Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. G DENGAN HIDROSEFALUS

DI RUANG ANAK RSU UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

DEPARTEMEN

KEPERAWATAN ANAK 3

OLEH :

VINDA PURNAMAWATI

202020461011069

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2021

1
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. G DENGAN HIDROSEFALUS

DI RUANG ANAK RSU UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

DEPARTEMEN

KEPERAWATAN ANAK

KELOMPOK 1

NAMA: Vinda Purnamawati

NIM: 202020461011069

TGL PRAKTEK/MINGGU KE : 23-29 Agustus 2021/ Minggu ke 2

Malang, 26 Agustus 2021

Mahasiswa,

Vinda Purnamawati

Pembimbing Akademik, Pembimbing Lahan,

Reni Ilmiasih, M.Kep.Sp.Kep.An Rizky Erlinda Febrina S.Kep., Ns

2
BAB I.

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi Hidrosefalus

Menurut Purwati dan Sulastri (2019) hidrosefalus merupakan penumpukan cairan yang

berlebihan di sereprospinal yang terjadi pada sistem ventrikular, akibatnya terjadi peningkatan

intrakranial yang menekan otak dan mendorong rangka otak (Andriyani et al., 2021). Menurut

Kyle and Carman (2015) hidrosefalus merupakan cairan serebrospinal yang terakumulasi dalam

ventrikel serebral, ruang subarachnoid atau ruang subdural yang terjadi akibat ketidakseimbangan

antara produksi CSS dan absorpsi CSS (Andriyani et al., 2021).

B. Faktor Resiko Hidrosefalus

Faktor yang dapat meningkatkan risiko hidrosefalus pada semua usia, yaitu (Willy, 2019) :

• Tumor di otak dan saraf tulang belakang.

• Perdarahan di otak akibat cedera kepala atau stroke.

• Infeksi pada otak dan saraf tulang belakang, misalnya meningitis.

• Cedera atau benturan pada kepala yang berdampak ke otak.

C. Klasifikasi Hidrosefalus

Hidrosefalus dapat dikelompokkan berdasarkan 2 yaitu (Sasmita, 2019) :

1. Communicating karena adanya obstruksi CSS di luar sistem ventrikel, misalnya

produksi CSS meningkat karena papiloma pleksus koroideus, infeksi TBC yang

menyebabkan arbsorbsi CSS berkurang.

2. Non Communicans karena adanya obstruksi aliran CSS di dalam sistem ventrikel,

misalnya : adanya tumor pada ventrikel

D. Etiologi Hidrosefalus / penyebab terjadinya

Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran CSS pada salah satu tempat antara tempat

pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang subarackhnoid.

akibat penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS diatasnya. Penyumbatan aliran CSS sering

terdapat pada bayi dan anak ialah (Satyanegara; et al., 2014) :

1. Kongenital : disebabkan gangguan perkembangan janin dalam rahim,atau infeksi

intrauterine meliputi :

3
• Stenosis aquaductus sylvius akibat malformasi yang terjadi pada 10% keseluruhan kasus

pada bayi baru lahir.

• Spina bifida kelainan bawaan lahir yang ditandai dengan terbentuknya celah pada tulang

belakang dan sumsum tulang belakang bayi

• Syndrom Dandy-Walker akibat malformasi yang diakibatkan oleh hubungan antara

dilatasi ventrikel IV dengan rongga subarachnoid yang tidak adekuat

• Kista arakhnoid dan anomali pembuluh darah

E. Manifestasi Klinis Hidrosefalus

Hidrosefalus pada bayi ditandai dengan lingkar kepala yang cepat membesar juga akan muncul

benjolan yang terasa lunak di ubun-ubun kepala (Willy, 2019). Selain perubahan ukuran kepala,

gejala hidrosefalus yang dapat dialami bayi dengan hidrosefalus adalah (Willy, 2019):

• Rewel

• Mudah mengantuk

• Tidak mau menyusu

• Muntah

• Pertumbuhan terhambat

• Kejang

Pada anak-anak, dewasa, dan lansia, gejala hidrosefalus yang muncul tergantung pada usia

penderita. Gejala-gejala tersebut antara lain (Willy, 2019) :

• Sakit kepala

• Penurunan daya ingat dan konsentrasi

• Mual dan muntah

• Gangguan penglihatan

• Gangguan koordinasi tubuh

• Gangguan keseimbangan

• Kesulitan menahan buang air kecil

• Pembesaran kepala

Hidrosefalus yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan gangguan dalam perkembangan

fisik dan intelektual anak. Pada orang dewasa, hidrosefalus yang terlambat ditangani dapat

menyebabkan gejala menjadi permanen (Willy, 2019).


4
F. Patofisiologi dan Pathway

Patofisiologi :

Menurut Loscalzo (2016) mengatakan bahwa isi dari tulang tengkorak adalah otak, cairan

serebrospinal (cerebrospinal fluid/CSF) dan darah. CSF dihasilkan terutama di pleksus koroideus

masing-masing ventrikel lateral, keluar dari otak melalui foramen luschka dan mangedi, dan

mengalir melalui korteks untuk diserap kedalam sistem vena di sepanjang sinus sagitalis superior.

Sekitar 150 ml CSF terkandung di dalam ventrikel dan mengekukungi otak dan korda spinalis,

volume darah otak juga berkisar 150 ml. tengkorak merupakan pelindung yang baik bagi otak,

tetapi hanya dapat menoleransi sedikit tambahan volume css. Peningkatan signifikan volume

akhirnya menyebabkan peningkatan intrakranial. Obstruksi aliran keluar CSF, edema jaringan

otak, atau meningkatnya volume akibat tumor atau hematoma dapat meningkatkan tekanan

intrakranial. Meningkatnya TIK akan mengurangi perfusi otak dan dapat menyebabkan iskemia

jaringan (Andriyani et al., 2021). Menurut Huether and McCance (2019) hidrosefalus kongenital

ditemukan pada saat lahir ditandai dengan peningkatan tekanan CSS. Disebabkan oleh

penyumbatan dalam sistem ventrikel yang terjadi ketidakseimbangan dalam produksi css atau

rearbsorpsi mengurangi CSS. Tekanan meningkat pada sistem ventrikel, terjadi dilatasi ventrikel,

mendorong dan menekan jaringan orak terhadap rongga tengkorak. Ketika hidrosefalus

berkembang sebelum fusi sutura tengkorak, maka tengkorak akan melebar untuk mengakomodasi

tambahan volume dan mempertahankan fungsi saraf. Ketika ada pemisahan sutura tengkorak,

manifestasi yang akan munsul disebut tanda macewen atau tanda cracking pot. Mata dengan

ekspresi menatap dengan sklera terlihat di atas kornea (sunsetting) (Andriyani et al., 2021).

Menurut Kyle and Carman (2015) CSS dibentuk terutama pada sistem ventrikel oleh pleksus

koroid, CSS mengalir akibat adanya gradien tekanan antara sistem ventrikel dan saluran cerna.

CSS diserap, terutama oleh vili arachnoid. Hidrosefalus terjadi ketika terjadi obstruksi pada

sistem ventrikel atau obliterasi maupun malfungsi vili arachnoid. Hal tersebut mengakibatkan

terjadinya gangguan absorpsi atau gangguan sirkulasi CSS. Pada kasus yang jarang terjadi,

hidrosefalus disebabkan oleh produksi CSS yang berlebihan oleh pleksus koroid (Andriyani et

al., 2021). Hidrosefalus terjadi karena ada gangguan absorbsi CSF dalam subarachnoid

dan adanya obstruksi dalam ventrikel yang mencegah CSP masuk ke rongga subarachnoid karena

infeksi, neoplasma, perdarahan, atau kelinan bentuk perkembangan otak janin, Cairan tersebut

terakumulasi dalam ventrikel dan mengakibatkan dilatasi ventrikel dan penekanan organ-

organ yang terdapat dalam otak (Andriyani et al., 2021).

5
Pathway Hidrosefalus

Sebagian besar cairan


serebrospinal diproduksi
dalam ventrikel otak

Penyerapan melalui vena


Subarachnoid

- Infeksi intra Gx Likuor / Produksi Gx. Proses Sepsis


uterine berupa terjadi sumbatan berlebih penyerapan
meningoensefal
itis Akumulasi CSS
virus/bakteri Penyempitan di ventrikel Indikasi M.K :
- Perdarahan pada aquaductus pemasangan Shunt Risiko
intrakranial Sylvii
TIK Infeksi
akibat cedera
perinatal
Hidrosefalus
M.K : Risiko Perfusi
Serebral Tidak
Efektif
Pembesaran kepala

Tekanan Liquor Pada Bayi suturanya


masih terbuka

Nyeri kepala Mual dan Muntah Otot Hipertrofi Lingkar kepala


frontal-occipital
M.K : Nyeri masih membsar
Kelainan Neurologi

Sutura menegang
Kejang dengan fontanel
- Oedem Pupil Kesadaran
Saraf otak II cembung, tegang, dan
virus/bakteri menipis
Gx. Motorik
- Bola mata
terdorong ke Somnolen
M.K Gx. Mobilitas Vena pada kulit
bawah oleh
Fisik kepala sering terlihat
tekanan
menonjol
- Supra orbita
menipis
- Gerakan bola
mata tidak
teratur

M.K Gx. Persepsi


Sensori

6
G. Pemeriksaan Penunjang :

A. Pemeriksaan fisik (Andriyani et al., 2021):

- Pengukuran lingkaran kepala secara berkala. Pengukuran ini penting untuk melihat

pembesaran kepala yang progresif atau lebih dari normal

- Transiluminasi

B. Pemeriksaan radiologi (Satyanegara; et al., 2013) :

- MRI: digunakan untuk mengidentifikasi struktur ventrikel dan mengidentifikasi

abnormalitas tertentu yang tidak dapat dideteksi oleh USG. Pemeriksaan ini terpilih

pada kasus-kasus tertentu, jika pada bayi dilakukan pembiusan karena memakan

waktu yang cukup lama.

- USG kepala: dapat mendeteksi adanya hidrosefalus pada periode prenatal dan

pascanatal, dapat dilakukan bila ubun-ubun besar belum menutup.

- CT Scan kepala: untuk mengetahui adanya pelebaran ventrikel dan sekaligus

mengevaluasi struktur-struktur intraserebral lainnya.

H. Penatalaksanaan Hidrosefalus :

a) Pencegahan

Untuk mencegah timbulnya kelainan genetic perlu dilakukan penyuluhan genetic, penerangan

keluarga berencana serta menghindari perkawinan antar keluarga dekat. Proses

persalinan/kelahirandiusahakan dalam batas-batas fisiologik untuk menghindari trauma

kepala bayi. Tindakan pembedahan Caesar suatu saat lebih dipilih dari pada menanggung

resiko cedera kepala bayi sewaktu lahir (Satyanegara; et al., 2014).

b) Terapi Medikamentosa

Hidrosefalus dewngan progresivitas rendah dan tanpa obstruksi pada umumnya tidak

memerlukan tindakan operasi. Dapat diberi asetazolamid dengan dosis 25 – 50 mg/kg BB.

Pada keadaan akut dapat diberikan menitol. Diuretika dan kortikosteroid dapat diberikan

meskipun hasilnya kurang memuaskan. Pembarian diamox atau furocemide juga dapat

diberikan. Tanpa pengobatan “pada kasus didapat” dapat sembuh spontan ± 40 – 50 % kasus

(Satyanegara; et al., 2014).

c) Pembedahan :

Tujuannya untuk memperbaiki tempat produksi LCS dengan tempat absorbsi. Misalnya

Cysternostomy pada stenosis aquadustus. Dengan pembedahan juga dapat mengeluarkan

LCS kedalam rongga cranial yang disebut (Satyanegara; et al., 2013) :

7
a. Ventrikulo Peritorial Shunt

b. Ventrikulo Adrial Shunt

Pemasangan pintasan dilakukan untuk mengalirkan cairan serebrospinal dari ventrikel otak

ke atrium kanan atau ke rongga peritoneum yaitu pi8ntasan ventrikuloatrial atau

ventrikuloperitonial (Satyanegara; et al., 2013).

d) Terapi

Pada dasarnya ada 3 prinsip dalam pengobatan hidrosefalus, yaitu (Andriyani et al., 2021) :

a) mengurangi produksi CSS

b) Mempengaruhi hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat absorbsi

c) Pengeluaran likuor ( CSS ) kedalam organ ekstrakranial.

I. Asuhan Keperawatan Pada Hidrosefalus

1. Anamnesa

a) Riwayat penyakit / keluhan utama : Muntah, gelisah nyeri kepala, lethargi, lelah apatis,

penglihatan ganda, perubahan pupil, kontriksi penglihatan perifer.

b) Riwayat Perkembangan Kelahiran : prematur. Lahir dengan pertolongan, pada waktu lahir

menangis keras atau tidak.

c) Kekejangan : Mulut dan perubahan tingkah laku. Apakah pernah terjatuh dengan kepala

terbentur. Keluhan sakit perut.

2. Pemeriksaan Fisik

a) Inspeksi :

- Anak dapat melihat keatas atau tidak.

- Pembesaran kepala

- Dahi menonjol dan mengkilat. Sertas pembuluh dara terlihat jelas.

b) Palpasi :

- Ukur lingkar kepala : Kepala semakin membesar

- Fontanela : Keterlamabatan penutupan fontanela anterior sehingga fontanela tegang,

keras dan sedikit tinggi dari permukaan tengkorak.

c) Pemeriksaan Mata

- Akomodasi.

- Gerakan bola mata

- Luas lapang pandang

8
- Konvergensi

-Didapatkan hasil : alis mata dan bulu mata keatas, tidak bisa melihat keatas.

-Stabismus, nystaqmus, atropi optic.

3. Observasi Tanda-Tanda Vital

Didapatkan data – data sebagai berikut :

· Peningkatan sistole tekanan darah.

· Penurunan nadi / Bradicardia.

· Peningkatan frekwensi pernapasan.

4. Diagnosa Klinis

Transimulasi kepala bayi yang akan menunjukkan tahap dan lokalisasi dari pengumpulan cairan

banormal. ( Transsimulasi terang )

· Perkusi tengkorak kepala bayi akan menghasilkan bunyi “ Crakedpot “ (Mercewen’s

Sign

· Opthalmoscopy : Edema Pupil.

· CT Scan Memperlihatkan (non – invasive) type hidrocephalus dengan nalisisi

komputer

· Radiologi : Ditemukan Pelebaran sutura, erosi tulang intra cranial.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN HIDROSEFALUS

1. Resiko cidera b.d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan, ketidakmampuan

mengambil keputusan, ketidakmampuan melakukan perawatan sederhana, ketidak mampuan

menciptakan lingkungan kondusif, ketidakmampuan memanfaatkan fasilitas kesehatan.

2. Defisit Nutrisi b.d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan, ketidakmampuan

mengambil keputusan, ketidakmampuan melakukan perawatan sederhana, ketidak mampuan

menciptakan lingkungan kondusif, ketidakmampuan memanfaatkan fasilitas kesehatan.

3. Gangguan Proses Keluarga b.d Krisis Situasional d.d ketidakmampuan keluarga mengenal

masalah kesehatan, ketidakmampuan mengambil keputusan, ketidakmampuan melakukan

perawatan sederhana, ketidakmampuan menciptakan lingkungan kondusif, ketidakmampuan

memanfaatkan fasilitas kesehatan

4. Risiko perfusi serebral tidak efektif d.d demam, kejang pembesaran kepala, peningkatan tekanan

intrakranial

9
5. Risiko Infeksi d.d dilakukan prosedur invasif seperti pemasangan VP-Shunt

10
Referensi :

Andriyani, S., Windahandayani, V. Y., Damayanti, D., Faridah, U., & Sari, Y. I. P. dkk. (2021).

Asuhan Keperawatan pada Anak. Yayasan Kita Menulis.

https://www.google.co.id/books/edition/Asuhan_Keperawatan_pada_Anak/tyA5EAAAQBAJ?hl=

en&gbpv=1&dq=Hidrosefalus+adalah&pg=PA173&printsec=frontcover

Sasmita, P. K. (2019). Neuroanatomi Susunan Saraf Pusat dan Saraf Kranial. Appti.

https://www.google.co.id/books/edition/Neuroanatomi_Susunan_Saraf_Pusat_dan_Sar/9_TJDwA

AQBAJ?hl=en&gbpv=1&dq=Hidrosefalus+adalah&pg=PA28&printsec=frontcover

Satyanegara;, Arifin, M. Z., Hasan, R. Y., & Abubakar, S. (2013). Ilmu Bedah Saraf (IV). PT

Gramedia Pustaka Utama.

https://www.google.co.id/books/edition/Ilmu_Bedah_Syaraf_IV/01ZjDwAAQBAJ?hl=en&gbpv=

1&dq=patofisiologi+Hidrosefalus&pg=PA345&printsec=frontcover

Satyanegara;, Arifin, M. Z., Hasan, R. Y., & Abubakar, S. (2014). Ilmu Bedah Saraf Satyanegara (V).

PT Gramedia Pustaka Utama.

https://www.google.co.id/books/edition/Ilmu_Bedah_Saraf_Edisi_V/PKJLDwAAQBAJ?hl=en&g

bpv=1&dq=hidrosefalus+adalah&pg=PA511&printsec=frontcover

Willy, T. (2019). Hidrosefalus. Alodokter. https://www.alodokter.com/hidrosefalus

11