Anda di halaman 1dari 476

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL v
DAFTAR GAMBAR xii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang I-1
1.2 Dasar Hukum Penyusunan I-6
1.3 Hubungan Antar Dokumen I-9
RPJMD Tahun 2021-2026 dan RPJPD Kota
1.3.1 I-9
Samarinda Tahun 2005-2025
RPJMD Tahun 2021-2026 dan RPJM
1.3.2 I-10
Nasional 2020-2024
RPJMD Tahun 2021-2026 dan Rencana Tata I-11
1.3.3
Ruang Wilayah 2014-2034
RPJMD Tahun 2021-2026 dan Rencana I-12
1.3.4
Strategis Organisasi Perangkat Daerah
RPJMD Tahun 2021-2026 dan Rencana
1.3.5 I-13
Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)
1.4 Maksud dan Tujuan I-14
1.5 Sistematika Penulisan I-15

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH


2.1 Aspek Geografi dan Demografi II-1
2.1.1 Karakteristik Lokasi dan Wilayah Kota II-1
Samarinda
2.1.2 Kondisi Topografi II-3
2.1.3 Kondisi Geologi II-4
2.1.4 Kondisi Fisiografi II-5
2.1.5 Kondisi iklim II-5

2.1.6 Potensi Pengembangan Wilayah II-6


2.1.7 Wilayah Rawan Bencana II-17
2.1.8 Demografi II-22
2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat II-24
2.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan
Ekonomi II-24

2.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial II -33

2.3 Aspek Pelayanan Umum II-40


2.3.1 Fokus Layanan Urusan Wajib II-40
2.3.2 Fokus Layanan Urusan Pilihan II-91

2.4 Aspek Daya Saing Daerah II-98

2.4.1 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Per II-98

ii
Kapita
2.4.2 Rasio ketergantungan II-99

2.4.3 Fokus Iklim Berinvestasi II-100

2.5 Evaluasi Hasil Pelaksanaan RPJMD 2016-2021 II-101

Capaian TPB Kota Samarinda II-132


2.6.

BAB III GAMBARAN KEUANGAN DAERAH


3.1 Kinerja Keuangan Masa Lalu III-1
3.1.1 Kinerja Pelaksanaan APBD III-1
3.1.2 Neraca Daerah III-8
3.2 Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu III-14
3.2.1 Proporsi Penggunaan Anggaran III-15

3.2.2 Analisa Pembiayaan III-16

3.3 Kerangka Pendanaan III-18

BAB IV PERMASALAHAN DAN ISU STRATEGIS


4.1 Permasalahan Pembangunan IV-2
4.1.1 Pelayanan Umum Wajib Dasar IV-13
4.1.2 Pelayanan Umum Wajib Non Dasar IV-16
4.1.3 Pelayanan Umum Urusan Pilihan IV-20
4.1.4 Penunjang IV-22
4.2 Isu – Isu Strategis IV-24

4.2.1 Isu Strategis Internasional IV-25


4.2.2 Isu Strategis Nasional IV-28
4.2.3 Isu Strategis Propinsi Kalimantan Timur IV-30
Isu Strategis Perencanaan Pembangunan IV-38
4.2.4
Kabupaten Kutai Kartanegara
Isu Strategis Kajian Lingkungan Hidup IV-39
4.2.5 Strategis RPJMD Kota Samarinda Tahun
2021-2026
4.2.6 Isu Strategis Kota Samarinda IV-44
Hubungan antara Permasalahan Pokok dan IV-51
4.2.7 Isu Strategis
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN
5.1 Visi dan Misi V-1
5.1.1 Visi V-1
5.1.2 Misi V-3
5.2 Tujuan dan Sasaran Pembangunan V-6

BAB VI STRATEGI, ARAH KEBIJAKAN dan PROGRAM


PEMBANGUNAN DAERAH
Strategi dan Arah Kebijakan Kota Samarinda Tahun 2021 -
6.1 VI-2
2026
6.2 Program Pembangunan VI-9
6.3 Program Perangkat Daerah VI-17
6.4 Arah Pengembangan Wilayah VI-79

iii
6.5 Skenario Pengembangan Stuktur Ruang VI-85
6.6 Pengembangan Pusat-Pusat Kegiatan Kota Samarinda VI-86

KERANGKA PENDANAAN PEMBANGUNAN DAN


BAB VII VII-1
PROGRAM PERANGKAT DAERAH

KINERJA PENYELENGGARA PEMERINTAH


BAB VIII
DAERAH
8.1 Indikator Kinerja Utama VIII-1
8.2 Indikator Kinerja Daerah VIII-5

BAB IX PENUTUP

iv
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
2.1. Kecamatan dan Kelurahan Tahun 2020 Kota Samarinda II-2
2.2. Luas Wilayah Menurut Kelas Lereng dan Klasifikasi II-3
Kedalaman Tanah Tahun 2019 Kota Samarinda
2.3. Luas Wilayah Menurut Jenis Tanah Kota Samarinda II-4
2.4. Luas Wilayah Menurut Tipe Fisiografi II-5
Kota Samarinda
2.5. Rata-rata Suhu Udara, Kelembaban, Tekanan Udara, II-6
Kecepatan Angin, CurahHujan dan Penyinaran Matahari
Melalui Stasiun Meteorologi Samarinda Tahun 2019 Kota
Samarinda
2.6. Kepadatan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun II-7
2019 Provinsi Kaltim
2.7. Luas Wilayah Kota Samarinda berdasarkan II-13
Penggunaannya Tahun 2018 Kota Samarinda
2.8. Jenis Pertanian Tahun 2019 Kota Samarinda (Ha) II-13

2.9. Populasi Ternak dan Unggas Tahun 2016-2020 II-14


Kota Samarinda (ekor)
2.10. Komoditi Perikanan Per Kecamatan Kota Samarinda II-15

2.11. Lifting Minyak dan Gas Bumi Tahun 2018 Kota Samarinda II-16
2.12. Indeks Rawan Bencana Indonesia (IRBI) Kabupaten/Kota II-17
Tahun 2019 Provinsi Kalimantan Timur
2.13. Kelas Bahaya Dominan Kota Samarinda II-17
2.14. Rincian Luas Potensi Bahaya Banjir Per Kecamatan II-18
Kota Samarinda
2.15. Perencanaan Antisipasi dan Penanganan Banjir Kota II-20
Samarinda
2.16. Rincian Luas Potensi Bahaya Longsor Per Kecamatan II-21
Kota Samarinda
2.17. Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2019 II-22
Kota Samarinda
2.18. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun
2016-2020 Kota Samarinda II-24
2.19. PDRB dan Laju Pertumbuhan PDRB Tahun 2016-2020 II-25
Kota Samarinda
2.20. Laju Pertumbuhan PDRB ADHK Menurut Lapangan II-26
Usaha Tahun 2016-2020 Kota Samarinda
2.21. Kontribusi PDRB ADHB Menurut Lapangan Usaha Tahun II-27
2016-2020 Kota Samarinda(%)
2.22. Laju Inflasi Tahun 2016-2020 Kota Samarinda II-29

v
Tabel Halaman
2.23. Inflasi Kota Samarinda Menurut Kelompok Komoditi II-30
Tahun 2017-2019Kota Samarinda

2.24. Inflasi Kota Samarinda Menurut Kelompok Komoditi II-30


Tahun 2016-2020 Kota Samarinda
2.25. PDRB Per Kapita Kota Samarinda ADHK 2010 Tahun II-31
2016-2020 Kota Samarinda
2.26. Persentase Penduduk Miskin Tahun 2016-2020 II-32
Kota Samarinda
2.27. Indeks Pembangunan Manusia Tahun 2017-2021 II-33
Kota Samarinda
2.28. IPM Kota Samarinda dan Provinsi Kalimantan Timur II-34
Tahun 2017-2020
2.29. Harapan Lama Sekolah Tahun 2016-2020 Kota Samarinda II-34
2.30. Perkembangan Rata-rata Lama Sekolah Tahun 2017-2020 II-35
Kota Samarinda
2.31. Umur Harapan Hidup Penduduk Kota Samarinda dan II-36
Provinsi Kalimantan Timur Menurut Jenis Kelamin Tahun
2017-2020
2.32. Jumlah Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Usaha II-36
Tahun 2017-2020 Kota Samarinda
2.33. Tingkat Pengangguran Terbuka Tahun 2020 Provinsi II-37
Kaltim dan Kabupaten/Kota se-Kaltim

2.34. Penyelarasan Target Indikator Makro Nasional Provinsi II-39


Kaltim, Dan Kota Samarinda
2.35. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun 2017-2020 II-40
Kota Samarinda
2.36. Rasio Guru dan Murid Tahun Ajaran 2016/2017- II-42
2019/2020 Kota Samarinda
2.37. Angka Kematian Ibu (AKI) Tahun 2017-2020 II-44
Kota Samarinda
2.38. Angka Kematian Bayi (AKB) Tahun 2017-2020 Kota II-44
Samarinda
2.39. Persentase Balita Gizi Kurang Tahun 2017-2020 Kota II-45
Samarinda
2.40. Rasio Puskesmas, Poliklinik dan Pustu Tahun 2017-2020 II-46
Kota Samarinda
2.41. Perkembangan Dokter dan Tenaga Medis Tahun 2017- II-47
2020 Kota Samarinda
2.42. Panjang Jaringan Jalan Menurut Kondisi Jalan Tahun ll-48
2017-2021 Kota Samarinda
2.43. Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tahun 2019 II-49
Kota Samarinda
2.44. Penanganan Banjir Tahun 2017-2021 Kota Samarinda II-50
2.45. Penanganan Banjir Tahun 2017-2021 Kota Samarinda II-50

vi
Tabel Halaman
2.46. Perkembangan Jaringan Irigasi Tahun 2017-2020 II-51
Kota Samarinda
2.47. Persentase Rumah Tangga berakses Air Minum Layak II-52
Tahun 2017-2020 Kota Samarinda
2.48. Luasan Permukiman Kumuh Tahun 2017-2020 II-53
Kota Samarinda
2.49. Persentase Rumah Tidak Layak Huni Tahun 2017-2021 II-54
Kota Samarinda
2.50. Luas Tempat Pemakaman Umum Tahun 2017-2020 Kota II-54
Samarinda
2.51. Rasio Pol PP dan Linmas Tahun 2017-2021 Kota II-55
Samarinda
2.52. Penegakan PERDA Tahun 2017-2021 Kota Samarinda II-56
2.53. Cakupan Patroli Petugas Satpol PP Tahun 2017-2021 Kota II-56
Samarinda
2.54. Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Dirinci Menurut Kegiatan II-57
Seminggu yang Lalu serta Jenis Kelamin di 2017-2020
Kota Samarinda (orang)
2.55. Tingkat Pengangguran Terbuka Tahun 2017-2020 Kota II-58
Samarinda
2.56. Data Kasus Kekerasan terhadap Anak dan Dewasa Tahun II-59
2016-2020 Kota Samarinda
2.57. Jumlah Perempuan di Lembaga Pemerintah Tahun 2017- II-58
2020 Kota Samarinda
2.58. Ketersediaan Pangan Utama Tahun 2016-2020 Kota II-61
Samarinda
2.59. Identifikasi Lokasi Pengamatan dan Nilai DTBP Kota II-69
Samarinda
2.60. Persentase Penanganan Sampah Tahun 2017-2021 Kota II-71
Samarinda
2.61. Rasio Tempat Pembuangan Sampah (TPS) terhadap II-71
Jumlah Penduduk Tahun 2017-2021 Kota Samarinda
2.62. Cakupan Pengawasan Terhadap Pelaksanaan AMDAL II-72
Tahun 2017-2021 Kota Samarinda
2.63. Kepemilikan KTP-el dan Kartu Keluarga Tahun 2018-2020 II-72
Kota Samarinda
2.64. Kepemilikan Akta Perkawinan Tahun 2017-2020 Kota II-73
Samarinda
2.65. Kepemilikan Akta Perceraian Tahun 2017-2020 Kota II-73
Samarinda
2.66. Kepemilikan Akta Kelahiran Tahun 2017-2020 Kota II-74
Samarinda
2.67. Perpindahan Penduduk Tahun 2017-2020 Kota Samarinda II-74

2.68. Jumlah Peserta Program KB Aktif Tahun 2017-2021 Kota II-77


Samarinda

vii
Tabel Halaman
2.69. Presentase PMKS Tahun 2017-2021 Kota Samarinda II-78
2.70. Persentase Keluarga Pra Sejahtera Tahun 2017-2020 Kota II-78
Samarinda
2.71. Jumlah Arus Penumpang Tahun 2017-2021 Kota II-79
Samarinda
2.72. Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bus Kota II-80
Samarinda Tahun 2017-2021
2.73. Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas Tahun 2017-2020 Kota II-81
Samarinda
2.74. Jumlah Uji KIR Angkutan Umum Tahun 2018-2020 Kota II-81
Samarinda
2.75. Persentase Koperasi Aktif Tahun 2017-2020 Kota II-83
Samarinda
2.76. Jumlah UMKM Tahun 2017-2019 Kota Samarinda II-83

2.77. Realisasi Investasi Tahun 2017-2020 Kota Samarinda II-85


2.78. Sarana Dan Prasarana Seni Budaya Tahun 2017-2020 Kota II-86
Samarinda
2.79. Perkembangan Seni dan Budaya Tahun 2017-2020 II-86
Kota Samarinda
2.80. Bangunan & Situs Cagar Budaya Tahun 2017-2021 II-87
Kota Samarinda
2.81. Koleksi Buku Perpustakaan Tahun 2017-2021 Kota II-89
Samarinda
2.82. Jumlah Pengunjung Perpustakaan Tahun 2017-2021 Kota II-90
Samarinda
2.83. Perkembangan Pengelolaan Kearsipan Tahun 2017-2021 II-91
Kota Samarinda
2.84. Produksi Perikanan Budidaya Tahun 2017-2021 Kota II-92
Samarinda
2.85. Produksi Perikanan Tangkap Tahun 2017-2021 Kota II-92
Samarinda
2.86. Luas Tanaman Pangan Tahun 2017-2018 Kota Samarinda II-94

2.87. Produksi Padi Sawah dan Ladang Kota Samarinda Tahun II-94
2017-2019
2.88. Data Kunjungan Wisatawan Tahun 2017-2021 Kota II-95
Samarinda
2.89. Distribusi dan Laju Pertumbuhan PDRB ADHK 2010 II-96
Sektor Perdagangan Tahun 2017-2020 Kota Samarinda
2.90. Jumlah Sarana Perdagangan Tahun 2017-2021 Kota II-96
Samarinda
2.91. Distribusi dan Laju Pertumbuhan PDRB ADHK 2010 Sektor II-97
Industri Pengolahan Tahun 2017-2020 Kota Samarinda
2.92. Jenis Industri Tahun 2017-2020 Kota Samarinda II-97
2.93. Rata-rata Pengeluaran Per Kapita Tahun 2017-2020 Kota II-99
Samarinda

viii
Tabel Halaman
2.94. Rasio Ketergantungan Tahun 2017-2020 Kota Samarinda II-99
2.95. Angka Kriminalitas Tahun 2017-2021 Kota Samarinda II-101
2.96. Evaluasi Keberhasilan Misi (Target Indikator Sasaran) II-103
Pada Pelaksanaan RPJMD 2016-2021
2.97. Rasio Derajat Otonomi Fiscal (DOF) Kota Samarinda Tahun II-113
2016 – 2020
2.98. Rasio Derajat Otonomi Fiskal (DOF) Kota Samarinda Tahun II-114
2020
2.99. Capaian Target Indikator Misi 4 Memantapkan Sektor Jasa dan II-124
Perdagangan Sebagai Sektor Unggulan tahun 2017- 2020
(Tahun ke 4 – 2020)
2.100. Indeks Pembangunan Manusia Kota Samarinda Tahun 2010 – II-126
2020
2.101. Capaian Target Indikator Misi 5 Mewujudkan Masyarakat Kota II-129
Samarinda Yang Berkarakter, Sehat, Cerdas, Serta Berdaya
Saing Nasional dan Internasional Tahun 2017- 2020 (Tahun ke
4 – 2020)
2.102. Capaian target Indikator Misi 6 Mewujudkan Iklim Kehidupan II-131
Masyarakat Kota Samarinda yang Harmoni, Berbudaya, dan
Religius Tahun 2017-2021 (Tahun ke 4 – 2020)
2.103. Capaian TPB Kota Samarinda II-133

2.104. Capaian Indikator TPB pada Pilar Sosial II-136


2.105. Capaian Indikator TPB pada Pilar Ekonomi II-137
2.106. Capaian TPB pada Pilar Lingkungan II-138
2.107. Capaian TPB pada Pilar Hukum Tata Kelola II-139
2.108. Capaian TPB pada Semua Pilar Pembangunan II-140

2.109. Target dan Realisasi Pelayanan Dasar Minimal Pendidikan II-141


Tahun 2020

2.110. Target dan Realisasi Pelayanan Dasar Minimal Kesehatan II-142


Tahun 2020

2.111. Target dan Realisasi Pelayanan Dasar Minimal Pekerjaan II-144


Umum Tahun 2020

2.112. Target dan Realisasi Pelayanan Dasar Minimal Perumahan dan II-145
Pemukiman Tahun 2020

2.113. Target dan Realisasi Pelayanan Minimal Trantibunlinmas II-145


Tahun 2020

2.114. Target dan Realisasi Pelayanan Dasar Minimal Sosial Tahun II-147

ix
Tabel Halaman
2020

3.1 Derajat Otonomi Fiskal Daerah Kota Samarinda Tahun III-1


2016 s/d Tahun 2020
3.2 Perkembangan APBD dan Realisasi APBD Tahun 2016 s/d III-2
Tahun 2020 Kota Samarinda
3.3 Pertumbuhan Realisasi APBD Tahun 2016 s/d Tahun III-3
2020 Kota Samarinda
3.4 Rasio Kemandirian Keuangan Tahun 2016 s/d Tahun III-4
2020 Kota Samarinda
3.5 Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah III-5
Tahun 2016 s/d Tahun 2020 Pemerintah Kota Samarinda
3.6 Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Anggaran Belanja III-6
Daerah Tahun 2016 s/d Tahun 2020 Pemerintah Kota
Samarinda
3.7 Realisasi Pembiayaan Daerah Tahun 2016 s/d Tahun 2020 III-7
Pemerintah Kota Samarinda
3.8 Pertumbuhan Neraca Daerah Tahun 2016 s/d Tahun 2020 III-8
Kota Samarinda
3.9 Rasio Lancar Kota Samarinda Tahun 2016-2020 III-10

3.10 Rasio Hutang Terhadap Ekuitas Kota Samarinda III-11


Tahun 2016 s/d Tahun 2020
3.11 Rasio Hutang Terhadap Total Aktiva Kota Samarinda III-12
Tahun 2016 s/d Tahun 2020
3.12 Rasio Perputaran Aktiva Tetap Kota Samarinda III-13
Tahun 2016 s/d Tahun 2020
3.13 Rasio Perputaran Total Aktiva Kota Samarinda III-13
Tahun 2016 s/d Tahun 2020
3.14 Analisis Rasio Keuangan Kota Samarinda Tahun III-14
2016-2020
3.15 Opini BPK terhadap Laporan Keuangan Daerah III-15
Kota Samarinda Tahun 2015 s/d Tahun 2019
3.16 Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur III-15
Kota Samarinda Tahun 2016 s/d Tahun 2020
3.17 Defisit Riil dan Penutup Defisit Riil Anggaran Pemerintah III-16
Kota Samarinda Tahun 2016 s/d Tahun 2020
3.18 Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Pemerintah Kota III-17
Samarinda Tahun 2016 s/d Tahun 2020
3.19 Realisasi SILPA Kota Samarinda Tahun 2016 s/d Tahun III-17
2020
3.20 Proyeksi Pendapatan Daerah Tahun 2022 s/d Tahun 2026 III-18
Kota Samarinda
3.21 Proyeksi Belanja Daerah Tahun 2022 s/d Tahun 2026 III-20
Kota Samarinda
3.22 Proyeksi Kapasitas Riil Kota Samarinda Tahun 2022 s/d III-21
Tahun 2026
3.23 Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan III-22
Keuangan Daerah Kota Samarinda Tahun 2022 s/d Tahun
2026

x
Tabel Halaman
3.24 Daftar Utang Tahun 2021 Perangkat Daerah Pemkot III-23
Samarinda Kepada Pihak Ketiga
4.1 Hasil Evaluasi AKIP Tahun 2016-2019 Kota Samarinda IV-3

4.2 Hasil Evaluasi SPBE Tahun 2018-2019 Kota Samarinda IV-4

4.3 Identifikasi Masalah dan Akar Masalah IV-5


“Pelaksanaan reformasi birokrasi belum menyentuh
seluruh area”
4.4 Identifikasi Masalah dan Akar Masalah IV-7
“Pembangunan sumber daya manusia belum merata untuk
mewujudkan masyarakat unggul”
4.5 Identifikasi Masalah dan Akar Masalah IV-11
“Belum terwujudnya sektor ekonomi yang mendukung
ekonomi kerakyatan dan menciptakan daya saing”
4.6 Identifikasi Masalah dan Akar Masalah IV-13
“Pembangunan lingkungan belum menggambarkan
Samarinda Kota TEPIAN”
4.7 Dampak Covid-19 terhadap pencapaian TPB IV-41

4.8 Hubungan Permasalahan Pokok dan Isu Strategis IV-51


Kota Samarinda
5.1 Keselarasan RPJMD dengan Tujuan Pembangunan V-7
Berkelanjutan (SGDs)
5.2 Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Rencana V-9
Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Samarinda
Tahun 2021-2026
6.1 Strategi dan Arah Kebijakan RPJMD Kota Samarinda Tahun VI-3
2021-2026
6.2 Rencana Implementasi Program Unggulan Daerah Tahun VI-10
2021 – 2026
6.3 Program Pembangunan Daerah VI-20

6.4 Arah Kebijakan dan Fokus Pembangunan dan VI-88


Pengembangan Kewilayahan Kecamatan
6.5 Arah Kebijakan dan Fokus Pembangunan dan VI-90
Pengembangan wilayah strategis kota
6.6 Skenario Pengembangan Struktur Ruang VI-94

7.1 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah VII-2


Untuk Mendanai Pembangunan Kota Samarinda Tahun
2021-2026
7.2 Indikasi Rencana Program Prioritas Yang Disertai Kebutuhan VII-6
Pendanaan
8.1 Indikator Kinerja Utama Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VIII-3

8.2 Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja VIII-6


Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kota Samarinda Tahun
2021-2026

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
1.1 Alur Keterhubungan Dokumen RPJMD Kota Samarinda Tahun I-12
2021-2026 dan RTRW Kota Samarinda Tahun 2014-2034
1.2 Alur Keterhubungan Dokumen RPJMD Kota Samarinda Tahun I-13
2021-2026 dan Rencana Strategis Perangkat Daerah Tahun
2021-2026
1.3 Posisi RPJMD Kota Samarinda dengan Dokumen Perencanaan I-14
Lainnya
2.1. Perkembangan Penduduk Kota Samarinda sejak Tahun 2009- II-8
2039
2.2. Peta Rencana Struktur Ruang Kota Samarinda II-10

2.3. Peta Rencana Pola Ruang Kota Samarinda II-12


2.4. Piramida Penduduk Kota Samarinda Tahun 2020 II-23

2.5. Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2016-2019 Kota Samarinda II-26

2.6. Kontribusi 3 (tiga) Sektor Tertinggi Kota Samarinda II-29

2.7. Perkembangan Harapan Lama Sekolah Tahun 2017-2020 II-34


Kota Samarinda
2.8. Umur Harapan Hidup Tahun 2017-2021 Kota Samarinda II-36

2.9. Angka Partisipasi Kasar (APK) Tahun 2016-2020 Kota II-41


Samarinda
2.10. Angka Partisipasi Murni (APM) Tahun 2016-2020 Kota II-42
Samarinda
2.11. Prevalensi Stunting Tahun 2016-2020 Kota Samarinda II-46
2.12. Pola Pangan Harapan Tahun 2017-2020 Kota Samarinda II-62

2.13. Peta Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup Indikatif Kota II-64
Samarinda
2.14. Peta Status DDDTLH Penyedia Air dari Air PDAM dan Air II-65
tanah
2.15. Peta Status DDDTLH Penyedia Air dari Air Permukaan II-66
(Mahakam)

2.16. Peta Status DDDTLH Penyedia Pangan II-67


2.17. Nilai Indeks Pencemar berbagai segmen di Sungai II-69
Karangmumus

2.18. Peta Indeks Pencemaran Sungai Karangmumus II-70

2.19. Kepemilikan Akta Kematian 2018-2020 II-74


2.20. Pertumbuhan Penduduk Tahun 2016-2017 s/d 2019-2020 Kota II-76

xii
Gambar Halaman
Samarinda

2.21. Tingkat Capaian Misi RPJMD 2016-2021 Kota Samarinda II-110

2.22. Grafik Derajat Otonomi Fiskal (DOF) Kota Samarinda Tahun II-114
2016 - 2020

2.23. Grafik Derajat Otonomi Fiskal (DOF) Kota Samarinda Tahun II-115
2020

2.24. Pencapaian Target Pada RPJMD Kota Samarinda Tahun 2016- II-117
2021 Kota Samarinda

2.25. Capaian Pengurangan Kumuh di Kota Samarinda Tahun 2016 II-118


– 2020

2.26. Pencapaian target pada RPJMD Kota Samarinda Tahun 2016 - II-119
2021 Untuk Indikator persentase lingkungan Pemukiman
Kumuh

2.27. Pencapaian Target pada RPJMD Tahun 2016-2021 Kota II-119


Samarinda Indikator Proporsi Panjang Jalan Dalam Kondisi
Baik

2.28. Pencapaian target pada RPJMD Kota Samarinda Tahun 2016 - II-120
2021 indikator persentase sarana dan prasarana perhubungan

2.29. Pencapaian Target pada RPJMD Tahun 2016-2021 Kota II-121


Samarinda untuk Indikator Persentase Berkurangnya Titik
Kemacetan

2.30. Pencapaian Target pada RPJMD Tahun 2016-2021 Kota II-122


Samarinda untuk Indikator Adipura

2.31. Grafik Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia Kota II-126


Samarinda , Tahun 2010 – 2020

2.32. Umur Harapan Hidup Saat Lahir di Kota Samarinda Tahun II-127
2017 – 2020

2.33. Harapan Lama Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah Tahun II-127
2017 – 2020

2.34. Pengeluaran per Kapita/Tahun di Kota Samarinda Tahun 2017 II-127


– 2020

2.35. Capaian TPB Kota Samarinda per TPB II-135


2.36. Capaian TPB Kota Samarinda secara Keseluruhan II-135

2.37. Capaian TPB pada Pilar Sosial II-136


2.38. Capaian TPB pada Pilar Ekonomi II-137

xiii
Gambar Halaman
2.39. Capaian TPB pada Pilar Lingkungan II-138

2.40. Capaian TPB pada Pilar Hukum Tata Kelola II-139


2.41. Capaian TPB pada Semua Pilar Pembangunan II-140

4.1. Proporsi Kunjungan Wisatawan Domestik Per Objek Wisata IV-11


Tahun 2019 Kota Samarinda
6.1 Keterkaitan antara Visi, Misi, Strategi, Arah Kebijakan dan VI-1
Program
6.2 Fokus RPJMD Tahun 2021-2026 VI-16

xiv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembangunan daerah pada hakekatnya merupakan upaya sistematis dan
terencana oleh masing-masing stakeholder daerah untuk mengubah keadaan
menjadi lebih baik dengan memanfaatkan berbagai potensi sumber daya yang
tersedia secara optimal, efisien, efektif dan akuntabel, dengan tujuan akhir
untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat secara
berkelanjutan. Untuk tujuan tersebut, maka diperlukan perencanaan
pembangunan untuk menjamin agar kegiatan pembangunan berjalan efektif,
efisien dan berkelanjutan.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (SPPN) mengamanatkan kepada pemerintah daerah
Provinsi, Kabupaten/Kota dalam menyelenggarakan pemerintahannya
diwajibkan untuk menyusun sejumlah dokumen perencanaan pembangunan
daerah. Dokumen perencanaan pembangunan daerah tersebut meliputi; (1)
Dokumen Rencana Pembangunan Daerah yang terdiri dari Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) yang merupakan dokumen
perencanaan untuk periode 20 tahun; Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) untuk periode 5 tahun, dan Rencana Kerja
Pemerintah Daerah (RKPD) untuk periode 1 tahun. Sementara itu, dokumen
rencana perangkat daerah terdiri dari Rencana Strategis Satuan Kerja
Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) yang merupakan dokumen perencanaan
Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 5 tahun, dan Rencana Kerja
(Renja-PD) yang merupakan dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat
Daerah untuk periode 1 tahun. Dalam pasal 5 ayat (2) undang-undang tersebut
juga telah dijelaskan bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) merupakan penjabaran dari visi, misi dan program kepala daerah
yang penyusunannya berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Daerah (RPJPD) dan mempertimbangkan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) serta memuat arah kebijakan keuangan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 I- 1


daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum dan program Satuan
Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka
pendanaan yang bersifat indikatif.
Sementara itu dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah, pasal 260 ayat 1 (satu) disebutkan juga bahwa dalam
rangka penyelenggaraan pembangunan daerah disusun perencanaan
pembangunan daerah sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan
pembangunan nasional. Undang-Undang tersebut juga mengamanatkan kepada
pemerintah daerah untuk menyusun dokumen rencana pembangunan daerah
seperti yang disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004.
Selanjutnya, sesuai dengan ketentuan dalam pasal 263 ayat 3 (tiga), RPJMD
merupakan penjabaran dari visi, misi, arah kebijakan dan sasaran, strategi, arah
kebijakan, pembangunan daerah dan keuangan daerah serta program perangkat
daerah dan lintas perangkat daerah yang disertai dengan kerangka pendanaan
bersifat indikatif untuk jangka waktu 5 (lima) tahun yang disusun dengan
berpedoman pada RPJPD dan RPJMN. Kemudian, berdasarkan waktu
penetapan pelaksanaan dokumen RPJMD, pasal 264 ayat (1), RPJMD
ditetapkan dengan Peraturan Daerah, dimana pada ayat (4) dinyatakan paling
lama 6 (enam) bulan setelah kepala daerah dilantik.
Periode pembangunan jangka menengah Kota Samarinda tahun 2016-
2021 telah berakhir. Periode pembangunan Kota Samarainda berikutnya tahun
2021-2026 dimulai sejak dilantiknya Walikota DR. H. Andi Harun dan Wakil
Walikota DR. H. Rusmadi, pada tanggal 26 Februari 2021. Sebagaimana
amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah,
maka Pemerintah Kota Samarinda berkewajiban menyusun dan menetapkan
dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun
2021-2026 paling lambat 6 (enam) bulan setelah Walikota dan dan Wakil
Walikota dilantik.
RPJMD Kota Samarinda juga merupakan satu kesatuan perencanaan
pembangunan nasional. Untuk itu RPJMD Kota Samarinda juga berpedoman
pada RPJMN Tahun 2020-2024 dan memperhatikan arah kebijakan
Pembangunan Jangka Panjang Nasional serta Perubahan RPJMD Provinsi
Kalimantan Timur Tahun 2019-2023. Perumusan kebijakan dan program

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 I- 2


pembangunan daerah Kota Samarinda dalam lima tahun kedepan adalah juga
untuk mendukung pada pencapaian target pembangunan nasional dan provinsi.
Terkait dengan penyelarasan dan berpedoman pada kebijakan di atasnya
seperti rencana pembangunan nasional (RPJMN) dan rencana pembangunan
Provinsi Kalimantan Timur (RPJMD Provinsi), terdapat beberapa hal penting
yang menjadi catatan dalam dokumen RPJMD Kota Samarinda ini. Dalam
RPJMN Visi Republik Indonesia 2024 Berdaulat, Maju, Adil dan Makmur
diwujudkan dengan masyarakat Indonesa yang mandiri, adil, dan makmur
melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan
terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan
kompetitif di berbagai wilayah yang didukung oleh sumber daya manusia
berkualitas dan berdaya saing. Terdapat lima fokus pembangunan dalam
RPJMN, yaitu 1) pembangunan manusia terkait pelayanan dasar dan
perlindungan sosial, SDM berkualitas dan berdaya saing, dan pembangunan
karakter bangsa; 2) pembangunan ekonomi terkait pangan, energi, pariwisata,
ekonomi kreatif dan digital, industri manufaktur, dan kelautan/kemaritiman; 3)
pembangunan kewilayahan terkait sentra-sentra pertumbuhan, komoditas
unggulan daerah, dan pertumbuhan perkotaan; 4) pembangunan infrastruktur
terkait transportasi, telekomunikasi, sumber daya air, perumahan dan
pemukiman; 5) pembangunan politik, hukum, pertahanan dan keamanan
terkait hukum dan regulasi, pertahanan keamanan dan politik. Lima fokus
utama pembangunan tersebut ditopang dengan kondisi pembiayaan dan
kondisi sumber daya alam dengan pengarusutamaan kesetaraan gender, tata
kelola, kerentanan bencana dan perubahan iklim, modal sosial budaya dan
pembangunan berbasis teknologi digital. Kaidah pembangunan untuk mencapai
keseluruhan rencana ini adalah membangun kemandirian, menjamin keadilan
dan menjaga keberlanjutan (Bappenas, 2020).
Penyelarasan dalam RPJMD terhadap RPJMN terutama pada kinerja
urusan pemerintah daerah, yaitu 1) kinerja urusan Pendidikan terkait merdeka
belajar; 2) kinerja urusan Kesehatan terkait mutu dan akses kesehatan; 3)
kinerja urusan pariwisata terkait kontribusi pada ketahanan ekonomi nasional;
dan 4) kinerja urusan KUKM terkait UMKM yang mampu bersaing.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 I- 3


Namun dalam perjalanannya terdapat kondisi internasional dan nasional
terkait pandemi Covid-19. Kondisi pandemi seperti sekarang ini mengoreksi
beberapa rencana dan menunda beberapa target yang harus dicapai. Menurut
Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), pertumbuhan
ekonomi dunia bisa turun menjadi yang terburuk sejak 2009. Imbas dari
terdampaknya sektor ini dengan adanya covid menyebabkan efek domino dari
melemahnya sektor-sektor lain. Investor akan menurun ataupun bahkan
menghilang, seperti yang dialami oleh hampir semua negara di dunia. Analisis
terhadap dampak pandemi Covid-19 di Indonesia pada tahun 2020, bahwa
proyeksi laju pertumbuhan ekonomi -0,4 – 2,3%; proyeksi tingkat kemiskinan
9,7-10,2%; Proyeksi tingkat pengangguran terbuka 7,8 – 8,5% dan proyeksi
kunjungan wisata mancanegara -3 juta (USD 3,6-4). Secara Nasional Pandemi
Covid berpengaruh terhadap pencapaian agenda pembangunan berkelanjutan
di Indonesia. Indonesia terdampak terhadap menurunnya perekonomian global
yang pertumbuhannya -3%. Arus modal dari Indonesia hingga tahun 2020
mencapai Rp. 145,28 Triliun. Pemerintah kita melakukan paket stimulus dan
langkah cepat penanganan pemulihan ekonomi dan pencegahan Covid-19
diantaranya 1) memberlakukan PSBB/PPKM; 2) Program perlindungan sosial;
3) Keringanan pajak; 4) Keringanan kredit; 5) Paket jaring pengaman sosial.
Terus ada upaya terkait pemulihan ekonomi dan penyebaran Covid-19 ini.

Untuk penyelarasan dengan RPJMD Kalimantan Timur tahun 2019-


2023 adalah Visi Misi Gubernur untuk Kalimantan Timur yang berdaulat
dengan tantangan pembangunan berupa 1) percepatan upaya transformasi
ekonomi dengan pengembangan sektor ekonomi potensial; 2) percepatan
pembangunan dan pemerataan pertumbuhan wilayah khususnya infrastruktur;
3) percepatan pemulihan ekonomi dan reformasi sosial akibat pandemi Covid-
19; 4) peningkatan kapasitas dan kualitas SDM; dan 5) peningkatan kualitas
lingkungan. Terkait dengan berbagai rencana percepatan dan tantangan
pembangunan tersebut terjadi perubahan target Indikator Makro dalam review
RPJMD Kalimantan Timur, yaitu 1) IPM semula 76,87 menjadi 77,75 di tahun
2023; 2) PDRB per kapita menjadi 175 juta di tahun 2023; 3) Indeks Gini
semula 0,326 menjadi 0,308 di tahun 2023; 4) tingkat kemiskinan semula

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 I- 4


5,70% menjadi 5,90% di tahun 2023; 5) tingkat pengangguran semula 5,36
menjadi 6,5% di tahun 2023; dan 6) LPE menjadi 3,5+1 di tahun 2023. Target
indikator makro pembangunan Kota Samarinda tahun 2021-2023 dalam
Perubahan RPJMD Kalimantan Timur, yaitu 1) IPM 80,46 di tahun 2023; 2)
Tingkat Kemiskinan 4,25 di tahun 2023; 3) Tingkat Pengangguran Terbuka 6,51
di tahun 2023; 4) Laju Pertumbuhan Ekonomi 2,45 di tahun 2023; dan 5)
Indeks GINI 0,29 di tahun 2023. Untuk hal tersebut, arah kebijakan di Kota
Samarinda menurut RPJMD Kalimantan Timur adalah 1) Peningkatan
produktivitas pertanian tanaman pangan dan hortikultura; 2) Pengembangan
kawasan peternakan; 3) Peningkatan pelayanan infrastruktur di kawasan pusat
kegiatan ekonomi; 4) Peningkatan Pelayanan Kesehatan; 5) Pengembangan
Produksi dan Kualitas Industri Unggulan; 6) Pengendalian perluasan kawasan
pertambangan; dan 7) Pengembangan Kawasan Perdagangan dan Jasa dengan
fokus pembangunan berupa 1) Intensifikasi dan pengamanan kawasan
pertanian pangan dan hortikultura produktif; 2) Pengembangan Mini Ranch
melalui pola kemitraan dan penyediaan sarana pendukungnya; 3)
Pengembangan jaringan jalan provinsi, Peningkatan Upaya pengendalian
banjir, Peningkatan infrastruktur air bersih, Peningkatan Kualitas Kawasan
Kumuh; 4) Peningkatan akreditasi Puskesmas; 5) Pengembangan Industri Hulu
Agro, Aneka, Kimia Dasar dan Pangan; 6) Pembatasan wilayah kerja konsesi
pertambangan pada kawasan permukiman; dan 7) Pengembangan pasar dalam
dan luar negeri serta perlindungan konsumen dan pasar tradisional.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 ini disusun selanjutnya


menjadi pedoman penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Perangkat Daerah
Tahun 2021-2026 yang memuat tujuan, sasaran, program, dan kegiatan
pembangunan dalam rangka pelaksanaan Urusan Pemerintahan Wajib
dan/atau Urusan Pemerintahan Pilihan sesuai dengan tugas dan fungsi setiap
Perangkat Daerah serta selaras dengan RPJMD Provinsi Kalimantan Timur dan
RPJM Nasional.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 I- 5


1.2 Dasar Hukum Penyusunan
Peraturan perundang-undangan yang digunakan sebagai dasar
penyusunan RPJMD Tahun 2021-2026 adalah:
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1956 tentang
Pembentukan Daerah-Daerah Otonom Provinsi Kalimantan Barat,
Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur (Lembar Negara Republik
Indonesia Tahun 1956 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 1106);
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik
Indonesia tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4421);
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725)
sebagaimana telah diubah dengan UU No 11 Tahun 2020 tentang Cipta
Kerja;
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2009 tentang
Perlindungan Pertanian Berkelanjutan sebagaimana (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 149, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5068) sebagaimana telah diubah dengan UU No
11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja;
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerinthan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5587), sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor
11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2020 Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 6573);;
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2014 tentang
Konservasi Tanah dan Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2014 Nomor 299, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5608);

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 I- 6


7. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679) sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber
Daya Air;
8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 04 Tahun 2011 tentang
Informasi Geospasial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011
Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5214)
segaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 11 Tahun 2020
tentang Cipta Kerja Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020
Nomor 245, Tambahan Lembaran NegaraRepublik Indonesia Nomor 6573);
9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor Nomor 2 Tahun 2020 tentang
Penetapan Peraturan Pemerintah Penganti Undan-Undang Nomor 1 Tahun 2020
tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk
Penanganan Pandemi Corona Virus Diease 2019 (COVID-19) dan /atau Dalam
Rangka Menghadapi Ancaman yang membahayakan perekonomian Nasional
dan/atau Stabilitas SistemKeuangan menjadi Undan-Undang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2017 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2017 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 6042);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional, sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13
Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008
tentan Rencana Tata Ruang Wilayah Masional (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2017 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 6042);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 114 Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 187), Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6402);

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 I- 7


12. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan
Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 2,
Tambahan Lembaran Negar Republik Indonesia Nomor 6178;
13. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 114 Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2019 tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang
Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019
Nomor 187), Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
6402);
14. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019
Nomor 42 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6322);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2019 tentang Laporan dan Evaluasi
Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2019 Nomor 52 Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia 6323);
16. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 26 Tahun 2008 Tentang
Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 48 Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4833);
17. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2017 tentang
Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 136);
18. Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 10);
19. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara
Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara
Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah, serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 I- 8


Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dan Rencana
Kerja Pemerintah Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017
Nomor 1312);
20. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2018 tentang Pembuatan
dan Pelaksanaan KLHS dalam Penyusunan RPJMD (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 459);
21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 90 Tahun 2019 tentang Klasifikasi,
Kodefikasi dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan dan Keuangan
Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 1447);
22. Keputusan Menteri Dalam Negeri No.050-3708 Tahun 2020 tentang Hasil
Verifikasi dan Validasi Pemutakhiran Klasifikasi, Kodefikasi dan
Nomenklatur Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah;
23. Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Kota Samarinda Tahun 2014 – 2034 (Lembaran
Daerah Kota Samarinda Tahun 2014 Nomor 02);
24. Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 4 Tahun 2016 tentang
Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah (Lembaran Daerah Kota
Samarinda Tahun 2016 Nomor 4);

1.3. Hubungan Antar Dokumen


RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 merupakan dokumen
perencanaan pembangunan daerah sebagai satu kesatuan yang tidak
terpisahkan dari sistem perencanaan pembangunan nasional, sebagaimana
diatur dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 9 Tahun
2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah. Hubungan antara RPJMD dengan dokumen
perencanaan lainnya adalah sebagai berikut.

1.3.1 RPJMD Tahun 2021-2026 dan RPJPD Kota Samarinda Tahun


2005-2025

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 I- 9


RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 merupakan RPJMD Keempat
dari tahapan pelaksanaan RPJPD Kota Samarinda Tahun 2005-2025. Oleh
sebab itu, penyusunan RPJMD selain memuat visi, misi dan program prioritas
Walikota/Wakil Walikota Kota Samarinda masa bakti Tahun 2021-2026, juga
berpedoman pada visi, misi dan arah kebijakan yang termuat dalam RPJPD Kota
Samarinda Tahun 2005-2025. Visi Kota Samarinda Tahun 2005-2025 adalah
”TERWUJUDNYA SAMARINDA SEBAGAI KOTA TEPIAN YANG TERDEPAN
DI KALIMANTAN”. Misi Kota Samarinda Tahun 2005-2025 adalah (1)
Mewujudkan kualitas Sumber Daya Manusia Kota Samarinda yang berdaya
saing berbasis penegakan hukum (2) Mewujudkan pembangunan
perekonomian Kota Samarinda yang tangguh berbasis sektor unggulan daerah
(3) Mewujudkan lingkungan yang sehat dan asri.
Selain itu, RPJPD Kota Samarinda Tahun 2005-2025 menyebutkan bahwa
fokus pembangunan tahap keempat (RPJMD) Tahun 2021-2026 adalah lebih
menekankan pada pembangunan seluruh bidang sektor. Pada tahap ini,
diharapkan tidak hanya sektor-sektor unggulan daerah yang lebih menggeliat
tetapi pada seluruh sektor. Pembangunan dan pengelolaan 3 (tiga) sektor
pembangunan yaitu pembangunan dari sektor industri, perdagangan dan jasa,
diarahkan pada penguatan daya saing Kota Samarinda dalam bidang tersebut.
Daya saing tersebut hendaknya didukung dengan penguatan Sumber Daya
Manusia (SDM) dengan segala kompetensinya menjawab tantangan global.

1.3.2 RPJMD Tahun 2021-2026 dan RPJM Nasional 2020-2024


Penyusunan RPJMD Kota Samarinda berpedoman pada prioritas
pembangunan nasional yang termuat dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional 2020-2024, terutama untuk memperkuat sinkronisasi dan
sinergi kebijakan, program dan kegiatan pembangunan Pemerintah Kota
Samarinda dengan Pemerintah. Prioritas pembangunan nasional 2020-2024
yang berkaitan dengan percepatan pembangunan Kota Samarinda adalah
memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan berkualitas dan
berkeadilan; mengembangkan wilayah untuk mengurangi kesenjangandan
menjamin pemerataan; meningkatkan sumber daya manusia berkualitas dan
berdaya saing; revolusi mental dan pembangunan kebudayaan; memperkuat

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 I- 10


infrastruktur untuk mendukung pengembangan ekonomi dan pelayanan dasar;
membangun lingkungan hidup, meningkatkan ketahanan bencana, dan
perubahan iklim; memperkuat stabilitas polhukhankam dan transformasi
pelayanan publik.
1.3.3 RPJMD Tahun 2021-2026 dan Rencana Tata Ruang Wilayah
Tahun 2014-2034
Penyusunan RPJMD Kota Samarinda memperhatikan dan
mempertimbangkan berbagai pola dan struktur tata ruang yang telah
ditetapkan dalam RTRW Nasional, RTRW Provinsi Kalimantan Timur dan
RTRW Kota Samarinda sebagai dasar untuk menetapkan lokasi program dan
kegiatan pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di Kota
Samarinda. RPJMD Kota Samarinda memuat strategi dan arah kebijakan
pengembangan wilayah kecamatan sebagai pusat pertumbuhan dan pusat
kegiatan. Tujuan Penataan Ruang Kota Samarinda Tahun 2014-2034 adalah
untuk mewujudkan Kota Samarinda menjadi kota tepian yang berbasis
perdagangan, jasa dan industri yang maju, berwawasan lingkungan dan hijau,
serta mempunyai keunggulan daya saing untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 I- 11


Gambar 1.1
Alur Keterhubungan Dokumen RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 dan RTRW
Kota Samarinda Tahun 2014-2034

1.3.4 RPJMD Tahun 2021-2026 dan Rencana Strategis Organisasi


Perangkat Daerah
RPJMD menjadi pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis
Organisasi Perangkat Daerah (Renstra OPD) yang memiliki jangka waktu 5
(lima) tahunan. Renstra OPD merupakan penjabaran teknis RPJMD yang
berfungsi sebagai dokumen perencanaan teknis operasional yang disusun oleh
setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di bawah koordinasi Badan
Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kota Samarinda. Renstra OPD memuat
gambaran umum pelayanan, isu strategis, tugas pokok dan fungsi, tujuan dan
sasaran, strategi dan arah kebijakan, serta program dan kegiatan OPD disertai
dengan kerangka pendanaan selama lima tahun. Rencana Strategis OPD
kemudian dijabarkan menjadi program tahunan dalam Rencana Kerja OPD
(Renja OPD) dan Rencana Kerja Anggaran OPD (RKA-OPD) yang memuat
kebijakan, program dan kegiatan pembangunan dilengkapi dengan kebutuhan
pendanaan dan sumber dana. Gambaran tentang hubungan antara RPJMD

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 I- 12


dengan dokumen rencana strategis Perangkat Daerah sebagaimana ditunjukkan
pada gambar berikut ini:

Gambar 1.2
Alur Keterhubungan Dokumen RPJM Kota Samarinda Tahun 2021 - 2026 dan
Rencana Strategis Daerah Tahun 2021 - 2026

1.3.5 RPJMD Tahun 2021-2026 dan Rencana Kerja Pemerintah


Daerah (RKPD)
Pelaksanaan RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021 - 2026 setiap tahun
dijabarkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) sebagai suatu
dokumen perencanaan tahunan yang memuat prioritas program dan kegiatan
yang dibahas dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah
(Musrenbangda) Kota Samarinda yang dilaksanakan secara berjenjang mulai
dari tingkat desa/kelurahan, kecamatan hingga Kota. RKPD merupakan bahan
utama penyusunan Kebijakan Umum Anggaran dan Penetapan Plafon
Anggaran; serta bahan penyusunan Rencanan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (RAPBD).

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 I- 13


Gambaran tentang hubungan antara RPJMD dengan dokumen
perencanaan lainnya sebagai kesatuan sistem perencanaan pembangunan dan
sistem keuangan adalah sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini:

Gambar 1.3.
Posisi RPJMD Kota Samarinda dengan Dokumen Perencanaan Lainnya

1.4 Maksud Dan Tujuan


Maksud dan tujuan dari penyusunan dokumen RPJMD Kota Samarinda
Tahun 2021 - 2026 adalah sebagai berikut :
a. Maksud
Maksud dari penyusunan RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021 - 2026
adalah untuk memberikan arah pembangunan jangka menengah Kota
Samarinda Tahun 2021-2026 dan sebagai pedoman bagi seluruh
pemangku kepentingan dalam melaksanakan pembangunan di Kota
Samarinda Tahun 2021 - 2026.

b. Tujuan

Tujuan penyusunan Dokumen RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021


– 2026 adalah:

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 I- 14


1. Menjabarkan visi dan misi ke dalam tujuan, sasaran, dan indikator
kinerja pembangunan daerah di Kota Samarinda selama 5 (lima)
tahun ke depan, sehingga rencana pembangunan daerah yang telah
ditetapkan dapat terwujud;
2. Menjamin konsistensi antara perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan di Kota Samarinda
selama kurun waktu 2021-2026;
3. Mendukung upaya pencapaian kesejahteraan bersama melalui
sinergi, koordinasi, dan sinkronisasi oleh masing-masing pelaku
pembangunan di dalam satu pola sikap dan tindakan;
4. Mewujudkan keseimbangan lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam
pembangunan yang berkelanjutan;
5. Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi
perencanaan pembangunan daerah antara Pemerintah Kota
Samarinda dengan daerah sekitar (Pemerintah Kabupaten/Kota),
Pemerintah Kabupaten berbatasan, dan Pemerintah Propinsi dan
Pusat; serta
6. Mewujudkan penggunaan sumber daya secara efektif, efisien,
berkeadilan, dan berkelanjutan.

1.5 Sistematika Penulisan


Dokumen RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021 - 2026 disusun dengan
sistematika penulisan sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Bagian ini memuat latar belakang, dasar hukum penyusunan,
hubungan antar dokumen, maksud dan tujuan serta sistematika
penulisan.
Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah
Menjelaskan dan menyajikan secara logis dasar-dasar analisis,
gambaran umum kondisi daerah yang meliputi aspek geografi,
demografi, kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dan daya
saing sebagai dasar perumusan permasalahan dan isu strategis

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 I- 15


daerah, serta menjadi pijakan perumusan target pembangunan
dalam lima tahun kedepan
Bab III Gambaran Keuangan Daerah
Menyajikan uraian tentang kinerja keuangan dimasa lalu, seperti
kinerja pelaksanaan APBD dan neraca daerah; kebijakan
pengelolaan keuangan masa lalu seperti proporsi penggunaan
anggaran dan analisis pembiayaan dan kerangka pendanaan yang
mencakup analisis pengeluaran periodik wajib dan mengikat
seperti prioritas utama, proyeksi data masa lalu, dan
penghitungan kerangka pendanaan.
Bab IV Permasalahan Dan Isu Strategis Daerah
Menyajikan permasalahan dan isu-isu strategis daerah merupakan
salah satu bagian terpenting dokumen RPJMD karena menjadi
dasar utama visi dan misi pembangunan jangka menengah sebagai
dasar menentukan kinerja pembangunan dalam 5 (lima) tahun
mendatang.
Bab V Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran
Bab ini menjelaskan tentang visi dan misi pembangunan daerah
Kota Samarinda sesuai dengan visi dan misi yang disampaikan
oleh Walikota dan Wakil Walikota terpilih, yang kemudian
dijabarkan secara operasional dalam tujuan dan sasaran
pembangunan daerah dalam lima tahun kedepan, disertai
indikator kinerja dan targetnya.
Bab VI Strategi, Arah Kebijakan, dan Program Pembangunan
Daerah
Pada bab ini diuraikan strategi yang dipilih dalam mencapai
tujuan dan sasaran, serta arah kebijakan dari setiap strategi
terpilih, dan didukung dengan program pembangunan daerah
Bab VII Kerangka Pendanaan Pembangunan dan Program
Perangkat Daerah
Bab ini memuat program prioritas dalam pencapaian visi dan misi
serta seluruh program yang dirumuskan dalam Renstra Perangkat

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 I- 16


Daerah beserta indikator kinerja, target, pagu indikatif dan
perangkat daerah penanggung jawab berdasarkan bidang urusan
Bab VIII Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
Bab ini menjelaskan tentang penetapan indikator kinerja utama
(IKU) daerah, indikator kinerja utama perangkat daerah, dan
indikator kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah yang
ditetapkan sebagai indikator kinerja daerah.
Bab IX Penutup
Bab ini menguraikan tentang pentingnya RPJMD bagi
pembangunan Kota Samarinda lima tahun kedepan.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 I- 17


BAB II
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1. Aspek Geografi dan Demografi


Kota Samarinda merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Timur terletak
antara 0ᵒ21’81” - 1ᵒ09’16” LS dan 116ᵒ15’16” - 117ᵒ24’16” BT dan dilalui oleh garis
ekuator yang terletak pada garis lintang 0ᵒ, yang berbatasan langsung dengan
Kabupaten Kutai Kartanegara. Kota Samarinda memiliki luas wilayah 718 km 2 yang
terbagi dalam 10 kecamatan dan 59 kelurahan.
Karakteristik topografi Kota Samarinda didominasi oleh kemiringan lahan
yang cukup datar dimana 27,39% berada pada kemiringan kurang dari 2 persen dan
seluas 25,47% berada pada kemiringan 2-15 persen. Sedangkan dari sisi klasifikasi
kedalaman tanah, sebagian besar luas wilayah Kota Samarinda menunjukaan kelas
kedalaman tanah mencapai lebih dari 90 cm yakni seluas 39.833 Ha atau 55,48
persen.

2.1.1 Karakteristik Lokasi dan Wilayah Kota Samarinda


Kota Samarinda secara astronomis terletak pada posisi antara 117 003’00”–
117018’14” Bujur Timur dan 00019’02” – 00042’34” Lintang Selatan dengan luas
wilayah adalah 718 km2 mengacu pada Peraturan Pemerintah No.21 tahun 1987
tentang Penetapan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda. Kota
Samarinda berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara, adapun batas
administrasi Kota Samarinda adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kec. Muara Badak (Kutai Kartanegara)
Sebelah Timur : Kec. Anggana & Sanga-Sanga (Kutai Kartanegara)
Sebelah Selatan : Kec. Loa Janan (Kutai Kartanegara)
Sebelah Barat : Kec. Muara Badak & Tenggarong Seberang (Kutai Kartanegara)
Pembangunan Kota Samarinda diarahkan untuk mengembalikan kekhasan
Samarinda Kota TEPIAN yang secara harfiah berada di tepi Sungai Mahakam.
Adanya Sungai Mahakam yang membelah ditengah kota menjadi landmark tersendiri
bagi ibukota ini. Tidak mengherankan apabila pembangunan Kota Samarinda
diarahkan untuk mengoptimalkan potensi Sungai Mahakam, yang kemudian

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-1


dicanangkan melalui Samarinda Smart City dengan tujuan menjadikan Samarinda
waterfront city.
Luas Wilayah Kota Samarinda adalah 718 km2 yang terbagi secara
administratif kedalam 10 kecamatan sesuai Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 2010
tentang Pembentukan Kecamatan Sambutan, Samarinda Kota, Sungai Pinang dan
Kecamatan Loa Janan Ilir dengan terdiri atas 59 kelurahan.

Tabel 2.1.

Kecamatan dan Kelurahan


Kota Samarinda

KECAMATAN KELURAHAN LUAS (Km2)


1. Handil Bakti 72,00
2. Simpang Pasir 65,00
1. Palaran
3. Rawa Makmur 11,89
(221,29)
4. Bukuan 28,40
5. Bantuas 44,00
1. Selili 1,49
2. Sungai Dama 2,50
2. Samarinda Ilir
3. Sidodamai 2,87
(17,18)
4. Sidomulyo 1,40
5. Pelita 8,92
1. Bugis 0,58
2. Pasar Pagi 0,48
3. Samarinda Kota
3. Pelabuhan 0,72
(11,12)
4. Sungai Pinang Luar 8,85
5. Karang Mumus 0,49
1. Pulau Atas 29,59
2. Sindang Sari 1,70
4. Sambutan
3. Makroman 20,96
(100,95)
4. Sambutan 31,00
5. Sungai Kapih 17,70
1. Mesjid 1,03
2. Mangkupalas 1,03
5. Samarinda
3. Tenun Samarinda 0,47
Seberang
4. Baqa 2,34
(12,49)
5. Sungai Keledang 5,62
6. Gunung Panjang 2,03
1. Sengkotek 4,95
2. Simpang Tiga 4,21
6. Loa Janan Ilir
3. Tani Aman 3,92
(26,13)
4. Harapan Baru 6,33
5. Rapak Dalam 6,72
1. Loa Buah 16,90
7. Sungai Kunjang 2. Loa Bakung 16,59
(43,04) 3. Teluk Lerong Ulu 1,20
4. Lok Bahu 3,42

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-2


KECAMATAN KELURAHAN LUAS (Km2)
5. Karang Asam Ulu 2,25
6. Karang Asam Ilir 1,29
7. Karang Anyar 1,39
1. Teluk Lerong Ilir 0,69
2. Jawa 7,68
3. Dadi Mulya 2,89
8. Samarinda Ulu 4. Sidodadi 1,37
(22,12) 5. Gunung Kelua 1,19
6. Air Hitam 2,65
7. Air Putih 2,16
8. Bukit Pinang 3,49
1. Lempake 32,83
2. Sempaja Selatan 6,11
3. Sempaja Barat 8,42
9. Samarinda Utara 4. Sempaja Timur 25,83
(229,52) 5. Sungai Siring 49,06
6. Budaya Pampang 26,77
7. Tanah Merah 22,16
8. Sempaja Utara 58,38
1. Temindung Permai 1,30
2. Bandara 8,59
10. Sungai Pinang
3. Sungai Pinang Dalam 8,97
(34,16)
4. Mugirejo 10,94
5. Gunung Lingai 4,36
Kota Samarinda 718,00
Sumber: Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Kota Samarinda

2.1.2 Kondisi Topografi


Berdasarkan karakteristik topografinya, Kota Samarinda didominasi oleh
kemiringan lahan yang cukup datar dimana 27,39% berada pada kemiringan kurang
dari 2 persen dan seluas 25,47% berada pada kemiringan 2-15 persen. Sedangkan dari
sisi klasifikasi kedalaman tanah, sebagian besar luas wilayah Kota Samarinda
menunjukaan kelas kedalaman tanah mencapai lebih dari 90 cm yakni seluas 39.833
Ha atau 55,48%.
Tabel 2.2.
Luas Wilayah Menurut Kelas Lereng dan Klasifikasi Kedalaman Tanah
Tahun 2020 Kota Samarinda

Luas Wilayah Persentase


No Uraian
(Ha) (%)
1 Kelas Lereng (%) 71.800,00 100,00
<2 19.663,19 27,39
2-15 18.290,88 25,47
15-25 10.630,59 14,81
25-40 11.248,92 15,67

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-3


Luas Wilayah Persentase
No Uraian
(Ha) (%)
>40 9.348,90 13,02
Perairan 2.617,52 3,65
2 Kelas Kedalaman (cm) 71.800,00 100,00
<30 - -
30-60 11.544,13 16,08
60-90 17.805,32 24,80
>90 39.833,03 55,48
Perairan 2.617,52 3,65
Sumber: Kota Samarinda Dalam Angka 2021

2.1.3 Kondisi Geologi


Sesuai dengan kondisi iklim di Kota Samarinda yang tergolong dalam tipe
iklim Tropika Humida, maka jenis-jenis tanah yang terdapat didaerah inipun
tergolong kedalam tanah yang bereaksi masam. Jenis-jenis tanah yang terdapat
diKota Samarinda, menurut Soil Taxonomy USDA tergolong kedalam jenis tanah:
Ultisol, Entisol, Histosol, Inceptiols dan Mollisol atau bila menurut Lembaga
Penelitian Tanah Bogor terdiri dari jenis tanah: Podsolik, Alluvial, dan Organosol.
Tanah Podsolik (Ultisol) merupakan jenis tanah yang arealnya terluas diKota
Samarinda mencapai 57,57 persen dan masih tersedia untuk dikembangkan sebagai
daerah pertanian. Persediaan air didaerah tanah ini umumnya cukup tersedia dari
curah hujan yang tinggi. Penggunaan tanah dari jenis tanah ini sebagai daerah
pertanian, biasanya memungkinkan produksi yang baik pada beberapa tahun
pertama selama unsur-unsur hara di permukaan belum habis melalui proses
biocycle.

Tabel 2.3.
Luas Wilayah Menurut Jenis Tanah
Kota Samarinda

Luas Wilayah Persentase


No Jenis Tanah
(Ha) (%)
1 Aluvial 3.755 5,23

2 Gambut 17.720 24,68


3 Assosiasi Podsolik/Listeset 8.990 12,52

4 Podsolik 41.335 57,57


5 Lain-lain 3.755 5,23
Sumber: Kota Samarinda Dalam Angka 2021

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-4


2.1.4 Kondisi Fisiografi
Fisiografi wilayah Kota Samarinda didominasi oleh daerah patahan
(faultarea) yang mencapai 41,12% dari total luas Kota Samarinda atau sebesar 295,26
km2. Kemudian diikuti oleh daerah dataran (plain area) yang sebesar 10.524 km2 atau
sebesar 14,66% dari luas Kota Samarinda. Sedangkan rawa dan sungai hanya
menempati tidak lebih dari 56 Km2 atau hanya 7,8% dari luas Kota Samarinda.

Tabel 2.4.
Luas Wilayah Menurut Tipe Fisiografi
Kota Samarinda

No Fisiografi Luas Wilayah


Persentase
(Ha)
1 Lembah Aluvial 9.479 13,20
2 Daerah Dataran 10.524 14,66
3 Dataran Berombak 9.636 13,42
4 Dataran Bergelombang 1.527 2,13
5 Daerah Patahan 29.526 41,12
6 Daerah Berbukit 634 0,88
7 Rawa 218 0,30
8 Sungai 5.379 7,49

9 Lain-lain 4.877 6,79


Sumber: Kota Samarinda Dalam Angka 2021

2.1.5 Kondisi iklim


Sebagaimana iklim wilayah Indonesia pada umumnya, Kota Samarinda
beriklim tropik dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim
penghujan. Samarinda memiliki suhu dan kelembaban udara yang cukup tinggi.
Stasiun Meteorologi Kota Samarinda pada tahun 2020 mencatat bahwa suhu udara
di Kota Samarinda berkisar di angka 28ᵒC dengan kelembaban udara rata-rata 81%.
Rata-rata curah hujan tercatat sebesar 174 mm, lebih tinggi dari tahun 2019 yang kala
itu mencapai 145,2 mm. Kondisi ini didukung dengan rata-rata penyinaran matahari
yang hanya sebesar 49%. Sehingga menjadi dasar kebijakan pemerintah Kota
Samarinda untuk mempersiapkan infrastruktur penanganan banjir, mengingat

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-5


kondisi cuaca di Kota Samarinda yang kerap terjadi hujan dalam waktu lama yang
akhirnya terjadi genangan yang cukup tinggi.

Tabel 2.5.
Rata-rata Suhu Udara, Kelembaban, Tekanan Udara, Kecepatan Angin, Curah
Hujan dan Penyinaran Matahari Melalui Stasiun Meteorologi Samarinda
Tahun 2020 Kota Samarinda

Suhu Udara
Tekanan Kecepatan Curah Penyinaran
Bulan Rata- Kelembaban Udara Angin Hujan Matahari
Min Max Udara (%)
rata (Mbs) (Knot) (mm3) (%)
( C)
o ( C)
o
(oC)
Januari 24,8 32,8 28,2 80 1012,5 4 239,6 63
Februari 24,6 33,5 28,6 76 1013,2 5 56,1 67
Maret 24,7 33,6 28,7 78 1012,7 4 140,0 62
April 25,0 33,4 28,6 79 1012,8 4 170,7 63
Mei 25,2 32,8 28,4 83 1011,8 3 210,3 45
Juni 24,7 31,8 27,6 85 1011,9 3 168,2 36
Juli 24,7 31,4 27,3 83 1011,1 3 148,0 34
Agustus 24,4 32,2 27,5 83 1011,8 3 230,0 45
September 23,8 32,0 27,6 83 1011,8 3 269,1 42
Oktober 24,8 32,5 28,0 75 1011,5 3 166,4 44
November 24,7 32,5 28,1 81 1010,7 3 171,6 45
Desember 23,0 35,8 27,7 83 1011,0 3 119,0 43
Rata-rata 24,5 32,9 28,0 81 1011,9 3 174,1 49
Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Kota Samarinda

2.1.6 Potensi Pengembangan Wilayah


Kota Samarinda sebagai salah satu kota besar di Indonesia sangat menyadari
potensi untuk menjadi kota besar pertama di Provinsi Kalimantan Timur yang
memiliki jumlah penduduk mencapai 1 juta jiwa. Kota Samarinda hanya memiliki
luas sebesar 0,56% dari total wilayah Provinsi. Namun dengan luas wilayah tersebut
dan kepadatan penduduk sebesar 1.153,19 jiwa/km2, mengakibatkan ibukota provinsi
Kaltim ini perlu banyak melakukan penyesuaian terhadap perencanaan,
pemanfaatan dan pengendalian penataan ruangnya agar terwujud Kota Samarinda
yang mampu memberikan kenyamanan bagi seluruh masyarakat.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-6


Tabel 2.6.
Kepadatan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2020
Provinsi Kaltim

Jumlah Luas Kepadatan


No Kabupaten/Kota Penduduk Wilayah Penduduk
(jiwa) (Km2) (Jiwa/Km2)
1 Paser 275.452 11.096,96 24,82
2 Kutai Barat 172.288 13.709,92 12,57
3 Kutai Kartanegara 729.382 25.988,08 28,07
4 Kutai Timur 434.459 31.051,71 13,99
5 Berau 248.035 21.735,19 11,41
6 Panajam Paser Utara 178.681 2.923,73 61,11
7 Mahakam Ulu 32.513 19.449,41 1,67
8 Balikpapan 688.318 512,25 1.343,71
9 Samarinda 827.994 718,00 1.153,19
10 Bontang 178.917 163,14 1.096,71
Sumber : Data diolah oleh Walidata

a. Potensi Pengembangan Kota Samarinda berdasarkan Rencana Tata


Ruang Wilayah (RTRW) Kota Samarinda
Kota Samarinda adalah salah satu Kota Besar di Provinsi Kalimantan Timur
yang tingkat perkembangan kotanya sangat cepat. Target sebagai calon penyangga
IKN, tantangan potensi pengembangan Kota Samarinda sangat luar biasa baik
terhadap kebutuhan lahan yang terbatas yaitu 718 Km2 dan peningkatan jumlah
penduduk yang terus meningkat sebagai potensi Sumber Daya Manusia dengan basis
sektor unggulan yaitu perdagangan dan jasa.
Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2014 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Kota Samarinda periode 2014-2034, tujuan penataan ruang adalah
untuk mewujudkan Kota Samarinda menjadi Kota Tepian yang berbasis
perdagangan, jasa dan industri yang maju, berwawasan lingkungan dan hijau, serta
mempunyai keunggulan daya saing untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Adapun konsep Samarinda Kota TEPIAN yang dimaksudkan adalah kata Tepian yang
tidak hanya menjadi Semboyan Kota Samarinda yang merupakan akronim dari
Teduh, Rapi, Aman dan Nyaman tetapi juga cerminan dari Kota Samarinda yang
terletak didaerah tepi sungai, yaitu bagian yang berbatasan langsung dengan air. Oleh
karena itu, konsep Waterfront City Development yaitu pengembangan daerah tepian
Sungai Mahakam dan anak sungai nya untuk menjadi area pariwisata menjadi salah
satu kawasan prioritas (strategis) pengembangan Kota Samarinda mendatang yang

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-7


berbasis pada perdagangan, jasa dan industri yang maju, berwawasan lingkungan
dan hijau, serta mempunyai keunggulan daya saing.
Penyusunan Revisi RTRW Kota Samarinda Tahun 2021-2041 telah
mengakomodir isu strategis terkait pemindahan IKN, diantaranya adalah prediksi
jumlah penduduk yang menggunakan sistem target, perencanaan struktur ruang
yang memuat jaringan dan prasarana utama penunjang IKN, serta perencanaan pola
ruang kawasan budidaya yang memadai untuk pemanfaatan kegiatan masyarakat
pendatang.
1. Tujuan Penataan Ruang
Mewujudkan Kota Samarinda sebagai Kota Tepian dengan fokus
pengembangan perdagangan dan jasa dan industri berskala regional dengan
peningkatan kualitas lingkungan yang nyaman dan berkelanjutan.
2. Prediksi Jumlah Penduduk

Gambar 2.1.
Perkembangan Penduduk Kota Samarinda sejak Tahun 2009-2039

Sumber : Draft Materi Teknis Revisi RTRW 2019 dan Hasil Analisis 2020

Pemindahan IKN diprediksi akan menambah jumlah penduduk di Kota


Samarinda, maka berdasarkan perhitungan dengan sistem target pada Tahun 2020,

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-8


jumlah penduduk di Tahun 2039 diprediksi akan menjadi ±1.684.836 jiwa dari
jumlah perhitungan dasar penduduk di Tahun 2019 yang hanya ±872.768 jiwa
dengan kepadatan penduduk 2,350 jiwa per km2. Dengan dasar perhitungan ini,
perlu adanya penambahan ruang kawasan budidaya yang dapat menampung fasilitas
untuk masyarakat melakukan kegiatan.
3. Rencana Struktur Ruang Revisi RTRW
Rencana struktur ruang merupakan rencana susunan pusat-pusat pelayanan
dan sistem jaringan prasarana wilayah kota yang dikembangkan untuk melayani
kegiatan skala kota dan mengintegrasikan wilayah kota. Sistem jaringan prasarana
berpengaruh terhadap pemanfaatan ruang di suatu wilayah atau kota, serta
merupakan suatu upaya pemenuhan kebutuhan dasar penduduk wilayah atau kota.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-9


Gambar 2.2.
Peta Rencana Struktur Ruang Kota Samarinda

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-10


Peta struktur ruang di atas, menggambarkan perencanaan jaringan prasarana
yang membentuk Kota Samarinda dengan perencanaan jaringan utama sebagai
pendukung IKN, diantaranya adalah :
A. Jalan Tol Balikpapan-Samarinda-Bontang yang terintegrasi dengan
Bandara APT. Pranoto
B. Pembangunan dan Peningkatan jaringan jalan Arteri Primer
C. Jaringan Kereta Api beserta lokasi stasiun yang terintegrasi dengan
Bandara APT. Pranoto
D. Pengembangan Bandara APT. Pranoto menjadi Bandar Udara
Pengumpul
E. Pengembangan Pelabuhan Pelaran menjadi Pelabuhan Pengumpul
F. Pengembangan TPA di Kecamatan Palaran

4. Rencana Pola Ruang Draft Revisi RTRW


Rencana pola ruang wilayah kota adalah rencana distribusi peruntukan ruang
di wilayah kota yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan fungsi
budidaya kota. Kurang lebih 17.1% rencana pola ruang Kota Samarinda di tahun 2041
untuk mendukung tujuan penataan ruang yaitu perdagangan dan jasa, industri,
pariwisata yang direncanakan memiliki skala regional. Perencanaan pola ruang
kawasan budidaya untuk sektor-sektor yang mendukung pemindahan IKN adalah
sebesar 70,11 %.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-11


Gambar 2.3.
Peta Rencana Pola Ruang Kota Samarinda

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-12


Tabel 2.7.
Luas Wilayah Kota Samarinda berdasarkan Penggunaannya Tahun 2018
Kota Samarinda

Luas
No Penggunaan Tanah Persentase
(Ha)
1 Sawah 3.769 5,24
2 Tegal/Kebun 5.501 7,66
3 Ladang/Huma 1.330,5 1,85
4 Perkebunan 4.631,5 6,45
Hutan Rakyat, Tambak, Kolam/ Tebat/
5 4.166,5 5,80
Empang
6 Lahan Sementara Tidak Diusahakan 6.809 9,48
Lahan Bukan Pertanian (Rumah/ Bangunan,
7 45.528,5 63,41
Hutan Negara, Rawa-rawa dan Lainnya)
Jumlah / Total 71.800 100,00
Sumber: Indikator Ekonomi Kota Samarinda Tahun 2019

Berdasarkan penggunaannya, wilayah Kota Samarinda sebagian besar digunakan


untuk lahan bukan pertanian (rumah/bangunan, hutan negara, rawa-rawa dan lainnya)
yaitu sebesar 45.528,5 Ha atau 63,41% dari luas kota Samarinda. Lahan sementara tidak
diusahakan sebesar 6.809 Ha atau 9,48%, selanjutnya untuk lahan tegal/ kebun sebesar
5.501 ha atau 7,66%; untuk penggunaan lahan perkebunan sebesar 4.631,5 Ha atau
6,45%; penggunaan hutan rakyat, tambak, kolam/tebat/empang sebesar 4.166,5 Ha atau
5,80%; untuk lahan sawah sebesar 3.769 Ha atau 5,24% dan ladang/huma sebesar
1.330,5 Ha atau 1,85%.

Tabel 2.8.
Jenis Pertanian Tahun 2019
Kota Samarinda
(Ha)

Jenis Pertanian
Kecamatan Sawah Sawah
Holtikultura Perkebunan
Irigasi Tadah Hujan
Samarinda Kota - - - -
Samarinda Ulu - - 327,0 64,0
Samarinda Ilir - - 8,0 -
Samarinda - -
11,0 10,0
Seberang
Samarinda Utara 220,0 1.459,5 2.240,0 1.160,0
Palaran - 593,5 1.897,0 2.990,0
Sungai Pinang - - 73,0 1,0
Sungai kunjang - 50,0 341,5 -
Sambutan 34,0 386,0 2.445,0 290,0
Loa Janan Ilir - 308,0 130,0 30,0
Kota Samarinda 254,0 2.808,0 7.471,5 4.535,0
Sumber: Dinas Pertanian Kota Samarinda Tahun 2020

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-13


Telah terlihat jelas bahwa penggunaan lahan Kota Samarinda mayoritas
digunakan untuk lahan bukan pertanian, bahkan persentasenya mencapai 63,41% dari
luas wilayah. Namun bukan berarti pengembangan pertanian terhenti, sebagai kota
besar, pengembangan pertanian di Kota Samarinda diarahkan kepada pertanian
perkotaan yang lebih fokus pada holtikultura serta perkebunan. Ada 3 kecamatan yang
menjadi pusat pengembangan pertanian perkotaan, yaitu Samarinda Utara, Palaran,
dan Sambutan, mengingat daerah ini masih memiliki potensi yang besar dan sangat
mendukung pengembangan pertanian perkotaan.
Pembangunan peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian dan
pembangunan wilayah pada hakikatnya adalah upaya untuk dapat mencapai misi
pembangunan peternakan yaitu menyediakan pangan asal ternak yang cukup kualitas
dan kuantitas, memberdayakan sumber daya manusia peternakan agar dapat
menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi, menciptakan peluang ekonomi untuk
meningkatkan pendapatan peternak, menciptakan lapangan kerja di bidang agribisnis
peternakan dan melestarikan dan memanfaatkan sumber daya alam pendukung
peternakan.
Untuk itulah Dinas Pertanian Kota Samarinda Bidang Peternakan dan Kesehatan
Hewan ingin memajukan ekonomi kerakyatan terutama di bidang pertanian khususnya
sub sektor peternakan.
Kota Samarinda memiliki area lahan yang cukup untuk dijadikan pengembangan
peternakan terutama sapi potong secara semi ekstensif. Dimana dengan luas lahan
minimal sekitar 2 ha lebih bisa dimanfaatkan untuk beternak, baik itu lahan non
produktif, lahan pasca tambang, maupun berintegrasi dengan lahan perkebunan sawit.
Dengan adanya program Miniranch, lahan tersebut diatas bisa difasilitasi berupa
pagar, kandang/shelter, dan penanaman Hijauan Pakan Ternak, serta bilaperlu bantuan
ternak sekaligus.
Adapun potensi untuk mendukung program Miniranch, diantaranya :
a. Lahan tidur (non Produktif), lahan pasca tambang, lahan perkebunan sawit di
Kota Samarinda relatif masih luas
b. Adanya kebutuhan ternak sapi potong dan daging untuk memenuhi warga Kota
Samarinda, sekitar 80% masih didatangkan dari luar kota Samarinda.
c. SDM peternak lama dan peternak muda milenial relatif maju, meskipun masih
perlu terus dibina.

Tabel 2.9.
Populasi Hewan Ternak Tahun 2017-2021
Kota Samarinda
(ekor)

No Ternak/Unggas 2017 2018 2019 2020 2021*


1 Sapi Potong 5.683 6.013 6.256 6.559 6.559
2 Sapi Perah 6 8 9 13 13
3 Kambing 6.125 7.939 6.662 6.951 6.951

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-14


No Ternak/Unggas 2017 2018 2019 2020 2021*
4 Domba 64 104 109 214 214
5 Kuda 17 17 14 14
6 Babi 11.058 11.559 11.894 12.450 12.450
7 Kerbau 74 83 87 87 87
8 Ayam Lokal 721.274 715.574 805.057 835.213 835.213
9 Ayam Ras Petelur 266.720 274.720 243.800 302.659 302.659
Ayam Ras
10 18.798.000 17.633.975 17.455.00 15.658.663 15.658.663
Pedaging
11 Itik 27.047 28.479 29.903 34.380 34.380
12 Puyuh 1.997 6.500 7.150 7.150
13 Kelinci 11.096 7.400 9.376 9.376
Sumber: Dinas Pertanian Kota Samarinda Tahun 2021
* kondisi Januari

Kondisi lahan yang sangat sedikit tidak menghentikan pemerintah Kota


Samarinda untuk menggali sektor-sektor yang berpotensi, terutama pada sektor
perikanan dan peternakan. Khusus sektor peternakan, sampai pada bulan Januari 2021
populasi ayam lokal mencapai 835.213 ekor, ayam ras petelur 302.659 ekor dan ayam
ras pedaging sebesar 15.658.663 ekor. Data tersebut memperlihatkan bahwa populasi
ayam ras pedaging mengalami penurunan dibanding ayam lokal dan ayam ras petelur.
Penurunan ini bisa dikarenakan sebagai dampak pandemi COVID-19 yang membuat
pemerintah harus mengeluarkan kebijakan menutup hotel, mall dan restoran, larangan
untuk keluar rumah dan menghindari kerumunan, sehingga menyebabkan menurunnya
permintaan terhadap beberapa komoditi, salah satunya ayam ras pedaging. Secara
keseluruhan, berdasarkan populasi yang terlihat pada tabel 2.9 dan dengan
pengembangan yang konsisten, tidak menutup kemungkinan sektor peternakan di Kota
Samarinda memberikan nilai tambah terhadap perekonomian daerah. Untuk potensi itu
tidak hanya terjadi pada peternakan, sektor perikanan sendiri memperlihatkan
perkembangan yang konsisten. Perkembangan tersebut berbanding lurus dengan
semakin tingginya kontribusi sektor perdagangan dalam perekonomian Kota
Samarinda, terutama apabila dilihat perkembangan tempat makan, hotel dan restoran.
Sehingga menjadi pemicu naiknya minat masyarakat untuk budidaya ikan guna
memenuhi permintaan tempat makan, hotel dan restoran, terutama ikan air tawar
seperti ikan gabus, ikan nila dan ikan mas. Melihat kondisi ini, dapat disimpulkan
perikanan budidaya di Kota Samarinda lebih berpotensi daripada perikanan tangkap
untuk memberikan nilai tambah dalam perekonomian daerah.

Tabel 2.10.
Komoditi Perikanan Per Kecamatan
Kota Samarinda

Komoditi Unggulan
No Kecamatan Benih Budidaya Pengolahan Konservasi
Tangkap Sumber
Ikan Ikan Ikan
Daya
1 Samarinda Ulu x
2 Samarinda Seberang X

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-15


Komoditi Unggulan
No Kecamatan Benih Budidaya Pengolahan Konservasi
Tangkap Sumber
Ikan Ikan Ikan
Daya
3 Samarinda Utara X x x x
4 Palaran X x x x
5 Sungai Pinang x

6 Sungai Kunjang x

7 Sambutan X x x
8 Loa Janan Ilir x
Sumber: Peraturan Daerah Kota Samarinda No.2 Tahun 2014 tentang RTRW Kota
Samarinda 2014 –2034

b. Pertambangan dan Penggalian


Sektor pertambangan dan penggalian memegang peranan yang cukup penting
dalam mendukung perekonomian dan penyerapan tenaga kerja lokal di Kota Samarinda,
meskipun sejak tahun 2017 pengelolaan bidang urusan pertambangan menjadi
kewenangan pemerintah Provinsi Kaltim. Sebagaimana diketahui, dalam wilayah Kota
Samarinda terdapat beberapa jenis galian yang potensial yaitu bahan galian golongan A
dan bahan galian golongan C.
Bahan galian Golongan A , khususnya minyak & gas (migas), terdapat 3 KKKS
migas yang beroperasi yaitu Vico Indonesia, PT. Pertamina EP Asset 5 Field Sanga-
Sanga, dan PT.Pertamina EP (ex Semberah). Berdasarkan catatan Dinas Energi dan
Sumber Daya Mineral Provinsi Kaltim, pada tahun 2019 Kota Samarinda menghasilkan
81,43 ribu MMBTU, atau tercapai 32,68% dari perkiraan. Secara lengkap perhatikan
tabel berikut :

Tabel 2.11.
Lifting Gas Bumi Tahun 2019
Kota Samarinda

Prognosa Tw.1 Tw.2 Tw.3 Tw.4


No KKKS (Ribu (Ribu (Ribu (Ribu (Ribu %
Barrel) Barrel) Barrel) Barrel) Barrel)
PT. Pertamina
Hulu Sanga-
1 sanga (PHSS) 248,03 12,37 22,91 4,32 35,25 30,80
(ex. VICO
Indonesia)
PT. Pertamina
2 EP - - - - - -
(Ex.Semberah)
PT. Pertamina
EP Aset 5 Field
3 350,54 0,02 0,02 2,26 4,28 1,88
Sangata (Ex.
Samberah)
Sumber: Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Kalimantan Timur

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-16


2.1.7 Wilayah Rawan Bencana
Berdasarkan Kajian Risiko Bencana Kota Samarinda Tahun 2018-2022, diketahui
bahwa banjir memiliki kelas bahaya dominan yang tergolong tinggi, diikuti oleh longsor,
kekeringan dan konflik sosial. Namun apabila dicermati di tingkat Provinsi Kaltim, Kota
Samarinda justru memiliki skor terendah dalam Indeks Rawan Bencana dibanding
kabupaten/kota se-Kaltim dengan skor 135 dan masuk kelas rawan sedang.

Tabel 2.12.
Indeks Rawan Bencana Indonesia (IRBI) Kabupaten/Kota Tahun 2019
Provinsi Kalimantan Timur

No Kabupaten/Kota Skor Kelas Rawan

1 Samarinda 135 Sedang


2 Balikpapan 159 Tinggi
3 Kutai Kartanegara 160 Tinggi
4 Paser 196 Tinggi
5 Kutai Barat 171 Tinggi
6 Kutai Timur 190 Tinggi
7 Bontang 150 Sedang
8 Penajam Paser Utara 160 Tinggi
9 Berau 202 Tinggi
10 Mahakam Ulu - -
Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa banjir memiliki kelas bahaya


dominan paling tinggi di Kota Samarinda. Adapun kelas bahaya yang terjadi untuk aspek
bencana lainnya di Kota Samarinda sampai tahun 2019 yaitu:

Tabel 2.13.
Kelas Bahaya Dominan
Kota Samarinda
No Nama Bencana Kelas Bahaya
1 Banjir Tinggi
2 Cuaca Ekstrim Tinggi
3 Difteri Rendah
4 Epidemi dan Wabah Penyakit Rendah
5 Kebakaran Hutan dan Lahan Rendah
6 Kekeringan Sedang
7 Konflik Sosial Sedang
8 Longsor Sedang
Sumber: Dokumen Kajian Resiko Bencana Kota Samarinda Tahun 2018-
2022

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Samarinda, Kawasan rawan


bencana alam di Kota Samarinda hanya terbagi menjadi 2 (dua) yaitu rawan banjir dan
rawan longsor. Kedua jenis rawan bencana alam ini, berdasarkan kajian risiko bencana
yang telah dilakukan oleh BPBD Kota Samarinda, memperoleh tingkat resiko ‘tinggi’.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-17


Tabel 2.14.
Rincian Luas Potensi Bahaya Banjir Per Kecamatan
Kota Samarinda

Luas
Potensi Persentase dari
Kelas Dominan
No Kecamatan Bahaya Luas Wilayah
Wilayah Banjir
Banjir (%)
(Ha)
1 Loa Janan Ilir 578 18,22 Tinggi
2 Palaran 4.862 24,94 Tinggi
3 Samarinda Ilir 221 39,22 Tinggi
4 Samarinda Kota 287 79,19 Tinggi
5 Samarinda Seberang 609 52,11 Tinggi
6 Samarinda Ulu 723 13,40 Tinggi
7 Samarinda Utara 3.476 15,29 Tinggi
8 Sambutan 3.572 41,42 Tinggi
9 Sungai Kunjang 1.691 24,04 Tinggi
10 Sungai Pinang 582 18,34 Tinggi
Kota Samarinda 16.601 23,14 Tinggi
Sumber: Dokumen Kajian Resiko Bencana Kota Samarinda Tahun 2018-2022

Banjir adalah bencana alam yang terjadi secara alami maupun oleh ulah manusia.
Sekarang ini banjir sering terjadi disebabkan ulah manusia yang mulai tidak
menghiraukan keseimbangan alam. Banjir merupakan peristiwa tergenang dan
terbenamnya daratan karena volume air yang meningkat. Banjir juga dapat terjadi
karena luapan air yang berlebihan di suatu tempat akibat curah hujan yang tinggi,
peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan sungai. Beberapa penyebab terjadinya
banjir adalah:
a. Curah hujan dalam jangka waktu panjang.
b. Erosi tanah menyisakan batuan, hingga tidak ada resapan air.
c. Pengupasan lahan untuk pemukiman, kawasan niaga dan perkantoran yang
mengurangi kapasitas penyerapan air pada permukaan tanah
d. Penimbunan kawasan dataran rawa, dataran banjir dan pembangunan kawasan
pemukiman, niaga dan perkantoran serta infrastruktur umum di kawasan tersebut
e. Pengupasan lahan dan penggalian batuan untuk kegiatan penambangan batubara
atau bahan galian lain, yang menghilangkan tanah sebagai penyimpan air maupun
penghantar air ke batuan induk di bawahnya, serta menghilangkan kemampuan
batuan induk asli untuk menyimpan air karena telah digali dan dipindahkan ke
tempat lain sebagai batuan campuran.
f. Perilaku masyarakat dalam penanganan sampah, hingga sumber saluran-saluran air
tersumbat akibat pembuangan sampah ke saluran air atau sungai.
g. Bendungan dan saluran air yang mengalami pendangkalan. Penutupan tanah
dengan semen, paving atau aspal, hingga tidak menyerap air.
h. Penghilangan vegetasi khususnya di daerah dimana daya serap air sangat kurang

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-18


Pesatnya pertumbuhan kawasan perkotaan yang memicu migrasi juga turut
memberikan dampak pada ancaman bencana banjir di Kota Samarinda. Peningkatan
jumlah penduduk dikawasan perkotaan sehingga dataran banjir yang sebenarnya rawan
terhadap genangan dan banjir terpaksa digunakan sebagai tempat permukiman
perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan
kegiatan ekonomi. Bencana banjir dengan indeks risiko tinggi, utamanya banyak
terdapat di kecamatan Samarinda Kota, sisi timur kecamatan Sungai Pinang, bagian
tengah kecamatan Samarinda Utara, pada dataran banjir S. Karang Mumus. Berikutnya,
terdapat di sebagian Samarinda Seberang, Sambutan, Palaran, Sungai Kunjang, Loa
Janan Ilir, baratlaut Samarinda Ilir dan sebagian kecil tenggara Samarinda Ilir.
Apabila dilihat lebih dalam pada kawasan kelurahan, yang banyak terdapat risiko
tinggi risiko banjir adalah kelurahan Mesjid, Tenun Samarinda, Karang Mumus,
Pelabuhan, Pasar Pagi, Bugis, Sungai Pinang Luar, Pelita, Bandara, Temindung Permai.
Kawasan risiko tinggi banjir juga terdapat pada sebagian kawasan lain, yakni sisi utara
kelurahan Rawa Makmur, sebagian baratlaut kelurahan Handil Bakti, separuh sisi barat
kelurahan Sungai Kapih, sebagian selatan kelurahan Pulau Atas, sebagian timur
kelurahan Bukuan, separuh utara kelurahan Karang Asam Ulu dan separuh timur
kelurahan Karang Asam Ilir, bantaran S. Karang Asam Besar pada kelurahan Lok Bahu,
sebagian hilir bantaran S. Karang Asam Kecil pada kelurahan Air Putih, bantaran S.
Karang Mumus pada bagian timur kelurahan Gunung Kelua, Sempaja Selatan, Sempaja
Timur; bagian barat kelurahan Gunung Lingai, Lempake. Pada bagian kawasan lain,
terdapat indeks risiko sedang hingga rendah untuk banjir, yang utamanya terdapat pada
kawasan perbukitan di kecamatan-kecamatan yang ada di Samarinda.
Oleh karena itu diperlukan ruang evakuasi bencana banjir yaitu:
a. Perumahan Bukit Alaya Kecamatan Sungai Pinang;
b. GOR Segiri Kecamatan Samarinda Ulu;
c. Kantor Kecamatan Samarinda Ilir Kecamatan Samarinda Ilir;
d. Stadion Madya Sempaja Kecamatan Samarinda Utara;
e. Balai Kota Samarinda Kecamatan Samarinda Kota;
f. Islamic Centre Kecamatan Sungai Kunjang;
g. Gedung SMA Negeri 11 Kecamatan Sambutan;
h. Lapangan KNPI Kecamatan Samarinda Seberang.
Bencana banjir di Kota Samarinda merupakan bencana terstruktur yang harus
segera diantisipasi dengan pembenahan secara massif dan konsisten. Oleh karena itu,
Pemerintah Kota Samarinda telah membuat sebuah skenario masterplan penanganan
bencana banjir dari tahun 2016 hingga tahun 2035 yang diperkirakan menelan dana
hingga mencapai 5,26 trilyun dalam jangka waktu 20 tahun. Kegiatan dalam masterplan
tersebut adalah pembuatan atau perbaikan saluran sanitasi lingkungan, pembuatan
kolam retensi, pengadaan pompa, pengadaan alat penangkap lumpur, serta
penanganan-penanganan khusus bencana banjir.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-19


Di Kota Samarinda terdapat 50 titik bencana banjir yang tersebar di 9 kecamatan
dimana hanya wilayah Kecamatan Sambutan yang tidak pernah mengalami bencana
banjir seperti yang terlihat pada tabel. Titik bencana banjir terbanyak berada di
Kecamatan Palaran yang mencapai 9 titik, kemudian Samarinda Ilir dan Samarinda
Utara yang masing-masing sebanyak 7 titik banjir. Pada tahun 2005, setiap titik banjir
tersebut hanya mengalami 6-10 kali bencana banjir dalam setahun, tetapi pada masa
sekarang hampir setiap kondisi hujan mengalami bencana banjir. Melihat keadaan
seperti itu bukan hal yang aneh jika urgensi penanganan banjir di Kota Samarinda
menjadi salah satu prioritas utama pembangunan daerah periode saat ini.

Tabel 2.15.
Perencanaan Antisipasi dan Penanganan Banjir
Kota Samarinda

Jumlah
Jumlah Panjang Kolam Jumlah
Penangkap
No Kecamatan Titik Saluran Retensi Pompa
Lumpur
Banjir (Km) (buah) (buah)
(buah)
1 Palaran 9 57,25 4 8 124
2 Samarinda Ilir 7 34,35 7 8 95
3 Samarinda Kota 4 18,00 - 2 51
4 Sambutan - - - - -
5 Samarinda Seberang 6 29,70 3 5 84
6 Loa Janan Ilir 4 25,50 2 4 51
7 Sungai Kunjang 5 34,25 4 4 63
8 Samarinda Ulu 4 34,25 3 6 66
9 Samarinda Utara 7 33,75 4 9 87
10 Sungai Pinang 4 19,50 4 8 58
Total 50 286,55 31 54 679
Sumber: Skenario Masterplan Banjir Kota Samarinda Tahun 2016-2035

Dalam menangani banjir di Kota Samarinda sebagai bagian dari masterplan


perencanaan penanganan bencana banjir, setidaknya terdapat empat kegiatan yang akan
ditempuh ditambah dengan penangan khusus terhadap beberapa wilayah. Agenda
dalam menangani permasalahan banjir di Kota Samarinda adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan panjang saluran air sekaligus mengefisiensikan sanitasi lingkungan.
Peningkatan saluran air ini merupakan pembuatan saluran baru atau memperbaiki
saluran lama yang telah rusak dengan total saluran sepanjang 286,55 Km diseluruh
Kota Samarinda. Sebagian besar peningkatan saluran air berada di Kecamatan
Palaran sepanjang 57,25 Km dan paling pendek pembuatan saluran berada di
Kecamatan Samarinda Kota sepanjang 18,00 Km.
2. Pembuatan kolam retensi dibeberapa kelurahan. Kolam retensi merupakan kolam
yang berfungsi menggantikan peran lahan resapan air yang dijadikan lahan
perumahan, perkantoran, maupun lahan tertutup lainnya. Fungsi kolam mini adalah
menampung air hujan langsung dan aliran dari system untuk diresapkan kedalam
tanah. Dalam kurun waktu 20 tahun, di Kota Samarinda akan dibangun 31 kolam

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-20


retensi bagai antisipasi/pencegahan terjadinya bencana banjir di Kota Samarinda
yang disebabkan oleh tingginya intensitas hujan.
3. Pengadaan pompa dan penangkap lumpur merupakan dua kegiatan selanjutnya
dalam master plan penanganan bencana banjir dimana dalam kurun waktu 20 tahun
akan diadakan 54 unit pompa untuk memompa air sebagai salah satu alat penanganan
banjir dan 679 unit penangkap lumpur untuk menangkap lumpur sebagai ikutan
dampak terjadinya bencana banjir.
4. Penanganan banjir di area Sub DAS Sungai Karang Mumus (SKM), dengan revitalisasi
bantaran SKM serta normalisasi SKM
5. Pembangunan pintu air dan rumah pompa Sungai Karang Mumus
Selain keempat kegiatan tersebut diatas, terdapat pula penanganan khusus
seperti pembuatan parapet (dinding beton) di Kelurahan Air Hitam, Kelurahan Karang
Asam, Kelurahan Sungai Keledang, Sungai Karang Mumus, Bendungan Lempake, dan
Sungai Mahakam. Total panjang parapet yang akan dibangun dalam kurun waktu 20
tahun ini sepanjang 46,5 Km. Sedangkan penanganan khusus selanjutnya dalam master
plan adalah dilakukannya normalisasi bendungan lempake sebanyak 200.000 m3.
Selain banjir, bencana longsor kerap terjadi di Kota Samarinda. Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa di Kota Samarinda telah terjadi total
41 kejadian bencana longsor, 3 orang meninggal, 2 luka-luka dan 422 orang menderita.
Adapun rincian bahaya longsor adalah sebagai berikut:

Tabel 2.16.
Rincian Luas Potensi Bahaya Longsor Per Kecamatan
Kota Samarinda

Persentase dari
Luas
Luas Wilayah
No Kecamatan Potensi Kelas Dominan
Kecamatan
(Ha)
(%)
1 Loa Janan Ilir 3.170 99,90 Sedang
2 Palaran 19.422 99,62 Sedang
3 Samarinda Ilir 563 99,91 Rendah
4 Samarinda Kota 364 100,00 Rendah
5 Samarinda Seberang 1.172 100,00 Rendah
6 Samarinda Ulu 5.398 100,00 Rendah
7 Samarinda Utara 22.663 99,69 Sedang
8 Sambutan 8.605 99,79 Rendah
9 Sungai Kunjang 6.994 99,42 Rendah
10 Sungai Pinang 3.169 99,88 Sedang
Kota Samarinda 71.520 99,71 Sedang
Sumber: Dokumen Kajian Resiko Bencana Kota Samarinda Tahun 2018-2022

Indeks risiko tinggi terdapat pada sisi barat laut kelurahan Bantuas, bagian
tengah kelurahan Rawa Makmur, bagian barat kelurahan Bukuan, sisi timur laut
kelurahan Simpang Pasir, sebagian sisi tenggara dan barat laut kelurahan Sungai Siring,
sebagian sisi selatan kelurahan Budaya Pampang sisi barat kelurahan Gunung Lingai

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-21


dan Lempake, sisi timur kelurahan Sempaja Utara, sebagian perbukitan di barat
kelurahan Karang Asam Ulu dan Karang Asam Ilir, bagian tengah kelurahan Air Putih
dan Air Hitam, sisi barat kelurahan Sidodadi, sebagian sisi tengah kelurahan Bukit
Pinang pada perbukitan yang berarah utara timur laut – selatan barat daya, perbukitan
sisi barat kelurahan Sengkotek. Adapun kawasan yang banyak terdapat risiko tinggi
Longsor adalah kelurahan Lempake, disusul kelurahan Sempaja Selatan, Sempaja Barat,
Sempaja Timur. Sedangkan kawasan dengan tingkat risiko sebagian besar tergolong
sedang dengan sebagian kecil tergolong tinggi, ada pada wilayah kelurahan Tanah
Merah, Sungai Siring, Sempaja Utara, Budaya Pampang.

2.1.8 Demografi
Laju pertumbuhan dan dominasi perekonomian yang didominasi oleh sektor
perdagangan, hotel, dan restoran serta sektor jasa-jasa dalam perekonomian Kota
Samarinda, memberikan efek langsung terhadap pertumbuhan penduduk yang sebagian
besar disebabkan oleh migrasi penduduk. Berdasasarkan hasil Sensus Penduduk tahun
2020 oleh BPS, jumlah penduduk Kota Samarinda tahun 2020 mencapai 827.994 jiwa
dengan kepadatan 1.153,19 Jiwa/km2. Penduduk Kota Samarinda mengalami
pertumbuhan yang pesat dari tahun ke tahun. Hal ini menandakan Kota Samarinda
memiliki daya tarik yang cukup kuat bagi para penduduk di luar daerah, khususnya daya
tarik bagi investasi maupun peluang sektor perdagangan. Kondisi ini semakin
mengukuhkan peran Kota Samarinda sebagai kota jasa dan perdagangan.
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020, terjadi perubahan jumlah penduduk
terbanyak di Kota Samarinda, yang sebelumnya terdapat di Kecamatan Samarinda Ulu
berubah menjadi Kecamatan Sungai Kunjang. Hal ini menandakan bahwa dalam 10
tahun terakhir, pemerataan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah Kota
Samarinda dapat dikatakan berhasil karena mampu memecah konsentrasi penduduk
yang sebelumnya terpusat di tengah kota. Tidak hanya itu, perubahan juga terjadi pada
penduduk terpadat, yang awalnya berada di Kecamatan Samarinda Kota berubah
menjadi Kecamatan Samarinda Ulu yang mencapai 5.868,26 jiwa/km 2. Secara rinci,
sebaran penduduk di tiap kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.17.
Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2020
Kota Samarinda

Luas Jumlah
Kepadatan
No Kecamatan Wilayah Penduduk
(jiwa/km2)
(km2) (jiwa)
1 Palaran 221,31 63.189 285,55
2 Samarinda Ilir 17,18 69.142 4.024,56
3 Samarinda Kota 11,12 31.718 2.852,34
4 Sambutan 100,95 57.941 573,96
5 Samarinda Seberang 12,49 64.050 5.128,10
6 Loa Janan Ilir 26,13 65.892 2.521,70
7 Sungai Kunjang 43,04 133.543 3.102,76
8 Samarinda Ulu 22,12 129.806 5.868,26
9 Sungai Pinang 34,16 105.970 3.102,17

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-22


Luas Jumlah
Kepadatan
No Kecamatan Wilayah Penduduk
(jiwa/km2)
(km2) (jiwa)
10 Samarinda Utara 229,52 106.743 465,07
11 Kota Samarinda 718,00 827.994 1.153,19
Sumber: Kota Samarinda Dalam Angka Tahun 2021, Penyediaan Data Untuk Perencanaan

Pada gambar dapat dilihat sebaran penduduk berdasarkan kelompok umur dan
berdasarkan jenis kelamin. Total penduduk perempuan sebesar 405.370 jiwa dan
penduduk laki-laki sebesar 422.624 jiwa. Gambar tersebut juga menunjukkan bahwa
struktur penduduk Kota Samarinda didominasi usia 15-19 tahun. Dilihat dari sebaran
penduduk berdasarkan kelompok umurnya, jumlah penduduk usia produktif (usia 15-
64 tahun) di tahun 2020 sejumlah 585.697 jiwa, dan jumlah penduduk usia tidak
produktif (0-15 tahun dan 65 tahun keatas) sejumlah 242.297 jiwa. Data ini memberikan
gambaran potensi yang ada di Kota Samarinda terutama dalam rangka meningkatkan
produktivitas daerah, karena semakin tinggi usia produktif maka akan semakin banyak
penduduk yang terlibat dalam produksi barang dan jasa, sehingga produktivitas daerah
akan semakin meningkat.

Gambar 2.4.
Piramida Penduduk Kota Samarinda Tahun 2020

65+ 20,018 19,146


60-64 14,084 13,091
55-59 19,821 19,216
50-54 24,451 23,992
45-49 28,843 28,185
40-44 32,214 31,024
35-39 34,439 32,634
30-34 35,146 33,731
25-29 35,509 34,164
20-24 36,298 35,734
15-19 37,745 35,376
10-14 37,074 34,632
5-9 34,303 33,052
0-4 32,679 31,393

Perempuan Laki-Laki

Sumber: Kota Samarinda Dalam Angka Tahun 2020, Penyediaan Data Untuk Perencanaan

Berdasarkan tingkat pendidikannya, komposisi penduduk Kota Samarinda


dengan persentase terbesar adalah belum tamat SD/sederajat sebesar 34,97%.
Sedangkan penduduk yang menamatkan pendidikan pada jenjang perguruan tinggi
jumlahnya hanya sekitar 9,50% yang terdiri dari tamatan Diploma I/II/III sebesar
2,44% dan tamatan D IV, S1, S2, dan S3 sebesar 7,07%.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-23


Tabel 2.18.
Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2018-2020
Kota Samarinda

2018 2019 2020


Tingkat
Jmlh Jmlh Jmlh
Pendidikan % % %
(Jiwa) (Jiwa) (Jiwa)
Belum Tamat 294.958 36,09
269.300 34,57 276.138 34,97
SD/ Sederajat
Tamat 104.040 12,73
106.212 13,64 105.688 13,38
SD/Sederajat
SLTP/Sederajat 109.652 14,08 109.123 13,82 110.048 13,47
SLTA/Sederajat 220.509 28,31 223.603 28,32 228.851 28,00
Diploma I/II/III 18.843 2,42 19.263 2,44 20.072 2,46
Diploma 54.376 6,65
49.976 6,42 51.234 6,49
IV/Strata I
Strata II 4.158 0,53 4.285 0,54 4.162 0,51
Strata III 263 0,03 267 0,03 297 0,04
Jumlah 778.913 100 789.601 100 817.254 100
Sumber: Data Diolah oleh Walidata

2.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat


Dampak yang dirasakan oleh masyarakat dari sebuah pembangunan pada
dasarnya adalah kenyamanan dalam menjalani aktivitas di Kota Samarinda.
Kenyamanan tersebut dapat dirasakan apabila masyarakat mampu memenuhi segala
kebutuhan pokoknya sendiri, baik makanan maupun non makanan. Guna memenuhi
kebutuhan pokoknya maka harus diiringi dengan peningkatan kemampuan daya beli
yang hanya dapat diperoleh dari keterlibatan dalam proses produksi barang dan jasa.
Semakin tinggi aktivitas produksi barang dan jasa di suatu daerah maka akan semakin
meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa geliat
perekonomian yang semakin baik akan memberikan efek pada kesejahteraan
masyarakat yang semakin meningkat.

2.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi


a. Pertumbuhan PDRB
Tingginya jumlah penduduk yang ada di Kota Samarinda salah satunya
memberikan dampak pada semakin meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat, yang
artinya akan meningkatkan proses produksi barang dan jasa. Suatu produk baik
berbentuk barang maupun jasa pasti akan menghasilkan nilai tambah (value added)
yang secara makro akan menggambarkan output dari suatu daerah dalam Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Samarinda. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
pertumbuhan PDRB menggambarkan persentase peningkatan dari output yang
dihasilkan oleh suatu daerah setiap tahun, dan tentunya menggambarkan pertumbuhan
ekonomi.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dibagi dalam 2 jenis, yaitu PDRB Atas
Dasar Harga Berlaku (ADHB) dan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK). PDRB
ADHB menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga
yang berlaku pada setiap tahun, sedangkan PDRB ADHK menunjukkan nilai tambah

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-24


barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun
tertentu sebagai dasar, dalam hal ini yaitu tahun 2010. PDRB ADHB dapat digunakan
untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi, sedangkan PDRB ADHK digunakan
untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.

Tabel 2.19.
PDRB dan Laju Pertumbuhan PDRB Tahun 2017-2020
Kota Samarinda
PDRB
No Dengan 2017 2018 2019 2020
Migas
ADHB
58.443.748,70 63.564.686,76 67.701.781,88 66.542.454,84
(Rp. juta)
1
Pertumbuhan
11,01 8,76 6,51 -1,71
(%)
ADHK
41.274.972,30 43.323.568,68 45.485.738,33 45.000.473,45
(Rp. juta)
2
Pertumbuhan
3,85 4,96 4,99 -1,07
(%)
Sumber: Kota Samarinda Dalam Angka 2020

Tahun 2020 menjadi awal pandemi COVID-19 di Indonesia, tanpa terkecuali


Kota Samarinda, yang menyebabkan pemerintah harus mengeluarkan kebijakan
menutup tempat makan, hotel, restoran, sarana perdagangan, serta usaha jasa guna
memutus rantai penyebaran. Kebijakan ini berdampak pada perekonomian Kota
Samarinda yang sejak lama berbasis pada sektor perdagangan dan jasa, yang
menyebabkan pertumbuhan ekonomi berada pada angka negatif yaitu -1,07% atau turun
485 milyar dari Rp. 45,48 trilyun pada tahun 2019 menjadi Rp. 45 trilyun tahun 2020.
Tidak hanya itu, pandemi COVID-19 yang melanda sejak awal tahun 2020
memberikan dampak pada penurunan penerimaan pada berbagai sektor atau lapangan
usaha. Penurunan tersebut menyebabkan terjadinya ketidakmampuan perusahaan
untuk memberikan upah kepada tenaga kerjanya, sehingga terjadi pengurangan
karyawan secara besar-besaran. Kondisi ini kemudian menyebabkan produksi barang
dan jasa di Kota Samarinda pada tahun 2020 mengalami penurunan drastis yang
tergambar dengan turunnya PDRB ADHB dari Rp. 67,7 trilyun tahun 2019 menjadi Rp.
66,5 trilyun pada tahun 2020 atau tumbuh negatif sebesar -1,71%.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-25


Gambar 2.5.
Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2016-2019
Kota Samarinda
(%)

6 4.96 4.99
5
3.85
4 4.77
3
2 3.13
2.67
1
0.56
-0.38 -0.34
0
-1.07
-1 2016 2017 2018 2019 2020 Tw.1 2021
-0.61
-2
-3
-4 -2.85

Samarinda Kaltim

Perekonomian Kota Samarinda pada awal tahun 2021 ini mengalami penurunan
sebesar 0,39% jika dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya (y-on-y).
Sejalan dengan Kota Samarinda, pada Triwulan I-2021 ini laju pertumbuhan ekonomi
Provinsi Kalimantan Timur mengalami penurunan sebesar 2,96% (y-on-y).
Pertumbuhan ekonomi Kota Samarinda pada Triwulan I-2021 masih terkontraksi dan
belum sepenuhnya pulih.
Secara year on year (y-on-y), turunnya pertumbuhan Triwulan I-2021 ini dipicu
oleh kontraksi yang terjadi pada beberapa sektor jika dibandingkan dengan kondisi
Triwulan I-2020. Pada Triwulan I-2021 secara y-on-y, kontraksi terdalam terjadi pada
Sektor Industri Pengolahan sebesar 4,85%; lalu Sektor Konstruksi sebesar 1,77%;
kemudian Sektor Pertanian sebesar 0,85%; dan Sektor Jasa-jasa terkontraksi sebesar
0,17%. Meskipun demikian, masih terdapat sektor yang tumbuh positif. Sektor dengan
pertumbuhan y-on-y tertinggi yaitu Sektor Listrik & Air Bersih yang tumbuh sebesar
9,34%. Sektor Pertambangan & Penggalian dan Sektor Perdagangan, Hotel & Restoran
juga tumbuh positif walaupun tidak besar, masing-masing sebesar 1,34% dan 1,18%.

Tabel 2.20.
Laju Pertumbuhan PDRB ADHK Menurut Lapangan Usaha Tahun 2017-2020
Kota Samarinda
(%)

No Lapangan Usaha 2017 2018 2019 2020

Pertanian, Kehutanan dan


A 4,75 5,47 1,22 0,68
Perikanan
B Pertambangan & Penggalian -2,10 1,37 5,75 -3,98
C Industri Pengolahan 1,83 3,11 4,27 -3,84
D Pengadaan Listrik dan Gas 9,87 12,76 8,75 14,55
E Pengadaan Air, Pengelolaan
9,21 7,02 3,77 6,94
Sampah, Limbah dan Daur Ulang
F Konstruksi 6,78 6,15 4,72 -4,39

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-26


No Lapangan Usaha 2017 2018 2019 2020

G Perdagangan Besar dan Eceran,


Reparas dan Perawatan Mobil dan 7,50 5,65 5,07 1,84
Sepeda Motor
H Transportasi dan Pergudangan 4,24 6,40 5,99 -0,90
I Penyediaan Akomodasi dan Makan
8,43 8,50 7,66 -3,92
Minum
J Informasi dan Komunikasi 9,88 5,45 6,39 7,31
K Jasa Keuangan dan asuransi -3,43 3,35 2,52 2,74
L Real Estate 3,29 4,16 3,12 1,85
M,N Jasa Perusahaan 4,26 4,67 1,99 -3,76
O Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan dan Jaminan Sosial -0,81 3,65 4,36 -4,23
Wajib
P Jasa Pendidikan 8,77 7,88 4,87 1,64
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 7,93 6,65 6,40 18,20
R,S,T, Jasa Lainnya
7,89 9,59 7,94 -2,98
U
PDRB 3,85 4,94 4,97 -1,07
Sumber: Kota Samarinda Dalam Angka Tahun 2020

Pertumbuhan ekonomi Kota Samarinda dapat dikatakan tumbuh konstan dan


positif dalam kurun waktu 2016-2019, sampai terjadi pandemi COVID-19 yang
menyebabkan perekonomian tumbuh negatif pada tahun 2020. Penurunan tersebut
disebabkan karena beberapa sektor dominan menunjukkan pertumbuhan negatif, yaitu
:
1. sektor konstruksi dengan konstribusi terbesar yaitu 21,23%, mengalami pertumbuhan
-4,39%
2. sektor pertambangan dan penggalian dengan kontribusi 10,94%, mengalami
pertumbuhan -3,98%, dan
3. sektor industri pengolahan dengan kontribusi 7,75%, mengalami pertumbuhan -
3,84%
Melihat kondisi perekonomian tahun 2020, maka pemerintah Kota Samarinda harus
menyusun langkah-langkah strategis dalam rangka pemulihan ekonomi tanpa
mengesampingkan pelayanan kesehatan dan jaminan sosial bagi masyarakat kurang
mampu pada masa pandemi COVID-19.

Tabel 2.21.
Kontribusi PDRB ADHB Menurut Lapangan Usaha Tahun 2017-2020
Kota Samarinda
(%)

No Jenis Sektor 2017 2018 2019 2020


Pertanian, Kehutanan
A 1,82 1,82 1,76 1,84
dan Perikanan
B Pertambangan dan
13,90 13,48 12,66 10,94
Penggalian
C Industri Pengolahan 8,08 7,87 7,70 7,75

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-27


No Jenis Sektor 2017 2018 2019 2020
D Pengadaan Listrik dan
0,13 0,14 0,14 0,17
Gas
E Pengadaan air,
0,15 0,15 0,15 0,16
pengelolaan sampah
F Konstruksi 20,23 21,05 21,81 21,23
G Perdagangan besar dan
16,02 16,03 16,37 17,09
eceran
H Transportasi dan
6,88 6,91 7,01 7,06
Pergudangan
I Penyediaan akomodasi
3,86 3,95 4,07 4,03
dan makan minum
J Informasi dan
3,43 3,34 3,33 3,65
komunikasi
K Jasa keuangan dan
7,28 7,16 6,99 7,31
asuransi
L Real estate 2,49 2,43 2,39 2,48
M,N Jasa perusahaan 0,86 0,85 0,82 0,81
O Administrasi
pemerintahan,
6,57 6,43 6,31 6,28
pertahanan dan jaminan
sosial
P Jasa Pendidikan 4,10 4,07 4,12 4,55
Q Jasa Kesehatan dan
1,39 1,40 1,40 1,71
Kegiatan Sosial
R,S, Jasa Lainnya
2,81 2,92 2,97 2,94
T,U
PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00
Sumber: Data Diolah oleh Walidata
Perekonomian Kota Samarinda yang telah dikenal dengan dominasi sektor tersier
(jasa/service) dibangun berdasarkan kontribusi lapangan usaha pembentuknya.
Meskipun terjadi pandemi COVID-19, pada tahun 2020 kontribusi tertinggi masih
berada pada lapangan usaha konstruksi sebesar 21,23%, selanjutnya secara berturut-
turut diikuti oleh perdagangan besar dan eceran 17,09%, serta pertambangan dan
penggalian sebesar 10,94%. Namun apabila ditinjau lebih jauh, dalam kurun waktu
2010-2019 terjadi pergeseran dominasi lapangan usaha sebanyak 3 kali. Pergeseran
paling jelas terjadi pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian, dimana pada
tahun 2011-2012 lapangan usaha ini memberi kontribusi tertinggi, selanjutnya secara
berturut-turut adalah konstruksi dan perdagangan. Pada tahun 2013-2014 lapangan
usaha pertambangan dan penggalian menempati urutan kedua, dan kemudian menurun
menjadi urutan ketiga sejak tahun 2015 hingga sekarang. Kondisi ini menandakan
bahwa ketergantungan Kota Samarinda dengan pertambangan sudah mulai bergeser
kepada konstruksi dan perdagangan, yang semakin menguatkan Samarinda sebagai kota
jasa dan perdagangan.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-28


Gambar 2.6.
Kontribusi 3 (tiga) Sektor Tertinggi
Kota Samarinda
(%)

35

30

25

20

15

10

0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran; Reparasi mobil dan sepeda motor
Pertambangan dan penggalian

b. Laju Inflasi
Pengendalian inflasi di Kota Samarinda tergolong berhasil, karena telah
memperoleh berbagai penghargaan dari pemerintah pusat untuk Tim Pengendali Inflasi
Daerah (TPID). Namun pandemi COVID-19 yang terjadi pada tahun 2020 turut
mengubah komoditi yang berkontribusi terhadap inflasi. Pada tahun 2019 inflasi
tertinggi terjadi pada komoditi sandang yang mencapai 4,99%, sedangkan tahun 2020
inflasi tertinggi terjadi pada komoditi perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai
6,23%. Hal ini mengindikasikan bahwa secara makro terjadi kenaikan harga pada barang
dan jasa yang termasuk dalam komoditi perawatan pribadi dan jasa lainnya, dalam hal
ini yaitu vitamin, cairan pembersih, atau peralatan pendukung lainnya untuk PHBS
(Perilaku Hidup Bersih Sehat) di tengah pandemi COVID-19.

Tabel 2.22.
Laju Inflasi Tahun 2017-2021
Kota Samarinda
(%)

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021*


1 Kota Samarinda 3,69 3,32 1,49 0,86 0,84
2 Provinsi Kaltim 3,15 3,24 1,66 0,78 0,69
3 Nasional 3,61 3,13 2,72 1,68 0,58
*Inflasi Tahun Kalender sampai bulan April 2021
Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Samarinda

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-29


Tabel 2.23.
Inflasi Kota Samarinda Menurut Kelompok Komoditi Tahun 2017-2019
Kota Samarinda
(%)

No Kelompok Pengeluaran 2017 2018 2019

1 Bahan Makanan 0,38 3,31 2,22


2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan
4,32 2,93 2,95
Tembakau
3 Perumahan, Air, Listrik,Gas dan Bahan
5,92 2,64 0,20
Bakar
4 Sandang 4,36 2,78 4,99
5 Kesehatan 3,16 3,24 0,61
6 Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 2,70 3,97 4,18
7 Transpor, Komunikasi dan Jasa
3,51 3,97 -1,21
Keuangan
Kota Samarinda 3,69 3,32 1,49
Propinsi Kaltim 3,15 3,24 1,66
Nasional 3,61 3,13 2,72
Sumber: - Badan Pusat Statistik RI
- Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Timur
- Badan Pusat Statistik Kota Samarinda

Tabel 2.24.
Inflasi Kota Samarinda Menurut Kelompok Komoditi Tahun 2020-2021
Kota Samarinda
(%)

No Kelompok Pengeluaran 2020 2021*

1 Makanan, Minuman dan Tembakau 2,05 2,43


2 Pakaian dan Alas Kaki -5,52 0,98
Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar
3 0,27 0,13
Rumah Tangga
Perlengkapan, Peralatan dan Pemeriharaan
4 2,84 1,82
Rutin Rumah Tangga
5 Kesehatan 2,29 0,07
6 Transportasi -0,93 0,21
7 Informasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan -0,16 0,17
8 Rekreasi, Olahraga dan Budaya 1,72 0,38
9 Pendidikan -0,64 0,00
Penyediaan Makanan dan
10 1,40 0,14
Minuman/Restoran
11 Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya 6,23 0,12
Kota Samarinda 0,86 0,84
Provinsi Kaltim 0,78 0,69
Nasional 1,68 0,58
*Inflasi Tahun Kalender sampai bulan April 2021
Sumber: - Badan Pusat Statistik RI
- Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Timur
- Badan Pusat Statistik Kota Samarinda

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-30


c. PDRB Per Kapita
Salah satu indikator dalam mengukur kesejahteraan masyarakat adalah PDRB
Per Kapita. PDRB Per Kapita merupakan rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap
penduduk selama satu tahun di suatu wilayah/daerah dan menggambarkan tingkat
kemakmuran per orang. PDRB per kapita diperoleh dari hasil bagi PDRB ADHK dengan
jumlah penduduk.

Tabel 2.25.
PDRB Per Kapita Kota Samarinda ADHK 2010 Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020


Nilai PDRB (Rp.
1 41.274.972,3 43.315.910,7 45.469.879,5 45.000.473,45
Juta)
Jumlah
2 843.446 858.080 872.768 827.994
Penduduk (jiwa)
PDRB perkapita
3 48.936.117 50.480.037 52.098.472 54.348.792
(Rp/jiwa)
Pertumbuhan
4 PDRB Per kapita 1,99 3,15 3,21 4,32
(%)
Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Samarinda Tahun 2020

PDRB Per kapita Kota Samarinda mencapai Rp. 54.348.792 per tahun, atau bila
dirata-ratakan sebesar Rp. 4.529.066 per bulan. PDRB per kapita yang semakin tinggi
dapat menjadi pendekatan untuk melihat kemampuan daya beli masyarakat secara
makro, yang tentunya akan semakin meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Apabila
dihubungkan dengan lapangan usaha yang memberikan kontribusi tertinggi dalam
PDRB Kota Samarinda, maka dapat dikatakan bahwa masyarakat yang terlibat dalam
kegiatan produksi barang dan jasa pada konstruksi, perdagangan serta pertambangan
akan memiliki daya beli yang lebih besar, sehingga kesejahteraannya akan semakin
meningkat.

d. Kemiskinan
Masalah kemiskinan merupakan salah satu persoalan mendasar yang menjadi
perhatian seluruh pemerintah daerah. Kemiskinan adalah keadaan dimana seseorang
tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat
berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan
alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan
pekerjaan. Kemiskinan inilah yang bisa menjadi pemicu bagi permasalahan sosial
lainnya, seperti kriminalitas, kekumuhan, dan lain-lain. Oleh karena itu, pemerintah
Kota Samarinda terus mengupayakan penanggulangan kemiskinan dari hulu ke hilir
sehingga tidak berpotensi menimbulkan masalah baru. Tolok ukur paling jelas dalam
melihat sejauh mana keberhasilan pemerintah dalam menangani kemiskinan adalah
angka kemiskinan. Angka kemiskinan menggambarkan persentase penduduk yang
berada di bawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan merupakan representase dari

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-31


jumlah rupiah minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok minimun
makanan yang setara dengan 2100 kkal/kapita/hari dan kebutuhan pokok bukan
makanan. Angka kemiskinan diperoleh dari perbandingan penduduk yang berada di
bawah garis kemiskinan dengan seluruh penduduk yang ditampilkan dalam satuan
persen.

Tabel 2.26.
Persentase Penduduk Miskin Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020


Garis Kemiskinan
1 594.645 616.365 658.307 719.710
(Rp/Kapita/bulan)
Indeks Kedalaman
2 0,68 0,49 0,57 0,72
Kemiskinan (P1) (%)
Indeks Keparahan
3 0,13 0,09 0,11 0,21
Kemiskinan (P2) (%)
Jumlah penduduk
4 40,01 39,23 39,80 41,92
miskin (ribu orang)
Persentase penduduk
5 di atas garis 95,23 95,41 95,41 95,24
kemiskinan
Persentase penduduk
6 4,77 4,59 4,59 4,76
miskin
Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Samarinda Tahun 2020, data diolah

Penanganan kemiskinan di Kota Samarinda dilakukan secara terpadu dan


komprehensif dibawah koordinasi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah
(TKPKD) Kota Samarinda. Secara terpadu dalam artian melibatkan seluruh unsur yang
terkait mulai dari penanganan pengangguran, jaminan sosial, serta OPD lain yang
terllibat langsung dalam penanganan kemiskinan. Adapun secara komprehensif
memiliki makna saling mendukung antar sektor dan pelaksanaannya tidak berjalan
masing-masing (parsial). Program penanganan kemiskinan yang dilaksanakan secara
terpadu dan komprehensif tersebut terbukti membuahkan hasil, dengan adanya
penurunan angka kemiskinan dari tahun ke tahun yaitu dari 4,77% tahun 2017 menjadi
4,76% tahun 2020.
Selain angka kemiskinan, pemerintah Kota Samarinda juga selalu
memperhatikan pergerakan Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan
Kemiskinan (P2). Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) adalah ukuran rata-rata
kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan.
Semakin tinggi P1 maka semakin tinggi pula kesenjangan pengeluaran penduduk miskin
dengan garis kemiskinan, yang artinya butuh pembiayaan yang makin besar untuk
menanganinya. Sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) adalah indeks yang
memberikan informasi mengenai gambaran penyebaran pengeluaran di antara
penduduk miskin. Semakin tinggi P2 maka akan semakin tinggi pula kesenjangan
pengeluaran diantara penduduk miskin.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-32


2.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial
a. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator penting untuk
mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia
(masyarakat/penduduk). IPM merupakan data strategis karena selain sebagai ukuran
kinerja pemerintah, IPM juga digunakan sebagai salah satu alokator penentuan Dana
Alokasi Umum (DAU). Lebih jauh lagi IPM dapat menentukan peringkat atau level
pembangunan suatu wilayah/negara.

Tabel 2.27.
Indeks Pembangunan Manusia Tahun 2017-2020
Provinsi Kaltim dan Kabupaten/Kota se-Kaltim
(Poin)

Peringkat Uraian 2017 2018 2019 2020

Kalimantan
75,12 75,83 76,61 76,24
Timur
1 Samarinda 79,46 79,93 80,20 80,11
2 Bontang 79,47 79,86 80,09 80,02
3 Balikpapan 79,01 79,81 80,11 80,01
4 Berau 73,56 74,01 74,88 74,71
Kutai
5 72,25 73,15 73,78 73,59
Kartanegara
6 Kutai Timur 71,91 72,56 73,49 73,00
7 Paser 71,16 71,61 72,29 72,04
Penajam Paser
8 70,59 71,13 71,64 71,41
Utara
9 Kutai Barat 70,18 70,69 71,63 71,19
10 Mahakam Ulu 66,09 66,67 67,58 67,09
Sumber: Badan Pusat Statistik Tahun 2020, data diolah oleh Walidata

IPM Kota Samarinda menjadi yang tertinggi di Kaltim, yang menunjukkan bahwa
kualitas hidup manusia di ibukota ini menjadi yang terbaik di provinsi ini. Namun
meskipun seperti itu, pada tahun 2020 IPM Kota Samarinda mengalami penurunan,
dari 80,20 di tahun 2019 menjadi 80,11. Penurunan ini pun terjadi pada IPM Provinsi
Kaltim yaitu dari 76,61 pada tahun 2019 menjadi 76,24 pada tahun 2020. Apabila
ditinjau lebih jauh lagi, maka penurunan tersebut disebabkan oleh penurunan pada
pengeluaran per kapita yang diindikasikan sebagai dampak dari banyaknya perusahaan
yang terpaksa melakukan pengurangan karyawan pada masa pandemi COVID-19.
Sedangkan bila di perhatikan berdasarkan jenis kelamin, IPM laki-laki lebih tinggi dari
IPM perempuan. Hal ini menandakan bahwa laki-laki berpeluang memiliki kualitas
hidup yang lebih baik dari pada perempuan.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-33


Tabel 2.28.
IPM Kota Samarinda dan Provinsi Kalimantan Timur
Tahun 2017-2020

2017 2018 2019 2020


Kota/Prop.
L P L P L P L P
Kota
83,68 74,69 84,12 75,22 84,42 75,48 84,34 75,29
Samarinda
Kalimantan
80,03 68,52 80,82 69,21 81,58 70,14 81,32 69,69
Timur
Sumber: Badan Pusat Statistik Tahun 2020, data diolah

b. Angka Harapan Lama Sekolah


IPM dapat menggambarkan perkembangan kualitas manusia dari sisi
pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Pembentuk IPM dari sisi pendidikan yaitu angka
Harapan Lama Sekolah (HLS). HLS didefinisikan sebagai lamanya sekolah (dalam
tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa
mendatang. HLS dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem
pendidikan di berbagai jenjang.

Gambar 2.7.
Perkembangan Harapan Lama Sekolah Tahun 2017-2020
Kota Samarinda
(tahun)

14.89
14.64 14.66 14.7

13.67 13.69 13.72


13.49

2017 2018 2019 2020

Kota Samarinda Kalimantan Timur

Sumber: Badan Pusat Statistik Tahun 2020, data diolah

Tabel 2.29.
Harapan Lama Sekolah Kota Samarinda dan Provinsi Kalimantan Timur
Menurut Jenis Kelamin Tahun 2017-2020

2017 2018 2019 2020


Kota/Prop.
L P L P L P L P
Kota
14,37 14,71 14,44 14,72 14,46 14,77 14,70 14,92
Samarinda
Kalimantan
13,42 13,67 13,67 13,68 13,68 13,86 13,71 13,87
Timur
Sumber: Badan Pusat Statistik Tahun 2020, data diolah

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-34


Bila melihat HLS Kota Samarinda, memperlihatkan adanya peningkatan yang
cukup tinggi dari 14,70 tahun pada tahun 2019 menjadi 14,89 tahun pada tahun 2020.
Dapat diartikan bahwa secara rata-rata anak usia 7 tahun yang masuk jenjang
pendidikan formal pada tahun 2020 memiliki peluang untuk bersekolah selama 14,89
tahun atau setara dengan diploma. Kondisi ini menunjukkan rata-rata masyarakat Kota
Samarinda memiliki kemampuan untuk mengeluarkan biaya pendidikan hingga tingkat
diploma. Sedangkan bila dilihat lebih mendalam berdasarkan jenis kelamin, HLS
perempuan justru lebih tinggi dari pada HLS laki-laki, yang artinya perempuan memiliki
peluang lebih besar untuk bersekolah lebih lama daripada laki-laki, dengan
perbandingan perempuan selama 14,77 tahun dan laki-laki selama 14,46 tahun.

c. Rata-rata Lama Sekolah


Pembentuk IPM lainnya dari sisi pendidikan yaitu rata-rata lama sekolah. Rata-
rata lama sekolah didefinisikan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk
dalam menjalani pendidikan formal. Oleh karena itu indikator ini dapat digunakan
untuk mengetahui tingkat pendidikan masyarakat di suatu wilayah.
Tabel 2.30.
Perkembangan Rata-rata Lama Sekolah Tahun 2017-2020
Kota Samarinda
(tahun)

No Uraian 2017 2018 2019 2020


1 Samarinda 10,34 10,46 10,47 10,48
2 Kalimantan Timur 9,36 9,48 9,70 9,77
Sumber: Badan Pusat Statistik Tahun 2020, data diolah
Rata-rata lama sekolah di Kota Samarinda mencapai 10,48 tahun, yang artinya
bahwa rata-rata penduduk Kota Samarinda usia 25 tahun ke atas telah menempuh
pendidikan selama 10,48 tahun atau hampir menamatkan kelas XI. Angka ini
menunjukkan bahwa Kota Samarinda didominasi oleh penduduk dengan tingkat
pendidikan yang tinggi, bahkan melampaui rata-rata penduduk se-Kaltim yang berada
pada angka 9,77 tahun.

d. Umur Harapan Hidup


Pembentuk IPM dari sisi kesehatan adalah Umur Harapan Hidup. Umur harapan
hidup adalah rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah
berhasil mencapai umur tertentu, pada suatu tahun tertentu, dalam situasi mortalitas
yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Umur harapan hidup Kota Samarinda pada
tahun 2020 mencapai 74,27 tahun, meningkat dari tahun 2019 yang masih 74,17 tahun.
Artinya, bayi yang lahir pada tahun 2020 akan dapat hidup sampai usia 74 atau 75 tahun,
dan semakin tinggi angka ini menunjukkan bahwa masyarakat Kota Samarinda
tergolong sejahtera karena mampu menghadirkan pelayanan kesehatan berkualitas.
Namun apabila ditinjau berdasarkan jenis kelamin, terlihat umur harapan hidup
perempuan lebih tinggi daripada laki-laki, yaitu 75,98 tahun dan 72,26 tahun.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-35


Gambar 2.8.
Umur Harapan Hidup Tahun 2017-2021
Kota Samarinda
(tahun)

73.71 73.93 73.93 73.96 74.17 74.27 74.33

47.22

2017 2018 2019 2020

Kota Samarinda Kalimantan Timur

Sumber: BPS Kota Samarinda Tahun 2020, data diolah

Tabel 2.31.
Umur Harapan Hidup Penduduk Kota Samarinda dan Provinsi Kalimantan Timur
Menurut Jenis Kelamin Tahun 2017-2020

2017 2018 2019 2020


Kota/Prop.
L P L P L P L P
Kota
71,78 75,68 72,00 75,90 72,26 75,98 72,38 76,06
Samarinda
Kalimantan
71,87 75,61 72,13 75,87 72,41 76,13 72,54 76,21
Timur
Sumber: BPS Kota Samarinda Tahun 2020, data diolah

e. Kesempatan Kerja
Dalam rangka menyejahterakan penduduk Kota Samarinda, maka pemerintah
perlu meningkatkan kesempatan kerja melalui perluasan lapangan kerja. Semakin
tingginya investasi dan proyek pembangunan di Kota Samarinda, maka akan
menyebabkan semakin tingginya penyerapan tenaga kerja. Apabila tenaga kerja semakin
banyak yang terserap, maka pengeluaran per kapita akan semakin meningkat, yang
artinya daya beli semakin tinggi. Oleh karena itu peningkatan kesempatan kerja akan
semakin meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kota Samarinda

Tabel 2.32.
Jumlah Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Usaha Tahun 2017-2020
Kota Samarinda
(orang)

No Lapangan Pekerjaan Utama 2017 2018 2019 2020


Pertanian, Kehutanan,
1 8.810 11.547 11.901 21.222
Perburuan dan Perikanan
2 Pertambangan dan Penggalian 14.401 19.091 24.472 17.085
3 Industri Pengolahan 18.233 37.551 33.069 29.485
4 Listrik, Gas dan Air 520 7.380 7.198 7.615

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-36


No Lapangan Pekerjaan Utama 2017 2018 2019 2020
5 Bangunan 30.961 31.973 23.629 29.473
6 Perdagangan Besar, Eceran,
72.950 101.526 39.298 140.507
Rumah Makan dan Hotel
7 Angkutan , Pergudangan dan
32.304 29.502 146.892 35.783
Komunikasi
8 Keuangan, Asuransi, Usaha
Persewaan Bangunan, Tanah 16.093 38.673 22.059 17.609
dan Jasa Perusahaan
9 Jasa Kemasyarakatan, Sosial
57.634 91.700 94.696 94.891
dan Perorangan
Jumlah 251.906 368.943 403.214 393.670
Sumber: Samarinda Dalam Angka 2020, Penyediaan Data Untuk Perencanaan

Perkembangan jumlah penduduk bekerja dalam kurun waktu 2017-2019


memperlihatkan perkembangan yang positif, namun terjadi penurunan di tahun 2020.
Penurunan ini merupakan dampak dari kebijakan pemerintah untuk menutup tempat
usaha secara sementara sebagai langkah agar tidak terjadi kerumunan di masyarakat
yang berpotensi meningkatkan penyebaran virus COVID-19. Kebijakan pemerintah
dalam memutus rantai penyebaran COVID-19 menyebabkan terjadinya penurunan
penerimaan dari tempat usaha, sehingga terjadi pengurangan tenaga kerja yang
berujung pada penurunan jumlah penduduk bekerja. Oleh karena itu, pada tahun 2021
pemerintah Kota Samarinda harus melakukan langkah strategis untuk menyediakan
lapangan pekerjaan sehingga penyerapan tenaga kerja semakin tinggi.
Apabila dilihat lebih mendalam, lapangan pekerjaan pada sektor perdagangan
mampu menyerap tenaga kerja paling banyak, yaitu mencapai 140.507 orang atau setara
35,69%. Lapangan pekerjaan pada sektor perdagangan masih menjadi primadona di
Kota Samarinda, meskipun pada tahun 2020 terjadi pandemi COVID-19, peningkatan
jumlah penduduk bekerja didominasi oleh sektor perdagangan. Rata-rata setiap tahun
sektor perdagangan mampu menyerap 28-35 persen tenaga kerja di Kota Samarinda
dibanding 8 lapangan pekerjaan lainnya. Melihat perkembangan data ini maka dapat
dikatakan bahwa dengan semakin melekatnya Kota Samarinda sebagai kota jasa dan
perdagangan, penyerapan tenaga kerja pada lapangan usaha tersebut juga akan semakin
meningkat, yang artinya akan semakin menekan angka pengangguran.

Tabel 2.33.
Tingkat Pengangguran Terbuka Tahun 2020
Provinsi Kaltim dan Kabupaten/Kota se-Kaltim

Peringkat Uraian 2020

Kalimantan
6,87
Timur
1 Bontang 9,46

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-37


Peringkat Uraian 2020

2 Balikpapan 9,00
3 Samarinda 8,26
Penajam Paser
4 6,22
Utara erau
Kutai
5 5,70
Kartanegara
6 Kutai Timur 5,45
7 Berau 5,08
8 Kutai Barat 4,97
9 Paser 4,52
10 Mahakam Ulu 3,49
Sumber: Badan Pusat Statistik Tahun 2021

Dari tabel diatas terlihat bahwa tingkat pengangguran terbuka Kota Samarinda
masih dibawah Kota Bontang dan Balikpapan.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-38


Tabel 2.34.
Penyelarasan Target Indikator Makro
Nasional Provinsi Kaltim, Dan Kota Samarinda

RPJMN Tahun 2020-2024 RPJMD Provinsi RPJMD Kota


Indikator Indikator
Indikator Pembanguna Pembangun
NO Pembanguna n an
n Target Target Target

2020 2021 2022 2023 2024 2020 2021 2022 2023 2024 2020 2021 2022 2023 2024
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19
Laju Laju
Laju Pertumbuha Pertumbuha
1 5,60 5,80 5,90 6,10 6,20 2-4 5,00 5,60 -1.07 1.13 2.26 2.45 4.79
Pertumbuhan n Ekonomi n Ekonomi
Ekonomi (%) (%) (%)
Tingkat Tingkat Tingkat
2 Kemiskinan 9,81 9,43 9,00 8,55 8.15 Kemiskinan 4,5 4,75 4,21 Kemiskinan 4.76 4.48 4.3 4.25 4.21
(%) (%) (%)
Tingkat Tingkat
Tingkat Penganggura Penganggur
3 4,20 4,00 3,80 3,40 3,10 3-3,5 5,85 5.36 8.25 7.14 6.9 6.51 6.1
Pengangguran n Terbuka an Terbuka
Terbuka (%) (%) (%)
Indeks Indeks
Indeks 74,60- Pembanguna Pembangun
4 80,34 80,20 81,83 80.11 80.17 80.32 80.46 80.59
Pembangunan 84,23 n Manusia an Manusia
Manusia (IPM) (IPM) (IPM)
0,360-
5 0.313 0.313 0.313 0,324 0.29 0.29 0.29 0.29
Rasio Gini 0,474 Rasio Gini Rasio Gini
Penurunan Penurunan
6 Penurunan 27,3 Emisi GRK Emisi GRK
Emisi GRK (%) (%) (%)
JUMLAH
Sumber: RPJMN Tahun 2019- 2024, Perubahan RPJMD Provinsi Kaltim Tahun 2018-2023, dan Data Diolah Oleh Walidata

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-39


2.3 Aspek Pelayanan Umum
Aspek pelayanan umum merupakan refleksi atas penyelenggaraan semua urusan
yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Refleksi yang dimaksud yaitu berdasarkan
capaian data dan informasi dalam aspek pelayanan umum, akan menggambarkan sejauh
mana masyarakat telah menikmati pembangunan atau pelayanan dari pemerintah
daerah. Adapun capaian data dan informasi tersebut diperoleh berdasarkan hasil dari
pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM), Norma Standar Prosedur Kriteria
(NSPK), Indikator Kinerja Utama (IKU), Indikator Kinerja Kunci (IKK), serta data
lainnya yang menggambarkan pelaksanaan urusan oleh Organisasi Perangkat Daerah
(OPD). Oleh karena itu, selain menggambarkan pelayanan pemerintah daerah, lebih
spesifik lagi aspek pelayanan umum ini dapat menggambarkan kinerja OPD.

2.3.1 Fokus Layanan Urusan Wajib


2.3.1.1 Pendidikan
Pembangunan bidang pendidikan merupakan prioritas nasional, terlebih lagi
dengan adanya peraturan alokasi minimal 20% dari APBD untuk bidang pendidikan.
Oleh karena itu, inovasi-inovasi bidang pendidikan sangat diperlukan agar alokasi APBD
sebesar 20% dapat menghasilkan SDM yang cerdas dan berdaya saing. Kewajiban
alokasi dianggap salah satu langkah untuk menyelesaikan berbagai permasalahan
pendidikan, mulai dari aksesibilitas, pemenuhan tenaga pendidik dan kependidikan,
serta partisipasi sekolah.
Berbicara tentang partisipasi sekolah, salah satu alat ukur yang digunakan yaitu
Angka Partisipasi Sekolah (APS), Angka Partisipasi Kasar (APK), dan Angka Partisipasi
Murni (APM).

a. Angka Partisipasi Sekolah (APS)


Angka Partisipasi Sekolah (APS) adalah proporsi dari penduduk kelompok usia
sekolah tertentu yang sedang bersekolah (tanpa memandang jenjang pendidikan yang
ditempuhi) terhadap penduduk kelompok usia sekolah yang bersesuaian.

Tabel 2.35.
Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun 2017-2020
Kota Samarinda
(%)

No Usia 2017 2018 2019 2020

1 7 – 12 100,00 100,00 100,00 99,85


2 13 – 15 98,79 98,99 99,58 99,54
3 16 - 18 86,83 83,66 83,81 84,73
Sumber : Dinas Pendidikan Kota Samarinda 2020

Angka Partisipasi Sekolah (APS) Kota Samarinda usia 7-12 tahun pada tahun
2020 mencapai 99,85%, yang artinya sebanyak 99,85% penduduk usia 7-12 tahun

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-40


sedang mengenyam pendidikan. Hal ini menandakan bahwa keinginan penduduk untuk
mengenyam pendidikan sangatlah tinggi, dan ini tidak terlepas dari peran pemerintah
Kota Samarinda dalam memfasilitasi pendidikan disegala umur, mulai dari usia dini
hingga menengah baik formal maupun non formal.

b. Angka Partisipasi Kasar (APK)


Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah proporsi anak sekolah pada suatu jenjang
tertentu terhadap penduduk pada kelompok usia tertentu. Berdasarkan data Dinas
Pendidikan, APK Kota Samarinda adalah sebagai berikut :

Gambar 2.9.
Angka Partisipasi Kasar (APK) Tahun 2016-2020
Kota Samarinda
(%)

120 112.89 110.78


106.67 105.81 107.27
100.9 98.69101.62 101.12
100
83.84
80

60

40

20

0
2016 2017 2018 2019 2020
SD/MI SMP/MTs

Sumber : Dinas Pendidikan Kota Samarinda 2021

Pada tahun 2020, APK SD/MI mencapai 107,27%, artinya bahwa siswa yang
mengenyam pendidikan pada jenjang SD/MI sebanyak 107,27% dari seluruh penduduk
usia 7-12 tahun di Kota Samarinda. Kondisi ini menandakan bahwa sebanyak 7,27%
merupakan siswa yang diluar usia 7-12 tahun atau bukan penduduk Kota Samarinda
namun bersekolah pada jenjang SD/MI di Kota Samarinda. Sedangkan APK SMP/MTs
menunjukkan angka 101,12%, artinya siswa yang mengenyam pendidikan pada jenjang
SMP/MTs sebanyak 101,12% dari seluruh penduduk usia 13-15 tahun di Kota Samarinda.

c. Angka Partisipasi Murni (APM)


Angka Partisipasi Murni (APM) adalah proporsi dari penduduk kelompok usia
sekolah tertentu yang sedang bersekolah tepat di jenjang pendidikan yang seharusnya
(sesuai antara umur penduduk dengan ketentuan usia bersekolah di jenjang tersebut)
terhadap penduduk kelompok usia sekolah yang bersesuaian.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-41


Gambar 2.10.
Angka Partisipasi Murni (APM) Tahun 2016-2020
Kota Samarinda
(%)

120

98.39 96.19 98.08


100
90.09
86.34
78.16
80 73.29 72.96 73.38 70.73

60

40

20

0
2016 2017 2018 2019 2020

SD/MI SMP/MTs

Sumber : Dinas Pendidikan Kota Samarinda

Pada tahun 2020 APM SD/MI mencapai 98,08%, menandakan bahwa jumlah
siswa usia 7-12 tahun yang menempuh pendidikan jenjang SD/MI sebanyak 99,24% dari
seluruh penduduk usia 7-12 tahun di Kota Samarinda. Sedangkan APM SMP/MTs
mencapai 78,16% yang menandakan bahwa jumlah siswa usia 13-15 tahun yang
menempuh jenjang pendidikn SMP/MTs sebanyak 78,16% dari seluruh penduduk usia
13-15 tahun di Kota Samarinda.
Meskipun fluktuatif, kondisi tersebut menandakan bahwa secara konsisten
masyarakat di Kota Samarinda memiliki minat yang besar untuk mengenyam
pendidikan pada jenjang yang sesuai dengan usianya. Hal ini juga memberikan
gambaran bahwa akses pendidikan yang telah disiapkan oleh pemerintah Kota
Samarinda dipergunakan oleh masyarakat sebagaimana mestinya.

d. Rasio Guru terhadap Murid


Rasio Guru terhadap Murid menggambarkan tingkat perbandingan guru
terhadap murid, dimana angka ini akan memperlihatkan kecukupan jumlah guru di
suatu wilayah terhadap jumlah murid yang mengenyam pendidikan. Semakin tinggi
rasio guru terhadap murid maka beban mengajar guru semakin berat sehingga
memungkinkan kualitas mengajar menurun, begitu juga sebaliknya.
Tabel 2.36.
Rasio Guru dan Murid Tahun Ajaran 2016/2017-2019/2020
Kota Samarinda

Jenjang
No 2016/2017 2017/2018 2018/2019 2019/2020
Pendidikan
SD/MI
1 Jumlah Guru
4.766 4.818 4.820 4.768
(orang)

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-42


Jenjang
No 2016/2017 2017/2018 2018/2019 2019/2020
Pendidikan
Jumlah Murid
92.509 91.444 90.886 90.590
(orang)
Rasio 1:19 1:19 1:19 1:19
SMP/MTs
Jumlah Guru
2.898 2.999 3.009 2.893
(orang)
2
Jumlah Murid
42.102 42.042 43.422 42.917
(orang)
Rasio 1:15 1:14 1:14 1:15
Sumber : Dinas Pendidikan Kota Samarinda

Jika dilihat dari rasio guru terhadap murid secara umum, Kota Samarinda
memiliki tenaga pengajar yang lebih dari cukup dimana pada tahun ajaran 2019/2020
rasio guru terhadap murid untuk SD/MI mencapai 1:19 atau 5-6 guru per 100 murid,
SMP/MTs sebesar 1:15 atau 6-7 guru per 100 murid. Namun yang perlu menjadi
perhatian pemerintah Kota Samarinda adalah jumlah guru dari tahun ke tahun yang
semakin menurun baik jenjang SD/MI maupun SMP/MTs. Sehingga perlu langkah-
langkah strategis untuk pemenuhan guru, seperti melakukan rekrutmen yang
berkualifikasi dengan didukung peningkatan kesejahteraan guru sesuai kemampuan
keuangan daerah.

2.3.12 Kesehatan
Pembangunan kesehatan di Kota Samarinda menjadi bagian dari pembangunan
nasional, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya. Bahkan untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah menetapkan anggaran
minimal 10% dari APBD untuk dialokasikan dalam bidang kesehatan. Alokasi anggaran
tersebut diarahkan pada pelayanan kesehatan di semua usia, mulai dari bayi dalam
kandungan hingga masyarakat lanjut usia, yang kesemuanya mengarah pada
peningkatan indikator kinerja daerah dibidang kesehatan. Angka Kematian Ibu (AKI)
dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan dua dari beberapa indikator kinerja daerah
yang harus menjadi perhatian pemerintah Kota Samarinda. Bahkan pada tahun 2019-
2020 isu stunting menjadi indikator tambahan pada pembangunan bidang kesehatan di
seluruh daerah, termasuk Kota Samarinda.

a. Angka Kematian Ibu (AKI)


Angka kematian ibu merupakan banyaknya kematian perempuan pada saat hamil
atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat
persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan
karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-43


Tabel 2.37.
Angka Kematian Ibu (AKI) Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020


AKI per 100.000 kelahiran
1 92 59 108 80
hidup (kasus)
Jumlah kematian ibu akibat
2 15 10 17 5
melahirkan (kasus)
Jumlah kelahiran hidup
3 16.258 16.839 15.681 6.230
(KH)
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Samarinda

Perkembangan AKI selama kurun waktu tahun 2017-2020 terlihat sangat


fluktuatif dan relatif menurun. Pada tahun 2017 AKI berada pada angka 92, yang artinya
terjadi 92 kasus kematian ibu setiap 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan pada tahun
2020 menjadi 80 kasus kematian ibu setiap 100.000 kelahiran hidup. Hal ini tentunya
menjadi catatan tersendiri, selain disebabkan semakin rendahnya angka kelahiran,
tingginya AKI menggambarkan kualitas program peningkatan kesehatan reproduksi
terutama pelayanan kehamilan, program kehamilan yang aman bebas risiko tinggi,
peningkatan jumlah kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan, penyiapan sistem
rujukan dalam penanganan komplikasi kehamilan, dan program lainnya.

b. Angka Kematian Bayi (AKB)


Angka yang menunjukkan banyaknya kematian bayi usia 0 tahun dari setiap 1000
kelahiran hidup pada tahun tertentu atau dapat dikatakan juga sebagai probabilitas bayi
meninggal sebelum mencapai usia satu tahun (dinyatakan dengan per seribu kelahiran
hidup). Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu
endogen dan eksogen. Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan
kematian neonatal adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah
dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir,
yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.
Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang terjadi
setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-
faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.

Tabel 2.38.
Angka Kematian Bayi (AKB) Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020


AKB per 1000 kelahiran
1 1,85 2,02 3,89 3,53
hidup (kasus)
Jumlah Kematian Bayi
2 Usia Dibawah 1 Tahun 30 33 61 22
(kasus)
Jumlah Kelahiran
3 16.258 16.839 15.681 6.230
Hidup (KH)

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-44


No Uraian 2017 2018 2019 2020

4 AKHB (%) 98,15 97,98 96,11 96,47


Sumber : Dinas Kesehatan Kota Samarinda
Keterangan: Jumlah kematian bayi usia di bawah 1 tahun termasuk didalamnya kematian
neonatal

Dalam kurun waktu 2017-2021, AKB menunjukkan angka yang semakin tinggi.
Terlepas dari menurunnya angka kelahiran secara keseluruhan, namun kondisi ini
menunjukkan bahwa intervensi pemerintah khususnya dibidang kesehatan masih belum
fokus atau belum tepat sasaran. Hal ini disebabkan karena angka kematian bayi
merupakan tolok ukur yang sensitif.

c. Persentase Balita Gizi Buruk


Gizi buruk merupakan salah satu klasifikasi status gizi dimana mengalami kurang
gizi yang diketahui dengan cara pengukuran berat badan menurut tinggi badan dan/atau
umur dibandingkan standar dengan atau tanpa tanda-tanda klinis. Cara perhitungan
underweight adalah gizi buruk dan gizi kurang dihitung dari berat badan dibagi dengan
umur (BB/U). Berikut standar dari WHO dan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
1995/MENKES/SK/XII/2010 :
 Batas gizi buruk pada balita adalah < -3.0 SD baku WHO.
 Batas gizi kurang pada balita yaitu antara < -2.0 SD sampai dengan -3.0 SD baku
WHO.

Tabel 2.39.
Persentase Balita Gizi Kurang Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020


Persentase balita gizi 1,12 1,24 0,62 0,27
1
kurang
Jumlah seluruh balita 1.446 1.544 710 309
2
gizi kurang (balita)
Jumlah anak balita 0-3 128.840 124.793 114.593 116.170
3
tahun (balita)
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Samarinda

Menjadi salah satu target dalam SDGs, persentase balita gizi kurang tentunya
merupakan indikator yang penting dalam mengukur keberhasilan pembangunan bidang
kesehatan di Kota Samarinda. Dalam 5 tahun terakhir, tren persentase balita gizi kurang
menunjukkan penurunan, dari 1,12% pada tahun 2017 menjadi 0,27% pada tahun 2020.
Hal ini menandakan bahwa program imunisasi bagi anak balita yang di topang oleh
program posyandu memberikan efek yang sangat besar.

d. Prevalensi Stunting
Indikator ini mengukur persentase anak balita yang tingginya dibawah ketinggian
rata-rata penduduk acuan. Stunting pada anak-anak mencerminkan efek yang luas dari

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-45


kekurangan gizi yang kronis dan menderita penyakit berulang yang disebabkan oleh
latar belakang sosial dan ekonomi yang buruk. Stunting pada anak-anak dapat memiliki
dampak serius pada perkembangan fisik, mental, dan emosional anak-anak, dan bukti
menunjukkan bahwa efek dari stunting pada usia muda, khususnya pada perkembangan
otak, sulit untuk memperbaikinya pada usia lanjut walaupun jika anak menerima gizi
yang tepat. Selain itu anak yang mengalami stunting beresiko lebih besar menderita
penyakit menular dan tidak menular pada usia dewasa seperti jantung, diabetes, dan
penyakit pembuluh darah. Oleh karena itu, indikator ini menunjukan bahwa betapa
pentingnya memberikan gizi yang cukup untuk anak-anak.

Gambar 2.11.
Prevalensi Stunting Tahun 2016-2020
Kota Samarinda
(%)

1.2 1.05
1

0.8 0.68 0.64


0.6 0.50 0.49
0.4

0.2

0
2016 2017 2018 2019 2020

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Tahun 2020

e. Fasilitas dan Tenaga Kesehatan


Fasilitas dan tenaga kesehatan yang berkualitas merupakan factor terpenting
dalam mewujudkan pembangunan bidang kesehatan, mengingat perannya yang sangat
nyata khususnya saat pandemi COVID-19. Melihat pengalaman tahun 2020 saat awal
pandemi COVID-19, maka program perluasan cakupan layanan kesehatan hingga ke
daerah pinggiran harus segera dilakukan guna memperkuat ketangguhan daerah.
Perluasan cakupan layanan dimaksud antara lain pembangunan dan pengembangan
sarana kesehatan, pendistribusian perlengkapan penanganan COVID-19 dan vaksinasi,
serta pendistribusian tenaga kesehatan di seluruh puskesmas dan puskesmas pembantu.

Tabel 2.40.
Rasio Puskesmas, Poliklinik dan Pustu Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020


Jumlah Penduduk
1 983.503 952.628 874.739 886.806
(jiwa)
Jumlah Puskesmas
2 26 26 26 26
(unit)

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-46


No Uraian 2017 2018 2019 2020
Rasio per 1000
0,03 0,03 0,03 0,03
penduduk (unit)
Jumlah Poliklinik
86 85 85 85
(unit)
3
Rasio per 1000
0,09 0,09 0,10 0,10
penduduk (unit)
Jumlah Pustu (unit) 41 36 36 36
4 Rasio per 1000
0,04 0,04 0,03 0,04
penduduk (unit)
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Samarinda

Tabel 2.41.
Perkembangan Dokter dan Tenaga Medis Tahun 2017-2020
Kota Samarinda
(orang)

No Uraian 2017 2018 2019 2020


1 Jumlah Dokter 669 645 715 745
a. Dokter Umum 310 283 307 361
b. Dokter Spesialis 276 277 338 318
c. Dokter Gigi 83 85 70 66
2 Jumlah Tenaga Medis 2.848 3.015 3.431 3.266
a. Bidan 482 533 576 576
b. Perawat 1.691 2.132 2.462 2.373
c. Apoteker 88 85 98 94
d. Sarjana Teknis
227 265 295 243
Kefarmasian
3 Jumlah Penduduk 983.503 952.628 874.739 886.806
Rasio Dokter per 1.000
4 0,68 0,68 0,82 0,84
penduduk
Rasio Tenaga Medis per
5 2,90 3,16 3,92 3,68
1.000 penduduk
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Samarinda

2.3.1.3 Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang


Pembangunan bidang pekerjaan umum dan penataan ruang merupakan salah
satu dari bentuk pembangunan fisik yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor
23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Pembangunan fisik sangat menentukan
pembangunan sosial dan ekonomi suatu daerah, karena multiplier effect yang diciptakan
sangatlah besar dan berkelanjutan. Pembangunan fisik dapat membuka keterisolasian
suatu wilayah, dan apabila didukung penataan ruang yang sesuai peruntukannya, maka
dapat memaksimalkan investasi sehingga perekonomian daerah dapat berkembang.
Berkembangnya investasi maka akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja yang juga
meningkatkan daya beli masyarakat, peningkatan daya beli inilah yang tentunya
mempengaruhi secara langsung taraf hidup seseorang dalam mencapai kesejahteraan
yang diharapkan.
Pembangunan bidang pekerjaan umum dan penataan ruang di Kota Samarinda
tidak terlepas dari kebutuhan masyarakat akan kelancaran, kemudahan dan
kenyamanan pergerakan orang, barang, dan jasa di dalam kota. Oleh karena itu belanja

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-47


bidang pekerjaan umum dan penataan ruang mayoritas dialokasikan pada penurunan
titik banjir dan peningkatan kondisi jalan.

a. Proporsi Panjang Jaringan Jalan dalam Kondisi Baik


Pertumbuhan penduduk di Kota Samarinda yang semakin bertambah
menyebabkan peningkatan pergerakan dan aktivitas orang, barang dan jasa. Salah satu
infrastruktur utama dalam menunjang aktivitas manusia maupun aktivitas
perekonomian adalah jalan. Keberadaan infrastruktur jalan sangat penting untuk
mendukung pencapaian tujuan sosial dan ekonomi masyarakat serta untuk menjamin
kenyamanan aksesibilitas antar wilayah.

Tabel 2.42.
Panjang Jaringan Jalan Menurut Kondisi Jalan Tahun 2017-2021
Kota Samarinda
(km)

No Kondisi Jalan 2017 2018 2019 2020 2021


1 Jalan Nasional 67,72 67,72 67,72 67,72 67,72
1.1 Kondisi Baik 67,40 67,69 67,06 67,27 66,71
1.2 Kondisi Sedang 0 0,01 0 0 1,01
1.3 Kondisi Rusak
a. Rusak Berat 0 0 0 0 0
b. Rusak Ringan 0,33 0,02 0,66 0,45 0
2 Jalan Provinsi 103,94 103,94 103,94 103,94 103,94
2.1 Kondisi Baik 82,46 95,04 90,55 100,97 100,48
2.2 Kondisi Sedang 18,14 5,54 10,77 0,59 2,01
2.3 Kondisi Rusak
a. Rusak Berat 1,41 1,41 1,50 1,27 1,25
b. Rusak Ringan 1,93 1,96 1,13 1,11 0,20
3 Jalan Kota 709,64 709,64 709,64 709,64 709,64
3.1 Kondisi Baik 410,96 448,18 442,63 524,44 570,60
3.2 Kondisi Sedang 63,56 44,13 57,20 37,97 26,24
3.3 Kondisi Rusak
a. Rusak Berat 193,81 175,38 150,60 121,23 80,32
b. Rusak Ringan 41,31 41,95 59,21 26,01 32,79
Total (1+2+3) 881,30 881,30 881,30 881,30 881,30
Sumber: Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Samarinda

Panjang jalan di Kota Samarinda mencapai 881,3 km, yang terdiri atas 67 km
jalan nasional, 103 km jalan provinsi, dan 709 km jalan kota. Kondisi jalan baik di Kota
Samarinda semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2017 terdapat 410,96
km jalan mantap atau 57,91%, selanjutnya pada tahun 2021 menjadi 570,60 km atau
80,41%. Peningkatan signifikan ini tidak terlepas dari program pemerintah Kota
Samarinda yang responsif untuk sesegera mungkin melakukan perbaikan jalan,
terutama ditengah curah hujan yang tinggi atau adanya keluhan masyarakat. Tidak
hanya itu, peningkatan inipun tidak terlepas dari peran masyarakat yang selalu aktif
memberikan informasi kepada pemerintah Kota Samarinda.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-48


b. Presentase Ruang Terbuka Hijau
Tingginya geliat pembangunan ekonomi dan sosial serta perubahan fisik kota
tidak jarang menyebabkan degradasi lingkungan, sehingga keseimbangan ekosistem
suatu kota menjadi terganggu. Oleh karena itu, pembangunan Ruang Terbuka Hijau
(RTH) menjadi isu nasional dan sangat penting untuk di integrasikan dalam dokumen
perencanaan di daerah.

Tabel 2.43.
Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tahun 2019
Kota Samarinda

Proporsi Terhadap Luas


Luas
RTH Wilayah
(Ha)
(%)
Publik 9.711,61 13,51
Swasta/Masyarakat 31,71 0,04
Sumber : - Laporan Inventaris Dinas Lingkungan Hidup 2013
- Hasil Analisis 2019

Pembangunan di Kota Samarinda sangatlah pesat, mulai dari pembangunan fisik


hingga pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat. Kondisi ini sangatlah wajar
mengingat Samarinda sebagai ibukota Provinsi Kaltim, sehingga menjadi pusat
pertumbuhan provinsi dan menjadi target para pencari kerja baik dari dalam maupun
luar provinsi. Oleh karena itu, pemerintah Kota Samarinda terus melakukan
pembangunan RTH guna menjaga keseimbangan dan keserasian lingkungan alam dan
lingkungan buatan serta lingkungan perkotaan yang teduh, rapi, aman dan nyaman.
Pada tahun 2019 RTH di Kota Samarinda mencapai 13,55% dari luas wilayah kota, yang
terdiri atas RTH publik 13,51% dan RTH swasta/masyarakat 0,04%. Namun jumlah
tersebut masih perlu ditingkatkan guna memenuhi target nasional yaitu 30% dari luas
wilayah.

c. Persentase Penanganan Kawasan Banjir


Kota Samarinda dikenal sebagai daerah yang rendah, sehingga tidak
mengherankan apabila setiap tahun terjadi bencana banjir genangan yang melanda 50%
kecamatan di ibukota provinsi ini. Pada tahun 2019 terjadi bencana banjir genangan
yang melanda Kota Samarinda selama kurang lebih 14 hari, dan pada tahun 2020 terjadi
kembali hal serupa. Melihat kondisi ini pemerintah Kota Samarinda tidak tinggal diam,
penanganan banjir selalu menjadi agenda prioritas nomor 1 dalam perencanan dan
penganggaran pemerintah Kota Samarinda. Bahkan karena kedudukannya sebagai
ibukota provinsi, penanganan banjir di Kota Samarinda memperoleh dukungan dari
pemerintah Provinsi Kaltim dan pemerintah pusat melalui instansi vertikal Balai
Wilayah Sungai.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-49


Tabel 2.44.
Penanganan Banjir Tahun 2017-2021
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021

Persentase Kawasan
1 1,12 1,12 1,06 1,02 0,94
Banjir
2 Jumlah Titik Banjir 41 40 36 33 32
Sumber: Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Samarinda

Berbagai program dan kegiatan penanganan banjir yang telah dicanangkan pada
akhirnya mampu memberikan hasil yang baik, terlihat dari penurunan persentase
kawasan banjir dari 1,12% pada tahun 2017 menjadi 0,94% di tahun 2020. Penurunan
pun terjadi pada titik banjir, dari 41 titik menjadi 32 titik dalam kurun waktu 5 tahun.
Keberhasilan penanganan banjir salah satunya ditempuh melalui program
pembangunan dan rehabilitasi drainase yang dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum
dan Penataan Ruang Kota Samarinda. Pada tahun 2017, drainase dalam kondisi baik
hanya sebesar 151.699 meter atau 27,1%, namuan pada tahun 2021 menjadi 400.756
meter atau 62,07%. Perhatikan table kondisi drainase berikut :
Tabel 2.45.
Penanganan Banjir Tahun 2017-2021
Kota Samarinda
(meter)

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021

Panjang drainase sistem


1 559.767,54 574.615,98 585.737,98 598.737,32 645,695,69
terbuka
1.1 Kondisi baik 151.699,76 187.517,08 220.883,08 259.881,09 400,756,18

1.2 Kondisi sedang 306.050,84 290.324,18 273.641,18 254.142,17 183,704,63

1.3 Kondisi buruk 102.016,95 96.774,73 91.213,73 84.714,06 61,234,88


Panjang drainase sistem
2 97.019,95 97.086,95 97.185,75 97.449,95 97,822,73
tertutup
2.1 Kondisi baik 34.466,31 34.667,31 34.963,71 35.756,31 36,874,65

2.2 Kondisi sedang 46.915,23 46.814,73 46.666,53 46.270,23 45,711,06

2.3 Kondisi buruk 15.638,41 15.604,91 15.555,51 15.423,41 15,237,02


Sumber: Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Samarinda

d. Kondisi Jaringan Irigasi


Berdasarkan data PDRB Atas Dasar Harga Berlaku, terdapat 3 lapangan usaha
yang memberikan kontribusi tertinggi dalam perekonomian Kota Samarinda, secara
berurutan yaitu konstruksi, perdagangan, dan pertambangan, sedangkan pertanian
hanya berkontribusi 1%. Data ini memperkuat Kota Samarinda sebagai kota jasa dan
perdagangan yang sedang tumbuh menjadi kota penyangga IKN. Terlebih lagi dengan
status sebagai ibukota provinsi dan pusat pemerintahan provinsi, menjadikan Kota
Samarinda mampu tumbuh dan berkembang semakin pesat.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-50


Keberadaan konstruksi, perdagangan, dan pertambangan sebagai 3 sektor
tertinggi dalam perekonomian daerah, tidak menyurutkan pemerintah Kota Samarinda
dalam membangun sektor pertanian dan perkebunan, mengingat masih adanya potensi
pada sektor tersebut terutama dalam mendukung ketahanan pangan. Guna
meningkatkan produksi, pemerintah Kota Samarinda terus melakukan pembangunan
dan pemeliharaan jaringan irigasi. Perhatikan table berikut :

Tabel 2.46.
Perkembangan Jaringan Irigasi Tahun 2017-2020
Kota Samarinda
(meter)

No Uraian 2017 2018 2019 2020


Jaringan Irigasi Non Teknis
1.
(meter)
1.1 Saluran Kondisi Baik 13.380,1 29.155 33.288 33.863
1.2 Saluran Kondisi Sedang 9.189,2 20.084 20.262 20.612
Saluran Kondisi Rusak
1.3 11.765,1 9.070 10.855 11.042
Ringan
1.4 Saluran Kondisi Rusak Berat 7.574,3 6.479 7.960 8.098
Jaringan Irigasi Teknis
2.
(meter)
2.1 Panjang Jaringan Primer
a. Saluran Kondisi Baik 1.342,8 9.566 9.779 9.779
b. Saluran Kondisi Sedang 4.190,9 6.590 5.952 5.952
c. Saluran Kondisi Rusak
16.763,5 2.976 3.189 3.189
Ringan
d. Saluran Kondisi Rusak
12.572,6 2.126 2.338 2.338
Berat
2.2 Panjang Jaringan Sekunder
a. Saluran Kondisi Baik 396,9 1.561 3.813 4.046
b. Saluran Kondisi Sedang 396,9 1.075 2.321 2.463
c. Saluran Kondisi Rusak
264,6 486 1.244 1.319
Ringan
d. Saluran Kondisi Rusak
264,6 347 912 967
Berat
2.3 Panjang Jaringan Tersier
a. Saluran Kondisi Baik - 2.810 2.872 2.872
b. Saluran Kondisi Sedang - 1.936 1.748 1.748
c. Saluran Kondisi Rusak
- 874 937 937
Ringan
d. Saluran Kondisi Rusak
- 624 687 687
Berat
Sumber: Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Samarinda

Meskipun saat ini telah memiliki 81.335 meter jaringan irigasi dalam kondisi
mantap (baik dan sedang), sampai tahun 2020 di Kota Samarinda masih terdapat 28.577
meter yang dalam kondisi rusak. Hal ini tentunya masih perlu menjadi perhatian
pemerintah Kota Samarinda, mengingat produksi pertanian dan perkebunan dapat
mendukung program ketahanan pangan serta dapat berpotensi menjadi produk kuliner
daerah.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-51


e. Persentase Rumah Tangga Berakses Air Minum Bersih
Pembangunan infrastruktur tidak hanya berbicara pembangunan fisik perkotaan
saja, tetapi menyentuh aspek kehidupan yang layak bagi masyarakat, dalam hal ini
adalah kebutuhan air bersih . Oleh karena itu pemenuhan air bersih menjadi program
yang sangat penting dan utama di seluruh daerah, termasuk Kota Samarinda. Jumlah
penduduk yang sangat tinggi, bahkan tertinggi di Provinsi Kaltim, menjadikan
pemerintah Kota Samarinda harus cepat dan tanggap dalam memberikan akses air
bersih yang merata ke seluruh wilayah.

Tabel 2.47.
Persentase Rumah Tangga berakses Air Minum Layak Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020 Satuan


Jumlah instalasi
1 15 14 14 14 Unit
PDAM (unit)
2 Jumlah Jaringan (SR) 1.387.254 1.400.808 1.436.685 1.452.366 Meter

Jumlah Rumah
Tangga yang
149.397 156.278 159.497 159.614 SR
3 berakses Air
Minum Layak

Persentase Rumah
4 97,96 98,63 99,85 SR
Tangga
Sumber: - PDAM
- BPS Buku Inkesra

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan investasi, sampai pada tahun
2020 pemerintah Kota Samarinda melalui PDAM telah meningkatkan jumlah jaringan.
Pada tahun 2017 jumlah jaringan mencapai 1.387.254 SR (Sambungan Rumah) yang
kemudian menjadi 1.452.366 SR. Peningkatan jaringan tersebut ditujukan untuk
meningkatkan cakupan layanan PDAM, yang tergambar dengan persentase rumah
tangga yang mendapatkan akses air minum. Pada tahun 2017, persentase rumah tangga
yang menggunakan air bersih mencapai 97,96%, kemudian pada tahun 2019 mencapai
99,85%. Program tersebut dilakukan guna memenuhi pelayanan air bersih secara
merata ke seluruh wilayah, mengingat masih ada beberapa wilayah yang terlayani PDAM
tidak secara terus-menerus.

2.3.1.4 Perumahan Rakyat & Kawasan Permukiman


Kata TEPIAN telah lama menjadi slogan di Kota Samarinda, yang merupakan
akronim dari Teduh, Rapi, Aman dan Nyaman, sehingga menjadikan ibukota ini dikenal
sebagai Samarinda Kota Tepian. Melihat kalimat tersebut, maka dapat terlihat bahwa
pembangunan Kota Samarinda mengarah pada terwujudnya kenyamanan bagi seluruh
masyarakat. Perumahan dan permukiman layak huni merupakan bentuk kenyamanan
yang diharapkan seluruh masyarakat. Oleh karena itu pemerintah Kota Samarinda
melalui Dinas Perumahan dan Permukiman terus berupaya melaksanakan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-52


program/kegiatan untuk mewujudkan kota yang layak huni. Adapun program/kegiatan
tersebut diarahkan pada pemenuhan akses air bersih dan pengurangan luasan
pemukiman kumuh, serta rumah tidak layak huni.

a. Permukiman Kumuh
Menyandang status sebagai ibukota provinsi, Kota Samarinda tentunya perlu
mengalami perubahan fisik agar menjadi “rumah” yang nyaman bagi masyarakatnya.
Program penanganan kawasan permukiman kumuh terus di galakkan, baik melalui
APBD Kota Samarinda maupun pemerintah provinsi dan pusat. Melihat kerentanan
terjadinya permasalahan sosial, program tersebut semakin ditingkatkan dan terlihat
nyata pada saat dicanangkannya program nasional 100 0 100, yang diantaranya adalah
0% permukiman kumuh.

Tabel 2.48.
Luasan Permukiman Kumuh Tahun 2017-2020
Kota Samarinda
(Ha)

No Lokasi 2017 2018 2019 2020

1. Karang Mumus I 28,77 28,77 17,83 8,72


2. Karang Mumus II 25,79 25,79 22,00 10,23
3. Muara 5,97 5,97 0,84 1,02
4. Karang Asam 7,68 7,68 5,90 2,33
5. Keledang 3,50 3,50 0,52 0
6. Sungai Kapih 9,09 9,09 9,09 10,19
7. Mesjid 34,14 34,14 13,47 5,73
Kawasan Pengembangan
8. 18,39 18,39 0 0
Permukiman
Total 133,33 133,33 69,65 38,22
Sumber: Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Samarinda

Berdasarkan data Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Samarinda, terdapat


8 kawasan permukiman kumuh yang menjadi fokus penyelesaian pemerintah Kota
Samarinda, terutama kawasan yang berada di atas tanah negara atau secara hukum
melanggar tata ruang. Meskipun belum mencapai target nasional, namun program yang
dilaksanakan oleh pemerintah Kota Samarinda menunjukkan hasil yang signifikan,
terlihat dengan penurunan luasan permukiman kumuh dari 539,17 hektar pada tahun
2016 menjadi 38,22 hektar di tahun 2020. Oleh karena itu program penanganan
kawasan kumuh yang telah berjalan masih terus dipertahankan guna menjadikan Kota
Samarinda yang nyaman untuk dihuni.

b. Rumah Tidak Layak Huni


Munculnya rumah tidak layak huni sendiri didasari atas ketidakmampuan
seseorang untuk menyediakan sarana prasarana dasar yang layak untuk berdiam diri,
bahkan beberapa kasus rumah tidak layak huni justru tidak memiliki legalitas yang kuat

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-53


dikarenakan keberadaannya yang melanggar tata ruang. Namun penanganan kawasan
kumuh tidak bisa dipisahkan dari penanganan rumah tidak layak huni. Berbagai
program pemerintah mulai dari pusat hingga pemerintah Kota Samarinda telah
dilakukan guna mengurangi persentase rumah tidak layak huni. Berdasarkan catatan
Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Samarinda, rumah tidak layak huni mencapai
15,94%.

Tabel 2.49.
Persentase Rumah Tidak Layak Huni Tahun 2017-2021
Kota Samarinda
(%)

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021


1 Rumah tidak layak
huni - 16,97 16,42 15,94 15,94
Sumber: Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Samarinda

c. Tempat Pemakaman Umum


Kota Samarinda telah tumbuh sebagai kota besar dengan penduduk terbanyak di
Provinsi Kaltim. Keadaan ini menuntut pemerintah Kota Samarinda untuk terus
memberikan pelayanan agar seluruh masyarakat yang bermukim merasa nyaman dan
aman, baik dari sisi sosial, ekonomi maupun lingkungan. Tingginya persaingan ekonomi
di Kota Samarinda sangat berpotensi menyebabkan tingginya harga property, baik lahan
maupun bangunan. Oleh karena itu untuk memberi kenyamanan kepada masyarakat
serta memenuhi hak-hak mereka, maka pemerintah Kota Samarinda memfasilitasi
Tempat Pemakaman Umum (TPU) seluas 102,99 hektar di seluruh kecamatan. Secara
lengkap perhatikan table berikut :

Tabel 2.50.
Luas Tempat Pemakaman Umum Tahun 2017-2020
Kota Samarinda
(Ha)

No Kecamatan 2017 2018 2019 2020


1 Samarinda Kota 1,50 1,50 1,50 1,50
2 Samarinda Ilir 3,17 3,17 3,17 3,17
3 Sambutan 15,95 15,95 15,95 15,95
4 Sungai Pinang 10,80 10,80 10,80 10,80
5 Samarinda Utara 21,79 21,79 22,89 22,89
6 Samarinda Ulu 10,96 10,96 10,96 10,96
7 Sungai Kunjang 10,57 10,57 10,57 10,57
8 Samarinda Seberang 5,58 5,58 5,58 5,58
9 Loa Janan Ilir 5,35 5,35 5,35 5,35
10 Palaran 16,22 16,22 16,22 16,22
TOTAL 101,00 101,00 102,99 102,99
Sumber: Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Samarinda

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-54


2.3.1.5 Ketentraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Masyarakat
Menciptakan Kota Samarinda yang teduh, rapi, aman dan nyaman tentu
bukanlah hal yang mudah. Bertumbuhnya Kota Samarinda sebagai kota besar, tentu
menjadi pemicu pertumbuhan penduduk. Berdasarkan catatan administrasi
kependudukan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Samarinda, saat ini
jumlah penduduk mencapai 900 ribu jiwa, sedangkan BPS Kota Samarinda merilis
jumlah penduduk sebanyak 886.806 jiwa yang akhirnya menjadikan daerah ini sebagai
daerah dengan jumlah penduduk tertinggi se-Kaltim. Sisi positifnya adalah aktivitas
perekonomian Kota Samarinda berlangsung secara terus-menerus, namun sisi
negatifnya adalah semakin tinggi kerentanan akan pelanggaran peraturan serta
gangguan ketentraman dan ketertiban umum di Kota Samarinda. Oleh karena itu guna
mewujudkan Kota Samarinda yang teduh, rapi, aman dan nyaman maka pembangunan
bidang ketentraman, ketertiban umum, dan perlindungan masyarakat perlu mendapat
perhatian serius.

a. Rasio Polisi Pamong Praja dan Perlindungan Masyarakat


Demi menciptakan ketertiban dan keamanan di Kota Samarinda serta guna
memperlancar pelaksanaan program pembangunan, tentu tidak terlepas dari peran
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Perlindungan Masyarakat (Linmas). Oleh
karena itu peningkatan jumlah personel harus sebanding dengan peningkatan jumlah
penduduk dengan rasio per 10.000 penduduk.

Tabel 2.51.
Rasio Pol PP dan Linmas Tahun 2017-2021
Kota Samarinda
(orang)

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021


1 Jumlah Penduduk 769.632 777.073 777.073 777.073 777.073
Jumlah Pol PP 546 537 512 512 493
2
Rasio 7,1 6,9 6,6 6,6 6,34
Jumlah Linmas 147 166 166 174 174
3
Rasio 1,9 2,1 2,1 2,1 2,24
Sumber : Satuan Polisi Pamong Praja Kota Samarinda

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dari tahun ke tahun, pemerintah


Kota Samarinda terus memperkuat barisan Pol PP dan Linmas. Berdasarkan data Satpol
PP Kota Samarinda, jumlah personel hingga tahun 2020 mencapai 512 dengan cakupan
6-7 orang per 10.000 penduduk, menurun dibanding tahun 2017 yang saat itu mencapai
546 personel dengan cakupan 7-8 orang per 10.000 penduduk. Namun kondisi ini tidak
menyurutkan pelaksanaan program pemerintah dilapangan, terbukti berbagai program
yang rentan konflik dengan masyarakat berhasil dijalankan dengan lancar dan damai.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-55


b. Persentase Penegakan Perda
Penegakan Peraturan Daerah (Perda) merupakan tolok ukur penting dalam
keberhasilan pelaksanaan program bidang ketentraman dan ketertiban umum.
Timbulnya gangguan dalam ketentraman dan ketertiban umum salah satunya
disebabkan karena adanya pelanggaran terhadap perda, seperti adanya kegiatan
ekonomi pada sarana prasarana publik atau bahkan mendirikan bangunan di tanah
negara. Namun khusus tahun 2020, pelanggaran yang sering dijumpai yaitu
pelanggaran protokol kesehatan sebagai bentuk pengendalian penyebaran COVID-19 di
Kota Samarinda.
Berdasarkan table dibawah, terlihat bahwa jumlah pelanggaran terhadap Perda
sangat fluktutatif, bahkan sempat menyentuh 688 kasus pada tahun 2017 dengan
persentase penyelesaian 68%, sedangkan tahun 2020 mencapai 258 kasus dengan
persentase penyelesaian 97,67%. Peningkatan persentase penyelesaian ini menandakan
bahwa pemerintah Kota Samarinda terus berupaya untuk mewujudkan Kota Samarinda
menjadi lebih nyaman untuk dihuni.
Tabel 2.52.
Penegakan PERDA Tahun 2017-2021
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021*


Jumlah Pelanggaran
1 688 144 89 258 50
PERDA (kasus)
Jumlah Penyelesaian
2 Penegakan PERDA 471 66 89 252 50
(kasus)
Persentase penegakan
3 68,46 45,83 100 97,67 50
PERDA
Sumber : Satuan Polisi Pamong Praja Kota Samarinda
Keterangan : Data sampai bulan Maret 2021

c. Persentase Penyelesaian Pelanggaran K3


Selain penegakan Perda, penyelesaian pelanggaran Ketertiban, Ketentraman,
Keindahan (K3) juga menjadi tolok ukur penting dalam pelaksanaan bidang
ketentraman dan ketertiban umum. Pelanggaran K3 yang kerap terjadi di Kota
Samarinda yaitu penyakit masyarakat, yang kerap ditemukan pada saat razia bersama
unsur kepolisian dan TNI. Secara keseluruhan penanganan pelanggaran K3 di Kota
Samarinda menunjukkan keberhasilan, meskipun jumlah pelanggaran sangat fluktuatif.
Keberhasilan tersebut terlihat pada persentase penyelesaian pelanggaran K3 yang terus
meningkat, dari 45% pada tahun 2017 menjadi 90% pada tahun 2020.
Tabel 2.53.
Cakupan Patroli Petugas Satpol PP Tahun 2017-2021
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021


Jumlah Patroli Petugas Satpol PP
Pemantauan dan Penyelesaian
1 1.080 1.095 1.095 1.095 1.095
Pelanggaran K3 Dalam 24 Jam
(orang)

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-56


No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021
Jumlah Pelanggaran K3
2 (ketertiban. ketentraman. 169 278 360 253 50
keindahan) (kasus)
Jumlah Penyelesaian Pelanggaran
3 K3 (ketertiban. ketentraman. 77 144 288 253 50
keindahan) (kasus)
Jumlah Penyelesaian Pelanggaran
4 24 66 44 30 0
K3 (sesudah validasi) (kasus)
100,0 100,0
Persentase Pelanggaran K3 45,56 51,80 80,00
0 0
Sumber : Satuan Polisi Pamong Praja Kota Samarinda
Keterangan : Data sampai bulan Maret 2021

2.3.1.6 Tenaga Kerja


Pembangunan ketenagakerjaan menjadi isu yang sangat penting, terlebih lagi
setelah adanya pandemi COVID-19 yang sempat menjatuhkan beberapa sektor pada
tahun 2020. Jatuhnya sektor-sektor tersebut membuat para pengusaha melakukan
pengurangan karyawan demi mempertahankan keberlangsungan usahanya, yang
artinya secara langsung meningkatkan jumlah pengangguran. Meningkatnya jumlah
pengangguran akan berdampak secara tidak langsung pada angka kemiskinan.
Kondisi yang sama di rasakan di Kota Samarinda. Bahkan dampak ekonomi
akibat COVID-19 di Kota Samarinda akan sangat luas mengingat jasa dan perdagangan
merupakan sektor dominan yang kegiatan ekonominya selalu melibatkan kerumunan.
Penurunan usaha terutama dari perhotelan, rumah makan, dan usaha dagang lainnya
menyebabkan pengurangan karyawan secara perlahan. Terjadinya pengurangan
karyawan menyebabkan daya beli menjadi rendah, yang berdampak lagi pada
keberlangsungan usaha lainnya. Oleh karena itu pembangunan ketenagakerjaan di Kota
Samarinda perlu memperoleh perhatian yang sangat besar karena akan menggerakkan
perekonomian di daerah.

a. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)


Tingkat Partisipasi Angkatan kerja (TPAK) merupakan persentase angkatan kerja
dibanding penduduk usia 15 tahun ke atas. TPAK mampu menggambarkan persentase
usia 15 tahun ke atas yang aktif secara ekonomi di suatu daerah. Semakin tinggi TPAK
menunjukkan bahwa semakin tinggi pula pasokan tenaga kerja (labour supply) yang
tersedia untuk memproduksi barang dan jasa dalam suatu perekonomian.

Tabel 2.54.
Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Dirinci Menurut Kegiatan Seminggu yang Lalu serta
Jenis Kelamin di 2017-2020
Kota Samarinda
(orang)

No Uraian 2017 2018 2019 2020


Angkatan Kerja 394.980 393.174 428.353 429.093
1 Bekerja 370.533 368.943 403.214 393.670
Pengangguran Terbuka 24.447 24.231 25.139 35.423

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-57


No Uraian 2017 2018 2019 2020
Bukan Angkatan Kerja 230.341 248.020 226.615 229.432
Sekolah 65.331 72.425 61.900
2
Mengurus RT 152.747 127.496 141.834
Lainnya 29.942 26.694 25.698
Jumlah 625.321 671.194 654.968
3 TPAK 63,16 61,32 65,40 65,16
4 TPT 6,19 6,16 5,87 8,25
Sumber: Samarinda Dalam Angka Tahun 2021

Apabila melihat perkembangan data BPS, terlihat bahwa TPAK Kota Samarinda
terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2017 TPAK masih berada pada angka 63,16%,
selanjutnya pada tahun 2020 meningkat ke angka 65,16% yang artinya sebanyak 65,16%
penduduk usia 15 tahun ke atas di Kota Samarinda aktif secara ekonomi. Kondisi ini
tentunya sangat bagus untuk mendukung iklim investasi, karena lebih 50% usia
produktif di Kota Samarinda terlibat aktif memproduksi barang dan jasa dalam
mendukung perekonomian daerah.

b. Pengangguran
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah persentase jumlah pengangguran
terhadap jumlah angkatan kerja. Angka ini mengindikasikan besarnya persentase
angkatan kerja yang masuk dalam pengangguran. Semakin tinggi TPT maka semakin
tinggi pula angkatan kerja yang tidak terserap pada pasar kerja.

Tabel 2.55.
Tingkat Pengangguran Terbuka Tahun 2017-2020
Kota Samarinda
(%)

No Uraian 2017 2018 2019 2020


1 Kota Samarinda 6,19 6,16 5,87 8,25
2 Kalimantan Timur 6,91 6,60 6,09 6,87
Sumber: Data diolah

Pada tahun 2017 TPT Kota Samarinda masih berada pada angka 6,19%, namun
pada tahun 2020 meningkat menjadi 8,25% meskipun sempat menurun selama 3 tahun
berturut-turut. Peningkatan angka pengangguran diduga sebagai akibat dari pandemi
COVID-19 yang melanda pada tahun 2020. Melandanya pandemi COVID-19 di Kota
Samarinda membuat pemerintah harus mengeluarkan kebijakan strategis guna
memutus rantai penyebaran yang salah satunya adalah menghindarkan terjadinya
kerumunan melalui penutupan tempat wisata dan seluruh usaha perdagangan termasuk
perhotelan. Keadaan ini membuat para pelaku usaha melakukan pengurangan tenaga
kerja sebagai tindak lanjut atas penurunan penerimaan (revenue).
Apabila dibandingkan dengan provinsi Kaltim, TPT Kota Samarinda justru
berada diatas rata-rata provinsi, merupakan kejadian pertama dalam kurun waktu 5
tahun terakhir. Hal ini menandakan bahwa peran Kota Samarinda sebagai pusat

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-58


pemerintahan provinsi Kaltim yang didominasi sektor perdagangan mengalami dampak
paling besar pada saat pandemi COVID-19. Salah satu dampak yang paling terlihat
adalah menurunnya kunjungan ke Kota Samarinda, yang turut menyebabkan
penurunan penerimaan pada sektor perdagangan dan perhotelan.

2.3.1.7 Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak


Kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk tindakan kekerasan,
termasuk ancaman, pemaksaan atau perampasan hak-hak kebebasan, yang terjadi baik
didalam rumah tangga atau keluarga (private life), maupun di dalam masyarakat (public
life) yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan bagi wanita baik secara fisik,
seksual maupun fisikologis (United Nations Depertement of Public Relation 1986).
Masalah kekerasan pada dasarnya erat kaitannya dengan kekuasaan, dan umumnya
tindakan kekerasan dilakukanoleh kaum laki-laki. Dominasi pria terhadap wanita
menunjukkan adanya kekuasaan pria untuk berbuat sesukanya terhadap wanita. Hal ini
juga di dukung oleh sistem kepercayaan gender yang berlaku dalam masyarakat, sistem
kepercayaan gender mengacu pada serangkaian kepercayaan dan pendapat tentang laki-
laki dan perempuan, sistemini mencakup pengertian bagaimana sebenarnya laki-laki
dan perempuan itu. Pada umumnya laki-laki dianggap sebagai sosok yang lebih kuat,
lebih aktif, mempunyai dominasi dan otonomi, sebaliknya perempuan dipandang
sebagai mahluk lemah, suka mengalah dan pasif (belenggu patriarki). Semakin
tingginya kasus kekerasan kepada perempuan dan anak serta tingginya kejadian human
trafficking, atau yang lebih dikenal dengan perdagangan orang, menjadikan
pembangunan bidang perempuan dan perlindungan anak sebagai isu penting di
Indonesia. Kasus-kasus tersebut merupakan cerminan rendahnya nilai-nilai kesetaraan
gender dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, sebagai bentuk keseriusan
pemerintah dalam pembangunan bidang perempuan dan perlindungan anak, maka di
canangkan program pengarusutamaan gender yang cakupannya tidak hanya berbicara
laki-laki dan perempuan, namun mencakup juga anak-anak dan disabilitas serta
kelompok lainnya. Kesemuanya itu ditujukan agar seluruh masyarakat memperoleh
hak-hak yang sama dalam berkehidupan.

Tabel 2.56.
Data Kasus Kekerasan terhadap Anak dan Dewasa Tahun 2016-2020
Kota Samarinda
Kelompok 2016 2017 2018 2019 2020
Usia L P L P L P L P L P
Anak 209 136 156 114 96 93 40 67 43 59
Dewasa 15 63 5 30 11 24 0 25 1 26
Jumlah 224 199 161 144 107 117 40 92 44 85

Sumber: Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Samarinda

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-59


Data pada table 2.51 tersebut menunjukkan banyaknya orang dewasa dan anak
yang menjadi korban tindak kekerasan di Kota Samarinda selama 5 tahun. Dilihat dari
jenis kasusnya paling banyak kasus Kekerasan Seksusal dan Kekerasan Psikis, dan
pelaku paling banyak adalah orang terdekat sendiri, seperti orang tua, suami, tetangga
dan teman bermain. Walaupun tren cenderung ada penurunan kasus namun tetap
menjadi keprihatinan sehingga perlu terus dikaji secara mendalam tentang penyebab
dan faktor resiko terjadinya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota
Samarinda. Hal ini memberikan gambaran Pembangunan yang Responsif Gender belum
terlaksana dengan baik, masih ada kesenjangan antara laki-laki dan perempuan,
Keadilan belum sepenuhnya di rasakan di Masyarakat.
Berbicara tentang pengarusutamaan gender tentunya tidak pernah terlepas dari
kesetaraan gender, yang dapat diartikan secara sederhana bahwa laki-laki dan
perempuan atau kelompok lainnya dapat memperoleh hak yang sama serta tidak dibeda-
bedakan (setara). Kesetaraan gender harus diterapkan diseluruh aspek pekerjaan,
khususnya lembaga pemerintah. Penempatan pejabat eselon II, III, dan IV di Kota
Samarinda diupayakan memberikan porsi kepada perempuan secara proporsional.
Perhatikan table berikut :

Tabel 2.57.
Jumlah Perempuan di Lembaga Pemerintah Tahun 2017-2020
Kota Samarinda
(orang)

2021
No Uraian 2017 2018 2019 2020
Jumlah perempuan yang
1 4 3 3 4 4
menempati jabatan eselon II
Jumlah perempuan yang
2 56 62 61 55 50
menempati jabatan eselon III
Jumlah perempuan yang
3 376 375 375 348 359
menempati jabatan eselon IV
Pekerja perempuan di
4 4.034 4.425 4.383 4.314 4.357
pemerintahan
Sumber: Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Samarinda

2.3.1.8 Pangan
Pertumbuhan penduduk yang sangat pesat di Kota Samarinda menuntut
pemerintah untuk menyediakan segala kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan),
terlebih lagi dengan adanya pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Provinsi Kalimantan
Timur yang secara tidak langsung menjadikan Kota Samarinda sebagai kota penyangga.
Berbicara pemenuhan kebutuhan pangan maka sangat erat kaitannya dengan
pemenuhan sembilan bahan pokok, salah satunya beras yang telah turun-temurun
menjadi makanan pokok masyarakat di Indonesia. Namun pertumbuhan penduduk
yang semakin tinggi tidak sebanding dengan peningkatan produksi beras. Hal ini
disebabkan karena penurunan jumlah lahan sebagai akibat tingginya perubahan fungsi
lahan dari pertanian menjadi lahan lainnya. Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-60


pangan masyarakat, maka pemerintah Kota Samarinda bekerjasama dengan daerah
penghasil untuk penyediaan beras dan kebutuhan pokok lainnya.

a. Ketersediaan Pangan
Melihat kondisi Kota Samarinda yang terus tumbuh baik ekonomi maupun
penduduknya, tentunya mempunyai beban tersendiri untuk menyediakan kebutuhan
pangan masyarakat. Jumlah penduduk yang mencapai 900 ribu jiwa tentunya
membutuhkan pangan utama yang amat besar, bahkan apabila ada keterlambatan
dalam pemenuhannya maka akan berakibat pada kelangkaan pangan utama yang
berujung pada inflasi. Kondisi ini yang selalu menjadi perhatian oleh pemerintah Kota
Samarinda, terutama menjelang perayaan hari-hari besar keagamaan.

Tabel 2.58.
Ketersediaan Pangan Utama Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020


Jumlah produksi
padi atau bahan
1 pangan utama lokal 16.469,5 14.809,4 14.196,08 10.630,07
hasil kelompok
petani (ton)
Rata-rata jumlah
ketersediaan pangan
2 84.374,00 85.544,09 73.781,26 92.202,38
utama per tahun
(ton)
Luas areal tanaman
padi atau bahan
3 pangan utama di 3.748 5.054
daerah (sawah
irigasi)
Sumber : Dinas Ketahanan Pangan Kota Samarinda

Berdasarkan catatan Dinas Ketahanan Pangan, kebutuhan pangan utama di Kota


Samarinda mencapai 97.202,38 ton, sementara dari hasil lokal hanya mampu 10.630,07
ton atau hanya 10,93% dari kebutuhan. Apabila diperhatikan kurun waktu 2017-2020,
angka tersebut memperlihatkan capaian yang menurun. Pada tahun 2017 Kota
Samarinda mampu menghasilkan 16.469,5 ton padi atau bahan pangan utama lokal,
sedangkan pada tahun 2020 hanya mampu menghasilkan 10.630,07 ton. Namun
kondisi sebaliknya ditunjukkan pada rata-rata ketersediaan pangan per tahun, yang
memperlihatkan peningkatan dari 84.374 ton pada tahun 2017 menjadi 92.202,38 ton
pada tahun 2020. Melihat perkembangan data-data tersebut, dapat disimpulkan bahwa
kemampuan Kota Samarinda dalam menyediakan pangan utama dari hasil lokal
semakin menurun, yang artinya pemerintah Kota Samarinda harus melakukan
kerjasama dengan daerah penghasil untuk memenuhi kebutuhan pangan utama di
masyarakat sebelum terjadi kasus kelangkaan di pasar.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-61


b. Pola Pangan Harapan
Salah satu hal terpenting dari sasaran pembangunan pangan pada masa
mendatang adalah pangan yang disediakan dan dikonsumsi harus menurut kecukupan
gizi dan kualitas tertentu serta penyediaan pangan dengan mengoptimalkan potensi
sumberdaya lokal melalui gerakan diversifikasi konsumsi, pengembangan teknologi
pangan untuk meningkatkan nilai sosial dan nilai tambah pangan lokal non beras serta
melakukan introduksi pangan lokal non beras pada anak usia dini.
Pola Pangan Harapan (PPH) adalah komposisi kelompok pangan utama yang
apabila dikonsumsi dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi lainnya. PPH dapat
menilai mutu pangan penduduk berdasarkan skor pangan (dietery score). Melalui
pendekatan PPH, perencanaan penyediaan dan konsumsi pangan penduduk diharapkan
dapat memenuhi tidak hanya kecukupan gizi (adequacy), tetapi juga
mempertimbangkan keseimbangan gizi (balance), yang didukung oleh cita rasa
(palatability), daya cerna (digestibility), daya terima masyarakat (acceptibility),
kuantitas dan kemampuan daya beli.
Semakin tinggi skor PPH, konsumsi pangan semakin beragam dan bergizi
seimbang. Jika skor konsumsi pangan mencapai 100 poin, maka wilayah tersebut
dikatakan tahan pangan. Dalam kurun waktu 2017-2020, skor PPH Kota Samarinda
menunjukkan perkembangan positif, beranjak naik dari 83,3 pada tahun 2007 menjadi
85,8 tahun 2020. Angka ini menunjukkan bahwa konsumsi pangan masyarakat di Kota
Samarinda semakin mengarah pada pangan yang beragam dan gizi seimbang.
Gambar 2.12.
Pola Pangan Harapan Tahun 2017-2020
Kota Samarinda
(poin)

87

85.8
86

85
84.4

84
83.3

83
82.1
82

81

80
2017 2018 2019 2020

Sumber : Dinas Ketahanan Pangan

Dalam aplikasinya Pola Pangan Harapan (PPH) dikenal dengan pola konsumsi
pangan yang Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman atau dikenal dengan istilah menu B2SA.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-62


Dengan terpenuhinya kebutuhan energi dari berbagai kelompok pangan sesuai dengan PPH
maka secara implisit kebutuhan zat gizi lainnya juga terpenuhi oleh karena itu skor PPH
mencerminkan mutu gizi konsumsi pangan dan tingkat keberagaman konsumsi pangan.
Sesuai dengan kegunaannya, makanan dikelompokkan dalam tiga kelompok (Tri
Guna Makanan) yaitu makanan sebagai sumber zat tenaga, zat pembangunan dan zat
pengatur. Oleh karena itu pangan yang dikonsumsi sehari-hari harus dapat memenuhi
fungsi makanan tersebut. Semua zat gizi yang diperlukan oleh tubuh dapat diperoleh dengan
mengkonsumsi pangan yang beranekaragam dalam jumlah yang cukup dan seimbang. Hal
ini disebabkan karena tidak ada satu jenis bahan makanan yang dapat menyediakan zat gizi
secara lengkap. Dengan terpenuhinya kebutuhan zat gizi lainnya juga terpenuhi.

2.3.1.9 Lingkungan Hidup


Pembangunan lingkungan selalu menjadi salah satu agenda utama di Indonesia,
tidak terkecuali di Kota Samarinda. Prinsip pembangunan berkelanjutan merupakan
dasar yang diletakkan pemerintah Kota Samarinda dalam melaksanakan pembangunan
di ibukota Kaltim ini. Lajunya pembangunan di Kota Samarinda tetap diupayakan
memperhatikan aspek lingkungan dengan tujuan agar manfaat pembangunan tersebut
secara keseluruhan dapat dirasakan oleh generasi yang akan datang. Oleh karena itu
ditengah-tengah lajunya pembangunan, pemerintah Kota Samarinda tetap menjaga
keseimbangan lingkungan.

A. Kondisi Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup


Daya Dukung Lingkungan Hidup adalah kemampuan lingkungan untuk
mendukung kehidupan manusia dan makhluk hidup lain serta keseimbangan antara
keduanya. Daya dukung mengandung makna: kapasitas penyediaan (supply) sistem dan
sumber alam; jumlah kebutuhan manusia dan makhluk hidup lainnya (demand); serta
cukup, harmonis dan minim dampak negatif. Daya Tampung Lingkungan Hidup adalah
kemampuan Lingkungan untuk menyerap zat, energi dan/atau komponen lain yang
masuk atau dimasukkan ke dalamnya. Daya tampung mengandung makna: kapasitas
ambien (supply); hasil produk dan ekses dari suatu kegiatan (demand); serta
menampung dan menetralisir. Samarinda telah memiliki dokumen daya dukung dan
daya tampung lingkungan hidup pada tahun 2020, berikut ini gambar DDDTLH Kota
Samarinda untuk 20 jasa ekosistem.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-63


Gambar 2.13.
Peta Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup Indikatif Kota Samarinda berdasarkan
Jasa Ekosistem (DLH Samarinda, 2020

Dari segi fungsi penyediaan (provisioning), fungsi penyediaan pangan secara


umum masih tergolong dalam kategori sedang, terutama untuk wilayah Kecamatan
Samarinda Utara, sebagian Palaran dan Samarinda Ulu. Sementara fungsi penyediaan air
Kota Samarinda secara umum tergolong rendah, demikian pula fungsi penyediaan serat,
bahan bakar dan material lain mengingat kurangnya tutupan vegetasi alami klimaks
seperti hutan lahan kering.

Dari segi pengaturan (regulating), indikasi kemampuan pengaturan dari wilayah


Kota Samarinda cukup bervariasi. Dari segi kualitas udara, pencegahan banjir,
pemurnian air dan pengolahan limbah serta pengendalian hama dan penyakit, terdapat
wilayah-wilayah dengan kemampuan pengaturan yang tinggi. Perbedaan yang mencolok
dari segi fungsi pengaturan terlihat pada fungsi pengaturan iklim, pengendalian
kebakaran hutan dan lahan, serta pengendalian hama dan penyakit yang menunjukkan
kemampuan pengaturan rendah hingga sangat rendah.
Dari segi fungsi pendukung (supporting), fungsi pelestarian keanekaragaman
hayati dan pembentukan serta regenerasi tanah memiliki kapasitas/kemampuan tinggi,
sementara dari segi produksi biomassa dan siklus hara, Kota Samarinda secara umum
memiliki kemampuan yang rendah.
Sisi budaya dan identitas masyarakat lokal menunjukkan kapasitas penyedia nilai
kultural berupa fungsi estetika dan rekreasi pada tingkat sedang, sementara fungsi
warisan budaya dan identitas tergolong pada kapasitas tinggi.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-64


B. Status Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup
Status daya dukung lingkungan hidup memberikan gambaran yang jelas terhadap status
ketersediaan sumberdaya dan kemampuan alam untuk menyediakan kebutuhan dasar
hidup manusia. Secara operasional, status DDDT-LH dapat diketahui dengan
menghitung selisih antara ketersediaan dan kebutuhan akan suatu sumberdaya
(misalnya air atau pangan). Penghitungan status daya dukung penyedia air dan pangan
dilakukan dengan bantuan analisis spasial terhadap keberadaan sumber-sumber air dan
pangan, dengan lokasi pemanfaatan yang paling intensif.

Status DDDTLH Penyedia Air


Ketersediaan air di suatu wilayah bergantung kepada pasokan dan cadangan air tanah
dan air permukaan. Karakteristik tanah dan batuan mempengaruhi kemampuan
menyerap dan mengalirkan air. Hal ini berpengaruh untuk penyerapan air hujan.
Status daya dukung penyediaan air ditentukan dari selisih antara ketersediaan dan
kebutuhan sumberdaya air di wilayah studi. Data dan informasi yang digunakan meliputi
peta distribusi penduduk dalam sistem grid, peta DDDT-LH indikatif dengan indeks jasa
ekosistem serta peta wilayah sungai (WS). Pemanfaatan sumberdaya air yang
diperhitungkan dalam penetapan status daya dukung penyediaan air adalah kombinasi
dari kebutuhan domestik dan kebutuhan air pada tutupan lahan. Status daya dukung
lingkungan hidup untuk aspek penyediaan air dengan sumber berbeda di Kota Samarinda
disajikan dalam rangkaian gambar sebagai berikut.

Gambar 2.14.
Peta Status DDDTLH Penyedia Air dari Air PDAM dan Air tanah
(DLH Samarinda, 2020)

Sumber: Dokumen DDDTLH Kota Samarinda (DLH, 2020)

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-65


Gambar 2.15.
Peta Status DDDTLH Penyedia Air dari Air
Permukaan (Mahakam) (DLH Samarinda, 2020)

Sumber: Dokumen DDDTLH Kota Samarinda (DLH, 2020)

Dua peta di atas menyajikan status daya dukung penyedia air di Kota Samarinda
berdasarkan sumber air yang berbeda: (1) distribusi PDAM dan airtabah dan (2)
airpermukaan dari Sungai Mahakam. Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa sebagian
besar wilayah di Kota Samarinda telah terlampaui daya dukung lingkungan hidup untuk
fungsi penyedia airnya bila sumber air yang diperhitungkan adalah dari distribusi PDAM
dan airtanah. Hanya sebagian dari kawasan di Kecamatan Samarinda Utara, Sambutan,
Palaran dan Sungai Kunjang yang masih dalam status belum terlampaui. Adapun analisis
yang menggunakan data debit andalan Sungai Mahakam yang disetarakan berdasarkan
luas wilayah Kota Samarinda sebagai input perhitungan status daya dukung penyedia air,
wilayah yang status penyediaan airnya telah terlampaui didominasi oleh wilayah
perkotaan dengan kepadatan penduduk tinggi seperti Kecamatan Samarinda Kota,
Samarinda Ilir, Samarinda Seberang, sebagian Kecamatan Samarinda Ulu dan Sungai
Pinang dan wilayah didominasi kegiatan pertanian yaitu sebagian besar Kecamatan
Samarinda Utara, Palaran dan Loa Janan Ilir serta sebagian kecil Kecamatan Samarinda
Ulu di perbatasan dengan Kecamatan Tenggarong Seberang.
Secara umum, kelurahan-kelurahan yang telah terlampaui daya dukung airnya dalam
selisih yang cukup besar meliputi Kelurahan Sempaja Utara, Lempake, Sindang Sari,
Sungai Pinang Dalam, Tani Aman, Pelita dan Sidomulyo. Sementara itu, kelurahan yang
merupakan wilayah perkotaan sebagian besar telah terlampaui daya dukung airnya.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-66


Gambar 2.16.
Peta Status DDDTLH Penyedia Pangan (DLH Samarinda, 2020)

Sumber: Dokumen DDDTLH Kota Samarinda (DLH, 2020)

Status DDDTLH Penyediaan Pangan


Analisis spasial dengan metode grid menunjukkan status daya dukung lingkungan hidup
penyediaan pangan untuk Kota Samarinda dimana secara umum statusnya masih
belum terlampaui dengan pengecualian wilayah-wilayah padat penduduk di pusat Kota
Samarinda. Sebagaimana disajikan dalam peta diatas, wilayah perkotaan cenderung
mengalami status daya dukung pangan yang telah terlampaui karena banyaknya jumlah
penduduk di wilayah perkotaan dibandingkan pinggiran kota.

C. Kondisi Daya Tampung Lingkungan Hidup Kota Samarinda


Daya tampung lingkungan hidup dapat diketahui melalui survey kualitas airtanah dan air
permukaan serta studi literatur terkait beban pencemar di badan air di Sungai Mahakam,
Karangmumus dan anak sungai lainnya. Selanjutnya dalam menentukan status daya
tampung lingkungan hidup, digunakan pendekatan ketersediaan (supply) dan kebutuhan
(demand). Secara operasional, daya tampung lingkungan hidup dilakukan dengan
membandingkan antara:
• Beban limbah yang terbuang ke badan air (demand/kebutuhan)
• Beban limbah yang boleh dibuang ke badan air dan masih dalam batas kapasitas
asimilasi limbah cair yang dimiliki (supply/ketersediaan)
Apabila beban limbah yang terbuang telah melampaui jumlah beban limbah yang boleh
dibuang ke badan air, maka status daya tampung beban pencemarnya telah terlampaui.
Pada kondisinya sebaliknya maka status daya tampung beban pencemarnya belum
terlampaui.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-67


Hasil analisis kualitas air fisik, kimia dan biologi atas sampel yang diambil di 10 lokasi
sampel air permukaan di Kota Samarinda antara tahun 2014-2018 menunjukkan bahwa
6 (enam) dari 16 parameter kualitas air (Nitrit, Fosfat, pH, TSS, BOD dan COD) telah
terlampaui pada sebagian dari 10 lokasi sampel. Adapun Baku Mutu yang digunakan
(Kelas 2) berbeda dengan uji kualitas air yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup
Provinsi Kalimantan Timur (Kelas 1). Pertimbangan utamanya adalah bahwa tidak semua
air permukaan ini digunakan untuk konsumsi rumah tangga.
Sementara hasil analisis kualitas air fisik, kimia dan biologi atas sampel airtanah yang
diambil di 44 lokasi pada tahun 2018 menunjukkan bahwa seluruh sampel memiliki
status melampaui ambang batas kandungan oksigen kimiawi (COD) dan sebagian besar
telah melampaui ambang batas kandungan oksigen biologis (BOD). Selain itu, cukup
banyak juga sampel airtanah yang melampaui ambang batas kandungan Nitrit dan total
padatan tersuspensi (TSS). Sebagian kecil lainnya melampaui ambang batas kandungan
fosfat dan kadar keasaman (pH). Baku Mutu yang digunakan adalah Kelas I dengan
asumsi bahwa sumber airtanah ini dimanfaatkan langsung oleh masyarakat bahkan
sebagai sumber air minum setelah mengalami proses sederhana.
Dari sisi lain, hasil pemantauan kualitas air di Sungai Mahakam pada segmen Kota
Samarinda tahun 2016 menunjukkan bahwa khusus untuk parameter BOD, 4 dari 5
sampel yang diteliti menunjukkan nilai yang melebihi baku mutu air Kelas I. Selain itu,
nilai COD untuk seluruh sampel telah melebihi baku mutu air Kelas I (P3E Kalimantan
dan FMIPA UNMUL, 2016). Secara umum, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil
pemodelan, nilai BOD di Kota Samarinda mendekati kondisi eksisting, sementara daya
tampung beban pencemar baku mutu air kelas I telah terlampaui, sedangkan berdasarkan
skenario alternatif baku mutu air kelas II belum terlampaui. Dari perspektif sumber
pencemar, sumber pencemar terbesar di Sungai Mahakam pada segmen Kota Samarinda
adalah limbah rumah tangga dengan persentase sebesar 55%, diikuti oleh kegiatan
perikanan (16%), peternakan (13%) dan industri (9%). Dengan nominal beban pencemar
ke badan air Sungai Mahakam yang cukup besar, hal ini menunjukkan kemampuan alami
Sungai Mahakam untuk mengencerkan dan menormalisasi dampak dari sumber
pencemaran yang diterimanya secara alami. Studi yang sama juga menunjukkan
konsentrasi beberapa parameter fisik air berada di bawah baku mutu air kelas I (TSS) dan
II (DO), sementara konsentrasi BOD dan COD berada di atas baku mutu kelas I (BOD)
dan II (COD).
Status mutu air pada suatu badan air dapat ditentukan menggunakan metode indeks
pencemar (IP) yang memiliki keunggulan karena menggunakan nilai sesungguhnya dari
hasil pengukuran yang dilakukan di lapangan. Metode ini juga telah diadopsi oleh
Kementerian Lingkungan Hidup melalui SK MenLH No 115 Tahun 2003 tentang
Pedoman Penentuan Status Mutu Air.
Studi Daya Tampung Beban Pencemar (DTBP) Sungai Karangmumus yang dilakukan

oleh Dinas Lingkungan Hidup pada tahun 2019 menunjukkan bahwa dari seluruh lokasi

pengamatan sebanyak 36 titik diperoleh hasil bahwa rata-rata indeks pencemaran sungai

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-68


Karang Mumus sebesar 1,44 masuk dalam kategori cemar ringan, adapun nilai indeks

tertinggi terdapat pada 3,36 pada lokasi kawasan jembatan segiri (Perniagaan) pada

segmen tengah, sedangkan terendah dengan nilai indeks 0,75 pada lokasi kawasan

jembatan perumahan Griya Mukti yang masuk dalam kawasan segmen hulu. IP =< 1

(Kondisi Baik), IP 1-5 (Cemar Ringan).

Gambar 2.17.
Nilai Indeks Pencemar berbagai segmen di Sungai Karangmumus (DLH Samarinda, 2020)

Sumber: Dokumen Daya Tampung Beban Pencemar Sungai Karangmumus (DLH, 2019)

Tabel 2.59.
Identifikasi Lokasi Pengamatan dan Nilai DTBP Kota Samarinda

DTBP DTBP
No Lokasi (Hulu) No Lokasi (Tengah)
kg/hari % kg/hari %
0 Waduk Benanga 38,92 69,15 20 Sebelum Jembatan Pasar 763,90 66,93
Gn Lingai
1 Pemukiman di sekitar Waduk 314,81 66,79 21 UPTD P2KUPM Jl -67,25 -4,84
Kesejahteraan
2 Muang Luar 104,76 63,10 22 Jl Pemuda IV 23,84 1,82
3 Muang 582,45 64,22 23 Jl Pemuda II Kiri FKM 2.186,11 72,57
UNMUL
4 Persawahan 1 509,32 56,72 24 Pompa Banjir Jl Gelatik 2.703,53 52,83
5 Persawahan 2 703,16 53,07 25 FKIP UNMUL 684,99 68,19
6 Pos Sekolah Sungai 412,59 52,96 26 Pedesterian Taman Cerdas 4.450,41 68,93
Karangmumus
7 Jembatan Bayur 1.538,02 59,39 27 Setelah Gg Nibung Jl Dr 6.300,76 69,67
Soetomo
8 Bayur 01 298,51 58,61 28 Kanan setelah Jembatan 4.338,13 71,77
Kayu Pasar Segiri
9 Bayur 02 907,40 58,98 29 Sebelum Jembatan Pasar 3.075,60 71,59
Segiri Jl Perniagaan
10 Jl. Bayam Bengkuring 674,77 65,85
11 Jl Pakis Bengkuring 913,43 62,83 Lokasi (Hilir)
12 Jl Terong Bengkuring 537,51 62,73 30 Setelah Jembatan Baru -1.690,33 -14,53
(Bongkar Muat Pasir)
13 Jembatan Titian 1.015,89 55,32 31 Setelah Jembatan Jl 9.264,56 58,66
Lambung Mangkurat
14 Depan Perumahan 817,15 65,49 32 Setelah Jembatan Jl 3.505,56 57,30
Bengkuring Kehewanan
15 PDAM Gn Lingai 328,18 45,94 33 Setelah Jembatan Jl 2.540,46 51,08
Biawan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-69


DTBP DTBP
No Lokasi (Hulu) No Lokasi (Tengah)
kg/hari % kg/hari %
16 Perumahan Bumi Sempaja 1.255,91 69,74 34 Kanan Gg 8 Mesjid Jl 5.988,43 65,09
Jelawat
17 Jembatan Perum Griya Mukti 347,16 61,78 35 Setelah Kanan Kiri 4.387,02 44,13
Jembatan S
18 Perum Griya Mukti Blok Z 1.006,02 65,52 36 Muara Sungai Karang 76.341,67 88,33
Mumus
19 Setelah Jembatan Pasar Gn 534,07 60,31
Lingai
Keterangan: DTBP = Daya Tampung Beban Pencemar
Sumber: Dokumen Daya Tampung Beban Pencemar Sungai Karangmumus (DLH, 2019)

Gambar 2.18.
Peta Indeks Pencemaran Sungai Karangmumus (DLH Samarinda, 2020)

Sumber: Dokumen Daya Tampung Beban Pencemar Sungai Karangmumus (DLH, 2019)

Hasil pengukuran daya tampung beban pencemar seluruh lokasi di sungai Karang
Mumus memperlihatkan kondisi kemampuan daya dukung yang masih baik artinnya
masih memliki daya tampung yang cukup terhadap beban pencemar yang masuk ke
dalam Sungai Karangmumus kecuali dua lokasi yang sudah tidak mampu menampung
yaitu di segmen tengah Jl. Kesejahteraan (UPTD P2KUKM) yang temasuk wilayah
Kecamatan Samarinda Utara dan Sungai Pinang dengan jumlah daya tampung -67.25
kg/hari (-4,84%). Lokasi lainnya adalah jembatan bongkat muat pasir yang masuk pada
segmen hilir di wilayah Kecamatan Samarinda Ulu dan Sungai Pinang dengan jumlah
daya tampung-1690.33 kg/hari (-14,53%) (DLH Samarinda, 2019).

D. Persentase Penanganan Sampah


Pertumbuhan penduduk yang kian pesat berbanding lurus dengan semakin
tingginya konsumsi di Kota Samarinda. Konsumsi yang tinggi tersebut tentunya akan
menghasilkan volume sampah yang semakin tinggi pula, dan apabila tidak ditangani
dengan baik maka akan mengganggu kebersihan dan keindahan kota. Oleh karena itu
pemerintah Kota Samarinda terus meningkatkan penanganan sampah agar dapat
menciptakan kota yang bersih dan asri.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-70


Tabel 2.60.
Persentase Penanganan Sampah Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020


Volume produksi
1 963.600 843.812 857.404 873.582
sampah (m3)
Jumlah sampah yang
2 835.307 654.453 652.932 639.982
ditangani (m3)
3 Persentase 86,99 77,56 76,15 73,26
Sumber : Dinas Lingkungan Hidup

Pada tahun 2020, volume produksi sampah yang dihasilkan di Kota Samarinda
mencapai 873.582 m3, sedangkan volume sampah yang bisa ditangani sebesar 639.982
m3 atau 73,26%. Angka tersebut menunjukkan penanganan sampah melalui tempat
pembuangan akhir di Kota Samarinda mencapai 73,26%, sedangkan sisanya ditangani
melalui 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle). Berdasarkan data ini, maka pemerintah Kota
Samarinda perlu menyusun langkah strategi untuk memaksimalkan penanganan
sampah, baik meningkatkan sarana prasarana persampahan, maupun mengoptimalkan
3R.

Tabel 2.61.
Rasio Tempat Pembuangan Sampah (TPS) terhadap Jumlah Penduduk
Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020


Jumlah Daya Tampung
1 1.429 1.570 1.564 1.215
TPS (m3)
2 Jumlah Penduduk (jiwa) 769.632 858.931 872.768 889.095
Rasio Daya Tampung TPS
3 1,86 1,83 1,79 1,37
per 1.000 penduduk (m3)
Sumber : Dinas Lingkungan Hidup Kota Samarinda

Data di atas memperlihatkan kondisi yang berbanding terbalik, dimana


peningkatan jumlah penduduk dari tahun ke tahun tidak diikuti dengan peningkatan
jumlah daya tampung TPS. Pada tahun 2017 jumlah penduduk mencapai 769.632 jiwa
dengan daya tampung TPS sebesar 1.429 m 3, sedangkan tahun 2020 dengan jumlah
penduduk mencapai 889.095 jiwa daya tampung hanya sebesar 1.215 m 3. Kondisi ini
menandakan bahwa pemerintah Kota Samarinda masih perlu melakukan peningkatan
jumlah TPS pada titik-titik pemukiman tanpa mengganggu kenyamanan masyarakat.

E. Cakupan Pengawasan Terhadap Pelaksanaan AMDAL


Terganggunya keseimbangan lingkungan tidak hanya disebabkan oleh aktivitas
perorangan, melainkan aktivitas perusahaan dalam kegiatan memproduksi barang dan
jasa. Oleh karena itu pemerintah mempunyai tugas penting dalam menjaga
keseimbangan antara lingkungan dan kegiatan ekonomi, melalui pengawasan terhadap

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-71


AMDAL. Dokumen AMDAL menyajikan analisis atas dampak lingkungan yang
ditimbulkan dalam aktivitas produksi barang dan jasa, sehingga pengawasan terhadap
pelaksanaan AMDAL merupakan bentuk keseriusan pemerintah dalam menjaga
lingkungan.

Tabel 2.62.
Cakupan Pengawasan Terhadap Pelaksanaan AMDAL Tahun 2017-2021
Kota Samarinda
(perusahaan)

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021


Jumlah seluruh perusahaan
4 2 9 3 6
1 wajib AMDAL
Jumlah perusahaan wajib
4 2 9 3 6
2 AMDAL yang telah diawasi
Sumber: Dinas Lingkungan Hidup Kota Samarinda Tahun 2020

2.3.1.10 Kependudukan dan Catatan Sipil


Penyelenggaraan pemerintahan ditujukan untuk memberikan pelayanan publik
kepada masyarakat sesuai dengan hak-haknya sebagai warga negara. Guna
mendapatkan pelayanan, maka masyarakat wajib memiliki legalitas atas keberadaannya
atau eksistensinya sebagai penduduk di suatu wilayah. Legalitas yang dimaksud yaitu
dokumen kependudukan dan pencatatan sipil, dimana dokumen tersebut tidak hanya
untuk memudahkan memperoleh pelayanan, namun juga memberikan keamanan dan
kenyamanan dalam menjalankan aktivitasnya.
Tabel-tabel di bawah ini menunjukkan data persentase kepemilikan KTP-el,
Kartu Keluarga (KK), Akte Lahir, dan Akte Nikah di Kota Samarinda. Data tersebut
menunjukkan seberapa taat masyarakat di Kota Samarinda dalam memenuhi dokumen
kependudukan dan pencatatan sipilnya. Selain itu juga menunjukkan seberapa besar
usaha dan inovasi pemerintah Kota Samarinda untuk mendorong masyarakatnya agar
memiliki dokumen-dokumen yang lengkap, terutama KTP-el dan Kartu Keluarga (KK).

Tabel 2.63.
Kepemilikan KTP-el dan Kartu Keluarga Tahun 2018-2020
Kota Samarinda

No Kepemilikan KTP-el 2018 2019 2020

1 Kepemilikan KTP-el 64,70 64,59 66,21


1.1 Jumlah Penduduk Wajib KTP
542.660 556.011 568.830
(orang)
1.2 Jumlah Penduduk Memiliki
351.102 359.154 376.626
KTP-el (orang)
1.3 Jumlah Penduduk Belum
193.935 197.366 192.213
Memiliki KTP-el (orang)
2 Kepemilikan KK 83,58 85,72 87,16
2.1 Jumlah Penduduk Memiliki
210.779 224.032 232.058
Kartu Keluarga

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-72


No Kepemilikan KTP-el 2018 2019 2020

2.2 Jumlah Penduduk Belum


42.137 37.367 34.173
Memiliki Kartu Keluarga
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Samarinda

Tabel 2.64.
Kepemilikan Akta Perkawinan Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

Kepemilikan Akta
No 2017 2018 2019 2020
Perkawinan
1
Memiliki (orang) 5.162 7.028 10.227 12.356
2
Tidak Memiliki (orang) 24.847 23.331 20.800 18.709
3
Jumlah (orang) 30.009 30.359 31.027 31.065
Persentase kepemilikan akta 79,55
4 17,20 23,15 65,92
perkawinan
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Samarinda

Tabel 2.65.
Kepemilikan Akta Perceraian Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

Kepemilikan Akta
No 2017 2018 2019 2020
Perceraian
1.
Memiliki (orang) 306 218 273 332
2.
Tidak Memiliki (orang) 1.609 214 224 233
3.
Jumlah (orang) 1.915 432 497 565
Persentase kepemilikan akta 58,76
4. 15,98 50,46 54,93
perceraian
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Samarinda

Selain mengarah pada pemenuhan administrasi, dokumen kependudukan dan


pencatatan sipil tersebut juga dapat menggambarkan kondisi pertumbuhan penduduk.
Data akta kelahiran, akta kematian, dan dokumen datang-keluar masing-masing
menggambarkan fertilitas, mortalitas dan migrasi sebagai indikator pertumbuhan
penduduk. Pada tahun 2020, terjadi peningkatan persentase kepemilikan akte lahir
sebesar 4,76% atau ada penambahan sebesar 11.839 orang, yang mengindikasikan
adanya pertambahan penduduk dari sisi kelahiran sebesar 11.839 orang. Sedangkan dari
sisi kematian, terjadi peningkatan sebesar 4.977 orang yang diperoleh dari peningkatan
jumlah penduduk yang memiliki akta kematian dari 23.160 menjadi 28.137 pada tahun
2020. Adapun dari sisi perpindahan penduduk, pada tahun 2020 terlihat penduduk
datang mencapai 38.025 orang dan penduduk keluar sebanyak 17.550 orang. Meskipun
adanya penurunan dari tahun 2019, angka tersebut tetap menunjukkan pertumbuhan
positif, dengan kata lain selalu ada penduduk baru di Kota Samarinda, yang pada tahun
2020 mencapai 20.475 orang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2020
peningkatan jumlah penduduk Kota Samarinda dari migrasi penduduk mencapai 20.475
orang.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-73


Tabel 2.66.
Kepemilikan Akta Kelahiran Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

Kepemilikan Akta
No 2017 2018 2019 2020
Kelahiran
1 Memiliki (orang) 247.081 297.672 314.718 343.577
2 Tidak Memiliki (orang) 443.349 481.211 478.858 473.677
3 Jumlah (orang) 345.215 389.442 396.788 408.627
4 Persentase kepemilikan akta 84,08
71,57 76,44 79,32
kelahiran
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Samarinda

Gambar 2.19.
Kepemilikan Akta Kematian 2018-2020
Kota Samarinda
(orang)

28137

23160

18391

2018 2019 2020

Tabel 2.67.
Perpindahan Penduduk Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

No Perpindahan Penduduk 2017 2018 2019 2020

1. Penduduk Datang 8.993 43.967 48.295 38.025


Laki-Laki 4.740 22.027 24.236 19.080
Perempuan 4.253 21.940 24.059 18.945
2. Penduduk Keluar 34.734 21.468 19.628 17.550
Laki-Laki 17.217 11.379 10.458 9.174
Perempuan 17.517 10.089 9.170 8.376
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Samarinda

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-74


2.3.1.11 Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana
Pembangunan Kota Samarinda saat ini semakin terarah pada pencapaian tujuan
yang tercantum dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development
Goals (TPB/SDGs). Hal ini tentunya akan erat kaitannya dengan alokasi belanja di
semua sektor yang kesemuanya sangat penting. Oleh karena itu, “kue pembangunan”
tersebut harus dialokasikan pada belanja yang tepat untuk menyejahteraan masyarakat.
Masyarakat yang dimaksud adalah penduduk suatu wilayah yang dapat menikmati
pembangunan dan layanan dari pemerintah secara adil dan merata. Sehingga semakin
tingginya jumlah penduduk suatu wilayah akan sangat berpengaruh pada alokasi belanja
pemerintah.
Jumlah penduduk yang tinggi akan berada pada dua sisi, yaitu sisi positif dan sisi
negative. Sisi positif dari penduduk yang tinggi adalah semakin banyaknya penduduk
yang terlibat dalam aktivitas produksi barang dan jasa atau dengan kata lain angka
produktivitas akan semakin tinggi, sehingga ekonomi akan semakin maju. Namun
apabila tingginya jumlah penduduk tersebut semakin mengakibatkan tingginya angka
ketergantungan, maka akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat, dan ini akan
menjadi sisi negative dari tingginya jumlah penduduk. Oleh karena itu, pengendalian
penduduk baik dari migrasi, kelahiran ataupun kematian harus menjadi perhatian
pemerintah.

a. Laju Pertumbuhan Penduduk


Perekonomian Kota Samarinda dalam 5 tahun terakhir tumbuh positif dan tidak
pernah lesu, hal ini dikarenakan pembangunan di daerah ini tidak pernah berhenti,
sehingga perputaran uang lebih konsisten. Selain itu, peran strategis Kota Samarinda
sebagai pusat pemerintahan dan ibukota provinsi turut berperan memajukan
perekonomian. Bahkan peran tersebut menjadi begitu luas dengan semakin banyaknya
sarana prasarana untuk mendukung pengembangan pendidikan, kesehatan, investasi,
kewirausahaan, dan lain-lain. Kondisi inilah yang kemudian menjadikan Kota
Samarinda sebagai pusat pertumbuhan Provinsi Kaltim baik pertumbuhan ekonomi
maupun pertumbuhan penduduk, khususnya pertumbuhan penduduk yang bersumber
dari migrasi.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-75


Gambar 2.20.
Pertumbuhan Penduduk Tahun 2016-2017 s/d 2019-2020
Kota Samarinda
(%))

1.9 1.83
1.8 1.74
1.71
1.7

1.6

1.5

1.4

1.3

1.2 1.12
1.1

1
2016-2017 2017-2018 2018-2019 2019-2020

Sumber : Kota Samarinda Dalam Angka 2021

Pertumbuhan penduduk di Kota Samarinda dalam kurun waktu 2017-2020


menurun. Namun penurunan ini tidak bisa dikatakan sebagai sebuah kinerja buruk,
mengingat target pemerintah pusat dalam program pengendalian penduduk adalah
pertumbuhan terkendali pada angka 1-2 % per tahun. Oleh karena itu capaian ini
merupakan sebuah kinerja yang positif dan menjadi bukti keberhasilan pengendalian
penduduk, baik itu dari kelahiran, kematian maupun migrasi. Pada tahun 2017
pertumbuhan penduduk sempat menyentuh angka 1,83% yang selanjutnya turun ke
angka 1,74% di tahun 2018 dan terus menurun hingga ke angka 1,12% berdasarkan hasil
Sensus Penduduk tahun 2020.

b. Cakupan Peserta Program KB Aktif


Laju pertumbuhan penduduk tidak hanya disebabkan oleh migrasi, namun juga
dipengaruhi oleh angka kelahiran dan angka kematian. Pertumbuhan penduduk yang
tidak terkendali akan berpotensi terjadinya ledakan jumlah penduduk dan
menyebabkan rasio ketergantungan (usia produktif menanggung usia non-produktif)
semakin tinggi. Tingginya angka rasio ketergantungan akan berakibat pada
ketidakmampuan secara ekonomi untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu
pengendalian laju pertumbuhan penduduk menjadi prioritas nasional setiap tahun.
Salah satu langkah pemerintah adalah dengan mengendalikan angka kelahiran melalui
program Keluarga Berencana. Apabila dilihat dari sudut pandang kesehatan, maka
program KB ikut berperan dalam menurunkan angka kematian ibu saat melahirkan.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-76


Tabel 2.68.
Jumlah Peserta Program KB Aktif Tahun 2017-2021
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021

Jumlah peserta program


1 966.118 102.005 100.930 102.640 107.410
KB aktif (pasangan)
Jumlah pasangan usia
2 140.435 145.174 146.795 148.996 154.675
subur (pasangan)
Persentase peserta
3 68,44 70,30 68,76 68,89 69,44
program KB aktif
Sumber : Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Samarinda

Program KB di Kota Samarinda dapat dikatakan berhasil, karena dari seluruh


Pasangan Usia Subur (PUS) terdapat setidaknya 68% yang mengikuti program KB aktif.
Hal ini terlihat selama tahun 2017-2021, dimana angka terendah persentase peserta
program KB aktif berada pada tahun 2017, yang hanya sebesar 68,44%, dan menjadi
69,44% pada tahun 2020. Angka tersebut membuktikan tingginya kesadaran
masyarakat Kota Samarinda dalam mengendalikan kelahiran, disisi lain ini
membuktikan keberhasilan pemerintah Kota Samarinda dalam mendorong program KB
untuk diterapkan masyarakat.

2.3.1.12 Sosial
Program sosial merupakan langkah pemerintah untuk menjadikan alokasi
belanja dapat langsung dirasakan oleh masyarakat, yaitu dalam bentuk bantuan sosial.
Program sosial juga diarahkan untuk menangani permasalahan sosial yang terjadi di
masyarakat, serta merumuskan langkah-langkah strategis untuk mengurangi potensi
masalah sosial. Berbagai program mulai dari pemberian bantuan sosial, pemberdayaan
masyarakat agar dapat berkembang mandiri secara ekonomi, serta penanganan
penyandang masalah kesejaheraan sosial telah dilaksanakan oleh pemerintah Kota
Samarinda. Hal ini semata-mata ditujukan agar pemerintah Kota Samarinda dapat
menyejahterakan masyarakat dan menekan angka kemiskinan.
Sejak pandemi COVID-19 yang melanda tahun 2020, program bidang urusan
sosial diarahkan kepada pemberian bantuan sosial, baik untuk pasien COVID-19 dan
warga terdampak COVID-19. Bahkan bantuan sosial ini dilaksanakan secara terpadu
dengan berbagai sumber dana, mulai dari APBN hingga APBD. Tidak hanya itu,
mengingat pentingnya bantuan sosial ini, pemerintah menetapkan 3 program
penanganan COVID-19, yang mana salah satunya adalah jaring pengaman sosial (social
safety net).

a. Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)


Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) adalah seseorang atau
keluarga yang karena suatu hambatan, kesulitan atau gangguan tidak dapat
melaksanakan fungsi sosialnya dan karenanya tidak dapat menjalin hubungan yang

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-77


serasi dan kreatif dengan lingkungannya sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan
hidupnya (jasmani, rohani dan sosial) secara memadai dan wajar. Langkah strategis
pemerintah Kota Samarinda dalam menangani penyandang masalah kesejahteraan
sosial salah satunya adalah pemberian bantuan, yang tentunya dilakukan secara selektif
agar tepat sasaran. Perhatikan table berikut :

Tabel 2.69.
Presentase PMKS Tahun 2017-2021
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021


PMKS yg memperoleh
1 17.574 17.340 18.225
bantuan sosial
Jumlah PMKS yg seharusnya
2 23.787 - 14.922
menerima bantuan
Jumlah PMKS yg diberikan
3 2.947 1.501 1.501
bantuan
Sumber: Dinas Sosial Kota Samarinda

b. Keluarga Pra Sejahtera


Keluarga pra sejahtera yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan
dasarnya (basic needs) secara minimal, seperti kebutuhan akan pangan, sandang, papan,
kesehatan, dan pendidikan. Keberadaan keluarga pra sejahtera selalu menjadi perhatian
pemerintah Kota Samarinda, terutama dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasarnya.
Pemerintah Kota Samarinda terus berupaya meningkatkan kesejahteraan keluarga pra
sejahtera melalui bantuan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Hal ini ditujukan agar
angka kemiskinan tidak semakin bertambah, karena keluarga yang hampir miskin dapat
berpotensi jatuh ke kemiskinan apabila tidak ada langkah strategis pemerintah Kota
Samarinda.

Tabel 2.70.
Persentase Keluarga Pra Sejahtera Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020

1 Jumlah KK
2 Jumlah Pra Sejahtera 16.107 16.205 16.288 16.288
3 Persentase
Sumber : Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencanan Kota Samarinda tahun
2020

2.3.1.13 Perhubungan
Perubahan fisik Kota Samarinda tidak hanya dilakukan pada bidang pekerjaan
umum & penataan ruang serta bidang perumahan & permukiman, tetapi juga pada
bidang perhubungan. Bidang perhubungan menjadi sektor strategis karena berkaitan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-78


dengan kelancaran arus orang, barang dan jasa sebagai pendorong pertumbuhan
ekonomi serta potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Penyediaan sarana prasarana
perhubungan seperti bandara, terminal, pelabuhan hingga sarana prasarana jalan dan
lalu lintas seperti trotoar, traffic light, halte, marka jalan, dan sebagainya merupakan
langkah tepat untuk memperlancar arus orang, barang, dan jasa. Sedangkan potensi
PAD dapat dimaksimalkan dari pengelolaan parkir, pengelolaan uji KIR kendaraan, dan
sebagainya.

a. Jumlah Arus Penumpang


Sarana prasarana perhubungan yang representatif merupakan kebutuhan semua
orang untuk dapat berpindah dari suatu tempat ke tempat lain dengan lancar, aman dan
nyaman. Kenyamanan yang dirasakan oleh masyarakat akan memberikan efek positif
pada jumlah orang yang masuk ke Kota Samarinda dan memberikan efek pada
pertumbuhan ekonomi. Selain itu, tingginya jumlah kunjungan yang masuk ke Kota
Samarinda akan memberikan peningkatan pada PAD, yang artinya Kota Samarinda
memiliki sumber daya yang lebih banyak lagi untuk membiayai pembangunan.

Tabel 2.71.
Jumlah Arus Penumpang Tahun 2017-2021
Kota Samarinda
(orang)

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021

1 Penumpang Bus 22.566 11.751 11.582 4.502


57.496
2 Penumpang Kapal 115.617 128.523 76.934 11.588

3 Penumpang Pesawat 48.387 100.858 1.112.668 572.918 32.309


Sumber : - Dinas Perhubungan Kota Samarinda
- PT. Pelindo IV Cabang Samarinda
- Kantor Bandara APT. Pranoto

Sejak diresmikannya Bandara APT Pranoto pada tahun 2018 oleh Presiden Joko
Widodo, kunjungan orang yang keluar/masuk ke Kota Samarinda semakin meningkat.
Peningkatan tersebut sangat terasa pada tahun 2019, yang mana jumlah penumpang
mencapai 1.112.668 orang setelah sebelumnya hanya sebesar 100.858 orang pada tahun
2018. Namun pandemi COVID-19 tahun 2020 sangat mempengaruhi jumlah
penumpang keluar/masuk bandara, hal ini sebagai akibat dari kebijakan pemerintah
untuk memutus rantai penyebaran. Beberapa kebijakan dimaksud yaitu penutupan
bandara, larangan mudik pada saat lebaran, dan larangan melakukan perjalanan dinas
bagi ASN. Kebijakan ini menyebabkan penurunan drastis hampir 50% jumlah
penumpang keluar/masuk bandara menjadi 572.918 orang.
Tidak hanya melalui bandara atau pelabuhan udara, tingginya arus penumpang
juga turut ditentukan dengan transportasi bus dan kapal. Transportasi bus masih banyak
diminati oleh masyarakat baik di Kota Samarinda maupun diluar Kota Samarinda,

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-79


terutama dalam provinsi Kalimantan Timur. Masih ditemukannya kabupaten/kota di
Kaltim yang harus ditempuh dalam waktu paling sedikit 2 jam dari Kota Samarinda yaitu
Kota Balikpapan dan Kabupaten Kutai Kartanegara serta paling jauh 14 jam yaitu
Kabupaten Berau, membuat transportasi massal seperti bus masih diperlukan. Tidak
mengherankan apabila jumlah penumpang bus yang keluar/masuk dari 7 terminal
masih mencapai 4.502 orang pada tahun 2020 meskipun dalam kondisi pandemi
COVID-19. Selain bus, transportasi kapal pun masih menjadi primadona terutama bagi
masyarakat yang akan berkunjung ke Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Mahakam
Ulu, atau sebaliknya, meskipun dapat pula ditempuh dengan jalur darat. Tidak hanya
melayani dalam Provinsi Kaltim, transportasi kapal yang melalui pelabuhan penumpang
di Kota Samarinda juga melayani rute Samarinda – Pare-pare menggunakan kapal
dengan kapasitas ratusan penumpang. Sehingga wajar apabila pada tahun 2020 jumlah
penumpang kapal masih mencapai 57.496 orang, meskipun pada tahun 2018 sempat
menyentuh angka 128.523 orang.

Tabel 2.72.
Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bus Kota Samarinda
Tahun 2017-2021
(unit)

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021


1 Jumlah Pelabuhan ASDP
2 Jumlah Pelabuhan Udara 1 1 1 1 1
3 Jumlah Terminal Bus 7 7 7 7 7
Jumlah 8 8 8 8 8

b. Jumlah Kecelakaan
Pertumbuhan ekonomi Kota Samarinda semakin meningkat setiap tahun. Hal ini
ditandai dengan semakin tingginya jumlah penduduk yang saat ini mencapai 886.806
jiwa. Jumlah penduduk tersebut tentunya akan menyebabkan pergerakan orang yang
tinggi setiap harinya, sehingga pemerintah Kota Samarinda perlu menjamin
kenyamanan dan keamanan mereka dalam berkendara. Kenyamanan dan keamanan
dalam berkendara merupakan salah satu tujuan dalam penyediaan sarana prasarana
jalan dan lalu lintas seperti Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU), traffic light, marka
jalan, median jalan dan trotoar, bahkan penempatan CCTV. Kenyamanan dan keamanan
tersebut dapat dikatakan tercapai apabila angka kecelakaan lalu lintas dapat
diminimalkan.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-80


Tabel 2.73.
Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020


Jumlah
1 171 143 109 64
Kecelakaan (kali)
2 Korban (orang) 215 214 165 97
Meninggal
41 53 48 27
(orang)
Luka Berat
49 85 49 24
(orang)
Luka ringan
125 76 68 46
(orang)
Kerugian Rp. Rp. Rp. Rp.
3
material 618.900.000 575.650.000 338.600.000 145.900.000
Sumber : Kepolisian Resor Kota Samarinda

Angka kecelakaan lalu lintas di Kota Samarinda semakin menurun, dari 171 kasus
pada tahun 2017 menjadi 64 kasus pada tahun 2020. Penurunan angka kecelakaan lalu
lintas tersebut juga menurunkan jumlah korban dan kerugian material. Jumlah korban
kecelakaan pada tahun 2017 sebesar 215 orang dengan kerugian Rp. 618,9 juta,
kemudian pada tahun 2020 menjadi 97 orang dengan kerugian Rp. 145,9 juta.
Penurunan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan bidang perhubungan di Kota
Samarinda telah menunjukkan hasil yang positif. Selain itu, penurunan ini juga sebagai
bukti nyata bahwa program pemerintah #dirumahsaja dalam memutus rantai
penyebaran COVID-19 secara tidak langsung turut menekan angka kecelakaan lalu
lintas.

c. Persentase Uji KIR


Dalam mewujudkan kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat dalam
melakukan mobilitas, maka diperlukan sarana transportasi yang layak dan memadai.
Tingginya kecelakaan dapat disebabkan oleh kondisi kendaraan yang tidak memenuhi
standar, yang berarti kendaraan tersebut dapat mengganggu keamanan pengguna jalan
yang lain. Selain itu, kondisi kendaraan yang tidak memenuhi standar juga dapat
memberikan ketidaknyamanan pengguna jalan, seperti gangguan polusi udara maupun
kebisingan suara kendaraan. Oleh karena itu untuk kenyamanan dan keamanan para
pengguna jalan, maka kondisi alat transportasi khususnya transportasi umum harus
telah memenuhi uji KIR.

Tabel 2.74.
Jumlah Uji KIR Angkutan Umum Tahun 2018-2020
Kota Samarinda
(unit)

No Uraian 2018 2019 2020

1 Mobil Penumpang Umum


Jumlah 704 490 209
Jumlah KIR 704 490 154

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-81


No Uraian 2018 2019 2020

Persentase 100 100 74


2Mobil Bus
Jumlah 604 687 313
Jumlah KIR 490 668 268
Persentase 81 97 86
3 Mobil barang
Jumlah 32.502 31.771 13.866
Jumlah KIR
Persentase
Sumber : Dinas Perhubungan Kota Samarinda

Pada tahun 2018 sebanyak 704 mobil penumpang umum semuanya telah
melewati uji KIR dengan persentase sebesar 100%. Sedangkan dari 604 mobil bus yang
harus uji KIR, yang menjalani uji hanya 490 unit atau sebesar 81%. Adapun pada tahun
2020 209 mobil penumpang umum yang harus uji KIR, hanya 154 yang telah melakukan
uji atau 74%. Sedangkan mobil bus yang harus uji KIR sebanyak 313 unit, namun yang
menjalani uji sebanyak 86%. Hal ini tentunya menjadi PR bagi pemerintah Kota
Samarinda untuk terus mendorong transportasi umum agar melakukan uji KIR sesuai
jadwal, sehingga kenyamanan dan keamanan pengguna lalu lintas dapat tercapai.

2.3.1.14 Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah


Koperasi, usaha kecil dan menengah merupakan bidang yang strategis,
mengingat Kota Samarinda dikenal sebagai kota jasa dan perdagangan. Pertumbuhan
penduduk di Kota Samarinda turut memberi andil dalam tumbuh dan berkembangnya
koperasi, usaha kecil dan menengah, karena semakin tinggi jumlah penduduk maka
permintaan atas barang dan jasa juga semakin tinggi. Sehingga perlu dipenuhi dengan
peningkatan jumlah usaha jasa dan perdagangan untuk memenuhi permintaan tersebut.
Tidak hanya itu, koperasi, usaha kecil dan menengah merupakan bidang usaha yang
dapat dikatakan stabil, tidak padat modal, dan bersifat dinamis, dalam artian sangat
mudah menyesuaikan kondisi ekonomi di daerah, sehingga pertumbuhannya juga
sangat pesat.
Meskipun pesat, keberadaan koperasi serta usaha kecil dan menengah tidak bisa
dilepas begitu saja. Pemerintah selaku pelaksana pembangunan harus memperhatikan
keberlangsungan koperasi serta usaha kecil dan menengah, baik dari sisi permodalan,
pengemasan, pemasaran, dan lain-lain. Sehingga pertumbuhan pesat ini tidak bersifat
sementara, namun kokoh dan dapat bersaing.

a. Perkembangan Koperasi
Pembangunan koperasi di arahkan untuk mewujudkan ekonomi kerakyatan yang
tujuan akhirnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Koperasi adalah
sebuah organisasi ekonomi yang dimiliki dan dioperasikan oleh orang-seorang demi
kepentingan bersama. Koperasi melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip Gerakan
ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-82


Perekonomian Kota Samarinda yang konsisten dan tumbuh positif
memperlihatkan bahwa sektor jasa dan perdagangan mampu bertahan di tengah
penurunan ekonomi global. Salah satu sektor perdagangan yang menopang adalah
koperasi, sehingga pengembangan koperasi di Kota Samarinda terus di galakkan.
Pengembangan koperasi di Kota Samarinda diarahkan untuk mengangkat
perekonomian masyarakat kecil secara perlahan-lahan, sehingga dapat terwujud
ekonomi kerakyatan.

Tabel 2.75.
Persentase Koperasi Aktif Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020


1. Jumlah Koperasi Aktif 841 680 287 305
2. Jumlah Koperasi 1.231 1.256 1,301 1.301
3. Persentase Koperasi Aktif 68,32 54,14 22,06 23,44
Sumber : Data diolah

Persentase koperasi aktif menjadi perhatian pemerintah Kota Samarinda. Pada


tahun 2017 persentase koperasi aktif berada pada angka 68,32%, kemudian pada tahun
2018 menjadi 54,14% dan menurun lagi pada tahun 2020 menjadi 23,44%. Melihat tren
ini, maka perlu adanya pendataan dan pembinaan lebih intens agar persentase koperasi
aktif di Kota Samarinda semakin meningkat.

b. Perkembangan UMKM
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu unggulan
dalam pembangunan Kota Samarinda yang berbasis jasa dan perdagangan. UMKM
menjadi usaha primadona bagi masyarakat Kota Samarinda, dikarenakan tidak padat
modal dan tidak membutuhkan SDM yang banyak untuk memulai usahanya, terutama
usaha mikro dan kecil. Apalagi dengan semakin banyaknya aplikasi startup dan
maraknya penggunaan media sosial, yang mendorong UMKM mulai tumbuh dan
berkembang melalui sistem jual beli online. Hal ini berdampak positif, karena dengan
semakin tingginya minat masyarakat untuk berwirausaha melalui UMKM, maka
ekonomi kerakyatan di Kota Samarinda dapat terwujud. Namun apabila
pertumbuhannya tidak dikendalikan oleh pemerintah Kota Samarinda, maka secara
perlahan berpotensi melanggar tata ruang.

Tabel 2.76.
Jumlah UMKM Tahun 2017-2019
Kota Samarinda
(unit)

No Uraian 2017 2018 2019


1. USAHA MIKRO
UMKM Bidang Kuliner 19.885 20.665 21.533

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-83


No Uraian 2017 2018 2019
UMKM Bidang Fashion 14.276 14.726 15.344
UNKM Bidang Pendidikan 1.473 1.473 1.535
UMKM Bidang Otomotif 9.105 9.112 9.495
UMKM Bidang Agrobisnis 1.973 1.983 2.066
UMKM Bidang Teknologi
1.456 1.456 1.517
Internet
UMKM Bidang Lainnya 8.037 9.319 9.711
JUMLAH 56.203 58.732 61.201
2. USAHA KECIL
UMKM Bidang Kuliner 8.522 8.603 8.785
UMKM Bidang Fashion 6.118 6.170 6.119
UNKM Bidang Pendidikan 631 631 644
UMKM Bidang Otomotif 3.902 3.904 3.986
UMKM Bidang Agrobisnis 845 847 865
UMKM Bidang Teknologi
624 624 637
Internet
UMKM Bidang Lainnya 3.444 3.789 3.868
JUMLAH 24.087 24.569 25.084
3. USAHA MENENGAH
UMKM Bidang Kuliner 1.211 1.223 1.240
UMKM Bidang Fashion 869 874 886
UNKM Bidang Pendidikan 90 90 91
UMKM Bidang Otomotif 555 555 563
UMKM Bidang Agrobisnis 120 120 122
UMKM Bidang Teknologi
89 89 90
Internet
UMKM Bidang Lainnya 489 516 522
JUMLAH 3.423 3.467 3.514
TOTAL KESELURUHAN
83.713 86.768 89.799
UMKM
Sumber : Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kota Samarinda

Secara keseluruhan, jumlah UMKM di Kota Samarinda terus bertambah dari


83.712 unit menjadi 89.799 unit pada kurun waktu 2017-2019, atau tumbuh sebesar
3,49%. Usaha mikro merupakan jenis usaha yang paling diminati, terlihat dari
jumlahnya yang mencapai 61.201 atau hampir 70% dari seluruh UMKM, sedangkan
usaha kecil hanya 25.084 unit dan usaha menengah 3.514 unit. Tidak hanya itu, pada
tahun 2019 usaha mikro menjadi jenis usaha dengan pertumbuhan tertinggi yaitu
sebesar 4,20%, jauh diatas usaha kecil 2,09% dan usaha menengah 1,36%.
Adapun bidang yang paling banyak di minati dalam UMKM secara berturut-turut
yaitu bidang kuliner, bidang fashion dan bidang otomotif. Khusus bidang kuliner sendiri
mencapai 31.588 unit atau 35,14% dari seluruh UMKM, sedangkan sisanya terbagi
dalam bidang fashion, pendidikan, otomotif, agrobisnis, teknologi internet, dan lainnya.
Data ini menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk berwirausaha dalam UMKM
sangat tinggi, sehingga pemerintah Kota Samarinda perlu melakukan pembinaan dan
pengembangan agar usaha tersebut mampu berjalan kontinu, konsisten, dan mampu
beradaptasi terhadap perubahan.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-84


2.3.1.15 Penanaman Modal
Kemajuan Kota Samarinda tidak dapat dipisahkan dari tingginya jumlah
penduduk. Jumlah penduduk yang terus meningkat menyebabkan semakin tingginya
permintaan akan barang dan jasa, sehingga harus dapat terpenuhi dengan peningkatan
penawaran. Situasi inilah yang berhasil dijawab oleh pemerintah Kota Samarinda,
dimulai dengan penyediaan sarana prasarana perkotaan untuk memberikan
kenyamanan kepada masyarakat serta memperbaiki fisik kota agar nyaman dihuni.
Kondisi tersebut membuat berbagai investasi baik Penanaman Modal Asing (PMA)
maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) secara perlahan masuk ke Kota
Samarinda, mulai dari pusat perbelanjaan, pendidikan, kesehatan, jasa, dan banyak
sektor penting lainnya. Investasi yang tinggi tentunya akan menghadirkan lapangan
pekerjaan yang luas, yang diharapkan dapat menyerap tenaga kerja lokal sangat banyak.
Penyerapan tenaga kerja yang besar akan menekan angka pengangguran dan
meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga kesejahteraan akan meningkat dan angka
kemiskinan akan menurun.

Tabel 2.77.
Realisasi Investasi Tahun 2017-2020
Kota Samarinda
(Juta Rupiah)

No Uraian 2017 2018 2019 2020


1 PMA 2.731.324 7.130.992 913.613
2 PMDN 1.634.722 48.514.537 232.563.833 1.183.387
Jumlah 4.366.046 55.645.529 233.477.448
Sumber: Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Samarinda

Pada tahun 2019 realisasi investasi PMDN mencapai Rp. 233,47 triyun, dan
merupakan angka tertinggi dalam kurun waktu 2017-2021. Sedangkan PMA mencapai
Rp. 913,61 milyar, merupakan angka terendah dalam kurun waktu 2017-2021. Realisasi
PMDN tertinggi berasal dari sektor tersier (service/jasa), sesuai dengan perekonomian
Kota Samarinda yang didominasi oleh sektor tersebut. Dominasi sektor tersier dalam
perekonomian Kota Samarinda menjadi keunggulan tersendiri, karena meskipun
terjadinya penurunan ekonomi global, Kota Samarinda masih mampu tumbuh secara
positif meskipun dalam persentase yang kecil. Oleh karena itu, Kota Samarinda yang
dikenal sebagai kota jasa dan perdagangan terus mengupayakan pembangunan disemua
sektor, agar investasi terus meningkat setiap tahun.

2.3.1.16 Kebudayaan
Pembangunan bidang kebudayaan tidak hanya diarahkan pada melestarikan
peninggalan leluhur, tetapi melestarikan sesuatu yang mampu mengingatkan kembali
perilaku-perilaku luhur khas negara Indonesia yang saat ini sudah mulai ditinggalkan
karena kemajuan zaman. Dalam kebudayaan terdapat nilai-nilai yang diajarkan oleh

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-85


leluhur kepada manusia, bahkan dapat menjadi pedoman hidup manusia. Oleh karena
itu pembangunan kebudayaan terus ditingkatkan.
Fokus pembangunan bidang kebudayaan mulai dilakukan oleh pemerintah Kota
Samarinda sejak terbentuknya Dinas Kebudayaan pada tahun 2017. Meskipun bidang
kebudayaan pernah berada di Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan, namun dapat
dikatakan pembangunannya tidak tersentuh maksimal, karena tidak adanya
pengembangan peninggalan kebudayaan yang bernilai sejarah dan berpotensi jadi objek
wisata. Oleh karena itu semua hal yang terkait dengan pelestarian kebudayaan baik
benda sejarah, kehidupan masyarakat adat, kesenian, dan sarana prasarana
pendukungnya mulai dibangun secara maksimal sebagai bentuk perhatian pemerintah
Kota Samarinda.

Tabel 2.78.
Sarana Dan Prasarana Seni Budaya Tahun 2017-2020
Kota Samarinda
(unit)

No Uraian 2017 2018 2019 2020


1 Jumlah Sanggar Kesenian 59 69 25 25
2 Jumlah Gedung Kesenian 1 1 1 1
3 Jumlah Museum 0 0 1 1
Jumlah Pusat Kebudayaan/
4 0 0 1 1
Taman Budaya
Sumber : Dinas Kebudayaan Kota Samarinda

Tabel 2.79.
Perkembangan Seni dan Budaya Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020

1 Jumlah penduduk (jiwa) 843.446 858.931 872.768 886.806


Jumlah grup kesenian per
2 0,7 0,8 0,3 0,3
10.000 penduduk. (grup)
Jumlah gedung kesenian per
3 - - 0,01 0,01
10.000 penduduk. (unit)
Sumber : Dinas Kebudayaan Kota Samarinda

Pagelaran grup kesenian di Kota Samarinda tergolong ramai, meskipun peran


pemerintah masih minim. Namun secara perlahan jumlah grup kesenian semakin
berkurang, dari 57 grup pada tahun 2016 menjadi 25 grup pada tahun 2020. Hal ini
menandakan bahwa meskipun pagelaran masih ramai dilakukan, tapi untuk
mempertahankan eksistensinya maka dibutuhkan peran pemerintah. Peran pemerintah
Kota Samarinda yang bisa dilakukan antara lain memfasilitasi jadwal pagelaran,
menyediakan tempat pagelaran, dan memfasilitasi promosinya, sehingga pagelaran
tersebut dapat memberikan multiplier effect kepada masyarakat. Berdasarkan jumlah
yang ada maka rasio grup kesenian per 10.000 penduduk hanya 0,3, yang artinya butuh

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-86


peran pemerintah untuk lebih giat memfasilitasi grup kesenian sehingga eksistensinya
tetap ada. Selain grup kesenian, pemerintah Kota Samarinda juga membangun museum
Samarendah yang dibangun bersamaan dengan Taman Samarendah sebagai bentuk
kepedulian terhadap barang-barang peninggalan sejarah. Museum Samarendah juga
digunakan sebagai tempat pagelaran seni baik lokal maupun modern, bahkan beberapa
acara pemerintahan pun dilakukan di museum ini.
Pemerintah Kota Samarinda tidak hanya menginventarisasi grup kesenian dan
membangun sarana prasarana seni budaya, namun juga menginventarisasi 39 bangunan
dan situs cagar budaya yang ada di Kota Samarinda melalui Dinas Kebudayaan.
Beberapa diantaranya terdapat cagar budaya yang menunjukkan keragaman dan
kekhasan di Kota Samarinda yang telah ada sejak dulu, yaitu Masjid Tua Shiratal
Mustaqiem berusia 137 tahun, Klenteng Thian Le Kong dan Desa Budaya Pampang.
Selain itu ada pula cagar budaya yang menunjukkan perjalanan sejarah Kota Samarinda,
yaitu Makam Tua Daeng Mangkona dan Rumah Tua.

Tabel 2.80.
Bangunan & Situs Cagar Budaya Tahun 2017-2021
Kota Samarinda

No Bangunan & Situs Deskripsi


Terbuat dari kertas, dalam kondisi baik, tetapi
rapuh disimpan dalam kotak kaca agar terlindungi.
Perkiraan usia dari Al-qur’an ini adalah 298 tahun.
AL-QURAN TUA, TULIS
1 Dimiliki oleh swasta (yayasan/perorangan) di
TANGAN
Masjid Shiratal Mustaqiem Jalan Pangeran
Bendahara RT. 07 No. 20 Kecamatan Samarinda
Seberang
Terbuat dari kayu Ulin dengan cat warna hijau dan
les warna kuning yang diperkirakan telah berusia
MIMBAR MASJID TUA, 137 tahun. Dimiliki oleh swasta
2
KAYU ULIN (yayasan/perorangan) di Masjid Shiratal Mustaqiem
Jalan Pangeran Bendahara RT. 07 No. 20
Kecamatan Samarinda Seberang
Terbuat dari Besi bentuk Kotak dengan cat warna
hijau. Dimiliki oleh swasta (yayasan/perorangan) di
Masjid Shiratal Mustaqiem Jalan Pangeran
3 KOTAK INFAQ BESI
Bendahara RT. 07 No. 20 Kecamatan Samarinda
Seberang. Perkiraan usia dari kotak infaq ini adalah
137 tahun.
Berupa bangunan Masjid dilengkapi sebuah menara
MASJID TUA SHIRATAL setinggi 21 meter yang berdiri sejak 137 tahun lalu.
4
MUSTAQIEM Masjid ini beralamat di Jalan Pangeran Bendahara
RT. 07 No.20 Kecamatan Samarinda Seberang.
Berupa bangunan Rumah panggung dengan desain
adat Bugis. Rumah tua ini dimiliki oleh Pemerintah
5 RUMAH TUA Kota Samarinda sejak 21 November 2015 dan
beralamat di Jalan Pangeran Bendahara RT. 03
Kecamatan Samarinda
Berupa bangunan bergaya Banjar, bahan Ulin dgn
6 VILLA ANIE
hiasan khas banjar di bagian atap rumah
KLENTENG THIAN LE Berupa bangunan dengan struktur tanpa paku, dicat
7
KONG merah sesuai dengan ciri bangunan Tionghoa
MAKAM TUA DAENG Berupa komplek dari beberapa makam, dengan
8
MANGKONA nisan terbuat dari kayu Ulin
MAKAM TUA TENTARA Makam terbuat dari beton dengan ciri khas kolonial
9
BELANDA yaitu memakai campuran kerikil sebagai material

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-87


No Bangunan & Situs Deskripsi
Makam terbuat dari beton dengan aksara Jepang
10 MAKAM TENTARA JEPANG
pada bagian depannya
TUGU PERJUANGAN Tugu ini diusulkan menjadi CB agar tetap terjaga
11
PERTEMPURAN PERTAMA sebagai pengetahuan di masa depan
TUGU KEBANGUNAN Tugu berbentuk tabung setinggi 4,5 mtr, dengan
12
NASIONAL bagian atas berbentuk api
Merupakan sebuah desa budaya yang didiami
mayoritas suku dayak Kenyah, dengan rumah
13 DESA BUDAYA PAMPANG
berornamen dayan dan lamin adat pemung tawai
sebagai pusat kegiatan budayanya
Merupakan sebuah kampung yang hampir semua
KAMPUNG TENAN SARUNG
14 warganya berprofesi sebagai pengrajin sarung tenun
SAMARINDA
Samarinda secara turun temurun
15 DESA BUDAYA LOA BAHU Belum Ada Pendataan
Merupakan Desa budaya yang didiami dayak
Benuaq dengan sebuah lamin adat yang dipakai
16 DESA BUDAYA BENANGA
untuk acara tepung tawar, adat kwang kay,
blontang, dll
Terbuat dari bahan kayu ulin dengan gambar
KALENDER KUNO DAYAK
17 simbol-simbol yang masing-masing memiliki makna
BAHAU
tertentu
Bangunan dari jaman kolonial belanda yang saat ini
18 GEDUNG SMPN 21 (EX. ST)
dipergunakan sebagai gedung sekolah
GEDUNG DI KOMPLEK RS. Bangunan dari jaman kolonial belanda yang saat ini
19
DIRGAHAYU dipergunakan sebagai Rumah Sakit & Gereja
GEDUNG DI KOMPLEK RS. Bangunan dari jaman kolonial belanda yang saat ini
20
ISLAM dipergunakan sebagai Rumah Sakit
RUMAH TUA DI PINGGIR Berupa bangunan Rumah bergaya Banjar, bahan
21
SUNGAI KARANG MUMUS Ulin dgn hiasan khas Banjar di bagian atap rumah
Bangunan dari jaman kolonial belanda yang saat ini
22 RUMAH TUA MILONO
dipergunakan sebagai Perkantoran
Bangunan Tua yang saat ini dipergunakan sebagai
23 GEDUNG BALAIKOTA LAMA
Perkantoran
Penampungan air di komplek PDAM Samarinda,
24 PDAM SAMARINDA
yang dulunya kolam rena jaman kolonial
KUMPULAN SENJATA DAN Sekumpulan senjata terbuat dari besi dengan
25 PUSAKA PASUKAN JOKA JE genggan dari kayu, yang dipakai sebagai
(LAGECONG) perlengkapan pasukan Joka Je
TOMBAK PUSAKA
26 Benda berupa tombak dari bahan besi dan kayu
PENINGGALAN MAJAPAHIT
MAKAM KERAMAT SYEKH Makam Tua yang dikeramatkan oleh masyarakat,
27 ABDUL GUFRON (WALI mempunyai sejarah yang berhubungan dengan
UKIR) - SUNGAI KERBAU Kerajaan Kutai
Benda berupa alat musik petik tradisional suku
28 SAPEQ/SAPE'/SAMPEQ dayak bahau sebagai bagian instrumen musik
pengiring tarian tradisional pedalaman
Benda berupa alat musik pukul tradisional suku
29 GONG/AGUNG/TAWAK dayak bahau sebagai bagian instrumen musik
pengiring tarian tradisional pedalaman
Benda berupa alat musik pukul tradisional suku
30 GENDANG/TUVUNG dayak bahau sebagai bagian instrumen musik
pengiring tarian tradisional pedalaman
Benda berbahan porselin yang bisa digunakan
31 GUCI/TAJAU
sebagai penampung air atau hiasan rumah
Benda berupa alat musik tradisional suku dayak
32 KKELDII'/KEDIREQ bahau sebagai bagian instrumen musik pengiring
tarian tradisional pedalaman
Benda berbahan besi dan kayu ulin, biasa dipakai
33 TOMBAK/BAKIL/BAKIR
untuk berburu binatang
RUMAH PEDAGANG Bangunan type panggung dengan bahan kayu ulin
34
SAMARINDA ILIR beratap sirap, dibangun pada tahun 1940
TUGU/PALAGAN LOKASI
Tugu ini diusulkan menjadi CB agar tetap terjaga
35 PERTEMPURAN TELUK
sebagai pengetahuan di masa depan
LERONG

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-88


No Bangunan & Situs Deskripsi
TUGU/PALAGAN LOKASI
Tugu ini diusulkan menjadi CB agar tetap terjaga
36 PERTEMPURAN
sebagai pengetahuan di masa depan
DAMANHURI
TUGU/PALAGAN LOKASI
Tugu ini diusulkan menjadi CB agar tetap terjaga
37 PERTEMPURAN KAMPUNG
sebagai pengetahuan di masa depan
PINANG
Saluran drainase berbentuk seperti sumur, dengan
saluran air yang disambung dari saluran
pengeluaran kolam renang dari parit sekitar kolam
renang. Diameter 85 cm dengan kedalaman 7 meter
SALURAN DRAINASE
dari permukaan tanah. Kondisi saat ini sangat
38 KOLAM RENANG JAMAN
terawat dengan fungsi yang masih baik. Saluran ini
BELANDA
mengalirkan air buangan sampai di keluarkan di
areal parit besar di kaki bukit, yang saat ini tepatnya
parit besar di depan kantor Markas PM (Polisi
Militer) di Jalan Awang Long Samarinda
Menara Sirine terbuat dari kayu ulin dengan tinggi
menara sekitar 7 meter dan berbentuk kerucut.
Menara sirine jaman belanda awalnya berfungsi
untuk memberi peringatan kalau ada serangan dari
39 MENARA SIRENA BELANDA
musuh, tetapi seiring dengan waktu pada masa
kemerdekaan menara sirene berfungsi untuk
memberi informasi kepada masyarakat kota
Samarinda sebagai tanda adanya kebakaran dll.
Sumber : Dinas Kebudayaan Kota Samarinda

2.3.1.17 Perpustakaan
Meningkatkan daya saing SDM tidak bisa ditempuh hanya melalui pendidikan
formal dan non formal, namun perlu dukungan berbagai sarana prasarana, dalam hal ini
perpustakaan. Lebih jauh lagi, keberadaan perpustakaan juga ditujukan untuk
meningkatkan minat baca, sehingga masyarakat dapat memiliki wawasan dan
pengetahuan yang luas, dan pada akhirnya daya saing pun meningkat. Peningkatan daya
saing itulah yang nantinya menjadi cikal bakal negara maju dan sejahtera.
Pembangunan bidang perpustakaan saat ini dilakukan dengan mengikuti
perkembangan zaman. Kemajuan teknologi secara global dan maraknya penggunaan
smartphone di Kota Samarinda membuat masyarakat lebih senang mengakses dan
membaca media atau buku secara online, yang menyebabkan kunjungan ke
perpustakaan menjadi menurun. Hal inilah yang menjadi factor pendorong
dikembangkannya perpustakaan online yang berisikan buku dan media elektronik.

Tabel 2.81.
Koleksi Buku Perpustakaan Tahun 2017-2021
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021


1 Jumlah Perpustakaan (unit) 479 454 458 459 459
Jumlah Orang Dalam Populasi
2 Yang Harus Dilayani (10-58 635.804 646.909 646.909 646.909
Tahun)
Jumlah Koleksi Judul Buku
3 Yang Tersedia Di Perpustakaan 226.917 294.655 298.808 299.427 299.427
Daerah
Sumber : Dinas Perpustakaan Kota Samarinda

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-89


Tabel 2.82.
Jumlah Pengunjung Perpustakaan Tahun 2017-2021
Kota Samarinda
(kunjungan)

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021


Jumlah kunjungan ke
1 568.688 859.220 859.666 80.724
Perpustakaan selama 1 th
Sumber : Dinas Perpustakaan Kota Samarinda

Penguatan perpustakaan di Kota Samarinda khususnya perpustakaan daerah


dilakukan secara bertahap, yaitu dimulai dengan pengelolaan koleksi judul buku sampai
rehabilitasi fisik gedung perpustakaan yang kesemuanya ditujukan agar terjadi
peningkatan jumlah pengunjung. Koleksi judul buku di perpustakaan daerah Kota
Samarinda terus ditingkatkan, pada tahun 2017 mencapai 226.917 judul yang kemudian
menjadi 299.427 judul pada tahun 2020. Adapun populasi yang harus dilayani setiap
tahun bertambah dari 635.804 orang tahun 2017 menjadi 646.909 orang pada tahun
2020.
Peningkatan pada jumlah koleksi judul buku berbanding lurus dengan jumlah
pengunjung perpustakaan daerah. Jumlah pengunjung mengalami peningkatan dari
568.688 kunjungan pada tahun 2017 menjadi 859.666 kunjungan pada tahun 2019,
meskipun di tahun 2020 hanya mencapai 80.724 kunjungan sebagai dampak pandemi
COVID-19. Melihat perkembangan data tersebut, pemerintah Kota Samarinda terus
menggalakkan minat baca masyarakat baik dengan kunjungan ke perpustakaan daerah
maupun secara online. Pemerintah Kota Samarinda pun harus terus melakukan
pembaharuan koleksi judul buku menyesuaikan perkembangan zaman dan kebutuhan
pendidikan formal, agar perpustakaan daerah menjadi rujukan bagi siswa maupun
mahasiswa untuk memperoleh referensi belajar.

2.3.1.18 Kearsipan
Dalam rangka penyelenggaraan reformasi birokrasi, maka melalui Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah urusan Kearsipan
diletakkan dalam urusan wajib bukan pelayanan dasar. Status wajib terhadap urusan
kearsipan ini ditetapkan karena fungsi arsip termasuk kebutuhan dasar dalam hal
pelayanan, baik pelayanan untuk masyarakat maupun pelayanan bagi kelancaran urusan
internal pemerintah daerah maupun masing-masing Organisasi Perangkat Daerah
(OPD). Arsip harus dikelola dan diselamatkan oleh negara, karena mampu
menggambarkan identitas dan jati diri bangsa, serta sebagai memori, acuan, dan bahan
pertanggungjawaban dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-90


Tabel 2.83.
Perkembangan Pengelolaan Kearsipan Tahun 2017-2021
Kota Samarinda
(unit)

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021


Jumlah SKPD yang telah
1 25 25 8 1 11
menerapkan arsip secara baku
2 Jumlah SKPD 46 47 47 47 47
Persentase SKPD yang 2,13
3 54,35 53,19 17,02 23,40
menerapkan arsip secara baku
Sumber : Dinas Kearsipan Kota Samarinda

Pembangunan bidang kearsipan di Kota Samarinda cenderung lambat,


mengingat pelaksanaannya baru difokuskan sejak tahun 2017 dengan terbentuknya
Dinas Kearsipan Kota Samarinda. Sebelum terbentuknya dinas tersebut, program dan
kegiatan bidang kearsipan dilaksanakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan,
sehingga alokasi anggaran terbagi bersama pengembangan perpustakaan. Namun sejak
terbentuknya Dinas Kearsipan, pemerintah Kota Samarinda telah melakukan
pembinaan terhadap 47 OPD untuk dapat menerapkan arsip secara baku. Selanjutnya
setelah melakukan pembinaan, maka dilakukan pemantauan untuk memastikan bahwa
OPD yang dibina mampu menerapkan arsip secara baku. Adapun hasilnya yaitu 11 OPD
atau 23,40% yang mampu menerapkan arsip secara baku. Persentase tersebut tidak
mungkin dapat dicapai apabila tidak didukung dengan penyediaan tenaga arsiparis.
Sampai tahun 2020 pemerintah Kota Samarinda telah memiliki 6 orang arsiparis, yang
terdiri atas 3 orang arsiparis tingkat terampil, 1 orang arsiparis tingkat mahir, dan 2
orang arsiparis tingkat pertama.

2.3.2 Fokus Layanan Urusan Pilihan


2.3.2.1 Kelautan dan Perikanan
Kota Samarinda tumbuh dan berkembang secara ekonomi karena didominasi
oleh sektor tersier, yang didalamnya ada jasa dan perdagangan. Sementara sektor primer
yang didalamnya pertanian dalam arti luas, termasuk perikanan, hanya memberikan
kontribusi tidak sampai 3%. Namun bukan berarti pembangunan perikanan diabaikan,
mengingat Kota Samarinda setiap tahun mengalami peningkatan jumlah penduduk yang
tentunya berbanding lurus dengan peningkatan konsumsi ikan. Oleh karena itu
pembangunan bidang perikanan di Kota Samarinda tidak hanya ditujukan untuk nilai
ekonomis, namun juga untuk mendukung ketahanan pangan melalui program gerakan
makan ikan.
Komoditi perikanan yang menjadi primadona di Kota Samarinda yaitu ikan air
tawar khususnya ikan gabus, ikan nila, dan ikan mas, sehingga menjadi komoditi yang
dibudidayakan oleh masyarakat Kota Samarinda. Permintaan yang tinggi terhadap ikan
gabus, ikan nila dan ikan mas dikarenakan semakin banyaknya jumlah rumah makan di
Kota Samarinda yang menghadirkan menu ikan tersebut. Semakin banyaknya
permintaan terhadap ikan air tawar, membuat jumlah pembudidaya air tawar semakin

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-91


meningkat, mencapai 726 orang dengan jumlah produksi sebesar 860 ton pada tahun
2019, yang kemudian turun menjadi 706,6 ton di tahun 2020. Pembudidaya air tawar di
Kota Samarinda tersebar di seluruh kecamatan, dan yang paling banyak berada di
Palaran, Samarinda Utara, dan Sambutan.

Tabel 2.84.
Produksi Perikanan Budidaya Tahun 2017-2021
Kota Samarinda
(ton)

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021


1 Kolam 784 772,4 718 520,2 86,0
2 Keramba 142 137,8 142 186,4 33,4
Total 926 910,2 860 706,6 119,4
Sumber : Dinas Perikanan Kota Samarinda

Selain perikanan budidaya, perikanan tangkap pun memberikan hasil yang cukup
besar dan menunjukkan peningkatkan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2017 hasil
perikanan tangkap mencapai 18.748,6 ton, yang kemudian meningkat menjadi 24.405,6
ton tahun 2019 seiring dengan peningkatan pada produksi perikanan laut. Sementara
itu kondisi yang berbeda ditunjukkan pada tahun 2020, dikarenakan kondisi pandemi
COVID-19, pemerintah terpaksa mengeluarkan kebijakan menutup restoran maupun
tempat makan, sehingga membuat produksi perikanan tangkap menurun. Namun secara
keseluruhan, meskipun bukan menjadi sektor penting dalam perekonomian, tetapi
produksi perikanan baik tangkap maupun budidaya mampu bernilai secara ekonomis
dan memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Kota Samarinda, sehingga inflasi dapat
terkendali.

Tabel 2.85.
Produksi Perikanan Tangkap Tahun 2017-2021
Kota Samarinda
(Ton)

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021

1 Perikanan Umum 6.600,90 6.116,90 4.993,40 5.780,00 676,0


2 Perikanan Laut 12.145,70 15.550,30 19.412,20 13.218,40 3.317,2
Total 18.746,60 21.667,20 24.405,60 18.998,40 3.993,2
Sumber : Dinas Perikanan Kota Samarinda

2.3.2.2 Pertanian
Pembangunan pertanian berperan strategis dalam perekonomian nasional. Peran
strategis tersebut ditunjukkan oleh perannya dalam pembentukan kapital, penyediaan
bahan pangan, bahan baku industri, pakan dan bioenergy, penyerap tenaga kerja,
sumber devisa negara, dan sumber pendapatan, serta pelestarian lingkungan melalui

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-92


praktek usaha tani yang ramah lingkungan. Dalam hal penyediaan bahan pangan, maka
akan berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk, yang artinya semakin tinggi
jumlah penduduk maka kebutuhan bahan pangan akan semakin meningkat.
Bertambahnya jumlah penduduk di Kota Samarinda membuat peningkatan
permintaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, khususnya bahan
pangan. Sama halnya dengan perikanan, pembangunan bidang pertanian di Kota
Samarinda diarahkan untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi dan memenuhi
konsumsi masyarakat sebagai bentuk pelaksanaan ketahanan pangan. Apabila produksi
pertanian tidak cukup dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, maka harus
bekerjasama dengan daerah penghasil produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan di
daerah. Namun apabila terjadi keterlambatan pengiriman ataupun kegagalan panen,
maka akan terjadi kelangkaan stok di pasar yang menyebabkan inflasi.
Kota Samarinda pada saat ini masih dalam proses penetapan Perda tentang
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Cakupan lahan LP2B seluas 1.230.88
Ha dan untuk Lahan Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LCP2B) mencakup
760,267 Ha. Peraturan Daerah ini bertujuan untuk :
a. melindungi kawasan dan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan;
b. menjamin tersedianya lahan pertanian pangan secara berkelanjutan;
c. mewujudkan kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan;
d. melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik petani;
e. meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan petani dan masyarakat;
f. meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani;
g. meningkatkan penyediaan lapangan kerja bagi kehidupan yang layak;
h. mempertahankan keseimbangan ekologis; dan
i. mewujudkan revitalisasi pertanian.

Dalam rangka meningkatkan jumlah produksi, maka pemerintah Kota Samarinda


harus memaksimalkan luas tanam. Luas tanam pangan di Kota Samarinda tahun 2017-
2018 secara umum mengalami penurunan pada komoditi padi ladang, jagung, ketela
pohon, ketela rambat, dan kacang tanah, sementara komoditi yang mengalami
peningkatan hanya padi sawah dari 3.114 Ha menjadi 3.338,4 Ha. Melihat kondisi ini,
maka peningkatan luas tanam pada semua tanaman pangan harus menjadi perhatian
pemerintah Kota Samarinda, selain mendukung perekonomian masyarakat, juga
mendukung penyediaan pangan pengganti beras sebagai bagian program ketahanan
pangan.
Penurunan luas tanam ternyata tidak menyebabkan penurunan produktivitas, hal
ini terlihat dari produktivitas jagung, ketela rambat, dan kacang tanah. Jagung
mengalami peningkatan produktivitas dari 89 ton/ha menjadi 476 ton/ha, ketela rambat
dari 282 ton/ha menjadi 567 ton/ha, dan kacang tanah dari 43 ton/ha menjadi 57
ton/ha. Peningkatan ini menunjukkan bahwa dari luas tanam yang ada, pemerintah Kota
Samarinda bisa memaksimalkan kesuksesan panen, serta meminimalkan kegagalan.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-93


Tabel 2.86.
Luas Tanaman Pangan Tahun 2017-2018
Kota Samarinda
(Ha)

No Uraian 2017 2018

1 Padi Sawah 3.114,00 3.338,4

2 Padi Ladang 927,00 424,0

3 Jagung 121,60 119,3

4 Ketela Pohon 117,90 112,9

5 Ketela Rambat 36,20 9,9

6 Kacang Tanah 41,40 30,6

7 Kedelai - 1,4

8 Kacang Hijau
Sumber: Dinas Pertanian Kota Samarinda

Tabel 2.87.
Produksi Padi Sawah dan Ladang Kota Samarinda
Tahun 2017-2019
(Ton/Ha)

No Uraian 2017 2018 2019


1 Padi sawah/ladang 15.566 16.156 14.196
2 Jagung 89 476 707
3 Ketela Pohon 6.093 4.629 4.505
4 Ketela Rambat 282 567
5 Kacang Tanah 43 57
6 Kedelai 37 1 1
7 Kacang Hijau
Sumber: Dinas Pertanian Kota Samarinda, data diolah oleh Walidata
(data masi di cari di DDA)

2.3.2.3 Pariwisata
Kepariwisataan merupakan salah satu sektor yang patut diprioritaskan secara
nasional dan diarahkan kepada pariwisata berkelanjutan untuk mendukung Sustainable
Development Goals (SDGs). Pariwisata berkelanjutan menjadi penting mengingat
sektor pariwisata memiliki potensi untuk memberikan nilai tambah yang sangat tinggi,
sehingga kemajuannya mampu menggerakkan sektor lain di daerah serta mewujudkan
ekonomi kerakyatan. Melihat potensi yang teramat besar pada sektor kepariwisataan,
maka sudah saatnya daerah yang bergantung pada sumber daya alam baik terbarukan
atau tidak terbarukan untuk beralih secara perlahan ke pariwisata.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-94


Kota Samarinda yang telah dikenal sebagai kota jasa dan perdagangan tentunya
masih perlu memaksimalkan sektor pariwisata. Berbekal sebagai kota jasa dan
perdagangan, jumlah kunjungan ke Kota Samarinda tahun 2019 mencapai 1.251.575
orang yang terdiri atas mancanegara sebanyak 2.107 orang dan nusantara 1.249.468
orang. Kunjungan yang terjadi lebih disebabkan karena pertumbuhan investasi sektor
perdagangan, keberadaan pusat pemerintah Provinsi Kaltim, dan keberadaan jasa
pendidikan. Sehingga tidak mengherankan ketika awal pandemi COVID-19 yang
melanda pada tahun 2020 menyebabkan penurunan kunjungan wisatawan secara
drastis menjadi 283.809 kunjungan atau turun 77,32% dari tahun 2019. Oleh karena itu,
tahun 2021 menjadi awal Kota Samarinda untuk membuktikan ketangguhan daerah
dalam menghadapi COVID-19, dan kembali meningkatkan kunjungan wisatawan.

Tabel 2.88.
Data Kunjungan Wisatawan Tahun 2017-2021
Kota Samarinda
(orang)

No Uraian 2017 2018 2019 2020

1 Mancanegara 253 415 2.107 213


2 Nusantara 1.005.400 1.070.775 1.249.468 283.596
Jumlah 1.005.653 1.071.190 1.251.575 283.809
Sumber: Dinas Pariwisata Kota Samarinda

2.3.2.5 Perdagangan
Kota Samarinda yang telah dikenal sebagai kota jasa dan perdagangan tidak dapat
dipungkiri lagi sangat bergantung dengan nilai tambah yang diberikan sektor ini.
Pembangunan bidang perdagangan dapat menumbuhkan nilai tambah ekonomi pada
sektor lain dan mengendalikan perekonomian daerah, serta mampu mewujudkan
ekonomi kerakyatan. Bidang perdagangan mampu membuka akses antara permintaan
dan penawaran suatu barang dan jasa melalui pasar baik tradisional maupun modern.
Selain itu, perdagangan juga berperan dalam menjaga kestabilan stok pangan di
pasaran, sehingga harga tetap stabil dan inflasi dapat terkendali. Bidang perdagangan
juga mampu memberikan akses terhadap pemberdayaan masyarakat dalam aktivitas
ekonomi sebagai bentuk perwujudan ekonomi kerakyatan. Seluruh peran yang telah
dijalankan bidang perdagangan tersebut yang menjadi penopang perekonomian Kota
Samarinda ketika terjadi penurunan ekonomi global.
Perdagangan termasuk dalam 3 sektor besar yang mendominasi perekonomian
Kota Samarinda setelah konstruksi. Dalam kurun waktu 2017-2020, kontribusi
perdagangan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dari 16,02% pada tahun
2017 menjadi 17,09% pada tahun 2020. Laju pertumbuhan perdagangan pun terbilang
tinggi, yaitu 7,50% tahun 2017, 5,65% pada 2018 dan 1,84% tahun 2020 di saat kondisi
pandemi COVID-19. Peningkatan kontribusi perdagangan disertai laju pertumbuhan
yang tinggi semakin mempertegas Kota Samarinda sebagai kota jasa dan perdagangan.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-95


Tabel 2.89.
Distribusi dan Laju Pertumbuhan PDRB ADHK 2010 Sektor Perdagangan Tahun 2017-
2020 Kota Samarinda
(%)

No Uraian 2017 2018 2019 2020

1 Distribusi PDRB 16,02 16,03 16,37 17,09


2 Laju Pertumbuhan 7,50 5,79 5,36 1,84
Sumber: Samarinda dalam Angka 2020, Penyediaan Data Untuk Perencanaan

Tabel 2.90.
Jumlah Sarana Perdagangan Tahun 2017-2021
Kota Samarinda
(buah)

No Uraian 2017 2018 2019 2020 2021

1 Pasar Tradisional 28 24 25 25 25

2 Pasar Lokal 0 0 0 0 0

3 Pasar Regional 0 0 0 0 0
Pasar Swalayan /
4 15 14 14 17 17
Supermarket / Toserba
5 Hipermarket 7 7 7 7 7

6 Pasar Grosir 3 3 3 3 3

7 Mal/Plaza 6 6 6 6 6

8 Pertokoan/Warung/Kios 15.055 14.605 15.692 15.692 15.692


Sumber: Dinas Perdagangan Kota Samarinda

Tingginya kontribusi perdagangan dalam perekonomian tidak terlepas dari


kebijakan pemerintah Kota Samarinda untuk mengembangkan sarana perdagangan.
Sampai tahun 2020 di Kota Samarinda terdapat 15.750 sarana perdagangan, yang terdiri
atas pasar tradisional sebanyak 25 buah, pasar swalayan/supermarket/toserba 17 buah,
hypermarket 7 buah, pasar grosir 3 buah, mal/plaza 6 buah, dan pertokoan/warung/kios
15.692 buah. Pemerintah Kota Samarinda terus mengupayakan peningkatan pada
sarana perdagangan, sehingga perputaran uang di ibukota ini semakin besar, dan
perekonomian Kota Samarinda tetap tumbuh konsisten dan positif.

2.3.2.6 Perindustrian
Peran perindustrian di Kota Samarinda terus mengalami penurunan dalam
beberapa tahun terakhir. Kini perindustrian menjadi sektor urutan keempat yang
mendominasi perekonomian Kota Samarinda. Penurunan ini disebabkan karena
semakin rendahnya permintaan terhadap beberapa komoditi yang dahulu menjadi
andalan Kota Samarinda terutama dalam kelompok industri logam, mesin,
perekayasaan, dan elektronika serta industri hasil hutan. Pergeseran minat masyarakat
dari industri menjadi UMKM juga turut mendorong penurunan kontribusi

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-96


perindustrian, hal ini terlihat dengan semakin meningkatnya jumlah UMKM dan
semakin meningkatnya kontribusi perdagangan dalam perekonomian Kota Samarinda.
Pada tahun 2017 kontribusi industri pengolahan masih berada pada angka 8,08%,
sedangkan pada tahun 2020 menjadi 7,75%. Penurunan ini merupakan bukti bahwa
dominasi industri semakin menurun setiap tahun. Apabila ditinjau dari laju
pertumbuhannya, memperlihatkan kondisi yang sama, dari 1,83% tahun 2017 menjadi -
3,84% tahun 2020 yang merupakan tahun awal pandemi COVID-19. Penurunan
kontribusi dan laju pertumbuhan membuktikan bahwa terdapat sektor lain yang mampu
tumbuh konsisten dan lebih tinggi sehingga secara perlahan menggeser kontribusi
industri dalam perekonomian Kota Samarinda.

Tabel 2.91.
Distribusi dan Laju Pertumbuhan PDRB ADHK 2010 Sektor Industri Pengolahan Tahun
2017-2020 Kota Samarinda
(%)

No Uraian 2017 2018 2019 2020

1 Distribusi PDRB 8,08 7,87 7,70 7,75

2 Laju Pertumbuhan 1,83 3,31 3,97 -3,84


Sumber: Samarinda dalam Angka 2020, Penyediaan Data Untuk Perencanaan

Tabel 2.92.
Jenis Industri Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020

Agro Industri dan Aneka


1 Unit 340 351 626 729
Tenaga Kerja 3.233 3.409 1.123 4.509
Industri Logam, Mesin,
Perekayasaan, dan Elektronika
2 Unit 480 485 492 1099
Tenaga Kerja 6.093 6.293 7.155 7.497

Industri Hasil Hutan


3 Unit 480 485 492 544
Tenaga Kerja 4.179 4.231 4.245 4.623
Sumber:Dinas Perindustrian Kota Samarinda

Penurunan kontribusi industri dalam perekonomian justru tidak terlihat pada


jumlah industri yang ada di Kota Samarinda. Peningkatan jumlah industri beserta
penyerapan tenaga kerjanya terlihat dalam kurun waktu 2017-2020. Pada tahun 2017
jumlah industri mencapai 1.300 buah dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 13.505
orang, kemudian pada tahun 2020 meningkat menjadi 2.372 buah dan menyerap 16.629

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-97


orang tenaga kerja. Dari jumlah tersebut, industri logam, mesin, perekayasaan dan
elektronika paling mendominasi mencapai 46,33%. Data tersebut membuktikan bahwa
peningkatan jumlah industri dan penyerapan tenaga kerja dari sektor industri masih
belum mampu meningkatkan nilai tambah dari hasil diproduksi sektor ini, sehingga
jumlah tersebut belum mampu mendorong kontribusi sektor industri dalam
perekonomian Kota Samarinda. Sehingga kedepannya perlu dilakukan identifikasi
komoditi unggulan yang banyak diminati oleh masyarakat, dan mengarahkan sektor
industri kepada komoditi tersebut.

2.4 Aspek Daya Saing Daerah


Aspek daya saing menggambarkan sejauh mana daerah mampu bertahan atau
meningkatkan daya saing secara ekonomi, sosial, lingkungan, dan hukum & tata kelola
dengan daerah lain. Semakin tinggi daya saing sebuah daerah, maka semakin tinggi pula
kemampuan daerah tersebut untuk berkembang dan menyejahterakan masyarakatnya.
Kesejahteraan masyarakat merupakan tujuan pembangunan daerah, oleh karena itu
dengan daya saing yang tinggi juga akan menggambarkan keberhasilan program
pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah.

2.4.1 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita


Menyandang status sebagai ibukota Provinsi Kaltim, tentunya Kota Samarinda
sangat berpeluang untuk mengalami peningkatan jumlah penduduk terutama migrasi
dari luar daerah. Semakin tinggi jumlah penduduk, maka akan semakin tinggi konsumsi
akan barang dan jasa, yang artinya menjadi tugas pemerintah Kota Samarinda untuk
terus menjaga agar dapat terpenuhi secara seimbang. Karakteristik konsumsi penduduk
Kota Samarinda dapat tergambar dari pengeluaran per kapita. Pengeluaran per kapita
adalah biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi semua anggota rumah tangga selama
sebulan dibagi dengan banyaknya anggota rumah tangga. Komposisi pengeluaran rumah
tangga dapat dijadikan ukuran untuk menilai tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk,
makin rendah persentase pengeluaran untuk makanan terhadap total pengeluaran
makin membaik tingkat kesejahteraan.
Dalam kurun waktu 2017-2019, jenis pengeluaran penduduk Kota Samarinda
terbesar yaitu non makanan yang mencapai 58,29% pada tahun 2017 dan semakin
meningkat hingga mencapai 59,06% pada tahun 2019. Adapun rata-rata pengeluaran
per kapita per bulan di Kota Samarinda sebesar Rp. 1.766.863 pada tahun 2019,
mengalami peningkatan dari tahun 2017 yang saat itu masih berada pada Rp. 1.610.620.
Data tersebut menunjukkan adanya penurunan persentase pada makanan dan
peningkatan pada non makanan, yang artinya bahwa kesejahteraan penduduk di Kota
Samarinda semakin meningkat.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-98


Tabel 2.93.
Rata-rata Pengeluaran Per Kapita Tahun 2017-2020
Kota Samarinda
(Rp/bulan)

Jenis
No 2017 2018 2019 2020
Pengeluaran
Makanan 671.842 649 402 723 328 832.226
1
Persentase 41,71 42,12 40,94 43,00
Non makanan 938.778 892 353 1.043.535 1.103.403
2
Persentase 58,29 57,88 59,06 57,00
Jumlah 1.610.620 1.541.755 1.766.863 1.935.629
Sumber: Indikator Kesejahteraan Rakyat Kota Samarinda Tahun 2017

2.4.2 Rasio Ketergantungan


Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio) adalah perbandingan antara bukan
angkatan kerja, yaitu penduduk umur 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas, dibandingkan
dengan angkatan kerja, yaitu penduduk usia 15-64 tahun. Rasio ketergantungan
merupakan salah satu indikator demografi yang penting. Semakin tingginya persentase
rasio ketergantungan menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung
penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan
tidak produktif lagi. Sedangkan persentase rasio ketergantungan yang semakin rendah
menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif
untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.

Tabel 2.94.
Rasio Ketergantungan Tahun 2017-2020
Kota Samarinda

No Uraian 2017 2018 2019 2020

Jumlah penduduk usia < 15


1 218.125 219.005 219.845 203.133
tahun (jiwa)
Jumlah penduduk usia > 64
2 25.307 27.324 29.541 39.164
tahun (jiwa)
Jumlah penduduk usia
3 243.432 246.329 249.386 242.297
tidak produktif (1) & (2)
Jumlah penduduk usia 15-
4 600.014 611.751 623.322 585.697
64 tahun (jiwa)
Rasio ketergantungan
5 40,57 40,27 40,02 41,37
(3)/(4) kali 100 (%)
Sumber: Badan Pusat Statistik

Rasio ketergantungan di Kota Samarinda sangat fluktuatif tetapi berada di bawah


50%. Hal ini terjadi karena penurunan jumlah usia tidak produktif pada tahun 2018,
sedangkan usia produktif mengalami peningkatan saat itu. Pada tahun 2020 rasio
ketergantungan di Kota Samarinda sebesar 41,37% dimana terdapat usia produktif
sebanyak 585.697 jiwa dan usia tidak produktif sebanyak 242.297 jiwa. Angka sebesar
41,37% dapat di artikan bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif menanggung

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-99


(mempunyai tanggungan) sebanyak 41-42 orang usia belum produktif atau usia yang
tidak produktif lagi. Dapat dikatakan dengan semakin tingginya usia produktif dan
semakin rendahnya usia tidak produktif, maka rasio ketergantungan akan semakin
menurun, yang artinya produktivitas daerah dapat semakin meningkat dan masyarakat
semakin sejahtera serta perekonomian akan stabil.

2.4.3 Fokus Iklim Berinvestasi


Investasi adalah salah satu indikator vital dalam perekonomian nasional maupun
daerah. Kemampuan suatu daerah dalam menjalankan pembangunan sangatlah
tergantung dengan pendapatan daerah, namun pada kenyataannya kemampuan
tersebut memiliki keterbatasan. Investasi menjadi salah satu jawaban dalam mengatasi
keterbatasan pembiayaan pembangunan yang dimiliki oleh daerah. Tidak hanya itu,
investasi menjadi penting karena mampu mendorong masyarakat disuatu daerah
menjadi semakin sejahtera, dengan investasi yang masuk ke suatu daerah tentunya akan
semakin membuka lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja. Apabila seseorang telah
bekerja, maka tentunya akan semakin meningkatkan daya belinya terhadap barang dan
jasa, yang artinya kesejahteraannya meningkat. Dapat disimpulkan bahwa dengan
masuknya investasi ke suatu daerah, maka akan menekan angka pengangguran dan
kemiskinan, sehingga kesejahteraan masyarakat akan tercapai. Mengingat pentingnya
investasi, maka pemerintah Kota Samarinda terus mengupayakan kondusifitas di daerah
melalui angka kriminalitas dan kemudahan berusaha melalui lama proses perizinan
yang kesemuanya ditujukan agar pertumbuhan investasi semakin tinggi.

2.4.3.1 Angka Kriminalitas


Angka kriminalitas menunjukkan seberapa kondusifnya suatu daerah, sehingga
sangat erat kaitannya dengan investasi. Keamanan dan kondusifitas menjadi salah satu
pertimbangan para investor untuk menanamkan modalnya di suatu daerah.
Pertimbangan ini didasarkan atas keberlangsungan dan jangka waktu investasi hingga
menghasilkan keuntungan (profit) bagi investor. Melihat kondisi ini, maka pemerintah
Kota Samarinda bersama Kepolisian Resort Kota (Polresta) terus mengupayakan
penurunan angka kriminalitas yang terjadi di Kota Samarinda.
Angka kriminalitas di Kota Samarinda cenderung fluktuatif, bahkan pernah
menyentuh angka 840 kasus pada tahun 2018. Kemudian turun menjadi 557 kasus pada
tahun 2019, yang mana angka tersebut masih lebih tinggi dibanding tahun 2016 yang
hanya 301 kasus. Kasus narkoba dan pencurian merupakan 2 kasus yang paling sering
terjadi di Kota Samarinda selama kurun waktu 2017-2021. Hal ini tentunya menjadi
perhatian bersama mengingat kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan investor
untuk menanamkan modalnya di Kota Samarinda. Oleh karena itu pemerintah Kota
Samarinda bersama Polresta perlu untuk meningkatkan kewaspadaaan, terutama pada
titik-titik rawan kriminalitas, sehingga angka kriminalitas dapat semakin menurun.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-100


Tabel 2.95.
Angka Kriminalitas Tahun 2017-2021
Kota Samarinda

No Jenis Kriminal 2017 2018 2019 2020 2021


1 Jumlah kasus Narkoba 408 326 316 137 54
Jumlah kasus 5 3 1
2 14 1
Pembunuhan
3 Jumlah Kejahatan Seksual 11 27 22 7 8
Jumlah kasus 184 108 32
4 19 17
Penganiayaan
5 Jumlah kasus Pencurian 136 527 383 66 58
6 Jumlah kasus Penipuan 1 97 41 12 11
Jumlah kasus Pemalsuan - - -
7 -
uang
Total Jumlah Tindak
8 Kriminal Selama 1 Tahun 2.101 1.428 959 631 137
(kasus)
9 Jumlah Penduduk (jiwa) 843.446 858.931 872.768 886.806 886.806
Angka Kriminalitas 63,82 13,31
10 25,01 97,80 15,45
(8)/(9) (kasus)
Sumber : Kepolisian Resor Kota Samarinda

Jumlah tindak kriminal di Kota Samarinda cenderung fluktuatif, bahkan pernah


menyentuh angka 840 kasus pada tahun 2018. Kemudian turun menjadi 557 kasus pada
tahun 2019, yang mana angka tersebut masih lebih tinggi dibanding tahun 2016 yang
hanya 301 kasus. Kasus narkoba dan pencurian merupakan 2 kasus yang paling sering
terjadi di Kota Samarinda selama kurun waktu 2017-2021. Berdasarkan jumlah tindak
criminal dan jumlah penduduk pada tahun 2020, maka ditemukan angka kriminalitas
Kota Samarinda sebesar 15,45 kasus, yang artinya setiap 100.000 penduduk terjadi 15-
16 kasus tindak criminal. Rendahnya angka kriminalitas ini merupakan salah satu
dampak positif adanya kebijakan pemerintah untuk tetap dirumah saja dalam rangka
memutus rantai penyebaran COVID-19.

2.5 Evaluasi Hasil Pelaksanaan RPJMD 2016-2021


RPJMD Kota Samarinda Tahun 2016-2021 mengangkat visi “Terwujudnya Kota
Samarinda sebagai Kota Metropolitan yang Berdaya Saing dan Berwawasan
Lingkungan”, yang selanjutnya dijabarkan dalam 6 (enam) misi sebagai berikut :
1. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, bebas korupsi ditunjang aparatur
yang berintegritas tinggi, profesional dan inovatif
2. Memantapkan kapasitas pengelolaan keuangan Kota Samarinda yang akuntabel
dalam menunjang pembiayaan pembangunan
3. Mewujudkan ruang kota yang layak huni
4. Memantapkan sektor jasa dan perdagangan sebagai sektor unggulan
5. Mewujudkan masyarakat Kota Samarinda yang berkarakter, sehat, cerdas serta
berdaya saing nasional dan internasional
6. Mewujudkan iklim kehidupan masyarakat Kota Samarinda yang harmoni, berbudaya
dan religius

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-101


Berakhirnya periode RPJMD 2016-2021, maka disusun hasil evaluasi
pelaksanaannya yang diperoleh berdasarkan capaian indikator sasaran setiap misi.
Berikut ini akan disajikan hasil analisis terhadap capaian misi RPJMD 2016-2021 yang
data capaian pertahunnya dapat dilihat pada table lampiran.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-102


Tabel 2.96.

EVALUASI KEBERHASILAN MISI (TARGET INDIKATOR SASARAN) PADA PELAKSANAAN RPJMD 2016-2021 (Tahun Ke 4 - 2020)

Tingkat Tingkat
Tingkat
Target Pada Capaian Capaian
Capaian
Akhir Tahun Target Target
Data Target pada tahun ke - Capaian Target Pada Tahun Ke- Target Perangkat Daerah
Perencanaan Tahun Tahun
Capaian Tahun Ke 4
(2021) Ke 2 Ke 3
Pada (2020)
Indikator (2018) (2019)
Sasaran Awal
sasaran
Tahun
Perencan Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun
aan 2017 ke 2 ke 3 2020 2021 2017 Ke- 2 Ke 3 Ke 4
(2018) (2019) (2018) (2019) (2020)

Misi 1: MEWUJUDKAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK, BEBAS KORUPSI, DITUNJANG APARATUR YANG BERINTEGRITAS TINGGI, PROFESIONAL, DAN INOVATIF

Nilai evaluasi BAPPEDA, Setdakot


CC B B BB BB A A B B B B 100 98 98
AKIP (Bag.Ortal), ITDA.

Nilai indeks
Terwujudnya SPBE (e- N/A N/A 2,8 3 3,2 3,4 3,4 ….. 2,64 2,79 3,28 94,29 93,00 102,50 Dinas Kominfo
pelayanan publik government)
yang berkualitas,
transparan,
akuntabel dan bebas
korupsi
Indeks
80,00 81,94 86,00
Kepuasan 73% 73% 75% 76% 78% 80% 80% 80,5% 107,33% Setdakot (Bag.Ortal)
% % % 107,82 110,26
Masyarakat

Rata -Rata Capaian Kinerja (%) 100,54 99,61 103,59

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-103


Tingkat Tingkat
Tingkat
Target Pada Capaian Capaian
Capaian
Akhir Tahun Target Target
Data Target pada tahun ke - Capaian Target Pada Tahun Ke- Target Perangkat Daerah
Perencanaan Tahun Tahun
Capaian Tahun Ke 4
(2021) Ke 2 Ke 3
Pada (2020)
Indikator (2018) (2019)
Sasaran Awal
sasaran
Tahun
Perencan Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun
aan 2017 ke 2 ke 3 2020 2021 2017 Ke- 2 Ke 3 Ke 4
(2018) (2019) (2018) (2019) (2020)

Predikat Kinerja ST ST ST

Misi 2 : MEMANTAPKAN KAPASITAS PENGELOLAAN KEUANGAN KOTA SAMARINDA YANG AKUNTABEL DALAM MENUNJANG PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

Opini BPK
terhadap
WTP
Meningkatnya Laporan WTP DPP WTP WTP WTP WTP WTP WTP WTP WTP WTP 100 100 100 BPKAD
DPP
pendapatan & Keuangan
pengelolaan Daerah
keuangan daerah
yang efektif, efisien & Persentase
akuntabel PAD terhadap 21,01 21,79 23,25 24,20 57,74 18,49 16,77 17,05
15,04 % 23,79 % 24,20 % BAPENDA
Pendapatan % % % % % % % % 84,86 72,13 71,65
Daerah

Rata -Rata Capaian Kinerja (%)


92,43 86,06 85,82
Predikat Kinerja ST T T

Misi 3 : MEWUJUDKAN RUANG KOTA YANG LAYAK HUNI

Meningkatnya Persentase
kualitas infrastruktur luas daerah 85,00 97,00 94,00 91,00 82,00
100,00% 97,00% 94,00% 91,00% 88,00% 85,00% 93,18% Dinas PU & PR
dan Lingkungan masih % % % % % 100,00 100,00
Hidup. tergenang

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-104


Tingkat Tingkat
Tingkat
Target Pada Capaian Capaian
Capaian
Akhir Tahun Target Target
Data Target pada tahun ke - Capaian Target Pada Tahun Ke- Target Perangkat Daerah
Perencanaan Tahun Tahun
Capaian Tahun Ke 4
(2021) Ke 2 Ke 3
Pada (2020)
Indikator (2018) (2019)
Sasaran Awal
sasaran
Tahun
Perencan Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun
aan 2017 ke 2 ke 3 2020 2021 2017 Ke- 2 Ke 3 Ke 4
(2018) (2019) (2018) (2019) (2020)

Persentase
lingkungan 24,70 12,91 Dinas Perumahan dan
61,60% 18,70% 11,69% 4,67% 1,82% 0,00% 0,00% 7,51% 7,42% 40,62
pemukiman % % 11,04 48,97 Permukiman
kumuh

Proporsi
panjang jalan 76,14 78,97 82,47 85,73
73,30% 78,64% 83,98% 89,32% 94,66% 100% 100% 90,57 Dinas PU & PR
dalam kondisi % % % % 94,03 92,33
baik

Persentase
Sarana dan
Prasarana 61,87 71,33 71,33
61,87% 61,87% 61,87% 65,81% 68,87% 70% 70% 62% Dinas Perhubungan
Perhubungan % % % 100,00 108,08 103,38
dalam Kondisi
Baik

Persentase
berkurangnya 56,00 80,00 68,00 60,00
100% 80,00% 72,00% 68,00% 60 56% 72% 100,00 Dinas Perhubungan
titik % % % % 100,00 100,00
kemacetan

Adipura 70,00 72 73 73 74 74 74 71,25 67,39 70,05 70,05 92,32 95,96 94,66 Dinas Lingkungan Hidup

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-105


Tingkat Tingkat
Tingkat
Target Pada Capaian Capaian
Capaian
Akhir Tahun Target Target
Data Target pada tahun ke - Capaian Target Pada Tahun Ke- Target Perangkat Daerah
Perencanaan Tahun Tahun
Capaian Tahun Ke 4
(2021) Ke 2 Ke 3
Pada (2020)
Indikator (2018) (2019)
Sasaran Awal
sasaran
Tahun
Perencan Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun
aan 2017 ke 2 ke 3 2020 2021 2017 Ke- 2 Ke 3 Ke 4
(2018) (2019) (2018) (2019) (2020)

Persentase
penanganan 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100 100 100 BPBD
bencana

Rata -Rata Capaian Kinerja (%)


85,34 91,00 90,11
Predikat Kinerja T ST ST

Misi 4 : MEMANTAPKAN SEKTOR JASA DAN PERDAGANGAN SEBAGAI SEKTOR UNGGULAN

Pertumbuhan
11,11 4,26 0,15 0,29 -10,27 - 176,76 DPMPTSP
Investasi 25,75 10,73 0,15 0,10 0,05 0,05 100,00 290,00

60.60 61.70 63.70 67.60 71.60 75,6 69,3 74.5 78,6 78,6
Pendapatan 75,6 Juta/
Juta/ Juta/ Juta/ Juta/ Juta/ Juta/ Juta/t Juta/t Juta/t Juta/t 109,78 BAPPEDA
perkapita tahun 116,95 116,27
tahun tahun tahun tahun tahun tahun hn hn hn hn

Meningkatnya
kemandirian ekonomi
Pertumbuhan 85,50 85,00 85,00 40,00
17% 85,50% 20 22 25 28 28 DISKOP & UKM
Usaha Mikro % % % % 85,00 85,00 40,00

Tingkat
penggangura 4,86% 6,63% 4-4,5% 3,5-4% 3,5-4% 3-3,5% 3-3,5% 6,19% 6,16% 5,87% 5,87% Dinas Tenaga Kerja
136,47 156,53 146,75
n terbuka

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-106


Tingkat Tingkat
Tingkat
Target Pada Capaian Capaian
Capaian
Akhir Tahun Target Target
Data Target pada tahun ke - Capaian Target Pada Tahun Ke- Target Perangkat Daerah
Perencanaan Tahun Tahun
Capaian Tahun Ke 4
(2021) Ke 2 Ke 3
Pada (2020)
Indikator (2018) (2019)
Sasaran Awal
sasaran
Tahun
Perencan Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun
aan 2017 ke 2 ke 3 2020 2021 2017 Ke- 2 Ke 3 Ke 4
(2018) (2019) (2018) (2019) (2020)

Tingkat Inflasi 2,83% 3,69 3-4% 3-4% 3-4% 3-4% 3-4% 3,69% 3,32% 1,49% 1,49% 42,57 BAPPEDA
Menurunnya angka 94,86 42,57
kemiskinan Angka
4,72 4,77 4,70 4,65 4,60 4,50 4,50 4,77 4,59 4,59% 4,59% 99,78 Dinas Sosial
Kemiskinan 97,66 98,71
Rata -Rata Capaian Kinerja (%)
105,16 131,51 43,69

Predikat Kinerja ST ST SR

Misi 5 : MEWUJUDKAN MASYARAKAT KOTA SAMARINDA YANG BERKARAKTER, SEHAT, CERDAS, SERTA BERDAYA SAING NASIONAL DAN INTERNASIONAL
Wistar Wistar Wistar Wistar Wistar
Terwujudnya Kota Sehat Wistara Wistara Wistara Wistara Wistara Wistara 100 100 100
a a a a a
Samarinda sebagai
Angka Dinas Kesehatan
Kota Sehat dan Kota
Harapan 73,68 73,71 73,73 73,76 73,80 73,87 73,87 73,71 73,93 74,17 74,17 100,00 100,00 100,00
Bebas Narkoba
Hidup
Angka
100,0 100,0
Kelulusan (AL) 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100,00 100,00 100,00 Dinas Pendidikan
0% 0%
SD/MI
Meningkatnya Angka
100,0
Pendidikan yang Kelulusan (AL) 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100,00 100,00 100,00
0%
Berkualitas SMP/MTs

Harapan 14,64 14,70 14,70


14,23 14,64 14,89 15,16 15,43 15,99 15,99 14,66 98,46
Lama Sekolah % % % 96,97 95,27

Rata -Rata Capaian Kinerja (%) 99,69 99,39 99,05

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-107


Tingkat Tingkat
Tingkat
Target Pada Capaian Capaian
Capaian
Akhir Tahun Target Target
Data Target pada tahun ke - Capaian Target Pada Tahun Ke- Target Perangkat Daerah
Perencanaan Tahun Tahun
Capaian Tahun Ke 4
(2021) Ke 2 Ke 3
Pada (2020)
Indikator (2018) (2019)
Sasaran Awal
sasaran
Tahun
Perencan Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun
aan 2017 ke 2 ke 3 2020 2021 2017 Ke- 2 Ke 3 Ke 4
(2018) (2019) (2018) (2019) (2020)

Predikat Kinerja ST ST ST

Misi 6 : MEWUJUDKAN IKLIM KEHIDUPAN MASYARAKAT KOTA SAMARINDA YANG HARMONI, BERBUDAYA, DAN RELIGIUS

Persentase
Terwujudnya 72,00 75,00 75,00
Pelestarian 55% 65% 77% 77% 77% 80% 80% - 93,51 97,40 97,40 Dinas Kebudayaan
Pelestarian Budaya % % %
Seni Budaya

Persentase
organisasi
pemuda aktif 79,00 83,00 84,20 Dinas Kepemudaan dan
57% 60% 64% 68% 72% 75% 75% 80% 125,00 122,06 116,94
Terwujudnya dan % % % Olahraga
pembangunan organisasi
pemberdayaan olahraga aktif
masyarakat & Persentase
perempuan partisipasi Dinas Pemberdayaan
15,56
perempuan 20% 20% 20% 30% 30% 30% 30% 20% 18% 20% 90,00 100,00 51,87 Perempuan &
%
pada lembaga Perlindungan Anak
legislatif
Persentase
Penanganan
Tercapainya stabilitas kasus
keamanan & gangguan 100,0 100,0 100,0
100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100 100 100 BADAN KESBANGPOL
ketertiban serta iklim ketenteraman 0% 0% 0%
yang kondusif dan
ketertiban
umum
Rata -Rata Capaian Kinerja (%) 102,13 104,87 98,44

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-108


Tingkat Tingkat
Tingkat
Target Pada Capaian Capaian
Capaian
Akhir Tahun Target Target
Data Target pada tahun ke - Capaian Target Pada Tahun Ke- Target Perangkat Daerah
Perencanaan Tahun Tahun
Capaian Tahun Ke 4
(2021) Ke 2 Ke 3
Pada (2020)
Indikator (2018) (2019)
Sasaran Awal
sasaran
Tahun
Perencan Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun
aan 2017 ke 2 ke 3 2020 2021 2017 Ke- 2 Ke 3 Ke 4
(2018) (2019) (2018) (2019) (2020)

Predikat Kinerja ST ST ST

TOTAL RATA-RATA CAPAIAN KINERJA DARI SELURUH SASARAN (%) 97,55 102,07 86,32
PREDIKAT KINERJA DARI SELURUH SASARAN ST ST T

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-109


Dari tabel 2.96. dapat terlihat bahwa:

1. Total rata-rata capaian kinerja dari seluruh sasaran pembangunan jangka


menengah daerah Kota Samarinda berdasarkan capaian indikator sasaran tahun
ke – 4 (2020) adalah 86,32% dengan predikat kinerja Tinggi .
2. Tingkat capaian kinerja setiap misi Walikota Samarinda Tahun 2016-2021 jika
diukur berdasarkan rata-rata capaian indikator impact pada tahun ke-4 (2020)
adalah sebagai berikut :

Gambar 2.21.
Tingkat Capaian Misi RPJMD 2016-2021 Kota Samarinda
Tahun ke 2 (Tahun 2018), Tahun ke 3 (Tahun 2019) dan Tahun ke 4 (Tahun
2020)

Tingkat Capaian Misi RPJMD 2016 - 2021


140

120

100

80

60

40

20

0
Misi 1 Misi 2 Misi 3 Misi 4 Misi 5 Misi 6

2018 2019 2020

Berdasarkan grafik diatas , dapat dijelaskan bahwa ada 6 misi yang mendukung
tercapainya RPJMD Kota Samarinda Tahun 2016 – 2021. Adapun uraian setiap misi
adalah sebagai berikut :

1. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, bebas korupsi, ditunjang


aparatur yang berintegritas tinggi, professional dan inovatif.

Pemerintahan yang baik merupakan kebutuhan dasar dalam mengungkit


kesuksesan pembangunan di berbagai sector. Tata kelola pemerintahan yang bauj
yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Samarinda tidak hanya berhenti pada
aparatur dan kelembagaan, namun lebih jauh lagi adalah menerapkan efektivitas
dan efisiensi dalam pelayanan public melalui pengembangan IPTEK.
Adapun sasaran dari Misi 1 ini adalah Terwujudnya pelayanan public yang
berkualitas, transparan, akuntabel dan bebas korupsi dengan beberapa indikator
penunjang diantaranya:
1. Nilai evaluasi AKIP

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-110


Evaluasi AKIP ini pada dasarnya bertujuan untuk mengidentifikasi
berbagai kelemahan dalam penerapan system akuntabilitas kinerja, di
lingkungan instansi pemerintah (SAKIP), memberikan saran perbaikan atau
rekomendasi untuk peningkatan kinerja dan penguatan akuntabilitas instansi
pemerintah, serta menyusun pemeringkatan hasil evaluasi guna kepentingan
penetapan kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur negara.
Pada awal tahun perencanaan RPJMD Tahun 2016-2021, dimana pada
tahun 2016 capaian evaluasi AKIP Kota Samarinda adalah CC (Cukup
Baik/Memadai). Namun Kota Samarinda memiliki peningkatan di tiap
tahunnya, dimana kondisi sekarang (tahun 2020) terlihat bahwa evaluasi
AKIP Kota Samarinda bernilai B (Baik) dimana interprestasinya adalah Kota
Samarinda memiliki akuntabilitas kinerja yang baik, memiliki system yang
dapat digunakan untuk manajemen kinerja, perlu sedikit perbaikan untuk
system dan perlu banyak berfokus pada perbaikan soft system.
2. Nilai Indeks SPBE (e-government)
3. Nilai indeks SPBE menggambarkan tingkat kematangan (maturity level) dari
pelaksanaan SPBE di Instansi Pemerintah. Ada 3 (tiga) unsur penting dalam
penerapan SPBE diantaranya Penyelenggaraan pemerintahan merupakan
unsur tata kelola dari birokrasinya, kehandalan teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) sebagai pengungkit (enabler) dalam pelaksanaannya, dan
yang terakhir adalah kemudahan layanan pemerintah yang diberikan kepada
pengguna, sesuai tugas dan fungsinya masing-masing.
Pada awal tahun perencanaan RPJMD Tahun 2016-2021, kondisi nilai
indeks SPBE Kota Samarinda itu N/A atau belum terukur namun memiliki
target di tahun ke 2 ( 2018) adalah 2,8 ; tahun ke 3 (2019) adalah 3; tahun ke
4 (2020) adalah 3,2 dan tahun ke 5 (2021) adalah 3,4.
Dari hasil evaluasi terlihat bahwa Kota Samarinda memiliki peningkatan
dalam hal nilai indeks SPBE, terlihat dari nilai capaian di awal tahun
perencanaan (2016) adalah N/A, namun di tahun 2020 capaian nilai indeks
SPBE sebesar 2,79 atau memiliki predikat Baik.
4. Indeks Kepuasan Masyarakat.
Pengukuran kepuasan merupakan elemen penting dalam proses evaluasi
kinerja dimana tujuan akhir yang hendak dicapai adalah menyediakan
pelayanan yang lebih baik, lebih efisien, dan lebih efektif berbasis dari
kebutuhan masyarakat. Survey IKM bertujuan untuk mengetahui tingkat
kinerja unit pelayanan secara berkala sebagai bahan untuk menetapkan
kebijakan dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan publik selanjutnya.
Pada awal tahun perencanaan RPJMD Tahun 2016-2021, nilai Indeks
Kepuasan Masyarakat memiliki target di tahun pertama (2017) sebesar 73%,
tahun kedua (2018) sebesar 75%, tahun ke 3 (2019) sebesar 76%, tahun ke4
(2020) sebesar 78%, dan tahun ke5 (2021) sebesar 80%.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-111


Dari hasil evaluasi terlihat bahwa Indeks Kepuasan Masyarakat Kota
Samarinda mengalami tren peningkatan setiap tahunnya. Dimulai dari tahun
pertama dengan capaian sebesar 80,00%, tahun kedua (2018) mencapai angka
80,5%, tahun ke3 (2019) mencapai angka 81,94% dan di tahun ke4 menempati
angka 86%. Makna dari angka tersebut menunjukkan bahwa kinerja
pelayanan public berada pada kategori mutu pelayanan A (Sangat baik)
dengan interval 81,26 – 100.

1. Memantapkan kapasitas pengelolaan keuangan Kota Samarinda yang akuntabel


dalam menunjang pembiayaan pembangunan.
Dalam pasal 58 Undang Undang Nomor 1 tahun 2004 disebutkan dalam
rangka meningkatkan kinerja, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan
keuangan negara, Presiden selaku Kepala Pemerintahan mengatur dan
menyelenggarakan system pengendalian intern di lingkungan pemerintahan
secara menyeluruh. Dan pada ayat 2 disebutkan bahwa system pengendalian
intern sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan
pemerintah.
Setiap Menteri/pimpinan Lembaga, Gubernur, dan Bupati/Walikota wajib
melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan untuk
mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan, dan
akuntabel.
Adapun sasaran dari Misi 2 ini adalah Meningkatnya pendapatan dan
pengelolaan keuangan daerah yang efektif, efisien dan akuntabel, dengan
beberapa indikator nya diantaranya:
1. Opini BPK terhadap Laporan Keuangan Daerah
Salah satu indikator kualitas akuntabilitas keuangan dilihat dari opini
auditor eksternal (BPK) atas penyajian laporan keuangan pemerintah, yang
komponennya meliputi neraca, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus
Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Opini BPK secara bertingkat terdiri
dari : Tidak Wajar (TW), Tidak Memberikan Pendapat (TMP), Wajar Dengan
Pengecualian (WDP), dan yang terbaik adalah Wajar Tanpa Pengecualian
(WTP).
Pada awal tahun perencanaan RPJMD 2016-2021, diperoleh data dasar
capaian Kota Samarinda terhadap opini BPK terhadap laporan keuangan
daerah adalah WTP DPP (Wajar Tanpa Pengecualian – Dengan Paragraf
Penjelasan).
Namun dilihat dari data hasil evaluasi yang dilakukan, terlihat bahwa
Opini BPK terhadap Laporan Keuangan Daerah mengalami peningkatan di
tahun pertama dimana Kota Samarinda pada tahun 2017 hingga sekarang
telah mendapat kategori WTP (Wajar Tanpa Pengecualian).
2. Persentase PAD terhadap pendapatan daerah

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-112


Penyelenggaraan otonomi daerah dan desentralisasi berimplikasi pada
semakin luasnya kewenangan daerah untuk mengatur dan mengelola
pendapatan daerah. Hal ini ditunjukkan dengan adanya penerapan kebijakan
otonomi daerah yang diatur oleh UU Nomor 9 Tahun 2015 tentang
Pemerintahan Daerah dan Kebijakan Perimbangan Keuangan Pusat dan
Daerah yang diatur dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
Dengan bertambahnya tugas dan wewenang Pemerintah Daerah maka
semakin bertambah tanggung jawab yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah.
Pemerintah Daerah wajib mempertanggungjawabkan pelaksanaan APBD
dalam bentuk laporan keuangan atas penggunaan keuangan daerah dalam
rangka pelaksanaan otonomi daerah dan operasional Pemerintah Daerah, hal
tersebut menjadi tolak ukur kinerja untuk dapat dipertanggunjawabkan pada
setiap akhir tahun anggaran.
Kemampuan keuangan daerah pada dasarnya adalah kemampuan dari
Pemerintah Daerah dalam meningkatkan pendapatan asli daerahnya sendiri.
Kesiapan dari Pemerintah Kota Samarinda dalam melaksanakan otonomi
daerah dapat dilihat dari segi positif fiskal keuangan daerah di dalam
memberikan andil sisi penerimaan APBD. Mengukur kemampuan keuangan
daerah dilihat dari rasio Derajat Otonomi Fiskal (DOF) yang dihitung
berdasarkan perbandingan antara jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD)
dengan total pendapatan daerah.
Rasio DOF menunjukkan kemampuan daerah dalam menyumbang
keuangan daerahnya melalui PAD. Dalam hal ini DOF akan menggambarkan
kemampuan Kota Samarinda dalam memmberikan kontribusi terhadap
realisasi penerimaan daerah.
Hasil perhitungan Derajat Otonomi Fiskal (DOF) Kota Samarinda Tahun
2016 - 2020 adalah sebagai berikut :

Tabel 2.97.
Rasio Derajat Otonomi Fiscal (DOF) Kota Samarinda Tahun 2016 – 2020
TOTAL PENDAPATAN
NO TAHUN PAD DOF (%) KRITERIA
DAERAH
1 2016 Rp 391.404.293.290,97 Rp 2.437.626.649.388,97 16,06 Kurang
2 2017 Rp 519.640.806.807,82 Rp 2.288.550.678.418,82 22,71 Sedang
3 2018 Rp 498.888.664.159,96 Rp 2.700.306.264.071,77 18,48 Kurang
4 2019 Rp 560.679.282.249,81 Rp 3.344.082.920.155,59 16,77 Kurang
5 2020 Rp 485.143.157.813,33 Rp 2.846.320.359.015,33 17,04 Kurang

Sumber : Laporan Realisasi Pendapatan Daerah Kota Samarinda (data diolah)

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-113


Gambar 2.22.

Grafik Derajat Otonomi Fiskal (DOF) Kota Samarinda Tahun 2016 - 2020
a.
b.
DOF KOTA SAMARINDA TAHUN 2016 - 2020
25
c.
22.71
20 d.
18.48
e. 16.77 17.04
16.06
15
f.
10 g.
h.
5
i.
0 j.
2016 2017 2018 2019 2020
k.
DOF

Sumber : Laporan Realisasi Pendapatan Daerah Kota Samarinda (data diolah)

Grafik hasil perhitungan Rasio Derajat Otonomi Fiskal (DOF) Kota


Samarinda Tahun 2017, DOF Kota Samarinda sempat berada pada kriteria
sedang yaitu 22,71 persen akan tetapi hal ini dikarenakan Dana Bosnas yang
termasuk dalam komponen PAD sebesar Rp 84.095.709.374,69 sehingga jika
dihitung Derajat Otonomi Fiskal (DOF) tanpa memperhitungkan dana bosnas
akan menjadi 19 persen atau dalam kriteria kurang. Jika diperhitungkan rata-
rata Derajat Otonomi Fiskal (DOF) selama 5 tahun sejak tahun 2016-2020
adalah sebesar 18 persen. Itu artinya kontribusi PAD memiliki andil sebesar
18 persen terhadap total penerimanaan pendapatan daerah Kota Samarinda.
DOF Tahun 2020 lebih tinggi dibandingkan DOF Tahun 2019, jika dilihat
dari sisi nominal PAD Tahun 2020 sebesar Rp 485.143.157.813,33 lebih
rendah dibandingkan Tahun 2019 yang nominalnya sebesar Rp
560.679.282.249,81 dan hal ini juga berbanding lurus dengan total
penerimaan pendapatan daerah di Tahun 2019. Hal ini dikarenakan oleh
penerimaan komponen PAD (Pendapatan Asli Daerah) dampak dari pandemic
Covid-19.
Untuk lebih jelasnya perkembangan derajat desentralisasi Kota
Samarinda Tahun 2020 dapat dilihat pada tabel 5.1.3 di bawah ini :
Hasil perhitungan Derajat Otonomi Fiskal (DOF) Kota Samarinda Tahun
2020 adalah sebagai berikut :

Tabel 2.98.

Rasio Derajat Otonomi Fiskal (DOF) Kota Samarinda Tahun 2020


TOTAL PENDAPATAN
NO BULAN PAD DOF (%) KRITERIA
DAERAH
1 Jan Rp 40.666.851.545,72 Rp 230.945.642.645,72 17,61 Kurang

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-114


TOTAL PENDAPATAN
NO BULAN PAD DOF (%) KRITERIA
DAERAH
2 Feb Rp 43.560.547.168,05 Rp 241.043.189.568,05 18,07 Kurang
3 Mar Rp 35.835.353.361,45 Rp 177.299.186.292,45 20,21 Kurang
4 Apr Rp 32.586.279.537,49 Rp 193.917.259.037,49 16,80 Kurang
5 May Rp 24.359.188.367,84 Rp 169.763.914.157,84 14,35 Kurang
6 Jun Rp 46.005.494.859,40 Rp 210.520.801.809,40 21,85 Kurang
7 Jul Rp 40.812.482.729,34 Rp 166.030.406.587,34 24,58 Kurang
8 Aug Rp 42.203.746.031,72 Rp 387.964.211.303,72 10,88 Kurang
9 Sep Rp 58.272.090.463,09 Rp 191.202.682.224,09 30,48 Kurang
10 Oct Rp 33.934.633.531,35 Rp 361.159.788.358,35 9,40 Kurang
11 Nov Rp 39.838.324.577,38 Rp 276.743.368.814,38 14,40 Kurang
12 Dec Rp 47.068.165.640,50 Rp 239.729.908.216,50 19,63 Kurang
Rata - rata Rp 40.428.596.484,44 Rp 237.193.363.251,28 17,04 Kurang
TOTAL Rp 485.143.157.813,33 Rp 2.846.320.359.015,33 17,04 Kurang
Sumber : Laporan Realisasi Pendapatan Daerah Kota Samarinda (data diolah)
Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa rasio DOF Kota Samarinda
Tahun 2020 tergolong kriteria kurang yaitu 17,04 persen yang artinya
kebutuhan biaya pembangunan untuk percepatan pembangunan di Kota
Samarinda ketergantunggannya pada Dana Pusat / Fiskal Pusat sebesar 82,96
persen.
Adapun perkembangan derajat desentralisasi Kota Samarinda Tahun
2020 dapat dilihat pada grafik di bawah ini:

Gambar 2.23.

Grafik Derajat Otonomi Fiskal (DOF) Kota Samarinda Tahun 2020

DOF KOTA SAMARINDA TAHUN 2020


35

30 30.48

25 24.58
21.85
20 20.21 19.63
17.61 18.07
16.8
15 14.35 14.4

10 10.88
9.4

0
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec

DOF

Sumber : Laporan Realisasi Pendapatan Daerah Kota Samarinda (data diolah)

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-115


Grafik diatas memperlihatkan bahwa perolehan persentase rasio derajat
otonomi fiscal yang dimiliki oleh Kota Samarinda Tahun Anggaran 2020
mengalami fluktuatif. Namun pada grafik diatas kriteria DOF yang terendah
berada di bulan Oktober dan tertinggi di bulan September 2020.
Dari hasil evaluasi terlihat bahwa dalam kurun waktu 5 tahun, pencapaian
indikator pada persentase PAD terhadap pendapatan daerah belum memenuhi
target artinya pencapaian kinerja indikator tersebut masih berada di bawah
target. Hal ini disebabkan adanya kemungkinan target yang diletakkan pada
saat penyusunan RPJMD-P 2016 – 2021 jauh melebihi dari kisaran proyeksi
capaian dari persentase PAD terhadap pendapatan daerah dari 2016-2018.

2. Mewujudkan ruang kota yang layak huni


Menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,
Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,
termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilkayah, tempat manusia
dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan
hidupnya. Ruang kota yang layak huni yang disiapkan oleh pemerintah Kota
Samarinda diarahkan kepada penyediaan gambaran fisik kota yang representative
sehingga memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat yang
menempatinya.
Adapun sasaran dari Misi 3 ini adalah Meningkatnya kualitas infrastruktur
dan lingkungan hidup dengan beberapa indikator penunjang diantaranya:
1) Persentase luas daerah masih tergenang
2) Persentase lingkungan permukiman
3) Proporsi Panjang jalan dalam kondisi baik
4) Persentase sarana dan prasarana perhubungan
5) Persentase berkurangnya titik kemacetan
6) Adipura
7) Persentase penanganan bencana
Selama 5 tahun ini, telah dilaksanakan berbagai program dan kegiatan untuk
mencapai sasaran dari Misi 3 RPJMD yang telah ditetapkan. Mencermati realisasi
kinerja pada tabel.., terlihat bahwa kinerja program pembangunan pada misi ini
secara umum dapat diproyeksikan belum mencapai target yang ditetapkan pada
RPJMD tahun 2016-2021. Adapun indikator tersbut adalah sebagai berikut :
1) Persentase luas daerah masih tergenang
Pada sasaran Meningkatnya Kualitas Infrastruktur dan Lingkungan
Hidup, terdapat indikator yang berupa persentase luas daerah masih tergenang.
Luas daerah genangan di Kota Samarinda pada kondisi awal RPJMD Tahun
2016 – 2021 ( Tahun 2016) sebesar 835,6 Ha di 47 titik lokasi.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-116


Di tahun 2020, Kota Samarinda sudah berhasil mengurangi titik luas
daerah masih tergenang dari 835,6 Ha menjadi 677,6 Ha atau sebesar 82 persen
yang artinya luas daerah genangan yang tertangani sebesar 158,00 Ha.

Gambar 2.24.

Pencapaian Target Pada RPJMD Kota Samarinda Tahun 2016-2021 Kota Samarinda
Untuk Indikator Persentase Luas daerah Masih Tergenang

Pencapaian Target RPJMD Tahun 2016 - 2021


Persentase Luas Daerah Masih Tergenang
100

95 97 97
94 94
90
91 91
85 88

80 82

75

70
2017 2018 2019 2020

Target RPJMD Capaian Kinerja

Dari gambar 2.24. menunjukkan bahwa pencapaian indikator untuk


persentase luas daerah masih tergenang sudah sesuai dengan target yang
dipasang. Itu artinya komitmen Pemerintah Kota Samarinda untuk
mengurangi titik banjir sangat diapresiasi.

2) Persentase lingkungan pemukiman kumuh


Mengurangi persentase lingkungan pemukiman kumuh merupakan
salah satu target prioritas yang ingin dicapai oleh Pemerintah Kota
Samarinda yang tertuang dalam RPJMD Tahun 2016-2021. Sejak tahun
2015 sampai dengan tahun 2020, Pemerintah Kota Samarinda berhasil
mengurangi luasan Kawasan kumuh dari 539,18 Ha menjadi 70,52 Ha.
Pendataan Kawasan kumuh tertuang dalam SK Walikota Samarinda No.
413.2/028/HK-KS/I/2015 dengan jumlah luasan kawasan kumuh
mencapai 539,18 Ha dan kemudian diselesaikan dengan berbagai kegiatan
dan intervensi berbagai sumber pendanaan. SK Walikota terkait luasan
Kawasan kumuh di Kota Samarinda diperbaharui kembali dengan Nomor
413.2/222/HK-KS/VI/2018 menyisakan 133,33 Ha dan pada tahun 2020
sudah tersisa 38,22 Ha.
Namun muncul aturan baru dimana kriteria Kawasan kumuh
mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
RI No. 14/PRT/M/2018 tentang Pencegahan dan Peningkatan Kualitas

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-117


Terhadap Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh, menyebutkan
bahwa indikator kumuh ada tujuh item. Dan dilakukan pendataan ulang
menyesuaikan dengan aturan baru dan diperoleh Kawasan pemukiman
baru mencapai 32,29 Ha. Sehingga total Kawasan kumuh dari data lama
dan baru mencapai 70,52 Ha.
Berdasarkan Keputusan Walikota Samarinda Nomor 663/404/HK-
KS/XI/2020 Tanggal 25 November 2020 tentang Penetapan Lokasi
Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh di Kota Samarinda yang
menyebutkan bahwa lokasi perumahan dan permukiman kumuh di Kota
Samarinda meliputi sejumlah 9 (Sembilan) lokasi, di 9 (Sembilan)
kecamatan, dengan luasan (Ha) kumuh sebesar 70,52 (Tujuh Puluh Koma
Lima Dua) Ha namun di akhir tahun 2020 luasan kumuh (Ha) berkurang
menjadi sebesar 68,80 (Enam Puluh Delapan Koma Delapan Puluh) Ha
dikarenakan adanya kegiatan penanganan dampak social di SKM 1 segmen
Segiri Rt 26, 27 dan 28 Kelurahan Sidodadi dan kegiatan Penataan SKM
Skala Kawasan di segmen perniagaan.

Gambar 2.25.
Capaian Pengurangan Kumuh di Kota Samarinda
Tahun 2016 – 2020

Capaian Pengurangan Kumuh Kota


Samarinda 2016-2020
539.18

298.87

133.33
69.65
38.22

2016 2017 2018 2019 2020

Luasan Kumuh

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-118


Gambar 2.26.

Pencapaian target pada RPJMD Kota Samarinda Tahun 2016 -2021 Untuk
Indikator persentase lingkungan Pemukiman Kumuh

Pencapaian Target RPJMD Tahun 2016-2021


Persentase Lingkungan Pemukiman Kumuh
30
24.7
25

20 18.7

15 12.91
11.69
10 7.51 7.42
4.67
5
1.82

0
2017 2018 2019 2020

Target RPJMD Capaian Kinerja

Dari gambar diatas, terlihat bahwa pencapaian indikator kinerja


belum mencapai target sesuai yang tertuang pada RPJMD Tahun 2016-
2021. Hal yang diharapkan pada RPJMD Tahun 2016-2021, untuk
indikator persentase lingkungan pemukiman kumuh menngalami
penurunan di tiap tahunnya, namun belum terlihat adanya capaian yang
signifikan di tahun 2020. Sehingga perlu menjadi catatan agar program dan
kegiatan yang mendukung indikator tersebut dapat dilanjutkan lagi di
RPJMD berikutnya dan tetap menjadi catatan harus ada komitmen yang
kuat baik dari Pemerintah Kota Samarinda (khususnya terkait dukungan
pendanaan), OPD pengampu beserta warga Kota Samarinda.
3) Proporsi panjang jalan dalam kondisi baik

Gambar 2.27.

Pencapaian Target pada RPJMD Tahun 2016-2021 Kota Samarinda untuk


Indikator Proporsi Panjang Jalan Dalam Kondisi Baik

Pencapaian Target RPJMD Tahun 2016-2021


Proporsi Panjang Jalan Dalam Kondisi Baik

94.66
89.32 85.73
83.98 82.47
78.64 76.14 78.97

2017 2018 2019 2020

Target RPJMD Capaian Kinerja

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-119


Dari gambar 2.27, terlihat bahwa pencapaian indikator RPJMD untuk
proporsi panjang jalan dalam kondisi baik masih belum mencapai target.
Sehingga menjadi catatan agar menjadi perhatian pada perencanaan
selanjutnya.

4) Persentase sarana dan prasarana perhubungan dalam kondisi baik


Salah satu indikator sasaran yang ada pada misi 3 Mewujudkan Ruang Kota
Yang Layak Huni adalah persentase sarana dan prasarana perhubungan
dalam kondisi baik dimana data capaian pada awal tahun perencanaan
berada di angka 61,87 persen. Diantara sarana prasarana yang ada
(eksisting data 2016 sumber data profil 2016) adalah Gedung kantor dinas
perhubungan dengan target 1 gedung, jembatan penyeberangan dengan
target 4 titik, halte dengan target sebanyak 39 titik, dermaga dengan target
sebanyak 5 titik, sub terminal dengan target sebanyak 4 titik, kendaraan
operasional dengan target sebesar 76 buah serta PKB (pengujian
kendaraan bermotor) dengan target 1.

Gambar 2.28.

Pencapaian target pada RPJMD Kota Samarinda Tahun 2016 -2021 untuk
indikator persentase sarana dan prasarana perhubungan dalam kondisi baik

Pencapaian Target RPJMD Tahun 2016-2021


Persentase Sarana dan Prasarana Perhubungan Dalam Kondisi
Baik

71.33 71.33
68.87

65.81

61.87 61.87 61.87 61.87

2017 2018 2019 2020

Target RPJMD Capaian Kinerja

Dari gambar diatas terlihat bahwa pencapaian dari target indikator RPJMD
untuk persentase sarana dan prasana perhubungan daam kondisi baik
sudah mencapai target di tahun ke 3 RPJMD ( tahun 2019) dan terlihat
semakin menunjukkan angka peningkatan di tahun ke 4 (tahun 2020).
5) Persentase berkurangnya titik kemacetan
Persentase berkurangnya titik kemacetan merupakan salah satu
indikator sasaran yang ada pada misi 3. Indikator ini mencakup pada
pembinaan penataan parkir, pengawasan pengendalian lalu lintas, jumlah
24 titik macet dan di lokasi Kecamatan Samarinda Utara 3 titik, Kecamatan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-120


Samarinda Ulu sebanyak 6 titik, Kecamatan Sungai Kunjang sebanyak 3
titik, Kecamatan Samarinda Kota sebanyak 6 titik, Kecamatan Sambutan
sebanyak 2 titik, Kecamatan Samarinda Ilir 1 titik, Kecamatan Loa Janan
Ilir 2 titik, dan Kecamatan Samarinda Seberang sebanyak 1 titik.

Gambar 2.29.

Pencapaian Target pada RPJMD Tahun 2016-2021 Kota Samarinda untuk


Indikator Persentase Berkurangnya Titik Kemacetan

Pencapaian Target RPJMD Tahun 2016-2021


Persentase Berkurangnya Titik kemacetan
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
2017 2018 2019 2020

Target RPJMD Capaian Kinerja

Dari gambar 2.24, terlihat bahwa tingkat kemacetan mengalami


penurunan setiap tahunnya. Berdasar data eksisting tahun 2016 dari Dinas
Perhubungan, Kota Samarinda memiliki 25 titik macet. Dimana pada tahun
pertama (tahun 2017) , sudah teratasi sebanyak 20 titik macet, kemudian di
tahun kedua (tahun 2018) titik macet mengalami penurunan sebanyak 2
titik menjadi 18 titik macet, di tahun ketiga (tahun 2019) mengalami
penurunan sebanyak 1 titik menjadi 17 titik macet, dan di tahun keempat
(Tahun 2020) mengalami penurunan sebanyak 2 titik dari 17 titik sehingga
di akhir tahun 2020 sudah teratasi sebanyak 15 titik macet atau sebesar 60
persen dari total target titik macet yang yang ingin diatasi (25 titik macet).
6) Adipura
Adipura merupakan sebuah penghargaan bagi kota di Indonesia yang
berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan. Dalam
hal ini, adipura merupakan indikator sasaran pada salah satu misi di
RPJMD yaitu misi 3 Mewujudkan Ruang Kota Yang Layak Huni.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-121


Gambar 2.30.

Pencapaian Target pada RPJMD Tahun 2016-2021 Kota Samarinda untuk


Indikator Adipura

Pencapaian Target RPJMD Tahun 2016-2021


Adipura

76

74

72

70

68

66

64
2017 2018 2019 2020

Target RPJMD Capaian Kinerja

Jika dilihat dari tabel diatas, adipura yang merupakan indikator dari
sasaran Meningkatnya Kualitas Infrastruktur dan Lingkungan Hidup,
belum mencapai target pada perubahan RPJMD Tahun 2016-2021.
Perlu menjadi perhatian, untuk dapat meraih anugerah Adipura perlu
dilakukan pembenahan yang signifikan terhadap kondisi kebersihan dan
keteduhan serta system pengelolaan (pemilahan dan pengolahan) sampah,
dimana kondisi kebersihan di beberapa lokasi yang menjadi Kawasan yang
dinilai dalam penilaian Adipura masih belum maksimal dan perlu lebih
ditingkatkan lagi. Di RPJMD selanjutnya perlu diperhatikan lagi untuk
meletakkan besaran nilai target yang ingin dicapai.
7) Persentase penanganan bencana
Selama 5 tahun berturut-turut, BPBD memiliki indikator yang
mendukung sasaran Meningkatnya kualitas infratstruktur dan lingkungan
hidup berupa persentase penanganan bencana berhasil mencapai target
pada perubahan RPJMD 2016-2021 yaitu 100 persen.

3. Memantapkan sektor jasa dan perdagangan sebagai sektor unggulan


Pengembangan dan pembangunan Kawasan perdagangan dan jasa
merupakan konsep dasar yang menjadi andalan Pemerintah Kota Samarinda.
Pengembangan dan pembangunan Kawasan jasa dan perdagangan menjadi salah
satu upaya untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan hidup serta memperkecil
ketimpangan kesejahteraan antar wilayah melalui pengembangan sentra
perdagangan, penetapan komoditi unggulan berbasis karakteristik wilayah dan
pengembangan konektivitas antar Kawasan.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-122


Adapun sasaran dari Misi 4 ini adalah Meningkatnya kemandirian
ekonomi dan menurunnya angka kemiskinan dengan beberapa indikator
penunjang diantaranya:
a. Meningkatnya kemandirian ekonomi
1. Pertumbuhan investasi
2. Pendapatan per kapita
3. Pertumbuhan usaha mikro
4. Tingkat pengangguran terbuka
b. Menurunnya angka kemiskinan
1. Tingkat inflasi
2. Angka Kemiskinan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-123


Tabel 2.99.

Capaian Target Indikator Misi 4 Memantapkan Sektor Jasa dan Perdagangan Sebagai Sektor Unggulan tahun 2017- 2020 (Tahun ke 4 – 2020)

Target pada tahun ke - Capaian Target Pada Tahun Ke-


Data
Capaian
Indikator Status
Sasaran Pada Awal Perangkat Daerah
sasaran Tahun Tahun Tahun Capaian
Tahun Tahun ke Tahun Ke
Perencanaan 2017 ke 3 2020 2021 2017 Ke- 2 Ke 4
2 (2018) 3 (2019)
(2019) (2018) (2020)

Misi 4 : MEMANTAPKAN SEKTOR JASA DAN PERDAGANGAN SEBAGAI SEKTOR UNGGULAN

Pertumbuhan Tidak
25,75 4,26% 0,15% 0,29% -10,27% DPMPTSP
Investasi 10,73 0,15 0,10 0,05 0,05 Tercapai

61.70 63.70 67.60 71.60 75,6


Pendapatan 60.60 Juta/ 69,3 74.5 78,6 78,6
Juta/ Juta/ Juta/ Juta/ Juta/ Tercapai BAPPEDA
perkapita tahun Juta/tahun Juta/thn Juta/thn Juta/thn
tahun tahun tahun tahun tahun
Meningkatnya kemandirian
ekonomi
Pertumbuhan
17% 85,50% 20 22 25 28 85,50% 85,00% 85,00% 40,00% Tercapai DISKOP & UKM
Usaha Mikro

Tingkat
3,5- 3- Perlu Upaya
pengganguran 4,86% 6,63% 4-4,5% 3,5-4% 6,19% 6,16% 5,87% 5,87% Dinas Tenaga Kerja
4% 3,5% Keras
terbuka

Dalam
Menurunnya angka
Tingkat Inflasi 2,83% 3,69 3-4% 3-4% 3-4% 3-4% 3,69% 3,32% 1,49% 1,49% kondisi BAPPEDA
kemiskinan
normal

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-124


Dari tabel 2.98. diatas menunjukkan bahwa pada misi 4 RPJMD yaitu
Memantapkan Sektor Jasa dan Perdagangan Sebagai Sektor
Unggulan yang memiliki 6 (enam) indikator sasaran, 3 (tiga) indikator
diantaranya sudah tercapai, namun 2 indikator yang lainnya yaitu tingkat
pengangguran dan tingkat inflasi masih perlu upaya yang lebih besar lagi
untuk mencapai target, dan 1 indikator lainnya mengalami penurunan yang
cukup besar yaitu Pertumbuhan Investasi yang menunjukkan angka –
10,27.
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(DPMPTSP) Kota Samarinda mencatat realisasi investasi di wilayah Kota
Samarinda sepanjang tahun 2020 mencapai angka Rp 930.676.080.000.
Rinciannya PMA sebesar Rp 270.773.280.000 dan PMDN sebesar Rp
659.902.800.000. Nilai ini menghalami penurunan penurunan dari tahun
sebelumnya (2019) yaitu Rp 10.491.558.041.056,-. Salah satu faktor utama
dari adanya penurunan ekonomi adalah dampak dari pandemic Covid-19
dimana kejadian tersebut menimbulkan economic shock yang
mempengaruhi ekonomi secara perorangan, rumah tangga, perusahaan
mikro, kecil, menengah maupun besar, bahkan mempengaruhi ekonomi
negara dengan skala cakupan dari local, nasional, dan bahkan global.

4. Mewujudkan masyarakat Kota Samarinda yang berkarakter, sehat, cerdas, serta


berdaya saing Nasional dan Internasional
Perkembangan teknologi saat ini menuntut adanya kesiapan masyarakat untuk
menerima dan mengadaptasi perubahan secara global sehingga masyarakat Kota
Samarinda harus mampu memanfaatkan kemajuan-kemajuan dari hasil implikasi
langsung perkembangan teknologi. Untuk itu, upaya mewujudkan masyarakat
Kota Samarinda yang berkarakter, sehat, cerdas, serta berdaya saing nasional dan
internasional menjadi misi yang tidak terpisahkan dari pembangunan daerah di
tengah kemajuan teknologi saat ini.
Adapun sasaran dari Misi 5 ini beserta beberapa indikator penunjang
diantaranya:
1. Terwujudnya Samarinda sebagai Kota Sehat dan Kota Bebas
Narkoba
1. Kota Sehat
2. Angka Harapan Hidup
2. Meningkatnya Pendidikan yang Berkualitas
1. Angka Kelulusan (AL) SD/MI
2. Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs
3. Harapan Lama Sekolah
Dilihat dari 5 (lima) indikator penunjang dari tercapainya sasaran Misi 5 ini, 2
(dua) diantaranya yakni angka harapan hidup dan harapan lama sekolah

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-125


merupakan indikator pembentuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mana
IPM termasuk indikator penting dalam salah satu pengarustamaan RPJMN 2015-2019
yaitu Pembangunan Berkelanjutan.

Untuk diketahui bahwa IPM Kota Samarinda terus meningkat sejak tahun 2010.
Dalam kurun waktu sembilan tahun, IPM Kota Samarinda naik 4,35 poin. Peningkatan
IPM ini tentu didorong oleh kemajuan tiga indikator pembentuk IPM yaitu kesehatan,
pendidikan dan ekonomi. BPS mengelompokkan status IPM menjadi 4 kelompok yaitu :
sangat tinggi (IPM ≥ 80); tinggi (70 ≤ IPM < 80); sedang (60 ≤ IPM < 70); dan rendah
(IPM < 60). Di tahun 2010, Kota Samarinda masih dalam kategori IPM tinggi dan di tahun
2019 meningkat menjadi kategori sangat tinggi. Dan hal ini tentu menjadi catatan yang
positif.

Tabel 2.100.
Indeks Pembangunan Manusia Kota Samarinda
Tahun 2010 – 2020
IPM Tahun

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Samarinda 75,85 77,05 77,34 77,84 78,39 78,69 78,91 79,46 79,93 80,20 80,11

Sumber : Diolah dari Badan Pusat Statistik Kota Samarinda, 2021

Gambar 2.31.
Grafik Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia
Kota Samarinda , Tahun 2010 – 2020

Indeks Pembangunan Manusia


Kota Samarinda, 2010 - 2019
IPM

81 79.93 80.2 80.11


79.46
80 78.91
79 78.39 78.69
77.84
78 77.05 77.34
77 75.85
76
75
74
73
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
IPM 75.85 77.05 77.34 77.84 78.39 78.69 78.91 79.46 79.93 80.2 80.11

Sumber : Diolah dari data BPS Kota Samarinda,2020

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-126


Gambar 2.32.
Umur Harapan Hidup Saat Lahir di Kota Samarinda Tahun 2017 – 2020

UMUR HARAPAN HIDUP SAAT LAHIR


TAHUN 2017 - 2020
77
75.9 75.98 76.06
76 75.68

75
74
73 72.26 72.38
71.78 72
72
71
70
69
2017 2018 2019 2020

Laki-laki Perempuan

Sumber : Diolah dari data BPS Kota Samarinda,2020

Gambar 2.33.
Harapan Lama Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah
Tahun 2017 – 2020

16 14.64 14.66 14.7 14.89


14 10.34 10.46 10.47
12 10.48
10
8
6
4
2
0 RLS
2017
2018 HLS
2019
2020

HLS RLS

Sumber : Diolah dari data BPS Kota Samarinda,2020


Gambar 2.34.
Pengeluaran per Kapita/Tahun di Kota Samarinda
Tahun 2017 – 2020

PENGELUARAN PER KAPITA/TAHUN


DISEUSAIKAN (DALAM RIBUAN RUPIAH)
TAHUN 2017 - 2020
14,800
14,613
14,600
14,466
14,400
14,175 14,135
14,200

14,000

13,800
2017 2018 2019 2020

Sumber : Diolah dari data BPS Kota Samarinda,2020

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-127


Dari grafik terlihat bahwa di tahun 2020, angka IPM Kota Samarinda
mengalami penurunan disebabkan karena adanya penurunan pada dimensi
standar hidup layak (pengeluaran per kapita per tahun yang disesuaikan), dimana
pandemi Covid-19 sangat berpengaruh pada menurunnya pengeluaran per kapita,
sedangkan pada dimensi umur panjang dan hidup sehat (Umur Harapan Hidup)
dan pengetahuan (Harapan Lama Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah) terjadi
peningkatan.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-128


Tabel 2.101.
Capaian Target Indikator Misi 5 Mewujudkan Masyarakat Kota Samarinda Yang Berkarakter, Sehat, Cerdas,
Serta Berdaya Saing Nasional dan Internasional Tahun 2017- 2020 (Tahun ke 4 – 2020)
Target pada tahun ke - Capaian Target Pada Tahun Ke-
Tingkat Tingkat Tingkat
Data
Capaian Capaian Capaian
Capaian
Indikator Target Target Target
Sasaran Pada Awal Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Status Capaian Perangkat Daerah
sasaran Tahun Tahun Tahun
Tahun 2017 ke 2 ke 3 2020 2021 2017 Ke- 2 Ke 3 Ke 4 Ke 2 Ke 3 Ke 4
Perencanaan (2018) (2019) (2018) (2019) (2020) (2018) (2019) (2020)

Misi 5 : MEWUJUDKAN MASYARAKAT KOTA SAMARINDA YANG BERKARAKTER, SEHAT, CERDAS, SERTA BERDAYA SAING NASIONAL DAN INTERNASIONAL
Terwujudnya Kota Sehat Wistara Wistara Wistara Wistara Wistara Wistara Wistara Wistara Wistara Wistara 100 100 100 Tercapai
Samarinda
sebagai Kota Angka Dinas Kesehatan
Sehat dan Harapan 73,68 73,71 73,73 73,76 73,80 73,87 73,71 73,93 74,17 74,17 100,00 100,00 100,00
Kota Bebas Tercapai
Hidup
Narkoba
Angka
Kelulusan 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100,00% 100,00% 100,00 100,00 100,00 Tercapai
(AL) SD/MI
Meningkatnya Angka
Pendidikan Kelulusan
100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100,00% 100% 100,00 100,00 100,00 Tercapai Dinas Pendidikan
yang (AL)
Berkualitas SMP/MTs
Harapan
Lama 14,23 14,64 14,89 15,16 15,43 15,99 14,64% 14,66 14,70% 14,89% 98,46 96,97 96,50 Tercapai
Sekolah

Rata -Rata Capaian Kinerja (%) 99,69 99,39 99,30

Predikat Kinerja ST ST ST

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-129


Dari tabel 2.100. diatas dapat terlihat bahwa:
1. Rata-rata tingkat capaian indikator sasaran secara keseluruhan di tahun 2018
adalah 99,69 dengan predikat “sangat tinggi”. Tahun 2019 adalah 99,39
dengan predikat “sangat tinggi”, dan pada Tahun 2020 adalah 99,30 dengan
predikat “sangat tinggi”.
2. Capaian indikator yang mendukung sasaran “Terwujudnya Samarinda sebagai
Kota Sehat dan Kota Bebas Narkoba” dan “Meningkatnya Pendidikan Yang
Berkualitas” dalam kurun waktu 3 tahun menunjukkan tren yang positif
dimana target yang dipasang pada RPJMD 2016-2021, tercapai.

5. Mewujudkan iklim kehidupan masyarakat Kota Samarinda yang harmoni,


berbudaya, dan religius
Pembangunan dan pemantapan jati diri daerah ditunjukan untuk
mewujudkan karakter daerah dan sistem sosial yang berakhir unit modern dan
unggul. Jati diri tersebut merupakan kombinasi antar nilai luhur daerah seperti
religius, kebersamaan dan persatuan dan nilai modern yang universal seperti etos
kerja dan prinsip tata kepemerintahan yang baik. Pembangunan jati diri daerah
tersebut dilakukan melalui transformasi, revitalisasi, dan reaktualisasi tata nilai
budaya bangsa mempunyai potensi unggul dan menerapkan nilai modern untuk
pembangunan. Untuk memperkuat jati diri dan kebanggaan daerah,
Pembangunan olah raga diarahkan pada peningkatan budaya dan presentasi olah
raga.
Adapun sasaran dari Misi 6 ini beserta beberapa indikator penunjang
diantaranya:
a. Terwujudnya pelestarian budaya
1. Persentase pelestarian seni budaya
b. Terwujudnya pembangunan pemberdayaan masyarakat &
perempuan
1. Persentase organisasi pemuda aktif dan organisasi
2. Persentase partisipasi perempuan pada Lembaga legislatif
c. Tercapainya stabilitas keamanan & ketertiban serta iklim yang
kondusif
1. Persentase penanganan kasus gangguan ketentraman dan ketertiban
umum

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-130


Tabel 2.102.
Capaian target Indikator Misi 6 Mewujudkan Iklim Kehidupan Masyarakat Kota Samarinda yang Harmoni, Berbudaya, dan Religius Tahun 2017-2021 (Tahun ke 4 – 2020)

Target pada tahun ke - Capaian Target Pada Tahun Ke- Tingkat Tingkat Tingkat
Data
Capaian Capaian Capaian
Capaian
Indikator Target Target Target
Sasaran Pada Awal Status Capaian Perangkat Daerah
sasaran Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun
Tahun
2017 ke 2 ke 3 2020 2021 2017 Ke- 2 Ke 3 Ke 4 Ke 2 Ke 3 Ke 4
Perencanaan
(2018) (2019) (2018) (2019) (2020) (2018) (2019) (2020)

Misi 6 : MEWUJUDKAN IKLIM KEHIDUPAN MASYARAKAT KOTA SAMARINDA YANG HARMONI, BERBUDAYA, DAN RELIGIUS
Terwujudnya Persentase
Pelestarian Pelestarian 55% 65% 77% 77% 77% 80% - 72,00% 75,00% 75,00% 93,51 97,40 97,40 Tercapai Dinas Kebudayaan
Budaya Seni Budaya
Persentase
organisasi
pemuda aktif Dinas Kepemudaan dan
57% 60% 64% 68% 72% 75% 79,00% 80% 83,00% 81,43% 125,00 122,06 113,10 Tercapai
Terwujudnya dan Olahraga
pembangunan organisasi
olahraga aktif
pemberdayaan
masyarakat & Persentase
perempuan partisipasi Dinas Pemberdayaan
perempuan 20% 20% 20% 30% 30% 30% 20,00% 20,00% 20,00% 15,56% 90,00 100,00 51,87 Tidak Tercapai Perempuan & Perlindungan
pada lembaga Anak
legislatif
Persentase
Tercapainya Penanganan
stabilitas kasus
keamanan & gangguan
ketenteraman
100% 100% 100% 100% 100% 100% 100,00% 100% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% Tercapai BADAN KESBANGPOL
ketertiban
serta iklim dan
yang kondusif ketertiban
umum
Rata -Rata Capaian Kinerja (%) 102,13 104,87 91,55
Predikat Kinerja T T T

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 II-131


Dari tabel 2.101, dapat terlihat bahwa pada tiap indikator sasaran yang
mendukung tercapainya misi 6 RPJMD 2016-2021 Mewujudkan iklim kehidupan
masyarakat Kota Samarinda yang harmoni, berbudaya, dan religius secara
keseluruhan dapat dikatakan tercapai sesuai target yang dipasang pada RPJMD 2016-
2021, hanya satu indikator sasaran yaitu Persentase partisipasi perempuan pada lembaga
legislative belum mencapai target. Dimana berdasarkan UU No. 7 Tahun 2017 tentang
Pemilihan Umum, target persentase partisipasi perempuan pada lembaga legislatif
sebesar 30%. Namun di periode sekarang, hanya 7 orang perempuan yang terpilih
menjadi anggota legislative. Adapun alasan tidak mencapai 30 persen partisipasi
perempuan pada Lembaga legislative disebabkan karena kapabilitas dan kualitas
perempuan untuk politik masih minim dan seharusnya ada kebijakan yang dikeluarkan
oleh KPU terkait amanat UU No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum bahwa pada
saat pencalonan kader perempuan dari partai politik minimal mencapai angka 30 persen.

II- 132
RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026
2.6. Capaian TPB Kota Samarinda

Setelah melalui proses yang cukup panjang mulai dari membentuk kelompok kerja
(Pokja) yang beranggotakan hampir semua perangkat daerah, mengumpulkan dan
mengolah data sesuai dengan buku metadata indikator TPB, capaian Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan (TPB) secara keseluruhan dapat disajikan dalam rangkaian
tabel dan gambar sebagai berikut.

Tabel 2.103.
Capaian TPB Kota Samarinda

No TPB Deskripsi TPB SS SB BB NA Total


TPB 01. Mengakhiri kemiskinan dalam segala 17 6 2 25
bentuk dimanapun

TPB 02. Menghilangkan kelaparan, mencapai 6 4 1 11


ketahanan pangan dan gizi yang baik, serta
meningkatkan pertanian berkelanjutan

TPB 03. Menjamin kehidupan yang sehat 21 8 5 34


dan meningkatkan kesejahteraan seluruh
penduduk semua usia

TPB 04. Menjamin kualitas pendidikan yang 7 3 3 13


inklusif dan merata serta meningkatkan
kesempatan belajar sepanjang hayat untuk
semua

TPB 05. Mencapai kesetaraan gender dan 7 4 3 14


memberdayakan kaum perempuan

TPB 06. Menjamin ketersediaan serta 10 2 2 4 18


pengelolaan air bersih dan sanitasi yang
berkelanjutan untuk semua

TPB 07. Menjamin akses energi yang 1 1 2


terjangkau, andal, berkelanjutan dan modern
untuk semua

TPB 08. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi 11 6 2 19


yang inklusif dan berkelanjutan, kesempatan
kerja yang produktif dan menyeluruh, serta
pekerjaan yang layak untuk semua

TPB 09. Membangun infrastruktur yang 6 5 2 13


tangguh, meningkatkan industri inklusif dan
berkelanjutan, serta mendorong inovasi

TPB 10. Mengurangi kesenjangan intra- dan 3 1 2 6


antar negara

TPB 11. Menjadikan kota dan pemukiman 7 2 11 20


inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan

II- 133
RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026
No TPB Deskripsi TPB SS SB BB NA Total
TPB 12. Menjamin pola produksi dan 1 4 5
konsumsi yang berkelanjutan

TPB 13. Mengambil tindakan cepat untuk 1 1 2


mengatasi perubahan iklim dan dampaknya

TPB 14. Melestarikan dan memanfaatkan


secara berkelanjutan sumber daya kelautan
dan samudera untuk pembangunan
berkelanjutan

TPB 15. Melindungi, merestorasi dan 2 1 1 4


meningkatkan pemanfaatan berkelanjutan
ekosistem daratan, mengelola hutan secara
lestari, menghentikan penggurunan,
memulihkan degradasi lahan, serta
menghentikan kehilangan keanekaragaman
hayati
TPB 16. Menguatkan masyarakat yang 13 5 3 21
inklusif dan damai untuk pembangunan
berkelanjutan, menyediakan akses keadilan
untuk semua, dan membangun kelembagaan
yang efektif, akuntabel, dan inklusif di semua
tingkatan
TPB 17. Menguatkan sarana pelaksanaan 8 2 5 15
dan merevitalisasi kemitraan global untuk
pembangunan berkelanjutan

Jumlah 119 51 4 48 222


Persentase (%) 53,6 23,0 1,8 21,6 100,0
Sumber: Analisis Tim Pokja KLHS RPJMD Kota Samarinda, 2021

Keterangan
SS : Indikator yang sudah dilaksanakan dan sudah mencapai target nasional
SB : Indikator yang sudah dilaksanakan tapi belum mencapai target nasional
BB : Indikator yang belum dilaksanakan dan belum mencapai target nasional
NA : Indikator yang tidak memiliki data (tidak pernah didata)
Secara grafis, capaian TPB Kota Samarinda berdasarkan masing-masing Tujuan disajikan dalam
gambar sebagai berikut.

II- 134
RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026
Gambar 2.35.
Capaian TPB Kota Samarinda per TPB
Capaian TPB Kota Samarinda

TPB 01 Tanpa Kemiskinan


TPB 02 Tanpa Kelaparan
TPB 03 Kehidupan Sehat dan Sejahtera
TPB 04 Pendidikan berkualitas
TPB 05 Kesetaraan Gender
TPB 06 Air Bersih dan Sanitasi Layak
TPB 07 Energi Bersih dan Terjangkau
TPB 08 Pekerjaan Layak
TPB 09 Industri, Inovasi dan Infrastruktur
TPB 10 Berkurangnya Kesenjangan
TPB 11 Kota dan Permukiman Sehat
TPB 12 Konsumsi dan Produksi
TPB 13 Mitigasi Perubahan Iklim
TPB 15 Ekosistem Daratan
TPB 16 Perdamaian, Keadilan
TPB 17 Kemitraan dan Kerjasama
0 5 10 15 20 25 30 35 40

Sudah Dilaksanakan Sudah Tercapai Sudah Dilaksanakan Belum Tercapai


Belum Dilaksanakan Tidak Ada Data

Sumber: Hasil Analisis Pokja KLHS RPJMD Kota Samarinda, 2021

Sebagaimana dapat dilihat pada grafik di atas, secara keseluruhan capaian TPB Kota Samarinda
sudah cukup baik karena di dominasi oleh status sudah dilaksanakan dan sudah tercapai (SS),
diikuti dengan status sudah dilaksanakan tapi belum tercapai (SB) dan tdak ada data (NA). Hanya
sedikit indikator dengan status belum dilaksanakan dan belum tercapai (BB). Secara keseluruhan
disajikan sebagai berikut.
Gambar 2.36.
Capaian TPB Kota Samarinda secara Keseluruhan
CAPAIAN TPB KOTA SAMARINDA
Tidak Ada Data
48
21.62%
Belum Dilaksanakan
4
1.80%
Sudah Dilaksanakan
Sudah Tercapai
119
53.60%
Sudah Dilaksanakan
Belum Tercapai
51
22.97%

Sumber: Hasil Analisis Pokja KLHS RPJMD Kota Samarinda, 2021

Tampilan rekap capaian 16 TPB yang ada di Kota Samarinda sebagaimana disajikan pada tabel
dan gambar di atas merupakan akumulasi dari empat pilar pembangunan yang ada. Oleh karena
itu untuk melihat dan mencermati capaian TPB berdasarkan pilar-pilar pembangunan,
berikutnya disajikan capaian TPB untuk masing-masing Pilar Pembangunan yaitu Pilar Sosial,
Pilar Ekonomi, Pilar Lingkungan, Pilar Hukum dan Tata Kelola.

II- 135
RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026
2.6.1 Capaian Indikator TPB pada Pilar Sosial
Pada bagian ini disajikan capaian TPB pada pilar pembangunan sosial yang terdiri dari
TPB 1 perihal mengakhiri kemiskinan, TPB 2 perihal menghilangkan kelaparan dengan
ketahanan pangan, TPB 3 perihal jaminan kesehatan, TPB 4 perihal jaminan pendidikan dan
TPB 5 perihal kesetaraan gender.
Tabel 2.104.
Capaian Indikator TPB pada Pilar Sosial

TPB Sudah Sudah Belum Tida Total


Dilaksanaka Dilaksanaka Dilaksanakan k
n dan n Tetapi dan Tidak Ada
Tercapai Belum Tercapai (BB) Data
(SS) Tercapai (NA)
(SB)
1 Kemiskinan 17 6 0 2 25
2 Kelaparan 6 4 0 1 11
3 Kesehatan 21 8 0 5 34
4 Pendidikan 7 3 0 3 13
5 Gender 7 4 0 3 14
Jumlah 58 25 0 14 97
Persentase 59,8 25,8 0,0 14,4 100,0
Sumber: Hasil Analisis Pokja KLHS RPJMD Kota Samarinda, 2021

Indikator pada 5 TPB di pilar pembangunan sosial ini berjumlah 97 indikator. Dimana
program yang dilaksanakan dan mencapai target (SS) sebanyak 58 indikator dengan persentase
sebesar 59,6%. Untuk program yang sudah dilaksanakan tapi belum mencapai target (SB)
sebanyak 25 indikator dengan persentase 25,8%. Untuk indikator yang belum dilaksanakan (BB)
tidak ada, sedangkan untuk indikator yang tidak ada datanya sejumlah 14 indikator atau sebanyak
14,4%. Rincian indikator pada masing-masing capaian TPB di pilar pembangunan sosial ini
disajikan pada gambar berikut.
Gambar 2.37.
Capaian TPB pada Pilar Sosial
Capaian TPB di Pilar Sosial
40

5
30

2 8
20 6

4
1 21 3
10 4
17 4 3

6 7 7
0
TPB 01 TPB 02 TPB 03 TPB 04 TPB 05

Sudah Dilaksanakan Sudah Tercapai Sudah Dilaksanakan Belum Tercapai


Belum Dilaksanakan Tidak Ada Data

Sumber: Hasil Analisis Pokja KLHS RPJMD Kota Samarinda, 2021

2.6.2. Capaian Indikator TPB pada Pilar Ekonomi


Pada bagian ini disajikan capaian TPB pada pilar pembangunan ekonomi yang terdiri dari
TPB 7 perihal akses energi terjangkau, TPB 8 perihal pertumbuhan ekonomi inklusif, TPB 9

II- 136
RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026
perihal infrastruktur industri inklusif yang berkelanjutan, TPB 10 perihal mengurangi
kesenjangan intra dan antarnegara dan TPB 17 perihal kemitraan global untuk pembangunan.
Tabel 2.105.
Capaian Indikator TPB pada Pilar Ekonomi

TPB Sudah Sudah Belum Tidak Total


Dilaksanaka Dilaksanaka Dilaksanakan Ada
n dan n Tetapi dan Tidak Data
Tercapai Belum Tercapai (BB) (NA)
(SS) Tercapai
(SB)
7 Energi 1 0 1 2
8 Ekonomi 11 6 0 2 19
9 Industri 6 5 2 0 13
10 Kesenjangan 3 1 0 2 6
17 Kerjasama 8 2 0 5 15
Jumlah 28 15 2 10 55
Persentase 50,9% 27,3% 3,6% 18,2% 100,0
Sumber: Hasil Analisis Pokja KLHS RPJMD Kota Samarinda, 2021
Indikator pada 5 TPB di pilar pembangunan ekonomi berjumlah 55 indikator. Dimana
program yang sudah dilaksanakan dan mencapai target (SS) sebanyak 28 indikator dengan
persentase sebesar 50,9%. Untuk program yang sudah dilaksanakan tapi belum mencapai target
(SB) sebanyak 15 indikator dengan persentase 27,3%. Untuk indikator yang belum dilaksanakan
(BB) sebanyak 2 indikator dengan persentase 3,6%, sedangkan untuk indikator yang tidak ada
datanya sejumlah 10 indikator atau sebanyak 18,2%. Rincian indikator pada masing-masing
capaian TPB di pilar pembangunan ekonomi ini disajikan pada gambar berikut.
Gambar 2.38.
Capaian TPB pada Pilar Ekonomi
Capaian TPB di Pilar Ekonomi
20
2

6
0 5
2
10
5 2

11 2
1 8
6
1 3
0 1
0
TPB 07 TPB 08 TPB 09 TPB 10 TPB 17

Sudah Dilaksanakan Sudah Tercapai Sudah Dilaksanakan Belum Tercapai


Belum Dilaksanakan Tidak Ada Data

Sumber: Hasil Analisis Pokja KLHS RPJMD Kota Samarinda, 2021

2.6.3. Capaian Indikator TPB pada Pilar Lingkungan


Pada bagian ini disajikan capaian TPB pada pilar pembangunan lingkungan yang terdiri
dari TPB 6 perihal ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi layak, TPB 11 perihal
menjadikan kota dan permukiman inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan, TPB 12 perihal
menjamin pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan, TPB 13 perihal tindakan cepat untuk
mengatasi perubahan iklim dan dampaknya, TPB 14 perihal konservasi dan pemanfataan sumber
daya laut, samudera dan maritim dan TPB 15 perihal ekosistem daratan. Akan tetapi berdasarkan
karakteristik daerah TPB 14 bukan merupakan kewenangan Kota Samarinda.

II- 137
RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026
Tabel 2.106.

Capaian TPB pada Pilar Lingkungan

TPB Sudah Sudah Belum Tidak Total


Dilaksanaka Dilaksanaka Dilaksanakan Ada
n dan n Tetapi dan Tidak Data
Tercapai Belum Tercapai (BB) (NA)
(SS) Tercapai
(SB)
6 Sanitasi 10 2 2 4 18
11 Perkotaan 7 2 0 11 20
12 Produksi 0 2 0 4 5
13 Prbhn Iklim 1 0 0 1 2
15 Ekosistem 2 1 0 1 4
Jumlah 20 6 2 21 49
Persentase 40,8% 12,2% 4,1% 42,9% 100,0
Sumber: Hasil Analisis Pokja KLHS RPJMD Kota Samarinda, 2021

Indikator pada 5 TPB di pilar pembangunan lingkungan berjumlah 49 indikator. Dimana


program yang sudah dilaksanakan dan mencapai target (SS) sebanyak 20 indikator dengan
persentase sebesar 40,8%. Untuk program yang sudah dilaksanakan tapi belum mencapai target
(SB) sebanyak 6 indikator dengan persentase 12,2%. Untuk indikator yang belum dilaksanakan
(BB) sebanyak 2 indikator dengan persentase 4,1%, sedangkan untuk indikator yang tidak ada
datanya sejumlah 21 indikator atau sebanyak 42,9%. Rincian indikator pada masing-masing
capaian TPB di pilar pembangunan lingkungan disajikan pada gambar berikut.
Gambar 2.39.
Capaian TPB pada Pilar Lingkungan

Capaian TPB di Pilar Lingkungan


20

4
11
2
2
10
0
2

10
7 4 1
0
1
0 1
2 0
1 2
0 0
TPB 06 TPB 11 TPB 12 TPB 13 TPB 15

Sudah Dilaksanakan Sudah Tercapai Sudah Dilaksanakan Belum Tercapai


Belum Dilaksanakan Tidak Ada Data

Sumber: Hasil Analisis Pokja KLHS RPJMD Kota Samarinda, 2021

2.6.4. Capaian Indikator TPB pada Pilar Hukum dan Tata Kelola
Pada bagian ini disajikan capaian TPB pada pilar pembangunan lingkungan yang hanya
terdiri dari TPB 16 perihal menguatkan masyarakat yang inklusif dan damai untuk pembangunan
berkelanjutan, menyediakan akses keadilan untuk semua, dan membangun kelembagaan yang
efektif, akuntabel, dan inklusif di semua tingkatan.

II- 138
RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026
Tabel 2.107.
Capaian TPB pada Pilar Hukum Tata Kelola
TPB Sudah Sudah Belum Tidak Total
Dilaksanaka Dilaksanaka Dilaksanakan Ada
n dan n Tetapi dan Tidak Data
Tercapai Belum Tercapai (BB) (NA)
(SS) Tercapai
(SB)
6 Sanitasi 13 5 0 3 21
Jumlah 13 5 0 3 21
Persentase 61,9% 23,8% 0,0% 14,3% 100,0
Sumber: Hasil Analisis Pokja KLHS RPJMD Kota Samarinda, 2021

Indikator pada TPB 16 di pilar pembangunan hukum dan tata kelola berjumlah 21
indikator. Dimana indikator yang sudah dilaksanakan dan sudah mencapai target (SS) sebanyak
13 indikator dengan persentase sebesar 61, 9%. Untuk indikator yang sudah dilaksanakan tapi
belum mencapai target nasional sebanyak 5 indikator dengan persentase 23,8%. Untuk indikator
yang belum dilaksanakan (BB) sebanyak 3 indikator dengan besaran persentase yaitu 14,3%.
Rincian indikator pada masing-masing capaian TPB di pilar hukum tata kelola disajikan pada
gambar berikut.
Gambar 2.40.
Capaian TPB pada Pilar Hukum Tata Kelola

Capaian TPB di Pilar Hukum Tata Kelola


30

20 3
0
5

10
13

0
TPB 16

Sudah Dilaksanakan Sudah Tercapai Sudah Dilaksanakan Belum Tercapai


Belum Dilaksanakan Tidak Ada Data

Sumber: Hasil Analisis Pokja KLHS RPJMD Kota Samarinda, 2021

2.6.5. Capaian Indikator TPB per Pilar


Pada bagian ini disajikan tampilan dan analisis data berdasarkan rekapitulasi dari semua
pilar pembangunan. Data dan analisis yang disajikan pada tabel berikut ini adalah kumulatif data
indikator per pilar dan persentase capaian dari seluruh TPB.

II- 139
RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026
Tabel 2.108.
Capaian TPB pada Semua Pilar Pembangunan
Pilar Pembangunan Sudah Sudah Belum Tidak Total
Dilaksanaka Dilaksanaka Dilaksanakan Ada
n dan n Tetapi dan Tidak Data
Tercapai Belum Tercapai (NA)
(SS) Tercapai (BB)
(SB)
Sosial 58 25 14 97
Ekonomi 28 15 2 10 49
Lingkungan 20 6 2 21 55
Hukum Tata Kelola 13 5 3 21
Jumlah 119 51 4 48 222
Persentase 53,6% 22,97% 1,80% 21,62% 100,00
Sumber: Hasil Analisis Pokja KLHS RPJMD Kota Samarinda, 2021

Indikator 16 TPB yang berjumlah 220 pada semua pilar pembangunan untuk Kota
Samarinda yang sudah dilaksanakan dan mencapai target (SS) sebanyak 119 indikator dengan
persentase sebesar 53,6%. Untuk indikator yang sudah dilaksanakan tetap belum mencapai target
(SB) sebanyak 51 indikator dengan persentase 22,97%. Untuk indikator yang belum dilaksanakan
(BB) sebanyak 4 indikator dengan besaran persentase yaitu 1,80%. Sedangkan indikator yang
tidak ada datanya (NA) sejumlah 48 indikator atau sebanyak 21,62%.
Gambar 2.41.
Capaian Indikator TPB per Pilar

Capaian Indikator TPB per Pilar


100
90 14
80 0
70 25
60
50 10
2
40 21
15
30 58 2
20 6
3
0
28 5
10 20
13
0
Sosial Ekonomi Lingkungan Hukum dan Tata Kelola

Sudah Dilaksanakan Sudah Tercapai Sudah Dilaksanakan Belum Tercapai


Belum Dilaksanakan Tidak Ada Data

Sumber: Hasil Analisis Pokja KLHS RPJMD Kota Samarinda, 2021

II- 140
RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026
2.7. Target dan realisasi pencapaian SPM oleh Daerah
2.7.1. Urusan Pendidikan.
Target dan realisasi pencapaian standar pelayanan minimal urusan pendidikan Kota
Samarinda dapat diukur dengan indikator sebagai berikut ini :
Tabel 2.109.
Target dan Realisasi
Pelayanan Dasar Minimal Pendidikan Tahun 2020
Standar Pelayanan Minimal
No Jenis Pelayaanan Target Realisasi %
Indikator
Dasar
1 asar
Pendidikan Dasar Jumlah Warga Negara Usia 7 172.965 169.061 97.74
- 15 Tahun yang berpartisipasi
dalam pendidikan dasar
2 Pendidikan Jumlah Warga Negara Usia 7 4.405 4.352 98.80
Kesetaraan – 18 Tahun yang belum
menyelesaiakan pendidikan
dasar dan atau menengah
yang perpartisipasi dalam
pendidikan
kesataraan
3 nak
Pendidikan Anak Jumlah Warga Negara Usia 5- 36.210 33.968 93.81
Usia Dini 6 Tahun yang
berpartisipasi dalam
pendidikan PAUD

Permasalahan dalam pencapaian target SPM urusan pendidikan adalah:


Belum adanya instrumen SPM tingkat satuan pendidikan untuk mengumpulkan
data
Terdapatnya data yang tidak konsisten dari satuan pendidikan, sehingga
memerlukan waktu untuk verifikasi data
Terdapatnya indikator baru yang membutuhkan pemahaman lebih lanjut untuk
penyamaan persepsi
Belum adanya sosialisasi pengisian SPM di tingkat Kota untuk memperjelas
pengisian sesuai juknis yang berlaku
Belum tepat nya perhitungan indikator dengan kebutuhan riil di lapangan
Belum di terapkan nya beberapa indikator SPM di Satuan Pendidikan
Belum ada kegiatan khusus untuk pemenuhan SPM di tingkat OPD, sehingga
pendanaan belum maksimal
Belum matangnya perencanaan SPM di tingkat OPD sehingga fungsi Tim SPM
belum bisa bekerja dengan maksimal
Pada pelaksanaan nya, Tim SPM OPD kesulitan memberi pemahaman tentang
beberapa indikator SPM kepada petugas pendataan di Bidang terkait
Kerjasama Tim SPM OPD belum solid karena keterlibatan stake holder terkait
pengumpulan data di lapangan belum maksimal
Belum maksimalnya pelaporan hasil perhitungan SPM
Indikator SPM belum mewakili semua pelayanan pendidikan
Kurangnya SDM secara kualitas dan kuantitas untuk mendapatkan data yang
sesuai di lapangan
Perlunya pelatihan tenaga teknis untuk perhitungan dan verifikasi data SPM

II- 141
RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026
2.7.2. Urusan Kesehatan.
Target dan realisasi pencapaian standar pelayanan minimal urusan kesehatan
Kota Samarinda dapat diukur dengan indikator sebagai berikut ini :

Tabel 2.110.
Target dan Realisasi
Pelayanan Dasar Minimal Kesehatan Tahun 2020

Standar Pelayanan Minimal


No Jenis Target Realisasi %
Indikator
Pelayanan
Dasar
1 Pelayanan Jumlah Ibu Hamil yang 17.851 13.638 76.40
Kesehatan Ibu mendapatkan layanan
Hamil kesehatan
2 Pelayanan Jumlah Ibu Bersalin yang 17.040 14.486 85.01
Kesehatan Ibu mendapatkan layanan
Bersalin kesehatan
3 Pelayanan Jumlah Bayi Baru Lahir yang 17.040 13.558 79.57
Kesehatan Bayi mendapatkan layanan
Baru lahir kesehatan
4 Pelayanan Jumlah Balita yang 116.172 40.557 34.91
Kesehatan Balita mendapatkann layanan
kesehatan
5 Pelayanan Jumlah Warga Negara usia 114.687 23.496 2.49
Kesehatan Pada pendidikan dasar yang
Usia Pendidikan mendapatkan layanan
Dasar kesehatan

6 Pelayanan Jumlah Warga Negara usia 587.396 105.275 17.92


Kesehatan Pada produktif yang mendapatkan
Usia Produktif layanan
kesehatan
7 Pelayanan Jumlah warga negara usia 57.447 7.493 13.04
Kesehatan Pada lanjut yang mendapatkan
Usia Lanjut layanan kesehatan
8 Pelayanan Jumlah Warga Negara 232.752 86.501 37.16
Kesehatan Penderita penderita hipertensi yang
Hipertensi mendapatkan layanan
kesehatan
9 Pelayanan Jumlah Warga Negara 26.506 14.779 55.76
Kesehatan Penderita penderita diabetes
Diabetes Melitus mellitus yang
mendapatkan layanan
kesehatan

10 Pelayanan Jumlah Warga Negara 975 828 84.92


Kesehatan Orang dengan gangguan jiwa berat
dengan Gangguan yang terlayani
Jiwa Berat kesehatan
11 Pelayanan Jumlah Warga Negara 7.545 3.826 50.71
Kesehatan Orang terduga tuberculosis yang
dengan mendapatkan layanan
tuberkulosis kesehatan

II- 142
RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026
Standar Pelayanan Minimal
No Jenis Target Realisasi %
Indikator
Pelayanan
Dasar
12 Pelayanan kesehatan Jumlah Warga Negara 25.253 18.286 72.41
orang dengan risiko terinfeksi virus
dengan risiko yang melemahkan daya tahan
terinfeksi virus yang tubuh manusia (Human
melemahkan daya Immunodeficiency Virus)
tahan tubuh yang mendapatkan layanan
manusia (Human kesehatan
Immunodeficiency
Virus)

Permasalahan yang dihadapi dalam pencapaian target SPM urusan Kesehatan adalah :
Tidak semua satuan pendidikan bersedia memberikan data-data yang butuhkan
(SPM 5)
Tidak semua satuan pendidikan bersedia untuk meneruskan informasi secara
terus-menerus kepada peserta didiknya (SPM 5)
Belum ada data yang akurat untuk sasaran yang berada di luar satuan pendidikan
(SPM 5)
Minimnya jaringan internet di Faskes, bahkan lebih sering menggunakan kuota
milik pribadi (SPM 12)
Ketersediaan alat bantu pelaporan seperti komputer/laptop tidak semua layanan
mendapat fasilitas dari Faskes (SPM 12)
SDM yang sudah mendapat pelatihan dipindah tugaskan, tidak ada pelimpahan
tugas dalam pergantian SDM (SPM 12)
Anggaran untuk pengadaan terbatas sehingga pencetakan buku KIA dan form
MTBM tidak sesuai sasaran (SPM 3)
Tidak tersedianyan anggaran untuk pengampu SPM 5 di Dinkes T.A. 2020 (SPM
5)
Tidak munculnya kegiatan yang mencakup SPM 5 pada Renstra Dinas Kesehatan
Tahun 2016 - 2020 (SPM 5)
Anggaran kegiatan dihentikan dan dialihkan untuk pandemi (SPM 12)
Minimnya anggaran yang tersedia untuk kegiatan terkait prognas terutama HIV
dan P2M (SPM 12)
Tidak adanya kegiatan pembelajaran tatap muka di seluruh satuan pendidikan di
Kota Samarinda dikarenakan Pandemi Covid-19, sehingga proses penjaringan
kesehatan anak sekolah dilaksanakan melalui google form (SPM 5)
Dalam pengisian google form, terlalu banyak data yang harus diisi dan diukur
oleh peserta didik atau orang tua peserta didik sehingga banyak dari mereka tidak mau
mengisi formulir google form tersebut (SPM 5)
Tidak semua rumah tangga memiliki alat screening kesehatan misalnya
pengukur tinggi badan, berat badan sehingga peserta didik atau orang tua peserta didik
tidak melakukan pengisian formulir google form (SPM 5)
Tidak adanya reward atau punishment dari sekolah untuk peserta didik yang
mengisi maupun tidak mengisi google form (SPM 5)
Kegiatan yang sifatnya mobile dan mengumpulkan massa untuk dilakukan
screening dan KIE tidak dapat dilakukan karena pandemi (SPM 12)
Faskes Membatasi waktu dan jumlah pelayanan hanya untuk hal-hal yang
urgensi agar tidak terjadi penumpukan pasien terkait pandemi (SPM 12)
Petugas pemegang program UKS dan PKPR di Puskesmas kebanyakan memiliki
rangkap tugas, sehingga untuk pengumpulan data ke Dinas Kesehatan sering tidak tepat
waktu (SPM 5)
Dinkes Provinsi memiliki kebijakan untuk format laporan tetap sama dengan
tahun sebelumnya, sehingga petugas harus melakukan dua kali rekapitulasi data, yaitu
rekaitulasi google form, kemudian direkapitulasi kembali ke laporan manual (SPM 5)
Faskes yang melakukan layanan prognas tidak semua melaporkan capaian dan
laporan tidak tepat waktu (SPM 12)
Laporan tidak sesuai dengan yang sudah ditetapkan, sehingga data tidak dapat
digunakan (SPM 12)

II- 143
RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026
Tidak ada koordinasi di Dinkes, baik seksi maupun bidang dan lintas bidang
terkait SPM (SPM 12)
Bekerja sendiri sendiri dan tidak ada evaluasi di tingkat Dinkes kota untuk semua
pengelola program terkait SPM (SPM 12)
Faskes dalam pelayanan HIV tidak mempunyai ruang konseling dan fasilitas
tidak memadai

2.7.3. Urusan Pekerjaan Umum


Target dan realisasi Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Urusan Dinas
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang dapat diukur dengan Indikator sebagai berikut
:

Tabel 2.111.
Target dan Realisasi
Pelayanan Dasar Minimal Pekerjaan Umum Tahun 2020

Standar Pelayanan Minimal


No Jenis Pelayaanan Target Realisasi %
Indikator
Dasar
1 Penyediaan Jumlah Warga Negara Yang 894.351 679.020 75.92
Kebutuhan pokok Memperoleh Kebutuhan
air minum sehari- pokok Air Minum Sehari Hari
hari
2 Penyediaan Jumlah Warga Negara Yang 1.797.659 8.091 0.45
Pelayanan Memperoleh Layanan
Pengolahan Air Pengolahan Air Limbah
limbah domestik Domestik

Permasalahan yang dihadapi dalam mencapai target SPM urusan Dinas PUPR adalah :
Belum adanya personil khusus yang melakukan pengumpulan data secara
berkelanjutan
Kurangnya anggaran yang tersedia untuk melakukan pengumpulan data
Sumber daya manusia (SDM) yang tersedia belum memenuhi secara kualitas
maupun kuantitas
Masih minimnya perencanaan dan penganggaran untuk memenuhi kebutuhan
SPM
Kurangnya anggaran dan sumber daya manusia untuk melaksanakan kegiatan
SPM
Kurangnya sinkronisasi antar OPD dalam hal pelaporan

2.7.4. Urusan Perumahan dan Permukiman


Tingkat Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Urusan Perumahan dan
Permukiman dapat diukur dengan Indikator sebagai berikut :

II- 144
RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026
Tabel 2.112.
Target dan Realisasi
Pelayanan Dasar Minimal Perumahan dan Pemukiman Tahun 2020

Standar Pelayanan Minimal


No Jenis Target Realisasi %
Indikator
Pelayaanan
Dasar
1 Penyediaan & Jumlah Rumah Korban - - -
rehabiitasi rumah Bencana Yang Berhak
yg layak huni bagi Memperoleh Rumah Layak
korban bencana Huni
Kab/kota
2 Fasilitasi Jumlah Warga Negara yang 447 328 73.38
penyediaan rumah terkena relokasi akibat
yang layak huni program Pemerintah Daerah
bagi masyarakat kabupaten/kota yang
yang terkena
memperoleh fasilitasi
relokasi program
penyediaan rumah yang
Pemerintah Daerah
kabupaten/ kota layak huni

Permasalahan yang dihadapi dalam mencapai target SPM urusan Perumahan dan
Permukiman adalah:
Terkait subsidi uang sewa masyarakat terdampak kegiatan meminta hak kepada
pemerintah daerah hanya berdasarkan durasi bertempat tinggal di lokasi
Terkait subsidi uang sewa terdapat kekurangan anggaran di awal pelaksanaan
kegiatan karena besaran nilai yang berbeda-beda
Terkait sertifikat pelaksanaan dilapangan terkendala tata ruang

2.7.5. Urusan trantibunlinmas


Target dan realisasi pencapaian standar pelayanan minimal urusan
trantibunlinmas Kota Samarinda dapat diukur dengan indikator sebagai
berikut :

Tabel 2.113.
Target dan Realisasi
Pelayanan Minimal Trantibunlinmas Tahun 2020

Standar Pelayanan Minimal


No Jenis Pelayaanan Target Realisasi %
Indikator
Dasar
1 Pelayanan Capaian Penegakan Perda - - -
Ketentraman dan sesuai Mutu dan pelayanan
Ketertiban Umum ganti rugi
Terhadap
Penegakan Perda
sesuai Mutu dan
pelayanan ganti
rugi
2 Pelayanan Jumlah Penegakan Perda 1.833 712 38.84
Ketentraman dan sesuai Mutu
Ketertiban Umum
Terhadap Jumlah
Penegakan Perda

II- 145
RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026
Standar Pelayanan Minimal
No Jenis Pelayaanan Target Realisasi %
Indikator
Dasar
sesuai Mutu

3 Pelayanan 1.040 206 19.81


informasi rawan
bencana
4 Pelayanan 1.000.000 110.023 15.80
pencegahan dan
kesiapsiagaan
terhadap bencana
5 Pelayanan 482.823 53.909 22.79
penyelamatan dan
evakuasi korban
bencana
6 Pelayanan 1.916 1.905 99.43
Penyelamatan dan
evakuasi korban
kebakaran

Permasalahan yang dihadapi dalam mencapai target SPM urusan Trantibunlinmas


adalah :
Kurangnya Sarana Kendaraan Operasional Lapangan (Mini Bus, Bus Besar,
Motor Patroli, Mobil Patroli, Perahu Karet, dll)
Kurangnya Personil/SDM SATPOL PP dalam penegakkan Perda dan Perkada
Kurangnya kelengkapan atribut pendukung dalam pelaksanaan tugas dan fungsi
satpol PP
Tidak tersedianya lahan parkir kendaraan operasional
Alokasi anggaran tidak sesuai dengan renstra yang telah ditetapkan
Keterlambatan pihak ke 3 dalam menyampaikan data pendukung kepada
SATPOL PP untuk proses pegajuan SPD ke BPKAD yang memiliki batas waktu yang
berakibat dana tidak dapat diperoses sehingga anggaran tidak terserap dengan
maksimal
Mis komunikasi lintas OPD
Kesadaran masyarakat dalam mematuhi aturan yang masih rendah sehingga
masih maraknya pelanggaran Perda dan Perkada
SATPOL PP melaksanakan penertiban tetapi tidak ada solusi dari OPD-OPD
terkait pasca telah dilakukannya penertiban terhadap masyarakat yang melanggar
Perda dan Perkada sehingga menimbulkan bentrok antara SATPOL PP dan Masyarakat
Personil Pencegahan & Kesiapsiagaan yang kurang untuk pemenuhan Target
Pengumpulan data Kegiatan
Peralatan yang belum Cukup (Perlu Sarana dan Prasarana yang memadai)
Kebutuhan Terkait Mitigasi masih banyak yang belum terpenuhi
Kurangnya pemenuhan anggaran untuk kegiatan pencegahan dan kesiapsiagaab
Bencana
Kurannya Personil BPBD mengakibatkan target pelaksanaan yang tidak optimal
Belum ada permintaan dari masyarakat untuk membuat surat keterangan korban
kebakaran yang diperuntukkan bagi pengurusan surat berharga dan identitas
kependudukan maupun untuk kepentingan lainnya

2.7.6. Urusan Sosial


Target dan realisasi pencapaian standar pelayanan minimal urusan sosial Kota
Samarinda dapat diukur dengan indikator sebagai berikut ini :

II- 146
RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026
Tabel 2.114.
Target dan Realisasi
Pelayanan Dasar Minimal Sosial Tahun 2020

Standar Pelayanan Minimal


No Jenis Pelayaanan Target Realisasi %
Indikator
Dasar
1 Rehabilitasi Sosial Jumlah Warga Negara 6.692 6.237 93.20
Dasar Penyandang penyandang disabilitas yang
Disabilitas memperoleh rehabilitasi
Terlantar di Luar sosial diluar panti
Panti Sosial
2 Rehabilitasi Sosial Jumlah anak terlantar yang 10 10 100.00
Dasar Anak memperoleh rehabilitasi
Terlantar di Luar sosial diluar panti
Panti Sosial
3 Rehabilitasi Sosial Jumlah Warga Negara lanjut 20 20 100.00
Dasar Lanjut Usia usia terlantar yang
Terlantar di Luar memperoleh rehabilitasi
Panti Sosial sosial diluar panti
4 Rehabilitasi Sosial Jumlah Tuna Sosial 66 47 71.21
Dasar Tuna Sosial Khususnya Gelandangan dan
Khususnya Pengemis di Luar Panti Sosial
Gelandangan dan
Pengemis di Luar
Panti Sosial
5 Perlindungan dan Jumlah Perlindungan dan 57.828 57.828 100.00
Jaminan Sosial Jaminan Sosial pada Saat
pada Saat dan dan Setelah Tanggap Darurat
Setelah Tanggap Bencana bagi Korban
Darurat Bencana
Bencana daerah
bagi Korban
Kabupaten/Kota
Bencana daerah
Kabupaten/Kota

Permasalahan yang digadaapi dalam mencapai target SPM urusan Sosial adalah :
Pendataan yang sering berubah-ubah karena data klien selau berpindah tempat
Data yang didapat dari klien tidak lengkap karena tidak memiliki identitas diri
dan kurangnya dukungan dari keluarga
Melakukan verifikasi ulang data masyarakat sebelum menerima bantuan yang
diberikan oleh pemerintah
Keterbatasan anggaran yang dimiliki oleh Dinas Kesejahteraan Sosial Kota
Samarinda
Kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan perencanaan kerja dan dilaporkan
kewalikota samarinda melaui (KESRA)
Kurangnya anggaran penyediaan sandang bagi korban bencana dan tidak adanya
sarana tempat yang siap untuk mendistribusikan bantuan bagi korban bencana

II- 147
RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026
BAB III
GAMBARAN KEUANGAN DAERAH

3.1. Kinerja Keuangan Masa Lalu


Kinerja keuangan daerah pada masa-masa lalu menggambarkan
kemampuan pendanaan pembangunan pemerintah daerah selama ini. Derajat
Otonomi Fiskal Daerah sebagai salah satu indikator untuk menganalisis
kemampuan keuangan daerah diukur melalui kontribusi realisasi Pendapatan
Asli Daerah terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Daerah. Kesinambungan
penyelenggaraan pembangunan di masa datang ditentukan sejauh mana
kemandirian pembiayaan yang tersedia untuk melaksanakan pembangunan
daerah. Perkembangan derajat otonomi fiskal Kota Samarinda periode tahun
2016-2020, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3.1
Derajat Otonomi Fiskal Daerah Kota Samarinda
Tahun 2016 s/d Tahun 2020 (rupiah)
Derajat
Total Pendapatan
Tahun PAD Desentralisasi
Daerah
Fiskal Daerah (%)
2016 469.371.060.803,39 2.613.861.928.835,27 17,96
2017 519.640.806.807,82 2.288.550.678.418,82 22,71
2018 498.888.664.159,96 2.700.306.264.071,77 18,48
2019 560.444.857.362,80 3.345.520.495.268,58 16,75
2020 485.189.493.721,33 2.872.836.034.923,33 16,89
Rata-rata 516.040.955.512,98 2.801.803.368.170,62 18,71
Sumber: BPKAD Kota Samarinda

Dari tabel di atas tampak bahwa derajat otonomi fiskal Kota Samarinda
mengalami fluktuasi dimana terjadi penurunan dari tahun 2017 sampai dengan
tahun 2019, yang menunjukkan masih tingginya ketergantungan Pendapatan
Daerah pada Pendapatan Pemerintah Pusat, namun pada tahun 2020 persentase
derajat desentralisasi fiskal daerah naik menjadi 16,89%. Diharapkan di tahun-
tahun mendatang, Pemerintahan Kota Samarinda dapat meningkatkan
Pendapatan Asli Daerah dalam era desentralisasi fiskal sehingga dapat
mewujudkan kemandirian fiskal.

3.1.1. Kinerja Pelaksanaan APBD


Dalam kurun waktu tahun 2016 sampai dengan tahun 2020, APBD Kota
Samarinda mengalami perkembangan yang cukup berarti. Kinerja pelaksanaan
APBD dapat dilihat dari perkembangan pendapatan maupun belanja pada APBD
Kota Samarinda yang tersaji pada tabel 3.2 berikut ini :

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-1


Tabel 3.2
Perkembangan APBD dan Realisasi APBD Tahun 2016 s/d Tahun 2020
Kota Samarinda (Juta Rupiah)
2016 2017 2018 2019 2020
URAIAN
ANGGARAN REALISASI % ANGGARAN REALISASI % ANGGARAN REALISASI % ANGGARAN REALISASI % ANGGARAN REALISASI %
Pendapatan 2.613.862 2.437.627 93,26 2.363.197 2.288.551 96,84 2.542.658 2.700.306 106 3.064.327 3.345.520 109 2.592.819 2.872.836 110,80
Belanja 2.624.917 2.331.929 88,84 2.541.344 2.281.834 89,79 2.724.631 2.515.289 92,3 3.429.356 3.065.216 89 3.236.054 2.976.086 91,97
-
Surplus (Defisit) -11,056 -105,697 (956,12) -178.174 5.519 -183.876 183.113 -366.997 278.336 -76 -645.333 -105.349 16,32
-3,10 99,6
Penerimaan
73,457 73,457 100,00 179.155 179.157 184.676 184.676 100 366.997 366.997 100 645.333 645.333 100
Pembiayaan 100
Pengeluaran
62,402 - - 1.008 - - 800 792 99 0 0 - - - -
Pembiayaan
Pembiayaan
11,056 73,456 664,48 178.147 179.157 183.876 183.884 100 366.997 366.997 100 645.333 645.333 100
Netto 100,6
SILPA 485,536 73,458 - 184.676 - - 366.997 - 0 645.333 - - 539.984 -
Sumber: BPKAD Kota Samarinda
*audited

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-2


Dapat dilihat pada tabel di atas bahwa selama lima tahun terakhir APBD Kota
Samarinda pada sisi pendapatan mengalami fluktuasi Anggaran Pendapatan dari tahun
ke tahun. Sedangkan dari sisi Realisasi Pendapatan kian mengalami peningkatan, yaitu
pada tahun 2019 realisasi pendapatan mencapai 109,9% lalu pada tahun 2020 naik lagi
menjadi 110,80%. Apabila dilihat tren realisasi pendapatan daerah kurun waktu 2016-
2020, kenaikan pendapatan dari tahun 2016-2020 tidak mampu dipertahankan pada
tahun berikutnya yaitu tahun 2020 yang artinya pemerintah Kota Samarinda harus
memaksimalkan sumber-sumber pendapatan daerah yang bersifat mandiri dan mampu
dikuasai secara penuh.
Meningkatnya pendapatan tentunya akan meningkatkan kemampuan belanja
daerah. Jika dilihat tren realisasi belanja daerah, akan sama dengan tren pada realisasi
pendapatan, yang menandakan bahwa Pemerintah Kota Samarinda mampu
menerapkan kebijakan penggunaan anggaran belanja daerah yang menyesuaikan
dengan kondisi pendapatan saat itu. Tidak hanya itu, realisasi belanja daerah semakin
efektif sejak tahun 2016-2019 yang ditunjukkan dengan realisasi diatas 90%. Dari tren
pendapatan dan belanja tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja APBD Kota
Samarinda mulai menerapkan prinsip efektivitas dan efisiensi. Sehingga kebijakan
pengelolaan keuangan daerah Kota Samarinda kedepannya mulai melangkah pada
peningkatan kualitas belanja yang tepat sasaran sehingga tujuan pembangunan yaitu
“kesejahteraan masyarakat” dapat tercapai.
Tabel 3.3
Pertumbuhan Realisasi APBD Tahun 2016 s/d Tahun 2020
Kota Samarinda (rupiah)
Pendapatan % Belanja %
Tahun
2016 2.437.626.649.388,97 -14,74 2.331.928.898.582,64 -38,84

2017 2.288.550.678.418,82 -6,12 2.283.031.685.052,45 -2,10

2018 2.700.306.264.071,77 17,99 2.515.289.345.996,38 10,17

2019 3.345.520.495.268,58 23,89 3.065.215.869.366,89 21,86

2020 2.872.836.034.923,33 -14,13 2.976.086.465.839,36 -2,91

Rata-rata
4,33 27,03
(%)

Sumber: BPKAD Kota Samarinda


*audited

Tabel diatas menunjukkan bahwa persentase pertumbuhan realisasi pendapatan


tahun 2016-2020 tidak sebanding dengan pertumbuhan belanja. Dari sisi pendapatan
mengalami penurunan rata-rata sebesar 4,33 persen dan disaat bersamaan belanja

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-3


justru mengalami pertumbuhan sebesar 27,03 persen. Apabila dibandingkan antara
angka pendapatan dan belanja, kebijakan penganggaran belanja yang menyesuaikan
pendapatan dapat dilihat pada tahun 2016-2019, artinya kemampuan riil Kota
Samarinda menjadi alat ukur penting dalam menyusun anggaran belanja daerah.
Sehingga apabila pemerintah Kota Samarinda ingin meningkatkan kemampuan belanja
daerah, maka terlebih dahulu harus meningkatkan pendapatan daerah, terutama dari
sisi PAD.

Naik turunnya pendapatan daerah dapat dilihat dari perilaku PAD. Oleh karena
itu perlu dilihat perilaku dari PAD terhadap pengeluaran daerah (belanja).
Tabel 3.4
Rasio Kemandirian Keuangan Tahun 2016 s/d Tahun 2020
Kota Samarinda

Rasio
Pengeluaran
Tahun Total PAD PAD/Total
Daerah
Pengeluaran

2016 391.404.293.290,97 2.331.928.898.582,64 16,78

2017 519.640.806.807,82 2.281.834.278.387,45 22,77

2018 498.888.664.159,96 2.515.289.345.996,38 19,83

2019 560.444.857.362,80 3.065.215.869.366,89 18,28

2020 485.189.493.721,33 2.976.086.465.839,36 16,30

Sumber : data diolah


*audited

Tabel Rasio Kemandirian Keuangan menunjukkan bahwa semakin tinggi rasio


PAD terhadap Total Pengeluaran, maka semakin banyak pula masyarakat yang
membayar pajak daerah. Kota Samarinda mengalami kenaikan pada tahun 2017,
kemudian terus mengalami penurunan hingga tahun 2020.
Dengan penjabaran tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pendapatan daerah
Kota Samarinda yang bergantung pada bagi hasil pajak baik dari provinsi maupun pusat
dalam 3 tahun terakhir selalu tidak mencapai target, hal ini karena adanya
ketergantungan penerimaan kota terhadap pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.
Sehingga untuk kedepannya, Pemerintah kota Samarinda perlu memaksimalkan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-4


sumber-sumber PAD yang telah dilaksanakan selama ini dan perlu lebih giat lagi
menggali sumber-sumber PAD baru.

Tabel 3.5
Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah
Tahun 2016 s/d Tahun 2020
Pemerintah Kota Samarinda (Juta Rupiah)
Rata-Rata
Pertumbuha
Uraian 2016 2017 2018 2019 2020 n (%)
2.437.62 2.288.55 2.700.30 3.345.52 2.872.83
PENDAPATAN 7 1 6 0 6 2,89
Pendapatan Asli
Daerah
Pendapatan Pajak 256.130 298.973 352.827 369.978 314.003
Daerah 4,10
Pendapatan Retribusi 58.592 52.124 48.481 49.520 42.756
Daerah -8,41
Pendapatan Hasil 4.360 5.057 11.708 12.483 8.011
Pengelolaan Kekayaan
Daerah yang Dipisahkan
5,25
Lain-lain PAD Yang Sah 72.323 163.487 85.873 128.463 120.420 -2,04
Pendapatan Transfer
Pemerintah Pusat
Bagi Hasil Pajak 117.725 100.731 93.507 70.168 101.585 -6,73
Bagi Hasil Bukan 578.268 259.195 523.612 770.820 527.291
Pajak/Sumber Daya
Alam -21,68
Dana Alokasi Umum 665.150 653.466 659.323 707.114 670.357
(DAU) 0,09
Dana Alokasi Khusus 256.823 238.686 234.160 256.326 230.887
(DAK) -2,98
Dana Penyesuaian 5.000 30.087 35.336
Pendapatan Transfer
Pemerintah Daerah
Pendapatan Bagi Hasil 188.524 338.713 400.575 392.307 286.847
Pajak 5,23
Bantuan Keuangan
Bantuan Keuangan dari 234.733 178.120 208.483 475.603 439.043
Pemerintah Daerah
Provinsi Lainnya 7,65
Lain- Lain
Pendapatan Yang
Sah
Pendapatan Hibah dari 81.757 82.650 7.747
Pemerintah
Pendapatan Hibah Dana 88.554
BOS

Sumber: BPKAD Kota Samarinda


*audited

Rata-rata pertumbuhan pendapatan Pemerintah Kota Samarinda pada tahun


2016-2020 sebesar 2,89 persen. PAD Kota Samarinda, kontribusi terbesar bersumber

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-5


dari Pajak Daerah, namun rata-rata pertumbuhan pertahun terbesar ada pada
Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan yaitu sebesar 5,25
persen di tahun 2016-2020. Dari pergerakan angka-angka tersebut, maka pemerintah
Kota Samarinda harus terus memaksimalkan peran PAD sebagai sumber pendapatan
daerah, namun tetap tidak mengesampingkan sektor-sektor yang menjadi sumber bagi
hasil provinsi/pusat. Hal ini sangat memungkinkan mengingat pertumbuhan Kota
Samarinda yang amat cepat sebagai ibukota provinsi Kaltim.
Pada Tabel 3.5 tersebut di atas disajikan data rata-rata pertumbuhan pendapatan,
yang dihitung berdasarkan rata-rata pertumbuhan realisasi pendapatan selama lima
tahun, baik menurut jenis maupun rincian, selanjutnya akan dijadikan dasar
perhitungan proyeksi pendapatan daerah pada lima tahun ke depan, sebagai salah satu
faktor yang mempengaruhi besarnya kapasitas riil kemampuan keuangan daerah .
Belanja daerah adalah salah satu komponen pengeluaran pemerintah daerah, yang
digunakan untuk mendanai penyelenggaraan urusan pemerintah daerah, baik urusan
wajib maupun urusan pilihan. Belanja daerah diklasifikasikan berdasarkan organisasi,
fungsi, program, kegiatan, dan jenis belanja yang penganggarannya didasarkan kepada
kemampuan keuangan daerah. Belanja daerah yang direncanakan tersebut
dikelompokkan menjadi belanja operasi, belanja modal dan belanja tak terduga. Belanja
tidak langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung
dengan pelaksanaan program dan kegiatan, sedangkan belanja langsung merupakan
belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan
kegiatan. Pertumbuhan realisasi belanja daerah adalah sebagaimana Tabel 3.6 sebagai
berikut :

Tabel 3.6
Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Anggaran Belanja Daerah
Tahun 2016 s/d Tahun 2020
Pemerintah Kota Samarinda (Juta Rupiah)
Rata-Rata
Uraian 2016 2017 2018 2019 2020 Pertumbuha
n (%)
BELANJA 2.331.92 2.283.03 2.515.28 3.065.21 2.976.08
9 2 9 6 6 6,76
BELANJA OPERASI 1.635.117 1.578.03 1.697.07 1.856.74
4 6 5 1.816.179 2,82
Belanja Pegawai 1.016.85 931.254 1.214.252 1.268.40
2 4 1.216.845 5,59
Belanja Barang dan Jasa 584.913 618.904 456.354 564.254 467.030 -3,51
Belanja Hibah 31.692 26.678 26.471 22.179 132.304 115,93
Belanja Bantuan Sosial 0 1.908

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-6


Rata-Rata
Uraian 2016 2017 2018 2019 2020 Pertumbuha
n (%)
Belanja Bantuan 1.660 1.197 0 0 0
Keuangan kepada
Provinsi/Kabupaten/Kota
dan Pemerintahan Desa -
BELANJA MODAL 695.737 702.035 817.179 1.206.777 1.066.113 13,33
Belanja Modal Tanah 7.750 6.424 20.326 31.076 14.754 49,91
Belanja Modal Peralatan 36.544 18.344 61.200 137.367
dan Mesin 115.772 73,14
Belanja Modal Gedung 124.471 182.569 156.395 167.062
dan Bangunan 121.835 3,02
Belanja Modal Jalan, 507.731 472.610 550.373 841.681
Irigasi dan Jaringan 809.804 14,67
Belanja Modal Aset Tetap 2.624 573 782 3.083
Lainnya 3.948 70,15
Belanja Modal Dana BOS 16.617 21.515 28.102 26.508 0 -
BELANJA TAK 1.075 2.963 1.034 1.694
TERDUGA 93.794 1402,85
Belanja Tak Terduga 1.075 2.963 1.034 1.694 93.794 1402,85
Sumber: BPKAD
*audited

Struktur APBD selain terdapat komponen pendapatan dan belanja daerah, juga
mencakup pembiayaan daerah yang meliputi penerimaan pembiayaan dan pengeluaran
pembiayaan.
Penerimaan pembiayaan adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali
baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran
berikutnya. Pengeluaran pembiayaan adalah pengeluaran yang akan diterima kembali
baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran
berikutnya.
Penerimaan Pembiayaan Kota Samarinda tahun 2016- 2020 antara lain berasal
dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran tahun lalu (SiLPA) dan Penerimaan Pinjaman
Daerah. Pengeluaran Pembiayaan Daerah yang didalamnya terdiri atas Penyertaan
Modal (Investasi) Pemerintah Daerah, dan Pembayaran Pokok Utang.
Tabel 3.7
Realisasi Pembiayaan Daerah Tahun 2016 s/d Tahun 2020
Pemerintah Kota Samarinda (Juta Rupiah)
Uraian 2016 2017 2018 2019 2020

Penerimaan Pembiayaan 73.458 179.157 184.676 366.997 645.333


Penerimaan Sisa Lebih
Perhitungan Anggaran Tahun Lalu 73.458 179.157 184.676 366.997 645.333
(SILPA)
Penerimaan Pinjaman Daerah - - - - -

Pengeluaran Pembiayaan - - 792 - -

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-7


Uraian 2016 2017 2018 2019 2020

Penyertaan Modal (Investasi)


- - 792 - -
Pemerintah Daerah
Pembayaran Pokok Hutang - - - - -

Pembiayaan Netto 73.458 179.157 183.884 366.997 645.333


SILPA TAHUN BERJALAN 179.155 184.676 366.997 645.333 539.984
Sumber: BPKAD
*audited
Dari Tabel di atas, selama periode tahun 2016-2020 penerimaan pembiayaan
terbesar pada tahun 2020, sedangkan pengeluaran pembiayaan terbesar pada tahun
2018.

3.1.2. Neraca Daerah


Neraca Daerah menggambarkan posisi keuangan Pemerintah Daerah yang
meliputi aset, kewajiban dan ekuitas dana pada suatu saat tertentu. Laporan neraca
daerah akan memberikan informasi penting kepada manajemen pemerintahan daerah,
pihak legislatif daerah maupun para kreditur/pemberi pinjaman kepada daerah serta
masyarakat luas lainnya tentang posisi atau keadaan kekayaan atau aset daerah dan
kewajibannya serta ekuitas dana pada tanggal tertentu.

Elemen utama neraca Pemerintah Daerah meliputi aset, kewajiban, dan ekuitas
dana. Setiap elemen utama neraca tersebut diturunkan dalam sub-sub rekening yang
lebih terinci. Perkembangan Neraca Pemerintah Kota Samarinda tahun 2016-2020 dan
rata-rata pertumbuhannya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3.8
Pertumbuhan Neraca Daerah Tahun 2016 s/d Tahun 2020
Kota Samarinda (Juta Rupiah)

Rata-Rata
Uraian 2016 2017 2018 2019 2020 Pertumbuh
an (%)
ASET
ASET LANCAR
Kas di Kas Daerah 167.120 170.372 356.584 630.529 522.640
Kas di Bendahara Penerimaan 194 217 10 0 0
Kas di Bendahara Pengeluaran 812 869 392 0 59
Kas di BLUD 3.204 5.493 3.142 11.070 14.522
Kas Lainnya 11.976 7.725 7.514 3.735 2.941
Piutang Pendapatan 308.968 353.334 222.163 252.919 339.511
Piutang Lainnya 12.825 11.926 31.842 14.825 4.220
Penyisihan Piutang -97.925 -92.091 -102.515 -125.611 -141.690

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-8


Rata-Rata
Uraian 2016 2017 2018 2019 2020 Pertumbuh
an (%)
Beban Dibayar Dimuka 910 420 4.100 664 807
Persediaan 26.160 24.277 24.893 24.975 44.296
JUMLAH ASET LANCAR 434.244 482.543 548.125 813.106 787.305
17,47
INVESTASI JANGKA
PANJANG
Investasi Jangka Panjang
Non Permanen
Dana Bergulir 3.339 2.389 2.396 2.402 2.399
JUMLAH Investasi Jangka 3.339 2.389 2.396 2.402 2.399
Panjang Non Permanen
Investasi Jangka Panjang
Permanen
Penyertaan Modal Pemerintah 430.781 459.393 482.545 466.071 492.432
Daerah
JUMLAH Investasi Jangka 430.781 459.393 482.545 466.071 492.432
Panjang Permanen
JUMLAH INVESTASI 434.119 461.782 484.941 468.473 494.831
JANGKA PANJANG 3,40
ASET TETAP
Tanah 5.424.775 11.693.702 11.653.961 11.642.918 11.637.773
Peralatan dan Mesin 807.555 760.303 721.940 877.507 996.054
Gedung dan Bangunan 2.069.537 1.953.765 2.018.737 2.249.313 2.355.084
Jalan, Irigasi, dan Jaringan 2.917.153 4.281.464 4.716.755 5.515.139 6.542.493
Aset Tetap Lainnya 17.752 17.616 18.688 15.694 8.474
Konstruksi Dalam Pengerjaan 2.076.617 1.117.083 1.212.719 844.065 665.366
Akumulasi Penyusutan - -2.916.043 -3.359.856 -4.079.891 -4.802.755
2.550.558
JUMLAH ASET TETAP 10.762.8 16.907.8 16.982.9 17.064.7 17.402.4
31 90 43 45 88 15,00

Rata-Rata
Uraian 2016 2017 2018 2019 2020 Pertumbuhan
(%)
ASET LAINNYA
Tagihan Jangka Panjang 282 148 128 107 87
Kemitraan dengan Pihak 94.975 74.791 74.791 62.551 58.430
Ketiga
Aset Tidak Berwujud 9.931 8.985 12.501 12.014 13.699
Aset Lain-lain 102.320 843.257 320.782 666.295 630.167
JUMLAH ASET LAINNYA 207.507 927.181 408.202 740.968 702.382 91,79
JUMLAH ASET 11.838.702 18.779.396 18.424.212 19.087.291 19.387.006
15,48
KEWAJIBAN
KEWAJIBAN JANGKA
PENDEK
Utang Perhitungan Pihak 823 0 0 0 178
Ketiga (PFK)
Pendapatan Diterima Dimuka 9.954 10.596 6.882 4.527 4.511
Utang Beban 251.462 0 18.477 7.651 3.190

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-9


Utang Jangka Pendek Lainnya 471.508 506.736 91.586 79.164 101.175
JUMLAH KEWAJIBAN 733.748 517.332 116.945 91.342 109.054
JANGKA PENDEK -27,35
KEWAJIBAN JANGKA
PANJANG
Utang Dalam Negeri 104.367 0 0 0 0
Utang Jangka Panjang 0 104.258 104.258 104.258 104.258
Lainnya
JUMLAH KEWAJIBAN 104.367 104.258 104.258 104.258 104.258
JANGKA PANJANG
JUMLAH KEWAJIBAN 838.115 621.590 221.203 195.600 213.311
-23,19
EKUITAS
EKUITAS 11.000.588 18.157.806 18.203.008 18.891.691 19.173.695
17,65
JUMLAH KEWAJIBAN 11.838.702 18.779.396 18.424.212 19.087.291 19.387.006
DAN EKUITAS DANA 15,48
Sumber:BPKAD Kota Samarinda

Untuk menganalisis neraca Kota Samarinda periode tahun 2016 - 2020


digunakanlah beberapa analisis rasio sebagai berikut :

1. Rasio Likuiditas
Rasio Likuiditas yaitu rasio yang menunjukkan hubungan antara kas dan asset
lancar lainnya dari sebuah entitas dengan kewajiban lancarnya untuk melihat
kemampuan entitas dalam memenuhi kewajiban lancarnya. Ada beberapa macam rasio
likuiditasi, namun yang lazim dipakai, termasuk untuk melihat neraca Kota samarinda
adalah rasio lancar dengan rumusan seperti dibawah ini :

Rasio Lancar =

Tabel 3.9
Rasio Lancar Kota Samarinda Tahun 2016-2020 (Juta Rupiah)
URAIAN 2016 2017 2018 2019 2020
Aktiva lancar 434.244 482.543 548.125 813.106 787.305
Kewajiban 733.748 517.332 116.945 91.342 109.054
jangka pendek
Rasio Lancar 0,59 0,93 4,69 8,90 7,22
Sumber: BPKAD Kota Samarinda
Tabel diatas menunjukkan rasio lancar Kota Samarinda mengalami kenaikan dari
tahun ke tahun hingga mencapai 8.90 pada tahun 2019, pada tahun 2020 mengalami
penurunan menjadi 7.22, Dengan rasio lancar sebagaimana ditunjukkan dalam tabel di
atas maka dapat disimpulkan bahwa posisi keuangan Kota Samarinda sangat baik,
dimana adanya peningkatan aktiva lancar untuk kemapuan pengembalian kewajiban
jangka pendek.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-10


2. Ratio Solvabilitas
Rasio ini disebut juga rasio leverage yaitu mengukur perbandingan dana yang
disediakan oleh suatu entitas dengan dana yang dipinjam dari kreditur entitas tersebut.
Rasio ini dimaksudkan untuk mengukur sejauh mana aktiva entitas dibiayai oleh hutang
sehingga menunjukkan indikasi tingkat keamanan dari para pemberi pinjaman. Adapun
rasio yang tergabung dalam rasio leverage adalah:

a. Total Debt to Equity Ratio (Rasio Hutang terhadap Ekuitas)

Total Debt to Equity Ratio =

Tabel 3.10
Rasio Hutang Terhadap Ekuitas
Kota Samarinda Tahun 2016 s/d Tahun 2020 (Juta Rupiah)

URAIAN 2016 2017 2018 2019 2020


Kewajiban 838.115 621.590 221.203 195.600 213.311
Ekuitas 11.000.588 18.157.806 18.203.008 18.891.691 19.173.695
Total 7,62% 3,42% 1,22% 1,04% 1,11%
Debt to
equity
Ratio
Sumber: BPKAD Kota Samarinda

Rasio total hutang terhadap modal (ekuitas) seperti yang ditunjukkan oleh tabel
diatas mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Namun dengan angka yang berada
jauh dibawah 0 (nol) dapat disimpulkan bahwa nilai hutang masih jauh dibawah modal
yang dimiliki oleh pemerintah Kota Samarinda. Meskipun demikian, pemerintah Kota
Samarinda harus memperhatikan adanya kenaikan pada hutang (kewajiban) terutama
hutang jangka pendek.

Dengan rasio hutang terhadap ekuitas sebagaimana ditunjukkan dalam tabel di


atas maka dapat disimpulkan bahwa posisi keuangan Kota Samarinda memiliki
kemampuan modal untuk memenuhi seluruh kewajibannya.

b. Total Debt to Total Asset Ratio (Rasio Hutang terhadap Total Aktiva)

Total Debt to Total Asset Ratio =

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-11


Tabel 3.11
Rasio Hutang Terhadap Total Aktiva
Kota Samarinda Tahun 2016 s/d Tahun 2020 (Juta Rupiah)
URAIAN 2016 2017 2018 2019 2020
Kewajiban 838.115 621.590 221.203 195.600 213.311
11.838.702 18.779.396 18.424.212 19.087.291 19.387.00
Aktiva 6
Total Debt 7,08% 3,31% 1,20% 1,02% 1,10%
to Total
Asset
Ratio
Sumber:BPKAD Kota Samarinda

Menurut tabel diatas, rasio hutang terhadap total aktiva tertinggi berada pada
tahun 2016 yang mencapai 7,08 persen. Namun keseluruhan angka tersebut
menunjukkan bahwa posisi keuangan Kota Samarinda sangat sehat dimana keseluruhan
aset sebesar 0,999 atau 99,9 persen tidak dibebani oleh utang.

3. Rasio Aktivitas
Rasio ini merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektifitas entitas
dalam menggunakan aktiva (aset) yang dimilikinya, atau dapat pula dikatakan rasio ini
digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi (efektifitas) pemanfaatan sumber daya
entitas. Dikarenakan adanya perbedaan antara laporan keuangan pemerintah dengan
laporan keuangan perusahaan, maka dalam laporan keuangan Kota Samarinda yang
dapat dilihat adalah tingkat rasio pemanfaatan sumber daya entitas dalam menggali
Pendapatan Asli Daerah. Ada 2 (dua) rasio yang digunakan dalam mengukur rasio
aktivitas laporan keuangan Kota Samarinda, yaitu:

a. Perputaran aktiva tetap ( fixed assets turn over)


Perputaran aktiva tetap merupakan perbandingan antara PAD dengan aktiva
tetap, dimana rasio ini dapat menggambarkan kecepatan perputaran aktiva tetap dalam
suatu periode tertentu.
Rasio perputaran aktiva tetap ini menggunakan rumusan sebagai berikut:

Rasio Perputaran Aktiva Tetap = x 100

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-12


Tabel 3.12
Rasio Perputaran Aktiva Tetap
Kota Samarinda Tahun 2016 s/d Tahun 2020 (Juta Rupiah)
URAIAN 2016 2017 2018 2019 2020
PAD 391.404 519.641 498.889 560.445 485.189
10.762.831 16.907.890 16.982.94 17.064.745 17.402.488
Aktiva Tetap
3
Rasio 3,64% 3,07% 2,94% 3,28% 2,79%
Perputaran
aktiva tetap
Sumber: BPKAD Kota Samarinda

Dengan rasio perputaran aktiva tetap sebagaimana ditunjukkan dalam tabel di


atas maka dapat disimpulkan bahwa perputaran aktiva tetap mengalami penurunan dari
tahun ke tahun dengan angka mencapai 2,94 persen pada tahun 2018. Namun angka
tersebut menunjukkan bahwa aset tetap yang dimiliki oleh pemerintah Kota Samarinda
sudah mampu memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota
Samarinda.

b. Perputaran total aktiva (total assets turn over)


Perputaran total aktiva (total assets turn over)

Rasio Perputaran Aktiva = x 100

Tabel 3.13
Rasio Perputaran Total Aktiva
Kota Samarinda Tahun 2016 s/d Tahun 2020 (Juta Rupiah)
URAIAN 2016 2017 2018 2019 2020
PAD 391.404 519.641 498.889 560.445 485.189
Aktiva 11.838.702 18.779.396 18.424.212 19.087.291 19.387.006
Rasio 3,31% 2,77% 2,71% 2,94% 2,50%
Perputar
an Total
Aktiva
Sumber: BPKAD Kota Samarinda
Dengan rasio perputaran total aktiva sebagaimana ditunjukkan dalam tabel di
atas maka dapat disimpulkan bahwa perputaran aktiva masih rendah dengan angka 2,71
persen tahun 2018. Namun hal ini dapat dipahami karena sebagian besar asset tidak
sepenuhnya dapat digunakan secara langsung dalam menghasilkan Pendapatan Asli
Daerah.

Berikut adalah rekapitulasi analisis rasio keuangan Kota Samarinda tahun 2016-
2020:

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-13


Tabel 3.14
Analisis Rasio Keuangan Kota Samarinda
Tahun 2016-2020 (Persen)
URAIAN 2013 2014 2015 2016 2017
Rasio Lancar 0,59 0,93 4,69 8,90 7,22
Rasio Hutang terhadap Ekuitas 7,62 3,42 1,22 1,04 1,11
Rasio Hutang terhadap Total 7,08 3,31 1,20 1,02 1,10
Aktiva
Rasio Perputaran Aktiva Tetap 3,64 3,07 2,94 3,28 2,79
Rasio Perputaran Total Aktiva 3,31 2,77 2,71 2,94 2,50

3.2. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu


Setiap Perangkat Daerah (PD) dalam suatu wilayah administrasi merupakan
satuan entitas akuntansi. Hal tersebut berarti bahwa Perangkat Daerah (PD) tersebut
bertanggungjawab terhadap anggarannya masing-masing termasuk dalam pencatatan
akuntansinya. Realisasi dari anggaran tersebut disusun dalam Laporan Realisasi
Anggaran yang harus dilaporkan secara fungsional kepada Bendahara Umum
Daerah/Pejabat Pengelola Keuangan Daerah, yaitu Badan Pengelolaan Keuangan dan
Aset Daerah (BPKAD) dan secara administratif harus dilaporkan kepada Perangkat
Daerah (PD), yaitu Pejabat Pengguna Anggaran masing-masing Perangkat Daerah.
Dari segi pengawasan terhadap rangkaian pengelolaan keuangan daerah, pada
periode tahun 2016-2020 BPKAD menyusun laporan keuangan sebagai entitas
pelaporan yang menyajikan laporan keuangan seperti laporan realisasi anggaran,
neraca, laporan arus kas, laporan operasional, laporan perubahan saldo anggaran lebih,
laporan perubahan ekuitas dan catatan atas laporan keuangan sesuai dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).
Laporan keuangan inilah yang kemudian akan diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK) dimana pengelolaan keuangan ini mencakup seluruh transaksi keuangan yang
dikelola oleh setiap PD dan dikoordinir oleh BPKAD yang mengemban fungsi sebagai
SKPKD.
Pengelolaan keuangan daerah yang dimulai dari penyusunan anggaran pendapatan
dan belanja daerah, perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah, laporan
semester, laporan prognosis realisasi anggaran, laporan realisasi anggaran, neraca,
hingga catatan atas laporan keuangan disusun secara otonomi oleh PD sebagai entitas
akuntansi yang kemudian diverifikasi dan dikompilasi oleh BPKAD sebagai entitas
pelaporan menjadi Laporan Keuangan Kota Samarinda. Sedangkan Laporan Arus Kas
disusun secara sentralistik oleh BPKAD.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-14


Pengelolaan keuangan daerah tersebut tetap berpedoman pada aturan yang
berlaku dimana kebijakan akuntasi yang diterapkan dalam Pengelolan Belanja Daerah
secara umum telah sesuai dengan ketentuan SAP walaupun masih terdapat beberapa
kebijakan yang belum sepenuhnya mengikuti SAP.
Dalam hal pelaporan dan pengawasan Laporan Keuangan, Kota Samarinda dapat
dikatakan telah mencapai target dengan hasil yang memuaskan. Hal ini dapat dilihat
dari positifnya hasil opini audit BPK Kota Samarinda pada Tabel 3.14.

Tabel 3.15
Opini BPK terhadap Laporan Keuangan Daerah
Kota Samarinda Tahun 2015 s/d Tahun 2019
Tahun Opini BPK
2015 WTP PP
2016 WTP PP
2017 WTP PP
2018 WTP PP
2019 WTP PP
Sumber: BPKAD Kota Samarinda
Target ke depan pada periode berikutnya tahun 2020, Kota Samarinda harus
mempertahankan opini BPK terhadap Laporan Keuangan Daerah Kota Samarinda
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dengan fokus terus berusaha membenahi pengelolaan
aset daerah yang selama ini menjadi titik lemah dalam Laporan Keuangan Daerah.

3.2.1. Proporsi Penggunaan Anggaran


Proporsi pengeluaran yang digunakan untuk belanja aparatur cenderung menurun
dari tahun 2016-2020, pada tahun 2018 proporsi belanja aparatur terhadap total
pengeluaran naik mencapai 48,26 persen, menurun kembali pada tahun 2019 menjadi
41,38 persen.

Berikut proporsi belanja pemenuhan kebutuhan aparatur tahun 2016-2020:

Tabel 3.16
Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur
Kota Samarinda Tahun 2016 s/d Tahun 2020 (Juta Rupiah)
Total Belanja Total Pengeluaran
Prosenta
No Tahun Pemenuhan Kebutuhan (Belanja + Pembiayaan
se (%)
Aparatur (Rp) Pengeluaran) (Rp)
1 2016 1.016.852.128.034,57 2.331.928.898.582,64 43,61
2 2017 931.254.208.717,18 2.283.031.685.052,45 40,79
3 2018 1.214.251.946.146,00 2.516.081.345.996,38 48,26
4 2019 1.268.404.148.597,19 3.065.215.869.366,89 41,38
5 2020 1.216.845.222.333,00 2.976.086.465.839,36 40,89
Sumber: BPKAD Kota Samarinda
*audited

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-15


3.2.2. Analisa Pembiayaan
Untuk menyalurkan surplus dan menutup defisit, dalam penganggaran dikenal
dengan pembiayaan daerah. Pembiayaan daerah adalah semua penerimaan yang perlu
dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun
anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun tahun anggaran berikutnya.

Pembiayaan merupakan transaksi keuangan yang dimaksudkan untuk menutupi


selisih antara Pendapatan dan Belanja Daerah. Bila memperhatikan tabel 3.2, bahwa
dalam APBD Kota Samarinda terlihat adanya selisih yang cukup besar antara realisasi
pendapatan daerah dengan realisasi belanja daerah, sehingga diperlukan kebijakan-
kebijakan dari sisi pembiayaan guna menutup defisit riil anggaran. Perhatikan defisit riil
anggaran Kota Samarinda pada tabel berikut:

Tabel 3.17
Defisit Riil dan Penutup Defisit Riil Anggaran Pemerintah Kota Samarinda
Tahun 2016 s/d Tahun 2020 (Juta Rupiah)
2016 2017 2018 2019 2020
NO URAIAN

1. Realisasi Pendapatan Daerah


2.437.627 2.288.551 2.700.306 3.345.520 2.872.836

Dikurangi realisasi: - - - - -

2.331.929 2.283.032 2.515.289 3.065.216 2.976.086


2. Belanja Daerah

3. Pengeluaran Pembiayaan Daerah - - 792 - -

105.698 5.519 184.225 280.304 (103.250)


Defisit Riil

Sumber: BPKAD Kota Samarinda


*audited

Memperhatikan tabel diatas, terlihat bahwa defisit riil di Kota Samarinda terjadi
pada 2020 mencapai 103 milyar. Peningkatan ini terjadi karena adanya peningkatan
pada sisi belanja yang tidak sebanding dengan pertumbuhan dari sisi pendapatan. Pada
tahun 2016-2019 mengalami surplus masing-masing sebesar 105 milyar pada tahun
2016 dan sebesar 5 milyar pada tahun 2017. Untuk menutup defisit riil tersebut, maka
dilakukan penyusunan komposisi penutup defisit riil anggaran pemerintah Kota
Samarinda dalam tabel berikut :

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-16


Tabel 3.18
Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Pemerintah Kota Samarinda
Tahun 2016 s/d Tahun 2020(Juta Rupiah)
2016 2017 2018 2019 2020 Pertumbuhan
NO Uraian
(%)
1 Defisit riil 105.698 5.519 184.225 280.304 (103.250) 765
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran 73,458 179.156 184.676 366.997 645.333
2 (SiLPA) Tahun Anggaran 61
sebelumnya
3 Pencairan Dana Cadangan - - -
Hasil Penjualan Kekayaan Daerah
4 - - -
Yang di Pisahkan
5 Penerimaan Pinjaman Daerah - - -
Penerimaan Kembali Pemberian
6 - - -
Pinjaman Daerah
7 Penerimaan Piutang Daerah - - -
Total Realisasi Penerimaan
8 73.458 179.155 184.676 366.997 645.333 80
Pembiayaan Daerah
Sisa lebih pembiayaan anggaran
9 179.155 184.676 366.997 645.333 539.984 40
tahun berkenaan
Sumber: BPKAD Kota Samarinda

Tabel diatas memperlihatkan bahwa defisit riil yang terjadi pada tahun 2020
sebesar 103 milyar dapat ditutupi dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun
anggaran sebelumnya sebesar 645 milyar, sehingga bila dihitung selisihnya akan
menjadi sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan yang mencapai 539 milyar.

Pelaksanaan anggaran harus memperhatikan prinsip efektivitas dan efisiensi.


Pencapaian prinsip efektivitas dan efisiensi pengelolaan keuangan daerah tercermin dari
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) pertahunnya. SILPA per tahun diharapkan
menurun baik secara nominal maupun persentasenya. Tingginya SILPA menjadi catatan
penting terhadap perekonomian makro Kota Samarinda dimana hal tersebut
menggambarkan belanja pemerintah kurang diberdayakan sehingga tidak optimal
dalam memacu pertumbuhan ekonomi daerah.

Namun terjadinya SILPA dipengaruhi karena beberapa faktor, secara rinci


perhatikan realisasi SILPA pada tabel berikut :

Tabel 3.19
Realisasi SILPA Kota Samarinda Tahun 2016 s/d Tahun 2020

No. Uraian 2016 2017 2018 2019 2020

1. Pembiayaan 73.458 179.156 184.676 366.997 645.333


2. Penggunaan 73.458 179.156 184.676 366.997
645.333
Silpa
3. Penyertaan 0,00
0,00 0,00 792 0,00
Modal/Investasi

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-17


No. Uraian 2016 2017 2018 2019 2020

Pemerintah
Daerah
4. Pembiayaan 366.997
73.458 0,00 183.884 645.333
Netto
5. Sisa Lebih
Pembiayaan
179.155 184.676 366.997 645.333 539.984
Anggaran tahun
berjalan
Sumber: BPKAD Kota Samarinda

Tabel di atas memperlihatkan bahwa SILPA yang terjadi di Kota Samarinda


selama tahun 2016 sampai 2020 disebabkan karena sisa penghematan belanja.
Sedangkan sisanya karena adanya pelampauan penerimaan dari sisi pendapatan, baik
PAD maupun perimbangan. Pada Tahun 2020 SiLPA di Kota Samarinda mengalami
kenaikan yang cukup signifikan.

3.3. Kerangka Pendanaan


Pendanaan program kegiatan yang diakomodir dalam periode tahun 2022-2026
sangat penting untuk dikaji. Dari dasar analisis gambaran umum pengelolaan keuangan
daerah pada periode sebelumnya, dapat disusun suatu analisis dalam rangka pendanaan
program kegiatan pada periode tahun 2022-2026.

3.3.1. Proyeksi Pendapatan


Dilihat dari sisi pendapatan, keuangan daerah yang berhasil adalah keuangan
daerah yang mampu meningkatkan penerimaan secara berkesinambungan seiring
dengan perkembangan perekonomian tanpa memperburuk alokasi faktor produksi dan
keadilan serta dengan sejumlah biaya administrasi tertentu. Berikut proyeksi
penerimaan daerah Kota Samarinda periode 2022-2026:

Tabel 3.20
Proyeksi Pendapatan Daerah
Tahun 2022 s/d Tahun 2026
Kota Samarinda (Juta Rupiah)

Proyeksi
Rata-Rata
Kode Uraian Pertumbu
2022 2023 2024 2025 2026 han
(%)
PENDAPATAN
4 DAERAH
PENDAPATAN
ASLI DAERAH
4.1 (PAD) 541.587 552.419 568.991 591.751 621.338 0,035

4.1.01 Pajak Daerah 356.850 363.987 374.907 389.903 409.398 0,035


4.1.02 Retribusi Daerah 57.953 59.112 60.886 63.321 66.487 0,035

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-18


Proyeksi
Rata-Rata
Kode Uraian Pertumbu
2022 2023 2024 2025 2026 han
(%)
PENDAPATAN
4 DAERAH
Retribusi jasa
4.1.02.01 umum 33.127 33.790 34.804 36.196 38.006 0,035
Retribusi Jasa
4.1.02.02 Usaha 7.969 8.128 8.372 8.707 9.142 0,035
Retribusi Perizinan
4.1.02.03 Tertentu 16.857 17.194 17.710 18.418 19.339 0,035
Hasil Pengelolaan
Kekayaan Daerah
4.1.03 yang Dipisahkan 9.125 9.307 9.587 9.970 10.469 0,035
Lain-lain PAD yang
4.1.04 Sah 117.659 120.012 123.612 128.557 134.985 0,035
PENDAPATAN
4.2 TRANSFER 2.192.016 2.278.862 2.370.708 2.467.961 2.571.074 0,041
Pendapatan
Transfer
4.2.01 Pemerintah Pusat 1.341.455 1.393.472 1.448.892 1.508.038 1.571.279 0,040
1.309.29
4.2.01.01 Dana Perimbangan 2 1.355.698 1.404.527 1.455.933 1.510.083 0,036

Dana Transfer
4.2.01.01.01 Umum 1.054.150 1.099.303 1.146.873 1.197.014 1.249.893 0,044
Dana Bagi Hasil
Pajak dan Bukan
Pajak 351.958 376.593 403.045 431.452 461.961 0,070
Dana Bagi Hasil
Pajak 66.276 68.688 71.188 73.778 76.463 0,036
Dana Bagi Hasil
Bukan
Pajak/Sumber Daya
Alam 285.682 307.905 331.858 357.674 385.498 0,078
Dana Alokasi
Umum (DAU) 702.192 722.710 743.828 765.563 787.933 0,029

Dana Transfer
4.2.01.01.02 Khusus (DAK) 255.143 256.395 257.654 258.919 260.190 0,005
Dana Insentif
4.2.01.02 Daerah 32.163 37.774 44.365 52.105 61.196 0,174
Pendapatan
Transfer Antar
4.2.02 Daerah 850.562 885.390 921.816 959.923 999.794 0,041
Pendapatan Bagi
Hasil Pajak
4.2.02.01 Provinsi 315.592 334.371 354.267 375.347 397.681 0,060
Bantuan Keuangan
4.2.02.02 dari Provinsi 534.970 551.019 567.550 584.576 602.113 0,030
LAIN-LAIN
PENDAPATAN
DAERAH YANG
4.3 SAH 90.100 91.376 92.669 93.980 95.311 0,014

4.3.01 Pendapatan Hibah 90.100 91.376 92.669 93.980 95.311 0,014


Jumlah 2.823.70
Pendapatan 4 2.922.656 3.032.368 3.153.692 3.287.723 0,039

Sumber: BPKAD Kota Samarinda

Apabila dilihat secara totalitas proyeksi anggaran pendapatan daerah, maka rata-
rata pertumbuhannya adalah 0,039%. Sedangkan apabila dilihat secara sektoral masing-
masing jenis pendapatan maka rata-rata pertumbuhan pendapatan asli daerah
diproyeksikan sebesar 0,035%, dan rata-rata pertumbuhan pendapatan transfer
diproyeksikan sebesar 0,041%.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-19


3.3.2. Proyeksi Belanja
Tabel 3.21
Proyeksi Belanja Daerah Tahun 2022 s/d Tahun 2026
Kota Samarinda (Juta Rupiah)

PROYEKSI
No Uraian
2022 2023 2024 2025 2026
A Belanja Operasi
1 Belanja Gaji dan Tunjangan 589.189 603.919 619.017 634.492 650.355
2 Tambahan Penghasilan PNS 268.715 268.715 268.715 268.715 268.715
Belanja Penerimaan Anggota
dan Pimpinan DPRD serta
3 38.879 38.879 38.879 38.879 38.879
Operasional
KDH/WKDH
4 Belanja Bunga - - - - -
5 Belanja Bantuan kepada 2.099 2.099 2.099 2.099 2.099
Partai Politik
6 Belanja Bagi Hasil - - - - -
7 Belanja Honorarium PNS 131.081 131.081 131.081 131.081 131.081
Khusus Untuk
Guru dan Media
8 Belanja Beasiswa Pendidikan - - - - -
PNS
Belanja Jasa Kantor (khusus
tagihan bulanan kantor
9 38.471 38.471 38.471 38.471 38.471
seperti listrik, air,
telepon, dan sejenisnya)
Belanja sewa gedung kantor
10 (yang telah ada kontrak - - - - -
jangka panjangnya)
Belanja sewa perlengkapan
dan peralatan kantor (yang
11 - - - - -
telah ada
kontrak jangka panjangnya)
B Pengeluaran Pembiayaan
1 Pembentukan Dana Cadangan - - - - -
2 Pembayaran Pokok Utang - - - - -
TOTAL BELANJA WAJIB
DAN PENGELUARAN
YANG WAJIB MENGIKAT 1.068.434 1.083.164 1.098.262 1.113.737 1.129.600
SERTA PRIORITAS
UTAMA
Sumber: BPKAD Kota Samarinda

Dari perkiraan belanja gaji dan tunjangan serta belanja wajib dan mengikat
tersebut dapat diketahui kapasitas riil keuangan daerah. Kapasitas riil adalah dana yang
tersedia untuk melaksanakan pembangunan daerah dengan rumusan total penerimaan
dikurangi belanja gaji dan tunjangan serta belanja wajib dan mengikat. Adapun tabel
berikut menunjukkan kapasitas riil ataupun dana yang tersedia setiap tahunnya untuk
melaksanakan pembangunan daerah di Kota Samarinda.
3.3.3. Penghitungan Kerangka Pendanaan
Kapasitas riil merupakan kemampuan sesungguhnya pemerintah Kota Samarinda
untuk membiayai pembangunan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat yang
terbagi kedalam prioritas I, prioritas II, dan prioritas III.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-20


Kapasitas riil keuangan Kota Samarinda yang digunakan untuk mendanai
program pembangunan prioritas I, II dan III tersaji pada tabel 3.25, berikut ini:

Tabel 3.22
Proyeksi Kapasitas Riil Kota Samarinda
Tahun 2022 s/d Tahun 2026 (Juta Rupiah)

No Proyeksi
Uraian
. 2022 2023 2024 2025 2026
1. Pendapatan 2.823.704 2.922.656 3.032.368 3.153.692 3.287.723
2. Pencairan dana cadangan - - - - -
(sesuai Perda)
3. Sisa Lebih Riil Perhitungan - - - -
Anggaran
Total penerimaan 2.823.70 2.922.65 3.032.36 3.153.69 3.287.72
4 6 8 2 3

Dikurangi: - - - - -

4. Belanja dan Pengeluaran 1.068.434 1.083.164 1.098.262 1.113.737 1.129.600


Pembiayaan yang Wajib
dan Mengikat serta
Prioritas Utama
Kapasitas riil 1.755.269 1.839.49 1.934.10 2.039.95 2.158.12
kemampuan keuangan 2 6 5 3
Sumber: BPKAD Kota Samarinda
Kapasitas riil keuangan daerah dialokasikan ke berbagai program sesuai urutan
prioritas berdasarkan visi, misi dan program pembangunan Walikota dan wakil
walikota. Prioritas program dipisahkan menjadi prioritas I, prioritas II, dan prioritas
dimana setiap tingkatan prioritas mendapatkan alokasi anggaran setelah prioritas di
atasnya terpenuhi.
Prioritas I
Prioritas I merupakan program pembangunan daerah dengan tema atau program
unggulan (dedicated) Walikota terpilih sebagaimana dijanjikan pada kampanye
pemilukada. Selain itu, alokasi anggaran juga harus disesuaikan dengan
amanat/kebijakan nasional yang definitif harus dilaksanakan oleh daerah seperti di
bidang pendidikan mendapat alokasi dana 20 persen, bidang pendidikan sebesar 10%,
fungsi pengawasan sebesar 0,3% dan pengembangan kompetensi ASN sebesar 0,3%
dari belanja daerah.

Program prioritas I harus berhubungan langsung dengan kepentingan publik,


bersifat monumental, berskala besar, serta memiliki kepentingan dan nilai manfaat yang
tinggi sehingga memberikan dampak luas pada masyarakat sesuai dengan capaian visi
dan misi. Di samping itu, prioritas I juga diperuntukkan bagi prioritas belanja wajib
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Selanjutnya untuk
menyederhanakan perhitungan, pendanaan prioritas I akan dihitung sesuai pagu total

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-21


program pembangunan daerah atau program prioritas untuk mencapai sasaran RPJMD
sebagaimana diuraikan di bab VII.

Prioritas II
Program Prioritas II merupakan program prioritas ditingkat SKPD yang
merupakan penjabaran dari analisis pada tiap bidang urusan. Prioritas II berhubungan
dengan program/kegiatan unggulan SKPD yang paling berdampak luas pada masing-
masing segmentasi masyarakat. Program/kegiatan unggulan ini harus disesuaikan
dengan prioritas dan permasalahan yang dihadapi terkait dengan layanan dasar serta
tugas dan fungsi SKPD termasuk peningkatan kapasitas kelembagaan.

Prioritas III
Prioritas III merupakan prioritas yang dimaksudkan untuk alokasi belanja-
belanja tidak langsung seperti belanja hibah, belanja bantuan sosial organisasi
kemasyarakatan, belanja bantuan keuangan, serta belanja tidak terduga.

Tabel 3.23
Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah
Kota Samarinda
Tahun 2022 s/d Tahun 2026 (Juta Rupiah)

No. Uraian 2022 2023 2024 2025 2026

2.823.70 3.287.72
1 Pendapatan 2.922.656 3.032.368 3.153.692
4 3

2 Pencairan dana cadangan

3 SILPA
2.823.70 3.287.72
Total Penerimaan 2.922.656 3.032.368 3.153.692
4 3
Belanja dan pengeluaran
pembiayaan yang wajib 1.129.60
4 1.068.434 1.083.164 1.098.262 1.113.737
dan mengikat serta 0
prioritas utama

Kapasitas riil kemampuan 2.039.95


5 1.755.269 1.839.492 1.934.106 2.158.123
keuangan daerah 5
Kapasitas Riil
2.039.95
kemampuan keuangan 1.755.269 1.839.492 1.934.106 2.158.123
5
daerah
7 Belanja Prioritas I 522.203 786.096 789.542 821.433 864.814
8 Belanja Prioritas II 784.825 591.708 669.025 726.792 753.093
9 Belanja Prioritas III 448.241 461.688 475.539 491.730 540.216

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-22


Tabel 3.24
Daftar Utang Tahun 2021
Perangkat Daerah Pemkot Samarinda Kepada Pihak Ketiga
No. Instansi Saldo Tahun 2021
(per 31 Juli 2021)
1 Dinas Pendidikan 179.363.430,00

2 Dinas Kebudayaan -

3 Dinas Kesehatan 12.363.125.010,60

4 Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang 52.558.953.935,40

5 Dinas Perumahan dan Permukiman 19.124325.381,95

6 Dinas Pemadam Kebakaran -

7 Badan Penanggulangan Bencana Daerah -

8 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah -

9 Dinas Perhubungan 522.998.247,00

10. Dinas Lingkungan Hidup 2.005.061.266,70

11. Dinas Kependudukan Catatan Sipil -

12. Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga -


Berencana

13. Dinas Sosial 1.742.455,00

14 Dinas Tenaga Kerja -

15 Dinas Koperasi dan UKM -

16 Dinas Penanaman Modal dan PTSP 410.166.666,67

17 Dinas Kominfo 1.913.567,00

18 Dinas Pariwisata -

19 Dinas Kepemudaan dan Olahraga 149.666.666,67

20 Kesatuan Bangsa dan Politik -

21 Satuan Polisi Pamong Praja -

22 Sekretariat Daerah 2.400.000,00

23 Sekretariat Dewan -

24 Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah 360.733.500,49

25 Inspektorat -

26 Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan 16.800.000,00


Daerah

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-23


No. Instansi Saldo Tahun 2021
(per 31 Juli 2021)
27 Badan Penelitian dan Pengembangan -

28 Badan Pendapatan Daerah 3.217.258.748,25

29 Dinas Ketahanan Pangan -

30 Dinas Pertanahan -

31 Badan Pemberdayaan Masyarakat dan -


Perlindungan Anak

32 Dinas Perpustakaan -

33 Dinas Kearsipan -

34 Dinas Pertanian -

35 Dinas Perikanan -

36 Dinas Perdagangan -

37 Dinas Perindustrian -

38 Kecamatan Palaran 188.428,00

39 Kecamatan Samarinda Seberang -

40 Kecamatan Samarinda Ulu 2.772.588,00

41 Kecamatan Samarinda Ilir -

42 Kecamatan Samarinda Utara -

43 Kecamatan Sungai Kunjang -

44 Kecamatan Sambutan -

45 Kecamatan Samarinda Kota -

46 Kecamatan Sungai Pinang -

47 Kecamatan Loa Janan Ilir 180.900,00

Total 90.908.918.491,73

Tabel diatas memperlihatkan bahwa tahun 2021 Pemkot Samarinda masih


memiliki utang kepada Pihak Ketiga sebesar Rp.90.908.918.491,73 dimana utang
tersebut digunakan untuk membiayai kegiatan di setiap oraganisasi perangkat daerah
tersebut, pada saat ini Pemerintah Kota Samarinda belum bisa melunasi utang tersebut
di karenakan keterbatasan fiskal atau keuangan Pemkot Samarinda yang sampai saat ini

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-24


masih defisit dan belum adanya regulasi yang mengatur tentang mekanisme
penghapusan utang tersebut.

Dana CSR merupakan sebuah komitmen atau tanggung jawab perusahaan untuk
berkontribusi pada pembangunan Pemerintah berkelanjutan yang bertujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Samarinda. Dengan maksud tersebut,
jelas bahwa dana CSR mempunyai kontribusi dalam pembangunan kota Samarinda.
Dengan kata lain, dana CSR dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif sumber
pembiayaan pembangunan selain APBD Kota Samarinda. Sebagaimana perusahaan
lainnya, perusahaan-perusahaan di Kota Samarinda telah melaksanakan CSR, baik
melalui program yang di lakukan Pemerintah Kota Samarinda maupun melalui
pengelolaan secara mandiri. Dengan demikian, diharapkan dapat diketahui berapa
kebutuhan dana CSR yang di perlukan Pemerintah Kota Samarinda dalam membantu
pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan rekomendasi
kebijakan bagi Pemerintah Kota Samarinda dalam melaksanakan CSR agar dapat
berjalan efektif dan efisien di masa yang akan datang. Dana CSR yang diterima
pemerintah Kota Samarinda akan digunakan sesuai dengan sasaran dan kebijakan
dalam RPJMD Kota Samarinda 2021-2026.

Pelaksanaan Analisa Standar Biaya (ASB) di Pemerintah Kota Samarinda sacara


bertahap akan diarahkan kesana karena saat ini Pemerintah Kota Samarinda belum
mempunyai aturan atau dasar hukum mengenai Analisa Standar Biaya tersebut
sehingga belum diterapkan karena Analisa Standar Biaya memiliki peran yang penting
dalam manajemen atau pengelolaan keuangan daerah dan dapat dijabarkan dalam 3
tahap yaitu Tahap Perencanaan, Tahap Penganggaran dan Tahap
Pengawasan/Pemeriksaan. Analisa Standar Biaya (ASB) sangat bermanfaat.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 III-25


BAB IV
PERMASALAHAN DAN ISU STRATEGIS

Permasalahan pembangunan daerah terjadi karena kondisi daerah yang


belum sesuai dengan yang diharapkan. Potensi permasalahan pembangunan daerah
pada umumnya timbul dari kekuatan yang belum didayagunakan secara optimal,
kelemahan yang belum diatasi, peluang yang belum dimanfaatkan, dan ancaman yang
belum diantisipasi. Perumusan permasalahan pembangunan daerah bertujuan untuk
mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan kinerja
pembangunan Kota Samarinda.
Permasalahan pembangunan Kota Samarinda diuraikan berdasarkan faktor-
faktor yang dianggap penting dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah dan atau
terhadap beberapa urusan yang dianggap memiliki pengaruh yang sangat kuat
terhadap munculnya permasalahan pada bidang urusan lainnya. Hal ini bertujuan
agar dapat dipetakan berbagai permasalahan yang terkait dengan urusan yang
menjadi kewenangan dan tanggungjawab penyelenggaraan RPJMD Kota Samarinda
Tahun 2021-2026, guna menentukan isu-isu strategis pembangunan jangka
menengah daerah.
Penyelenggaraan pembangunan Kota Samarinda dalam kurun waktu 2016-
2021 telah membuahkan hasil yang diharapkan, tetapi untuk pembangunan ke depan
masih terdapat permasalahan dan tantangan dari berbagai dimensi pembangunan.
Berbagai permasalahan yang dihadapi Kota Samarinda dipengaruhi oleh faktor
eksternal maupun internal yang terjadi sebagai dampak interaksi dan dinamika
perkembangan berbagai sektor baik pada skala lokal kabupaten, provinsi maupun
nasional. Permasalahan–permasalahan tersebut timbul karena kekuatan yang belum
didayagunakan secara optimal, adanya kelemahan yang tidak diatasi, peluang yang
tidak dimanfaatkan, dan ancaman yang tidak diantisipasi. Berdasarkan hasil evaluasi
gambaran umum kondisi di Kota Samarinda sebagaimana telah disajikan pada bab 2,
terdapat berbagai bidang pembangunan yang telah mengalami kemajuan atau
keberhasilan, namun di sisi lain terdapat pula berbagai permasalahan dan tantangan
yang masih dihadapi dan perlu ditangani melalui serangkaian kebijakan dan program
secara terencana, sinergis, dan berkelanjutan.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-1


4.1 Permasalahan Pembangunan
Permasalahan pembangunan daerah menjadi salah satu rujukan penting dalam
merumuskan berbagai kebijakan pembangunan. Permasalahan yang dirumuskan
merupakan inti dari berbagai permasalahan sektoral yang digabung menjadi satu
rumusan masalah pembangunan. Suatu kebijakan pembangunan harus memiliki
dasar rumusan permasalahan yang relevan sehingga kebijakan publik memiliki
pertimbangan matang sebagai dasar penentuan prioritas pembangunan.
Memasuki tahap akhir dari RPJPD Kota Samarinda tahun 2005-2025, banyak
program/kegiatan yang telah dilakukan pemerintah Kota Samarinda untuk
menjadikan kota ini berdaya saing di tingkat nasional bahkan internasional. Tidak
sedikit program/kegiatan yang dilaksanakan pemerintah Kota Samarinda mampu
menuai prestasi tingkat provinsi dan nasional. Bahkan ibukota provinsi ini mampu
disejajarkan dengan kota-kota metropolitan di Indonesia dalam hal pelaksanaan
program Smart City. Namun meskipun telah banyak prestasi yang dihasilkan oleh
pemerintah Kota Samarinda dalam periode kepemimpinan Walikota Syaharie Ja’ang
dan Wakil Walikota M.Barkati, ternyata masih banyak tuntutan masyarakat yang
belum mampu dipenuhi. Berbagai permasalahan kota seperti banjir, kemacetan,
ruang terbuka hijau, fasilitas listrik, distribusi air bersih, keamanan, ketertiban serta
permasalahan lainnya masih menghiasi media cetak dan menjadi perbincangan
masyarakat di media sosial. Kondisi ini menandakan bahwa Kota Samarinda masih
memiliki banyak “pekerjaan rumah” yang harus dituntaskan pada aspek sosial,
ekonomi, lingkungan, dan hukum & tata kelola. Dari proses Kajian Lingkungan Hidup
Strategis RPJMD Kota Samarinda teridentifikasi isu pembangunan berkelanjutan
prioritas kota samarinda adalah 1) Penyediaan kebutuhan dasar terkait pendidikan,
kesehatan, air dan sanitasi; 2) Penyediaan jaminan sosial masyarakat terkait pangan,
keamanan dan legalitas; 3) Pencegahan dan penanggulangan bencana; 4)
Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; 5) Fasilitasi lapangan kerja dan
pengembangan industri; dan 6) Penyelenggaraan pemerintahan yang akuntabel dan
berintegritas.
Berdasarkan hasil analisis data perkembangan penyelenggaraan bidang
urusan, maka dirumuskan permasalahan pokok Kota Samarinda yaitu pelaksanaan
reformasi birokrasi belum menyentuh seluruh area, pembangunan sumber daya
manusia belum merata untuk mewujudkan masyarakat unggul, belum terwujudnya

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-2


sektor ekonomi yang mendukung ekonomi kerakyatan dan menciptakan daya saing,
dan pembangunan lingkungan belum menggambarkan Samarinda Kota TEPIAN.
Permasalahan pokok tersebut menjadi pemicu utama pembangunan aspek sosial,
ekonomi, lingkungan, hukum dan tata kelola di Kota Samarinda masih belum
menyeluruh menuju kota layak huni.
Permasalahan pokok pembangunan daerah akan dijabarkan ke dalam
permasalahan pembangunan daerah dan akar permasalahannya yang nantinya
menjadi fokus pemerintah Kota Samarinda, sebagai berikut :
1. Pelaksanaan reformasi birokrasi belum menyentuh seluruh area
Secara singkat reformasi birokrasi diartikan sebagai upaya untuk melakukan
pembaharuan dan perubahan mendasar terhadap sistem penyelenggaraan
pemerintah dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintah yang baik (good
governance). Tujuan dari reformasi birokrasi adalah terwujudnya tata kelola
pemerintahan yang baik dengan aparatur berintegritas tinggi, produktif, dan melayani
secara prima dalam rangka meningkatkan kepercayaan publik. Ada 8 (delapan) area
perubahan dalam reformasi birokrasi yang menjadi fokus pembangunan, yaitu :
a. Manajemen perubahan
b. Deregulasi kebijakan
c. Penataan organisasi
d. Penataan tata laksana
e. Penataan SDM aparatur
f. Penguatan akuntabilitas
g. Penguatan pengawasan
h. Peningkatan kualitas pelayanan publik
Reformasi birokrasi di lingkungan pemerintah Kota Samarinda masih belum
menyentuh seluruh area. Akuntabilitas, kapabilitas, dan pelayanan prima merupakan
3 (tiga) sasaran reformasi birokrasi nasional yang masih belum mampu dicapai secara
maksimal oleh pemerintah Kota Samarinda. Berikut ini data capaian evaluasi
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) Kota Samarinda :
Tabel 4.1
Hasil Evaluasi AKIP Tahun 2016-2019
Kota Samarinda

No. Komponen 2016 2017 2018 2019 2020


1. Perencanaan Kinerja 17,89 19,11 20,45 20,46 20,48

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-3


No. Komponen 2016 2017 2018 2019 2020
2. Pengukuran Kinerja 10,67 11,99 13,47 13,10 13,33
3. Pelaporan Kinerja 8,76 10,75 10,43 10,96 10,98
4. Evaluasi Internal 4,95 5,09 5,14 5,61 5,76
5. Capaian Kinerja 13,84 13,99 11,51 11,99 12,05
Nilai Hasil Evaluasi 56,11 60,93 61,00 62,12 62,60
Tingkat CC B B B B
Akuntabilitas
Kinerja

Berdasarkan hasil evaluasi AKIP dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur


Negara, capaian akuntabilitas pemerintah Kota Samarinda berada pada predikat B
dalam kurun waktu 2017-2020. Kondisi yang semestinya menjadi prioritas,
mengingat hasil evaluasi ini menggambarkan akuntabilitas pemerintah Kota
Samarinda tidak memperlihatkan peningkatan yang signifikan. Hal ini tentunya
menjadi perhatian pemerintah Kota Samarinda untuk melakukan perbaikan di
seluruh komponen, terutama pada komponen perencanaan kinerja dan pengukuran
kinerja agar meningkat signifikan. Peningkatan yang signifikan pada seluruh
komponen secara terus menerus akan membuat predikat Kota Samarinda menjadi A.
Sasaran lainnya dari reformasi birokrasi nasional adalah kapabilitas dengan
salah satu ukurannya yaitu Indeks SPBE di daerah. Indeks ini menggambarkan
implementasi IT dalam penyelenggaraan pemerintahan, yang dibangun dari 3 domain
yaitu kebijakan, tata kelola, dan layanan. Pelaksanaan SPBE di Kota Samarinda masih
perlu banyak perbaikan, terutama pada domain tata kelola dan domain layanan.
Masih ditemukan beberapa OPD yang belum memanfaatkan IT untuk
penyelenggaraan pemerintahan, serta lemahnya evaluasi internal atas aplikasi yang
telah ada menjadi penyebab rendahnya penilaian terhadap domain tata kelola dan
domain layanan. Hal ini terlihat dari hasil evaluasi Kementerian Pendayagunaan
Aparatur Negara terhadap pelaksanaan SPBE Kota Samarinda dengan nilai indeks
SPBE 2,79 (baik) dari skala 1-5.
Tabel 4.2
Hasil Evaluasi SPBE Tahun 2018-2019
Kota Samarinda

No. Komponen 2018 2019


1. Domain Kebijakan 2,59 2,59
2. Domain Tata Kelola 2,14 2,57
3. Domain Layanan SPBE 2,91 2,97
Indeks SPBE 2,64 2,79
Predikat SPBE Baik Baik

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-4


Secara menyeluruh, akar masalah dan masalah yang mendasari “pelaksanaan
reformasi birokrasi belum menyentuh seluruh area” adalah sebagai berikut :

Tabel 4.3
Identifikasi Masalah dan Akar Masalah
“Pelaksanaan reformasi birokrasi belum menyentuh seluruh area”

Masalah Akar Masalah


1. Perencanaan program/kegiatan
berdasarkan pada rutinitas, bukan
sebagai langkah penyelesaian
masalah
2. Substansi dokumen perencanaan
daerah belum sepenuhnya dijabarkan
sampai tingkat perangkat daerah
3. Penyelenggaraan pemerintahan yang
Belum optimalnya akuntabilitas kinerja
belum mencerminkan
penyelenggaraan yang bersih dan
bebas dari KKN
4. Pengawasan terhadap administrasi
kepemerintahan belum dilaksanakan
sepenuhnya, terutama pembinaan
5. Penyederhanaan SOTK belum
dilakukan
1. Profiling ASN belum dilakukan
secara menyeluruh
2. Kesadaran ASN untuk meningkatkan
skill dan kompetensi masih rendah
3. Kinerja OPD masih berdasarkan
rutinitas, bukan target kinerja
Birokrasi masih belum kapabel dalam terukur
mengikuti perubahan 4. Evaluasi terhadap kinerja OPD masih
belum dilakukan secara maksimal,
terutama dalam hal reward dan
punishment
5. Masih ada beberapa OPD yang belum
memanfaatkan IT untuk
penyelenggaraan pemerintahan
1. Pendistribusian PNS dan Non-PNS
masih belum merata pada unit-unit
pelayanan publik, terutama
kecamatan dan kelurahan
Belum terlaksananya pelayanan publik 2. Belum meratanya penyediaan sarana
yang prima prasarana yang lengkap dan nyaman
pada unit-unit pelayanan publik
3. Unit-unit pelayanan publik masih
belum dilakukan
sertifikasi/standarisasi

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-5


2. Pembangunan sumber daya manusia belum merata untuk mewujudkan
masyarakat unggul
Sumber daya manusa merupakan aset untuk kemajuan bangsa. Sumber daya
manusia memegang peranan penting dalam pencapaian tujuan-tujuan pembangunan
di daerah. Tidak hanya itu, sumber daya manusia dapat menggambarkan kemampuan
suatu daerah untuk dapat bersaing dengan daerah lain. Masyarakat unggul dapat
digambarkan dari tingginya kualitas pendidikan, kesehatan dan perekonomiannya
yang dapat tergambar dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Apabila melihat
perkembangan IPM dalam beberapa tahun terakhir, Kota Samarinda menduduki
ranking 1 di Kaltim, meskipun terjadi penurunan pada tahun 2020. Penurunan ini
diindikasikan sebagai akibat pandemi COVID-19 yang melanda sepanjang tahun 2020
yang menyebabkan perubahan kondisi pendidikan, kesehatan dan perekonomian
masyarakat di Kota Samarinda. Langkah strategis harus segera diambil oleh
pemerintah Kota Samarinda untuk melakukan pemulihan kembali kondisi
pendidikan, kesehatan dan perekonomian agar terwujud masyarakat unggul.
Apabila di pandang lebih dalam dari sisi pendidikan dan kesehatan, ada
beberapa indikator yang menggambarkan perkembangan negatif, sebagai berikut:
a. Angka Partisipasi Sekolah
Angka partisipasi sekolah Kota Samarinda mengalami penurunan terutama pada
usia 7-12 tahun, dari 100% pada tahun 2018 menjadi 99,88% pada tahun 2019. Hal
ini memperlihatkan bahwa ada 0,12% penduduk usia 7-12 tahun sedang tidak
mengenyam pendidikan, yang dapat disebabkan karena keterbatasan akses, biaya,
dan minimnya kesadaran masyarakat. Angka Pastisipasi Murni (APM) untuk
SMP/MTs/Sederajat juga cenderung turun bahkan jika diproyeksikan hingga akhir
RPJMD ini APM pada tingkatan ini terus turun.
b. Rasio Guru dan Murid
Rasio guru dan murid di Kota Samarinda pada tahun 2019/2020 mengalami
peningkatan dari 1 : 19 menjadi 1 : 21 untuk SD/MI dan 1 : 14 menjadi 1 : 17 untuk
SMP/MTs. Peningkatan ini memperlihatkan bahwa pada tahun ajaran 2019/2020
beban seorang guru menjadi lebih berat, yang disebabkan karena adanya
penurunan jumlah guru pada jenjang SD/MI dan SMP/MTs sementara jumlah
siswa terus meningkat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada kecenderungan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-6


pendistribusian guru PNS dan Non PNS tidak merata ke seluruh sekolah yang ada
di Kota Samarinda.
c. Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Malnutrisi dan Stunting
AKI dan AKB di Kota Samarinda pada tahun 2019 mengalami peningkatan. AKI
meningkat dari angka 59 kasus menjadi 108 kasus per 100.000 kelahiran hidup.
Sedangkan AKB meningkat dari 2 kasus menjadi 3-4 kasus per 1000 kelahiran
hidup. Peningkatan ini memperlihatkan bahwa penanganan ibu hamil dan
melahirkan masih belum dilakukan secara maksimal oleh pemerintah Kota
Samarinda. Demikian pula dengan prevalensi stunting pada anak di bawah lima
tahun ada kecenderungan meningkat. Data prevalensi stunting di Kota Samarinda
pada tahun 2016 adalah 0,68; tahun 2018 adalah 0,49; dan pada tahun 2019
sebesar 14,6. Stunting dan malnutrisi erat kaitannya sebagaimana data di Kota
Samarinda menunjukkan angka prevalensi malnutrisi pada anak kurang dari lima
tahun adalah 0,98 di tahun 2015; 0,5 di tahun 2017 dan 9,1 di tahun 2019.
Secara menyeluruh, akar masalah dan masalah yang mendasari “pembangunan
sumber daya manusia belum merata untuk mewujudkan masyarakat unggul” adalah
sebagai berikut :
Tabel 4.4
Identifikasi Masalah dan Akar Masalah
“Pembangunan sumber daya manusia belum merata untuk mewujudkan masyarakat
unggul”

Masalah Akar Masalah


Kualitas pelayanan pendidikan belum 1. Kualitas sarana dan prasarana yang
maksimal lengkap dan layak untuk proses belajar
mengajar belum merata
2. Belum semua sarana pendidikan formal
dan non formal menerapkan teknologi
secara optimal dalam proses belajar
mengajar
3. Akses pendidikan bagi siswa miskin
dan berkebutuhan khusus masih perlu
ditingkatkan
4. Rasio guru terhadap siswa masih belum
mampu memenuhi proses belajar
mengajar yang nyaman
Pelayanan kesehatan belum optimal ke 1. Belum meratanya jumlah
seluruh wilayah sarana/fasilitas/ jaringan dan kualitas
pelayanan kesehatan
2. Masih ditemukannya kasus kematian
ibu dan bayi, serta gizi kurang
3. Masih ditemukannya kasus stunting

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-7


Masalah Akar Masalah
4. Kurangnya kesadaran masyarakat
untuk melaksanakan perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS) serta menjaga
kesehatan diri sendiri dan lingkungan
5. Minimnya perluasan cakupan
pelayanan kesehatan kepada
masyarakat miskin dengan lebih
proaktif
Kualitas tenaga kerja belum sepenuhnya 1. Belum optimal pelaksanaan
mampu memenuhi kebutuhan pasar kerja peningkatan keterampilan dan
kecakapan tenaga kerja
2. Belum adanya kebijakan di daerah
terkait peningkatan kualitas
ketenagakerjaan

3. Belum terwujudnya sektor ekonomi yang mendukung ekonomi kerakyatan dan


menciptakan daya saing

Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang berbasis pada kekuatan


ekonomi rakyat. Dimana ekonomi rakyat sendiri adalah sebagai kegiatan ekonomi
atau usaha yang dilakukan oleh rakyat kebanyakan (popular) yang dengan secara
swadaya mengelola sumberdaya ekonomi apa saja yang dapat diusahakan dan
dikuasainya. Ekonomi kerakyatan itu sendiri merupakan suatu program
pembangunan untuk menyelaraskan distribusi pendapatan dengan mendorong
masyarakat menuju kesejahteraan.

Perekonomian Kota Samarinda telah bertahun-tahun di topang oleh sektor jasa


dan perdagangan, yang lebih mengandalkan perkembangan koperasi, UMKM,
industri rumah tangga, dan IKM sebagai bentuk implementasi ekonomi kerakyatan.
Namun memasuki tahun 2020, terjadi pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia,
yang berimbas secara nyata terhadap kondisi perekonomian daerah termasuk sektor
yang menjadi andalan Kota Samarinda. Oleh karena itu diperlukan adanya langkah
strategis untuk mengembangkan perekonomian daerah di segala sektor dalam rangka
pemulihan pasca COVID-19 sehingga tidak terjadi penurunan kualitas ekonomi
masyarakat.

UMKM merupakan salah satu implementasi ekonomi kerakyatan di Kota


Samarinda yang perkembangannya sangat positif, yang mencatatkan pertumbuhan
tahun 2019 sebesar 4,20% untuk usaha mikro, 2,09% usaha kecil, dan 1,36% usaha

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-8


menengah. Selain itu, UMKM juga merupakan unit usaha yang turut menggerakkan
sektor jasa dan perdagangan di Kota Samarinda. Namun kedua sektor tersebut masih
belum memperlihatkan komoditi yang menggambarkan unggulan Kota Samarinda,
yang nantinya akan mendorong tumbuhnya UMKM untuk bergerak di komoditi
tersebut. Identifikasi komoditi unggulan inilah yang harus dilakukan oleh pemerintah
Kota Samarinda untuk mendorong daya saing ekonomi daerah.

Identifikasi capaian tujuan pembangunan berkelanjutan terkait dengan


industri kecil mengidentifikasi bahwa di Kota Samarinda terkait dengan proporsi
industri kecil dengan pinjaman atau kredit masih sangat rendah yaitu di angka 1,36%
di tahun 2018 dan 1,15% di tahun 2019. Diperlukan interpensi untuk meningkatkan
peran perbankan untuk meningkat modal para pelaku usaha industri kecil dan
menengah di Kota Samarinda.

Implementasi ekonomi kerakyatan di Kota Samarinda juga dilakukan melalui


koperasi. Jumlah koperasi di Kota Samarinda memperlihatkan capaian yang positif,
karena mengalami peningkatan selama kurun waktu tahun 2017-2019 dari 1.231
menjadi 1.301 unit. Namun peningkatan jumlah tersebut tidak diimbangi dengan
peningkatan koperasi aktif, terlihat adanya penurunan dari 841 menjadi 287 unit
koperasi aktif, dengan persentase hanya 22,06% dari seluruh koperasi. Penurunan ini
memperlihatkan bahwa pemerintah Kota Samarinda belum melakukan pengawasan
dan pembinaan terhadap seluruh koperasi, baik yang telah ada maupun yang baru
terbentuk guna mempertahankan persentase koperasi aktif di atas 50%.

Kota jasa dan perdagangan yang melekat di Kota Samarinda tentu tidak hanya
lahir dari UMKM dan koperasi, namun sektor lainnya pun bisa memberikan nilai
tambah yang sama apabila dikelola secara fokus dan terarah, contohnya pertanian dan
pariwisata. Meskipun PDRB dari pertanian menunjukkan kontribusi terendah, bukan
berarti sektor ini tidak mampu menghasilkan lebih banyak lagi. Industri hilir untuk
komoditi pertanian bisa menjadi salah satu langkah tepat untuk meningkatkan nilai
tambah pertanian. Namun hingga saat ini, industri hilir belum dikelola dengan baik
oleh pemerintah Kota Samarinda, sehingga hasil penjualannya pun masih belum
mampu bersaing. Sedangkan pariwisata sendiri masih belum mampu menempati
sektor yang strategis di Kota Samarinda. Saat ini dominasi kunjungan ke Kota
Samarinda dilakukan terbanyak pada wisata religi, wisata buatan dan wisata susur

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-9


sungai. Namun ketiga wisata ini masih belum mampu menjadi alasan kedatangan
wisatawan domestic untuk berkunjung ke Kota Samarinda.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-10


Gambar 4.1
Proporsi Kunjungan Wisatawan Domestik Per Objek Wisata Tahun 2019
Kota Samarinda

Susur Sungai Budaya Alam


5% 1% 2%

Buatan
25%

Belanja
Religi
6%
61%

Secara menyeluruh, akar masalah dan masalah yang mendasari “belum


terwujudnya sektor ekonomi yang mendukung ekonomi kerakyatan dan menciptakan
daya saing” adalah sebagai berikut :
Tabel 4.5
Identifikasi Masalah dan Akar Masalah
“Belum terwujudnya sektor ekonomi yang mendukung ekonomi kerakyatan dan
menciptakan daya saing”

Masalah Akar Masalah


Pemberdayaan ekonomi kerakyatan masih 1. Rendahnya keinginan untuk
belum maksimal berwirausaha, terutama bagi
masyarakat kurang mampu
2. Pemerintah belum secara aktif
melibatkan UMKM dalam seluruh
kegiatan
3. Pertumbuhan UMKM yang tinggi
tidak diimbangi dengan
keberlangsungan usahanya
4. Belum maksimalnya peran perbankan
terkait penawaran pinjaman dan
permodalan
Sektor ekonomi belum mampu 1. Komoditi unggulan daerah belum
menggambarkan keunggulan dan daya diidentifikasi secara maksimal dan
saing daerah komprehensif
2. Investasi masih fokus pada
penyediaan sarana perdagangan,

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-11


Masalah Akar Masalah
bukan pada pengembangan komoditi
unggulan daerah
Belum optimalnya identifikasi terhadap 1. Program pembangunan tidak secara
sektor-sektor yang berpotensi fokus mengarahkan pada
memberikan nilai tambah ekonomi pengembangan industri hilir
2. Wisata yang ada masih belum mampu
menarik wisatawan domestic dan
potensi wisata belum dikembangkan
secara maksimal
3. Kerjasama pengembangan sektor
wisata tidak melibatkan para pihak
(ada kecenderungan berjalan sendiri-
sendiri)

4. Pembangunan lingkungan belum menggambarkan Samarinda Kota TEPIAN

Berdasarkan hasil kajian Pembangunan Berketahanan Iklim (Bappenas, 2020)


Kota Samarinda menjadi salah satu Kota di Kalimantan Timur yang perlu
memprioritaskan ketahanan di sektor pertanian. Kota Samarinda termasuk kota yang
rentan akan bahaya iklim yang berdampak pada sektor pertanian. Apabila tidak
ditanggulangi, hal ini mengakibatkan bencana di sektor pertanian.

Masalah lain terkait lingkungan di Kota Samarinda adalah masalah banjir. Akar
dari penyebab dari terjadinya banjir perlu menjadi perhatikan di Kota Samarinda
yaitu dari perubahan penggunaan lahan daerah resapan air, serta pendangkalan dan
sedementasi sungai. Penyebab banjir lainnya adalah mengenai isu pengelolaan limbah
karena jumlah limbah padat yang berakhir di sungai sangat banyak. Tingginya jumlah
limbah rumah tangga menunjukkan masih kurangnya kesadaran masyarakat akan
prinsip-prinsip pengelolaan limbah yang baik, baik dalam mengurangi dan
mendaurulang. Saat ini, tidak ada peraturan daerah yang secara khusus mencakup
peningkatan nilai ekonomi melalui limbah dan bentuk insentif yang diberikan untuk
keberhasilan pengelolaan limbah rumah tangga.

Sungai memainkan peran penting di Kota Samarinda. Sungai digunakan


sebagai sumber air bagi masyarakat serta menjadi drainase utama untuk
pengendalian banjir dan sumber cadangan air hujan. Dinas Lingkungan Hidup
Samarinda melakukan pengujian kualitas air setiap tahunnya, menggunakan metode
Sumitomo and Nemerow Pollution Index. Hasilnya menunjukkan bahwa banyak
sungai di Kota Samarinda yang sangat tercemar. Pada dokumen daya dukung dan
daya tampung lingkungan hidup Kota Samarinda juga diketahui bahwa daya dukung

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-12


air di Kota Samarinda sudah melampaui status daya dukungnya terutama pada
kualitas air.

Secara menyeluruh, akar masalah dan masalah yang mendasari “pembangunan


lingkungan belum menggambarkan Samarinda Kota TEPIAN” adalah sebagai berikut:

Tabel 4.6
Identifikasi Masalah dan Akar Masalah
“Pembangunan lingkungan belum menggambarkan Samarinda Kota TEPIAN”

Masalah Akar Masalah


1. Drainase perkotaan maupun perumahan
masih belum tertata dengan baik
2. Infrastruktur pengendali banjir belum
Bencana banjir masih kerap terjadi dan
berfungsi maksimal
dalam waktu yang lama
3. Alih fungsi lahan yang tidak sesuai
dengan RTRW terutama pada daerah
resapan air
1. Belum selesainya program penataan tepi
SKM
Masih terlihat permukiman kumuh di
2. Kurangnya pengawasan terhadap
bantaran sungai
aktivitas sosial-ekonomi masyarakat di
sepanjang tepi sungai
1. Pertumbuhan kendaraan tidak
diimbangi dengan peningkatan kondisi
jalan
2. Pemanfaatan bahu jalan yang tidak
Mobilitas orang dan barang di beberapa sesuai peruntukkannya, salah satunya
wilayah masih belum lancar parkir
3. Peningkatan kualitas dan kuantitas jalan
belum dilakukan untuk menghubungkan
antar wilayah, khususnya wilayah
strategis
1. Kesadaran masyarakat yang masih
rendah dalam menjaga dan menata
lingkungan termasuk pengelolaan
Penataan lingkungan perkotaan masih sampah
belum maksimal 2. Belum adanya kerjasama pemerintah
dan swasta dalam menjaga dan menata
lingkungan termasuk kerjasama para
pihak pengelolaan sampah

Selain identifikasi masalah pokok, masalah, dan akar masalah yang menjadi
prioritas pemerintah Kota Samarinda, pada bagian ini di tampilkan pula
permasalahan setiap urusan yang akan menjadi fokus OPD.
4.1.1 Pelayanan Umum Wajib Dasar
A. Pendidikan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-13


 Belum meratanya kualitas layanan Pendidikan
 Masih perlunya peningkatan akses pendidikan bagi siswa miskin dan
berkebutuhan khusus
 Kurangnya sarana dan prasarana pendidikan
 Belum optimalnya penggunaan IT dalam belajar mengajar di sekolah
 Rasio guru terhadap siswa masih rendah
 Angka partisipasi murni terutama pada SMP sederajat cenderung turun
 Angka partisipasi kasar Pendidikan Usia Dini (PAUD) rendah.

B. Kesehatan
 Masih rendahnya angka usia harapan hidup Kota Samarinda bila
dibandingkan dengan propinsi, dimana pada tahun 2019 sebesar 74,17
tahun, sedangkan propinsi 74,22 tahun.
 Belum maksimalnya tingkat mutu pelayanan rumah sakit, dan puskesmas
dan puskesmas pembantu
 Belum optimalnya kualitas, kuantitas dan distribusi sumber daya manusia
kesehatan
 Belum meratanya jumlah sarana/fasilitas/ jaringan dan kualitas
pelayanan kesehatan
 Masih ditemukannya kasus kematian ibu dan bayi, serta gizi kurang (ada
kecenderungan prevalensi malnutrisi pada anak usia kurang dari lima
tahun cenderung naik)
 Masih ditemukannya kasus stunting dan ada kecenderungan meningkat
 Masih ditemukannya kasus penyakit menular dan adanya kecenderungan
meningkatnya kasus penyakit tidak menular
 Kurangnya kesadaran masyarakat untuk melaksanakan pola hidup bersih
dan sehat serta menjaga kesehatan lingkungan. Terdapat kecenderungan
prevalensi obesitas pada penduduk usia >18 tahun terus naik.
 Minimnya perluasan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat
miskin dengan lebih proaktif.
 Belum maksimalnya perhatian terhadap asuransi kesehatan penduduk

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-14


C. PU dan Penataan Ruang
 Ketersediaan jaringan jalan dan jembatan yang belum optimal dari segi
kualitas dan kuantitas
 Penanggulangan banjir belum optimal
 Pengelolaan dan Pengembangan sistem air limbah domestik belum
memadai
 Penyelenggaraan penataan ruang masih belum optimal
 Penyediaan database bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang belum
maksimal
 Belum optimalnya peningkatan penyediaan infrastruktur air minum, air
limbah, dan persampahan.

D. Perumahan dan Kawasan Permukiman


 Keberadaan kawasan permukiman kumuh yang belum tertangani secara
kualitas dan kuantitas
 Minimnya ketersediaan rumah yang layak huni bagi masyarakat
berpenghasilan rendah

E. Ketentraman Ketertiban Umum serta Perlindungan Masyarakat


 Kurangnya kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap regulasi di
daerah
 Masih tingginya kejadian kebakaran dan bencana
 Masih tingginya proporsi penduduk yang menjadi korban kejahatan
kekerasan
 Kurangnya pengawasan terhadap instalasi kelistrikan yang memicu
kebakaran terutama pada kawasan padat penduduk
 Kurangnya sarana prasarana pemadam kebakaran
 Belum maksimalnya cepat tanggap kebakaran berbasis partisipasi
masyarakat
 Belum adanya dokumen rencana penanggulangan bencana, termasuk
masih kurangnya pemanfaatan IT dalam sistem peringatan dini
kebencanaan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-15


F. Sosial
 Kemiskinan absolut yang cenderung tersebar dan cenderung meningkat
 Masih belum optimalnya pemberdayaan masyarakat miskin dan
penanganan sosial bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)
 Perlunya pengelolaan data dan pemanfaatan Data Terpadu Kesejahteraan
Sosial (DTKS) oleh seluruh pemangku kepentingan sebagai dasar
penanganan kemiskinan dan PMKS lainnya
 Perlunya penguatan kapasitas sumber daya manusia Potensi Sumber
Kesejahteraan Sosial (PSKS) melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial
 Belum optimalnya pemenuhan hak dasar dan inklusiv bagi penyandang
disabilitas miskin

4.1.2 Pelayanan Umum Wajib Non Dasar


A. Tenaga Kerja
 Masih ditemukan tingkat pengangguran terbuka (6,16% tahun 2019) dan
setengah pengangguran (7,8% tahun 2018).
 Keterbatasan keterampilan dan kecakapan tenaga kerja yang kurang sesuai
dengan pasar kerja yang membutuhkannya
 Jumlah angkatan kerja (usia produktif) yang besar tidak diimbangi dengan
penyediaan lapangan kerja yang memadai
 Belum terlindunginya tenaga kerja dari ancaman PHK dan belum
terjaminnya hak dan kewajiban pekerja
 Masih rendahnya pertumbuhan wirausaha baru
B. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
 Pengarusutamaan gender dalam perumusan peraturan perundang-
undangan, kelembagaan, dan kebijakan anggaran masih kurang
 Belum optimalnya monitoring dan evaluasi terhadap Pengarusutamaan
gender dalam pembangunan
 Perlindungan dan pemenuhan hak dasar perempuan dalam kehidupan
sosial, ekonomi, budaya dan politik belum memadai
 Belum optimalnya pemenuhan hak anak

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-16


 Masih adanya kasus kekerasan perempuan dan anak baik secara fisik
maupun verbal dan termasuk kekerasan seksual
 Belum padu sinergi layanan untuk pencegahan kekerasan terhadap
perempuan dan anak
 Belum semua infrastruktur dan lingkungan yang responsif gender dan
responsif anak
C. Ketahanan Pangan
 Masih terdapat prevalensi penduduk dengan kerawanan pangan sedang
atau berat berdasarkan skala pengalaman kerawanan pangan
 Masih ditemukan prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan
 Ketersediaan pangan melalui pengembangan pangan lokal masih kurang
 Pola konsumsi masyarakat yang masih bergantung pada beras dan terigu,
 Konsumsi pangan masyarakat belum mencerminkan gizi seimbang.
 Ketersedian cadangan pangan masih tergantung dengan daerah lain
 Belum berkembangnya industri yang berbasis bahan pangan lokal untuk
mendukung keanekaragaman pangan.
 Kurangnya pengetahuan atau teknologi untuk pengujian pangan sehat,
segar dan halal
D. Pertanahan
 Masih banyaknya kasus tumpang tindih sertifikat tanah yang terjadi di
masyarakat
 Masih lemahnya tata kelola administrasi legalitas tanah
E. Lingkungan Hidup
 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kota Samarinda yang cukup rendah
khususnya kualitas air
 Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau Publik Kota Samarinda masih sangat
rendah dibandingkan dengan luasan Kota samarinda
 Meningkatnya jumlah timbulan sampah yang tidak sebanding dengan
cakupan pelayanan
 Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan dan pemberdayaan
masyarakat untuk peduli terhadap pengelolaan sampah secara mandiri

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-17


 Sungai-sungai yang berada di kota samarinda masih belum tertangani
secara maksimal (pencemaran dan sampah lingkungan)
 Tingginya ketidaksesuaian Fungsi Lahan dengan Pola Ruang
Peruntukannya yang menimbulkan dampak pada kelestarian lingkungan
F. Kependudukan dan Pencatatan Sipil
 Belum optimalnya penataan administrasi kependudukan dan pencatatan
sipil
 Masih rendahnya kepemilikan akta kelahiran bagi penduduk 40%
berpendapatan ke bawah (39,1% pada tahun 2018)
 Masih rendahnya kepemilikan akta kematian
 Sapras yang terbatas karena ketergantungan dari pusat
G. Pemberdayan Masyarakat dan Desa
 Belum semua masyarakat memiliki kemampuan, pengetahuan dan
keterampilan yang sama untuk mendapatkan akses terhadap manfaat aset
milik negara, pengetahuan, teknologi, alat produksi, modal dan pasar, serta
akses terhadap sumber sumber daya keuangan
 Belum optimalnya Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dalam
mengembangkan potensi dan nilai kearifan lokal dan kawasan untuk
meningkatkan kesejahteraannya
 Pelibatan kelompok perempuan, dan kelompok/forum anak dalam
pembangunan yang masih perlu ditingkatkan
H. Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana
 Rendahnya sinergitas antara PLKB, Kader KB dengan stakeholder
Kecamatan dan Kelurahan
 Penggunaan alat kontrasepsi masih di dominisai perempuan
 Perlunya peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga
I. Perhubungan
 Pengelolaan Perparkiran dan industri perparkiran belum optimal untuk
mengatasi kemacetan dan peningkatan PAD
 Ketersediaan perlengkapan jalan belum optimal dari segi kuantitas dan
kualitas
 Pelaksanaan manajemen dan rekayasa lalu lintas untuk jaringan jalan
belum optimal

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-18


J. Komunikasi dan Informatika
 Infrastruktur jaringan telekomunikasi perkotaan yang masih perlu
ditingkatkan
 Pemanfaatan aplikasi dan sistem informasi pelayanan pubik yang
dikembangkan masih belum sepenuhnya digunakan oleh masyarakat
 Pengelolaan e-Government di lingkup Pemerintahan Kota belum optimal
 Penyelenggaraan Informasi dan komunikasi publik belum optimal

K. Statistik
 Belum meratanya ketersediaan data di OPD untuk menggambarkan
capaian bidang urusan dan termasuk penyediaan data untuk capaian
indikator tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB/SDGs)
 Belum terlaksananya pemanfaatan data dan berbagi pakai data melalui
sistem integrasi data sektoral
L. Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah
 Kurang optimalnya kelembagaan dan pengawasan bagi Koperasi dan UKM
 Kurang optimalnya kelembagaan dan pengawasan bagi KUKM
 Kurangnya pengikutsertaan Koperasi dan UKM dalam kegiatan
pemerintah
 Masih kurangnya kontribusi koperasi yang ada di kota Samarinda terhadap
peningkatan perekonomian
 Rendahnya daya saing Koperasi dan UKM
 Kurangnya kerjasama Koperasi dan UKM dengan Lembaga keuangan dan
perbankan
M. Penanaman Modal dan PTSP
 Belum optimalnya dan pelayanan perijinan terhadap masyarakat dan
investasi;
 Peningkatan daya saing investasi melalui dukungan infrastruktur
pendukung masih kurang;
 Pemberian insentif dan kemudahan investasi belum optimal diterapkan
dalam menarik investasi;

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-19


 Kurang optimalnya promosi dalam peningkatan investasi
N. Kepemudaan dan Olahraga
 Belum optimalnya partisipasi aktif kepemudaan dalam pembangunan
 Masih rendahnya kewirausahaan pemuda
 Masih kurangnya pembinaan calon atlet berprestasi, terutama ditingkat
junior
 Sosialisasi gerakan olahraga sebagai budaya kerja dan gaya hidup masih
perlu ditingkatkan
 Sarana dan prasarana olah raga untuk pembinaan atlet menuju tingkat
nasional dan internasional masih kurang
 Pemanfaatan sarana olahraga bagi masyarakat di lingkungan kelurahan
masih perlu ditingkatkan
 Masih kurangnya sarana dan prasarana kepemudaan dan pemeliharaannya
O. Kebudayaan
 Belum optimalnya pelestarian seni dan budaya yang berbasis kearifan
lokal, menbangun jati diri dan mewarnai segenap sektor kehidupan.
 Masih lemahnya perlindungan hukum bagi semua aset kebudayaan baik
yang fisik maupun non fisik dalam bentuk hak atas kekayaan intelektual
bangsa.
P. Perpustakaan
 Masih rendahnya budaya literasi di masyarakat
 Belum optimalnya pelayanan Perpustakaan dalam menarik minat
masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan
 Belum optimalnya pembinaan perpustakaan Umum dan perpustakaan
khusus.
Q. Kearsipan
 Belum dikembangkannya sistem arsip daerah yang terintegrasi
 Terbatasnya kuantitas dan kualitas SDM pengelola kearsipan
 Sarana dan prasarana penyimpanan arsip daerah yang belum optimal
sesuai standar

4.1.3 Pelayanan Umum Urusan Pilihan


A. Perairan dan Perikanan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-20


 Masih rendahnya pengembangan budidaya perikanan darat
 Belum optimalnya pengolahan hasil perikanan yang dapat meningkatkan
nilai tambah ekonomi
 Kurangnya pemanfaatan teknologi dalam pengembangan budidaya
perikanan
 Kurangnya dukungan sarana dan prasarana perikanan tangkap dan
budidaya

B. Pariwisata
 Belum maksimalnya pengembangan potensi alam menjadi destinasi wisata
 Belum optimalnya promosi pariwisata sehingga kunjungan wisatawan
masih sangat rendah.
 Kurangnya pengelolaan tempat wisata (alam, budaya, buatan dan lain-lain)
 Kurangnya infrastruktur pendukung pariwisata
 Tidak adanya pengembangan wisata buatan
C. Pertanian
 Masih rendahnya tingkat produksi pangan pengganti padi
 Masih rendahnya tingkat kualitas padi yang sesuai dengan karateristik
lahan di daerah
 Rendahnya produktifitas pangan dan perkebunan
 Belum adanya pengembangan rumah potong hewan
 Belum adanya regulasi lahan pertanian berkelanjutan di daerah
 Rendahnya tingkat pengawasan terhadap pemotongan unggas di luar
rumah potong yang dilakukan oleh pedagang
 Belum optimalnya penggunaan teknologi tepat guna dalam pertanian
 Kurangnya sarana dan prasarana pertanian yang baik
D. Perdagangan
 Belum adanya regulasi zonasi untuk pedagang sektor informal lainnya
sehingga menimbulkan dampak negatif bagi kegiatan lainnya
 Belum terwujudnya pengelolaan pasar tradisional menjadi pasar sehat
 Belum optimalnya perlindungan konsumen dan tertib niaga
 Belum adanya komoditi unggulan karateristik daerah

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-21


 Belum optimalnya peran pengendalian harga barang kebutuhan pokok dan
barang penting
 Kurangnya sarana dan prasarana bidang perdagangan yang sesuai standar.
E. Perindustrian
 Belum optimalnya keterkaitan sektor industri dengan sektor lainnya
 Belum tersedianya kawasan berikat
 Belum optimalnya inovasi teknologi industri
 Kurangnya produk IKM yang terstandarisasi (SNI, Halal, Barcode, ISO)
 Masih rendahnya kualitas, desain dan kemasan produk industri rumah
tangga dan IKM
 Kurangnya peningkatan produksi unggulan daerah

4.1.4 Penunjang
A. Urusan Perencanaan Pembangunan Daerah
 Belum optimalnya sinergi sumber-sumber pembiayaan pembangunan,
baik pemerintah (APBN, APBD Provinsi, APBD Kab/Kota) dan non
pemerintah (KPBU, CSR, dll).
 Belum terbangunnya Sistem Satu Data Pembangunan dan Terpadu;
 Belum optimalnya sinergi antar dokumen perencanaan dan penganggaran;
 Belum optimalnya pemanfaatan data dan informasi untuk perencanaan
pembangunan;
 Kurang optimalnya implementasi perencanaan pengembangan wilayah
pada kawasan cepat tumbuh

B. Bidang Penelitian dan Pengembangan


 Belum optimalnya pemanfaatan hasil-hasil penelitian dan pengkajian
yang belum ditindaklanjuti dengan kebijakan;
 Belum adanya sumber daya manusia khususnya fungsional peneliti bidang
penelitian dan pengembangan.
 Budaya Inovasi masih rendah
 Akses dan link kerjasama pengembangan penelitian yang berkelanjutan
antar stakeholders masih kurang.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-22


C. Pengawasan
 Kurangnya kualitas dan kuantitas SDM auditor
 Pemanfaatan IT dalam sistem pengawasan dan penilaian kinerja aparatur
 Pembinaan pengelolaan administrasi kepemerintahan masih belum
optimal

D. Kepegawaian Serta Pendidikan dan Pelatihan


 Masih belum meratanya distribusi pegawai dan penempatan jabatan yang
sesuai kompetensi,
 Masih kurangnya intensitas pelaksanaan diklat teknis, struktural dan
fungsional dalam pengelolaan pembangunan
 Pelayanan administrasi kepegawaian masih memerlukan perbaikan di
semua lini.

E. Keuangan Dan Aset Daerah


 Belum terlaksananya berbagi pakai data pengelolaan keuangan daerah
untuk perencanaan, monitoring dan evaluasi pembangunan
 Belum optimalnya manajemen pengelolaan dan pemanfaatan aset daerah
 Belum maksimalnya pemungutan pendapatan daerah yang bersumber dari
pemanfaatan aset pemerintah
 Belum optimalnya penggalian potensi pendapatan asli daerah

F. Sekretariat Daerah
 Belum optimalnya sinergitas antar OPD
 Kerjasama, kemitraan dan jejaring kerja antara masyarakat sipil, DPRD,
partai politik dan pemerintah daerah dalam mengatasi permasalahan
daerah serta dalam kapasitas penguatan kelembagaan belum optimal;
 Pelayanan publik di kecamatan masih belum terakreditasi
 Kurangnya pembinaan dalam penyusunan laporan akuntabilitas
 Belum dilakukan evaluasi terhadap SOTK perangkat daerah menyesuaikan
peraturan perundangan terbaru

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-23


 Kurangnya pembinaan terhadap pengelolaan BUMD serta pengelolaan
CSR
 Sinergi antar pemangku wilayah dalam penyelesaian tata batas belum
maksimal

G. Kesatuan Bangsa dan Politik


 Belum optimalnya pendidikan politik dan wawasan kebangsaan di
masyarakat baik individu maupun organisasi
 Tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu masih perlu ditingkatkan
khususnya pemilih pemula
 Kewaspadaan menjelang dan pasca pemilihan kepala daerah masih perlu
ditingkatkan melalui forkopimda
 Belum optimalnya pengendalian, pengawasan dan pembinaan organisasi
masyarakat (ORMAS) yang ada
 Belum optimalnya pembinaan dan pengembangan ketahanan ekonomi
dan sosial budaya

4.2 Isu-Isu Strategis


Isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau
dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan
bagi entitas (daerah/masyarakat) dimasa datang. Suatu kondisi/ kejadian yang
menjadi isu strategis adalah keadaan yang apabila tidak diantisipasi, akan
menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya, dalam hal tidak
dimanfaatkan, akan menghilangkan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dalam jangka panjang. Karakteristik suatu isu strategis adalah kondisi
atau hal yang bersifat penting, mendasar, berjangka panjang, mendesak, bersifat
kelembangaan/ keorganisasian dan menentukan tujuan di masa yang akan datang.
Isu-isu strategis di Kota Samarinda dirumuskan berdasarkan permasalahan
pembangunan daerah, tantangan dan potensi pembangunan daerah ke depan, yang
meliputi aspek fisik dan lingkungan, sosial budaya, ekonomi keuangan, dan aspek
pemerintahan. Analisis isu-isu strategis merupakan bagian penting dan sangat
menentukan dalam proses penyusunan rencana pembangunan daerah untuk
melengkapi tahapan-tahapan yang telah dilakukan sebelumnya. Identifikasi isu yang

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-24


tepat dan bersifat strategis meningkatkan akseptabilitas prioritas pembangunan,
dapat dioperasionalkan dan secara moral dan etika birokratis dapat
dipertanggungjawabkan.

4.2.1 Isu Strategis Internasional


4.2.1.1 Asean Free Trade Area (AFTA)
Isu strategis internasional yang sangat berpengaruh terhadap Kota Samarinda
adalah AFTA (ASEAN Free Trade Area), isu strategis ini berkaitan langsung dengan
isu perdagangan bebas di kawasan ASEAN yang dilaksanakan tahun 2015 menjadi
tantangan besar bagi daerah. Dengan terbukanya pasar bebas di kawasan ASEAN,
maka aliran perdagangan barang dan jasa, investasi, dan perpindahan tenaga kerja
antar negara ASEAN tak ada lagi hambatannya. Dengan adanya AFTA ini antara lain
peningkatan perdagangan international, tebukanya peluang kerja lebih banyak,
meningkatkan kompetisi antar pengusaha, terbukanya peluang pengusaha local untuk
go international meningkatkan nilai ekspor, dapat meningkatkan devisa dari sektor
pariwisata, tidak adanya bea cukai sehingga banyaknya produk dari Negara-negara
tetangga masuk dan itu merupakan keuntungan bagi konsumen, serta kompetisi antar
pengusaha, tentu ini akan menghadirkan peluang sekaligus tantangan tersendiri bagi
pembangunan ekonomi bagi Kota Samarinda.

4.2.1.2 Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)


Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah masyarakat yang masuk dalam
kawasan bebas AFTA, atau negara-negara yang masuk dalam AFTA. Jadi kawasan
ekonomi suatu negara yang termasuk dalam MEA ini akan menjadi lebih luas, adanya
perekonomian yang menglobal diantara para negara-negara ASEAN. Dengan adanya
MEA maka menjadi kesempatan yang baik bagi Kota Samarinda untuk
mengembangkan kualitas dan kuantitas produk daerah serta kualitas sumber daya
manusia.

4.2.1.3 Sustainable Development Goals (SDG’s)


Terkait dengan isu-isu strategis, bahasan isu strategis dimulai dari isu
strategis global, isu strategis nasional, isu strategis Provinis Kalimantan Timur, dan
isu strategis Kota Samarinda. Isu strategis global khususnya terkait dengan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-25


Sustainable Development Goals (SDGs). SDGs memiliki 5 pondasi yaitu manusia,
planet, kesejahteraan, perdamaian, dan kemitraan yang ingin mencapai tiga tujuan
mulia di tahun 2030 berupa mengakhiri kemiskinan, mencapai kesetaraan dan
mengatasi perubahan iklim. Untuk mencapai tiga tujuan mulia tersebut, disusunlah
17 Tujuan Global berikut ini. SDGs memiliki lima pondasi yaitu manusia, planet,
kesejahteraan, perdamaian, dan kemitraan yang ingin mencapai tiga tujuan mulia di
tahun 2030 berupa mengakhiri kemiskinan, mencapai kesetaraan dan mengatasi
perubahan iklim.
Dalam rangka mencapai tiga tujuan mulia tersebut, disusunlah 17 Tujuan
Global berikut ini:
1. Tanpa Kemiskinan. Tidak ada kemiskinan dalam bentuk apapun di seluruh
penjuru dunia.
2. Tanpa Kelaparan. Tidak ada lagi kelaparan, mencapai ketahanan pangan,
perbaikan nutrisi, serta mendorong budidaya pertanian yang berkelanjutan.
3. Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan. Menjamin kehidupan yang sehat
serta mendorong kesejahteraan hidup untuk seluruh masyarakat di segala umur.
4. Pendidikan Berkualitas. Menjamin pemerataan pendidikan yang berkualitas
dan meningkatkan kesempatan belajar untuk semua orang, menjamin pendidikan
yang inklusif dan berkeadilan serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup
bagi semua orang.
5. Kesetaraan Gender. Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum
ibu dan perempuan.
6. Air Bersih dan Sanitasi layak. Menjamin ketersediaan air bersih dan sanitasi
yang berkelanjutan untuk semua orang.
7. Energi Bersih dan Terjangkau. Menjamin akses terhadap sumber energi yang
terjangkau, terpercaya, berkelanjutan dan modern untuk semua orang.
8. Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan yang Layak. Mendukung
perkembangan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif, lapangan kerja yang
penuh dan produktif, serta pekerjaan yang layak untuk semua orang.
9. Industri, Inovasi dan Infrastruktur. Membangun infrastruktur yang
berkualitas, mendorong peningkatan industri yang inklusif dan berkelanjutan
serta mendorong inovasi.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-26


10. Mengurangi Kesenjangan. Mengurangi ketidaksetaraan baik di dalam sebuah
negara maupun di antara negaranegara di dunia.
11. Keberlanjutan Kota dan Komunitas. Membangun kota-kota serta
pemukiman yang inklusif, berkualitas, aman, berketahanan dan bekelanjutan.
12. Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab. Menjamin keberlangsungan
konsumsi dan pola produksi.
13. Penanganan Perubahan Iklim. Bertindak cepat untuk memerangi perubahan
iklim dan dampaknya.
14. Kehidupan Bawah Laut. Melestarikan dan menjaga keberlangsungan laut dan
kehidupan sumber daya laut untuk perkembangan pembangunan yang
berkelanjutan.
15. Kehidupan di Darat. Melindungi, mengembalikan, dan meningkatkan
keberlangsungan pemakaian ekosistem darat, mengelola hutan secara
berkelanjutan, mengurangi tanah tandus serta tukar guling tanah, memerangi
penggurunan, menghentikan dan memulihkan degradasi tanah, serta
menghentikan kerugian keanekaragaman hayati.
16. Institusi Peradilan yang Kuat dan Kedamaian. Meningkatkan perdamaian
termasuk masyarakat untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses
untuk keadilan bagi semua orang termasuk lembaga dan bertanggung jawab
untuk seluruh kalangan, serta membangun institusi yang efektif, akuntabel, dan
inklusif di seluruh tingkatan.
17. Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Memperkuat implementasi dan
menghidupkan kembali kemitraan global untuk pembangunan yang
berkelanjutan.
Kota Samarinda telah memiliki Rencana Aksi Daerah Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (TPB), terdapat masalah terkait penyediaan data masing-masing
indikator pada tujuan SDGs dan menjadi “pekerjaan rumah” hingga berakhirnya
RPJMD ini. Capaian TPB pada KLHS RPJMD Kota Samarinda telah memperbaharui
capaian indikator TPB pada RAD TPB Kota Samarinda. Dari 222 indikator TPB,
indikator yang sudah dilaksanakan dan mencapai target nasional sebanyak 119
indikator (53,60%), indikator yang sudah dilaksanakan tetapi belum mencapai target
nasional sebanyak 51 indikator (22,97%), indikator yang belum dilaksanakan
sebanyak 4 indikator (1,80%) dan indikator yang datanya tidak ada/tidak tersedia

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-27


sebanyak 48 indikator (21,62%). Oleh karenanya perlu perbaikan terhadap dokumen
RAD TPB Kota Samarinda baik karena perbaharuan dan masalah penyediaan data
maupun perbaharuan terkait buku meta data versi II Bappenas.
4.2.2 Isu Strategis Nasional
Isu-isu secara nasional yang memiliki potensi besar untuk memengaruhi arah
pembangunan Kota Samarinda pada masa mendatang adalah kebijakan dari
pemerintah pusat. Dokumen perencanaan tingkat nasional merupakan salah satu
sumber kebijakan yang memiliki kepastian tinggi dan dalam amanat peraturan
perundangan harus diikuti karena penyusunan RPJMD harus berpedoman pada
RPJMN. Mengingat periodesasi RPJMD Kota Samarinda mengikuti periode RPJMN
IV, maka arah kebijakan RPJMD Kota Samarinda menyelaraskan dengan periode
RPJMN (2020-2024 yang mengacu pada RPJPN tahap keempat (2020-2024).
Beberapa isu strategis nasional seperti yang tertuang pada pada RPJMN 2020-2024
adalah:
1. Memperkuat Ketahanan Ekonomi Untuk Pertumbuhan Yang Berkualitas Dan
Berkeadilan, isu strategisnya antara lain menyangkut (a) Keberlanjutan Sumber
Daya Alam, (b) Efektivitas Tata Kelola Sumber Daya Ekonomi, (c) Transformasi
Struktural Berjalan Lambat, (d) Revolusi Industri 4.0 dan Ekonomi Digital
2. Mengembangkan Wilayah Untuk Mengurangi Kesenjangan Dan Menjamin
Pemerataan, Isu strategis utama pembangunan kewilayahan adalah masih adanya
ketimpangan antarwilayah yang ditandai dengan: (a) tingginya angka kemiskinan
di Kawasan Timur Indonesia (KTI) sebesar 18,0 persen, hampir dua kali lipat dari
Kawasan Barat Indonesia (KBI) yang sebesar 10,3 persen; dan kemiskinan
perdesaan yang tinggi (12,9 persen), hampir dua kali lipat dari perkotaan (6,7
persen) (BPS, 2019); (b) masih adanya ketimpangan pendapatan yang ditandai
dengan Rasio Gini perdesaan sebesar 0,317 dan perkotaan sebesar 0,392; (c)
terjadinya konsentrasi kegiatan ekonomi di KBI terutama Pulau Jawa; (d)
terbatasnya sarana prasarana dan aksesibilitas di daerah tertinggal, desa dan
kawasan perdesaan, kawasan transmigrasi, dan kawasan perbatasan; dan (e)
belum optimalnya pengembangan ekonomi lokal di daerah tertinggal, desa dan
kawasan perdesaan, kawasan transmigrasi, dan kawasan perbatasan.
3. Meningkatkan Sumber Daya Manusia Berkualitas Dan Berdaya Saing. Isu
strategisnya antara lain (a) Pengendalian Penduduk dan Penguatan Tata Kelola

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-28


Kependudukan, (b) Perlindungan Sosial Bagi Seluruh Penduduk, (c) Pemenuhan
Layanan Dasar, (d) Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan, dan Pemuda, ( e )
Pengentasan Kemiskinan, (f ) Peningkatan Produktivitas dan Daya Saing.
4. Revolusi Mental Dan Pembangunan Kebudayaan. Isu strategis nya antara lain (a)
Melemahnya Ideologi Pancasila dan Ketahanan Budaya Bangsa, (b) Belum
Optimalnya Pemajuan Kebudayaan Indonesia, (c) Belum Mantapnya Pendidikan
Karakter dan Budi Pekerti, (d) Masih Lemahnya Pemahaman dan Pengamalan
Nilai-Nilai Ajaran Agama, (e ) Belum Kukuhnya Moderasi Beragama untuk
Memperkuat Toleransi dan Kerukunan, (f) Belum Optimalnya Peran Keluarga,
(g) Rendahnya Budaya Literasi, Inovasi, dan Kreativitas.
5. Memperkuat Infrastruktur Untuk Mendukung Pembangunan Ekonomi Dan
Pelayanan Dasar. Isu strategisnya antara lain (a) Penyediaan Akses Perumahan
dan Permukiman Layak, Aman dan Terjangkau, (b) Penyediaan Akses Air Minum
dan Sanitasi Layak dan Aman, (c) Belum optimalnya peningkatan akses air minum
layak dan aman, (d) Belum optimalnya peningkatan akses layanan sanitasi layak
dan aman, (e) Pengelolaan Air Tanah dan Air Baku Berkelanjutan, (f) Keselamatan
dan Keamanan Transportasi, (g) Ketahanan Kebencanaan Infrastruktur, (h)
Waduk Multiguna dan Modernisasi Irigasi, (i) Konektivitas Jalan, (j)
Konektivitas Kereta Api, (k) Konektivitas Laut, (l) Konektivitas Udara, (m)
Konektivitas Darat, (n) Transportasi Perkotaan, (o) Energi dan Ketenagalistrikan
Perkotaan, (p) Infrastruktur dan Ekosistem TIK Perkotaan, (q) Penyediaan Akses
Air Minum dan Sanitasi yang Layak dan Aman di Perkotaan, (r ) Penyediaan Akses
Perumahan dan Permukiman Layak, Aman, dan Terjangkau di Perkotaan, (s)
Energi dan Ketenagalistrikan, (t) Keberlanjutan Penyediaan Energi dan
Ketenagalistrikan, (u) Akses Serta Keterjangkauan Energi dan Ketenagalistrikan,
(v) Kecukupan Penyediaan Energi dan Ketenagalistrikan, (w) Penuntasan
Infrastruktur TIK, (x) Pemanfaatan Infrastruktur TIK, (y) Fasilitas Pendukung
Transformasi Digital
6. Membangun Lingkungan Hidup, Meningkatkan Ketahanan Bencana, Dan
Perubahan Iklim. Isu strategis yang terkait dengan (1) Peningkatan Kualitas
Lingkungan Hidup, yaitu (a) Deplesi Sumber Daya Alam dan Degradasi Kualitas
Lingkungan, (b) Meningkatnya Tindak Pelanggaran Hukum Sumber Daya Alam
dan Lingkungan Hidup, (2) Peningkatan Ketahanan Bencana dan Iklim, isu

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-29


strategisnya antara lain (a) Tingginya Risiko Bencana di Indonesia, (b)Risiko
Bencana terkait Karakteristik Geologi, (c) Peningkatan Potensi Dampak dan
Risiko Bencana Hidrometereologi akibat Perubahan Iklim, (d) Masih Lemahnya
Tata Kelola dan Pembiayaan (Investasi) Penanggulangan Bencana di Daerah, (3)
Pembangunan Rendah Karbon isu strategisnya antara lain terkait (a) Penurunan
Emisi dan Intensitas Emisi GRK melalui Pembangunan Rendah Karbon, (b)
Dukungan Terhadap Pembangunan Rendah Karbon.
7. Memperkuat Stabilitas Polhukhankam Dan Transformasi Pelayanan Publik. Isu
strategisnya antara lain (a) Konsolidasi Demokrasi, (b) Optimalisasi Kebijakan
Luar Negeri, (c) Penegakan Hukum Nasional, (d) Reformasi Birokrasi dan Tata
Kelola, (e ) Menjaga Stabilitas Keamanan Nasional

4.2.3 Isu Strategis Propinsi Kalimantan Timur


Berikut adalah isu strategis yang perlu diprioritaskan penyelesaiannya oleh
Provinsi Kalimantan Timur hingga akhir periode pembangunan tahun 2023.
1. Peningkatan daya saing sumber daya manusia
Peningkatan daya saing sumber daya manusia perlu dilakukan melalui
penyediaan Lembaga pendidikan vokasi yang berorientasi pada kebutuhan tenaga
sektor pertanian dalam arti luas dan dan industri hilir pengolahan. Selain itu, juga
dilakukan penurunan kesenjangan kualitas Lembaga pendidikan dan tenaga pendidik,
baik melalui peningkatan jumlah maupun pemenuhan kualitas dan standar
kompetensi tenaga pendidik. Kesejahteraan tenaga pendidik menjadi hal yang sangat
diperhatikan dalam lima tahun mendatang, melalui pemberian tunjangan dan hal lain
yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Pengoptimalan pemanfaatan
teknologi informasi juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam
memastikan peningkatan daya saing. Peningkatan kualitas Balai Latihan Kerja dengan
orientasi industri pertanian dan hasil pertanian dalam arti luas, serta menumbuhkan
kewirausahaan baru, menjadi bagian penting dalam menjawab lemahnya daya saing.
Keadilan pendidikan ini juga disertai dengan keadilan kesehatan dan jaminan sosial,
agar setiap warga Kalimantan Timur dapat memperoleh kesejahteraan yang
berkeadilan. Pengintegrasian nilai keagamaan dan nilai budaya dalam Lembaga
pendidikan juga menjadi agenda utama dalam memenuhi sumber daya manusia yang

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-30


berkarakter dan berakhlak mulia. Kelompok-kelompok khusus, seperti perempuan,
disabilitas, warga miskin, serta pemuda, menjadi fokus perhatian dalam
pembangunan sumber daya manusia lima tahun mendatang.
2. Percepatan Transformasi ekonomi berbasis sumber daya alam
tidak terbarukan ke sumber daya alam terbarukan secara vertikal
maupun horizontal
Mengingat semakin langka dan menurunnya sumber daya alam tidak
terbarukan, seperti minyak bumi, gas alam dan batu bara, serta semakin menurunnya
harga pasar komoditi tersebut, menjadikan masa depan Provinsi Kalimantan Timur
tergantung pada percepatan transformasi ekonomi dari sumber daya alam tidak
terbarukan ke sumber daya alam terbarukan sebagai alternatif unggulan ekonomi
Kalimantan Timur. Pengembangan ekonomi sumber daya alam terbaharukan
dilakukan melalui optimasi produktivitas Kawasan dengan meningkatkan
kemampuan produksi pertanian, perkebunan, dan perikanan, yang diiringidengan
pengembangan industry hilir pengolahan hasil-hasil pertanian tanaman pangan,
hortikultura, perikanan, perkebunan, peternakan dan kehutanan. Pengembangan
industrialisasi sektor sumber daya alam terbarukan diharapkan dapat mengentaskan
kemiskinan, penciptaan lapangan pekerjaan, peningkatan pendapatan asli daerah,
dan menciptakan ekspor non migas yang memberikan nilai tambah perekonomian
daerah. Menggerakkan ekonomi alternatif non-kayu sebagai produk unggulan
kehutanan, yang disertai dengan penguatan pada pengembangan industri
pengolahannya, dapat memberikan nilai tambah bagi ekonomi Kalimantan Timur.
Selain itu, pengurangan kemungkinan kehilangan pendapatan pada jalur distribusi
dan perdagangan hasil pertanian dalam arti luas, menjadi kunci dalam meningkatkan
pendapatan daerah, termasuk pendapatan asli daerah. Pengembangan sentra
perikanan modern dan pariwisata pada Kawasan danau Jempang, Semayang dan
Melintang di Daerah Aliran Sungai Mahakam, dan kawasan sepanjang pesisir timur,
dapat menjadi potensi yang besar dalam memberikan kontribusi perekonomian
makro dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, peningkatan
pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkerakyatan menjadi hal penting
yang perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-31


3. Peningkatan aksesibilitas dan penguatan konektivitas infrastruktur
wilayah
Penyediaan infrastruktur dasar di Provinsi Kalimantan Timur diarahkan pada
pemenuhan kesejahteraan masyarakat, serta pada memberikan dukungan yang baik
terhadap tumbuhnya pusat-pusat produksi pertanian dalam arti luas dan industri
pengolahan di Kalimantan Timur. Ketersediaan perumahan yang layak huni, air baku
dan air minum bersih, serta listrik, dan disertai dengan infrastruktur jalan dan
jembatan, serta fasilitas perhubungan pelayarah, menjadi perhatian penting untuk
mendukung pertumbuhan ekonomi hijau. Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang
termuat di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Kalimantan Timur,
dikuatkan oleh infrastruktur yang memadai, menjadi denyut nadi tranformasi
ekonomi hijau Kalimantan Timur.
Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang termuat di dalam Rencana Tata
Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Kalimantan Timur, dikuatkan oleh infrastruktur
yang memadai, menjadi denyut nadi transformasi ekonomi hijau Kalimantan Timur.
Rangkaian pembangunan yang terintegrasi sangat diharapkan realisasinya dengan
mengoptimalkan aksesibilitas dan penguatan konektivitas wilayah sehingga setiap
kawasan ekonomi dapat terhubung dan saling mendukung. Tak hanya sampai disana,
pemenuhan infrastruktur dasar ini tentu akan mendukung pembangunan IKN
menjadi lebih baik. Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam perwujudan
infrastruktur yang handal seperti akses air minum layak untuk seluruh masyarakat.
Diperlukan upaya optimal untuk pemerataan akses terhadap sumber air baku
yang potensial dimanfaatkan secara bersama. Upaya tersebut akan berjalan melalui
skema penyediaan air minum lintas Kabupaten/Kota atau Regional (SPAM Regional).
Terdapat beberapa potensi SPAM Regional di Wilayah Provinsi Kalimantan Timur,
yang meliputi SPAM Regional Marangkayu (Kukar-Bontang), SPAM Regional Void Ex
Tambang (Kutim-Bontang), SPAM Regional Suka Rahmat (Kutim-Bontang),
Rancangan Akhir Perubahan RPJMD Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2019-2023
BAB IV – Permasalahan dan Isu Strategis Daerah IV - 55 SPAM Regional Sepaku-
Semoi (PPU-Balikpapan), SPAM Regional Batu Lepek (Kukar Balikpapan), dan SPAM
Regional Lambakan (Paser-PPU Balikpapan). Selain terkait konektivitas wilayah dan
akses terhadap sumber air minum, maka pengembangan perumahan dan pemukiman
layak huni melalui sanitasi dan drainase yang baik diharapkan mampu menjadikan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-32


masyarakat hidup lebih layak, termasuk didalamnya penyediaan listrik, ketahanan
bangunan hingga ketersediaan prasarana dan sarana umum (PSU).

4. Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup


Kalimantan Timur masih memiliki hutan alam yang cukup luas, yang
merupakan benteng pertahanan terakhir bagi ekologi dan sosial-budaya Kalimantan
Timur. Kawasan-kawasan berhutan, baik di dalam Kawasan hutan maupun di luar
Kawasan hutan, harus terus dikelola keberadaannya. Pengembangan ekonomi
produktif dari pertanian dalam arti luas difokuskan pada lahan-lahan bercadangan
karbon rendah, serta pada wilayah yang potensial dalam meningkatkan produkvitas
hasil pertanian. Pengelolaan dan pemanfaatan limbah industri, termasuk
pengembangan energi baru terbaharukan dari limbah-limbah pertanian, menjadi
alternatif dalam pemenuhan energi dan menurunkan emisi GRK.
Dalam hal menurunkan ancaman risiko bencana di Kalimantan Timur,
dilakukan peningkatan kapasitas daerah dalam mengantisipasi bencana, diantaranya
melalui pembatasan kawasan permukiman dan kegiatan ekonomi masyarakat pada
kawasan rawan bencana, Desa Tangguh bencana, Sekolah/Madrasah Aman Bencana,
penguatan sarana-prasarana, serta pengembangan sistem tanggap darurat, dan
penguatan kapasitas peringatan dini.

5. Pemerintahan yang profesional dan akuntabel


Tata kelola pemerintahan di Provinsi Kalimantan Timur telah berada pada
kondisi yang cukup baik jika didasarkan pada capaian indikator pembangunan.
Meskipun demikian, masih terdapat beberapa permasalahan dan tantangan, terkait
optimalisasi akuntabilitas kinerja baik secara administratif maupun sosial. Sebagai
Provinsi yang dikenal memiliki kekayaan alam melimpah, penyelenggaraan
pemerintahan banyak disorot karena memiliki peluang terjadinya penyimpangan
pengelolaan keuangan daerah dan kebocoran pendapatan daerah. Pemerintahan
Daerah harus mengantisipasi adanya penyimpangan dengan memperkuat sikap
politik dalam penegakan hokum yang baik, dan memperkuat profesionalitas
pemerintahan. Pemerintahan Provinsi Kalimantan Timur juga hendaknya
meningkatkan integritas diri dan integritas lembaga menuju pada wilayah/zona bebas
korupsi. Pemerintahan yang professional dan akuntabel memiliki pengaruh yang

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-33


sangat kuat terhadap pencapaian visi dan misi pembangunan daerah. Dengan melihat
berbagai persoalan dan tantangan yang dihadapi, pemerintahan yang profesional dan
akuntabel menjadi isu penting untuk diprioritaskan.

6. Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Sesuai dengan


Peraturan Pemerintah Nomor 2 tahun 2018.
Pemerintah mempunyai kewajiban untuk memenuhi SPM untuk urusan wajib
terutama pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman,
ketertiban umum, dan pelindungan masyarakat; dan sosial. Berdasarkan capaian
Pembangunan Kalimantan Timur, masih banyak urusan wajib yang belum
diselesaikan dengan baik dikarenakan keterbatasan sumberdaya. Selain itu, belum
seluruh kementerian teknis menerbitkan petunjuk teknis pelaksanaan SPM.
Kalimantan Timur juga menghadapi masalah dan isu strategis dalam
penerapan SPM sebagai berikut :
a. Kapasitas daerah dalam tahap persiapan rencana pencapaian SPM belum
dipetakan secara menyeluruh;
b. Kapasitas Daerah dalam pengintegrasiaan rencana dan dokumen perencanaan
SPM masih dihadapkan pada permasalahan lemahnya pemahaman aparatur
daerah;
c. Kapasitas daerah dalam pembelanjaan penerapan SPM masih dihadapkan pada
terbatasnya kemampuan keuangan daerah;
d. Kapasitas daerah dalam tahap penyampaian informasi masih dihadapkan pada
kurangnya data dan informasi terkait pencapaian indikator-indikator kinerja
SPM.

7. Pembangunan Ibukota Negara (IKN)


Pemindahan Ibu Kota Negara ke Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten
Penajam Paser Utara akan berdampak pada banyak aspek kehidupan masyarakat di
Kalimantan Timur. Secara umum, persoalan lingkungan, ekonomi, dan
kependudukan Rancangan Akhir Perubahan RPJMD Provinsi Kalimantan Timur
Tahun 2019-2023 BAB IV – Permasalahan dan Isu Strategis Daerah IV - 57
merupakan yang paling besar mendapatkan pengaruh. Selain aspek sosial yang
melibatkan masyarakat adat lokal yang juga berpotensi menimbulkan munculnya

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-34


beberapa upaya yang adaptif dan bersifat masif. Jika diurutkan dari besarnya
pemberian dampak, maka aspek lingkungan dan kependudukan merupakan dua
persoalan teratas. Selanjutnya, secara implementatif kedua aspek ini akan
mempengaruhi ekonomi wilayah dengan potensi imbas kepada sektor sosial-budaya.
Persoalan perubahan lingkungan hidup akan langsung menjadi sorotan,
Terutama jika mengingat bahwa Kalimantan merupakan lokasi strategis bagi seluruh
proyek paru-paru dunia. Pertambahan secara masif jumlah bangunan dan
infrastruktur yang akan dibangun membutuhkan suplai yang sangat banyak dari alam.
Sehingga secara alamiah, daya tampung lingkungan hidup secara mendadak akan
bertambah beberapa kali lipat. Selain hal-hal alamiah ini, persoalan legal lingkungan
hidup juga memiliki potensi yang cukup besar seperti eksekusi lahan yang memiliki
HGU, izin usaha perkebunan, izin pertambangan, atau lahan-lahan yang telah
dipersiapkan sebagai wilayah perlindungan. Selain memberikan dampak yang cukup
problematis, pembenihan IKN juga memiliki potensi yang sangat besar sebagai upaya
kampanye Ibukota hijau, Pengembangan IKN yang bisa dikatakan dari nol,
memungkinkan seluruh proyek pembangunan diarahkan kepada pengarusutamaan
pertumbuhan ekonomi hijau. Rangkaian pembangunan atau pertumbuhan ekonomi
hijau ini secara gradual akan memberikan efek yang sangat positif bagi Kalimantan
Timur secara regional, Indonesia secara nasional, dan menjadi isu internasional.
Persoalan besar yang kedua dari pemindahan IKN adalah bertambahnya jumlah
penduduk secara drastis, Persoalan kependudukan ini dan persoalan lingkungan pada
dasarnya saling terkait, terutama dalam pembahasan suplai yang akan diberikan oleh
alam. Efek langsung yang akan muncul dengan bertambahnya jumlah penduduk
adalah jumlah dan model hunian yang akan dibangun, Infrastruktur-infrastruktur
dasar yang akan dibangun secara massal ini memutlakkan penggunaan sumber daya
alam yang terus menerus dalam jangka panjang dan dengan bobot yang besar, Seperti
halnya para persoalan lingkungan di atas, problem kependudukan juga sebetulnya
bisa diselesaikan dengan baik dan menjadi sumber peluang dengan mempersiapkan
peta pembangunan yang dapat disesuaikan dan terlokalisir dengan baik.
Problem ketiga yaitu hal-hal yang berkaitan dengan perekonomian Ibu Kota
Baru. Beberapa pembangunan yang telah dilakukan baik di wilayah Kalimantan Timur
maupun di provinsi-provinsi tetangga mengandaikan bahwa pemindahan IKN
berpotensi surplus. Akan tetapi, pemindahan aparatur negara tentu tidak akan bisa

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-35


dilakukan secara bersamaan dalam satu atau dua gelombang. Asumsi bahwa
keuntungan ekonomis, tidak bisa disimpulkan secara cepat. Terutama jika mengingat
akan adanya evaluasi bertahap dan berlapis mengenai hal ini. Perubahan-perubahan
rencana sangat memungkinkan untuk terjadi dan dilakukan dalam tahapan yang
besar juga.
Problem besar terakhir adalah kesiapan masyarakat dan budaya lokal
dalammenerima pemindahan IKN, irisan paling strategis dari isu pemindahan IKN
adalah bertambahnya marwah Negara dan Bangsa Indonesia di wilayah Internasional
terutama pada bagian utara NKRI. Sebagaimana yang telah diketahui, potensi-potensi
masalah kebanyakan berasal dari wilayah perbatasan sebelah Utara dan Selatan
NKRI. Ditambah dengan jumlah negara dan wilayah dagang potensial yang berada di
bagian utara, maka pemindahan IKN ke bagian Utara NKRI adalah langkah yang
sangat signifikan dengan kedaulatan negara ke luar. Meski demikian, perubahan yang
akan terjadi secara tiba-tiba dengan problem-problem yang tidak sedikit perlu untuk
disikapi agar bisa menjadi peluang. Salah satu persoalan paling klasik dari masyarakat
dan budaya di wilayah Kalimantan adalah persoalan hunian dan eksploitasi SDA.
Secara postulatif, seluruh rangkaian pemindahan IKN ini memiliki kandungan-
kandungan persoalan pada dua hal besar tersebut.
Bagian paling menguntungkan dari pemindahan IKN adalah akan adanya
penyeimbangan di berbagai sektor dan secara langsung akan mendukung
desentralisasi atau otonomi daerah secara menyeluruh. Pemindahan IKN juga
merupakan tantangan yang sangat positif bagi pemerintah pusat dan sekaligus daerah
dalam membuat peta dan membentuk desain baru dari seluruh skema pengembangan
yang akan dilaksanakan. Bagi Kalimantan Timur secara khusus, dan pulau
Kalimantan secara umum, tantangan yang paling besar adalah upaya merebut seluruh
peluang yang telah dimulai melalui upaya-upaya pengarusutamaan pembangunan
ekonomi hijau.

8. Reformasi Struktural menuju Tatanan Normal Baru Pasca COVID-


19
Pandemi Covid-19 merupakan bencana yang bersifat global dan mempengaruhi
seluruh struktur juga secara global. Dengan demikian dapat dipastikan seluruh sektor
yang terkait dengan kesejahteraan rakyat telah, sedang, dan akan terdampak.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-36


Sehingga, secara bertahap penurunan produktivitas di dalam struktur masyarakat
akan mengarah pada kemunculan kerentanan social. Provinsi Kalimantan Timur
sebagai salah satu wilayah yang memiliki dinamika tertentu terutama pada sektor
ketenagakerjaan, perindustrian, dan perdagangan tentu saja merasakan dampak yang
cukup besar dan luas. Hal-hal yang paling urgen untuk ditindaklanjuti adalah
persoalan retribusi dan pajak, alternatif bagi tenaga kerja yang di-PHK, dan kesulitan
dalam pasokan bahan baku industri. Persoalan-persoalan yang berkaitan dengan
sektor industri, ketenagakerjaan, dan perdagangan di atas mengimbau seluruh sektor
lainnya. Berkurangnya jumlah penduduk yang bekerja membuat distribusi pangan
tidak bisa tersalurkan dengan baik, Selain itu, urgensitas untuk bekerja dari rumah
juga menghambat tetap berjalannya produktivitas di bidang pangan yang ditandai
oleh banyaknya terjadi gagal panen. Selain sektor pangan, industri-industri kecil juga
mendapatkan penurunan pendapatan sehingga melemahkan daya beli masyarakat
dan menciptakan kelesuan daya saing.
Salah satu upaya strategis pemerintah pusat dalam meredam dampak Pandemi
COVID-19 ini adalah dengan melakukan reformasi struktural. Diharapkan reformasi
struktural mampu memperbaiki fondasi-fondasi ekonomi Indonesia sehingga dapat
mengakselerasi ketertinggalan akibat dampak negatif pandemi. Presiden Joko
Widodo memprioritaskan lima hal yang harus menjadi area fokus bagi program
reformasi struktural, yaitu pengembangan SDM, pembangunan infrastruktur,
deregulasi, debirokratisasi, dan mentransformasikan ekonomi.
Peluang yang sangat berpotensi muncul dari bencana pandemi Covid-19 ini
adalah pada reformasi birokrasi secara regional. Kunci utama dari terjadinya
reformasi industri tahap baru ini bisa dimulai dari kesepakatan global masyarakat
dunia mengenai perlawanan terhadap COVID-19. Secara mendasar adanya konsensus
nasional dan bahkan internasional in akan memudahkan untuk melakukan reshaping
aturan dan regulasi serta sistem pelayanan birokrasi, sehingga penanganan problem
di seluruh sektor bisa dilakukan. Persoalan-persoalan yang muncul di dalam bidang
industri yang melibatkan pasokan bahan baku dari luar negeri akan digantikan
dengan pengaturan baru mengenai impor dan ekspor bahan baku terkait. Persoalan
ketahanan pangan akan membuka kolaborasi regulatif dari beberapa daerah yang
berdekatan untuk saling mengisi pasokan-pasokan pangan yang ada di dalam negeri.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-37


Begitu juga peluang untuk memangkas pengeluaran bagi anggaran secara
hibrid akan bisa dicapai melalui pelayanan yang tidak lagi mutlak dilaksanakan secara
fisis. Persiapan pada infrastruktur yang sebelumnya bisa saja masih dinilai tidak
efektif akan berubah secara pragmatis dikarenakan kebutuhan bersama yang
memutlakkan adanya adaptasi social. Hal yang mencengangkan juga terjadi di dunia
pendidikan dengan mulai terbiasanya masyarakat dalam memanfaatkan media-media
daring untuk kegiatan KBM, Struktur penghubung mengenai seluruh hal ini tentu
harus diregulasikan agar bersifat mengikat seluruh kalangan.
Peluang paling bagus yang mungkin muncul dari bencana pandemi COVID-19
adalah cara pandang masyarakat Indonesia, umumnya dan masyarakat Kalimantan
Timur mengenai protokol mendasar kesehatan. Selain itu kesadaran bahwa
keberadaan setiap orang sebagai unsur masyarakat melalui pemberdayaan kesehatan,
pendidikan, dan sosial-budaya akan meningkat dengan tajam. Peluang-peluang yang
akan muncul ini, secara kualitatif akan mampu mengimbangi cost yang dikeluarkan
dalam bentuk belanja selama menghadapi dan masa pemulihan COVID-19 kedepan.

4.2.4 Isu Strategis Perencanaan Pembangunan Kabupaten Kutai


Kartanegara
Kutai Kartanegara merupakan Kabupaten yang berbatasan langsung dengan
Kota Samarinda di sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Muara Badak,
disebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Anggana dan Sanga-Sanga, di sebelah
selatan berbatasan dengan Kecamatan Loa Janan sedangkan di sebelah barat
berbatasan dengan Kecamatan Muara Badak dan Tenggarong Seberang. Dalam proses
perencanaan pembangunan Kabupaten Kutai Kartanegara akan berdampak secara
langsung pada Kota Samarinda. Sesuai dengan Visi Misi Bupati dan Wakil Bupati
Kutai Kartanegara terpilih yaitu “Mewujudkan Masyarakat Kutai Kartanegara yang
Sejahtera dan Berbahagia” yang terdiri dari 5 (lima) misi yaitu:
1. Meningkatkan Pembangunan Sumber Daya Manusia yang Berakhlak Mulia
Unggul dan Berbudaya
2. Memperkuat Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian, Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif
3. Meningkatkan Kualitas Layanan Infrastruktur Dasar dan Konektivitas antar
Wilayah

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-38


4. Meningkatkan Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Berwawasan Lingkungan
5. Memantapkan Birokrasi yang Bersih, Efektif, Efisien dan Melayani
Dengan 23 (dua puluh tiga) Program Kukar Idaman yang meliputi:
1. Digitalisasi Pelayanan Publik (DISAPA)
2. Aparatur Negara Bahagia
3. Kukar Bebaya
4. 1.000 Guru Sarjana
5. KUKAR BERKAH
6. Beasiswa KUKAR IDAMAN
7. Keluarga Peduli Kesehatan
8. Kukar Siap Kerja
9. Kukar Berbudaya
10. Gerakan Etam Mengaji IDAMAN (GEMA IDAMAN)
11. Kesejahteraan Sosial IDAMAN
12. Pembangunaan pertanian berbasis kawasan
13. Hilirisasi Produk Pertanian
14. Kutai Kartanegara Kaya Festival (K3F)
15. Usaha Kecil IDAMAN
16. Kukar Kreatif IDAMAN
17. Pemantapan Konektivitas Wilayah
18. Fasilitasi Perumahan Rakyat
19. Air Bersih Desa
20. Terang Kampungku
21. Desa Ramah Lingkungan
22. Kukar Peduli Lingkungan
23. Dunia Usaha Ramah Lingkungan
Dengan Program Kukar Idaman tersebut Kota Samarinda dapat bersinergi
dalam pembangunan daerah Kecamatan yang berbatasan langsung dengan
Kabupaten Kutai Kartanegara.

4.2.5 Isu Strategis Kajian Lingkungan Hidup Strategis RPJMD Kota Samarinda
Tahun 2021-2026

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-39


Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Samarinda telah selesai disusun dengan
mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri No 7 Tahun 2018 dan mengikuti
petunjuk teknis yang saat ini dirujuk dan dirilis oleh Direktorat Jenderal
Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri (Ditjen Bangda Kemendagri).
Adapun langkah-langkah penyusunan yang dijalani adalah kajian capaian tujuan
pembangunan berkelanjutan, analisis capaian TPB per organisasi perangkat daerah
(OPD), perumusan isu strategis, proyeksi dan penyusunan alternatif dan rekomendasi
hingga kajian daya dukung daya tampung lingkungan hidup dan beberapa muatan
lainnya.
Kajian capaian tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB) Kota Samarinda
menunjukkan 119 indikator (53,6%) sudah dilaksanakan dan sudah tercapai (SS), 51
indikator (23,0%) sudah dilaksanakan tapi belum mencapai target (SB), 4 indikator
(1,8%) belum dilaksanakan dan belum mencapai target 4. Proyeksi terhadap
capaian TPB pada indikator yang sudah dilaksanakan tapi belum tercapai
menunjukkan 33 indikator yang masih belum mencapai target pada 2030, sehingga
perlu dilakukan upaya tambahan untuk dapat mencapainya sebelum tahun 2030. (BB)
serta 48 indikator (21,6%) tidak ada data (NA).

Evaluasi capaian TPB telah menghasilkan enam isu strategis yang telah
diintegrasikan ke dalam dokumen RPJMD Kota Samarinda yaitu:

1. Penyediaan Kebutuhan Dasar (Pendidikan, Kesehatan, Air, Sanitasi)


2. Penyediaan Jaminan Sosial Masyarakat (Pangan, Keamanan, Legalitas)
3. Pencegahan dan Penanggulangan Bencana
4. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
5. Fasilitasi Lapangan Kerja dan Pengembangan Industri
6. Penyelenggaraan Pemerintahan yang Akuntabel dan Berintegritas

Dari sudut pandang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), berikut


disajikan bagaimana pengaruh wabah penyakit Covid-19 ini terhadap masing-masing
tujuan.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-40


Tabel 4.7.

Dampak Covid-19 terhadap pencapaian TPB

No TPB Pengaruh Covid-19 terhadap TPB


Kebijakan pemerintah membatasi segala aktivitas masyarakat di segala
sektor mengharuskan masyarakat untuk tetap tinggal di rumah. Kondisi ini
begitu berdampak pada masyarakat menengah ke bawah yang bergantung
pada pendapatan harian. Masyarakat ini harus terus memenuhi
kebutuhannya akan tetapi mereka juga kehilangan pendapatan, sehingga
masyarakat dan keluarga rentan ini akan makin terpuruk dan berada di
bawah garis kemiskinan. Kelompok penduduk miskin dan rentan
diprioritaskan untuk dibantu dengan tetap memperhatikan ketahanan kelas
menengah. Kota Samarinda tentu juga akan terdampak mengingat bahwa
secara nasional 42% konsumsi nasional ditopang oleh kelas menengah dan
53% pajak nasional dibayarkan oleh kelas menengah. Secara nasional
penduduk yang diperkirakan terdampak adalah penduduk di bawah garis
kemiskinan sebesar 10,86% dan penduduk miskin dan rentan 30,77%.

Pembatasan aktivitas masyarakat dapat berdampak pada sektor pangan. Daerah


yang bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah akan sangat merasakan
dampaknya. Hal yang bisa terjadi adalah kelangkaan bahan makanan karena
produksi dan kontribusi yang terganggu. Efek domino yang ditimbulkan yaitu
kenaikan harga bahan pokok, terlebih menjelang hari-hari besar keagamaan. Krisis
ekonomi, finansial dan pandemi Covid-19 berpotensi mempengaruhi ketersediaan
bahan pangan. Kondisi pangan global relatif tidak aman akibat perubahan iklim,
termasuk sistem transportasi dan logistik pangan terganggu akibat pembatasan
aktivitas PSBB (lockdown), kelompok miskin meningkat dan PHK meningkat
sehingga akses pangan ikut menurun. Isu ketersediaan pangan memang menjadi
isu penting bukan hanya di Kota Samarinda tetapi juga secara global. Produksi
beras dunia tahun 2021 ini diproyeksikan menurun sekitar 0,6% (3 juta ton).

Covid-19 merupakan penyakit menular, sekaligus juga berbahaya, terlebih


bagi mereka para lansia dengan kondisi tubuh yang rentan terhadap
penyakit. Sebagian besar pasien yang dinyatakan positif corona adalah para
lansia dengan jumlah kematian yang juga cukup tinggi.

Selama penyebaran pandemi ini masih terus berlangsung, pemerintah tetap


mengalami opsi agar sekolah dari berbagai jenjang diliburkan dan diganti dengan
pembelajaran jarak jauh via online antara siswa dengan gurunya. Pada
kenyataannya, proses pembelajaran via online ini tidak begitu efektif, juga masih
ada sebagian siswa yang tidak dapat mengakses pembelajaran via online akibat
keterbatasan yang dimiliki.

Peran perempuan dalam menghadapi penyebaran Covid-19 bisa dikatakan


dominan. Sebagian besar tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam
pemutusan rantai penyebaran virus ini merupakan perempuan. Mereka
bertaruh nyawa dan meninggalkan keluarganya demi menyelamatkan
kehidupan orang lain. Disisi lain, di tengah pandemi ini, perempuan juga
rentan terhadap kekerasan dalam rumah tangga akibat keterbatasan
ekonomi dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-41


No TPB Pengaruh Covid-19 terhadap TPB
Salah satu cara yang dapat dilakukan sebagai langkah preventif pencegahan
penularan virus corona adalah dengan rajin mencuci tangan dengan sabun.
Namun, terdapat gangguan pasokan dan akses yang belum memadai
terhadap air bersih sehingga akan berdampak terhadap akses untuk
mencuci tangan

Walau bukan menjadi kewenangan secara langsung tetapi ketersediaan


energi bersih menjadi penting di Kota Samarinda mengingat sumber energi
di kota ini masih tergantung pada fosil. Secara lebih luas, Kalimantan Timur
berperan penting dalam program perubahan iklim (FCPF). Covid-19
membawa dampak secara global yaitu ekonomi dunia melambat sehingga
permintaan energi turun dan menurunkan harga komoditas. Pembangunan
energi berkelanjutan tentu juga akan menghadapi kompetisi di tengah
kondisi harga sumber energi fosil yang murah. Diperlukan komitmen
kebijakan yang kuat untuk memastikan target bauran energi terbarukan
bisa tercapai.

Efek domino adanya pembatasan kegiatan penduduk yaitu berdampak besar


terhadap bagi kehidupan sehari-hari. Hal yang dirasakan secara langsung akibat
penyebaran virus corona yang begitu cepat ini yaitu banyaknya kegiatan ekonomi
ditangguhkan, pendapatan lebih rendah, lebih sedikit waktu kerja dan
penggangguran untuk pekerjaan tertentu terutama bagi para pekerja yang bersifat
kontrak di perusahaan. Pengangguran terjadi pada pemutusan hubungan kerja
dan angkatan kerja baru yang memasuki pasar tenaga kerja sehingga bauran pra
kerja dan bantuan sosial perlu diperkuat. Kesehatan tenaga kerja menjadi kunci
pemulihan ekonomi.

Upaya pencegahan Covid-19 berupa penerapan kebijakan lockdown.


Lockdown merupakan tindakan yang mampu menutup total akses dari
segala penjuru. Hal ini berakibat pada lumpuhnya aktivitas ekonomi
sehingga banyak pekerja industri yang dirumahkan/PHK dan berhentinya
pekerjaan-pekerjaan infrastruktur guna membatasi kegiatan fisik antar
individu yang berdampak pada peningkatan angka pengangguran di
Kalimantan Timur. Kesenjangan meningkat akibat terdampaknya sektor
informal akibat pandemi. Sektor pariwisata mengalami gejolak dan
mempunyai multiplier efek ekonomi. Penerimaan pajak mengalami
penurunan sehingga celah fiskal perlu diperlebar.

Kesenjangan yang terjadi adalah tidak seluruh lapisan masyarakat di


Kalimantan Timur mampu mengakses internet karena keterbatasan kondisi
dan ekonomi. Banyak masyarakat yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan
untuk memeriksa kondisi kesehatan akibat dari penyebaran virus corona
disebebkan oleh letak permukiman pada daerah pedalaman sehingga jauh
dari rumah sakit rujukan Covid-19.

Masyarakat yang tinggal di lingkungan kumuh, yakni permukiman yang


dekat dengan pinggiran sungai dan pemukiman padat perkotaan berpotensi
terjangkit Covid-19 karena kepadatan yang tinggi dan kondisi sanitasi yang
buruk.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-42


No TPB Pengaruh Covid-19 terhadap TPB
Dampak dari penerapan lockdown untuk mencegah penyebaran Covid-19
ini menyebabkan masyarakat melakukan pembelian dalam jumlah besar
yang berakibat pada kelangkaan bahan keperluan medis maupun keperluan
lain. Hal ini juga berimplikasi terhadap penurunan produktivitas karena
kelangkaan bahan baku.

Dengan adanya pembatasan kegiatan di luar ruangan, penggunaan


transportasi maupun kendaraan pun berkurang sehingga tingkat polusi
udara dan gas rumah kaca di Kalimantan Timur menunjukkan penurunan
yang signifikan di tengah pandemi Covid -19. Wabah Covid-19
menyadarkan manusia untuk tetap menjaga lingkungan dan mengambil
tindakan nyata agar kejadian sama tidak terulang kembali.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ini tidak relevan dengan Kota


Samarinda yang tidak memiliki wilayah pesisir dan laut

Aktivitas perlindungan ekosistem daratan tidak terpengaruh secara


langsung dan masif dengan adanya wabah Covid-19. Namun demikian
kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam seperti eksploitasi hasil hutan kayu
dan upaya rehabilitasi hutan dan lahan sedikit banyak terdampak dengan
berbagai pembatasan kegiatan di luar ruangan.

Selain tindakan pencegahan penyebaran Covid-19, perlu adanya langkah-


langkah efektif dari Pemerintah Kota Samarinda dengan memberikan
pelayanan prima agar masyarakat mampu menjalani kegiatan walaupun di
rumah. Konflik yang timbul dari masyarakat beresiko menderita kerugian
yang menghancurkan lingkungan. Terkait pelaksanaan perkara hukum
bahwa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) berdampak pada
penyelenggaraan hukum dan peradilan dengan pembatasan fasilitas
pelayanan hukum. Terdapat perubahan proses penanganan perkara
persidangan, antisipasi tindak kriminalitas, pengendalian kunjungan lapas
dan seleksi ketat terkait penahanan di dalam rutan/lapas.

Penyebaran Covid-19 yang begitu cepat menimbulkan berbagai macam


dampak yang merugikan umat manusia sehingga untuk menyelesaikan
krisis global ini dibutuhkan kerja sama internasional. Krisis Corona
menunjukkan dampak bencana dari sistem kesehatan yang lemah di tingkat
lokal dan global. Maka dari itu, hal ini merupakan peluang untuk
memperkuat kerja sama pembangunan di negara-negara yang rentan dan
menengah.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-43


4.2.6 Isu Strategis Kota Samarinda
Isu strategis Kota Samarinda dibangun berdasarkan hasil tinjauan terhadap isu
strategis internasional, isu strategis nasional, dan isu strategis Provinsi Kaltim yang
disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik di daerah. Adapun isu strategis Kota
Samarinda yaitu :

1. Reformasi birokrasi pemerintah dan penguatan SDM aparatur


Reformasi birokrasi merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai
good governance dan melakukan pembaharuan dan perubahan mendasar
terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan terutama menyangkut aspek-
aspek kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan dan sumber daya manusia
aparatur. Reformasi Birokrasi bertujuan menciptakan birokrasi pemerintah yang
profesional dengan karakteristik adaptif, berintegritas, berkinerja tinggi, bersih
dan bebas KKN, mampu melayani publik, netral, sejahtera, berdedikasi dan
memegang teguh nilai-nilai dasar dan kode etik aparatur Negara, tentu hal
tersebut harus didukung dengan penguatan SDM aparatur baik finansial maupun
mental. Di dalam KLHS RPJMD isu strategis terkait hukum dan tata kelola adalah
terkait penyelenggaraan pemerintahan yang akuntabel dan berintegritas.

2. Pembangunan yang merata dan responsif gender


Isu ini didasari atas masih adanya kesenjangan antar wilayah dan antar lapisan
masyarakat dalam merasakan atau menikmati hasil pembangunan. Pembangunan
yang tidak merata akan menyebabkan munculnya wilayah-wilayah dan lapisan
masyarakat yang tertinggal, yang kedepannya akan menjadi permasalahan sosial,
seperti kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, kekumuhan, dan lain-lain. Oleh
karena itu pembangunan yang merata menjadi isu penting dalam penyelenggaraan
pemerintahan kedepannya.
Berbicara lapisan masyarakat dalam konteks pemerataan pembangunan di
Kota Samarinda mengarah pada menghilangkan kesenjangan perempuan dan
laki-laki dalam hal akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat, serta penguasaan
terhadap sumber daya, seperti pada bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi,
sosial budaya, dan bidang strategis lainnya. Adanya ketertinggalan salah satu
kelompok masyarakat dalam pembangunan, khususnya perempuan, disebabkan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-44


oleh berbagai permasalahan di masyarakat yang saling berkaitan satu sama
lainnya. Permasalahan paling mendasar dalam upaya peningkatan kualitas hidup
perempuan dan anak adalah pendekatan pembangunan yang belum
mengakomodir tentang pentingnya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki,
anak perempuan dan anak laki-laki dalam mendapatkan akses, partisipasi,
kontrol, dan manfaat pembangunan kota. Tidak hanya itu, pemerataan
pembangunan yang diharapkan juga bersifat responsif gender dalam artian
adanya penempatan konstruksi yang ramah terhadap perempuan, lansia dan anak.
Isu pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak mengemuka di dalam
dokumen Kajian Lingkungan Hidup Startegis RPJMD Kota Samarinda. Indikator
TPB terkait perempuan dan anak perlu mendapatkan perhatian serius.

3. Lonjakan pertumbuhan penduduk sebagai dampak dari terbangunnya IKN


(Samarinda sebagai kota penyangga IKN)
Pemilihan Ibu Kota Negara (IKN) baru di Provinsi Kalimantan Timur tepatnya
sebagian wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai
Kartanegara harus ditopang dengan kesiapan kota-kota penyangga, guna
membagi beban kota yang nantinya akan terpusat pada Ibu Kota Negara. Dampak
dari pemindahan tersebut adalah terjadinya migrasi secara besar-besaran.
Penduduk yang sengaja didatangkan sebagai buruh pembangunan IKN dan ASN
yang akan dipindah tugaskan akan menjadi magnet bagi penduduk lain untuk
menetap diwilayah tersebut. Laju pertunbuhan penduduk yang tidak diiringi
infrastruktur dan sarana prasarana perkotaan yang memadai akan rentan memicu
permasalahan sosial, seperti kekumuhan, kemiskinan, kriminalitas, dan lain-lain.
Oleh karena itu, segala pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah Kota
Samarinda haruslah mampu mengantisipasi hal ini.

4. Peningkatan pengelolaan lingkungan untuk mereduksi pemanasan global


Perubahan penggunaan energi fosil menuju energi baru terbarukan menjadi salah
satu alternatif untuk mereduksi emisi, khususnya emisi gas rumah kaca (GRK).
Pemanfaatan sumberdaya lainnya seperti tenaga surya, tenaga air, dan bio-energy
menjadi pilihan untuk mengembangan energi baru terbarukan di Kota Samarinda.
Penggunaan transportasi umum juga dapat mengurangi emisi yang dihasilkan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-45


oleh kendaraan bermotor serta mengurangi penggunaan bahan bakar minyak.
Penggunaan pupuk organik menjadi salah satu alternatif pengurangan emisi dari
sektor pertanian.

5. Stabilitasi ketahanan pangan


Masalah ketahanan pangan dapat terjadi apabila salah satu unsur ketahanan
pangan tersebut terganggu. Namun dalam realitanya, pemahaman terhadap
ketahanan sering direduksi hanya ditekankan pada unsur penyediaan dan harga
saja, atau bahkan ada yang hanya menekankan pada aspek yang lebih sempit yang
menyamakan pengertian ketahanan pangan dengan pengertian swasembada.
Ketiga pilar ketahanan pangan tersebut harus dapat terwujud secara bersama-
sama dan seimbang. Pilar ketersediaan dapat dipenuhi baik dari hasil produksi
dalam negeri maupun dari luar negeri. Pilar keterjangkauan dapat dilihat dari
keberadaan pangan yang secara fisik berada di dekat konsumen dengan
kemampuan ekonomi konsumen untuk dapat membelinya (memperolehnya).
Sedangkan pilar stabilitas dapat dilihat dari kontinyuitas pasokan dan stabilitas
harga yang dapat diharapkan rumah tangga setiap saat dan di setiap tempat.
Kondisi kota Samarinda yang bukan penghasil utama pertanian, tetap harus
menjaga stabilitasi ketahanan pangan mengingat pertumbuhan penduduk yang
kian tinggi kedepannya.

6. Peningkatan iklim investasi yang kondusif untuk mendorong tumbuh dan


berkembangnya UMKM, Industri Rumah Tangga dan IKM
Pembangunan senantiasa membutuhkan modal, baik modal ekonomi (economic
capital), modal usaha (human capital), maupun modal sosial (social capital).
Modal tersebut tidak hanya berasal dari pemerintah, namun membutuhkan
dukungan dari pihak swasta dalam bentuk investasi. Keterbatasan pembiayaan
pembangunan yang dimiliki oleh pemerintah Kota Samarinda tentunya
mendorong pemerintah untuk giat melakukan promosi agar investasi dapat masuk
ke ibukota ini.
Investasi yang diharapkan tidak hanya berbentuk fisik, namun dapat berbentuk
kemudahan akses modal dan pelatihan-pelatihan bagi UMKM, industri rumah
tangga dan IKM sehingga dapat meningkatkan kemampuan keterampilan mereka

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-46


dalam mengembangkan usahanya. Oleh karena itu, melalui penerapan
kemudahan pemberian ijin investasi dengan tetap memperhatikan prosedur yang
berlaku, serta didukung kota yang kondusif, maka akan dapat mendorong tumbuh
dan berkembangnya UMKM, Industri Rumah Tangga dan IKM sebagai penggerak
sektor tersier (jasa/service) yang merupakan sektor dominan dalam
perekonomian Kota Samarinda.

7. Pengembangan destinasi wisata baru baik yang bersumber dari alam maupun
buatan
Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas
serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan
pemerintah daerah. Untuk memenuhi keinginan wisatawan diperlukan
peningkatan sarana, prasarana dan kapasitas SDM. Kenyamanan seorang
wisatawan akan berdampak positif terhadap pengembangan destinasi wisata
tersebut, dimana pariwisata juga bagian kehidupan manusia menyangkut kegiatan
sosial dan ekonomi. Pengelolaan pariwisata yang baik akan meningkatkan
perekonomian masyarakat lokal dan berimbas pada peningkatan kapasitas fiscal
Kota Samarinda.

8. Peningkatan pendapatan asli daerah


Pembangunan yang merata dan berkeadilan dapat dirasakan oleh masyarakat
memerlukan kapasitas fiskal yang besar, baik yang berasal dari pemerintah pusat
maupun dari pendapatan asli daerah. Langkah penting yang harus dilakukan
pemerintah daerah untuk meningkatkan penerimaan daerah adalah menghitung
potensi pendapatan asli daerah yang riil dimiliki. PAD merupakan indikator bagi
pengukuran tingkat kemampuan keuangan daerah dan tingkat kemandirian
daerah, dengan kata lain semakin tinggi PAD maka kemampuan keuangan daerah
serta tingkat kemandirian daerah akan semakin tinggi. Oleh karena itu, diperlukan
metode penghitungan potensi PAD yang sistematis dan rasional.

9. Optimalisasi penanggulangan banjir


Permasalahan banjir di Kota Samarinda harus diidentifikasi secara komprehensif
dengan memetakan masalahnya hingga rencana penanganannya. Selama ini
permasalahan banjir hanya dengan perbaikan drainase yang justru tidak

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-47


dipetakan secara komprehensif. Kota Samarinda telah memiliki dokumen master
plan penanggulangan banjir, tetapi dokumen ini perlu diperbaiki dan dilakukan
secara menyeluruh dengan melibatkan para pihak.
Perbaikan sistem drainase, sistem drainase yang buruk menjadi salah satu
penyebab banjir di Kota Samarinda. Peningkatan sistem drainase sangatlah
penting, antara lain dengan melakukan tinjauan partisipatif dari Rencana Induk
Drainase Kota. Beberapa masalah yang ada terkait sistem drainase meliputi,
ketidakmampuan mengeringkan aliran banjir, aliran air dari hulu ke hilir yang
tidak ketahui, dan drainase kota yang tidak terhubung dengan drainase
lingkungan serta perlunya pengembangan infrastruktur yang tahan terhadap
perubahan iklim. Mengacu pada permasalahan banjir perkotaan yang sering
terjadi setiap tahun, Kota Samarinda membutuhkan sistem peringatan dini banjir
yang terintegrasi. Perangkat Sistem Peringatan Dini Banjir yang mencakup peta
risiko, pemantauan bahaya dan layanan peringatan dini, media komunikasi,
peningkatan kapasitas/kemampuan respons masyarakat. Pengembangan Sistem
Peringatan Dini (EWS) Banjir berbasis komunitas yang terintegrasi dengan
Program Desa Tangguh Bencana dan Program Kampung Iklim. Meningkatkan
kesadaran masyarakat, untuk tidak membuang sampah secara langsung ke sungai.
Karena hal tersebut dapat menimbulkan penambahan jumlah sampah yang
dibuang ke sungai.

10. Penyediaan Sarana dan Prasarana pelayanan dasar terkait ketersediaan air minum,
air limbah, persampahan dan drainase lingkungan
Pemenuhan layanan dasar air minum dan pengelolaan sanitasi (air limbah,
persampahan, dan drainase lingkungan) menjadi hal yang sangat penting di era
sekarang ini, karena secara langsung akan mempengaruhi kualitas hidup manusia
dan juga lingkungannya. Pemenuhan kebutuhan air minum yang layak dan aman
akan meningkatkan taraf hidup dan tingkat kesehatan masyarakat. Sementara itu,
pengelolaan sanitasi secara baik akan mencegah pencemaran lingkungan terutama
pencemaran sumber air baku, yang dapat berpotensi menurunkan tingkat
kesehatan masyarakat itu sendiri. Adapun beberapa upaya dalam peningkatan
akses air minum layak diantaranya ialah dengan peningkatan kapasitas produksi
air minum, peningkatan cakupan layanan air minum perpipaan dan penurunan
kebocoran. Selanjutnya upaya dalam peningkatan akses air limbah layak

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-48


diantaranya ialah dengan pembangunan/perbaikan tangki septik terstandar di
perumahan dan kawasan permukiman, serta mengoptimalkan layanan SPALD-T.
Kemudian upaya dalam peningkatan akses pengelolaan persampahan yakni salah
satunya melalui penyelenggaraan pengurangan sampah di sumber.

11. Penanganan kawasan kumuh


Kawasan kumuh adalah sebuah kawasan dengan tingkat kepadatan populasi tinggi
di sebuah kota yang umumnya dihuni oleh masyarakat miskin. Kawasan kumuh
umumnya dihubung-hubungkan dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran
tinggi. Ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan
kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat
merupakan karateristik kawasan kumuh. Upaya pengusuran terkadang hanya
akan memindahkan kawasan kumuh ketempat yang baru. Permukiman perkotaan
yang layak huni, produktif, dan berkelanjutan merupakan kondisi yang harus
dicapai oleh pemerintah Kota Samarinda. Adapun langkah kedepannya berupa
peningkatan akses terhadap infrastruktur dan pelayanan dasar di permukiman
kumuh perkotaan serta mencegah timbulnya permukiman kumuh baru.

12. Penguatan Kota Samarinda sebagai Kota Cerdas (Smart City)


Kota Cerdas (Smart City) adalah kemampuan suatu kota menggunakan SDM,
modal sosial, dan infrastruktur telekomunikasi modern untuk mewujudkan
pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan kualitas kehidupan yang tinggi, dengan
manajemen sumber daya yang bijaksana melalui pemerintahan berbasis
partisipasi masyarakat. Penerapan konsep Smart City dalam pembangunan di
Kota Samarinda diharapkan akan meningkatkan kemampuan pengelolaan data
(one map one data) sebagai dasar pembangunan, meningkatkan SDM menuju
masyarakat yang pintar, dan meningkatkan konektivitas infrastruktur utama dan
penunjang yang terkontrol dan terintegrasi untuk menghubungkan antar dan inter
kota.

13. Penanggulangan kemiskinan dan pengangguran


Kemiskinan adalah kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan sehari-hari secara
layak. Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan krusial di Kota Samarinda

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-49


mengingat terdapat 4,59% penduduk Kota Samarinda yang terkategorikan miskin
pada tahun 2019 menurut BPS. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kurangnya
kesempatan kerja, beban ekonomi keluarga, keterbatasan akses permodalan,
tingkat pendidikan yang rendah. Pengangguran merupakan salah satu
permasalahan krusial di kawasan perkotaan termasuk Kota Samarinda. Angka
pengangguran terbuka dan setengah pengangguran di Kota Samarinda cenderung
terus meningkat, apalagi setelah kasus pandemik Covid-19.

14. Infrastruktur dan Perhubungan


Pembangunan infrastruktur mendorong laju perekonomian, terlebih dalam jangka
panjang. Perhatian pada isu perhubungan menjadi penting apabila mengangkat
permasalahan transportasi public. Kondisi jalan di Kota Samarinda mash banyak
yang dalam kondisi rusak, untuk menjamin kelancaran transportasi perhatian
akan kelayakan jalan akan sangat diperlukan.

15. Penanggulangan Covid19


Kota Samarinda dalam penanganan pandemi Covid-19 di dalam kehidupan
masyarakat dengan upaya mencegah penularan pandemi yang lebih luas membuat
berbagai kebijakan diantaranya meliputi:
a. Reformasi manajemen rumah sakit dan puskesmas terhadap pasien
Covid-19
b. Penerapan PPKM berbasis RT
c. Penanggulangan Covid-19 melalui bantuan sosial
d. Pengembangan basis data terpadu untuk bantuan sosial terdampak covid-
19 dan terintegrasi dengan data kemiskinan (reformasi sosial dan
pemulihan ekonomi)
e. Sistem pelayanan administrasi publik secara online (pendaftaran pasien,
pendaftaran urusan pertanahan, perizinan, kependudukan, dll)

16. Pencegahan dan Penanggulangan Bencana


Kota Samarinda telah memiliki dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) 2018-
2022, namun belum dilanjutkan dengan dokumen Rencana Penanggulangan
Bencana. Berdasarkan dokumen KRB Kota Samarinda menjadi kota rawan banjir

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-50


dengan kelas bahaya dominan, diikuti oleh bahaya cuaca ekstrim, longsor,
kekeringan dan konflik sosial. Di Kota Samarinda terdapat 50 titik bencana banjir
yang tersebar di 9 kecamatan dimana hanya wilayah Kecamatan Sambutan yang
tidak pernah mengalami bencana banjir seperti yang terlihat pada tabel. Titik
bencana banjir terbanyak berada di Kecamatan Palaran yang mencapai 9 titik,
kemudian Samarinda Ilir dan Samarinda Utara yang masing-masing sebanyak 7
titik banjir. Pada tahun 2005, setiap titik banjir tersebut hanya mengalami 6-10
kali bencana banjir dalam setahun, tetapi pada masa sekarang hampir setiap
kondisi hujan mengalami bencana banjir.
Melihat keadaan seperti itu bukan hal yang aneh jika urgensi penanganan banjir
di Kota Samarinda menjadi salah satu prioritas utama pembangunan daerah
periode saat ini.
Selain banjir, bencana longsor kerap terjadi di Kota Samarinda. Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa di Kota Samarinda telah
terjadi total 41 kejadian bencana longsor, 3 orang meninggal, 2 luka-luka dan 422
orang menderita.

4.2.7 Hubungan antara Permasalahan Pokok dan Isu Strategis


Pembangunan Kota Samarinda diharapkan dapat mengatasi permasalahan dan
mengantisipasi isu strategis yang kedepannya dapat menjadi pendorong atau bahkan
penghambat pembangunan. Adapun hubungan antara permasalahan dan isu strategis
Kota Samarinda yaitu :

Tabel 4.8.
Hubungan Permasalahan Pokok dan Isu Strategis
Kota Samarinda

Permasalahan Pokok Isu Strategis


Pelaksanaan reformasi birokrasi belum Reformasi birokrasi pemerintah dan
menyentuh seluruh area penguatan SDM aparatur
Pembangunan yang merata dan
responsif gender
Lonjakan pertumbuhan penduduk
Pembangunan sumber daya manusia
sebagai dampak dari terbangunnya
belum merata untuk mewujudkan
IKN (Samarinda sebagai kota
masyarakat unggul
penyangga IKN)
Penanggulangan kemiskinan
Penanganan covid 19
Belum terwujudnya sektor ekonomi Stabilisasi ketahanan pangan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-51


Permasalahan Pokok Isu Strategis
yang mendukung ekonomi kerakyatan Peningkatan iklim investasi yang
dan menciptakan daya saing kondusif untuk mendorong tumbuh
dan berkembangnya UMKM, Industri
Rumah Tangga dan IKM
Pengembangan destinasi wisata baru
baik yang bersumber dari alam
maupun buatan
Infrastuktur dan perhubungan
Peningkatan pendapatan asli daerah
Peningkatan pengelolaan lingkungan
untuk mereduksi pemanasan global
Optimalisasi penanggulangan banjir
Penyediaan Sarana dan Prasarana
pelayanan dasar terkait ketersediaan
Pembangunan lingkungan belum
air minum, air limbah, persampahan
menggambarkan Samarinda Kota
dan drainase lingkungan
TEPIAN
Penanganan kawasan kumuh
Penguatan Kota Samarinda sebagai
Kota Cerdas (Smart City)
Pencegahan dan Penanggulangan
bencana

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 IV-52


BAB V
VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN

5.1. Visi dan Misi

5.1.1. Visi

Dengan mempertimbangkan kemajuan yang telah dicapai pada periode


2016-2021; memperhatikan hasil analisis isu strategis; mengacu visi dan misi
Walikota/Wakil Walikota Kota Samarinda yang terpilih untuk masa bakti 2021-
2026; berpedoman pada RPJPD Kota Samarinda 2005-2025 yang telah ditetapkan
dengan Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 04 Tahun 2015; memperhatikan
prioritas pembangunan Provinsi Kalimantan Timur dalam RPJMD; serta merujuk
pada tujuan nasional yang tercantum dalam Pembukaan Undang-undang Dasar
1945, maka visi pembangunan Kota Samarinda Tahun 2021–2026 adalah:

“TERWUJUDNYA SAMARINDA SEBAGAI KOTA PUSAT PERADABAN”

Penetapan visi tersebut disamping dilandasi oleh ketentuan dalam Undang-


Undang Nomor 25 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, juga
mempertimbangkan berbagai aspirasi politik yang berkembang di kalangan
stakeholders yang ada di Kota Samarinda. Visi tersebut menjadi arah pembangunan
5 (lima) ke depan menuju kondisi ideal yang diinginkan.

Kota Samarinda sebagai Pusat Peradaban berlandaskan kepada 3 hal, yaitu:


1. Cermin atas identitas karakter bangsa yang berlandaskan pada 4 pilar
kebangsaan (NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika) dimana
konsep pengembangan Kota didasarkan pada morfologi dan fungsi kota yang
berbasis partisipatif dan gotong royong
2. Perwujudan kota yang adatif secara sosial, produktif secara ekonomi, dan
ramah secara lingkungan yang tercermin dalam konsep ruang biru dan ruang
hijau.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 V-1


3. Perwujudan kota cerdas dan modern menuju kota yang kompak dan berbasis
sitem informasi serta berbasis pada SDG’s dimana konsep pengembangan
kota difokuskan pada perwujudan infrastruktur yang inklusif, transportasi
publik dan produktifitas kerja dalam arti luas.

Ketiga landasan kota peradaban tersebut harus didukung kedalam 5 (lima)


aspek pembangunan yang berorentasi kepada pelayanan yang prima kepada
masyarakat, yang meliputi :

1. Bidang sosial, yang dicirikan dengan terwujudnya sumber daya manusia yang
unggul (memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual), memahami hak dan
kewajiban sebagai anggota masyarakat, dalam tatanan kehidupan yang
harmonis, toleran dan egaliter antar komponen masyarakat serta mempunyai
semangat kegotong royongan.
2. Bidang ekonomi, ditandai dengan meningkatnya kemandirian ekonomi daerah
dan standar kesejahteraan masyarakat, dengan terbukanya ruang-ruang
berusaha (entreprenuer) yang berkeadilan untuk seluruh elemen masyarakat.
3. Bidang politik, ditandai dengan terwujudnya pemerintahan demokratis yang
diperkuat dengan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan dan
akuntabel, mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi,
kelompok dan golongan serta meningkatnya partisipasi publik.
4. Bidang agama dan budaya ditandai dengan terwujudnya masyarakat yang
beriman dan bertakwa, menerapkan prinsip dan nilai-nilai Keagamaan dalam
berbagai sendi kehidupan, yang tidak melepaskan Nilai-nilai kearifan lokal dan
pelestarian nilai-nilai luhur budaya dan adat istiadat.
5. Bidang fisik infrastruktur dicirikan dengan tersedianya sarana dan prasarana
yang mantap, penggunaan teknologi modern sehingga mampu memenuhi
kebutuhan masyarakat dengan memperhatikan kelestarian lingkungan.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 V-2


Kota pusat peradaban yang menciptakan tatanan politik, ekonomi, dan
masyarakat yang harmonis, dan toleran menuju masyarakat madani. MADANI
sebagai akronim dari kata maju, berbudaya dan harmoni dapat diuraiakan sebagai
berikut:

1. Sebuah kota Maju yang ekonomi daerah mandiri ditandai dengan


berkembangnya sektor ekonomi rakyat yang produktif dan kreatif didukung
infrastruktur modern, dengan tata ruang yang aman dan nyaman
2. Samarinda sebagai kota Sungai (the spirit or river city) yang berbudaya, ditandai
dengan warga sipil dan aparat yang sehat, cerdas dan religius yang menjunjung
tinggi etika, moralitas dan kejujuran dalam semangat persatuan dan kegotong
royongan yang tinggi
3. Kota yang selalu menjaga hubungan Harmoni antar warga dan warga dengan
lingkungan dalam suatu sistem kemasyarakatan dan lingkungan kota yang asri
dan lestari.

5.1.2. Misi

Berdasarkan visi pembangunan tersebut ditetapkan misi pembangunan


Kota Samarinda 2021- 2026.

(1) Mewujudkan masyarakat kota yang religius, unggul dan berbudaya;

(2) Mewujudkan perekonomian kota yang maju, mandiri, berkerakyatan dan


berkeadilan;

(3) Mewujudkan pemerintahan yang profesional, transparan, akuntabel dan


bebas korupsi;

(4) Mewujudkan infrastruktur yang mantap dan modern;

(5) Mewujudkan lingkungan kota yang aman, nyaman, harmoni dan lestari.

Penjelasan dari masing-masing misi tersebut adalah sebagai berikut:

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 V-3


1. Misi 1 : Mewujudkan masyarakat kota yang religius, unggul dan berbudaya

Masyarakat Kota Samarinda yang religius taat serta patuh dalam


menjalankan agama yang baik. Masyarakat yang unggul dimana mewujudkan
sumber daya manusia yang berkualitas dan berintegritas melalui pengembangan
pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Diharap dengan SDM unggul dapat
menjadi penentu kemajuan ekonomi, kemandirian dan kesejahteraan masyarakat
Kota Samarinda. Masyarakat yang berbudaya memiliki semangat persatuan dan
kegotong royongan yang tinggi. Misi 1 ini bertujuan untuk mewujudkan kualitas
SDM Kota Samarinda yang memiliki daya saing. Kota Samarinda akan meningkatkan
derajat kesehatan masyarakatnya, meningkatkan akses dan kualitas pendidikan,
meningkatkan prestasi pemuda dan olahraga, meningkatkan akses dan kualitas
hidup, perlindungan terhadap perempuan dan anak serta kesetaraan gender,
meningkatkan perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan budaya lokal.
Program Unggulan (PU) dalam misi pertama yang dirumuskan adalah PU 1 Program
Pemberdayaan RT (Alokasi Rp 100 juta – Rp 300 juta) per RT per tahun); PU 4
Program Social Security Number (satu kartu untuk semua layanan); PU5 Program
Smart City plus; PU6 Program dokter on call untuk kondisi darurat, lansia dan balita;
PU 7 Program bantuan peralatan sarana dan prasarana pendidikan untuk
menunjang pendidikan gratis 12 tahun .

2. Misi 2 : Mewujudkan perekonomian kota yang maju, mandiri,


berkerakyatan dan berkeadilan

Misi 2 ini bertujuan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi dan


pemerataan ekonomi juga untuk menurunkan kemiskinan dan pengangguran.
Dalam mewujudkan perekonomian kota yang maju, mandiri, berkerakyatan dan
berkeadilan Kota Samarinda akan berupaya meningkatkan pembangunan sektor
tersier, meningkatkan kewirausahaan baru, meningkatkan jumlah dan nilai
investasi, meningkatkan kemandirian keuangan daerah, meningkatkan ketahanan
pangan menuju kemandirian pangan, meningkatkan kesejahteraan sosial dan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 V-4


meningkatkan lapangan pekerjaan. Program Unggulan yang dirumuskan adalah PU
1 Program pemberdayaan RT (alokasi 100-300 juta per RT per tahun); PU 4 Program
social security number (satu kaartu untuk semua layanan); PU 8 Pengembangan
badan usaha milik RT (berbasis kelurahan) ;PU 10 Program penciptaan 10.000 wira
usaha baru (star up).

3. Misi 3 : Mewujudkan pemerintahan yang profesional, transparan, akuntabel


dan bebas korupsi

Misi 3 mempunyai tujuan menciptakan tatanan birokrasi yang transparan,


akuntabel, responsif dan efektif. Pemerintahan yang profesional, transparan,
akuntabel dan bebas korupsi dapat terwujud dengan meningkatkan sistem
pelayanan publik, reformasi birokrasi dan penguatan tata kelola pemerintahan,
penguatan kapasitas ketertiban, ketenteraman dan perlindungan masyarakat dan
meningkatkan jumlah warga masyarakat yang memiliki wawasan karakter
kebangsaan. Dengan program unggulan PU 4 Program social security number dan
PU 5 Program smart city plus.

4. Misi 4 : Mewujudkan infrastruktur yang mantap dan modern

Misi 4 bertujuan untuk mewujudkan sistem transportasi yang strategis dan


terintegrasi. Infrastruktur yang mantap dan modern akan diwujudkan dengan
ketersediaan sarana dan prasarana jalan serta jembatan yang mantap. Didukung
juga dengan ketersediaan sarana prasarana sistem transportasi darat dan sungai.
Dan yang menjadi impian Kota Samarinda dapat mewujudkan aksesibilitas publik
terhadap layanan transportasi kereta api. Dengan Program Unggulan PU 2 Program
Pengendalian banjir dan pembangunan sistem drainase modern dan PU 3 Program
Pembangunan sistem transportasi masal modern dan ramah lingkungan.

5. Misi 5 : Mewujudkan lingkungan kota yang aman, nyaman, harmoni dan


lestari

Adapun tujuan dari misi 5 yaitu mewujudkan kota yang tangguh dan
berkelanjutan. Sebuah kota yang baik harus mampu memberikan kenyamanan dan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 V-5


keamanan bagi warga atau penduduk yang tinggal didalamnya. Kota Samarinda akan
mewujudkan lingkungan kota yang aman, nyaman, harmoni dan lestari untuk
dijadikan tempat hunian dan sebagai persiapan daerah penyangga IKN. Strategi-
strategi akan dilaksanakan untuk meningkatkan kota yang nyaman dan berkualitas,
meningkatkan kebersihan, meningkatkan kualitas lingkungan hidup, mengurangi
resiko bencana dan perubahan iklim, meningkatkan ketersediaan perumahan dan
permukiman penduduk yang layak huni serta mengintegrasikan sarana prasarana
sumber daya air. Dengan Program Unggulan PU 2 Program pengendalian banjir dan
pembangunan sistem drainase modern; PU 5 Program Smart City Plus dan PU 9
Program pengembangan ruang terbuka hijau, taman rekreasi satu kelurahan satu
playground.

5.2. Tujuan dan Sasaran Pembangunan

Visi dan misi pembangunan jangka menengah Kota Samarinda Tahun 2021-
2026 yang telah dirumuskan terdiri dari 6 (enam) tujuan dan 21 (dua puluh satu)
sasaran. Indikator dan target pembangunan per tahun akan ditentukan pada setiap
tujuan dan sasaran pembangunan. Adapun 6 (enam) tujuan Kota Samarinda Tahun
2021-2026 adalah sebagai berikut:

1. Terwujudnya SDM yang berkualitas dan berdaya saing


2. Terciptanya pertumbuhan dan pemerataan ekonomi
3. Menurunnya kemiskinan dan pengganguran
4. Terciptanya tatanan birokrasi yang transparan, akuntabel, responsive, efektif
5. Terwujudnya infrastruktur strategis yang terintegrasi
6. Terwujudnya Kota yang Tangguh dan Berkelanjutan

Keenam tujuan pembangunan Kota Samarinda tahun 2021-2026 ini selaras


dengan 17 (tujuh belas) tujuan Pembangunan Berkelanjutan global atau yang
dikenal dengan sebutan Sustainable Development Goals (SDGs). Hal ini

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 V-6


mengindikasikan bahwa tujuan pembangunan Kota Samarinda tahun 2021- 2026
telah sesuai dengan semangat global dalam pengentasan persoalan sosial, ekonomi,
dan lingkungan dalam kerangka kebijakan Pembangunan Hijau. Keselarasan antara
RPJMD dengan tujuan SGDs dapat dilihat secara lebih jelas pada Tabel 5.1 di bawah
ini.

Tabel 5.1
Keselarasan RPJMD dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SGDs)
No Tujuan RPJMD Tujuan SDGs

Terwujudnya kualitas (4) Menjamin kualitas pendidikan inklusif dan adil


1
SDM Kota Samarinda dan mempromosikan kesempatan belajar
yang memiliki daya seumur hidup untuk semua;
saing (3) Memastikan hidup sehat dan mempromosikan
kesejahteraan bagi semua pada segala usia;
Terciptanya (2) Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan
2
pertumbuhan dan pangan dan peningkatan gizi, dan
pemerataan ekonomi mempromosikan pertanian berkelanjutan
(8) Mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang
inklusif dan berkelanjutan, kesempatan kerja
penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak
untuk semua;
(12) Memastikan pola-pola konsumsi dan produksi
berkelanjutan;
Menurunnya (1) Mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuknya
3
kemiskinan dan (5) Mencapai kesetaraan gender dan
pengganguran memberdayakan semua perempuan dan anak
perempuan
Terciptanya tatanan (16) Mempromosikan masyarakat yang damai dan
4
birokrasi yang inklusif untuk pembangunan berkelanjutan,
transparan, akuntabel, menyediakan akses terhadap keadilan bagi
responsif, efektif semua dan membangun institusi yang efektif,
akuntabel dan inklusif di semua tingkatan
Terwujudnya sistem (9) Membangun infrastruktur tangguh,
5
transportasi yang mempromosikan industrialisasi inklusif dan
strategis dan berkelanjutan dan mendorong inovasi;
terintegrasi (10) Mengurangi ketimpangan dalam dan di antara
negara-negara;
(7) Menjamin akses energi modern yang terjangkau,
dapat diandalkan, dan berkelanjutan untuk
semua
Terwujudnya Kota (15) Melindungi, memulihkan dan meningkatkan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 V-7


No Tujuan RPJMD Tujuan SDGs

yang Tangguh dan pemanfaatan ekosistem darat dan pengelolaan


6
Berkelanjutan hutan yang berkelanjutan, memerangi
desertifikasi, dan menghentikan dan
membalikkan degradasi lahan dan menghentikan
hilangnya keanekaragaman hayati
(13) Mengambil tindakan segera untuk memerangi
perubahan iklim dan dampaknya;
(11) Membuat kota-kota dan pemukiman manusia
inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan;
(14) Melestarikan dan memanfaatkan samudera, laut
dan sumberdaya kelautan untuk pembangunan
berkelanjutan;
(6) Memastikan ketersediaan dan pengelolaan air
dan sanitasi yang berkelanjutan;

Tujuan dan sasaran pembangunan Kota Samarinda yang akan dicapai dalam
lima tahun mendatang dirumuskan berdasarkan visi dan misi pembangunan Kota
Samarinda Tahun 2021-2026.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 V-8


Tabel 5.2
Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
Kota Samarinda Tahun 2021-2026
Kondisi
Awal Target Tahun
Indikator Kondisi
Tujuan/Sasaran
Tujuan/Sasaran Akhir
No
2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026
VISI
“TERWUJUDNYA SAMARINDA SEBAGAI KOTA PUSAT PERADABAN”
1 Mewujudkan masyarakat kota yang religius, unggul dan berbudaya
Terwujudnya kualitas SDM IPM
1.1
Kota Samarinda yang 80,11 80,17 80,32 80,46 80,59 80,71 80,82 80,82
memiliki daya saing
Meningkatnya derajat Umur Harapan
1.1.1 74,17 74,17 74,27 74,37 74,47 74,57 74,67 74,67
kesehatan masyarakat Hidup
Meningkatnya akses dan Angka Harapan
1.1.2 14,70 14,70 14,75 14,80 14,85 14,90 15,00 15,00
kualitas pendidikan lama sekolah
Rata-rata lama
10,48 10,52 10,56 10,60 10,64 10,70 10,78 10,78
sekolah
Meningkatnya prestasi Indeks
1.1.3
pemuda dan olahraga Pembangunan NA NA 50 51 52 53 54 54
Pemuda
Meningkatnya akses dan
1.1.4
kualitas hidup, perlindungan IPG
89,41 89,42 89,43 89,44 89,45 89,46 89,47 89,47
terhadap perempuan dan
anak serta kesetaraan gender

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 V-9


Kondisi
Awal Target Tahun
Indikator Kondisi
Tujuan/Sasaran
Tujuan/Sasaran Akhir
No
2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026
VISI
“TERWUJUDNYA SAMARINDA SEBAGAI KOTA PUSAT PERADABAN”
Meningkatkan perlindungan, Indeks
1.1.5
pengembangan dan Pembanguan 52,61 53 54 55 56 57 57
pemanfaatan budaya lokal Kebudayaan
2 Mewujudkan perekonomian kota yang maju, mandiri, berkerakyatan dan berkeadilan

2.1 Terciptanya pertumbuhan Pertumbuhan


-1,07 1,13 2,26 2,45 4,79 4,57 4,81 4,81
dan pemerataan ekonomi ekonomi
2.1.1 Meningkatnya pembangunan Persentase
sektor tersier Kontribusi Sektor
0 7,99 8,00 8,10 8,20 8,30 8,40 8,40
Industri Terhadap
PDRB
2.1.2 Meningkatnya kewirausahaan Jumlah
baru peningkatan
15.909 25.589 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 51.498
kewirausahaan
baru
2.1.3 Meningkatnya jumlah dan Jumlah nilai
nilai investasi investasi berskala 3,06 T 3,27 T 3,50 T 3,75 T 4,01 T 4,29 T 4,29 T
nasional PMDN
Jumlah nilai
investasi berskala 0,35 T 0,37 T 0,40 T 0,42 T 0,45 T 0,49 T 0,49 T
nasional PMA

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 V-10


Kondisi
Awal Target Tahun
Indikator Kondisi
Tujuan/Sasaran
Tujuan/Sasaran Akhir
No
2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026
VISI
“TERWUJUDNYA SAMARINDA SEBAGAI KOTA PUSAT PERADABAN”
2.1.4 Meningkatnya kemandirian Persentase PAD
keuangan daerah terhadap
17,05 24,13 23,66 23,29 23,08 23,03 23,14 23,14
Pendapatan
Daerah
2.1.5 Meningkatnya ketahanan Indeks Ketahanan
pangan menuju kemandirian Pangan 80,75 81,75 82,5 84 85,5 87 88,5 88,5
pangan
2.2 Menurunnya kemiskinan Angka
4,76 4,48 4,30 4,25 4,21 4,16 4,06 4,06
dan pengganguran kemiskinan
2.2.1 Meningkatnya kesejahteraan PDRB per kapita
80,36 Jt 80,90 Jt 81,95 Jt 84,05 Jt 91,10 Jt 94,66 Jt 98,24 Jt 98,24 Jt
sosial
2.2.2 Meningkatnya lapangan Tingkat
pekerjaan pengangguran 8,25 7,14 6,90 6,51 6,10 5,88 5,55 5,55
terbuka
3 Mewujudkan pemerintahan yang profesional, transparan, akuntabel dan bebas korupsi
Terciptanya tatanan
3.1
birokrasi yang transparan, Indeks reformasi 60,10 60,13 60,18 60,23 60,28 60,33 60,38 60,38
akuntabel, responsive, birokrasi
efektif
3.1.1 Meningkatnya pelayanan Indeks Pelayanan
86,00 88,00 90,00 92,00 94,00 95,00 96,00 96,00
prima bagi masyarakat Publik

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 V-11


Kondisi
Awal Target Tahun
Indikator Kondisi
Tujuan/Sasaran
Tujuan/Sasaran Akhir
No
2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026
VISI
“TERWUJUDNYA SAMARINDA SEBAGAI KOTA PUSAT PERADABAN”
3.1.2 Meningkatnya pelayanan yang Nilai LPPD
3,275 3,3 3,35 3,4 3,45 3,5 3,55 3,55
akuntabel
3.1.3 Meningkatnya Penegakan Persentase Perda
100 100 100 100 100 100 100 100
Peraturan Daerah dan Tertib dan Perkada yang
Hukum di tegakkan
4 Mewujudkan infrastruktur yang mantap dan modern
4.1 Terwujudnya sistem Rasio konektifitas
transportasi strategis yang kota 82.80 82.80 82.80 82.80 92.30 92.30 96.50 96.50
terintegrasi
4.1.1 Persentase
Meningkatkan aksesibilitas
ketersediaan 82.97 87.04 88,51 88,96 89,41 90,09 91,00 91,00
inter dan antar wilayah kota
jaringan jalan
Persentase
ketersediaan
sarana prasarana 41,96 47,45 58,12 73,92 74,53 96,86 96,86
sistem
transportasi
5 Mewujudkan lingkungan kota yang aman, nyaman, harmoni dan lestari
Terwujudnya Kota yang Penghargaan Kelas Kelas Kelas Kelas Kelas Kelas Kelas Kelas
Tangguh dan Berkelanjutan Adipura tingkat 3 tingkat 3 tingkat 3 tingkat 3 tingkat 2 tingkat 2 tingkat 2 tingkat 2

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 V-12


Kondisi
Awal Target Tahun
Indikator Kondisi
Tujuan/Sasaran
Tujuan/Sasaran Akhir
No
2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026
VISI
“TERWUJUDNYA SAMARINDA SEBAGAI KOTA PUSAT PERADABAN”
Indeks Resiko
5.1 0, 89 0,87 0,85 0,84 0,82 0,80 0,79 0,79
Bencana
5.1.1 Meningkatkan kota yang Persentase
2 4 6 8 10 11 12 12
nyaman dan berkualitas tersedianya luasan
RTH
5.1.2 Meningkatkan ketersediaan Persentase luas
perumahan dan permukiman kawasan
penduduk yang layak huni perumahan dan 25 28 34 35 40 60 75 75
permukiman yang
sudah dilengkapi
PSU
5.1.3 Meningkatnya kebersihan Persentase
92 95 99 99 99 100 100 100
wilayah kota pengelolaan
sampah
5.1.4 Meningkatnya kualitas Indeks Kualitas 54,70 49,59 49,70 49,81 49,93 50,04 50,15 50,15
lingkungan hidup Lingkungan Hidup
5.1.5 Mengurangi resiko bencana Indeks Ketahanan
367 374,34 381,68 389,02 396,36 403,70 411,04 411,04
dan perubahan iklim Daerah
5.1.6 Rasio luasan
Terintegrasinya sarana kawasan
16,81% 18,91% 35,13% 40,00% 45,00% 50,00% 55,00% 55,00%
prasarana sumber daya air permukiman
rawan banjir yang

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 V-13


Kondisi
Awal Target Tahun
Indikator Kondisi
Tujuan/Sasaran
Tujuan/Sasaran Akhir
No
2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026
VISI
“TERWUJUDNYA SAMARINDA SEBAGAI KOTA PUSAT PERADABAN”
dilindungi oleh
infrastruktur
pengendalian
banjir di WS
kewenangan
Kab/Kota

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 V-14


BAB VI
STRATEGI, ARAH KEBIJAKAN dan PROGRAM
PEMBANGUNAN DAERAH

Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan yang komprehensif


tentang bagaimana mencapai tujuan dan sasaran dengan efektif dan efisien. Rumusan strategi
merupakan pernyataan yang menjelaskan bagaimana tujuan dan sasaran dicapai yang
selanjutnya diperjelas dengan serangkaian arah kebijakan. Untuk mewujudkan visi, misi
beserta tujuan dan sasaran pembangunan Kota Samarinda tahun 2021-2026 diperlukan
strategi dan arah kebijakan yang terencana dan terukur. Arah kebijakan akan menjadi
panduan langkah kerja bagi Satuan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di dalam merumuskan
program-program pembangunan dan kegiatan sesuai dengan Tugas Pokok dan Fungsi dari
masing-masing OPD.
Gambar 6.1
Keterkaitan antara Visi, Misi, Strategi, Arah Kebijakan dan Program

Hasil Analisis Kondisi Umum Mandat Pembangunan Pem. Pusat


Daerah Dan Masukan Stakeholders & Prov. Kaltim

1. Letak Strategis Kajian Lingk Kajian Lingk 1. SDS &


2. Demografi Internal Eksternal Perubahan
3. Kewenangan Iklim
Daerah 2. Isu strategis
4. Aparatur Isu-Isu Strategis Nasional &
Daerah Kaltim
5. Kemiskinan 3. MEA
6. Pertumb. VISI, MISI WALIKOTA TERPILIH 4. Bencana
Ekonomi (Perumusan Tujuan dan Sasaran
7. Infrastruktur Pembangunan Daerah). Visi Misi Presiden
Publik
dan Gubernur
KEBIJAKAN

Perumusan
DAN ARAH
STRATEG

Strategi Dan Arah Kebijakan


Jangka Menengah
I

PROGRAM PEMBANGUNAN
Impleme
Strtegi

DAERAH
ntasi

HASIL CAPAIAN TARGET 2026

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 1


6.1. Strategi dan Arah Kebijakan Kota Samarinda Tahun 2021 - 2026
Strategi merupakan langkah-langkah yang berisikan program-program indikatif untuk
mewujudkan visi dan misi. Strategi harus dijadikan salah satu rujukan penting dalam
perencanaan pembangunan daerah (strategy focussed-management). Rumusan strategi
berupa pernyataan yang menjelaskan bagaimana tujuan dan sasaran akan dicapai yang
selanjutnya diperjelas dengan serangkaian arah kebijakan.
Arah kebijakan adalah pedoman untuk mengarahkan rumusan strategi yang
dipilih agar lebih terarah dalam mencapai tujuan dan sasaran dari waktu ke waktu selama 5
(lima) tahun. Rumusan arah kebijakan merasionalkan pilihan strategi agar memiliki fokus dan
sesuai dengan pengaturan pelaksanaannya. Kriteria suatu rumusan arah kebijakan, antara
lain: memperjelas kapan suatu sasaran dapat dicapai dari waktu ke waktu, membantu
menghubungkan tiap-tiap strategi kepada sasaran secara lebih rasional; dan mengarahkan
pemilih strategi agar selaras dengan arahan dan sesuai/tidak bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan.
Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kota Samarinda pada 5
(lima) tahun mendatang adalah sebagaimana tercantum dalam tabel 6.1 berikut ini :

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 2


Tabel 6.1
Strategi dan Arah Kebijakan RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026
Visi
No TERWUJUDNYA SAMARINDA SEBAGAI KOTA PUSAT PERADABAN

Misi Tujuan Sasaran Strategi Arah Kebijakan


1 Mewujudkan Terwujudnya Meningkatnya derajat Peningkatan akses dan Pembangunan Sarana Prasarana dan
masyarakat kota Kualitas SDM Kota kesehatan masyarakat mutu pelayanan Peningkatan Pelayanan Kesehatan
yang religius, unggul Samarinda yang masyarakat kesehatan Peningkatan kualitas SDM dan
dan berbudaya memiliki Daya Saing kelembagaan Kesehatan
Peningkatan Promosi dan Prevensi
kesehatan
Peningkatan Pelayanan, Peningkatan kualitas
Advokasi Dan KIE pelayanan, Advokasi dan
Keluarga Berencana KIE keluarga berencana
Meningkatnya akses dan Peningkatan akses dan Pembangunan Sarana prasarana dan
kualitas pendidikan mutu pendidikan Peningkatan Pelayanan Pendidikan
Meningkatkan minat baca
Meningkatnya prestasi Meningkatkan prestasi Peningkatan Sarana Prasarana
Pemuda dan olahraga Pemuda dan olahraga Kepemudaan dan Olah raga
melalui peningkatan Pengembangan fasilitasi dan
kualitas pembinaannya pendampingan permodalan usaha
pemuda
Meningkatnya akses dan Meningkatkan peran, Penguatan kelembagaan dan jejaring
kualitas hidup, pemberdayaan dan perempuan, anak dan lansia
perlindungan terhadap perlindungan perempuan, Perlindungan perempuan anak dan
perempuan dan anak anak dan lansia lansia
serta kesetaraan gender
Meningkatkan Kemitraan pemerintah, Pelestarian Nilai Budaya melalui
perlindungan, masyarakat dan berbagai penyediaan sarana prasarana penunjang
pengembangan dan pemangku kepentingan dan penguatan kelembagaan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 3


Visi
No TERWUJUDNYA SAMARINDA SEBAGAI KOTA PUSAT PERADABAN

Misi Tujuan Sasaran Strategi Arah Kebijakan


pemanfaatan budaya dalam apresiasi
lokal kebudayaan daerah.
Menggali potensi dan Menggali potensi budaya lokal
menetapkan budaya lokal
2 Mewujudkan Terciptanya Meningkatnya Meningkatnya daya saing Pengelolaan industri kecil melalui
perekonomian kota pertumbuhan dan pembangunan sektor industri kecil dan pendataan, pembinaan dan pelatihan
yang maju, mandiri, pemerataan ekonomi tersier menengah
berkerakyatan dan Meningkatkan peran Meningkatkan sarana & prasarana,
berkeadilan sektor perdagangan promosi, keamanan perdagangan &
dalam perekonomian perlindungan konsumen
daerah
Mengembangkan Melaksanakan pengembangan destinasi,
pariwisata unggulan pemasaran, pariwisata dan ekonomi
daerah kreatif
Meningkatnya Menumbuhkan dan Melaksanakan pembinaan, pelatihan,
kewirausahaan baru memberdayaan dan pengawasan Koperasi dan Usaha
kelembagaan Koperasi Mikro
dan UKM
Meningkatnya jumlah Perluasan jaringan Menjalin kerjasama investasi antar
dan nilai investasi investasi daerah
Meningkatnya Pemutakhiran data wajib Pendataan ulang dan verifikasi WP dan
kemandirian keuangan pajak (WP) Pajak objek pajaknya
daerah restribusi daerah
Meningkatnya Mengendalikan Mengendalikan sistem stok bahan
ketahanan pangan keseimbangan pangan, menyediakan sarpras
menuju kemandirian ketersediaan bahan pendukungnya & memperbaiki pola
pangan pangan dengan kebutuhan konsumsi pangan
pangan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 4


Visi
No TERWUJUDNYA SAMARINDA SEBAGAI KOTA PUSAT PERADABAN

Misi Tujuan Sasaran Strategi Arah Kebijakan


Meningkatkan nilai Menguatkan dukungan ketersediaan
produksi pangan sarana produksi tanaman pangan dan
holtikultura, perkebunan dan perikanan
Menurunnya Meningkatnya Peningkatan kualitas Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan
kemiskinan dan kesejahteraan sosial masyarakat golongan Keterampilan
pengangguran miskin penyandang
masalah kesejahteraan
sosial
Meningkatnya lapangan Pelayanan bagi pencari Peningkatan kualitas dan produktivitas
pekerjaan kerja serta kesempatan kerja
Pengembangan dan Meningkatkan kualitas hubungan
perlindungan tenaga kerja tripartit dan bipartit, serta
meningkatkan kualitas kapasitas
penerapan sistem perlindungan tenaga
kerja di perusahaan
3 Mewujudkan Terciptanya tatanan Meningkatnya Meningkatkan Sistem Peningkatan penyelenggaraan pelayanan
pemerintahan yang birokrasi yang pelayanan prima bagi Pelayanan Publik publik yang lebih baik
profesional, transparan, masyarakat Peningkatan partisipsi masyarakat
transparan, akuntabel, responsif, dalam proses pembangunan
efektif Pengembangan pemanfaatan teknologi
akuntabel dan
informasi dalam penyelenggaraan
bebas korupsi
pemerintahan
Meningkatkan kualitas pelayanan
administrasi kependudukan, pelayanan
pencatatan sipil dan kualitas data
kependudukan
Meningkatkan layanan penanganan
masalah pertanahan melalui identifikasi

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 5


Visi
No TERWUJUDNYA SAMARINDA SEBAGAI KOTA PUSAT PERADABAN

Misi Tujuan Sasaran Strategi Arah Kebijakan


tanah negara, dan pelayanan pengadaan
tanah untuk kepentingan publik, dan
penanganan sengketa pertanahan
Peningkatan kualitas pengelolaan arsip
daerah
Meningkatnya Reformasi birokrasi dan Peningkatan peran dan kinerja lembaga
pelayanan yang penguatan tata kelola pengelolaan keuangan daerah
akuntabel pemerintahan Memantapkan sikronisasi perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan dan
pengendalian pelakasanaan rencana
pembangunan daerah
Peningkatan kapasitas sumber daya
aparatur pemerintahan yang profesional
(kompetensi birokrasi)
Peningkatan pengawasan dan
pengendalian penyelenggaraan
pemerintahan daerah
Meningkatnya Penguatan kapasitas Penguatan kapasitas penanganan
Penegakan Peraturan ketertiban, ketenteraman ganggunan K3 dan konflik sosial
Daerah dan Tertib dan perlindungan
Hukum masyarakat
Meningkatkan jumlah Revolusi mental
warga masyarakat yang
memiliki wawasan dan
karakter kebangsaan

4 Terwujudnya sistem Mewujudkan Penyediaan infrastruktur


transportasi yang ketersediaan sarana dan penyelenggaraan jalan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 6


Visi
No TERWUJUDNYA SAMARINDA SEBAGAI KOTA PUSAT PERADABAN

Misi Tujuan Sasaran Strategi Arah Kebijakan


Mewujudkan strategis dan Meningkatnya prasarana jalan dan
infrastruktur yang terintegrasi aksesibilitas inter danjembatan
mantap dan antar wilayah kota Mewujudkan Penyediaan infrastruktur transportasi
modern ketersediaan sarana dan fasilitas perlengkapan jalan
prasarana sistem
transportasi darat dan
sungai
Mewujudkan aksesibilitas Penyediaan lintasan/rute angkutan
publik terhadap layanan kereta api
transportasi kereta api
5 Mewujudkan Terwujudnya Kota Meningkatnya kota yang Meningkatkan Pembangunan dan Penataan Ruang
lingkungan kota yang Tangguh dan nyaman dan berkualitas ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
yang aman, nyaman, Berkelanjutan Terbuka Hijau
harmoni dan lestari Meningkatnya Mewujudkan Penataan, pengembangan, pengendalian
ketersediaan ketersediaan Sarana dan perumahan dan fasilitas permukiman
perumahan dan Prasarana kawasan sesuai dengan penataan ruang kota
permukiman penduduk perumahan dan
yang layak huni permukiman
Meningkatnya Peningkatan pengelolaan Pengurangan dan Penanganan Sampah
kebersihan wilayah kota persampahan
Meningkatnya Meningkatkan daya Peningkatan upaya perlindungan, dan
kualitas lingkungan dukung dan daya pengelolaan lingkungan hidup
hidup tampung lingkungan
hidup

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 7


Visi
No TERWUJUDNYA SAMARINDA SEBAGAI KOTA PUSAT PERADABAN

Misi Tujuan Sasaran Strategi Arah Kebijakan


Terkuranginya resiko Peningkatan upaya Peningkatan pelayanan informasi,
bencana dan perubahan penanggulangan bencana kesiapsiagaan , penyelamatan dan
iklim evakuasi, serta penataan sistem dasar
penanggulangan bencana

Terintegrasinya sarana Mewujudkan Pembangunan, peningkatan,


prasarana sumber daya ketersediaan sarana pemeliharaan sarana prasarana sumber
air prasarana sumber daya daya air
air

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 8


6.2. Program Pembangunan
Penjabaran lebih detail dari visi misi tertuang dalam arah kebijakan yang
terimplementasi dalam program pembangunan daerah. Program pembangunan
daerah yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Samarinda bertujuan untuk
mewujudkan sasaran dan tujuan yang hendak dicapai lima tahun kedepan dalam
RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021 - 2026.
6.2.1. Program Unggulan
Program prioritas walikota dan wakil walikota Kota Samarinda merupakan
janji-janji kampanye walikota dan strategis untuk dilaksanakan pada tahun 2021 –
2026. Program unggulan ini salah satu dukungan terhadap pencapaian visi dan misi.
Program unggulan 2021 - 2026, meliputi:
1. Program pemberdayaan RT (alokasi 100-300 juta per RT per tahun)
2. Program Pengendalian banjir dan pembangunan system drainase modern
3. Program Pembangunan sistem transportasi masal modern dan ramah lingkungan
4. Program social security number (satu kartu untuk semua layanan)
5. Program smart city plus
6. Program dokter on call untuk kondisi darurat, lansia dan balita
7. Program bantuan peralatan sarana dan prasarana Pendidikan untuk menunjang
Pendidikan gratis 12 tahun
8. Pengembangan badan usaha milik RT (berbasis kelurahan)
9. Program pengembangan ruang terbuka hijau, taman rekreasi satu kelurahan satu
playground
10. Program penciptaan 10.000 wira usaha baru (start up)

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 9


Tabel 6.2.
Rencana Implementasi Program Unggulan Daerah Tahun 2021 – 2026

Indikasi Rencana Program Kegiatan, OPD


No Program Unggulan Konsep Operasional Keterangan
Implementasi Pelaksana

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)


1 Program pemberdayaan RT Pembangunan dengan melibatkan Program dan fasilitas yang Program pemberdayaan Kecamatan
(alokasi 100-300 juta per RT partisipasi masyarakat pada tingkat diberikan guna masyarakat
per tahun) kelurahan yang berbasis pada wilayah - Pemberdayaan desa/ke;lurahan
Rukun Tetangga (RT) melalui stimulan masyarakat
100-300 juta per RT per tahun) sebagai - Infrastruktur lingkungan
upaya mewujudkan kemampuan dan pada wilayah Rukun
kemandirian masyarakat dalam Tetangga (RT)
pembangunan infrastruktur lingkungan
ekonomi dan sosial budaya
- Usulan kegiatan dari RT melalui
musrenbang
- Pokmas sebagai pelaksana
2 Program Pengendalian Pengintegrasian sarana dan prasarana Pembangunan,peningkatan, Program pengelolaan DPUPR
banjir dan pembangunan pengendalian banjir dan pemeliharaan sistem sumber daya air
system drainase modern pengendalian banjir Program pengelolaan dan
pengembangan sistem
drainase
Program Peningkatan SATPOL
Ketentraman dan PP
Ketertiban Umum dalam
1 (satu) Daerah
Kabupaten/Kota
Program Pemberdayaan KECAMAT
masyarakat AN
desa/kelurahan
Kecamatan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 10


Indikasi Rencana Program Kegiatan, OPD
No Program Unggulan Konsep Operasional Keterangan
Implementasi Pelaksana

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)


Program Pengelolaan DLH
Persampahan
3 Program Pembangunan Pengelolaan sistem transportasi yang Pembangunan sarana dan Program pengelolaan Dishub
sistem transportasi masal modern dan ramah lingkungan prasarana transportasi perkereta apian
modern dan ramah massal Program Dishub
lingkungan penyelenggaraan lalu
lintas dan angkutan jalan
Program penyelenggaran PUPR
jalan

4 Program social security Sistem satu chip (kartu cerdas) yang Terselenggaranya sistem Program pengelolaan Capil
number (satu kartu untuk bisa memenuhi segala kebutuhan satu chip (kartu cerdas) informasi administrasi
semua layanan) dan keperluan masyarakat dengan kepada masyarakat kependudukan
proses yang efektif dan efisien berupa identifikasi - Kegiatan
jati diri, perlindungan pengembangan
keamanan, jaminan sosial aplikasi SI-DUKCAPIL
dan seluruh kepentingan - Kegiatan peningkatan
pelayanan publik. kualitas dan kuantitas
data dan pelayanan
kependudukan
Program pengelolaan
Aplikasi Informatika

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 11


Indikasi Rencana Program Kegiatan, OPD
No Program Unggulan Konsep Operasional Keterangan
Implementasi Pelaksana

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)


5 Program smart city plus Pengintegrasian Teknologi Informasi Peningkatan dan Program Pengelolaan Diskominf
dan Komunikasi dalam pengembangan layanan Aplikasi Informatika o, dan OPD
penyelenggaraan enam pilar smart city TIK, tata kelola dan peran terkait
SDM dalam enam pilar kota Program Pelayanan
cerdas ( smart living , Penanaman Modal DPMPTSP
smart governance, smart Program Pengelolaan
society, smart economy, Data dan Sistem
smart environment, smart Informasi Penanaman
branding) Modal
Program Perencanaan,
Pengendalian dan
Bappeda
Evaluasi Pembangunan
Daerah
6 Program dokter on call Sistem pelayanan kesehatan dengan Terselenggaranya Program Sediaan Dinkes
untuk kondisi darurat, lansia jaminan akses ke masyarakat 24 jam
fasilitas kesehatan secara Farmasi, Alat
dan balita untuk kondisi darurat, lansia danmobile meliputi pelayan Kesehatan dan
balita Dokter On call, Dokter Makanan Minuman
Mobile, dan kendaraan
yang berisi
dokter,perawat serta
obat-obatan
7 Program bantuan peralatan Proses pengadaan dan Terpenuhinya Sarana Program Pengelolaan Diknas
sarana dan prasarana pendayagunaan sarana dan Prasarana Pendidikan Pendidikan
Pendidikan untuk prasarana yang menunjang proses jenjang SD-SMP Program Kecamatan
menunjang Pendidikan pendidikan untuk mencapai tujuan pemberdayaan
gratis 12 tahun
pendidikan secara masyarakat
efektif dan efisien

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 12


Indikasi Rencana Program Kegiatan, OPD
No Program Unggulan Konsep Operasional Keterangan
Implementasi Pelaksana

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)


desa/kelurahan
Kecamatan

8 Pengembangan badan usaha Instrument pemberdayaan ekonomi Terbentuknya Badan Program Kecamatan
milik RT (berbasis lokal dengan berbagai ragam jenis Usaha Milik RT per pemberdayaan
kelurahan) usaha sesuai dengan potensi yang kelurahan masyarakat desa dan
dimiliki desanya kelurahan
Program Penyuluhan
Pertanian
Pertaninan
Program Pemberdayaan
Usaha Menengah, Usaha Koperasi
Kecil dan Usaha Makro dan UKM
(UMKM)
Program Pengembangan Perkim
Perumahan
Program Pengelolaan
Lingkunga
Keanekaragaman Hayati
n Hidup
(KEHATI)
Program pemberdayaan
masyarakat Lingkunga
desa/kelurahan n Hidup
Kecamatan
10 Program penciptaan 10.000 Penciptaan wirausaha baru dengan Peningkatan layanan dan Program Pelatihan Kerja
wira usaha baru (star up) basis produk ekonomi mikro dukungan kemudahan dan Produktivitas Tenaga Disnaker
Kerja,

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 13


Indikasi Rencana Program Kegiatan, OPD
No Program Unggulan Konsep Operasional Keterangan
Implementasi Pelaksana

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)


dalam proses Program Pengembangan
perijinan,penyuluhan,pe Sumber Daya Pariwisata Pariwisata
mbekalan,bantuan modal dan Ekonomi Kreatif
kepada masyarakat Program Pemberdayaan
usaha menengah, usaha
KUKM
kecil dan usaha makro
(UMKM)
Program pengembangan
KUKM
UMKM
Program Perizinan Dan Perdagang
Pendaftaran Perusahaan an
Program pemberdayaan
masyarakat
Kecamatan
desa/kelurahan
Kecamatan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 14


Strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah memiliki nilai
yang sangat strategis sebab menjadi prioritas pembangunan tahunan. Dengan
demikian, prioritas pembangunan tahunan selama periode pembangunan jangka
menengah Kota Samarinda, meliputi:
1. Pembangunan Infrastuktur
2. Peningkatan akses dan kualitas Pendidikan
3. Peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan
4. Pemberdayaan ekonomi masyarakat
5. Tata kelola pemerintahan yang baik

Berdasarkan strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah yang


telah ditetapkan diatas, maka dapat disimpulkan fokus pembangunan. Fokus
pembangunan akan memberi arah yang jelas bagi pemerintah Kota Samarinda dalam
rangka pencapaian target sasaran pembangunan di RPJMD setiap tahun. Penetapan
fokus RPJMD Tahun 2021-2026 disajikan pada Gambar berikut ini.

Gambar 6.2
Fokus RPJMD Tahun 2021-2026

2026

2025
Memantapkan
2024 Infrastuktur,dan
kualitas SDM
Memantapkan dalam
2023 kehidupan Kota mendukung
Samarinda yang Kota Samarinda
Meningkatkan
nyaman, melalui
2022 kehidupan Kota
Pembangunan
yang beriman, ,
Samarinda yang mandiri,
Pembangunan infrastruktur ,
nyaman, melalui sejahtera dan
Infrastuktur dan SDM didukung
Pembangunan modern
peningkatan oleh tata kelola
Penguatan kualitas SDM infrastruktur ,
pemerintahan
ketangguhan SDM didukung
yang efektif dan
daerah di masa oleh tata kelola
efisien.
pandemi covid 19 pemerintahan
yang efektif dan
efisien.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 15


Selanjutnya dari tema pembangunan tahunan Kota Samarinda Tahun 2021-
2026 tersebut dirumuskan Fokus Prioritas Pembangunan dengan memperhatikan
hasil analisis evaluasi pelaksanaan RKPD pertahun, identifikasi isu strategis, dan
permasalahan dengan urgensitas tinggi baik di tingkat daerah maupun tingkat
nasional. Oleh karena itu, setiap tema RKPD memiliki fokus sebagaimana yang
dijabarkan di bawah ini:
1. Tema RKPD Tahun 2022 “ Penguatan Ketangguhan Daerah di Masa Pandemi Covid
19”, dengan prioritas pembangunan sebagai berikut :
1) Peningkatan Sumber Daya Manusia Dan Pelayanan Dasar
2) Peningkatan Produksi Pangan
3) Peningkatan Infrastruktur
4) Peningkatan Ekonomi Kerakyatan
5) Peningkatkan Nilai Tambah Dan Daya Saing komoditas Unggulan
6) Peningkatkan Pelayanan Publik Dan Penyelenggaraan Pemerintahan.
2. Tema RKPD Tahun 2023 “Pembangunan Infrastruktur dan peningkatan kualitas
SDM, dengan prioritas pembangunan sebagai berikut :
1) Peningkatkan aksesibilitas inter dan antar wilayah kota
2) Peningkatan ketersediaan perumahan dan permukiman penduduk yang layak
huni
3) Pengintegrasian sarana prasarana sumber daya air
4) Peningkatan derajat kesehatan masyarakat
5) Peningkatan akses dan kualitas pendidikan
3. Tema RKPD Tahun 2024 “ Meningkatkan kehidupan Kota Samarinda yang nyaman,
melalui pembangunan infrastruktur, SDM didukung oleh tata kelola pemerintahan
yang efektif dan efisien, dengan prioritas pembangunan sebagai berikut:
1) Peningkatan kota yang nyaman dan berkualitas
2) Peningkatan kebersihan wilayah kota
3) Peningkatan kualitas lingkungan hidup
4) Pengurangan resiko bencana dan perubahan iklim
5) Pengintegrasian sarana prasarana sumber daya air
6) Peningkatan aksesibilitas inter dan antar wilayah kota
7) Peningkatan akses dan kualitas pendidikan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 16


8) Peningkatan pelayanan prima bagi masyarakat
9) Peningkatan pelayanan yang akuntabel
10)Peningkatan prestasi pemuda dan olahraga
4. Tema RKPD Tahun 2025 “ Memantapkan kehidupan Kota Samarinda yang nyaman,
melalui pembangunan infrastruktur, SDM didukung oleh tata kelola pemerintahan
yang efektif dan efisien, dengan prioritas pembangunan sebagai berikut:
1) Peningkatan kota yang nyaman dan berkualitas
2) Peningkatan kebersihan wilayah kota
3) Peningkatan kualitas lingkungan hidup
4) Pengintegrasian sarana prasarana sumber daya air
5) Peningkatan aksesibilitas inter dan antar wilayah kota
6) Peningkatan derajat kesehatan masyarakat
7) Peningkatan akses dan kualitas pendidikan
8) Peningkatan pelayanan yang akuntabel
5. Tema RKPD Tahun 2026 “ Memantapkan infrastruktur dan kualitas SDM dalam
mendukung Kota Samarinda yang beriman, mandiri, sejahtera dan modern, dengan
prioritas pembangunan sebagai berikut:
1) Peningkatan aksesibilitas inter dan antar wilayah kota
2) Peningkatan akses dan kualitas pendidikan
3) Peningkatan prestasi pemuda dan olahraga
4) Peningkatan akses dan kualitas hidup, perlindungan terhadap perempuan dan
anak serta kesetaraan gender
5) Peningkatan perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan budaya lokal

6.3. Program Perangkat Daerah


Sejalan dengan pencapaian visi dan misi Walikota dan Wakil Walikota terpilih,
program yang terdapat pada rencana strategis di masing-masing OPD diselaraskan
dengan RPJMD Kota Samarinda, yang juga mengacu pada program yang tertera pada
Kepmen Nomor 050 Tahun 2020 tentang Perubahan Permendagri Nomor 90 Tahun
2019 tentang Klasifikasi, Kodefikasi, Dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan
Dan Keuangan Daerah serta Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 17


Dalam menjalankan Rencana Pembangunan diperlukan program dan kegiatan
untuk mencapai tujuan pembangunan. Untuk memudahkan dalam koordinasi dan
memandu arah pelaksanaan program dilakukan pembagian kelompok program
sebagai berikut:
Semua OPD (Sekretariat, Inspektorat, Dinas, dan Badan) melaksanakan
program OPD yang dijalankan untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan
pelayanan dasar bagi masyarakat. Rumusan kegiatan pemerintahan tersebut
dilaksanakan melalui program-program:
1. Program Penunjang Urusan Pemerintahan Daerah
a. Perencanaan, Penganggaran, Dan Evaluasi Kinerja Perangkat Daerah
b. Administrasi Keuangan Perangkat Daerah
c. Administrasi Barang Milik Daerah pada Perangkat Daerah
d. Administrasi Pendapatan Daerah Kewenangan Perangkat Daerah
e. Administrasi Kepegawaian Perangkat Daerah
f. Administrasi Umum Perangkat Daerah
g. Pengadaan Barang Milik Daerah Penunjang Urusan Pemerintah Daerah
h. Penyediaan Jasa Penunjang Urusan Pemerintahan Daerah
i. Pemeliharaan Barang Milik Daerah Penunjang Urusan Pemerintahan Daerah
j. Barang Milik Daerah Penunjang Urusan Pemerintahan Daerah
Sedangkan kecamatan melaksanakan program-program sebagai berikut:
1. Program Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pelayanan Publik, melalui pelaksanaan
kegiatan-kegiatan pokok:
a. Kegiatan Koordinasi Penyelenggaraan Kegiatan Pemerintahan di Tingkat Kecamatan
b. Peningkatan Efektifitas Kegiatan Pemerintahan di Tingkat Kecamatan
c. Penyediaan jasa komunikasi, sumberdaya air dan listrik
d. Penyediaan jasa pemeliharaan dan perijinan kendaraan dinas / operasional
e. Penyediaan alat tulus kantor
f. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi kedalam dan keluar daerah
g. Dll

2. Program pemberdayaan masyarakat kelurahan, melalui pelaksanaan kegiatan-kegiatan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 18


pokok”
a. Pembangunan Sarana dan Prasarana;
b. Pemberdayaan Masyarakat.

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 19


Tabel 6.3.
Program Pembangunan Daerah

Indikator Kinerja Capaian Kinerja


Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10

1 Mewujudkan masyarakat kota yang religious, unggul dan berbudaya

Terwujudnya Kualitas SDM Kota Samarinda yang memiliki Daya


1.1 IPM 80,11 80,82
Saing

1.1.1 Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat Usia Harapan Hidup 74,17 Tahun 74,67 Tahun Dinkes

Pembangunan Program
Sarana Prasarana Pemenuhan
dan Peningkatan Upaya
Pelayanan Kesehatan
Peningkatan Kesehatan Perorangan Dan Urusan
Rasio Puskesmas
akses dan mutu Upaya Pemerintahan Dinas
terhadap jumlah 0,51 0,61
pelayanan Kesehatan Bidang Kesehatan
penduduk
kesehatan Masyarakat Kesehatan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 20


Indikator Kinerja Capaian Kinerja
Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10

Urusan
Rasio Daya Tampung
Pemerintahan Dinas
Rumah Sakit Terhadap 0,49 0,72
Bidang Kesehatan
jumlah penduduk
Kesehatan

Program
Peningkatan Peningkatan Persentase Urusan
kualitas SDM dan Kapasitas peningkatan Pemerintahan Dinas
1,54 100%
kelembagaan Sumber Daya kompetensi tenaga Bidang Kesehatan
Kesehatan Manusia kesehatan Kesehatan
Kesehatan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 21


Indikator Kinerja Capaian Kinerja
Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10
Program Sediaan
Farmasi, Alat Tersedianya Sediaan
Kesehatan Dan Farmasi,Alat
Makanan Kesehatan, dan
Peningkatan Minuman Makanan yang Urusan
Promosi dan terjamin aman, Pemerintahan Dinas
13,03 16,03
Prevensi berkhasiat dan Bidang Kesehatan
kesehatan bermutu serta Kesehatan
terjamin ketersediaan
dan
keterjangakauannya

Persentase
Rekomendasi yang Urusan
diberikan pada seluruh Pemerintahan Dinas
13,54 25,46
sarana Tempat Bidang Kesehatan
Pengolahan Pangan Kesehatan
(TPP)

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 22


Indikator Kinerja Capaian Kinerja
Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10

Program
Persentase Murunkan Urusan
Pemberdayaan
Angka Kesakitan Pemerintahan Dinas
Masyarakat 12 9,5
Penyakit Tidak Bidang Kesehatan
Bidang
Menular Kesehatan
Kesehatan

Urusan
Peningkatan
Peningkatan Pemerintahan
kualitas Rate Angka Kelahiran Dinas
Pelayanan, Program Bidang
pelayanan, Total (TFR) per Wanita Pengendalia
Advokasi Dan KIE Pengendalian 2,4 2,15 Pengendalian
Advokasi dan KIE Usia Subur (15-49 n Penduduk
Keluarga Penduduk Penduduk Dan
keluarga Tahun) dan KB
Berencana Keluarga
berencana
Berencana

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 23


Indikator Kinerja Capaian Kinerja
Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10

Urusan
Rate Angka Kelahiran Pemerintahan
Program Dinas
Remaja Usia 15-19 Bidang
Pembinaan Pengendalia
Tahun (Age Specific 32 16 Pengendalian
Keluarga n Penduduk
Fertility Rate/ASFR 15- Penduduk Dan
Berencana (KB) dan KB
19) Keluarga
Berencana

Urusan
Persentase Pemakaian Pemerintahan
Kontrasepsi Modern Bidang
(Modern Contraceptiv 61,3 68,05 Pengendalian
Prevalence Rate / Penduduk Dan
mCPR) Keluarga
Berencana

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 24


Indikator Kinerja Capaian Kinerja
Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10

Urusan
Pemerintahan
Persentase Peserta KB
Bidang
Aktif (PA) Metode
8,3 7,1 Pengendalian
Kontrasepsi Jangka
Penduduk Dan
Panjang (MKJP)
Keluarga
Berencana

Urusan
Pemerintahan
Persentase kebutuhan
Bidang
ber KB yang tidak
17 13 Pengendalian
terpenuhi (Unmet
Penduduk Dan
Need)
Keluarga
Berencana

Rata-rata lama
10,48 10,78 URUSAN
sekolah
PEMERINTAH Dinas
1.1.2 Meningkatnya akses dan kualitas pendidikan
AN BIDANG Pendidikan
Harapan lama sekolah 14,70 15,00 PENDIDIKAN

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 25


Indikator Kinerja Capaian Kinerja
Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10
Urusan
APK Jenjang Pemerintahan
105,67 100,50
SD/MI/SDLB Bidang
Pendidikan

Urusan
APK Jenjang Pemerintahan
99,00 101,50
Pembangunan SMP/MTs/SMPLB Bidang
Peningkatan Sarana prasarana Program Pendidikan
Dinas
akses dan mutu dan Peningkatan Pengelolaan
Pendidikan
pendidikan Pelayanan Pendidikan Urusan
APK Jenjang
Pendidikan Pemerintahan
Pendidikan Anak Usia 32,56 33,72
Bidang
Dini (PAUD) 4-6 tahun
Pendidikan

Urusan
APK Jenjang
Pemerintahan
Kesetaraan (Paket A/ 2,29 2,37
Bidang
Paket B/ Paket C)
Pendidikan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 26


Indikator Kinerja Capaian Kinerja
Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10

Persentase
Urusan
Ketersediaan Buku
Pemerintahan
Kurikulum Muatan 0% 51,95%
Bidang
Lokal Pendidikan
Pendidikan
Dasar
Program
Dinas
Pengembangan
Pendidikan
Kurikulum
Persentase
Ketersediaan Buku Urusan
Kurikulum Muatan Pemerintahan
0 60,67
Lokal Pendidikan Anak Bidang
Usia Dini dan Pendidikan
Pendidikan Nonformal

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 27


Indikator Kinerja Capaian Kinerja
Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10

Persentase guru
berkualifikasi minimal Urusan
S1 pada Satuan Pemerintahan
85,66 89,32
Pendidikan Dasar, Bidang
PAUD, dan Pendidikan Pendidikan
Nonformal/Kesetaraan
Program
Pendidik Dan Dinas
Tenaga Pendidikan
Kependidikan
Persentase guru
bersertifikat Pendidik Urusan
pada Satuan Pemerintahan
40,21 43,97
Pendidikan Dasar, Bidang
PAUD, dan Pendidikan Pendidikan
Nonformal/Kesetaraan

Urusan
Program Nilai Tingkat Dinas
Meningkatkan Pemerintahan
Pembinaan Kegemaran Membaca 58,00% 66,00% Perpustakaa
minat baca Bidang
Perpustakaan Masyarakat n
Pendidikan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 28


Indikator Kinerja Capaian Kinerja
Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10
Program
Urusan
Pelestarian Dinas
Indeks Pembangunan Pemerintahan
Koleksi Nasional 19,5 28 Perpustakaa
Literasi masyarakat Bidang
dan Naskah n
Pendidikan
Kuno

Dinas
Indeks Pembangunan Kepemudaa
1.1.3 Meningkatnya prestasi Pemuda dan olahraga N/A 77,04
Pemuda n Dan
Olahraga

Meningkatkan Persentase atlet dan


prestasi Pemuda Peningkatan Program 50,05 66,03 Urusan
pelatih berprestasi Dinas
dan olahraga Sarana Prasarana Pengembangan Pemerintahan
Kepemudaan
melalui Kepemudaan dan Kapasitas Daya Bidang
Dan
peningkatan Olah raga Saing Kepemudaan
Jumlah Komunitas 31 15 Olahraga
kualitas keolahragaan Keolahragaan Dan Olahraga
pembinaannya Olahraga Masyarakat komunitas Komunitas

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 29


Indikator Kinerja Capaian Kinerja
Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10

Program Urusan
Tingkat Partisipasi Dinas
Pengembangan Pemerintahan
Pemuda dalam Kepemudaan
Kapasitas Daya 0,02 0,14 Bidang
kegiatan ekonomi Dan
Saing Kepemudaan
Pengembangan mandiri Olahraga
Kepemudaan Dan Olahraga
fasilitasi dan
pendampingan
permodalan
Urusan
usaha pemuda Program Dinas
Persentase organisasi Pemerintahan
Pengembangan Kepemudaan
kepramukaan yang 76,19 76,19 Bidang
Kapasitas Dan
aktif Kepemudaan
Kepramukaan Olahraga
Dan Olahraga

Meningkatnya akses dan kualitas hidup, perlindungan terhadap


1.1.4 IPG 89,41 89,27 DP2PA
perempuan dan anak serta kesetaraan gender

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 30


Indikator Kinerja Capaian Kinerja
Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10

Urusan
Program Pemerintahan
Pengarus Bidang
Persentase tenaga
Utamaan Gender Pemberdayaa
PPRG terlatih pada 83,05% 100% DP2PA
Dan n Perempuan
seluruh PD
Meningkan Pemberdayaan Dan
Perempuan Perlindungan
peran, Penguatan
Anak
pemberdayaan kelembagaan dan
dan jejaring
perlindungan perempuan, anak
Urusan
perempuan, dan lansia Pemerintahan
anak dan lansia Bidang
Program
Persentase Indeks Pemberdayaa
Peningkatan 10% 20% DP2PA
keluarga Tinggi n Perempuan
Kualitas Keluarga
Dan
Perlindungan
Anak

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 31


Indikator Kinerja Capaian Kinerja
Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10

Urusan
Pemerintahan
Program
Bidang
Pengelolaan
Persentase data Pemberdayaa
Sistem Data 50% 100% DP2PA
gender dan anak n Perempuan
Gender Dan
Dan
Anak
Perlindungan
Anak

Urusan
Pemerintahan
Rasio kekerasan
Bidang
Perlindungan Program terhadap perempuan
Pemberdayaa
perempuan anak Perlindungan termasuk TPPO per 0,0062 0,0035 DP2PA
n Perempuan
dan lansia Perempuan 100.000 penduduk
Dan
perempuan
Perlindungan
Anak

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 32


Indikator Kinerja Capaian Kinerja
Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10

Urusan
Pemerintahan
Bidang
Program
Pemberdayaa
Pemenuhan Hak Kota Layak Anak (KLA) 700 900 s/d 1000 DP2PA
n Perempuan
Anak (Pha)
Dan
Perlindungan
Anak

Urusan
Persentase Pemerintahan
Pencegahan Bidang
Program
Kekerasan terhadap Pemberdayaa
Perlindungan 0,095% 0,209% DP2PA
Anak yang melibatkan n Perempuan
Khusus Anak
Parapihak Lingkup Dan
Daerah Kab./Kota Perlindungan
Anak

Meningkatkan perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan Indeks pembangunan Dinas


1.1.5 52,61 57
budaya lokal kebudayaan Kebudayaan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 33


Indikator Kinerja Capaian Kinerja
Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10

Urusan
Program
Persentase Terbinanya Pemerintahan Dinas
Pengembangan 60,00% 80,00%
Lembaga Adat Bidang Kebudayaan
Kebudayaan
Kemitraan Kebudayaan
pemerintah, Pelestarian Nilai
masyarakat dan Budaya melalui
Program Urusan
berbagai penyediaan Persentase
Pelestarian Dan Pemerintahan Dinas
pemangku sarana prasarana Terlestarikannya Cagar 29% 100%
Pengelolaan Bidang Kebudayaan
kepentingan penunjang dan Budaya
Cagar Budaya Kebudayaan
dalam apresiasi penguatan
kebudayaan kelembagaan
daerah. Urusan
Program Persentase
Pemerintahan Dinas
Pengelolaan Terkelolanya 60% 100%
Bidang Kebudayaan
Permuseuman Operasional Museum
Kebudayaan

Program Urusan
Menggali potensi Persentase
Menggali potensi Pengembangan Pemerintahan Dinas
dan menetapkan terlestarinya Kesenian 65,00% 75,00%
budaya lokal Kesenian Bidang Kebudayaan
budaya lokal Tradisional
Tradisional Kebudayaan

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 34


Indikator Kinerja Capaian Kinerja
Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10

Urusan
Program
Jumlah Dokumentasi/ Pemerintahan Dinas
Pembinaan 1 buku 3 Buku
Literasi Sejarah Lokal Bidang Kebudayaan
Sejarah
Kebudayaan

2 Mewujudkan perekonomian kota yang maju, mandiri, berkerakyatan dan berkeadilan

Pertumbuhan
2.1 Terciptanya pertumbuhan dan pemerataan ekonomi -1,07 4,81
Ekonomi

Persentase Kontribusi Dinas


2.1.1 Meningkatnya pembangunan sektor tersier Sektor Industri 7,99 8,4 Perindustria
Terhadap PDRB n

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 35


Indikator Kinerja Capaian Kinerja
Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10

Program
Urusan
Perencanaan Pertambahan Jumlah Dinas
Pemerintahan
Dan Industri Kecil dan 2,2 2,45 Perindustria
Bidang
Pembangunan Menengah n
Perindustrian
Industri

Pengelolaan
Meningkatnya industri kecil Program Urusan
Dinas
daya saing melalui Pengendalian Pelaku usaha Industri Pemerintahan
275 1475 Perindustria
industri kecil dan pendataan, Izin Usaha yang diawasi Bidang
n
menengah pembinaan dan Industri Perindustrian
pelatihan

Program Urusan
Jumlah Pelaku IKM Dinas
Pengelolaan Pemerintahan
yang menyampaikan 5 29 Perindustria
Sistem Informasi Bidang
informasi industri n
Industri Nasional Perindustrian

RPJMD Kota Samarinda Tahun 2021-2026 VI - 36


Indikator Kinerja Capaian Kinerja
Misi/
Program OPD Penang-
No Tujuan/ Strategi Arah Kebijakan (Tujuan/ Urusan
Prioritas Kondisi Kondisi gung jawab
Sasaran Sasaran/
Awal Akhir
Program)
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10

Persentase pelaku
usaha yang
Program memperoleh izin Urusan
Perizinan Dan sesuai dengan Pemerintahan Dinas
21,90% 404,29%
Meningkatkan Pendaftaran ketentuan (IUPP/SIUP Bidang Perdagangan
sarana & Perusahaan Pusat perbelanjaan Perdagangan
Meningkatkan dan IUTM/IUTS/SIUP
prasarana,
peran sektor Toko Swalayan)
promosi,
perdagangan
keamanan
dalam
perdagangan &
perekonomian