Anda di halaman 1dari 9

Nama : Mariska T. Kaensige Dosen : Yanice Janis, M.Si.

TEOL

Nim : 190101040 Kelas : B

STUDI AGAMA-AGAMA

A. Sejarah Agama Hindu

Dalam membicarakan agama hindu, perlu mengetahui sejarah yang panjang dari gejala-gejala keagamaan
yang telah terlebur di dalam agama hindu. Dimulai dari zaman perkembangan kebudayaan-kebudayaan
besar di Meisopotamia dan Mesir. Karena rupanya antara tahun 3000 dan 2000 sebelum masehi di lembah
sindhu atau Indus sudah ada bangsa-bangsa yang peradabannya menyerupai kebudayaan bangsa Sumeria
di daerah sungai Eufrat dan Tigris, maka terdapat peradaban yang sama di sepanjang pantai dari laut
tengah sampai ke Teluk Benggala.

Antara tahun 2000-1000 sebelum masehi dari sebelah utara masuk ke India kaum Arya, yang
memisahkan diri dari kaum sebangsanya di Iran yang memasuki India. Bangsa Arya itu serumpun dengan
bangsa Jerman,Yunani, Romawi dan bangsa-bangsa lain di Eropa dan Asia. Namun peradabannya lebih
rendah dari bangsa Dravida. Setelah bangsa pendatang tadi menetap di dataran sungai Sindhu
bercampurlah mereka lama kelamaan dengan penduduk asli bangsa Dravida tadi.

Jadi, Dalam sejarah agama hindu, tidak diketahui siapa pendiri agama tersebut secara pasti dan jelas.
Kepercayaan dan agama yang dibawa oleh bangsa penakluk (Arya) itu tidak merta menghapuskan
kepercayaan penduduk india setempat (asli), tetapi berasimilasi, berpadu, bercampur dan mempengaruhi
satu sama lain.

A. Kepercayaan Agama Hindu

Banyak orang yang merasa kagum sekaligus heran dengan konsep ketuhanan yang dimiliki agama hindu,
yaitu politeisme. Sejarawan ternama Will Durant dalam karya besarnya The Story of Civilization,
mengemukakan konsep ketuhanan agama hindu. Durant mengatakan bahwa tuhan atau dewa orang-orang
hindu, mungkin akan mencapai seratus jilid buku.
Sebagian dewa mereka adalah benda-benda langit, Semisal matahari, bulan dan setengahnya hewan
ternak atau burung-burung. Gajah misalnya, dalam agama hindu menjadi dewa bernama Ganesa. Mereka
menganggap sebagai putra Dewi Shiva (Siwa). Dalam diri Ganesa, terjadi peleburan sifat antara hewan
dan manusia. Begitu juga kera dan kobra sebagai dewa sumber petaka. Dalam sosok kobra misalnya,
terdapat tabiat ketuhanan, yaitu dapat mematuk racun ketubuh mahkluk dan menjadikannya mati seketika.
Dalam hal ini, dewa kobra dinamakan juga Naja.

Namun demikian, banyak dewa yang diyakini oleh orang-orang hindu semuanya berporos pada trimurti,
yaitu:

1. Dewa Brahma, disebut dengan Sang hyang Widhi atau dalam bahasa Sanskerta India disebut
dengan Utpathi yang berarti Sang Pencipta.
2. Dewa Wisnu, dipercaya oleh orang hindu sebagai Dewa Pemelihara alam raya. Dalam bahasa
mereka dewa wisnu disebut juga dengan nama Sthiti. Umat hindu menggambarkan jika Wisnu dapat
menjelma sebagai sosok manusia yang menebar kebaikan, juga memeberikan pertolongan kepada
segenap mahluk, bahkan turut memebantu tugas dewi-dewi yang lain. Sosok seperti demikian dapat
ditemukan dalam diri Rama dan Kresna. Dalam tradisi pemujaan umat hindu, wisnu adalah sosok yang
sangat di sakralkan dan istimewa.
3. Dewa Siwa (Shiva) adalah dewa pelebur segala sesuatu yang sudah using. Dia bisa
menghancurkan dunia. Tugasnya adalah kebalikan dari Dewa Wisnu. Dalam bahasa Sanskerta India,
Shiva disebut dengan nama Sang Kan Paean.

Jadi, di dalam agama hindu memiliki banyak dewa akan tetapi yang menjadi poros pada trimurti yaitu
Brahmana, Wisnu dan Siwa.

B. Keyakinan Umat Hindu

Umat hindu tidaklah mengimani adanya surga dan neraka seperti yang diyakini oleh umat islam. Namun,
mereka mengimani adanya bentuk ganjaran lain selain surga dan neraka bagi orang-orang yang berbuat
baik dan buruk. Mereka berargumentasi “ Sebenarnya, ketika seseorang yang baik itu mati, maka yang
mati hanyalah jasadnya, sementara arwahnya tetap hidup kekal. Sebab, arwah adalah bagian dari Dzat
Tuhan. Arwah orang yang baik akan menyusup dan bersemanyam pada jasad orang baik lainnya.
Keyakinan ini disebut dengan reinkarnasi.

Keadaan akhir yang diimpikan oleh umat hindu adalah dapat bersatunya arwah mereka dengan Dzat
Dewa Brahmana. Namun, hal tersebut hanya akan tercapai setelah jiwa manusia itu terbebas dari segala
sisi buruk jahatnya, syahwat juga dengan keinginan. Hal ini merupakan tingkatan seorang kehidupan
hindu, sebagai tercantum dalam salah satu kitab suci mereka: Arnik. Dalam kitab itu disebutkan, siapa
saja yang sudah tidak mempunyai kesenangan kepada sesuatu, berarti dia tidak akan memiliki lagi, serta
sudah membebaskan dirinya dari kungkungan hawa nafsu. Jiwanya pun akan merasa tenang. Pada
akhirnya, dia telah lepas dari materi. Dia telah berhasil bersatu dengan Brahma itu sendiri. Dalam hal ini,
sesuatu yang fana telah berubah menjadi kekal. Proses tersebut merupakan tingkatan terakhir dari
serangkaian proses hukum ganjaran dan pahala menurut umat hindu, yaitu kembalinya arwah adalah
bagian dari Dewa karenanya ia pun akan kembali dan menyatu dengan-Nya.

C. Kasta dalam Agama Hindu.

1. Kasta Brahma (kelas putih) : terdiri dari kalangan pendeta dan pemuka agama hindu.
2. Kastra Ksatria (kelas merah) : terdiri dari pengusaha dan tentara.
3. Kasta Waisya (kelas kuning) : terdisi dari kalangan petani dan pedagang
4. Kasta Sudra (Kelas hitam) : terdiri dari pengrajin.
5. Kasta Paria terdiri dari kelompok yang dipandang paling rendah dari prespektif agama hindu,
seperti penggali kubur, petugas kebersihan dan semacamnya.[4]

Jadi, di dalam agama Hindu memiliki kasta yang terdiri dari kasta Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra dan
Paria.

D. Kitab Suci Agama Hindu

1. Weda : Kata Weda berarti pengetahuan (Wid = tahu). Menurut tradisi kitab hindu kitab-kitab ini
adalah ciptaan Dewa Brahma sendiri. Isinya diwahyukan oleh Dewa Brahma kepada para Resi atau
para pendeta dalam bentuk mantra-mantra, yang kemudian disusun sebagai pujian oleh para resi tadi
sebagai pernyataan rasa hatinya.[5]Kitab weda terbagi menjadi empat kitab ( Catur Weda):
2. Berisi mantra-mantra dalam bentuk pujian-pujian, yang digunakan untuk mengundang para dewa,
agar berkenaan hadir pada upacara-upacara yang akan diadakan bagi mereka. Imam-imam atau pendeta
yang akan mengadakan pujian-pujian ini disebut Hotr.
3. Kitab ini di baca oleh para biara saat persembahan.[6] Berisi yajus atau rapal, diucapkan oleh
imam atau pendeta yang disebut Adwarya, yaitu pada saat ia melakukan upacara kurban. Rapal-rapal
ini bukan di pakai untuk memuja dewa, melainkan untuk mengubah kurban-kurban menjadi makanan
dewa.[7]
4. Kitab ini berisi lagu pujian dalam doa dan permohonan.[8]
5. Kitab ini memuat beberapa tulisan dan ungkapan magis untuk menolak sihir, ilusi, takhayul serta
setan.

Masing-masing Catur Weda mencakup bagian-bagian berikut:

 Samhita; memuat tentang penjelasan doktrin agama dan kumpulan doa-doa yang dirapalkan
orang-orang india kuno kepada dewa-dewa mereka sebelum datangnya Arya.
 Brahmana : memuat petunjuk penggunaan mantra dalam rangkaian upacara.
 Mengandung doa-doa yang dibacakan pada pendeta saat dia berada di gua, hutan, sungai atau
tempat-tempat asing lainnya.
 Upanisad : berisikan ungkapan-ungkapan kebenaran spiritual tertinggidan berbagai anjuran
mengenai cara utuk mencapai kebenaran.

2. Hukum Manu (Code of Manu)

Hukum ini ditetapkan pada abad ke-3 SM, masa kemenangan umat hindu terhadap atheteisme yang
dicontohkan adalah agama Jainisme dan Budha, hukum ini sebagai ungkapan atas penjelasan Weda antara
rambu-rambu dan prinsip dan dasar-dasar agama hindu.

3. Kitab Kesustraan Hindu lain:


4. Mahabarata : Epic india kuno yang dikarang oleh byasa pada tahun 950 SM. Epik tersebut
menyerupai epic Yahudi kuno Illiad dan Oddyssey. Kitab ini menceritakan konflik para pandawa lima
dengan sepupu mereka yang juga diikuti oleh para dewa.
5. Kayana: berita tentang perang dalam perang kerajaan. Di dalam kitab tersebut Krisna banyak
menurunkan ajaran-ajaran filsafat dan sosialnya.
6. Yoga : memuat 64 ribu bait yang disusun mulai abad ke-6 melalui periode panjang dan
sekelompok orang. Di dalamnya memuat ajaran-ajaran filsafat dan teologi.
7. Ramayana : epic tentang kerajaan dan pencintaan yang di dalamnya diterangkan pula ajaran-
ajaran, etika, filsafat, pemikiran, politik dan pidato sang Rama- sang Raja.[10]

Jadi, agama hindu memiliki tiga kitab yaitu Weda, Hukum Manu dan Kitab Kesustraan Hindu. Pada kitab
Weda terbagi menjadi empat kitab yaitu Regweda, Ayurweda, Samaweda, Atharweda. Di dalam Catur
Weda mencakup bagian-bagian yaitu Samhita, Brahmana, Upanisad. Kitab Kesustraan Hindu terdapat
Mahabarata, Kayana, Yoga dan Ramayana.
E. Konsep Ketuhanan Agama Hindu

1. Monoteisme: tidak ada batasan yang jelas tentang konsep monoteisme dalam agama hindu.
2. Politeisme : mereka berpendapat bahwa setiap benda, baik manfaat maupun tidak memiliki dewa
tersendiri yang mereka sembah, seperti dewa Air, Udara, Sungai, dan Gunung. Seluruh Dewa tersebut
di sembah oleh umat hindu melalui berbagai macam, ritual dan sajian.
3. Trimurti : pada abad ke-9 SM, para pendeta hindu sepakat ada tiga kekuatan Brahmana dalam
menciptakan, memelihara dan melebur alam beserta isinya:
4. Dewa Brahma : Dewa pencipta
5. Dewa Wisnu : Dewa Pemelihara
6. Dewa Siwa : Dewa Pelebur

Siapa saja yang menyembah salah satu dari tiga dewa diatas, maka ia telah menyembah semua dewa
sekaligus. Hal ini karena ketiga dewa tersebut tidaklah ada perbedaan.

F. Ibadat Dalam Agama Hindu

Ibadat dan pemujaan tidaklah hanya dihadapkan kepada maha dewa Brahmana, Wisynu dan Syiwa tetapi
lebih dahulu langsung kepada tenaga dan daya alam yang dianggap sebagai dewa, yang langsung
mempengaruhi kehidupan manusia. Tenaga dan kekuatan alam inilah yang sebenarnya dipuja. Nama dari
masing-masing dewa itu adalah daya alam itu sendiri. Diantara dewa-dewa itu ialah:

1. Surya (Dewa Matahari)


2. Agni (Dewa Api Suci)
3. Wayu (Dewa Angin)
4. Candra (Dewa Bulan)
5. Waruna (Dewa Alam/Angkasa)
6. Marut (Dewa Badai/Topan)
7. Paryania (Dewa Hujan)
8. Acwin (Dewa Kembar atau Dewa Kesehatan)
9. Usa (Dewa Fajar)
10. Indra (Dewa Perang)
11. Wertra (Dewa Jahat)

Diantara semua dewa-dewa itu yang terutama sekali dan paling banyak mendapat puji-pujian adalah
Dewa Indra dan Agni. Dewa Indra dipandang juga sebagai Dewa Rahmat yang membawa kebahagiaan.
Dewa Indra juga mendapat julukan dengan sebutan “Puramdara” yaitu Dewa Penggempur Benteng. Hal
ini mengingatkan mereka ketika bangsa Arya mula-mula datang kelembah Sindhu dengan peperangan,
bertemu dengan bangsa Dravida yang bertahan dengan sembilan puluh benteng, akhirnya bangsa Dravida
dapat dikalahkan. Bagi bangsa Arya kemenangan ini sebagai pertolongan dari Dewa Indra.

G. Hakikat Ajarah Agama Hindu

Hakikat ajaran agama hindu adalah Panca Craddha artinya lima Keyakina, yaitu:

1. Widhi Craddha adalah keyakinan terhadap Hyang Widhi / atau tuhan yang maha Esa sebagai
pencipta Allam semesta beserta isinya, memelihara hasil ciptaannya itu dan melebur segala yang
diciptakan serta mengembalikan lagi ke asalnya.
2. Atma Cradda adalah keyakinan terhadap adanya Atma pada tiap-tiap mahluk
3. Karmapala Cradda adalah keyakinan terhadap hukum perbuatan, Segala karma(Perbuatan) akan
mendapat phala (hasil perbuatan).
4. Punarbhawa Cradda adalah keyakinan adanya reinkarnasi. Reinkarnasi akan berakhir apabila
atma itu akan bersati dengan sumbernya yaitu Paramatma atau hiyang Widhi.
5. Moksah Cradda adalah keyakinan terhadap adanya kebahagiaan kekal yang disebut “ Suka tanpa
wali duka” atma yang telah bebas dari ikatan pengaruh duniawi akan dapat mencapai kebahagiaan
kekal abadi, dimana atma bersatu kembali bersama asalnya yaitu hyang widhi . manunggalnya kembali
dengan Atma dengan Hyang Widhi itulah yang disebut Moksha.[13]

                                                 
BAB II

PENUTUP

Kesimpulan

Dalam sejarah agama hindu, tidak diketahui siapa pendiri agama tersebut secara pasti dan jelas.
Kepercayaan dan agama yang dibawa oleh bangsa penakluk (Arya) itu tidak merta menghapuskan
kepercayaan penduduk india setempat (asli), tetapi berasimilasi, berpadu, bercampur dan mempengaruhi
satu sama lain.

Agama hindu memiliki banyak dewa akan tetapi yang menjadi poros pada trimurti yaitu Brahmana,
Wisnu dan Siwa.
Agama hindu tidak mempercayai adanya surga dan neraka akan tetapi mempercayai adanya ganjara.
Mereka menyakini adanya reinkarnasi dan tujuan akhir dari mereka adalah kembalinya arwah adalah
bagian dari Dewa karenanya ia pun akan kembali dan menyatu dengan-Nya.

Agama Hindu memiliki kasta yang terdiri dari kasta Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra dan Paria.

Agama hindu memiliki tiga kitab yaitu Weda, Hukum Manu dan Kitab Kesustraan Hindu. Pada kitab
Weda terbagi menjadi empat kitab yaitu Regweda, Ayurweda, Samaweda, Atharweda. Di dalam Catur
Weda mencakup bagian-bagian yaitu Samhita, Brahmana, Upanisad. Kitab Kesustraan Hindu terdapat
Mahabarata, Kayana, Yoga dan Ramayana.

Konsep Ketuhanan Agama Hindu ada tiga yaitu Monoteisme, Politeisme dan Trimurti. Di konsep
ketuhanan Trimuti (Brahma, Wisnu, Siwa), barang siapa yang telah menyembah dari salah satu dewa
maka dia telah menyembah semua dewa tersebut karena mereka menyakini diantara ketiganya tidak
terdapatperbedaan.

Ibadat dan pemujaan Agama Hindu tidaklah hanya dihadapkan kepada maha dewa Brahmana, Wisynu
dan Syiwa tetapi lebih dahulu langsung kepada tenaga dan daya alam yang dianggap sebagai dewa, yang
langsung mempengaruhi kehidupan manusia

                                       

    Daftar Pustaka          


 

Ali, Mukti. 1998. Agama dalam Pengumpulan Masyarakat Dunia. Yogya : Tiara Wacana

Al-Maghlouth, Sami bin Abdullah. 2012. Atlas Agama-Agama, Almahira. Jakarta: Almahira.

Hadiwijono, Harun. 2013. Agam Hindu dan Budha. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia

Hakim, Agus. 1985. Perbandingan Agama Pandangan islam Mengenai Keercayaan : Majusi-Shabiyah-


Yahudi-Kristen-Hindu-Budha dan Sikh. Bandung: CV. Diponegoro.

Manaf, Mudjahid Abdul. 1996, Sejarah Agama-Agama, Jakarta: Pt Raja Gravindo persanda.