Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

MIOMA UTERI

DI RUANG KAMAR BERSALIN RS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH


MALANG

OLEH :

VINDA PURNAMAWATI

202020461011069

NERS 23

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2021
LEMBAR PENGESAHAN
PADA KLIEN DENGAN MIOMA UTERI

DI RUANG KAMAR BERSALIN RS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH


MALANG

DEPARTEMEN
KEPERAWATAN MATERNITAS 2
KELOMPOK 1

NAMA : VINDA PURNAMAWATI


NIM : 202020461011069
TGL PRAKTEK/MINGGU KE : 13-19 September 2021 / MINGGU Ke 2

Malang, 14 September 2021

Mahasiswa

Vinda Purnamawati

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

(Ririn Harini, S.Kep., Ns., M.Kep) (________________________)


LAPORAN PENDAHULUAN

Mioma Uteri

A. DEFINISI

Mioma uteri atau yang sering disebut dengan Leiomioma adalah salah satu masalah
yang sering timbul pada organ reproduksi wanita (Jariah et al., 2020). Mioma merupakan
tumor jinak yang memiliki ciri tersendiri yaitu bulat, keras, berwarna putih hingga mudah
pucat, dan sebagian besar terdiri atas otot polos dengan beberapa jaringan ikat (Jariah et
al., 2020). Mioma merupakan tumor pelvis yang paling sering terjadi dengan presentase
25% pada wanita kulit terang, dan 50% pada wanita dengan kulit gelap, hal ini
dikarenakan wanita dengan kulit gelap lebih banyak memiliki hormon esterogen
dibanding dengan wanita berkulit terang (Jariah et al., 2020). Data dari WHO
menyatakan bahwa terdapat 6,25 juta penderita tumor setiap tahunnya, termasuk di
Indonesia Angka kasus mioma uteri sebesar 20/1000 wanita dewasa (Jariah et al., 2020).
Di Indonesia kejadian mioma uteri menempati urutan kedua setelah kanker serviks
(Jariah et al., 2020).

B. Faktor Risiko
Berdasarkan pada jurnal yang diterbitkan (Kurniaty & Sunarsih, 2018), yaitu :
- Diperkirakan bahwa antara 20 % sampai dengan 25 % mioma uteri banyak terjadi
pada wanita berumur diatas 35-50 tahun.
- Mioma uteri jarang terjadi pada wanita sebelum masa menarche, semakin muda
usia menarche maka keterpaparan hormon esterogen pada seseorang semakin lama
dann semakin tinggi
- Mioma uteri juga jarang terjadi pada wanita sebelum masa menopause.
- Mioma uteri sering terjadi pada masa reproduksi
- Pada wanita primigravida tidak menutup kemungkinan mengalami mioma uteri
terutama pada wanita pada usia diatas 35 tahun dimana organ reproduksi sudah
mengalami penurunan sehinga kemampuan rahim untuk memperbaiki dirinya
sudah berkurang
- Pengaruh hormon ketika masa kehamilan karena akan mempengaruhi hormon
esterogen-progesteron yang menyebabkan mioma uteri membesar
- Faktor Paritas, banyaknya jumlah persalinan dan juga jarak yang terlalu dekat dapat
mempengaruhi organ reproduksi wanita sehingga akan sulit kembali pada keadaan
normal.

C. Etiologi
Walaupun mioma uteri terjadi banyak tanpa penyebab, namun dari hasil penelitian
Meyer dan Lipschultz, yang mengutarakan bahwa terjadinya mioma uteri tergantung
pada sel-sel imatur pada “Cell nest” yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus
oleh estrogen (Nuraeni & Wianti, 2021). Mioma uteri dirangsang dengan hormon
esterogen yang berlebih dan berlangsung terus-menerus, selain itu juga terjadi karena
adanya garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri memiliki 2-3x
akan terkena dibanding dengan wanita tanpa garis keturunan (Putri, 2020). Obesitas juga
termasuk dalam yang dapat menyebabkan mioma uteri, hal ini berhubungan dengan
hormon konvensi hormon androgen menjadi esterogen oleh enzime aramotease di
jaringan lemak (Putri, 2020).

D. Tanda Dan Gejala


Berikut ini merupakan tanda dan gejala yang dialami (Putri, 2020) :
- Perdarahan berat ketika menstruasi
- Menstruasi lama
- Nyeri panggul
- Anemia
- Keluar darah menggumpal dari vagina
- Nyeri perut bagian bawah
- Sering BAK
- Pada beberapa kasus tertentu dapat menyebabkan perdarahan vagina
setelah berhubungan intim

Hampir separuh kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan
ginekolog karena tumor ini tidak menganggu. Gejala yang dikeluhkan sangat tergantung
pada tempat sarang mioma ini berada (serviks, intramural, submukus, subserosa),
besarnya tumor, perubahan dan komplikasi yang terjadi (Nuraeni & Wianti, 2021).
Gejala tersebut dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Perdarahan abnormal
Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenore, menoragia atau
dapat terjadi metroragi. Faktor yang menyebabkan terjadi perdarahan, antara lain
:

• Permukaan endometrium yang lebih luas dari pada biasanya

• Pengaruh ovarium sehingga terjadi hiperplasia endometrium sampai


adenokarsinoma emdometrium
• Atrofi endometrium di atas mioma submukosum

• Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma


diantara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh
darah yang melaluinya.
2. Rasa Nyeri
Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas pada mioma walaupun sering terjadi. Rasa
nyeri dapat timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma yang
disertai nekrosis jaringan setempat dan peradangan. Pada mioma submukosum
yang akan dilahirkan biasanya menimbulkan dismenore karena penyempitan
kanalis servikalis akibat mioma (Nuraeni & Wianti, 2021).

3. Gejala dan tanda penekanan


Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri. Penekanan pada
kandung kemih akan menyebabkan poliuri. Penekanan pada uretra daoat
menyebabkan retensio urine dan pada ureter dapat menyebabkan hidroureter dan
hidronefrosis. Penekanan pada rectum menyebabkan obstipasi dan tenesmia. Dan
penekanan pada pembuluh darah dan pembuluh limfe mengakibatkan edema
tungkai dan nyeri panggul (Nuraeni & Wianti, 2021).

E. Patofisiologi dan Pathway

Mioma memiliki reseptor estrogen yang lebih banyak dibanding miometrium normal.
Teori cell nest atau teori genitoblat membuktikan dengan pemberian estrogen ternyata
menimbulkan tumor fibromatosa yang berasal dari sel imatur. Mioma uteri terdiri dari
otot polos dan jaringan yang tersusun seperti konde diliputi pseudokapsul. Mioma uteri
lebih sering ditemukan pada nulipara, faktor keturunan juga berperan. Perubahan
sekunder pada mioma uteri sebagian besar bersifaf degeneratif karena berkurangnya
aliran darah ke mioma uteri. Menurut letaknya, mioma terdiri dari mioma submukosum,
intramular dan subserosum (Nuraeni & Wianti, 2021).
F. Jenis Mioma Uteri
Berdasarkan posisi mioma terhadap lapisan-lapisan uterus dapat di bagi menjadi tiga
jenis yaitu (Nuraeni & Wianti, 2021):

1. Mioma Submukosum
Mioma ini berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga
uterus. Mioma submukosum dapat tumbuh bertangkai dan menjadi polip,
kemudian dapat dilahirkan melalui saluran serviks ( Myoma geburt).

2. Mioma Intramural

Yaitu mioma yang berada di dinding uterus di antara serabut miometrium

3. Mioma Subserosum
Mioma jenis ini tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada
permukaan uterus dan diliputi oleh serosa. Mioma subserosum dapat pula
tumbuh menempel pada jaringan lain misalnya ke ligamentum atau omentum
dan kemudian membebaskan diri dari urerussehingga sering disebut sebagai
mioma wondering/ Parasitic Fibroid.

Secara histologi, satu klon sel tumor dapat berdiferensiasi menjadi 4 jenis sel, yakni
sel otot polos, sel otot polos vaskular, dan 2 jenis fibroblas. Berdasarkan histopatologi,
mioma uteri bisa diklasifikasikan atas beberapa jenis, yakni (Lubis, 2020) :

1. Cellular leiomyoma yang lebih dominan bagian selulernya, tidak ada nukleus
atipikal dan indeks mitosisnya rendah (≤ 4 per 10 high power field/HPF)
2. Leiomyoma with bizarre nuclei (atypical/ symplastic leiomyoma) ditandai dengan
bizzare pleomorphic nuclei. Pada jenis tumor ini, aktivitas mitosisnya juga
rendah; adanya karioreksis bisa disalahartikan sebagai mitosis atipikal.
3. Mitotically active leiomyoma yang memilki gambaran mitosis tinggi (>10 mitosis
per 10 HPF), tidak memiliki nukleus atipikal dan tidak terdapat nekrosis. Mioma
jenis ini sering terjadi akibat pengaruh hormonal; paling sering ditemukan pada
usia reproduktif.
4. Dissecting (‘cotyledenoid’) leiomyoma yang ditandai dengan adanya perubahan
hidrofilik pada gambaran sel tumor.
5. Diffuse leiomyomatosis adalah jenis yang paling jarang, merupakan tipe paling
invasif yang sering mengenai kavum peritoneum dan histopatologis mirip
gambaran tumor ganas.
G. Komplikasi
Pengaruh mioma uteri pada kehamilan akan menyebabkan (Putri, 2020) :
- Infertilitas
- Kemungkinan abortus/keguguran
- Kelainan letak janin dalam rahim
- Menghalangi kemajuan persalinan
- Inersia dan atonia uteri mempersulit lepasnya plasenta dan dapat mengganggu
proses involusi dalam masa nifas
- Tingginya insiden section caesarea
- Anemia
Gangguan hormonal yaitu :
1. Produksi otonom eritropoietin menyebabkan polisitemia
2. Produksi otonom protein parathyroid-hormone relate menyebabkan
hiperkalsemia
3. Hiperprolaktinemia
- Prolaps uteri melalui serviks
H. Prognosis
Prognosis mioma uteri ditentukan oleh jumlah, tipe, ukuran, dan lokasi mioma. Tata
laksana dan penanganan yang dipilih juga berpengaruh pada prognosis mioma uteri
(Abertus, 2021). Adapun beberapa klasifikasi untuk menentukan pengangkatan diagnosa
miom yaitu (Lubis, 2020) :
- Tipe 0 - merupakan pedunculated intracavitary myoma, tumor berada submukosa
dan sebagian dalam rongga rahim
- Tipe 1 - merupakan tipe submukosa dengan < 50% bagian tumor berada di
intramural
- Tipe 2 - tumor menyerang ≥ 50% intramural
- Tipe 3 - seluruh bagian tumor berada dalam dinding uterus yang berdekatan dengan
endometrium
- Tipe 4 - tipe tumor intramural yang lokasinya berada dalam miometrium
- Tipe 5 - tipe serosa dengan ≥ 50% bagian tumor berada pada intramural
- Tipe 6 - jenis subserosa yang mengenai < 50% intramural
- Tipe 7 - tipe pedunculated subserous
- Tipe 8 - kategori lain ditandai dengan pertumbuhan jaringan di luar miometrium
yang disebut cervicalparasitic lesion.

Secara histologi, satu klon sel tumor dapat berdiferensiasi menjadi 4 jenis sel, yakni sel
otot polos, sel otot polos vaskular, dan 2 jenis fibroblas. Berdasarkan histopatologi,
mioma uteri bisa diklasifikasikan atas beberapa jenis, yakni:

1. Cellular leiomyoma yang lebih dominan bagian selulernya, tidak ada nukleus
atipikal dan indeks mitosisnya rendah (≤ 4 per 10 high power field/HPF)
2. Leiomyoma with bizarre nuclei (atypical/ symplastic leiomyoma) ditandai dengan
bizzare pleomorphic nuclei. Pada jenis tumor ini, aktivitas mitosisnya juga rendah;
adanya karioreksis bisa disalahartikan sebagai mitosis atipikal.
3. Mitotically active leiomyoma yang memilki gambaran mitosis tinggi (>10 mitosis
per 10 HPF), tidak memiliki nukleus atipikal dan tidak terdapat nekrosis. Mioma
jenis ini sering terjadi akibat pengaruh hormonal; paling sering ditemukan pada usia
reproduktif.
4. Dissecting (‘cotyledenoid’) leiomyoma yang ditandai dengan adanya perubahan
hidrofilik pada gambaran sel tumor.
5. Diffuse leiomyomatosis adalah jenis yang paling jarang, merupakan tipe paling
invasif yang sering mengenai kavum peritoneum dan histopatologis mirip gambaran
tumor ganas.
I. Pemeriksaan dan Diagnosis

1. Anamnesa tentang riwayat penyakit

2. Palpasi abdomen. Didapatkan benjolan di daerah perut bagian perut


bagian bawah dengan konsistensi padat, kenyal dan berbatas jelas.
3. Pemeriksaan bimanual , didapatkan benjolan menyatu dengan rahim, sulit
dilakukan untuk pasien yang gemuk
4. Test kehamilan, untuk memastikan diagnosa akan kemungkinan
kehamilan dengan adanya pembesaran uterus.
5. Pemeriksaan USG, untuk menentukan jenis, lokasi dan penyebaran mioma
uteri
6. Biopsi endometrium, untuk mendeteksi ada tidaknya keganasan.
J. Pemeriksaan Penunjang

1. USG abdominal dan transvaginal

2. Laparaskopi

K. Penatalaksanaan
Rawat inap darurat diindikasikan apabila perdarahan mengancam jiwa atau nyeri akut
abdomen. Adapun perencanaan tata laksana yang spesifik harus meliputi berbagai
pertimbangan diantaranya :

1. Besar kecilnya tumor

2. Ada tidaknya keluhan dan komplikasi

3. Umur dan paritas klien.


L. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1) Keluhan Utama

Keluhan yang timbul pada hampir tiap jenis operasi adalah rasa nyeri karena terjadi
torehant tarikan, manipulasi jaringan organ.Rasa nyeri setelah bedah biasanya
berlangsung 24-48 jam. Adapun yang perlu dikaji pada rasa nyeri tersebut adalah :

• Lokasi nyeri

• Intensitas nyeri

• Waktu dan durasi

• Kualitas nyeri.

2) Riwayat Reproduksi

• Haid

Dikaji tentang riwayat menarche dan haid terakhir, sebab mioma uteri tidak pernah
ditemukan sebelum menarche dan mengalami atrofi pada masa menopause

• Hamil dan Persalinan


- Kehamilan mempengaruhi pertubuhan mioma, dimana mioma uteri tumbuh cepat pada
masa hamil ini dihubungkan dengan hormon estrogen, pada masa ii dihasilkan dalam
jumlah yang besar.
- Jumlah kehamilan dan anak yang hidup mempengaruhi psikologi klien dan keluarga
terhadap hilangnya oirgan kewanitaan.
3) Data Psikologi
Pengangkatan organ reproduksi dapat sangat berpengaruh terhadap emosional klien dan
diperlukan waktu untuk memulai perubahan yang terjadi. Organ reproduksi merupakan
komponen kewanitaan, wanita melihat fungsi menstruasi sebagai lambang feminitas,
sehingga berhentinya menstruasi bias dirasakan sebgai hilangnya perasaan kewanitaan.
Perasaan seksualitas dalam arti hubungan seksual perlu ditangani . Beberapa wanita
merasa cemas bahwa hubungan seksualitas terhalangi atau hilangnya kepuasan.
Pengetahuan klien tentang dampak yang akan terjadi sangat perlu persiapan psikologi
klien.

4) Status Respiratori

Respirasi bias meningkat atau menurun. Pernafasan yang ribut dapat terdengar tanpa
stetoskop. Bunyi pernafasan akibat lidah jatuh kebelakang atau akibat terdapat secret.
Suara paru yang kasar merupakan gejala terdapat secret pada saluran nafas . Usaha batuk
dan bernafas dalam dilaksalanakan segera pada klien yang memakai anaestesi general.

5) Tingkat Kesadaran

Tingkat kesadaran dibuktikan melalui pertanyaan sederhana yang harus dijawab oleh
klien atau di suruh untuk melakukan perintah. Variasi tingkat kesadaran dimulai dari
siuman sampai ngantuk, harus diobservasi dan penurunan tingkat kesadaran merupakan
gejala syok.

6) Status Urinari

Retensi urine paling umum terjadi setelah pembedahan ginekologi, klien yang hidrasinya
baik biasanya baik biasanya kencing setelah 6 sampai 8 jam setelah pembedahan.
Jumlah autput urine yang sedikit akibat kehilangan cairan tubuh saat operasi, muntah
akibat anestesi.

7) Status Gastrointestinal
Fungsi gastrointestinal biasanya pulih pada 24-74 jam setelah pembedahan, tergantung
pada kekuatan efek narkose pada penekanan intestinal. Ambulatori dan kompres hangat
perlu diberikan untuk menghilangkan gas dalam usus.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri b.d. gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma akibat nekrosis dan
peradangan.
2. Anxietas b.d. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan kebutuhan
pengobatan.
3. Risiko ketidakseimbangan cairan b.d. perdarahan pervaginam berlebihan.
4. Resiko infeksi b.d. tidak adekuat pertahanan tubuh akibat anemia.

C. RENCANA KEPERAWATAN & Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri b.d. gangguan sirkulasi darah pada mioma akibat nekrosis dan
peradangan.

Tujuan : Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan.

Kriteria Hasil:

- Klien menyatakan nyeri berkurang (skala 3-5) - Klien tampak tenang, eksprei
wajah rileks.
- Tanda vital dalam batas normal :

1. Suhu : 36-37 0C
2. N : 80-100 x/m
3. RR : 16-24x/m
4. TD : Sistole : 100-130 mmHg, Diastole : 70-80 mmHg

Intervensi :

- Kaji riwayat nyeri, mis : lokasi nyeri, frekuensi, durasi dan intensitas (kala
010) dan tindakan pengurangan yang dilakukan.
- Bantu pasien mengatur posisi senyaman mungkin.
- Monitor tanda-tanda vital
- Ajarkan pasien penggunaan keterampilan manajemen nyeri misalnya dengan
teknik relaksasi, tertawa, mendengarkan musik dan sentuhan terapeutik.
- Evaluasi/ kontrol pengurangan nyeri
- Ciptakan suasana lingkungan tenang dan nyaman.
- Kolaborasi untuk pemberian analgetik sesuai indikasi.
2. Anxietas b.d kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis, dan kebutuhan
pengobatan.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pengetahuan klien tentang


penyakitnya bertambah dan cemas berkurang.

Kriteria Hasil :

- Klien mengatakan rasa cemas berkurang


- Klien kooperatif terhadap prosedur/ berpartisipasi.
- Klien mengerti tentang penyakitnya
- Klien tampak rileks.
- Tanda-tanda vital dalam batas normal : Suhu : 36- 37 oC, Nadi : 80-100x/m,
R: 16-24 x/m TD.: Sistole: 100-130 mmHg, Diastole : 70-80 mmHg
Intervensi :

- Kaji ulang tingkat pemahaman pasien tentang penyakitnya.


- Tanyakan tentang pengalaman klien sendiri/ orang lain sebelumnya yang
pernah mengalami penyakit yang sama.
- Dorong klien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya
- Ciptakan lingkungan tenang dan terbuka dimana pasien meraa aman unuk
mendiskusikan perasaannya.
- Berikan informasi tentang penyakitnya, prognosi, dan pengobatan serta
prosedur secara jelas dan akurat.
- Monitor tanda-tanda vital.
- Berikan kesempatan klien untuk bertanya tentang hal-hal yang belum jelas.
- Minta pasien untuk umpan balik tentang apa yang telah dijelaskan.
- Libatkan orang terdekat sesuai indikasi bila memungkinkan.
3. Risiko Ketidakseimbangan cairan b.d. perdarahan pervaginam berlebihan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi
Kriteria Hasil :
- Tidak ditemukan tanda-tanda kekurangan cairan seperti turgor kulit kurang,
membran mukosa kering, demam.
- Pendarahan berhenti, keluaran urine 1 cc/kg BB/jam.
- Tanda-tanda vital dalam batas normal : Suhu : 36-370C, Nadi : 80 –100 x/m,
- RR :16-24 x/m, TD : Sistole : 100-130 mmHg, Diastole : 70-80 mmHg
Intervensi :
- Kaji tanda-tanda kekurangan cairan.
- Pantau masukan dan haluaran/ monitor balance cairan tiap 24 jam.
- Monitor tanda-tanda vital. Evaluasi nadi perifer.
- Observasi pendarahan
- Anjurkan klien untuk minum + 1500-2000 ,l/hari
- Kolaborasi untuk pemberian cairan parenteral dan kalau perlu transfusi sesuai
indikasi, pemeriksaan laboratorium. Hb, leko, trombo, ureum, kreatinin.

4. Resiko infeksi b.d. pertahanan tubuh tidak adekuat akibat penurunan


haemoglobin (anemia).

Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi.

Kriteria Hasil :

- Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi seperti rubor, color, dolor, tumor dan
fungsiolesia.
- Kadar haemoglobin dalam batas normal : 11-14 gr%
- Pasien tidak demam/ menggigil, suhu : 36-370 C Intervensi :
- Kaji adanya tanda-tanda infeksi.
- Lakukan cuci tangan yang baik sebelum tindakan keperawatan.
- Gunakan teknik aseptik pada prosedur perawatan.
- Monitor tanda-tanda vital dan kadar haemoglobin serta leukosit.
- Anjurkan pasien untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
- Batasi pengunjung untuk menghindari pemajanan bakteri.
- Kolaborasi dengan medis untuk pemberian antibiotika.
A. Mioma Uteri dengan Anemia
1. Definisi
Anemia merupakan suatu keadaan saat jumlah sel darah merah atau
konsentrasi pengangkut oksigen dalam darah Hemoglobin (Hb) tidak
mencukupi untuk seluruh kebutuhan fisiologis tubuh (Kemenkes RI, 2019).
Anemia adalah suatu keadaan kurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam
sirkulasi darah atau massa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi
fungsinya sebagai pembawa oksigen keseluruh jaringan (Nurbadriyah, 2019).
Anemia dalam kehamilan didefenisikan sebagai suatu kondisi kadar
hemoglobin kurang dari 11,0 g/dl pada trimester I dan III, atau kadar
hemoglobin kurang dari 10,5 g/dl pada trimester II (Nurbadriyah, 2019).

Pada kasus pasien dengan mioma uteri dapat mengakibatkan permukaan


endometrium yang lebih luas dari pada biasanya. Perdarahan mioma uteri
dapat berdampak pada ibu hamil dan penderita mioma uteri itu sendiri. Ibu
hamil akan mengalami dampak berupa abortus spontan, persalinan prematur,
dan malpresentasi (Putri, 2020). Pada penderita mioma uteri akan mengalami
perdarahan yang banyak dan dapat mengakibatkan anemia (Putri, 2020).
Pendarahan juga dapat terjadi pada pencernaan karena perluasan dan
pembesaran mioma uteri sehingga pasien mioma uteri tidak hanya dilakukan
operasi pada alat kelamin tetapi juga dapat dilakukan operasi pencernaan
(colostomy) (Doda, 2020). Pada kasus ini pasien mioma uteri mengalami
komplikasi yang berat dan dapat memperburuk kesehatan dan tidak jarang
pasien tersebut mengalami penurunan kesehatan karena terjadi gangguan pada
nutrisi dan tubuh mengalami kelemahan hingga menjadi syok dan pada
akhirnya menimbulkan kematian (Doda, 2020).

2. Etiologi
Penyebab anemia pada ibu hamil terdiri dari beberapa faktor, yaitu (Handayani
& Haribowo, 2008):
a. Faktor dasar
1) Sosial dan ekonomi
Kondisi lingkungan sosial sangat berkaitan dengan kondisi
ekonomi di suatu daerah dan menentukan pola konsumsi makanan dan
gizi yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Misalnya, kondisi sosial
di pedesaan dan perkotaan memiliki pola konsumsi makanan dan gizi
yang berbeda pula. Kondisi ekonomi seseorang sangat menentukan
dalam penyediaan makanan dan kualitas gizi. Semakin tinggi tingkat
perekonomian seseorang, maka kemungkinan akan semakin baik status
gizinya dan sebalinya (Irianto, 2014).
2) Pengetahuan
Ibu hamil yang memiliki tingkat pengetahuan rendah berisiko
mengalami defisiensi zat besi, jadi tingkat pengetahuan yang kurang
tentang defisiensi zat besi akan memberi pengaruh pada ibu hamil
dalam berperilaku kesehatan dan dapat berakibat pada kurangnya
konsumsi makanan yang mengandung zat besi dikarenakan
ketidaktahuannya dan dapat berakibat anemia pada ibu hamil (Wati,
2016).
3) Pendidikan
Tingkat pendidikan yang baik akan diikuti kemudahan dalam
memahami pengetahuan tentang kesehatan. Sedangkan rendahnya
tingkat pendidikan yang dimiliki seorang ibu hamil dapat menyebabkan
keterbatasan dalam upaya menangani masalah gizi dan kesehatan
keluarga (Nurhidayati, 2013).
4) Budaya
Larangan memakan jenis makanan tertentu, berhubungan dengan
makanan yang dilarang atau tidak boleh dimakan, dan banyaknya pola
pantangan terhadap makanan tertentu. Tahayul dan larangan yang
beragam yang didasarkan kepada kebudayaan dan adat adat yang
beragam di setiap daerah di dunia ini, misalnya pada ibu hamil, ada
sebagian masyarakat yang masih percaya ibu hamil tidak boleh makan
ikan, tidak boleh makan telur dan jenis makanan lainnya (Ariyani,
2016).
b. Faktor tidak langsung
1) Frekuensi Antenatal Care (ANC)
Antenatal Care (ANC) merupakan suatu pelayanan yang diberikan
oleh perawat kepada wanita selama hamil, misalnya dengan pemantauan
kesehatan secara fisik, psikologis, termasuk pertumbuhan dan
perkembangan janin serta mempersiapkan proses persalinan dan
kelahiran supaya ibu siap mengahadapi peran baru sebagai orangtua
(Wagiyo & Putrono, 2016).
2) Paritas
Paritas ibu merupakan frekuensi ibu pernah melahirkan anak hidup
atau mati, tetapi bukan aborsi terjadi secara alamiah (Nurhidayati,
2013). semakin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan
melahirkan atau jarak kelahiran terlalu dekat maka semakin banyak
kehilangan zat besi dan semakin besar kemungkinan mengalami anemia
(Fatkhiyah, 2018).
3) Umur ibu
Umur ibu yang ideal dalam kehamilan yaitu antara umur 20-35
tahun dan pada umur tersebut resiko komplikasi kehamilan dapat
dihindari, memiliki reproduksi yang sehat, kondisi biologis dan
psikologis dari ibu hamil sudah matang. Sebaliknya pada umur < 20
tahun beresiko anemia karena pada kelompok umur tersebut
perkembangan bilogis yaitu reproduksi belum optimal atau belum
matang sepenuhnya. disisilain, kehamilan pada usia diatas 35 tahun
merupakan kehamilan yang beresiko tinggi. Wanita hamil dengan umur
diatas 35 tahun juga akan rentan mengalami anemia. Hal ini
menyebabkan daya tahan tubuh mulai menurun pada usia 35 tahun
keatas dan mudah terkena berbagai infeksi selama masa kehamilan
(Fatkhiyah, 2018).
c. Faktor langsung
1) Pola konsumsi
Kejadian anemia sangat erat jika dihubungkan dengan pola
konsumsi yang rendah kandungan zat besinya serta makanan yang dapat
memperlancar dan menghambat absorbsi zat besi.
2) Infeksi
Beberapa infeksi penyakit menyebabkan risiko anemia. Infeksi itu
umumnya adalah TBC, malaria, dan cacingan, karena menyebabkan
terjadinya peningkatan penghancuran sel darah merah dan terganggunya
eritrosit. Cacingan sangat jarang menyebabkan kematian secara
langsung, namun sangat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya
karena cacing menyerap kandungan makanan. Infeksi cacing akan
menyebabkan malnutrisi dan dapat mengakibatkan anemia defisiensi
besi pada ibu hamil. Infeksi yang disebabkan penyakit malaria dapat
menyebabkan anemia (Nurhidayati, 2013).
3) Pendarahan
Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi
besi dan pendarahan akut bahkan keduanya saling berinteraksi satu
sama lain. Pendarahan menyebabkan banyak unsur besi yang hilang
keluar bersama darah sehinggga dapat berakibat pada anemia menurut.
3. Manifestasi klinis
Pada umumnya tanda-tanda anemia akan tampak jelas apabila kadar
hemoglobin (Hb) <7gr/dl. Gejala anemia dapat berupa (Putri, 2020) :
- Kepala pusing,
- Perubahan jaringan epitel kuku,
- Palpitasi,
- Berkunang-kunang,
- Pucat,
- Perubahan jaringan epitel kuku,
- Lesu,
- Lemah,
- Gangguan sistem neuromuskular,
- Lelah,
- Disphagia,
- Kurang nafsu makan,
- Menurunnya kebugaran tubuh,
- Juga gangguan penyembuhan luka, serta pembesaran kelenjar limpa
4. Patofisologi dan pathway
Pengenceran darah (hemodilusi) pada ibu hamil sering terjadi dengan
peningkatan volume plasma 30%-40%, peningkatan sel darah merah 18%-30%
dan hemoglobin 19%, secara fisiologi hemodilusi membantu meringankan
kerja jantung. Hemodilusi terjadi sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai
maksimum pada usia kehamilan 24 minggu atau trimester II dan terus
meningkat hingga usia kehamilan di trimester ke III (Reeder, dkk, 2014).
Anemia pada ibu hamil dapat berdampak terganggunya kesehatan pada
ibu hamil maupun janin yang sedang dikandungnya. Permasalahan kesehatan
pada janin dan ibu hamil dari dampak anemia dapat berupa abortus, persalinan
prematur, infeksi, dan perdarahan saat persalinan. Bahaya lainnya dapat
menimbulkan resiko terjadinya kematian intrauteri, abortus, berat badan lahir
rendah, resiko terjadinya cacat bawaan, peningkatan resiko infeksi pada bayi
hingga kematian perinatal atau tingkat intilegensi bayi rendah (Pratami, 2016).
Ibu hamil dengan anemia biasannya muncul keluhan ibu hamil dengan
anemia merasa lemah, lesu, letih, pusing, tenaga berkurang, pandangan mata
berkunang-kunang terutama bila bangkit dari duduk. Selain itu, melalui
pemeriksaan fisik akan di temukan tanda-tanda pada ibu hamil seperti: pada
wajah di selaput lendir kelopak mata, bibir, dan kuku penderita tampak pucat.
Bahkan pada penderita anemia yang berat dapat berakibat penderita sesak
napas atau pun bisa menyebabkan lemah jantung (Syaftrudin, 2011).
Pathway Mioma Uteri dengan Anemia :
5. Pemeriksaan Penunjang
Deteksi pada klien mioma uteri dengan anemia dapat dilakukan dengan cara
(Doda, 2020):

1) Pemeriksaan darah lengkap : Hb turun, Albumin turun, Lekosit turun atau


meningkat, Eritrosit turun.
2) USG : terlihat massa pada daerah uterus.
3) Vaginal toucher (VT) : didapatkan perdrahan pervaginam, teraba massa,
konsistensi dan ukurannya.
4) Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut.
5) Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat
tindakan operasi
6) ECG : mendeteksi, kelainan yang mungkin terjadi yang dapat mempengaruhi
tindakan operasi.
6. Diagnosa Keperawatan yang kemungkinan akan muncul :
1. Nyeri akut berhubungan dengan nekrosis atau trauma jaringan dan refleks
spasme otot sekunder akibat tumor

2. Resiko syok berhubungan dengan perdarahan

3. Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan imun tubuh sekunder akibat


gangguan hematologis (perdarahan)

4. Retensi urine berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasma


pada organ sekitarnya, gangguan sensorik motorik.

5. Resiko Konstipasi berhubungan dengan penekanan pada rectum (prolaps


rectum)

6. Ansietas berhubungan dengan perubahan dalam status peran, ancaman pada


status kesehatan, konsep diri (kurangnya sumber informasi terkait penyakit)
Referensi :

Abertus, A. (2021). Mioma Uteri. Alomedika.


https://www.alomedika.com/penyakit/obstetrik-dan-ginekologi/mioma-
uteri/prognosis

Doda, D. V. D. (2020). Buku Ajar Fisiologi Sistem Hematologi. Deepublish.


https://www.google.co.id/books/edition/Buku_Ajar_Fisiologi_Sistem_Hematologi/z
r78DwAAQBAJ?hl=en&gbpv=1&dq=Anemia+adalah&printsec=frontcover

Handayani, W., & Haribowo, dr. A. S. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan pada
Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi. Salemba Medika.
https://www.google.co.id/books/edition/Buku_Ajar_Asuhan_Keperawatan_Dgn_Ga
nggua/PwLdwyMH9K4C?hl=en&gbpv=1&dq=Anemia+adalah&pg=PT50&printse
c=frontcover

Jariah, A., Abeng, A. T., & Erawati, M. (2020). Manajemen Asuhan Kebidanan pada
Nona R dengan Mioma Uteri. Window of Midwifery Journal, 01(02), 46–55.

Kemenkes RI. (2019). Profil Kesehatan Indonesia 2018 [Indonesia Health Profile 2018].
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-
indonesia/Data-dan-Informasi_Profil-Kesehatan-Indonesia-2018.pdf

Kurniaty, R., & Sunarsih. (2018). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian
Mioma Uteri Di Rsud Dr. H Abdul Moeloek Bandar Lampung Tahun 2016. Jurnal
Kebidanan, 4(3), 100–105.

Lubis, P. N. (2020). Diagnosis dan Tatalaksana Mioma Uteri. Cermin Dunia Kedokteran,
47(3), 196–200.

Nuraeni, R., & Wianti, A. (2021). Asuhan Keperawatan Gangguan Maternitas. LovRinz
Publishing.
https://www.google.co.id/books/edition/Asuhan_Keperawatan_Gangguan_Maternit
as/jgAeEAAAQBAJ?hl=en&gbpv=1&dq=mioma+uteri+adalah&pg=PA146&prints
ec=frontcover

Nurbadriyah, W. D. (2019). Anemia Defisiensi Besi. Deepublish.


https://www.google.co.id/books/edition/Anemia_Defisiensi_Besi/j824DwAAQBAJ
?hl=en&gbpv=1&dq=Anemia+adalah&printsec=frontcover

Putri, N. N. B. K. A. (2020). Resiko Terjadinya Mioma Uteri Antara Usia Menikah Dan
Paritas. Jurnal Bidan Pintar, 1(1), 41. https://doi.org/10.30737/jubitar.v1i1.715