Anda di halaman 1dari 9

Seorang produsen yang rasional akan selalu mencari keuntungan yang paling maksimuml

atau kerugian yang paling minimuml baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Ada
dua pendekatan untuk menentukan tingkat ouput di mana produsen akan mendapatkan
keuntungan maksimum atau mengalami kerugian minimum, yaitu pertama, pendekatan
penerimaan total dan biaya total, atau sering disebut pendekatan total; dan kedua adalah
pendekatan penerimaan marjinal dan biaya marginal, atau biasa disebut pendekatan marginal.
Kedua pendekatan-pendekatan ini akan dibicarakan secara berurutan berikut ini.

Pendekatan Total

Keuntungan total sama dengan penerimaan (Total Revenue, TR) dikurangi dengan biaya total
(Total Cost, TC). Penerimaan total merupakan perkalian antara tingkat harga yang terjadi di
pasar dengan jumlah ouput yang dihasilkan, sedangkan biaya total adalah biaya yang
dikeluarkan oleh produsen dalam menghasilkan output. Dalam jangka pendek, biaya dapat
dibedakan atas biaya tetap (fixed cost, FC) dan biaya variabel (variable cost, VC). Biaya
tetap adalah biaya yang tidak tergantung pada besarnya jumlah output yang dihasilkan,
sedangkan biaya variabel adalah biaya yang tergantung kepada besar kecilnya jumlah output
yang dihasilkan.

Untuk melihat perbedaan antara biaya tetap dan biaya variabel kita dapat mengambil contoh
suatu perusahaan yang menghasilkan pakaian. Perusahaan ini mempunyai gedung tempat
usaha, mesin jahit, dan karyawan tetap. Walaupun perusahaan tidak berproduksi akan tetapi
biaya tetap harus selalu dikeluarkan, seperti biaya penyusutan gedung, penyusutan mesin dan
biaya gaji karyawan tetap. Sedangkan, yang termasuk biaya variabel adalah biaya untuk
pembelian bahan baku, gaji karyawan tidak tetap, biaya listrik dan lain lain. Biaya variabel
ini dapat diubah-ubah tergantung pada kondisi pasar, apabila permintaan pasar naik maka
output yang dihasilkan dapat ditambah dengan menambah biaya variabel, misalnya
menambah jam kerja tenaga kerja tidak tetap (untuk lengkapnya lihat teori biaya pada modul
4)

Keuntungan maksimum akan terjadi apabila selisih TR dan TC mencapai angka terbesar.
Untuk lebih lengkapnya perhatikan data hipotesis berikut ini.

 Tabel 1 Tingkat Output dan Keuntungan Total Produsen pada Pasarpersaingan Murni
dengan Pendekatan Total

Q P TR TC Π

(unit) (000 Rp) (000 Rp) (000 Rp) (000 Rp)


0 8 0 800 -800
100 8 800 2.000 -1.200
200 8 1.600 2.300 -700
300 8 2.400 2.400 0
400 8 200 2.524 +676
500 8 4.000 2.775 +1.225
600 8 4800 200 +1.600
650 8 5.200 3.510 +1.690
700 8 5.600 4.000 +1.600
800 8 6.400 6.400 0
 

Keterangan:   Kerugian minimal   Titik Pulang Pokok (BEP)


    Keuntungan maksimal  

Pada tabel diatas, Q adalah kuantitas output yang dihasilkan, P adalah tingkat harga, TR
adalah penerimaan total (yaitu P dikali Q), TC adalah biaya total dan Π adalah keuntungan.
Berdasarkan Tabel 3.1 di atas, keuntungan maksimum yang diperoleh produsen pada pasar
persaingan murni adalah sebesar Rp 1.690.000 yaitu pada tingkat output sebesar 650 unit.
Sedangkan kerugian total mencapai maksimum adalah sebesar Rp 1.200.000 yaitu pada
tingkat output sebesar 100 unit. Perpotongan antara TR dan TC merupakan titik pulang pokok
(break even point), yaitu pada tingkat output sebesar 300 dan 800 unit. Tabel hipotesis di atas
dapat digambarkan sebagai berikut

Berdasarkan gambar di atas, kurva penerimaan total atau TR dimulai dari titik origin (titik
nol), hal ini disebabkan produsen tidak akan mendapatkan penerimaan apabila perusahaan
belum menghasilkan output. Apabila perusahaan telah mulai berproduksi atau menghasilkan
output maka perusahaan akan mendapatkan penerimaan sebesar tingkat output dikali dengan
harga (PxQ). Semakin besar output yang dihasilkan maka penerimaan produsen semakin
besar. Karena tingkat harga adalah datum (tetap) bagi produsen dalam pasar persaingan
sempurna maka kurva TR akan membentuk garis diagonal yang dimulai dari titik origin ke
kanan atas.

Sedangkan kurva biaya total atau TC tidak dimulai dari titik origin karena walaupun
perusahaan belum berproduksi akan tetapi perusahaan sudah mengeluarkan biaya, yaitu
sebesar jumlah biaya tetap. Seperti diketahui bahwa biaya yang dikeluarkan perusahaan
dalam menghasilkan output dibagi atas dua, yaitu biaya tetap (fixed cost, FC) dan biaya
variabel (variable cost, VC). Pada tingkat produksi yang rendah perusahaan masih
mengalami kerugian, kemudian apabila produksi terus ditambah maka kerugian semakin
menurun dan mencapai titik pulang pokok (Break Even Point, BEP) pada titik tertentu
(dalam gambar adalah di titik B), setelah titik BEP terlampaui maka produsen akan
mendapatkan keuntungan, dan mencapai maksimum di titik C, yang merupakan jarak terjauh
antara kurva TR dan kurva TC. Apabila produksi terus menerus ditingkatkan setelah tercapai
keuntungan maksimum maka tingkat keuntungan mulai menurun dan akan mencapai titik
pulang pokok kembali ditititk D. Selanjutnya apabila produksi terus ditingkatkan maka
produsen atau perusahaan akan mengalami kerugian.

Terjadinya tingkat keuntungan yang menurun ini sesuai dengan hukum pertambahan hasil
yang semakin menurun (the law of diminishing marginal return), hal ini disebabkan
terbatasnya kemampuan suatu faktor produksi (faktor produksi tetap) untuk dikombinasikan
dengan faktor produksi lain (faktor produksi variabel), apabila faktor produksi variabel terus
ditambah.

Misalnya pada sebidang lahan pertanian (dianggap faktor produksi tetap) yang dikerjakan
oleh seorang pekerja (dianggap faktor produksi variabel), maka output yang dihasilkan tidak
efektif. Apabila lahan pertanian tersebut dikerjakan oleh dua pekerja maka produksi akan
meningkat. Sampai tambahan pekerja menjadi 6 orang maka akan tercapai keuntungan
maksimum dalam menggarap lahan tersebut, tetapi apabila pekerja terus menerus ditambah
(misalnya sampai 15 pekerja), sedangkan lahan yang digarap tetap maka biaya total akan
bertambah dan tingkat keuntungan akan menurun dan sampai pada titik tertentu akan
mengalami kerugian.

Jadi dapat disimpulkan apabila TR>TC , maka produsen akan mendapatkan keuntungan, dan
apabila selisih TR<TC maka perusahaan akan mengalami kerugian, dan apabila TR=TC
maka perusahaan dalam kondisi break even point

Pendekatan marginal

Pendekatan marginal merupakan alternatif dari pendekatan total. Dalam memproduksi suatu
barang dan menawarkannya di pasar, produsen atau perusahaan harus membandingkan antara
biaya marjinal dengan penerimaan marjinal. Biaya marjinal (marginal cost, MC) adalah
tambahan biaya yang harus dikeluarkan oleh produsen karena menambah memproduksi 1
unit ouput (MC = TCt � TCt-1 , di mana TC adalah biaya total). Sedangkan penerimaan
marjinal (marginal revenue, MR) adalah tambahan penerimaan karena menambah produksi
output 1 unit (MR = TRt � TRt-1)
Apabila penerimaan marjinal masih lebih besar dari biaya marginal maka masih relevan
untuk meningkatkan produksi karena penerimaan meningkat lebih tinggi dari biaya sehingga
karena keuntungan akan bertambah, sebaliknya apabila biaya marginal lebih besar dari
penerimaan marjinal maka biaya meningkat lebih tinggi dari penerimaan sehingga kerugian
menjadi bertambah. Keuntungan maksimum (atau kerugian minimum) akan terjadi apabila
penerimaan marjinal sama dengan biaya marjinal (MR = MC).

Untuk melihat lebih jauh penggunaan pendekatan marjinal, maka Tabel 3.1 kita reproduksi
kembali dengan berbagai tambahan dibawah ini.

Tabel 2 Maksimisasi keuntungan dengan Pendekatan Marjinal

Q P= MR TC MC AC Keuntungan Keuntungan
Per unit
(unit) (00) Total

1 2 3 4=TCt-TCt-1 5=3/1 6= TRt-TRt-1 7=6x1

100 8 2.000 12 20 -12 -1.200


200 8 2.300 3 11.5 -3.5 -700
300 8 2.400 1 8 0 0
400 8 2.525 1.25 6.31 1.69 +676
500 8 2.775 2.50 5.55 2.45 +1.225
600 8 200 4.25 5.33 2.67 +1.602
650 8 3.510 (8) 5.40 2.60 +1.690
700 8 4.000 8 5.71 2.29 +1.600
800 8 6.400 24 8.00 0 0

Berdasarkan tabel 2 di atas, terlihat bahwa keuntungan maksimum produsen dalam pasar
persaingan murni akan tercapai pada tingkat output 650 unit, yaitu dengan tingkat
keuntungan sebesar Rp 1.690.000. Perhatikan bahwa biaya marginal mengacu pada titik
tengah antara dua tingkat output yang berurutan, maka nilai MC pada tingkat output 650 dan
750 unit output adalah sama yaitu 8. Tingkat keuntungan per unit tertinggi adalah 2,67, akan
tetapi suatu perusahaan bukan mencari keuntungan per unit tertinggi, akan tetapi adalah
mencari keuntungan total maksimum.

Dari Tabel 2 di atas, kita dapat mengilustrasikan keseimbangan produsen dalam satu gambar
seperti yang terlihat pada Gambar 2. Kurva d (permintaan) dan kurva MR bagi produsen
dalam pasar persaingan murni merupakan garis lurus yang sejajar dengan sumbu horizontal.
Hal ini disebabkan produsen dalam pasar persaingan murni adalah sebagai pengambil harga
(price taker) karena sesuai asumsi yang dijelaskan sebelumnya bahwa jumlah penjual
sedemikian banyaknya sehingga tidak seorang produsenpun dapat mempengaruhi harga
dengan menambah atau mengurangi produksi. Produsen dapat menjual berapapun pada harga
pasar yang berlaku.

Konsumen akan mendapatkan keuntungan maksimum apabila MR=MC. Dalam gambar, ada
dua titik perpotongan antara MR dan MC, yaitu di titik A dan di titik B. Tingkat output
terbaik perusahaan dalam pasar persaingan murni terjadi di titik B, di mana MR=MC dan
kurva MR memotong kurva MC dari bawah. Selama MR melebihi MC maka masih relevan
untuk meningkatkan produksi karena penerimaan perusahaan naik lebih tinggi dari pada
biaya sehingga keuntungan total naik. Apabila MC melebihi MR maka tidak ada gunanya
bagi perusahaan untuk meningkatkan produksinya karena biaya naik lebih tinggi dari
penerimaan sehingga keuntungan total produsen akan menurun. Jadi peningkatan produksi
setelah titik B akan menurunkan keuntungan produsen.

Gambar 2 Keseimbangan Konsumen

Keuntungan produsen akan terjadi di titik B, di mana P=MR=MC=8. Output yang dihasilkan
produsen adalah sebanyak 650 unit dan tingkat keuntungan yang didapat adalah sebesar Rp
1.690.000,-

Minimisasi Kerugian

Harga pasar dapat naik atau turun tergantung pada kekuatan permintaan dan penawaran.
Apabila harga yang diterima produsen dalam persaingan sempurna di atas kurva biaya rata-
rata (kurva AC) maka produsen akan mendapatkan keuntungan sebesar selisih antara kurva d
dikurangi kurva MR dikali jumlah produksi. Keadaan keuntungan maksimum dapat dilihat
seperti yang dijelaskan dalam Gambar 2.

Apabila harga yang diterima produsen di bawah kurva biaya rata-rata maka produsen akan
mengalami kerugian. Seberapa jauh produsen dapat meminimumkan kerugian agar terus
dapat berproduksi dan di titik mana produsen sudah harus menutup usahanya akan dijelaskan
berikut ini.

Produsen dapat meminimumkan kerugian dan dapat terus berproduksi apabila perpotongan
MR dan MC terjadi diantara kurva AC dan AVC, atau dengan kata lain perpotongan kurva
MR dan kurva MC terjadi dibawah kurva AC tetapi masih di atas kurva AVC. Perhatikan
Gambar 3.3 di bawah ini.
Gambar 3 Minimisasi Kerugian

Dari Gambar diatas, ada tiga kemungkinan perpotongan kurva MR dan kurva MC.

 Pertama, kurva MR berada di bawah kurva AC tetapi masih di atas kurva AVC


(dijelaskan oleh kurva d=MR), yaitu berpotongan di titik B. Produsen akan menderita
kerugian per unit sebesar P1P2, dan apabila dikalikan dengan jumlah produksi maka
kerugian minimum adalah sebesar kotak persegi empat PBAP3. Dengan kondisi ini
produsen masih terus dapat berproduksi karena dengan melanjutkan produksi maka
produsen masih dapat menutup sebagian biaya tetapnya.

 Kedua, apabila kurva MR berada di titik terendah AVC (dijelaskan oleh kurva
d1=MR1), yaitu di titik C maka kerugian yang diderita produsen adalah sebesar biaya
tetap , yaitu sebesar jarak AC dan AVC dikali jumlah produksi, sedangkan biaya
variabel masih dapat ditutupi. Titik ini dinamakan titik tutup usaha.

 Ketiga, apabila kurva MR berada dibawah kurva AVC (dijelaskan oleh kurva
d2=MR2), yaitu MR dan MC berpotongan di titik D maka produsen tidak layak untuk
melanjutkan produksi karena produsen akan menderita kerugian sebesar biaya tetap
ditambah sebagian biaya variabel

Kurva Penawaran

Dari Gambar 2 dan Gambar 3 kita telah melihat bagaimana perusahaan dalam persaingan
murni memaksimalkan keuntungan atau meminimalkan kerugian dengan menentukan tingkat
output yang diproduksi dan ditawarkan pada berbagai tingkat harga.

Sampai sejauh ini kita belum menentukan di mana produsen mulai akan berproduksi dan
menawarkan outputnya di pasar pada tingkat harga yang berlaku, hal ini terkait dengan apa
yang telah dijelaskan sebelumnya, apabila harga yang terjadi di atas kurva AVC, atau kurva
MR berpotongan dengan kurva MC diatas kurva AC, seperti yang telah dijelaskan pada
Gambar 2 maka produsen tentu dan mau melanjutkan produksi karena akan mendapatkan
keuntungan total maksimum. Sebaliknya apabila harga yang diterima produsen di bawah
kurva AVC, atau kurva MR dan kurva MC berpotongan di bawah kurva AVC maka produsen
tentu tidak akan mau berproduksi karena di samping mengalami kerugian sebesar biaya tetap
(yaitu sebesar jarak AV dan AVC) juga mengalami kerugian sebagian biaya variabelnya.

Sedangkan kondisi kritis terjadi apabila tingkat harga terjadi diantara titik terendah AVC
sampai dengan titik terendah AC. Dalam Gambar 3.3 yaitu jarak antara C dan B. Apabila
tingkat harga terjadi di titik terendah AVC maka kerugian yang diderita produsen adalah
sebesar biaya tetap tetapi, dan produsen masih bisa terus berproduksi dengan harapan harga
akan naik dan produksi dapat ditingkatkan. Apabila kurva MR di bawah AVC maka produsen
tidak layak untuk melanjutkan produksi. Jadi kesimpulannya kurva penawaran bagi produsen
dalam pasar persaingan murni adalah kurva MC dimulai dari tirik terendah AVC
Maksimisasi keuntungan dalam pasar monopoli juga dapat dijelaskan dengan dua
pendekatan, yaitu pendekatan total dan pendekatan marjinal. Dalam pendekatan total,
maksimisasi keuntungan sama halnya dengan keadaan yang telah dijelaskan dalam pasar
persaingan murni. Perbedaannya, kalau dalam pasar persaingan sempurna penerimaan total
adalah berbentuk garis lurus diagonal dari sumbu origin ke kanan atas karena asumsi harga
adalah datum, maka dalam pasar monopoli, seorang monopolis dapat menentukan harga dan
output yang akan dijualnya di pasar. Bentuk kurva TR pada pasar monopoli bukan
merupakan garis lurus, tetapi berbentuk U terbalik. Artinya, tingkat output yang keuntungan
total monopolis akan mencapai maksimum adalah lebih kecil dari tingkat output di mana TR
pasar persaingan murni mencapai maksimum. Gambar 2 menjelaskan maksimisasi
keuntungan monopolis dengan menggunakan pendekatan total

Kurva peneriman total (TR) monopolis dimulai dari titik origin (O), sedangkan kurva biaya
total (TC) dimulai dari titik A, hal ini berarti, walaupun monopolis belum menghasilkan
output akan tetapi monopolis telah mengeluarkan biaya, yaitu sebesar biaya tetap. Makin
besar produksi maka biaya persatuan output menurun sedangkan penerimaan meningkat.
Keseimbangan jangka pendek untuk monopolis akan tercapai apabila keuntungan total
mencapai maksimum, atau kerugian total menca pai titik minimum. Pada titik B atau pada
tingkat produksi Q1 akan tercapai kondisi pulang pokok (break even point). Semakin besar
output yang dihasilkan maka tingkat keuntungan akan semakin besar dan mencapai
maksimum pada tingkat produksi Q2, yaitu pada jarak TR dan TC terbesar. Dalam gambar
ditunjukkan oleh jarak CD. Apabila produksi terus ditingkatkan maka keuntungan mulai
menurun dan mencapai titik pulang pokok pada titik E, yaitu pada tingkat produksi Q3.
Setelah titik E, apabila produksi terus dtingkatkan maka monopolis akan mengalami kerugian
karena TC lebih besar dari TR. Jadi, keuntungan maksimum monopolis akan tercapai pada
tingkat produksi Q2

Maksimisasi Keuntungan :Pendekatan Marjinal

Pada pendekatan marjinal, keuntungan maksimum akan diperoleh pada tingkat output di
mana penerimaan marjinal (marginal Revenue, MR) sama dengan biaya marjinal (marginal
cost, MC), atau MR= MC, dan kemiringan kurva MR lebih kecil lebih kecil dari kurva MR.
Apabila MR dan MC tidak sama akan mengakibatkan tambahan penerimaan akan berbeda
dengan tambahan biaya. Ada dua kemungkinan, yaitu: Pertama, Apabila MR > MC, maka
maka tambahan memproduksi satu-satuan output akan memberikan tambahan keuntungan
karena tambahan penerimaan lebih besar dari tambahan biaya, dan kedua, apabila MR < MC
maka tambahan memproduksi satu-satuan output akan mengurangi keuntungan karena
tambahan penerimaan lebih kecil dari tambahan biaya.
Perhatikan Gambar 3, Perusahaan monopoli akan menghasilkan output pada saat MR=MC.
Keuntungan maksimum monopoli akan tercapai pada tingkat output Qo dan harga Po.
Apabila jumlah barang yang diproduksi lebih kecil dari Qo maka keuntungan yang diterima
menjadi lebih kecil, sebab produsen monopolis akan kehilangan penerimaan marjinalnya
lebih besar dari biaya marjinal. Jadi, selama penerimaan marjinal lebih besar dari biaya
marjinal (atau selama kurva MR masih di atas kurva MC) penambahan jumlah produksi akan
meningkatkan keuntungan total . Sebaliknya, apabila tingkat output lebih besar dari Qo maka
peningkatan produksi akan mengurangi keuntungan, karena tambahan biaya lebih besar dari
tambahan penerimaan

Pada tingkat harga P0 dan tingkat output Q0, penerimaan total monopolis adalah OQ0 dikali
OP0, yaitu sebesar luas segi empat OQ0EP0. Sedangkan biaya total adalah OQ0 dikali OP1
yaitu sebesar luas segi empat OQ0AP1. Sehingga keuntungan maksimum yang diterima
monopolis adalah sebesar P1AEP0.

Tingkat Keuntungan monopolis sangat tergatung pada hubungan antara kurva kurva
permintaan dan kurva biaya rata-rata. Apabila kurva permintaan bersinggungan dengan kurva
biaya rata-rata maka monopolis tersebut tidak mendapatkan keuntungan atau keuntungan
adalah nol (dijelaskan oleh Gambar 4). Apabila kurva permintaan dibawah kurva biaya rata-
rata maka monopolis akan mengalami kerugian (dijelaskan oleh Gambar 5)

Dalam Gambar 4, kurva biaya rata-rata AC bersinggungan dengan kurva permintaan D. Total
penerimaan Monopolis adalah OQ0AP0, sedangkan jumlah biaya yang dkeluarkan untuk
menghasil output sebanyak OQ0 sama dengan total penerimaan monopolis. Akibatnya
monopolis dalam keadaan pulang pokok, atau disebut monopolis mendapatkan laba normal.

Dalam Gambar 5, kurva biaya rata-rata, AC terletak di atas kurva permintaan D. Hal ini
berarti, total penerimaan monopolis lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan. Total
penerimaan monopolis adalah sebesar OQ0BP0, sedangkan total biaya adalah sebesar
OQ0AP1, sehingga monopolis mengalami kerugian sebesar P0BAP1.

Anda mungkin juga menyukai