Anda di halaman 1dari 17

B IM B INGAN KONSELING

BIMBINGAN KONSELING UNTUK SMA

SABTU, 21 AGUSTUS 2010

PEMBIMBING SEBAYA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyelenggaraan Bimbingan Konseling di sekolah bertujuan agar siswa dapat
menemukan pribadi,mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan:
1. Menemukan pribadi,maksudnya adalah agar siswa mengenal kekuatan dan
kelemahan diri sendiri serta menerima secara positif dan dinamis sebagai modal
penggembangan lebih lanjut.
2. Mengenal lingkungan,maksudnya adalah agar siswa mengenal secara
obyektif lingkungan sosial dan ekonomi lingkungan budaya dengan nilai-nilai dan
norma, maupun lingkungan fisik dan menerima semua kondisi lingkungan itu
(lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat) secara positif dan dinamis pula.
3. Merencanakan masa depan, maksudnya adalah agar siswa mampu
mempertimbangkan dan mengambil keputusan tentang masa depannya
sendiri ,baik yang menyangkut pendidikan, karir dan keluarga. (Prayitno: 1999)
Pada masa SLTA, antara 15 tahun sampai dengan 21 tahun merupakan masa
remaja. Masa remaja adalah masa transisi dari masa anak-anak ke masa
dewasa. Mereka banyak mengalami konflik karena adanya perubahan-
perubahan yang terjadi pada dirinya. Perubahan-perubahan itu meliputi
perubahan fisik, psikhis dan sosial.
Untuk itu peran Guru Bimbingan Konseling (BK), menjadi sangat penting,karena
dalam upaya mencapai tujuan seperti yang telah diuraikan di atas siswa
mengalami hambatan-hambatan yang tidak mampu diatasinya sendiri, mereka
butuh orang lain yang dapat membantu dan mau mengerti keadaan dirinya serta
masalah-masalah yang dihadapinya. akan tetapi tidak semua orang bisa menjadi
orang yang mau mengerti dan membantu kesulitan-kesulitannya itu, Guru BK
adalah salah satu orang yang diharapkan oleh siswa untuk membantu
memecahkan dan mengatasi berbagai permasalahan yang sedang dihadapinya,
sesuai perkembangan usianya sebagai remaja yang sedang berada dalam masa
pancaroba yaitu peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Masa
remaja juga merupakan masa pencarian jati diri dan identitas diri sehingga
mereka mengalami banyak gejolak.
Kenyataan di lapangan bahwa tugas guru BK itu sangat banyak antara lain:
tugas analisa data siswa, tugas pengusulan berbagai macam beasiswa, tugas
mengatasi masalah-masalah yang terjadi di sekolah, dan tugas-tugas lain baik
yang berhubungan dengan Layanan Bimbingan dan Konseling maupun tugas
yang tidak ada hubungannya dengan Layanan Bimbingan dan Konseling.
Apalagi rasio Guru BK dengan jumlah siswa sangat tidak seimbang, bila
pemerintah telah menetapkan tiap satu Guru BK mengampu 150 siswa atau
1:150 saja, dirasa masih terlalu berat, yang terjadi di lapangan rasio bisa
mencapai 1:250, bahkan lebih, sehingga banyak tugas BK yang terbengkalai,
terutama tugas-tugas administrasi.
Disamping itu letak geografis sekolah seperti yang ada di SMA N 1 Cangkringan
yang berada di lereng Gunung Merapi, dan sebagian besar siswanya berasal
dari daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau oleh transportasi umum dan
jaraknya cukup jauh dari kampus, membuat Guru BK sering mengalami kesulitan
dalam melakukan Home Visit
Siswa kadang-kadang kurang terbuka dalam mengungkapkan masalahnya
kepada Guru BK, karena ada perasaan sungkan, malu dan takut, jangan-jangan
bila permasalahannya diuangkapkan nilai pelajarannya akan jelek atau bahkan
tidak naik kelas, ini sebenarnya merupakan anggapan yang keliru dan perlu
diluruskan, untuk meluruskan anggapan bahwa Guru BK adalah polisi sekolah,
tukang hukum, dan tukang mencari-cari kesalahan siswa diperlukan sinergi yang
dinamis di antara stakeholder yang ada di sekolah. Guru lain yang ada di
sekolah juga mempunyai kewajiban yang sama dalam menegakkan disiplin dan
mengatasi masalah yang di hadapi oleh siswa, sehingga tidak selalu
melemparkan siswa-siswa yang melanggar perauran sekolah, siswa-siswa yang
berperilaku menyimpang kepada Guru BK.
Satu-satunya tempat atau orang yang bisa diajak bicara, menyampaikan segala
permasalahan adalah teman sebayanya di sekolah. Teman sebaya dianggap
sebagai orang yang mau mengerti dan paling peduli terhadap permasalahan
yang sedang dihadapi tanpa harus menggurui atau memarahi, dan memberi
penilaian baik buruk atau positif negatif. Teman sebaya juga dianggap sebagai
sahabat curhat yang paling aman mereka punya bahasa yang sama dalam
berkomunikasi sehingga siswa dengan mudah dapat menyampaikan
masalahnya dan tidak harus belajar bagaimana berbicara yang sopan, dan halus
seperti kalau hendak berbicara dengan guru.
Untuk itulah maka Guru BK harus mampu menangkap potensi yang ada yang
harus diberdayakan, yaitu teman sebayanya atau teman sekelasnya untuk
dijadikan tempat sebayanya menyampaikan permasalahan, namun dia harus
mempunyai ketrampilan mendengarkan dan memberi solusi yang bertanggung
jawab, agar mereka dapat dijadikan mitra Guru BK, dan menjadi alternatif bagi
siswa dalam menyelesaikan masalahnya, Pembimbing Sebaya ini juga dapat
membantu tugas Guru BK sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya sebagai
siswa.
Guru BK berkewajiban memberikan bekal pengetahuan kepada siswa agar
siswa-siswa tersebut dapat berperan aktif dalam tugasnya sebagai Pembimbing
Sebaya sesuai tujuan yang diharapkan.
Apabila Pembimbing Sebaya yang ada di sekolah dapat diberdayakan, tidak
mustahil Layanan Bimbingan Konseling akan dapat berjalan dengan maksimal
dan siswa dapat memperoleh akses yang porposional sesuai dengan
kebutuhannya. Informasi dan data yang mendukung untuk memberikan Layanan
Bimbingan Konseling juga akan semakin lengkap dan akurat.
Siswa yang ditunjuk sebagai Pembimbing Sebaya dapat mengambil manfaat
yang berguna bagi perkembangan dirinya di masa sekarang dan yang akan
datang, karena dengan menjadi Pembimbing Sebaya secara langsung maupun
tidak langsung mereka akan memperoleh tambahan ilmu dan pengalaman serta
belajar bertanggung jawab baik kepada dirinya sendiri maupun kepada guru dan
sekolah di tempat dia belajar dan menuntut ilmu. Orang tua siswa juga akan
merasa bangga karena anaknya di sekolah punya peran dan andil dalam
kegiatan yang dilaksanakan oleh sekolah.

BAB II
KAJIAN PUSTA
A. Pengertian Peran
Menurut kamus Bahasa Indonesia, terbitan Balai Pustaka (2002), peran adalah
“tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa”.

B. Pengertian Pembimbing Sebaya


Dalam Panduan Pendidikan Sebaya Indonesia Youth Partnership disebutkan
bahwa :
Pembimbing Sebaya (PS) atau Peer Education (PE) adalah suatu proses yang
mana remaja yang memiliki motivasi dan terlatih dengan baik melakukan
aktivitas bersifat informal namun terorganisasi bersama teman sebayanya
(mereka yang memiliki kesamaan umur, latar belakang atau minat) dalam waktu
tertentu yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, keyakinan dan
ketrampilan serta menjadikan mereka bertanggung jawab.
Sedangkan Kelompok Sebaya adalah:
sekelompok orang atau kelompok anak-anak atau pemuda yang berumur sama
atau berasosiasi sama dan mempunyai kepentingan tertutup seperti persoalan-
persoalan anak-anak umur sekolah sampai dengan masa remaja (adolesence).
Menurut WF Connell (1972 ).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Pembimbing Sebaya adalah:
Sekelompok orang atau kelompok anak-anak atau pemuda yang memiliki
motivasi dan telah terlatih dengan baik untuk mengadakan suatu proses atau
aktivitas atau tindakan yang bersifat informal maupun terorganisir bersama
teman sebayanya dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap,
keyakinan dan ketrampilan serta menjadikan mereka bertanggung jawab.

1. Mengapa Harus Pembimbing Sebaya?


Seorang remaja dalam kelompok sebayanya memiliki pengaruh yang besar
dalam bagaimana ia berperilaku, baik perilaku yang positif maupun perilaku yang
negatif. Kepercayaan pada Pembimbing Sebaya di mata kelompoknya benar-
benar merupakan dasar yang penting dalam menciptakan Pembimbing Sebaya
tersebut.
Dalam berkomunikasi dengan sebayanya Pembimbing Sebaya biasanya
menggunakan bahasa yang sama sehingga informasi akan lebih mudah
dipahami.
Pembimbing Sebaya juga merupakan suatu cara untuk memberdayakan remaja,
dalam hal ini menawarkan mereka kesempatan untuk berpartisipasi dalam
kegiatan-kegiatan yang berdampak positif bagi mereka serta mengakses
pelayanan yang mnereka butuhkan.
Pembimbing Sebaya juga muncul dari keyakinan bahwa remaja memiliki hak
untuk berpartisipasi dalam mengembangkan program yang melayani mereka dan
hak bersuara dalam bentuk kebijakan yang akan berdampak pada mereka. Oleh
karena itu dengan menciptakan kemitraan yang efektif antara Guru Bimbingan
dan Konseling dengan Pembimbing Sebaya merupakan sesuatu yang kritis bagi
kesuksesan program Bimbingan dan Konseling di sekolah.

2. Peran dan Fungsi Pembimbing Sebaya


Pembimbing Sebaya diharapkan mampu berperan menjadi fasilitator, motivator,
dan educator untuk sebayanya, oleh karena itu Pembimbing Sebaya diharapkan
dapat :
a. Menjadi model positif yang dapat dicontoh oleh teman sebayanya.
b. Menjadi pemimpin bagi teman sebayanya untuk berpartisipasi aktif dalam
kegiatan yang positif di lingkungannya.
c. Dapat menjadi sumber informasi bagi teman sebayanya akan program yang
ada.
d. Selain menjadi teman, seorang Pembimbing Sebaya juga dapat menjadi
tempat curhat (dalam batas kemampuannya) bagi teman sebayanya dan
memberi solusi yang sesuai dengan kebutuhan remaja yang bermasalah.
e. Pembimbing Sebaya dapat menjadi teman/mitra dalam berkarya di
lingkungannya.
f. Pembimbing Sebaya mampu melakukan penjangkauan atau pendekatan pada
teman-teman yang bermasalah dan memberikan informasi agar terhindar dan
keluar dari permasalahan yang dihadapinya.
g. Secara tidak langsung Pembimbing Sebaya dapat menjagi pelaku kontrol
terhadap perilaku dirinya dan teman sebayanya.
Untuk dapat memenuhi peranannya sebagai Pembimbing Sebaya mereka harus
memenuhi beberapa kriteria seperti :
1. Aktif dalam kegiatan sosial dan populer di lingkungannya.
2. Berminat secara pribadi terhadap program Bimbingan dan Konseling
3. Lancar berkomunikasi
4. Memiliki ciri-ciri kepribadian yang terpuji seperti: ramah, luwes dalam
pergaulan, berinisiatif, kreatif, tidak mudah tersinggung, terbuka untuk hal-hal
baru, mau belajar dan suka menolong.

3. Cara Menjadi Pembimbing Sebaya


Ketika remaja atau siswa akan menjasi Pembimbing Sebaya maka remaja
tersebut harus mengikuti serangkaian pembekalan dan pelatihan agar mampu
menjalankan peran dan fungsinya dengan baik dan tidak menjerumuskan teman
sebayanya dalam poses pembimbingan.
Serangkaian proses menjadi seorang Pembimbing Sebaya adalah :
1. Mengikuti pelatihan Pembimbing Sebaya secara penuh yang diselenggarakan
oleh lembaga (Guru BK).
2. Mengerjakan tugas-tugas dan melaksanakan rencana yang telah disusun.
3. Memberikan laporan kemajuan diri sebagai Pembimbing Sebaya dalam upaya
melakukan evaluasi diri dan pengembangan diri.
4. Terus memperkaya diri dengan informasi terkini.
5. Memberikan masukan kepada lembaga untuk mengembangkan program.
6. Mendidik teman sebayanya agar dapat termotivasi.
7. Dapat meningkatkan kapasitas diri.

C. Pengertian Bimbingan dan Konseling


Berdasarkan pasal 27 Peraturan Pemerintah Nomor 29/90 :
“Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka
upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa
depan”
Sedangkan menurut SK Mendikbud No. 025/0/1995 Bimbingan dan Konseling
adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perseorangan
maupun kelompok, agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam
bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir
melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-
norma yang berlaku.
Dalam pengertian di atas tersimpul hal-hal pokok bahwa :
1. Bimbingan dan Konseling merupakan layanan bantuan.
2. Pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui kegiatan secara
perorangan dan kelompok.
3. Arah kegiatan Bimbingan dan Konseling ialah membantu peserta didik untuk
melaksanakan kehidupan sehari-hari secara mandiri dan berkembang secara
optimal.
4. Ada empat bidang bimbingan yaitu bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir.
5. Pelayanan Bimbingan dan konseling dilaksanakan melalui jenis-jenis layanan
tertentu, ditunjang sejumlah kegiatan pendukung.
6. Pelayanan Bimbingan dan Konseling harus didasarkan pada norma-norma
yang berlaku.

1. Tujuan Bimbingan Konseling


a. Tujuan umum Bimbingan dan Konseling ialah memandirikan peserta didik dan
mengembangkan potensi mereka secara optimal.
b. Tujuan umum tersebut dijabarkan ke dalam tujuan yang mengarah kepada
keefektifan hidup sehari-hari dengan memperhatikan potensi peserta didik.
c. Lebih khusus lagi, tujuan-tujuan tersebut dirumuskan dalam bentuk
kompetensi.

2. Fungsi Bimbingan dan Konseling :


a. Fungsi pemahaman
b. Fungsi pencegahan
c. Fungsi pengentasan, termasuk fungsi advokasi
d. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan.

3. Asas-asas Bimbingan dan Konseling


a. Asas kerahasiaan
b. Asas kesukarelaan
c. Asas keterbukaan
d. Asas kegiatan
e. Asas kemandirian
f. Asas kekinian
g. Asas kedinamisan
h. Asas keterpaduan
i. Asas kenormatifan
j. Asas keahlian
k. Asas alih tangan kasus
l. Asas tut wuri handayani.

4. Kegiatan Pokok Bimbingan dan Konseling


1. Kegiatan Layanan
Kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah diselenggarakan melalui :
a. Layanan orientasi
b. Layanan informasi
c. Layanan penempatan dan penyaluran
d. Layanan pembelajaran
e. Layanan konseling perorangan
f. Layanan nimbingan kelompok
g. Layanan konseling kelompok

2. Kegiatan Pendukung
Ada sejumlah kegiatan yang dapat mendukung kelancaran dan keberhasilan
layanan bimbingan dan konseling yaitu :
a. Aplikasi instrument
b. Himpunan data
c. Konferensi kasus
d. Kunjungan rumah
e. Alih tangan kasus

5. Bidang Bimbingan
Bidang-bidang bimbingan di sekolah adalah :
1. Bimbingan Pribadi
a. Pemantapan sikap dan kebiasaan serta pengembangan wawasan dalam
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b. Pemantapan pemahaman tentang potensi diri dan pengembangannya untuk
kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif, baik dalam kehidupan sehari-hari
maupun untuk peranannya di masa depan.
c. Pemantapan pemahaman tentang bakat dan minat pribadi serta penyaluran
dan pengembangannya melalui kegiatan-kegiatan kreatif dan produktif.
d. Pemantapan pemahaman tentang kelemahan diri dan usaha-usaha
penanggulangannya.
e. Pemantapan kemampuan mengambil keputusan dan mengarahkan diri secara
mandiri sesuai dengan system etika, nilai kehidupan dan moral, serta apresiasi
seni.
f. Pemantapan dalam perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat secara
rohaniah maupun jasmaniah, termasuk perencanaan berkeluarga.
2. Bimbingan Sosial
a. Pemantapan kemampuan berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan secara
efektif, efisien dan produktif.
b. Pemantapan kemampuan menerima dan mengemukakan pendapat serta
berargumentasi secara dinamis dan kreatif.
c. Pemantapan kemampuan bertingkah laku dan berhubungan social, baik di
rumah, di sekolah, di tempat kerja maupun di masyarakat luas dengan
menjunjung tinggi tata karma, sopan santun, serta nilai-nilai agama, adat istiadat,
hokum, ilmu dan kebiasaan yang berlaku.
d. Pemantapan hubungan yang dinamis, harmonis dan produktif dengan teman
sebaya, baik di sekolah yang sama, di sekolah lain, di luar sekolah, maupun di
masyarakat pada umumnya.
e. Pemantapan pemahaman tentang peraturan, kondisi rumah, sekolah, dan
lingkungan, serta upaya pelaksanaannya secara dinamis dan bertanggung
jawab.
f. Orientasi tentang kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara

3. Bimbingan Belajar
a. Pemantapan sikap kebiasaan dan keterampilan belajar yang efektif dan efisien
serta produktif, dengan sumber belajar yang bervariasi dan kaya
b. Pemantapan disiplin belajar dab berlatih, baik secara mandiri maupun
berkelompok
c. Pemantapan penguasaan materi program belajar keilmuanm teknologi dan
seni di Sekolah Menengah Atas dan sebagai persiapan untuk mengikuti
pendidikan yang lebih tinggi
d. Pemantapan pemahaman dan pemanfaatan kondisi fisik, social dan budaya di
lingkungan sekolah, dan atau alam sekitar, serta masyarakat untuk
pengembangan diri
e. Orientasi belajar untuk pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi

4. Bimbingan Karir
a. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karir yang
hendak dipilih dan dikembangkan
b. Pemantapan orientasi dan informasi karir pada umunyam khususnya karir
yang hendak dipilih dan dikembangkan.
c. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha dan memperoleh
penghasilan yang baik dan halal untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup
berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
d. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamantan SLTA
e. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang
lebih tinggi, khususnya sesuai dengan karir yang hendak dikembangkan

BAB III
PEMBAHASAN

A. Peran Pembimbing Sebaya dalam Layanan Bimbingan dan Konseling


Bimbingan dan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada
siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan,
dan merencanakan masa depannya. Menurut UU No. 2 Sistem
Pendidikan Nasional, tujuan umum dari pelayanan bimbingan dan
konseling adalah : terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang
cerdas, yang beriman dan bertaqwa kepasa Tuhan Yang Maha Esa dan
berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan
jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa
tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Sesuai dengan pengertian bimbingan dan konseling sebagai upaya
membentuk perkembangan kepribadian siswa secara optimal, maka
secara umum layanan bimbingan dan konseling di SMA harus dikaitkan
dengan pengembangan sumber daya manusia. Dalam rangka menjawab
tantangan kehidupan di masa depan dan relevansinya dengan dunia
kerja. Secara umum layanan bimbingan konseling adalah membantu
siswa mengenal bakat, minat dan kemampuannya serta memilih dan
menyesuaikan diri dengan kesempatan pendidikan untuk merencanakan
karier yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja.
Secara khusus layanan bimbingan dan konseling bertujuan untuk
membantu siswa agar dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan
meliputi aspek pribadi,- sosial, belajar dan karier.
Bimbingan pribadi - sosial dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan tugas
perkembangan pribadi dan sosial dalam mewujudkan pribadi yang taqwa,
mandiri dan bertanggung jawab. Bimbingan belajar dimaksud untuk
mencapai tujuan dan tugas perkembangan pendidikan. Bimbingan karier
dimaksudkan untuk mewujudkan pribadi kerja yang produktif.
Dalam aspek tugas perkembangan pribadi - sosial layanan bimbingan dan
konseling membantu siswa agar :
1. Memiliki kesadaran diri, yaitu mengambarkan penampilan dan
mengenal kekhususan yang ada pada dirinya,
2. Dapat mengembangkan sikap positif, seperti mengambarkan orang-
orang yang mereka senangi,
3. Membuat pilihan secara sehat,
4. Mampu menghargai orang lain,
5. Memiliki rasa tanggung jawab,
6. Mengembangkan ketrampilan hubungan antar pribadi, dapat
menyelesaikan konflik,
7. Dapat membuat keputusan secara efektif.
dalam aspek tugas perkembangan belajar layanan bimbingan dan
konseling membantu siswa agar :
1. Dapat melaksanakan ketrampilan atau teknik belajar secara efektif,
2. Dapat menetapkan tujuan dan perecanaan pendidikan,
3. Mampu belajar secara efektif,
4. Memiliki ketrampilan dan kemampuan dalam menghadapi evaluasi atau
ujian.
Dalam aspek tugas perkembangan karier, layanan bimbingan dan
konseling membantu siswa agar :
1. Mampu membentuk identitas karier, dengan cara mengenali cirri-ciri
pekerjaan didalam lingkungan kerja.
2. Mampu merencanakan masa depan.
3. Dapat membentuk pola-pola karier, yaitu kecenderungan arah karier
4. Mengenal ketrampilan, kemampuan dan minat.
Sebagaimana diuraikan di dalam Pedoman Umum Bimbingan dan
Konseling bahwa yang menjadi sasaran pelayanan bimbingan dan
konseling di sekolah dijabarkan dalam tugas-tugas perkembangan peserta
didik. Adapun tugas-tugas perkembangan siswa Sekolah menengah
Umum/kejuruan, Madrasah Aliyah adalah :
1. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertqwa Kepada Tuhan
Yang Maha Esa.
2. Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya, serta
kematangan dalam peranannya sebagai pria dan wanita.
3. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmani san rohani.
4. Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi dan seni sesuai dengan
program kurikulumdan persiapan karier atau melanjutkan pendidikan
tinggi, serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.
5. Mencapai kematangan dalam pilihan karir.
6. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri
secara emosional, social, intelektual dan ekonomi.
7. Mancapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan
berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
8. Mengembangkan kemampuan komunikasi social dan intelektual, serta
aprsiasi seni.
9. Mencapai kematangan dalam system etika, nilai kehidupan dan moral.
Pelayanan bimbingan dan konseling bagi siswa SLTA adalah pelayanan
yang di peruntukan bagi anak usia remaja karena usia siswa SLTA adalah
berkisar antara 15 tahun sampai 21 tahun.
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju
masa dewasa ,di mana-masa ini merupakan periode perubahan yang
meliputi perubahan fisik, emosi dan perilaku sosial. Masa remaja
merupakan usia bermasalah dan masalah-masalah yang timbul sulit untuk
diatasi sendiri, hal ini dikarenakan pada usia kanak-kanak sebagian besar
masalah yang timbul diatasi oleh orangtua dan guru, sehingga remaja
belum mempunyai pengalaman dalam mengatasi masalah yang
dihadapinya, di sisi lain remaja merasa dirinya sudah dewasa dan mampu
mengatasi sendiri masalahnya tanpa bantuan orangtua atau gurunya, hal
ini wajar karena masa remaja merupakan masa mencari identitas diri,
yaitu masa menemukan jati dirinya dan peran apa yang harus diambil
dalam masyarakat, oleh karena itu dalam masa remaja ini sering terjadi
konflik dalam diri remaja tersebut.
Orangtua dan guru punya peran yang sangat penting dalam rangka
membantu remaja menemukan jati diri remaja tersebut, akan tetapi
seringkali remaja tidak mau berterus terang kepada orangtua atau
gurunya, hal itu disebabkan oleh banyak faktor, antara lain : perasaan
malu, perasaan takut, perasaan gengsi dan perasaan sungkan. Maka
Guru BK sebagai tenaga yang bertanggung jawab terhadap
permasalahan remaja di sekolah wajib mencari solusi bagi permasalahan
di atas.
Akan tetapi jumlah guru BK yang ada di sekolah seringkali tidak
sebanding dengan jumlah siswa. Rasio Guru BK dengan siswa di sekolah
adalah 1:150, artinya setiap satu Guru BK di sekolah mempunyai tugas
dan tanggung jawab terhadap 150 orang siswa, ini saja masih dirasa
cukup berat sementara pada kenyataannya di lapangan rasio bisa
mencapai 1:250 bahkan lebih, hal ini membuat Guru BK sering kewalahan
dalam memberikan Layanan Bimbingan dan Konseling, sehingga tugas-
tuganya banyak yang terbengkalai terutama tugas-tugas administrasi.
Letak geografis sekolah juga merupakan kendala yang cukup serius,
seperti di SMA Negeri 1 Cangkringan yang berada di lereng Gunung
Merapi dan sebagian besar siswanya berasal dari daerah-daerah yang
belum dilalui transportasi umum membuat Guru BK mengalami kesulitan
dalam melakukan home visit atau kunjungan rumah.
Untuk mengatasi permasalahan dan kendala yang ada Guru BK harus
pandai- pandai menyiasati dan mengambil peluang agar pelayanan yang
diberikan kepada siswa-siswanya memperoleh hasil yang maksimal.
Pembimbing Sebaya merupakan salah satu alternatif jawaban bagi
permasalahan ini.
Pembimbing Sebaya dianggap penting dan punya peran strategis karena
selain remaja adalah aset yang perlu diberdayakan dan dikembangkan,
dengan merekalah teman-teman sebayanya banyak menyampaikan dan
menceritakan permasalahan-permasalahannya. Dengan teman
sebayanyalah biasanya mereka lebih terbuka dan tidak ada perasaan
malu, takut dan sungkan, sehingga banyak informasi dan data yang dapat
dijadikan acuan dalam memberikan Layanan Bimbingan Konseling
kepada anak didik. Selain itu Guru BK juga dapat terbantu dengan adanya
Pembimbing Sebaya dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang
ringan yang sesuai dengan kapasitas mereka sebagai siswa.
Tugas-tugas yang dapat dilakukan oleh Pembimbing Sebaya antara lain :
melakukan pencatatan terhadap siswa-siswa yang bermasalah di
kelasnya dan menginformasikannya kepada Guru Bk, menjadi tempat
teman sebayanya menyampaikan masalahnya dan memberikan alternatif
solusi sesuai dengan kemampuannya, membantu Guru BK mengerjakan
presensi setiap harinya dan merekap setiap akhir bulan, membuat
catatan-catatan administrasi terhadap hal-hal yang tidak bersifat rahasia,
melakukan kunjungan rumah dan tugas administrasi ringan, dan menjadi
pusat informasi yang akurat tentang teman-teman sekelasnya yang
bermasalah.
B.
Langkah-langkah Kegiatan
1. Pembentukan Pembimbing Sebaya
Pada awal tahun pelajaran, atau dalam langkah penyusunan program
pengajaran, Guru BK memprogramkan mengenai pembentukan
Pembimbing Sebaya, caranya dapat melalui seleksi oleh Guru BK atau
melalui angket sosiometri, siswa yang dipilih hendaknya adalah siswa
yang populer dalam tiap kelasanya, hal ini penting agar siswa yang
bermasalah di kelasnya mau membuka diri dalam memecahkan
masalahnya, selain popular dianjurkan juga siswa yang mempunyai
prestasi baik agar dalam memberilan pembimbingan kepada teman
sebayanya mereka memiliki ketrampilan yang lebih.
Jumlah siswa yang diambil dari tiap kelas jangan terlalu banyak, untuk
kelas dengan jumlah siswa 36, maksimal diambil tiga sampai lima orang
untuk menjadi Pembimbing Sebaya.
Dari lima atau tiga orang yang telah dipilih di setiap kelasnya dengan cara
menyebarkan angket sosiometri tadi kemudian dikumpulkan dan diberi
penjelasan akan maksud dan tujuan pembentukan Pembimbing Sebaya,
langkah-langkah yang akan di lakukan selama menjadi Pembimbing
Sebaya.
2. Pelatihan Pembimbing Sebaya
Setelah proses seleksi calon Pembimbing Sebaya dilakukan, langkah
berikutnya adalah mengadakan pelatihan Pembimbing Sebaya, Guru
Bimbingan dan Konseling dan tiemnya harus memberikan semacam
penataran kepada siswa-siswa yang telah terpilih di kelasnya, lama
pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan dan materi yang akan diberikan.
Waktu yang diambil jangan sampai mengganggu tugas pokok siswa-siswa
dalam mengikuti pelajaran, jadi waktu pelatihan hendaknya dilaksanakan
setelah selesai sekolah atau di hari-hari yang tidak efektif ( hari minggu
atau hari libur lainnya).
Dalam pelatihan tersebut hendaknya juga dibuat kesepakatan-
kesepakatan atau aturan main yang harus dilaksanakan dan ditaati oleh
Pembimbing Sebaya.
3. Pelaksanaan Kegiatan
Dalam kegiatan ini Guru Bimbingan dan Konseling memberikan
serangkaian tugas yang harus dilaksanakan oleh siswa Pembimbing
Sebaya seperti yang telah disepakati bersama dalam pelatihan misalnya :
a. Mencatat dan melaporkan mengenai data presensi siswa di kealasnya
b. Mencatat dan melaporkan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di
kelasnya.
c. Melakukan kunjungan rumah kepada siswa yang tidak masuk tanpa
keterangan atau sakit, guna mencari informasi atau membezuk teman
sekelasnya.
d. Melakukan pencatatan terhadap siswa yang konsultasi atau curhat.
e. Melaporkan siswa-siswa yang memerlukan penanganan khusus oleh
Guru Bimbingan dan Konseling.
f. Menjadi sumber informasi bagi Guru Bimbingan dan Konseling.
g. Menjadi kepanjangan tangan Guru Bimbingan dan Konseling dalam
menyampaikan informasi kepada siswa.

4. Materi-Materi yang Diberikan Dalam Pelatihan Pembimbing Sebaya


Materi yang diberikan dalam pelatihan Pembimbing Sebaya antara lain :
a. Pengertian Pembimbing Sebaya, peran dan fungsinya
b. Syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagai Pembimbing Sebaya
c. Hakekat dan tujuan Bimbingan dan Konseling
d. Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling
e. Azas-azas Bimbingan dan Konseling
f. Karakteristik Remaja
g. Masalah-masalah yang sering dihadapi remaja
h. Pedoman wawancara
i. Tata karma
j. Aturan dan tata tertib sekolah.
k. Dan hal-hal lain yang berhubungan dengan remaja.
4. Tahap Akhir atau Evaluasi
Setelah tahap demi tahap kegiatan dilakukan yaitu: pembentukan
Pembimbing Sebaya, Pelatihan Pembimbing Sebaya dan pelaksanaan
kegiatan Pembimbing Sebaya, maka tahap yang paling akhir yang harus
dilakukan adalah tahapan evaluasai. Kegiatan ini dilaksanakan dengan
tujuan mengetahui sejauh mana kegiatan Pelayanan Bimbingan dan
Konseling dapat terlaksana dan sejauh mana Pembimbing Sebaya dapat
melaksanakan peran dan fungsinya seperti yang telah dirumuskan dan
dijelaskan dalam tahap awal kegiatan.
Dalam tahap akhir atau tahap evaluasi ini yang dilakukan adalah:
a. Pertemuan antara Pembimbing Sebaya dengan Pembimbing Sebaya
dari kelas lain.
Dalam pertemuan ini masing-masing Pembimbing Sebaya dapat
melakukan sharing dan membahas masalah-masalah yang muncul di
kelas masing-masing dan cara penanganannya, dengan tetap memegang
dan berprinsip bahwa masalah yang dialami bersifat rahasia.
b. Pertemuan antara Pembimbing Sebaya dengan Guru Pembimbing atau
Guru BK
Dalam pertemuan ini Pembimbing Sebaya melaporkan kegiatan yang
telah dilakukan, kendala-kendala yang dialami di lapangan dan
memberikan masukan-masukan mengenai kegiatan yang akan dilakukan
kemudian. Guru Pembimbing berkewajiban memberikan bimbingan dan
saran-saran kepada Pembimbing Sebaya dalam mengatasi kendala-
kendala yang ada.
c. Pertemuan antara Pembimbing Sebaya dengan stakeholder yang ada
di sekolah, terutama Pembimbing Sebaya, Guru Bimbingan dan
Konseling, wali kelas, dan Kepala Sekolah guna membahas dan
melaporkan semua kegiatan yang telah dilakukan, hambatan dan kendala
serta rencana dan tindak lanjut atas semua permasalahan yang ada.
Kepala Sekolah berkewajiban memberikan masukan, saran dan nasihat
kepada Pembimbing Sebaya mengenai kendala yang dihadapi serta
saran dan nasihat untuk kegiatan yang akan datang. Dalam kegiatan ini
masing-masing Pembimbing Sebaya melakukan sharing tentang berbagai
permasalahan yang ada dan mengkonsultasikan permasalahannya
kepada Guru Bimbingan dan Konseling. Guru Bimbingan dan Konseling
berkewajiban memberikan masukan-masukan yang berharga kepada
Pembimbing Sebaya, dan membuat agenda kegiatan berikutnnya.
d. Pertemuan-pertemuan yang dilakukan juga dimanfaatkan untuk
konferensi kasus.
Pertemuan koordinasi ini dapat dilakukan sesuai jadwal misalnya
seminggu sekali, sebulan sekali atau secara insidental sesuai kebutuhan.
B. Pembimbing Sebaya SMA N 1 Cangkringan
Sebagai langkah awal di tahun pelajaran 2007/2008 di SMA Negeri 1
Cangkringan, telah di bentuk Pembimbing Sebaya, awalnya adalah untuk
melaksanakan program PIK KRR yang akhir-akhir ini sedang digalakkan
dan dikembangkan oleh BKKBN, Dinas Kesehatan Propinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta dan Dinas Kesehatan Bidang Keluarga Berencana
Kabupaten Sleman.
Pembimbing Sebaya yang ada di SMA Negeri 1 Cangkringan untuk
sementara adalah merupakan satu-satunya Pembimbing Sebaya yang
ada di Kecamatan Cangkringan pada saat itu, hal ini terbukti ketika PIK
KRR/Pembimbing Sebaya mengadakan acara dengan tema “Hak
Reproduksi Remaja” dan mengundang sekolah-sekolah yang ada di
lingkungan SMA Negeri 1 Cangkringan, baik SLTP maupun SLTA yakni :
SMK Negeri 1 Cangkringan, SMA Sunan Kalijaga Cangkringan, SMK
Muhammadiyah Cangkringan, SMP Negeri 1 Cangkringan, SMP Negeri 2
Cangkringan, SMP TD Cangkringan, SMA Negeri 1 Pakem, SMA
Muhammadiyah Pakem, serta SMP lain yang ada di Kecamatan
Cangkringan dan Pakem, mereka semua menyampaikan bahwa di
sekolahnya belum terbentuk adanya Pembimbing Sebaya.
Akan tetapi mulai tahun pelajaran 2008/2009 di SLTA se Kecamatan
Cangkringan telah mengikuti jejak kami dan telah membentuk adanya
Pendidik Sebaya yaitu di SMK Negeri 1 Cangkringan, SMK
Muhammadiyah Cangkringan, dan di SMA Sunan Kalijaga Cangkringan.
Semua Pendidik Sebaya tersebut selalu mengadakan koordinasi dan
tukar pendapat dengan Pembimbing Sebaya yang ada di SMA Negeri 1
Cangkringan guna menggali ide-ide dan saling bertukar pengalaman di
antara Pendidik Sebaya di Kecamatan Cangkringan.
Penulis merasakan manfaat yang cukup besar dengan adanya
Pembimbing Sebaya ini. Sehingga dengan inisiatif penulis sendiri
memanfaatkan peluang yang ada ini demi keberhasilan layanan
bimbingan dan konseling di sekolah. Sebagai langkah awal, penulis
berkonsultasi kepada Kepala Sekolah mengenai maksud dan tujuan
pembentukan Pembimbing Sebaya ini, kemudian melakukan koordinasi
dengan staf dan dewan guru mengenai keberadaan Pembimbing Sebaya
peran dan fungsinya.
Untuk tahun 2008/2009 ini merupakan tahun ke-dua adanya Pembimbing
Sebaya di SMA N 1 Cangkringan. Dan kami telah mengadakan kerjasama
dengan lembaga-lembaga yang terkait untuk menunjang keberhasilan
program kami.
Lembaga-lembaga yang kami gandeng masih seputar lembaga atau
instansi yang bergerak di bidang kesehatan, sehubungan dengan program
Kesehatan Reproduksi (Kespro), lembaga tersebut antara lain :
1. Dinas Kesehatan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
2. Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman
3. BKKBN Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
4. CHPSC (Center for Health Policy and Social Change), sebagai
pendamping
5. ICBC sebagai pendamping
6. POLSEK Cangkringan
7. Puskesmas Cangkringan
8. Kecamatan Cangkringan
9. Sekolah-sekolah SLTA yang ada di Kecamatan Cangkringan yaitu :
a. SMK Negeri 1 Cangkringan
b. SMK Muhammadiyah Cangkringan
c. SMA Sunan Kalijaga Cangkringan.

Daftar Siswa Pembimbing Sebaya SMA N 1 Cangkringan.


NO NAMA KELAS NO HP
1 Amelia Krisna XI 08562546254
2 Margareha Putri XI
3 Nita yuniarti XI 081578757040/0274898342
4 Chepy Widyanti XI
5 Risdha M. XI 085643903044
6 Ani safitri XI 085729154686
7 M. Rizky Fahlevi XI 085729241986
8 M. Rifky Aminulloh XI 085643077193
9 Anggi Permata Sari XI

Siswa Pembimbing Sebaya periode tahun pelajaran 2008/2009 ini telah


mengikuti pelatihan yang diadakan selama tiga hari yaitu pada tanggal 7, 8, 9
Juli 2008 (saat liburan kenaikan kelas), bertempat di Omah Jawi, Boyong,
Pakem yang diadakan oleh CHPSC dan ICBC (lembaga yang mendampingi
program Kespro) dan akan mengikuti pelatihan life skill pada tanggal 19 dan
20 Agustus 2008 bertempat di Omah Jawi, Boyong, Pakem.
Tema pelatihan yang diberikan masih berupa tema-tema kespro sedangkan
yang langsung berkaitan dengan bimbingan dan konseling, penulis
mengadakan sendiri di sekolah.
Idealnya keberadaan Pembimbing Sebaya ini ada di setiap kelas, akan tetapi
untuk tahap awal penulis baru dapat memanfaatkan dan membentuk
Pembimbing Sebaya ini di kelas XI, hal ini karena masih merupakan tahap
simulasi di samping kelas yang penulis ampu adalah kelas XI. Meskipun
demikian penulis telah banyak merasakan manfaat yang positif dengan
adanya Pembimbing Sebaya ini.
Keberadaan Pembimbing Sebaya periode tahun lalu telah berhasil
menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik antara lain :
1. Melakukan pencatatan terhadap siswa yang bermasah dan melaporkan
kepada Guru BK.
2. Melakukan pencatatan presensi setiap hari dan rekap presensi setiap akhir
bulan dan akhir semester.
3. Memberikan solusi bagi temannya yang curhat
4. Melakukan kunjungan rumah terhadap teman yang tidak masuk tanpa
keterangan.
5. Menyampaikan informasi kepada Guru BK tantang keadaan siswa di
kelasnya.
6. Melakukan sosialisasi program terhadap teman-teman sekelasnya.
7. Menyampaikan informasi kepada teman sekelasnya akan informasi-
informasi yang dia peroleh dari hasil pelatihan yang diikutinya.
8. Melakukan presentasi melalui Masa Orientasi Siswa (MOS), dengan tema
“Tata Krama Siswa” dan “Cara Belajar”.
9. Pembuatan film yang telah diputar dalam acara tutup tahun dengan judul
“Arti Sebuah Pengorbanan”, yang menceritakan tentang perjuangan seorang
siswa dalam menempuh pendidikannya di SMA sehingga mereka berhasil
meraih sukses dalam UNAS
10. Pembuatan majalah dinding dan papan bimbingan
11. Penyuluhan dan mengundang sekolah-sekolah di lingkungan SMA Negeri
1 Cangkringan.
Untuk tahun 2008/2009 ini mereka telah menyusun program dan rencana
kerja guna membantu keberhasilan layanan Bimbingan dan Konseling.
Rencana dan program kerjanya adalah sebagai berikut :
NO NAMA KEGIATAN WAKTU
PELAKSANA KETERANGAN
1 Melakukan pencatatan presensi Setiap hari
PS dan Guru Pembimbing
2 Melakukan kunjungan rumah pada siswa yang tidak masuk tanpa
keterangan Sesuai kebutuhan PS, Guru Pembimbing, wali kelas
3 Melayani siswa yang curhat Setiap waktu PS , Guru BK
4 Pembuatan majalah dinding
Setiap bulan mulai bulan Agustus PS, Guru Pembimbing, Pembina mading
5 Penelitian tentang kasus-kasus BK Mulai bulan Agustus 2008 PS, Guru
Pembimbing, Pembina KIR
6 Pembuatan film/teater tentang kasus BK Mulai September 2008 PS, Guru
Pembimbing, guru teater Ditayangkan pada saat Tutup Tahun
7 Rapat koordinasi
Setiap bulan minggu terakhir PS, Guru BK, Ka.Sek
8 Penyuluhan melalui MOS Tgl 15 Juli 2008 PS
Guru BK

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Setelah kegiatan-demi kegiatan dalam metode Pembimbing Sebaya ini
dilakukan, maka dapat dirasakan manfaat dan hasil yang signifikan dalam
upaya optimalisasi Layanan Bimbingan dan Konseling di SMA antara lain:
1. Layanan Bimbingan Konseling di SMA menjadi lebih optimal.
2. Layanan Bimbingan Konseling di SMA menjadi lebih efisien dan efektif.
3. Tugas-tugas Guru Bimbingan dan Konseling di sekolah menjadi ringan
dengan adanya siswa yang membantu.
4. Dapat membantu mengatasi masalah siswa dengan data yang lebih
lengkap.
5. Siswa (Pembimbing Sebaya) menjadi lebih percaya diri karena diberi
tanggungjawab oleh guru untuk menjadi bagian dari kegiatan sekolah.
6. Siswa yang bukan Pembimbing Sebaya merasa lebih nyaman curhat
kepada temannya sendiri, tanpa ada perasaan takut, malu dan sungkan.
7. Masalah-masalah yang sebelumnya tidak terungkap menjadi terungkap,
atas informasi dari Pembimbing Sebaya.
8. Peran Pembimbing Sebaya dalam layanan bimbingan dan konseling
sangat strategis.

B. Saran
Setelah penulis merasakan manfaat menggunakan metode ini penulis
menyarankan kepada:
1. Sejawat BK, agar mencoba metode ini, sepanjang tidak merampas hak-
hak siswa sebagai pelajar yang juga punya tugas dan kewajiban belajar.
2. Kepada Kepala Sekolah dan Stafnya diharapkan mau memberi
kesempatan kepada Guru Bimbingan dan Konseling untuk memilih metode-
metode dan strategi dalam Layanan Bimbingan dan Konseling demi
efektifitas dan efisien serta optimalisasi Layanan Bimbingan dan konseling.
3. Pihak sekolah hendaknya dapat memfasilitasi kegiatan ini dengan cara
selalu memberikan dukungan baik moral maupun matrial.
4. Semua guru yang ada di sekolah hendaknya dapat menyambut positif
kegiatan ini, dengan tetap memberikan bimbingan kepada Pembimbing
Sebaya agar dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.
5. Kepada siswa yang diberi tugas sebagai Pembimbing Sebaya hendaknya
mampu menjalankan amanah yang diberikan dengan penuh tanggung jawab.

DAFTAR PUSTAKA
1. Indonesia Youth Partnership.2009. Panduan Pendidikan Sebaya.
2. Kamus Bahasa Indonesia. 2002. Depdiknas, Balai Pustaka.
3. Lentera Sahaja. PKBI. 2000. Panduan Konseling Seksualitas Remaja.
Yogyakarta.
4. Prayitno. 1999. Dasar- dasar Bimbingan dan Konseling. Rineka, Jakarta.
5. Supraktiknya. 1995. Komunikasi Antar Pribadi Tinjauan
Psikologis,Kanisius, : Yogyakarta.

Beri Nilai