Anda di halaman 1dari 24

PENYAKIT JARINGAN LUNAK

MULUT BERKAITAN DENGAN IMUNOLOGI

KELOMPOK 2A

Ndaru Sokhibul M. 1813101010060


Uswatun Hasanah 1813101010002
Oktadhiyani 1813101010007
Elsa Octavia 1813101010014
Nyak Athifa Z 1813101010018
Naviatul Ulfa 1813101010026
Meiditya Handysha 1813101010031

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS SYIAH KUALA
TAHUN AJARAN 2020/2021
DARUSSALAM
BANDA ACEH
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini. Adapun
laporan ini sengaja kami susun atas dasar kelengkapan tugas diskusi kelompok.
Dalam pembuatan laporan ini mulai dari perancangan, pencarian bahan,
sampai penulisan, kami mendapat bantuan, saran, petunjuk, dan bimbingan dari
berbagai sumber. Kami menyadari bahwa laporan ini memiliki banyak kekurangan
dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran
untuk perbaikan di masa yang akan datang, dan kami juga berharap semoga laporan
ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Banda Aceh, 21 Februari 2021

Penulis

I
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………………….I
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………II
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………1
1.1. Latar Belakang ……………………………………………………………...1
1.2. Rumusan Masalah …………………………………………………………..1
1.3. Tujuan ……………………………………………………………................1
BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………………….2
2.1. Kasus 1………………………………………………….................................2

2.2. Kasus 2……………………………….............................................................7


2.3. Kasus 3……….. ………………………………………………………..........14
BAB III PENUTUP ……………………………………………………………..19
3.1. Kesimpulan …………………………………………………….………...….19
3.2. Saran …………………………………………………………………...……19
DAFTAR PUSTAKA ……………………………….…………………………..20

I
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hepatitis didefinisikan sebagai suatu penyakit yang ditandai dengan adanya
peradangan pada hati. Hepatitis merupakan suatu proses terjadinya inflamasi atau
nekrosis pada jaringan hati yang dapat disebabkan oleh infeksi, obat-obatan, toksin,
gangguan metabolik, maupun kelainan sistem antibodi. Infeksi yang disebabkan virus
merupakan penyebab paling banyak dari Hepatitis akut. Hepatitis merupakan
penyakit menular.
Hepatitis telah menjadi masalah global. Saat ini diperkirakan 400 juta orang di
dunia terinfeksi penyakit hepatitis B kronis, bahkan sekitar 1 juta orang meninggal
setiap tahun karena penyakit tersebut. Hepatitis menjadi masalah penting di Indonesia
yang merupakan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia (Wening Sari, 2008).
Infeksi virus hepatitis B (VHB) merupakan infeksi. Hepatitis memiliki beberapa
gejala manifestasi pada rongga mulut. Penting untuk kita sebagai dokter gigi masa
depan untuk mengetahui bagaimana kondisi rongga mulut orang dengan hepatitis
agar kita dapat berhati-hati dan dapat mengurangi terjadinya infeksi silang.

1.2 Tujuan
Bagaimana deskripsi lesi, anamnesis spesifik, pemeriksaan penunjang, diagnosis,
diagnosis banding, dan penatalaksanaan terhadap lesi yang tampak pada foto
berkaitan kasus penyakit mulut terkait imunologi ?

1.3 Manfaat
Untuk mengetahui deskripsi lesi, anamnesis spesifik, pemeriksaan penunjang,
diagnosis, diagnosis banding, dan penatalaksanaan terhadap lesi yang tampak
pada foto berkaitan kasus penyakit mulut terkait Hepatitis.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kasus 1
1. Deskripsi Lesi

Deskripsi Lesi :

 Klasifikasi Lesi : papula


 Bentuk : oval,bulat
 Ukuran : >1cm
 Lokasi : punggung tangan dan jari
 Warna : Merah keungguan
 Jumlah : Multiple
 Batas : jelas
 Tepi : tidak beraturan

Deskripsi Lesi :
 Klasifikasi Lesi : macule
 Bentuk : oval,bulat
 Ukuran : >1cm
 Lokasi : punggung tangan dan jari
 Warna : Merah keungguan
 Jumlah : Multiple

2
 Batas : jelas
 Tepi : tidak beraturan

Deskripsi Lesi :
 Klasifikasi Lesi : patch
 Bentuk : oval,bulat
 Ukuran : <1cm
 Lokasi : punggung tangan dan jari
 Warna : Merah keungguan
 Jumlah : Multiple
 Batas : jelas
 Tepi : tidak beraturan

Deskripsi Lesi
 Klasifikasi Lesi : Patch
 Bentuk : Datar mengikuti bentuk wajah
 Ukuran : >1 cm
 Lokasi : Seluruh kulit wajah, mata
 Warna : Kuning
 Jumlah : Multiple

3
 Batas : Jelas
 Tepi : Tidak beraturan

2. Anamnesis Spesifik

1. Sejak kapan luka itu muncul?


2. Apakah terasa sakit atau gatal?
3. Apakah pernah menjalani perawatan dalam jangka waktu yang lama?
4. Apakah mengkonsumsi obat obatan?
5. Apakah anda pernah menggunakan obat-obatan intravena(suntik)?
6. Apakah mengalami penurunan berat badan?
7. Apakah mulut ada terasa kering (xerostomia)?
8. Apakah pernah mengalami demam dalam beberapa waktu terakhir?
9. Kapan terakhir kali melakukan hubungan seksual? Apakah pasien
sering bergonta ganti pasangan?

3. Pemeriksaan penunjang

• Dilakukannya biopsi pada hati untuk melihat gambaran histologis dari lesi
tersebut mulai dari ringan sedang hingga parah

• Dapat juga dilakukan menggunakan Tes genetik virus (HCV RNA) untuk
melihat apakah tubuh dapat membunuh virus tersebut atau tidak 1

4. Diagnosis
Diagnosis kasus : Porphyria cutanea tarda
• Porphyria cutanea tarda adalah jenis porfiria yang paling umum dan
pengunaan alkohol adalah penyebab yang paling sering ditemukan , 90% dari
pasien PCR disebabkan oleh penyalahgunaan alkohol

4
• Faktor pemicu lainnya ialah:hemosiderosis hati,hepatitis c kronis dan pada
wanita ekstrogen

• diagnosis didasarkan pada peningkatan kadar uroporphyrin urin dan


coproporphyrin atau faecal isocoproporphyrin 2

5. Diagnosis Banding
1. Epidermolysis Bullosa Acquisita

Epidermolysis Bullosa Acquisita Merupakan penyakit autoimun yang paling jarang


terjadi, dan sangat berbeda dari tipe Epidermolysis Bullosa lain.  Penyakit ini
biasanya menyerang orang dewasa atau lebih tua dan jarang terjadi pada anak-anak.
Berdasarkan data terbaru dari EB registry diperkirakan terjadi pada 1 dari 10.000-
100.000 anak menderita epidermolisis bulosa. Kelompok kelainan mekanobulosa ini
diturunkan secara genetik. Lesi oral ditemukan hampir di 50% kasus, meskipun lesi
lesi di oral jarang terjadi tanpa adanya lesi kulit.Secara klinis, penyakit ini ditandai
dengan terbentuknya bulla yang keras, terutama di area kulit yang menjadi subjek
gesekan. Seperti lutut, siku, kaki, tangan.3,4

2. Pseudoporphyria

5
Pseudoporphyria Merupakan kelainan fototoksik kulit yang dapat menyerupai
porfiria cutanea tarda pada orang dewasa. Penyakit ini diandai dengan
adanya kerapuhan pada kulit, pembentukan lepuhan, dan jaringan paruta atau
scar. Memiliki pola sebagai kulit terbakar, eritema, vesikula, bekas luka
seperti cacar air, dan penebalan kulit.5

6. Penatalaksanaan Hepatitis C
Tujuan pengobatan hepatitis C akut adalah pencegahan infeksi HCV yang
menetap. satu-satunya terapi yang tersedia didasarkan pada interferon (IFN) -α,
karena vaksin khusus belum tersedia, pengobatan dini infeksi HCV dengan IFN-α
adalah satu-satunya pilihan untuk mencegah infeksi HCV yang persisten.
1. Interferon (IFN) diperkenalkan sebagai monoterapi untuk hepatitis C kronis
pada akhir 1980-an [1,2]. Berbagai jenis IFN α dan beta direkomendasikan
dengan durasi terapi 48 minggu. IFNs adalah keluarga sitokin yang diproduksi
oleh sel eukariotik sebagai respons terhadap berbagai rangsangan [10]. Ada
tiga jenis IFN alami: IFN-α, diproduksi terutama oleh leukosit, IFN-β, yang
diproduksi terutama oleh fibroblas, dan IFN-γ, yang diproduksi terutama oleh
limfosit T. jadwal pemberian dosis yang optimal IFN-α adalah 9–15 µg setiap
hari
2. Ribavirin, obat ini secara signifikan dapat menurunkan aktivitas alanine
aminotransferase (ALT) serum pada sekitar 50% pasien, dengan perbaikan

6
dalam histologi hati. RBV saat ini digunakan dengan dosis antara 800 dan
1200 mg / hari, dalam dua dosis terbagi.6

Penatalaksanaan Porphyria Cutanea Tarda


Perawatan utama dari porphyria cutane tarda adalah menghilangkan atau
menghindari factor pemicu terutama konsumsi alcohol. Area kulit yang terkena harus
dihindari dari sinar matahari dan pemakaian tabir surya. Kelebihan zat besi hati,
terutama dalam kasus dengan mutasi HFE homozigot, harus dihilangkan dengan
proses mengeluarkan darah (phlebotomy) sampai gejala klinis hilang.
Jika perdarahan merupakan kontraindikasi, terapi chloroquine dosis rendah (2
× 125 mg / minggu) direkomendasikan dan venesection pada pasien dengan
kelebihan zat besi atau penyakit terkait HCV. Penggunaan chloroquine dosis rendah
-> pengobatan awal PCT yang terkait dengan hepatitis C. Terapi chloroquine dosis
tinggi dapat memicu acute liver pada pasien PCT. Jika phlebotomy dan chloroquine
dosis rendah merupakan kontraindikasi  diganti dengan desferrioxamine.7,8

2.2 KASUS 2
1. Deskripsi Lesi
• Tipe : patch
• Ukuran : <1cm, >1cm
• Bentuk : irregular
• Lokasi : palatum durrum
• Warna : cokelat
• Jumlah : 1
• Batas : Jelas
• Tepi : tidak beraturan
• Tipe : makula
• Ukuran : >1cm
• Bentuk : irregular

7
• Lokasi : palatum durrum
• Warna : cokelat
• Jumlah : multiple
• Batas : Jelas
• Tepi : tidak beraturan

2. Anamnesis Spesifik
• Apakah bintik tersebut terasa sakit?
• Dimana bintik-bintik tersebut muncul? sejak kapan?
• apakah bintik-bintik tersebut muncul di tempat lain selain di langit mulut?
• Apakah pasien memiliki riwayat penyakit hepatitis?
• Apakah gusi pernah berdarah secara tiba-tiba?
• Apakah terdapat memar bada kulit?
• Apakah pasien sedang mengkonsumsi obat-obatan tertentu?

3. Pemeriksaan Penunjang
Pasien mungkin sudah menyadari adanya gangguan perdarahan dan pasien di
minta untuk membawa kartu peringatan (warning card) atau gelang yang dapat
menunjukkan tentang riwayat penyakitnya. Jika tidak ada riwayat yang memadai,
pemeriksaan dan pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Tabel 8.4 menunjukkan gambaran komparatif dari defek koagilasi dan defek
trombosit, dan Tabel 8.5 mencantumkan temuan laboratorium yang khas pada
gangguan trombosit.

8
Karakterisasi yang tepat dari defek pembekuan bawaan bergantung pada
pengujian faktor individu, dan berbagai investigasi lain dapat diindikasikan sesuai
dengan jenis kasus. Misalnya, tes yang biasanya digunakan dalam diagnosis
hemofilia A adalah APTT dan aktivitas koagulan faktor VIII (FVIIIC).

4. Diagnosis
Gangguan perdarahan bermanifestasi dengan gambaran perdarahan yang
umum, termasuk epistaksis dan perdarahan gingiva, dan dapat terjadi setelah luka dan
pembedahan. Cacat pada hemostasis dapat terdiri dari kelainan pada aktivasi dan
fungsi platelet, aktivasi kontak atau dengan protein pembekuan, atau mungkin
menandakan kelebihan fungsi antitrombin.
Pemeriksaan mungkin menunjukkan tanda-tanda purpura di kulit atau
mukosa.Tanda-tanda penyakit yang mendasari - seperti anemia dan limfadenopati
pada leukemia, juga harus diperhatikan. Deformitas sendi akibat hemartrosis,
karakteristik hemofilia, juga harus diperhatikan, tetapi hal ini jarang terjadi. Sebagai

9
alternatif, purpura dapat terlokalisasi di mulut (terkadang disebut 'angina bullosa
haemorrhagica') dan tidak terkait dengan kecenderungan perdarahan yang abnormal.
Orang dengan senile purpura (kondisi yang berkaitan dengan usia) mudah mengalami
memar dengan trauma minimal tanpa penyebab lain yang jelas dan umumnya terletak
di lengan bawah dan bagian atas tangan. Bercak merah keunguan gelap yang
dihasilkan memudar secara bertahap, seringkali meninggalkan noda kuning / coklat,
yang mungkin hilang sama sekali atau tetap ada. Purpura semacam itu bisa
disebabkan oleh paparan sinar matahari yang berlebihan; obat-obatan, seperti aspirin
dan steroid (steroid purpura); diabetes; penyakit pembuluh darah; trombositopenia;
dan penyakit jaringan ikat.
Pasien mungkin juga perlu diskrining untuk penyakit hati dan infeksi yang
ditularkan melalui darah, terutama virus HIV dan hepatitis.Penggunaan darah atau
fraksi darah kadang-kadang mengakibatkan penularan virus melalui darah dan infeksi
lainnya. Di banyak negara, darah sekarang diambil dari donor dengan kewaspadaan
yang hati-hati, dan diskrining untuk menyingkirkan antibodi terhadap infeksi seperti
HIV, hepatitis B, hepatitis C, sifilis atau cyto megalovirus. Leukosit dalam eritrosit
dan konsentrat trombosit sering dianggap sebagai kontaminan karena dapat
menyebabkan banyak efek merugikan lainnya, seperti penularan agen infeksi terkait
sel lainnya (misalnya herpesvirus dan toksoplasma), reaksi demam non-hemolitik,
penyakit graft-versus-host dan imunosupresi.

10
5. Diagnosis Banding
Bleeding (Haemostatic) Disorders Thrombocytopenia
Tipe lesi : purpura Tipe lesi : petechiae, ecchymoses, dan
atau purpura
Terdapat pada kulit dan mukosa Terdapat pada kulit dan mukosa rongga
mulut
Bercak merah keunguan gelap yang Tingkat keparahan, termasuk jumlah,
dihasilkan memudar secara bertahap, ukuran, dan durasi, bervariasi dalam
seringkali meninggalkan noda kuning / kaitannya dengan luas dan lamanya
coklat, yang mungkin hilang sama waktu terkait dengan berkurangnya
sekali atau tetap ada. jumlah trombosit yang bersirkulasi.
Perdarahan gingiva spontan sering
terjadi, begitu pula perdarahan dari
tempat trauma minor.

6. Penatalaksanaan
Bleeding disorder yang disebabkan oleh penyakit hati dapat disebabkan karena
adanya defect pada beberapa faktor koagulasi. Pada pasien dengan hipertensi portal
dapat terjadi trombositopenia. Untuk perawatan diberikan vitamin k dan mengganti
terapi hanya untuk perdarahan serius atau sebelum prosedur bedah.

Komunikasi :

11
- komunikasikan kepada pasien mengenai temuan klinis, nama penyakit yang
diderita pasien dan penyebab dari penyakit tersebut

Instruksi :
- Memberikan informasi yang tepat kapan perdarahan terjadi

- memberikan tekanan pada luka dengan kassa steril (dibasahi dengan air, saline
normal atau larutan asam traneksamat 5%), menggunakan larutan teroksidasi
yang dapat diserap.

- Pasien dengan kondisi hepatitis C dirawat dirumah sakit

- Instruksikan pasien untuk mengonsumsi vitamin K

Edukasi :
- Mengedukasi pasien tentang menjaga kebersihan gigi dan mulut

- Mengedukasi pasien untuk mengikuti setiap intruksi yang diberikan

Sistem Rujukan
Perlu untuk diketahui penyebab lebih lanjut dari kondisi sistemik yang
dialami oleh pasien. Oleh sebab itu, perlu untuk merujuk pasien ke dokter Sp.PD
untuk mengetahui kondisi pasien, agar tidak terjadi kesalahan saat menegakkan
diagnosis dan memberikan perawatan.

12
2.3 Kasus 3
1. Deskripsi Lesi

13
Tipe : Tumor
Bentuk : Oval
Ukuran : >1cm
Lokasi : Kelenjar saliva
Jumlah : Bilateral
Warna : Sewarna dengan Kulit
Batas : Jelas
Tepi : Jelas

2. Anamnesis Spesifik
1. Sejak kapan terjadi pembengkakan?
2. Apakah ada merasa mulut kering?
3. Apakah terasa gatal atau nyeri?
4. Apakah sulit berbicara dan makan?
5. Apakah mengonsumsi alcohol?
6. Sudah berapa lama mengonsumsi alcohol?
7. Apakah pernah mengalami demam dan lemas?

3. Pemeriksaan Penunjang
a) Sialography
Sialography pada pasien sialodenosis menunjukkan pola “lealess tree”, yang
diduga disebabkan oleh kompresi saluran dari sel asinar hipertrofik.

14
b) Tes darah
Tes darah bertujuan untuk melihat kadar glukosa darah atau abnormal
fungsi hati
c) Sialochemistry
Sialochemistry menunjukkan peningkatan kadar kalium dan kalsium,
yang tidak ditemukan pada penyebab lain dari pembesaran parotis.

4. Diagnosis
o Sialodenosis atau Sialosis

Sialosis MUMPS Mucus Retention Cyst


(Obstructive Sialadenitis)

15
Kelenjar non-inflamasi Sialadenitis Viral Akut Terjadinya obstruksi aliran
yang tidak biasa yang yang sangat menular dan saliva yang paling sering
ditandai dengan menyerang kelenjar parotid, disebabkan oleh sialolith
pembesaran kelenjar saliva, disebabkan oleh
terutama yang melibatkan paramyxovirus
parotis

Biasanya muncul sebagai Terasa menyakitkan dengan Sialolith dapat ditemukan di


pembengkakan kelenjar Masa inkubasi sekitar 21 mana saja di sistem duktus,
parotid yang berkembang hari diikuti dengan sakit dari parenkim kelenjar
perlahan, yang mungkin kepala, malaise, demam dan hingga lubang duktus
terasa nyeri atau tidak. tegang, nyeri dan nyeri ekskretoris
tekan pada parotid

5. Diagnosis banding
Sialadenosis atau sialosis adalah kelenjar non-inflamasi yang tidak
biasa yang ditandai dengan pembesaran kelenjar saliva, terutama yang
melibatkan parotis. Kondisi ini dikaitkan dengan masalah sistemik yang
mendasari, yang mungkin berasal dari endokrin, nutrisi, atau neurogenic, ini
termasuk diabetes melitus, malnutrisi umum, alkoholisme, dan bulimia.
Biasanya muncul sebagai pembengkakan kelenjar parotid yang berkembang
perlahan, yang mungkin terasa nyeri atau tidak. Kondisinya biasanya bilateral,
tetapi bisa juga unilateral. Pada beberapa pasien, sekresi saliva yang menurun
dapat terjadi. Selain itu, pembesaran kelenjar parotid atau yang dikenal
sebagai sialadenosis atau sialosis ini merupakan tanda dan gejala dari
alcoholic liver disease.

16
6. TataLaksana
KIE
 Komunikasi

-Komunikasikan kepada pasien mengenai temuan klinis kepada pasien, termasuk


etiologi dari kondisi pasien, yakni konsumsi alkohol yang berlebihan.
-Komunikasikan kepada pasien mengenai alasan merujuk pasien kepada dokter
spesialis penyakit dalam.
-Komunikasikan mengenai dampak obat-obatan yang pasien konsumsi terhadap
kondisi fisik pasien.
-Komunikasikan bahwa karena kondisi pasien, perawatan gigi yang dilakukan
juga harus dilakukan setelah berbagai pemeriksaan.
 Instruksi

-Instruksikan pasien untuk rutin mengonsomsi obat benzodiazepine seperti


diazepam atau chlordiazepoxide.
-Insruksikan pasien untuk rutin mengonsumsi
 Edukasi

-Edukasikan pasien untuk menghentikan kebiasaan meminum alkoholnya.


-Edukasikan keluarga pasien untuk memonitor pasien agar menghentikan
kebiasaan meminum alkohol.
-Edukasikan pasien untuk mengontrol diet makanan dan memakan makanan yang
sehat dan bergizi.
-Edukasikan pasien untuk tetap mengaja kesehatan rongga mulutnya dengan
menyikat gigi 2 kali sehari setiap sehabis makan.

Perawatan medis kedokteran gigi:

17
Perawatan medis kedokteran harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati, setiap
tindakan invasif yang akan dilakukan pada pasien harus dengan melihat hasil tes serta
konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam.

BAB III

18
PENUTUPAN

3.1 Kesimpulan

Identifikasi penyakit jaringan lunak mulut berkaitan dengan hepatitis memiliki


beberapa manifestasi oral yang harus diketahui dengan cermat. Pembelajaran ini
akan akan mempermudah dalam menentukan suatu diagnosis kerja dan
mempermudah dalam penatalaksaan kasus yang akan diberikan. Kesehatan rongga
mulut berhubungan erat dengan rendahnya tingkat pengetahuan warga akan
pentingnya menjaga kesehatan rongga mulut. Edukasi yang diberikan dokter gigi
sangatlah berpengaruh besar bagi pasien.

3.2 Saran

Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna. oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dari saran yang membangun dari semua
pihak

Daftar Pustaka

19
1. Laskaris. Pocket Atlas of Oral Diseases p:110
2. Neville BW., et al. Oral and Maxillofacial Pathology 4 th Edition. WB Saunders
Company. Philadelphia. 2015. Page 426
3. Neville BW., et al. Oral and Maxillofacial Pathology 4 th Edition. WB Saunders
Company. Philadelphia. 2015. P. 762
4. Neville BW., et al. Oral and Maxillofacial Pathology 4 th Edition. WB Saunders
Company. Philadelphia. 2015. P. 725-726
5. Neville BW., et al. Oral and Maxillofacial Pathology 4 th Edition. WB Saunders
Company. Philadelphia. 2016. Halaman 723-724,725-726
6. Laskaris,G.Color atlas of oraldiease Ed 4 Hal 364,362,367
7. Farah , Camile S. 2019. Contemporary Oral Medicine : A Comprehensive
Approach To Practice Volume 1.Hal 434
8. Neville BW., et al. Oral and Maxillofacial Pathology 4 th Edition. WB Saunders
Company. Philadelphia. 2016. Halaman 325
9. Neville BW., et al. Oral and Maxillofacial Pathology 4 th Edition. WB Saunders
Company. Philadelphia. 2016. Halaman 7, 192, 456.
10. Neville BW., et al. Oral and Maxillofacial Pathology 4 th Edition. WB Saunders
Company. Philadelphia. 2016. Halaman 326.
11. Scully,C. Oral and Maxillofacial Medicine. Medicinethe BASIS OF
DIAGNOSIS AND TREATMENT. Elsevier, 3th ed. Page: 220
12. Scully,C. Scully’s Medical Problem in Dentistry. Elsevier, 7th ed. Page: 459
13. Glick M, et al. 2015. Burkets Oral Medicine 12ed. Page: 517
14. Neville BW., et al. Oral and Maxillofacial Pathology 4 th Edition. WB Saunders
Company. Philadelphia. 2016. Halaman 312-313.
15. Langlais,R. Color Atlas of Common Oral diseases. 4th ed. Page: 114,126, 166
16. Farmakologi dan Terapi Universitas Indonesia edisi 4 (halaman 253-255)
17. Scully’s Medical Problems in Dentistry. Edisi 7. 2014. Elsevier Page 459-460
18. Neville BW., et al. Oral and Maxillofacial Pathology 4 th Edition. WB Saunders
Company. Philadelphia. 2016. Halaman 238.

20
21