Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM IPA SEKOLAH 3

“Penyelidikan Bioteknologi Pangan”

Kelompok 4
Pendidikan IPA A 2019
Elrefi Luthfia A (19312241004)
Widya Aprilia M (19312241005)
Addina Hartika Putri (19312241016)
Nur Ihsan Amalia (19312241020)
Ova Dhea Ariesta (19312241029)

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2021
A. Judul
Penyelidikan Bioteknologi Pangan pada Yoghurt

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh kadar starter terhadap pH yogurt ?
2. Bagaimana pengaruh variasi kadar starter terhadap tekstur yoghurt?
3. Bagaimana peran bakteri pada proses fermentasi yang dilakukan untuk mengubah susu menjadi
yoghurt ?

C. Hipotesis
1. Semakin banyak kadar starter pada yoghurt, semakin rendah pH yoghurt.
2. Semakin banyak kadar starter pada yoghurt, semakin kental tekstur yoghurt.
3. Bakteri pada proses pembuatan yoghurt berperan meningkatkan keasaman dan mengentalkan
tekstur.

D. Tujuan
1. Menyelidiki pengaruh variasi kadar starter terhadap pH yoghurt.
2. Menyelidiki pengaruh variasi kadar starter terhadap tekstur yoghurt.
3. Mengetahui peran bakteri pada proses fermentasi yang dilakukan untuk mengubah susu
menjadi yoghurt.

E. Dasar Teori
Bioteknologi adalah penggunaan organisme atau sistem hidup untuk memecahkan suatu
masalah atau untuk menghasilkan produk yang berguna. Jadi, bioteknologi bukanlah merupakan
terobosan teknologi yang revolusioner karena sebetulnya teknologi ini sudah ada sejak adanya
peradaban manusia (Teuku, 2001: 38). Adapun ciri-ciri utama dari bioteknologi adalah adanya 1)
jasad biologi/renik seperti mikroorganisme, tumbuhan maupun hewan, dan 2) teknologi yang
dapat diaplikasikan secara industri, baik dengan menggunakan proses ekstraksi maupun
pemurnian (Abu Umar dkk, 2019: 5).
Teknologi pangan yang terkait dengan bioteknologi adalah proses perekayasaan suatu gen
atau DNA tertentu dari produk pangan. Tujuan dari bioteknologi pangan adalah mengembangkan
produk pertanian yang tahan terhadap hama dan penyakit, transportasi, serta memperbaiki
penampilan fisik, tekstur dan rasa. Selain itu juga tahan terhadap kondisi cuaca ekstrim, seperti
kekeringan dan suhu dingin sehingga dapat meningkatkan produktivitas pangan yang sebelumnya
terkendala oleh kondisi tanah dan iklim (Teuku, 2001: 31).
Prinsip bioteknologi pangan adalah (Abu Umar dkk, 2019: 12) :
1. Organisme atau produk turunan dari organisme itu sendiri, seperti enzim atau produk-produk
lain yang dihasilkannya
2. Proses yang terjadi akibat adanya mikroorganisme atau produk turunannya tersebut sehingga
tercipta barang atau produk yang mempunyai nilai tambah yang lebih baik, baik zat gizi, rasa,
atau nilai ekonomisnya serta performance secara umum dari produk tersebut. Namun yang
paling utama adalah nilai tambah ekonominya harus meningkat.
Gambar 1. Prinsip Proses Bioteknologi
(Sumber: Abu Umar dkk, 2019: 12)
Aplikasi bioteknologi pangan, meliputi peningkatan kandungan nutrisi, misalnya zat besi
dan beta-karoten (provitamin A) pada wortel dan beras, penghapusan atau penonaktifan gen
penyebab alergi sehingga tidak terekspresi pada biji-bijian dan kacang-kacangan, serta penundaan
proses pematangan pada buah-buah tropis, agar tetap segar. Rockefeller Foundation telah
mengembangkan “Golden Rice”, sebagai pangan dengan sumber vitamin A bagi anak-anak di
negara ketiga, untuk mengurangi risiko rabun senja dan kebutaan. Kentang hasil rekayasa dengan
kandungan pati tinggi menambah potensinya dalam mengurangi kandungan lemak setelah
digoreng. Hal ini karena pati menggantikan kandungan air di dalam kentang sehingga lemak yang
terserap saat digoreng menjadi berkurang (Teuku, 2001: 31).
Menurut Heru Nurcahyo (2011: 10-11) perkembangan bioteknologi dari masa ke masa
secara singkatnya adalah sebagai berikut
1. Bioteknologi konvensional
Bioteknologi konvensional yang diterapkan masyarakat pada produk pangan mempunyai
ciri ciri sebagai berikut.
a. Menggunakan proses turun temurun dan sudah sejak lama diterapkan di masyarakat
b. Memanfaatkan Mikroba sebagai agen biologis tanpa menggunakan rekayasa genetika
jadi proses terjadi secara alamiah
c. Proses ini menggunakan biaya yang relatif murah
d. Peralatan yang digunakan sederhana, yang saat ini produk bioteknologi konvensional
telah diolah secara higienis sehingga sudah terjamin kualitasnya
e. Zaman dulu kualitas produk masih heterogen, saat ini kualitas produk akhir dapat
dipertahankan karena sudah mengikuti kaidah CPPB (Cara Produksi Pangan yang Baik)
dalam proses produksinya
Contoh: industri tempe, tape, anggur, yoghurt, dsb..
2. Bioteknologi modern
Ciri-ciri bioteknologi modern; steril, produksi dalam jumlah banyak (massal), kualitas
standar dan terjamin. Selain itu, bioteknologi modern tidak terlepas dengan aplikasi
metode-metode mutakhir bioteknologi (current methods of biotechnology) seperti:
a. Kultur jaringan merupakan suatu metode untuk memperbanyak jaringan/sel yang
berasal atau yang didapat dari jaringan orisinal tumbuhan atau hewan setelah terlebih
dahulu mengalami pemisahan (disagregasi) secara mekanis, atau kimiawi (enzimatis)
secara in vitro (dalam tabung kaca).
b. Teknologi DNA rekombinan adalah suatu metode untuk merekayasa genetik dengan
cara menyisipkan (insert) gena yang dikehendaki ke dalam suatu organisme. Transgenik
adalah suatu metode untuk. Rekayasa protein (protein engineering).
c. Hibridoma adalah suatu metode untuk menggabungkan dua macam sel eukariot dengan
tujuan mendapatkan sel hibrid yang memiliki kemampuan kedua sel induknya.
d. Kloning adalah suatu metode untuk menghasilkan keturunan yang dikehendaki sama
persis dengan induknya.
e. Polymerase chains reaction (PCR) merupakan metode yang sangat sensitif untuk
mendeteksi dan menganalisis sekuen asam nukleat. RT-PCR untuk memperbanyak
(amplifikasi) rantai RNA menjadi DNA; tissue/cells → extracted → RNA/mRNA →
rT-PCR → copy DNA (cDNA).
f. Hibridisasi DNA adalah metode untuk menyeleksi sekuen DNA dengan menggunakan
probes DNA untuk hibridisasi (pencangkokan) rantai DNA Pita ganda
Proses bioteknologi dapat melibatkan fermentasi. Dikenal 2 tipe fermentasi yaitu
fermentasi kering dan fermentasi basah atau fermentasi terendam. Fermentasi terendam
merupakan tipe fermentasi yang dikembangkan oleh Ebner Hotmaka pada tahun 1949, tipe
fermentasi adalah fermentasi yang berlangsung dengan kultur inokulum terendam dalam media
fermentasi yang biasanya berupa cairan. Fermentasi terendam memiliki efisiensi yang lebih baik,
terutama dalam memproduksi produk-produk fermentasi yang bernilai ekonomis tinggi dan
menghendaki sterilitas yang tinggi seperti dalam produksi antibiotika.
Berdasarkan penggunaan oksigen, fermentasi dibagi menjadi fermentasi aerobik dan
anaerobik. Fermentasi aerob adalah fermentasi yang memerlukan oksigen, sedangkan fermentasi
anaerob tidak memerlukan oksigen (Fardiaz, 1992).
Berdasarkan proses yang dihasilkan oleh mikroba, fermentasi dibagi menjadi tiga jenis,
yaitu:
1. Fermentasi yang memproduksi sel mikroba (biomassa). Produksi komersial dari biomass
dapat dibedakan menjadi produksi yeast untuk industri roti, dan produksi sel mikroba yang
dikenal sebagai protein sel tunggal (PST) atau single cell protein untuk digunakan sebagai
makanan manusia dan hewan.
2. Fermentasi yang menghasilkan enzim dari mikroba. Secara komersial, enzim dapat
diproduksi oleh tanaman, hewan, dan mikroba, namun enzim yang diproduksi oleh mikroba
memiliki beberapa keunggulan yaitu, mampu dihasilkan dalam jumlah besar dan mudah untuk
meningkatkan produktivitas bila dibandingkan dengan tanaman atau hewan.
3. Fermentasi yang menghasilkan metabolit mikroba. Metabolit mikroba dapat dibedakan
menjadi metabolit primer dan metabolit sekunder. Produk metabolisme primer yang dianggap
penting contohnya etanol, asam sitrat, polisakarida, aseton, butanol, dan vitamin. Sedangkan
metabolit sekunder yang dihasilkan mikroba contohnya antibiotik, pemacu pertumbuhan,
inhibitor enzim, dan lain-lain.
Berdasarkan produk yang dihasilkan, fermentasi dibagi menjadi dua jenis, yaitu (Belitz,
2009):
1. Homofermentatif, yaitu fermentasi yang produk akhirnya hanya berupa asam laktat. Contoh
homofermentatif adalah proses fermentasi yang terjadi dalam pembuatan yoghurt.
2. Heterofermentatif, yaitu fermentasi yang produk akhirnya berupa asam laktat dan etanol
sama banyak. Contoh heterofermentatif adalah proses fermentasi yang terjadi dalam
pembuatan tape.
F. Variabel
Variabel bebas Jumlah starter yang dimasukkan (gram)

Variabel kontrol Jenis susu, jumlah susu (mL), suhu, jenis starter, lama pengadukan

Variabel terikat pH yoghurt, tekstur yoghurt

G. Alat dan Bahan


1. Alat :
a. Panci
b. Kompor
c. Wadah bertutup (3 buah @praktikan)
d. Alumunium foil
e. Pengaduk
f. Sendok

2. Bahan
a. Susu UHT (500 mL @praktikan)
b. Susu bubuk (27 gram @praktikan)
c. Starter yoghurt (78 gram @praktikan)

H. Prosedur Kerja
Preparasi susu sebagai bahan yoghurt:
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Mengukur pH susu UHT dan mengamati teksturnya
3. Merebus susu UHT sebanyak 500 mL pada api kecil sampai menjadi hangat (90ºC-95ºC)
sambil diaduk perlahan
4. Mempertahankan suhu susu selama 15 menit
5. Mengangkat susu lalu membiarkan hingga dingin (40-45ºC)
6. Menambahkan susu bubuk sebanyak 27 gram (2 sendok makan) diaduk perlahan
Tahap fermentasi:
1. Memindahkan susu ke dalam wadah bertutup yang telah diberi label A, B, dan C
masing-masing sebanyak 167 mL
2. Memasukkan starter ke dalam masing-masing wadah berlabel A : 2 sdm starter, label B :
1 sdm starter, dan label C : 0,5 sdm starter
3. Mengaduk hingga masing-masing starter tercampur rata, kemudian ditutup rapat.
4. Menginkubasi pada suhu ruang selama 1x24 jam.
Pengamatan
Setelah diinkubasi, yoghurt diamati teksturnya dan diukur pH nya.
I. Data Hasil
pH Produk Tekstur Produk

NIM A B C A B C

Awal Akhir Awal Akhir Awal Akhir Awal Akhir Awal Akhir Awal Akhir

004 8 7 8 7 8 7 + +++ + +++ + +++

005 7 5 7 5 7 5 + ++++ + +++ + ++

016 6 5 6 5 6 5 + ++++ + +++ + ++

020 7 5 7 6 7 6 + +++ + ++ + ++

029 7 5 7 5 7 5 + +++ + +++ + ++

Keterangan:
+ = encer
++ = sedikit kental
+++ = cukup kental
++++ = kental
J. Pembahasan
Praktikum yang berjudul Penyelidikan Bioteknologi Pangan bertujuan untuk menyelidiki
pengaruh variasi kadar starter terhadap pH yoghurt, menyelidiki pengaruh variasi kadar starter
terhadap tekstur yoghurt, dan mengetahui peran bakteri pada proses fermentasi yang dilakukan
untuk mengubah susu menjadi yoghurt. Praktikum dilaksanakan rumah masing-masing praktikan.
Alat yang digunakan yaitu panci, kompor wadah bertutup (3 buah @praktikan), botol minum kecil
(3 buah @praktikan), aluminium foil, pengaduk, sendok, termometer. Bahan yang digunakan yaitu
susu UHT (500 mL @praktikan), susu bubuk (27 gram @praktikan), dan starter yoghurt (78 gram
@praktikan).
1. Pengaruh variasi kadar starter terhadap pH yoghurt
Proses fermentasi susu UHT dilakukan dengan penambahan starter yoghurt berupa
yoghurt plain komersil merk Biokul, yang mana dalam starter tersebut mengandung kultur
hidup S. thermophilus, L. bulgaricus, L. acidophilus, dan Bifidobacterium. Selama proses
fermentasi menjadi yoghurt terjadi perubahan pH. Susu UHT yang awalnya mempunyai pH 6-7
setelah difermentasi selama 24 jam mengalami penurunan pH yakni menjadi 5 dan 6. pH yang
terbentuk sudah mendekati nilai pH batas normal. Menurut Marshall (1987), terbentuknya
asam laktat menyebabkan yoghurt memiliki rasa asam dan pH antara 3,8-4,6 berbentuk semi
solid.
Penurunan pH pada hasil praktikum sesuai dengan pernyataan Zainuddin (2014: 17),
pada proses fermentasi susu menjadi yoghurt, sukrosa yang merupakan disakarida akan diurai
terlebih dahulu menjadi monosakarida-monosakarida penyusunnya yaitu fruktosa dan glukosa.
Selanjutnya glukosa akan dimanfaatkan oleh kultur bakteri sebagai sumber energi dan sebagian
lagi akan dimetabolisir lebih lanjut menjadi asam-asam organik terutama asam laktat.
Asam-asam organik akan menurunkan pH yoghurt. Hadiwiyoto (1983) menyatakan keasaman
yang tinggi atau pH yang rendah pada yoghurt menunjukkan bahwa telah banyak laktosa yang
diubah menjadi asam laktat.
Pada yoghurt praktikan 004, 005, 016, dan 029 variasi kadar starter tidak mempengaruhi
pH, pada praktikum 020 justru pH naik pada penambahan starter 1 dan 0,5 sendok. Hal ini
kurang sesuai dengan hasil penelitian Heru (2010: 16), bahwa semakin banyak starter yang
digunakan maka kadar asam meningkat. Peningkatan konsentrasi starter akan diikuti pula
dengan peningkatan kadar asam, karena peningkatan konsentrasi starter berarti peningkatan
jumlah mikroba pada media. Peningkatan ini akan diikuti dengan peningkatan aktivitas serta
perkembangan mikroba dan kemudian terjadi peningkatan perombakan laktosa menjadi asam
laktat yang dicerminkan dengan kadar asam yoghurt (Kusmajadi et al, 1988). Rasa asam
disebabkan oleh donor proton, intensitas rasa asam tergantung pada ion H+ yang dihasilkan
oleh hidrolisis asam (Winarno, 1991).
Ketidaksesuaian dimungkinkan terjadi karena faktor lingkungan terutama suhu awal
ketika pemanasan yang kurang sesuai, dimana suhu pasteurisasi ideal untuk pembuatan yoghurt
menurut Abu, dkk (2019: 40) adalah 90ºC - 95ºC. Pengukuran suhu tidak dilakukan dengan
termometer, sehingga dimungkinkan suhu pasteurisasi susu terlalu tinggi. Hal tersebut
menyebabkan reaksi tidak terjadi secara sempurna, sehingga variasi kadar starter tidak
mempengaruhi keasaman yoghurt (Abu dkk, 2019: 13). Reaksi yang dimaksud adalah:
Asam piruvat → Asam laktat + CO₂ + H₂O
2. Pengaruh variasi kadar starter terhadap tekstur yoghurt
Hasil praktikum ini menunjukkan bahwa yoghurt dengan 2 sdm starter memiliki tekstur
kental, yoghurt dengan 1 sdm starter memiliki tekstur cukup kental, dan yoghurt dengan 0,5
sdm starter memiliki tekstur agak kental. Hasil praktikum NIM 004, 005, 016, dan 029
menunjukkan bahwa yoghurt yang dibuat dengan 2 sdm starter menghasilkan tekstur yang
kental, dan merupakan tekstur yang paling kental diantara ketiga sampel. Hasil tersebut sesuai
dengan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) 2981: 2009, yoghurt yang baik adalah yoghurt
yang bertekstur kental. Sedangkan hasil praktikum NIM 020 memiliki tekstur yang cukup
kental dan sedikit kental, hal ini dapat terjadi karena jumlah susu yang dimasukkan dalam
wadah kurang sesuai dengan takaran yang ada. Winarno (1991), menyatakan bahwa kekentalan
dipengaruhi oleh total padatan yang terdapat dalam susu fermentasi. Total padatan dalam susu
juga berperan untuk pembentukan tekstur dan aroma yoghurt yang baik. Dalam hal ini laktosa,
glukosa, galaktosa pada susu fermentasi diurai oleh bakteri asam laktat sehingga
mempengaruhi kekentalan susu fermentasi.
Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa jumlah starter berpengaruh terhadap tekstur
yoghurt. Semakin banyak jumlah starter yang diberikan dalam susu, maka semakin kental
tekstur yoghurt. Hal ini sesuai dengan pendapat Heru (2010: 26), bahwa perbedaan konsentrasi
starter memberikan pengaruh terhadap tekstur yoghurt. Jumlah mikroorganisme dalam starter
yang digunakan sangat berperan dalam pembentukan formasi dan rasa serta tekstur yoghurt.
Hal ini disebabkan karena terjadi penurunan pH sehingga semakin kecil pH maka yoghurt
menjadi semakin kental atau semi solid. Hal senada juga diungkapkan Marshall (1987),
terbentuknya asam laktat menyebabkan yoghurt memiliki rasa asam dan pH antara 3,8-4,6
berbentuk semi solid.

K. Kesimpulan
1. Semakin banyak kadar starter pada yoghurt, semakin rendah pH yoghurt.
2. Semakin banyak kadar starter pada yoghurt, semakin kental tekstur yoghurt.
3. Bakteri pada proses pembuatan yoghurt berperan meningkatkan keasaman dan mengentalkan
tekstur.

L. Jawab Pertanyaan
1. Berdasarkan hasil penyelidikan kalian, bagaimana kaitan antara proses pembuatan suatu
produk bioteknologi dengan konsep bioteknologi?
Jawab:
2. Bagaimana peran makhluk hidup dalam pembuatan produk bioteknologi tersebut!
Jawab: Bakteri pada proses pembuatan yoghurt berperan meningkatkan keasaman dan
mengentalkan tekstur. Proses perombakan dalam memproduksi yoghurt mengikuti kaidah ini:
- Laktosa → Glukosa + Galaktosa (kerja: enzim β-galaktosidase)
- Glukosa + Galaktosa →Asam piruvat (kerja: Bakteri Asam Laktat)
- Asam piruvat → Asam laktat + CO₂ + H₂O (kerja: Bakteri Asam Laktat)
3. Simpulkan hasil penyelidikan kalian!
Jawab:
- Semakin banyak kadar starter pada yoghurt, semakin rendah pH yoghurt.
- Semakin banyak kadar starter pada yoghurt, semakin kental tekstur yoghurt.
- Bakteri pada proses pembuatan yoghurt berperan meningkatkan keasaman dan
mengentalkan tekstur.

Daftar Pustaka

Abu Umar, dkk. 2019. MODUL 01: Definisi, Prinsip Dasar, dan Perkembangan Bioteknologi Pangan.
Diakses dari https://www.pustaka.ut.ac.id/, pada tanggal 17 September 2021, pukul 10.34 WIB.
Badan Standardisasi Nasional. 2009. Yoghurt. Diakses dari http://profood.unram.ac.id/, pada tanggal
17 Oktober 2021, pukul 15.11 WIB.
Belitz, H.D., W. Grosch, and P. Schieberle. 2009. Food chemistry 4th. Berlin: Springer-Verlag.
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pengolahan Pangan Lanjut. Dep.Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Bogor; IPB.
Hadiwiyoto, S. 1983. Teori dan Prosedur Pengujian Mutu Susu dan Hasil Olahannya. Yogyakarta:
Penerbit Liberty.
Heru Nurcahyo. 2011. Diktat Bioteknologi. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Biologi Universitas
Negeri Yogyakarta.
Heru Prasetyo. 2010. Pengaruh Penggunaan Starter Yoghurt pada Level Tertentu terhadap
Karakteristik Yoghurt yang Dihasilkan [Skripsi]. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Kusmajadi, et al. 1988. Pengaruh Tingkat dan Jenis Penambahan Starter Pada Pembuatan Yoghurt.
Prosiding Bioproses Industri Pangan hal 191-199. Pusat antar Universitas Pangan dan Gizi
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta: Penerbit Liberty.
Marshall, V. M., 1987. Fermented Milk and Their Future Trends. Journal of Dairy Res. 54: 559-574.
Teuku Tajuddin. 2001. Pengantar Bioteknologi. Bandung: Universitas Terbuka.
Winarno, F. G. 1991. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia.
Zainuddin. 2014. Pengaruh Konsentrasi Starter dan Lama Fermentasi terhadap Mutu Yoghurt sari
Kedelai. Jurnal Agrina 1(1): 14-22.
Lampiran 1. Dokumentasi Kegiatan

Gambar 3. Tekstur yoghurt A Gambar 4. pH yoghurt A setelah


(005). fermentasi (005).
Gambar 1. Adonan yoghurt Gambar 2. Adonan setelah Sumber: dok. pribadi. Sumber: dok. pribadi.
sebelum difermentasi (005). difermentasi 1x24 jam (005).
Sumber: dok. pribadi. Sumber: dok. pribadi.

Gambar 6. Tekstur yoghurt B Gambar 6. pH yoghurt B setelah Gambar 7. Tekstur yoghurt C Gambar 8. pH yoghurt C setelah
(005). fermentasi (005). (005). fermentasi (005).
Sumber: dok. pribadi. Sumber: dok. pribadi. Sumber: dok. pribadi. Sumber: dok. pribadi.
Gambar 9. Adonan yoghurt Gambar 10. Adonan setelah Gambar 11. pH susu sebelum Gambar 12. pH yoghurt A setelah
sebelum difermentasi (016) difermentasi 1x24 jam (016) difermentasi (016) fermentasi (016)
Sumber: dok. pribadi. Sumber: dok. pribadi. Sumber: dok. pribadi. Sumber: dok. pribadi.

Gambar 13. pH yoghurt B setelah Gambar 14. pH yoghurt C setelah Gambar 15. Tekstur yoghurt A Gambar 16. Tekstur yoghurt B
fermentasi (016) fermentasi (016) (016) (016)
Sumber: dok. pribadi. Sumber: dok. pribadi. Sumber: dok. pribadi. Sumber: dok. pribadi.

Gambar 17. Tekstur yoghurt C


(016) Gambar 18 pH susu sebelum
Sumber: dok. pribadi. difermentasi (020)
Sumber: dok. pribadi. Gambar 20 pH yoghurt B setelah
Gambar 19 pH yoghurt A setelah fermentasi (020)
fermentasi (020) Sumber: dok. pribadi.
Sumber: dok. pribadi.

Gambar 23 tektur yoghurt B Gambar 24 tektur yoghurt C


Gambar 21 pH yoghurt C setelah Gambar 22 tektur yoghurt A setelah fermentasi (020) setelah fermentasi (020)
fermentasi (020) setelah fermentasi (020) Sumber: dok. pribadi Sumber: dok. pribadi
Sumber: dok. pribadi Sumber: dok. pribadi

Gambar.25 Gambar.26
Sampel yoghurt sebelum Sampel yoghurt setelah fermentasi Gambar.27 Gambar.28
fermentasi (1x24) jam tekstur sampel yoghurt sebelum tekstur sampel yoghurt setelah
Sumber : Dok. Praktikan(004) Sumber : Dok.Praktikan (004) fermentasi fermentasi (1x24)jam
Sumber : Dok.Praktikan(004) Sumber : Dok.Praktikan(004)
Gambar.29 Gambar.30 Gambar.31 Gambar.32
sampel pH yoghurt A sebelum sampel pH yoghurt B sebelum sampel pH yoghurt C sebelum sampel pH A,B dan C setelah
fermentasi fermentasi fermentasi fermentasi
Sumber : Dok, Praktikan (004) Sumber : Dok. Praktikan (004) Sumber : Dok. Praktikan (004) Sumber : Dok. Praktikan (004)

Gambar . Adonan yoghurt sebelum Gambar . Proses pembuatan Gambar . pH awal adonan yoghurt
difermentasi (029). adonan yoghurt penambahan stater (029).
Sumber: dok. pribadi. (029). Sumber: dok. pribadi.
Gambar . Proses pembuatan Sumber: dok. pribadi.
adonan yoghurt penambahan susu
bubuk (029).
Sumber: dok. pribadi.
Gambar . Adonan yoghurt sesudah
difermentasi (029).
Sumber: dok. pribadi.

Gambar . Adonan yoghurt sampel Gambar . Adonan yoghurt sampel Gambar . Adonan yoghurt sampel
A sesudah difermentasi (029). B sesudah difermentasi (029). C sesudah difermentasi (029).
Sumber: dok. pribadi. Sumber: dok. pribadi. Sumber: dok. pribadi.

Anda mungkin juga menyukai