Anda di halaman 1dari 20

c c

c   


  

Secara harfiah bronkitis adalah suatu penyakit yang ditanda oleh inflamasi
bronkus. Secara klinis pada ahli mengartikan bronkitis sebagai suatu penyakit atau
gangguan respiratorik dengan batuk merupakan gejala yang utama dan dominan. Ini
berarti bahwa bronkitis bukan penyakit yang berdiri sendiri melainkan bagian dari
penyakit lain tetapi bronkitis ikut memegang peran. 

Bronkitis adalah masalah pada jalur pernafasan bagian bawah yang


disebabkan oleh peradangan ataupun infeksi jalan udara, jalan udara ini termasuk
batang tenggorokan dan pipa udara yang merupakan jalan masuk oksigen kedalam
paru-paru.

Sedangkan menurut    , Bronkitis adalah suatu


peradangan pada saluran bronchial atau bronki. Peradangan tersebut disebabkan
oleh virus, bakteri, merokok atau polusi udara.

Berdasarkan ketiga definisi ini, maka bronchitis adalah suatu permasalahan


yang terjadi pada daerah jalur pernafasan bagian bawah yang disebabkan oleh
peradangan atau infeksi.
c     !  

Berdasarkan penyebabnya bronchitis dibagi menjadi 2 bagian, yakni :


bronchitis infeksiosa; adalah bronchitis yang diakibatkan oleh bakteri atau infeksi
bakteri/virus. Yang kedua adalah bronchitis iritatif; ialah bronchitis yang
disebabkan adanya alergi akan sesuatu yang dapat menyebabkan iritasi pada daerah
rawan bronchitis.

Untuk lebih jelasnya berikut penjelasan tentang bronchitis berdasarkan


penyebabnya:

1. Bronkitis Infeksiosa

Penyebab Bronkitis infeksiosa adalah virus, bakteri dan yang paling utama
organisme yang menyerupai bakteri (Mycoplasma pneumonie dan Chalamydia).
Serangan bronchitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit
paru-paru dan saluran pernafasan menahun.

Infeksi berulang bisa merupakan akibat dari :

O Sinusitis kronis
O Bronkiektasis
O ‘lergi
O Pembesaran amandel dan adenoid pada anak-anak

2. Bronkitis Iritatif

Bronkitis iritatif bisa disebabkan oleh: Berbagai jenis debu, asap dari asam
kuat, amonia, beberapa pelarut organik klorin, hidrogen sulfida, sulfur dioksida dan
bromine, polusi udara yang menyebabkan iritasi ozon dan nitrogen dioksida,
tembakau dan rokok lainnya.
ã  "#$## %!

Gejalanya berupa: batuk berdahak (dahaknya bisa berwarna kemerahan),


sesak nafas ketika melakukan olah raga atau aktivitas ringan, sering menderita
infeksi pernafasan (misalnya flu), bengek, cepat lelah, pembengkakan pergelangan
kaki, kaki dan tungkai kiri dan kanan, wajah, telapak tangan atau selaput lendir
yang berwarna kemerahan, pipi tampak kemerahan, sakit kepala, gangguan
penglihatan. Bronkitis infeksiosa seringkali dimulai dengan gejala seperti: pilek,
yaitu hidung meler, lelah, menggigil, sakit punggung, sakit otot, demam ringan dan
nyeri tenggorokan.

Batuk biasanya merupakan tanda dimulainya bronkitis. Pada awalnya batuk


tidak berdahak, tetapi 1-2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih
atau kuning. Selanjutnya dahak akan bertambah banyak, berwarna kuning atau
hijau. Pada bronkitis berat, setelah sebagian besar gejala lainnya membaik, kadang
terjadi demam tinggi selama 3-5 hari dan batuk bisa menetap selama beberapa
minggu. Sesak nafas terjadi jika saluran udara tersumbat, sering ditemukan bunyi
nafas mengi, terutama setelah batuk, bisa terjadi pneumonia.

Sedangkan menurut Gunadi santoso dam Makmuri (1994), tanda dan gejala
yang ada yaitu:

O Biasanya todak demam, walaupun ada tetapi rendah


O Deadaan umum baik, tidak tampak sakit
O Mungkin disertai nasofaringitis atau konjungtivitis
O Pada paru didapatkan suara napas yang kasar
Menurut Ngastiyah (1997), yang perlu diperhatikan adalah akibat batuk
yang lama, yaitu :
- Batuk siang dan malam terutama pada dini hari yang menyebabkan
sipenderita kekurangan istirahat
- Daya tahan tubuh penderita menurun
- ‘noraksia sehingga berat badan sukar naik
- Donsentrasi belajar menurun dan susah fokus

   !   &  

Sebelum kita membahas tentang patofisiologi dari bronchitis pada anak, ada
baiknya kita ketahui dulu definisi dari patofisiologi itu sendiri.
Patofisiologi adalah ilmu yang mempelajari gangguan fungsi pada
organisme yang sakit meliputi asal penyakit , permulaan perjalanan dan akibat.
Temuan utama pada bronkitis adalah hipertropi kelenjar mukosa bronkus
dan peningkatan jumlah sel goblet dengan infiltrasi sel-sel radang dan oedema pada
mukosa sel bronkus. Pembentukan mukosa yang meningkat mengakibatkan gejala
khas yaitu batuk produktif. Produksi mukus yang terus menerus mengakibatkan
melemahnya aktifitas silia dan faktor fagositosis dan melemahkan mekanisme
pertahanannya sendiri. Faktor etiologi utama adalah virus dan zat polutan. Pada
penyempitan bronkial lebih lanjut terjadi akibat perubahan fibrotik yang terjadi
dalam jalan napas. Pada waktunya mungkin terjadi perubahan paru yang menetap
yang mengakibatkan episema dan bronkhietaksis.
Gejala klinis bronkitis akut :
Batuk awalnya kering, setelah 2 sampai 3 hari batuk mulai berdahak dan
menimbulkan suara lendir, pada pemeriksaan dada, ditemukan ronkhi basah kasar
dan suara napas kasar. Batuk biasanya akan menghilang setelah 2 sampai 3 minggu.
Bila setelah 2 minggu masih ada batuk , mungkin telah terjadi kolaps paru
segmental atau terjadi infeksi paru sekunder. Pada anak dahak yang kental jarang
ditemukan karena sering ditelan. ‘nak yang usianya sudah besar biasanya
mengeluh sakit retrosternal dan pada anak kecil dapat terjadi sesak napas.
  ' (! ) 

‘da beberapa komplikasi bronchitis yang dapat dijumpai pada anak, antara lain :

O Bronchitis kronik
O Pneumonia dengan atau tanpa atelektaksis, bronchitis sering mengalami infeksi
berulang biasanya sekunder terhadap infeksi pada saluran nafas bagian atas.
Hal ini sering terjadi pada mereka drainase sputumnya kurang baik.
O Pleuritis. Domplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia.
Umumnya pleuritis sicca pada daerah yang terkena.
O |fusi pleura atau empisema
O ‘bses metastasis diotak, akibat septikemi oleh kuman penyebab infeksi
supuratif pada bronkus. Sering menjadi penyebab kematian
O Haemaptoe terjadi kerena pecahnya pembuluh darah cabang vena ( arteri
pulmonalis ) , cabang arteri ( arteri bronchialis ) atau anastomisis pembuluh
darah. Domplikasi haemaptoe hebat dan tidak terkendali merupakan tindakan
beah gawat darurat.
O Sinusitis merupakan bagian dari komplikasi bronchitis pada saluran nafas
O Dor pulmonal kronik pada kasus ini bila terjadi anastomisis cabang-cabang
arteri dan vena pulmonalis pada dinding bronkus akan terjadi arterio-venous
shunt, terjadi gangguan oksigenasi darah, timbul sianosis sentral, selanjutnya
terjadi hipoksemia. Pada keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal, kor
pulmoner kronik,. Selanjutnya akan terjadi gagal jantung kanan.
O Degagalan pernafasan merupakan komlikasi paling akhir pada bronchitis yang
berat da luas
O ‘miloidosis keadaan ini merupakan perubahan degeneratif, sebagai komplikasi
klasik dan jarang terjadi. Pada pasien yang mengalami komplikasi ini dapat
ditemukan pembesaran hati dan limpa serta proteinurea
[   !)

F.1 Pengobatan

  )  * terdiri atas :

   ! !++
Pengelolaan umum ditujukan untuk semua pasien bronchitis, meliputi :
a. Menciptakan lingkungan yang baik dan tepat untuk pasien :
Contoh :

O Membuat ruangan hangat, udara ruangan kering.


O Mencegah / menghentikan rokok
O Mencegah / menghindari debu,asap dan sebagainya.

b. Memperbaiki drainase secret bronkus, cara yang baik untuk dikerjakan


adalah sebagai berikut :
‡ Melakukan drainase postural
Pasien dilelatakan dengan posisi tubuh sedemikian rupa sehingga dapat
dicapai drainase sputum secara maksimum. Tiap kali melakukan drainase
postural dilakukan selama 10 ± 20 menit, tiap hari dilakukan 2 sampai 4
kali. Prinsip drainase postural ini adalah usaha mengeluarkan sputum (
secret bronkus ) dengan bantuan gaya gravitasi. Posisi tubuh saat dilakukan
drainase postural harus disesuaikan dengan letak kelainan bronchitisnya,
dan dapat dibantu dengan tindakan memberikan ketukan pada pada
punggung pasien dengan punggung jari.
‡ Mencairkan sputum yang kental
Dapat dilakukan dengan jalan, misalnya inhalasi uap air panas,
mengguanakan obat-obat mukolitik dan sebagainya.
‡ Mengatur posisi tepat tidur pasien
Sehingga diperoleh posisi pasien yang sesuai untuk memudahkan drainase
sputum.
c. Mengontrol infeksi saluran nafas.
‘danya infeksi saluran nafas akut ( ISP‘ ) harus diperkecil dengan jalan
mencegah penyebaran kuman, apabila telah ada infeksi perlu adanya
antibiotic yang sesuai agar infeksi tidak berkelanjutan.

   ! !)++

a. Demotherapi pada bronchitis


Demotherapi dapat digunakan :

O secara continue untuk mengontrol infeksi bronkus ( ISP‘ )


O untuk pengobatan aksaserbasi infeksi akut pada bronkus/paru
O atau kedua-duanya digunakan

Demotherapi menggunakan obat-obat antibiotic terpilih, pemkaian


antibiotic antibiotic sebaikya harus berdasarkan hasil uji sensivitas kuman
terhadap antibiotic secara empiric.

Walaupun kemotherapi jelas kegunaannya pada pengelolaan


bronchitis, tidak pada setiap pasien harus iberikan antibiotic. ‘ntibiotik
diberikan jika terdapat aksaserbasi infeki akut, antibiotic diberikan selama
7-10 hari dengan therapy tunggal atau dengan beberapa antibiotic, sampai
terjadi konversi warna sputum yang semula berwarna kuning/hijau menjadi
mukoid ( putih jernih).

Demotherapi dengan antibiotic ini apabila berhasil akan dapat


mengurangi gejala batuk, jumlah sputum dan gejala lainnya terutama pada
saat terjadi aksaserbasi infeksi akut, tetapi keadaan ini hanya bersifat
sementara.

b. Drainase secret dengan bronkoskop


Cara ini penting dikerjakan terutama pada saat permulaan perawatan
pasien. Deperluannya antara lain :
O Menentukan dari mana asal secret
O Mengidentifikasi lokasi stenosis atau obstruksi bronkus
O Menghilangkan bstruksi bronkus dengan suction drainage daerah obstruksi.

ÿ      )
Pengobatan ini diberikan jika timbul simtom yang mungkin mengganggu atau
mebahayakan pasien.
a. Pengobatan obstruksi bronkus
‘pabila ditemukan tanda obstruksi bronkus yang diketahui dari hasil uji faal
paru ( % F| 1 < 70% ) dapat diberikan obat bronkodilator.
b. Pengobatan hipoksia.
Pada pasien yang mengalami hipoksia perlu diberikan oksigen.
c. Pengobatan haemaptoe.
Tindakan yang perlu segera dilakukan adalah upaya menghentikan perdarahan.
Dari berbagai penelitian pemberian obat-obatan hemostatik dilaporkan hasilnya
memuaskan walau sulit diketahui mekanisme kerja obat tersebut untuk
menghentikan perdarahan.
d. Pengobatan demam.
Pada pasien yang mengalami eksaserbasi inhalasi akut sering terdapat demam,
lebih-lebih kalau terjadi septikemi. Pada kasus ini selain diberikan antibiotic
perlu juga diberikan obat antipiretik.

c   (  #

a. Tujuan pembedahan : mengangkat ( reseksi ) segmen/ lobus paru yang


terkena.
b. Indikasi pembedahan :

O Pasien bronchitis yang yang terbatas dan resektabel, yang tidak berespon
yang tidak berespon terhadap tindakan-tindakan konservatif yang adekuat.
Pasien perlu dipertimbangkan untuk operasi
O Pasien bronchitis yang terbatas tetapi sering mengaami infeksi berulang atau
haemaptoe dari daerakh tersebut. Pasien dengan haemaptoe massif seperti
ini mutlak perlu tindakan operasi.

c. Dontra indikasi

O Pasien bronchitis dengan COPD


O Pasien bronchitis berat
O Pasien bronchitis dengan koplikasi kor pulmonal kronik dekompensasi.

d. Syarat-ayarat operasi.

O Delainan ( bronchitis ) harus terbatas dan resektabel


O Daerah paru yang terkena telah mengalami perubahan ireversibel
O Bagian paru yang lain harus masih baik misalnya tidak ada bronchitis atau
bronchitis kronik.

e. Cara operasi.

O Operasi elektif : pasien-pasien yang memenuhi indikasi dan tidak terdapat


kontra indikasi, yang gagal dalam pengobatan konservatif dipersiapkan
secara baik utuk operasi. Umumnya operasi berhasil baik apabila syarat dan
persiapan operasinya baik.
O Operasi paliatif : ditujukan pada pasien bronchitis yang mengalami keadaan
gawat darurat paru, misalnya terjadi haemaptoe masif ( perdarahan arterial )
yang memenuhi syarat-syarat dan tidak terdapat kontra indikasi operasi.
f. Persiapan operasi :

O Pemeriksaan faal paru : pemeriksaan spirometri,analisis gas darah,


pemeriksaan broncospirometri ( uji fungsi paru regional ).
O Scanning dan USG.
O Meneliti ada atau tidaknya kontra indikasi operasi pada pasien.
O Memperbaiki keadaan umum pasien.

F.2 Perawatan

Langkah-langkah ini juga dapat membantu menurunkan risiko bronkitis dan


melindungi paru-paru secara umum:

1. Hindarkan dari perokok dan asap rokok. ‘sap tembakau meningkatkan
risiko bronkitis kronis dan emphysema.
2. Cobalah anak untuk menghindari orang-orang yang telah pilek atau flu.
Semakin sedikit anak terkena virus yang menyebabkan bronkitis. Hindari
kerumunan orang selama musim flu.
3. Dapatkan vaksin flu tahunan. Banyak kasus bronkitis akut hasil dari
influenza, virus. Mendapatkan vaksin flu tahunan dapat membantu
melindungi ‘nda dari flu, yang pada gilirannya, dapat mengurangi risiko
bronkitis.
4. Tanyakan kepada dokter tentang pneumonia shot. aksin Prevnar dapat
membantu melindungi anak-anak terhadap pneumonia. Dami
menganjurkan untuk semua anak di bawah usia 2 tahun dan untuk anak usia
2 hingga 5 tahun yang berada pada risiko tertentu penyakit pneumokokus,
seperti mereka yang memiliki kekurangan sistem kekebalan tubuh, asma,
penyakit jantung atau anemia sel sabit. |fek samping dari vaksin
pneumokokus biasanya kecil dan ringan termasuk rasa nyeri atau bengkak
di tempat suntikan. Jika anak anda memiliki radang paru-paru atau lebih
lima tahun yang lalu menjalankan shot, dokter anda dapat
merekomendasikan bahwa ‘nda mendapatkan satu lagi.
5. Cuci tangan atau menggunakan sanitizer tangan secara teratur. Untuk
mengurangi risiko terkena infeksi virus, sering mencuci tangan anda dan
membiasakan menggunakan sanitizer tangan. Dan jangan menggosok
hidung atau mata anak anda.
c c
' ,

1. Identitas Dlien
a. Biodata
Nama : ‘ndi Setiawan atau ‘n. S
Tempat tanggal lahir : Ponorogo, 10 Maret 1999
Usia : 11 tahun (anak pertama)
Jenis kelamin : Laki-laki.
Nama ayah/ ibu : Tn. B/ Ny. D
Pendidikan ayah/ ibu : SM‘/ SM‘
‘gama : Islam
Suku bangsa : Jawa/ Indonesia
‘lamat : Ds. Bdg Dec. Po
No. Register : 02235
Tanggal MRS : 5 September 2010 pukul 07.30 WIB
Tanggal Pengkajian : 5 September 2010 pukul 10.00 WIB
Sumber informasi : Ibu dan anak
Diagnosa medis : Bronkhitis alergika.

b. Deluhan utama
Ibu mengungkapkan ‘n. S sejak makan semangka batuk terus menerus selama 2
hari, bila untuk lari anak merasa sesak.
c. Riwayat penyakit sekarang
2 hari sebelum kunjungan ke Poli ‘nak, klien makan semangka. + ½ jam setelah
klien makan semangka klien batuk-batuk, diserta dengan riak dan rasa sesak. Sesak
bertambah berat saat anak lari-lari. Demudian oleh ibu anak dibawa ke Poli ‘nak
RSUD Dr. Harjono Ponorogo
d. Riwayat penyakit dahulu
Dlien menderita alergi sejak usia 10 bulan dengan keluhan batuk disertai dengan
sesak kemudian berobat dan sembuh. Pada usia anak 2 tahun kambuh lagi
kemudian klien periksa dan rutin kontrol selama + ½ tahun. Pada usia 10 tahun
kambuh lagi setelah memakan buah melon. Dlien bisa memenuhi kebutuhan
tidurnya, ibu mengungkapkan sulit mengontrol makanan yang dikonsumsi
anakanya terutama buah-buahan yang dapat menyebabkan alergi.
e. Riwayat penyakit keluarga
Ibu mengungkapkan bahwa ayah klien alergi terhadap debu rumah dan buah
kelengkeng, tetapi didalam anggota keluarga tidak ada yang menderita asma.
f. Riwayat kehamilan dan persalinan
Dlien lahir dengan berat badan lahir 3100 gram, lahir langsung menangis, menurut
ibu klien selama hamil ibu periksa ke bidan praktek. Dlien minum ‘SI sampai usia
6 bulan, P‘SI dan bubur susu diberikan sampai anak berusia 5 tahun. Susu yang
diberikan adalah Lactogen.
g. Riwayat imunisasi
Dlien telah mendapatkan imunisasi dasar yang lengkap yaitu: BCG, Polio, DPT,
Campak dan hepatitis.
h. Riwayat nutrisi
Ibu mengungkapkan ‘n. S diberikan ‘SI sampai usia 6 bulan, P‘SI dimulai pada
saat usia anak mencapai 4 bulan, makanan tambahan berupa bubur susu diberikan
pada saat anak berusia 4 bulan. Pada saat pengkajian BB 34 Dg, TB 140 cm. Ibu
mengungkapkan anak sulit makan selama sakit ini, makanan yang disajikan tidak
pernah dihabiskan.
i. Riwayat tumbuh kembang
Pada saat ini anak memasuki masa Industri s Inferior. Pada saat ini bersekolah di
SD kelas 5. Selama sekolah ini klien tidak pernah tinggal kelas, anak sering
menghias kamarnya.
j. Data Psikososial
Ibu mengungkapkan bertempat tinggal di daerah yang penduduknya padat.
Pendapatan keluarga + 750.000,-/ bulan.
k. Pemeriksaan fisik
1) Deadaan umum
‘nak duduk di meja pemeriksaan kesadaran compomentis, anak tampak batuk-
batuk, tampak agak sesak, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 92 x/mnt, suhu 37OC,
pernafasan 26 x/mnt teratur.
2) Depala dan leher
Ë Depala berbentuk simetris, rambut bersih, hitam dan penyebarannya merata,
terpotong pendek.
Ë Mata tidak ada anemi, ikterus tidak ada.
Ë Telinga tidak ada serumen.
Ë Hidung tidak terdapat pernafasan cuping hidung.
Ë Mulut bersih, tidak terdapat karies gigi.
Ë Leher tidak terdapat pembesaran kelenjar, klien mampu menelan tanpa terasa
sakit/ nyeri, tidak ada kaku kuduk.
3) Dada dan thoraks
Pergerakan dada simetris, Wheezing +/+, Ronchi +/+, retraksi otot bantu pernafasan
ringan. Pemeriksaan jantung, ictus cordis terletak di midclavicula sinistra ICS 4-5,
S1S2 tunggal tidak ada bising/ murmur.
4) ‘bdomen
Bentuk simetris, bising usus + normal 5 x/ mnt, tidak ada nyeri tekan, hepar dan
limpa tidak teraba.
5) |kstrimitas
Tidak ada kelainan dalam segi bentuk, uji kekuatan otot adalah 5 untuk masing-
masing ekstrimitas, GCS 15. Dlien mampu menggerakkan ekstrimitas sesuai
dengan arah gerak sendi.
l. Pemeriksaan penunjang medis Tanggal 5 September 2010
DL:
Hb 12,2 gr %, L|D 41/ 70, leukosit 9000, diff. Count -/ -/ 3/ 56 / 40/ 1
Pemeriksaan alergi:
House dust 10,3 mm, coklat 12,7 mm, udang 12,5 mm, histamin 30,8 mm.
Foto thoraks:
Tidak didapatkan kelainan, sinus phrenicostalis tajam.
c. Penatalaksanaan
c.1 Pengobatan
Berdasarkan keluhan yang dialami pasien, pengobatan yang dilakukan
adalah sebagai berikut:
1. Pemberian obat yang mengandung ekspektoran, yang berguna untuk
mengencerkan dahak agar mudah dikeluarkan. Sehingga ‘n . S tidak merasa sesak.
2. Pemberian antibiotic, hal ini dilakukan karena ‘n.S menderita bronchitis
dikarenakan adanya gangguan virus.
3. Pemberian banyak cairan dan obat yang mengandung acetaminophen untuk
mengurangi demam dan rasa tidak enak badannya.

d. Perawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan
produksi sekret.
2. Derusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh
sekresi, spasme bronchus.
3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan broncokontriksi, mukus.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnoe,
anoreksia, mual muntah.
5. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan menetapnya sekret,
proses penyakit kronis.
6. ‘nsietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
7. Durang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi
tentang proses penyakit dan perawatan di rumah

[" -," ' 
Irian Gunawan (2006). c  
  . From http://asuhan-
keperawatan.blogspot.com/2006/05/bronkitis-pada-anak.html, 16 ‘pril
2011

Feri Malinda (2011). Donsep Bronkitis pada anak. From


http://ferimalinda.blogspot.com/2011/02/asuhan-keperawatan-bronkitis-
pada-anak.html




























' " . " -


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YM|, yang atas rahmat-Nya
maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul ³Bronkitis
pada anak´.

Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas kelas dalam bentuk
kelompok sebagai bahan seminar di ‘kademi Debidanan Sentral Padangsidimpuan.

Penulis berharap dengan penulisan makalah ini, pembaca dan khususnya


penulis memahami akan kasus yang dibahas, sehingga sebagai orang yang
menempuh pendidikan didunia kesehatan dapat menerapkannya di kehidupan
masyarakat kelak.

Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-


kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan
kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak
sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

‘khirnya penulis berharap semoga Tuhan memberikan imbalan kepada


seluruh pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. Terima kasih.

Padangsidimpuan, 17 ‘pril 2011

Penulis,





BRONCHITIS P‘D‘ ‘N‘D
D
I
S
U
S
U
N
OL|H :
D|LOMPOD :
‘NGGOT‘ :

1. RIZDY QORY R‘HM‘D‘NI


2. L|NNI M‘RLIN‘

‘D‘D|MI D|BID‘N‘N S|NTR‘L P‘D‘NGSIDIMPU‘N


2011