Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

Disusun oleh:

……………………………………
NIP. ……………………………...
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Tim penulis panjatkan kepada Tuhan Yang maha Esa
atas Rahmat-Nya yang telah dilimpahkan sehingga kami dapat menyelesaikan
Makalah yang berjudul “Demam Berdarah Dengue” yang merupakan salah satu
syarat kenaikan pangkat golongan jabatan fungsional pegawai.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan masih terdapat
beberapa kekurangan, hal ini tidak lepas dari terbatasnya pengetahuan dan
wawasan yang penulis miliki. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan
adanya kritik dan saran yang konstruktif untuk perbaikan di masa yang akan
datang, karena manusia yang mau maju adalah orang yang mau menerima
kritikan dan belajar dari suatu kesalahan.
Akhir kata dengan penuh harapan penulis berharap semoga Makalah
yang berjudul “Demam Berdarah Dengue” mendapat ridho dari Allah SWT, dan
dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya. Amiin....

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................1
A. Latar Belakang........................................................................................1
B. Rumusan Masalah...................................................................................2
C. Tujuan Penulisan.....................................................................................2
BAB II TINJAUAN TEORI.............................................................................4
A. Definisi Demam Berdarah.......................................................................4
B. Epidemiologi Demam Berdarah..............................................................5
C. Klasifikasi Demam Berdarah..................................................................6
D. Manifestasi Klinis Demam Berdarah......................................................7
E. Etiologi Demam Berdarah.......................................................................9
F. Cara Penularan Demam Berdarah ..........................................................11
G. Tahap Penyakit Demam Berdarah..........................................................12
H. Patofisiologi Demam Berdarah...............................................................14
I. Pencegahan Demam Berdarah ...............................................................15
J. Diagnosis Demam Berdarah...................................................................18
K. Pengobatan Demam Berdarah.................................................................19
BAB III PENUTUP...........................................................................................21
A. Kesimpulan.............................................................................................21
B. Saran........................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dengue yang disebabkan virus disebarkan oleh nyamuk Aedes
(Stegomyia). Selama dua dekade terakhir, frekuensi kasus dan epidemi
penyakit demam dengue (Dengue Fever, DF), demam berdarah (Dengue
Hemorragic Fever, DHF), dan sindrom syok dengue (Dengue Syok Syndrom,
DSS) menunjukkan peningkatan yang dramatis di seluruh dunia. The World
Health Report 1996, menyatakan bahwa ”Kemunculan kembali penyakit
infeksisus merupakan suatu peringatan bahwa kemajuan yang telah diraih
sampai sejauh ini terhadap keamanan dunia dalam hal kesehatan dan
kemakmuran sia-sia belaka”. Laporan tersebut lebih jauh menyebutkan bahwa
”Penyakit infeksius tersebut berkisar dari penyakit yang terjadi di daerah tropis
(seperti malaria dan DHF yang sering terjadi di negara berkembang) hingga
penyakit yang ditemukan di seluruh dunia (seperti hepatitis dan penyakit
menular seksual (PMS), termasuk HIV/AIDS) dan penyakit yang disebarkan
melalui makanan yang mempengaruhi sejumlah besar penduduk dunia baik di
negara miskin maupun kaya.
Pada Mei 1993, pertemuan kesehatan dunia yang ke-46 mengajukan suatu
resolusi tentang pengendalian dan pencegahan dengue yang menekankan
bahwa pengokohan pencegahan dan pengendalian DF, DHF, DSS baik di
tingkat lokal maupun nasional harus menjadi salah satu prioritas dari Negara
Anggota WHO tempat endemiknya penyakit. Resolusi tersebut juga meminta:
(1) strategi yang dikembangkan untuk mengatasi penyebaran dan peningkatan
insiden dengue harus dapat dilakukan oleh negara terkait, (2) peningkatan
penyuluhan kesehatan masyarakat, (3) mengencarkan promosi kesehatan, (4)
memperkuat riset, (5) memperluas surveilens dengue, (6) pemberian panduan
dalam hal pengendalian vektor, dan (7) mobilisasi sumber daya eksternal untuk
pencegahan penyakit harus menjadi prioritas.
Untuk menanggapi resolusi WHA dalam pencegahan dan pengendalian
dengue, strategi global untuk operasionalitas kegiatan pengendalian vektor
dikembangkan berdasarkan komponen utama seperti, tindakan pengendalian

1
nyamuk yang selektif terpadu dengan partisipasi masyarakat dan kerja sama
antarsektor, persiapan kedaruratan, dll. Salah satu penopang utama dalam
strategi global adalah peningkatan surveilans yang aktif dan didasarkan pada
pemeriksaaan laboratorium yang akurat terhadap DF/DHF dan vektornya. Agar
berjalan lancar, setiap negara endemik harus memasukkan penyakit DHF
menjadi salah satu jenis penyakit yang harus dilaporkan.
Penyakit ini banyak ditemukan didaerah tropis seperti Asia Tenggara,
India, Brazil, Amerika termasuk di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di
tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut.
Dokter dan tenaga kesehatan lainnya seperti bidan dan pak mantri. Seringkali
salah dalam penegakkan diagnosa, karena kecenderungan gejala awal yang
menyerupai penyakit lain seperti flu dan tipes (typhoid).

B. Rumusan Masalah
Adapun Rumusan Masalah dari Makalah ini, yaitu:
1. Apa pengertian penyakit Demam berdarah?
2. Bagaimana epidemiologi Demam berdarah?
3. Bagaimana klasifikasi Demam berdarah?
4. Apa saja tanda dan gejala pada pasien Demam berdarah?
5. Apa penyebab terjadinya penyakit Demam berdarah?
6. Bagaimana cara penularan penyakit Demam berdarah?
7. Bagaimana tahap penyakit Demam berdarah?
8. Bagaimana patofisiologi Demam berdarah?
9. Bagaimana pencegahan Demam berdarah?
10. Bagaimana diagnosis Demam berdarah?
11. Bagaimana pengobatan Demam berdarah?

C. Tujuan Penulisan
Adapun Tujuan Penulisan dari Makalah ini, yaitu:
1. Untuk mengetahui pengertian penyakit demam berdarah.
2. Untuk mengetahui Epidemiologi demam berdarah
3. Untuk mengetahui klasifikasi demam berdarah.

2
4. Untuk mengetahui tanda dan gejala pada pasien demam berdarah.
5. Untuk mengetahui penyebab terjadinya penyakit demam berdarah.
6. Untuk mengetahui cara penularan penyakit demam berdarah.
7. Untuk mengetahui tahap penyakit demam berdarah.
8. Untuk mengetahui patofisiologi demam berdarah
9. Untuk mengetahui pencegahan demam berdarah
10. Untuk mengetahui diagnosis demam berdarah
11. Untuk mengetahui pengobatan demam berdarah

3
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi Demam Berdarah Dengue (DBD)


Demam berdarah (DB) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah
penyakit febril akut yang ditemukan di daerah tropis dengan penyebaran
geografis yang mirip dengan malaria. Penyakit ini disebabkan oleh salah satu
dari empat serotype virus dari genus flavivirus, famili flaviviridae. Setiap
serotype cukup berbeda sehingga tidak ada proteksi silang dan wabah yang
disebabkan beberapa serotype (hiperendemisitas) dapat terjadi. Demam
berdarah ini disebarkan pada manusia oleh nyamuk aedes aegepty. Nyamuk ini
mempunyai cirri garis belang hitam-putih pada tubuhnya dan menggigit pada
siang hari. Ia mempunyai badan kecil, senang hinggap pada pakaian yang
bergantungan dalam kamar dan bersarang dan bertelur di genangan air jernih di
dalam dan di sekitar rumah dan bukan got atau comberan, di dalam rumah
seperti bak mandi, tempayan, vas bunga, tempat minum burung, perangkap
semur, dan lain-lain.
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan
oleh virus dengue, sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam
tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes aegypty (betina). (Effendy
Christantie, 1995).
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada
anak dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang biasanya
memburuk setelah dua hari pertama. Uji tourniquet akan positif disertai ruam,
tanpa ruam dan beberapa atau semua gejala perdarahan. (Hendarwanto, IPD,
1999).
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti (betina). Penyakit ini dapat menyerang semua orang dan dapat
mengakibatkan kematian terutama pada anak, serta sering menimbulkan
kejadian luar biaa atau wabah. (Suroso Thomas, FKUI, 2002).
DHF atau dikenal dengan istilah demam berdarah adalah penyakit yang

4
disebabkan oleh Arbovirus (arthro podborn virus) dan ditularkan melalui
gigitan nyamuk Aedes (Aedes Albopictus dan Aedes Aegypti). Demam
Berdarah Dengue sering disebut pula Dengue Haemoragic Fever (DHF).
DHF/DBD adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang
tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan
nyamuk Aedes aegypti yang betina. (Suriadi: 2001).
DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh Aedes Aegypti dan
beberapa nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan
cepat menyebar secara efidemik. (Sir, Patrick manson, 2001).
Dengue Haemorhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit akut yang
disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegepty (Seoparman,
1996).

B. Epidemiologi
Wabah ini pertama kali terjadi pada tahun 1780 an secara bersamaan di
Asia, Afrika, dan Amerika pada tahun 1779. Wabah global dimulai di Asia
Tenggara pada 1950 an dan hingga 1975 menjadi penyebab kematian utama di
antaranya yang terjadi pada anak-anak di daerah tersebut.
Dalam sebuah artikel di abclab.co.id, dijelaskan bahwa di Indonesia, kasus
DBD pertama kali di duga terjadi di Surabaya pada tahun 1968. Konfirmasi
virologist baru bisa dilakukan pada tahun 1970. Di Jakarta, kasus pertama
dilaporkan pada tahun 1969. Pada tahun 1994, DBD telah menyebar ke seluruh
provinsi di daerah pedesaan di Indonesia. Pada awal terjadinya wabah di suatu
Negara, distribusi umur diperkirakan 50-100 juta kasus DBD per tahun dan
90% menyerang anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Pada wabah-wabah
selanjutnya, jumlah penderita yang digolongkan dalam golongan usia dewasa
dan muda juga meningkat. Saat ini, DBD dapat menyerang semua golongan
usia. Rata-rata, angka kematian pada kasus DBD mencapai 5%.
Di Indonesia, korban DBD telah mencapai angka yang sangat menakutkan.
Dr.Erik Tapan MHA (2004) mengatakan bahwa meskipun angka kematian
akibat DBD terus menurun, berdasarkan data yang diperoleh di internet,
dilaporkan bahwa pada tahun 2001 terjadi peningkatan penderita DBD di

5
daerah, seperti Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara
Timur. Dari 55 kasus di Kaltim, 3 orang meninggal hingga bulan Mei 2001.
Jakarta tidak luput dari serangan DBD. Hingga pada bulan Maret 2001,
penderitanya mencapai 1.093 orang. Dari 285 keluruhan di DKI Jakarta, 55
kelurahan diantaranya merupakan daerah rawan DBD. Diperkirakan, jumlah
penderita demam berdarah, khususnya di Jakarta pada tahun 2001 tidak kurang
dari 4.000 orang. Jakarta pernah mengalami wabah DBD pada tahun 1998
hingga 15.000 warga terkena DBD.
Di sampit pada bulan Februari 2003, korban DBD mencapai 48 pasien.
Pada awal Maret hingga tanggal 9, korbannya mencapai 15 yang harus
menjalani rawat inap. Sedangkan di Tanah Laut, sudah ada satu orang korban
dan 11 orang dirawat.

C. Klasifikasi Demam Berdarah


1. Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7
hari, uji tourniquet positif, trombositipenia, dan hemokonsentrasi.
2. Derajat II
Sama dengan derajat 1, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan
spontan seperti petekie, ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi.
3. Derajat III
Demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai hepatomegali
dan ditemukan gejala-gejala kegagalan sirkulasi meliputi nadi yang cepat
(>120x/mnt ) tekanan nadi menurun (  20 mmhg ), tekanan darah
menurun, (120/80  120/100  120/110  90/70  80/70  80/0 
0/0 ), disertai ekstremitas dingin, dan anak gelisah.
4. Derajat IV
Demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai hepatomegali
dan ditemukan gejala renjatan hebat (nadi tak teraba dan tekanan darah
tidak terukur), anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak
biru.

6
D. Tanda dan Gejala DHF
Infeksi virus dapat terjadi dengan gejala (simptomatis) dan juga tanpa
gejala (asimptomatis). Pada infeksi virus simptomatis dapat bermanifestasi
klinis ringan, yaitu demam tanpa penyebab yang jelas, demam dengue (DD),
demam berdarah dengue (DBD), termasuk sindrom syok dengue (SSD). Infeksi
dari satu serotipe dapat memberikan kekebalan seumur hidup terhadap serotipe
yang bersangkutan, namun tetap tidak terbukti adanya proteksi silang terhadap
serotipe lainnya. Hal ini dapat menjelaskan adanya peningkatan wabah dengan
siklus 5 tahunan. Menurut Niza Febri (2009) tanda DBD ialah sebagai berikut :
1. Mendadak panas tinggi selama 2-7 hari
2. Tampak bintik-bintik merah pada kulit
3. Kadang-kadang terjadi pendarahan di hidung
4. Mungkin terjadi muntah atau berak darah
5. Sering terasa nyeri di ulu hati
6. Bila sudah parah, penderita gelisah. Tangan dan kakinya dingin dan
berkeringat.
Dari pertama munculnya beberapa gejala dan tanda, keadaan penderita
dapat menjadi parah dan menyebabkan kematian. Oleh sebab itu, pertolongan
dan pengobatan harus segera diberikan untuk menghindarinya. Demam
berdarah lamanya sekitar 6-7 hari. Hal ini kemudian berpuncak pada demam
lebih kecil yang terjadi pada akhir masa demam. Secara klinis, jumlah platelet
akan jatuh hingga pasien dianggap afebril. Sesudah inkubasi selama 3-15 hari,
orang yang tertular dapat mengalami dengan salah satu dari 4 bentuk, yaitu :
1. Bentuk abortif ; penderita tidak merasakan suatu gejala apapun.
2. Dengue klasik ; penderita mengalami demam tinggi selama 4-7 hari,
nyeri pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-
bercak pendarahan di bawah kulit.
3. Dengue haemorrhagic fever ; gejalanya sama dengan dengue klasik
ditambah dengan perdarahan dari hidung, mulut, dubur, dan sebagainya.
4. Dengue syok sindrom ; gejalanya sama dengan DBD ditambah dengan
syok atau presyok. Bentuk ini sering berujung pada kematian.

7
Karena seringnya terjadi pendarahan dan syok, maka pada penyakit ini
angka kematiannya cukup tinggi. Oleh karena itu, setiap penderita harus segera
dibawa ke dokter atau rumah sakit.
MenurutAziz Alimul (2006:123) manifestasi Klinik DHF sangat bervariasi
yaitu:
1. Demam, penyakit ini didahului oleh demam yang tinggi atau panas
mendadak berlangsung 3-8 hari kemudian turun secara cepat.
2. Ruam biasannya 5-12 jam sebelum naiknya suhu pertama kali, dan
berlangsung selama 3-4 hari.
3. Pembesaran hati yang terjadi pada permulaan demam (sudah dapat
diraba sejak permulaan sakit).
4. Syok yang ditandai nadi lemah, cepat, disertai tekanan nadi yang
menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang), tekanan darah menurun
(tekanan sistolik menurun sampai 80mmHg atau kurang) disertai
kulit yang terasa dingin danlembab, terutama pada ujung hidung, jari
dan kaki.
Gejala Umum :
1. Demam tinggi selama 2-7 hari, lemah dan lesu. Demam tersebut dapat
mencapai 40oC. Demam sering disertai gejala tidak spesifik, seperti tidak
nafsu makan (anoreksia), lemah badan (malaise), nyeri sendi dan tulang,
serta rasa sakit didaerah belakang bola mata (retro orbita) dan wajah yang
kemerah-merahan (flushing).
2. Nyeri ulu hati karena perdarahan lambung
3. Bintik-bintik merah pada kulit karenan pecahnya pembuluh kapiler
Tanda Lanjutan :
1. Muntah bercampur darah
2. Buang Air Besar berdarah merah kehitaman (melena)
3. Mimisan (Epitaksis), perdarahan gusi, perdarahan pada kulit seperti tes
Rumpleede (+), ptekiae dan ekimosis.
4. Bila sudah parah, penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin
berkeringat bila tidak segera ditolong dapat meninggal dunia.

8
E. Penyebab Demam Berdarah
Penyakit Demam Berdarah atau DBD disebabkan oleh Virus Dengue dari
Famili Flaviviridae dan genus Flavivirus. Virus ini mempunyai empat serotipe
yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Keempat serotipe
ini menimbulkan gejala yang berbeda-beda jika menyerang manusia. Serotipe
yang menyebabkan infeksi paling berat di Indonesia, yaitu DEN-3. Demam
Berdarah Dengue tidak menular melalui kontak manusia dengan manusia.Virus
dengue sebagai penyebab demam berdarah hanya dapat ditularkan melalui
nyamuk.Oleh karena itu, penyakit ini termasuk dalam kelompok arthropod
bome diseases.

Virus dengue berukuran 35-45 mm. Virus ini dapat terus tumbuh dan
berkembang dalam tubuh manusia dan nyamuk. Nyamuk betina menyimpan
virus tersebut pada telurnya.Nyamuk jantan akan menyimpan virus pada
nyamuk betina saat melakukan kontak seksual. Selanjutnya, nyamuk betina
tersebut akan menularkan virus ke manusia melalui gigitan.
Selain itu, nyamuk dapat mengambil virus dengue dari manusia yang
mempunyai virus (viremia) tersebut.Virus masuk ke dalam lambung
nyamuk.Selanjutnya, virus memperbanyak diri dalam tubuh nyamuk dan
menyebar ke seluruh jaringan tubuh, termasuk kelenjar air liurnya. Jika
nyamuk yang tercemar virus ini menggigit orang sehat maka akan
mengeluarkan air liurnya agar darah tidak membeku. Bersama air liur tersebut,
virus ditularkan.Siklus semacam ini layaknya lingkaran setan yang sulit
ditemukan ujung pangkalnya.
Satu-satunya upaya untuk memutus rangkaian ini, yaitu dengan
memberantas nyamuk yang dapat menularkan virus dengue. Nyamuk yang
paling sering menimbulkan wabah demam berdarah, yaitu nyamuk Aedes
Aegypti subgenus stegomyia. Nyamuk jenis lain, seperti Ae. Albopictus, Ae.
Polynesiensis, anggota dari Ae.Scutellaris complex, dan Ae.(Finiaya) niveus
juga dapat menyebarkan virus demam berdarah.
Hanya nyamuk Aedes Aegypti betina yang menggigit dan menularkan
virus dengue.Umumnya, nyamuk ini menggigit di siang hati (pukul 09.00-

9
10.00) atau sore hari (pukul 16.00-17.00).Nyamuk jenis itu senang berada di
tempay yang gelap dan lembap.Penampilan nyamuk ini sangat khas, yaitu
memiliki bintik-bintik putih dan ukurannya lebih kecil dibandingkan nyamuk
biasa.Pada malam hari, nyamuk ini bersembunyi di tempat gelap atau diantara
benda-benda yang tergantung, seperti baju atau tirai.
Namun, tidak setiap gigitan nyamuk jenis ini dapat mengakibatkan demam
berdarah.Hanya nyamuk yang mengandung virus dengue lah yang dapat
menimbulkan penyakit.Selain itu, viris dengue yang sudah masuk ke dalam
tubuh pun tidak selalu dapat menimbulkan infeksi.Jika daya tahan tubuh cukup
kuat maka dengan sendirinya virus tersebut dapat dilawan oleh tubuh.
Nyamuk Aedes Aegypti senang sekali tumbuh dan berkembang di
genangan air yang bersih, seperti penampungan air, bak mandi, pot bunga, dan
gelas.Mungkin, tempat-tempat tersebut tidak pernah dikira sebagai lingkungan
yang dipilih hewan ini.Oleh karena itu, populasi nyamuk ini meningkat di
musim hujan.
Nyamuk Aedes Aegypti bertelur tiga hari setelah mengisap darah. Darah
manusia merupakan sarana untuk mematangkan telur agar dapat dibuahi.
Dalam waktu kurang dari delapan hari, telur akan berubah menjadi nyamuk.
Jika nyamuk tersebut mengandung virus dengue, mereka siap meyebarkan
virus ini dengan cepat.Hal ini dikarenakan kemampuan terbang nyamuk cukup
jauh, yaitu mencapai radius 100-200 meter.

F.Cara Penularan Demam Berdarah


Penyakit DBD hanya dapat ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypty betina.
1. Nyamuk ini mendapat virus dengue sewaktu menggigit/ menghisap
darah:
a. Orang sakit (penderita) DBD atau
b. Tidak sakit DBD tetapi dalam darahnya terdapat virus Dengue
(karena orang ini memiliki kekebalan terhadap virus dengue)
c. Orang yang mengandung virus dengue tetapi tidak sakit, dapat pergi
kemana-mana dan menularkan virus itu kepada orang lain di tempat
yang ada nyamuk Aedes Aegypti.

10
2. Virus dengue yang terhisap akan berkembangbiak dan menyebar ke
seluruh tubuh nyamuk termasuk kelenjar liurnya.
3. Bila nyamuk tersebut menggigit/menghisap darah orang lain, virus
tersebut akan dipindahkan bersama air liur nyamuk.
4. Bila orang yang ditulari tidak memiliki kekebalan (umumnya anak-anak),
ia akan segera menderita DBD.
5. Nyamuk Aedes Aegypti yang sudah mengandung virus dengue, seumur
hidupnya dapat menularkan kepada orang lain.
6. Dalam darah manusia, virus dengue akan mati dengan sendirinya dalam
waktu lebih kurang 1 minggu.

7. Tanda-tanda Penyakit Demam Berdarah Dengue

G. Tahapan Penyakit Demam Berdarah


Infeksi virus dengue dapat bermanifestasi pada beberapa luaran, meliputi
demam biasa, demam berdarah (klasik), demam berdarah dengue (hemoragik),
dan sindrom syok dengue.
1. Demam berdarah (klasik)
Demam berdarah menunjukkan gejala yang umumnya berbeda-beda
tergantung usia pasien Gejala yang umum terjadi pada bayi dan anak-
anak adalah demam dan munculnya ruam Sedangkan pada pasien usia
remaja dan dewasa, gejala yang tampak adalah demam tinggi, sakit
kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri pada sendi dan tulang, mual
dan muntah, serta munculnya ruam pada kulit. Penurunan jumlah sel
darah putih (leukopenia) dan penurunan keping darah atau trombosit
(trombositopenia) juga seringkali dapat diobservasi pada pasien demam
berdarah. Pada beberapa epidemi, pasien juga menunjukkan pendarahan
yang meliputi mimisan, gusi berdarah, pendarahan saluran cerna, kencing
berdarah (haematuria), dan pendarahan berat saat menstruasi
(menorrhagia).
2. Demam berdarah dengue (hemoragik)
Pasien yang menderita demam berdarah dengue (DBD) biasanya
menunjukkan gejala seperti penderita demam berdarah klasik ditambah

11
dengan empat gejala utama, yaitu demam tinggi, fenomena hemoragik
atau pendarahan hebat, yang seringkali diikuti oleh pembesaran hati dan
kegagalan sistem sirkulasi darah. Adanya kerusakan pembuluh darah,
pembuluh limfa, pendarahan di bawah kulit yang membuat munculnya
memar kebiruan, trombositopenia dan peningkatan jumlah sel darah
merah juga sering ditemukan pada pasien DBD. Salah satu karakteristik
untuk membedakan tingkat keparahan DBD sekaligus membedakannya
dari demam berdarah klasik adalah adanya kebocoran plasma darah Fase
kritis DBD adalah seteah 2-7 hari demam tinggi, pasien mengalami
penurunan suhu tubuh yang drastis Pasien akan terus berkeringat, sulit
tidur, dan mengalami penurunan tekanan darah. Bila terapi dengan
elektrolit dilakukan dengan cepat dan tepat, pasien dapat sembuh dengan
cepat setelah mengalami masa kritis. Namun bila tidak, DBD dapat
mengakibatkan kematian.

3. Sindrom Syok Dengue


Sindrom syok adalah tingkat infeksi virus dengue yang terparah, di
mana pasien akan mengalami sebagian besar atau seluruh gejala yang
terjadi pada penderita demam berdarah klasik dan demam berdarah
dengue disertai dengan kebocoran cairan di luar pembuluh darah,
pendarahan parah, dan syok (mengakibatkan tekanan darah sangat
rendah), biasanya setelah 2-7 hari demam Tubuh yang dingin, sulit tidur,
dan sakit di bagian perut adalah tanda-tanda awal yang umum sebelum
terjadinya syok Sindrom syokterjadi biasanya pada anak-anak
(kadangkala terjadi pada orang dewasa) yang mengalami infeksi dengue
untuk kedua kalinya. Hal ini umumnya sangat fatal dan dapat berakibat
pada kematian, terutama pada anak-anak, bila tidak ditangani dengan
tepat dan cepat durasi syok itu sendiri sangat cepat. Pasien dapat
meninggal pada kurun waktu 12-24 jam setelah syok terjadi atau dapat
sembuh dengan cepat bila usaha terapi untuk mengembalikan cairan
tubuh dilakukan dengan tepat. Dalam waktu 2-3 hari, pasien yang telah

12
berhasil melewati masa syok akan sembuh, ditandai dengan tingkat
pengeluaran urin yang sesuai dan kembalinya nafsu makan.

H. Patofisiologi Demam Berdarah


Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.
Pertama-tama yang terjadi adalah viremia yang mengakibatkan penderita
mengalami demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal diseluruh tubuh,
ruam atau bintik-bintik merah pada kulit (petekie), hyperemia tenggorokan dan
hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening,
pembesaran hati (Hepatomegali) dan pembesaran limpa (Splenomegali).
Kemudian virus akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks
virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat
aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang berdaya untuk
melepaskan histamine zat anafilaktosin dan serotonin serta aktivitas system
kalikreain yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler, dan merupakan
mediator kuat sebagai faktor meningkatnya permeabilitas dinding kapiler
pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasma ke ruang
ekstra seluler. Hal ini berakibat berkurangnya volume plasma, terjadinya
hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan. Peningkatan
permeabilitas kapiler terjadi.
Perembesan plasma ke ruang ekstra seluler mengakibatkan berkurangnya
volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi, dan hipoproteinemia serta
efusi dan renjatan (syok). Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20 %)
menunjukkan atau menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) plasma
sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan
intravena. Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan
menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan faktor
penyebab terjadinya perdarahan hebat, terutama perdarahan saluran
gastrointestinal pada DHF. Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra
vaskuler dibuktikan dengan ditemukannya cairan yang tertimbun dalam rongga
serosa yaitu rongga peritoneum, pleura, dan pericard yang pada otopsi ternyata
melebihi cairan yang diberikan melalui infus.

13
Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlah trombosit
menunjukkan kebocoran plasma telah teratasi, sehingga pemberian cairan
intravena harus dikurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadinya
edema paru dan gagal jantung, sebaliknya jika tidak mendapatkan cairan yang
cukup, penderita akan mengalami kekurangan cairan yang dapat
mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa mengalami renjatan. Jika
renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia jaringan,
metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan baik.
Sebab lain kematian pada DHF adalah perdarahan hebat. Perdarahan umumnya
dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi trombosit dan kelainan
fungsi trombosit.
Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses
imunologis terbukti dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran
darah. Kelainan system koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati
yang fungsinya memang tebukti terganggu oleh aktifasi system koagulasi.
Masalah terjadi tidaknya DIC pada DHF/DSS, terutama pada pasien dengan
perdarahan hebat. Gangguan hemostasis pada DHF menyangkut 3 faktor yaitu:
perubahan vaskuler, trombositopenia dan gangguan koagulasi. Pada otopsi
penderita DHF, ditemukan tanda-tanda perdarahan hampir di seluruh tubuh,
seperti di kulit, paru, saluran pencernaan dan jaringan adrenal.

I. Pencegahan Demam Berdarah


Demam berdarah dapat dicegah dengan memberantas jentik-jentik
nyamuk. Upaya ini merupakan cara terbaik, ampuh, murah, mudah, dan dapat
dilakukan oleh masyarakat. Cara-caranya adalah sebagai berikut :
1. Bersihkan (kuras) tempat penyimpanan air (bak mandi/WC, drum, dan
lain-lain) sekurang-kurangnya seminggu sekali. Gantilah air di vas,
tempat minum burung, perangkap semut dan lain-lain sekurang-
kurangnya seminggu sekali.
2. Tutuplah rapat-rapat tempat penampungan air, seperti tempayan, drum,
dan lain-lain agar nyamuk tidak dapat masuk dan berkembang biak di
tempat itu.

14
3. Kubur atau buanglah pada tempatnya barang-barang bekas, seperti
kaleng bekas, ban bekas, botol-botol pecah, dan lain-lain yang dapat
menampung air hujan, agar tidak menjadi tempat berkembang biak
nyamuk. Potongan bamboo, tempurung kelapa, dan lain-lain agar
dibakar bersama sampah lainnya.
4. Tutuplah lubang-lubang pagar pada pagar bamboo dengan tanah atau
adukan semen.
5. Lipat pakaian/kain yang bergantung dalam kamar agar nyamuk tidak
hingap disitu
6. Untuk tempat-tempat air yang tidak mungkin atau sulit dikuras,
taburkan bubuk abate ke dalam genangan air tersebut. Ulangi hal ini
setiap 2-3 bulan sekali.

Pengasapan atau fogging bermanfaat membunuh nyamuk Aedes dewasa


untuk mencegah penyebaran demam berdarah. Hingga kini, belum ada vaksin
atau obat antivirus bagi penyakit ini. Tindakan paling efektif untuk menekan
epidemi demam berdarah adalah dengan mengontrol keberadaan dan sedapat
mungkin menghindari vektor nyamuk pembawa virus dengue. Pengendalian
nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang
tepat, yaitu:
1. Lingkungan
Pencegahan demam berdarah dapat dilakukan dengan
mengendalikan vektor nyamuk, antara lain dengan menguras bak
mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu,
mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu
sekali, menutup dengan rapat tempat penampungan air, mengubur
kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah, dan
perbaikan desain rumah.
2. Biologis
Secara biologis, vektor nyamuk pembawa virus dengue dapat
dikontrol dengan menggunakan ikan pemakan jentik dan bakteri.

15
3. Kimiawi
Pengasapan (fogging) dapat membunuh nyamuk dewasa,
sedangkan pemberian bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air
dapat membunuh jentik-jentik nyamuk. Selain itu dapat juga digunakan
larvasida. Selain itu oleh karena nyamuk Aedes aktif di siang hari
beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah
menggunakan senyawa anti nyamuk yang mengandung DEET, pikaridin,
atau minyak lemon eucalyptus, serta gunakan pakaian tertutup untuk
dapat melindungi tubuh dari gigitan nyamuk bila sedang beraktivitas di
luar rumah. Selain itu, segeralah berobat bila muncul gejala-gejala
penyakit demam berdarah sebelum berkembang menjadi semakin parah.
Saat ini, metode utama yang digunakan untuk mengontrol dan
mencegah terjadinya demam berdarah dengue adalah dengan melakukan
pemberantasan terhadap nyamuk Aedes aegypti sebagai penyebar virus
dengue.
Nyamuk Aedes aegypti ini dapat berada di dalam rumah ataupun
luar rumah. Di dalam rumah biasanya nyamuk tersebut suka bersembunyi
di tempat yang gelap seperti di lemari, gantungan baju, di bawah tempat
tidur dll. Sedangkan apabila di luar rumah nyamuk Aedes aegypti
tersebut menyukai tempat yang teduh & lembab. Nyamuk betinanya
biasanya akan menaruh telur-telurnya pada wadah air di sekitar rumah,
sekolah, perkantoran dll, dimana telur tersebut dapat menetas dalam
waktu 10 hari. Oleh sebab itu, lakukan 3 M:
1. Menguras: Menguras tempat penampungan air secara rutin, seperti
bak mandi dan kolam. Sebab bisa mengurangi perkembangbiakan
dari nyamuk itu sendiri. Atau memasukan beberapa ikan kecil
kedalam bak mandi atau kolam. Sebab ikan akan memakan jentik
nyamuk.
2. Menutup: Menutup tempat-tempat penampungan air. Jika setelah
melakukan aktivitas yang berhubungan dengan tempat air sebaiknya
anda menutupnya agar nyamuk tidak bisa meletakan telurnya
kedalam tempat penampungan air. Sebab nyamuk demam berdarah

16
sangat menyukai air yang bening.

3. Mengubur: Kuburlah barang-barang yang tidak terpakai yang dapat


memungkinkan terjadinya genangan air.

J. Diagnosis Demam Berdarah


Diagnosis demam berdarah bisa dilakukan secara klinis, serologi dan
reaksi berantai polymerase tersedia untuk memastikan diagnosis demam
berdarah jika terindikasi secara klinis. Menurut Ratini Mappe (2008),
pemeriksaan laboratorium akan dilaksanakan dengan 3 hal, meliputi
hematologi, hemotatis, dan imunoserologi. Pemeriksaan hematologi adalah
hitung trombosit (trombositopenia = 100.000/uL) dan hematokrit (meningkat
sampai 20%). Menghitung leukosit atau (leucopenia) pada tepi sering di sertai
peningkatan limposit plasma biru yang awalaupun tidak spesifik untuk virus
dengue, tetapi bila jumlah nya meningkat mendukung diagnosis.
Pemeriksaan homeostatis yang penting pada awal sakit adalah bendungan
(uji tourniquet). Pada setadium lebih lanjut, penetapan D Dimer dan massa
protrombin membantu memastikan adanya koagulasi intra vaskuler menyebar
(disseminated intra vascular coagulation, DIC).
Ada penelitian yang mengatakan bahwa pada penderita DBD ditemukan
peningkatan yang minimal kadar FDP dan tidak berhubungan dengan beratnya
penyakit. Pada penderita dengan peningkatan FDP dan tidak berhubungan
dengan beratnya penyakit. Pada penderita dengan peningkatan FDP ditemukan
massa tromboplastin parsial dan massa protrombin yang agak memanjang. FDP
yang meningkat disertai trombositopenia menunjukan adanya proses koagulasi
intra vascular, merupakan hal yang mengakibatkan pendarahn tetapi belum
membuktikan adanya DIC. Namun, demikian DBD dengan syok dan asidosis
berkepanjangan dapat mencetuskan DIC.
Uji laboratorium yang sangat penting dilakukan untuk memastikan
diagnosis etiologi infeksi virus dengue meliputi pemeriksaan-pemeriksaan
berikut ini:
1. Isolasi virus dengue;

17
2. Uji serologi:
a. Adanya kenaikan titer serum antibodi dengue spesifik
b. Adanya anti gen spesifik atau RNA dalam jaringan atau serum.

K. Pengobatan Demam Berdarah


Hal pertama yang harus kita lakukan ketika terserang atau akan
memberikan pertolongan pengobatan pada penderita DBD bukanlah dengan
serta-merta kita membawanya ke rumah sakit. Beberapa hal di bawah ini
merupakan urutan pengobatan yang mungkin bisa dilakukan pada tahap awal
terjadinya serangan, yaitu :
1. Pertolongan pertama yang penting member minum sebanyak mungkin
2. Kompres dengan air es
3. Beri obat penurun panas
4. Segera dibawa ke dokter atau puskesmas terdekat untuk diperiksa
Bagian terpenting dari pengobatan DBD adalah terapi suportif. Pasien
disarankan untuk menjaga penyerapan makanan, terutama dalam bentuk cairan.
Jika hal ini tidak dapat dilakukan, penambahan dengan cairan dan
hemokonsetrasi yang berlebihan. Transfuse platelet dilakukan jika jumlah
platelet menurun drastic. Pengobatan alternative yang umum dikenal adalah
dengan meminum jus jambu biji Bangkok. Namun khasiatnya belum pernah
dibuktikan secara medis. Akan tetapi, jambu biji kenyataannya dapat
mengembalikan cairan intravena. Meskipun demikian, kombinasi antara
manajemen yang dilakukan secara medic dan alternative harus tetap
dipertimbangkan.

18
BAB lll
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
DHF atau dikenal dengan istilah demam berdarah adalah penyakit yang
disebabkan oleh Arbovirus (arthro podborn virus) dan ditularkan melalui
gigitan nyamuk Aedes (Aedes Albopictus dan Aedes Aegypti). Nyamuk Aedes
aegypti adalah vektor pembawa virus dengue penyebab penyakit demam
berdarah. Penyebab utama penyakit demam berdarah adalah virus dengue,
yang merupakan virus dari famili Flaviviridae. Terdapat 4 jenis virus dengue
yang diketahui dapat menyebabkan penyakit demam berdarah. Keempat virus
tersebut adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Tidak seperti nyamuk-
nyamuk yang pada umumnya mencari makan di malam hari, Aedes aegypti
dan Aedes albopictus umumnya menggigit di pagi hari sampai sore hari
menjelang petang. Demam berdarah diklasifikasikan menjadi Derajat I, Derajat
II, Derajat III, dan Derajat IV.
Tanda dan Gejala bervariasi berdasarkan derajat DHF, dengan masa
inkubasi 3-15 hari, tetapi rata-rata 5-8 hari. Penderita biasanya mengalami
demam akut (suhu meningkat tiba-tiba), sering disertai menggigil. Dengan
adanya gejala-gejala klinis yang dapat menimbulkan terjadinya DHF seperti
adanya gejala pendarahan pada kulit (petekie, ekimosis, hematom) dan
pendarahan lain (epitaksis, hematemesis, hematuri, dan melena) tingkat
keparahan yang ditemui dari hasil pemeriksaan darah lengkap.
Tindakan pencegahan demam berdarah dapat dilakukan dengan 3M yaitu,
menguras, menutup,dan mengubur. Pengobatan yang bisa dilakukan dengan
memberi minum sebanyak mungkin, kompres dengan air es, beri obat penurun
panas, dan segera dibawa kedokter atau puskesmas terdekat untuk diperiksa.

3.2 Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok
bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau
referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.

19
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan
kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah
ini dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya.

20
DAFTAR PUSTAKA

Shinta Sunaryati, Septi. 2011. 14 Penyakit Paling Sering Menyerang Dan


Sangat Mematikan. Jakarta:FlashBooks
Soegijanto,Soegeng. 2006. Demam Berdarah Dengue Edisi 2.
Surabaya:Airlangga University Press
Widagdo. Masalah dan Tatalaksana Penyakit Infeksi Pada Anak. Jakarta: CV.
Sagung Seto