Anda di halaman 1dari 14

AGAMA KONGHUCU

KELOMPOK 3:

Soleman Amba Puang

Dian Marlina Tege

Mata Kuliah

STUDI AGAMA-AGAMA

Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado


Fakultas Ilmu Pendidikan Kristen
Program Studi Pendidikan Agama Kristen
2020
PEMBAHASAN

Sejarah Singkat
Pendiri agama Kong Hu Cu (kong jiao) dikenal dengan sebutan nabi
Khong Zi (k’ung Tzu atau Empu K’ung). Kong Hu Cu adalah filsuf besar dari
China. Nama latinnya adalah Confucius (rujia). Ia dilahirkan di provinsi
Shandong (Tiongkok) pada 551 sm. Nama keluarganya adalah Kong Qiu atau
Khiu, yang artinya: bukit. Sedangkan nama panggilannya adalah Zhing Ni atau
Tiong Ni, artinya anak kedua dari bukit Ni. Kong Hu Cu dikenal sebagai filsuf
karena banyak menulis buku-buku moral, sejarah kesusastraan, dan falsafah.
Oleh karena kearifannya tercermin pada setiap karyanya, banyak masyarakat
yang mengikuti ajarannya. 1

Kong Hu Cu bagi orang-orang Tionghoa sangat dihormati karena


menjadi filsuf besar. Ia juga mendapat gelar kehormatan yang banyak.

Ali Imron (Sejarah Terlengkap Agama-agama di Dunia 2015:232)


membagi riwayat hidup Kong Hu Cu menjadi lima bagian yaitu:

1. Masa kecil dan masa muda (551-531 sm). Dalam periode ini, dikisahkan
asal-usul keluarganya.
2. Masa dewasa muda (531-501 sm) bercerita tentang kehidupan
Konfusius sejak pernikahannya, pekerjaannya, dan perstiwa kematian
ibunya.
3. Masa pengabdian pada pemerintahan (500-496 sm) yang bercerita
tentang kehidupan Konfusius dipercayakan menjalankan pemerintahan
di Lu dan diangkat sebagai hakim di Chungtu.
4. Masa penggembaraan (496-483) yang berkisah tentang masa-masa sulit
yang dialami Konfusius setelah keluar dari Lu.
5. Masa tua dan kematiannya (482-479 sm) yang diwarnai kisah tragis
tentang kematiannya.2

Setelah Kong Hu Cu wafat ajarannya dikembangkan oleh cucunya


bernama Tzu-Szu serta tokoh lainnya seperti Meng-Tze (372-289 sm).
Setelah Kong Hu Cu meninggal ajarannya masih dirasakan bahkan seluruh

1
Jonar Situmorang, Mengenal Agama Manusia, Hal. 418, ANDI, Yogyakarta, 2017
2
Ibid. Hal 419
dunia mengenalnya serta mempraktikan ajarannya hingga sekarang maka ia
sering digolonggkan dan dianggap sebagai pembawa agama. 3

Di Indonesia agama Kong Hu Cu diperkirakan sudah ada sejak zaman


pra sejarah oleh orang-orang Tionghoa yang berdagang dan rutin mengunjungi
pulau-pulau di Indonesia. Kedatangan merejka turut serta membawa tradisi,
norma-norma, tata kehidupan dan sikap terhadap leluhur mereka. Di mana
orang Cina pergi dan berada, mereka selalu melandaskan kehidupan pada
ajaran-ajaran dari tokoh-tokoh pemikir Cina. Ajaran Kong Hu Cu memiliki peran
besar terhadap orang Cina dimana menciptakan rasa kekeluargaan di manapun
mereka ada4. Pada tahun 1979 dikeluarkan Inpres dalam sidang kabinet
presiden Soeharto dengan jelas menyatakan bahwa Kong Hu Cu bukan sebuah
agama. Sejak itu Inpres tersebut menetapkan Kong Hu Cu bukan agama resmi
di Indonesia bahkan dalam KTP agama tersebut tidak boleh dicantumkan dan
harus memilih agama resmi lain untuk dicantumkan. 5 Setelah Orde Baru
lengser dan masuk pada masa Reformasi pada pemerintahan presiden
Abdurahman Wahid atau Gus Dur dikeluarkan Kepres no. 6 tahun 2000 untuk
mengakui agama Kong Hu Cu dan memberikan kepastian hukum bagi
pemeluknya untuk melakukan perayaan keagamaan dan mengembalikan hak-
hak sipil mereka.6

Konsep Ketuhanan

Kong Hu Cu menjadi agama yang monoteis, atau percaya hanya pada


satu Tuhan yang biasa disebut Thian atau Shang Ti. Dalam kitab-kitab Kong Hu
Cu terdapat pembahasan tentang Tuhan seperti dalam kitab She Cing (puisi)
dalam kitab ini terdapat banyak pembicaraan tentang Tuhan Yang Maha Esa,
yang disebut sebagai Thien atau Shang Ti dalam kitab She Cing IV Wen Wang
1/7.7 Tuhan dalam konsep Konghucu tidak dapat diperkirakan dan ditetapkan.
Dalam Yijing dijelaskan bahwa Tuhan itu maha sempurna dan maha pencipta
(Yuan); maha menjalin, maha menebus dan maha luhur (Heng); maha
3
Nur Fadli, Konsep Ketuhanan Agama Buddha dan Konghucu, hal 41-42, UIN Syarif Kasim Riau, 2015
4
Santi Aprilia, Murtiningsih, Eksistensi Agama Kong Hu Cu di Indonesia, Hal. 18, UIN Raden Fatah
Palembang, 2017
5
Ibid hal 25
6
Ibid hal 34
7
Nur Fadli, Konsep Ketuhanan Agama Buddha dan Konghucu, hal 44, UIN Syarif Kasim Riau, 2015
pemurah, maha pemberi rahmat dan maha adil (Li) dan maha abadi hukumnya
(Zhen).8 Firman atau hukum Tuhan dalam agama Kong Hu Cu disebut Thian Li
atau Thian Ming atau segala hukum dan aturan yang bersumber dari Tuhan
serta segala sesuatu yang telah dijadikan atau yang telah terjadi. Dalam ajaran
konfusius, dikenalkan tiga unsur ajaran dalam alam semesta yaitu Thian Huang
(penguasa langit), Di Huang ( penguasa bumi) dan Ren Huang (penguasa
manusia). Sementara penguasa tertinggi ada pada Thian atau Shang Ti atau
Tuhan Yang Maha Esa9 dan menteri-menteri dipegang oleh dewa-dewi. 10

Menurut pandangan pengikut Kong Hu Cu segala sesuatu di alam


semesta ini terdiri atas dua prinsip yang saling berlawanan yaitu Yin dan Yang.
Ying (prinsip feminim) dan Yang (prinsip maskulin). Sifat feminim adalah hal-hal
yang bersifat menerima dan menghasilkan. Sedangkan sifat maskuling adalah
hal-hal yang bersifat untuk aktif dan keras. Contohnya jika seorang kaisar
menghormati leluhurnya secara otomatis ia akan mendapat keseimbangan
antara Yin dan Yang sebagai imbalannya ia akn mendapat hasil panen yang
bagus, kemakmuran yang luas dan kebahagiaan yang penuh. 11

Kitab Suci

Kitab-kitab yang dianggap suci dalam agama Kong Hu Cu adalah Sishu


Wujing. Secara harafiah dalam Indonesia diartikan “Empat Kitab Lima Klasika”.
Empat kitab ditambah lima klasika yang berjumlah sembilan. Kesembilan kitab
tersebut dibagi atas dua kelompok, yaitu: Sishu dan Wujing. Sishu yang berisi
Empat Kitab yakni:

1. Lun Yu. Kitab ini berisi kumpulan kata-kata bijaksana dari Konfusius
yang dikumpulkan oleh murid-muridnya.
2. Zhong Yong atau Doctrine of Mean.
3. Da Xue, kitab ini berisi perkataan-perkataan dari Konfusius yang ringkas
tetapi tajam yang dicatat oleh murid-muridnya.

8
Ibid hal 45
9
Ibid hal 48
10
Ibid hal 48
11
Jonar Situmorang, Mengenal Agama Manusia, Hal. 433, ANDI, Yogyakarta, 2017
4. Meng Zi, kitab ini berisi percakapan antara Mensius dengan raja-raja
sezamannya.12

Kitab Sishu merupakan kumpulan perkataan Kong Zi atau Konfusius dan


Meng Zi, ditambah dengan tafsiran atas pengajaran mereka. 13

Wujing atau Lima Klasika terdiri atas:


1. Shu Jing. Kitab ini berisi dokumen dan percakapan para pemimpin dan
pejabat Dinasti Zhou. Kitab Shu Jing disebut juga Shang Su (kitab
pandita atau mulia), Zai Jing (buku zaman) dan Bi Jing (kitab tembok,
karena ditemukan dalam tembok di rumah Konfusius). Naskah tertua
kitab ini berasal dari abad ke 23 sm dan termuda dari abad ke 6 sm.
Kitab ini terdiri atas 25.700 huruf dengan 54 bab (4 buku 6 jilid)
1) Kitab Yu Shu (1 bab)
2) Kitab Xia Shu (4 bab)
3) Kitab Shang Shu (17 bab)
4) Kitab Zhou Shu (32 bab)
2. Shi Jing disebut juga sebagai Paijing (kitab kuncup bunga). Kitab ini
terdiri atas 305 puisi yang terbagi empat bagian yaitu:
1) Gou Feng berisi nyayian rakyat
2) Xiao Ya berisi pujian kecil
3) Da Ya berisi pujian besar
4) Song berisi kidung suci untuk peribadatan
3. Yi Jing, kitab ini berisi 8 tigram dari Fuxi yang kemudian dikembangkan
oleh Konfusius menjadi 64 heksagram. Kitab ini merupakan kitab wahyu
mengenai perubahan atau kejadian semesta alam dengan peristiwanya.
4. Chun Qiu, kitab ini berisi catatan sejarah tentang negara Lu dari tahun
722-499 sm. Kitab ini juga disebut dengan nama Kitab Lin Jing. Kitab ini
merupakan karya dari nabi Konfusius atau Kong Hu Cu.
5. Li Jing, berisi tentang berbagai ritus dan upacara sosial. Dinamai juga
kitab Dai Jing.

Hari-hari Besar Keagamaan


12
Jonar Situmorang, Mengenal Agama Manusia, Hal. 428, ANDI, Yogyakarta, 2017
13
Ibid hal 428
Hari raya dalam agama Kong Hu Cu yaitu:

1. Imlek, imlek berkaitan dengan lata belakang pertanian di Cina. Imlek


juga dikenal dengan sebutan Nong Li atau penanggalan petani. Hal itu
karena pada perayaan Imlek, para petani menyambut musim semi (Chun
Lie) yang dimulai pada tanggal 30 bulan 12 dan berakhir pada tanggal 15
bulan pertama (Cap Go Meh). Menurut para ahli tahun baru Imlek jatuh
pada tanggal 1 Januari tahun Cina. Perayaan ini sudah dikenal sejak
masa dinasti Sia yaitu pada 2200 sm. Perayaan Imlek selalu berubah-
ubah pada dinasti Song jatuh pada 1 Desember tahun Cina, dinasti Chou
pada 1 Oktober tahun Cina, pada zaman dinasti Han perayaan Imlek
kembali seperti semula yaitu pada 1 Januari tahun Cina dan berlaku
sampai sekarang.
2. Khing Thi Kong atau sembayang besar kepada Tuhan Yang Maha Esa,
9 Cia Gwee.
3. Cap Go Meh atau puncak perayaan Imlek, 15 Cia Gwee
4. Ci Sing Ki Sien atau hari wafat nabi Kong Hu Cu, 18 Cia Gwee
5. Ching Bing atau hari ziarah ke kubur orang tua atau leluhurnya.
6. Hari Twang Yat Ciat atau Peh Cun hari dimana Tuhan mencurahkan
rahmatnya
7. Tiong Gwan atau Tiong Yang yaitu sembayang arwah leluhur, 15 Jit
Gwee
8. King Ho Ping atau sembayang arwah umum, 29 Jit Gwee
9. Sembayang Tiong Chiu, 15 Peh Gwee
10. Ci Sing Tan atau hari lahir nabi Kong Hu Cu, 27 Peh Gwee
11. Hari He Gwan atau sembayang besar bagi malaikat bumi, 15 Cap Gwee
12. Tang Cik atau hari Genta Rohani yang berkaitan dengan datangnya
musim dingin.
13. Hari Persaudaraan atau hari kenaikan Malaikat, 24 Cap Ji Gwee
14. Ti Sik atau sembayang tutup tahun baru atau sembayang leluhur, 29
Cap Jie Gwee
15. Hari Raya Bulan Purnama atau Chung Chie Ciek yaitu hari raya musim
rontok.14

Tempat Ibadah

Tempat ibadah umat Kong Hu Cu disebut Bunbio (Hokkian) atau


Wenmiao (Mandarin). Di Indonesia dinamakan Lithang 15 ciri khas tempat ini
adanya altar yang berisi patung Kim Sin atau Nabi Kong Hu Cu (Konfusius)
juga adanya lambang ”Mu Duo” atau “Bok Tok” (Hokkian) yaitu berupa gambar
genta dengan tulisan huruf Zhong Shu atau Tiong Sie (Hokkian) yang artinya
Satya dan Tepasarira/tenggang rasa yang menjadi init ajaran agama Kong Hu
Cu. Sedangkan Klenteng adalah tempat ibadah bersama orang Tionghoa yang
menganut agama Buddha Mahayana Tiongkok, Kong Hu Cu, dan Taoisme.
Agama Kong Hu Cu di Indonesia berada dalam naungan MATAKIN (Majelis
Tinggi Agama Kong Hu Cu Indoensia). 16

Konsep Keselamatan

Kong Hu Cu mengajarkan kehidupan setelah mati, terlihat pada kutipan


ayat sebagai berikut “semangat atau jiwa rohani (khi) itulah perwujudan tentang
adanya roh (sien); kehidupan jasad (phik) itulah perwujudan adanya nyawa/jiwa
badani (kui). Bersatu harmonisnya nyawa dan roh dalam kehidupan ini adalah
tujuan pengajaran agama. Semua yang dilahirkan tumbuh berkembang pasti
mengalami kematian, yang mati itu berpulang kepada tanah, inilah yang
berkaitan dengan nyawa atau jiwa badani. Semangat atau jiwa rohani itu naik
ke atas, memancar cemerlang (seolah) diantara semerbaknya bau dupa, itulah
sari benda dan mahklu. Itulah kenyataan adanya roh”. (Lee Ki XXXIV:13).
Dalam masyarakat Cina khususnya penganut ajaran Kong Hu Cu bahwa ajaran
17
tentang Tuhan dan kehidupan setelah mati tidak ditolak. Dalam kitab Yi Jing
I:1 tersurat tentang alam Xian Tian Hou Tian yang mengandung makna alam
kehidupan sebelum lahir dan setelah lahir. Hidup manusia difirmankan
menjlema dari alam Xian Tian dan ke alam Xian Tian pula roh manusia juga

14
Jonar Situmorang, Mengenal Agama Manusia, Hal. 437-442, ANDI, Yogyakarta, 2017
15
Ibid hal 442
16
Wikipedia.org, Tempat Ibadah Agama Kong Hu Cu, diakses tgl. 31 Maret 2019
17
Nur Fadli, Konsep Ketuhanan Agama Buddha dan Konghucu, hal 51-52, UIN Syarif Kasim Riau, 2015
akan kembali. Dalam kitab-kitab suci Kong Hu Cu minim sekali penjelasan
tentang alam Xian Tian tetapi lebih diutamakan kehidupan manusia sebagai
mahkluk ciptaan Tuhan harus mengabdikan kemanusiaanya sebagai wujud
pertanggung jawaban satyanya kepada firman Tuhan. Dalam kitab Li Ji VII, 1,7
“bila ada seeorang meninggal, orang memandang ke arah langit (kemana
arwah orang itu pergi) dan memaknai jenazah kedalam tanah. Badan jasad
turun ke bawah dan semangat jiwa rohaninya yang berkesadaran itu naik ke
atas”.18

18
XS. Hanny Kilapong, Kehidupan Sesudah Mati dan Keselamatan Menurut Agama Konghucu, SPOC
Jurnal, 23 Februari 2013.
Kitab Suci Agama Kong Hu Cu (Sishu dan Wujing)
Tempat Ibadah Agama Kong Hu Cu (Bunbiao/Wenmiao/Lithang/Klenteng)
Kong Hu Cu/Khong Zi/Konfusius
Daftar Pustaka

Jonar Situmorang, Mengenal Agama Manusia, , ANDI, Yogyakarta, 2017

Nur Fadli, Konsep Ketuhanan Agama Buddha dan Konghucu, UIN Syarif Kasim Riau,
2015

Santi Aprilia, Murtiningsih, Eksistensi Agama Kong Hu Cu di Indonesia, Hal. 18, UIN
Raden Fatah Palembang, 2017

Wikipedia.org, Tempat Ibadah Agama Kong Hu Cu, diakses tgl. 31 Maret 2019

XS. Hanny Kilapong, Kehidupan Sesudah Mati dan Keselamatan Menurut Agama
Konghucu, SPOC Jurnal, 23 Februari 2013.