Anda di halaman 1dari 20

Mata Kuliah : Manajemen Kepemimpinan dan Isu-Isu Dalam

Pelayanan Kebidanan
Dosen Pengampu : Nurjannah S.ST., M.Keb

ISU-ISU PELAYANAN KEBIDANAN (INDIVIDU DAN


KOMUNITAS DENGAN MEMPERTIMBANGKAN NILAI-NILAI
BUDAYA DAN KEBERAGAMAN)

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 1

1. GRACE WIDYA PAONGANAN ( A1 A221093)


2. RESKI AMELIA ( A1 A221 086)
3. NURUL ULFA AHMAD ( A1 A221 084)

UNIVERSITAS MEGA REZKY


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN DAN PROFESI BIDAN
TAHUN AKADEMIK 2021 / 2022
2
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil

menyelesaikan makalah Manajemen Kepemimpinan dan Isu-Isu dalam

Pelayanan Kebidanan yang berjudul “Isu-Isu Pelayanan Kebidanan

(Individu dan Komunitas dengan Memperhatikan nilai-nilai Budaya dan

Keberagaman) ” yang alhamdulillah selesai tepat pada waktunya.

Tidak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah

kami, Ibu Nurjannah S.ST.,M.Keb yang telah membimbing kami, sehingga

kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan benar.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata

sempurna,oleh karena itu, kritik dan saran dari dosen dan teman-teman

yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi lebih baiknya

makalah ini.

Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan

semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita. Aamiin.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Makassar, 18 Agustus 2021

i
Kelompok 1

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.....................................................................................i

Daftar Isi ..............................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................1

A. Latar Belakang................................................................................1

B. Rumusan Masalah..........................................................................2

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan.......................................................2

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................3

A. Definisi Manejemen dan Kepemimpinan Pelayanan Kebidanan...3

B. Pengertian Isu.................................................................................5

C. Isu Pelayanan Kebidanan...............................................................7

D. Isu -Isu pada Kebijakan Kebidanan.............................................10

BAB III PENUTUP.............................................................................14

A. Kesimpulan....................................................................................14

B. Saran.............................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................16

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kepemimpinan dalam kebidanan sangatlah penting, namun untuk
menjadi pemimpin yang sesuai dengan profesi kebidanannya tidaklah
mudah, tentunya ada beberapa hambatan-hambatan yang harus di
atasi dalam rangka memperbaiki kinerja bidan tersebut, dalam hal ini
bidan harus bisa berkomitmen agar dapat mengutamakan wanita-
wanita yang berpusat tentang perawatan.
Bidan telah memfasilitasi suatu budaya kerja yang mendukung dan
proaktif di mana setiap individu didorong untuk secara teratur menilai
dan memperbarui pengetahuan mereka untuk kepentingan praktik
mereka sendiri dan untuk melindungi keselamatan perempuan dan bayi
dalam perawatan mereka.
Selanjutnya, bidan melaksanakan kegiatan kepemimpinan dalam
praktek sehari-hari mereka, meskipun mereka mungkin tidak menyadari
hal itu. Ini termasuk memprioritaskan kebutuhan perawatan, bidan
memiliki kemampuan untuk menjadi agen perubahan dan
mengembangkan kemampuan kepemimpinan mereka. Tergantung
bagaimana bidan itu bisa menerapkan konsep-konsep kepemimpinan
nya. Semua bidan juga dapat meningkatkan keterampilan nya melalui
beberapa pelatihan, keterbatasan individu lah yang menentukan hal ini
bisa efektif atau tidak. Dan untuk mengembangkan ini harus di dorong
oleh kemauan dan kesempatan untuk melakukannya.
Bidan dapat mengatasi hambatan dan memastikan profesi mereka
dilengkapi dengan para pemimpin yang efektif, memerlukan upaya
kolaborasi (Tucker, 2003). Namun, para pemimpin yang ada harus
mengakui bahwa dalam profesi yang didominasi perempuan, karir
pilihan dan peluang pembangunan harus memfasilitasi kualitas bawaan
biologis perempuan, dan bahwa prioritas bidan individu akan berbeda

1
(Pashley, 1998). Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi para
bidan, untuk dapat manjadi pemimpin profesional yaitu melalui
pembangunan mereka sendiri sebagai pemimpin, dan sesama orang-
orang praktisi yang berkontribusi dengan mendukung, mentoring dan
mendorong rekan-rekan mereka. Bidan juga harus dapat berperan
sebagai advokator untuk dapat mempengaruhi masyarakat agar
terjadinya perubahan dalam kebijakan publik secara bertahap maju &
semakin baik terutama dalam bidang kesehatan.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah Manejemen Kepemimpinan dan Isu
– Isu dalam Pelayanan Kebidanan yaitu :
1. Mengetahui definisi manejemen dan kepemimpina dalam pelayanan
kebidanan
2. Mengetahui isu-isu pelayanan kebidanan baik pada individu maupun
komunitas dengan mempertimbangkan nilai-nilai budaya dan
keberagaman
3. Mengetahui isu-isu kebijakan kebidanan
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah untuk mengetahui definisi
manejemen dan kepemimpina dalam pelayanan kebidanan,
Mengetahui isu-isu pelayanan kebidanan baik pada individu maupun
komunitas dengan mempertimbangkan nilai-nilai budaya dan
keberagaman, Mengetahui isu-isu kebijakan kebidanan

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Manejemen dan Kepemimpinan dalam Pelayanan Kebidanan

1. Manejemen dalam Pelayana Kebidanan


Manajemen kebidanan adalah pendekatan yangdigunakan oleh
bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah
secarasistematis mulai dari pengkajian, analisis data didagnosis
kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi Menurut Buku
50 Tahun IBI 2007.
Menurut Depkes RI 2005 Manajemen Kebidanan adalah metode
dan pendekatan pemecahan masalah ibu dan anak yang khusus
dilakukan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan kepada
individu, keluarga dan masyarakat.
Helen Varney (1997)Manajemen kebidanan adalah proses
pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk
mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah,
penemuan-penemuan, keteranpilan dalam rangkaian tahapan yang
logis untuk pengambilan suatu keputusan berfokus pada klien.
Proses pelaksanaan pemberian pelayanan kebidanan untuk
memberikan asuhan kebidanan kepada klien dengan tujuan
menciptakan kesejahteraan bagi ibu dan anak,kepuasan pelanggan
dan kepuasan bidan sebagai provider
Langkah-langkah dalam manajemen pelayanan kebidanan:
Langkah I : Pengumpulan Data
Langkah II : Interpretasi Data Dasar
Langkah III: Mengidentifkasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Langkah IV: Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan
Langkah V: Merencanakan Asuhan
Langkah VI: Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan
Aman

3
Langkah VII: Evaluasi
2. Kepemimpinan dalam Pelayanan Kebidanan
Menurut Gillies (1994), dalam Arwani (2006), mendefinisikan
kepemimpinan berdasarkan kata kerjanya, yaitu to lead, yang
mempunyai arti beragam, seperti untuk memandu (to guide), untuk
menjalankan dalam arah tertentu (to run in a specific direction),
untuk mengarahkan (to direct), berjalandidepan (to go at the head
of), menjadi yang pertama (to be first), membuka permainan (to
open play), dan cenderung kehasil yang pasti (to tend toward a de).
Menurut McGregor, dikutip dari swanburg (2001), menyatakan ada
empat variabel besar yang diketahui sekarang untuk memahami
kepemimpinan:
1) karakteristik pimpinan
2) sikap, kebutuhan dan karakteristik lainnya daribawahan,
3) karakteristik dari organisasi, seperti tujuan, sruktur organisasi,
keadaan asli, keadaan organisasi yang akan dibentuk, dan
4) keadaan sosial, ekonomi, dan politik lingkungan.
McGregor menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan
hubungan yang sangat kompleks yang selalu berubah dengan
waktu seperti perubahan yang terjadi pada manajemen, serikat
kerja, atau kekuatan dari luar.
a. Pola dasar kepemimpinan Ada 2, yaitu :
1. Kepemimpinan formal, adalah kepemimpinan yang bersifat
resmi dalam organisasi, diatur sesuai pangkat, jabatan,
herarki, dan struktur dalam organisasi.
2. Kepemimpinan informal, adalah kepemimpinan yang tidak
berdasarkan atas herarki, akan tetapi lebih di dasarkan
pada pengakuan nyata dari orang – orang di sekitarnya
karena kemampuan mengangkat, kemampuan ilmu,
kemampuan membina hubungan kerja, dan lain – lain.

4
3. Komponen peristiwa kepemimpinan ( Kison, 1989 ), terdiri
atas :
a) Pemimpin : nilai, keterampilan, gaya atau tipe
kemimpinan, serta presepsi terhadap diri dan perannya.
b) Pengikut : kesiapan untuk dipengaruhi, kepercayaan
pada pemimpin, serta pengalaman kerja sama.
c) Situasi : harapan, sistem control, struktur tugas, waktu,
dan budaya kerja.
d) Proses komunikasi : tingkat keterbukaan
e) Tujuan – tujuan : tujuan organisasi dan tujuan pribadi
f) Melihat komponen peristiwa kepemimpinan ini, maka
perlu suatu keterampilan dalam mendiagnosis,
mengadaptasikan, dan mengorganisasikannya.( Hersey
dan Blancard, 1993)

B. Pengertian Isu

Isu etik adalah suatu topik yang menjadi objek untuk didiskusikan dan
bersifat kontroversial. Isu adalah suatu topik yang penting yang berisi
pendapat kebanyakan orang. Etik merupakan bagian dari filosofi yang
berhubungan erat dengan nilai manusia dalam menghargai suatu
tindakan, apakah benar atau salah dan apakah penyelesaiannya baik atau
salah. Isu Etik adalah suatu topik penting yang berhubungan dengan apa
yang benar dan apa yang salah dalam kehidupan sehari-hari.

Penyimpangan mempunyai konotasi yang negatif yang berhubungan


dengan hukum. Seseorang bidan dikatakan professional bila ia
mempunyai kekhususan. Sesuai dengan peran dan fungsinya seorang
bidan bertanggung jawab dalam memberikan asuhan kebidanan. Dalam
hal ini bidan mempunyai hak untuk mengambil keputusan sendiri yang
harus mempunyai pengetahuan yang memadai dan harus selalu
memperbaharui ilmunya dan mengerti tentang etika yang berhubungan

5
dengan ibu dan bayi. Derasnya arus globalisasi yang semakin
mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat dunia, juga mempengaruhi
munculnya masalah / penyimpangan etik sebagai akibat kemajuan
teknologi / ilmu pengetahuan yang Menimbulkan konflik terhadap nilai.
Arus kesejahteraan ini tidak dapat dibendung, pasti akan mempengaruhi
pelayanan kebidanan. Dengan demikian penyimpangan mungkin saja
akan terjadi juga dalam praktik kebidanan misalnya dalam praktik mandiri,
tidak seperti bidan yang bekerja di RS, Rumah Bersalin atau institusi
Kesehatan lainnya, mempertanggungjawabkan sendiri apa yang
dilakukan. Dalam hal ini bidan yang praktik mandiri menjadi pekerja yang
bebas mengontrol dirinya sendiri. Situasi ini akan besar sekali
pengaruhnya terhadap kemungkinan terjadinya penyimpangan etik.

Masalah etik yang berhubungan dengan teknologi :

1. Perawatan intensif pada bayi.

2. Skreening terhadap bayi.

3. Transplantasi bayi.

4. Teknik reproduksi dan kebidanan.

5. Dan lain-lain.

Etik berhubungan erat dengan profesi yaitu :

1. Pengambilan keputusan dan penggunaan etik.

2. Otonomi bidan dan kode etik profesional.

3. Etik dalam penelitian kebidanan.

4. Penelitian tentang masalah kebidanan sensitif.

6
C. Isu Pelayanan Kebidanan

1. Isu yang terjadi antara bidan dengan klien, keluarga dan masyarakat
mempunyai hubungan erat dengan nilai manusia dalam menghargai
suatu tindakan. Dalam kode etik profesi bidan, bidan mempunyai
kewajiban terhadap klien dan masyarakat sebagai berikut :

a. Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati, dan


mengamalkan sumpah jabatannya dalam melaksanakan tugas
pengabdiannya.

b. Setiap bidan dalam menjalankan tugas profesinya menjunjung tinggi


harkat dan martabat kemanusiaan yang utuh dan memelihara citra
bidan..

c. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa berpedoman


pada peran, tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan
klien, keluarga dan masyarakat.

d. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya mendahulukan


kepentingan klien, menghormati hak klien dan nilai-nilai yang dianut
oleh klien.

e. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa


mendahulukan kepentingan klien, keluarga dan masyarakat dengan
identitas yang sama sesuai dengan kebutuhan berdasarkan
kemampuan yang dimilikinya.

Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam


hubungan pelaksanaan tugasnya dengan mendorong partisipasi
masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatannya secara optimal.

Contoh Kasus : Di sebuah desa wilayah bidan X, bidan membuka


praktik swasta mandiri. Suatu hari datang bersamaan 2 pasien ke

7
bidan. Pasien satu datang dengan membawa mobil pribadi dengan
tujuan untuk menyuntik KB. Pasien kedua datang dengan diantarkan
oleh tukang becak dengan pengeluaran darah yang banyak dari jalan
lahir.

2. Isu Etik yang terjadi antara bidan dengan Teman Sejawat

Dalam kode etik profesi bidan terdapat kewajiban bidan terhadap


sejawat dan tenaga kesehatan lainnya Sebagaj berikut :

a. Setiap bidan harus menjalin hubungan dengan teman sejawatnya


untuk menciptakan suasana kerja yang serasi.

b. Setiap bidan dalam melaksanakan tugasnya harus saling


menghormati baik terhadap sejawatnya maupun tenaga kesehatan
lainnya.

Contoh kasus : Di suatu wilayah desa terdapat dua orang bidan yaitu
bidan “A” dan bidan “B” yang sama-sama memiliki BPS dan ada
persaingan diantara dua bidan tersebut. Pada suatu hari datang
seorang pasien yang akan melahirkan di BPS bidan “B” yang lokasinya
tidak jauh dengan BPS bidan “A”. Setelah dilakukan pemeriksaan
ternyata pembukaan masih belum lengkap dan bidan “B” menemukan
letak sungsang dan bidan tersebut memutuskan menolong Persalinan
tersebut. Sedangkan bidan “A” mengetahui hal tersebut. Jika bidan “B”
tetap akan menolong persalinan tersebut, bidan “A” akan melaporkan
bidan “B” untuk menjatuhkan bidan “B” karena dianggap melanggar
wewenang profesi bidan.

Isu moral : Seorang bidan melakukan pertolongan persalinan normal.

Konflik moral : Menolong persalinan sungsang untuk mendapatkan


pasien demi persaingan atau dilaporkan oleh bidan“A”.

8
Dilema moral : Bidan “B” tidak melakukan pertolongan persalinan
sungsang tersebut namun bidan kehilangan satu pasien. Bidan “B”
menolong persalinan tersebut tapi akan dijatuhkan oleh bidan “A”
dengan dilaporkan ke lembaga yang berwenang.

3. Isu Etik yang terjadi antara bidan dengan Tim kesehatan lainnya

Pengertiannya yaitu perbedaan sikap etika yang terjadi pada bidan


dengan tenaga medis lainnya sehingga menimbulkan kesalahpahaman.
Kode etik profesi bidan menyebutkan bahwa Kewajiban bidan terhadap
sejawat dan tenaga kesehatan lainnya adalah :

a. Setiap bidan harus menjalin hubungan dengan teman sejawatnya


untuk menciptakan suasana kerja yang serasi.

b. Setiap bidan dalam melaksanakan tugasnya harus saling


menghormati baik terhadap sejawatnya maupun tenaga kesehatan
lainnya.

Contoh Kasus : Pada suatu wilayah desa terdapat terdapat bidan dan
dokter umum yang sama-sama membuka praktik mandiri. Dokter
merupakan dokter baru di wilayah tersebut. Banyak diantara warga
masyarakat tersebut yang menyuntikkan KB dan memeriksakan
kehamilan ke tempat praktik dokter umum. Bidan merasa tersaingi
karena pasiennya tidak sebanyak pasien dokter tersebut. Akhirnya
bidan melaporkan perihal tersebut kepada kepala puskesmas dan
menyatakan keberatan dengan hadirnya dokter tersebut di wilayahnya.

4. Isu Etik yang terjadi antara bidan dengan Organisasi

Profesi Isu etik yang terjadi antara bidan dan organisasi profesi adalah
suatu topik masalah yang menjadi bahan pembicaraan antara bidan
dengan organisasi profesi karena terjadinya suatu hal-hal yang
menyimpang dari aturan-aturan yang telah ditetapkan. Kode etik profesi

9
bidan menyampaikan pesan bahwa kewajiban bidan terhadap
profesinya meliputi :

a. Setiap bidan wajib menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra
profesi dengan menampilkan kepribadian yang bermartabat dan
memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat.

b. Setiap bidan wajib senantiasa mengembangkan diri dan


meningkatkan kemampuan profesinya sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi.

c. Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan


kegiatan sejenisnya yang dapat mening: katkan mutu dan citra
profesinya.

Contoh Kasus : Datang seorang wanita GIP2A0 hamil 9 bulan dengan


keluhan sudah kontraksi dan mengeluarkan lendir darah dari jalan lahir
ke BPS bidan “X”. Hasil pemeriksaan bidan tensi ibu 150/90 mmHG.
Pembukaan 3 cm. Protein urin positif #. Bidan mengharuskan ibu dibawa
ke Rumah Sakit saat itu juga tidak boleh ditunda karena ibu terdiagnosa
inpartu dengan preeklamsia ringan. Suami merasa keberatan dengan itu
dan meminta bidan untuk mau menolong persalinan istrinya jika bidan
tidak mau menolongnya suami memutuskan untuk pulang dengan
meminta pertolongan paraji untuk persalinan istrinya.

D. Isu-Isu pada Kebijakan Kebidanan

Bagian ini merangkum temuan-temuan dari asesmen situasional


cepat mengenai status kebidanan di Indonesia (Tabel 5). Sebuah
perangkat WHO68 menjadi dasar penilaian. Untuk tolok ukur ada skala
0-3. Berdasarkan umpan balik yang diberikan dalam satu lokakarya,
Indonesia mendapat nilai keseluruhan 17 dari total nilai 36 yang
mungkin diraih.

10
Tolok Ukur Status terkini Kesenjangan /Isu yg muncul
1 Peraturan Aturan/peraturan tentang Model peraturan yang
perundangan terkait kewenangan dalam praktik berevolusi di bawah struktur
izin praktik bidan telah ada. Sebuah MTKI tidak mendukung praktik
sebagaimana sistem registrasi dan perizinan bidan otonom. Walaupun
ditentukan oleh bagi bidan berfungsi di bawah demikian, peraturan masih
standar peraturan Majelis berkembang dan UU
dunia termasuk Tenaga Kesehatan Indonesia untuk mendukung Konsil
cakupan praktik (MTKI) yang dibentuk oleh Tenaga Kesehatan
yang ada dan dinilai Kementerian Pendidikan dan berdasarkan RUU Tenaga
beroperasi dengan Kebudayaan dan Kementerian Kesehatan telah diserahkan
baik Kesehatan RI. kepada DPR RI
Proses registrasi dan
perizinan relatif masih baru

2 Prosedur perizinan Ada prosedur perizinan ulang Bidan di Indonesia dapat


ulang ada dan 5 tahunan yang memastikan menjalani dua jenis jenjang
dihubungkan adanya kompetensi yang pendidikan (Diploma III atau
dengan berkelanjutan; dan ada Diploma IV). Tidak jelas
peningkatan rencana untuk memastikan bagaimana diploma ini akan
kompetensi dalam bahwa prosedur perizinan disejajarkan dengan Kerangka
praktik. Prosedur ulang terkait dengan praktik Kualifikasi Indonesia dan
ini yang kompeten. Proses ini kursus kebidanan lainnya
berjalan dan dinilai mencakupi pelaporan diri, bukti (prapelayanan
efektif buku log praktik dan poin – pre-service, saat pelayanan
kredit untuk pendidikan – in-service, dan pendidikan
berkelanjutan berkelanjutan – CPD) di
Indonesia.

3 Standar kurikulum Sebuah kurikulum kebidanan Standar cukup bervariasi antara


pusat yang berbasis kompetensi sudah satu lembaga pelatihan dan
berdasarkan tersedia. Ikatan Bidan lainnya. Akreditasi sudah ada,
pada ketepatan Indonesia telah memberikan namun sejauh mana ini akan
untuk masukan bagi penyusunan ditegakkan akan menjadi
mencapai tujuan standar ini, namun tidak ada ukuran keberhasilan mekanisme
(fitness- for- bukti untuk menunjukkan ini. Program D3 belum
bahwa standar ini akan dapat ditingkatkan menjadi S1. Ada
purpose) 71 telah memenuhi kebutuhan masukan bahwa pemerintah
disusun, Indonesia atau menjadi Indonesia menginginkan
diperbaharui dan kurikulum yang tepat untuk kebidanan menjadi kursus
diimplementasikan. tujuannya kejuruan – jika kebidanan ingin
Proses untuk (fit for purpose). Proses diakui sebagai profesi,
melakukan tinjauan standarisasi kurikulum ini harus didukung kualifikasi di
teratur sudah sekarang sedang di tahap tingkat S1 atau lebih.
awal pengembangannya.
dilakukan. Proses revisi telah berjalan dan
akan ada kesempatan untuk

11
4 Standar berbasis Standar kompetensi kebidanan Perlu penguatan melalui
bukti telah ada dan telah ada namun prosedur audit penelitian, praktik terbaik dan
secara teratur telah masih perlu diperbaiki penetapan cakupan praktik.
diaudit; tindakan
diambil berdasarkan
temuan audit.

5 Area-area klinis Penelitian menunjukkan bahwa Sebelum registrasi, sebuah Uji


menyediakan kualitas layanan kesehatan Klinis Terstruktur dan Obyektif
layanan kebidanan dalam area klinis bervariasi. Uji
(Objective Structured Clinical
kompetensi menunjukkan hasil Examination or OSCE)
berkualitas dan buruk. Hal ini menunjukkan dilaksanakan diikuti uji
semua pengalaman bahwa pelatihan dan dukungan pengetahuan online dalam 7
diperlukan oleh pengawasan perlu diperkuat. bidang kompetensi. Bentuk ujian
siswa kebidanan, kompetensi ini baru saja
termasuk dukungan dilaksanakan dan hasilnya
pengawasan untuk mengecewakan dengan hanya
siswa. separuh dari pelamar yang
berhasil lulus.
6 Aturan telah dibuat Aturan kepegawaian sudah ada Adanya kebutuhan untuk melatih
dan dipatuhi di tapi jumlah staf sekarang di atau menarik bidan untuk
semua bawah yang dibutuhkan untuk mengisi kesenjangan, misalnya
merespon kebutuhan layanan di bidang manajemen,
kabupaten/kota, di semua daerah di seluruh pengajaran dan pengawasan.
dengan hanya Indonesia.
sedlkit daerah yang
mengalami
kekurangan staf
7 Peta realistis Jumlah bidan di pos klinis (baik Ada jumlah bidan yang memadai
realistis untuk milik pemerintah dan swasta) di Indonesia. Namun, ada
menyelesaikan diketahui, namun banyak pos kebutuhan untuk redistribusi
kosong dan belum ada bidan agar kesenjangan yang
masalah kurangnya rencana. sekarang ada dalam cakupan
tenaga bidan ini dari layanan dapat diisi.
semua bidan yang
diketahui bekerja
baik di tingkat
nasional maupun
kabupaten/kota.

12
8 Deskripsi pekerjaan Deskripsi pekerjaan bidan di Ada kebingungan mengenai
yang spesifik untuk semua tingkatan pelayanan perbedaan antara sebuah
praktik kebidanan tidak jelas dan tidak memuat deskripsi pekerjaan dan
pernyataan mengenai standar dokumentasi yang sering tidak
telah ada; deskripsi minimum praktik kebidanan diperbaharui. Ke depannya hal
ini didasarkan pada yang disyaratkan oleh ini harus ditangani.
standar pelayanan pemegang pos.
berbasis bukti, dan
telah ada di semua
daerah, termasuk di
masyarakat

9 Ratio yang wajar Perlu dikembangkan kapasitas


antara murid Peraturan antara siswa dan bidan sebagai pengajar dan
pengajar telah pengajar telah dibuat namun pendidik bidan untuk membantu
ditentukan dan di tidak dilaksanakan di sebagian memperkecil kesenjangan yang
besar tempat ada.
sebagian besar
tempat ratio ini
dipatuhi

10 Semua pengajar di Tidak ada program persiapan Sangat sedikit pengajar


sekolah kebidanan untuk pengajar kebidanan yang kebidanan yang telah
telah berhasil memastikan pengajar mendapatkan pelatihan dan
kompeten di semua aspek telah dinilai kompeten dan
menyelesaikan praktik dan pendidikan semua aspek kebidanan, dan
persiapan spesialis kebidanan. memiliki kompetensi untuk
sebagai pengajar mengajar
kebidanan.

13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bidan dituntut harus mampu menerapkan aspek kepemimpinan
dalam organisasi & manajemen pelayanan kebidanan (KIA/KB),
kesehatan reproduksi dan kesehatan masyarakat di komunitas
dalam praktik kebidanan (Permenkes 149 pasal 8). Bidan sebagai
seorang pemimpin harus ;
1. Berperan serta dalam perencanaan pengembangan dan evaluasi
kebijakan kesehatan.
2. Melaksanakan tanggung jawab kepemimpinan dalam praktik
kebidanan di masyarakat.
3. Mengumpulkan, menganalisis dan menggunakan data serta
mengimplementasikan upaya perbaikan atau perubahan untuk
meningkatkan mutu pelayanan kebidanan di masyarakat.
4. Mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah secara proaktif,
dengan perspektif luas dan kritis.
5. Menginisiasi dan berpartisipasi dalam proses perubahan dan
pembaharuan praktik kebidanan.
Pelayanan kebidanan merupakan salah satu kegiatan dalam
pembangunan kesehatan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan, kemampuan, hidup sehat dan mengambil bagian dalam
pelayanan kesehatan masyarakat, turut membantu menghasilkan
generasi bangsa yang cerdas. Pelayanan yang demikian karena
pelayanan kebidanan ditujukan kepada perempuan sejak masa
sebelum konsepsi, masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru
lahir dan balita. Tentu saja pelayanan kebidanan yang berkualitas
akan member hasil yang berkualitas, yaitu kepuasan pelanggan
maupun provider dan pelayanan yang bermutu. Untuk pelayanan
yang berkualitas tersebut diperlukan seorang pemimpin yang dapat
meningkatkan terus mutu pelayanan kebidanan yang diberikan oleh

14
organisasinya dan pelayanan yang diberikan harus berorientasi
pada mutu.
Dalam pelayana kebidanan banyak harapan yang difokuskan oleh
orang yang berbeda dan bekerja sama dalam pelayanan kebidanan
dan kepada bidan itu sendiri. Para pelanggan internal dan eksternal
menginginkan bidan dapat memberi pelayanan yang berkualitas.
Selain keterampilan dan pengetahuan diperlukan kematangan
pribadi bidan dalam member pelayanan karena bidan juga menjadi
tokoh masyarakat dan panutan bagi kaum wanita. Untuk itu bidan
perlu memperhatikan poin – poin berikut ini untuk mengembangkan
kematangan dirinya yaitu :Teliti ; Bertanggu jawab; Jujur ;Disiplin
tinggi ;Hubungan manusia yang efektif ; Bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa ;Memahami standar profesi kebidanan; Mengerti
asas dan tujuan penyelenggaraan praktek kebidanan; Bekerja
berdasarkan ketentuan dan landasan hukum pelayanan kebidanan
B. Kritik dan Saran
Penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan,
sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun demi penyempurnaan makalah ini.

15
DAFTAR PUSTAKA

Adapted from Module 1 of the Strengthening Midwifery Toolkit ( Module 1 :


Strengthening Midwifery A Background Paper) WHO;2011

Tools is in Module 1 of the Strengthening Midwifery Toolkit ( Module 1 :


Strengthening Midwifery A Background Paper) WHO;2011

Susanti Santi,S.ST,M.Kes . 2015. Etikolegal Dalam Praktik Kebidanan.


Jakarta Timur ; CV Trans Info Media

16

Anda mungkin juga menyukai