Anda di halaman 1dari 7

c  cc

c
 

      
 
    
Desember 2, 2009 martinmanao Tinggalkan komentar

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Negara merupakan gejala kehidupan umat manusia disepanjang sejarah manusia. Konsep
negara berkembang dari mulai bentuknya yang sederhana sampai ke yang paling kompleks
dijaman yang sekarang.
Mengenai pemerintahannya ada yang bersifat otoriter dan ada juga yang demokrasi.
Pemerintahan yang bersifat otoriter selalu bertindak represif dan cenderung mengabaikan
hak-hak masyarakat sipil. Tetapi pemerintahan yang demokratis sangat menjunjung nilai-nilai
hak asazi masyarakat. Perubahan penting ketika berbicara tentang demokrasi pada level
nasional dalam kebangsaan berskala modern adalah bahwa tindakan-tindakan pemerintah
biasanya dijalankan tidak secara langsung dengan warganya tetapi tidak secara langsung
dengan perwakilan dengan siapa mereka memilih berdasarkan basis yang sama dan bebas.
Roberth Dahl menyatakan bahwa demokrasi responsive secara relatif dapat eksis hanya jika
sedikitnya delapan jaminan institusi ada:
1. Kebebasan untuk membentuk dan menggabungkan organisasi-organisasi;
2. Kebebasan berekspresi
3. Hak suara
4. Kelayakan kantor publik
5. Hak pemimpin politik untuk bersaing demi dukungan dan suara
6. Sumber-sumber alternatif informasi
7. Pemilihan yang bebas dan jujur
8. Insitutusi-institusi membuat kebijakan pemerintah bergantung pada suara dan ekspresi-
ekspresi pilihan.
Sistem pemerintahan di Indonesia pada jaman Orde Baru adalah sentralistik. Tetapi ketika
terjadi reformasi maka ada banyak tuntutan-tuntutan untuk diadakannya perubahan terhadap
system pemerintahan. Salah satu hasil dari pada reformasi dilakukanya amandemen terhadap
UUD 1945.
UUD 1945 hasil amandemen pada pasal 18 menyatakan bahwa :
(1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah
provinsi itu dibagi atas Kabupaten dan Kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten dan kota itu
mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang
(2) Pemerintah daerah provinsi, daerah kabupaten dan kota mengatur dan mengurus sendiri
urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan pembantuan.
(3) Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten dan kota memiliki Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum
(4) Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah
provinsi, kabupaten dan kota dipilih secara demokratis
(5) Pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya kecuali urusan pemerintahan
yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat
(6) Pemerintah daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain
untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan
(7) Susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam undang-
undang.
Dengan mengacu kepada ketentuan Undang-Undang Dasar 1945 diatas maka dibentuklah
Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang pemerintah daerah yang kemudian mendapat
revisi lagi menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004.
Setiap produk hukum sangat dipengaruhi oleh system politik. Karena hukum dibuat oleh
lembaga politik. Dalam proses pembuatan suatu undang-undang selalui di pengaruhi oleh
banyak kepentingan-kepentingan politik kelompok tertentu.
Secara teoritis hubungan antara hukum dan politik dapat dibedakan dalam tiga model
hubungan. Pertama, sebagai das Sollen hukum determinan atas politik karena setiap agenda
politik harus tunduk kepada aturan hukum. Kedua, sebagai das sein politik determinan atas
hukum karena pada faktanya hukum merupakan produk politik sehingga sejalan dengan
lemahnya dasar etik dan moral, pembuatan dan penegakkan hukum banyak diwarnai oleh
kepentingan politik kelompok dominan yang sifatnya teknis, tidak substansial, dan bersifat
jangka pendek.
Berdasarkan asumsi bahwa hukum adalah produk politik maka tampaklah didepan kita bahwa
ketika politik berubah maka hukum pun berubah. Perubahan itu akan sejalan dengan
perubahan sistem politiknya
Senada dengan itu Satya Arinanto juga menyatakan bahwa : Jika konfigurasi politik
demokratis maka akan melahirkan karakter hukum yang responsif. Konfigurasi partisipasi
rakyat secara penuh untuk ikut aktif menentukan kebijaksanaan umum
Begitupun jika konfigurasi politik otoriter akan melahirkan karakter hukum yang konservatif
atau ortodoks. Konfigurasi politik otoriter adalah susunan sistem politik yang lebih
memungkinan negara berperan sangat aktif serta mengambil hampir seluruh inisiatif dalam
pembuatan kebijakan negara.
Konfigurasi ini ditandai oleh dorongan elit kekuasaan untuk memaksakan persatuan,
penghapusan oposisi terbuka, dominasi pimpinan negara untuk menentukan kebijaksanaan
negara dan dominasi kekuasaan politik oleh elit politik.
Dalam mengidentifikasi apakah suatu konfigurasi politik demokratis atau otoriter, maka
indikator-indikator yang dipergunakan adalah peranan partai politik dan lembaga perwakilan
rakyat, kebebasan pers dan peranan pemerintah. Untuk mengidentifikasi apakah suatu produk
hukum resfonsif atau ortodoks, maka indikator indikatornya yang dipergunakan adalah proses
pembuatannya sifat dan fungsinya dan kemungkinan penafsirannya.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis membuat judul makalah ini adalah : Karakter Produk
Hukum Orde Reformasi : suatu tinjauan terhadap UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah.

B. Rumusan Masalah
Agar pembahasan dalam makalah ini lebih fokus maka penulis merumuskan masalahnya
yaitu : bagaimanakah karakter Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

PEMBAHASAN

A. Pengertian Otonomi Daerah


Otonomi secara harfiah diartikan sebagai kewenangan, kekuasaan atau hak untuk mengatur
sendiri (the power or right of self-government). Sedangkan pengertian daerah merujuk
kepada suatu wilayah (area). Dengan demikian pengertian Otonomi Daerah adalah
kewenangan atau kekuasaan suatu wilayah untuk mengatur kepentingannya sendiri. Dalam
arti yang lebih luas, pengertian kewenangan mencakup kewenangan ekonomi, politik,
perimbangan keuangan, termasuk sosial, budaya, dan ideologi yang sesuai dengan tradisi,
adat istiadat dan daya dukung sumber daya alam dan manusia di wilayah tersebut.
B. Tujuan Otonomi Daerah
Pada prinsipnya, kebijakan otonomi daerah dilakukan dengan mendesentralisasikan
kewenangan-kewenangan yang selama ini tersentralisasi di tangan pemerintah pusat. Dalam
proses desentralisasi itu, kekuasaan pemerintah pusat dialihkan dari tingkat pusat ke
pemerintahan daerah sebagaimana mestinya, sehingga terwujud pergeseran kekuasaan dari
pusat ke daerah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Jika dalam kondisi semula arus
kekuasaan pemerintahan bergerak dari daerah ke tingkat pusat, maka diidealkan bahwa sejak
diterapkannya kebijakan otonomi daerah itu, arus dinamika kekuasaan akan bergerak
sebaliknya, yaitu dari pusat ke daerah.
Kebijakan otonomi dan desentralisasi kewenangan ini dinilai sangat penting terutama untuk
menjamin agar proses integrasi nasional dapat dipelihara dengan sebaik-baiknya. Dengan
demikian, kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi kewenangan tidak hanya menyangkut
pengalihan kewenangan dari atas ke bawah, tetapi pada pokoknya juga perlu diwujudkan atas
dasar keprakarsaan dari bawah untuk mendorong tumbuhnya kemandirian pemerintahan
daerah sendiri sebagai faktor yang menentukan keberhasilan kebijakan otonomi daerah itu.
Dalam kultur masyarakat kita yang paternalistik, kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah
itu tidak akan berhasil apabila tidak dibarengi dengan upaya sadar untuk membangun
keprakarsaan dan kemandirian daerah sendiri.
Pemberlakuan sistem otonomi daerah merupakan amanat yang diberikan oleh Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) Amandemen Kedua
tahun 2000 untuk dilaksanakan berdasarkan undang-undang yang dibentuk khusus untuk
mengatur pemerintahan daerah. UUD 1945 pasca-amandemen itu mencantumkan
permasalahan pemerintahan daerah dalam Bab VI, yaitu Pasal 18, Pasal 18A, dan Pasal 18B.
Sistem otonomi daerah sendiri tertulis secara umum dalam Pasal 18 untuk diatur lebih lanjut
oleh undang-undang.
Pasal 18 ayat (2) menyebutkan, ³Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan.´ Selanjutnya, pada ayat (5) tertulis, Pemerintahan daerah menjalankan otonomi
seluas-luasnya kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai
urusan pemerintah pusat.´ Dan ayat (6) pasal yang sama menyatakan, ³Pemerintahan daerah
berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan
otonomi dan tugas pembantuan.´
Secara khusus, pemerintahan daerah diatur dalam Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999
tentang Pemerintahan Daerah. Namun, karena dianggap tidak sesuai lagi dengan
perkembangan keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan menyelenggaraan otonomi daerah,
maka aturan baru pun dibentuk untuk menggantikannya. Pada 15 Oktober 2004, Presiden
Megawati Soekarnoputri mengesahkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberikan definisi
otonomi daerah sebagai berikut.
´ Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.´
Dalam sistem otonomi daerah, dikenal istilah desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas
pembantuan. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah
pusat kepada daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam
sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia, Sedangkan dekonsentrasi adalah pelimpahan
wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada gubernur sebagai wakil pemerintah
pusat di daerah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. Sementara itu, tugas
pembantuan merupakan penugasan dari pemerintah pusat kepada daerah dan/atau desa dari
pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah
kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu.
Konsep pemikiran tentang otonomi daerah, mengandung pemaknaan terhadap eksistensi
otonomi tersebut terhadap penyelenggaraan pemerintah. Pemikiran pertama, bahwa prinsip
otonomi daerah dengan menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya. Artin seluas-luasnya
ini mengandung makna bahwa daerah diberikan kewenangan membuat kebijakan daerah,
untuk memberikan pelayanan, peningkatan peran serta , prakarsa, dan pemberdayaan
masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Pemikiran kedua, bahwa
prinsip otonomi daerah dengan menggunakan prinsip otonomi yang nyata dan
bertanggungjawab. Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani
urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas, wewenang, dan kewajiban yang
senyatanya telah ada, serta berpotensi untuk tumbuh, hidup, dan berkembang sesuai dengan
potensi dan kekhasan daerah. Dengan demikian, isi dan jenis otonomi daerah bagi setiap
daerah tidak selalu sama dengan daerah lainnya. Adapun otonimi bertanggungjawab adalah
otonomi yang dalam penyelenggaraanya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud
pemberian otonomi, yang pada dasarnya untuk memberdayakan daerah termasuk peningkatan
kesejahteraan rakyat yang merupakan bagian utama dari tujuan nasional.
Disamping pemberian otonomi seluas-luasnya, dalam rangka membangun kebersamaan
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai NKRI, maka negara dalam hal ini
mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau
bersifat istimewa dan negara juga mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat
hukum adat, beserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidp dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI
Ada 4 tujuan desentralisasi yaitu:
1. Untuk mengurangi beban pemerintah pusat dan campur tangan tentang masalah-masalah
kecil bidang pemerintahan ditingkal lokal
2. Meningkatkan dukungan masyarakat dalam penyelenggaraan kegiatan pemerintahan lokal.
3. Melatih masyarakat untuk dapat mengatur urusan rumah tanganya sendiri
4. Mempercepat bidang pelayanan umum pemerintahan kepada masyarakat.
Menurut Jimmly Assidikin ada beberapa tujuan yang biasa dinisbatkan dengan kebijakan
desentralisasi dan dekonsentrasi tersebut, yaitu:
1. Dari segi hakekatnya, desentralisasi dapat mencegah terjadinya penumpukan (
concentration of power ) dan pemusatan kekuasaan ( centralised of power ) yang dapat
menimbulkan tirani
2. Dari sudut politik, desentraliasi merupakan wahana pendemokratisasian kegiatan
pemerintahan;
3. Dari segi teknik organisatoris, desentralisasi dapat menciptakan pemerintahan yang lebih
efisien dan efektif;
4. Dari segi sosial, desentraliasi dapat membuka partisipasi dari bawah yang lebih aktif dan
berkembangnya kaderisasi kepemimpinan yang lebih bertanggung jawab karena proses
pengambilan keputusan karena proses pengambilan keputusan tersebar di pusat-pusat
kekuasaan di seluruh daerah.
5. Dari sudut budaya, desentralisasi diselenggarakan agar perhatian dapat sepenuhnya
ditumpahkan kepada kekhususan-kekhususan yang terdapat didaerah, sehingga keaneka
ragaman budaya dapat terpelihara dan sekaligus didayagunakan sebagai modal yang
mendorong kemajuan pembangunan dalam bidang-bidang lainnya.
6. Dari sudut kepentingan pembangunan ekonomi, karena pemerintah daerah dianggap lebih
banyak tahu dan secara langsung berhubungan dengan kepentingan didaerah, maka dengan
kebijakan desentralisasi, pembangunan ekonomi dapat terlaksana dengan lebih tepat dan
dengan biaya yang lebih murah.
B. Politik Hukum Otonomi Daerah
Secara etimologis, istilah politik hukum merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari istilah
hukum Belanda rechtspolitiek , yang merupakan bentukan dari dua kata recht dan politiek.
Pengertian politik hukum adalah kebijakan politik yang menentukan aturan hukum apa yang
seyogiyanya berlaku dan dikembangkan di negara/daerah.
Bagi Indonesia, politik hukum yang tetap, antara lain:
1. Ada satu kesatuan sistem hukum Indonesia.
2. Sistem hukum nasional dibangun berdasarkan dan untuk memperkokoh sendi-sendi
Pancasila dan UUD 1945
3. Tidak ada hukum yang memberikan hak-hak istimewa pada warga negara tertentu
berdasarkan suku, ras atau agama. Kalaupun ada perbedaan semata-mata didasarkan pada
kepentingan nasional dalam rangka negara kesatuan
4. Pembentukan hukum memperhatikan kemajemukan masyarakat
5. Hukum adat dan hukum tidak tertulis lainnya diakui sebagai sub sistem hukum nasional
sepanjang nyata-nyata hidup dan dipertahankan dalam pergaulan masyarakat;
6. Pembentukan hukum sepenuhnya didasarkan pada partisipasi masyarakat
7. Hukum dibentuk dan ditegakkan demi kesejahteraan umum (keadilan sosial bagi seluruh
rakyat), terwujudnya masyarakat yang demokratis dan mandiri serta terlaksananya negara
berdasarkan atas hukum.

Ada beberapa dasar politik hukum otonomi daerah antara lain:


1. Dasar permusyawaratan/perwakilan. Sebagai implementasi paham kedaulatan rakyat di
bidang penyelenggaraan pemerintahan (politik). Pembentukan pemerintah daerah otonom
adalah dalam rangka memberikan kesempatan rakyat setempat untuk lebih besar berperan
dalam penyelenggaraan pemerintahan;
2. Dasar kesejahteraan sosial. Dasar ini bersumber baik pada paham kedaulatan rakyat di
bidang ekonomi maupun paham negara berdasarkan atas hukum atau negara kesejahteraan.
Kesejahteraan bertalian erat dengan sifat dan pekerjaan pemerintah daerah yaitu pelayanan.
Pusat lebih suka menunjuk pemerintah daerah untuk melaksanakan tugas pelayanan yang
mendapat bantuan dari pusat, semangatnya harus disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan
setempat;
3. Dasar kebhinekaan. Pasal 18A ayat (1) UUD 1945 : ³« memperhatikan kekhususan dan
keragaman daerah´; dan Pasal 18B ayat (1) UUD 1945: ³Negara mengakui dan menghormati
satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa«.´

C. Karakter Hukum Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004


Perubahan sistem politik suatu negara akan mempengaruhi sistem hukum. Perubahan sistem
politik akan membuat hukum mengalami perubahan oleh karena hukum dibuat oleh lembaga
politik. Dan setiap produk politik akan selalu terpengaruh oleh berbagai kepentingan
kelompok. Untuk mengetahui suatu karakter dari pada hukum maka kita bisa melihat
bagaimana proses pembuatan hukum tersebut. Di negara yang pemimpinnya otoriter tentu
segala peraturan hukum yang dibuat berdasarkan kemauan penguasa. Tetapi dinegara yang
demokratis setiap produk hukum akan lebih bersifat responsif dan progresif oleh karena
negara demokratis memberikan ruang yang besar bagi kalangan pers dan ahli-ahli hukum,
kelompok masyarakat untuk berperan serta didalam melakukan pembangunan hukum.
Produk hukum responsif/populistik adalah produk hukum yang mencerminkan rasa keadilan
dan memenuhi harapan masyarakat. Dalam proses pembuatannya memberikan peranan besar
dan pastisipasi penuh kelompok-kelompok sosial atau individu-individu dalam masyarakat.
Hasilnya bersifat responsif terhadap tuntutan-tuntutan kelompok-kelompok sosial atau
individu-individu dalam masyarakat.
Kebijakan otonomi daerah lahir ditengah gejolak tuntutan berbagai daerah terhadap berbagai
kewenangan yang selama 20 tahun pemerintahan Orde Baru menjalankan mesin
sentralistiknya. UU No. 5 tahun 1974 tentang pemerintahan daerah yang kemudian disusul
dengan UU No. 5 tahun 1979 tentang pemerintahan desa menjadi tiang utama tegaknya
sentralisasi kekuasaan orde baru. Semua mesin partisipasi dan prakarsa yang sebelumnya
tumbuh sebelum orde baru berkuasa, secara perlahan dilumpuhkan dibawah kontrol
kekuasaan. Stabilitas politik demi kelangsungan investasi ekonomi (pertumbuhan) menjadi
alasan pertama bagi orde baru untuk mematahkan setiap gerak prakarsa yang tumbuh dari
rakyat.
Paling tidak ada dua faktor yang berperan kuat dalam mendorong lahirnya kebijakan otonomi
daerah. Pertama, faktor internal yang didorong oleh berbagai protes atas kebijakan politik
sentralisme di masa lalu. Kedua, adalah faktor eksternal yang dipengaruhi oleh dorongan
internasional terhadap kepentingan investasi terutama untuk efisiensi dari biaya investasi
yang tinggi sebagai akibat korupsi dan rantai birokrasi yang panjang.
Implementasi kebijakan otonomi secara efektif dilaksanakan di Indonesia sejak 1 Januari
2001, memberikan proses pembelajaran berharga, terutama esensinya dalam kehidupan
membangun demokrasi, kebersamaan, keadilan, pemerataan, dan keanekaragaman daerah
dalam kesatuan melalui dorongan pemerintah untuk tumbuh dan berkembangnya prakarsa
awal (daerah dan masyarakatnya) menuju kesejahteraan masyarakat. Prinsip dasar otonomi
daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah secara konsepsional adalah:
pendelegasian kewenangan (delegation of autority), pembagian pendapatan (income sharing),
kekuasaan (dicreation), keanekaragaman dalam kesatuan (uniformity in unity), kemandirian
lokal, pengembangan kapasitas daerah (capacity building)
Selama sepuluh tahun pelaksanaan UU No 22 Tahun 1999 sekarang UU Nomor 32 Tahun
2004, otonomi daerah telah menjadi kebutuhan politik yang penting untuk memajukan
kehidupan demokrasi. Bukan hanya kenyataan bahwa masyarakat Indonesia sangat heterogen
dari segi perkembangan politiknya, namun juga otonomi sudah menjadi alas bagi tumbuhnya
dinamika politik yang diharapkan akan mendorong lahirnya prakarsa dan keadilan. Walaupun
ada upaya kritis bahwa otonomi daerah tetap dipahami sebagai jalan lurus bagi eksploitasi
dan investasi , namun sebagai upaya membangun prakarsa ditengah-tengah surutnya
kemauan baik (good will) penguasa, maka otonomi daerah dapat menjadi jalan alternative
bagi tumbuhnya harapan bagi kemajuan daerah.
Implementasi otonomi daerah memberi dampak positif dan negatif dalam penyelenggaraan
pemerintahan dan pembangunan di daerah. Dampak positif yang menonjol adalah tumbuh
dan berkembangnya prakarsa daerah menuju kemandirian daerah dalam membangun.
Dampak negatifnya yang paling mengemuka timbulnya friksi pusat-daerah dan antar daerah,
terutama dalam pengelolaan sumberdaya alam, kewenangan dan kelembagaan daerah. Salah
satu penyebabnya bersumber dari harmonisasi kebijaksanaaan dengan kebijaksanaan otonomi
daerah, misalnya peraturan pertanahan, tata ruang, penanaman modal, perdagangan,
perikanan dan kelautan, jalan, UMKMK, Perda yang counter productive, dsb.
Implementasi kebijakan otonomi daerah berimplikasi pada pembangunan daerah.
Pembangunan daerah diharapkan terwujudnya kemandirian daerah dalam pengelolaan
pembangunan secara serasi, profesional, dan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut
pembangunan daerah yang dilakukan pemerintah pada daerah dalam rangka reposisi
paradigma baru pembangunan daerah yang berbasis kewilayahan, kemitraan pembangunan,
lingkungan hidup, serta penerapan good goverrurnce dengan strategi sebagai berikut :
‡ Mendorong dan memfasilitasi koordinasi perencanaan pembangunan daerah.
‡ Mengembangkan kapasitas kelembagaan pembangunan daerah.
‡ Mendorong terciptanya keselarasan dan keserasian pembangunan daerah.
‡ Mendorong dan memfasilitasi pengembangan/pendayagunaan potensi daerah.
‡ Mengembangkan fasilitasi penataan dan pengelolaan lingkungan hidup.
‡ Mengembangkan iklim yang kondusif bagi penembangan investasi dan usaha daerah.
‡ Mengembangkan SDM aparatur pengelola pembangunan daerah yang
profesional dalam pelayanan pembangunan di daerah.

KESIMPULAN

Dari semua uraian diatas dapat di simpulkan bahwa Undang-Undang Nomor 22/1999
sekarang UU Nomor 32 Tahun 2004 adalah produk hukum pemerintahan yang demokratis
dan responsif. Dikatakan responsif karena menjawab tuntutan-tuntutan yang dikehendaki oleh
masyarakat. Tuntutan tersebut tercermin pada tujuan dibuatnya undang-undang Pemerintahan
Daerah tersebut yaitu Pertama. Untuk mengurangi beban pemerintah pusat dan campur
tangan tentang masalah-masalah kecil bidang pemerintahan ditingkal local. Kedua.
Meningkatkan dukungan masyarakat dalam penyelenggaraan kegiatan pemerintahan lokal.
Ketiga, Melatih masyarakat untuk dapat mengatur urusan rumah tanganya sendiri. Keempat,
Mempercepat bidang pelayanan umum pemerintahan kepada masyarakat. Kelima, mencegah
terjadinya penumpukan dan pemusatan kekuasaan yang dapat menimbulkan tirani, Keenam,
Menciptakan birokrasi yang lebih efisien dan efektif.