Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

Insidensi Tuberculosis (TBC) dilaporkan meningkat secara drastis pada


dekade terakhir ini di seluruh dunia termasuk juga di Indonesia. Penyakit ini biasanya
banyak terjadi pada negara berkembang atau yang mempunyai tingkat sosial ekonomi
menengah ke bawah. Tuberculosis (TBC) merupakan penyakit infeksi penyebab
kematian dengan urutan atas atau angka kematian (mortalitas) tinggi, angka kejadian
penyakit (morbiditas), diagnosis dan terapi yang cukup lama.
Micobacterium tuberculosis (TB) telah menginfeksi sepertiga penduduk
dunia, menurut WHO sekitar 8 juta penduduk dunia diserang TB dengan kematian 3
juta orang per tahun (WHO, 1993). Di negara berkembang kematian ini merupakan
25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan.
Diperkirakan 95% penderita TB berada di negara-negara berkembang.
Di Indonesia TBC merupakan penyebab kematian utama dan angka kesakitan
dengan urutan teratas setelah ISPA. Indonesia menduduki urutan ketiga setelah India
dan China dalam jumlah penderita TBC di dunia. Jumlah penderita TBC paru dari
tahun ke tahun di Indonesia terus meningkat. Saat ini setiap menit muncul satu
penderita baru TBC paru, dan setiap dua menit muncul satu penderita baru TBC paru
yang menular. Bahkan setiap empat menit sekali satu orang meninggal akibat TBC di
Indonesia.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka penulis berkeinginan menyajikan


masalah ini dalam bentuk sebuah laporan kasus TB Paru agar dapat menjadi
bahan masukan kepada diri penulis dan kita semua dalam memberantas penyakit
Tuberkulosis.
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Identifikasi
Seorang laki-laki, usia 45 tahun, berkebangsaan Indonesia, beragama
Islam, bertempat tinggal di Desa Pelabuhan Dalam dirawat inap di Ruang
Infeksi laki-laki di RS BARI sejak 12 Mei 2010.

2.2 Anamnesis
Keluhan Utama
Batuk yang bertambah sering sejak ± 2 minggu yang lalu SMRS

Riwayat Perjalanan Penyakit


± 1 bulan SMRS, os mengeluh batuk kering ada, darah tidak ada, batuk
disertai sesak, sesak tidak dipengaruhi aktivitas, cuaca dan emosi. Sesak
dengan suara mengi tidak ada. Nyeri dada ada saat batuk, demam ada,
hilang timbul, tidak terlalu tinggi terutama pada malam hari, menggigil
tidak ada, berkeringat banyak di malam hari ada. Os mengeluh nafsu makan
menurun, berat badan menurun ada, badan terasa lemas, nyeri ulu hati tidak
ada, mual tidak ada, muntah tidak ada. BAB biasa dan BAK kuning seperti
teh. Lalu pasien berobat ke puskesmas dan dikasih OBH sirup.
± 2 minggu yang lalu, os mengeluh batuk kering ada, batuk disertai
sesak nafas ada, sesak tidak dipengaruhi aktifitas, cuaca dan emosi. Sesak
dengan suara mengi tidak ada. Nyeri dada saat batuk, demam ada, hilang
timbul, tidak terlalu tinggi terutama pada malam hari, menggigil ada,
berkeringat banyak di malam hari ada. Nafsu makannya menurun. Berat
badan menurun ada, badan lemas ada, nyeri ulu hati tidak, mual tidak ada,
muntah tidak ada. BAB biasa dan BAK warna kuning teh.
Riwayat Penyakit Dahulu
o Riwayat batuk berdarah ada 1 tahun yll di bawa ke dukun.
o Riwayat kencing manis disangkal

Riwayat Kebiasaan
o Riwayat merokok ada, 35 tahun yang lalu, 2 bungkus perhari, berhenti 1
tahun yang lalu.

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga


Riwayat penyakit keluarga dengan keluhan yang sama tidak ada.

2.3 Pemeriksaan Fisik


Keadaan Umum
Keadaan umum : Tampak sakit
Keadaan saakit : Sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Gizi : kurang
Dehidrasi : (-)
Tekanan darah : 90/60 mmHg
Nadi : 84 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup
Pernapasan : 28 x/menit, abdominothoracal
Suhu : 38.5 °C
Berat Badan : 35 kg
Tinggi Badan : 160 cm
RBW : 58,3%
Keadaan Spesifik
Kulit
Warna sawo matang, efloresensi dan jaringan parut (-), pigmentasi dalam
batas normal, keringat umum (-), keringat lokal (-), turgor baik, lapisan
lemak kurang, ikterus pada kulit (-), anemis pada telapak tangan dan kaki
(-), nodul subkutan (-), pertumbuhan rambut normal, sianosis (-).

Kelenjar Getah Bening


Kelenjar getah bening submandibula, leher, axilla, dan inguinal tidak ada
pembesaran dan tidak ada nyeri pada penekanan.

Pemeriksaan Organ
Kepala
Bentuk oval simetris, ekspresi biasa, rambut tidak mudah dicabut, alopesia
(-), malar rash (-), deformitas (-), muka sembab (-).

Mata
Eksoftalmus dan endoftalmus (-), edema palpebra (-), konjungtiva palpebra
pucat (+), sklera ikterik (-), pupil isokor, reflek cahaya normal, pergerakan
bola mata ke segala arah baik, lapangan penglihatan luas.

Hidung
Bagian luar tidak ada kelainan, septum dan tulang-tulang dalam perabaan
baik. Selaput lendir dalam batas normal. Tidak ditemukan penyumbatan
maupun perdarahan. Pernafasan cuping hidung tidak ada.

Telinga
Tophi (-), nyeri tekan processus mastoideus (-), selaput pendengaran tidak
ada kelainan, pendengaran baik.
Mulut
Tonsil tidak ada pembesaran, pucat pada lidah(-), atropi papil (-), gusi
berdarah (-), stomatitis (-), rhagaden (-), bau pernafasan khas (-).

Leher
Pembesaran kelenjar getah bening tidak ada, pembesaran kelenjar tiroid
tidak ada, tekanan vena jugularis (5-2) cmH2O, kaku kuduk tidak ada.
edema (-).

Dada
Paru-paru
Inspeksi : Bentuk dada statis, dinamis dan simetris
Palpasi : Stremfemitus meningkat kanan > kiri
Perkusi : redup kiri < kanan
Auskultasi : Vesikuler (+) melemah kiri < kanan, ronki (+),
wheezing (-).

Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba, thrill (-)
Perkusi : Batas jantung
Auskultasi : HR 84x/menit, murmur (-), gallop(-)

Abdomen
Inspeksi : datar, umbilicus tidak menonjol, venektasi (-)
Palpasi : lemas, NT (-), nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak
teraba.
Perkusi : tympani
Auskultasi : BU (+) normal
Alat Kelamin
Tidak diperiksa.

Ekstremitas atas
Eutoni, eutrofi, gerakan ke segala arah, kekuatan +5, nyeri sendi (-), pitting
edema (-), jaringan parut (-). Telapak tangan pucat (+), ujung jari dingin (-),
palmar eritem (-), jari tabuh (-), varices (-), refleks fisiologis normal, turgor
normal.

Ekstremitas Bawah
Eutoni, eutrofi, gerakan terbatas, kekuatan +5, nyeri sendi (-), pitting edema
(-), jaringan parut (-). Telapak kaki pucat (+), ujung jari dingin (-), jari tabuh
(-), varices (-), refleks fisiologis normal, turgor normal.

2.4 Pemeriksaan Penunjang (14 Mei 2010)

Hasil Pemeriksaan Hematologi:

Pemeriksaan Hasil Normal


8.9 g/dl 14-18 g/dl
Hb
3.450.000 4.5-5.5 g/dl
Eritrosist
28 vol% 40-48 vol%
Ht

Leukosit 13000/mm3 5000-10.000/mm3

Trombosit 595.000/ mm3 200.000-500.000/ mm3

LED 118 mm/jam L < 10 mm/jam, P < 15 mm/jam


Basofil 0% 0-1 %

Eosinofil 1% 1-3%

Batang 3% 2-6%

Segmen 83 % 50-70%

Limfosit 9% 20-40%

Monosit 4% 2-8%

Hasil Pemeriksaan Kimia Klinik:

Pemeriksaan Hasil Normal

BSS 86 mg/dl < 180 mg/dl

Cholesterol Total 200 mg/dl < 200 mg/dl

Trilycerida 123 mg/dl <150 mg/dl

Bilirubin total 1.5 < 1.1 mg/dl

Bilirubin direct 0.6 < 0.35 mg/dl

Bilirubin indirect 0.9 < 0.75 mg/dl

SGOT 33 < 37 mg/dl

SGPT 20.3 < 41 mg/dl

Uric Acid 4.33 mg/dl L 3,5-7,1 mg/dl, P 2,6-6,0 mg/dl

Ureum 35 mg/dl 20 - 40 mg/dl

Creatinin 1.1 mg dl L 0,9-1,3 mg/dl, P 0,6-1,0 mg/dl


Pemeriksaan Urinalisa

Urinalisa Hasil

Warna Kuning

Kejernihan Jernih

Berat jenis 1.010

PH 6

Glukosa Negative

Bilirubin Negative

Keton Negative

Darah/ Hb Negative

Protein Negative

Urobilinogen 1+

Nitrit Negative

Leukosit Negative

Sedimen

Leukosit 2-3 < 5/ LPB

Eritrosit 1-2 < 3/ LPB

Silinder - LPK

Sel epitel + Positif

Kristal -

Bakteri - Negative
Pemeriksaan radiologi

Foto thorax PA
Kesan :

TB Paru aktif

EKG (14 Mei 2010)

Kesan:

2.5 Resume
Seorang laki-laki berinisial Tn. R, berumur 45 tahun, MRS tanggal 12
Mei 2010 dengan keluhan utama batuk yang bertambah hebat sejak ± 2
minggu SMRS.
± 1 bulan SMRS, os mengeluh batuk kering ada, darah tidak ada,
batuk disertai sesak, sesak tidak dipengaruhi aktivitas, cuaca dan emosi.
Sesak dengan suara mengi tidak ada. Nyeri dada ada saat batuk, demam ada,
hilang timbul, tidak terlalu tinggi terutama pada malam hari, menggigil
tidak ada, berkeringat banyak di malam hari ada. Os mengeluh nafsu makan
menurun, berat badan menurun ada, badan terasa lemas, nyeri ulu hati tidak
ada, mual tidak ada, muntah tidak ada. BAB biasa dan BAK
± 2 minggu yang lalu, os mengeluh batuk kering ada, batuk disertai
sesak nafas ada, sesak tidak dipengaruhi aktifitas, cuaca dan emosi. Sesak
dengan suara mengi tidak ada. Nyeri dada saat batuk, demam ada, hilang
timbul, tidak terlalu tinggi terutama pada malam hari, menggigil ada,
berkeringat banyak di malam hari ada. Nafsu makannya menurun. Berat
badan menurun ada, badan lemas ada, nyeri ulu hati tidak, mual tidak ada,
muntah tidak ada. BAB biasa dan BAK warna kuning agak merah.
Riwayat batuk berdarah ada 1 tahun yll di bawa ke dukun dan riwayat
merokok ada, 35 tahun yang lalu, 2 bungkus perhari, berhenti 1 tahun yang
lalu saat batuk berdarah. Riwayat penyakit dengan keluarga yang sama tidak
ada.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak sakit sedang,
kesadaran compos mentis, tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 84x/m,
pernapasan 28x/m, suhu 38,5˚C, RBW %. Pada pemeriksaan toraks,
bentuk dada cekung. Pada pemeriksaan paru didapatkan stemfemitus kanan
> kiri, redup paru kiri<kanan, vesikuler (+) melemah kiri<kanan, dan
ronkhi basah kasar (+). Jantung sulit dinilai.
Pada pemeriksaan laboratorium (14 Mei 2010) didapatkan Hb: 8,9
g/dl, Ht: 28, leukosit: 13000/mm3, LED: 118 mm/jam, hitung jenis:
0/1/3/83/9/4%, BSS: 86 mg/dl, TG 123 mg/dl, kolestrol total 200 mg/dl uric
acid: 4,3 mg/dl, ureum: 35 mg/dl, creatinin: 1,1 mg/dl, SGOT: 33 U/I,
SGPT: 20.3 U/I. Berat jenis 1.010, PH 6, glukosa negatif, bilirubin negatif,
keton negatif, darah/ Hb negatif, protein negatif, urobilinogen 1+, nitrit
negatif, leukosit negatif,pemeriksaan sedimen dalam batas normal.

2.6 Diagnosis Banding


- Tumor/keganasan paru
- Pneumonia

2.7 Diagnosis Kerja


Kasus TB paru aktif.

2.8 Penatalaksanaan
o Istirahat
o Diet BBTP
o O2 3 liter
o IVFD RL gtt XX/m
o OAT kategori I:
 - Rifampisin : 1x 450mg
 - Isoniazid : 1x 300mg
 - Pirazinamid : 3x 500mg
 - Ethambutol : 3x 250mg
o Ambroxal 3x1
o Inj. Cefotaxim 2x1 gr
o PCT 3x500
o Vit. B kompleks 3x1
2.8 Rencana Pemeriksaan
a. Rontgen thorax PA
b. BTA I,II,III
c. ECG
d. Darah rutin
e. Kimia klinik

2.9 Prognosis
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad malam

FOLLOW UP

Tanggal 13 Mei 2010 14 Mei 2010 15 Mei 2010 17 Mei 2010 18 Mei 2010
S: Sesak kering Batuk kering Batuk kering Nyeri ulu hati,
disertai sesak, mual, hati,
keringat malam, muntah nafsu
demam naik makan
turun, nafsu menurun,
makna menurun batuk kering,
panas,
menggigil.
O: keadaan umum
- Sensorium - cm - cm - cm - Cm
- TD (mmHg) -120/80 - 80/60 -100/60 - 90/60
- Nadi (x/mnt) -90x/mnt -118x/mnt -100x/mnt - 104x/mnt
- RR (x/mnt) -24x/mnt -28x/mnt -28x/mnt - 28x/mnt
- Suhu (°C) -37°C -38.3°C -37,5°C - 37.1
Keadaan spesifik
Kepala
- conj. Palpebra -pucat (+) - pucat (+) -pucat (-) Pucat (-)
- Sklera -ikterik (-) - ikterik (-) -ikterik (-) -ikterik (-)
Leher
- JVP (5- - (5-2)cmH2O -(5-2) cmH2O -(5-2) cmH2O -(5-2) cmH2O
2)cmH2O
- >> KGB ->>KGB (-) ->>KGB (-) ->>KGB (-) ->>KGB (-)
Thoraks
Cor:
HR: (x/mnt), - HR: 90 -HR:118 x/mnt, -R:100 x/mnt, -R:104 x/mnt,
regular, murmur, x/mnt, reg, reg, murmur (-), reg, murmur reg, murmur
gallop murmur (-), gallop (-) (-), gallop (-) (-), gallop (-)
gallop (-)
Pulmo:
I Bentuk dada Bentuk dada Bentuk dada Bentuk dada
statis, dinamis statis, dinamis statis, dinamis statis, dinamis
dan simetris dan simetris dan simetris dan simetris
P Stemfremitus Stemfremitus Stemfremitus Stemfremitus
meningkat meningkat meningkat meningkat
kanan> kiri kanan> kiri kanan> kiri kanan> kiri
P Redup kiri< Redup kiri< Redup kiri< Redup kiri<
kanan kanan kanan kanan
A Ves (+) Ves (+) Ves (+) Ves (+)
melemah kiri< melemah kiri< melemah kiri< melemah kiri<
kanan, ronki kanan, ronki kanan, ronki kanan, ronki
(+), wheezing (+), wheezing (+), wheezing (+), wheezing
(-) (-) (-) (-)

Abdomen: Datar, lemas, Datar, lemas, Datar, lemas, Datar, lemas,


NT (-), Hepar NT (-), Hepar NT (-), Hepar NT (-), Hepar
lien tak teraba, lien tak teraba, lien tak teraba, lien tak teraba,
BU (+) normal BU (+) normal BU (+) normal BU (+) normal

Ekstremitas Edem pretibia Edem pretibia Edem pretibia Edem pretibia


(-) (-)- (-) (-)

A TB paru aktif TB paru aktif TB paru aktif TB paru aktif

P Istarahat Istarahat Istarahat Istarahat


Diet Diet Diet Diet
O2 3 liter O2 3 liter O2 3 liter O2 3 liter
IVFD RL gtt IVFD RL gtt IVFD RL gtt IVFD RL gtt
xx/mnt xx/mnt xx/mnt xx/mnt
OAT RHZE OAT RHZE OAT RHZE OAT RHZE
Ambroxol 3x1 Ambroxol 3x1 Ambroxol 3x1 Ambroxol 3x1
PCT 3x1 PCT 3x1 PCT 3x1 PCT 3x1
B. comp 3x1 B. comp 3x1 B. comp 3x1 B. comp 3x1
Inj. Cefotaxim Inj. Cefotaxim Inj. Cefotaxim Inf. Cipro 1
2x1 gr 2x1 gr 2x1 gr flash
BAB III

ANALISIS KASUS

Tuberculosis (TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri


Mycobacterium tuberculosis. TBC terutama menyerang paru-paru sebagai tempat
infeksi primer. Selain itu, TBC dapat juga menyerang kulit, kelenjar limfe, tulang,
dan selaput otak. TBC menular melalui droplet infeksius yang terinhalasi oleh orang
sehat. Pada sedikit kasus, TBC juga ditularkan melalui susu. Pada keadaan yang
terakhir ini, bakteri yang berperan adalah Mycobacterium bovis.

Etiologi

Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap
asam pada pewarnaan (Basil Tahan Asam). Kuman TB cepat mati dengan sinar
matahari langsung tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan
lembek. Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat dorman selama beberapa tahun.
Kuman dapat disebarkan dari penderita TB BTA positif kepada orang yang berada
disekitarnya, terutama yang kontak erat.

TBC merupakan penyakit yang sangat infeksius. Seorang penderita TBC dapat
menularkan penyakit kepada 10 orang di sekitarnya. Menurut perkiraan WHO, 1/3
penduduk dunia saat ini telah terinfeksi M. tuberculosis. Kabar baiknya adalah orang
yang terinfeksi M. tuberculosis tidak selalu menderita penyakit TBC. Dalam hal ini,
imunitas tubuh sangat berperan untuk membatasi infeksi sehingga tidak
bermanifestasi menjadi penyakit TBC.
Manifestasi Klinis

Penderita TBC akan mengalami berbagai gangguan kesehatan, dengan gejala


respiratorik (batuk berdahak kronis lebih dari tiga minggu, batuk darah, sesak napas,
dan nyeri dada) gejala sistemik (demam subfebril, berkeringat tanpa sebab di malam
hari, malaise, penurunan nafsu makan dan berat badan menurun), maupun gejala
tuberkulosis ekstra paru (gejala limfadenitis tuberkulosa, meningitis tuberkulosa, dan
pleuritis tuberkulosa).Semuanya itu dapat menurunkan produktivitas penderita
bahkan kematian.

Gejala-gejala tersebut diatas dijumpai pula pada penyakit paru selain TBC.
Oleh sebab itu orang yang datang dengan gejala diatas harus dianggap sebagai
seorang “suspek tuberkulosis” atau tersangka penderita TB, dan perlu dilakukan
pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Selain itu, semua kontak penderita
TB Paru BTA positif dengan gejala sama, harus diperiksa dahaknya.

Pemeriksaan Klinis

Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan


konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam (subfibris),
badan kurus atau berat badan menurun.

Tempat kelainan lesi TB yang perlu dicurigai adalah bagian apeks paru (pada lobus
atas dan lobus bawah dengan berbagai suara napas pokok yang dapat ditemui pada
auskultasi). Bila dicurigai infiltrat yang agak luas, maka akan didapatkan perkusi
yang redup dan auskultasi nafas bronkial. Akan didapatkan juga suara nafas
tambahan berupa ronkhi basah, kasar, dan nyaring. Tetapi bila infiltrat ini diliputi
oleh penebalan pleura, suara nafasnya menjadi vesikular melemah. Pada leuritis TB
tergantung pada jumlah cairan di rongga pleura, pada perkusi pekak, auskultasi suara
napas melemah sampai hilang. Pada limfadenitis TB, pembesaran KGB leher dan
ketiak dapat menjadi “cold abcess”.

Pemeriksaan penunjang

- Pemeriksaan radiologis

1. Adanya infeksi primer digambarkan dengan nodul terkalsifikasi pada bagian


perifer paru dengan kalsifikasi dari limfe nodus hilus

2. Sedangkan proses reaktifasi TB akan memberikan gambaran :

a) Nekrosis

b) Cavitasi (terutama tampak pada foto posisi apical lordotik)

c) Fibrosis dan retraksi region hilus

d) Bronchopneumonia

e) Infiltrate interstitial

f) Pola milier

g) Gambaran diatas juga merupakan gambaran dari TB primer lanjut

3. TB pleurisy, memberikan gambaran efusi pleura yang biasanya terjadi secara


massif

4. Aktivitas dari kuman TB tidak bisa hanya ditegakkan hanya dengan 1 kali
pemeriksaan rontgen dada, tapi harus dilakukan serial rontgen dada. Tidak
hanya melihat apakah penyakit tersebut dalam proses progesi atau regresi.
Pemeriksaan darah

Pemeriksaan ini kurang mendapat perhatian karena hasilnya kadang-kadang


meragukan, tidak sensitif, tidak juga spesifik. Pada saat TB baru mulai (aktif) akan
didapatkan jumlah leukosit yang sedikit meninggi dengan hitung jenis pergeseran ke
kiri. Jumlah limfosit masih dibwah normal. Laju endap darah mulai meningkat. Jika
penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit kembali normal, dan jumlah limfosit masih
tinggi. Laju endap darah mulai turun ke arah normal lagi. Bisa juga didapatkan
anemia ringan dengan gambaran normokron dan normositer, gama globulin
meningkat dan kadar natrium darah menurun.

Pemeriksaan sputum

Pemeriksaan sputum adalah penting, karena dengan ditemukannnya kuman


BA, diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan. Kriteria BTA positif adalah bila
sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan.

Klasifikasi penyakit dan tipe penderita

Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe penderita TB memerlukan “definisi


kasus” yang memberikan batasan baku dari setiap klasifikasi dan tipe penderita.

Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan definisi kasus-yaitu

1. Organ tubuh yang sakit : paru atau ekstra paru

2. Hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung : BTA positif atau BTA
negative

3. Riwayat pengobatan sebelumnya : baru atau sudah pernah diobati

4. Tingkat keparahan penyakit : penyakit ringan atau berat


a. KLASIFIKASI

A. Tuberculosis Paru

Tuberculosis paru adalah tuberculosis yang menyerang jaringan paru, tidak


termasuk pleura (selaput paru)

Berdasarkan pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi menjadi 2 yaitu :

1. Tuberkulosis Paru BTA positif

2. Tuberkulosis Paru BTA negative

B. Tuberculosis Ekstra Paru

Tuberculosis ekstra paru adalah tuberculosis yang menyerang organ tubuh


selain jaringan paru,, misalnya pleura (selaput paru), selaput otak, selaput
jantung, kelejar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing,
alat kelamin dan lain-lain.

Berdasarkan tingkat keparahannya, TB Ekstra Paru dibagi menjadi 2 yaitu :

1. Tuberkulosis Ekstra Paru Ringan

Misal : TB kelenjar limfe, pleuritis eksudatif unilateral, tulang (kecuali


tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal

2. Tuberkulosis Ekstra Paru Berat

Misal : meningitis, milier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudatif


dupleks, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kencing dan alat
kelamin.
b. TIPE PENDERITA

Tipe penderita ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada


beberapa tipe penderita, yaitu :

1. Kasus baru

Adalah penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan (30 dosis harian)

2. Kambuh (relaps)

Adalah penderita TB yang sebelumnya pernah mendapatkan terapi TB dan


telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi
berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif

3. Pindahan (transfer in)

Adalah penderita TB yang sedang mendapatkan pengobatan disuatu


kabupaten lain dan kemudian pindah berobat ke kabupaten ini. Penderita
tersebut harus membawa surat rujukan/pindahan (FORM TB 09)

4. Kasus berobat setelah lalai (pengobatan setelah default/drop-out)

Adalah penderita TB yang kembali berobat dengan hasil pemeriksaan dahak


BTA positif setelah putus berobat 2 bulan atau lebih.

5. Gagal

· Adalah penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi
positif pada akhir bulan ke-5 atau lebih.
· Adalah penderita BTA negative, rontgen positif yang menjadi BTA positif
pada akhir bulan ke-2 pengobatan.

6. Lain-lain

Semua penderita lain yang tidak memenuhi persyaratan tersebut diatas.


Termasuk dalam kelompok ini adalah kasus kronik (adalah penderita yang
masih BTA positif setelah menyelesaikan pengobatan ulang dengan kategori
2)

Pengobatan tuberkulosis

Saat ini telah dapat dilakukan pengobatan TBC secara efektif dan dalam waktu yang
relatif singkat. Program pengobatan tersebut dikenal dengan nama DOTS (Direct
Observed Treatment Shortcourse). Obat yang digunakan adalah kombinasi dari
Rifampicin, Isoniazid, Pyrazinamid, Ethambutol, dan Streptomycin. Pengobatan
dilakukan dalam waktu 6-8 bulan secara intensif dengan diawasi seorang PMO
(Pengawas Menelan Obat) untuk meningkatkan ketaatan penderita dalam minum
obat.

Prinsip pengobatan
Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut:
• OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam jumlah
cukup
dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal
(monoterapi) . Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT – KDT) lebih
menguntungkan dan sangat dianjurkan.
• Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan langsung
(DOT
= Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
• Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.

Tahap awal (intensif)


- Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara
langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
- Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien
menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
- Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2
bulan.

Tahap Lanjutan
- Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka
waktu yang lebih lama
- Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga
mencegahterjadinya kekambuhan

Paduan OAT yang digunakan di Indonesia


• Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis
di
Indonesia:
- Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
- Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE)
- Kategori Anak: 2HRZ/4HR
� Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat
kombinasi dosis tetap (OAT-KDT), sedangkan kategori anak sementara ini
disediakan
dalam bentuk OAT kombipak.
Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet.
Dosisnyadisesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu
paket untuk satu pasien.
� Paket Kombipak.
Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket, yaitu Isoniasid, Rifampisin,
Pirazinamid dan Etambutol. Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi
pasien yang mengalami efek samping OAT KDT.
Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket, dengan tujuan untuk memudahkan
pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai.
Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan.
KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB:
1. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas
obat dan mengurangi efek samping.
2. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya
resistensi obat
ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep
3. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi
sederhana
dan meningkatkan kepatuhan pasien

Paduan OAT dan Peruntukannya


1. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
� Pasien baru TB paru BTA positif.
� Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
� Pasien TB ekstra paru
REFERENSI

Zulkifli Amin, Asril Bahar, 2006. Tuberkulosis Paru, Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Jakarta: UI

Panduan Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. 2006. Edisi 2. Depkes RI.