Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PEMBAHASAN

PERCOBAAN 1
SINTESIS SENYAWA ASAM ALFA HIDROKSI

Nama Praktikan : Intan Wulan Sari


NIM : 1813015051
Kelas/Kelompok : A 2018/ 3 (Tiga)
Dosen : Harra Ismi Farah, S.Pd., M.Sc.

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MULWARMAN
2021
A. Judul
Sintesis Senyawa Asam Alfa Hidroksi

B. Nama Praktikan dan Anggota kelompok


Nama Praktikan : 1813015051 Intan Wulan Sari
Nama Kelompok: 1813015006 Siti Rofi’ah Febryani
1813015066 Miftahul Jannah Salsabila
1813015091 Putri Sabilla
1813015166 Ermawati
1813015161 Ririn Novriyanti
1813015196 Hairunnisa
1813015231 Abia Abimayu
1813015261 Rizky Mulyaramadhan

C. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Batang pengaduk
b. Corong kaca
c. Desikator
d. Freezer
e. Freeze dryer
f. FTIR
g. Gelas kimia
h. Labu sintetis
i. Labu ukur
j. Magnetik stirrer
k. Melting point
l. Pipet tetes
m. Pipet ukur
n. Polarimeter
o. Pro pipet
p. Rotary evaporator
q. Stirer
r. Timbangan analitik

2. Bahan
a. Aquades
b. Es batu
c. Etil asetat
d. H2SO4
e. Kertas indikator pH
f. Kertas saring
g. L-Leusin
h. Metanol
i. MgSO4 anhidrat
j. NaCl
k. NaHCO3
l. NaNO2
m. Plat kromatografi lapis tipis (KLT)
n. Propanolol

D. Bagan kerja
1 gram L-Leusin
Penggunaan suhu 0oC karena dalam larutan
berair garam diazonium tidak stabil pada
suhu diatas 5oC; gugus -N+=N cenderung
lepas sebagai N2 (gas nitrogen)
(40 ml H2SO4 2M)

Dilarutkan dan didinginkan pada icebath yang ditambahkan garam, dengan suhu 0oC

H2SO4 sebagai katalis pada suasana asam


NaNo2

NaNO2 bertindak sebagai agen diasoiting


pembentukan Nitrosonium ion untuk memulai
rekasi diazotasi agar dapat disubsitusikan
(Larutan L Leusin dalam H2SO4) pada amina aromatik

Direaksikan selama 2 jam pada suhu 0oC

Setelah NaNo2 habis, larutan di strirrer selama 24 jam pada suhu ruang

Asam asetat
Ninhindrin

Propanol:metanol 8:2 Plat KLT


Dicek reaksi menggunakan metode KLT, lalu dibandingkan dengan asam amino

+NaHCO3 hingga PH 2 NaHCO3 berfungsi untuk menaikkan


PH larutan hinggah menjadi 2

(Larutan L Leusin dalam H2SO4)

Penambahan NaCl jenuh berfungsi


untuk meningkatkan kelarutan dan
NaCl jenuh 30 ml
membantu proses ekstraksi asam
hidroksi dari fase organik dan fase air
Larutan yang telah dinaikkan PHnya

+Etil asetat

Diestraksi sebanyak 3 kali


+Na2SO4

(Fase etil asetat)

Disaring dan dipekatkan dengan rotarry evaporator

Disimpan dan freezer selama 24 jam

Freeze dryer produk agar menjadi padatan

Analisis hasil senyawa dengan menggunakan FTIR, melting point dan polarimeter

Ditimbang hasil rendemen

E. Data Hasil Percobaan

5
4 3 2 1 OH

OH
(S)-2-hydroxy-4-methylpentanoic acid

a. Massa produk HMP : 810,12 mg


b. Melting point : 79ºC
c. Polarimeter : [α]D (c = 1.67, MeOH) : -9.6
d. Data Hasil Spektrum FTIIR

e. Data Hasil Spektrum MS

f. Data Hasil Spektrum 1HNMR


g. Data Hasil Spektrum CNMR
h. Data Hasil Spektrum CDEPT

F. Perhitungan
1. Massa Teoritis :
Leusin 810,12 mg (Dimintanya 1 g)

NaNO2 dimintanya 3,16 g

Massa Percobaan :

a. nLeusin
n Leusin = Massa yang ada di penuntun : Mr Leusin

n Leusin = 1 g : 131, 18 g/mol x 1000 = 7,633 mmol

b. nNaNO2
n NaNO2 = Massa yang ada di penuntun : Mr NaNO2

n NaNO2 = 3,16 g : 69 g/mol x 1000 = 45,798 mmol

L-leusin + NaNO2 HMP


Mula” 7,633 mmol + 45,798 mmol -
Reaksi 7,633 mmol + 45,798 mmol 7,633 mmol
Setimbang 7,633 mmol

Massa teoritis = n x Mr
= 7,633 mmol x 132 g/mol
= 1,0075 g

2. Perhitungan Rendemen
Dik : gram leusin = 1 gram
n leusin = 7,633 mmol
Mr = 131,18
hasil rendemen = 810,12 mg
Dit : Apakah hasil rendemen telah sesuai?
gr
n=
Mr
810,12mg
n=
131,18
n = 6,175 mmol
% rendemen leusin
n hasil
% rendemen = x 100%
n diketahui
6,175 mmol
= x 100 %
7,633 mmol
= 0,8089 x 100 %
= 80,89 %
% rendemen HMP
810,12mg
% rendemen = x 100%
1000mg
= 81,01%

3. Perhitungan Pergeseran Kimia


a. Pada Integrasi 5,9
0,9496+0,9431
δ Ha 1=
2
= 0,94665 ppm
0,9630+0,9569
δ Ha 2=
2

= 0,95995 ppm
b. Pada Integrasi 1,8
1,5738+1,5675+1,5626+1,5570
+1,5506+ 1,5455+ 1,5404
δ Ha=
7

= 1,5567 ppm

c. Pada Integrasi 1,0


1,9004+1,8873+1,8839+1,8742+1,8708
+1,8619+1,8586+1,8487+1,8452+1,8355
+ 1,8321+1,8190+ 1,8057+1,7908
δ Ha=
14

= 1,85435 ppm

d. Pada Integrasi 0,9


4,1496 +4,1391+4,1331+ 4,1226
δ Ha=
4

= 4,1361 ppm

4. Perhitungan Konstanta Coupling (J)


a. Pada Integritas 5,9
J1 = (0,9630 – 0,9569) x 500
= 3,05 Hz
J2 = (0,9496 – 0,9437) x 500
= 2,95 Hz
b. Pada Integritas 0,9
J1 = (4,1496 – 4,1391) x 500
= 5,25 Hz
J2 = (4,1331 – 4,1226) x 500

= 5,25 Hz
G. Pembahasan
Asam alfa hidroksi (asam-α-hidroksi) dikenal juga dengan AHAs merupakan
kelompok senyawa kimia yang terdiri dari asam karboksilat yang tersubtitusi gugus
hidroksi. Kelompok senyawa asam alfa hidroksi memiliki peranan penting dalam sintesis
organik dan sintesis famaseutikal (Lu et al., 2015).

Senyawa asam alfa hidroksi sering digunakan dalam skala industri, seperti asam
laktat, asam sitrat, asam mandelate, dan asam glikolat. Senyawa asam alfa hidroksi dapat
disintesis dari asam amino melalui dua tahap reaksi yaitu diazotasi yang diikuti dengan
hidrolisis untuk menghasilkan senyawa asam alfa hidroksi (Lu et al., 2015).

Praktikum pertama kali ini membahas mengenai sintesis senyawa asam alfa hidroksi(
Asam 2-hidroksi-4-metilpentanoat). prosedur kerja pada praktikum ini ialah dengan
malarutkan 1 g L-Leusin (7,633 mmol) dalam H 2SO4 2M sebanyak 40 mL, asam sulfat
merupakan bahan yang dapat digunakan untuk melarutkan L-Leusin dalam suasana asam
dan membentuk asam nitrat. Setelah itu, diaduk dan dinginkan pada suhu 0-5ºC
dipertahankan pada suhu tersebut agar garam diazonium tidak lepas menjadi gas
nitrogen, untuk menjaga kestabilan suhu agat tetap stabil, maka digunakan es batu yang
ditaburi garam. Lalu, ditimbang NaNO2 sebanyak 3,16 g (45,798 mmol) dilarutkan
dalam 30 mL dan ditambahkan secara perlahan (tetes demi tetes) pada larutan L-Leusin
berfungsi untuk menghidroksi 2 hidroksi 4 metil pentanoat dan sebagai larutan buffer
untuk mengembalikan kondisi pH yang sebelumnya dalam kondisi asam. Reaksi
dilakukan selama 2 jam pada suhu 0ºC dan dilanjutkan reaksi tersebut pada suhu kamar
selama 24 jam. Setelah 24 jam, reaksi dicek menggunakan metode KLT dengan eluen
propanol : methanol (8:2) dibandingkan antara hasil reaksi dengan asam amino L-Leusin,
plat KLT disemprot dengan ninhidrin kemudian dipanaskan. Apabila hasil sintesis tidak
menunjukkan warna ungu pada plat KLT dengan Rf yang mirip dengan L-Leusin maka
dapat diidentifikasi leusin telah terkonversi menjadi asam hidroksi. Selanjutnya
ditambahkan NaHCO3 pada larutan berfungsi untuk mengembalikan pH hingga
mencapai pH 2 hal ini berkaitan dengan titik isoelektrik pada senyawa agar mudah
ditarik oleh pelarut organik yang nantinya akan digunakan. Lalu ditambahkan 30 mL
NaCl jenuh yang berfungsi untuk menjenuhkan larutan yang telah diasamkan, kemudian
diekstraksi dengan menggunakan etil asetat (3 x 30 mL) dan diambil fase etil asetat dan
ditambahkan NaSO4 anhidrat 1 g ke dalamnya diaduk berfungsi untuk menarik air yang
masih terkandung pada fase etil asetat yang kemudian disaring dan dipekatkan dengan
rotary evaporator lalu disimpan dalam freezer selama 24 jam untuk membekukan.
Setelah itu, freeze dryer produk yang telah membeku selama 6 jam. Kemudian dilakukan
analisis senyawa hasil sintesis menggunakan FTIR, melting point dan polarimeter.
Produk yang terbentuk ditimbang dan dihitung rendemen reaksi.
Berdasarkan data hasil percobaan diketahui massa produk HMP yang dihasilkan
yaitu 810,12 mg, dari data tersebut dihitung rendemen sehingga didapatkan hasil
rendemen yaitu sebesar 80,36%. Data melting point senyawa HMP yaitu 79ºC,
berdasarkan literature diketahui melting point senyawa asam 2-hidroksi-4-metil
pentanoat adalah 78ºC-80ºC (Cohen-Arazi, 2008) maka senyawa yang dihasilkan dari
sintesis dapat dikatakan murni karena perbedaan titik lelehnya kurang dari 2ºC.
Sedangkan data Polarimeter : [α]D (c = 1.67, MeOH): −9.6 menunjukan arah levo rotary
(-), sehingga arah putarnya ke kiri atau berrlawanan jarum jam. Dalam proses
pengukuran pada konsentrasi 1,67 dengan pelarut metanol pada suhu
kamarmenghasilkan rotasi optik -9,6 karena reaksi tersebut memiliki C kiral memutar
berlawanan jarumjam (S/L).
Berdasarkan analisis menggunakan spektrum FTIR yang dibandingkan dengan tabel
IR hasil pengukuran senyawa HMP yaitu terdapat 5 peak dengan nilai 3427.5 cm -1
(ikatan O-H, alkohol ikatan hydrogen/fenol), 2978.4 cm-1 (ikatan C-H, alkana), 1714.8
cm-1 (ikatan C=O aldehid, keton, asam karboksilat, ester), 1391.1 cm-1 (ikatan C-H,
alkane), dan 1076.9 cm-1 (ikataan C-O alcohol, Eter, asam karboksilat, ester). Dari data
tersebut dapat diketahui bahwa senyawa yang terdeteksi adalah senyawa asam
karboksilat, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya gugus karbonil (C=O) dan ikatan
Oksigen-Hidrogen (O-H). Pada hasil spectrum FTIR tidak ditemukan nilai yang
menunjukkan adanya gugus fungsi C-N yang khas pada struktur L-Leusin, sehingga
dapat disimpulkan bahwa senyawa L-Leusin telah terkonversi menjadi HMP.

Kemudian, dikarakterisasi dengan menggunakan spektroskopi massa mode


Electrospray Ionization (ESI) merupakan teknik yang digunakan pada spektrofotometer
massa untuk menghasilkan ion. Terdapat dua macam mode ionisasi ESI-MS yaitu mode
ion positif dan mode ion negatif. Pada mode ion positif terjadi penambahan satu proton
(ion hidrogen) [M+H]+ sehingga hasilnya ditambah 1 sedangkan pada mode ion negatif
terjadi kehilangan satu proton (ion hidrogen) [M-H]- karena untuk pembacaan senyawa
dengan spektroskopi massa, senyawa harus dalam keadaan terionkan. Senyawa diserang
oleh electron dan menyebabkan satu atom H terlepas. Senyawa dengan gugus karbonil
akan lebih mudah melepaskan satu atom H untuk menjadi ion dibandingkan harus
mensubstitusi suatu unsur untuk menjadi ion.

Berdasarkan analisis menggunakan spektrum massa (HR-ToF-MS) mode ESI-, hasil


pengukuran senyawa HMP menunjukkan satu puncak dengan m/z 131,0703 selisih 1
dengan BM dari Asam-2-hidroksi-4-metil pentanoat yaitu 132, 0783. Hal tersebut terjadi
karena mode yang digunakan yaitu ESI- atau mode negative, maka hasil pengukuran dari
spectrum massa berkurang 1 karena kehilangan 1 atom hydrogen (1.0078).
Berdasarkan analisis menggunakan spektrum H-NMR, hasil pengukuran senyawa
HMP menunjukkan pada integrasi 5.9 terlihat 2 doublet dengan 1 doublet terdapat 3
atom H, sehingga berjumlah 6 atom H, atom H tersebut terletak pada atom C nomor 5
dan atom C cabang alkil, dengan masing-masing berjumlah 3 atom H. Pada integrasi 1.8
terdapat 2 atom H yang terletak pada atom C nomor 3, terlihat peak lebih dari 4 atau
multiplet yang menandakan bahwa ada sinyal atom yang dikelilingi > 4 proton tetangga,
sehingga sinyal tersebut menandakan CH2. Terdapat 1 atom H. Hal ini dapat dibuktikan
bahwa pada nomor 3, integrasi yang diperoleh adalah 1,0 atau bisa dikatakan 1 atom H.
Letak dari atom H tersebut berada di atom C nomor 4 dan nomor, dimana peak yang
terlihat lebih dari 4 atau multiplet yang menandakan bahwa ada sinyal atom yang
dikelilingi > 4 proton tetangga, sehingga sinyal tersbut menandakan CH. Pada integrasi
0.9 terdapat 1 atom H yang terletak di atom C nomor 2, dimana peak yang terlihat 2
doublet. Hal ini dapat dibuktikan bahwa pada nomor 3, integrasi yang diperoleh adalah
0,9 atau bisa dikatakan 1 atom H. Letak dari atom H tersebut berada di atom C nomor 2.
Nilai pergeseran kimia pada integritas 5.9 yaitu 0.9533 ppm dengan konstanta kopling
sekitar 2.95-3.05 Hz, nilai pergeseran kimia pada integrasi 1.8 yaitu 1.5567 ppm; pada
integrasi 0.9 yaitu 4.1361 ppm dengan konstanta kopling 5.25 Hz dan nilai pergeseran
kimia pada integrasi 1.0 yaitu 1.85100 ppm.
Berdasarkan analisis menggunakan spektrum C-NMR, hasil pengukuran senyawa
HMP menunjukkan adanya 6 atom karbon. Puncak yang berada pada pada 180.14 ppm
(C1) menunjukkan gugus karbonil yang mengandung gugus fungsi karboksilat (C=O)
dan berada pada rentang 160-220; puncak yang berada pada 76.78-77.28 ppm bukan
atom karbon HMP melainkan pelarut yang digunakan yaitu CDCl 3; puncak yang berada
pada 67.92 ppm (C2) menunjukkan gugus C-O berdasarkan tabel puncak berada pada
rentang 40-80; puncak yang berada pada 43.16 ppm (C3) menunjukan gugus CH 2 dan
berada pada rentang 15-55; puncak yang berada pada 21,42-24,46 ppm dapat
disimpulkan adalah gugus CH3, karena berdasarkan tabel diatas puncak berada pada
rentang 8-30.
Berdasarkan analisis menggunakan spectrum C-DEPT 135, hasil pengukuran
senyawa HMP menunjukkan terdapat karbon metin (C-H) sebagai puncak ke atas
(positif), karbon metilen (CH2) sebagai puncak ke bawah (negative), dan karbon metil
(CH3) sebagai puncak ke atas (positif).

H. Kesimpulan
Berdasarkan data hasil analisis menggunakan spektrum FTIR, Massa (HR-
ToF-MS) mode ESI-, H-NMR, C-NMR dan C-DEPT dapat disimpulkan bahwa senyawa
L-Leusin telah terkonversi menjadi senyawa Asam-2-hidroksi-4-metil pentanoat dengan
rendemen sebesar 80.36%.
Daftar Pustaka

Cohen-Arazi, N., Domb, A. J., & Katzhendler, J. (2010). New biocompatible polyesters
derived from α-amino acids: hydrolytic degradation behavior. Polymers, 2(4), 418-439

Eeckhout, Albert Van et al. 2017. Synthesis and Characterization of Depolarizing


Samples Based on The Indices of Polarimetric Purity. Optical Society of America Journal
Vol. 42, No. 20

Lu, D. M., Li, Z. J., Li, F. J., & Zeng, Q. L. (2015). Synthesis of α-hydroxy Amides. In
Applied Mechanics and Materials (Vol. 729, pp. 83-86). Trans Tech Publications Ltd.

Pavia, L. D., Lampman, G.M., dan Kriz, G.S. 2009. IntroductiontoSpektroscopy,


ThirdEdition.USA: Thomson Learning, inc.

Anda mungkin juga menyukai