Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN AKHIR SISWA/I PESERTA PKL

TAHUN DIKLAT 2020/2021


FARMASI
UPTD PUSKESMAS CILEUNGSI
Jl. Camat Enjan No.1 , Cileungsi, Kecamatan Cieleungsi, Bogor, Jawa Barat
16820

Disusun Oleh :
FRIETSILITA SOPHIE SIGARLAKI 10.18.581

YAYASAN PENDIDIKAN PEMUDA-PEMUDI INDONESIA (YP3I)


SMK FARMASI AVICENNA CILEUNGSI
TAHUN PELAJARAN 2020/2021
Kompetensi Keahlian: Farmasi Klinis Komunitas
Jl. Raya Cileungsi-Jonggol KM 01 Kec. Cileungsi Kab. Bogor Jawa Barat
Telp.(021) 82482640.Fax. (021) 82482640
Email: smkfavicennacileungsibogor@gmail.com
2021

LEMBAR PENGESAHAN

1
2

Laporan Praktik Kerja Lapangan di UPTD Puskesmas Cileungsi telah diperiksa


dan disetujui oleh :

Pembimbing Sekolah Pembimbing Puskesmas


SMKF Avicenna Cileungsi UPTD Puskesmas Cileungsi

Santi Utami, S. Farm, Apt. Fajar Budiman, S. Farm, Apt.

Mengetahui,
Kepala Sekolah SMKF Avicenna Cileungsi

Muhammad Yusup, S. Kom.

KATA PENGANTAR
3

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan hidayah-Nya
sehingga sayamampu untuk menyelesaikan pembuatan laporan PKL dengan
sebaik-baiknya.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantusaya dalam penyelesaian
laporan initerutama kepada :
1. Direktur UPTD Puskesmas Cileungsi
2. Ibu Nuryasmitati, A.Md.Keb, selaku ketua yayasan SMKF Avicenna
Cileungsi.
3. Bapak Muhammad Yusup, S.Kom, selaku kepala sekolah SMKF
AvicennaCileungsi.
4. Ibu Santi Utami, S.Farm.,Apt, selaku pembimbing sekolah.
5. Fajar Budiman, S.Farm., Apt, selaku pembimbing lahan PKL.
6. Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan moral,motivasi,
material dan doa.
7. Serta semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah
membantu dalam proses penyusunan laporan ini.
Laporan inidisusun sebagai salah satu bahan penilaian dan evaluasi selama saya
melaksanakan PKL dan sebagai bukti pelaksanaan PKL yang sudah
terlaksanakan.
Laporan PKL saya tetap jauh dari kata sempurna, oleh karena itu saya meminta
masukan dan kritikan yang nantinya dapat menyempurnakan laporan ini.

Cileungsi, Mei 2021


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah fasilitas pelayanan kesehatan


yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan
perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan
preventif di wilayah kerjanya. Puskesmas diatur kembali dengan Peraturan
Menteri Kesehatan yang baru yaitu Permenkes 43 tahun 2019 tentang Puskesmas.
Permenkes 43 tahun 2019 tentang Puskesmas menyebutkan bahwa Puskesmas
adalah Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Faskes). Fasilitas Pelayanan Kesehatan
adalah suatu tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan
kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan
oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat. Puskesmas mempunyai
tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan
kesehatan di wilayah kerjanya.

Puskesmas adalah UKM tingkat pertama. UKM dalam Permenkes 43 tahun


2019 tentang Puskesmas dijelaskan bahwa Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)
adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta
mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan dengan sasaran
keluarga, kelompok, dan masyarakat. Sedangkan Upaya Kesehatan Perseorangan
(UKP) adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan
yang ditujukan untuk peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit,
pengurangan penderitaan akibat penyakit dan memulihkan kesehatan
perseorangan.Puskesmas juga membangun Sistem Informasi yaitu Sistem
Informasi Puskesmas. Sistem Informasi Puskesmas adalah suatu tatanan yang
menyediakan informasiuntuk membantu proses pengambilan keputusan dalam
melaksanakan manajemen Puskesmas untuk mencapai sasaran kegiatannya.

1
2

Prinsip penyelenggaraan Puskemas dalam Permenkes 43 tahun 2019 tentang


Puskesmas adalah:
1. Paradigma sehat
2. Pertanggungjawaban wilayah
3. Kemandirian masyarakat
4. Ketersediaan akses pelayanan kesehatan;
5. Teknologi tepat guna; dan
6. Keterpaduan dan kesinambungan.
Berdasarkan kebutuhan dan kondisi masyarakat, Puskesmas dapat
dikategorikan berdasarkan:
a. Karakteristik wilayah kerja; dan
b. Kemampuan pelayanan.
Berdasarkan karakteristik wilayah kerja sebagaimana dimaksud diatas, dengan
ketetapan dari bupati/walikota, Puskesmas dikategorikan menjadi:
a. Puskesmas kawasan perkotaan;
b. Puskesmas kawasan perdesaan;
c. Puskesmas kawasan terpencil; dan
d. Puskesmas kawasan sangat terpencil.

Mutu pelayanan kesehatan menjadi hal yang penting dalam organisasi


pelayanan kesehatan, peningkatan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan
pelayanan kesehatan mendorong setiap organisasi pelayanan kesehatan untuk
sadar mutu dalam memberikan pelayanan kepada pengguna jasa organisasi
pelayanan kesehatan. Setiap permasalahan yang muncul dalam organisasi
pelayanan kesehatan khususnya berkaitan dengan mutu layanan kesehatan,
terdapat tiga konsep utama yang selalu muncul.Konsep tersebut adalah akses,
biaya, dan mutu (Herlambang, 2016).
Penampilan yang sesuai atau pantas (yang berhubungan dengan standar) dari
suatu intervensi yang diketahui aman, yang dapat memberikan hasil kepada
masyarakat yang bersangkutan dan yang telah mempunyai kemampuan untuk
3

menghasilkanpada kematian, kesakitan, ketidak mampuan, dan kekurangan gizi


(Roemer dan Aquilar, WHO, 1988).
Donabedian, 1980 cit. Wijono, 1999 menyebutkan bahwa kualitas pelayanan
adalah suatu pelayanan yang diharapkan untuk memaksimalkan suatu ukuran yang
inklusif dari kesejahteraan klien sesudah itu dihitung keseimbangan antara
keuntungan yang diraih dan kerugian yang semua itu merupakan penyelesaian
proses atau hasil dari pelayanan diseluruh bagian.
Interaksi orang-orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan dengan praktisi
kesehatan yang memberi pelayanan dapat dianggap sebagai suatu proses, mulai
dari perlunya layanan kesehatan dan diakhiri dengan solusi akhir berupa
penggunaan obat untuk tindakan pencegahan, diagnosis, maupun pengobatan,
yang sangat erat dengan outcome yang akan diterima pasien.
UPTD Puskesmas Cileungsi merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah
Kesehatan yang mempunyai tugas melaksanakan sebagian kegiatan teknis
operasional dan kegiatan teknis penunjang Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan
dan Kawasan Permukiman. Tugas teknis operasional yang dimaksud adalah
melaksanakan kegiatan teknis tertentu yang secara langsung berhubungan dengan
pelayanan masyarakat.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan
Memperoleh pengalaman nyata mengenai kegiatan kefarmasian di puskesmas dan
menerapkan ilmu yang sudah diperoleh di SMKF AVICENNA CILEUNGSI.
1.2 Manfaat Praktek Kerja Lapangan
1. Agar siswa dan siswi mendapatkan pengalaman dan gambaran awal
tentang dunia kerja terutama di puskesmas
2. Memberikan pengetahuan tambahan bagi siswa dan siswi serta pembaca
mengenai kegiatan di puskesmas terutama bagian kefarmasian.
3. Agar dapat membandingkan teori dan praktek yang didapat disekolah
dengan kegiatan yang dilakukan di puskesmas.
4

1.3. Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan


Praktek Kerja Lapangan yang dilaksanakan pada :
Hari / Tanggal : Senin, 03 Mei 2021 – Sabtu, 08 Mei 2021
Waktu : 08.00-12.00 / 08.00-14.00 (UGD pagi) / 14.00-20.00
(UGD siang)
Tempat : UPTD PUSKESMAS CILEUNGSI

1.4Tujuan Pembuatan Laporan Praktek Kerja Lapangan


1. Sebagai bukti telah mengikuti kegiatan prektek kerja lapangan
2. Sebagai laporan akhir siswa setelah mengikuti kegiatan praktek kerja
lapangan.
3. Sebagai penuntasan tugas yang telah diberikan pembimbing produktif
sekolah maupun pembimbing puskesmas.
4. Melatih kemampuan siswa dalam membuat karya tulis ilmiah.
5. Mengembangkan ide pikir kedalam karya tulis.
6. Menerapkan teori yang didapatkan disekolah lalu membandingkannya
dengan ilmu yang didapatkan dari tempat PKL.
BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1. Definisi Puskesmas

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah fasilitas pelayanan


kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya
kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya
promotif dan preventif di wilayah kerjanya. Puskesmas diatur kembali dengan
Peraturan Menteri Kesehatan yang baru yaitu Permenkes 43 tahun 2019 tentang
Puskesmas.

Permenkes 43 tahun 2019 tentang Puskesmas menyebutkan bahwa


Puskesmas adalah Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Faskes). Fasilitas Pelayanan
Kesehatan adalah suatu tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya
pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang
dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat. Puskesmas
mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan
pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.

Puskesmas adalah UKM tingkat pertama. UKM dalam Permenkes 43 tahun


2019 tentang Puskesmas dijelaskan bahwa Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)
adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta
mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan dengan sasaran
keluarga, kelompok, dan masyarakat. Sedangkan Upaya Kesehatan Perseorangan
(UKP) adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan
yang ditujukan untuk peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit,
pengurangan penderitaan akibat penyakit dan memulihkan kesehatan
perseorangan.

1
2

Jenis - Jenis Puskesmas - Terdapat dua jenis puskesmas menurut Departemen


Kesehatan RI (2001) yaitu puskesmas perawatan dan puskesmas nonperawatan.

a. Puskesmas Perawatan

Dalam rangka mengembangkan layanan kesehatan, Provinsi Jawa Timur


berupaya mengembangkan fungsi layanan puskesmas yakni puskesmas
non perawatan dan puskesmas perawatan (rawat inap). Menurut Setiawan
(2012) upaya Provinsi Jawa Timur tersebut bertujuan untuk meningkatkan
akses masyarakat dalam perawatan dan pengobatan. Puskesmas rawat inap
didefinisikan pula sebagai puskesmas yang dilengkapi ruangan tambahan
dan fasilitas untuk menyelamatkan pasien gawat darurat dan tindakan yang
diberikan adalah tindakan operatif terbatas dan rawat inap sementara
(Effendi, 2009). Rawat inap pasien dilakukan paling sedikit 24 jam
perawatan.

Puskesmas Perawatan adalah Puskesmas yang berdasarkan Surat


Keputusan Bupati atau Walikota menjalankan fungsi perawatan dan untuk
menjalankan fungsinya diberikan tambahan ruangan dan fasilitas rawat
inap yang sekaligus merupakan pusat rujukan antara (Departemen
Kesehatan RI, 2007).

Puskesmas perawatan (rawat inap) berfungsi sebagai pusat rujukan pasien


yang gawat darurat sebelum dibawa ke rumah sakit. Tindakan operatif
terbatas seperti kecelakaan lalu lintas, persalinan dengan penyulit dan
penyakit lain yang bersifat gawat darurat. Puskesmas perawatan sebagai
puskesmas rawat inap tingkat pertama memberikan pelayanan kesehatan
yang meliputi observasi, diagnosa, pengobatan, rehabilitasi medik dengan
tinggal di ruang rawat inap puskesmas (Kepmenkes nomor
28/MENKES/SK/IX/2008).Puskesmas Non Perawatanskesmas Perawatan
(Rawat Inap)
3

b. Puskesmas Non Perawatan

Jenis Puskesmas non perawatan hanya melakukan pelayanan kesehatan


rawat jalan (Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut
Teknologi Telkom, 2012). Permenkes No.029 tahun 2010 menyebutkan
kegiatan di pelayanan kesehatan rawat jalan yakni observasi, diagnosis,
pengobatan, dan atau pelayanan kesehatan lainnya tanpa dirawat inap.

2.1.1. Fungsi Puskesmas


Ada 3 fungsi pokok puskesmas, yaitu:

1. Sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat di wilayahnya


2. Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam
rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat
3. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu
kepada masyarakat di wilayah kerjanya.

Proses dalam melaksanakan fungsinya, dilakukan dengan cara:

1. Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan


kegiatan dalam rangka menolong dirinya sendiri.
2. Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana
menggali dan menggunakan sumberdaya yang ada secara efektif
dan efisien.
3. Memberi bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan
rujukan medis maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat
dengan ketentuan bantuan tersebut tidak menimbulkan
ketergantungan.
4. Memberi pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat.
4

5. Bekerja sama dengan sektor-sektor yang bersangkutan dalam


melaksanakan program puskesmas.

Kegiatan Pokok Puskesmas

Berdasarkan Buku Pedoman Kerja Puskesmas yang terbaru ada beberapa


usaha pokok kesehatan yang dapat dilakukan oleh puskesmas, itupun sangat
tergantung kepada faktor tenaga, sarana dan prasarana serta biaya yang tersedia.

Pelaksanaan kegiatan pokok diarahkan kepada keluarga sebagai satuan


masyarakat terkecil. Oleh karena itu kegiatan pokok puskesmas ditujukan untuk
kepentingan keluarga sebagai bagian dari masyarakat di wilayah kerjanya.
Kegiaian-kegiatan yang dilaksanakan oleh petugas dan kegiatan pokok di atas
adalah:

1. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak


2. Upaya Keluarga Berencana
3. Upaya Perbaikan Gizi
4. Upaya Kesehatan Lingkungan
5. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
6. Upaya Pengobatan
7. Upaya Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
8. Upaya Kesehatan Sekolah
9. Upaya Kesehatan Olahraga
10. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat
11. Upaya Peningkatan Kesehatan Kerja
12. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut
13. Upaya Kesehatan Jiwa
14. Upaya Kesehatan Mata
15. Upaya Pembinaan Peran serta Masyarakat
16. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional
5

2.1.3. Tujuan Puskesmas


1.    Terwujudnya pembangunan berwawasan kesehatan termasuk didalamnya
meningkatkan kualitas sanitasi lingkungan dengan memanfaatkan jejaring
surveilans epidemiologi.
2.    Terwujudnya Sumber Daya Manusia yang berkualitas melalui
peningkatan Pengetahuan Sikap dan Perilaku (PSP) Hidup Bersih dan
Sehat (HBS).
3.    Terwujudnya pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau
serta tercukupinya obat dan perbekalan kesehatan.
4.    Terlindunginya pelayanan kesehatan masyarakat, pembimbingan dan
pengawasan sarana kesehatan umum; sarana produksi / distribusi pangan
kosmetik dan obat tradisional.
5.    Terwujudnya kemandirian masyarakat melalui Usaha Kesehatan Berbasis
Masyarakat (UKBM).

2.2 PUSKESMAS CILEUNGSI


2.2.1 Keadaan geografis
Puskesmas Cileungsi terletak di Kecamatan Cileungsi yang terletak di
wilayah Timur Kabupaten Bogor. Kecamatan ini merupakan salah satu daerah
industri di kawasan Jabodetabek, dimana karakteristik penduduknya majemuk
disertai dengan tingkat mobilisasi yang tinggi. Hal tersebut
menimbulkanpermasalahan tersendiri khususnya di bidang kesehatan.Wilayah
kerja PuskesmasCileungsi luas 7.378,639 Ha dan secara administratif terdiri dari 4
desa, denganbatas – batassebagaiberikut :
Sebelah Utara : KecamatanBantarGebang
Sebelah Selatan : KecamatanKlapaNunggal
Sebelah Barat : KecamatanGunungPutri
SebelahTimur : DesaMekarsari
Desa yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Cileungsi adalah sebagai
berikut:
1. DesaCileungsi
6

2. DesaCileungsiKidul
3. DesaLimusnunggal
4. DesaDayeuh

GAMBAR 2.2.1. PETA WILAYAH KERJA PUSKESMAS CILEUNGSI TAHUN


2020

2.2.2. Keadaan demografi

Penduduk di wilayahkerjaPuskesmasCileungsitahun 2020berjumlah


181.710 jiwa. terdiridarilaki –laki 91.927 jiwadanperempuan 89.783 jiwa.
AdapunjumlahpendudukdesadapatdilihatpadaTabel 2.1 dibawahini :
TABEL 2.2.2. JUMLAH PENDUDUK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
CILEUNGSI TAHUN 2020
JUMLAH PENDUDUK
NO NAMA DESA
L P TOTAL
1 DESA CILEUNGSI 17735 16737 34472
2 DESA CILEUNGSI 27461 26646 54106
KIDUL
3 DESA LIMUS NUNGGAL 24337 24848 49186
4 DESA DAYEUH 22394 21552 43946
 TOTAL 91927 89783 181710
TABEL 2.2.2. DISTRIBUSI SASARAN PROGRAM PERDESA DI
PUSKESMAS CILEUNGSI TAHUN 2020
BULIN BUFAS/

BAYI (0-11) BLN BALITA (1-4) TH LANSIA


BUMIL

JML
JML

JML

NO DESA L P L P L P

1 Cileungsi 741 707 342 323 665 1371 1302 2673 1559 1607 3166
7

2 Cileungsi
1163 1109 530 514 1044 2123 2073 4196 2413 2558 4971
Kidul
3 Limus
1057 1008 470 480 950 1881 1933 3814 2139 2385 4524
Nunggal
4 Dayeuh 945 901 432 416 848 1731 1677 3408 1968 2069 4037

5 TOTAL 3906 3725 1774 1733 3507 7106 6985 14091 8079 8619 16698

2.2.3. Ketenagaan
Jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Cileungsi dapat dilihat pada tabel
berikut:
TABEL 2.2.3. DISTRIBUSI TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS
CILEUNGSI TAHUN 2020
TOTA
TINGKAT PENDIDIKAN
L
NO JENIS KETENAGAAN
S.2 S.1 D.I D.II D.I SPK/SMF
V I / SLTA
1 Kepala Puskesmas 0 1 0 0 0 0 1
2 Kepala Tata Usaha 0 1 0 0 0 0 1
3 Dokter Umum 0 3 0 0 0 0 3
4 Dokter Gigi 0 1 0 0 0 0 1
5 Pelaksana Kebidanan 0 0 2 16 0 0 18
6 Pelaksana Keperawatan 0 1 0 4 0 1 6
7 Pelaksana Keperawatan 0 0 0 1 0 0 1
Gigi
8 Pelaksana Sanitasi 0 0 0 1 0 0 1
9 Pelaksana Analis Kesehatan 0 0 0 1 0 1 2
10 Pelaksana Obat 0 1 0 0 0 0 1
11 Pelaksana Gizi 0 1 0 0 0 0 1
12 Pelaksana Rekam Medis 0 0 0 0 0 0 0
13 Pelaksana Kasir 0 1 0 0 0 0 1
14 Fungsional Umum 0 1 0 0 0 1 2
15 Sopir 0 0 0 0 0 0 0
16 Cleaning Servis 0 0 0 0 0 1 1
JUMLAH 0 12 1 23 0 0 40

2.2.4. VISI, MISI, MOTTO DAN TUJUAN


Pembangunan kesehatan sangat dipengaruhi oleh berbagai dimensi dan
melibatkan berbagai pihak dan disiplin ilmu untuk menjangkaunya. Salahsatunya oleh
perilaku manusia yang memerlukan rentang waktu panjang untuk merubahnya. Untuk
mencapai tujuan yang diharapkan perlu diletakkan misi dan visi yang jelas dan
terukur.
1. VISI
8

Terwujudnya Masyarakat Kecamatan Cileungsi Yang Mandiri Untuk Hidup


Sehat.

2. MISI
Untuk Mewujudkan Visi Diatas Ditetapkan :

 MengembangkanPelayananKesehatanDasar Yang Lengkapdan


Professional Bagi Masyarakat
 MemberdayakanMasyarakatDalam Pembangunan
BerwawasanKesehatan.
 MenggalangKemitraanDenganSektorTerkait

3. MOTTO
“MELATI” MelayaniSegenapHati

4. TUJUAN
 Terselenggaranya Pelayanan Kesehatan Dasar Yang Bermutu Merata,
Aman, Memuaskan, Profesional, Ikhlas.
 Meningkatnyakualitashidup (quality of life) danlingkunganhidup yang
sehatdanproduktif ( Environmental Health and Productivity ).
 Tersedianya SDM PuskesmassesuaiStandarPelayanan Minimal.
 TercapainyakepesertaanJaminanKesehatanNasional (JKN)
diwilayahPuskesmasCileungsi.

5. STRATEGI
- MeningkatkanSaranadanPrasaranaPelayananKesehatan
- MeningkatkanPelayananKesehatanBagi Masyarakat Miskin
- MeningkatkanPemeliharaanKesehatanMasyarakat
- Meningkatkan Status GiziMasyarakat
- Menurunkan AKI dan AKB
- MeningkatkanPelayananKesehatanAnakPrasekolah
- MeningkatkanKualitasLingkungan yang MemenuhiSyaratKesehatan
- MenghindarkanMasyarakatdariPenyakitMenular
- MeningkatkanUpayaPreventifdalamUpayaPelayananKesehatan
- Meningkatkan PHBS
- MeningkatkanSaranadanPrasaranaKerja yang Memadai
- MeningkatkanAkuntabilitasKinerja

6. NILAI DAN NORMA


9

NILAI-NILAI NORMA
SIGAP Cepat tanggap dalam merespon pasien
AMANAH Dalam memberikan pelayanan sesuai dengan standar
dan terpercaya
HUMANIS Berperikemanusiaan dalam memberikan pelayanan
AKUNTABEL Pelayanan yang diberikan dapat dipertanggung
jawabkan
TERTIB Sesuai dengan peraturan yang berlaku
EFEKTIF DAN Mampu mengerjakan tugas dengan tepat dan cermat
EFISIEN

2.2.5 Struktur Organisasi UPTD Puskesmas Cileungsi


Sebagai satu bentuk organisasi, Puskesmas Cileungsi memiliki stuktur
organisasi yang jelas dan mengacu pada Struktur Organisasi Dinas Kesehatan
Kabupaten Bogor. Struktur organisasi tersebut terdiri dari:
Unsur Pimpinan : Kepala Puskemas
Unsur Pembantu Pimpinan : UnitKetatausahaan
Unsur Fungsional : Pegawaidalamjabatanfungsionaltertentu
Jumlah unit tergantung pada kegiatan, jumlah tenaga dan fasilitas yang
ada.Untuk memudahkan koordinasi semua unit dikelompokkan dalam dua
kelompok besar, yaitu Usaha Kesehatan Masyarakat dan Usaha Kesehatan
Perorangan. Masing-masing kelompok di atur oleh seorang Koordinator.
Kepala Puskesmas berfungsi memimpin, mengawasi dan
melaksanakan koordinasi kegiatan Puskesmas yang dapatdilakukan dalam
jabatan struktural dan jabatan fungsional. Dalam melaksanakan tugas, Kepala
Puskesmas wajib menetapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi
dalam lingkungan Puskesmas maupun dengan satuan organisasi diluar
lingkungan puskesmas.
10

GAMBAR 2.2.5 STRUKTUR ORGANISASI PUSKESMAS CILEUNGSI


TAHUN 2021
11
12

BAB III
TINJAUAN KHUSUS

3.1. Definisi Resep


Resep dokter adalah permintaan tertulis dari seorang dokter, dokter gigi,
dokter hewan kepada apoteker (farmasis) untuk membuat dan menyerahkan
obat kepada pasien. Yang berhak menulis resep adalah :
a. Dokter umum atau spesialis
b. Dokter gigi (terbatas pada pengobatan gigi dan mulut).
c. Dokter hewan (terbatas pengobatan hewan).
d. Simbol “Rx” yang merupakan kependekan dari “Recipe” dengan
simbol huruf kapital R dengan tanda silang pada diagonal, yang
memiliki arti “ambil”.Dibelakang tanda ini (R/) biasanya baru tertera
nama dan jumlah obat.
Umumnya resep ditulis dalam bahasa latin. Suatu resep yang lengkap harus
memuat:
a. Nama, alamat, dan nomor izin praktek dokter, dokter gigi atau dokter
hewan.
b. Tanggal penulisan resep, nama setiap obat atau komposisi obat.
c. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep.
d. Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
e. Nama pasien, jenis hewan, umur, serta alamat atau pemilik hewan.
f. Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yang
jumlahnya melebihi dosis maksimal.
Resep disebut juga formulae medicae, terdiri dari:
3. formulae officinalis (yaitu resep yang tercantum dalam buku farmakope
atau buku lainnya dan merupakan standar).
4. formulae magistralis (yaitu resep yang ditulis oleh dokter)
a. Komponen Resep
13

1. Inscriptio (Alamat penulis Resep), mencakup: identitas dokter


penulis (nama, alamat, SIK dan SIP) tempat dan tgl penulisan
resep dan tanda pembuka resep R/.
2. Praescriptio (Perintah atau pesanan), mencakup: nama obat
bentuk sediaan jumlah dan dosis obat.
3. Signatura (Tanda yang harus ditulis di etiket obatnya),
mencakup: Nama penderita dan Petunjuk mengenai obatnya.
4. Subscriptio (Tanda tangan atau paraf) tanda yang membuktikan
bahwa resep tersebut sah.
5. Resep untuk pengobat segera
Untuk penderita yang memerlukan pengobatan segera dokter dapat memberitanda:
a. Cito : segera
b. Urgent : penting
c. Statim : penting
d. P.I.M ( Periculum In Mora) : berbahaya bila ditunda.
Pada bagian atas kanan resep, apoteker harus mendahulukan pelayanan resep ini
termasuk resep antidotum.
Bila dokter ingin agar resepnya dapat diulang, maka dalam resep ditulis Iteratie.
Dan ditulis berapa kali resep boleh diulang. Misalkan iteratie 3 X, artinya resep
dapat dilayani 1 + 3 kali ulangan = 4 X . Untuk resep yang mengandung
narkotika, tidak dapat ditulis iteratie tetapi selalu dengan resep baru.

Komponen Resep Menurut Fungsi


Menurut fungsi bahan obatnya resep terbagi atas :
1. Remidium Cardinal, adalah obat yang berkhasiat utama.
2. Remidium Ajuvans, adalah obat yang menunjang bekerjanya bahan obat
utama.
3. Corrigens, adalah zat tambahan yang digunakan untuk memperbaiki warna,
rasa dan bau dari obat utama. Corrigens dapat kita bedakan sebagai berikut:
a. Corrigens digunakan untuk memperbaiki kerja zat berkhasiat
Actionis, utama.
14

Contohnya pulvis doveri terdiri dari kalii sulfas,


ipecacuanhae radix, dan opii pulvis.Opii pulvis
sebagai zat berkhasiat utama menyebabkan orang
sukar buang air besar, karena itu diberi kalii sulfas
sebagai pencahar sekaligus memperbaiki kerja opii
pulvis tsb.
b Corrigens digunakan untuk memperbaiki bau dari obat.
. Odoris, Contohnya oleum Cinnamommi dalam emulsi minyak
ikan.
c. Corrigens digunakan untuk memperbaiki rasa obat. Contohnya
Saporis, saccharosa atau sirupus simplex untuk obat-obatan
yang pahit rasanya.
d Corrigens digunakan untuk memperbaiki warna obat . Contohnya
. Coloris, obat untuk anak diberi warna merah agar menarik
untuk diminum.
e. Corrigens digunakan untuk memperbaiki kelarutan dari obat
Solubilis, utama. Contohnya Iodium dapat mudah larut dalam
larutan pekat KI atau NaI
4. Constituens atau Vehiculum atau Exipiens, merupakan zat tambahan.
Constituens adalah bahan obat yang bersifat netral dan dipakai sebagai bahan
pengisi dan pemberi bentuk, sehingga menjadi obat yang cocok. Contohnya
laktosum pada serbuk, amylum dan talcum pada bedak tabur.

Klasifikasi Resep
a. Resep obat jadi,yaitu resep yang berisi sediaan obat jadi.
1. Obat jadi (Sediaan Tablet) JUMLAH TABLET X= 10, L=50, XL=40,
XLV=45, LX=60, C= 100, XC=90, CXX=120
2. Obat Jadi (Sediaan Sirup & Drops) Cth=5 ml C=15 ml (gtt : Tetes)
1 mL = 1 cc = 20 tetes = 20 gtt.
3. Obat Jadi Tetes Mata (Eye Drops, Ed)
4. Obat Jadi Tetes Telinga (Ear Drops, Otic).
5. Obat Jadi Tetes atau Semprot Hidung (Nasal Drop atau Spray).
6. Obat Jadi Krim (Cream) dan Salep (Oint).
15

7. Obat Jadi Tablet Vagina atau Ovula


b. Bentuk danjumlah yang diminta dalam resep racikan:
1. Puyer : mf pulv dtd no X (buatkan puyer sebanyak 10 bungkus).
2. Kapsul: mf pulv da in caps dtd no XX (buat puyer dan masukkan
kedalamcapsulsebanyak20).

Salinan Resep (Copy Resep)


Salinan resep adalah salinan yang dibuat oleh apotik, selain memuat semua
keterangan yang terdapat dalam resep asli juga harus memuat :
1. Nama dan alamat apotik
2. Nama dan nomer izin apoteker pengelola apotik.
3. Tanda tangan atau paraf apoteker pengelola apotik
4. Tanda det (detur) untuk obat yang sudah diserahkan dan tanda nedet
(nedetur) untuk obat yang belum diserahkan, pada resep dengan tanda ITER
…X diberi tanda detur orig / detur …..X
5. Nomor resep dan tanggal pembuatan.

Istilah lain dari copy resep adalah apograph, exemplum, afschrif. Apabila
Apoteker Pengelola Apotik berhalangan melakukan tugasnya, penandatanganan
atau pencantuman paraf pada salinan resep yang dimaksud diatas dilakukan oleh
Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti dengan mencantumkan nama
terang dan status yang bersangkutan.
Salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau yang
merawat penderita, penderita sendiri dan petugas kesehatan atau petugas lain yang
berwenang menurut perundang-undangan yang berlaku (contohnya petugas
pengadilan bila diperlukan untuk suatu perkara).

Penyimpanan Resep
Apoteker Pengelola Apotik mengatur resep yang telah dikerjakan menurut urutan
tanggal dan nomor urut penerimaan resep. Resep harus disimpan sekurang-
16

kurangnya selama 3 tahun. Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan


dari resep lainnya.Resep yang disimpan melebihi jangka 3 tahun dapat
dimusnahkan.
Pemusnahan resep dilakukan dengan cara dibakar atau dengan cara lain yang
memadai oleh Apoteker Pengelola Apotik bersama-sama dengan sekurang-
kurangnya seorang petugas apotik. Pada pemusnahan resep harus dibuat berita
acara pemusnahan sesuai dengan bentuk yang telah ditentukan, rangkap 4 dan
ditanda-tangani oleh APA bersama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas
apotik.
Apoteker tidak dibenarkan mengulangi penyerahan obat atas dasar resep yang
sama apabila pada resep aslinya tercantum tanda n.i. (ne iteratur = tidak boleh
diulang) atau obat narkotika atau obat lain yang oleh Menkes (khususnya Dir Jen.
POM) yang ditetapkan sebagai obat yang tidak boleh diulang tanpa resep baru
dari dokter.

3.2 Gudang Farmasi

Gudang farmasi adalah tempat penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, dan


pemeliharaan barang persediaan berupa obat, alat kesehatan dan perbekalan
kesehatan lainnya yang tujuannya akan digunakan untuk melaksanakan program
kesehatan di Kabupaten atau Kodya yang bersangkutan.

Gudang farmasi mempunyai fungsi sebagai tempat penyimpanan yangmerupakan


kegiatan dan usaha untuk mengelola barang persediaan farmasi yangdilakukan
sedemikian rupa agar kualitas dapat diperhatikan, barang terhindardari kerusakan
fisik, pencarian barang mudah dan cepat, barang aman dari pencuri dan
mempermudah pengawasan stok. Gudang farmasi berperan sebagai jantung dari
menjemen logistik karena sangat menetukan kelancaran dari pendistribusian.Oleh
karena itu, maka metode pengendalian persediaan atauinventori
control diperlukan, dipahami dan diketahui secara baik.
17

Dalam hal ini Gudang Farmasi memiliki fungsi seperti penerimaan, penyimpanan,
pengeluaran obat, dengan kegiatan seperti :
a.      Penerimaan
Kegiatan penerimaan merupakan kegiatan yang sangat penting. Jenis, jumlah,
kualitas, spesifikasi, dan persyaratan lainnya dari barang yang diterima harus
sama dengan yang tercantum dalam kontrak. Proses penerimaan sangat
penting karena pada proses inilah kita dapat menyaring barang-barang yang
tidak bermutu dan tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan.
b.    Penyimpanan
Penyimpanan merupakan suatu kegiatan dan usaha untuk melakukan
pengelolaan barang persediaan ditempat penyimpanan. Pengelolaan tersebut
harus dilakukan sedemikian rupa sehingga kualitas barang dapat
dipertahankan dan terhindar dari kerusakan fisik, pencarian barang mudah
dan cepat, barang aman dari pencurian, mempermudah
pengawasan stock barang. Untuk keperluan tersebut diperlukan kegiatan-
kegiatan seperti :
1. Perencanaan ruangan penyimpanan.
2. Perencanaan dan pengoperasiaan alat pengatur barang.
3. Penyelenggaraan prosedur penyimpanan.
4. Pengamanan.
5. Pengeluaran.
Pendistribusian juga harus sesuai dengan permintaan, tepat waktu , tepat
jumlahserta sesuai dengan spesifikasinya. Pengeluaran barang dalam
pendistribusianharus dengan persetujuan pihak yang berwenang sesuai dengan
perencanaanyang diterima oleh pemakai. Mekanisme pengeluaran barang
adalah sesuai dengan prinsip FIFO (First In First Out) yang artinya datang
leabih duludikeluarakan lebih dulu, selain itu dilihat dari masa kadaluwarsanya
walaupundatangnya lebih dulu atau terakhir tapi masa kadaluwarsanya dekat
dikeluar lebih dulu yang disebut FEFO (First Expire First Out).

3.3. Mutu Pelayanan Kesehatan


18

Mutu pelayanan kesehatan adalah hasil akhir (outcome) dari interaksi dan
ketergantungan antara berbagai aspek atau komponen pelayanan kesehatan
sebagai suatu sistem.
Proses pengembangan mutu pada sebuah institusi pelayanan kesehatan
dapat dipahami melalui berFbagai jenis produk dan jasa pelayanan yang
ditawarkan kepada masyarakat, segmen pasar atau konsumen produk tersebut, dan
harapan masyarakat pengguna jasa pelayanan terhadap kinerja pelayanan
kesehatan yang mereka terima. Kemenkes RI memberikan pengertian tentang
mutu pelayanan kesehatan, yang meliputi kinerja yang menunjukan tingkat
kesempurnaan pelayanan kesehatan, tidak saja yang dapat menimbulkan kepuasan
bagi pasien sesuai dengan kepuasan rata-rata penduduk tetapi juga sesuai juga
dengan standar dan kode etik profesi yang telah ditetapkan.
Untuk mengembangkan mutu pelayanan kesehatan secara berkelanjutan,
institusi penyedia pelayanan kesehatan harus mengikuti empat kaidah jaminan
mutu yang terdiri dari atas :
a. Pemenuhan kebutuhan dan harapan individu atau kelompok masyarakat
pengguna jasa pelayanan kesehatan.
b. Mengikuti sistem dan proses (standar) di dalam institusi pelayanan
kesehatan.
c. Menggunakan data untuk menganalisis proses penyediaan dan produk
(output dan outcome) pelayanan kesehatan.
d. Mendorong berkembangnya team work yang solid untuk mengatasi setiap
hambatan dan kendala yang muncul dalam proses pengembangan mutu
secara berkesinambungan
Avedis Donabedian mengembangkan metode evaluasi kualitas pelayanan
kesehatan. Pada metode ini dijelaskan bahwa pengukuran kualitas pelayanan
kesehatan dilakukan pada tiga aspek sebagai berikut :
a. Input atau struktur, meliputi sarana fisik perlengkapan dan peralatan,
Sumber Daya Manusia dan organisasinya, manajemen keuangan, dan
sumber daya lainnya di fasilitas kesehatan.
19

b. Proses, adalah semua kegiatan yang dilaksanakan secara profesional oleh


tenaga kesehatan dan interaksinya dengan pasien. Krieria umum yang
digunakan adalah derajat dimana pengelolaan pasien sesuai dengan standar
dan harapan masing - masing proses.
c. Hasil, merujuk pada pengaruh pelayanan kesehatan terhadap status
kesehatan pasien dan harapan pasien.
Menurut pakar yang lain, yaitu Juran, kerangka standar pelayanan
kesehatan meliputi dimensi ketepatan waktu, ketetapan informasi untuk
pelanggan, ketetapan kompetensi yang bersifat teknis, ketepatan interaksi
personal, dan ketepatan lingkungan kerja intitusi.

3.3.1. Mutu Pelayanan Farmasi


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.72 Tahun
2016 Tentang Standar Pelayanan KeFarmasian Di Rumah Sakit, pelayanan
farmasi harus mencerminkan kualitas pelayanan kefarmasian yang bermutu tinggi,
melalui cara pelayanan farmasi rumah sakit yang baik. Pengendalian mutu
pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan yang dapat dilakukan terhadap
kegiatan yang sedang berjalan maupun yang sudah berlalu.Kegiatan ini dapat
dilakukan melalui monitoring dan evaluasi. Tujuan kegiatan ini untuk menjamin
pelayanan kefarmasian yang sudah dilaksanakan sesuai dengan rencana dan upaya
perbaikan kegiatan yang akan datang. Pengendalian mutu pelayanan kefarmasian
harus terintegrasi dengan program pengendalian mutu pelayanan kesehatan rumah
sakit yang dilaksanakan secara berkesinambungan.
Kegiatan pengendalian mutu pelayanan kefarmasian meliputi;
a. perencanaan, yaitu menyusun rencana kerja dan cara monitoring dan
evaluasi untuk peningkatan mutu sesuai target yang ditetapkan.
b. pelaksanaan, yaitu;
1. monitoring dan evaluasi capaian pelaksanaan rencana kerja
(membandingkan antara capaian dengan rencana kerja).
2. memberikan umpan balik terhadap hasil capaian.
c. tindakan hasil monitoring dan evaluasi, yaitu;
20

1. melakukan perbaikan kualitas pelayanan sesuai target yang


ditetapkan.
2. meningkatkan kualitas pelayanan jika capaian sudah memuaskan.
Untuk mengukur pencapaian standar yang telah ditetapkan
diperlukan indikator, suatu alat/tolak ukur yang menunjukkan pada
ukuran kepatuhan terhadap standar yang telah ditetapkan. Indikator
dibedakan menjadi :
a. indikator persyaratan minimal yaitu indikator yang digunakan untuk
mengukur terpenuhi tidaknya standar masukkan, proses, dan
lingkungan
b. indikator penampilan minimal yaitu indikator yang ditetapkan untuk
mengukur tercapai tidaknya standar penampilan minimal pelayanan
yang diselenggarakan.
Pelaksanaan pengendalian mutu pelayanan kefarmasian dilakukan melalui
kegiatan monitoring dan evaluasi yang harus dapat dilaksanakan oleh instalasi
farmasi sendiri atau dilakukan oleh tim audit internal. Monitoring dan evaluasi
merupakan suatu pengamatan dan penilaian secara terencana, sistematis dan
terorganisir sebagai umpan balik perbaikan sistem dalam rangka meningkatkan
mutu pelayanan. Menitoring dan evaluasi harus dilaksanakan terhadap seluruh
proses tatakelola sedian farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
sesuai ketentuan yang berlakuseperti tertera pada gambar diatas, pemasok adalah
IRFS. Sedangkan konsumen adalah pasien, dokter, perawat, profesional kesehatan
lain dan masyarakat rumah sakit pada titik temu terjadi komuniksi antara
konsumen dan pemasok untuk mengidentifikasi kebutuhan dan mengetahui
umpan balik pelayanan positif dan negatif yang dihasilkan atau dihantarkan.
Asesmen oleh pemasok dan konsumen setelah pelayanan dihantarkan merupakan
kegiatan yang penting untuk memperoleh masukan guna memperbaiki layanan.
Jika terdapat hasil pelayanan yang kurang memenuhi kebutuhan konsumen, akan
dilakukan tindakan perbaikan.
Pada pelayanan farmasi pada pasien rawat jalan semua pasien
mendapatkan resep individu dan pelayanan resep dilakukan dengan interaksi
21

langsung antara farmasis dan pasien, sehingga secara langsung dapat


mempengaruhi persepsi pasien terhadap mutu pelayanan IFRS.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 35 tahun 2014 mengenai
standar pelayanan kefarmasian diapotik dan No 72 tahun 2016 mengenai standar
pelayanan kefarmasian dirumah sakit, kegiatan pelayanan resep terdiri dari
pengkajian resep dan dispensing. Pengkajian resep dapat dilakukan terhadap
persyaratan administratif berupa data dokter penulis resep (nama, no ijin, alamat,
tanggal penulisan resep, tanda tangan paraf, ruangan atau unit asal resep), data
pasien (nama, alamat, umur, jenis kelamin,berat badan, tinggi badan). Kesesuian
farmasetik meliputi nama obat, bentuk dan kekuatan sediaan, dosis dan jumlah
obat, stabilitas, aturan dan cara penggunaan. Pertimbangan klinis terdiri dari
pengecekan terhadap kecepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan obat,
duplikasi pengobatan, alergi dan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD),
kontra indikasi dan interaksi obat.Apoteker harus memberikan informasi yang
benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana dan terkini.
Informasi obat pada pasien sekurang kurangnya meliputi : cara penggunaan obat,
manfaat obat, makanan dan minuman yang harus dihindari, kemungkinan efek
samping, dan lain lain.
Pelayanan farmasi yang dilakukan di depo farmasi rawat jalan merupakan
kegiatan dispensing, yaitu proses penyiapan dan pemberian obat kepada pasien
yang namanya tertera di resep dokter disertai informasi yang memadai mengenai
obat tersebut kepada pasien. Kegiatan ini melibatkan interpretasi yang tepat
terhadap maksud dokter yang tertulis diresep dan juga ketepatan penyiapan dan
pemberian label obat sehingga dapat digunakan pasien dengan benar. Konsistensi
penggunaan prosedur dispensing yang baik sangat penting untuk memastikan
bahwa kesalahan dapat di deteksi dan diperbaiki di semua tahapan proses
dispensing.
Berdasarkan analisis kejadian beresiko dalam proses pelayanan
kefarmasian, kejadian obat yang merugikan (adverse drug events), kesalahan
pengobatan (medication errors) dan reaksi obat yang merugikan (adverse drug
reation) menempati kelompok urutan utama dalam keselamatan pasien yang
22

memerlukan pendekatan sistem untuk mengelolanya, mengingat kompleksitas


keterkaitan kejadian antara “kesalahan merupakan hal yang manusiawi” dan
proses farmakoterapi yang sangat kompleks. Faktor lain yang mempengaruhi
terjadinya resiko obat tersebut adalah multifaktor dan multiprofesi yang
kompleks; jenis pelayanan medik, banyaknya jenis dan jumlah obat perpasien,
faktor lingkungan, beban kerja, kompentensi karyawan, kepemimpinan dan
sebagainya. Berdasarkan Laporan Peta Nasional Insiden Keselamatan Pasien
(Konggres PERSI Sep 2007), kesalahan dalam pemberian obat menduduki
peringkat pertama (24.8%) dari 10 besar insiden yang dilaporkan. Jika disimak
lebih lanjut, dalam proses penggunaan obat yang meliputi prescribin,
transcribing, dispensing, dan administering, dispensing menduduki peringkat
pertama.
Medication error adalah kejadian yang dapat dicegah akibat penggunaan
obat, yang menyebabkan cidera.Apoteker berada dalam posisi strategis untuk
meminimalkan medication error. Baik dilihat dari keterkaitan dengan tenaga
kesehatan lain maupun dalam proses pengobatan. Konstribusi yang dimungkinkan
dilakukan antara lain dengan peningkatan pelaporan, pemberian informasi obat
kepada pasien dan tenaga kesehatan lain, meningkatan keberlangsungan
pengobatan pasien, peningkatan kualitas dan keselamatan pengobatan pasien.
Menurut Quick, evaluasi kegiatan dispensing dapat dilakukan melalui
pengukuran terhadap indikator berikut :
a. Rata rata waktu pemberian informasi obat, yaitu waktu yang digunakan
oleh petugas farmasi untuk menjelaskan kepada pasien bagaimana obat
harus digunakan.
b. Presentasi item obat yang disiapkan sesuai resep indikator ini
menggambarkan nilai persediaan obat (indikator stok).
c. Presentase pelabelan obat yang benar sesuai dengan standar prosedur
operasional. Minimal label obat memuat nama pasien, nama obat, dosis
dan frekuensi penggunaan obat.
d. pengetahuan pasien mengenai dosis obat yang benar yang harus
digunakannya.
23

World Health Organization (WHO) menyebutkan indikator penggunaan obat


difasilitas kesehatan terdiri dari indikator peresepan, indikator pelayanan
pasien, dan indikator fasilitas. Indikator pelayanan pasien, hampir mirip dengan
Quick, terdiri dari :
a. Rata-rata waktu konsultasi pasien dengan dokter sebagai penulis resep.
b. Rata-rata waktu dispensing.
c. Persentase obat yang disiapkan.
d. Persentase obat yang diberi label dengan benar.
e. Pengetahuan pasien mengenai dosis obat yang benar yang harus
digunakannya.
Pemerintah melalui Keputusan Menteri Kesehatan
no.129/Menkes/KS/II/2008 mengenai Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit
menetapkan bahwa standar minimal bagi pelayanan farmasi di rumah sakit adalah
sebagai berikut.
a. Waktu tunggu pelayanan: obat jadi kurang dari 30 menit, obat racik
kurang dari 60 menit.
b. Tidak adanya kejadian kesalahan pembeian obat: 100%.
c. Kepuasan pelanggan ≥ 80 %.
d. Penulisan resep sesuai formularium 100 %.

3.3.2. Riset Sumber Daya Manusia ( SDM ) untuk mengukur Mutu


Pelayanan Farmasi
Tahapan aktivitas pada proses dispensing adalah sebagai berikut :
a. Menerima dan memvalidasi resep.
b. Mengerti dan menterjemahkan resep dokter.
c. Menyiapkan obat dan memberi label.
d. Mendokumentasi kegiatan.
e. Menyerahkan obat ke pasien disertai informasi.
Mutu kegiatan dispensing sangat dipengaruhi oleh setiap SDM yang
bertugas melakukan kegiatan tersebut. Menurut Quick banyak faktor yang
mempengaruhi perilaku SDM dalam kegiatan dispensing, yaitu :
24

a. Pelatihan dan pengetahuan.


b. Kompensasi Profesional.
c. Insentif Ekonomi.
d. Ketersediaan barang yang di dispence.
e. Ketersediaan peralatan.
f. Tehnik pemasaran dan promosi.
g. Kemampuan Komunikasi.
Keterkaitan antara peran SDM, yaitu tenaga kefarmasian ( apoteker ,
tenaga teknis kefarmasian ) di Instalasi Farmasi dengan produk pelayanan farmasi
yang dihasilkan, menyebabkan evaluasi mengenai baik buruknya faktor kerja
yang mempengaruhi prestasi atau produktivitas karyawan perlu dilakukan. Karena
sebagian besar jasa yang diberikan oleh orang, seleksi, pelatihan dan motivasi
pegawai dapat membuat perbedaan yang besar dalam keputusan pelanggan
idealnya, pegawai harus memperlihatkan kompetensi, sikap memperhatikan,
responsif, inisiatif, kemampuan memecahkan masalah, dan niat baik. Perusahaan
jasa yang dikelola dengan sangat baik percaya bahwa hubungan antar karyawan
akan mempengaruhi hubungan dengan pelanggan. Manajemen melaksanakan
pemasaran internal dan menciptakan lingkungan yang mendukung dan
menghargai kinerja pelayanan yang baik.Manajemen perlu secara teratur
memeriksa kepuasan kerja pegawai Karl Albrecht mengamati bahwa karyawan
yang tidak puas dapat menjadi teroris Rosenbluth dan Peters sedemikian jauh
mengatakan bahwa pegawai perusahaan, bukan pelanggan perusahaan, yang harus
dinomorsatukan jika perusahaan sungguh-sungguh berharap untuk memuaskan
pelanggannya.
Kondisi kerja sangat mempengaruhi kinerja karyawan.Perusahaan perlu
lebih mengenal karyawannya, bukan hanya tentang identitas, melainkan lebih
dalam lagi, misalnya tentang sikap kerja, motivasi kerja, komunikasi antar
karyawan, tingkat stress, keputusan kerja, dan sebagainya. Informasi ini sangat
dibutuhkan, tidak hanya untuk menghindari kesalahan membuat keputusan SDM
yang tidak efektif, namun juga sebagai kerjanya.
25

3.3.3. Kepuasaan Pelanggan untuk Mengukur Mutu Pelayanan Farmasi


Menurut Kotler, kepuasaan pelanggan adalah perasaan senang atau kecewa
seseorang sebagai hasil dari perbandingan antara prestasi atau produk yang
dirasakan dan yang diharapkannya. Berbagai penelitian tentang ketidakpuasan
pelanggan menunjukan bahwa para pelanggan tidak puas dengan 25 persen dari
keseluruhan pembelian mereka, tetapi hanya lima persen yang mengeluh 95
persen sisanya merasa bahwa mengeluh merupakan usaha yang sia-sia, atau
mereka tidak tahu bagaimana atau kepada siapa harus mengeluh. Dari lima persen
yang menyampaikan keluhan, hanya sekitar 50 persen yang melaporkan mendapat
pemecahan masalah yang memuaskan. Namun rata-rata seorang pelanggan yang
puas memberitahu tiga orang tentang pengalaman produk yang baik, tetapi rata-
rata seorang pelanggan yang tidak puas mengeluh kepada 11 orang. Jika tiap
orang dari kesebelas orang itu memberitahu orang lain lagi, jumlah orang yang
mendengar keburukan itu dari mulut ke mulut akan bertambah secara berlipat
ganda. Namun, pelanggan yang keluhannya diselesaikan dengan baik seeringkali
menjadi lebih setia terhadap peusahaan daripada pelanggan yang tidak pernah
dipuaskan.
Mengukur kepuasan pelanggan sangat bermanfaat dalam rangka
mengevaluasi posisi perusahaan saat ini dibandingkan dengan pesaing dan
pengguna akhir, serta menemukan bagian mana yang membutuhkan peningkatan
Tingkat kualitas pelayanan tidak dapat dinilai berdasarkan sudut pandang
perusahaan tetapi harus dipandang dari sudut pandang penilaian pelanggan dengan
memperhatikan komponen kualitas pelayanan.
Setiap pelanggan yang terkait dengan institusi pelayanan kesehatan
mempunyai keinginan atau harapan terhadap produk/ jasa pelayanan yang
disediakan atau yang dihasilkan oleh institusi penyedia layanan kesehatan.
Persyaratan pelanggan terhadap institusi penyedia pelayanan kesehatan antara lain
efficient (efisien), affardable (terjangkau dari aspek biaya), accessible(terjangkau
dari aspek jarak), equity (adil), fimeless (cepat), continuity (berkesinambungan),
sustamable (berkelanjutan), dan sebagainya.
26

Menurut Parasuraman, Zeithaml dan Berry dalam Rangkuti ciri-ciri


kualitas jasa dapat dievaluasi melalui metoda SERVQUAL (Service Quality) yang
tebagi dalam lima dimensi besar, yaitu :
a. Reliability (keandalan), untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
memberikan jasa yang tepat dan dapat diandalkan.
b. Responsiveness (daya tanggap), untuk membantu dan memberikan
pelayanan kepada pelanggan dengan cepat.
c. Assurance (jaminan) untuk mengkur kemampuan dan kesopanan karyawan
serta sifat dapat dipercaya yang dimiliki oleh karyawan.
d. Emphaty (empati) untuk mengukur pemahaman karyawan terhadap
kebutuhan konsumen serta perhatian yang diberikan oleh karyawan.
e. Tangible (kasat mata) untuk mengukur penampilan fisik, peralatan
karyawan serta sarana komunikasi.
Menurut Muninjaya, kepuasaan pengguna jasa pelayanan kesehatan dapat
disimpulkan sebagai selisih kinerja institusi dengan harapan pelanggan (pasien
atau kelompok masyarakat). Dari penjelasan ini, kepuasan pelanggan (customer
sansfaction) dapat dibuatkan rumus sebagai berikut:
Satisfaction = f (perfomance - expectation)
Dari rumus ini dihasilkan tiga kemungkinan :
a. Perfomance < Expectation.
b. Perfomance = Expectation.
c. Perfomance > Expectation.
Mengadopsi metoda Donabedian, maka dilakukan penelitian mengenai analisis
mutu pelayanan farmasi IFRS Tk. II Moh Ridwan meuraksa Pinang Ranti yang
diukur dari aspek :
a. Input struktur, melalui analisis terhadap SDM, ketersediaan obat jenis
informasi obat dan harga obat perlembar resep.
b. Proses, meliputi pengukuran rata-rata waktu dispensing dan rata-rata waktu
pemberian informasi obat.
27

c. Hasil, berupa analisis hasil jangka pendek (output), yaitu kejadian potensi
medication error dan keterjaringan resep, serta analisis hasil jangka panjang
(outcome) berupa pengukuran kepuasan konsumen.
28

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Jadwal siswa PKL SMKF Avicenna Cileungsi

Catatan :

1. P = Pagi
2. L = Libur

3.3 Pelaksanaan Kegiatan PKL


Kegiatan PKL selama di Puskesmas Cileungsi (Alamat puskesmas) telah
melaksanakan pekerjaan kefarmasian antara lain, membaca resep, menulis etiket,
menyiapkan obat, penyerahan obat.
Puskesmas cileungsi merupakan puskesmas perawatan (rawat inap) yang
berdasarkan Surat Keputusan Bupati atau Walikota menjalankan fungsi perawatan
dan untuk menjalankan fungsinya diberikan tambahan ruangan dan fasilitas rawat
inap yang sekaligus merupakan pusat rujukan antara (Departemen Kesehatan RI,
2007). Puskesmas cileungsi melayani pasien umum dan BPJS, yang membedakan
resep umum dengan resep BPJS terdapat pada atas resep, ada atau tidaknya
stempel BPJS.
Selama PKL di Puskesmas cileungsi, saya tidak hanya ditempatkan
dibagian apotek, ada juga dibagian UGD, IGD covid, rekam medis,KIA dan
bagian apotek. Di UGD ada 2 shift yaitu, shift pagi dan siang. Di IGD covid
melakukan pendataan register covid-19. Di rekam medis mengambil dan
mengembalikan data rekam medis pasien sesuai wilayah kemudian memberikan
data rekam medis ke bagian UGD, poli gigi dan umum. KIA diganti menjadi
petugas pendataran melakukan pendaftaran sebelum memasuki puskesmas untuk
membedakan umum atau BPJS, dan tujuan pengobatan dan keluhan pasien. Di
29

bagian apotek menerima resep dari dokter kemudian membaca resep, menyiapkan
obat, menulis etiket, kemudian melakukan penyerahan obat.
Kegiatan pelayanan resep di apotek Puskesmas Cileungsi tidak jauh
berbeda dengan ketentuan yang berlaku sebagai berikut:

Alur Resep :

1. Penerimaan Resep
Pasien datang membawa resep setelah berkonsultasi dengan
Dokter.
2. Skrinning Resep
Skrinning resep ini antara lain skrinning administratif, skrinning farmasetis,
skrinning klinis.
a. Skrinning administratif. Berguna untuk menghindari kesalahan penulisan
resep maupun pemalsuan resep.yang dianalisis dalam skrinning resep ini
antara lain ada tidaknya maupun keaslian dari :

1. Ada tidaknya nama, SIP dan alamat dokter.


2. Ada tidaknya tanggal penulisan resep.
3. Ada tidaknya tanda tangan/paraf dokter penulis resep.
4. Ada tidaknya nama, alamat, umur, jenis kelamin,dan berat badan pasien
(jika perlu).
5. Benar salahnya nama obat, sesuai tidaknya potensi obat, dosis, jumlah
yang diminta.

b. Skrinning farmasetis. Yakni menyesuaikan dengan kondisi pasien tentang :

1. Bentuk sediaan, cocok atau tidaknya digunakan.


2. Dosis yang dipergunakan sesuai atau tidak dengan usia, umur, atau
berat badan pasien.
3. Potensi obat yang cocok agar berkhasiat untuk penyakit yang diderita
pasien.
4. Stabilitas suatu obat (misalnya sirup).
30

5. Interaksi suatu obat dengan obat yang lainnya ketika dicampur atau
ketika dibuat rusak atau tidak.
6. Kenyamanan pasien pada cara dan lama pemberian obat.

c. Skrinning klinis

1. Adanya alergi, efek samping, interaksi obat.


2. Kesesuaian (dosis,durasi,jumlah obat dam lain-lain).

3. Penyerahan Obat ke Pasien


Obat diserahkan ke pasien, maka harus dilakukan pengecekan kembali
terhadap kesesuaian antara obat dengan etiket, obat dengan resep.Biasanya
pada langkah ini, dicek kembali oleh apoteker yang ada di Instalasi Farmasi.

4. Pemberian Informasi, Edukasi dan Konseling

Apoteker harus memberikan konseling dan informasi yang benar, jelas dan
mudah dimengerti, akurat, bijaksana dan terkini. Informasi obat pada pasien
sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat,
jangka waktu pengobatan, aktivitas, serta makanan dan minuman yang harus
dihindari selama terapi.

Kegiatan yang dilakukan di Puskesmas Cileungsi:

1. Menghafal Obat
Sebelum melayani resep di Instalasi Farmasi diwajibkan menghafal letak obat
untuk memudahkan melayani resep dan cepat dalam pengambilan obat. Obat
yang diletakkan di apotek Puskesmas Cileungsi disusun berdasarkan
farmakologi obatnya.
2. Membaca Resep
Kegiatan ini sangat bermanfaat, karena dengan kegiatan ini dapat melatih
membaca resep yang ditulis oleh dokter yang berbeda–beda serta dapat
mengetahui jenis–jenis resep yang ada.
3. Pelayanan resep
31

a. Mempersiapkan Obat dan Memberi Etiket


Setelah resep datang, tugas kita mempersiapkan obat yang tercantum
dalam resep yang telah diresepkan oleh dokter, kemudian menuliskan
pemakaian obat, yang meliputi penulisan berapa kali pemakaian obat.
b. Penyerahan Obat
Kegiatan ini dilakukan setelah obat sudah siap dan sudah diberi etiket dan
penyerahan obat kepada pasien.

Selama kegiatan PKL berlangsung kami menemukan beberapa perbedaan praktik


di SMKF AVICENNA CILEUNGSI dengan UPTD PUSKESMAS CILEUNGSI
diantaranya sebeagai berikut :

No Di UPTD PUSKESMAS Di SMKF AVICENNA CIEUNGSI


CILEUNGSI
1. Resep di buat oleh dokter Resep di buat oleh pembimbing
(guru)praktek
2 Tidak ada proses pembuatan obat Terdapat pembuatan obat cair.
cair
3 Terdapat suppositoria Tidak terdapat suppositoria.
4 Penulisan etiket boleh Harus menggunakan huruf dan ditulis
menggunakan angka dan pada label yang sudah disediakan
langsung ditulis pada plastiknya
5 Resep datang, obat langsung Resep datang, meminta paraf kepada
disiapkan, dan langsung pengawas, kemudian dikerjakan
penyerahan
32

BAB V
PENUTUP
1.1 Kesimpulan

Dari hasil praktek kerja lapangan yang telah terlaksanakan, dapat saya
simpulkan bahwa:
 Puskesmas Cileungsi melayani pasien BPJS dan umum.
Perbedaan resep dapat dilihat dari ada atau tidaknya stampel BPJS.
 Pelayanan resep puskesmas sudah sangat baik, dari
penerimaan resep sampai penyerahan obatkepada pasien.
 Jika obat yang telah diresepkan tidak tersedia, maka pihak
apotek akan membuatkan salinan resep untuk ditebus diapotek lain.
1.2 Saran
Untuk RS. TK II Muh Ridwan Meuraksa:
 Sebaiknya UPTD Puskesmas Cileungsi lebih
memperbanyak dalam pengadaan obat yang sering digunakan dan
melakukan pengadaan jauh jauh hari agar tidak terjadi kekosongan
saat pelayanan.
 Sebaiknya Puskesmas lebih memperhatikan kedisiplinan
para karyawan supaya karywan tidak terlambat dan sempat mengikuti
apel pagi.
 Sebaiknya karyawan lebih teliti lagi dalam membaca dan
mengambilkan resep supaya tidak terjadi kekurangan atau kelebihan
obat saat diambil dan tidak terjadi kekeliruan dalam mengambil obat.
Untuk SMKF Avicenna Cileungsi:
 Sebaiknya siswa diberi pemantapan materi 2-3 minggu
sebelum melaksanakan PKL
 Sebaiknya pihak sekolah memberikan waktu PKL kurang
lebih 2-3 bulan agar siswa mendapat pengalaman lebih banyak.
1.3 Kesan
 tentunya dapat saya jadikan pengalam untuk modal bekerja
atau melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih Saya mendapat
banyak ilmu dan tantangan baru yang tinggi.
 Selama PKL saya belajar cara bersikap ramah, sopan dan
tata krama terhadap lingkungan sekitan terutama kepada pasien.
1

Anda mungkin juga menyukai