasi muda. Pancasila sebagai sistem filsafat bisa dilihat dari pendekatan
ontologis, epistemologis, maupun aksiologis. Diktat “Filsafat Pancasila” (Danumihardja,
2011) menyebutkan secara ontologis berdasarkan pada pemikiran tentang negara, bangsa,
masyarakat, dan manusia. Secara epistemologis berdasarkan sebagai suatu pengetahuan
intern struktur logis dan konsisten implementasinya. Secara aksiologis bedasarkan pada
yang terkandung di dalamnya, hirarki dan struktur nilai, di dalamnya konsep etika yang
terkandung. Dasar ontologis Pancasila sebagai sistem filsafat bisa diinterpretasikan
bahwa adanya negara perlu dukungan warga negara. Kualitas negara sangat bergantung
pada kualitas warga negara. Kualitas warga negara sangat erat berkaitan dengan
pendidikan. Hubungan ini juga menjadi timbal-balik karena landasan pendidikan haruslah
mengacu pada landasan negara. Esensi landasan negara harus benarbenar memperkuat
landasan pendidikan untuk mencapai tujuan bersama adanya keserasian hubungan antara
negara dengan warga negara. Demokrasi Pancasila menegaskan pengakuan atas harkat
dan martabat manusia sebagai makhluk masyarakat, Negara, dan masyarakat bangsa
(Arbi, 1998). Orientasi hidup kita adalah hidup kemanusiaan yang mempunyai ciri-ciri
tertentu. Ciri-ciri kemanusiaan yang kelihatan dari Pancasila ialah integral, etis, dan
religius (Poeposwardoyo, 1989). Filsafat pendidikan Pancasila mengimplikasikan ciri-ciri
tersebut, yaitu sebagai berikut.

a. Integral Kemanusiaan yang diajarkan oleh Pancasila adalah kemanusiaan yang


integral, yakni mengakui manusia seutuhnya. Manusia diakui sebagai suatu keutuhan
jiwa dan raga, keutuhan antara manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Kedua hal
itu sebenarnya adalah dua sisi dari satu realitas tentang manusia. Hakekat manusia yang
seperti inilah yang merupakan hakekat subjek didik.

b. Etis Pancasila merupakan kualifikasi etis. Pancasila mengakui keunikan subjektivitas


manusia, ini berarti menjungjung tinggi kebebasan, namun tidak dari segalanya seperti
liberalisme. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan yang bertanggung jawab.

10
c. Religius Sila pertama pancasila menegaskan bahwa religius melekat pada hakikat
manusia, maka pandangan kemanusiaan Pancasila adalah paham kemanusiaan religius.
Religius menunjukan kecendrungan dasar dan potensi itu. Pancasila mengakui Tuhan
sebagai pencipta serta sumber keberadaan dan menghargai religius dalam masyarakat
sebagai yang bermakna. Kebebasan agama adalah satu hak yang paling asasi diantara
hak-hak asasi Jurnal Filsafat Indonesia, karena kebebasan agama itu langsung bersumber
kepada martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Hak kebebasan agama bukan
pemberian negara atau pemberian perorangan atau golongan. Agama dan kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa sendiri tidak memaksa setiap manusia untuk memeluk
agama tertentu.
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, dapat dimaknai bahwa pendidkan
karakter di Indonesia merupakan hasil dari penerapan nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila. Pancasila adalah falsafah yang merupakan pedoman berperilaku bagi bangsa
Indonesia yang sesuai dengan kultur kita bangsa Indonesia yang memiliki adat ketimuran.
Pendidikan karakter memang seharusnya diambil dari nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila. Agar tercipta manusia Indonesia yang cerdas, berperilaku baik, mampu hidup
secara individu dan sosial, memenuhi hak dan kewajiban sebagai warga negara yang baik
serta beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Semuanya telah mencakup
filsafat pendidikan Pancasila yang mempunyai ciri yaitu integral, etis dan reigius.
Seorang pendidik haruslah sadar akan pentingnya pendidikan karakter. Salah satu cara
untuk menerapkan pendidikan karakter adalah dengan melaksanakan nilai-nilai Pancasila.
Di bawah ini ada beberapa poin yang harus dilakukan oleh pendidik dalam melaksanakan
nilai-nilai Pancasila.
a. Harus memahami nilai-nilai Pancasila tersebut.
b. Menjadikan Pancasila sebagai aturan hukum dalam kehidupan.
c. Memberikan contoh pelaksanaan nilai-nilai pendidikan kepada peserta didik dengan
baik.
Dengan melaksanakan tiga point di atas, diharapkan cita-cita bangsa yang ingin
melaksanakan pendidikan berkarakter sesuai falsafah pancasila akan terwujud. Karena
bagaimanapun juga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang
setiap waktu sehingga tidak mungkin rasanya menghambat perkembangan itu. Untuk itu,

11
satu-satunya jalan dalam menerapkan pendidikan berkarakter adalah dengan
melaksanakan poin-poin di atas.

2.2. Keselarasan Tujuan Negara Dengan Tujuan Pendidikan

Tujuan negara Republik Indonesia tertuang secara jelas dalam pembukaan UUD
1945 pada alinea keempat yang berbunyi “Kemudian daripada itu untuk membentuk
suatu pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial maka disusunlah
kemerdekaan kebangsaan Indonessia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara
Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang
berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan yang Maha Esa Kemanusiaan
yang adil dan beradab persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebibaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Sebagaimana yang tertuang dalam UUD 1945 alenia ke-empat tersebut dapat
diketahui bahwa, tujuan NKRI ialah:

1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,

2. Memajukan kesejahteraan umum,

3. Mencerdaskan kehidupan bangsa,

4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian


abadi, dan keadilan sosial.

Sehingga bisa diartikan tujuan Negara Republik Indonesia yaitu tujuan


perlindungan, kesejahteraan, pencerdasan, dan perdamaian. Untuk dipahami, setiap
negara pasti memiliki tujuan untuk berdiri.

12
Tujuan Pendidikan

Tujuan adalah batas akhir yang dicita-citakan seseorang dan dijadikan pusat
perhatiannya untuk mencapai melalui usaha. Dalam tujuan terkandung cita-cita
kehendak, dan kesengajaan, serta berkosentrasi dalam penyusunan daya upaya untuk
mencapainya . Pendidikan adalah suatu kegiatan yang sadar akan tujuan. Dengan
demikian tujuan merupakan salah satu hal yang penting dalam kegiatan pendidikan,
karena tidak saja akan memberikan arah ke mana harus menuju, tetapi juga memberikan
ketentuan yang pasti dalam memilih materi (isi), metode, alat evaluasi dalam kegiatan
pendidikan tersebut .. Salah satu tujuan utama dari pendidikan adalah mengembangkan
potensi dan mencerdaskan individu dengan lebih baik. Dengan tujuan ini, diharapkan
mereka yang memiliki pendidikan dengan baik dapat memiliki kreativitas, pengetahuan,
kepribadian, mandiri dan menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab.Tujuan negara
yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Sedangkan, Tujuan pendidikan itu membentuk generasi Yang Beriman dan Bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cakap, kreatif, mandiri dan bertanggung
jawab. Jadi kedua tujuan tersebut tidak dapat dipisahkan, karena sangat berhubungan.
Semua tujuan negara tersebut dapat diwujudkan melalui bidang Pendidikan.

Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan nasional (Indonesia) adalah merupakan tujuan umum yang


hendak dicapai oleh seluruh bangsa Indonesia dan merupakan rumusan daripada
kualifikasi terbentuknya setiap warga negara yang dicita-citakan bersama. Menurut
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3,
tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.

13
Berikut penjelasan dari tujuan pendidikan nasional tersebut:

1. Menjadi Manusia yang Beriman dan Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

Tujuan pendidikan yang pertama ini menunjukkan bahwa iman dan takwa kepada
Tuhan yang Maha Esa adalah faktor penting yang sangat berpengaruh terhadap kualitas
sumber daya manusia. Apalagi dalam Pancasila yang merupakan dasar negara, sila
pertama juga berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa. Dalam hal ini, pendidikan nasional
harus mengedepankan pendidikan agama. Kualitas pendidikan agama yang akan
membuat hubungan manusia dengan Tuhan-Nya dan sesama manusia juga akan
membaik. Jika tujuan ini tercapai maka suatu bangsa akan memiliki calon penerus
dengan sumber daya manusia yang baik.

2. Menjadi Manusia yang Berakhlak Mulia

Tujuan pendidikan nasional yang kedua ini berkaitan dengan manusia yang
memiliki sifat berbeda-beda. Setiap individu memiliki sifat yang berbeda, dan perbedaan
ini berpotensi menimbulkan konflik antar individu. Oleh karena itu, akhlak mulia adalah
salah satu solusi untuk menghindari konflik antar individu. Membentuk manusia yang
berakhlak mulia harus diterapkan pada pendidikan pada level terendah hingga tertinggi.
Kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadi lebih baik dengan adanya akhlak
mulia.

3. Menjadi Manusia yang Cakap

Tujuan pendidikan selanjutnya adalah menjadi manusia yang cakap. Hal ini
sangat penting sebagai tolak ukur kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Selama
atau setelah mengenyam pendidikan, sorang peserta didik harus memiliki suatu
kecakapan tertentu. Cakap dalam menulis dan membaca merupakan keharusan peserta
didik. Kedua kemampuaan tersebut tentunya dapat membuat seseorang memahami dan
dapat menyampaikan apa yang dipelajarinya.

14
Analisa Filsafat Tujuan Pendidikan di Indonesia

Pendidikan dapat diartikan dengan kegiatan mengubah manusia sehingga


mengembangkan hakikat kemanusiaan. Kegiatan pendidikan dilakukan dari oleh dan
untuk manusia yang bertujuan mengembangkan potensi kemanusiaan.

Dunia pendidikan adalah menguji dan mengintegrasikan nilai dalam kehidupan manusia
dan menanamkan sikap dalam kepribadian peserta didik, dan Pendidikan harus
memberikan pemahaman atau pengertian baik, benar, bagus, buruk dan sejenisnya
kepada peserta didik secara komprehensif dalam arti dilihat dari segi etika, estetika dan
social.

15
BAB 3

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada dasarnya semua hal yang menyangkut pendidikan nasional, baik itu dasar dan
tujuan pendidikan nasional semuanya terangkum dalam UUSPN No. 2 Tahun 2003.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
bangsa dan negara.

Pendidikan dapat diartikan dengan kegiatan mengubah manusia sehingga


mengembangkan hakikat kemanusiaan. Kegiatan pendidikan dilakukan dari oleh dan
untuk manusia yang bertujuan mengembangkan potensi kemanusiaan

Tujuan pendidikan adalah upaya untuk meraih kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam hidup manusia. Untuk
mendapatkan pendidikan yang baik maka perlu adanya pemahaman terhadap dasar dan
tujuan pendidikan secara mendalam.

. Filsafat pendidikan adalah pemikiran yang mendalam tentang pendidikan


berdasarkan filsafat. Apabila kita hubungkan fungsi Pancasila dengan sistem pendidikan
ditinjau dari filsafat pendidikan, maka Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa
yang menjiwai dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, sistem pendidikan nasional
Indonesia wajar apabila dijiwai, didasari dan mencerminkan identitas Pancasila.
Pancasila adalah falsafah yang merupakan pedoman berperilaku bagi bangsa Indonesia
yang sesuai dengan kultur bangsa Indonesia

16
B. Saran

Demikianlah yang dapat kami sampaikan mengenai materi yang menjadi bahasan
dalam makalah ini, tentunya banyak kekurangan dan kelemahan kerena terbatasnya
pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang kami peroleh hubungannya
dengan makalah ini. Penulis banyak berharap kepada para pembaca memberikan kritik
dan saran yang membangun kepada kami demi sempurnanya makalah ini. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kami dan yang membacanya.

17
DAFTAR PUSAKA

Suryosubroto, B. (1990). Beberapa Aspek Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta : Rineka


Cipta.
Hery Noer Aly. (1999). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Logos Wacana Ilmu.

Nugroho, Rianti. 2008, Pendidikan Indonesia: Harapan, Visi dan Strategi. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.

https://id.scribd.com/document/517784763/

18

Anda mungkin juga menyukai