Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

ACTIVITY BASED COSTING

AKUNTANSI MANAJEMEN 2
Dosen : IFANNY ADNAN PRATAMA, S.E., M.Ak

Disusun Oleh :
KELOMPOK 3

GALISTA 1816120139 RISMAYANTI OKTAPIANI 1816120171


MUHAMAD SUKARNO 1816120143 USMADI 1816120176
HARINA ZULFA MEGA 1816120145 RATIH NURANGGRAENI 1816120221
AGUNG PRATAMA 1816120161 TANTRIANA AGUSTIN 1816120222
DINI INRIANA 1816120163 ZENABA DILLA 1816120233

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI
PUTRA PERDANA INDONESIA
2020

1|Page
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan YME. Atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya
hingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Activity Based Costing” ditengah
pandemic yang sedang berlangsung ini. Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk
memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Eknomi Putera
Perdana Indonesia (STIE PPI).

Ucapan terima kasih juga tak lupa kami sampaikan kepada semua pihak yang ikut
mendukung dan membantu penyusunan makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini jauh dari kata sempurna, baik dari
segi penyusunan, bahasan, bahasa ataupun penulisannya. Oleh karena itu kami mengharapkan
kritik dan saran yang sifatnya membangun, khususnya dari dosen pengampu guna menjadi acuan
dalam bekal pengalaman bagi kami untuk lebih baik dimasa yang akan datang. Harapan saya
semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan menambah pengetahuan terutama bagi
penyusun serta bermanfaat bagi para pembaca.

Tangerang, 13-11-2020

PENYUSUN

2|Page
Daftar Isi

Kata Pengantar

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG...................................................................................................................... 4

B. RUMUSAN MASALAH ................................................................................................................ 5

C. TUJUAN ..................................................................................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ACTIVITY BASED COSTING ................................................................................... 6

B. PENGERTIAN ACTIVITY BASED COSTING MENURUT PARA AHLI ............................................... 7

C. PENGGUNAAN ACTIVITY BASED COSTING ................................................................................ 9

D. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN ACTIVITY BASED COSTING ...................................................... 12

E. MANFAAT ACTIVITY BASED COSTING ..................................................................................... 14

F. TAHAP-TAHAP PERANCANGAN SISTEM ACTIVITY BASED COSTING ...................................... 14

G. CONTOH CARA PERHITUNGAN MODEL AKUNTANSI ABC....... ................................................ 17

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN…………………………....………………………………………………………………………………………….21

DAFTAR PUSTAKA

3|Page
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Suatu bisnis hendaknya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dan


mensejahterakan seluruh orang yang terlibat didalamnya serta para pemegang sahamnya.
Demi mencapai hal tersebut, perusahaan haruslah memiliki suatu sistem, prosedur atau
proses tertentu yang dapat menunjang tercapainya tujuan-tujuan tersebut.

Untuk dapat mencapai kualitas produk yang baik dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan
perusahaan harus mampu menghasilkan produk yang sesuai dengan keinginan
pelanggan. Usaha menghasilkan produk yang bermutu hanya dapat dicapai bila proses
bermutu dapat dicapai. Perbaikan-perbaikan yang dapat dilakukan penghematan di
berbagai bidang hanya dapat dilakukan dalam suatu proses yang berlangsung panjang
dan terus menerus dan berkesinambungan.

Penggunaan sistem tradisional (istilah yang digunakan untuk pembebanan overhead


pabrik dengan satu cost pool atau satu dasar pembebanan) aka menghasilkan
kesalahanperhitungan biaya, khususnya produk yang memiliki volume tinggi dan biaya
tenaga kerja langsung tinggi akan kelebihan pembebanan biaya. Untuk mengatasi maalah
yang timbul dalam pembebanan, maka dikembangkan metode ABC (Activity Based
Costing) pada perusahaan manufaktur di Amerika Serikat pada tahun 1970-an hingga
1980-an.

Metode ABC menawarkan agar pembebanan overhead didasarkan pada presentase


proporsional kepada biaya lain atau kepada produk. Tetapi kepada kegiatan yang
dilaksanakan untuk memproduksi barang itu, yang diperhatikan adalah unsur yang men
“drive” biaya itu (cost driver) bukan produknya. Kalau konsep ini diterapkan maka

4|Page
keputusan yang diambil akan lebih tepat dan perusahaan tidak mengalami kerugian
hanya karena kesalahan unit cost.

B. RUMUSAN MASALAH
1) Apa yang dimaksud dengan Activity Based Costing dan bagaimana konsepnya?

2) Bagaimana cara kerja Activity Based Costing?

3) Apa kekurangan dan kelebihan sistem Activity Based Costing?

C. TUJUAN
1) Untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Manajemen 2

2) Agar penyusun dan pembaca dapat mengetahui konsep dan pengertian dari Activity Based

Costing

3) Untuk mengetahui bagaimana cara kerja dari sistem Activity Based Costing

4) Untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan dari sistem Activity Based Costing

5|Page
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ACTIVITY BASED COSTING


Activity based costing (ABC) adalah sebuah metode akuntansi yang mengidentifikasi
dan menetapkan biaya untuk aktivitas overhead dan kemudian menetapkan biaya
tersebut untuk produk. Sistem activity based costing mempunyai hubungan antara
biaya, aktivitas overhead, dan produk yang diproduksi.

Menurut Kusnadi dkk. dalam buku Akuntansi Manajemen Komprehensif Tradisional


dan Kontemporer, ABC secara garis besar didefinisikan sebagai suatu sistem
penetapan biaya pokok dimana banyak kumpulan biaya overhead dialokasikan
dengan mempergunakan dasar yang dapat mencakup satu atau lebih faktor yang
terkait dengan volume.

Dalam kamus istilah ekonomi, activity based costing (ABC) merupakan pendekatan
penghitungan analisis biaya yang membantu manajemen untuk menganalisis dasar
perhitungan biaya secara lebih bermanfaat, menginformasikan aktivtas seluruh
bagian organisasi yang memberikan gambaran lebih jelas terhadap hubungan antara
aktivitas dan biaya, selain itu, ABC merupakan dasar upaya untuk memahami pola
perilaku seluruh jenis biaya organisasi yang menghubungkan biaya operasi dalam
sebuah rantai nilai agar manajemen mampu mengidentifikasi faktor-faktor yang
mendorong terjadinya pengeluaran serta memfokuskan diri pada jenis biaya kunci
dan selanjutnyamengelola biaya tersebut secara lebih efektif.

Model ABC ini digunakan untuk mengalokasikan semua biaya, berdasarkan sumber
daya yang digunakan untuk menjalankan aktivitas yang berkaitan dengan produk dan
jasa yang disediakan bagi pelanggan. Model ABC ini didasari pada konsep bahwa
untuk menjalankan suatu rencana, manajemen perusahaan melaksanakan

6|Page
serangkaian aktivitas. Dalam melaksanakan aktivitas-aktivitas tersebut akan
mengkonsumsi sumber daya, baik berupa material, tenaga kerja, mesin-mesin,
gedung, dan sebagainya. Konsumsi sumber daya ini menimbulkan terjadinya cost
atau biaya. Model ABC mengkaitkan antara aktivitas dengan konsumsi sumber daya.

Dalam sistem akuntansi tradisional hanya manufacturing cost dibebankan ke produk


meskipun biaya manufaktur tersebut bukan penyebab timbulnya produk tersebut.
Seperti biaya penjualan dan administratif diperlakukan sebagai period cost dan
tidak dibebankan kepada produk. Bagaimanapun banyak juga non-manufacturing
cost sebagai bagian dari ongkos produksi, seperti penjualan, distribusi, dan pelayanan
produk-produk tertentu. Di dalam Activity-Based Costing ( ABC ), produk hanya
dibebani semua biaya yang semestinya menjadi beban untuk menghasilkan barang
tersebut.

ABC berusaha mengidentifikasi hubungan sebab-akibat (cause and effect) untuk


menentukan biaya secara obyektif. Setelah biaya aktivitas diidentifikasi, biaya setiap
aktivitas tersebut dihubungkan pada setiap produk, jasa, dan pelanggan sesuai
dengan aktivitas yang dijalankan. Dengan cara ini, ABC sering mengidentifikasi
bidang-bidang dengan biaya overhead per unit yang tinggi, dan mampu mengarahkan
perhatian manajemen perusahaan untuk mencari cara mengurangi biaya, atau
membebankan harga lebih tinggi bagi produk-produk mahal (Kaplan & Cooper, 1998).

Activity-based costing dapat berguna jika biaya overhead tinggi dan


produk/pelanggan sangat bervariasi dalam kaitannya dengan kompleksitas dan biaya
penanganan. ABC mengubah indirect cost menjadi direct cost. Sebagai suatu sistem
cost management yang lebih akurat daripada akuntansi biaya tradisional, ABC
mengidentifikasi peluang-peluang untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dari
proses bisnis dengan menentukan true cost suatu produk atau jasa.

B. PENGERTIAN ACTIVITY BASED COSTING MENURUT PARA AHLI

7|Page
1) Wayne J. Morse, James R. Davis dan A. L. Hartgraves
Dalam bukunya Management Accounting (1991) memberikan defenisi
mengenai Activity-Based Costing (ABC), sebagai sistem pengalokasian dan
pengalokasian kembali biaya ke objek biaya dengan dasar aktivitas yang
menyebabkan biaya. Sistem ABC ini didasarkan pada pemikiran bahwa
aktivitas penyebab biaya dan biaya aktivitas harus dialokasikan ke objek biaya
dengan dasar aktivitas biaya tersebut dikonsumsikan. Sistem ABC ini
menelusuri biaya ke produk sebagai dasar aktivitas yang digunakan untuk
menghasilkan produk tersebut.

2) Ray H. Garrison

Dalam bukunya Managerial Accounting (1991) memberikan definisi


mengenai Activity-Based Costing (ABC), sebagai suatu metode kalkulasi biaya
yang menciptakan suatu kelompok biaya untuk setiap kejadian atau transaksi
(aktivitas) dalam suatu organisasi yang berlaku sebagai pemacu biaya.
Biaya overhead kemudian dialokasikan ke produk dan jasa dengan dasar
jumlah dari kejadian atau transaksi produk atau jasa yang dihasilkan tersebut.

3) Douglas T. Hicks

Dalam bukunya Activity-Based Costing for Small and Mid-sized Busines An


Implementation Guide (1992) memberikan defenisi mengenai Activity-Based
Costing (ABC), sebagai merupakan sebagai suatu konsep akuntansi biaya yang
berdasarkan atas pemikiran bahwa produk mengkonsumsi aktivitas dan
aktivitas yang menimbulkan biaya. Dalam sistem biaya ABC ini dirancang
sedemikian rupa sehingga setiap biaya yang tidak dapat dialokasikan secara
langsung kepada produk, dibebankan kepada produk berdasarkan aktivitas
dan biaya dari setiap aktivitas kemudian dibebankan kepada produk
berdasarkan konsumsi masing-masing aktivitas tersebut.

8|Page
4) L. Gayle Rayburn

Dalam bukunya Cost Accounting-Using Cost Management Approach (1993)


memberikan definisi mengenaiActivity-Based Costing (ABC), sebagai suatu
sistem yang mengakui bahwa pelaksanaan aktivitas menimbulkan konsumsi
sumber daya yang dicatat sebagai biaya, atau dengan kata lain bahwa ABC
tersebut adalah merupakan pendekatan kalkulasi biaya yang berbasis pada
transaksi. Sistem biaya ABC itu sendiri adalah mengalokasikan biaya ke
transaksi dari aktivitas yang dilaksanakan dalam suatu organisasi, dan
kemudian mengalokasikan biaya tersebut secara tepat ke produk sesuai
dengan pemakaian aktivitas setiap produk.

5) Charles T. Horngren, Gary L. Sundem dan William O. Stratton

Dalam bukunya Introduction to Management Accounting (1996) memberikan


defenisi mengenai Activity-Based Costing (ABC), sebagai suatu sistem yang
merupakan pendekatan kalkulasi biaya yang memfokuskan pada aktivitas
sebagai objek biaya yang fundamental istem ABC ini menggunakan biaya dari
aktivitas tersebut sebagai dasar untuk mengalokasikan biaya keobjek biaya
yang lain seperti produk, jasa, atau pelanggan.

C. PENGGUNAAN ACTIVITY BASED COSTING

1) Langkah dalam melakukan analisis ABC


Ada lima langkah yang dilibatkan dalam melakukan analisis ABC (Kaplan & Cooper,
1998):

a) Tentukan objek biaya, aktivitas tidak langsung, dan sumber daya yang
digunakan bagi aktivitas tak langsung;
b) Tentukan biaya per aktivitas tak langsung;
c) Identifikasi cost driver untuk setiap sumber daya;
d) Hitung biaya total produk tidak langsung untuk jenis objek biaya;

9|Page
e) Membagi biaya total berdasarkan kuantitas untuk biaya tidak langsung per
objek individu.

2) Syarat Penerapan Activity Based Costing


Dalam penerapannya, Activity Based Costing memiliki tiga syarat wajib yang
harus dipenuhi, yaitu:

a) Perusahaan memiliki tingkat diversitas tinggi

Syarat yang pertama perusahaan diharuskan memiliki produksi bermacam-


macam produk atau lini produk yang diproses dengan fasilitas yang sama.
Kondisi demikianlah yang nantinya akan menimbulkan masalah dalam
melakukan pembebanan biaya ke masing-masing produk.

b) Tingkat persaingan yang tinggi

Jika persaingan produk dari perusahaan lain tinggi, maka perusahaan akan
meningkatkan persaingan untuk memperbesar jangkauan pasarnya, semakin
besar jangkauan pasarnya maka semakin besar pula peran informasi tentang
penentuan harga pokok yang dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan.

c) Biaya pengukuran rendah

Biaya yang digunakan dalam pengukuran sistem ABC haruslah lebih rendah
dari manfaat yang akan diperoleh, jika sampai biayanya di atas dari manfaat,
maka perusahaan akan mengalami kerugian.

d) Period cost allocation

10 | P a g e
Tersedianya sistem akuntansi biaya untuk mengalokasikan biaya periode secara
akurat dan berkala dengan jangka waktu tertentu dalam suatu perusahaan. Hal
tersebut dilakukan untuk memperkecil biaya produksi dengan menjadikannya
proporsi yang paling besar dalam pembiayaan perusahaan.

3) Cara mengimplementasikan ABC

a) Mengubah dan mengeloborasi dari accounting costs-cost centers ke dalam


activity costs.
b) Menggunakan analisis ABC untuk mengidentifikasi dan membedakan antara
aktivitas yang memberikan nilai tambah dan aktivitas yang tidak memberikan
nilai tambah bagi produk dan pelanggan.
c) Menggunakan analisis aktivitas untuk melakukan pengurangan biaya
operasional berdasarkan aktivitas.
d) Menggunakan ABC untuk analisis profitabilitas per produk dan pelanggan.

4) Sisi lain potensi penggunaan activity-based costing


a) Memberikan pemahaman yang lebih baik bagi manajemen perusahaan
mengenai cost driver. Model akuntansi biaya tradisional tidak memberikan
perhatian pada penyebab terjadinya biaya (cost driver). Penggunaan ABC
memungkinkan manajer untuk melihat keterkatian antara penyebab biaya
(cost driver) dengan biaya secara rasional. Dengan memahami cost driver ini
memungkinkan manajer mengetahui biaya mana yang merupakan good costs
dan bad costs.

b) Mampu membedakan antara biaya yang memberikan nilai tambah (value–


adding cost) dan biaya yang tidak memberikan nilai tambah (nonvalue–adding
costs). Pada umumnya, para manajer berkeinginan untuk melakukan
pengurangan biaya melalui eliminasi aktivitas yang tidak memberikan nilai
tambah. Namun, tanpa bantuan analisis ABC, manajer akan mengalami

11 | P a g e
kesulitan dalam mengidentifikasi aktivitas mana yang memberikan nilai
tambah dan aktivitas mana yang tidak memberikan nilai tambah, sehingga
manajer mampu melakukan eliminasi pada aktivitas yang tidak memberikan
nilai tambah.

c) Mampu menyediakan informasi untuk analisis profitabilias per produk dan


pelanggan. Dalam organisasi perusahaan, seringkali ditemukan beberapa
produk atau pelanggan yang tidak memberikan kontribusi profit terhadap
perusahaan. Manajer perlu mengidentifikasi, produk dan pelanggan mana
yang tidak memberikan profit tersebut, dan keputusan stratejik dapat diambil
untuk meningkatkan profitabilitas produk dan pelanggan dengan
menggunakan analisis ABC.

d) Mampu memberikan informasi secara akurat bagi manajemen, selain untuk


alokasi biaya overhead, manajemen dapat berfokus pada eliminasi biaya
overhead. Biaya overhead merupakan salah satu komponen biaya produk
yang cukup besar, terutama pada perusahaan yang menggunakan teknologi
dan investasi padat modal. Manajer berfokus pada penurunan biaya
overhead dan meningkatkan utilisasi kapasitas pabrik dengan menggunakan
analisis ABC.

D. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN ACTIVITY BASED COSTING


1) Kelebihan sistem activity based costing
 Memudahkan manajemen untuk mendapatkan informasi product
cost-assignment secara akurat.
 Membantu manajemen untuk menelusuri dan mengidentifikasi cost-
driver ke dalam Pool Activity.

12 | P a g e
 Mempermudah aktivitas perencanaan dan pengendalian overhead
cost dengan adanya “Pooling-Cost Activity”.
 ABC memberikan peluang untuk melakukan desain “cost-reduction
activity” terhadap produk yang akan diproduksi.
 Meningkatkan kemampuan manajemen dalam menyusun cashflow
perusahaan dengan memisahkan biaya ke dalam Cost Pooling Activity.
 Semakin banyak overhead dapat ditelusuri ke produk. Dalam pabrik
yang modem, terdapat sejumlah aktivitas non lantai pabrik yang
berkembang. Analisis sistem biaya ABC itu sendiri memberi perhatian
pada semua aktivitas sehingga biaya aktivitas yang non lantai pabrik
dapat ditelusuri.
 Sistem biaya ABC memberikan suatu indikasi yang dapat diandalkan
dari biaya produk variabel jangka panjang (long run variabel product
cost) yang relevan terhadap pengambilan keputusan yang strategik.
 Sistem biaya ABC cukup fleksibel untuk menelusuri biaya ke proses,
pelanggan, area tanggungjawab manajerial, dan juga biaya produk.

2) Kelemahan sistem activity based costing


 Metode untuk melakukan implementasi dan pengembangan Activity
Based Costing terbilang mahal.
 Waktu untuk implementasi ABC dari mulai hingga selesai
membutuhkan waktu yang lama, biasanya lebih dari satu tahun sampai
bisa berhasil.
 Metode Activity Based Costing belum termasuk biaya iklan, promosi
dan riset.
 Laporan Activity Based Costing tidak sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku saat ini.
 Karena Laporan Keuangan sifatnya timeliness maka ABC sulit
dilaksanakan karena adanya kendala periode waktu.

13 | P a g e
E. MANFAAT ACTIVITY BASED COSTING
 Suatu pengkajian sistem biaya ABC dapat meyakinkan pihak manajemen bahwa
mereka harus mengambil sejumlah langkah untuk menjadi lebih kompetitif.
Sebagai hasilnya, mereka dapat berusaha untuk meningkatkan mutu sambil
secara simultan fokus pada pengurangan biaya yang memungkinkan.
 Pihak manajemen akan berada dalam suatu posisi untuk melakukan penawaran
kompetitif yang lebih wajar.
 Sistem biaya ABC dapat membantu dalam pengambilan keputusan
(management decision making) dengan penentuan biaya yang lebih akurat maka
maka keputusan yang akan diambil oleh phak manajemen akan lebih baik dan
tepat.
 Mendukung perbaikan yang berkesinambungan (continuous improvement),
melalui analisa aktivitas, sistem ABC memungkinkan tindakan eleminasi atau
perbaikan terhadap aktivitas yang tidak bernilai tambah atau kurang efisien. Hal
ini berkaitan erat dengan masalah produktivitas perusahaan.
 Memudahkan penentuan biaya-biaya yang kurang relevan (cost reduction), pada
sistem tradisional, banyak biaya-biaya yang kurang relevan yang tersembunyi.
Sistem ABC yang transparan menyebabkan sumber-sumber biaya tersebut dapat
diketahui dan dieliminasi.
 Dengan analisis biaya yang diperbaiki, piliak manajemen dapat melakukan
analisis yang lebih akurat mengenai volume produksi yang diperlukan untuk
mencapai impas (break even) atas produk yang bervolume rendah.

F. TAHAP-TAHAP PERANCANGAN SISTEM ACTIVITY BASED COSTING

Menurut Blocher dkk. (2000 : 123-126) tahap perancangan ABC dibagi dalam tiga
tahap yaitu :

1) Mengidentifikasikan Biaya Sumber Daya dan Aktivitas


Tahap pertama dalam merancang sistem ABC adalah mengidentifikasikan
biaya sumber daya dan melakukan analisis aktivitas. Biaya sumber daya adalah

14 | P a g e
biaya yang dikeluarkan untuk melakukan berbagai aktivitas. Sebagian besar
biaya sumber daya ada dalam sub-rekening buku besar, seperti bahan,
supplies, pembelian, penanganan bahan, pergudangan, ruang kantor, mebel,
dan peralatan lain, bangunan, peralatan pabrik, utilitas gaji, dan tunjangan,
teknik dan akuntansi.
Analisis aktivitas adalah identifikasi dan deskripsi pekerjaan (aktivitas) dalam
organisasi.
Analisis aktivitas meliputi pengumpulan data dari dokumen dan catatan yang
ada, dan penelitian/survei dengan menggunakan daftar pertanyaan,
observasi, dan wawancara secara terus-menerus terhadap orang-orang kunci.
Anggota tim proyek ABC biasanya menanyakan hal-hal ini kepada karyawan
atau manajer kunci :
a) Apa pekerjaan/aktivitas yang Anda lakukan?
b) Berapa waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas
tersebut?
c) Apa sumber daya yang dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas
tersebut?
d) Nilai apa yang dimiliki oleh aktivitas tersebut bagi perusahaan?
Tim proyek ABC juga mengumpulkan data aktivitas dengan cara melakukan
observasi dan membuat daftar aktivitas/pekerjaan yang dilakukan. Proses
pemanufakturan mempunyai empat kategori aktivitas:
a) Aktivitas berlevel unit adalah aktivitas yang dilakukan untuk
memproduksi setiap satu unit produk. Contoh aktivitas berlevel unit
(berdasarkan volume atau unit) adalah pemakaian bahan, pemakaian
jam kerja langsung, memasukkan komponen, inspeksi setiap unit, dan
aktivitas menjalankan mesin.
b) Aktivitas berlevel batch adalah aktivitas yang dilakukan untuk setiap
batch atau kelompok produk. Aktivitas berlevel batch dilakukan setiap
satu batch ingin diproduksi. Contoh aktivitas berlevel batch adalah

15 | P a g e
setup, mesin, pemesanan pembelian, penjadwalan produksi, inspeksi
untuk setiap batch dan penanganan bahan.
c) Aktivitas untuk mendukung produk. Adalah aktivitas yang dilakukan
untuk mendukung produksi produk yang berbeda. Contoh aktivitas
untuk mendukung produk adalah merancang produk, administrasi
suku cadang, penerbitan formulir pesanan untuk mengubah teknik
rekayasa dan ekspedisi.
d) Aktivitas untuk mendukung fasilitas. Adalah aktivitas yang dilakukan
untuk mendukung produksi secara umum. Contoh aktivitas ini adalah
keamanan, keselamatan kerja, pemeliharaan, manajemen pabrik,
depresiasi pabrik dan pembayaran pajak properti.

2) Membebankan Biaya Sumber Daya ke Aktivitas


Aktivitas menimbulkan biaya sumber daya. Driver sumber daya (Resources
driver) digunakan untuk membebankan biaya sumber daya ke aktivitas.
Kriteria penting untuk memilih cost driver yang baik adalah hubungan sebab
akibat. Driver sumber daya biasanya meliputi:
a) meter untuk utilitas
b) jumlah tenaga kerja untuk aktivitas yang berkaitan dengan penggajian
c) jumlah setup untuk aktivitas setup mesin
d) jumlah pemindahan untuk aktivitas penanganan bahan
e) jam mesin untuk aktivitas menjalankan mesin dan
f) luas lantai untuk aktivitas kebersihan.

3) Membebankan Biaya ke Objek Biaya


Jika aktivitas sudah diketahui, selanjutnya perlu untuk mengukur biaya
aktivitas per unit. Hal ini dilakukan dengan cara mengukur biaya per unit untuk

16 | P a g e
output yang diproduksi oleh aktivitas tersebut. Perbandingan selama
beberapa waktu dengan organisasi lain dapat digunakan untuk menentukan
efisiensi (produktivitas) untuk aktivitas-aktivitas tersebut.

Output merupakan objek biaya yang membutuhkan aktivitas, output untuk


sebuah sistem biaya, biasanya berupa produk, jasa, pelanggan, proyek, atau
unit bisnis. Contohnya, dalam perusahaan asuransi, output dapat berupa
produk atau jasa individual yang ditawarkan kepada pelanggan, pelanggan,
agen asuransi atau divisi yang menerima manfaat dari sumber daya
perusahaan.

Driver aktivitas digunakan untuk membebankan biaya aktivitas ke objek biaya.


Driver aktivitas biasanya berupa jumlah pesanan pembelian, jumlah laporan
penerimaan barang, jumlah laporan, atau jam inspeksi, jumlah suku cadang
yang disimpan, jumlah pembayaran, jam kerja langsung, jam mesin, jumlah
setup dan waktu siklus produksi.

G. CONTOH CARA PERHITUNGAN MODEL AKUNTANSI ABC

Supaya memudahkan Anda untuk lebih mengerti tentang metode akuntansi


berbasis aktivitas ini, kami akan menyertakan contoh kasus perhitungan metode ABC.
PT. Jalan Terus memproduksi 2 barang yaitu sepatu dan sandal. Berikut data keuangan
yang terhimpun untuk masing-masing produk:

Jenis Barang
Keterangan
Sepatu Sandal
Volume Produksi (Unit) 1,000 2,000
Harga Jual (Rupiah) Rp. 20,000 Rp. 10,000
Biaya Utama (Rupiah) Rp. 10,000 Rp. 5,000
Jam Kerja Langsung 500 Jam 1,000 Jam

17 | P a g e
Data dari hasil identifikasi manajemen menunjukan aktivitas dan biaya yang
dianggarkan adalah sebagai berikut:

Aktivitas Anggaran Aktivitas


Rekayasa Rp. 100,000 Jam
Set up Rp. 500,000 Jam
Mesin Rp. 2,000,000 Jam
Packaging Rp. 200,000 Jumlah

Data dari aktivitas sesungguhnya adalah sebagai berikut:

Konsumsi
Aktivitas Jumlah
Sepatu Sandal
Rekayasa Rp. 35,000 Rp. 15,000 Rp. 50,000
Set up Rp. 50,000 Rp. 50,000 Rp. 100,000
Mesin Rp. 250,000 Rp. 150,000 Rp. 400,000
Packaging Rp. 50,000 Rp. 50,000 Rp. 100,000

Maka perhitungan sistem ABC adalah:

Aktivitas Jumlah anggaran Jumlah aktivitas Tarif aktivitas


Rekayasa Rp. 100,000 Rp. 50,000 Rp. 2
Set up Rp. 500,000 Rp. 100,000 Rp. 5
Mesin Rp. 2,000,000 Rp. 400,000 Rp. 50
Packaging Rp. 200,000 Rp. 100,000 Rp. 2

18 | P a g e
Setelah itu bebankan biaya overhead kepada masing-masing produk
perusahaan.

Produk Sepatu

Aktivitas Tarif Jumlah Total Biaya OH Biaya OH / Unit


Rekayasa Rp. 2 Rp. 35,000 Rp. 70,000 Rp. 2
Set up Rp. 5 Rp. 50,000 Rp. 250,000 Rp. 5
Mesin Rp. 50 Rp. 250,000 Rp. 12,500,000 Rp. 50
Packaging Rp. 2 Rp. 50,000 Rp. 100,000 Rp. 2

Total Rp. 12,920,000 Rp. 59

Produk Sandal

Aktivitas Tarif Jumlah Total Biaya OH Biaya OH / Unit


Rekayasa Rp. 2 Rp. 15,000 Rp. 30,000 Rp. 2
Set up Rp. 5 Rp. 50,000 Rp. 250,000 Rp. 5
Mesin Rp. 50 Rp. 150,000 Rp. 7,500,000 Rp. 50
Packaging Rp. 2 Rp. 50,000 Rp. 100,000 Rp. 2

Total Rp. 7,880,000 Rp. 59

Jadi, biaya per unit dengan perhitungan metode akuntansi ABC adalah:

Keterangan Sepatu Sandal


Biaya Utama* Rp. 10,000,000 Rp. 10,000,000
Biaya OH** Rp. 59,000 Rp. 118,000
Jumlah Rp. 10,059,000 Rp. 10,118,000
Unit produksi (unit) 1,000 2,000
Harga per unit*** Rp. 10,059 Rp. 5,059

19 | P a g e
*Biaya utama = Biaya utama x Volume produksi
**Biaya OH = Total biaya OH x Volume produksi
***Harga per unit = (Jumlah biaya utama + Biaya OH) : Unit produksi

20 | P a g e
BAB III

PENUTUP
A. KESIMPULAN

ABC (Activity Based Costing) adalah suatu sistem pendekatan perhitungan biaya yang

dilakukan berdasarkan aktivitas-aktivitas yang ada di perusahaan. Sistem ABC juga

membahas tentang penentuan biaya per unit produk. Perhitungan biaya produk

dilakukan dengan menjumlahkan semua komponen biaya produk, yaitu biaya bahan

baku, biaya tenaga kerja langsung,dan baiya overhead. Kelompok (pool) adalah gabungan

dari aktivitas yang memiliki kesamaan sifat. Dengan sistem ABC kita dapat mempelajari

dan menyusun prinsip-prinsip yang ada dalam sistem ABC. Kelemahan Akuntansi Biaya

Tradisional secara umum yaitu banyak hal-hal yang tidak diberitahukan oleh sistem

akuntansi biaya tradisional kepada manajemen. Akuntansi biaya tradisional memberi

sedikit ide kepada manajemen pada saat harus mengurangi pengeluaran pada waktu yang

mendesak. Sistem tersebut hanya memberikan laporan manajemen dengan

menunjukkan dimana biaya dikeluarkan dan tidak ada indikasi apa-apa yang

menimbulkan biaya. Adapun simpulan lain yang dapat diambil yakni :

1. Sistem pembebanan biaya dibedakan menjadi dua macrun, yaitu sistem Activity Based

Costing hanya dilakukan bila membebankan biaya berdasarkan aktivitas dan sistem

traditional costing produk atau jasa diukur dengan biaya per unit.

2. Peranan sistem Activity Based Costing membantu mengatasi masalah yang ditimbulkan

dari sistem biaya tradisional terutama berkaitan dengan pengalokasian biaya overhead.

3. Sistem Activity Based Costing sebagai alat bantu perusahaan mampu membuat

peningkatan kinerja perusahaan yang lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan

21 | P a g e
system traditional costing. Hal ini dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan yang

maksimal.

22 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

PEMIKIRAN DAN DISKUSI KELOMPOK

JOJONOMIC, 2 Agustus 2019, Activity Based Costing : Arti, Manfaat, dan Penerapan, Diakses pada
tanggal 11 & 12 November 2020 pukul 23:26 WIB & 22:48 WIB melalui
https://www.jojonomic.com/blog/activity-based-costing/

CPS Soft, 22 Juli 2019, Activity Based Costing : pengertian lengkap dan contohnya, Diakses pada
tanggal 11 & 12 November 2020 pukul 23:26 WIB & 22:48 WIB melalui
https://cpssoft.com/blog/akuntansi/activity-based-costing-pengertian-lengkap-dan-contohnya/

Supply Chain Indonesia, 24 Maret 2015, Memahami Konsep Activity Based Costing, Diakses pada
tanggal 11 & 12 November 2020 pukul 23:26 WIB & 22:48 WIB melalui
https://supplychainindonesia.com/memahami-konsep-activity-based-costing/

Coretan Kampus, 25 Januari 2015, Makalah Sistem Activity Based Costing, Diakses pada tanggal 11 &
12 November 2020 pukul 23:26 WIB & 22:48 WIB melalui
http://andindwitugas.blogspot.com/2015/01/makalah-sistem-activity-based-costing.html

Jurnal Entrepreneur, 4 Januari 2020, Penerapan Activity Based Costing Pada Perusahaan Beserta
Manfaatnya, diakses pada 12 november 2020 pukul 22:53 WIB
https://www.jurnal.id/id/blog/penerapan-activity-based-costing-dan-manfaatnya/

23 | P a g e